Pasien berhak memilih dokter

dokterku Rata-rata Rumah Sakit Swasta sudah lebih belasan tahun yang lalu menerapkan kebebasan bagi para pasien untuk memilih dokter yang yang bakal merawatnya manakala si pasien memerlukan Rawat Inap di Rumah Sakit. Kalaupun pasien tidak tahu nama-nama dokter dan spesialisasi di RS tersebut, petugas humas atau petugas public relation akan menunjukkan daftar para dokter sesuai spesialisasi penyakit yang diderita si pasien. Adapula pasien yang menyerahkan sepenuhnya kepada pihak RS. Namun RS yang mengusung kualitas pelayanan akan selalu memberikan kesempatan kepada pasien untuk memilih dokter yang merawatnya.

Lagipula, kita tidak sedang berada pada era “dokter solo”, era sebelum tahun 1980-an, dimana pasien nyaris tidak memiliki hak untuk memilih. Kini, sejak tahun 2000, kita berada di era korporasi, era dimana pasien berhak memilih dokter dan dokter harus siap untuk menghadapinya.

Bagaimana di RS Pemerintah dan Puskesmas Rawat Inap ?

Jika memang benar sebuah RSUD atau Puskesmas Rawat Inap mengedepankan kualitas pelayanan, sudah sepantasnya memberikan keleluasaan bagi pasien dan keluarganya untuk memilih dokter sesuai permintaan pasien. Tanpanya, omongan kualitas pelayanan tak lebih hanyalah jargon belaka dan boleh jadi hanya upaya menghabiskan anggaran pemerintah yang notabene berasal dari rakyat. (baca: program mengada-ada)

Sekitar 7 tahun yang lalu, saya pernah mengunjungi RSUD di Jawa Tengah dan Jawa Timur yang sudah memberikan kesempatan bagi pasein untuk memilih dokter yang merawatnya. Sayangnya, pola tersebut masih terbatas di paviliun ataupun ruang VIP, belum merambah ke semua ruang perawatan.

Mengapa begitu ?

Para senior saya yang berkesempatan diskusi soal tersebut berujar dengan kalimat senada: “ah, itu kan masalah internal dan ego beberapa dokter, bukan masalah profesional ataupun teknis”.

Seorang senior yang menjabat Ketua Komite Medik sebuah RSUD menuturkan salah satu faktor penghambat lainnya: “Repotnya lagi jika ganti pimpinan dan pimpinan yang baru tidak disiapkan dan diseleksi jauh hari, maka seberapapun bagusnya upaya peningkatan pelayanan yang sudah dirintis sebelumnya, beresiko bubar”. Beliau lantas melanjutkan: “halah, kayak gak tahu aja, paling ujung-ujungnya cari sabetan”. Kamipun ngakak bersama … hahaha.

Sementara itu seorang teman di milis pernah berkata: “alih-alih memberikan kebebasan kepada pasien untuk milih dokter, lha wong masih ada dokter yang meradang ketika menerima komplain pasien”.

Obrolan semacam ini di kalangan para dokter bukanlah barang baru dan bukan ngrumpi asal-asalan. Walaupun sulit dibuktikan, kejadian semacam itu nyata terlihat di depan mata. Tak heran jika akhir-akhir ini beberapa petinggi RSUD terjerat KPK terkait dolanan anggaran.

Demikian pula halnya di Puskesmas Rawat Inap. Memberikan kebebasan kepada pasien untuk memilih dokter yang merawatnya, merupakan salah satu pilar upaya peningkatan pelayanan. Dan alangkah bagusnya jika aturan tersebut dituangkan dalam Prosedur Tetap Perawatan. (untuk dipatuhi lho).

Sejauh di wilayah kerja Puskesmas Rawat Inap tersebut terdapat lebih dari seorang dokter dan bersedia meluangkan waktunya untuk ikut merawat penderita, maka memberikan keleluasaan bagi pasien untuk memilih dokter bukanlah sesuatu yang sulit. Kecuali jika di wilayah kerja Puskesmas Rawat Inap tersebut tak ada dokter selain dirinya sendiri.

Metode ini (memberikan keleluasaan bagi pasien untuk memilih dokter ) memiliki beberapa keuntungan.

Bagi pasien, jelas si pasien akan merasa lebih nyaman jika dirawat oleh dokter sesuai pilihannya.

Sedangkan bagi dokter, akan lebih terbuka kesempatan saling berdiskusi demi perbaikan pelayanan bagi pasien, saling bertukar pengalaman, dan sedikit banyak akan memicu untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan masing-masing.

Masalahnya, mampukah semua dokter mengalahkan tirai egonya untuk mengedepankan kepentingan pasien? Lebih jujur lagi jika kita bertanya kepada diri sendiri, terlalu takutkah menempatkan diri sebagai seorang dokter yang bisa dipilih dan bisa tidak dipilih oleh pasien ? Jawabannya ada pada nurani masing-masing.

Sebenarnya, pendidikan dokter sejak awal hingga menjelang lulus jadi dokter, telah membiasakan para calon dokter untuk diskusi keilmuan secara terbuka terkait penyakit pasien. Bahkan bukan hal yang aneh terjadi diskusi sengit manakala membahas pilihan langkah-langkah penatalaksanaan pasien yang sedang dirawat. Dan sudah terbiasa dididik untuk berkompetisi secara sehat.

Ketika masih co-as, kami sudah sangat terbiasa mengikuti dan menyaksikan para guru besar dan para spesialis senior saling serang secara terbuka dengan sengitnya tatkala membahas kasus penyakit dan perawatan penderita. Semua itu hanya terjadi semata-mata sebagai tanggung jawab integritas keilmuan dan kepentingan pasien. Setelah itu, beliau-beliau tetap berkelakar seperti biasa. Walaupun kadang masih berlanjut rasan-rasan, namun masih dalam jalur kepentingan pasien dan keilmuan.

Betapa eloknya jika kita para dokter dapat menarik pelajaran berharga ketika sudah berada di ranah aplikasi ilmu pengetahuan. Sudahkah kita benar-benar mengedepankan kepentingan penderita dalam upaya peningkatan pelayanan ?

Yang pasti, saya belum. Dan saya terus belajar dan belajar, terutama belajar membiasakan diri untuk bertanya kepada penderita tentang seberapa besar kekurangan saya dalam memberikan pelayanan. Awalnya berat memang. Kadang feedback pasien membuat tersipu, misalnya: “dok, obat yang terakhir kurang sip, enak yang pertama dulu, lebih ngaruh dan lebih cepat sembuh”. Menurut saya, ungkapan jujur dan terbuka dari seorang pasien sungguh tambahan pengetahuan yang sangat berharga.

Saya percaya, para dokter masih ingat dan memegang teguh sumpah yang diucapkannya dengan hati berbunga dan penuh haru ketika melafalkan kalimat bahwa ilmu yang didapatnya adalah untuk menjalankan amanah dengan mengutamakan kepentingan masyarakat sebagaimana tertuang dalam Musyawarah Kerja Nasional Etik Kedokteran ke-2, tahun 1981.

Saya  akan  menjalankan  tugas  saya  dengan  mengutamakan  kepentingan masyarakat. (poin 4)

Saya  akan  berikhtiar  dengan  sungguh-sungguh  supaya  saya  tidak  terpengaruh oleh  pertimbangan  keagamaan,  kebangsaan,  kesukuan,  perbedaan  kelamin, politik kepartaian, atau kedudukan sosial dalam menunaikan kewajiban terhadap penderita. (poin 9)

Kalaupun dalam aplikasi, terutama memberikan kesempatan kepada pasien untuk memilih dokter yang merawatnya sebagai salah satu pilar upaya peningkatan kualitas pelayanan di RSUD dan Puskesmas Rawat Inap masih dijumpai dokter yang terlalu jauh tertinggal, … hmmm …  mungkin para Kepala Daerah perlu mengkaji ulang agar dalam memilih dokter sebagai pimpinan institusi pelayanan kesehatan, dari RSU type A hingga Puskesmas Rawat Inap, diharapkan benar-benar memilih dokter yang mengedepankan kepentingan masyarakat, terutama pasien.

Kita semua mendambakan dokter yang berani mengangkat harkat para pasien, para stafnya (bukan malah menyunat hak dan penghasilan anak buahnya), berani tidak korupsi dan berani memberikan kesempatan kepada pasien untuk memilih dokter yang merawatnya.

Silahkan berbagi 😉

Semoga bermanfaat.

:: :: :: posting menggunakan WLW :: :: ::

Iklan

31 Responses to “Pasien berhak memilih dokter”


  1. 1 jerzz Agustus 6, 2009 pukul 5:54 pm

    wah, kalau sakit pilih dokter sendiri ajah ah..>!1

  2. 2 cakmoki Agustus 7, 2009 pukul 12:24 am

    @ jerzz:
    moga gak sakit ^_^

  3. 3 woro Agustus 7, 2009 pukul 11:39 am

    pengen milih cak moki deh….

  4. 4 bachabe Agustus 9, 2009 pukul 8:03 pm

    mantap sob sukses selalu and sehat selalu

  5. 5 sibermedik Agustus 10, 2009 pukul 2:54 pm

    semoga kita juga bisa menjadi dokter pilihan..

  6. 6 cakmoki Agustus 11, 2009 pukul 4:03 am

    @ woro:
    ehmmmm …

    @ bachabe:
    Makasih support dan kunjungannya

    @ sibermedik:
    Semoga … amiiin

  7. 7 khairuddin syach Agustus 11, 2009 pukul 12:47 pm

    Kadang-kadang dokter ini dapat mensugesti saya dalam hal kesembuhan. Maksud saya begini, saya merasa, saya tidak akan sembuh bila yang mengobati bukan dokter A dalam sebuah klinik rumah sakit yang memiliki sejumlah dokter dengan kapabiliti yang sama.
    Tetapi hal ini memang terbukti nyata dok. Sekalipun resep yg diberikan sama, namun karena sugesti saya td mengatakan ‘sy tidak akan sembuh bila dokter ini yang mengobati. Jadi obat yg saya minum memang terbukti tidak menyembuhkan saya.

    Bagaimana tanggapan pak dokter??
    salam hangad

  8. 8 cakmoki Agustus 11, 2009 pukul 2:32 pm

    @ khairuddinsyach:
    Adakalanya sugesti membantu penyembuhan penyakit tertentu. Tapi gak semua penyakit dapat berkurang keluhannya hanya dengan sugesti.
    Trims

  9. 10 necel Agustus 12, 2009 pukul 7:22 pm

    Dengan sistem boleh mlih dokter ada positif dan negatifnya.
    positifnya para dokter akan semakin meningkatkan kualitas pelayanannya agar tidak lari pasiennya.
    kelemahannya dapat timbul kongkalikong dengan petugas di depan yang nerima pasien agar menganjurkan pasien milih dokter tertentu, atau bisa juga saling sikut antar dokter, kasian nanti dokter yang ga laku bisa2 banting setir jadi politikus

  10. 11 cakmoki Agustus 13, 2009 pukul 2:43 am

    @ mirza:
    hai…juga

    @ necel:
    Setiap pilihan selalu ada positif dan negatifnya. Kita kembali ke tujuan semula yakni memberikan pelayana yg berkualitas untuk kepentingan pasien sesuai sumpah dokter.
    Pernah terjadi sepert itu, dimana dokter memberikan sesuatu kepada petugas informasi agar dipilih pasien yg gak tahu dokter di tempat tersebut. Tapi yg seperti itu gak pernah berlangsung lama. Ibarat perhiasan, yg berkualitas gak pernah disorong-sorongkan ke pembeli bukan?
    Akhirnya, seleksi alamlah yang akan berjalan sesuai pilihan pengguna jasa pelayanan medis berdasarkan kualitas dokter.
    Inilah mengapa dianjurkan agar dokter selalu belajar setiap hari selama hayat dikandung badan…. hehehe.

  11. 12 necel Agustus 14, 2009 pukul 3:33 pm

    wah bener juga cak, semangat terus menulis tulisan bermutu ya cak, saya juga rajin menulis di blog saya, selamat berpuasa, wasalam

  12. 13 cakmoki Agustus 15, 2009 pukul 1:41 am

    @ necel:
    ok, met menulis… dan selamat berpuasa … wass

  13. 14 triesti Agustus 19, 2009 pukul 2:08 am

    aku punya story ttg rs darmais… tadi abis marah2 disana.. gara2 org registrasi sok tau jadi disana dari jam 10 pagi sampe jam 3 sore!

  14. 15 Besan Agustus 19, 2009 pukul 6:33 pm

    Setuju cak kl pasien bs memilih dokterny sndri. Pasien,dokter,n RS sama2 puas :-). Tp cak mgk ada sisi negatifx yaitu dokter yg kbanjiran pasien dr rawat inap smp rawat jln,dr pagi smp mlm,tentu akn klelahn shg malas utk mnambah wawasn keilmuanx.
    Dl wkt cak moki d pkm palaran,pasienx jg blh mmilih dokter ya cak.
    Matur nuwun cak.

  15. 16 masjaliteng Agustus 19, 2009 pukul 11:19 pm

    sip, harusnya semua dokter seperti ini pastilah rakyat sehat semua…
    untuk memilih dokter sendiri kalo kita nggak pernah tahu referensinya juga sama saja Cak, seperti saat saya merujuk mertua dari RS Kab ke RS Prov ya manut saja, nggak tahu dokternya soale…
    trus kenapa banyak dokter yg lebih ramah waktu praktek pribadi daripada di RSUD/Puskesmas ya Cak 🙂

  16. 17 cakmoki Agustus 21, 2009 pukul 12:14 am

    @ triesti:
    wih… 5 jam marah mulu ? …. hehehe.

    @ Besan:
    Seberapapun banyaknya pasien, dokter wajib menambah ilmunya dan wajib belajar setiap hari selama hayat masih dikandung badan. Kalo enggak, lama-kelaman akan ditinggalkan pasiennya.

    Sewaktu saya masih aktif di Rawat Inap Palaran, kebebasan pasien memilih dokter diwujudkan dalam Prosedur Tetap. Dan tentu pasien ditawari untuk memilih dokter yang disukai pasien untuk merawatnya.
    Kalo gak berani memberi kebebasan bagi pasien untuk memilih dokter, berarti gak pe-de dan gak punya keinginan untuk meningktkan kualitas… hahaha.
    Maturnuwun

    @ masjaliteng:
    Mestinya, pihak RS atau bagian Informasi memberikan referensi kepada pasien atau keluarganya, untuk memilih dokter.
    Seandainya pihak RSUD atau Puskesmas Rawat Inap gak berani memberikan kebebasan untuk memilih dan gak memberikan referensi kepada pasien, berarti gak usah berkoar-koar meningkatkan pelayanan….. Sama aja bo’ong.

    trus kenapa banyak dokter yg lebih ramah waktu praktek pribadi daripada di RSUD/Puskesmas ya Cak

    Saya gak tahu, soalnya saya gak pernah begitu.
    Guru-guru saya dulu selalu memberi nasehat untuk memberikan pelayanan terbaik kepada pasien dimanapun bertugas. Jika seorang dokter memberikan pelayanan yang bagus saat di RSUD atau di Puskesmas, niscaya pasien akan mencarinya di praktek ketika suatu saat sakit lagi. 🙂
    Dan itu terbukti … hehehe.
    Trims

  17. 18 nahe Juli 27, 2010 pukul 9:06 pm

    bagus jg sc law pasien bs milih dokter yang menanganinya……..

  18. 19 cakmoki Juli 28, 2010 pukul 2:59 am

    @ nahe:
    Harusnya emang gitu … pasien kan mbayar 🙂

  19. 20 mreonk Desember 16, 2010 pukul 2:27 pm

    wah tapi banyak sekali yang harus dibenahi mmg..
    misal klo lihat dari sisi sekolah dokter ma p*l*si mahal bgt dan blom lagi ada acara ijime istilahnya atau menindas junior.. penuh intrik jg sih.. ini menurut cerita temen dan sodara yang skul dokter.. jadi menurut saya semua perbaikan di negara kita masih jauuuh bgt jalannya dan harus didukung berbagai pihak^^

  20. 21 ria Desember 16, 2010 pukul 10:06 pm

    @mreonk: sekolah dokter mahal? relatif, nggak juga akh..
    sekolah saya yang non dokter kalo dihitung2 kok malah jatuhnya lebih mahal ya? biarpun ntar juga sama- sama profesinya. saya bisa berkata seperti ini karena di keluarga saya, saya satu- satunya yang memilih profesi non kedokteran dan saya pernah iseng menghitungnya. taruhlah kami sama- sama kuliah di swasta yang terbaik di kota kami sesuai dengan penjurusan kami. ini rinciannya:

    kedokteran:
    Uang Gedung 50jt
    spp/ smester @5,5jtx12smt 66jt

    total mpe lulus 116 (masa studi normal)

    jurusan saya
    uang gedung 10jt
    spp/ smester @7,6x8smt 60,8jt
    uang gedung s2 profesi 12jt
    spp/ smester @10x4smt 40jt

    total mpe lulus 122,8(masa studi normal)
    *walopun double degree, s2 dan profesi namun umumnya yang ‘dihargai’ hanya profesinya belaka..

    jadi siapa bilang kuliah kedokteran lebih mahal? 🙂
    saya yang bukan dokter terbukti lebih banyak ‘menguras’ habis kantong orangtua saya.. 😀

  21. 22 cakmoki Desember 18, 2010 pukul 12:17 am

    @ mronk:
    Terlepas dari perdebatan mahal atau tidaknya biaya pendidikan kedokteran, saya sependapat bahwa semua sistem di negeri ini harus dibenahi ke arah perbaikan. Terlebih sektor kesehatan.
    Sebagai orang dalam, saya paham masih jauh dari harapan. Penghambatnya banyak, yang paling banyak hambatan dari orang kesehatan sendiri 😀
    Di sisi lain, tidak sedikit insan kesehatan yg sangat peduli untuk perbaikan, namun tidak semuanya berani secara terbuka.
    Menurut saya, kuncinya hanya 1, yakni : tidak korupsi. Kalo masih korupsi, program apapun gak akan behasil 100 %.
    Gimana ? 😀
    Makasih

  22. 23 ria Desember 18, 2010 pukul 12:29 am

    kita tak bisa selalu merubah orang lain,
    namun kita akan selalu bisa merubah diri kita sendiri..

    karena hidup adalah pilihan.
    heheheh 😀

    *hohoho.. saya juga tidak berniat berdebat tentang mahal nggaknya pendidikan kedokteran.. saya hanya memberikan gambaran nyata bahwa ‘stigma’ tentang mahalnya pendidikan kedokteran tak selalu benar karena saya sendiri sudah membuktikan itu 🙂

  23. 24 ria Desember 18, 2010 pukul 12:42 am

    @cak moki: btw, nanya..
    bentuk protap untuk memilih px di IRNA panalaran piye ya bentuknya? isi protapnya apaan? *sapa tau bisa diterapin* 🙂

  24. 25 cakmoki Desember 18, 2010 pukul 1:05 am

    @ ria:
    Maksudnya Insatalsi Instalasi Rawat Inap ?

  25. 27 cakmoki Desember 18, 2010 pukul 11:06 pm

    @ ria:
    Kalo protap untuk milih kasus, saya belum pernah tahu. Tapi kalo protap untuk setiap IRNA mestinya ada. Biasanya per kasus dalam bentuk buku. Contoh di RSU Dr Soetomo Sby, setiap Istalasi ada Protapnya. Namanya : PDT = Pedoman Diagnosa dan Terapi.

  26. 28 ria Desember 19, 2010 pukul 1:27 am

    hedehh.. maafkan komunikasi saya yang buruk..
    *efek gak tidur 73 jam, kemarin*

    makasud saya.. saya menanyakan isi protap dari statement cak moki yang bilang “Sewaktu saya masih aktif di Rawat Inap Palaran, kebebasan pasien memilih dokter diwujudkan dalam Prosedur Tetap”
    nahh.. ini isi dari protapnya apaan ya kalo boleh tahu?

    matur nuwun.. 🙂

  27. 29 cakmoki Desember 19, 2010 pukul 3:22 am

    @ ria:
    ooo, itu tho. Dalam bentuk buku protap dan dalam bentuk Flash

  28. 30 ria Desember 19, 2010 pukul 3:56 am

    kriiiieeeeeeeeeeetttttttttttttttttt.. *suara menggorekan kuku ke meja saking jengkelnya kok yah gak nyambung2.. mule kesel sama diri sendiri karena kemampuan komunikasi yang buruk*

    yah sudahlah..
    makasih ya cak 🙂

  29. 31 cakmoki Desember 19, 2010 pukul 4:47 am

    @ ria:
    maksudnya kalimatnya gitu tah ? 🙂
    Gini aja, silahkan download protap perawatan di halaman download, ntar kalo ada yg perlu diketahui lebih lanjut akan saya jelaskan


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Wong ndeso ™

cakmoki

Wordpress Indonesia

Silahkan baca

DISCLAIMER

web tracker

9 Desember 2009

SEMENTARA TUTUP

Maaf, sementara Blog istirahat hingga ada pemberitahuan

Harap maklum


MARI HENTIKAN KORUPSI

Jangan Korupsi Ah

No Korupsi

Internet Sehat

Warga Bicara

» Makasih PLN, listrik Samarinda dah membaik, moga gak byar-pet

» Waspada Demam Berdarah

» Jangan Gunduli Palaran

» Banjir...banjir. Kapan masalah ini teratasi ?

INGA INGA INGA

» Nyeri Urat or Tulang BUKAN berarti Penyakit Asam Urat.

» Sekali lagi: Pegal, Linu Tidak Identik dengan Penyakit Asam Urat

TEMANs

9racehime | A. Fatih Syuhud | Aditiawan Chandra | A.Tajib | Agung UD | aLe | alief | alle | almascatie | Amd | Anak Peri | Anak Sultan | Anang | Anang YP | Anas | Andalas | Anggara | Anjaz | Anti Pungli | Antobilang | Anung87 | Aribowo | Arif Kurniawan | Arul | Astikirna | awan965 | axireaxi | Bambang alias HR | BatakNews | Blog Pokoke? | Biho | CalonOrangTenar | Cay | Chandra | Chielicious | chiw imudz | cK-chika | Dalamhati | Deden Nugraha | deedhoet | deKing | Desti Utami | Didats | doeytea | dnial | Edy C | Eep | Elpalimbani | erander | Evi | Fa | Fa wp | Faiq | Fertobhades | Fetro | Fortynine | Freddy | Gadis | Gaussac | Gitablu | Grandiosa | GuhPraset | GuM | Helgeduelbek | Herdy | Indonesia Kita | Indra KH | ItikKecil | iway | Jejakpena | Jennie S. Bev | Joesath | Joko Taroeb | Julee | Juli | Juliach | Junthit | Jurig | Kakilangit | Kang Adhi | Kang Kombor | Kangguru | kawaichu | Kenji | Kenzt | kikie | koecing | Kumala | Kurtubi | Kw | Laras | liezmaya | Lilik Suryanto | Lily | Linker | Lintang | Lita | Lita wp | Luthfi | MaIDeN | Majalah Dewa Dewi | Manusiasuper | Master Li | Mathematicse | macanang | mbojo | Mei | Micokelana | Mr. Geddoe | Mufti | mybenjeng | My-za | Nayla Zahra | Nayz | Ndarualqaz | Neeya | Neo Forty-Nine | Neri | Ninoy | Nieke | Nomercy | n0vri | NuDe | Om Sulis | omaigat | Ooyi | Paijo | Panca | Pandu | Panduan WP | Papabonbon | Passya | Peyek | Pinkina | Pitik | Pralangga | Prayogo | Priyadi | Qee | Raja iblis | RenjanaBiru | rivafauziah | Rivermaya | Roffi | roisZ | Rujak | Sagung | Sahrudin | Saiful Adi | SaRa | Siu | Sofi | Sora9n | Suandana | Suluh | Susiloharjo | Telmark | Thamrin | tiesmin | Triesti | Tukang Sate | Venus | Wadehel | Wahyuansyah | Wandira | Wiku | WongMangli | Wulan | Yati | Yudhipras |

:: :: :: :: :: :: :: :: ::

Kesehatan

:: Ady Wirawan :: Agus Mutamakin :: Anis Fuad :: Anis Fuad wp :: Asri Tadda :: Astri Pramarini :: Astri Pramarini (awal) :: Astri Pramarini wp :: Blog Mahasiswa FKU 2003 :: Blog Rumah Kanker :: Dani Iswara :: Dani Iswara weblog :: Dokter arek cilik :: drAnak :: drarifianto :: Dwi wp :: Elyas :: Erik Tapan :: Evy HealhtySmile :: FK Unsri :: Gies :: Gies wp :: Ginna :: Grapz :: Hendar Sunandar :: HIV News :: Huda Thoriq :: IDI Samarinda :: imcw :: Imran Nito :: Iwan Handoko :: Jhonrido :: klikharry :: Kobal :: Laksmi Nawasasi :: Mashuri :: Mave Mina :: Mbah Dipo :: Mina :: My Blogspot :: Nur Martono :: PKM Palaran :: Rara :: Rizma Adlia :: Rudy Kwang :: SenyumSehat :: Sibermedik :: SimkesUGM :: SuperKecil :: Titah :: Tito :: Tonang Ardyanto :: Tukangkomentar :: Wi :: Vina Revi :: Vina Multiply :: Yusuf Alam R :: zulharman79 ::

:: :: :: :: :: :: :: :: :: :: ::

Institusi Kesehatan

:: Depkes RI :: WHO :: WHO Indonesia :: … nyusul

:: :: :: :: :: :: :: :: ::

Kolaborasi

:: Emedicine :: ICD 10 Wikipedia :: ICD 10 Wiki Indonesia :: OSWD :: OpenWebDesign :: Pakistan Times :: Rubab :: ntar ::

Kategori

BlogTour

Arsip

Komunitas Blog

blog-indonesia.com

PAGE RANK

Powered by  MyPagerank.Net

Add to Technorati Favorites

[Valid RSS]

Health Blogs - Blog Top Sites

Health

Blogs Topsites - TOP.ORG

Health Blogs - Blog Rankings

Blog directory

TopOfBlogs

Top 10 Award

Feed Burner

cakmoki Blog

Bloggerian Top Hits

My BlogCatalog BlogRank

Site Meter

Since 30 Nov 07

PENGUNJUNG

  • 5,343,886 pengintip

Asal Usul

Pebruari 2011

free counters


%d blogger menyukai ini: