Prita dan Prita Mulyasari

BENARKAH SEMUA PEDULI PRITA ?

Layanan Medis Mencuatnya dukungan untuk Mbak Prita Mulyasari terkait keluhannya atas pelayanan medis yang menurutnya “tidak nyaman” dan minimnya penjelasan, tak pelak membuka mata banyak pihak. Seolah semua perhatian tertuju ke arahnya, bahkan para calon presiden pun menyatakan simpati.

Kalau benar keluhan Mbak Prita seperti tertulis di pelbagai komunitas dunia maya, sangatlah pantas banyak pihak bertanya-tanya. Ada apa sebenarnya ? Benarkah keluhan semacam itu berakibat hukuman ? Bagaimana batasan “kalimat” antara pencemaran dan bukan pencemaran ? Lantas, apa saja kewajiban institusi layanan kesehatan (termasuk pelaksana layanan medis) terhadap para pasiennya ? Apa saja hak-hak pasien dalam mendapatkan layanan kesehatan ? Kemana pasien mengadu manakala mendapatkan layanan yang dianggap tidak memuaskan ? Mungkin masih banyak pertanyaan menggelayut di benak kita. Niscaya, jawabannya akan beragam.

INFORMASI DAN REKAM MEDIK

Informasi medis, terkait hubungan dokter-pasien, merupakan salah satu bagian pelayanan kesehatan yang bersifat komprehensif. Terlebih dalam hubungan pelayanan medis antara dokter dan pasien di Institusi Pelayanan Perawatan Kesehatan ( RS, Puskesmas Rawat Inap, Klinik, dll), dimana informasi medis lebih bersifat individual berdasarkan jenis penyakit dan perkembangannya dari waktu ke waktu selama masa perawatan hingga pasca perawatan, dengan pelbagai pemeriksaan penunjang sesuai indikasi medis.

Di dunia medis ( termasuk praktek dokter ) dikenal  istilah “pelayanan kesehatan komprehensif dan berkesinambungan”, yakni rangkaian pelayanan kesehatan yang meliputi: promotif (disiminasi informasi, edukasi), preventif (pencegahan), kuratif pengobatan dan perawatan)dan rehabilitatif (pemulihan), yang saling terintegrasi antara satu dengan lainnya.

Contoh sederhana: Manakala Larva Migrans (cacing kulit, cutaneous creeping eruption)

Dimanapun bertugas, seorang dokter akan melaksanakan keempat dasar-dasar pelayanan kesehatan tersebut. Boleh dikata, keempatnya (promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif) sudah menyatu dalam diri seorang dokter. Hanya saja, gaya, cara penyampaian dan media informasi yang digunakan bisa berbeda, bergantung kepada banyak faktor. Aspek inilah mungkin yang memicu munculnya ketidakpuasan pasien dalam mendapatkan informasi yang jujur dan mudah dipahami berkenaan dengan penyakit dan perawatan (termasuk pemeriksaan penunjang dan tindakan medis) yang dijalani pasien dari seorang dokter maupun institusi pelayanan medis. Demikan pula halnya dengan rekam medik dan dokumen pemeriksan penunjang (Lab, Rontgen, USG, CT-Scan, EGK, MSCT, MRI, dll). *yang ini baiknya kita bahas secara khusus di lain kesempatan, kalo penulis gak kumat malesnya* 😛

KEWAJIBAN DOKTER DAN HAK PASIEN

Secara umum, uraian singkat di atas setidaknya memberikan gambaran kepada kita tentang kewajiban dokter untuk memberikan informasi dan hak pasien utuk mendapatkannya.

Secara khusus, mari kita bersama-sama menyimak kembali kewajiban dokter dan hak pasien dalam mendapatkan informasi sesuai perundang-undangan, yakni UU No. 29 Tahun 2004, tentang Praktik Kedokteran. Perlu dipahami bahwa bahasan ini tidak dimaksudkan untuk menggurui siapapun, tapi sebagai media diskusi bagi kita yang merasa peduli terhadap upaya perbaikan informasi medis dan perawatan medis.

Hak dan Kewajigan Pasien:

Pasal 52: Pasien,  dalam menerima pelayanan pada praktik kedokteran, mempunyai hak:

  1. Mendapatkan penjelasan secara lengkap tentang tindakan medis sebagaimana dimaksud dalam Pasal  45 ayat (3);
  2. Meminta pendapat dokter atau dokter gigi lain;
  3. Mendapatkan pelayanan sesuai dengan kebutuhan medis;
  4. Menolak tindakan medis; dan
  5. Mendapatkan isi rekam medis.

Pasal 53: Pasien,  dalam menerima pelayanan pada  praktik kedokteran, mempunyai kewajiban :

  1. Memberikan informasi yang lengkap dan jujur tentang masalah kesehatannya;
  2. Mematuhi nasihat dan petunjuk dokter atau dokter gigi;
  3. Mematuhi ketentuan yang berlaku di sarana pelayanan kesehatan; dan
  4. Memberikan imbalan jasa atas pelayanan yang diterima.

Hak dan Kewajiban Dokter:

Pasal 50: Dokter atau dokter gigi dalam melaksanakan praktik kedokteran mempunyai hak :

  1. Memperoleh perlindungan hukum sepanjang melaksanakan tugas sesuai dengan standar profesi dan standar prosedur operasional;
  2. Memberikan pelayanan medis menurut standar profesi dan standar  prosedur operasional;
  3. Memperoleh informasi yang lengkap dan jujur dari pasien atau keluarganya; dan
  4. Menerima imbalan jasa.

Pasal 51: Dokter atau dokter gigi dalam melaksanakan praktik kedokteran mempunyai kewajiban :

  1. Memberikan pelayanan medis sesuai dengan standar profesi dan standar prosedur operasional  serta kebutuhan medis pasien;
  2. Merujuk pasien ke dokter atau dokter gigi lain yang mempunyai keahlian atau kemampuan yang lebih baik, apabila tidak mampu melakukan suatu pemeriksaan atau pengobatan;
  3. Merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang pasien, bahkan juga setelah pasien itu meninggal dunia;
  4. Melakukan pertolongan darurat atas dasar perikemanusiaan, kecuali bila ia yakin ada orang lain yang bertugas dan mampu melakukannya; dan
  5. Menambah ilmu pengetahuan dan mengikuti perkembangan ilmu kedokteran atau kedokteran gigi.

Selengkapnya tentang UU No. 29 Tahun 2004, silahkan download di sini.

Sejatinya semua kewajiban dokter terkait layanan medis sudah menyatu dalam keseharian seorang dokter sejak masih masa pendidikan. Uraian setiap item sebagaimana termahtub dalam UU, mungkin dimaksudkan agar hak dan kewajiban dokter maupun pasien mempunyai kekuatan hukum. Masalahnya, setiap kalimat di ranah hukum boleh jadi menimbulkan multitafsir yang ukurannya sangat sumir. Terlebih jika menyangkut rasa semisal pencemaran nama baik.

PRITA DAN PRITA LAINNYA

Menyeruaknya peristiwa penahanan Mbak Prita Mulyasari bak meledaknya bom yang udah lama menjadi perbincangan di ranah publik, berterang maupun rasan-rasan, realistis maupun sarat bumbu. Entah, mungkin pertama dinegeri ini pihak RS menuntut pasiennya. Atau mungkin sebelumnya sudah ada namun luput dari perhatian publik.

Selain itu, sudah menjadi rahasia umum bahwa banyak Prita-Prita lain yang merasa tidak puas terhadap layanan Rumah Sakit, terutama minimnya informasi yang mereka peroleh. Kebanyakan dari mereka memilih bungkam lantaran tidak tahu kemana harus mengadu, sementara lainnya memilih mencari second opinion, pulang paksadengan berbagai alasan, ngerumpi sambil gemas, menulis di media (dunia maya, media cetak, dll), bahkan adapula yang menempuh jalur hukum.

Di milis kamipun, gonjang-ganjing Mbak Prita menjadi bahan diskusi. Berikut salah satu cuplikan dari seorang sejawat sepekan yang lalu.

Setelah saya baca surat NY. Prita , itu adalah hal yang biasa nggak ada yang menyatakan menjelekan RS *tersebut*, atau mencemarkan nama baik. Di Surabaya banyak penderita menulis di suara pembaca yang isinya jauh lebih jelek dari tulisan NY. Prita, tapi nggak tuntut balik, yang dilakukan adalah hak jawab. Walaupun banyak RS di Surabaya yang juga menurut saya berbuat semena-mena pada dokter, misal memotong honor dokter 10% ( dengan dalih untuk kesejahteraan karyawan, tapi buktinya banyak karyawan demo menuntut hidup yang layak ) kali aja sejawat dapat memberikan gambaran kenapa honor dokter dipotong 10% untuk kesejahteraan karyawan ??? … tulisan dari seorang dokter spesialis …

Selebihnya merupakan ajakan saling mengingatkan diantara kami untuk selalu memberikan layanan terbaik dan hati-hati dalam memberikan layanan medis maupun berkomunikasi dengan tetap menjunjung tinggi kehormatan pasien.

RENUNGAN

Terlepas dari hasil akhir proses hukum yang sedang berlangsung, tak ada salahnya kita semua menindak lanjuti dan memperbaiki pelbagai kekurangan dalam komunikasi dokter-pasien, khususnya informasi medis.

Di pihak dokter (dan jajaran kesehatan), tak perlu murang-muring tatkala menerima kritik dan keluhan. Tapi juga tidak lantas mengabaikannya. Alangkah bijak dan eloknya jika insan medis selalu berupaya memperbaiki kualitas komunikasi, terutama dalam penyampaian informasi kesehatan, dari segi materi, cara penyampaian, mimik wajah, media informasi, dan lain-lain. Memang tidak mudah, karena hambatan terbesar dalam komunikasi dokter-pasien adalah ego sang dokter. Ini berarti seorang dokter diharapkan mampu mengalahkan dirinya sendiri. Tanpanya, tirai pembatas komunikasi dokter-pasien takkan terkuak. Alhasil, informasi seputar penyakit tak mengalir sesuai harapan si pasien. Akibatnya bisa ditebak, pasien tambah bingung, isi dompetpun tambah kempis.

Beranikah seorang dokter meminta feedback kepada pasiennya dengan bertanya:” Apakah penjelasan saya bisa dimengerti ?“ *dengan mimik bersahabat tentunya*. Mungkin nampak sepele, mungkin pula jawaban pasien tidak sepenuhnya jujur. Namun setidaknya salah satu pilar komunikasi dokter-pasien mulai terbangun hanya dengan pertanyaan pendek.

Di pihak pasien (dan atau keluarganya) diharapkan tidak segan untuk bertanya, tentang penyakitnya, lama pengobatan, fungsi masing-masing obat, indikasi pemeriksaan penunjang (lab dan kawan-kawan), dan segala sesuatu terkait dengan penyakit atau gangguan kesehatan yang dialaminya. Bahkan, pada usia kanak-kanan seyogyanya dibiasakan berani berkomunikasi dengan dokter.

Saya yakin, sebagian besar pasien di negeri ini masih enggan bertanya kepada dokter dengan berbagai alasan, di praktek pribadi sekalipun. Paling beraninya hanya mengajukan satu pertanyaan, :” Berapa, dok ? “. Tul gak ? 😛 *ssst, ini rahasia, jangan bilang-bilang, pertanyaan tersebut paling ditunggu dokter*

Media juga ikut berperan. Peluang untuk ikut mencerdaskan bangsa sangat terbuka melalui informasi konstruktif. Anehnya, ada saja media yang menggebu mengkritisi betapa buruknya informasi yang diberikan dokter kepada pasiennya, sementara di halaman lain sarat dengan iklan jamu asam urat untuk mengobati keluhan urat. *tuiiiinnnggg* … Dan informasi semacam itu dijejalkan tanpa henti.

Akhirnya, bagi yang berkenan untuk ikut memperbaiki arus informasi medis (kesehatan), mari kita saling bahu membahu menyebarluaskan informasi medis dengan benar dan mudah dipahami oleh khalayak, sejauh tidak bertentangan dengan aturan yang berlaku. Lebih elok lagi jika kita saling mengingatkan dengan semangat tarohum (asah, asih, asuh).

Semoga bermanfaat … silahkan berbagi … 🙂

:: :: :: posting menggunakan WLW :: :: ::

Iklan

38 Responses to “Prita dan Prita Mulyasari”


  1. 1 Puskesmas Cukir Juni 11, 2009 pukul 1:32 pm

    cakmoki ,saya setuju sama sampean cak, di puskesmas setingkat cukir aja tulisan mbak prita itu jadi bahan evaluasi,
    kami pihak manejemen (lihat posting kami yg terakhir )

  2. 2 isnuansa Juni 11, 2009 pukul 6:43 pm

    Waduh, kalo semua Dr kayak gini, pasti ngantri puanjang pasiennya. Setiap selesai pasien selalu ditanya: “Sudah mengerti penjelasan saya?”

    Kok, nggak tanya: “Sudah tahu berapa yang harus Anda bayar?”

    *becanda*

  3. 3 nomercy Juni 12, 2009 pukul 2:03 am

    benar sekali cak … kalau kita mau lihat dengan seksama, semua hal sudah ada dalam berbagai payunng hukum berserta isi undang-undang dan pasal-pasalnya yang terkadang saling tumpang tindih … tinggal komitmen manusianya saja yang mau atau tidak menjalankannya … dan kembali juga kepada hati nurani dan sifat bawaan …

  4. 4 Shinta Juni 12, 2009 pukul 11:27 am

    makin banyak yang berobat ke luar negeri nih cak….

  5. 5 MISNADI Juni 12, 2009 pukul 3:39 pm

    YA PAK MUNGKIN SALAH SATUNYA DALAH SAYA TAPI BUKAN PRITA, TAPI PRITO KARAENA SAYA LAKI-LAKI.SALAM PAK MOHON DUKUNGAN TRIMAS MISNADI

  6. 6 Lukisan Minimalis Juni 14, 2009 pukul 1:33 pm

    Walaupun dokter atau rumah sakitnya ga begitu baik pelayanannya, tetapi klo udah sakit tetep aja ga bisa milih2 rumah sakit, cariyg terdekat ajalah.

  7. 7 cakmoki Juni 14, 2009 pukul 3:59 pm

    @ Puskesmas Cukir:
    Saluut!!! 🙂 …ya kita perlu selalu mengevaluasi kita sendiri untuk perbaikan. Kemarin pada acara workshop di Samarinda, kami para ts juga membahas masalah ini. Ntar sy liat postingannya 🙂

    @ isnuansa:
    hahaha … candaannya boleh juga tuh 🙂 … makasih supportnya.

    @ nomercy:
    Saya sangat setuju. Kayaknya di situlah letak kuncinya 🙂
    Makasih.

    @ Shinta:
    Iya…soalnya di luar negeri setba jelas dan “komunikasi” menjadi perhatian utama mereka.

    @ Misnadi:
    Ok, semoga segera beres 🙂

    @ Lukisan Minimalis:
    Hmmm, berarti tugas kami-kami untuk selalu berbenah dan memberikan yang terbaik 🙂 … trims

  8. 8 triesti Juni 14, 2009 pukul 6:20 pm

    cak… ngga semua yg di luar negeri itu mau komunikasi juga… tapi hak pasien memang lebih diperhatikan.. jadi ada tempat ngadunya… yg disini kurang diperhatikan

  9. 9 redaksi Juni 14, 2009 pukul 9:07 pm

    MATINYA KEBEBASAN BERPENDAPAT

    Biarkanlah ada tawa, kegirangan, berbagi duka, tangis, kecemasan dan kesenangan… sebab dari titik-titik kecil embun pagi, hati manusia menghirup udara dan menemukan jati dirinya…

    itulah kata-kata indah buat RS OMNI Internasional Alam Sutera sebelum menjerat Prita dengan pasal 310 KUHP tentang pencemaran nama baik.

    ………………………………………………………………………………………….

    Bila kita berkaca lagi kebelakang, sebenarnya pasal 310 KUHP adalah pasal warisan kolonial Belanda. Dengan membungkam seluruh seguruh teriakan, sang rezim penguasa menghajar kalangan yang menyatakan pendapat. Dengan kejam penguasa kolonial merampok kebebasan. tuduhan sengaja menyerang kehormatan, nama baik, kredibilitas menjadi ancaman, sehingga menimbulkan ketakutan kebebasan berpendapat.

    Menjaga nama baik ,reputasi, integritas merupakan suatu keharusan, tapi alangkah lebih bijaksana bila pihak-pihak yang merasa terganggu lebih memperhatikan hak-hak orang lain dalam menyatakan pendapat.

    Dalam kasus Prita Mulyasari, Rumah sakit Omni Internasional berperan sebagai pelayan kepentingan umum. Ketika pasien datang mengeluhjan pelayanan buruk pihak rumah sakit, tidak selayaknya segala kritikan yang ada dibungkam dan dibawah keranah hukum.

    Kasus Prita Mulyasari adalah presiden buruk dalam pembunuhan kebebasan menyatakan pendapat.

  10. 10 woro Juni 15, 2009 pukul 10:35 am

    coba cak moki kerjanya di jakarta.. pindah aja cak ke sini… nantik asih tau saya praktek di rumah sakit mana… mau deh ngantre lama2 demi bertemu cak moki hehehe.

    ohya sekalian nanya aja nih hehe. ga mau rugi. kaligata itu obatnya apa ya cak? kulit saya sering terasa gatal2 lalu bentol2 banyak gitu. awalnya merah dulu di kulit, lalu terasa panas dan gatal luar biasa, ketika digaruk keluar deh bentok2 banyak dan segede gaban… kadang di tangan, di muka, di badan.. pindah2 seenaknya saja… hiks…

  11. 11 cakmoki Juni 16, 2009 pukul 12:21 pm

    @ triesti:
    iya mbak… bunyi sumpahnya, kepentingan pesien semestinya menjadi prioritas utama.

    @ redaksi:
    ulasannya lengkap 🙂
    Terimakasih telah menyampaiakn pendapatnya.

    @ woro:
    Enak di ndeso, Mbak … dibayar dikit tapi bisa enjoy bersama pasien, kadang guyonan kayak gak di ruang praktek… hehehe.

    Pengobatan urtikaria (biduran, kaligata):

    PENGOBATAN

    Pada prinsipnya penatalaksanaan terbaik pada urtikaria adalah menghindari faktor penyebabnya, namun pada kenyataannya tidaklah mudah. Lha gimana, wong tiba-tiba si bentol merah langsung muncul tanpa peringatan sehingga sulit mengamati faktor penyebabnya. Kadang penyebabnya dapat diketahui tapi sulit dihindari, misalnya cuaca dingin, debu rumah, dll. Pada urtikaria akut dan ringan biasanya mudah disembuhkan tanpa atau dengan obat-obatan.

    Obat-obat yang lazim digunakan, diantaranya:

    (1) Antihistamin (H1):

    * Diphenhydramine injeksi. Dosis dewasa: 10-20 mg per dosis, diberikan 3-4 kali sehari, dosis anak: 0,5 mg per kg berat badan per dosis, diberikan 3-4 kali sehari.
    * Hydroxyne HCl (bestalin). Dosis dewasa: 25 mg, diberikan 3-4 kali sehari, dosis anak: 0,5 mg per kg berat badan per dosis, diberikan 3 kali sehari.
    * Cetirizine 10 mg (cetymin, cirrus, estin, falergi, histrine, ryzen, dll), diminum 1×1 sehari.
    * Loratadine 10 mg (alernitis, anlos, clarihis, claritin, clatatin, inclarin, rahistin, dll), diminum1×1 sehari.
    * Mebhydrolin napadisylate 50 mg (interhistin, tralgi, zoline, dll), diminum 3×1 sehari.
    * Dan masih banyak lagi yang lainnya … 😀

    Efek samping antihistamin pada umumnya ngantuk, karenanya sebaiknya tidak minum antihistamin saat akan beraktifitas, … ntar pulesss ketiduran…. ehm… 😉

    (2) Kombinasi setroid dan antihistamin, (misalnya: alegi, colergis, dextafen, exabetin, lorson, zestam, dll), diminum 3×1 sehari.

    (3) Ephedrin HCl, biasanya digunakan sebagai kombinasi atau sebagai pengganti injeksi adrenalin.

    (4) Adrenalin injeksi. Digunakan untuk kasus yang berat dan perlu penanganan segera. (dosis dewasa: 0,3-0,5 ml per dosis dan dapat diulang 15-30 menit; dosis anak: 0,1-0,3 ml setiap kali pemberian).

    Sekali lagi, jenis obat di atas hanya contoh. Mungkin ada yang bertanya, gimana kalo make CTM (chlortrimeton) untuk pertolongan pertama ? Boleh, syukur kalo dengan itu udah sembuh.

    Selengkapnya, dapat dibaca pada posting sebelumnya di sini
    Maturnuwun

  12. 12 Tanti Juni 16, 2009 pukul 2:20 pm

    Kata kuncinya adalah sosialisasi dan komunikasi, Cak.
    Blog yang informatif, salam kenal Cak ya. Nuwun sewu mau ikut nge-link.
    Maturnuwun.

  13. 13 cakmoki Juni 16, 2009 pukul 3:32 pm

    @ Tanti:
    Saya sependapat 🙂
    Salam kenal dan maturnuwun telah mampir.
    Monggo silahkan …ngelink…ntar sy link juga ya… Blog nya keren euyyy 🙂

  14. 14 Nandar Juni 17, 2009 pukul 12:45 am

    Cak,memang benar,kelemahan qt sbg tenaga kesehatan adlh kurangnya qt berkomunikasi & berempati thd pasien,&di dlm kuliah,khususnya kuliah kedokteraan,kurangnya ilmu utk berkomunikasi,jd benarlah bhw komunikasi yg kurang baik akn melahirkan rasa ketidakpuasan pasien thd qt,padahal kesehatan/medicine adlh seni dalam mengobati seseorg.Jk seni maka kita memakai otak kanan qt yg berupa kecerdasan emosional yg implemantasinya berupa kecakapan komunikasi yg baik ,gitu cak pendapat sy,moga2 dokter2 qt selain pintar tp punya kepintaran emosional&kepintaran spiritual.Semoga jg jd semangat qt utk melangkah lhb baik dari hari kmrn.Keep smile cak.Peace.Xixi,

  15. 15 woro Juni 17, 2009 pukul 9:36 am

    wah lengkap sekali cak.. makasih yah. saya belum nemu pencetusnya nih. abis dadakan sih gatelnya. btw. obat2 di atas aman semua untuk ibu menyusui??

  16. 16 joesatch yang legendaris Juni 17, 2009 pukul 10:20 am

    berapa, cak?

    harus bayar sampeyan berapa buat info yang ginian?

    soale kemarin pas temen saya ke dokter gigi, ongkos buat ndengerin dokternya ngomong (temen saya itu cuma mau tanya2 seputar kesehatan giginya) kena 30 ribu :mrgreen:

    *padahal sudah saya bilang, cari di gugel aja infonya*

  17. 17 artikel Fisioterapi Juni 17, 2009 pukul 2:26 pm

    semoga tidak terulang lagi….dan semoga “borok” yang udah keliatan segera ditangani… supaya akhirnya bersih dan tentu saja sehat…

  18. 18 nora Juni 17, 2009 pukul 6:27 pm

    assalamualaikum cak,..
    senang sekali membaca tulisan anda,
    ini menjadi pengalaman dan pelajaran buat sy,yg insya allah akan menjadi dokter.

  19. 19 cakmoki Juni 17, 2009 pukul 11:46 pm

    @ Nandar:
    Maturnuwun pandangan dan sumbang sarannya … moga jadi perhatian kita bersama dan memicu kita untuk senantiasa memperbaiki diri, khususnya saya sendiri 🙂

    @ woro:
    aman semua, obat-2 tersebut dalam kehamilan msauk kategori B, artinya aman, se aman dengan vitamnin B, zat besi dll.
    Kalo gak ketemu pencetusnya, gak usah dicari karena emang sulit dan biduran suka muncul tanpa bilang-2 lebih dulu 🙂
    Trims

    @ Joesatch yang legendaris poll: 😉
    bayar komen aja.
    Hmmm, kayaknya jadi dokter itu enak ya, sekali ngomong 30 ribu, itupun belum termasuk dulat-dulitnya, bisa jadi bayar lagi … hahaha. Mungkin temen mas Joe sedang pingin nyumbang dokter 😛

    @ artikel fisioterapi:
    ya, semoga … amiiin 🙂

    @ nora:
    wa’alaikum salam, wr, wb,
    Moga segera jadi dokter, …dokter yang baik dan benar serta dapat memberi manfaat bagi sesama (termasuk diri sendiri). Amiiin… Makasih atas kunjungannya 🙂

  20. 20 bunda azbibwa Juni 18, 2009 pukul 4:05 pm

    Jempol 4 (tangan dan kaki) maju semua deh buat dokter.. Moga-moga dokter-dokter yang laen punya jiwa dan komitmen yang sama kayak dokter (Senengnya ya.. punya dokter pribadi kayak njenengan? -berkhayal-) Saya dari pihak pasien juga menganjurkan kepada teman2 yang laen (yang pasien) supaya aktif bertanya kepada dokter, gak hanya nanya “Berapa dok?” Itu juga tergantung dari pasien kok, kalo pasien aktif bertanya, insya Allah dokternya juga akan dengan senang hati menjelaskan.. Tul gak dok ?? (Makasih banyak dokter, gara-gara baca info dari dokter mengenai gondongan, saya bisa cerita banyak ke temen yang anaknya juga sakit gondongan)

  21. 21 arief Juni 18, 2009 pukul 4:16 pm

    > Cak Moki saya mau bertanya mengenai
    > penyakit yg diderita anak saya. pada usia 5 bln dia pernah
    > sakit. panasnya 37-38 sampai 1 minggu. dirawat 3 hari
    > kemudian boleh pulang karena hasil lab widal,faeses tidak
    > terdeteksi penyakitnya. setelah di rumah saya hentikan semua
    > obat. esok harinya suhunya udah normal. pada tanggal 30
    > april 2008 usia 10 bln kembali suhunya tinggi sampe 39. kami
    > bawa ke UGD. setelah di UGD kami boleh pulang karena suhunya
    > kembali turun. 2 hari sehat hari ketiganya kambuh lagi. kami
    > bawa ke UGD dalam keadaan sering muntah dan mulai buang air.
    > kami takut dehidrasi. RS menyarankan dirawat lagi. suhunya
    > naik sampe melebihi 40. kemudian di kasih obat antikejang yg
    > disuntik, anak mulai meracau, tapi tidak tertidur. suhu
    > masih 40. sampe hari ke5 suhu masih 39.8-40.4. tapi tidak
    > kejang. kami ayah+ibu tidak punya riwayat kejang. darah kami
    > sama2 O. setelah bayi di uji lab cell counter+hit
    > jenis,faeses tidak terlihat adanya serangan bakteri maupun
    > virus. akhirnya di rontgen thorax. corak normal ada bintik
    > di perfiler. semua test dilakukan 2X. di duga sakit paru. kemudian dikasih obat paru
    > warna merah.setengah putus asa saya mencari 5 cacing kalung.
    > kemudian saya gerus dan rebus sampe airny tinggal sedikit.
    > saya minumkan di hari ke 5. suhunya mulai turun jadi 37-38.
    > sekarang sudah 36.5-37.2. dihari ke 7 anak saya boleh pulang tanpa kejelasan mengenai jenis penyakitnya…. dokternya hanya angkat tangan tidak mengetahui jenis penyakitnya…
    > saya khawatir mengenai obat2an yg diberikan.
    > berikut obat dan jumlahnya:
    > Nama obat
    > JMH
    > stesolid rectal supp 5 mg 1
    > valisanbe tab 2 mg (100’s) 29
    > sanmol drop 1
    > biothicol syr 125 mg, 50 m 1
    > ceftriaxon inj 1 gr (ar) 2
    > mikasin inj 250 mg 2
    > rantin inj (5s) 2
    > cortidex 7
    > lacto B sach (40s) 29
    > rimcure paed tab 75/50/15c 10
    > sanmol syr 60 ml 1
    > cefotaxim inj 1 gr (ar) 6
    > valium inj (5s) 1
    > biothicol syr 125 mg 60 m 1
    > ringer lactat infusanbe 8
    > syringe 1 cc tubbercullin 6
    > syringe 3 cc 23 g bd 100s 30
    > syringe 5 cc bd 100s 11

    jadi selama di rs 6 hari dapet suntikan 50x. rimcure saya saat ini teruskan soalnya takut bner2 TBC. berarti obat TBC udah diminum 2 bulan. anaknya sudah sehat & ceria lagi, saya tidak konsultasi lagi ke dokter karena tidak ada biaya. hanya beli obatnya saja. tapi sekarang udah 2 hari.. kira2 jam 10 pagi ampe jam 1 siang sering terbangun dan muntah. hanya saja kami trauma dengan RS. perasaan keluhan mual muntah udah saja langsung dirawat. usianya 11bln 2mgu dan memburuk dihari kedua perawatan dan pulang tanpa kejelasan.
    terimakasih atas perhatiannya..

  22. 22 arief Juni 18, 2009 pukul 4:20 pm

    maaf dok tanggal masuk rs nya 30 april 2009

  23. 23 Lukisan Minimalis Murah Juni 18, 2009 pukul 11:57 pm

    Semoga kasus ini cepat selesai yaa..
    Dan oknum2 kejaksaan yg ga beres bisa ditindaklanjuti…
    Dan semoga masalah2 Prita dan Prito lainnya bisa terpublish media dan terselesaikan juga…

    Sukses buat Dokter2 di Indonesia…
    Jangan Mau kalah ama dokter Singapura n Dokter lainya di Luar negeri…

    Merdeka..!!!
    hehehe

    Btw,,ada yang mau lukisan bergaya minimalis dengan harga minimalis??
    klik saja nama saya…

  24. 24 cakmoki Juni 20, 2009 pukul 10:57 am

    @ bunda azbibwa:
    Ya bener, sebaiknya pasien aktif bertanya. Adakalanya pertanyaan pasien dapat membantu dokter dalam memfokuskan penjelasan.
    Misalnya seorang pasien udah pernah mendengar tentang suatu penyakit dan ia menanyakan lamanya pengobatan, maka dokter akan lebih memfokuskan pada lamanya pengobatan.
    Makasih telah menyebarluaskan informasi tentang gondongan.

    @ arief:
    Adakalanya dokter sulit mengetahui kepastian penyakit pada anak. Panas yg tidak diketahui sebabnya (sudah dilakukan bermacam-macam pemeriksaan dan multidisipliner), di dunia medis dikenal dengan FUO (Fever of unknown origin).
    Pada kasus demikian, biasanya pasien ditangani oleh beberapa spesialis anak dengan berbagai keahlian khusus.
    Tapi kalo hanya ditangani oleh satu DSA, ada baiknya mencari second opinion dengan konsultasi ke dokter lain atau ke poliklinik anak RSUD setempat.

    Moga segera sehat kembali…. Trims

    @ Lukisan Minimalis Murah:
    Merdeka !!!
    Moga lukisannya lancar 🙂

  25. 25 arief Juni 20, 2009 pukul 11:02 pm

    Terima kasih Cak atas informasinya. minggu depan saya mencoba mencari second opinion ke dsa. rupanya negara ini butuh lebih banyak lagi dokter seperti anda yang peduli. selamat berjuang !!!

  26. 26 sibermedik Juni 21, 2009 pukul 7:25 am

    Disisi lain masyarakat kita juga ter-Stigma bahwa embel2 INTERNATIONAL berarti profesional..nah iki piye , Cak? Perlu nggak Puskesmas Palaran ditambah embel2 jadi INTERNATIONAL PHC ? 😀

  27. 27 cakmoki Juni 21, 2009 pukul 6:55 pm

    @ arief:
    Semoga ananda segera pulih dan sehat selalu.
    Terimakasih atas supportnya.

    @ sibermedik:
    Memang bener … 😀
    Menurut saya, nama gak begitu penting … yg penting pelayanan bagus, petugas ramah dan dokternya pinter tur sabar … dan murah … hehehe.

  28. 28 Besan Juni 21, 2009 pukul 9:59 pm

    Saat ini pendidikn kedoktern memandang sebelah mata ilmu non klinis misalkn ilmu komunikasi masyarakat, etika kedokteran,dll. Ilmu2 ini hny sekedar dipahami sbg teori sj tnp diresapi n diaplikasikn scr nyata dlm praktek kerja (itu menurut sy lho cak). Krn itu pengajarn n penguasaan ilmu2 tsb hrs lbh ditekankn lg pd mahasiswa,tu saat ia koas. Shg ktk lulus dharapkn tbentuk dokter yg pintar,professional, n berattitude baik. Scr gak lgs d masa yg datang tdk ada prita2 yg lain.

    Dl wkt cak moki praktek d puskesmas ndeso jg prh ada pxny yg komplain spt prita gak?.

  29. 29 cakmoki Juni 23, 2009 pukul 12:48 pm

    @ Besan:
    Mungkin ada benarnya. Bisa jadi ada yang salah dalam sistem penerapan mata kuliah tersebut saat para co-as bertugas di klinik dan di lapangan. Di klinik (RS Jejaring), mungkin tidak semua dokter pembimbing mengaplikasikan “komunikasi dokter-pasien” di hadapan para co-as. Selain itu, seperti posting sebelumnya, kebijakan pihak tertentu adakalanya ikut berperan pada tidak lancarnya komunikasi dokter-pasien.

    Alhamdulillah, sy belum pernah mendapatkan komplain seperti mbak Prita. Paling hanya komplain guyonan saat keliling ndeso naik sepeda motor pakai sarung di sore hari…. “Koq seneng ndamel sarung, dok? “ Jawaban saya dari dulu masih sama,….“Nggih, sarung niku selain isis, juga praktis dan yg di dalam demokratis. … hahaha

  30. 30 Ummu Yahya Rika Juni 25, 2009 pukul 9:17 pm

    Smoga Allah membanyakkan jumlah dokter seperti cak Moki di negara kita, jd biar ga terulang lagi kasus2 seperti ini…

    Ilmu komunikasi yg baik harusnya ga cuma diterapkan antar dokter-pasien tp jg oleh petugas medis yg lain seperti perawat, karena saya sendiri beberapa kali mengalami kejadian diomeli perawat dg kata2 yg nylekit gara2 aktif bertanya 😦 Padahal para dokternya udah baik dan ramah…dooh,rasane ga lekas sembuh jd tambah nelongso dirawat di RS.

    Laen kali numpang konsul nggih cak? Suwun

  31. 31 cakmoki Juni 26, 2009 pukul 3:43 pm

    @ Ummu Yahya Rika:
    Iya, saya sependapat, seharusnya semua komponen kesehatan menerapkan dan terus memperbaiki komunikasi dengan khalayak. Tanpanya, mustahil program kesehatan berhasil sesuai harapan.

    Kemarin, seorang temen bercerita ketika mengikuti workshop komunikasi dokter-pasien yg diselenggarakan oleh Ramsay Organisation (holding company Ramsay hospital), sekaligus praktek komunikasi melalui simulasi.
    Menurut penuturan temen tersebut:
    Kata dr Carolyn Russel, instrukturnya, minimal butuh 3 bulan untuk terus berlatih terus menerus, agar semua yang diajarkan dapat menjadi “habit” dalam berkomunikasi.

    Rasanya kita bisa ikut berperan melalui diskusi semacam ini, setidaknya apa yg dialami pengguna pelayanan medis dapat didengar dan diharapkan dapat diperbaiki.
    Melalui diskusi ini pula, kita dapat meneruskannya ke FK-FK se indonesia agar kurikulum Komunikasi lebih ditekankan dan dipraktekkan sedini mungkin oleh para calon dokter melalui bimbingan para dokter yang memiliki keahlian dalam komunikasi, personal maupun publik.

    Termakasih atas share-nya… beberapa diskusi ini mendorong saya untuk menulis ulang tentang komunikasi di bidang kesehatan.

    Untuk diskusi yg lain, monggo dipersilahkan … bukan konsul, wong saya bukan ahli.
    Suwun 🙂

  32. 32 azam-personal Juli 1, 2009 pukul 8:37 pm

    Syukulah sekarang prita sudah bebas..ini karena dukungan masyarakat yang peduli dengan kesehatan,,
    saya juga terkadang traoma denga dokter,,knp sih untuk orang yg gak mampu jarang dilayanin dengan hormat?selalu mendahulukan orang2 yg tajir dulu..kalo aku jd orang kaya seperti philip moris aja semua dokter aku bayar,,,hehehee..ngayalnya kejauhan..
    Thanks ya

  33. 33 cakmoki Juli 1, 2009 pukul 11:32 pm

    @ azam-personal:
    hehehe…ngayalnya bagus juga 🙂

  34. 34 Lex dePraxis Juli 18, 2009 pukul 1:18 pm

    Peduli atau tidak peduli, sebenarnya banyak yang cuma ikut-ikutan aja. But somehow ikut-ikutan itu cukup menyumbangkan efek positif.

    Lex dePraxis
    Romantic Renaissance

  35. 35 cakmoki Juli 18, 2009 pukul 2:53 pm

    @ Lex dePraxis:
    ya… setidaknya manunjukkan simpati dan itu sangat berharga.

  36. 36 Bhamakerti Juli 29, 2009 pukul 11:12 am

    Assalamualaikum cak dokter,

    (lho… diawal judule prita kok smangkin kebawah konsultasi penyakit jadinya…:P hee..he… dasar… dokter) maaf lho Cak. 🙂

    ikut nimbrung ya… wonga saya ga paham tentang perhukuman kedokteran, medis dll.

    terkait prita kalo yg ini masuk ga cak:

    “setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya, serta berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala saluran yang tersedia.”

    Pasal 28F, Amandemen Kedua
    Konstitusi Negara Republik Indonesia

    itu sajalah mungkin yg bisa dipelajari para netter, blogger dan tentunya Dokter Blogger, pasien Blogger dan “protes-er blogger”…hehe 😀
    Kalo salah alias ga nyambung ya dipermaafkan lho cak.

    maturnuwuun… wassalam.

  37. 37 cakmoki Juli 29, 2009 pukul 11:46 pm

    @ Bhamakerti:
    Wa’alaikum salam,
    Ya, saya sependapat … point tersebut mestinya termasuk dalam penjelasan tentang UU No 29 Tahun 2004.

    Makasih …. Wassalam 🙂


  1. 1 Prita dan Prita Mulyasari Lacak balik pada Juni 11, 2009 pukul 1:17 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Wong ndeso ™

cakmoki

Wordpress Indonesia

Silahkan baca

DISCLAIMER

web tracker

9 Desember 2009

SEMENTARA TUTUP

Maaf, sementara Blog istirahat hingga ada pemberitahuan

Harap maklum


MARI HENTIKAN KORUPSI

Jangan Korupsi Ah

No Korupsi

Internet Sehat

Warga Bicara

» Makasih PLN, listrik Samarinda dah membaik, moga gak byar-pet

» Waspada Demam Berdarah

» Jangan Gunduli Palaran

» Banjir...banjir. Kapan masalah ini teratasi ?

INGA INGA INGA

» Nyeri Urat or Tulang BUKAN berarti Penyakit Asam Urat.

» Sekali lagi: Pegal, Linu Tidak Identik dengan Penyakit Asam Urat

TEMANs

9racehime | A. Fatih Syuhud | Aditiawan Chandra | A.Tajib | Agung UD | aLe | alief | alle | almascatie | Amd | Anak Peri | Anak Sultan | Anang | Anang YP | Anas | Andalas | Anggara | Anjaz | Anti Pungli | Antobilang | Anung87 | Aribowo | Arif Kurniawan | Arul | Astikirna | awan965 | axireaxi | Bambang alias HR | BatakNews | Blog Pokoke? | Biho | CalonOrangTenar | Cay | Chandra | Chielicious | chiw imudz | cK-chika | Dalamhati | Deden Nugraha | deedhoet | deKing | Desti Utami | Didats | doeytea | dnial | Edy C | Eep | Elpalimbani | erander | Evi | Fa | Fa wp | Faiq | Fertobhades | Fetro | Fortynine | Freddy | Gadis | Gaussac | Gitablu | Grandiosa | GuhPraset | GuM | Helgeduelbek | Herdy | Indonesia Kita | Indra KH | ItikKecil | iway | Jejakpena | Jennie S. Bev | Joesath | Joko Taroeb | Julee | Juli | Juliach | Junthit | Jurig | Kakilangit | Kang Adhi | Kang Kombor | Kangguru | kawaichu | Kenji | Kenzt | kikie | koecing | Kumala | Kurtubi | Kw | Laras | liezmaya | Lilik Suryanto | Lily | Linker | Lintang | Lita | Lita wp | Luthfi | MaIDeN | Majalah Dewa Dewi | Manusiasuper | Master Li | Mathematicse | macanang | mbojo | Mei | Micokelana | Mr. Geddoe | Mufti | mybenjeng | My-za | Nayla Zahra | Nayz | Ndarualqaz | Neeya | Neo Forty-Nine | Neri | Ninoy | Nieke | Nomercy | n0vri | NuDe | Om Sulis | omaigat | Ooyi | Paijo | Panca | Pandu | Panduan WP | Papabonbon | Passya | Peyek | Pinkina | Pitik | Pralangga | Prayogo | Priyadi | Qee | Raja iblis | RenjanaBiru | rivafauziah | Rivermaya | Roffi | roisZ | Rujak | Sagung | Sahrudin | Saiful Adi | SaRa | Siu | Sofi | Sora9n | Suandana | Suluh | Susiloharjo | Telmark | Thamrin | tiesmin | Triesti | Tukang Sate | Venus | Wadehel | Wahyuansyah | Wandira | Wiku | WongMangli | Wulan | Yati | Yudhipras |

:: :: :: :: :: :: :: :: ::

Kesehatan

:: Ady Wirawan :: Agus Mutamakin :: Anis Fuad :: Anis Fuad wp :: Asri Tadda :: Astri Pramarini :: Astri Pramarini (awal) :: Astri Pramarini wp :: Blog Mahasiswa FKU 2003 :: Blog Rumah Kanker :: Dani Iswara :: Dani Iswara weblog :: Dokter arek cilik :: drAnak :: drarifianto :: Dwi wp :: Elyas :: Erik Tapan :: Evy HealhtySmile :: FK Unsri :: Gies :: Gies wp :: Ginna :: Grapz :: Hendar Sunandar :: HIV News :: Huda Thoriq :: IDI Samarinda :: imcw :: Imran Nito :: Iwan Handoko :: Jhonrido :: klikharry :: Kobal :: Laksmi Nawasasi :: Mashuri :: Mave Mina :: Mbah Dipo :: Mina :: My Blogspot :: Nur Martono :: PKM Palaran :: Rara :: Rizma Adlia :: Rudy Kwang :: SenyumSehat :: Sibermedik :: SimkesUGM :: SuperKecil :: Titah :: Tito :: Tonang Ardyanto :: Tukangkomentar :: Wi :: Vina Revi :: Vina Multiply :: Yusuf Alam R :: zulharman79 ::

:: :: :: :: :: :: :: :: :: :: ::

Institusi Kesehatan

:: Depkes RI :: WHO :: WHO Indonesia :: … nyusul

:: :: :: :: :: :: :: :: ::

Kolaborasi

:: Emedicine :: ICD 10 Wikipedia :: ICD 10 Wiki Indonesia :: OSWD :: OpenWebDesign :: Pakistan Times :: Rubab :: ntar ::

Kategori

BlogTour

Arsip

Komunitas Blog

blog-indonesia.com

PAGE RANK

Powered by  MyPagerank.Net

Add to Technorati Favorites

[Valid RSS]

Health Blogs - Blog Top Sites

Health

Blogs Topsites - TOP.ORG

Health Blogs - Blog Rankings

Blog directory

TopOfBlogs

Top 10 Award

Feed Burner

cakmoki Blog

Bloggerian Top Hits

My BlogCatalog BlogRank

Site Meter

Since 30 Nov 07

PENGUNJUNG

  • 5,330,891 pengintip

Asal Usul

Pebruari 2011

free counters


%d blogger menyukai ini: