Komunikasi dokter pasien

KOMUNIKASI PERLU LATIHAN

01komunikasi Pada akhir bulan Juni yang lalu, seorang teman, dokter spesialis bedah tulang menuturkan keikutsertaannya pada acara workshop tentang Doctor Patient Communication yang diselenggarakan oleh sebuah lembaga dari Australia, Cognitive Institute-Brisbane, atas permintaan holding company Ramsay Hospital. Jauh sebelumnya, seorang teman di Vietnam, master di bidang intelectual law legacy, mendiskusikan masalah komunikasi dokter-pasien melalui email. Sayangnya, beliau sangat sibuk sehingga intensitas diskusi tidak berjalan sesuai harapan saya. (selain itu, bahasa Inggris saya amat buruk … hahaha). Meski begitu, beliau berdua, dan diskusi seputar komunikasi dokter-pasien bersama teman sejawat melalui milis, menginspirasi saya untuk menulis (lagi) perihal komunikasi dokter-pasien secara khusus dalam bentuk posting serial. (mungkin tidak berurutan, supaya tidak bosan).

Teman yang mengikuti workshop tersebut bertutur: β€œ Kata dr Carolyn Russel, instrukturnya, minimal butuh 3 bulan untuk terus berlatih terus menerus, agar semua yang diajarkan dapat menjadi “habit” dalam berkomunikasi”.

BELAJAR KOMUNIKASI TAK PERNAH HENTI

Menurut berbagai survey disebutkan bahwa komunikasi yang baik mempunyai pengaruh yang bagus terhadap pelayanan kesehatan secara keseluruhan. Sebaliknya, tidak lancarnya komunikasi, diakui ataupun tidak, akan menuai banyak masalah. Bukan melulu masalah penyakit dan obat serta pemeriksaan penunjang yang harus dijalani pasien, namun tak jarang memunculkan keluhan, rasan-rasan ataupun keluh kesah, bahkan boleh jadi akan berakhir di ranah hukum.

Apakah komunikasi yang baik antara dokter-pasien selalu menjamin tidak adanya keluhan ? Tidak ada jaminan.

Sebaik apapun seorang dokter menjalin komunikasi, hampir selalu ada keluhan diantara para pasiennya, walaupun hanya beberapa orang. Nilai bias semacam ini sangat wajar terjadi di pelbagai aspek pelayanan. Hal ini disebabkan oleh banyak faktor yang mempengaruhi di balik komunikasi antara dokter dan pasien.

Katakanlah misalnya ada beberapa orang tua yang memeriksakan anak-anaknya yang menderita gondongan (parotitis, mump) pada hari pertama si anak sakit kepada seorang dokter. Bukan tidak mungkin ada satu dua orang tua yang panik, hingga bertamasya ke bebepara dokter selama si anak sakit, walaupun sudah diberi tahu oleh dokter bahwa penyakit tersebut memerlukan waktu pengobatan 7-10 hari, bahwa pembengkakan kelenjar parotitis mencapai puncaknya pada hari ketiga hingga hari kelima, bahwa penyakit tersebut tidak berbahaya jika sudah diobati, bahwa tidak ada pantangan makanan apapun, dan bla bla bla … πŸ™‚

Gambaran kecil di atas bukan merupakan hambatan bagi dokter untuk selalu belajar memperbaiki komunikasi dengan para pasiennya sesuai harapan pasien, harapan dokter, harapan kita semua.

Well, teman sejawat yang mengikuti workshop tersebut menulis sebagi berikut:

Malamnya saat praktek, aku coba mempraktekkan cara komunikasi yang diajarkan. Ternyata memang berbeda banget. Antara cara instinctive (bawaan bakat) kita dengan cara sekolahan ini dalam menghadapi pasien. Andai semua sejawat yang berhadapan dgn pasien mendapat kesempatan mengikuti, alangkah baiknya.

Bayangkan, seorang dokter spesialis bedah tulang (orthopedi) terkenal dan laris, masih berkenan meningkatkan kualitas komunikasi beliau dengan para pasiennya. Dan dengan kerendahan hatinya beliau mengakui betapa perlunya untuk selalu memperbaiki kualitas komunikasi. Terimakasih, kawan !

Saya sangat beruntung. Tulisan pendek beliau tentang komunikasi dokter-pasien berdasarkan workshop yang beliau ikuti dan praktekkan, seolah melecut kesadaran saya untuk menilai kembali komunikasi saya dengan para pasien dan keluarganya serta masyarakat di ndeso β„’ sini. Ternyata, saya harus selalu belajar tak pernah henti dan berusaha memahami berbagai aspek yang mempengaruhi komunikasi dokter-pasien.

Dan saya beruntung masih diberi waktu dan kesempatan keluyuran antar desa naik sepeda motor (kadang sarungan, jangan bilang-bilang ya, ini rahasia) untuk bertegur sapa dengan para kenalan. Bahasa kerennya: salah satu dari aspek kedokteran komunitas. Wuiiiihhh, padahal asli jagongan sesama wong ndeso β„’ berbeda profesi.

Walau nampak sepele, upaya membangun jalinan komunikasi dokter-pasien tidak sesederhana yang dibayangkan, bahkan adakalanya sulit manakala menyangkut perbedaan bahasa dan kultur. Tapi niscaya semua kendala yang mempengaruhi komunikasi dokter-pasien akan dapat dilalui jika dilandasi niat yang sungguh-sungguh.

Bukankah komunikasi dokter-pasien yang baik dan bersahabat merupakan impian kita semua ?

Semoga bermanfaat.

:: :: :: posting menggunakan WLW :: :: ::

Catatan: posting ini merupakan bagian pertama dari serial komunikasi dokter-pasien.

Iklan

42 Responses to “Komunikasi dokter pasien”


  1. 1 dokterearekcilik Juli 8, 2009 pukul 8:18 am

    Iya bener cak, yang jadi masalah menurut saya adalah waktu. Kalo seorang dokter bisa fokus di satu RS… maka mungkin wakt komunikasi akan lebih banyak. Beban kerja juga jadi masalah lain.. kalo rasio dokter:pasien gak sesuai … nah itu juga masalah. Saya juga belajar sendiri masalah komunikasi dan kayaknya harus ada mata pelajaran komunikasi dalam kurikulum dokter karena 80-90% pekerjaan sehari hari adalah komunikasi… kok malah tidak diajarkan di tempat belajar yg formal…. udah bbrp kali saya kasih ide ke para senior tapi kayaknya dianggep angin * yg ini cuhat* :p: Kalo ada materinya mau dong saya di email… lagi memperdalam dan berusaha mempraktekkan cara komunikasi yg baik… Btw salut ama cak moki yg suka keuyuran pake sarung… ada isu sarungnya pernah melorot apa bener cak πŸ˜†

  2. 2 easy download Juli 8, 2009 pukul 11:14 am

    komunikasi antara dokter dengan pasie tidak dapt dilakukan dengan saru arah. jelas harus du arah. dokter harus mnjelaskan dengan bahasa sederhana. agar mudah dipahami.
    salam kenal ya. tukar link nya ya
    link nya sudah saya add. tq

  3. 3 cakmoki Juli 8, 2009 pukul 1:31 pm

    @ dokterearekcilik:
    iya, saya sependapat … sy baca penelitian perbandingan waktu antara dokter di USA dan Jepang … Dokter Indonesia gak masuk dalam list untuk perbandingan soalnya Tim Survey mungkin keburu mbrebes mili saat mengetahui gaji dokter Indonesia dan beban kerja yang harus dijalani.

    Temen-2 di lingkar pendidikan, di RS maupun di Fakultas juga mengeluhkan hal ini. Mereka sebenarnya punya visi dan misi yg sama dengan kita, tapi gak tembus juga. Konon, para petinggi kampus seolah punya area khusus yang sangat sulit disentuh, terlebih jika menyangkut usulan peningkatan kualitas pendidikan. *ini asli ngrasani* …hehehe.

    Materinya ntar sy tanya ya … Kalo bukunya sy beli di Uranus, oleh: Alo Liliwari, M.S. Prof, Dr (2006) berjudul: Dasar-dasar Komunikasi Kesehatan, yg ini lebih lengkap ketimbang Buku Pelayanan Dokter Keluarga.

    Isu sarung mlorot, tidak salah … hahaha … kalo gak pernah mlorot, katanya gak sehat. πŸ˜€

    @ easydownload:
    ya benar … πŸ™‚
    Salam kenal juga … makasih telah add … ntar saya add juga di halaman Temans.

  4. 4 Lukisan Murah Juli 8, 2009 pukul 5:08 pm

    wah saya sependapat juga.

    kalau doket njelasinya kurang kita harus berani tanya aja..

    hehehe

  5. 5 woro Juli 9, 2009 pukul 9:06 am

    ibu saya punya pengalaman bagus soal komunikasi pasien-dokter ini. pernah suatu saat, ibu mengeluh sakit kepala. kemudian pergi deh ke dokter ahli syaraf. alhamdulillah dapet dokter yang simpatik banget. di sana ibu malah dipancing2 sang dokter untuk curhat. akhirnya curhat deh ibu saya itu. abis itu dikasih resep sih. tapi kata ibu, pas keluar ruangan sang dokter kok sakit kepalanya ilang seketika. itu resep nggak jadi ditebus deh. obatnya udah dikasih duluan ama sang dokter sih hehehe.

  6. 6 herdinrusli Juli 9, 2009 pukul 2:10 pm

    Gimana tipsx agar kita bisa menjalin komunikasi yang efektif dengan pasien penderita stroke dan anak penderita Autism.Terus terang kita inginx menjalin komunikasi dua arah dengan mereka akan tetapi sebagian dari penderita enggan membuka diri???

  7. 7 Besan Juli 9, 2009 pukul 9:36 pm

    Hahaha…sptny sulit deh cak memasukkan kurikulum ilmu komunikasi kedalam pendidikn kedokteran,lha wong skr kurikulum kedokteran byk yg dipangkas dgn dalih biar cpt lulus (rata2 5,5 thn) n bs mencetak dokter2 sebanyak2ny. Akhirny ilmu komunikasi yg dianggap tdk penting,dalam kurikulum porsinya byk dikurangi.

    Pdhl kl dipikir2 komunikasi khan jg trmsk cabang ilmu kedokteran yg keberadaanny sgt pnting untuk pengobatan pada pasien yg sakit “psikosomatik”. Jd hukumny wajib dipelajari,dipahami n dipraktekkan olh seorang dokter,bnr gak cak.

    Kpn2 hati-hati ya cak kl keluar rmh,jgn pake gesper biar sarungny gak melorot lg…hehehe….

  8. 8 Besan Juli 9, 2009 pukul 9:38 pm

    maaf cak, mksd sy kpn2 kl kluar rmh dpake gesperny biar gak melorot lg hehehe…

  9. 9 cakmoki Juli 10, 2009 pukul 1:32 pm

    @ Lukisan Murah:
    iya dong, rugi kalo pasien gak tanya, kan bayar..hahaha

    @ woro:
    Salut sama dokter yg seperti itu …. adakalanya keluhan-2 yang berhubungan dengan psikis (kecemasan, dll) dapat berkurang bahkan keluhan tersebut hilang ketika dokter mampu memberikan support dan perasaan nyaman.
    Maturnuwun pengalamannya, mbak … yg seperti ini sangat berharga bagi para dokter, khusunya saya, untuk selalu belajar πŸ™‚

    @ herdinrusli:
    Di seri kedua nanti akan kita bahas untuk kasus-2 yg spesifik semacam itu.
    Memang tak dapat dipungkiri bahwa kita kadang sulit menghadapi pasien dengan kondisi spesifik.
    Tips yg mungkin dapat kita terapkan, diantaranya:
    > dokter lebih aktif berbicara. Pada penderita stroke, dapat diawali dengan tegur sapa ato berbicara sesuatu yg tidak berkaitan dengan penyakitnya. Lantas dilanjutkan dengan support. Pada pasien stroke yg pesimis, menurut sy kita tidak perlu menyinggung penyakitnya, terutama tentang parese karena bisa jadi akan membuat penderita makin bungkam.
    > Sedangkan pada Autis, bergantung pada derajatnya. Temen sy yang ahli di bidang ini (dan sy pernah melihat langsung saat beliau berkomunikasi) biasanya memulai dengan menunjukkan mainan, gambar, dll.

    Di praktek, kita acapkali tidak melakukan awal anamnesa dengan keluhan pasien, tapi dengan hal-2 ringan terkait aktifitas pasien sehari-hari. Cara ini bisa membantu pasien untuk membuka diri.
    Trims

    @ besan:
    Saya sependapat … beberapa temen sejawat senior yg udah malang melintang di RS, rata-rata berpendapat seperti kita, yakni betapa pentingnya komunkasi sebagai kunci (pintu masuk) layanan medis. Tapi kono sulit menembus tembok-2 kurikulum pendidikan kedokteran. Mungkin para dewa kurikulum pendidikan kedokteran lebih mengutamakan kuantitas ketimbang kualitas.

    Sarung dan isinya aman, Mas … hahaha.
    Mturnuwun πŸ˜€

  10. 10 Yudhi Gejali Juli 13, 2009 pukul 5:52 pm

    Saya masih belajar dok mengenai Doctor-Patient communication ini. Yang saya masih sulit kadang adalah saat menerapkan teori D-P Communication terbentur dengan waktu konsultasi yang terbatas, atau ‘takut kelamaan’, sedang di luar sudah ada pasien lain yang menunggu, dan kita tau bahwa menunggu itu ga enak, apalagi waktu sakit. Mohon tanggapan cak.

  11. 11 cakmoki Juli 14, 2009 pukul 1:53 pm

    @ Yudhi Gejali:
    Sebenernya akan kita bahas pada seri ketiga … hehehe.
    Sy sependapat, salah satu masalah adalah “durasi” yang dipengaruhi oleh pelbagai faktor, diantaranya jika jumlah pasien banyak, misalnya sehari sampai 60 pasien atau lebih. πŸ™‚
    Sebagai contoh, dalam penelitian (Doctor-patient communication: a comparison of the USA and Japan, oleh: Ohtaki S, Ohtaki T, Fetters MD, Kanazawa Medical University) disebutkan bahwa dokter Jepang memerlukan waktu lebih lama ketimbang dokter Amerika. Menurut penelitian tersebut dikarenakan faktor budaya.
    Sedangkan Trisha Torrey, Patient Empowerment Guide, pada tahun 2007 menyebutkan bahwa rata-rata waktu yang diperlukan untuk pemeriksaan pasien berkisar 8-10 menit. Tapi ini di USA.

    Kita diuntungkan dengan budaya yg tidak individualis sehingga dengan menggunakan konsep diagnosa kedokteran komunitas, waktu tersebut dapat dipangkas menjadi setengahnya.
    Inipun dapat kita percepat legi dengan menyediakan Leaflet atau brosur (dengan ilustrasi gambar) sehingga penjelasan kepada pasien menjadi lebih singkat.

    Trims

  12. 12 Lex dePraxis Juli 18, 2009 pukul 1:14 pm

    Mungkin bisa di share sedikit points tentang cara komunikasi itu. Ditambah lagi dengan panduan bagaimana seharusnya pasien berkomunikasi dengan dokter.

  13. 13 andam Juli 18, 2009 pukul 4:06 pm

    Nice post, Dok.
    Smoga kita semua bisa menciptakan komunikasi yang baik dengan pasien. Amin.. πŸ™‚

  14. 14 jecunde Juli 19, 2009 pukul 7:17 am

    memang sulit-sulit-susah komunikasi dokter pasien πŸ˜€

  15. 16 cakmoki Juli 19, 2009 pukul 4:32 pm

    @ Lex dePraxis:
    Konon, kelemahan kita para dokter terjebak pada formalitas saat awal berkomunikasi dengan pasien, sehingga selanjutnya menjadi kaku. Untuk itu, para penulis komunikasi dokter-pasien menganjurkan untuk menyapa pasien atau mengawali komunikasi dengan hal yang ringan tanpa harus berhubungan langsung dengan keluhan pasien.
    Sedangkan untuk pasien, dianjurkan untuk menanyakan hal-hal yg berkenaan dengan penyakit atau keluhannya saja agar dokter bisa lebih fokus. Ntar akan ditulis soal ini pada seri berikutnya.

    @ andam:
    ya, semoga … amiiin

    @ jecunde:
    ya, benar…gampang-gampang susah… kadang kita masih terbawa gaya komunikasi “bawaan”…hehehe

  16. 17 download ansav Juli 21, 2009 pukul 12:35 pm

    komunikasi antara dokter dan pasien saya rasa sangat penting, walaupun tidak semua kasus pasien membutuhkan keterampilan komunikasi. namun sebagai seorang pasien, saya lebih tenang ketika menghadapi seorang dokter yang friendly, murah senyum dan kelihatan care ama kita. Bukankah sikap yang tenang merupakan salah satu faktor pemicu kesembuhan?

  17. 18 plukz Juli 21, 2009 pukul 5:05 pm

    berdasar pengalaman saia cak, sebagian besar dokter di daerah yang jadi langganan saia sudah lumayan pinter berkomunikasi termasuk menerangkan sakit saia ini apa. tapi masih ada juga dokter yang cuma nutul stetoskop doang, nggak ngomong banyak, kasi resep terus mempersilahkan saia keluar. 😦

    mungkin perlu dibikin diklat PR buat para DM? hehehe

  18. 19 cakmoki Juli 23, 2009 pukul 1:50 am

    @ download ansav:
    ya, saya sependapat πŸ™‚

    @ plukz:
    hahaha… saya yakin, sebelum mempersilahkan keluar, sang dokter tak lupa memberi tahu ongosnya…
    Saya setuju … rasanya para petinggi fakultas kedokteran mempertimbangkan diadakannya diklat komunikasi dokter-pasien sejak DM…
    Makasih

  19. 20 plukz Juli 25, 2009 pukul 11:13 am

    ehm, bayarnya di depan cak, sekalian nebus obat πŸ˜€

  20. 21 mirza Juli 31, 2009 pukul 11:16 am

    Halo..Poh Dokter..
    Apa kabar…
    Mau konsul..entar malem praktek nggak?? πŸ™‚

  21. 22 cakmoki Agustus 2, 2009 pukul 1:33 am

    @ mirza:
    Halo … kabar baik…
    ya, boleh….

  22. 23 necel Agustus 12, 2009 pukul 7:15 pm

    iya, tapi gimana caranya memilah macam komunikasi yang bermutu. Kadangkala komunikasinya bagus tapi kualitas dari komunikasi itu yang yang kurang berkaitan dengan cara mendiagnosis penyakit. Gimana ya biar keliatan santai tapi kita dapat point2 dalam diagnosis penyakit

  23. 24 cakmoki Agustus 13, 2009 pukul 3:15 am

    @ necel:
    Paling sip dengan berlatih terus menerus dan mencontoh para dokter yang komunikasinya bagus menurut pasien.
    Untuk dokter yg ingin gitu gak sulit, tinggal datang ke poliklinik-2 di RS untuk melihat (setelah meminta ijin dokter yg akan kita contoh tentunya).
    Sayapun gak pernah berhenti belajar berkomunikasi dan meminta pendapat pasien. Enjoy aja πŸ™‚

  24. 25 Pangesti Agustus 24, 2009 pukul 9:53 am

    Cak Moki,
    Sorry,m ikut2an memanggil Cak meski profeis dokter. Atau Cak Dokter saja :o)

    Di Indonesia memang jarang peduli pada komunikasi dokter-pasien. Di FK UGM sudah mulai, ada 2 dokter. Yg satu meneliti komunikasi dokter dan anak, yg satu lagi tidak jelas, belum pernah saya tanya rinci. Namun, sesunggiuhnya banyak jurnal terkait dengan urusan komunikasi dokter-pasien, bisa diakses. Saya punya beberapa karena S3 saya tentang topik ini, namun terbatas pada advie columns, judulnya SUPPORTIVE GENRES: THE LANGUAGE OF ADVICE COLUMNS. Intinya adalah, dalam berkomunikasi ada pola (disebut genre:schematic stucture)dan cara serta penggunaan diksi dan empati, selain itu ya body language harus dikuasai, ini terkait budaya, termasuk diksi. Teori tentang diksi dan empati itu disebut appraisal theory.

    Baiknya memang ada matkul ini di FK. Sejauh yg saya tahu di FK UGM ada kok matkul ini karena saya tanyakan ke Kajur MMRM ada, sampai pada latihan dan dishooting. Matkul dlm bhs Inggris terkait komunikasi juga menggunakan buku khusus bagaimana memeriksa pasien dan sekian form yg dipakai untuk merekam data medis.

    Ada baiknya FK mengundang pembicara tamu atau ada kerjasama antara dosen FK dan dosen bahasa/ilmu komunikasi. Saya sendiri linguist dan mempelajari bidang ini, narrative counselling. Saya akan coba konytak seorang dokter yg memberikan kartu namanya apda saya. Katanya barusan balik dari Harvard Univ dan belejar ttg komunikasi dokter-pasien sehingga dia peduli topik ini.

    Syukurlah jika ada dokter demikian, termasuk Anda yg menyadari perlunya keterampilan berkomunikasi.

    Btw, saya akan coba meneliti komunikasi ini, mungkin dengan dokter spesialis PD yg merawat suami saya, atau entah nanti, cari rekan di YKI. Ada sekian kawan saya yg dokter. Kini sedang mencari waktu saja agar bisa fokus jika meneliti topik ini. Sementara itu, saya sudah meneliti narrative dari cancer survivorship dan sedang ditulis dalam bentuk buku dengan penggunaan bahasa yg mudah dipahami.

    Oh ya, Anda bisa dload jurnal medicine di SAGE publication, online, gratis. Koleksi saya yg terkait cancer lumayan banyak. Meski saya bukan dokter, tapi santapan saya artikel2 itu juga. Jurnal ini saya yakin akan mencerahkan Anda dan rekan2 dokter lainnya.

    Wah, hampir lupa, ada situs khusus kajian informasi dalam bidang media di Univ of Sydney, ex kampus saya saat kuliah S3. Saya ada sekian infonya, hanya mesti cari file di laptop saya, seabreg dan kini sedang sibuk sehingga tak bisa cari.

    Selamat mengabdi! Sorry, ini menulis cepat ketika saya temukan situs Anda memuat nama saya.

    Salam,
    Pangesti

    Tentang autism dan komunikasi lain ada cara khusus.

  25. 26 cakmoki Agustus 25, 2009 pukul 4:13 am

    @ Pangesti:
    Sebenernya, masalah komunikasi dokter-pasien udah diajarkan dan ada dalam kurikulum FK, yakni merupakan salah satu bagian dari Mata Kuliah Dokter Keluarga. Itrupun dalam praktek di RS (saat co-ass) juga udah dilakukan langsung terhadap pasien di bawah bimbingan dokter dan sebelumnya dipraktekkan secara simultan (include ) saat menjalani PBL ( Problem Base Learning). Buku referensipun seabreg di perpustakaan. Demikian pula akses internet, gratis dan tersedia panduan masing-masing mata kuliah.
    So, secara sistem udah tertata.
    Masalahnya adalah: dalam aplikasinya menurut saya belum berjalan massive.
    Jalan keluar yang pernah saya tulis salah satunya adalah bimbingan teknis di RS dan Puskesmas Jejaring Pendidikan di bawah bimbingan seorang dokter yang secara faktual mendapatkan legitimasi dari masyarakat, bukan keahlian yg didapat dalam kurikuler semata. Inilah kenyataan yg ada di depan mata.
    Masalh lain, nampaknya masih ada masalah non teknis, yakni belum adanya sinkronisasi antara pihak Dikti, Fakultas dan Insitusi Jejaring pendidikan dimana para mahasiswa seharusnya mendapatkan bimbingan sejak dini.
    Makasih sharenya. πŸ™‚

  26. 27 triesti Agustus 26, 2009 pukul 1:22 am

    boss saya dulu mengajarkan yg penting kita dengar masalah pasien apa dan cari solusi yg terbaik untuk mengatasinya. Ini yg saya rasa kurang banget dari dokter di jkt yg saya ketemu.. terlebih yg terakhir lalu.

    dokter disini menurut saya biasa jadi yg paling tau dan cenderung mengikut sertakan agama/kepercayaannya thd pasien. padahal kalau pasiennya ngga cerita semua masalahnya krn terlanjur sebel sama dokternya krn gayanya yg superior, diagnosanya bisa meleset juga kan?

    hampir setiap kali saya diberi resep cuma dikasih tau dokter ada obat A untuk gejala X, B untuk gejala Y. sementara oleh apotek, kalau tidak diminta leafletnya tidak akan diberi, dgn alasan (ini kata seorang apoteker) nanti malah bikin pasien takut/bingung minumnya. bagaimana saya tau kalau ada contraindikasi??

    dan herannya setiap kali ke dokter di jkt pasti dikasih resep, biar cuma vitamin aja!!! beda sekali dgn di NL, kayaknya dokter disana usaha sebisa mungkin tidak ngasih resep. kita tanya apa perlu supplement pun, malah dijawab: yg penting makan seimbang dan bervariasi.

    sorry jadi ngomel.. masih gondok sama dokter yg minggu lalu soalnya.

  27. 28 cakmoki Agustus 26, 2009 pukul 1:41 am

    @ triesti:
    hmmm … iya emang. Suka atau tidak, gambaran tersebut nampaknya dapat dikatakan mewakili potret “sebagian” (besar?) komunikasi dokter-pasien dalam layanan medis. Demikan pula layanan obat di apotek, kebanyakan masih gelap gulita… di satu sisi, pasien berhak mengetahui dengan jelas obat yg diberikan namun acapkali tidak mendapatkan informasi sesuai harapan pasien.
    Saya juga heran kenapa informasi obat aja susahnya minta ampun. Waktu sy nulis posting tentang ” menulis etiket obat”, ada pihak yg ngomel pollll, merasa ditelanjangi … padahal sy gak colak-colek lho … hahaha.
    Ga papa ngomel di sini, supaya ga mual … πŸ˜‰

  28. 29 Shinta Agustus 26, 2009 pukul 11:21 am

    Dokternya bingung kali cak… kalo gak ngasih obat atau resep..nanti pasiennya gak mau bayar… hehhehe
    umumnya pasien kan gak tau kalo yg mereka bayar itu jasa konsultasi buat dokternya…

    Dah bayar mahal gak dikasih obat …. πŸ™‚

  29. 30 cakmoki Agustus 28, 2009 pukul 1:12 am

    @ Shinta:
    iya kali … emang di negeri kita nampaknya masih mengalami transisi tentang pengertian “berobat”. Sebagian masih menganggap gak berobat kalo ga dikasih obat.
    Di ndeso β„’ sini, sebagian besar juga masih gitu, namun sebagian udah mengerti bahwa “berobat” ke dokter gak selalu dapat obat …. mungkin juga pasiennya hanya ingin sedekah… hahaha

  30. 31 triesti Agustus 28, 2009 pukul 12:27 pm

    kalau di kampung sih boleh lah dgn pemikiran demikian. di jakarta, bisa dong pasiennya diajak bicara bahwa sebetulnya untuk pilek tidak perlu atibiotik etc…selain itu masih ada dokter ngasih puyer.. dan bukan dokter sepuh pula, kalau sepuh bisa dimengerti deh.

    contoh lagi, ke dokter mata krn dry eyes.. sudah saya kasih tau masih ada obat tetes mata X, masih pula di resepin obat tetes yg isinya sama tapi beda merk plus vitamin mata katanya.

    dokter yg nakut2in pasien disini banyak… kayak ada drg bilang ke pasiennya kalau tidak dioperasi nanti kanker.. padahal kemungkinan kanker itu tidak sampai 5%. akhirnya pasien melakukan tindakan tersebut krn takut, padahal tidak perlu.

  31. 32 mirza September 4, 2009 pukul 2:30 pm

    Poh…saya capek bangetttt…. 😦

  32. 33 cakmoki September 4, 2009 pukul 11:28 pm

    @ triesti:
    di kampungpun semestinya dokter mendidik pasien, sudah bukan jamannya lagi era “dokter solo”…emang sih, waktu sy gencar sosialisasi informasi terbuka kpd masyarakat ada aja sejawat yg protes, katanya jangan terlalu terbuka…walah… apa takut gak laku ya … hahaha.
    Hihihi…masih banyak yg ngeresepi obat kandungan sama beda merk ya?
    Hm, nakut-nakuti yg berujung duit mah hampir dimana-mana. Tapi moga lambat laun gak gitu lagi … tapi kapan dong…

    @ mirza:
    Napa ? capek kerja apa capek semua badan ? …gampang tuh, minta pijet kan beres πŸ˜›

  33. 34 vyanrh Oktober 4, 2009 pukul 2:34 pm

    Klo semua dokter di Indonesia sependapat dg CakMok, banyak hal “tidak nyaman” dapat dihapus..
    Mantap Dok, semoga banyak yang ikut. Salam silaturahmi dari Kuningan JaBar. (postingku:Dunia Medis, Menakutkan atau Menyenangkan?)

  34. 35 cakmoki Oktober 4, 2009 pukul 4:35 pm

    @ vyanrh:
    Postingnya tentang: Dunia Medis, Menakutkan atau Menyenangkan? udah saya baca … πŸ™‚
    Makasih kunjungan dan supportnya.
    Met berkarya

  35. 36 tari Oktober 10, 2009 pukul 8:06 pm

    medical Communication penting bgt tuh…………..
    sekarang saya lge blajar MC, ada buku judulnya Calgary cambridge Observation guide……bukuna bagus, isi panduan tentang struktur berkomunikasi dengan pasien……

  36. 37 cakmoki Oktober 11, 2009 pukul 12:36 pm

    @ tari:
    Setuju !!! πŸ™‚
    Makasih infonya … banyak buku bagus tentang MC … implementasinya tinggal menyesuaikan dengan situasi dan kondisi wilayah ataupun negara.
    Moga sukses selalu …

  37. 38 ina Desember 14, 2009 pukul 6:16 pm

    saya seorang pasien nih..
    Paling sebel kalo ketemu dokter yang males bersuara. Sekarang saya lebih suka cari dokter yang mau ditanya2in & mau menjelaskan panjang lebar jadi si dokter secara ga langsung menunjukkan kepedulian kepada pasiennya & pasiennya ke ruangan dokter juga bawaannya tenang. Kalo ditanyain trus body language si dokter dah asem, mending cabut… cari dokter lain!! Ga peduli biar pinter kaya apa. Itu namanya dah money oriented, padahal konsul aja bayar sampe 150-200rb (di Jkt) pake dikasih muka asem pula

    Masalah yang terjadi sekarang kan banyak karena adanya kurang komunikasi dokter – pasien.

    Tapi dokter sekarang banyak yang dah jago komunikasi koq… Mudah2an gak ada dokter bermuka & body language asem lagi!!!

  38. 39 cakmoki Desember 15, 2009 pukul 12:52 am

    @ ina:
    Hehehe, iya benar. Pasien berhak untuk bertanya dan dokter berkewajiban memberikan informasi secara “bijak” serta selalu memberikan support.
    Selain itu, pasien juga berhak untuk milih dokter … πŸ™‚
    Makasih telah berbagi.

  39. 40 sari Februari 3, 2010 pukul 6:27 pm

    dokter,,,,saya boleh bertanya tentang kanker???

  40. 41 cakmoki Februari 4, 2010 pukul 12:38 am

    @ sari:
    Boleh, ntar bisa sy dikusikan dengan teman-teman yang ahli di bidangnya melalui milis. Hanya saja jawabannya biasanya lambat. Maklum, mereka-2 sangat sibuk πŸ™‚

  41. 42 @ Rita April 15, 2010 pukul 8:36 pm

    Duh… di Malang ada ga ya dokter yg komunikatif dg pasiennya??? terutama dokter anak ????
    Cak aku pernah lho tanya2 ke dokter DSA yg aku gak ngerti.. e malah dijawab ” walo sy terangkan anda jg tdk akan mengerti “… hiks.. hiks…

    Yah lbh baik tanya ke cakmoki saja.. Dokter yg BAIK dan TIDAK SOMBONG… he3

    salam,


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Wong ndeso β„’

cakmoki

Wordpress Indonesia

Silahkan baca

DISCLAIMER

web tracker

9 Desember 2009

SEMENTARA TUTUP

Maaf, sementara Blog istirahat hingga ada pemberitahuan

Harap maklum


MARI HENTIKAN KORUPSI

Jangan Korupsi Ah

No Korupsi

Internet Sehat

Warga Bicara

» Makasih PLN, listrik Samarinda dah membaik, moga gak byar-pet

» Waspada Demam Berdarah

» Jangan Gunduli Palaran

» Banjir...banjir. Kapan masalah ini teratasi ?

INGA INGA INGA

» Nyeri Urat or Tulang BUKAN berarti Penyakit Asam Urat.

» Sekali lagi: Pegal, Linu Tidak Identik dengan Penyakit Asam Urat

TEMANs

9racehime | A. Fatih Syuhud | Aditiawan Chandra | A.Tajib | Agung UD | aLe | alief | alle | almascatie | Amd | Anak Peri | Anak Sultan | Anang | Anang YP | Anas | Andalas | Anggara | Anjaz | Anti Pungli | Antobilang | Anung87 | Aribowo | Arif Kurniawan | Arul | Astikirna | awan965 | axireaxi | Bambang alias HR | BatakNews | Blog Pokoke? | Biho | CalonOrangTenar | Cay | Chandra | Chielicious | chiw imudz | cK-chika | Dalamhati | Deden Nugraha | deedhoet | deKing | Desti Utami | Didats | doeytea | dnial | Edy C | Eep | Elpalimbani | erander | Evi | Fa | Fa wp | Faiq | Fertobhades | Fetro | Fortynine | Freddy | Gadis | Gaussac | Gitablu | Grandiosa | GuhPraset | GuM | Helgeduelbek | Herdy | Indonesia Kita | Indra KH | ItikKecil | iway | Jejakpena | Jennie S. Bev | Joesath | Joko Taroeb | Julee | Juli | Juliach | Junthit | Jurig | Kakilangit | Kang Adhi | Kang Kombor | Kangguru | kawaichu | Kenji | Kenzt | kikie | koecing | Kumala | Kurtubi | Kw | Laras | liezmaya | Lilik Suryanto | Lily | Linker | Lintang | Lita | Lita wp | Luthfi | MaIDeN | Majalah Dewa Dewi | Manusiasuper | Master Li | Mathematicse | macanang | mbojo | Mei | Micokelana | Mr. Geddoe | Mufti | mybenjeng | My-za | Nayla Zahra | Nayz | Ndarualqaz | Neeya | Neo Forty-Nine | Neri | Ninoy | Nieke | Nomercy | n0vri | NuDe | Om Sulis | omaigat | Ooyi | Paijo | Panca | Pandu | Panduan WP | Papabonbon | Passya | Peyek | Pinkina | Pitik | Pralangga | Prayogo | Priyadi | Qee | Raja iblis | RenjanaBiru | rivafauziah | Rivermaya | Roffi | roisZ | Rujak | Sagung | Sahrudin | Saiful Adi | SaRa | Siu | Sofi | Sora9n | Suandana | Suluh | Susiloharjo | Telmark | Thamrin | tiesmin | Triesti | Tukang Sate | Venus | Wadehel | Wahyuansyah | Wandira | Wiku | WongMangli | Wulan | Yati | Yudhipras |

:: :: :: :: :: :: :: :: ::

Kesehatan

:: Ady Wirawan :: Agus Mutamakin :: Anis Fuad :: Anis Fuad wp :: Asri Tadda :: Astri Pramarini :: Astri Pramarini (awal) :: Astri Pramarini wp :: Blog Mahasiswa FKU 2003 :: Blog Rumah Kanker :: Dani Iswara :: Dani Iswara weblog :: Dokter arek cilik :: drAnak :: drarifianto :: Dwi wp :: Elyas :: Erik Tapan :: Evy HealhtySmile :: FK Unsri :: Gies :: Gies wp :: Ginna :: Grapz :: Hendar Sunandar :: HIV News :: Huda Thoriq :: IDI Samarinda :: imcw :: Imran Nito :: Iwan Handoko :: Jhonrido :: klikharry :: Kobal :: Laksmi Nawasasi :: Mashuri :: Mave Mina :: Mbah Dipo :: Mina :: My Blogspot :: Nur Martono :: PKM Palaran :: Rara :: Rizma Adlia :: Rudy Kwang :: SenyumSehat :: Sibermedik :: SimkesUGM :: SuperKecil :: Titah :: Tito :: Tonang Ardyanto :: Tukangkomentar :: Wi :: Vina Revi :: Vina Multiply :: Yusuf Alam R :: zulharman79 ::

:: :: :: :: :: :: :: :: :: :: ::

Institusi Kesehatan

:: Depkes RI :: WHO :: WHO Indonesia :: … nyusul

:: :: :: :: :: :: :: :: ::

Kolaborasi

:: Emedicine :: ICD 10 Wikipedia :: ICD 10 Wiki Indonesia :: OSWD :: OpenWebDesign :: Pakistan Times :: Rubab :: ntar ::

Kategori

BlogTour

Arsip

Komunitas Blog

blog-indonesia.com

PAGE RANK

Powered by  MyPagerank.Net

Add to Technorati Favorites

[Valid RSS]

Health Blogs - Blog Top Sites

Health

Blogs Topsites - TOP.ORG

Health Blogs - Blog Rankings

Blog directory

TopOfBlogs

Top 10 Award

Feed Burner

cakmoki Blog

Bloggerian Top Hits

My BlogCatalog BlogRank

Site Meter

Since 30 Nov 07

PENGUNJUNG

  • 5,328,160 pengintip

Asal Usul

Pebruari 2011

free counters


%d blogger menyukai ini: