Pemahaman Kesehatan di Desa

Layaknya lagu wajib, hampir setiap kajian atau laporan kesehatan yang melibatkan masyarakat, insidental ataupun tahunan, menempatkan peran serta dan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan, sebagai salah satu biang kurangnya pencapaian (realisasi) suatu program. Terlebih jika menyangkut masyarakat pedesaan. Biasanya ditulis gini:

HAMBATAN ( KENDALA ):

  • Biaya kurang … *kurang berapa sih … sambil merogoh kantong* 😛
  • Bla … bla … bla …
  • Kurangnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan.
  • Kurangnya peran serta masyarakat.

Benarkah demikian ?

Pertanyaan di atas harus dijawab dengan jujur, seksama dan dalam tempo sesingkat-singkatnya. 🙄

Pertama, mari menilai kinerja internal tim (di semua tingkat institusi kesehatan). Dengan kata lain, kita coba menilai diri sendiri menggunakan pertanyaan (daftar tilik) sederhana.

  1. Berapa kali memberikan informasi kesehatan kepada satu kelompok masyarakat dalam setahun ? (atau dalam kurun waktu tertentu)
  2. Media (dinamis) apa yang digunakan ? (mulutan *pake mulut doang*, peraga gambar, audio visual, dll).
  3. Ditunjang media statis atau tidak ? (brosur, leaflet, poster, dll)

Setidaknya kita wajib menjawab 3 pertanyaan di atas. Ini belum termasuk metode penyampaian informasi (satu arah atau interaktif), kesinambungan, bahasa dan kualitas penyampai informasi.

Seandainya penyuluhan hanya 1-2 kali dalam setahun di kelompok yang sama, mustahil mengharapkan pemahaman masyarakat yang optimal, apalagi peran serta. Lha iya, wong pemahaman terhadap  satu persoalan (penyakit atau lainnya) diperlukan penyampaian informasi berulang, interaktif dan kostruktif. Kalau begitu yang terjadui, penulisan pemahaman kesehatan ataupun peran serta masyarakat sebagai faktor penghambat, patut dipertanyakan kebenarannya. Mungkin lebih tepat jika ditulis kurangnya frekuensi penyampaian informasi oleh tenaga kesehatan sebagai faktor penghambat.

Di sisi lain, penyampaian informasi tidak cukup dengan penyuluhan dengan mengumpulkan stakeholder, Lurah, RT, RW, Kader, wa ‘ala alihi wa shohbihi aj’main, tapi diperlukan media informal lain sebagai sarana penyampaian informasi, misalnya kluyuran sore hari (bagi dokter, sebelum praktek tentunya). Kayak caleg cari dukungan itu lho … *halah*

Kalau kita maksa menulis seperti di atas sementara petugas kesehatan hanya penyuluhan 1-2 kali dalam setahun, lantas masyakat menjawab: “ lha sampeyan jarang ngasih tahu kami sih ..”. Mau dijawab apa coba.

Tenang, tak perlu gusar, penulis dulu juga pernah sekali duakali begitu. hehehe… ini rahasia, jangan ngomong-ngomong. Tak ada kata terlambat untuk memperbaiki.

Atas dasar gambaran singkat di atas itulah, kita bisa memahami mengapa sebuah institusi kesehatan (misalnya Puskesmas) yang menampilkan SPM (Standar Pelayanan Minimal) Bidang Kesehatan nan aduhai, tapi kenyataan di lapangan, masyarakatnya gak pinter-pinter. Memang banyak faktor yang mempengaruhi, namun penilaian obyektif terhadap suatu masalah kesehatan merupakan sikap bijaksana. Dengan demikian langkah-langkah untuk memperbaikinya lebih jelas, terarah dan tepat sasaran, sehingga gak buang-buang biaya.

Kedua, mari kita menakar kewajiban penyelenggara pemerintahan dalam memenuhi infra struktur kesehatan.

Suatu hari, serombongan pejabat daerah datang ke Puskesmas Rawat Inap ketika terjadi lonjakan diare. Seorang pejabat kesehatan daerah menghampiri ibu yang sedang menunggui anaknya sembari berujar: “ … Bu, jangan lupa cuci tangan yaaaa … “. Kontan wajah si ibu merona. Si pejabat kesehatan daerah gak salah sih, tapi ngenyek banget … mbok gak usah gitu. Bukan saat yang tepat untuk memberi nasehat, yang diperlukan si ibu penderita tersebut adalah support, syukur kalo nyangoni … hehehe.

Kenyataanya, daerah si ibu penderita tersebut gak ada sarana air bersih. Mereka harus antri hingga jam 2 dini hari hanya untuk mendapatkan air minum di sumber air kecil. Tuh kan … Mestinya, pejabat kesehatan daerah berkata kepada pejabat pemerintah daerah: “ … Bos, tolong penuhi sarana air bersih di daerah ibu ini ya … “. (dalam hati: kan saat Pilkada berjanji meningkatkan derajat kesehatan, kapan dong..kapan… kapan? …). Walah, paling gak berani membela rakyat, mending ngebelain jabatan. Maaf.

Si ibu penderita yang sedang menunggui anaknya diinfus karena kekurangan cairan (dehidrasi) dan masyarakat di daerah tersebut sesungguhnya sangat paham bahwa kebersihan dapat mencegah melonjaknya diare. Namun apa daya, mereka hanya mengandalkan curahan hujan dan mata air. Ketika musim kering tiba, mereka harus berebut untuk sekedar mendapatkan air minum.

Sungguh, hal-hal kecil terkait pemahaman kesehatan masyarakat, terlebih di pedesaan nan jauh dari akses informasi, kadang terlupakan.

Menurut penulis, tanpa menafikan variabel lain, sumber informasi, dalam hal ini dokter dan jajarannya, memegang peran penting terhadap kelangsungan pemahaman kesehatan bagi masyarakat.

Pendek kata, yang memiliki ilmu sudah selayaknya mengamalkan ilmunya kepada masyarakat sekelilingnya secara berkesinambungan.

Dan yang lebih penting, pemerintah daerah hendaknya benar-benar memenuhi kebutuhan dasar dan infra struktur kesehatan. *ah, infra struktur kesehatn gak menarik kali ya, enakan ngurusi mega proyek, konon 10 % euy*

Silahkan berbagi. 🙂

:: :: :: posting menggunakan WLW :: :: ::

Iklan

33 Responses to “Pemahaman Kesehatan di Desa”


  1. 1 Puskesmas Mojoagung April 11, 2009 pukul 1:26 am

    Setuju, dilematis ya…..kalau masalah itu sih ya rata se Indonesia. Jangankan yang didesa, di Mojagung yang setengah desa setengah kota aja masih menghadapi hal seperti itu, apalagi yang masih dipedalaman.
    Tapi ada lho ide yang menarik dari PKM Cukir ( ya di Kab. Jombang juga), mereka membuat CLTS (Community Lead Total Sanitatian) atau dalam bahasa Indonesia terjemahannya lebih kurang Sanitasi Total Yang Dipimpin Oleh Masyarakat adalah sebuah pendekatan dalam pembangunan sanitasi. bisa dilihat disini :
    http://clts-stop.blogspot.com/2009/03/desa-bulurejo_31.html
    sampai arisan jamban segala dan pemenangnya difoto telanjang dada 😀 .Kalau di Jombang ada juga program GERTAK MAS BERLIAN.
    Lha ini diMojoagung ada rencana mau meningkatkan Promkes lewat blog, jadi para masyarakat diberi pelatihan buka internet biar bisa belajar dan mencari info tentang kesehatan. Kalau dokternya hanya sempat turun ke masyarakat kalau pas ada penyuluhan saja ya bagaimana kalau dibalik, masyarakat yang mencari ilmu lewat tulisan dokternya yang di blog Puskesmas. Bagaimana ???? ada yang tidak terima ??? 😀

  2. 2 limpo50 April 11, 2009 pukul 11:03 am

    Astaga… saya paling sepaham…dan seolah apa yang ada dibenak ku ini ditumpahkan keluar oleh Pak Dokter kita ini. Kini perasaan sudah segaaar…yang mengganjel sudah keluaaaaar.
    Inilah Pak…kita melihat semur diujung gunung, Badak di depan mata MONDAR-MANDIR.
    Salam

  3. 3 cakmoki April 12, 2009 pukul 12:06 am

    @ Puskesmas mojoagung:
    iya emang … tapin yang penting kita terus mencari inovasi … hehehe.
    Yg mirip CLTS pernah jadi primadona di tempat kami, malah pake cetakan dari PU, entah kenapa gak dilanjutkan… hiks.

    …bagaimana kalau dibalik, masyarakat yang mencari ilmu lewat tulisan dokternya yang di blog Puskesmas…

    Udah kita mulai kan … 😀
    lha yg beginian impian sejak dulu je… masa ada yang protes. Kita menghasut mengajak temen-2 puskesmas ataupun personal TS untuk nulis via Blog, yuk… 😀

    @ limpo50:
    hahaha, yang mengganjal apanya, Pak ?
    ini semacam pengakuan kekurangan kami (khusunya saya) dalam menyebar luaskan sedikit titipan pengetahuan 🙂
    Makasih supportnya, Pak … sy tambah semangat nih 😀
    Salam

  4. 4 almascatie April 12, 2009 pukul 2:49 am

    yang memiliki ilmu sudah selayaknya mengamalkan ilmunya kepada masyarakat sekelilingnya secara berkesinambungan.

    sepakat cak.. bukannya membagi ilmu malah tidak mengurangi ilmu itu kan cak?

  5. 5 cakmoki April 12, 2009 pukul 4:12 pm

    @ almascatie:
    bener Om Boy … katanya, dengan membagi, ilmu makin tersebar dan makin bertambah. Justru kalo ilmu dikantongi, akan membusuk…hahahaha.
    Makasih diingetkan 🙂

  6. 6 keishka April 13, 2009 pukul 12:59 pm

    wow.. kakek, curhat… kasian juga ya, kadang dikota2 besar aja masih ada ko yg kya gt, contoh dirumah kei.. PDAM, tetep susah airnya… keluar di waktu2 tertentu, tapi pembayaran harus lancar, padahal semua org bth air bersih… untung ada toren.. 😀 kalau engga gt, ga bs nimbun 😛 * ditangkep ga nimbun air di rumah??*

  7. 7 cakmoki April 13, 2009 pukul 4:38 pm

    @ keishka:
    hehehe… emangnya ini keliatan kayak curhat ya ?
    toren tuh apaan kei?

  8. 8 keishka April 13, 2009 pukul 7:04 pm

    hihihi, engga juga sih.. lebih tepatnya kaya kakek sedang menyampaikan apa yg “ingin” org lain smpeikan 😀

    toren itu.. yg ada di rumah2 (eh engga semua rumah dink, sebagian rumah yg ingin menimbun air) yg wrnanya orange.. tus udh gt, bntunya bulat besar, mirip kaya gentong. hihihi.. apa serupa sm tangki air ya… gt deh kek, disini namanya toren. engga tau deh kalo kakek ngasih nama apa.. hohoho..

  9. 9 cakmoki April 13, 2009 pukul 11:22 pm

    @ keishka:
    hehehe 🙂
    oh, toren yg itu yaaaa … kakek punya, namanya tangki, gak tahu nama sebenernya, yg penting untuk nampung air.

  10. 10 Inong April 14, 2009 pukul 12:04 pm

    Kok Cakmoki dipanggil kakek sih?? Perasaan masih awet muda ngguantengg gtu dari fotonya.. Huehehehe.. :p

    Perkenankan untuk menanggapi, terutama yang dimaksud “Biaya kurang…”

    Soalnya mereka itu kan tolak ukur pemikirannya anggaran, dan tarif biayanya..
    Segala sesuatu mesti ada anggarannya, klo gak ada ya gak usah dibikin, ogah amat nguras kantong sendiri, enakan nguras kantong yang lain, hehehe.. :p
    Klopun ada anggarannya, kan sudah ada peruntukannya beserta tarifnya.. lha klo berdasarkan tarif, anggarannya cuma cukup buat bikin 5 biji (meskipun rillnya masih lebih, masih ada ‘bonus’ buat sendiri.. :p), ngapain bikin 6 biji.. :p

    Yah begitu2 lah Cak, kayanya terjadi di segala hal deh.. :p
    Ujung2nya disalahin deh biaya kurang itu.. ;p (ya memang di atas kertas kurang sih, yang di bawah kertas ya gak tau deh.. :p)

  11. 11 masjaliteng April 14, 2009 pukul 9:58 pm

    salut Cak Moki atas artikelnya, soalnya masih ada tenaga kesehatan lainnya yang cuma mikirin lahan basah pribadinya, sampai mau alih profesi dalam satu bidang…

  12. 12 cakmoki April 14, 2009 pukul 10:58 pm

    @ Inong:
    itu mah, foto jadul, 30 tahun yang lalu kalee … enak dipanggil kakek, brarti awet tua … hahaha

    Saya tertarik dengan “ya memang di atas kertas kurang sih, yang di bawah kertas ya gak tau deh
    Andai semuanya serba riil, mungkin negara kita masuk jajaran negara maju, bukan lagi negara berkembang *moga begitu*. Parahnya, sesuatu yang gak perlu anggaran, abakadabra …. jadilah anggaran aduhai, dan habis.
    Trims tanggapannya. 🙂

    @ masjaliteng:
    Ini hanya ajakan koq Mas, khususnya untuk temen-temen di garis depan, dan terutama sebagai pengingat untuk diri sendiri … hehehe. Maturnuwun.

  13. 13 puskemascukir April 15, 2009 pukul 10:29 am

    Keren banget N mengena, memang kadang kita terlena dengan pelayanan yang ada di dalam gedung, pdahal fungsi pusk. kan mencakup UKM dan UKP. klo di Pusk cukir sudah mulai mengembngkan progrm trsebut dengan CLTS-SToPS dan GERTAK MAS BERLIAN (Jum’at Bersih), POSKESTREN dll… Malahan tadi “malam” Kepala Pusk malah-an memberi penyuluhan CLTS (ini bocoran, cz blm sempat tulis artikelnya…he.he.he.)….. Mari kita sama2 tingkatkan UKM… Salam sukses… 😀

  14. 14 cakmoki April 15, 2009 pukul 12:04 pm

    @ puskesmascukir:
    Sy udah baca program pkm cukir, siiip 🙂
    Makasih bocorannya … ntar saya intip.
    Sy paling seneng kluyuran sore ke pengajian, seminggu sekali, sarungan *isis, praktis dan demokratis*, gak pake dana, dapet jajan dan berkat … hahaha.
    Maju terus puskesmas cukir, moga sukses 🙂

  15. 15 triesti April 17, 2009 pukul 2:14 pm

    susahnya, ada juga faktor kebiasaan. Biasa di kali, biar punya WC sendiri pun, akhirnya yang pakai cuma tamu, sama kalau terpaksa. Malah saya ketemu ada yg benar2 tidak mau bikin WC, katanya ngapain, di kebon kalau kepepet juga bisa. jawaban yg bikin saya ngga jadi minum deh… takut kebelet.

    Tapi betul banget.. di pelosok, kurang sarana air bersih. masih banyak yg musim kering cari air sulit.. kadang harus cari di rawa, kalau dekat rawa. padahal bisa dong, dibuat sumur bor pemerintah tiap desa 1.

    dulu PKK bisa membantu gerakan penyuluhan.. tapi sekarang PKK melempem.. kalaupun ada kegiatan cuma ngaji aja.

  16. 16 cakmoki April 17, 2009 pukul 10:23 pm

    @ triesti:
    iya, sy sependapat. Di sini, beberapa warga yg tinggal di rumah panggung di tepian sungai Mahakam, sebagian besar udah pake wc yg langsung mengarah ke sungai. Tapi di daratan, masih ada yg lebih nyaman jongkok di kali kecil dan rumpun pepohonan walaupun udah dikasih bantuan wc cetakan. Guyonannya, mungkin terlalu bagus dan mengkilat sehingga merasa sayang untuk buang air besar. Atau, mungkin merasa nyaman jongkok di kali sambil menikamti desir sngin dan suara gemericik air .. hehehe.
    Makasih tambahannya, mbak.
    Moga “sumur bor” dan “PKK” didenger oleh yang mbahurekso untuk ditindak lanjuti. 🙂

  17. 17 wita April 19, 2009 pukul 5:04 pm

    cak pembahasan tentang nutrisi pada geriatri ada gak cak?

  18. 18 wita April 19, 2009 pukul 5:09 pm

    ada buku bagus tentang yang sy cari nutrition and stroke tp gratis cak

  19. 19 cakmoki April 19, 2009 pukul 11:18 pm

    @ wita:
    udah ketemu Mbak ?

  20. 20 Shinta April 20, 2009 pukul 10:55 am

    sekitar WC cetakannya… mesti ditanami rumpun pepohonan cak… jd tetap serasa di kebun, kalo perlu kasih air mancur..biar gemericik airnya terdengar hehehe… 🙂

  21. 21 cakmoki April 20, 2009 pukul 10:16 pm

    @ Shinta:
    wah, ide brilian 😉 … sekalian nyetel MP3 player, lagu india, sambil goyang, asyik boooo

  22. 22 Solo Life April 23, 2009 pukul 3:53 pm

    Wong ndeso memang ngono, pemerintahan yo ngono. Lha terus piye arep dikapak’e. Salam

  23. 23 Puskesmas Mojoagung April 23, 2009 pukul 10:44 pm

    To: Solo Life
    Kok pasrah gitu ya …. emang orang desa gak bisa keren 😛
    Mungkin cara pandangnya beda dengan saya yang selalu mengajak meskipun didesa biar tetap keren dan gak gaptek gitu loh 😀

  24. 24 cakmoki April 24, 2009 pukul 2:40 am

    @ Solo Life:
    Dikapak’e ? … Diajari ben tambah pinter. Dan itu sudah berjalan sejak puluhan tahun yang lalu … hehehe. Salam

    @ Puskesmas Mojoagung:
    Kayaknya kita-kita didapuk untuk ngajakin wong ndeso supaya gak gaptek … resikonya, kita harus belajar *terutama saya*. Adapun nantinya yang diajak lebih keren dari yang ngajak, berarti udah sukses menghasut … hahaha 🙂

  25. 25 Hyangwidjaya Agustus 26, 2009 pukul 3:06 am

    percuma banyak ngomong, di negara yang rakyatnya berduit aja ga bayar, harusnya di Indonesia kalau berobat juga di kasih vitamin, itu mah kewajiban negara kepada rakyatnya.

  26. 26 cakmoki Agustus 26, 2009 pukul 4:30 am

    @ Hyangwidjaya:
    Silahkan baca lagi.. pelan-2 dan teliti 🙂
    Emangnya di negara mana yang ga bayar … silahkan sebutkan

  27. 27 Puskesmas Mojoagung Agustus 31, 2009 pukul 11:11 pm

    @ Cak moki
    kaya’nya menghasut nya sudah mulai sukses nih, dengan blog aja Dinkes Jombang minggu kemaren sudah didatengin Men Pan.
    Memang yang benar itu menghasut ya apa promosi segala cara biar Puskesmase terkenal . Hehehehehe 😛

  28. 28 cakmoki September 1, 2009 pukul 1:14 pm

    @ Puskesmas Mojoagung:
    wah, selamat !!!
    Itu artinya temen-2 di Puskesmas Mojoagung ikut membuat Dinkes Jombang jadi terkenal. Moga Dinkes nya nyambung… 🙂
    Saya lebih suka menggunakan istilah “menghasut” untuk mengajak temen-2… hehehe… yang bener sih pake istilah promosi 😀

  29. 29 Puskesmas Mojoagung September 8, 2009 pukul 6:13 pm

    Sorry , ralat…ternyata Men Pan nya gak ikutan datang, yang datang cuman stafnya aja dalam rangka melihat kinerja para pegawai dan perkembangan didaerah. Tapi yang jelas Dinkes Jombang bangga kok punya Puskesmas Mojoagung. Bupatinya juga bangga, soale punya Puskesmas yang gak cuman melayani ” pusing – keseleo – masuk angin”
    :D. (Kapan2 mampir dong ke mojoagung buat nge buktikan, aku iki ngecap apa beneran ,<– Bakul kecap no.1)
    Sukses Juga deh Buat Cak Moki, moga moga tambah keren dan tambah laris aja

  30. 30 cakmoki September 9, 2009 pukul 12:41 am

    @ Puskesmas Mojoagung:
    Ga papa, yang penting staf nya laporan ke Menpan. Saya ikutan bangga koq 🙂
    Ntar kalo pas mudik akan saya usahakan nyempetin dolan ke Mojoagung, sekalian untuk bahan postingan…hahaha.
    Makasih supportnya..moga demikian pula sebaliknya.

  31. 31 Puskesmas Mojoagung September 12, 2009 pukul 12:43 am

    Wah ditunggu, ada orang besar mau berkunjung lagi nih…
    Monggo silakan mampir… 😀

  32. 32 Puskesmas Mojoagung September 12, 2009 pukul 12:48 am

    oh ya, konfirmasi via telpon dulu ya di 0321-495172. atau lewat email di puskesmas.mojoagung@gmail.com

  33. 33 cakmoki September 12, 2009 pukul 12:56 am

    @ Puskeams Mojoagung:
    Saya kecil mungil dan ndesit…hahahaha… insya Allah mampir kalo ada kesempatan.
    No Tilp dan email udah saved.
    Maturnuwun


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Wong ndeso ™

cakmoki

Wordpress Indonesia

Silahkan baca

DISCLAIMER

web tracker

9 Desember 2009

SEMENTARA TUTUP

Maaf, sementara Blog istirahat hingga ada pemberitahuan

Harap maklum


MARI HENTIKAN KORUPSI

Jangan Korupsi Ah

No Korupsi

Internet Sehat

Warga Bicara

» Makasih PLN, listrik Samarinda dah membaik, moga gak byar-pet

» Waspada Demam Berdarah

» Jangan Gunduli Palaran

» Banjir...banjir. Kapan masalah ini teratasi ?

INGA INGA INGA

» Nyeri Urat or Tulang BUKAN berarti Penyakit Asam Urat.

» Sekali lagi: Pegal, Linu Tidak Identik dengan Penyakit Asam Urat

TEMANs

9racehime | A. Fatih Syuhud | Aditiawan Chandra | A.Tajib | Agung UD | aLe | alief | alle | almascatie | Amd | Anak Peri | Anak Sultan | Anang | Anang YP | Anas | Andalas | Anggara | Anjaz | Anti Pungli | Antobilang | Anung87 | Aribowo | Arif Kurniawan | Arul | Astikirna | awan965 | axireaxi | Bambang alias HR | BatakNews | Blog Pokoke? | Biho | CalonOrangTenar | Cay | Chandra | Chielicious | chiw imudz | cK-chika | Dalamhati | Deden Nugraha | deedhoet | deKing | Desti Utami | Didats | doeytea | dnial | Edy C | Eep | Elpalimbani | erander | Evi | Fa | Fa wp | Faiq | Fertobhades | Fetro | Fortynine | Freddy | Gadis | Gaussac | Gitablu | Grandiosa | GuhPraset | GuM | Helgeduelbek | Herdy | Indonesia Kita | Indra KH | ItikKecil | iway | Jejakpena | Jennie S. Bev | Joesath | Joko Taroeb | Julee | Juli | Juliach | Junthit | Jurig | Kakilangit | Kang Adhi | Kang Kombor | Kangguru | kawaichu | Kenji | Kenzt | kikie | koecing | Kumala | Kurtubi | Kw | Laras | liezmaya | Lilik Suryanto | Lily | Linker | Lintang | Lita | Lita wp | Luthfi | MaIDeN | Majalah Dewa Dewi | Manusiasuper | Master Li | Mathematicse | macanang | mbojo | Mei | Micokelana | Mr. Geddoe | Mufti | mybenjeng | My-za | Nayla Zahra | Nayz | Ndarualqaz | Neeya | Neo Forty-Nine | Neri | Ninoy | Nieke | Nomercy | n0vri | NuDe | Om Sulis | omaigat | Ooyi | Paijo | Panca | Pandu | Panduan WP | Papabonbon | Passya | Peyek | Pinkina | Pitik | Pralangga | Prayogo | Priyadi | Qee | Raja iblis | RenjanaBiru | rivafauziah | Rivermaya | Roffi | roisZ | Rujak | Sagung | Sahrudin | Saiful Adi | SaRa | Siu | Sofi | Sora9n | Suandana | Suluh | Susiloharjo | Telmark | Thamrin | tiesmin | Triesti | Tukang Sate | Venus | Wadehel | Wahyuansyah | Wandira | Wiku | WongMangli | Wulan | Yati | Yudhipras |

:: :: :: :: :: :: :: :: ::

Kesehatan

:: Ady Wirawan :: Agus Mutamakin :: Anis Fuad :: Anis Fuad wp :: Asri Tadda :: Astri Pramarini :: Astri Pramarini (awal) :: Astri Pramarini wp :: Blog Mahasiswa FKU 2003 :: Blog Rumah Kanker :: Dani Iswara :: Dani Iswara weblog :: Dokter arek cilik :: drAnak :: drarifianto :: Dwi wp :: Elyas :: Erik Tapan :: Evy HealhtySmile :: FK Unsri :: Gies :: Gies wp :: Ginna :: Grapz :: Hendar Sunandar :: HIV News :: Huda Thoriq :: IDI Samarinda :: imcw :: Imran Nito :: Iwan Handoko :: Jhonrido :: klikharry :: Kobal :: Laksmi Nawasasi :: Mashuri :: Mave Mina :: Mbah Dipo :: Mina :: My Blogspot :: Nur Martono :: PKM Palaran :: Rara :: Rizma Adlia :: Rudy Kwang :: SenyumSehat :: Sibermedik :: SimkesUGM :: SuperKecil :: Titah :: Tito :: Tonang Ardyanto :: Tukangkomentar :: Wi :: Vina Revi :: Vina Multiply :: Yusuf Alam R :: zulharman79 ::

:: :: :: :: :: :: :: :: :: :: ::

Institusi Kesehatan

:: Depkes RI :: WHO :: WHO Indonesia :: … nyusul

:: :: :: :: :: :: :: :: ::

Kolaborasi

:: Emedicine :: ICD 10 Wikipedia :: ICD 10 Wiki Indonesia :: OSWD :: OpenWebDesign :: Pakistan Times :: Rubab :: ntar ::

Kategori

BlogTour

Arsip

Komunitas Blog

blog-indonesia.com

PAGE RANK

Powered by  MyPagerank.Net

Add to Technorati Favorites

[Valid RSS]

Health Blogs - Blog Top Sites

Health

Blogs Topsites - TOP.ORG

Health Blogs - Blog Rankings

Blog directory

TopOfBlogs

Top 10 Award

Feed Burner

cakmoki Blog

Bloggerian Top Hits

My BlogCatalog BlogRank

Site Meter

Since 30 Nov 07

PENGUNJUNG

  • 5,343,886 pengintip

Asal Usul

Pebruari 2011

free counters


%d blogger menyukai ini: