Dokter kok malah nanya

HAYO, NGRUMPI DOKTER YA

01_anamnesa Aneh, wong saya berobat supaya tahu penyakit yang saya derita dan dapet obat, eh dokternya kok malah nanya “sakit apa“, emange yang sakit siapa ? Kalimat ini, atau sejenisnya, boleh jadi terlontar dari seorang pasien manakala seorang dokter menanyakan seputar “penyakit” kepada pasiennya pada awal perjumpaan di ruang praktek ataupun di institusi pelayanan medis.

Kalimat di atas nampak sederhana, mungkin tidak berarti apapun. Mungkin serius atau mungkin sekedar olok-olok yang dicetuskan pasien dalam menanggapi “teknik bertanya” seorang dokter kepada pasien untuk menggali keluhan dan berbagai hal terkait dengan “penyakit” yang diderita pasien untuk kemudian mencocokkannya dengan rangkaian prosedur pemeriksaan sehingga seorang dokter dapat menegakkan diagnosa atau setidaknya menduga (suspect) diagnosa penyakit.

Perlu diketahui oleh khalayak bahwa untuk menegakkan diagnosa penyakit, seorang dokter akan melalukan wawancara (anamesa), pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang (Laboratorium, Rontgen, USG, MRI, IVP, CT-Scan, dll)jika dianggap perlu, sebagai dasar untuk menegakkan diagnosa penyakit.

ANAMNESA SEBAGAI GERBANG DIAGNOSA

Secara garis besar, anamnesa adalah riwayat penyakit yang disusun oleh dokter dari keterangan atau informasi atau keluhan yang diberikan oleh penderita secara sukarela dan dari keterangan yang diperoleh dengan melakukan wawancara atau komunikasi pada penderita atau keluarganya yang mengetahui benar-benar tentang kesehatan penderita.

Walaupun nampak sederhana, anamnesa boleh dikata sebagai gerbang menuju dignosa atau dugaan diagnosa penyakit setelah dikonfirmasi dan dilengkapi dengan pemeriksaan fisik. Sedangkan pemeriksaan penunjang (Lab…dll) yang buanyak banget jenisnya (bayarnya juga banyak) hanya dilakukan sebagai penunjang diagnostik atau dapat juga sebagai follow up untuk menilai keberhasilan pengobatan.Β  Kalo udah jelas penyakitnya dan tidak memerlukan follow up berkepanjangan, Lab gak perlulah … *ngabis-ngabisin duit aja* πŸ˜›

Nah, pada saat anamnesa inilah diperlukan teknik komunikasi bersahabat yang dilandasi dengan pengetahuan tentang penyakit, patofisiologi (perjalanan penyakit), insidens (angka kejadian), epidemiologi, dll …dll. Sehingga ketika pasien bertanya maka seorang dokter mampu memberikan penjelasan yang diperlukan pasien melalui bahasa sederhana yang mudah dipahami. *bukan malah bahasa planet nan mengerikan*

BAGAIMANA MEMULAI ANAMNESA ?

Kalo masih dalam pendidikan dokter ato saat ujian lisan, anamnesa harus urut. Lagu wajib anamnesa pada umumnya meliputi keluhan utama yang dilanjutkan dengan berapa lama (sejak kapan), … bla…bla …bla …dan keluhan lain yang menyertainya. Kalo gak gitu gak lulus kali … hehehe.

Di dalam praktek sehari-hari, teknik anamnesa tidak selalu sama, bergantung pada kedekatan dokter dengan pasiennya, kultur, bahasa dan lain-lain. Kerap terjadi seorang dokter dalam melakukan anamnesa tidak langsung menanyakan keluhan, namun hanya menyapa pasiennya, lantas si pasien dengan sendirinya menceritakan keluhannya. Kalo dah begini enaklah *pelanggan nih*. Kadang ada sih yang ngelantur melebar (OOT) ke hal-al di luar “keluhan pasien”. Menghadapi kondisi demikian, tugas dokter untuk menggiring mengarahkan kembali ke keluhan pasien, kecuali jika emang mau jagongan cerita skor bal-balan … πŸ˜€

Jadi, kalimat “sakit apa“, “biasanya minum obat apa“, “adik cakep, sakit apa nih“, “kenapa (bu, pak, mas, mbak, mbah, dik, jeng, non)”, dan berbagai kalimat pembuka lainnya saat pasien berdialog dengan dokter di awal pertemuan, adalah bagian dari berbagai varian anamnesa. Gak ada yang salah koq …

Namun demikian, rasan-rasan pasien kepada kami para dokter terkait “sakit apa”, tentu sangat berguna untuk memperbaiki kualitas anamnesa kami, sehingga komunikasi pasien-dokter yang baik dapat terwujud. Amiiin.

Semoga bermanfaat

:: :: :: posting menggunakan WLW :: :: ::

Iklan

38 Responses to “Dokter kok malah nanya”


  1. 1 elias September 13, 2008 pukul 9:28 pm

    pertamaxxx
    satu hal yang paling mendasar dan paling sulit cak membuat sebuah anamnesis yang baik, padalah kalo anamnesis nya bagus 60 – 75 % kita dapat menemukan masalah (diagnosis).
    sedikit tip (walo dah kadaluarsa) gunakan secret weapon eh secret seven dalam anamnesis yaitu : lokasi, waktu/kronologis, kualitas, berat ringannya keluhan (derajat), keadaan waktu keluhan terjadi (awitan), faktor yang memperberat atau memperingan, dan gejala yang menyertai.
    tidak semua gejala atau keluhan dapat diterapkan tp sesuaikan dan juga harus banyak latihan hehehe
    semoga berguna

  2. 2 sibermedik September 13, 2008 pukul 10:37 pm

    Makasih tipsnya! maklum budak RS ‘anyaran’ kerjane anamnesa dgn teknik 7 Sacred n 4 fundamental. Teorinya sih harus urut, tapi kenyataannya meloncat-loncat jawabannya..yah hanya masalah jam terbang plus sregep sinau ‘baceman’ IR (Indonesia Raya a.k.a catatan warisan senior). πŸ˜€

  3. 3 Johan September 14, 2008 pukul 12:50 pm

    Dokter di klinik kesehatan di tempat saya kerja selalu tanya begini, “keluhannya apa pak?”. Itu lebih tepat ya pak. Kalau dokter yg baru sekarang, dr. Niken, pasti nanya kapan mancing ikan di laut lagi. Malah suka kelupaan meriksa saya. Padahal saya suka banget diperiksa dokter cewek. Wekekekekeke…..

  4. 4 Andri September 14, 2008 pukul 11:58 pm

    Kalo ada orang datang ke tempat praktek, pertanyaan pertamaku “Ada apa pak/bu?”….Siapa tahu dia gak berobat tapi cuma maw ngasih surat undangan…hahaha….

    Salam kenal cak moki…Blognya top markotop… ^^

  5. 5 elias September 15, 2008 pukul 12:34 am

    4 fundamental apa aja mas ? keknya aku baru dengar nih hehehe
    oot sekalian perkenalkan blog pribadiku baru bikin semoga bisa kek para senior sekalian (maap yach dok jd nimbrung promosi dikit)

  6. 6 Astri September 15, 2008 pukul 1:36 am

    Biasanya aku juga make frase, “ada keluhan apa?”

  7. 7 sibermedik September 15, 2008 pukul 5:20 am

    @elias
    4 fundamental
    *RPS
    *RPD
    *Riw.keluarga
    *Riw.sosial ekonomi

    7 sacred (dalam RPS)
    *Alokasi keluhan
    *kualitas
    *kuantitas
    *waktu(onset,durasi,frekuensi&kronologi)
    *faktor yg mperberat
    *faktor yg mperingan
    *keluhan yg menyertai.

  8. 8 nandar September 15, 2008 pukul 2:13 pm

    Lebih enak di ajak ngobrol dulu terus baru di anamnesa.itu lebih baik deh :))

  9. 9 cakmoki September 15, 2008 pukul 9:41 pm

    @ elias:
    saya sependapat … kalo anamnesa baik, selebihnya tinggal konfirmasi dan menyesuaikan sikon … eh ada yang ketinggalan, terakhir … narik ongkos *yang ini dijamin ga lupa* hahaha

    @ sibermedik:
    He-eh, kalo dah ngadepi pasien gak selalu urut.. tapi urutan terakhir dimana-mana kayaknya sama … ongkos-ongkos-ongkos πŸ˜†

    @ Johan:
    ya, lebih tepat gitu … namun semuanya tergantung sikon dan kedekatan pasien-dokter … bisa juga nanya hobi seperti nanya mancing …hmmmm, dah akrab banget kali yaaa..
    Kalo dokter nya lupa meriksa, minta periksa donggg

    @ Andri:
    Itu mah, hampir pasti semuanya nganter sedekah untuk kita …buktinya, kalo mo pulang ngasih duit … malah mo ngasih aja pake nanya: ” berapa dok?” …hahaha
    Lam kenal … bannernya mantap bo … :G … sy biasa pake banner tsb untuk background flash … siiiip

    @ elias:
    Monggo, silahkan promosi di sini … ntar saya link πŸ™‚

    @ Astri:
    Mungkin frase tersebut yang paling mudah dipahami pasien yaaa… apalagi di kota besar seperti Surabaya

    @ nandar:
    iya, bisa juga gitu … menciptakan suasana rileks πŸ™‚

  10. 10 devry September 15, 2008 pukul 9:47 pm

    Mau bertanya koq malahan ditanyain?

    Tanya ken-apa? πŸ™„

  11. 12 cakmoki September 16, 2008 pukul 3:08 am

    @ devry:
    supaya nyambung kali … hehehe

    @ pLuto:
    iya kali πŸ™‚

  12. 13 niexh September 16, 2008 pukul 3:11 am

    Salam kenal cakmoki! πŸ™‚

    Baca posting yg diatas ini, jd inget
    Belum lama ini saya (lebih tepatnya saya menemani kakak saya) pergi ke dokter yg lumayan ternama dikota saya
    Pas konsultasi, boro2 ditanyai “sakit apa?”, “apanya yg sakit?” ato “keluhannya apa?”
    Sang dokter hanya menatap kami dan berkata “ya?” sambil menatap kami dari balik kacamata..
    Tiba ngrasa ky orang kesasar gitu
    Pengennya si langsung pergi aja
    Tp krn udah terlanjur bayar (yg lumayan mahal..Gosh!) jadinya ya tetep konsultasi sambil cengar cengir ga jelas πŸ˜€

  13. 14 aRuL September 16, 2008 pukul 3:34 am

    wah dokter ternyata perlu belajar bahasa komunikasi juga…
    Kalo saya baca terus blognya cak moki sy bisa2 jadi dokter juga nih πŸ™‚
    tinggal buka buku cari referensi :mrgreen: *bercanda dok πŸ˜€ *
    ah pengalaman sy dokter di poliklinik di dekat kampusku, melayani pasien malah nelpon pacarnya, mesra2 lagi kata2nya.
    hihi…

  14. 15 cakmoki September 16, 2008 pukul 4:36 am

    @ niexh:
    Salam kenal …
    Ha ha ha … kali aja dokternya lagi bete berats πŸ˜€ … mestinya didiskon tuh …

  15. 16 Nika September 16, 2008 pukul 2:29 pm

    Saya suka sebel kalo dokternya gak nanya macem2. Secara kt pasien emang hobinya ngeluh hehehe..

  16. 17 Yudhi Gejali September 16, 2008 pukul 3:10 pm

    Ironis jaman sekarang cak…
    Anamnesis seorang dokter secara teoritis apabila baik sudah dapat menegakkan diagnosis 80%.
    Sayangnya, jaman sekarang…Lab dan Pemeriksaan Penunjang tampaknya sudah menggantikan peran anamnesis.
    Cuma dengan hasil lab sudah bisa menegakkan diagnosis…
    Lama2 Robot juga bisa jadi dokter!

  17. 18 cakmoki September 16, 2008 pukul 4:01 pm

    @ aRuL:
    iya Daeng… soalnya komunikasi adalah modal penting …
    Daeng boleh jadi dokter, tongkrongan oke deh … ntar buka praktek di Sukolilo khusus gadis ya .. πŸ˜€

    @ Nika:
    Boleh komplain ke dokternya, misal:” … dok, koq ditanya-tanya sih, lha saya mo ngeluh sama siapa …ntar ganti tak tanya lho πŸ˜€ …”.

    @ Yudhi Gezali:
    Mungkin sedang euforia Lab … dikit-dikit Lab … ntar pelan-pelan masyarakat akan tahu bahwa Lab hanya penunjang, bukan satu-satunya alat diagnosa dan gak bisa menggantikan dokter…

  18. 19 ManusiaSuper September 16, 2008 pukul 6:14 pm

    ah iya, sempat membaca ini di salah satu bahan kuliah waktu jadi dosen kemaren *pamer :mrgreen: *

    Katanya gini:
    Diagnosis made on history alone – 83 %
    Diagnosis changed after investigations – 9 %
    Diagnosis changed after physical examination – 8 %

    apa pula artinya itu Cak??

  19. 20 cakmoki September 17, 2008 pukul 4:32 am

    @ ManusiaSuper:
    Bujurrrr pak dosen πŸ™‚
    Artinya, diagnosa penyakit (sebagian besar) udah dapat ditegakkan dengan anamnesa (wawancara dua arah) yang cermat ditunjang dengan pemeriksaan fisik (inspeksi=melihat, palpasi=memegang, perkusi=menepuk, auskultasi=mendengarkan dengan stetoskop) *gak harus semua tahap dilalui, bergantung kepada kasusnya.
    Contoh:
    Kalo kita mendiagnosa Morbili (campak, kerumut, gabak), cukup dengan riwayat penyakit, meliputi: panas, munculnya bercak merah merata dan keluhan lain trus investigasi sumber penularan di sekitar penderita lantas dicocokkan dengan pemeriksaan fisik, yakni melihat bentuk dan penyebaran bercaknya, bercak putih di dinding pipi bagian dalam, penyulit (misalnya batuk dll) …maka dalam tempo singkat udah bisa mengatakan kepada penderita bahwa yang bersangkutan menderita Morbili.
    Trus diobati disertai advis untuk banyak minum (gak perlu pake air kelapa), minum obat teratur, istrahat, makan bergizi dan tetap mandi (supaya seger dan gak bau) … gitu lho Cil ..eh…pak dosen ding … hehehe… gampang kan ?

    Eh, ada yang lupa, …bayar !!! πŸ˜†

  20. 21 hmcahyo September 17, 2008 pukul 1:34 pm

    dateng mriki malih dokter πŸ™‚

  21. 22 elias September 17, 2008 pukul 10:48 pm

    betul cak, sebelum kalimat penutup jangan lupa disampaikan “ongkos berobatnya sekian rupiah pak/bu” terus kalo jangan lupa kontrol 3 hari lagi hehehehehe

  22. 23 susan September 18, 2008 pukul 11:43 am

    puaing enak yaa…klo mo konsultasi disini ajah,
    dijamin gratis…tis..tis..!!!!!

    hidup cak moki..!!!!!

  23. 24 icalmahdi September 19, 2008 pukul 6:01 am

    kata dosen saya :

    dokter yang banyak kasusnya, adalah yang bukan memiliki ilmu pengetahuan yang rendah. tetapi dokter yang tidak mampu melakukan komunikasi dengan baik kepada pasien..

    Apakah benar..???

    (btw, blognya menarik dok. Boleh ya sya nge-link..??)

  24. 25 cakmoki September 21, 2008 pukul 1:52 am

    @ hmcahyo:
    Monggo, diaturi pinarak πŸ™‚

    @ elias:
    hehehe, … semoga cepat sembuh, kalo gak ada keluhan gak usah kontrol ya pak/bu/mas/mbak … πŸ˜€

    @ susan:
    makasih … jangan muji ah, ntar kepala sy jadi mekar …hehehe

    @ icalmahdi:
    Kata dosen saya:
    Usahakan berkomunikasi dengan pasien secara tulus, dilandasi dengan profesionalisme dan keilmuan, niscaya akan memberi manfaat bagi sesama.

    Mungkin yang dimaksud “manfaat”, bersifat dua arah … ehm…ehm πŸ˜€

    Silahkan nge-link kalo dianggap layak … trims

  25. 26 dokterearekcilik September 22, 2008 pukul 6:30 am

    Paling susah anamnesa bayi baru lahir….jawabannya cuman oeee….oeeeee πŸ˜€

  26. 27 cakmoki September 23, 2008 pukul 6:23 pm

    @ dokterearekcilik:
    Hehehe, iya … kalo sampe njawab olee..oleee..olee, berarti bapaknya bayi lagi nonton bal-balan πŸ˜€

  27. 28 Ayunita Oktober 8, 2008 pukul 8:57 am

    Mau tanya,tuw td kan anamnesis wat pasien standart,bgmn jika dokter d undang k rumah pjabat untk mgtahui pnyakitnya? Bgmn bhs yg baik?

  28. 29 cakmoki Oktober 8, 2008 pukul 3:12 pm

    @ Ayunita:
    Sama aja … yang beda hanya basa-basinya doang πŸ™‚
    Misalnya: “…*salaman*… Maaf, sy datang agak terlambat …*senyum* … apa kabar, pak Sekda ? …bla..bla..bla *sekda mbatin: sakit dong dok* … hahaha, enjoy aja πŸ˜€

  29. 30 gibril Oktober 14, 2008 pukul 3:11 pm

    Bagaimana kalo pasiennya kondisinya pingsan//koma yang terjadi mendadak dan pihak keluarga menyatakan tidak pernah sebelumnya mengalami hal seperti itu….?
    Masih perlukan anamesa ?
    Ataukan dokter menduga-duga dengan pemeriksaan lab ?
    Bukankah itu ngabis, ngabisin duit…
    Jika kita sakit, trus penyakit kita tak kunjung sembuh, mana yang lebih baik kita lakukan
    1. Kembali mengunjungi dokter yang sama.
    2. Berobat Ke dokter yang beda.
    3. Beli Obatnya saja, kan sudah ada resep.
    4. Pake Alternatif.
    5. Dibiarkan saja..

    Mohon solusinya…

  30. 31 cakmoki Oktober 14, 2008 pukul 11:43 pm

    @ gibril:
    Jika kondisi pasien seperti itu, tindakan pertama adalah memberikan pertolongan yang bersifat gawat darurat sesuai kondisi pasien berdasarkan pemeriksaan.
    Selanjutnya tetep perlu anamnesa melalui keluarganya (hetero-anamnesa), misalnya: kapan terjadinya, di mana, terjadi saat aktifitas ato enggak, dan lain-lain.
    So, dokter gak akan menduga-duga.Dalam kondisi apapun dokter akan melakukan pemeriksaan sesuai prosedur tetap (protap) setiap penyakit, hanya saja adakalanya gak berurutan bergantung pada kondisi pasien.

    Contoh: jika datang seseorang menderita status asmatikus (asma berat), maka yang dilakukan adalah menanggulangi sesak secara cepat sesuai prosedur. Adapun anamnesa dapat dilakukan sambil melakukan pertolongan atau sesudah tindakan medis dan pasien udah bisa diajak komunikasi.
    Sedangkan Lab diperlukan hanya untuk penunjang diagnosa dan follow up.

    Jika kita sakit, trus penyakit kita tak kunjung sembuh, mana yang lebih baik kita lakukan

    Kembali mengunjungi dokter yang sama, kecuali jika penderita meragukan diagnosa dan pengobatan dokter tersebut, maka pasien dapat ke dokter lain.

    Pada dasarnya, lama tidaknya kesembuhan penyakit bergantung pada jenis penyakit dan komunikasi antara dokter-pasien. Tapi acapkali di negeri kita, informasi tentang penyakit masih sering dipengaruhi oleh kerabat, tetangga, teman, dll.

    Contoh: jika seseorang menderita Herpes zoster trus 1 minggu belum sembuh, gak perlu ke dokter lain karena penyembuhan rata-rata 2-3 minggu. So, sebaiknya kembali ke dokter yg sama untuk follow up, mana obat yang diteruskan, mana obat yang dihentikan dan ada ato tidak obat tambahan sesuai keluhan pasien saat itu.

    Trims

  31. 32 Tiniz Oktober 20, 2008 pukul 11:00 pm

    Saya 2x ketemu dokter yg gak meyakinkan…Pertama, ke klinik 24 jam cari dokter anak krn SpA langganan lg gak praktek. Waktu itu anakku blum 1 thn, klo gak salah inget keluhannya diare…waktu dokternya mo periksa anakku lg tengkurap, trus dokternya balikkin badan anakku dgn kasar dan menarik perekat diapersnya….brreeett saking shocknya saya sampai speechless dan melotot aja…akhirnya resepnya gak sy tebus…langsung cari dokter laen.
    Kedua, minggu lalu…kali ini dokternya baik cuma waktu anamnesa sering mengeluarkan pernyataan yg kayaknya beliau gak yakin ( dokter baru kali yach?), obat tetap ditebus tapi gak semua diminumin krn ada satu obat buat anak sy (9th) yg waktu bagian obatnya ngasih, bilang “wah, ini salah nih mestinya cuma 2x sehari”….kontan aja di kepala sy muncul ??????????? ini dokternya apa apotekernya yg salah tulis…udah gitu stlh sy perhatiin obatnya sama dgn yg pernah dokter lain resepkan utk suami sy (RHINOS SR*),padahal yg sy tau krn suami punya alergi obat, biasanya obatnya gak umum…..emang siiih anakku BBnya 54kg tp apa iya obat itu aman buat anak 9th?…akhirnya sampai rmh langsung browsing dan ternyata informasinya obat itu memang tidak untuk anak dibawah 12 tahun…Gimana cak Moki? salah gak kalo sy lebih milih ngikutin kata hati saya? akhirnya sih saya bawa anak saya ke THT dan dapat obat yg berbeda. Sekalian nanya, anak perlu dikasih antibiotik itu utk kondisi spt apa sih, kalau ada demam?

  32. 33 cakmoki Oktober 21, 2008 pukul 11:54 pm

    @ Tiniz:
    Gini … memang ada pandangan berbeda antara klinis (dokter) dengan apotek ketika “hanya” melihat jenis dan dosis obat. Mestinya, pihak apotik menilpon dokter penulis resep jika meragukan dosis obat.
    Biasanya pihak apotek, hanya melihat ke-umum-an fungsi maupun dosis obat tanpa melihat pasien, sedangan dokter memberiksan jenis dan dosis obat berdasarkan pemeriksaan dan jenis penyakit. Padahal, setiap jenis obat memiliki beberapa khasiat dan dosis tertentu untuk beberapa penyakit. Jika pihak apotek berkomentar seperti itu sedangkan dia gak meriksa penyakitnya dan hanya berlandaskan pada ke-umum-an dosis obat, menurut saya pihak apotek tersebut keliru.

    Contoh, cotrimoxazole (dengan berbagai merk dagang) untuk anak >6-12 tahun disebutkan dosisnya 2×1…itu kan dosis umum, lha kalo misalkan anaknya berat badannya udah lebih 30 kg, dosis minimal adalah 3×1 untuk infeksi yg gak berat, misalnya diare, ISPA, dll.

    Dosis obat pada anak harus berdasarkan berat badan. Andai seorang anak 8 tahun dengan berat badan 45 kg dimana dia misalnya menderita Tonsilitis ybg memerlukan antibiotika, maka dosisnya sama dengan dosis dewasa. Gak boleh dikurangi hanya berdasarkan brosur di kemasan obat, agar tidak terjadi resistensi, lha wong dosis di brosur tersebut bersifat umum. πŸ™‚

    Di kemasan obat, emang ada peringatan semacam itu, misalnya ga boleh untuk di bawah 12 tahun, gak boleh di bawah 2 tahun dll…itu maksudnya peringatan untuk orang awam.

    Memilih obat berdasarkan hati nurani sah-sah saja, namun bagi insan medis setiap pemilihan obat dan dosisnya harus berdasarkan landasan keilmuan, kompetensi dan kondisi klinis seseorang saat itu.

    Obat berbeda belum tentu isinya berbeda pula lho.. hehehe, bisa saja hanya beda merk dan kandungan sedangkan fungsinya sama.

    Antibiotika untuk infeksi kuman (bakteri), baik ada panas ataupun enggak. Hal ini berlaku untuk semua umur. Sedangkan demam hanya salah satu tanda infeksi berbagai mikro-organisme yang akan dapat diprediksi or diketahui saat pemeriksaan.

    Terlepas dari itu semua, setidaknya dengan mencari informasi dar berbagai media dan keberanian untuk mencari second opinion serta memutuskan yang terbaik, adalah langkah maju bagi kita.
    Dan bagi insan medis, tentu merupakan tantangan untuk senantiasa memperbaiki diri, khususnya saya yang jauh nun di ndeso β„’ gung lewang lewung… hehehe

    Maturnuwun share-nya, Mbak πŸ™‚

  33. 34 Tiniz Oktober 22, 2008 pukul 11:36 pm

    Bukan obatnya yang ngikutin kata hati tapi….dokternya, maksudnya kalo sy gak sreg dengan dokternya, sy lebih milih cari second opinion dulu…meskipun berarti disodorin kwitansi lagi:), maklum ibu2 klo terhadap anaknya khan rada2 pArno…(pake a lho bukan O, di teges no takut kena UU pornografi!!) buat anak koq coba-coba…lah koq malah kayak iklan:) maksud te stlh yakin baru diminumin obatnya, Begitcyuuu….

    Nek karepku, dokter2 jangan cuma memperdalam ilmu medisnya tapi jg perlu mepercanggih cara2 berkomunikasi dan berinteraksi dengan pasien maupun keluarga pasien….Jadi pasien puas, dokternya jg gampang menggali riwayat medis pasien….win-win solution toh?

  34. 35 Tiniz Oktober 22, 2008 pukul 11:40 pm

    Nambah….koq yg soal antibiotik gak dijawab? untuk kondisi seperti apa pasien perlu dikasih antibiotik?… soalnya ada dokter yang kayaknya hampir slalu ngasih tapi ada juga yg gak gampang ngasih.

  35. 36 cakmoki Oktober 23, 2008 pukul 4:09 pm

    @ Tiniz:
    Saya sependapat πŸ™‚ … pasien berhak mendapatkan informasi dari dokter dan penjelasan tantang obat, dll. Hal ini langsung ataupun gak langsung akan memperbaiki kualitas komunikasi dokter dalam menggali informasi dari pasiennya.
    Padahal kalo dokter telaten menjelaskan kepada pasien tentang penyakit yg dideritanya, pracangan prakteknya tambah laris lho … πŸ˜‰

    Sayangnya, gak semua pasien berani bersikap seperti itu, kebanyakan hanya manut, pasrah bongkokan .. mungkin dipengaruhi kultur, ato bisa jadi dokter mirip dengan sosok yang menyeramkan …hehehe

    Antibiotik udah tuh, singkat…
    Antibiotika dipergunakan jika ada tanda-tanda infeksi kuman (bakteri), baik ada demam ataupun enggak. Hal ini berlaku untuk semua umur. Sedangkan demam hanya salah satu tanda infeksi berbagai mikro-organisme yang akan dapat diprediksi or diketahui saat pemeriksaan, dan gak semua perlu antibiotika.

    Contoh:
    Koreng (pyodermi) adalah infeksi kulit dan jaringan bawah kulit (subcutan) yg disebabkan oleh kuman Streptokokus dan Stafilokokus.
    Penyakit ini harus diobati dengan antibiotika walau gak demam.

    Memang benar bahwa dalam kenyataannya, peresepan antibiotika di negeri kita kayak kacang goreng. Bahkan ada dalam satu resep mengandung lebih dari 1 jenis antibiotika hanya untuk infeksi yang ringan. Yg lebih parah, gak ada hujan gak ada angin, hampir semua penyakit dicecar dengan antibiotika.
    Tulisan seputar antibiotika udah kita bahasa pada beberapa posting sebelumnya, judulnya lupa …salah satunya tentang antibiotika membabi buta.

    Maturnuwun

  36. 37 Goplem Oktober 12, 2009 pukul 5:13 pm

    Apakah anamnese sama dengan pengambilan riwayat penyakit atau history taking ? saya kira tidak sama, bahwa anamnese adalah bagian dari atau sa;lah satu cara untuk history taking memang betul, History taking bukan hanya anamnese.

  37. 38 cakmoki Oktober 13, 2009 pukul 12:16 am

    @ Goplem:
    Saya sependapat … bahkan kalo kita urai lagi, maka makin banyak variannya bergantung pada berbagai aspek yang menyertainya.
    Trims πŸ™‚


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Wong ndeso β„’

cakmoki

Wordpress Indonesia

Silahkan baca

DISCLAIMER

web tracker

9 Desember 2009

SEMENTARA TUTUP

Maaf, sementara Blog istirahat hingga ada pemberitahuan

Harap maklum


MARI HENTIKAN KORUPSI

Jangan Korupsi Ah

No Korupsi

Internet Sehat

Warga Bicara

» Makasih PLN, listrik Samarinda dah membaik, moga gak byar-pet

» Waspada Demam Berdarah

» Jangan Gunduli Palaran

» Banjir...banjir. Kapan masalah ini teratasi ?

INGA INGA INGA

» Nyeri Urat or Tulang BUKAN berarti Penyakit Asam Urat.

» Sekali lagi: Pegal, Linu Tidak Identik dengan Penyakit Asam Urat

TEMANs

9racehime | A. Fatih Syuhud | Aditiawan Chandra | A.Tajib | Agung UD | aLe | alief | alle | almascatie | Amd | Anak Peri | Anak Sultan | Anang | Anang YP | Anas | Andalas | Anggara | Anjaz | Anti Pungli | Antobilang | Anung87 | Aribowo | Arif Kurniawan | Arul | Astikirna | awan965 | axireaxi | Bambang alias HR | BatakNews | Blog Pokoke? | Biho | CalonOrangTenar | Cay | Chandra | Chielicious | chiw imudz | cK-chika | Dalamhati | Deden Nugraha | deedhoet | deKing | Desti Utami | Didats | doeytea | dnial | Edy C | Eep | Elpalimbani | erander | Evi | Fa | Fa wp | Faiq | Fertobhades | Fetro | Fortynine | Freddy | Gadis | Gaussac | Gitablu | Grandiosa | GuhPraset | GuM | Helgeduelbek | Herdy | Indonesia Kita | Indra KH | ItikKecil | iway | Jejakpena | Jennie S. Bev | Joesath | Joko Taroeb | Julee | Juli | Juliach | Junthit | Jurig | Kakilangit | Kang Adhi | Kang Kombor | Kangguru | kawaichu | Kenji | Kenzt | kikie | koecing | Kumala | Kurtubi | Kw | Laras | liezmaya | Lilik Suryanto | Lily | Linker | Lintang | Lita | Lita wp | Luthfi | MaIDeN | Majalah Dewa Dewi | Manusiasuper | Master Li | Mathematicse | macanang | mbojo | Mei | Micokelana | Mr. Geddoe | Mufti | mybenjeng | My-za | Nayla Zahra | Nayz | Ndarualqaz | Neeya | Neo Forty-Nine | Neri | Ninoy | Nieke | Nomercy | n0vri | NuDe | Om Sulis | omaigat | Ooyi | Paijo | Panca | Pandu | Panduan WP | Papabonbon | Passya | Peyek | Pinkina | Pitik | Pralangga | Prayogo | Priyadi | Qee | Raja iblis | RenjanaBiru | rivafauziah | Rivermaya | Roffi | roisZ | Rujak | Sagung | Sahrudin | Saiful Adi | SaRa | Siu | Sofi | Sora9n | Suandana | Suluh | Susiloharjo | Telmark | Thamrin | tiesmin | Triesti | Tukang Sate | Venus | Wadehel | Wahyuansyah | Wandira | Wiku | WongMangli | Wulan | Yati | Yudhipras |

:: :: :: :: :: :: :: :: ::

Kesehatan

:: Ady Wirawan :: Agus Mutamakin :: Anis Fuad :: Anis Fuad wp :: Asri Tadda :: Astri Pramarini :: Astri Pramarini (awal) :: Astri Pramarini wp :: Blog Mahasiswa FKU 2003 :: Blog Rumah Kanker :: Dani Iswara :: Dani Iswara weblog :: Dokter arek cilik :: drAnak :: drarifianto :: Dwi wp :: Elyas :: Erik Tapan :: Evy HealhtySmile :: FK Unsri :: Gies :: Gies wp :: Ginna :: Grapz :: Hendar Sunandar :: HIV News :: Huda Thoriq :: IDI Samarinda :: imcw :: Imran Nito :: Iwan Handoko :: Jhonrido :: klikharry :: Kobal :: Laksmi Nawasasi :: Mashuri :: Mave Mina :: Mbah Dipo :: Mina :: My Blogspot :: Nur Martono :: PKM Palaran :: Rara :: Rizma Adlia :: Rudy Kwang :: SenyumSehat :: Sibermedik :: SimkesUGM :: SuperKecil :: Titah :: Tito :: Tonang Ardyanto :: Tukangkomentar :: Wi :: Vina Revi :: Vina Multiply :: Yusuf Alam R :: zulharman79 ::

:: :: :: :: :: :: :: :: :: :: ::

Institusi Kesehatan

:: Depkes RI :: WHO :: WHO Indonesia :: … nyusul

:: :: :: :: :: :: :: :: ::

Kolaborasi

:: Emedicine :: ICD 10 Wikipedia :: ICD 10 Wiki Indonesia :: OSWD :: OpenWebDesign :: Pakistan Times :: Rubab :: ntar ::

Kategori

BlogTour

Arsip

Komunitas Blog

blog-indonesia.com

PAGE RANK

Powered by  MyPagerank.Net

Add to Technorati Favorites

[Valid RSS]

Health Blogs - Blog Top Sites

Health

Blogs Topsites - TOP.ORG

Health Blogs - Blog Rankings

Blog directory

TopOfBlogs

Top 10 Award

Feed Burner

cakmoki Blog

Bloggerian Top Hits

My BlogCatalog BlogRank

Site Meter

Since 30 Nov 07

PENGUNJUNG

  • 5,301,967 pengintip

Asal Usul

Pebruari 2011

free counters


%d blogger menyukai ini: