Brosur Penyakit Gratis

BROSUR KESEHATAN UNTUK PASIEN

brosur Sebuah ilustrasi: seorang pasien datang ke praktek dokter. Di ruang praktek, pasien ditanya oleh dokter seputar keluhan utama dan keluhan lainnya. Selanjutnya dokter memeriksa pasien. Kemudian diberikan resep serta penjelasan penyakit dan cara minum obat.  Kadang dianjurkan periksa Laboratorium penunjang diagnosa ( jika diperlukan, bukan dikit-dikit main tembak periksa Lab ).

Mari kita bayangkan. Setelah keluar dari ruang praktek kemudian nebus obat, masih ingatkah para pasien terhadap penjelasan yang diberikan dokter ? Percayalah, sebagian besar pasien sudah lupa penjelasan dokter ketika keluar dari pintu ruang praktek.

Tatkala seseorang berobat ke praktek dokter atau RS atau Institusi Pelayanan Medis lainnya, yang diperlukan para pasien ( atau keluarganya ) bukan obat ( resep ) semata, tapi juga informasi dan sedikt pengetahuan tentang peyakit yang sedang dideritanya.  Cukupkah Informasi penyakit dari penjelasan dokter saat di ruang praktek ? Kadang penjelasan singkat 3 menit sudah cukup, namun seringkali tidak cukup hanya dengan penjelasan dokter di ruang praktek. Nah, untuk meminimalisir kesenjangan informasi tersebut, salah satunya adalah dengan memberikan Brosur tentang penyakit yg dideritanya kepada pasien.

LIKU-LIKU MEMBUAT BROSUR

Di Ndeso kami, Kecamatan Palaran, Samarinda, penulis mulai mencoba memperkenalkan Brosur sederhana di tempat praktek kepada pasien sejak lebih 10 tahun yang lalu. Ketika itu menggunakan komputer Pentium I dengan OS Windows 95. Sebelum itu tak perlu diceritakan, ngisin-ngisini, soalnya masih menggunakan mesik ketik dan rugos. 😀

Dalam perjalanannya, bentuk dan bahasa Brosur Penyakit mengalami perubahan berulang kali seiring dengan saran dan masukan pasien untuk perbaikan serta pola penyakit terbanyak di daerah kami.

Awalnya, penulis membuat brosur berbentuk trifold ( tiga lipatan ) bolak balik, ukuran folio. Untuk penyakit yang perlu penjelasan panjang, seperti Diabetes mellitus, penulis membuatnya dalam bentuk bifold (dua lipatan) bolak balik. Bahasanya lebih banyak bahasa medis yang ternyata sulit dipahami para pasien.

Sejujurnya, penulis juga berusaha mempelajari brosur-brosur informasi kesehatan (penyakit) dari berbagai tempat, diantaranya dari RS Husada Utama, Surabaya. Bahkan dari institusi non kesehatan, seperti Hotel, Penerbangan, layanan Komunikasi, dan lain-lain.

Ternyata, masyarakat di Ndeso kami tidak suka Brosur dengan banyak tulisan. Maunya bergambar, tidak terlalu ramai warna, tulisannya sedikit, padat serta mudah dimengerti. Inilah sulitnya ! Namun, umpan balik serta saran dari pasien sangat membantu untuk perbaikan brosur, baik dari segi bentuk maupun bahasa.

Kini, berdasarkan hasil sharing dengan para pasien, Brosur Informasi Penyakit dikemas sebagai berikut:

  • Bentuk: Trifold ( 3 lipatan ) satu sisi ( tidak bolak balik ).
  • Gambar: disepakati menggunakan 2-3 gambar sesuai dengan isi Brosur.
  • Bahasa : menggunakan bahasa Indonesia sehari-hari dan bahasa sederhana. Sedapat mungkin mengurangi istilah medis agar lebih mudah dimengerti.
  • Ukuran kertas: kwarto ( letter ) dan A4 dengan warna dasar putih.
  • Font: isi brosur terutama menggunakan Font umum ( arial, times new roman, calibri, cambria, verdana, tahoma ) ukuran 11-12.

UMPAN BALIK DAN KENDALA

  1. Dalam kurun waktu setahun terakhir, kesepakatan di atas masih dianggap layak dan nyaman dibaca oleh warga kami di Ndeso Palaran.
  2. Sebagian pasien mengusulkan agar Brosur Penyakit dibuat dengan kertas kintrix ( kertas mengkilat ), yakni versi printing seperti brosur-brosur komersial. Usulan ini masih belum terpenuhi. Namun bulan oktober 2010 kemungkinan akan diuji coba versi printing.
  3. Kendala terbesar dialami oleh pasien usia di atas 50 tahun dimana Font ukuran 11-12 tidak nampak tanpa kacamata plus. Kendala ini teratasi dengan pembuatan versi Flyer ( leaflet ) dengan Font ukuran 16. Sayangnya, ukuran ini masih kabur bagi pasien dengan kacamata plus 1,5 lebih ketika dibaca tanpa kacamata. wehhh, berarti perlu veri x-banner ukuran 60-140 cm… 😀

Hingga saat ini, penulis masih terus berusaha mencari bentuk terbaik sesuai harapan dan masukan pasien di Ndeso kami. Penulis berpendapat, walaupun Brosur gratisan, gak ada salahnya sedikit bergaya supaya keren dan makin nyaman dibaca.

Akhirnya, brosur informasi penyakit dan informasi kesehatan yang diberikan kepada pasien di ruang praktek dokter, sangat bermanfaat khususnya bagi para pasien, dan boleh jadi bermanfaat pula bagi sebagian khalayak sebagai salah satu media diseminasi informasi kesehatan secara umum.

Soga bermanfaat.

Link Terkait:

Berikut ini adalah contoh beberapa Brosur Penyakit yang penulis bagikan kepada para pasien di ruang praktek.

  • Brosur Keputihan ( Fluor albus ) | 146 KB | Download
  • Brosur Herpes zoster | 286 KB | Download
  • Brosur HFMD | 306 KB | Download
  • Brosur Impetigo | 181 KB | Download
  • Brosur Cutaneous Larva Migrans (cacing kulit) | 209 KB | Download
  • Brosur Vertigo | 294 KB | Download
  • Brosur Scabies | 346 KB | Download
  • Brosur Urtikaria | 191 KB | Download
  • Brosur Varicella (cacar air) | 189 KB | Download

:: :: :: posting menggunakan WLW :: :: ::

Iklan

41 Responses to “Brosur Penyakit Gratis”


  1. 1 mama tristan Juli 6, 2010 pukul 8:39 pm

    wah keren!! dan super kreatif!! kebetulan sy asistensi mata kuliah pengembangan media cetak di slh satu univ neg, dan belum pernah ada materi pengembangan media cetak untuk “kasus” seperti ini.. insya Allah sy lihat2 ya semua brosurnya.. mungkin bs dibuat untuk tugas mahasiswa ^_^ hehehehe… sukses ya cak.. saran sy menyusul 🙂 takbelajar dulu biar kayak dosen beneran 🙂

  2. 2 Cahya Juli 7, 2010 pukul 3:17 am

    Bagus Cak, tapi jangan lupa dimasukkan ke dalam halaman download juga agar kita tidak lupa nantinya. Terutama saya suka pikun juga sih 🙂

  3. 3 sibermedik Juli 7, 2010 pukul 1:47 pm

    mungkin kelak brosur prakteknya Cak Moki akan lebih interaktif dengan fitur http://m.cakmoki.com yang bisa dibuka lewat HaPe dan yang penting anti gombal maning..eh..global warming soale ra nganggo kertas..hehehe

  4. 4 sibermedik Juli 7, 2010 pukul 11:25 pm

    mampir ya cak ke blog saya lagi…..

  5. 5 cakmoki Juli 8, 2010 pukul 1:22 am

    @ mama tristan:
    lho lho lho … ini untuk praktek, tidak layak untuk tugas sekelas mahasiswa. Yg saya perlukan justru saran penjenengan 🙂
    Maturnuwun

    @ Cahya:
    Makasih diingatkan Mas 🙂 .. ntar kalo sempet akan saya masukkan ke halaman download.

    @ sibermedik:
    Diwoco di HP keliatan tah ? tulisane cuilik-2 lak-an.
    Ok, rutin mampir koq, cuma gak komen 😀

  6. 6 mbokratu Juli 8, 2010 pukul 11:00 pm

    Wah wah wah….Saya belum pernah keluar dari ruang dokter dapat brosur, kalau semua dokter seperti cak moki, insyaAllah masyarakat Indonesia jadi melek kesehatan. Mudah-mudahan para dokter di Indonesia tidak pelit ilmu sehingga bukan hanya dokternya yang pinter, tapi pasiennya juga ikut pinter. Gimana kalau hal ini ditularkan pada dokter diseluruh Indonesia? Bila perlu diwajibkan, gitu. Kan wacananya bisa di bahas di pertemuan IDI atau semacamnya.
    Sukses selalu, Cak.

  7. 7 cakmoki Juli 10, 2010 pukul 5:09 pm

    @ mbokratu:
    Hanya brosur sangat sederhana koq mbak… itupun kayaknya cocok untuk wong Ndeso … Namun, nampaknya IDI kota kami berkenan akan memperbanyak dan semoga dikoreski oleh para spesialis supaya berkualitas.
    Maturnuwun supportnya

  8. 8 renra Juli 13, 2010 pukul 9:32 pm

    makasih atas artikelnya…

  9. 9 Perawatlinglung Juli 14, 2010 pukul 12:39 pm

    Waduh! Cak dokter emang hebat!
    Memang sharusnya bgitu ya cak!
    Pasien tidak hanya di obati tapi jg diberi pembelajaran ttg penyakitnya sehingga tidak terjadi infeksi mengulang…
    Klo cek lab menurut saya memang penting untk mndukung diagnosa tuh cak..
    Masalahnya, biayanya itu yg kadang memberatkan. Pdhal setelah saya hitung2 untuk pemeriksaan lab umum, cthnya widal, biaya pelaksanaan hanya perlu ±15rb 1xpemeriksaan.
    Satu lagi dok! Saya heran jg sekarang masih ada dokter yg tinggi gengsi (jgn tersinggung ya cak…) klo kasih resep harus obat paten/branded. Gak liat2 kondisi ekonomi pasien. Pasien yg g tau apa2 ya manut aja beli obat mahal itu. Padahal obat generik yg sama digjayanya adalah pilihan yg pas buat yg berkocek minim. Akibatnya malah orang2 miskin jd anti dokter dan milih Ponari jd healernya.
    Haha! Ceritanya jadi ke ke ‘sehat itu mahal’ ya cak… Yah, klo di telisik kenapa kesehatan itu mahal memang awalnya udah mahal.. Pendidikan keparamedikan dgn ilmunya yg MAHAL! Mulai dr FK, Akper, Akbid, Akanalis, dll. Obat dgn segala promosinya yg MAHAL! Rumah sakit dgn managerialnya yg MAHAL!
    Menurut saya, disamping Brosur tsb, kita sebagai paramedik harus punya pemilahan dan nurani terhadap pasien agar ilmu kita tidak hanya untuk kekayaan dunia tapi juga untuk kekayaan akhirat. Itung2 amal jariyah.
    Saya terinspirasi dgn bidan sebelah rumah. Berobat kadang g pake bayar untuk para tetangga… Orang yg melahirkan kadang cm pake ucapan terimakasih. Tapi budi baiknya membuat beliau tetep aja hidup berkecukupan (baca: kaya). Cz bnyk yg berhutang budi. Memang ya klo sedekah itu menambah nikmat kita berkali lipat…
    Maaf cak, jadi curhat nih…
    Hehehe..
    Tapi aku yakin cak dokter adalah salah satu dokter yang berhati mulia. Ilmunya tidak hanya untuk diri sendiri. Buktinya dengan blog cak dokter yg sangat bagus ini!
    Bagus sekali cak!
    Teruskan perjuanganmu menyehatkan kehidupan bangsa!
    Semoga berkah! Amin!

  10. 10 cakmoki Juli 15, 2010 pukul 1:19 pm

    @ renra:
    Sama-sama…makasih kunjungannya

    @ Perawatlinglung:
    Benar, Lab untuk mendukung diagnosa atau untuk follow up, hanya jika benar-benar diperlukan. Bukan dikit-dikit main Lab … lha kalo penyakitnya udah jelas dengan anamnesa dan pemeriksaan fisik, maka Lab tidak diperlukan. Ini Kaidah Menegakkan Diagnosa dalam dunia medis. Ada unsur “indikasi medis” dan “kepatutan”, bukan indikasi yang dibuat-buat.

    Ungkapan “Sehat Itu Mahal”, maksudnya adalah nilai kesehatan tak ternilai, karenanya harus dijaga agar nikmat kesehatan yang dianugerahkan kepada kita dapat digunakan untuk aktifitas yang bermanfaat bagi dirinya dan bagi sesama. Namun, jika ada yang mengaitkannya dengan biaya pendidikan dan obat serta penunjangnya, saya tidak ikut-ikut … 😀

    Makasih atas support dan do’anya, semoga demikian pula sebaliknya… amiin

  11. 11 makanan Organik Juli 15, 2010 pukul 5:16 pm

    Ide yang cerdas bagi didunia kesehatan,dimohon para pekerjamedis terbuka untuk mengembangkan hal ini juga dilingkungan anda bekerja. tanks

  12. 12 cakmoki Juli 16, 2010 pukul 2:10 pm

    @ makanan organik:
    Thanks

  13. 13 julianusginting Juli 16, 2010 pukul 2:33 pm

    sbo, mampir ya dah lama ga berkunjung neh.. 😀

  14. 14 cakmoki Juli 16, 2010 pukul 3:19 pm

    @ julianusginting:
    Silahkan 🙂

  15. 15 rey Juli 17, 2010 pukul 10:43 pm

    Ternyata, masyarakat di Ndeso kami tidak suka Brosur dengan banyak tulisan. Maunya bergambar, tidak terlalu ramai warna, tulisannya sedikit, padat serta mudah dimengerti. Inilah sulitnya ! Namun, umpan balik serta saran dari pasien sangat membantu untuk perbaikan brosur, baik dari segi bentuk maupun bahasa.

    cuma ngopas tulisan cakmoki…
    ha…ha…ha…

  16. 16 cakmoki Juli 18, 2010 pukul 3:48 pm

    @ rey:
    hahaha… 😀

  17. 17 woro Juli 21, 2010 pukul 12:57 pm

    cak moki saya mau tanya dunk….
    saya kan beberapa kali ke dokter (pake jamsostek). masak tiga kali berobat (kadang anak, kadang saya yg sakit) obatnya sami mawon semuanya…(tiga obat yg selalu sama: amox, pct, ctm). padahal waktu itu saya sakit mata, anak panas batuk pilek, terakhir radang tenggorokan. akhirnya nggak saya tebus resepnya walo gratis. saya cuma pengen tau sakitnya apa trs cari obat sendiri deh hiks hiks…

    apa begitu ya nasib pasien jamsostek?

    kok jadi curhaaaat….

  18. 18 cakmoki Juli 22, 2010 pukul 11:36 pm

    @ woro:
    Di Indonesia, pada umumnya para peserta asuransi diberlakukan pembatasan paket pengobatan, dan sebagian besar menganut sistem kapitasi. Nah, kondisi semacam itu otomatis akan membatasi kompetensi dokter dan hak pasien untuk mendapatkan pelayanan terbaik… itu artinya, seghala bentuk promosi yg berbunyi “kualitas prima” hanyalah jargon belaka… Bagaimana mungkin seorang dokter memberikan layanan terbaik jika dibatas dengan paket-paket pelayanan ? otomastis, pasiennya juga dirugikan.
    Jadi, yang jadi kormab sebenarnya ada 2, yakni: dokter dan pasien. Itu sebabnya saya tyidak pernah mau bekerja sama dengan pihak lain khusunya asuransi karena sama saja merendahlan integritas saya untuk memberikan yg terbaik kepada pasien dan pasienpun dirugikan karena hanya mendapatkan iobat seadanya.
    Nasib peserta Jamsostek hanya bisa membaik jika para dokter berani memperjuangkan hak-hak pasien dan integritas dirinya sendiri.
    Makasih telah berbagi 🙂

  19. 19 celli Juli 22, 2010 pukul 11:50 pm

    kreatifff…daru dulu cm kepikiran tp mau buat ga jadi2..makasih dok contoh2nya..smg bs menginspirasi..^_^

  20. 20 cakmoki Juli 23, 2010 pukul 12:56 am

    @ celli:
    sama-sama, makasih juga.. ntar kalo jadi, saya diberi ya … 🙂

  21. 21 bradercep Juli 24, 2010 pukul 4:50 am

    brosurnya sangat bermanfaat..trims..

  22. 22 cakmoki Juli 24, 2010 pukul 3:56 pm

    @ bradercep:
    Trims juga atas kunjungannya 🙂

  23. 23 Yusuf Ardian Juli 30, 2010 pukul 9:34 am

    Saya sudah download brosurnya ..keren..bahasanya simpel dan ada selingan humornya terimakasih ya cak..

  24. 24 cakmoki Juli 30, 2010 pukul 3:57 pm

    @ Yusuf Ardian:
    Monggo Mas…. bisa dibagikan ke pasien… silahkan ganti namanya dngan nama penjenengan 🙂
    Blog nya saya link di halaman Temans..yaaa … di bagian Blog Kesehatan.
    Makasih

  25. 25 Yusuf Ardian Juli 31, 2010 pukul 8:09 am

    Wah baek sekali mas ini…gak ngelanggar hak cipta itu kalo diganti nama saya…he he he…, matur nuwun nama saya sudah diamasukkan jadi teman…saya masih baru belajar ngeblog jadi mohon bimbingannya ya mas…

  26. 26 cakmoki Juli 31, 2010 pukul 3:30 pm

    @ Yusuf Ardian:
    Semua isi Blog ini untuk umum, gak ada hak cipta-ciptaan, yg penting informasi kesehatan selamat sampai tujuan…hehehe
    Apalagi untuk TS … 🙂 bebas, kalo perlu diperbaiki sesuai up date dan bahasa setempat/
    Untuk Blog, kita belajar sama-sama, saya juga gak begitu mudheng, trial and error dan alhamdulillah banyak errornya .. hahaha

  27. 27 Aries Agustus 19, 2010 pukul 12:15 pm

    salam kenal cak, saya aries dari batusangkar, terima kasih banyak cak moki, brosurnya sangat bermanfaat…

  28. 28 cakmoki Agustus 19, 2010 pukul 3:23 pm

    @ Aries:
    Salam kenal, Mas Aries … 🙂
    Terimakasih atas kunjungannnya …

  29. 29 Aries Agustus 24, 2010 pukul 12:40 pm

    saya mau tanya cak, boleh atau tidak seorang kepala UPTD puskesmas adalah dokter fungsional bukan struktural ?
    Dasar hukumnya apa saja cak ?
    Soalnya lebih menguntungkan jika jadi fungsionalm mohon penjelasannya cak, terima kasih …

  30. 30 cakmoki Agustus 24, 2010 pukul 7:19 pm

    @ Aries:
    Boleh, bergantung pada Kepala Daerah dan Kepala Dinkes masing-2 masing daerah.
    Maaf saya tidak hapal Undang-undangnya… yang jelas, Puskesmas adalah unit fungsional terkecil pelayanan kesehatan masyarakat yang terpadu.
    Bukan hanya menguntungkan tapi sesuai definisi dan fungsinya, Puskesmas adalah unit fungsional … kalo semua kepala Puskesmas menolak Struktural, seperti di tempat kami, maka Pemda akan meluluskannya .. yang suka ngerepotin biasanya jajaran kesehatan sendiri.. maklumlah, orang Puskesmas lebih muah naik pangkat… jadi wajar saja kalo teman sendiri yang di struktural gak rela…. hahaha
    Makasih

  31. 31 Layar September 3, 2010 pukul 11:48 am

    Salam…

    Terimakasih banyak sharing brosurnya Pak Dokter…
    Izin download ya… 🙂

  32. 32 cakmoki September 3, 2010 pukul 6:55 pm

    @ Layar:
    Salam…
    Monggo , silahkan.. kalo ada link yg ga bisa download harap ngasih tahu yaaa..

  33. 33 awan September 23, 2010 pukul 2:25 pm

    Salam kenal, dan mohon ijin download cak.
    dr.baru

  34. 34 cakmoki September 23, 2010 pukul 3:00 pm

    @ awan:
    salam kenal 🙂
    Monggo…silahkan.
    Makasih kunjungannya

  35. 35 desvan September 27, 2010 pukul 4:33 pm

    Pak Dokter,

    saya ijin unduh brosurnya yahhh..
    suwun

  36. 36 desvan September 27, 2010 pukul 4:34 pm

    salam kenal Pak,

    maaf.. telat perkenalannya.
    terima kasih atas artikel2 yang bermanfaat terutama tentang tifus.

    wass

  37. 37 cakmoki September 28, 2010 pukul 12:11 am

    @ desvan:
    Salam kenal 🙂
    Monggo, silahkan
    Maturnuwun telah ikut menyebarluaskan infomasi singkat penyakit melalui brosur

  38. 38 Agus layur Oktober 4, 2010 pukul 10:35 pm

    Hueebat Cak yg satu ini.. 🙂 🙂 🙂
    Jadi pingin berobat ke palaran neh 🙂 🙂 🙂
    Sayang ongkos transportasinya jauh lebih mahal daripada ongkos berobatnya ya cak….
    Kalo begitu izin unduh brosurnya saja ya cak…:) 🙂 🙂

  39. 39 cakmoki Oktober 5, 2010 pukul 12:18 am

    @ Agus Layur:
    Monggo dipersilahkan 🙂
    Moga sehat selalu sehingga gak perlu berobat.
    Makasih atas supportnya 😀

  40. 40 tian kids blog Mei 31, 2011 pukul 10:41 am

    numppang nyedot brosuus gan…


  1. 1 Tipe Pasien | Kumpulan Informasi Kesehatan Lacak balik pada Agustus 31, 2010 pukul 7:00 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Wong ndeso ™

cakmoki

Wordpress Indonesia

Silahkan baca

DISCLAIMER

web tracker

9 Desember 2009

SEMENTARA TUTUP

Maaf, sementara Blog istirahat hingga ada pemberitahuan

Harap maklum


MARI HENTIKAN KORUPSI

Jangan Korupsi Ah

No Korupsi

Internet Sehat

Warga Bicara

» Makasih PLN, listrik Samarinda dah membaik, moga gak byar-pet

» Waspada Demam Berdarah

» Jangan Gunduli Palaran

» Banjir...banjir. Kapan masalah ini teratasi ?

INGA INGA INGA

» Nyeri Urat or Tulang BUKAN berarti Penyakit Asam Urat.

» Sekali lagi: Pegal, Linu Tidak Identik dengan Penyakit Asam Urat

TEMANs

9racehime | A. Fatih Syuhud | Aditiawan Chandra | A.Tajib | Agung UD | aLe | alief | alle | almascatie | Amd | Anak Peri | Anak Sultan | Anang | Anang YP | Anas | Andalas | Anggara | Anjaz | Anti Pungli | Antobilang | Anung87 | Aribowo | Arif Kurniawan | Arul | Astikirna | awan965 | axireaxi | Bambang alias HR | BatakNews | Blog Pokoke? | Biho | CalonOrangTenar | Cay | Chandra | Chielicious | chiw imudz | cK-chika | Dalamhati | Deden Nugraha | deedhoet | deKing | Desti Utami | Didats | doeytea | dnial | Edy C | Eep | Elpalimbani | erander | Evi | Fa | Fa wp | Faiq | Fertobhades | Fetro | Fortynine | Freddy | Gadis | Gaussac | Gitablu | Grandiosa | GuhPraset | GuM | Helgeduelbek | Herdy | Indonesia Kita | Indra KH | ItikKecil | iway | Jejakpena | Jennie S. Bev | Joesath | Joko Taroeb | Julee | Juli | Juliach | Junthit | Jurig | Kakilangit | Kang Adhi | Kang Kombor | Kangguru | kawaichu | Kenji | Kenzt | kikie | koecing | Kumala | Kurtubi | Kw | Laras | liezmaya | Lilik Suryanto | Lily | Linker | Lintang | Lita | Lita wp | Luthfi | MaIDeN | Majalah Dewa Dewi | Manusiasuper | Master Li | Mathematicse | macanang | mbojo | Mei | Micokelana | Mr. Geddoe | Mufti | mybenjeng | My-za | Nayla Zahra | Nayz | Ndarualqaz | Neeya | Neo Forty-Nine | Neri | Ninoy | Nieke | Nomercy | n0vri | NuDe | Om Sulis | omaigat | Ooyi | Paijo | Panca | Pandu | Panduan WP | Papabonbon | Passya | Peyek | Pinkina | Pitik | Pralangga | Prayogo | Priyadi | Qee | Raja iblis | RenjanaBiru | rivafauziah | Rivermaya | Roffi | roisZ | Rujak | Sagung | Sahrudin | Saiful Adi | SaRa | Siu | Sofi | Sora9n | Suandana | Suluh | Susiloharjo | Telmark | Thamrin | tiesmin | Triesti | Tukang Sate | Venus | Wadehel | Wahyuansyah | Wandira | Wiku | WongMangli | Wulan | Yati | Yudhipras |

:: :: :: :: :: :: :: :: ::

Kesehatan

:: Ady Wirawan :: Agus Mutamakin :: Anis Fuad :: Anis Fuad wp :: Asri Tadda :: Astri Pramarini :: Astri Pramarini (awal) :: Astri Pramarini wp :: Blog Mahasiswa FKU 2003 :: Blog Rumah Kanker :: Dani Iswara :: Dani Iswara weblog :: Dokter arek cilik :: drAnak :: drarifianto :: Dwi wp :: Elyas :: Erik Tapan :: Evy HealhtySmile :: FK Unsri :: Gies :: Gies wp :: Ginna :: Grapz :: Hendar Sunandar :: HIV News :: Huda Thoriq :: IDI Samarinda :: imcw :: Imran Nito :: Iwan Handoko :: Jhonrido :: klikharry :: Kobal :: Laksmi Nawasasi :: Mashuri :: Mave Mina :: Mbah Dipo :: Mina :: My Blogspot :: Nur Martono :: PKM Palaran :: Rara :: Rizma Adlia :: Rudy Kwang :: SenyumSehat :: Sibermedik :: SimkesUGM :: SuperKecil :: Titah :: Tito :: Tonang Ardyanto :: Tukangkomentar :: Wi :: Vina Revi :: Vina Multiply :: Yusuf Alam R :: zulharman79 ::

:: :: :: :: :: :: :: :: :: :: ::

Institusi Kesehatan

:: Depkes RI :: WHO :: WHO Indonesia :: … nyusul

:: :: :: :: :: :: :: :: ::

Kolaborasi

:: Emedicine :: ICD 10 Wikipedia :: ICD 10 Wiki Indonesia :: OSWD :: OpenWebDesign :: Pakistan Times :: Rubab :: ntar ::

Kategori

BlogTour

Arsip

Komunitas Blog

blog-indonesia.com

PAGE RANK

Powered by  MyPagerank.Net

Add to Technorati Favorites

[Valid RSS]

Health Blogs - Blog Top Sites

Health

Blogs Topsites - TOP.ORG

Health Blogs - Blog Rankings

Blog directory

TopOfBlogs

Top 10 Award

Feed Burner

cakmoki Blog

Bloggerian Top Hits

My BlogCatalog BlogRank

Site Meter

Since 30 Nov 07

PENGUNJUNG

  • 5,250,104 pengintip

Asal Usul

Pebruari 2011

free counters


%d blogger menyukai ini: