Obat Setengah Resep

Resep. Sumber gambar: getty images Pernahkah kita mendengar seseorang membeli obat di Apotik sebanyak setengah dari jumlah yang tertera dalam resep dokter ? Ungkapan “nebus obat separo” atau “nebus obat setengah”, boleh jadi mengandung dua pengertian. Pertama, mungkin pasien beranggapan obat yang diberikan oleh dokter terlalu banyak. Kedua, mungkin harga obat dalam resep terlalu mahal. Atau tidak cukup uang untuk membeli semua obat yang tertulis dalam resep saat ambil obat di apotik. Menurut pengakuan pasien, alasan terbanyak adalah faktor kedua, yakni: obat mahal banget.

Lantas, bagaimana reaksi dokter ketika mengetahui pasiennya hanya “nebus obat setengah” dari yang diresepkan ketika si pasien berobat lagi ?

Beragam ! Ada dokter yang mengganti resep dengan obat merk lain atau dengan obat generik tanpa mengorbankan fungsi dan kualitas obat. Ada yang berujar bahwa sebenarnya harga obat tidak semahal perkiraannya. Ada yang berusaha mencari tahu ke apotik. Ada pula yang bereaksi tidak menyenangkan sembari berkata: “ harga obat memang mahal, mau sembuh apa tidak ?” 

SALAH SIAPA ?

Menanggapi fenomena “nebus obat setengah resep” tidak cukup dengan menyalahkan pasien dan dokter secara sepihak. Di luar itu masih ada pihak lain terkait pelayanan medis, yakni apotik dan produsen obat. Dengan kata lain, fenomena “nebus obat setengah resep” yang disebabkan mahalnya harga obat, merupakan lingkaran nan kompleks. Pada artikel ini, kita akan sedikit menguak dari sisi si empunya kompetensi penulis resep, yaitu dokter.

OBAT IRASIONAL DAN MAIN MATA

Mengacu pada pedoman Badan Kesehatan Dunia (WHO) pada 1987, pemakaian obat yang rasional adalah yang memenuhi kriteria sebagai berikut:

  1. Digunakan sesuai dengan indikasi penyakit
  2. Tersedia setiap saat dengan harga yang terjangkau masyarakat luas
  3. Diberikan dengan dosis yang tepat
  4. Diberikan dalam interval waktu yang tepat
  5. Lama pemberiannya tepat
  6. Obat yang diberikan harus efektif, aman, dan mutunya terjamin.

Faktanya, masih banyak pemberian obat irasional, terutama terkait “indikasi”. Sudah menjadi rahasia umum bahwa sebagian dokter memberikan obat kepada pasien tidak melulu berdasarkan “indikasi penyakit”, tapi terselip “indikasi lain”. Apa saja “indikasi lain” di balik indikasi penyakit ? Bentuk dan nilai nominalnya beragam, diantaranya:  bonus, kredit nota (CN), kontrak peresepan, uang transport, persentase resep, dan masih banyak lagi istilah yang digunakan sebagai bentuk main mata antara produsen obat dan dokter.

Pelbagai bentuk  “kerja sama” antara dokter dan produsen obat, semuanya dibebankan kepada pasien. Ujung-ujungnya bisa ditebak, yakni harga obat makin melambung. Belum lagi adanya kecenderungan dokter meresepkan obat mahal, dan bahkan ada yang terang-terangan mengarahkan pasien untuk membeli obat di apotik tertentu.

Beberapa teman sejawat bertutur: “ gimana mas, kita gak minta tapi dikasih, masa mau ditolak ”. Yaaaaa, tolak aja. Apa sulitnya bilang tidak. Toh uang begituan gak bakalan bikin kaya. Malah membuat dokter berada pada posisi bak hamba sahaya yang dikendalikan pihak lain.

dr. Djoko Santoso, SpPD K-GH PhD dalam artikelnya yang dimuat di beberapa koran, berjudul Terjerat Pemakaian Obat Irasional, menyebutkan bahwa harga obat di Indonesia tergolong paling mahal di kawasan Asia Pasifik. Pada paragraf kedua, beliau menuliskan:

Hasil penelitian Health Action International (HAI) Penang pada 1995 terhadap 22 jenis obat yang paling banyak digunakan di 29 negara Asia Pasifik membuktikan bahwa harga obat di negeri kita tercinta ini memang yang termahal di kawasan ASEAN. Pemicunya, pemakaian obat di Indonesia tergolong tidak rasional.

UPAYA JALAN KELUAR

Banyak artikel telah ditulis para ahli guna mereduksi mahalnya harga obat di Indonesia. Undang-undang dan peraturanpun telah dibuat untuk mengendalikan harga obat agar terjangkau tanpa mengurangi kualitasnya. Apa daya, tanpa langkah nyata yang sungguh-sungguh dan berkesinambungan, segala upaya menurunkan harga obat hanyalah angan-angan belaka.

Bagi kita para dokter, upaya ikut membantu mengendalikan harga obat dapat dilakukan dengan mudah, yakni dengan memberikan obat rasional dan yang tak kalah penting adalah tidak menerima pemberian dari pihak manapun yang berpotensi melambungkan harga obat.

Semoga bermanfaat.

:: :: :: posting menggunakan WLW :: :: ::

Tag Technorati: {grup-tag},,,,
Iklan

24 Responses to “Obat Setengah Resep”


  1. 1 wulan Desember 16, 2009 pukul 1:14 am

    pak ..ini pengalaman pribadi.
    si mbak (PRT) di rumah, kakiknya bengkak karena digigit serangga, sampai panas dingin …
    saya suruh berobat ke RS sendiri, krn saya sibuk dg anak2.
    pulang2 disodori tagihan obat Rp 300.000 untuk : antibiotik, antiradang dan paracetamol … apa itu termasuk yg berlebihan ya pak ??

  2. 2 triesti Desember 16, 2009 pukul 1:34 am

    aku sih bisa ngerti kalo dokter dibayari untuk kongres, karena bisa dapat ilmu baru. tapi banyak yg lebih hura2 sifatnya kayak pesta keluarganya (ultah anak aja bisa belasan juta dibayari obat).

    ujung2nya pasien pula yg harus nanggung. salah satunya kayaknya temanku.

    8 hari pusing, ke dokter di bali disuruh beli obat ratusan ribu katanya ada pembengkakan pembuluh darah di otak. dia beli dan makan obatnya. kakinya lalu jadi masalah. aku tanya, emang sudah di scan bisa dibilang seperti itu? ternyata tidak. besoknya krn permintaan neurolog yg di Belanda di mri, hasil tidak ada masalah di otaknya. yg ada dia harus beli obat lain lagi untuk mengatasi kakinya.

    untungnya asuransi di belanda covered. kalo orang sini yg ngga punya asuransi? udah jatuh tertimpa tangga, dilindes truk namanya.

  3. 3 woro Desember 16, 2009 pukul 10:12 am

    kita yang jadi pasien juga harus pintar2 ya… klo saya sih ketika dikasih resep saya baca dulu.. atau cek dulu di internet tentang kandungan de el el… klo nggak bs baca tulisan dokternya, saya nanya aja ke apotek hehe.

    abis itu ya udah dipilih2 aja sendiri obat yg pengen dibeli.

    tapi susahnya klo berobat ke tempat yang ujug2 udah dikasih duluan obatnya. resepnya aja kagak dikasih huh. tapi klo yg ini juga ga semua obat diminumlah.. terutama untuk obat2 antibiotik…

    seandainya semua dokter itu RUD… *ngayal*

  4. 4 Shinta Desember 16, 2009 pukul 10:23 am

    Cakmoki…

    Kalau seandainya uang kita gak cukup buat nebus semua obat dalam resep, apa yang mesti dilakukan? Balik lagi ke dokternya minta resep yang lebih murah?

    Terima kasih…. 🙂

  5. 5 Cahya Desember 16, 2009 pukul 11:00 am

    Cak, rasanya pemerintah sempat merilis banyak obat murah, kalau dengan itu bagaimana?

    Walau tentu sepertinya tidak untuk semua jenis obat.

  6. 6 sisil Desember 16, 2009 pukul 2:57 pm

    Di tempatku berobat apotiknya selalu nawarin, mo yang paten apa yang generik. Trus aku tanya manjur mana paten apa generik. Petugas apotiknya bilang “sama saja”. Lha, klo manfaatnya sama, kenapa gak pake yang generik kan lebih murah. hehe ..

    BTW dok, paten sama generik apa bedanya ya …. (sorry rada oneng).

    Trims.

  7. 7 cK Desember 16, 2009 pukul 11:40 pm

    makasih atas ilmunya cak. saya juga pernah menemui hal yang sama. 😀

  8. 8 cK Desember 16, 2009 pukul 11:43 pm

    cakmoki, postingan ini saya share di twitter ya biar pada baca. 😀

  9. 9 cakmoki Desember 17, 2009 pukul 12:26 am

    @ wulan:
    wiiihhhh, itu sangat berlebihan, mbak.
    Bukannya mau promosi, di sini, kalo hanya infeksi karena digigit serangga, 300 ribu bisa dipakai untuk berobat 6 orang, sudah termasuk jasa dokter dan obatnya (antibiotik, anti radang dan lain-2) 😀

    @ triesti:
    iya, kalo untuk kongres, simposium, seminar, workshop, masih bia dibenarkan berdasarkan ketentuan “don’t dan do” IDI. Fee maksimal 200 ribu dan harus pake tanda terima. Tapi emang bener, ada yang minta-minta ke produsen untuk ngelencer, mudik dan bahkan ultah anaknya…hahaha…parah.

    @ woro:
    sy sependapat. Seorang pakar komunikasi medis mengatakan bahwa pasien hendaknya bersikap cerdas dengan menanyakan indikasi setiap obat dan indikasi pemeriksaan penunjang sebagai kontrol rasionalisasi pelayanan medis. Kalo jawababnya gak memuaskan, dianjurkan untuk pindah dokter yang lebih dapat dipercaya. *ngayal juga*

    @ Shinta:
    Betul 🙂

    @ Cahya:
    iya bener. Bahkan upaya tersebut diwujudkan dalam bentuk peraturan. Sebagian besar obat bisa dibuat menjadi murah, terutama obat-obat esensial. Sayangnya, sebagian dokter masih suka memberikan resep obat mahal. Konon, kalo yg murah gak dapet bonus. Di sisi lain, Produsen pinter juga. Ada produsen yang merubah statusnya menjadi PMA dengan tujuan tidak harus memenuhi kewajiban memproduksi obat murah. Tuh..kan….

    @ Sisil:
    Petugas apotiknya bener tuh. Khasiatnya sama aja sepanjang bahan bakunya berasal dari pabrik yang sama.
    Singkatnya, obat paten adalah obat yang didaftarkan dengan menggunakan merk tertentu sebagai hak paten. Sedangkan obat generik adalah obat dengan nama aslinya. Inilah salah satu faktor yang membuat obat generik lebih murah karena tidak memerlukan biaya promosi dan biaya untuk mempatenkan obat tersebut.
    Contoh:
    Andai sy ingin mempatenkan obat amoksisilin kaplet dengan nama tertentu, misalnya pake nama cakmokisilin, maka obat dengan nama tersebut harus didaftarkan untuk mendapatkan hak paten. Setelah mendapatkan hak paten, maka nama obat cakmokisilin yang mengandung amosisilin (nama generik) gak boleh dipakai oleh pabrik lain. Jika pabrik lain mau bikin obat paten yg mengandung amoksisilin, maka harus pake nama lain, misalnya Sisilin, Sisilmox, dll …. hehehe. Nah, cakmokisilin, sisilin, sisilmox tersebut adalah obat paten yg mengandung amoksisilin.
    Moga dah bisa membedakan keduanya.

    @ cK:
    Silahkan Chik … lama gak jumpa nih 😀

  10. 10 Shinta Desember 17, 2009 pukul 9:56 am

    Tanya lagi cak…orang apotik boleh nuker obat dalam resep dokter dengan yang generiknya? Kalo terjadi sesuatu sehubungan dengan penukaran obat tersebut siapa yang tanggungjawab?

  11. 11 cakmoki Desember 17, 2009 pukul 11:23 am

    @ Shinta:
    Boleh, setelah mendapatkan ijin dokter yg memberi resep, setidaknya lewat tilpon.
    Kalo penukaran obat dilakukan tanpa ijin dokter, maka yang menukar obat resep terkena imbas tanggung jawab, bergantung pada bentuk dan jenis “sesuatu” yg terjadi berkenaan dengan pemberian obat.
    Andaikata seseorang mengalami alergi obat atau bahkan syok, tetapi obat tersebut sesuai dengan indikasi penyakitnya, maka tidak ada satupun yang dapat dipersalahkan.

  12. 12 sisil Desember 17, 2009 pukul 3:06 pm

    Hmmm ….

    Makanya obat paten muaaahal tenan.

    cakmokisilin, sisilin, sisilmox …..
    boleh juga tuh, dok. hehehe ….

  13. 13 Anwar Desember 17, 2009 pukul 3:49 pm

    Saya mau berbagi pengalaman. Setelah istri saya di-hidrotubasi (biayanya nguras tabungan 😦 ), dokter memberi resep. Kasir RS (tidak saya sebut nama RS-nya, takut dituntut Rp 204 juta) berinisiatif memasukkan tagihan penebusan resep di apotek RS tsb, dan harganya…Rp 700 ribu!!! Saya balik ke dokternya, minta diganti dgn obat yg lebih murah atau generik. Sang dokter tanya ke saya berapa harga obat di resep. Setelah saya jawab, dia tampak merengut sedikit geleng kepala. Dia buat resep baru, dan ternyata itu cuma resep amoxicilin yg harganya ~Rp 30 ribu. Kalo amoxicilin Rp 30ribu bisa dipakai, kenapa di awal diresepkan antibiotik yg harga kelas jetset?!
    Tapi saya yakin, antibiotik yg mahal itu bukan cakmokicilin 😀

  14. 14 Amd Desember 17, 2009 pukul 4:30 pm

    Yah, ketika kesehatan di-industrikan dan orang sakit menjadi target konsumen, akhirnya harga obat melambung jauh di atas daya beli. Tak heran kalau ada yang bilang “orang miskin dilarang sakit…”

    Izin saya delicous postingannya Cak…

  15. 15 sobatsehat Desember 17, 2009 pukul 11:32 pm

    selamat malam cak,
    saya sudah emailkan ke cak moki untuk mengundang cak moki menulis di blog saya sebagai penulis tamu. besar harapan saya cak moki berkenan. terima kasih cak

  16. 16 cakmoki Desember 18, 2009 pukul 3:13 pm

    @ sisil:
    hehehe, iya. Entah mengapa, upaya-upaya para Menkes untuk merealisasikan obat yang terjangkau dengan mutu terjamin, hampir selalu kandas.

    @ Anwar:
    Penjenangan termasuk beruntung karena berani minta ganti resep ke dokter. Saya yakin, jauh lebih banyak yang hanya nrimo ketimbang yang minta ganti resep.

    Kalo amoxicilin Rp 30ribu bisa dipakai, kenapa di awal diresepkan antibiotik yg harga kelas jetset?!

    ehm…ehm…ehm…. kemungkinan pertama, dokter tidak mengira harga obatnya segitu mahal. Kemungkinan kedua, ada sesuatu di balik itu yang kita gak tahu secara persis.
    Sy pernah beberapa kali mencoba cross ceck tentang harga obat di apotik. Resep yang harganya kita perkirakan seharga 30-40 ribu (dihitung berdasarkan Harga Eceran Tertinggi dan keuntungan apotik sekitar 30 %), eh ternyata harus dibeli pasien senilai 120 ribu. Lhaaaaa….

    @ Amd:
    Di era korporasi layanan medis sejak tahun 2000, tujuan utamanya sebenarnya adalah memilih dokter dan paramedis yang mumpuni dengan fasilitas serta layanan berkualitas dan harga terjangkau. Namun rupanya “korporasi” lebih ditujukan untuk mengeruk sedalam-dalamnya donpet konsumen. Bener kata sampeyan, orang miskin dilarang sakit…hahaha.
    Monggo, silahkan.

    @ sobatsehat:
    Email sudah saya terima. Terimakasih atas penghargaannya untuk mengundang saya sebagi penulis tamu. Tentu saya merasa tersanjung, tapi saya bukan penulis yang produktif. Untuk itu, jika emang ada posting atau artikel yang diangap layak untuk ditampilkan di blog sobat sehat dot com, silahkan diambil saja.
    Trims

  17. 17 draguscn Desember 19, 2009 pukul 7:34 am

    menyedihkan memang ya .. dan ini tetap menjadi pergesekan temen2 di RS dengan yang di Puskesmas..

  18. 18 cakmoki Desember 19, 2009 pukul 12:45 pm

    @ draguscn:
    ya Mas. Menurut artikel yg ditulis dr. Djoko pada link di atas, RS sebagai salah satu provider yang ikut berperan melambungnya harga obat. Kalo yg di Puskesmas sih hampir gak mungkin ikut-ikut yang begitu… mungkin orientasinya beda… hehehe.
    Sekitar4 minggu yg lalu di sini sempat rame di koran. Seru, sampai-sampai pemprov turun tangan.

  19. 19 A.J.I Januari 25, 2010 pukul 1:05 am

    artikel dan ulasan yang sangat menarik pak, saya juga sedikit memantau fenomena seperti ini di beberapa apotek dan RS di jogja, rata2 ada main mata dengan pihak produsen obat tidak lain karena produk mereka harus terjual dan produsen mendapatkan keuntungan sebesar2nya tapi tanpa sadar harga yang tercantum dari pihak produsen akan memberatkan konsumen masyarakat menengah ke bawah akhirnya muncul “mba saya nebus 1/2 saja” hhmm….masalah ini sebenarnya lebih luas dan kompleks, salam kenal pak kunjungan perdana nih saya mahasiswa farmasi

  20. 20 cakmoki Januari 26, 2010 pukul 1:04 am

    @ A.J.I:
    ya, masalah tataniaga obat sangat kompleks dan penuh liku-2.
    Salam kenal … 🙂 … mhs farmasi ya..berarti kita dalam lingkaran yang sama.
    Makasih atas urun rembug dan kunjungannya

  21. 21 Diah Februari 22, 2010 pukul 12:46 am

    sebaiknya kita belajar mengenai obat, karena buku daftar obat sudah banyak beredar. Dari situ kita tahu turunan dan family dari obat2an tersebut juga mengetahui obat generiknya sudah ada tidak di pasaran. Sehingga kita bisa diskusi dengan dokter terhadap apa yang akan diberikan kepada kita. Obat non resep sebenarnya sudah cukup banyak yang equal karena jatuhnya biasanya lebih murah. Juga belajar membaca tulisan dokter di resep juga penting he he… supaya kalau apoteker salah baca kita bisa tahu.

  22. 22 cakmoki Februari 22, 2010 pukul 3:19 pm

    @ Diah:
    iya, benar. Meski Buku daftar Obat hanya memuat diskripsi singkat, setidaknya dapat dijadikan panduan dan mengenal obat.
    Makasih.

  23. 23 anak manis April 28, 2010 pukul 8:50 am

    Asslm,

    Alhamdulillah.. Pakdhe, akhirnya saya nemu “artikel” yg saya maksud soal obat generik. Ada di salah satu komentar diatas. 🙂

    Ini yg sy maksud Pakdhe :
    “@ Sisil:
    Petugas apotiknya bener tuh. Khasiatnya sama aja sepanjang bahan bakunya berasal dari pabrik yang sama.
    Singkatnya, obat paten adalah obat yang didaftarkan dengan menggunakan merk tertentu sebagai hak paten. Sedangkan obat generik adalah obat dengan nama aslinya. Inilah salah satu faktor yang membuat obat generik lebih murah karena tidak memerlukan biaya promosi dan biaya untuk mempatenkan obat tersebut.
    Contoh:
    Andai sy ingin mempatenkan obat amoksisilin kaplet dengan nama tertentu, misalnya pake nama cakmokisilin, maka obat dengan nama tersebut harus didaftarkan untuk mendapatkan hak paten. Setelah mendapatkan hak paten, maka nama obat cakmokisilin yang mengandung amosisilin (nama generik) gak boleh dipakai oleh pabrik lain. Jika pabrik lain mau bikin obat paten yg mengandung amoksisilin, maka harus pake nama lain, misalnya Sisilin, Sisilmox, dll …. hehehe. Nah, cakmokisilin, sisilin, sisilmox tersebut adalah obat paten yg mengandung amoksisilin.
    Moga dah bisa membedakan keduanya.”

    Tapi memang harus ada artikel tersendiri deh 😀

    Pakdhe, boleh sy copy paste artikel dan komen Pakdhe diatas ke Notes FB saya? tentunya saya akan tulis sumber dan nama penulisnya 🙂

    Makasih 🙂

  24. 24 cakmoki April 28, 2010 pukul 12:39 pm

    @ anak manis:
    Assalamu’alaikum …
    Wah siip ..
    Monggo silahkan copy paste … tanpa sumberpun ga papa 🙂
    Makasih… Wassalam 🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Wong ndeso ™

cakmoki

Wordpress Indonesia

Silahkan baca

DISCLAIMER

web tracker

9 Desember 2009

SEMENTARA TUTUP

Maaf, sementara Blog istirahat hingga ada pemberitahuan

Harap maklum


MARI HENTIKAN KORUPSI

Jangan Korupsi Ah

No Korupsi

Internet Sehat

Warga Bicara

» Makasih PLN, listrik Samarinda dah membaik, moga gak byar-pet

» Waspada Demam Berdarah

» Jangan Gunduli Palaran

» Banjir...banjir. Kapan masalah ini teratasi ?

INGA INGA INGA

» Nyeri Urat or Tulang BUKAN berarti Penyakit Asam Urat.

» Sekali lagi: Pegal, Linu Tidak Identik dengan Penyakit Asam Urat

TEMANs

9racehime | A. Fatih Syuhud | Aditiawan Chandra | A.Tajib | Agung UD | aLe | alief | alle | almascatie | Amd | Anak Peri | Anak Sultan | Anang | Anang YP | Anas | Andalas | Anggara | Anjaz | Anti Pungli | Antobilang | Anung87 | Aribowo | Arif Kurniawan | Arul | Astikirna | awan965 | axireaxi | Bambang alias HR | BatakNews | Blog Pokoke? | Biho | CalonOrangTenar | Cay | Chandra | Chielicious | chiw imudz | cK-chika | Dalamhati | Deden Nugraha | deedhoet | deKing | Desti Utami | Didats | doeytea | dnial | Edy C | Eep | Elpalimbani | erander | Evi | Fa | Fa wp | Faiq | Fertobhades | Fetro | Fortynine | Freddy | Gadis | Gaussac | Gitablu | Grandiosa | GuhPraset | GuM | Helgeduelbek | Herdy | Indonesia Kita | Indra KH | ItikKecil | iway | Jejakpena | Jennie S. Bev | Joesath | Joko Taroeb | Julee | Juli | Juliach | Junthit | Jurig | Kakilangit | Kang Adhi | Kang Kombor | Kangguru | kawaichu | Kenji | Kenzt | kikie | koecing | Kumala | Kurtubi | Kw | Laras | liezmaya | Lilik Suryanto | Lily | Linker | Lintang | Lita | Lita wp | Luthfi | MaIDeN | Majalah Dewa Dewi | Manusiasuper | Master Li | Mathematicse | macanang | mbojo | Mei | Micokelana | Mr. Geddoe | Mufti | mybenjeng | My-za | Nayla Zahra | Nayz | Ndarualqaz | Neeya | Neo Forty-Nine | Neri | Ninoy | Nieke | Nomercy | n0vri | NuDe | Om Sulis | omaigat | Ooyi | Paijo | Panca | Pandu | Panduan WP | Papabonbon | Passya | Peyek | Pinkina | Pitik | Pralangga | Prayogo | Priyadi | Qee | Raja iblis | RenjanaBiru | rivafauziah | Rivermaya | Roffi | roisZ | Rujak | Sagung | Sahrudin | Saiful Adi | SaRa | Siu | Sofi | Sora9n | Suandana | Suluh | Susiloharjo | Telmark | Thamrin | tiesmin | Triesti | Tukang Sate | Venus | Wadehel | Wahyuansyah | Wandira | Wiku | WongMangli | Wulan | Yati | Yudhipras |

:: :: :: :: :: :: :: :: ::

Kesehatan

:: Ady Wirawan :: Agus Mutamakin :: Anis Fuad :: Anis Fuad wp :: Asri Tadda :: Astri Pramarini :: Astri Pramarini (awal) :: Astri Pramarini wp :: Blog Mahasiswa FKU 2003 :: Blog Rumah Kanker :: Dani Iswara :: Dani Iswara weblog :: Dokter arek cilik :: drAnak :: drarifianto :: Dwi wp :: Elyas :: Erik Tapan :: Evy HealhtySmile :: FK Unsri :: Gies :: Gies wp :: Ginna :: Grapz :: Hendar Sunandar :: HIV News :: Huda Thoriq :: IDI Samarinda :: imcw :: Imran Nito :: Iwan Handoko :: Jhonrido :: klikharry :: Kobal :: Laksmi Nawasasi :: Mashuri :: Mave Mina :: Mbah Dipo :: Mina :: My Blogspot :: Nur Martono :: PKM Palaran :: Rara :: Rizma Adlia :: Rudy Kwang :: SenyumSehat :: Sibermedik :: SimkesUGM :: SuperKecil :: Titah :: Tito :: Tonang Ardyanto :: Tukangkomentar :: Wi :: Vina Revi :: Vina Multiply :: Yusuf Alam R :: zulharman79 ::

:: :: :: :: :: :: :: :: :: :: ::

Institusi Kesehatan

:: Depkes RI :: WHO :: WHO Indonesia :: … nyusul

:: :: :: :: :: :: :: :: ::

Kolaborasi

:: Emedicine :: ICD 10 Wikipedia :: ICD 10 Wiki Indonesia :: OSWD :: OpenWebDesign :: Pakistan Times :: Rubab :: ntar ::

Kategori

BlogTour

Arsip

Komunitas Blog

blog-indonesia.com

PAGE RANK

Powered by  MyPagerank.Net

Add to Technorati Favorites

[Valid RSS]

Health Blogs - Blog Top Sites

Health

Blogs Topsites - TOP.ORG

Health Blogs - Blog Rankings

Blog directory

TopOfBlogs

Top 10 Award

Feed Burner

cakmoki Blog

Bloggerian Top Hits

My BlogCatalog BlogRank

Site Meter

Since 30 Nov 07

PENGUNJUNG

  • 5,343,888 pengintip

Asal Usul

Pebruari 2011

free counters


%d blogger menyukai ini: