Kapitalisme bidang medis

DOKTER DI ERA KORPORASI

Pasien berhak memilih Dokter … sebuah paradoks. Tempat terpencil yang membutuhkan uluran hati, ternyata, sepi dokter. Sebaliknya, dokter (baca: dokter spesialis) justru bertumpuk di kota besar, yang perputaran ekonominya tinggi. Jadi, lebih cocok dikatakan bahwa distribusi dokter lebih mengikuti hukum ekonomi ketimbang rasa perikemanusiaan. (Prof. Laksono)

Tampaknya, banyak dokter yang tangkas berbicara soal uang. Tetapi ironis, ada dokter yang berpenghasilan Rp 1 juta sebulan. Di sini, pasar berbicara. Tetapi bagaimanapun, masyarakat memerlukan kejelasan bagaimana seharusnya berurusan dengan dokter.

Seorang direktur RS swasta mengingatkan, tidak ada tempat lagi untuk “dokter asongan”. Sungguh ungkapan tajam, tetapi dia jujur dan mungkin benar!

Kalimat di atas adalah cuplikan artikel yang ditulis oleh Ario Djatmiko, dr, SpB Onk. (K).

FAKTA DAN TANTANGAN PANGSA PASAR

Di era korporasi (sejak tahun 2000), dimana pangsa pasar (terutama pasien berduit) bebas memilih layanan medis terbaik, tak pelak akan menempatkan profesi dokter sama dengan profesi lain yang siap diukur. Fakta bahwa bidang medis bak tambang emas (Curtis Schroeder) tidaklah berlebihan, sehingga sangat wajar banyak pihak berebut ikut berperan. Bahkan kalau bisa mereka berusaha menancapkan kuku pengaruhnya untuk ikut menarik keuntungan. Dan itu sudah terjadi di kota-kota besar (RS Swasta).

Dengan makin terkikisnya era peran dokter sebagai deal & price maker, seorang dokter (yang ingin berpenghasilan layak) mau tidak mau harus siap berkompetisi, melamar kerja, dan keputusan diterima atau tidak, sepenuhnya ditentukan oleh pemberi kerja, dalam hal ini RS Swasta. Tentu perlu disadari pula bahwa pemilik modal (RS Swasta) akan mejatuhkan pilihannya pada dokter yang reputable, mengikuti perkembangan teknologi mutahir, dan yang diterima pasar tentunya. Dengan demikian, manakala seorang dokter sudah tidak mampu lagi menjaga konsistensinya (di mata pemilik modal), bersiaplah lengser untuk digantikan oleh dokter lain yang lebih dapat mendatangkan pasien. Di ranah ini, gelar panjang seorang dokter tak begitu penting lagi. Kunjungan pasien (isi dompet pasien) boleh jadi merupakan ukuran utama bagi pemilik modal. Karenanya, tak perlu heran jika makin banyak pemilik modal tangguh berkecimpung dalam ranah layanan medis dan menjadikannya sebagai bagian dari sebuah industri. Keuntungan dan uang yang bicara, Bung !!!

Dalam benak saya, tawaran layanan medis oleh para pemilik modal kepada pengguna jasa pelayanan (pasien) boleh jadi nantinya makin beragam. Terbayang tawaran layanan medis serba wah di Indonesia, terintegrasi dengan berbagai iming-iming kenyamanan. Salah satunya, medistainment *ini hanya istilah saya yang ngasal*, hanyalah soal waktu. Memang, seolah nampak dingin dan kejam. Tapi, siapa dapat mencegah hukum pasar ?

Lebih jauh, bukan tidak mungkin pula para Kepala Daerah (Gubernur, Walikota, Bupati) menjadikan layanan medis sebagai peluang untuk meningkatkan citranya. Bukankah “pasar” bisa bermakna luas tak pertepi ?

AKANKAH PROFESI DOKTER TAK LAGI SAKRAL ?

Di akhir tulisannya, dr. Ario Djatmiko, Sp.B Onk. (K) menulis seperti ini:

Masihkah kita bisa mengatakan profesi dokter itu sakral ? Tampaknya, terjadi ketinggalan cara pandang. Pemahaman dokter terhenti di era solo, banyak dokter yang masih berpikir sebagai penguasa pasar.

Teringat pesan Galileo: measure what can be measured, make measurable what can not be measured. Saatnya, kita harus menerima, dokter hanyalah profesi biasa yang setiap saat siap diukur. Dapatkah pendidikan dokter di negeri ini membawa anak didiknya bersaing di pasar yang kejam nanti? Pertanyaan itu harus dijawab!

Menurut saya, bergantung dari sudut pandang masing-masing pihak. Di negeri ini (dan mungkin di belahan dunia yang lain), seorang dokter tetap berpeluang dan berkewajiban menjaga nilai-nilai sosial di tengah hiruk pikuk beragamnya bentuk layanan medis, melalui berbagai media dan cara. Selalu ada cara untuk menolong sesama.

Menilik pergerakan bisnis layanan medis di kota besar, para dokter tetap punya pilihan untuk mengaplikasikan ilmunya sekaligus mencari nafkah. Apakah seorang dokter ingin mendapatkan ikan besar atau ikan kecil, merupakan dinamika tersendiri dalam menentukan pilhan.

MENENTUKAN PILIHAN

Pada kondisi seperti ini, keluh kesah nyaris tak berguna. Lebih baik berjuang ketimbang hanya manyun menyaksikan gelora pasar medis yang datang bergelombang bak jalan bebas hambatan. Lantas, mengasah dan meningkatkan kemampuan diri seiring dengan perkembangan teknologi dan tuntutan pasar, termasuk memperbaiki kualitas komunikasi dengan para pelanggan.

Akhirnya, ibarat pasar betulan, para dokter bebas memilih, apakah ia akan berada di pasar tradisional, pracangan, minimarket ataukah di mall dan supermaket.

Demikian pula para pelanggan (pasien dan keluarganya), bebas memilih dimana dan kepada siapa untuk mendapatkan layanan medis. Kata banyak orang, hidup adalah pilihan. Dan disitulah nikmatnya kehidupan.

Mungkin nampak kejam, tapi nyata.

Silahkan berbagi dan semoga menjadi renungan bersama.

:: :: :: posting menggunakan WLW :: :: ::

Iklan

39 Responses to “Kapitalisme bidang medis”


  1. 1 almascatie April 23, 2009 pukul 1:31 am

    medistainment

    istilahnya mantap cak..

    btw.. sayah sepakat cak. dulu dokter bolehlah menjadi “elit” skr para elit ini pun terpaksa harus memilih antara idealisme dan doronngan lain… semoga dokter idealis yang didambakan oleh semua orang makin banyak 🙂

  2. 2 Albert April 23, 2009 pukul 9:19 am

    Artikel yang menarik 🙂

    Saya pikir akan lebih menarik jika kita juga coba melihat ke (mungkin) akar masalahnya: pendidikan medis. Dengan biaya pendidikan medis yang melambung tinggi beberapa tahun terakhir ini, apa yang bisa kita lakukan agar dokter tidak terkikis idealismenya?

  3. 3 cakmoki April 23, 2009 pukul 1:59 pm

    @ alamascatie:
    Dalam hal “dorongan lain’, bedanya hanya terletak pada baju … hehehe.
    Makasih supportnya, Om Boy 🙂

    @ Albert:
    ya, mungkin itu salah satu sisi lain. Di lain pihak, saya masih yakin bahwa kebanyakan para orang tua yang menyekolahkan anaknya di FK bukan berdasarkan perhitungan imbal balik belaka. Tapi mungkinlebih kepada masa depan dan prestise. Saya belum pernah mendengar para orang tua minta kembali modal…. hehehe …
    Sejujurnya, sya belum tahu cara yg paling bagus agar idealisme tidak terkikis oleh kapitalisme. Yang ada hanya keyakinan bahwa para dokter masih (dan harus) dapat menjaganya … semoga 🙂

  4. 4 Shinta April 23, 2009 pukul 3:29 pm

    Kalau pasien masih bisa milih..Alhamdulillah cak… tapi kalo yang gak bisa milih atau gak ada pilihan gimana?

    Saya pilih pasar tradisional saja…asyiik bisa nawar… 🙂

  5. 6 Albert April 23, 2009 pukul 6:30 pm

    @ cakmoki:
    Mungkin memang ortunya tidak minta balik modal sekolahnya 🙂
    Tapi dengan segala kelengkapan fasilitas saat kuliah (maksud saya fasilitas pribadi, bukan fasilitas kampus), ke kampus naik mobil, kos di kamar ber-ac, kumpul2nya barengan sesama anak orang mampu, dst, rasanya susah banget menumbuhkan kepedulian terhadap sesama, terlebih yang kurang mampu.

    Selain itu, dengan meningkat drastisnya biaya kuliah, otomatis hanya mereka yang mampu (atau yang pintar, meski tidak mampu, dan sangat beruntung) yang bisa menjadi dokter. Jadi gimana ya?

    Ini baru untuk general practice, belum yang spesialis, lebih mengerikan lagi biayanya.

    Sedih melihatnya…

  6. 7 astu April 24, 2009 pukul 12:23 am

    sepakat dg mb. shinta
    gimana tuh dg yg ga bs milih & ga ada pilihan?
    layanan kesehatan yg ‘masuk dunia dagang’ lbh sering menempatkan pasien sebagai konsumen tanpa daya tawar, pdhal yg jd ‘taruhannya’ badan pasien itu sndr (+ isi dompetnya)

  7. 8 nusantaraku April 24, 2009 pukul 2:19 am

    Perlu reformis mendasar bagi dunia medis.
    Kisah Suster Apung di Kick Andy harusnya membuka mata semua pihak dan terutama pemerintah sebagai eskekutor.

  8. 9 cakmoki April 24, 2009 pukul 2:27 am

    @ Shinta:
    saya juga gak tahu, siapa saja yang bertanggung jawab mengatasi hal-hal semacam ini. Menurut hemat saya, layanan medis tidak bisa diserahkan sepenuhnya pada pasar, perlu pengaturan agar yang kurang mampu (termasuk yang tidak mampu) tetap punya pilihan … makanya tulisan ini ada sedikit nada perih *hiks, mellow*

    Pasar tradisional juga bisa dibuat nggaya, pake AC … musik *halah* dll … hahaha

    @ AndriJournal:
    sama 🙂

    @ Albert:
    ya, itulah tantangan kita, lebih tepat tantangan para pengambil keputusan untuk mengatur mulai pendidikan dokter (termasuk spesialis) hingga sistem penenmpatannya.
    Saya melihat sistem inpres (sebelum PTT) masih lebih bagus. Entah mengapa sistem tersebut diganti.
    Tentang pendidikan dokter ada benarnya. Saat ini, setelah diterima test dikenakan biaya sekitar 10-15 juta. Biaya per semester di PTN kalo gak salah sekitar 2,5- 5 juta. Mungkin ada beberapa variasi di setiap PTN, hanya saja sy belum ngecek kepastian nominalnya ke temen-temen.
    Sedangkan beasiswa, saya sama sekali tidak tahu .. hehehe.

    Kalo spesialis bergantung jenis spesialisasi yang diambil. Konon pasarannya berkisar 150 juta. Inipun samar-samar, gak ada yang berani menyampaikan secara tebuka.

    Untuk menjaga integritas dan meningkatkan keilmuan, semua ditanggung dokter secara pribadi. Kalo gak gitu, kompetensi terancam. Dan ini tidak murah. Belum lagi pajak yang amboiiiii.. katanya, biaya peningkatan ilmu dan ketrampilan tidak boleh dimasukkan pengeluaran.

    Mungkin ini semua merupakan lingkaran tak bertepi. Dan yang kita khawatirkan adalah makin kuatnya dominasi cengkeraman aroma bisnis di bidang medis.

    Posting sependek ini bertujuan mengajak semua pihak untuk melihat fakta, betapa banyak orang yang patut mendapatkan layanan medis optimal dengan biaya terjangkau.

    @ astu:
    Sebenernya dah ada pilihan.
    Bagi yang gak mampu, gratis (di puskesmas dan RSUD melalui sistem rujukan). Bagi yang dompetnya lumayan, dapat memilih “pracangan” dan pasar “tradisional”.
    Mungkin yang dimaksud mbak Shinta (seperti yang beliau tulis pada komen artikel sebelumnya seputar layanan medis) adalah pekerja yang udah diatur oleh perusahaan untuk berobat ke tempat tertentu. 🙂
    Ada saran ?

  9. 10 OB April 24, 2009 pukul 2:39 am

    Benar-benar kejam..

  10. 11 Albert April 24, 2009 pukul 8:29 am

    @ cakmoki:
    Sekedar menambah info saja, angka2 yang Cakmoki sebut di atas betul. Tapi itu baru standar, atau minimalnya. Kalo melihat angka maksimalnya, wah sampe merinding saya.

    Untuk S1, saya pernah tau ada yang membayar hingga 75jt (bahkan ada teman bercerita bahwa ada yang ratusan juta juga). Sementara untuk spesialis, seorang teman masuk spesialis dengan membayar 500jt.

    Rasanya absurd kalo dengan angka2 seperti itu kita berharap mereka tidak punya pikiran setitikpun ingin mengembalikan modal selulusnya mereka dari sana.

    Oh iya Cak, kalo sistem inpres itu seperti apa ya? Saya masih terlalu kecil saat itu, jadi belum ngerti 🙂 Saya taunya yang model PTT.

  11. 12 Shinta April 24, 2009 pukul 4:49 pm

    Cakmoki gak boleh mellow… semangat!!

    Kalo sudah pake AC gak bisa nawar lagi cak..tempat prakteknya cakmoki boleh nawar nggak? Kan waktu cakmoki sekolah dulu lum mahal bayarannya… 🙂

  12. 13 Jojok April 24, 2009 pukul 6:44 pm

    wah pak dokter, artikel yang bagus.. saya yang biasa cuma keliling puskesmas jadi prihatin. Jarang ketemu spesialis di puskesmas sih..

    mungkin bisa ditambah lagi ya, kapitalis ?? atau memang tuntutan balik modal ? misal nya dengan perilaku sebagian dokter yang selalu menuntut bonus dari para medrep farmasi, sepertinya dokter yang sudah kaya raya banyak yang melakukan itu.. imbasnya mudah ditebak, obat merk mahal bagi sebagian masyarakat kita.

    ohhh.. indonesia…

  13. 14 cakmoki April 24, 2009 pukul 10:49 pm

    @ nusantaraku:
    sependapat… namun “reformis mendasar” masih sangat normatif. Pemerintah Daerah pun membuat program yg masih bersifat “panas-panas sate ayam”. Yg kita perlukan adalah program membumu, berkelanjutan dan tidak dijadikan “lahan hijau” 🙂
    Ada saran?

    @ OB:
    iya 😀

    @ Albert:
    Saya hanya menyebutkan yang normal. Kalo yg segitu gede mungkin jalur pmdk, extention ato semacamnya, biasanya gak banyak.

    Sistem Inpres adalah penempatan dokter setelah lulus sebagai dokter di seluruh penjuru Indonesia (berdasarkan perundangan Instruksi Presiden) dengan pembagian wilayah I-III, yakni wilayah Jawa-Bali, Sumatra dan Wilayah Terpencil.
    Jika seorang dokter diterima untuk ditempatkan di wilayah Jawa-Bali, maka ia bau bisa ambil spesialis setelah mengabdi selama 5 tahun atau lebih. Untuk Wilayah Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dll, selama 3 tahun ataulebih sedangkan ilayah yang sangat terpencil 1 tahun. Dengan demikian, pemerataan penyebaran dokter diatur oleh Pemerintah Pusat.
    Seperti saya, dulunya berencana ambil spesialis, karena itu pilih Kaltim, maunya sekoleh lagi setelah 3 tahun. Ehhhh, dalam perjalanannya, gak taunya betah hidup di ndeso ™ … hehehe. Ini soal pilihan. Uang memang penting, tapi bukan segalanya. Dan bekerja di ndeso ™ juga suatu kebanggaan. hehehe 🙂

    Bisa jadi ada yang menganut paham “kembali modal”, tapi saya yakin masih banyak yang enggak.

    @ Shinta:
    iya, Mbak .. selalu bersemangat …makasih supportnya.
    Sy kelas pracangan, tapi ada AC nya dong….lha gimana, tempat cari nafkah kan harus nyaman, kecuali listrik lupa menyala 😀

    @ Jojok:
    itu salah satu penyebab mengapa biaya berobat jadi mahal … kemesraan dokter-produsen obat tak pelak menempatkan pasien sebagai “lahan” … 😦

  14. 15 nusantaraku April 25, 2009 pukul 1:26 am

    Ada banyak program mendasar untuk mengubah paradigma dunia medis, dimana saya coba melihat dua sisi saja, yakni proses pendidikan, proses “distribusi” tenaga medis, dan restrukrisasi puskesmas.
    ***
    Pendidikan : institusi pendidikan dan pemerintah harus mengambil kebijaka ala Indonesia yakni memberi “subsidi” yang memadai bagi para mahasiswa kedokteran di perguruan tinggi negeri. Semakin berjalanya tahun, perguruan tinggi semakin dikomersialkan. Jika pendidikan saja dikomersialkan, tentu akan membentuk mental para calon dokter bermental kapitalis. Dengan jumlah penduduk yang besar, maka pemda dan pem.pusat seyogianya meningkatkan kuota mahasiswa FK di PTN.
    ***
    “Distribusi tenaga medis”, merupakan tugas sangat penting. Perlu ada reformasi aturan yg lebih mengarahkan tenaga medis bekerja seraya ber”amal” sosial. Disisi lain, perlu pendataan administrasi secara benar mengenai distribusi masyarakat dan kebutuhan tenaga medis. Karena proses pendidikan yang tidak merata, maka para perawat dan tenaga medis di puskesmas ataupun RS kab/kota yang memiliki skill kurang memadai, secara terencana depkes memberikan pendidikan dan pelatihan ekstra.
    ***
    Perlu peningkatan orientasi pelayana kesehatan pada masyarakat kurang mampu di pedesaaan atau daerah pinggiran kota. Sehingga perlu rekstrurisasi Puskesmas menjadi sentra RS mandiri dan bermutu. Diperlukan penyusunan standar kompetensi dan regulasi profesi kesehatan yang memadai di lingkungan puskesmas. Hal serupa butuh pengawasan intensif baik RS di Kab/kota maupun puskesmas.
    ***
    Itu hanya ide-ide yang sempat muncul…mungkin ada yang salah atau kurang, mohon dikoreksi.
    Trims–salam nusantaraku.

  15. 16 dokterearekcilik April 25, 2009 pukul 6:17 pm

    masalah kayak gini perlu sering dibahas biar gak kayaknya tabu bener …. semoga bisa membuka hati dan pikiran para anggota dewan maupun pejabat nun jauh di jakarta agar tidak membuat aturan ttg sistem kesehatan yg merugikan masyarakat

  16. 17 haridiva April 25, 2009 pukul 9:43 pm

    Hmm…, sebenarnya apa sih yang dicari seorang ketika ia memutuskan melangkah ke jenjang pendidikan sebagai seorang dokter nanti di akhirnya? Atau apakah yang membuatnya melangkah ke situ? Mungkin akan ada hubungan antara ujung pangkalnya…

    Kalau disebut-sebut pendidikan kedokteran mahal…, ya harus diakui hal itu, dan kita bisa sampaikan bahwa tidak hanya pendidikan kedokteran yang mahal. Seakan-akan menjadi “terdidik” di negeri ini pun “mahal”. Mungkin bagi yang telah punya anak dan mulai akan menyekolahkan mereka, apakah pernah memandang pendidikan itu murah (bukan terjangkau lho)?

    Ini bukan masalah rumit namun juga tidak sederhana…

  17. 18 ridhaniar April 26, 2009 pukul 9:47 am

    Ketika orang lebih mencintai materialisme…..

  18. 19 cakmoki April 26, 2009 pukul 12:58 pm

    @ nusantaraku:
    Makasih idenya … 🙂
    kayaknya itu semua udah operasional sejak lebih 5 tahun yang lalu, hanya saja pelaksanaannya gak terevaluasi denganbaik dan tindak lanjutnya berubah-ubah mengikuti selera para pengambil keputusan, kecuali program yang udah mapan.

    Saya sangat-sangat sependapat dengan RS Mandiri dan Puskesmas Mandiri (terutama rawat inap). Itu bisa dilakukan mengingat sy pernah melakukannya dan bisa. Kita sudah punya perangkat UU untuk menjadikan RSUD Mandiri (swakelola ato apalah namanya). Masalahnya, menurut saya, kebanyakan pihak manajemen RSUD dan Pimpinan Puskesmas masih lebih suka menganut pola pikir “menghabiskan anggaran”, ketimbang menabung untuk tidak bergantung kepada pemerimtah, terutama obat dan bahan habis pakai. sekali lagi, bisa..sangat bisa. Di artikel-2 sebalumnya udah sering sy tulis 🙂

    Makasih share-nya

    @ dokterearekcilik:
    iya Mas… kebanyakan sejawat lebih suka menggurutu ketimbang berjuang (dengan menulis dan ngasih tau petinggi kota maupun wakil rakyat) … padahal gak mungkin dipecat … hahaha.

    Sy pernah guyon sama temen-2… gimana yg nun jauh di Jakarta bisa membuat program yg menyentuh rakyat (dan menyentuh dokter, paramedis), lha wong beliau-2 tiap hari naik mobil, bergaulnya juga dg pejabat dan pengusaha, gak pernah ngobrol dengan rakyat jelata (kecuali saat pura-2 turba dan kampanye, gak pernah merasakan diompoli orang sakit, gak pernah melihat langsung orang tergeletak di RS … hihihi, sing dirasani denger ga ya…
    bagaimanapun, saya sependapat, … didengerin gak didengerin, kita perlu lebih sering menyampaikan informasi yg sebenarnya.

    @ haridiva:
    iya, ini bukan masalah rumit, dan sederhana tentunya … 😀
    Makasih kunjungannya …

    @ ridhaniar:
    mungkin karena sugerrr .. nanti jangan yaaa 🙂

  19. 20 90 April 26, 2009 pukul 6:53 pm

    Sedih deh…
    tempat q jg gtu

  20. 21 sibermedik April 26, 2009 pukul 7:20 pm

    terima kasih cak sudut pandangnya, memang merupakan pilihan hidup untuk menjadi dokter ‘umum’ atau jadi dokter ‘ora umum’. Karena sekarang semua diukur dengan materi (pesan galileo diatas), maka pasien tidak dilihat sebagai manusia tapi mobil yang mau direparasi.

  21. 22 lily indriani octovia April 27, 2009 pukul 7:47 am

    Salam kenal, menarik sekali materi yang disampaikan cak Moki ini..tampaknya, sistem ini udah mapan juga ya di Indonesia, seperti kata teman yang di atas tadi, “Mau jadi yang terdidik aja mahalnya!” Iya itu, sebenere yang bikin sistem itu jadi gitu ya senior2 kita (para dokter yang udah establish) juga khan? Kapitalism meraja-lela, para dokter tak sadar ter-infeksi…saya yang di bawah ini merasakan banget hal itu. Kita, dipilah2 berdasarkan : uang, keturunan..,Sementara, kepintaran, moral tampaknya masih rendah skoringnya…Di Indonesia ini, dokter “Ora Umum” semakin bergengsi, dan lahan2 kedokteran masyarakat dianggap kere, padahal menurut saya, urgensinya besar sekali kalo kita beres ngurusin masyarakat ini. Nyatanya sekarang maskin jadi Idola, karena mereka ini jadi salah satu indikator keberhasilan layanan kesehatan. How poor we are, Cak!!! Bijimana ini???

  22. 23 hanjaya839 April 27, 2009 pukul 12:11 pm

    Halo om dokter?? Apa kabar? Merinding neh ujiannya. . . Takut

  23. 24 cakmoki April 28, 2009 pukul 11:52 am

    @ 90:
    gitu ya … 🙂 .. eh, gitu gimana sih?

    @ sibermedik:
    wih, perumpamaannya serem 😛
    Sebenernya sama aja, “umum” dan “ora umum” sama-sama berpeluang menjadi bagian pracangan hingga mall …hehehe

    @ lily indriani octovia:
    Salam kenal 🙂
    Mungkin benar kalo dilihat dari sudut uang semata. Seolah ada pemetaan berdasarkan ukuran finansial, tapi menurut saya tidak seseram itu. Faktanya, beberapa temen dekat yg kesehariannya dibalut gemerlap kemewahan, masih sering mengeluh, pajak tinggilah, jarang ketemu keluarga, dll…dll. Malah ada yg bilang, enak kamu moki, gak tahu sambat, bisa kumpul dengan banyak orang, kemana-mana bisa sarungan pake sandal jepit … Nampaknya, gengsi perlu biaya mahal pula.

    Dalam hal layanan, diakui ato enggak, kedokteran komunitas (kedokteran masyarakat) masih digunakan sebagai basis diagnosa hingga follow-up, bahkan oleh sejawat di RS bintang lima sekalipun.

    Makasih telah berbagi, met berjuang dan sukses selalu 🙂

    @ hanjaya839:
    halo juga…kabar baik.. ujian gak perlu takut… asalkan belajar dengan tekun, niscaya bisa 🙂
    Moga sukses

  24. 25 woro April 29, 2009 pukul 12:35 pm

    selamet ya cak dapet penghargaan Best of the best blog!

    makin produktif nulis ya dan jangan bosan membalas pertanyaan2 kitaaaaaaaa….

  25. 26 frida April 29, 2009 pukul 4:01 pm

    saya salut dengan pilihan hidup cak moki…!!!Andai saya jadi dokter saya jg ga yakin bisa semulia itu(ojo ge-er lho cak!!).Menurut saya makin banyak pilihan sebenernya makin bagus.Asalkan orang2 yg berada di belakangnya semuanya komit terhadap pilihannya.Jgn hanya yg di mall aja yg ditempatkan orang2 yg reputable, tp jg yg sekelas pracangan.Kemasan (gedung,tmpt praktek ) boleh beda tapi isinya harus sama.Jadi ada subsidi silang lah,dalam hal ini ilmunya.Kita harapkan dokter jg jgn hanya ‘kejar setoran’ tp jg harus punya tanggung jawab sosial untuk mengamalkan ilmunya dengan tidak pandang bulu. Jadi urusan duniawi dapet,akhirat jg Insya Allah.Yaaa semoga saja… Setuju cak??

  26. 27 wita April 29, 2009 pukul 9:16 pm

    yo sing rebutan duit, yo silahkan aj. tp sakjane kalo dr awal niat jd dokter bukan untuk jd orang kaya, pemahaman itu jarang nempel di calon dokter sekarang, lha gmn ya, yg bisa kuliah di kedokteran kalo gak anaknya bos, ya minimal anak orang kaya (versi kaya tenanan ini). alhasil cenderung belajar asal-asalan dan berlindung diketiak orang tuannya, tp sekali lg ga semuanya, msh ada titik terang, walo cma sedikit, kata bu kartini kemaren : habis gelap terbitlah terang.
    btw, cakmoki, sy minta tolong (lagi dan lagi) ada gak ya protap untuk sterilisasi?hehe..ato minimal bahan untuk buat protap desinfeksi ranap biar gak INos. matur nuwun sakderengipun cak…

  27. 28 cakmoki April 29, 2009 pukul 11:38 pm

    @ woro:
    Maturnuwun, mbak 🙂
    penghargaan tersebut terlalu tinggi untuk saya. Kalaupun dianggap layak, semua itu berkat partisipasi para pengunjung.
    Karenanya, penghargaan tersebut saya dedikasikan untuk para pengunjung dan teman-teman.

    @ frida:
    waduhhh, saya udah terlanjur ge-er 😛
    Saya sependapat, pracangan hingga mall hanya soal tempat dan ongkos (menurut saya lho), adapun reputable merupakan keharusan.
    Maturnuwun support dan do’anya, moga demikian pula sebaliknya.

    @ wita:
    he-eh … kalo kita memberikan pelayanan dengan sungguh-sungguh dan tulus, rejeki datang sendiri. Sing penting berdo’a juga agar diberikan rejeki cukup … cukup untuk hidup, cukup untuk ngeblog, cukup untuk nabung, cukup untuk numpak motor mabur ke luar negeri … amiin.
    Yang kaya dan aras-arasen belajar rasanya dikit, jadi sy sama optimisnya dengan mbak Wita bahwa sebagian besar dokter masih mengutamakan nilai sosial…semoga!

    Tentang protap, ntar sy mintakan ke ts di milis yaaa…tapi jawabannya gak bisa ngasih batasan.

  28. 29 Garmin Mei 3, 2009 pukul 5:27 pm

    salam kenal !,
    makasih infonya.

  29. 30 cakmoki Mei 4, 2009 pukul 1:57 pm

    @ Garmin:
    Salam kenal juga … makasih kunjungannya.

  30. 31 mujtahid Mei 4, 2009 pukul 3:50 pm

    di daerah “katrok” sperti daerah saya, gak bisa milih2 dokter cak!

    Ayo cak, semangat!! Moga makin banyak dokter yang peduli ……

  31. 32 cakmoki Mei 4, 2009 pukul 11:34 pm

    @ mujtahid:
    wih, melas juga ya, padahal di Kediri (berdasarkan IP, maaf kalo salah) kan ? s
    Maturnuwun supportnya 🙂

  32. 33 mujtahid Mei 5, 2009 pukul 12:15 pm

    di ngawi cak! ada sih 1 puskesmas yg bagus, tp tetep jauh dr rumah saya. Melas bagi tetangga saya yg ekonominya menengah kebawah, katanya mereka “Orang kere dilarang sakit” karena klo sakit, mbayar dokter mahal, :). Di puskesmas desa sy, gak ada dokter, adanya mantri, klo sakit ringan sih gak pa2, coba kalo sakitnya berat? kalo mau ke dokter, ya harus ke kota…

  33. 34 cakmoki Mei 6, 2009 pukul 4:09 pm

    @ mujtahid:
    oo, kirain ngawi itu seramai jalan yg dilewati kalo ke Solo, hehehe … sama ndeso™ nya dg sini, ato lebih parah kali ya 😀
    Moga sekeluarga sehat selalu

  34. 35 diabetesnotes Mei 6, 2009 pukul 11:17 pm

    jika berbicara kapitalisme……rasanya serem banget dech yaaa……sisi kemanusian jadi tergusur yaaa

  35. 36 Genghis Khun Mei 10, 2009 pukul 7:09 pm

    Cak, nimbrung. Semoga kita semua dijauhkan dari niat menguras isi dompet pasien. Amiin

    Oiya Cak, saya punya artikel dgn tema hampir sama, tapi kayaknya nylekit banget. mohon diajari nulis komentar yang alus Cak..trims
    di:
    sini

    Genghis Khun

  36. 37 cakmoki Mei 10, 2009 pukul 11:18 pm

    @ Genghis Khun:
    Amiiinnn …
    Udah saya baca… kurang pedessss … masih terlalu gemulai atuh 🙂


  1. 1 Kapitalisme bidang medis Lacak balik pada April 22, 2009 pukul 11:23 pm
  2. 2 Kapitalisme bidang medis « Anita’s Blog Lacak balik pada Mei 22, 2009 pukul 5:58 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Wong ndeso ™

cakmoki

Wordpress Indonesia

Silahkan baca

DISCLAIMER

web tracker

9 Desember 2009

SEMENTARA TUTUP

Maaf, sementara Blog istirahat hingga ada pemberitahuan

Harap maklum


MARI HENTIKAN KORUPSI

Jangan Korupsi Ah

No Korupsi

Internet Sehat

Warga Bicara

» Makasih PLN, listrik Samarinda dah membaik, moga gak byar-pet

» Waspada Demam Berdarah

» Jangan Gunduli Palaran

» Banjir...banjir. Kapan masalah ini teratasi ?

INGA INGA INGA

» Nyeri Urat or Tulang BUKAN berarti Penyakit Asam Urat.

» Sekali lagi: Pegal, Linu Tidak Identik dengan Penyakit Asam Urat

TEMANs

9racehime | A. Fatih Syuhud | Aditiawan Chandra | A.Tajib | Agung UD | aLe | alief | alle | almascatie | Amd | Anak Peri | Anak Sultan | Anang | Anang YP | Anas | Andalas | Anggara | Anjaz | Anti Pungli | Antobilang | Anung87 | Aribowo | Arif Kurniawan | Arul | Astikirna | awan965 | axireaxi | Bambang alias HR | BatakNews | Blog Pokoke? | Biho | CalonOrangTenar | Cay | Chandra | Chielicious | chiw imudz | cK-chika | Dalamhati | Deden Nugraha | deedhoet | deKing | Desti Utami | Didats | doeytea | dnial | Edy C | Eep | Elpalimbani | erander | Evi | Fa | Fa wp | Faiq | Fertobhades | Fetro | Fortynine | Freddy | Gadis | Gaussac | Gitablu | Grandiosa | GuhPraset | GuM | Helgeduelbek | Herdy | Indonesia Kita | Indra KH | ItikKecil | iway | Jejakpena | Jennie S. Bev | Joesath | Joko Taroeb | Julee | Juli | Juliach | Junthit | Jurig | Kakilangit | Kang Adhi | Kang Kombor | Kangguru | kawaichu | Kenji | Kenzt | kikie | koecing | Kumala | Kurtubi | Kw | Laras | liezmaya | Lilik Suryanto | Lily | Linker | Lintang | Lita | Lita wp | Luthfi | MaIDeN | Majalah Dewa Dewi | Manusiasuper | Master Li | Mathematicse | macanang | mbojo | Mei | Micokelana | Mr. Geddoe | Mufti | mybenjeng | My-za | Nayla Zahra | Nayz | Ndarualqaz | Neeya | Neo Forty-Nine | Neri | Ninoy | Nieke | Nomercy | n0vri | NuDe | Om Sulis | omaigat | Ooyi | Paijo | Panca | Pandu | Panduan WP | Papabonbon | Passya | Peyek | Pinkina | Pitik | Pralangga | Prayogo | Priyadi | Qee | Raja iblis | RenjanaBiru | rivafauziah | Rivermaya | Roffi | roisZ | Rujak | Sagung | Sahrudin | Saiful Adi | SaRa | Siu | Sofi | Sora9n | Suandana | Suluh | Susiloharjo | Telmark | Thamrin | tiesmin | Triesti | Tukang Sate | Venus | Wadehel | Wahyuansyah | Wandira | Wiku | WongMangli | Wulan | Yati | Yudhipras |

:: :: :: :: :: :: :: :: ::

Kesehatan

:: Ady Wirawan :: Agus Mutamakin :: Anis Fuad :: Anis Fuad wp :: Asri Tadda :: Astri Pramarini :: Astri Pramarini (awal) :: Astri Pramarini wp :: Blog Mahasiswa FKU 2003 :: Blog Rumah Kanker :: Dani Iswara :: Dani Iswara weblog :: Dokter arek cilik :: drAnak :: drarifianto :: Dwi wp :: Elyas :: Erik Tapan :: Evy HealhtySmile :: FK Unsri :: Gies :: Gies wp :: Ginna :: Grapz :: Hendar Sunandar :: HIV News :: Huda Thoriq :: IDI Samarinda :: imcw :: Imran Nito :: Iwan Handoko :: Jhonrido :: klikharry :: Kobal :: Laksmi Nawasasi :: Mashuri :: Mave Mina :: Mbah Dipo :: Mina :: My Blogspot :: Nur Martono :: PKM Palaran :: Rara :: Rizma Adlia :: Rudy Kwang :: SenyumSehat :: Sibermedik :: SimkesUGM :: SuperKecil :: Titah :: Tito :: Tonang Ardyanto :: Tukangkomentar :: Wi :: Vina Revi :: Vina Multiply :: Yusuf Alam R :: zulharman79 ::

:: :: :: :: :: :: :: :: :: :: ::

Institusi Kesehatan

:: Depkes RI :: WHO :: WHO Indonesia :: … nyusul

:: :: :: :: :: :: :: :: ::

Kolaborasi

:: Emedicine :: ICD 10 Wikipedia :: ICD 10 Wiki Indonesia :: OSWD :: OpenWebDesign :: Pakistan Times :: Rubab :: ntar ::

Kategori

BlogTour

Arsip

Komunitas Blog

blog-indonesia.com

PAGE RANK

Powered by  MyPagerank.Net

Add to Technorati Favorites

[Valid RSS]

Health Blogs - Blog Top Sites

Health

Blogs Topsites - TOP.ORG

Health Blogs - Blog Rankings

Blog directory

TopOfBlogs

Top 10 Award

Feed Burner

cakmoki Blog

Bloggerian Top Hits

My BlogCatalog BlogRank

Site Meter

Since 30 Nov 07

PENGUNJUNG

  • 5,301,967 pengintip

Asal Usul

Pebruari 2011

free counters


%d blogger menyukai ini: