Tatacara Ganti Dokter

MENCARI SECOND OPINION

Periksa dokter yuk EPISODE PERTAMA: Seorang ibu memeriksakan anaknya kepada 3 dokter berbeda dalam kurun waktu seminggu lantaran si anak menderita batuk ngikil (batuk berat atau batuk berkepanjangan dan gak bisa mengeluarkan dahak) dan tak kunjung sembuh walaupun udah nebus obat ratusan ribu rupiah sekali nebus obat. Tak ayal, orang tua si anak ho-oh aja ketika mendapatkan resep lagi dari dokter ketiga. Wajar, siapa sih yang tega melihat anak tercinta menderita batuk hingga nungging-nungging ? Dalam hati, mungkin orang tua si anak mbatin:” ah, resep lagi .. resep lagi … “. (baca: duit lagi … duit lagi).

EPISODE KEDUA: Sepasang orangtua membawa anaknya yang menderita gondongan (mumps, parotitis) ke dokter lain manakala mendapati gondongan si anak makin membesar. Orangtua si anak menceritakan kepada dokter kedua bahwa sebelumnya sudah berobat ke dokter lain dengan diagnosa parotitis, sembari menyerahkan obat yang diberikan dokter pertama kepada dokter kedua. Setelah memeriksa dan melihat obat yang sudah diminum si anak, dokter kedua menjelaskan bahwa parotitis (mumps, gondongan) pada umumnya akan membesar pada hari ketiga hingga kelima, selanjutnya mengempis hingga sembuh setelah sekitar 7-10 hari. Kemudian dokter kedua tersebut meminta kepada orang tua si anak untuk melanjutkan obat dari dokter pertama seraya memberikan selembar resep disertai pesan agar menyambung dengan obat yang diberikannya jika setelah obat pertama habis namun belum sembuh.

Episode-episode lain tentu masih banyak dan bervariasi. Silahkan berbagi cerita terkait pengalaman ganti dokter.

Mencari pendapat kedua (second opinion) kepada dokter lain merupakan hak pasien, terutama jika merasa kurang yakin terhadap diagnosa dokter pertama, kurang sreg dengan obat yang diberikan, merasa tidak kunjung sembuh, penyakitnya ( keluhan ) bertambah berat, kurangnya penjelasan, mencari tambahan informasi atau karena alasan-alasan lainnya. Dengan kata lain, upaya pasien mencari second opinion bukan dosa, dan pada umumya dokter berbesar hati menerimanya.

Di sisi lain, para pasien hendaknya memberitahu dokter kedua (atau kesekian) bahwa ia sudah ke dokter lain dan menyampaikan hasil diagnosa dari dokter sebelumnya, obat yang sudah pernah digunakan beserta dosisnya dan hasil pemeriksaan penunjang lainnya (Lab, Rontgen, USG, CT-Scan, MSCT, MRI, dll), jika memang pernah menjalani pemeriksaan penunjang. Hal ini penting agar dapat diikuti benang merah perjalanan penyakit si pasien. Disamping itu, agar pasien tidak mengulang-ulang pemeriksaan yang sama atau mendapatkan obat yang hanya berbeda kemasan dan berbeda merk dagang tapi isinya sama.

TIPS SECOND OPINION KE DOKTER LAIN

Berikut ini adalah beberapa tips bagi pasien (dan atau keluarganya), jika karena alasan tertentu, mencari second opinion ke dokter lain.

  • Menyampaikan keluhan yang dialami dan diagnosa penyakit dari dokter sebelumnya.
  • Menyerahkan obat yang sudah digunakan (atau setidaknya copy resep).
  • Menyerahkan hasil pemeriksaan penunjang (Lab, Rontgen, USG, CT-Scan, MSCT, MRI, dll), jika pernah menjalani pemeriksaan penunjang. Hendaknya menyerahkan secara utuh, bukan hanya kesimpulannya semata, karena bukan tidak mungkin ada perbedaan interpretasi hasil pemeriksaan penunjang.
  • Menanyakan penyakit yang dideritanya kepada dokter, termasuk lamanya pengobatan dan perlu tidaknya pemeriksaan atau perawatan lanjutan.
  • Pasien boleh meminta diberikan obat generik jika mempunyai masalah ekonomi, sehingga dokter dapat memberikan obat sesuai kemampuan pasien tanpa mengurangi kualitasnya.
  • Jika penyakit yang dideritanya mengharuskan operasi atau tindakan medis lainnya, hendaknya pasien menanyakan biayanya.

Jika setelah keliling bertamasya ke beberapa dokter ternyata masih belum memuaskan, lantas kembali ke dokter pertama, apakah dokter tersebut tidak tersinggung ? … Jawab: Tidak. (kecuali emang hobi tersinggungan)

Perlu diketahui oleh para pasien bahwa beda pendapat di kalangan dokter adalah hal yang sangat lumrah, sangat wajar, bukan sesuatu yang membuat meradang kayak politisi rebutan kekuasaan. 😛 … Lagipula, ilmu kedokteran, seperti ilmu lainnya, berkembang pesat seiring dengan perkembangan aspek kehidupan lainnya, termasuk perkembangan teknologi informasi.

Bagaimana dengan diskusi penyakit (atau masalah kesehatan) melalui internet dengan pelbagai aksesnya ? Boleh, gak ada masalah, namanya juga diskusi. Bukankah sejauh ini sudah makin banyak para dokter yang membuka ruang untuk diskusi ?

Silahkan berbagi 🙂 dan semoga bermanfaat.

:: :: :: posting menggunakan WLW :: :: ::

Iklan

28 Responses to “Tatacara Ganti Dokter”


  1. 1 aRuL Mei 12, 2009 pukul 1:56 am

    dok, apa ngak ada standar gitu yah, sampai ada perbedaan pendapat?

  2. 2 cakmoki Mei 12, 2009 pukul 3:33 am

    @ aRuL:
    ad standart-nya Om … tapi khilafiyah kan biasa … hehehe

  3. 3 nomercy Mei 12, 2009 pukul 3:58 am

    tetapi apa benar dokter yang pertama mau dibandingkan dengan dokter lainnya? … kalau dari sisi profesionalisme memang iya sih … tetapi sepertinya mungkin dalam hati si dokter pertama malah enggan untuk memberikan advis kembali ke pasien tersebut …

    ah saya gak tahu soal itu … yang penting cari kebenaran kalau ada yang sakit, jangan sampai terjadi malpraktek gitu …

    /* apa kabar om? dah agak lama saya gak mampir ke sini … sekali mampir baca beberapa posting jadi pengen terus ke posting2 belakang … */

  4. 4 Shinta Mei 12, 2009 pukul 10:21 am

    cakmoki yang baik….

    alasan tertentu apa saja yang membuat kita perlu mencari second opinion ke dokter lain?

    Terima kasih….. 🙂

  5. 5 cakmoki Mei 12, 2009 pukul 2:40 pm

    @ nomercy:
    Namnya jadi dokter harus siap dibandingkan dengan dokter lain 🙂
    Memang benar dari sisi psikologis kadang masih ada yang suka ngambek, itu justru menanamkan rasa enggan pasien untuk datang kembali. Ibarat orang jualan, pembeli males datang lagi kalo penjual suka merengut …hehehe.

    Alhamdulillah, kabar baik. Maaf, saya juga gak kober *pura-pura gak sempat* untuk beranjangsana ke Blog temen-temen lama … kangen guyonannya 😀

    @ Shinta:
    Mbak Shinta yang baek,
    Alasan tertentu misalnya: pasien kangen ama dokternya dan ingin memberi sedekah dokternya supaya bisa nge Blog, mancing dan mudik … hahaha.

    Terimakasih

  6. 6 Astri Mei 13, 2009 pukul 10:07 pm

    Suka kesulitan ama pasien yang datang sudah pernah ke dokter lain, ditanya sakitnya apa gak tau, ditanya obat sebelumnya apa, juga cuma bilang obat dokter, lupa atau gak tau. Ditanya kopi resep gak bawa. Padahal kan kalo ada yang sama bisa diteruskan, jadi gak mubazir uangnya… Risiko kelebihan obat juga bisa diminimalkan. Kadang2 pasien sendiri yang suka membuat dirinya kebluwuk 😦

  7. 7 cakmoki Mei 14, 2009 pukul 2:53 pm

    @ Astri:
    Mungkin saking sulitnya nama obat, Mbak.. mungkin juka gemar koleksi obat.. 🙂
    Di tempat sy masih lumayan, kalo ditanya obat yg sudah digunakan, mbah-mbah biasanya jawab gini:” niku lho sing bunder-bunder kaliyan sing dowo kados kapsul, warnane kuning”. Sy biasanya mangsuli sambil guyon:” nggih, menawi warnane putih, abang, ijo, naminipun jajan lapis”… hehehe

  8. 8 Astri Mei 14, 2009 pukul 11:09 pm

    Nek kreatif kan bisa bawa bungkus obat 😦 (mangkel mode: ON)

  9. 9 cakmoki Mei 14, 2009 pukul 11:59 pm

    @ Astri:
    Umume kreatif, kadang ono sing lalian. Lha wong keterangan alergi wae sik sok lali. Untunge gak lali nggowo dompet sak isine (gak sido mangkel) 😀

  10. 10 masjaliteng Mei 17, 2009 pukul 1:19 am

    biasanya sih jarang pake 2nd opinion, ikut dr.umum keluarga (askes) sampe sembuh, tapi kalo mau nyari dokter kedua apakah harus meningkat dokternya Cak? seperti dari umum ke spesialis begitu? trims infonya.

  11. 11 cakmoki Mei 17, 2009 pukul 5:50 pm

    @ masjaliteng:
    Gak harus, boleh sesama dokter umum, dokter umum ke spesialis dan sebaliknya. Konteksnya adalah pendapat terkait penyakit, beda kalo rujukan dimana pada rujukan menggunakan sistem berjenjang.
    Trims

  12. 12 dessy Mei 19, 2009 pukul 12:57 pm

    sebelumnya ga pernah terpikir klo kita ke dokter sampe perlu second opinion, sampe sy ngalamin sendiri betapa susahnya sekedar nemuin diagnosa yg tepat atas penyakit sy…
    akhirnya penyakitnya baru ketauan setelah di-laparotomi… 😛

  13. 13 Fa lho... Mei 19, 2009 pukul 4:03 pm

    cak… saya mau ketawa aja mbaca ‘obrolan’ sampeyan sama mbak astri 😀

    eh tapi, klo second opinionya minta ke cakmoki boleh dong? 😀

  14. 14 frida Mei 19, 2009 pukul 4:09 pm

    Assalamualaikum cak..mo nanya (nanya lagi-nanya lagi :D).Anak saya yang kedua kena asma,kalo serangan sesaknya datang (biasanya tengah malam) kan saya bawa ke UGD,nah biasanya dokter jaganya kan ganti2 cak..gimana tuh?Dan emang obatnya juga beda2.O iya cak,daripada setiap serangan saya bawa ke UGD,karena biasanya terjadi tengah malam dan kami baru punya motor,kadang kasihan juga klo hrs ke RS.Makanya saya pengen beli tabung oksigen atau nebulizer.Sebaiknya yang mana ya cak?Apa dua-duanya wajib punya?Kalo nebulizer dosisnya gmn cak?Makasih ya cak…

  15. 15 necel Mei 19, 2009 pukul 5:23 pm

    bener tuh, memang susah kalo dapat pasien yang suka ganti2 dokter. Ya ambil hikmahnya saja artinya zt harus bagus dalam menginformasikan sesuatu yang benar pada pasien

  16. 16 cakmoki Mei 20, 2009 pukul 12:54 am

    @ dessy:
    Kalo sampe laparatomi berarti teramsuk kelas berat 🙂
    Makasih telah berbagi …

    @ Fa lho:
    yeeee … jangan “mau ketawa”, itu kan artinye menahan tawa, ntar sakit perut … hahaha…
    Boleh second opinion dengan sy dalam konteks dikusi, tp harap diingat bahwa sy bukan ahli, dan kalo salah mohon dimaafkan. 😛

    @ frida:
    wa’alaikum salam,
    Untuk penderita asam, sebaiknya selalu siap obat di rumah, sehingga gak harus repot-repot berulang kali ke UGD.
    Obat yg perlu disiapkan adalah obat yang paling nyaman untuk penderita dan cepat meredakan sesak. Ato inhaler.
    Kalo dengan obat dapat mengatasi asma, gak perlu pake nebulizer dan oksigen.
    Kjalupun harus milih, pilihan yg logis adalah nebulizer portable seharga 450-500 ribu.
    Dosisnya bergantung pada berat badan dan berat ringannya serangan asma serta bergantung pada jenis obat yg digunakan.
    Kalo boleh tahu, obat apa aja yg selama ini digunakan? Lantas, berapa umur dan berat badan anak?
    Trims

    @ necel:
    ya… itu hak pasien dan kita sudah selayaknya memberikan kebebasan 🙂
    Sy sependapat, kita wajib memberikan penjelasan yg benar kpd pasien dan support … kalo benar tapi malah nakut-nakuti, ntar pasiennya bubar jalan, plus ngrasani … hahaha

  17. 17 frida Mei 20, 2009 pukul 3:45 pm

    Cak,yang terakhir obatnya Theobron,Histrine 5mg,Mucopect 15mg ama puyer ga tau isinya(copy resepnya ga ada),trus kalo nebulizer biasanya dikasih ventolin.Umur anak saya 23 bln dengan BB 13 kg.Trus obat2 yg saya sebutkan itu cuma kalo ada serangan apa harus dihabiskan cak?Matur nuwun…

  18. 18 nad Mei 20, 2009 pukul 4:13 pm

    cak,
    kadang kalo mau ganti dokter tapi masih di RS yang sama, suka disuruh ttd pernyataan ganti dokter… kenapa bisa gitu ya… apakah ini termaasuk mencegah dokter yang ambegan?!

    soale’ saya sempet hunting beberapa DSOG di RS yang sama pas hamil ini, karena emang udah sreg sama RS-nya tapi nyari2 DSOG yang sreg diajak komunikasih gitu…

  19. 19 cakmoki Mei 21, 2009 pukul 12:44 pm

    @ frida:
    ok, 3 jenis obat pertama adalah obat utama pada penderita asma dan diberikan selama anak masih batuk atau masih sesak. Setelah sembuh, obat tersebut dapat disimpan dan diberikan lagi jika mulai kambuh. Seandainya anak mulai batuk, sebaiknya ketiga obat tersebut diberikan semua walaupun anak tidak nampak sesak. Hal ini dikarenakan sesak dapat muncul setiap saat ketika anak mulai batuk.
    Sedangkan ventolin, dosis pada berat badan tersebut dapat diberikan 0,5 mg hingga 1 mg saat serangan, bisa juga lebih rendah dari dosis tersebut, bergantuing pada berat ringannya sesak.
    Pengencerannya bergantung pada kapasitas nebulizer, dan kandungan ventolin per cc. Ada yg memerlukan pengenceran 4 cc, 5cc, 6 cc, dst. Kalaupun memerlukan nebulizer, sebaiknya konsutasi ke dokter yg biasa merawat untuk menentukan tingkatan dosis dan interval pemberian nebulizer.
    Trims

    @ nad:
    Kalo itu yg terjadi, kabar baiknya: untuk etika dalam hal pelayanan medis dan kesinambungan rekam medik.
    Kabar gak sedapnya, mungkin juga untuk mencegah agar gak ngambeg 🙂
    Biasanya, RS memiliki jadwal dokter di setiap poli. Kalo merasa sreg dg DSOG tertentu, untuk lebih amannya, mau gak mau menyesuaikan dengan jadwal DSOG yg paling disukai.
    Pada dasarnya pasien berak memilih dokter yang paling disukai.
    Trims

  20. 20 cakmoki Mei 21, 2009 pukul 1:13 pm

    @ frida:
    ok, 3 jenis obat pertama adalah obat utama pada penderita asma dan diberikan selama anak masih batuk atau masih sesak. Setelah sembuh, obat tersebut dapat disimpan dan diberikan lagi jika mulai kambuh. Seandainya anak mulai batuk, sebaiknya ketiga obat tersebut diberikan semua walaupun anak tidak nampak sesak. Hal ini dikarenakan sesak dapat muncul setiap saat ketika anak mulai batuk.
    Sedangkan ventolin, dosis pada berat badan tersebut dapat diberikan 0,5 mg hingga 1 mg saat serangan, bisa juga lebih rendah dari dosis tersebut, bergantuing pada berat ringannya sesak.
    Pengencerannya bergantung pada kapasitas nebulizer, dan kandungan ventolin per cc. Ada yg memerlukan pengenceran 4 cc, 5cc, 6 cc, dst. Kalaupun memerlukan nebulizer, sebaiknya konsutasi ke dokter yg biasa merawat untuk menentukan tingkatan dosis dan interval pemberian nebulizer.
    Trims

    @ nad:
    Kalo itu yg terjadi, kabar baiknya: mungkin untuk etika dalam hal pelayanan medis dan kesinambungan rekam medik.
    Kabar gak sedapnya, mungkin juga untuk mencegah agar gak ngambeg 🙂
    Biasanya, RS memiliki jadwal dokter di setiap poli. Kalo merasa sreg dg DSOG tertentu, untuk lebih amannya, mau gak mau menyesuaikan dengan jadwal DSOG yg paling disukai.
    Pada dasarnya pasien berak memilih dokter yang paling disukai.
    Trims

  21. 21 frida Mei 23, 2009 pukul 7:32 pm

    sip..makasih cak..

  22. 22 cakmoki Mei 24, 2009 pukul 4:32 pm

    @ frida:
    sama-sama, makasih juga telah berbagi 🙂

  23. 23 Eko Mei 31, 2009 pukul 1:19 pm

    Tata Cara Ganti Dokter yang baik adalah :
    1. Cari Dokter yang berpengalaman diatas 10 tahun di bidangnya
    2. Cari Dokter yang mempunyai Track Record bagus di bidangnya
    3. Cari Dokter yang suka nge-blog
    4. Cari Dokter yang suka FaceBook
    5. Terakhir (paling penting) Cari Dokter yang cantik n ada bagian tertentu yang montog

  24. 24 cakmoki Mei 31, 2009 pukul 11:42 pm

    @ Eko:
    🙂 … makasih

  25. 25 Rully Satriawan Juni 28, 2009 pukul 10:57 pm

    Perkenalkan nama saya Rully. Saya senang membaca tulisan anda. Saya minta ijin untuk membuat laink dengan blog saya agar teman-teman saya juga dapat pengetahuan lebih tentang bidang kesehatan. Terima kasih..

    Rully, swaramuda.wordpress.com

  26. 26 cakmoki Juni 29, 2009 pukul 3:44 pm

    @ Rully Satriawan:
    salam kenal 🙂
    Monggo dipersilahkan nge-link jika dianggap layak…
    makasih kunjungannya dan makasih pula telah bersedia menyebarluaskan sedikit informasi kesehatan di Blog ini… 🙂

  27. 27 necel Juli 2, 2009 pukul 10:27 pm

    Wah susah juga jadi dokter. Apalagi ada istilah dokter lain itu teman sejawat, dilarang saling menjatuhkan. Bagaimana kalo kita mengetahui bahwa dokter sebelumnya salah memberi obat.

  28. 28 cakmoki Juli 4, 2009 pukul 2:34 pm

    @ necel:
    sejak masih di bangku kuliah, seorang dokter dipersiapkan untuk terbuka, jujur dan selalu meningkatkan pengetahuan dan ketrampilannya melalui berbagai media. So, udah sangat lazim perdebatan terbuka yerjadi di internal kalangan dokter, bahkan melalui media sekalipun. Sejauh untuk perbaikan, saling kritik tidak dilarang. Kalo merasa dijatuhkan, mungkin mentalnya belum cukup kuat untuk menjadi dokter ideal … hahaha.

    Kalo kita mengetahui bahwa dokter sebelumnya salah memberi obat, tentu kita berikan yang benar sesuai dengan kondisi terkini penderita saat diperiksa oleh dokter yg sesudahnya, dengan mengatakan kepada penderita, misalnya: maaf, obatnya saya ganti yaaa … 🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Wong ndeso ™

cakmoki

Wordpress Indonesia

Silahkan baca

DISCLAIMER

web tracker

9 Desember 2009

SEMENTARA TUTUP

Maaf, sementara Blog istirahat hingga ada pemberitahuan

Harap maklum


MARI HENTIKAN KORUPSI

No Korupsi

Internet Sehat

Translator

Warga Bicara

» Makasih PLN, listrik Samarinda dah membaik, moga gak byar-pet

» Waspada Demam Berdarah

» Jangan Gunduli Palaran

» Banjir...banjir. Kapan masalah ini teratasi ?

INGA INGA INGA

» Nyeri Urat or Tulang BUKAN berarti Penyakit Asam Urat.

» Sekali lagi: Pegal, Linu Tidak Identik dengan Penyakit Asam Urat

TEMANs

9racehime | A. Fatih Syuhud | Aditiawan Chandra | A.Tajib | Agung UD | aLe | alief | alle | almascatie | Amd | Anak Peri | Anak Sultan | Anang | Anang YP | Anas | Andalas | Anggara | Anjaz | Anti Pungli | Antobilang | Anung87 | Aribowo | Arif Kurniawan | Arul | Astikirna | awan965 | axireaxi | Bambang alias HR | BatakNews | Blog Pokoke? | Biho | CalonOrangTenar | Cay | Chandra | Chielicious | chiw imudz | cK-chika | Dalamhati | Deden Nugraha | deedhoet | deKing | Desti Utami | Didats | doeytea | dnial | Edy C | Eep | Elpalimbani | erander | Evi | Fa | Fa wp | Faiq | Fertobhades | Fetro | Fortynine | Freddy | Gadis | Gaussac | Gitablu | Grandiosa | GuhPraset | GuM | Helgeduelbek | Herdy | Indonesia Kita | Indra KH | ItikKecil | iway | Jejakpena | Jennie S. Bev | Joesath | Joko Taroeb | Julee | Juli | Juliach | Junthit | Jurig | Kakilangit | Kang Adhi | Kang Kombor | Kangguru | kawaichu | Kenji | Kenzt | kikie | koecing | Kumala | Kurtubi | Kw | Laras | liezmaya | Lilik Suryanto | Lily | Linker | Lintang | Lita | Lita wp | Luthfi | MaIDeN | Majalah Dewa Dewi | Manusiasuper | Master Li | Mathematicse | macanang | mbojo | Mei | Micokelana | Mr. Geddoe | Mufti | mybenjeng | My-za | Nayla Zahra | Nayz | Ndarualqaz | Neeya | Neo Forty-Nine | Neri | Ninoy | Nieke | Nomercy | n0vri | NuDe | Om Sulis | omaigat | Ooyi | Paijo | Panca | Pandu | Panduan WP | Papabonbon | Passya | Peyek | Pinkina | Pitik | Pralangga | Prayogo | Priyadi | Qee | Raja iblis | RenjanaBiru | rivafauziah | Rivermaya | Roffi | roisZ | Rujak | Sagung | Sahrudin | Saiful Adi | SaRa | Siu | Sofi | Sora9n | Suandana | Suluh | Susiloharjo | Telmark | Thamrin | tiesmin | Triesti | Tukang Sate | Venus | Wadehel | Wahyuansyah | Wandira | Wiku | WongMangli | Wulan | Yati | Yudhipras |

:: :: :: :: :: :: :: :: ::

Kesehatan

:: Ady Wirawan :: Agus Mutamakin :: Anis Fuad :: Anis Fuad wp :: Asri Tadda :: Astri Pramarini :: Astri Pramarini (awal) :: Astri Pramarini wp :: Blog Mahasiswa FKU 2003 :: Blog Rumah Kanker :: Dani Iswara :: Dani Iswara weblog :: Dokter arek cilik :: drAnak :: drarifianto :: Dwi wp :: Elyas :: Erik Tapan :: Evy HealhtySmile :: FK Unsri :: Gies :: Gies wp :: Ginna :: Grapz :: Hendar Sunandar :: HIV News :: Huda Thoriq :: IDI Samarinda :: imcw :: Imran Nito :: Iwan Handoko :: Jhonrido :: klikharry :: Kobal :: Laksmi Nawasasi :: Mashuri :: Mave Mina :: Mbah Dipo :: Mina :: My Blogspot :: Nur Martono :: PKM Palaran :: Rara :: Rizma Adlia :: Rudy Kwang :: SenyumSehat :: Sibermedik :: SimkesUGM :: SuperKecil :: Titah :: Tito :: Tonang Ardyanto :: Tukangkomentar :: Wi :: Vina Revi :: Vina Multiply :: Yusuf Alam R :: zulharman79 ::

:: :: :: :: :: :: :: :: :: :: ::

Institusi Kesehatan

:: Depkes RI :: WHO :: WHO Indonesia :: … nyusul

:: :: :: :: :: :: :: :: ::

Kolaborasi

:: Emedicine :: ICD 10 Wikipedia :: ICD 10 Wiki Indonesia :: OSWD :: OpenWebDesign :: Pakistan Times :: Rubab :: ntar ::

Kategori

BlogTour

Arsip

Komunitas Blog

blog-indonesia.com

PAGE RANK

Powered by  MyPagerank.Net

Add to Technorati Favorites

Health Blogs - Blog Top Sites

Health

Blogs Topsites - TOP.ORG

Health Blogs - Blog Rankings

Blog directory

TopOfBlogs

Top 10 Award

Feed Burner

cakmoki Blog

Bloggerian Top Hits

My BlogCatalog BlogRank

Site Meter

Since 30 Nov 07

PENGUNJUNG

  • 5,378,078 pengintip

Asal Usul

Pebruari 2011

free counters

Translate


%d blogger menyukai ini: