Royokan Dompet Pasien

BELAJAR MENGAKUI KEKURANGAN

dompet Kita mungkin pernah mendengar seseorang berkata seperti ini: “ dokter, bukannya saya tidak mau dirujuk ke Rumah Sakit. Kalau bisa, berobat jalan saja ”. Kalimat berikutnya bak tusukan langsung di ulu hati, demikian ujarnya: “ Soalnya kalau ke RS, pemeriksaan macam-macam, penyakitnya malah makin banyak. Kadang dilempar kesana-kemari (maksudnya antar poli: pen). Duitnya tidak sedikit, dompet langsung kempes ”. … Tuiiinnnggg … 🙂 Mungkin sulit menerimanya. Bisa saja berkilah : “ Tuh, buktinya banyak yang indent di Ruang VIP… “. Atau : “ itu kan udah pemeriksaan rutin “.

Ungkapan di atas tidak hanya dialami oleh satu orang. Boleh jadi dialami juga oleh banyak orang, terlebih pasien dengan uang pas-pasan. Terucapkan ataupun hanya mbatin. *arrgh, lagi-lagi ke RS*

Di RS Berbintang, keluhan seperti di atas, mungkin amat sangat jarang dijumpai. Wajar, pelanggannya orang-orang berduit tebal. Atau setidaknya ditanggung perusahaan dimana mereka bekerja.

Seorang teman di Surabaya bercerita:” Dear Moki, believe or not, ini fakta. Ada beberapa orang yang senang sakit lantas bed rest di RS Berbintang, dengan penyakit Gejala Tipus. Tahu gak, 3-4 hari minta bed rest, selebihnya mbuh nginap dimana. Selama minta dirawat, jagongan gayeng dengan para relasinya. Tentu, semuanya ada yang mbayar “. Hmmm … peluang nih ! 🙄 *sapa yang mau?*

Berbeda dengan di RSUD, terutama penghuni kelas III dan pengunjung Poliklinik, yang kebanyakan berdompet cekak. Saat di RSUD sih mereka gak berani ngomong. Manakala pulang ke rumah, tak jarang dari mereka mengeluhkan betapa mereka diharuskan menjalani bermacam-macam pemeriksaan yang tidak jelas untuk apa (karena memang gak dikasih tahu), dan yang pasti, banyak duit melayang. Karena itu, tak perlu heran jika ada yang terpaksa menyerahkan KTP, SIM atau surat berharga lainnya, sebagai jaminan agar bisa keluar dari RS.

Bayangkan, mulai pasien yang opname dengan: diare plus dehidrasi, DBD, TBC, dan lain-lain, hingga penyakit yang paling parah, seolah wajib menjalani ritual yang sama, yakni: Darah Lengkap (DL), Urine Lengkap (UL), LFT (Liver Fuction Test), RFT (Renal Function Test), Kolesterol Total, HDL, LDL, Gula Darah Puasa, Gula Darah 2 jam PP, dan seterusnya. Ritual tersebut akan berulang ketika seseorang harus opname lagi dengan penyakit yang berbeda. *tanya: semua itu pake uang, cak? … jawab: gak! … pake daun! … enak aja, ya iyalah* 😛 .. Tak salah jika pasien merasa dikeroyok isi dompetnya, manakala harus menjalani perawatan di RS.

Tidakkah benak kita tergelitik, masuk akal gak sih ? Tapi kan … tapi kan, bisa dimasuk-masukkan akal supaya nampak rasional, supaya pasien manggut-manggut dengan penuh khidmat, supaya saat mengeluarkan duit diiringi rasa bangga.

Mungkin benar sinyalemen Prof. dr. Iwan Darmasjah, bahwa keruwetan layanan medis di negeri tercinta ini dipicu oleh banyak penyebab, yang salah satunya beliau tulis sebagai: induce unnecessary demand dari pihak RS, dan masyarakat sendiri (yang lebih senang ke RS daripada dokter keluarga, sehingga dikeroyok kantongnya).

Baiklah, tidak semua layanan medis di RSUD berwarna kelam. Meski begitu, tak ada salahnya mangkaji ulang, terutama pihak manajemen dan komite medik, untuk senantiasa berbenah, agar pengguna jasa layanan medis mendapatkan layanan optimal dan rasional dengan biaya terjangkau berdasarkan kepatutan.

Lagi-lagi menurut saya, kunci pokok kualitas layanan medis setidaknya dapat memenuhi 3 hal, yakni: (1) gedung yang representatif, (2) reward kepada pelaksana layanan medis yang pantas *bukan dengan piagam, untuk apa, gak bisa untuk nraktir*, (3) fasilitas penunjang yang memadai. Selain itu, Protap (Prosedur Tetap) Tindakan Medis sudah saatnya dibuat dalam berbagai format, sehingga mudah diakses oleh pelaksana layanan medis. Syukur kalau upload melalui internet, enak kan … *ini bukan mimpi*

Artinya, jangan ada lagi toilet berbau pesing nan menyengat, jangan ada lagi pasien berjajar kayak pindang, jangan ada lagi jasa dokter senilai ongkos parkir *ikhlas di dalam hati sedangkan jasa adalah uang yang jelas nilainya, mosok 3 ribu rek, wekz*, jangan ada lagi insentif paramedis tertunda *mereka juga perlu susu untuk anaknya supaya bisa tersenyum manis*, jangan ada lagi dokter dan paramedis harus capek-capek ngurus kenaikan pangkat dan gaji berkala *naiknya paling 250 ribu, ngurusnya ruweeet, ihhhh*, jangan ada lagi pemeriksaan penunjang (Lab dan kawan-kawan) tanpa indikasi yang jelas, jangan ada lagi pemberian obat tak rasional *titipan sponsor ?*

Saya teringat obrolan santai dengan seorang teman seputar layanan medis. Teman berkata: “ kita perlu meniru KFC dan sejenisnya, mereka memasang harga dengan jelas. Paha ayam sekian ribu, sayap sekian ribu, kentang sak porsi sekian ribu, dan seterusnya. Sehingga pengunjung bisa milih jenis makanan sesuai isi dompetnya. Gak takut kekurangan uang. Tempatnya ber-AC, pramusaji cekatan dan selalu tersenyum manis. Pengunjung puas “. Analog tersebut tidak sama persis dengan layanan medis, tapi ada benarnya. Mestinya RSUD bisa, wong uangnya dari negara (baca: berasal dari rakyat).

Harapan tersebut dapat terwujud jika setiap Kepala Daerah dan DPRD benar-benar mengedepankan kepentingan khalayak sebagaimana janjinya saat kampanye Pilkada dan kampanye Pemilu Legislatif.

Dengan begitu, pasien dan atau keluarganya dapat menikmati layanan medis yang berkualitas dengan biaya terjangkau, dan pelaksana layanan medis merasa dihargai jerih payahnya.

Semoga bermanfaat.

Silahkan berbagi … 🙂

:: :: :: posting menggunakan WLW :: :: ::

Iklan

37 Responses to “Royokan Dompet Pasien”


  1. 1 almascatie April 16, 2009 pukul 2:03 am

    ini nperlu dibaca ama para wakil rakyat yang baru naek cak!
    sepakat sekali sayah

  2. 2 Nayantaka April 16, 2009 pukul 9:40 am

    Dukung Cakmoki sebagai Menkes…. 🙂

  3. 3 Andri Journal April 16, 2009 pukul 12:36 pm

    Jamkesmas?

    LANJUTKAN! 😀

  4. 4 woro April 16, 2009 pukul 12:45 pm

    pengen jadiin cak moki dokter keluarga… tapi ongkosnya piye ya cak??? cekak juga nih…. jauh lagi ada di kalimantan… sedang saya di depok jabar…

    jadinya ya… jaga kesehatan aja deh jangan sampe sakiiiit… klo ada yg ga enak di badan.. konsul langsung aja ya ke cak moki di sini…. hehehehe

  5. 5 mirza April 16, 2009 pukul 3:59 pm

    “ Soalnya kalau ke RS, pemeriksaan macam-macam, penyakitnya malah makin banyak. Kadang dilempar kesana-kemari (maksudnya antar poli: pen). Duitnya tidak sedikit, dompet langsung kempes ”.

    Doh..setuju banget….makanya orang miskin dilarang sakit OM. Apalagi sampe opname. Bisa jadi tekanan darah yang sakit tambah ngelonjak…[syukur…aku dibayari kantor-mugo2 ga diberi sakit sama Allah]

    Btw..ga usah jadi menkes..jadi pacar saya aja…*haduh..didenger tante nggak ya..??*

  6. 6 cakmoki April 16, 2009 pukul 10:35 pm

    @ almascatie:
    sejutuh! Om Boy …

    @ Nayantaka:
    ehm … ehm 😀
    Akhir-2 ini, saya suka dg gebrakan Menkes kita, walau terkadang nampak kontroversial. Gak semua Menkes seberani beliau. Moga jadi lagi ^^

    @ Andri Journal:
    He he he

    @ woro:
    ongkosnya ? sy bisiki ya … Rp @% )&@ *berbisik jarak jauh* 😛
    Moga gak sakit … kalaupun misalnya ada sedikit ga enak badan, kita bisa ngobrol di sini … hehehe.

    @ mirza:
    he eh, moga selalu sehat … kecuali PMS *lari, takut dilempar sandal*
    hihihi, ntar tak bilangkan tante 😛

  7. 7 keishka April 17, 2009 pukul 8:40 am

    fuihhhh, RS kya KFC?? *mksdnya, pelayanan dll* mirip kya RS di bandung, yg saat kei atau wkt mama kmrn di rawat, mereka mengutamakan keselamatan pasien lbh dahulu.

    ini RS udh lama banget… tapi swasta, pelayananya keren.. ga mikir harus byr brp dl, bagi mereka, pasien lbh penting.

    sekalipun pas keluar blm bs bayar, RS ga nahan2, toiletnya ga bau, ruangannya bersih ga bernyamuk. lain lagi dgn RS pemerintah. yg mengutamakan pembayaran ini itu dl, br menyelamatkan nyawa ruangnya jg bernyamuk2 toiletnya bau. jadi berfikir, bknnya RS pemerintah milik rakyat? ko ga dijaga?

    entah, sejak kpn.. yg pasti kei jatuh cinta pada RS swasta ini.. dokternya ganteng2 lagi *ops* mudah2han kakek bs bwt RS, atau kei yg bwt RS, nanti kakek yg ngurusnya *hope* amiiinn…

    semangat trus ya kek, moa tulisan kakek bermanfaat bwt semua org.
    terutama yg *duduk di kursi2 petinggi negara ini*

    ayoo kek, maju trus….. *tapi awas nabrak*

  8. 8 agustus02 April 17, 2009 pukul 9:44 am

    postingan-nya oke bgt Dok…kemaren saya bawa anak jatuh dan kepalanya berdarah ke klinik terdekat (di RSUD tentunya)rasanya ga rela liat peralatan jahit yg digunakan, seolah ga steril gitu…la wong biasanya klo sakit saya larinya ke rumkit swasta rujukan kantor…tapi alhamdulillah anak saya ga kenapa-napa (ga tetanus…hehehe…) memang sudah sepantasnya rakyat kecil juga mendapat layanan kesehatan yg memadai…duit dari rakyat ya kembalinya untuk rakyat juga.

    *saya link blognya ya Dok…tq*

  9. 9 cakmoki April 17, 2009 pukul 2:02 pm

    @ keishka:
    Bener kei, mestinya RS Pemerintah bisa lebih baik dari RS Swasta (kalo mau). Dokternya dipilih yg oke, perawatnya juga dipilih yg sabar, tapi juga selayaknya diberi jasa yg pantas …hehehe.
    Amiiinnn … 😀 Makasiii

    @ agustus02:
    Ini masukan bagus untuk semua RSUD di negri ini *ada yg baca ga ya…*
    Jujur saja, pengadaan peralatan sebenernya dianggarkan klas 1, tapi pada kenyaannya, boleh jadi dibelikan klas 4 ato 5. Dan bukan rahasia bahwa terlalu banyak pihak lain ikut campur (baca: mark up untuk bancakan duitnya). Hal ini diperkuat dengan fakta bahwa ada beberapa Direktur RSUD yg jadi bidikan KPK karena mark up pengadaan peralatan…. hehehe…parahhh.
    Makasih share-nya.
    Monggo nge-link kalo dianggap layak. *mana link nya?* 🙂

  10. 10 cK April 17, 2009 pukul 2:22 pm

    eh tapi benar juga. saya gak pernah tahu berapa biaya berobat ke dokter, sampai akhirnya menerima kuitansi… 😛

  11. 11 cakmoki April 17, 2009 pukul 10:25 pm

    @ cK:
    halah…sama aja, Bozzz… 😛

  12. 12 masjaliteng April 18, 2009 pukul 12:03 am

    ibuku pernah opname di RS, biayanya memang tertolong dengan ASKES, tapi sampe keluar dari RS tidak jelas penyakitnya Cak, padahal tes laboratnya banyak banget, apa karena pake ASKES ya?

  13. 13 agustus02 April 18, 2009 pukul 11:26 am

    makasih pak dokter…ini link blog saya

  14. 14 cakmoki April 18, 2009 pukul 2:05 pm

    @ masjaliteng:
    iya, itu salah satunya. Penggunaan sistem paket melalui pihak ketiga, pada umumnya gak optimal karena dokter tidak bisa leluasa memberikan pengobatan. sehingga pasien gak mendapatkan layanan sesuai harapan, dokterpun merasa terkekang … hehehe … keliatannya enak, ada yg bayar, tapiiiii … mana ada pihak ketiga yang gak cari untung ???

    @ agustus02:
    Makasih ya 🙂

  15. 15 nararya April 18, 2009 pukul 5:47 pm

    untungnya saya punya dokter keluarga, beliau ini “menangani” saya sejak saya “terlalu besar” untuk sowan ke dokter anak 😉

  16. 16 tukangkomentar April 18, 2009 pukul 8:32 pm

    Hallo Cak, lama nggak nongol nih, langsung ketemu topik yang dari dulu sampai kapanpun akan tetap aktual di Indonesia.
    Ini satu sisinya, Cak,bahwa kalau pasien masuk RS, sering dompetnya jadi rebutan. Salah satu aspeknya yang tragis ialah banyak dari dompet-dompet tersebut isinya sedikit atau lumayan banyak, sedang yang isinya buanyak banget, dijadikan rebutannya di negara lain.
    Sisi lain ialah bahwa sering terjadi, pasien “dikangkangi” oleh seorang dokter (biasanya dokter ahli, karena takut, kalau isi dompet yang nggak berlimpah-limpah itu harus dibagi dengan dokter lain.
    Saya Maret y.l. ke Indonesia, dan ada satu teman yang mengeluh: Kalau kami sakit, sering mati hidupnya itu bukan berada di tangan Tuhan. tetapi di tangan dokter yang menangani. Karena dokter itu jarang mau konsultasi dengan dokter lain.

  17. 17 dokterearekcilik April 18, 2009 pukul 11:38 pm

    Jadi inget pas ada salah satu RS Singapura presentasi di Surabaya menawarkan jasa yg belum ada di indonesia, begitu ditanya masalah harga ada petugasnya ssendiri. petugas itu langsung memerinci kemungkinanan biaya yg akan dikeluarkan pasien lengkap dengan kemungkinan pengeluaran tambahan dan cara mencicil. Saya langsung membayangkan di RSU kalo ada orang tanya tentang biaya dokternya gak bisa jawab, tanya petugas administrasi juga gak bisa jawab… sambil berharapa kapan kita bisa kayak gitu 😕

  18. 18 cakmoki April 19, 2009 pukul 12:18 am

    @ nararya:
    hahaha … beliau yang Prof itu kan ???
    Supaya gak nampak terlalu besar, saat sowan beliau baiknya sambil bawa boneka 😀

    @ tukangkomentar:
    Halo … lama tak jumpa, rupanya sempet mudik ke Indonesia 🙂
    Sekarang dah denger sendiri ya… hehehe, itulah benang kusut RSUD di negeri tercinta ini. Faktor internal, faktor eksternal dan mbuh faktor apa lagi sehingga carut marut ini seolah datang silih berganti. Ada yg udah bagus, eh…begitu ganti nahkoda, menjadi morat-marit lagi.
    Tapi saya tetap optimis *menghibur diri* 🙂

    @ dokterearekcilik:
    Jadi teringat juga tempo hari ada RS Singapura nawarkan macam-macam layanan medis dengan label “berkualitas dan terjangkau”. Walau kalimat tersebut ternyata mahal, tapi banyak yang senang berkat kelugasan bagian marketing menyampaikan presentasi.
    Kita ??? Lha wong kenaikan pangkat aja masih ngurus sendiri … hahaha.

  19. 19 frida April 19, 2009 pukul 5:48 pm

    he..he…bagus juga tulisannya cak.Saya sbg orang awam juga sering merasa ‘dirampok’ sama RS.Sering disuruh pemeriksaan ini itu pdhl kyknya ga penting bgt.Apalagi bagi saya yg kalo sakit ga ada yg bayarin,wah kerasa banget…belum lagi kalau rawat inap kita ambil yg kelas III,kayaknya kok ga dihargai ya.Padahal kalo kita di kelas I mereka juga bisa senyum ramah dan melayani dengan maksimal lho.Emang banyak ya cak perbedaan fee yg didpt oleh para pelayan kesehatan berdasarkan kelas pasien?Masalah obat jg gitu,kenapa mereka ksh yg mahal kalo ada yg murah dengan komposisi sama?Ya memang ada kepentingan beberapa pihak ya cak..tapi kok yo kadang cek nemene…sori jadi curhat cak…

  20. 20 cakmoki April 19, 2009 pukul 11:28 pm

    @ frida:
    he..he..he… moga pengalaman ini dijadikan pelajaran untuk perbaikan pelayanan oleh yang mbaurekso RSUD.
    Tentang jasa visit (kunjungan dokter untuk meriksa pasien0 emang ada perbedaan antara klas III dan klas di atasnya, tapi mestinya bukan halangan untuk memebikan layanan yang sama dan senyuman.
    Menurut saya, hal-hal seperti ini tidak boleh terjadi. Pihak manajemen selayaknya membicarakan masalah jasa visit dengan para dokter dan paramedis sehingga mendapatkan reward yang layak. Dengan semikian layanan diharapkan juga makin baik. Lha kalo hanya 3000 perak, doh… pengabdian sih tetep pengabdian, lha 3 ribu untuk nraktir teh aja tekor… hahaha …

    Tentang obat udah pernah saya tulis. Kenapa ngasih (baca: mengahruskan) obat mahal kalo ada yg murah? Konon, ada “berkat” di area tersebut … hihihi, parah juga ya…
    Gak papa… kita curhat bareng-bareng supaya gayeng …
    Maturnuwun telah berbagi 🙂

  21. 21 Andri Journal April 20, 2009 pukul 1:27 pm

    Dok, numpang lewat ya? Soale di sini gak ada SB. 🙂

    Kalau ada waktu silakan mampir ke blog ya dok. Ada request masalah online shopping di sana. Terima kasih. 🙂

    Salam.

  22. 22 cakmoki April 20, 2009 pukul 10:41 pm

    @ Andri Journal:
    Ok, nanti malam ronda ke sana 🙂

  23. 23 sibermedik April 26, 2009 pukul 7:26 pm

    waduh cak..kok sekarang rumah sakit jadi hotel+plaza ya?

  24. 24 cakmoki April 27, 2009 pukul 2:03 pm

    @ sibermedik:
    gapapa, bagus untuk yang berdompet tebal daripada disumbangkan ke singapura … hehehe …

  25. 25 frida April 27, 2009 pukul 9:46 pm

    Iya cak masalah reward paramedis memang kyknya harus dibicarakan lagi.Saya jg nyadarin sih kalo kesejahteraan minim mana bisa dipaksakan senyum ato bermanis-manis he..he…dan masalah bancakan di area obat itu emang bener bgt.Kebetulan saya dulu kerja di perusahaan farmasi nasional yg besar.Dan,memang ada’perjanjian terselubung’antara dokter dan perush.Tp koyoke cak moki gak termasuk kok :)..wes cak mugo2 mene2 njenengan dadi mentri kesehatan,tapi ingat2!!mengabdilah untuk rakyat..jangan mengabdi pada yang memberi sogokan he..he…

  26. 26 cakmoki April 28, 2009 pukul 4:51 am

    @ frida:
    Maturnuwun sharingnya 🙂 “perjanjian terselubung” berarti ada yang dibungkus gitu ya ? … hahaha … Jangan kahawtir, insya Allah sy gak termasuk 🙂
    Sy jadi menteri-ne wong sak omah aja, enak.. sogokane sego goreng … hehe

  27. 27 diabetic signs Mei 5, 2009 pukul 3:58 pm

    benar…..fakta diatas memang sering saya jumpai di rumah sakit, dibalik semua itu sangat komplek……karena banyak kepentingan yang saling berbenturan…..pasien…dokter…pengelola rumah sakit, jadi bingung nich

  28. 28 cakmoki Mei 6, 2009 pukul 5:21 pm

    @ diabetic signs:
    Ga usah bingung, jalan lurus aja, supaya ga nabrak-nabrak … hehehe … makasih kunjunganya 🙂

  29. 29 gedubrak Juni 4, 2009 pukul 12:35 am

    Di dekat rumah, ada rumah sakit swasta dan di depan rs nya ada iklan besar=besar, discount kamar up to 30%.
    ayo rame-rame pada sakit… mumpung ada discount. 🙂
    Kalau ada kesempatan nanti akan saya foto iklannya.

  30. 30 Toni Tegar Sahidi Juni 4, 2009 pukul 4:15 am

    makasih infonya.. saya jadi teringat, ketika saya (yang sampai sekarang) sakit.. di RS Swasta di Kota Malang. Oleh dokter spesialis disana tanpa banyak ditanya or diagnosis (karena ini kunjungan pertama), saya disuruh untuk test lab (ritual seperti yang ditulis cakmoki), biayanya tak murah, itu makan sekeluarga satu pekan. Tapi yah namanya orang cari sehat, mau gimana lagi…

    Tapi kemudian untung saya punya kenalan dokter di Malang. Oleh teman saya, dibilang, jangan ke RS Swasta, modus operandinya mang biasanya kayak gitu, bisa-bisa over spend money ntar, dirujuk ke bedah syaraf, dll.. Waduh… Oleh beliau akhirnya saya disarankan ke RS Saiful Anwar Malang, antre dan pelayannya mang payah, tapi dokternya insya Allah kompeten.

    Dan memang kompeten, saya di cek macam-macam, di diagnosis macam-macam kemudian dijelaskan banyak hal (dan tidak saya temukan ini di RS swasta sebelumnya). Hingga akhirnya dibilang bahwa penyakit saya bukan seperti yang dibilang dokter sebelumnya (sebelumnya dibilang vertigo, kali ini dibilang Pseudo Vertigo). Kali ini saya puas… 🙂

    tapi ketika menebus obat.. duh lagi-lagi.. Susah jadi orang sakit.. harga obatnya lebih mahal daripada Biaya Test Labnya. hehehe..

    Just Sharing aja.. thanks cakmoki… Moga dunia medis kita makin berbenah.. 🙂

  31. 31 cakmoki Juni 4, 2009 pukul 6:55 pm

    @ gedubrak:
    Hehehe … saya tunggu fotonya 😀
    Makasih

    @ Toni Tegar Sahidi:
    Makasih share-nya 🙂
    Walaupun sy orang medis, kadang brasa serem saat masuk RSUD di kota lain yg gak kenal siapapun di tempat tersebut.

    Sedikit tanggapan untuk vertigo, sebenernya sama aja maknanya manakala dokter menyebut: psudo vertigo, dizziness, vestibular syndrome, gangguan keseimbangan, dll. Penamaan tersebut merujuk pada fakta bahwa vertigo atau dengan nama apapun disebutkan, merupakan suatu syndroma atau keluhan dengan banyak faktor pencetus dan penyebab yg belum diketahui dengan pasti. Obatnyapun sama, bersifat simptomatis, yakni meredakan keluhan, gak akan jauh dari: cinnarizine, betahistine, dymenhydrinate dan varian-variannya dengan pelbagai merk dagang yg acapkali harganya selangit … 😀 … Beda jika nyata-nyata diketahui penyebab pasti timbulnya kaluhan tersebut, dimana pengobatannya diarahkan pada eliminasi penyebabnya (etiologis) dan juga sekaligus mengurangi keluhan (simptomatis).

    Sejatinya ilmu kedokteran sama dengan yg lain, yakni bersifat dinamis dan terbuka. Hanya saja, entah kenapa di negeri kita sebagian teman sejawat masih enggan memberikan penjelasan yg mudah dicerna … boleh jadi kesulitan menerapkan dalam bhs indonesia, boleh jadi sebab lain … 🙂

    Menurut saya, masukan dari bidang lain sangat diperlukan untuk perbaikan kualitas layanan medis… semoga !!!

    Makasih supportnya 🙂

  32. 32 lagilonian Juni 4, 2009 pukul 8:35 pm

    Bagaimana nih Bu Menkes Bu Dr. Siti Fadilah Supari? Jangan keterusan jadi selebritis terus di acara B4M Metro TV…pikiran juga yg beginian… ntar gak kepakai lagi loh jadi Menkes…

  33. 33 cakmoki Juni 6, 2009 pukul 5:20 pm

    @ lagilonian:
    🙂 kita tunggu …

  34. 34 Tiniz Juni 8, 2009 pukul 10:09 pm

    Cak Moki, nyuwun sewu aku link ya….

  35. 35 cakmoki Juni 9, 2009 pukul 5:55 pm

    @ Tiniz:
    Monggo …. jangan lupa link baliknya yaaa 🙂


  1. 1 Royokan Dompet Pasien Lacak balik pada April 16, 2009 pukul 12:33 am
  2. 2 Royokan Dompet Pasien « Anita’s Blog Lacak balik pada Mei 22, 2009 pukul 6:11 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Wong ndeso ™

cakmoki

Wordpress Indonesia

Silahkan baca

DISCLAIMER

web tracker

9 Desember 2009

SEMENTARA TUTUP

Maaf, sementara Blog istirahat hingga ada pemberitahuan

Harap maklum


MARI HENTIKAN KORUPSI

Jangan Korupsi Ah

No Korupsi

Internet Sehat

Warga Bicara

» Makasih PLN, listrik Samarinda dah membaik, moga gak byar-pet

» Waspada Demam Berdarah

» Jangan Gunduli Palaran

» Banjir...banjir. Kapan masalah ini teratasi ?

INGA INGA INGA

» Nyeri Urat or Tulang BUKAN berarti Penyakit Asam Urat.

» Sekali lagi: Pegal, Linu Tidak Identik dengan Penyakit Asam Urat

TEMANs

9racehime | A. Fatih Syuhud | Aditiawan Chandra | A.Tajib | Agung UD | aLe | alief | alle | almascatie | Amd | Anak Peri | Anak Sultan | Anang | Anang YP | Anas | Andalas | Anggara | Anjaz | Anti Pungli | Antobilang | Anung87 | Aribowo | Arif Kurniawan | Arul | Astikirna | awan965 | axireaxi | Bambang alias HR | BatakNews | Blog Pokoke? | Biho | CalonOrangTenar | Cay | Chandra | Chielicious | chiw imudz | cK-chika | Dalamhati | Deden Nugraha | deedhoet | deKing | Desti Utami | Didats | doeytea | dnial | Edy C | Eep | Elpalimbani | erander | Evi | Fa | Fa wp | Faiq | Fertobhades | Fetro | Fortynine | Freddy | Gadis | Gaussac | Gitablu | Grandiosa | GuhPraset | GuM | Helgeduelbek | Herdy | Indonesia Kita | Indra KH | ItikKecil | iway | Jejakpena | Jennie S. Bev | Joesath | Joko Taroeb | Julee | Juli | Juliach | Junthit | Jurig | Kakilangit | Kang Adhi | Kang Kombor | Kangguru | kawaichu | Kenji | Kenzt | kikie | koecing | Kumala | Kurtubi | Kw | Laras | liezmaya | Lilik Suryanto | Lily | Linker | Lintang | Lita | Lita wp | Luthfi | MaIDeN | Majalah Dewa Dewi | Manusiasuper | Master Li | Mathematicse | macanang | mbojo | Mei | Micokelana | Mr. Geddoe | Mufti | mybenjeng | My-za | Nayla Zahra | Nayz | Ndarualqaz | Neeya | Neo Forty-Nine | Neri | Ninoy | Nieke | Nomercy | n0vri | NuDe | Om Sulis | omaigat | Ooyi | Paijo | Panca | Pandu | Panduan WP | Papabonbon | Passya | Peyek | Pinkina | Pitik | Pralangga | Prayogo | Priyadi | Qee | Raja iblis | RenjanaBiru | rivafauziah | Rivermaya | Roffi | roisZ | Rujak | Sagung | Sahrudin | Saiful Adi | SaRa | Siu | Sofi | Sora9n | Suandana | Suluh | Susiloharjo | Telmark | Thamrin | tiesmin | Triesti | Tukang Sate | Venus | Wadehel | Wahyuansyah | Wandira | Wiku | WongMangli | Wulan | Yati | Yudhipras |

:: :: :: :: :: :: :: :: ::

Kesehatan

:: Ady Wirawan :: Agus Mutamakin :: Anis Fuad :: Anis Fuad wp :: Asri Tadda :: Astri Pramarini :: Astri Pramarini (awal) :: Astri Pramarini wp :: Blog Mahasiswa FKU 2003 :: Blog Rumah Kanker :: Dani Iswara :: Dani Iswara weblog :: Dokter arek cilik :: drAnak :: drarifianto :: Dwi wp :: Elyas :: Erik Tapan :: Evy HealhtySmile :: FK Unsri :: Gies :: Gies wp :: Ginna :: Grapz :: Hendar Sunandar :: HIV News :: Huda Thoriq :: IDI Samarinda :: imcw :: Imran Nito :: Iwan Handoko :: Jhonrido :: klikharry :: Kobal :: Laksmi Nawasasi :: Mashuri :: Mave Mina :: Mbah Dipo :: Mina :: My Blogspot :: Nur Martono :: PKM Palaran :: Rara :: Rizma Adlia :: Rudy Kwang :: SenyumSehat :: Sibermedik :: SimkesUGM :: SuperKecil :: Titah :: Tito :: Tonang Ardyanto :: Tukangkomentar :: Wi :: Vina Revi :: Vina Multiply :: Yusuf Alam R :: zulharman79 ::

:: :: :: :: :: :: :: :: :: :: ::

Institusi Kesehatan

:: Depkes RI :: WHO :: WHO Indonesia :: … nyusul

:: :: :: :: :: :: :: :: ::

Kolaborasi

:: Emedicine :: ICD 10 Wikipedia :: ICD 10 Wiki Indonesia :: OSWD :: OpenWebDesign :: Pakistan Times :: Rubab :: ntar ::

Kategori

BlogTour

Arsip

Komunitas Blog

blog-indonesia.com

PAGE RANK

Powered by  MyPagerank.Net

Add to Technorati Favorites

[Valid RSS]

Health Blogs - Blog Top Sites

Health

Blogs Topsites - TOP.ORG

Health Blogs - Blog Rankings

Blog directory

TopOfBlogs

Top 10 Award

Feed Burner

cakmoki Blog

Bloggerian Top Hits

My BlogCatalog BlogRank

Site Meter

Since 30 Nov 07

PENGUNJUNG

  • 5,354,783 pengintip

Asal Usul

Pebruari 2011

free counters


%d blogger menyukai ini: