Wacana Puskesmas 24 jam

PUSKESMAS 24 JAM BUKAN SOLUSI IDEAL UNTUK MENINGKATKAN MUTU

puskesmas 24 jam ? Ketika Gubernur Kaltim melontarkan Wacana Puskesmas 24 jam pada bukan Pebruari 2009 yang lalu, sontak mendapatkan tanggapan positif dari berbagai pihak. Saat itu Gubernur mengungkapkan bahwa peningkatan pelayanan kesehatan 24 jam di Puskesmas dan Puskesmas Plus merupakan langkah konkret untuk memberikan pelayanan kesehatan prima. Melalui media beliau berasumsi bahwa tujuan tersebut dapat tercapai dengan penambahan tanaga dokter dan penambahan anggaran kesehatan.

Sebagai seseorang yang pernah lama di Puskesmas dan masih sangat mencintai Puskesmas (terutama Puskesmas Rawat Inap) saya merasa perlu menyampaikan pemikiran sebagai sumbang saran agar wacana Gubernur tersebut dapat diletakkan pada tempat yang tepat sesuai fungsi dan tatanan Puskesmas.

Saat itu pula, hampir semua jajaran kesehatan menyatakan dukungan (dengan semangat membara), tanpa mengkaji terlebih dahulu latar belakang pernyataan Gubernur Kaltim. *setelah mendukung, dijamin bingung sendiri, apa dan bagaimana bentuk dukungan tersebut. Dan hingga tulisan ini terbit, belum ada langkah kongkrit dari jajaran kesehatan Kaltim*… hehehe … pissss men.

Alangkah cilaka, jika ternyata jajaran kesehatan Kaltim (Dinkes Tingkat I dan Dinkes Tingkat II se Kaltim) belum pernah menanyakan kepada Gubernur tentang maksud dan alasan beliau melontarkan wacana Puskesmas 24 jam dan Puskesmas Plus. Lha kalau tidak sesuai dengan tatanan Puskesmas bagaimana, hayo … πŸ™‚

Keinginan Gubernur Kaltim untuk mewujudkan layanan prima di institusi layanan kesehatan primer (Puskesmas) patut menjadi bahan renungan bersama, terutama jajaran kesehatan Kaltim, yakni Dinas Kesehatan Tingkat I, Dinas Kesehatan Tingkat II, Puskesmas, RSUD sebagai bagian sistem reveral (rujukan), institusi pendidikan kedokteran Unmul (Universitas Mulawarman), institusi pendidikan paramedis (bidan, perawat, sanitarian, asisten apoteker, analis, dll), dan institusi terkait lainnya serta stakeholder.

MENGURAI WACANA GUBERNUR

Tujuan utama cita-cita Gubernur adalah mewujudkan layanan prima di Puskemas (dan sistem reveral-nya). Bisa jadi, selama ini Gubernur melihat adanya kekurangan dalam palayanan kesehatan primer di Puskesmas. Tentu tidak salah jika kemudian Gubernur mewacanakan Puskesmas 24 Jam dan Puskesmas Plus sebagai salah satu lompatan inovasi untuk akselerasi peningkatan mutu pelayanan primer di Puskesmas. Seperti tertulis di bagian awal, jalan keluar untuk mewujudkannya, menurut beiau adalah dengan menambah jumlah dokter dan menambah anggaran. Sangat logis bagi sudut pandang seorang Kepala Daerah.

Institusi teknis kesehatan dan praktisi kesehatan seyogyanya menyampaikan tentang pengertian dan fungsi Puskesmas kepada Gubernur agar keinginan beliau dapat β€œmix dan match” sehingga cita-cita beliau bisa terwujud tanpa kehilangan identitas Puskesmas dengan pelbagai ciri khasnya sesuai Sistem Kesehatan Nasional, Pedoman Kerja Puskesmas, Rencana Strategis (Renstra) Depkes dan Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan.

PENGERTIAN PUSKESMAS

Puskesmas adalah suatu kesatuan organisasi kesehatan fungsional yang merupakan pusat pengembangan kesehatan masyarakat yang juga membinaΒ Β  peran serta masyarakat disamping memberikan pelayanan secara menyeluruh dan terpadu kepada masyarakat di wilayah kerjanya dalam bentuk kegiatan pokok.
Dalam arti lain Puskesmas mempunyai wewenang dan tanggung jawab atas pemeliharaan kesehatan masyarakat dalam wilayah kerjanya.

Seiring dengan diberlakukannya UU Otonomi Daerah yang lebih mengedepankan desentralisasi, setiap daerah tingkat I dan II punya kesempatan mengembangkan Puskesmas sesuai Rencana Strategis ( renstra ) Kesehatan Daerah dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Bidang Kesehatan sesuai situasi dan kondisi daerah Tingkat I dan II. Konsekuensinya adalah perubahan struktur organisasi kesehatan serta tugas pokok dan fungsi yang menggambarkan lebih dominannya aroma kepentingan daerah tingkat I dan II, yang memungkinkan terjadinya perbedaan penentuan skala prioritas upaya peningkatan pelayanan kesehatan di tiap daerah, dengan catatan setiap kebijakan tetap mengacu kepada Renstra Kesehatan Nasional. Di sisi lain daerah tingkat II dituntut melakukan akselerasi di semua sektor penunjang upaya pelayanan kesehatan.

PELAYANAN PUSKESMAS

Pelayanan kesehatan yang diberikan Puskesmas adalah pelayanan kesehatan menyeluruh, meliputi: pelayanan promotif (upaya edukasi peningkatan kesehatan), pelayanan preventif (pencegahan), kuratif (pengobatan) dan rehabilitatif (pemulihan kesehatan).

Keempat jenis pelayanan dasar tersebut bersifat integratif, baik personal maupun program melalui UPK (Usaha atau Upaya Pokok Kesehatan). Hal ini dimaksudkan agar pelaksanaan setiap kegiatan tertata rapi dan memiliki kejelasan spesifikasi tugas dan sasaran serta hasil masing-masing program.

Artinya, Puskesmas bukan tempat orang berobat (kuratif) semata, namun merupakan institusi yang memiliki program komprehensif, integratif dan berkesinambungan. (bukan sesuai selera Pimpinan Puskesmas).

SEKILAS USAHA POKOK KESEHATAN (UPK) PUSKESMAS

Sebagaimana tertulis di atas, program Puskesmas dilaksanakan melalui Usaha Pokok Kesehatan (UPK), diantaranya:

  1. Kesehatan Ibu dan Anak (KIA). Ada yang merubah menjadi Kesga (Kesehatan Keluarga)
  2. Keluarga Berencana (KB) *moga UPK ini masih eksis*
  3. Upaya Peningkatan Gizi (ada yang mengunakan UPGK)
  4. Kesehatan Linkungan
  5. Pemberantasan Penyakit Menular
  6. Upaya Pengobatan (termasuk Pelayanan Kedaruratan)
  7. Penyuluhan Kesehatan Masyarakat
  8. Usaha Kesehatan Sekolah (UKS dan UGKS)
  9. Kesehatan Olahraga (Kesorga ???)
  10. Perawatan Kesehatan Masyarakat
  11. Usaha Kesehatan Kerja
  12. Usaha Kesehatan Gigi dan Mulut
  13. Usaha Kesehatan Jiwa
  14. Usaha Kesehatan Mata
  15. Laboratorium (sebaiknya tanpa embel-emel Sederhana)
  16. Kesehatan Usia Lanjut
  17. Pembinaan Pengobatan Tradisional
  18. Pencatatan dan Pelaporan Sistem Informasi Kesehatan (SIK)
  19. Dll … silahkan ditambah sampek mual … πŸ˜›

Upaya-upaya tersebut dapat terlaksana jika dokter sebagai komandan Puskesmas mampu bekerja sesuai peran dan fungsinya secara optimal, yakni:

  1. dokter sebagai dokter yang melayani pengobatan (setidaknya konsultan),
  2. dokter sebagai manajer dan sebagai pembimbing teknis,
  3. dokter sebagai tenaga ahli pendamping Camat, dan
  4. dokter sebagai penggerak pembangunan kesehatan di wilayah kerjanya.

Nah, menilik fungsi dan peran Puskesmas serta kewajiban dokter di Puskemas, wacana Puskesmas 24 Jam untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan primer, perlu dikaji ulang tentang maksud dan latar belakang munculnya wacana Puskesmas 24 jam tersebut.

Dengan kata lain, jika yang dimaksud Puskesmas 24 Jam adalah merubah jam kerja Puskesmas untuk melaksanakan UPK menjadi 24 Jam, maka Puskesmas 24 Jam bukan solusi ideal.

Ini baru tinjauan berdasarkan dasar-dasar dan hakekat pelayanan Puskesmas, belum lagi masalah kunjungan, tenaga dan masalah non-teknis.

Sebagai gambaran, sangat aneh jika Puskesmas yang dalam waktu normal saja hanya dikunjungi tak lebih dari 50 orang perhari, tiba-tiba diubah menjadi 24 jam. Percayalah, para petugas hanya akan tenguk-tenguk (mungkin hanya pindah tidur) nungguin pasien. Tidak mungkin kan, Posyandu dan kegiatan selain pengobatan dilakukan di waktu malam hari ???

Dan menjadi lebih aneh, manakala misalnya seorang bidan dibebani program rutin keesokan harinya sementara ia sudah melekan di malam sebelumnya. Lha waktu mereka untuk keluarga dan berbaur dengan masyarakat (ini juga termasuk tugas) menjadi kacau kan? … Dan masih banyak aspek-aspek lain yang luput dari perhatian kita.

Tentang dokter. Okelah, Kaltim memang kurang dokter. Kebanyakan dokter menumpuk di kota, sementara ada daerah yang tidak memiliki dokter di Puskesmas. Penambahan dokter boleh jadi akan menjunjang peningkatan pelayanan di Puskesmas.

PERTANYAANYA:

Sudahkah semua dokter Puskesmas di Kaltim benar-benar melaksanakan kewajibannya sebagaimana tertulis dalam Pedoman Kerja Puskesmas ? Pertanyaan ini berlaku pula bagi petugas Puskesmas yang lain, termasuk Dinas Kesehatan.

Bagi dokter yang sudah melaksanakan tugas dan kewajibannya dengan baik (sesuai Pedoman Kerja Puskesmas) patut diberikan penghargaan dan mendapatkan support penuh atas prakarsanya yang mengedepankan kepentingan masyarakat.

Di sisi lain, kita harus berani jujur, bahwa sebagian diantaranya jarang datang ke Puskesmas. Adapula dokter yang tidak pernah keliling di wilayah kerjanya guna mengenal warga masyarakat selain malalui rapat di tingkat Kecamatan, Kelurahan dan Penyuluhan. Padahal, kunjungan non formal di luar jam kerja merupakan salah satu kunci sosial untuk mendapatkan dukungan masyarakat. Sangat naif bila kita mempercayai seorang dokter yang mengatakan bahwa ia mampu mengelola Puskesmas dari jauh sambil jalan-jalan entah kemana, tanpa datang di Puskesmas.

Well, banyak jalan untuk memperbaikinya. Maih ada waktu untuk berbenah dan memilih dokter yang tepat sebagai komandan Puskesmas. Kita percaya, masih banyak dokter Puskesmas yang rela mendedikasikan ilmunya untuk kepentingan khalayak.

TAWARAN SOLUSI PENINGKATAN MUTU PELAYANAN PUSKESMAS

Sekilas gambaran tentang fungsi dan peran Puskesmas serta kondisi riil di Puskesmas, diharapkan dapat menjadi pertimbangan bapak Gubernur untuk mewujudkan pelayanan kesehatan prima melalui cara lain.

Menurut saya, ada 2 bentuk layanan (institusional dan fungsional) yang mungkin bisa dijadikan alternatif, yakni:

  1. UGD (24 Jam). Penambahan fasilitas pelayanan UGD 24 Jam) dapat dipertimbangkan terutama di Puskesmas sepanjang jalur transportasi darat dan jalur transportasi sungai berdasarkan angka kecelakaan dan angka kedaruratan medik setidaknya dalam 2 tahun terakhir.
  2. Puskesmas Rawat Inap. Otomatis sebuah Puskesmas Rawat Inap beroperasi 24 jam dengan lebih memfokuskan diri pada upaya kuratif dan rehabilitatif. Sedangkan upaya pokok lainnya dilaksanakan seperti biasa. Saya berpendapat (berdasarkan pengalaman mengelola Rawat Inap Swakelola), Puskesmas Rawat Inap sebaiknya dibangun tersendiri, tidak tumpang tindih dengan Puskesmas yang ada, agar ketenangan pasien yang sedang dirawat dapat terjamin. Demikian pula tenaga dan manajemen sebaiknya tidak campur dengan Puskesmas Induk. Hal ini dimaksudkan agar tenaga Puskesmas Rawat Inap lebih konsentrasi dalam perawatan penderita dan kedepan Puskesmas Rawat Inap mampu menghidupi dirinya sendiri dalam hal pengadaan obat dan bahan habis pakai, sehingga peningkatan kualitas pelayanan dapat tercapai. Dengan kata lain, jika sebuah Puskesmas Rawat Inap sudah mampu swakelola, setidaknya Pemerintah Daerah tidak perlu lagi repot-repot memikirkan pengadaan obat dan bahan habis pakai. Ibarat anak, Puskesmas Rawat Inap tersebut sudah bukan balita yang hanya bisa menetek, tapi menjadi anak yang mampu mengelola duit sendiri sejauh tidak memberatkan masyarakat. Apa bisa ? Bisa dong !!! Kenapa tidak ?

Tentang Rawat Inap yang tidak menetek terus menerus (swakelola) akan saya tulis di kemudian hari.

Demikan pandangan saya tentang wacana Puskesmas 24 jam dan tawaran solusi dalam menyikapi keinginan Bapak Gubernur Kaltim untuk mewujudkan pelayanan kesehatan prima (atau apalah namanya).

Adapun tentang perangkat teknis dan contoh model usulan di atas, dapat dibicarakan di ruang yang khusus, tanpa banyak orang (soale kalau kebanyakan orang sering gak jadi-jadi). Setelahnya, beberapa pilihan model dapat ditawarkan kepada masing-masing Dinas Kesehatan Tingkat II dan Puskesmas untuk disesuaikan dengan kondisi setempat.

Akhirnya …

Kepada Bapak Gubernur dan Wakil Gubernur, terimakasih yang setulus-tulusnya atas perhatiannya dalam upaya meningkatkan pelayanan kesehatan primer di Kaltim. Semoga keinginan luhur tersebut senantiasa menadapatkan limapahan rahmat dan ridho-Nya. Amiiin.

Semoga bermanfaat.

:: :: :: posting menggunakan WLW :: :: ::

Iklan

48 Responses to “Wacana Puskesmas 24 jam”


  1. 1 ridhaniar Juni 29, 2009 pukul 4:47 pm

    Coba tanya Gubernur, apa itu puskesmas?

  2. 2 cakmoki Juni 30, 2009 pukul 12:14 am

    @ ridhaniar:
    Beliau tahu dan udah diskusi, tapi secara detail tentu kewajiban kita untuk memberi tahu πŸ™‚

  3. 3 Ridho Juni 30, 2009 pukul 11:11 am

    coba gubernurnya njenengan cak, mesthi beres maslah puskesmas ini hehehehe… so, kapan mau nyalon cak?? sesama orang jember aku mendukung cak moki!!!

  4. 4 cakmoki Juli 1, 2009 pukul 12:39 pm

    @ Ridho:
    hua ha ha ….. lha wong jadi RT aja sy gak pantes πŸ˜€

  5. 5 nomercy Juli 2, 2009 pukul 9:46 am

    maksudnya mungkin baik … tetapi mestinya harus juga tidak asal membuat usulan, harus dikaji terlebih dahulu baik dari sisi manfaat maunpun teknis pelaksanaannya …

  6. 6 cakmoki Juli 2, 2009 pukul 12:11 pm

    @ nomercy:
    Makasih pandangannya πŸ™‚

    Tawaran tersebut bukan usulan dan bukan konsep, tapi model (sistem) yang sudah berjalan sejak 23 maret 2004 dan sedang berjalan hingga kini. Kajiannya sendiri udah dilakukan 2002 hingga awal 2004.
    Dasar hukum dan teknisnya tidak tertulis di sini karena terdiri dari banyak halaman, demikian pula item dan cost dalam Perda. Semuanya tertuang dalam 1 CD (terdiri dari format flash, PDF, Help File dan eBook lain ukuran sebitar 400 Mb.
    Beberapa hari yg lalu, salah satu petinggi Kaltim udah sy berikan gambaran singkat dan beliau setuju. Hanya perlu menetapkan jadwal presentasi untuk dibandingkan dengan konsep lain.
    Selain itu, beberapa sejawat di Jatim udah mengadopsinya πŸ™‚

  7. 7 necel Juli 2, 2009 pukul 10:03 pm

    Mungkin maksudnya gubernur seperti itu. Mungkin dapat bisikan dari bawahannya, untuk niru puskesmas Palaran yang 24 jam (UGD dan rawat inap maksudnya).

  8. 8 cakmoki Juli 4, 2009 pukul 2:25 pm

    @ necel:
    Bukan… ini masih tawaran. Dalam hal ini Gubernur mempersilahkan berbagai puhak untuk memberikan masukan. Menurut saya yg paling penting adalah bagaimana pengguna jasa pelayanan medis di Puskesmas mendapatkan layanan optimal.

  9. 9 dokterearekcilik Juli 5, 2009 pukul 6:28 am

    Semoga berhasil… aling tidak ada greget darii pemda untuk memperhatikan masalah kesehatan

  10. 10 cakmoki Juli 6, 2009 pukul 3:17 pm

    @ dokterearekcilik:
    makasih Mas ….. yg jelas, greget udah muncul dari Pemprov (pak Gub), tinggal gimana nanti temen-2 IDI dan Dinkes Tk I dan II meramunya secara teknis… bukan malah dianggap “durian runtuh untuk royokan” … hahaha.

  11. 11 Lukisan Murah Juli 8, 2009 pukul 5:11 pm

    waduh, puskes nya udah mau 24 jam..

    di tempat saya masih belum 24 jam ini..

    mungkin bisa di tiru daerah laen ya..

    hehehe!!

  12. 12 cakmoki Juli 9, 2009 pukul 2:49 pm

    @ Lukisan Murah:
    Bergantung pada manfatnya πŸ™‚
    kalo dengan 24 jam gak ada perbaikan, gak perlu ditiru, hehehe

  13. 13 Besan Juli 9, 2009 pukul 9:10 pm

    Puskesmas 24 jam!!. wow keren lho cak kl itu bs terealisasi. Jd puskesmas bkn jd tempat yg hny melayani PUSing,KEsel2,panaS,&MASuk angin…hahaha. (becanda lho cak).

    Sy setuju cak kl secara umum puskesmas hrs lbh mprioritaskn pelaksanakn program puskesmas dibandingkan hrs memikirkan puskesmas 24 jam. Tp gpp khan cak kl puskesmas jg menyediakan layanan 24 jam bila dirasa perlu (misal di suatu desa yg jauh dari RS n dgn jmlh pnddk yg byk yg sgt membutuhkan layanan kesehatan). Jd gak smua puskesmas dlm satu kabupaten hrs 24 jam.
    Oh ya ditggu artikel ttg swakelola puskesmas rawat inapny cak.

  14. 14 cakmoki Juli 10, 2009 pukul 2:08 pm

    @ Besan:
    ya, gak semua … hanya yang padat pengunjung dan jauh dari RS, tapi menurut saya gak perlu pake nama Puskesmas 24 Jam, cukup dengan nama: Puskesmas Rawat Inap ato Puskesmas Perawatan, dimana sudah menggambarkan pelayanan 24 jam.
    Kalo pake Puskesmas 24 Jam, ntar ada istilah Puskesmas Jam Keja, Puskesmas sak jam-jamnya, dll … hahaha.

    Swakelola nyusul … masih ngumpulin beberapa file yg akan disertakan dalam link download.
    Maturnuwun.

  15. 15 iRHoTeP Juli 14, 2009 pukul 7:47 pm

    Sepakat, TS.. Jangan melulu perihal pelayanan kesehatan dijadikan komoditi/janji politik belaka!

    #iR#

  16. 16 cakmoki Juli 14, 2009 pukul 11:15 pm

    @ iRHoTeP:
    Maksih kunjungan dan supportnya πŸ™‚

  17. 17 firawati Juli 15, 2009 pukul 5:35 pm

    sbtlnya bgs puskesmas rwtan..cm..konsep yg jls ttg tujuan serta cara puskesmas rawatan tidak ada..standar yg jls jg blm ada…jd mo acuan kemana????soalny sy jg penaggung jwb rawatan..smpe skrg dag cr2 acuan blm ketemu…mhon bantuannya pak…

  18. 18 cakmoki Juli 16, 2009 pukul 1:16 am

    @ firawati:
    semuanya ada …
    Sebenernya di Blog ini udah ada beberapa posting tentang layanan medis di rawat inap, tapi terpencar-pencar…
    Ntar akan posting tentang “swakelola rawat inap” secara khusus … ditunggu aja yaaa.

  19. 19 firawati Juli 16, 2009 pukul 7:18 pm

    ok…mksh ya bapak……ditunggu banget….soalnya kita lg bgun gedung baru…cm blm selesai seh…tp..rancngan model sy aja br pak…berdsrkan buku2 yg sy bc….

  20. 20 cakmoki Juli 17, 2009 pukul 12:27 am

    @ firawati:
    Siiip, salut…moga segera selesai.
    Ntar akan sy kumpulin beberapa file yg mungkin bisa membantu untuk persiapan.
    Sy pernah merancang sendiri gedung Rawat Inap dan disetujui Pemkot ….
    Silahkan lihat Blog-nya di:
    http://puskesmaspalaran.wordpress.com/
    sayangnya blog tersebut yg merupakan media sharing untuk pengembangan Rawat Inap, gak terurus lagi oleh pengganti saya.
    Thanks

  21. 21 firawati Juli 17, 2009 pukul 6:55 pm

    aduh…pnasaran deh jdnya…pdhal cuti kemaren aku k sangatta..dan lewat samarinda berangkatnya..dan br sekali naik mobil ke sangata, biasanya naik pswt cassa..knpa g dari dulu ya buka blog bapak..kan bisa liat jg puskesmasnya…jauh dari pusat kota samarinda puskesmasnya pak????gedung rawatan kami sudah selesai..cuma yg belum lantainya lagi…rawatan kami yang ada sekarang, baru untuk kapasitas 3 tmpt tidur dan 1 kmr bersalin, trus UGD 1 tmpt tdr…petugas 3 D3 perawat, 9 bidan,1 S1 keperawatan saya sendiri, dan satu2nya puskesmas rawatan di kota saya…

  22. 22 cakmoki Juli 18, 2009 pukul 2:46 pm

    @ firawati:
    idealnya sih lihat sendiri..ga jauh dari kota samarinda koq…sekitar 25 km… di Kec. Palaran.
    kalo lihat sendiri, bisa langsung berdialog dengan para petugas sampai sedetail-detailnya … bisa copy Protap, Perda, dll….
    Ntar kalo ke Samarinda lagi, mampir yaaaa… kita bisa ngobrol sambil lihat langsung Rawat Inap di sini.

  23. 23 firawati Juli 19, 2009 pukul 11:12 am

    insyaallah sy sempatkan mpir ke puskesmas bapak…thank’s bgtu pak….senang bs mampir di blog bapak….sbtlnya kita jauh neh pak…2 pulau neh..lokasi sy di Sumatra Barat…Padang…tp sya di kota kecilnya lagi yaitu SOLOK…

  24. 24 cakmoki Juli 19, 2009 pukul 6:34 pm

    @ firawati:
    ya, semoga …. sy udah gak tugas di situ lagi, tapi tinggal di sini dan bisa mendampingi kalo kesini.

    Wah, sayangnya…udah jauh-2 gak mampir…hehehe, gak tahunya sama-2 ndeso.
    Moga sukses selalu …

  25. 25 firawati Juli 20, 2009 pukul 4:32 pm

    bnyk sbtlnya yg mo ditnyakan..smg bpk kerasan mjwbnya…eh ya..pak apa petugas rawat inapnya jg dibebankan sm tgs2 puskesmas???kan bnyak tuh program puskesmas..spt posyandu,screning, UKS, PKPR etc…

  26. 26 cakmoki Juli 20, 2009 pukul 10:51 pm

    @ firawati:
    enggak… petugas rawat inap khusus menangani rawat inap. Kita yg milih para petugas khusus rawat inap. Kalo gak gitu, gak mungkin bisa memberikan layanan yg optimal… Demikan pula tentang jasanya, kita yg menyusun draft Perda untuk menjamin tambahan pendapatan dengan cara yg sah.

  27. 27 firawati Juli 21, 2009 pukul 3:51 pm

    ops…enak gitu ya pak..dah ada aturan yg jls..sbtlny kt jg punya perda.tp semua kami setor.dan alhamdulillah dah hmpir 1 thun yg jasa plyanan blm kembali..katanya seh dikembalikan…tp….hm….tp ada yg swakelola jg sy atur,spt..pasien yg mo di nebulizer,trus dari barang hbs pakai…dari sana kami mendapatkan jasa lg…

  28. 28 Kakaakin Agustus 6, 2009 pukul 1:36 pm

    Wah…ada yang ngobrol disini… πŸ˜›
    Saya masih dari puskesmas sodaranya puskesmas palaran…(sodaraan ga ya??), maksudnya sama2 rawat inap. Mau nanya pa, ada aturannya ga dalam menentukan tarif lab, soalnya ga ada di perda. Trus penentuan harga obat bgmn ya? Kata bos saya, ga boleh lebih dari HET, tp ada beberapa obat yang harga belinya terlalu dekat HET, bahkan lebih. Selama jd pimpus, cakmoki pernah diaudit ga mengenai pentarifan dan harga2? Thanks 4 the info

  29. 29 Kakaakin Agustus 6, 2009 pukul 1:57 pm

    Oiya, dokter dan perawat udah ditambahin ya pa… dengan honor yang menggiurkan sekali… Bikin iri aja..hehe…

  30. 30 cakmoki Agustus 7, 2009 pukul 12:18 am

    @ firawati:
    begitulah kalo disetor … janji tinggal janji. Sebenernya, Puskesmas bukan sumber PAD. Hal ini sesuai dengan kesepakatan para kepala daerah pada tahun 2000 (kalo gak salah). Ntar bukunya akan sy cari.
    Sy sependapat dan saya dukung upaya swakelola. Pada dasarnya pasien menginginkan yang terbaik. Penyediaan Nebulizer, dll adalah salah satu contoh yg patut dikembangkan.

    @ Kakaakin:
    Perda Rawat Inap disusun oleh kita, lantas diajukan ke Pemda dan DPRD untuk mendapatkan persetujuan. Artinya, kita jangan nunggu. Kalo belum ada perda, maka kita yg wajib menyusunnya.

    Untuk obat, sy sependapat, jangan lebih dari HET dan harus lebih murah dari harga normal.

    Selama jadi Pimpus, udah sering diaudit… gak masalah sepanjang kita gak korupsi….

    Yaaa… udah sepantasnya kalo dokter dan perawat di Rawat Inap mendapatkan jasa lebih … hehehe.

  31. 31 firawati Agustus 7, 2009 pukul 3:46 pm

    iya sbtlnya pak..tp kdg ada bbrapa yg g ada…tp sy punya smua bukti pembelian kok..krn sy jg g mau mkan duit yg kyk gitu….

  32. 32 cakmoki Agustus 8, 2009 pukul 1:54 am

    @ firawati:
    iya, salut …

  33. 33 firawati Agustus 29, 2009 pukul 6:04 pm

    sblmya slmat menjalankan ibdh puasa ya pak…eh ya pak…….blh tnya lg neh…insyaallah sy mo kuliah lg neh pak..kira2 permaslhan apa yg bgs ya bwt tesis ttg rwat inap puskesmas..tq b4 ya pak….

  34. 34 cakmoki Agustus 30, 2009 pukul 12:28 am

    @ firawati:
    sama-sama, met menjalankan ibadah puasa juga.
    seorang temen yg dulu penah sama-sama memulai Rawat Inap mengambil tema Prosedur Tetap Perawatan DBD dan Diare untuk tesis ketika beliau mengambil spesialis anak, dan saat ini sedang menjalani pendidikan spesialis anak di Unair (tahun ketiga).
    Menurut saya, tema tesis bergantung jurusan dan bidang keahlian yang akan ditempuh.
    Jika mengambil IKM, mungkin masalah “kemandirian” atau “swakelola” bisa dijadikan pertimbangan.
    Namun yang paling penting adalah minat terhadap tema permasalahan di Rawat Inap untuk dipecahkan. Kalo bisa yang spesifik agar gak repot.
    Met melanjutkan sekolah, moga sukses selalu.
    Trims

  35. 35 firawati Agustus 31, 2009 pukul 10:00 pm

    kbtlan sy ambl IKM, ambl Mars nya,,,krn klupn g jd rmh skt ntinya..minimal perencanaan swakelola spt rmh skt mini…apa ada ya pak rmh skt mini..he…

  36. 36 cakmoki September 1, 2009 pukul 1:10 pm

    @ firawati:
    wah sip, saya sependapat dan sy emang gencar memperkenalkan swakelola agar lebih maju dan mandiri.
    Di indonesia gak dikenal istilah RS mini, yg ada dibedakan type berdasarkan jumlah tempat tidur, termasuk dalam draft UU tentang RS yg sekarang lagi diteliti oleh DPR RI.
    Namun sebenernya kita dapat memodifkasi RS type D atau C menjadi RSUD swakelola. Mungkin RS ty[e D atau C lebih mirip dengan RS mini seperti yang ada di Nepal, dimana RS kecil tersebut mampu menghidupi dirinya sendiri dan mampu menggaji dokter dan paramedis dengan gaji tinggi … gak seperti di sini ..hahahaha…

  37. 37 firawati September 1, 2009 pukul 5:58 pm

    wah jd keenakan neh diskusi ma bpk…brati klu swakelola mandiri ntar di perkecillg ruanglingkupnya ya pak..krn ttlu bnyak persoalan rawat inap yg sy lht.

  38. 38 cakmoki September 3, 2009 pukul 12:26 am

    @ firawati:
    ya bener… makin sempit topiknya diharapkan akan lebih fokus dan dapat dioperasionalkan, tidak hanya sebagai tugas semata.
    Sebenernya sy pernah menyusun buku Sistem Pengelolaan RSUD type C yg dulu (sekitar 3 tahun yg lalu) ditugaskan oleh Pemkot. Hanya saja sy belum sempat mengedit.

  39. 39 firawati September 4, 2009 pukul 10:41 pm

    iya..rcn sy mo mperkcl ruanglingkupnya..apkh dlm permaslhan perawatn, pnyediaan obt2an,tindakan..eh ya pak..gedung rwatan kami dah slesai..lg tguin AC sm besi pengaman ruangan neh pak…

  40. 40 cakmoki September 4, 2009 pukul 11:38 pm

    @ firawati:
    wah selamat … gitu dong, usulin pake AC supaya kita bisa bekerja dengan nyaman dan pasien juga dapat menikmati sarana layanan optimal.

  41. 41 firawati September 18, 2009 pukul 7:33 am

    tany lg neh pak…apa puskesmas rawatannya dpt anggaran khusus bwt pengembangan sndri???mis..klu puskems biasanya kan ada dana rutinnya..apa puskmas rwatan bpk jg spt itu ???tq b4 pak

  42. 42 cakmoki September 18, 2009 pukul 3:00 pm

    @ firawati:
    Iya, ada dana rutin sesuai usulan kita, termasuk uang jaga untuk perawat, bidan …. gaji, biaya listrik, air, tilpon, BBM, ATK, sabun mandi, sabun cuci, pengharum lantai, pengharum ruangan …. perawatan kebun & halaman, cleaning service, laundry, catering … rasanya sy pernah upload contoh DASK (daftar anggaran satuan kerja) atau apapun namanya (soalnya tiap tahun berubah). Sejak tahun 2002, hanya 6 dati II di Indonesia (termasuk Samarinda) yang menerapkan desentralisasi belanja kesehatan hingga ke tingkat Puskesmas, selanjutnya diikuti daerah lain.
    Untuk rawat inap palaran, anggaran pertama 150 juta. Saat ini sudah mencapa 350 juta per tahun. Kalo pimpinannya bisa menjaga visi tujuan dibangunnya rawat inap, tentu dana segitu besar bisa untuk meningkatan banyak hal, bukan hanya ngakali untuk menghabiskan seperti yg kebanyakan terjadi.
    Sayangnya, pengganti saya kayaknya bukan orang yg tepat…hehehe…
    Trims

  43. 43 firawati September 19, 2009 pukul 4:08 pm

    wow…………..angka yg fantastis…rawat inap sy bermodal NOL, msh dibwh puskesmas induk…brarti pisah ya pak anggaran rawat inap dng puskesmasnya..kami beli nebulizer dari keuntungan obat2 yg g tersedia…jd betul2 mandiri…

  44. 44 cakmoki September 20, 2009 pukul 12:49 am

    @ firawati:
    Sama, awalnya dulu kami modal cuman 25 juta (ssstttt, itu pinjaman)…ntar sy upload tulisan tentang swakelola…udah siap tapi akan sy tayangkan setelah lebaran.
    Dari modal nol tersebut, kita bisa presentasi di depan DPRD dan Pemda agar mendpatkan anggaran yg pantas, trus kita usulkan juga draft perda bikinan kita…
    Bener, yang ideal menurut saya terpisah dengan puskesmas induk agar lebih konsentrasi dan lebih mandiri.
    Salut kaloudah mandiri, tapi gak salah kalo kemandirian tersebut disampaikan ke Pemda melalui presentasi. Niscaya beliau-2 akan mensupport.

  45. 45 firawati September 20, 2009 pukul 10:38 am

    sy tgu ttg swakelolanya pak…jgankan di undang pemda..puskesmas sj g tw klu kami punya nebulizer…istilahnya..mo maju rawatan ok..g jg gpp…jd kami betul2 memenej sdri pak…smpai beli O2 sdiri…kdg pasien byar, kdg g..tp..yg g byr kami biarkan sj…g pernah nuntut..yg namanya rezki g bakalan lari….

  46. 46 cakmoki September 20, 2009 pukul 8:45 pm

    @ firawati:
    gitu ya … bagaimanapun langkah tersebut perlu terus ditingkatkan walau gak dianggap oleh pihak lain. Yang penting niat kita untuk memberikan layanan terbaik dapat kita pelihara. Setuju, rejeki datang dari tempat yg gak pernah kita sangka … πŸ™‚

  47. 47 firawati September 23, 2009 pukul 4:12 pm

    slmt idul fitri ya pak..mhon maaf lhr dan btin…smg tlisan ttg swakelola sgra ya pak….he….

  48. 48 cakmoki September 24, 2009 pukul 1:47 pm

    @ firawati:
    Sy juga mengucapkan selamat idul fitri, mohon maaf lahir dan batin. tulisan tentang swakelola insya Allah sy tayangkan sekembalinya sy ke rumah.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Wong ndeso β„’

cakmoki

Wordpress Indonesia

Silahkan baca

DISCLAIMER

web tracker

9 Desember 2009

SEMENTARA TUTUP

Maaf, sementara Blog istirahat hingga ada pemberitahuan

Harap maklum


MARI HENTIKAN KORUPSI

No Korupsi

Internet Sehat

Translator

Warga Bicara

» Makasih PLN, listrik Samarinda dah membaik, moga gak byar-pet

» Waspada Demam Berdarah

» Jangan Gunduli Palaran

» Banjir...banjir. Kapan masalah ini teratasi ?

INGA INGA INGA

» Nyeri Urat or Tulang BUKAN berarti Penyakit Asam Urat.

» Sekali lagi: Pegal, Linu Tidak Identik dengan Penyakit Asam Urat

TEMANs

9racehime | A. Fatih Syuhud | Aditiawan Chandra | A.Tajib | Agung UD | aLe | alief | alle | almascatie | Amd | Anak Peri | Anak Sultan | Anang | Anang YP | Anas | Andalas | Anggara | Anjaz | Anti Pungli | Antobilang | Anung87 | Aribowo | Arif Kurniawan | Arul | Astikirna | awan965 | axireaxi | Bambang alias HR | BatakNews | Blog Pokoke? | Biho | CalonOrangTenar | Cay | Chandra | Chielicious | chiw imudz | cK-chika | Dalamhati | Deden Nugraha | deedhoet | deKing | Desti Utami | Didats | doeytea | dnial | Edy C | Eep | Elpalimbani | erander | Evi | Fa | Fa wp | Faiq | Fertobhades | Fetro | Fortynine | Freddy | Gadis | Gaussac | Gitablu | Grandiosa | GuhPraset | GuM | Helgeduelbek | Herdy | Indonesia Kita | Indra KH | ItikKecil | iway | Jejakpena | Jennie S. Bev | Joesath | Joko Taroeb | Julee | Juli | Juliach | Junthit | Jurig | Kakilangit | Kang Adhi | Kang Kombor | Kangguru | kawaichu | Kenji | Kenzt | kikie | koecing | Kumala | Kurtubi | Kw | Laras | liezmaya | Lilik Suryanto | Lily | Linker | Lintang | Lita | Lita wp | Luthfi | MaIDeN | Majalah Dewa Dewi | Manusiasuper | Master Li | Mathematicse | macanang | mbojo | Mei | Micokelana | Mr. Geddoe | Mufti | mybenjeng | My-za | Nayla Zahra | Nayz | Ndarualqaz | Neeya | Neo Forty-Nine | Neri | Ninoy | Nieke | Nomercy | n0vri | NuDe | Om Sulis | omaigat | Ooyi | Paijo | Panca | Pandu | Panduan WP | Papabonbon | Passya | Peyek | Pinkina | Pitik | Pralangga | Prayogo | Priyadi | Qee | Raja iblis | RenjanaBiru | rivafauziah | Rivermaya | Roffi | roisZ | Rujak | Sagung | Sahrudin | Saiful Adi | SaRa | Siu | Sofi | Sora9n | Suandana | Suluh | Susiloharjo | Telmark | Thamrin | tiesmin | Triesti | Tukang Sate | Venus | Wadehel | Wahyuansyah | Wandira | Wiku | WongMangli | Wulan | Yati | Yudhipras |

:: :: :: :: :: :: :: :: ::

Kesehatan

:: Ady Wirawan :: Agus Mutamakin :: Anis Fuad :: Anis Fuad wp :: Asri Tadda :: Astri Pramarini :: Astri Pramarini (awal) :: Astri Pramarini wp :: Blog Mahasiswa FKU 2003 :: Blog Rumah Kanker :: Dani Iswara :: Dani Iswara weblog :: Dokter arek cilik :: drAnak :: drarifianto :: Dwi wp :: Elyas :: Erik Tapan :: Evy HealhtySmile :: FK Unsri :: Gies :: Gies wp :: Ginna :: Grapz :: Hendar Sunandar :: HIV News :: Huda Thoriq :: IDI Samarinda :: imcw :: Imran Nito :: Iwan Handoko :: Jhonrido :: klikharry :: Kobal :: Laksmi Nawasasi :: Mashuri :: Mave Mina :: Mbah Dipo :: Mina :: My Blogspot :: Nur Martono :: PKM Palaran :: Rara :: Rizma Adlia :: Rudy Kwang :: SenyumSehat :: Sibermedik :: SimkesUGM :: SuperKecil :: Titah :: Tito :: Tonang Ardyanto :: Tukangkomentar :: Wi :: Vina Revi :: Vina Multiply :: Yusuf Alam R :: zulharman79 ::

:: :: :: :: :: :: :: :: :: :: ::

Institusi Kesehatan

:: Depkes RI :: WHO :: WHO Indonesia :: … nyusul

:: :: :: :: :: :: :: :: ::

Kolaborasi

:: Emedicine :: ICD 10 Wikipedia :: ICD 10 Wiki Indonesia :: OSWD :: OpenWebDesign :: Pakistan Times :: Rubab :: ntar ::

Kategori

BlogTour

Arsip

Komunitas Blog

blog-indonesia.com

PAGE RANK

Powered by  MyPagerank.Net

Add to Technorati Favorites

Health Blogs - Blog Top Sites

Health

Blogs Topsites - TOP.ORG

Health Blogs - Blog Rankings

Blog directory

TopOfBlogs

Top 10 Award

Feed Burner

cakmoki Blog

Bloggerian Top Hits

My BlogCatalog BlogRank

Site Meter

Since 30 Nov 07

PENGUNJUNG

  • 5,368,637 pengintip

Asal Usul

Pebruari 2011

free counters

Translate


%d blogger menyukai ini: