Dokter menjajah Dokter

DI BALIK SENYUMAN SI JUBAH PUTIH

Tapi ada kala dokter tak berdaya …
Tekuk lutut di bawah kuasa sejawatnya …

Sepertinya judul di atas nampak terlalu dramatis bagi khalayak mengingat bahwa ikatan di kalangan dokter dikenal sangat kuat sesuai sumpahnya yang tertuang dalam kode etik kedokteran … Benarkah demikian? … Tidak selalu, bahkan boleh dibilang tidak untuk episode tertentu.

Kali ini kita akan coba menguak masalah sensitif, yakni besaran jasa visit (kunjungan) dokter di RSUD. Emang tidak bisa dikatakan mewakili semua RSUD di Indonesia sih, namun setidaknya hasil bisik-bisik teman dekat dapat memberikan gambaran betapa ada “sesuatu” yang tertutup rapat terkait besaran jasa visit dokter di beberapa RSUD. Berapa jasa visit dokter (misalnya klas III) di RSUD? Ada yang tahu? …Ngacung!

Mari kita simak bisik-bisik jasa visit dokter di beberapa RSUD … *kata-katanya ga sama persis, … ada fantasi dikitlah, yang penting substansinya … hehehe, ts (teman sejawat) yang di jajaran manajemen, maap yaaa* … πŸ˜†

“Apa, wong jasa visit temen-temen spesailis di tempat kami cuman 3 ribu rupiah, itupun gak dibayarkan tiap bulan, mana dipotong lagi…”…kata seorang temen di RSUD type B kota kami sambil bersungut, trus ngakak… *obrolan tahun 2006 di salah satu warung makan kawasan jl. Slamet Riyadi*

“Bulan lalu, jasa visit dokter spesialis 3 ribu rupiah, trus dirapatkan…sekarang katanya udah dinaikkan jadi 10 ribu rupiah, trus mo dipersentase lagi, gak jelas, sampai sekarang belum ada keputusan. Tahu gak, jasa visit mulai bulan september 2007 sampe sekarang belum diserahkah tuh”… kata seseorang di jajaran RSUD type C plus kota kami sekitar 2 minggu yang lalu.

“Mbuh, gak ngerti, gak jelas, kalo pihak manajemen ditanya selalu mbuletisasi, …kalo kita nanya terus takutnya dikira kemaruk, pokoke gak ngerti, mbuh…”… kata sejawat di RSUD Type B Jember dengan wajah pasrah *agustus tahun 2007, saat bincang di salah satu sudut RSUD*

“Biasa, dipotong, persentase gak jelas dan kita terimanya sekitar 3 bulan sekali” … kata seorang sejawat senior di RSUD Magelang.

“Saya ini fungsional, gak ikut-ikut ngurusi begituan, itu kan urusan struktural”…ujar sohib di salah satu upf RSUD dr. Soetomo Surabaya, via hp”

Ada yang mo ikutan buka-bukaan ga ??? halo…halo…Berani?

NGOPENI ASET UTAMA

Kita tahu, setiap penderita yang dirawat di RSUD selalu mengharapkan diopeni oleh dokter, baik oleh dokter umum, dokter spesialis maupun dokter sub-spesialis bahkan tim (kalo perlu). Layanan komprehensif dan bersahabat, … itulah harapan para pasien dan keluarganya. Fakta menunjukkan bahwa layanan, terutama pasien klas III di RSUD, tidak seindah jargon-jargon di spanduk, leaflet dan poster-poster berlabel “layanan prima” atau sebangsanya. Terlebih pasien miskin, sejak pintu masuk hingga keluar mereka lebih banyak disuguhi wajah-wajah bersungut … *ga semua RSUD gitu sih, … ya iyalah, bagus kalo emang gitu, namun introspeksi dan upaya memperbaiki akan lebih bijak ketimbang meradang…hehehe, tosss*

Berbicara buruknya kurangnya kualitas layanan di RSUD (terutama klas III), entah mengapa hampir selalu menemui jalan berliku. Segala workshop, study banding seolah hilang tak berbekas ketika tiba saatnya implementasi. Kompleks emang, namun bukan berarti tidak bisa diperbaiki, … sedikit-demi sedikit … hingga menjadi sistem yang mapan *impian?*

Menurut saya, (tanpa mengabaikan komponen lainnya) dokter (di UGD, poliklinik dan ruangan serta OK) adalah aset utama layanan medis di RSUD, … selanjutnya paramedis dan komponen penunjang lain sebagai team work. Merekalah yang melayani para pasien saban hari. Logikanya, bagaimana mungkin pasien terawat dengan baik jika yang merawat (dokter dll) ga diopeni? … Pengabdian bukan lagi kata sakti untuk menjawabnya. So penyusunan reward yang pantas melalui item jasa di Perda, patut diperjuangkan, jangan lagi menganggap bahwa pembicaran jasa sebagai sesuatu yang sakral.

Kita lihat fakta yuk …

Gaji dokter PNS (termasuk PTT) golongan III hingga IV berkisar 1,5-3,5 jutaan (rupiah) … udah termasuk segala macem tetek-bengek (tunjangan) … entah masih ada potongan ga? Bayangin… mo untuk apa? Bisa-bisa gak dibikinkan sarapan ama anak mertua. Bukannya mikir uang mulu (atau balas dendam biaya sekolah), … ini masalah reward *alasan*, masalah penghargaan yang semestinya emang layak diberikan untuk rangkaian layanan medis.

Kan dokter spesialis boleh visit di RS swasta dan praktek sore, mereka udah dapaet banyak dari situ … *ini argumen yang pernah kita dengar* …

Menurut saya, visit RS Swasta dan praktek sore adalah hak setiap dokter spesialis sesuai kompetensinya, ga perlu diurusi dan ga bisa dijadikan alasan untuk memerah mereka dengan memberikan jasa visit yang sangat tidak layak di RSUD. Pun alasan bahwa pemotongan atau alokasi komponen di luar jasa visit dokter untuk operasional RSUD atau apapun namanya, adalah alasan yang sulit diterima akal sehat. Wong biaya tersebut bisa dialokasikan pada komponen lain, iya kan?

Ga lucu jika para manajemen RSUD mengalokasikan jasa visit hanya 3-10 ribu rupiah untuk dokter spesialis. Pelayanan prima or berkualitas? Mimpi kali yee … Bandingkan dengan jasa visit di rawat Inap Palaran nun di ndeso β„’ yang jasa visitnya disetujui oleh DPRD sebesar 10 ribu rupiah *nggaya* πŸ˜› … Hal penting yang perlu diperhatikan ialah bahwa jasa visit yang pantas bagi dokter tidak membuat biasa opname menjadi mahal. Koq bisa? Bisa !!!

Pertanyaannya:

  1. Apakah dengan memperbaiki jasa visit dokter tidak menambah beban penderita?
  2. Apakah dengan menambah jasa visit dokter benar-benar dapat meningkatkan kinerja dokter?
  3. Apakah …bla-bla-bla …?

Well, beragam pertanyaan mungkin akan terlontar dari para praktisi layanan medis dan pihak manajemen di RSUD. Dengan niat mengedepankan kualitas pelayanan medis dan kejujuran, niscaya berbagai pertanyaan terkait jasa visit dokter akan bisa kita pecahkan bersama. Semoga …

Kepada para pembaca dipersilahkan juga menyampaikan pemikirannya sebagai sumbangsih untuk perbaikan layanan medis di RSUD.

Semoga bermanfaat.

:: :: :: posting menggunakan WLW :: :: ::

Iklan

62 Responses to “Dokter menjajah Dokter”


  1. 1 wulan Juli 22, 2008 pukul 12:19 am

    Untung dulu gak jadi terima lamarannya calon dokter πŸ˜€
    Mudah2 an bagaimanapun keadaannya, para dokter tetap memberi pelayanan yang maksimal bagi masyarakat, paling gak nanti balasannya udah tersedia dari Yang Di Atas.

  2. 2 draguscn Juli 22, 2008 pukul 4:19 am

    Di Jakarta ada satu RS [swasta emang] yg menerapkan jasa visitasi dokter sama untuk pasien bangsal sampai VIP. Saya tertariknya dengan sistem ini karena pelayanan terhadap pasien harus sama tidak memandang statusnya. Sesuai sumpah dan menjamin memaksa dokter yang males ke bangsal jadi lebih rajin, ngga lama di VIP aja.
    Perda tarif-nya memang harus diperbaiki kayaknya mengingat untuk pergi ke Kalimantan, jaminan kesejahteraan juga harus dipikirkan oleh pemerintah daerah. Kalo ngga nanti sepi peminat .. dampaknya pelayanan lagi ..
    Berkaitan dengan memperbaiki perda tarif biasanya ada studi ability to pay/willingness to pay (ATP/WTP) yg bisa memperkirakan kemampuan masyarakat membayar [berguna sekali untuk nego dengan DPRDnya yg biasanya alot kalo mau naikin perda tarif].. studi ini bila dilakukan dulu tentu akan ada gambaran yang tidak menyusahkan masyarakat bila ada kenaikan perda tarif.. Bila bisa komprehensif dikaitkan dengan pendataan gakin yang dilaksanakan baik oleh puskesmas, BKKBN dan BPS maka akan ketemu masyarakat yang tidak mampu & rumah tangga yang sangat miskin (RTSM). Orang mampu bayar, orang miskin dibiayai .. mestinya tidak memberatkan.

    wah .. panjang banget .. sorry, bos.. tapi saya bener kalo disini emang ada penyanyi .. *siul-siul*

  3. 3 dr. Didi K, SpOG Juli 22, 2008 pukul 9:02 am

    Kayaknya jasa visit dokter tergantung daeraj cak…ditempatku untuk kelas 3 sekitar rp 25.000,-

    Sebetulnya sekarang sudah hampir seluruh masyarakat kita ter cover asuransi. Yang miskin dengan jamkesmas, pekerja dg jamsostek, pegawai dengan askes, lansia juga ditanggung pemda, serta asuransi lain seperti manulife, car, pridential dll.

    Masalahnya adalah besaran jasa (visite maupun tindakan) sudah ditentukan oleh pihak asuransi…istilahnya Lu mau terma asuransi gue…inilah tarifnya…kalau setuju oke kalau nggak ya keterlaluan…he…he..he…

    Masalah berikutnya adalah untuk masyarakat yang belum ter cover…kalau ini yang nentukan pihak RS (di-PERDA-kan). Dan kalau dirasakan terlalu rendah sebetulnya bisa di revisi. Apalagi kalau PERDA nya sudah usang. ( Minyak sja sdh naik beberapa kali…masak perda nya nggak berubah)…

    Dan terakhir tergantung hati nurani dokter…kasihan nggak sama pisen kayak gini…

    Kalu aku lihat sekarang ini…penghasilan dokter baru layak untuk hidup sebagai manusia…bukan manusia dokter…(bayangan orang kehidupan dokter itu wah..wah..wah…). Tapi itu kan gaya hidup segelintir dokter…banyak dokter yang hidupnya serderhana kok..setuju Cak…?

  4. 4 Wempi Juli 22, 2008 pukul 11:16 am

    kalo dokter menjajah pasien gimana cak?

  5. 5 cakmoki Juli 22, 2008 pukul 12:11 pm

    @ wulan:
    hahaha, berarti udah tahu software billing calon dokter yaaa? πŸ˜€ Persamaannya antara dokter dengan ahli IT, sama-sama jarang dirumah …yg satu ngurusi wong loro satunya ngurusi program melulu…
    Mturnuwun do’anya, mbak. Amin.

    @ draguscn:
    Baru denger ada RS Swasta menerapkan sistem seperti itu, masuk akal… bedanya ada di fasilitas kamar. Menarik nih πŸ˜€

    Perda tarif sepertinya sarat dengan berbagai kepentingan. Dari pihak kitapun biasanya “sibuk” membuat parameter agar dapat disetujui pihak legislatif. Sedangkan parameter pihak legislatif, lebih kepada daya jangkau pengguna jasa layanan medis dengan ukuran kualitatif.

    Pengalaman kecil nih, … ketika sy hearing (presentasi) mengusulkan Perda Tarif di DPRD, kita hanya tampilkan komponen setoran ke pemda, jasa visit, jasa institusi (dalam hal ini rawat inap), jasa pelayanan (untuk paramedis) ..dll, ketemulah total nominal untuk setiap jenis layanan.
    Dari berbagi jenis layanan medis, kita tampilkan contoh-2 (presentasi bergambar), misalnya kasus DBD dirawat sekian hari, memerlukan cairan infus sekian colf, lab trombo serial sekian kali …jasa visit …dll, total sekian ratus ribu rubiah sampai sekian ratus ribu rupiah. Pun demikian pula dengan contoh kasus lain, sehingga DPRD punya gambaran bahwa seorang pasien dengan kasus A sekitar sekian, melahirkan sekitar sekian dst…
    Hanya dengan waktu sekitar 45-60 menit ditambah tanya jawab sekitar 30 menit, alhasil disetujui semua tanpa ada satupun item yang harus diperbaiki.. Gratis, gak perlu proses macem-2, tinggal minta skedul waktu untuk hearing, ..yg ngundang pihak terkait adalah DPRD, kita hanya bawa laptop dan beberapa CD burning…
    Ga perlu itung-itungan njlimet, ntar DPRD malah ngantuk, bosen trus akhirnya dicoret..hahahaha… Setiap daerah tentu berbeda, pengalaman di atas belum tentu bisa diterapkan di daerah lain.

    hahaha, sama panjangnya nih πŸ˜€

    @ dr. Didi K, SpOG:
    iya, …segitu lumayan kali ya, saya malah pernah bikin draft visit dokter spesialis klas III lebih dari itu … diprotes TS yg di manajemen …hahaha

    Masalahnya adalah besaran jasa (visite maupun tindakan) sudah ditentukan oleh pihak asuransi…istilahnya Lu mau terma asuransi gue…inilah tarifnya…kalau setuju oke kalau nggak ya keterlaluan…he…he..he…

    Kalo mnisalnya dibalik, kita yang ngomong kepada pihak asuransi:”kami (dokter) yang melayani pasien, sedangkan anda (asuransi) gak melakukan apapun selain menghitung laba dengan membatasi layanan kepada peserta, ..kalo ga mau, silahkan kerjakan sendiri…”.
    Para TS berani ga yaaa? … saya mah tidak pernah mau diatur pihak insurance (dengan sistem yg ada saat ini)… bikin report, ngajukan klaim..bla-bla-bla… merdeka deh, hahaha

    @ wempi:
    udah banyak dibahas di posting sebelumnya Mas πŸ™‚ …sekarang saatnya mbelani sejawat πŸ˜†

  6. 6 evi Juli 22, 2008 pukul 1:02 pm

    seingat saya thn 2005 saat melahirkan di RS pemerintah kota tegal, tarif visit dokter spesialis di kls VIP 50 rb.
    tp di praktek swasta sore di rumah pak dokternya malah 40 rb ya…

    iyalah….di RS pemerintah penghasilannya lebih kecil kan proyek idealisnya pak dokter, klo di RS swasta kan boleh dikata proyek komersiilnya… πŸ™‚

  7. 7 draguscn Juli 22, 2008 pukul 8:37 pm

    RS yg saya maksud RS Karawang waktu itu dikepalai oleh kakak kelas jauuuuh saya yang namanya Dr. Hana Permana, sekarang ketua Arsada (Asosiasi RS Daereah) dia juga jadi konsultan beberapa RS di daerah, mungkin bisa konsultasi ke beliau. Ilmu remunerasinya cihuy banget .. sekarang sedang kami adaptasi ke puskesmas.
    Sebenernya nda ngitung njelimet kok, cak. Soale biasanya Bappeda udah melaksanakan survey ini .. kita tinggal menyajikan kepada DPR, bahwa rakyatnya sebenernya bisa bayar.. unit cost — seperti cak bilang — juga pernah kita gunakan sebagai bahan nego ke DPRD.
    Tahun ini saya ikut panitia perumusan lagi, saran cakmoki akan saya gunakan nanti untuk mengelabui mendekati DPRD.

  8. 8 konsultasi kesehatan Juli 22, 2008 pukul 8:45 pm

    …dokter…..aset utama layanan medis di RSUD………..

    Saya setuju Cak…(bukan mentang2 juga tukang suntik)….

    RS itu core bisnisnya apa sich? kesehatan khan? lalu pelaku utamanya dak dihargai/mendapat penghargaan yg layak berarti, tanda apa ini?

    Alamat zaman kali Cak…….

  9. 9 sibermedik Juli 22, 2008 pukul 9:28 pm

    cak,jujur ya..mahasiswa FK itu ibarat PESAWAT ULANG ALIK. saat di bumi dah mbawa ‘bekal’ idealitas2 saat jadi dokter kelak, tetapi saat menuju angkasa satu persatu luntur coz ‘teladan’ senior2 macam diatas. so, gmn mutus circulus vitiosus (lingk.setan) ini? Budaya senioritas yg materialistis vs idealitas yg dah dibawa sejak awal kuliah..which one the winner?..jgn sampai berakhir di stand pameran farmasi,*sambil ikut senior mampir godain detailer huayu-huayu he5x..*

  10. 10 dokterearekcilik Juli 23, 2008 pukul 1:14 pm

    Yang saya tahu RSU di daerah jadi “sapi perahnya” pemda, gak ada ampun pokoknya harus setor sekian. Isunya sih 60% buat pemda dan 40% buat segala keperluan RSU. Jadi wajar kalo mereka nggaji dokter spesialis segitu aja. Mau protes gak bisa, melayani pasien tetap aja dengan sebaik mungkin. Tapi liat pemda dapet 60% dengan onkang ongkang aja juga bikin hati jadi ….. 😦

  11. 11 sibermedik Juli 23, 2008 pukul 1:19 pm

    se7 ma dokterearekcilik..

  12. 12 sibermedik Juli 23, 2008 pukul 1:23 pm

    se7 ma dokterearekcilik..pemda nya ongkang2 *ngudut rokok,nyruput kopi, maos koran*..opo pemda gak mikir bea dadi residen spesialis kuwi mahal?ya gak salah dong para sejawat cari income di praktek lain?dadi efeknya yunior2 nurun seniornya yg tampak ‘sukses’.

  13. 13 cakmoki Juli 23, 2008 pukul 11:30 pm

    @ evi:
    wah segitu di RS swasta, murah tuh mbak …
    hmmm, jadi ada 2 proyek yaaa… hahaha, ada-ada aja πŸ˜‰

    @ draguscn:
    Sebenernya nda ngitung njelimet kok, cak…
    iya, sependapat…yg penting simple dan jelas angkanya πŸ˜†
    Moga upaya untuk mengelabui hearing di DPRD berhasil … Met berjuang yaaa

    @ konsultasi kesehatan:
    hahaha, ibarat film serial, aktor utama mestinya dapet lebih banyak.. *halah*
    ssst, di RS pertamina gimana Mas ? πŸ˜‰

    @ sibermedik:
    Insya Allah sing bener bakalan slamet fid dinni waddun-ya wal akhiroh. Sedapat mungkin jangan sampai luntur walau digoyang macem-macem bonus. Piye ? πŸ˜€

    @ dokterearekcilik:
    Saya denger Sekda Sidoarjo gembar gembor RSUD Swadana unggulan, … jebule memerah dokter spesialis… saya denger di beberapa tempat lain juga gitu … tapi 60 % setor ke Pemda… waaaawwwww, itu mah penganiayaan 😦

  14. 14 titah Juli 24, 2008 pukul 10:09 pm

    maap cak saya nggak ngerti soal prosentase, tapi sebagai pasien saya sering merasa “over visited” yang kurang perlu. misal, keluarga saya pernah dirawat di RS pemerintah di kota surabaya dengan diagnosa ca colon. mulanya di bawah perawatan seorang SpPD. beliau mengundang seorang SpB Onk untuk melakukan operasi pemotongan usus, anehnya dengan “konsensus” untuk meninggalkan polip beberapa cm di atasnya untuk kelak diendoskopi sendiri oleh sang SpPD.

    selama dalam masa pra hingga pasca operasi, sang SpPD sama sekali tidak berperan apa-apa dalam proses perawatan/pengobatan, tapi tiap hari tetap “say hello” (bener2 just say hello, paling banter cuma semenit!), yang harus dibayar oleh pasien. anehnya lagi, saat diketahui keluarga saya tersebut mengidap tekanan darah tinggi (145/80, usia 68 th) dokternya bertambah lagi dengan dokter khusus jantung, inipun visite tiap hari, yang berarti tambah biaya lagi. sebagai pasien saya cuman mikir, kenapa masih harus dipanggilkan dokter jantung lagi sih, kan sudah ada SpPD, apa tidak bisa menangani tensi 145/80 aja?

    gimana sih cak sebenarnya, soal “bagi-bagi rejeki” di antara dokter ini? kesannya kok pasien dijadikan “bancakan”. kalau misalnya kita keberatan dengan terlalu banyaknya dokter yang menangani, kepada siapa harus komplain? hehe… maaf OOT yah πŸ™‚

  15. 15 cakmoki Juli 25, 2008 pukul 2:54 am

    @ titah:
    Mestinya visit adalah pemeriksaan, follow up dan skedul perawatan oleh dokter terhadap pasien … bukan say hello trus diitung visit … yang beginian emang bancakan beneran … hahaha.

    Saya juga gak ngerti mengapa 145/80 panggil dokter jantung, lha 200/120 aja kalo ga ada kecurigaan gangguan jantung ga perlu celuk-celuk dokter jantung. Mestinya tanya mbak πŸ™‚ … mbayar ga tanya rugi dong.

    Kalo keberatan soal indikasi bancakan, sebaiknya mengadu ke wakil direktur RS bidang Yanmedik (pelayanan medis) πŸ™‚

  16. 16 draguscn Juli 25, 2008 pukul 7:31 am

    atau ke koran .. biar jadi pembelajaran buat semua ..

  17. 17 Sandra Juli 25, 2008 pukul 8:04 pm

    Wah, Cak..aku salut dengan dilemparnya topik ini.. sesuatu yang kita wong awam ini mengamati.. Karena kadang2 pasien tuh gak kepikiran liat bill rawat inap secara detail.. Biaya visite dokter kita anggap sambil lalu. Padahal di RSUD segitu melasnya ya? (aku jadi gak enak sama dokterku dr Iskandar Ali Sp.B yang hampir tiap hari tak keluhi macem2 dan beliau jawab gitu aja via sms tanpa minta bayaran hahaha…. Tapi kalau pengalaman tekanan darah naik trus panggil rekan dokter jantung yo kebangeten rekk… Jangan2 dokter SPD gadungan (hush!). Tapi tenan cak, salut dg entry mu ini..bikin masyarakat (baca:aku) paham.. salam,

  18. 18 Sandra Juli 25, 2008 pukul 8:06 pm

    Ralat : sesuatu yang kita wong awam KURANG mengamati..(hehe..saking semangatnya sampe kamisosolen)

  19. 19 AKUblog Juli 25, 2008 pukul 10:00 pm

    kayaknya profesi dokter udah layak diberi gelar “Most Controversial Job”. Kapan2 main ke tempatku yo mas : http://arekkardiounair.blogspot.com

  20. 20 cakmoki Juli 26, 2008 pukul 4:05 pm

    @ draguscn:,
    iya… πŸ™‚
    @ titah:
    Mbak…kata mas Agus, kirim keluhan ke koran.

    @ Sandra:,
    syukurlah ga diamati, ntar mbrebes mili melihat jumlah tagihan banyak sedangkan untuk doker rsud sak-ipet *tidak banyak*

    aku jadi gak enak sama dokterku dr Iskandar Ali Sp.B yang hampir tiap hari tak keluhi macem2 dan beliau jawab gitu aja via sms tanpa minta bayaran hahaha

    supaya enak, kirimi roti sms untuk beliau … moga panjang umur dan murah rejeki, bagi-bagi dok…hahaha

  21. 21 Manika Juli 27, 2008 pukul 1:41 am

    Gimana kalo org pemdanya sakit ganti dibancaki rame2 aja cak?? Kalo perlu datengin deh semua spesialis. Hehehe…

  22. 22 cakmoki Juli 27, 2008 pukul 10:43 am

    @ Manika:,
    Wah, gak berani ngomong … “dibancaki”, kalo ga salah sesajen untuk mayit kan? πŸ™„

  23. 23 dr. Irep, BEKASI Juli 28, 2008 pukul 12:21 pm

    ITU BUKAN JALAN BERLIKU PAK… TAPI, salah satu cara agar korupsi bisa lancar DAN SUKSES adalah SISTEM DIBUAT RUMIT, MUTER – MUTER, sehingga orang dibuat bingung lalu muntah – muntah EN MENCRET.
    ( ITU KATA SESORANG YANG MENANGANI KASUS KORUPSI )
    jasa Visit 3000 perak MAAAANTAAAP. lah wong BOKER di kakus umum aja bayar 2000 perak. masak visit dokter hampir sama bayar BOKER DI wc UMUM. ehm..ehm..
    YANG PASTI
    mereka bukan dokter bos, tapi ” BINATANG BEJAT ” bermuka manusia PAKE BAJU PUTIH LAGI ( Sory Cak Agak Kurang sopan )

  24. 24 dr. irep BEKASI Juli 28, 2008 pukul 1:19 pm

    AH…AH…AH…POSTING GUA DIBERANGUS

  25. 25 cakmoki Juli 28, 2008 pukul 10:51 pm

    @ dr.irep, Bekasi:
    Maaf, bukan diberangus … πŸ™‚
    Hmmm, kalo emang jalan menuju korupsi udah dirancang sedemikian rupa hingga orang menjadi muntah en mencret, bisa jadi koruptor emang menjadikan dirinya sebagai septik tank untuk nampung mencret … πŸ˜†

    Paragraf bawah ga ikut-ikut … setuju !!! *lirak-lirik*

  26. 26 budi Juli 31, 2008 pukul 9:26 am

    gaji dokter dikirain banyak uangnya, setau saya doketer sangat dinikmati karena saat ini memang banyak dibutuhkan. Apalagi dengan adanya penyakit-penyakit demam berdarah yang merupakan siklus tahunan di Indonesia

  27. 27 cakmoki Juli 31, 2008 pukul 2:33 pm

    @ budi:
    ga papa dikirain gitu, ntar banyak beneran … hehehe πŸ™‚

  28. 28 dr.Irep, Bekasi Agustus 1, 2008 pukul 4:37 pm

    kalau saya ditanya apakah pelayanan kesehatan di Indonesia Raya ini bisa baik. saya MENJAWAB LANTANG : BISAAAA. CARANYA ? MARI KITA PARA DOKTER YANG MASIH PUNYA NURANI ( termasuk yang sekarang lagi nangkring di CAKMOKI Blog ) MEMBUAT SATU AKSI DI DAERAH KITA MASING MASIH SUATU GERAKAN PELAYANAN KESEHATAN ( Jangan tunggu KAYA dulu bos baru mau berbuat )
    Saya sekarang ini berencana membuat Organisasi ( Modalnya dari Kocek sendiri ) POSYANDU PONDATION, yang menggarap pelaksanaan Posyandu yang benar
    Karena :
    1. Selama ini posyandu Sebagai ujung tombak sudah KOLAPS ( tapi
    gak semua )
    2. Posyandu sekarang tak lebih hanya timbang, imunisasi, lalu
    pulang tanpa ada evaluasi, tiba tiba ada yang GIZI BURUK AJA (
    Tapi gak semua juga sih )
    3. Selama saya PTT saya melihat banyak data kegiatan pelayanan
    kesehatan di Posyandu, Puskesmas, Dinas Kesehatan,dimanipulasi
    supaya kelihatan baik ( GAK BISA UANG DIMANIPULASI MINIMAL DATA
    JUGA GAK APA-APALAH )
    4. Dan Lain-lain
    BAGAIMANA TEMAN ? SETUBUH….eh.. SETUJU…?

  29. 29 cakmoki Agustus 1, 2008 pukul 5:20 pm

    @ dr.Irep, Bekasi:
    item 1 s/d 3 bener banget πŸ˜› … ujung-ujungnya ABS, data dikasih make-up, dibedaki ..dll …hahaha
    Saya setujuh idenya πŸ˜‰

  30. 30 Elyas Agustus 1, 2008 pukul 8:11 pm

    lama tak jumpa cak, pie kabare ? apik2 wae
    hmm serba repot, para petinggi diatas kadang ada yang mau ngebelain tetapi pasti ada juga yang menjegal mereka (kebanyak keknya yg tipe gini) so dokter yang bekerja dilapangan yang kena dampaknya, apalagi sistem adminitrasi di rumah sakit amburadul plus orang-orang yang ngerti adminitrasi bukannya memperingan kerja dokter malah membuat nya makin berbelit-belit…
    saat ini hanya bisa mengelus dada semoga suatu hari semua bisa berubah dan semoga kita-kita termasuk saya ndak tercemar hal-hal yang ndak baik heheheheh
    cak kapan nih kita adain gathering medical bloggers se indonesia keknya seru

  31. 31 cakmoki Agustus 2, 2008 pukul 12:15 am

    @ Elyas:
    kabar apik Mas … maturnuwun
    hmmm, kirain hanya di sini, gak tahunya dimana-mana hampir gak ada bedanya … hehehe *ngelus dada juga*
    cak kapan nih kita adain gathering medical bloggers se indonesia keknya seru
    setuju… saya makmum aja ya.
    Gimana kalo gathering di Beijing sekalian nonton penutupan Olimpiade 2008 …*bletak* πŸ˜†

  32. 32 nandar Agustus 4, 2008 pukul 5:02 pm

    assalamualaikum wr wb cak,
    maaf baru bisa ikutan comment,padahal nandar sering banget berselancar indaaaaaaaaah di webnya cak moki ini untuk menambah referensi nandar sebagai seorang tenaga medis,makasih banyak ya cak atas ilmunya,semoga Allah SWT selalu membalas kebaikan cak moki dan ini kan juga merupakan ladang amal yang tidak akan terputus (kata kyai saya cak)hehehehehehe.
    cak,nandar pengen curhat,ketika ilmu kedokteraan itu muncul,apa yang di harapkan Allah SWT kepada kita,apakah kita menjadi seorang yang dapat menyembuhkan atau orang yang meningkatkan taraf(bukan tarif loh cak,hehehehe) derajat kesehatan,jika kita orientasinya hanya menyembuhkan tentu seorang dukun aja mampu(bukan dukun sembur cak),tapi bila kita ingin meningkatkan taraf dan derajat kesehatan masyarakat maka disinilah bakti kita sebagai dokter.Untuk mampu meningkatan derajat kesehatan suatu penduduk atau masyarakat,maka kita harus mampu beberinteraksi dan berkomunikasi dengan masyarakat,sehingga informasi tentang kesehatan juga dapat kita sebarkan,jadi masyarakat bisa meminimalkan “penyakit” yang berada di sekitarnya,ini kan yang di harapkan dari pemerintah ya cak (tapi kalo gak ada yang sakit lah dokter dapet duit dari mana?,hehehehehehehe),ah cuek aja ya cak,rejeki kan di atur tuhan.
    nandar berharap moga-moga banyak dokter yang bisa memaksimalkan kepekaan hati dan kepedulian sosial pada masyarakat,saya teringat akan suatu anekdok yang kritis,seorang ustad pernah bertanya kepada nandar;pak,saya mau tanya yang menyembuhkan kami itu siapa?,dengan terbata-bata saya berkata yang menyembuhkan adalah AllAH SWT, dan ustad saya bertanya lagi kalo ALLAH SWT yang menyembuhkan kenapa pak nandar yang dapat duitnya,dan saya pun melongo terdiam(gedubraaaaaaaaaak deeeeeeeeeh),wah bener juga ya,hehehehehehehe
    adalah lagi kritik terbaru di sebuah harian surat kabar di kota saya cak
    “orang miskin dilarang sakit dan punya pendidikan tinggi”
    gedubraak lagi cak
    apes benar jadi orang indonesia
    sekian cak curahan hati saya,maaf kalo melenceng dari topik diatas
    keep smile ya cak
    semoga rahmat dan barokah ALLAH SWT selalu menyertai cak moki dalam nafas dan derap langkah cak demi kesehatan di indonesia
    wassalamulaikum wr wb

  33. 33 cakmoki Agustus 5, 2008 pukul 12:11 am

    @ nandar:
    wa’alaikum salam, wr, wb,…

    kalo ALLAH SWT yang menyembuhkan kenapa pak nandar yang dapat duitnya…

    … karena Allah Maha Pemurah … yang menganugerahkan ilmu pada mas Nandar dengan ridho-Nya, so … duitnya untuk mas Nandar ..hahaha, bilang ama pak ustadz ya, skor 1:1 πŸ˜€
    Trims curhatannya, moga jadi pengingat bagi para sejawat khususnya bagi saya yang dho’if.
    Wass, wr wb

  34. 34 nandar Agustus 5, 2008 pukul 11:40 pm

    hehehe.jazakallah cak…
    eh cak udah pernah nontoh film patch adams yang di bintangin robin williams
    moga-moga film tersebut bisa jadi inspirasi kita semua
    makasih banget ya cak
    πŸ™‚

  35. 35 mazrali Agustus 7, 2008 pukul 11:40 am

    aduh.. kok bisa ya.. Kalau buat dokter umum, jasa visit segitu juga kekecilan apalagi buat spesialis. Jadi mikir, nanti kalau saya sudah jadi dokter spesialis, apa mau kerja di RS pemerintah? Entahlah… biarlah waktu yang menjawabnya!

  36. 36 luchee Agustus 7, 2008 pukul 3:32 pm

    Di tempat saya,dokter umum 15 rb/visite dikelas 3 and dokter spesilis 40/visite. Dan daerahnya saya sibuk mencari dokter spesialis yang gak ada ampe sekarang. Rsud di tempat saya hanya ada dokter Obgyn dan Interna..Dulu spesialis anak dan Bedah ada tapi dah pada cabut..gak tahu napa..insentif 7 juta/bulan (katanya)…lain jasa visite. Tapi masih ada juga yang gak betah..saya gak tahu napa…kalau lihat dari masalah dibelahan lain Indonsia lain lagi masalahnya…sedang di tempat saya lain lagi masalahnya..oh..ya mereka dapat terios baru untuk mobilisasinya juga rumah…Ternyata dokter macam-macam..keadaannya juga macam-macam.
    yang cukup menyedihkan malah dokter puskesmas. Jasa visite hanya 1500. Dibagi dua ama Pemda jadi kita dapat 750 rupiah..gorengan cuma dapat separo. Padahal bertanggung jawab secara wilayah.
    Tapi jangan sedih…Karena kadang disitu ada amalan juga tooo…
    Trus apakah tulisan ini bisa jadi masukan…
    Gimana ada dokter spesialis yang mo ke daerah saya…
    GBU

  37. 37 cakmoki Agustus 8, 2008 pukul 3:52 pm

    @ nandar:
    saya belum pernah nonton filem tersbut…ntar cari dvd-nya..eh beli ding
    makasih juga ya πŸ™‚

    @ mazrali:
    hehehe, makanya harus diperjuangkan spy dokter berikutnya gak mengalami hal yang sama…
    Moga sukses …

    @ luchee:
    Makasih share dan supportnya … πŸ™‚
    Saya dulu juga berpikiran gitu, dalam hati selalu tertanam bahwa itu semua amalan…
    Di satu sisi bener tapi di sisi lain perlu juga dipertimbangkan oleh para penguasa daerah, apakah amalan tersebut sebanding dengan tanggung jawabnya kepada keluarga terutama anak jika seorang dokter dituntut amal (kata sakti yang gak sakti lagi) sementara anak sendiri untuk sekolah TK aja ga ada fasilitas di daerah kerjanya?
    Sapa yang mau ngorbankan anaknya sendiri tanpa sekolah TK sementara ortunya bisa sekolah TK hingga jadi dokter?
    Entah, hal semacam ini terpikir apa enggak oleh para kepala daerah… so gak heran jika temen-temen dokter di daerah yg jauh dari kota akhirnya gak betah … hehehe
    Makasih πŸ™‚

  38. 38 tyas Agustus 15, 2008 pukul 11:20 pm

    halo pakde, apakabar? lama ga maen kesini πŸ˜€

    wah masalah visit ini saya baru tau kalo di RSUD itu bayarannya hanya segitu.
    tapi dokter2nya tetep rajin kok mengunjungi tiap hari. Hebat banget berarti dedikasi beliau-beliau itu ya

    ga kayak waktu saya operasi app di RSI, biaya kamar 225ribu semalem, visit dokter 70ribu, tapi dokternya yang mana juga saya ga tau. Yang dateng asistennya mulu, huh.

  39. 39 cakmoki Agustus 16, 2008 pukul 12:10 am

    @ tyas:
    halo tyas … kabar baik, moga begitu pula sebaliknya πŸ™‚

    he-eh, jasa visit di RSUD gak seindah jas putihnya … hehehe.
    Kalo di RS swasta gak dikunjungi dokternya, ya ga usah bayar jasa visit, ato mungkin visitnya pas tyas tidur …

  40. 40 tukangkomentar Agustus 16, 2008 pukul 5:11 pm

    Hm,Cak,
    saya baru tahu nih, visite di Indonesia harus bayar? Bukankah itu termasuk tugas kita sebagai dokter yang merawat pasien?
    Kalau di Jerman memang ada visite yang bertarif, tetapi ini hanya khusus untuk pasien yang asuransinya private (private insurance).

    “wah masalah visit ini saya baru tau kalo di RSUD itu bayarannya hanya segitu.
    tapi dokter2nya tetep rajin kok mengunjungi tiap hari. Hebat banget berarti dedikasi beliau-beliau itu ya”
    Maaf, ini saya lebih nggak ngerti lagi. Kalau tugas atau bagian tugas ya harus dijalankan, kan? Nggak ada hubungannya dengan dedikasi yang tinggi, kan?
    Maaf lho, ngomong kritis dikit, nih. πŸ™‚

  41. 41 cakmoki Agustus 16, 2008 pukul 6:36 pm

    @ tukangkomentar:
    Ya benar. πŸ™‚
    Pertama, sistem penggajian (belum termasuk besarannya) dokter RSUD di Indonesia beda dengan negeri lain, bahkan dengan Malaysia sekalipun.
    Gaji seorang dokter berdasarkan UU tidak ditentukan dengan profesi tapi dengan golongan kepangkatan dan masa kerja.
    Contoh, seorang dokter spesialis bedah pasca PTT masa kerja kuang 5 tahun, Golongan III B (setingkat sarjana ke atas)bergaji 1,5 Juta rupiah (atau seharga HP kelas menengah ke bawah), tanpa ada tambahan lagi. Dan beliau harus datang ke RSUD jam berapapun kalo ada operasi, dan itu terjadi hampir setiap hari.
    Kalo dibandingkan dengan paramedis dengan golonngan yang sama dan masa kerja lebih 5 tahun (kurang 10 tahun), sama dengan gaji dokter bedah tersebut.

    Kedua, sistem asuransi di sini beda dengan negeri lain dimana asuransi masih dipegang oleh BUMN sehingga seorang dokter tak punya daya tawar selain hanya menjalankan perintah berkedok MoU.

    Ketiga, UU menginjinkan pola tarif (termasuk visite dokter) RSUD dan Puskesmas mungkin karena negara masih mengacu pada sistem penggajian yang sama untuk semua PNS tanpa melihat beban kerja dan profesi dan mungkin negara tidak mampu menambah insentif untuk dokter diluar ketentuan yang berlaku hingga saat ini.

    Keempat, tentu kami semua dokter di sini sependapat bahwa semua kewajiban adalah bagian dari tugas profesi.
    Dengan gaji dokter 1,5-3 jutaan ???? Bagaimana kalo semua dokter boleh memilih tidak bekerja di RSUD? …saya pribadi sih maunya temen-temen kompak keluar dari PNS … atau semuanya gak usah jadi PNS sekalian … hehehe.
    Masalah ini udah sering kami bahas dan berakhir dengan ketentuan BAKN bahwa semua PNS bergaji sama jika golongan kepangkatan dan masa kerjanya sama … so tak perlu heran jika seorang pesuruh yg udah kerja lebih 10 tahun bergaji lebih besar dari dokter.

    Kelima, dedikasi kami tetap tinggi … walau para dokter bergaji sekitar 1,5-3 juta rupiah dan tetap bekerja menunaikan tugas kami setiap hari.
    Maaf, saya juga berhak nulis ini agar para pengambil keputusan ikut berpikir memperbaiki sistem yang menurut saya belum mapan, sekaligus mengajak teman sejawat agar berani buka suara tentang kondisi yang sebenarnya.
    Selama ini gaji kami dianggap jauh lebih tinggi dari PNS lain, so gak ada salahnya kan menyampaikan apa adanya agar khalayak juga tahu.

    Kami (khususnya saya) sangat terbuka untuk dikritik, monggo … πŸ™‚
    Merdeka !!!

  42. 42 tukangkomentar Agustus 16, 2008 pukul 7:20 pm

    Oh, gitu, ya sekarang lebih jelas.
    Memang, di mana-mana begitulah. Dibilang gaji dokter tinggi, seperti juga di Jerman.
    Memang kalau gaji kami (seluruhnya sudah termasuk) dibandingkan dengan beberapa profesi lain atau kalau ditilik rata-ratanya, ya cukup tinggi. Tetapi kalau dihitung per jamnya (termasuk overtime yang berlebihan, contohnya jam kerja kami perminggu 40 jam, tetapi faktanya kami kerja kadang sampai 80 jam) rata-rata jauh lebih sedikit dari contohnya gaji tukang kayu atau tukang sapu.
    Jangan salah ngerti lho, saya menghormati dedikasi rekan-rekan di Indonesia yang biarpun gajinya tidak memadai untuk profesi yang penuh tanggung jawab ini (wong jiwa manusia taruhannya, kan?), tetapi ya gitulah, untuk saya visite ini merupakan bagian dari tugas kita.
    Di lain pihak saya (dulu, waktu saya masih berkerja di Indonesia) sering mengalami dokter spesialis yang berkerja di beberapa rumah sakit (legitim saja sih, sebetulnya), jadi kurang waktu untuk pasien-pasiennya. Sering pasien hanya dilihat satu kali perhari dan itupun dalam waktu singkat.
    MΓΊngkin sekarang sudah berubah, ya?
    Tentu saja saya (secara tidak langsung, lho! Karena secara langsung nggak boleh, kan?) mendukung perbaikan gaji dan sistem pembayaran dokter di Indonesia. Masa dokter gajinya kok mirip gaji perawat atau pesuruh (ini bukan merendahkan tugas mereka, lho, tetapi ini kenyataan yang berdasarkan letak pertanggung-jawabannya).
    Monggo. πŸ™‚

  43. 43 cakmoki Agustus 18, 2008 pukul 8:24 pm

    @ tukangkomentar:
    hehehe, nampaknya dokter di sana dipulosoro juga ya (80 jam/mgg).

    Di lain pihak … dokter spesialis yang berkerja di beberapa rumah sakit (legitim saja sih, sebetulnya), jadi kurang waktu untuk pasien-pasiennya. Sering pasien hanya dilihat satu kali perhari dan itupun dalam waktu singkat. MΓΊngkin sekarang sudah berubah, ya?

    Sttt, yang beginian masih ada yang tetep begitu πŸ˜†
    Maturnuwun dukungannya (langsung boleh koq).

  44. 44 dokterumum Agustus 22, 2008 pukul 9:25 am

    hm, spesialis segitu ya ?
    aku lho jaga di rumah sakit swasta menengah ke atas, di bagian BANGSAL
    gajinya 45 rb / shift ato 8 jam an, jadi kurang lebih $0.5 / jam ya
    $0.5 rekkkkkkkkkk. harga big mac berapa sih di amrik ????

  45. 45 cakmoki Agustus 22, 2008 pukul 2:00 pm

    @ dokterumum:
    sssttttt……iya… cuma para ts males ngomong beginian ntar dikira gak pengabdian *halah*
    eh, di swasta kog cuman segitu??? 😦 …minta naik dong…

    Di ndeso tempat kami (puskesmas rawat inap) pinggiran Samarinda … ship dokter untuk sore jam 2-5 (3 jam) 50 ribu, sekali lagi puskesmas rawat inap ndeso … trus untuk perawat ship malam kalo gak salah 50 ribu, … πŸ˜€
    Tapi yg beginian gak turun dari langit sih,… direwangi hearing … hehehe *bonek* … soale kalo gak gitu, seperti temen-2 yg ldi lain kota, cuman dibayar 150 ribu sebulan untuk visit…wuaaaaa…wuaaaaaa
    Semangat, bos !!!

  46. 46 ken Agustus 23, 2008 pukul 1:26 pm

    hahaha semua rs sama aja di padang lebih gawat lagi
    masa jasa medis seorang spesialis ada yang cuma Rp 3000/ bulan, setelah ditelusuri katanya kesalahan billing system…. gimana mau maju hehehehehe
    kl buat residen sih ga di gaji juga ga apa,….

  47. 47 cakmoki Agustus 23, 2008 pukul 10:26 pm

    @ ken:
    hahaha, lebih parah tuh πŸ™‚

    kl buat residen sih ga di gaji juga ga apa

    eh…kasihan ah, residen udah kebanyakan keluar duit *katanya sih*

  48. 48 wita Oktober 28, 2008 pukul 10:58 am

    kalo tentang gaji, say no comment sajalah…

  49. 49 cakmoki Oktober 29, 2008 pukul 1:46 pm

    @ wita:
    Kenapa hayo … πŸ™‚ kalo kurang bilang aja, sapa tahu ditambahi *mbuh sapa yang mo nambahi* πŸ™‚

  50. 50 gondok Desember 8, 2008 pukul 4:13 am

    ini karena banyak dari kita yang lupa..pasien tidak tanya harga, pasien tidak tanya uang, biar bayar mahal pasien tetap puas asalkan pelayanan prima dan kualitas ilmu uptodate…kita ini di bidang jasa..bukan sosial, salah sendiri nurut dicap profesi sosial, sedangkan wakil rakyat yang seharusnya sosial tidak mau dicap sosial makanya mereka nuntut fasilitas…sosial mungkin karena dulu disubsidi dan dokter sedikit, sekarang mau masuk aja ratusan juta, kagak ada subsidi2an, belum lagi dokter berjamur..banting2an harga..kenapa??bukan karena sosial..karena terpaksa daripada nganggur..

    kalo semua rekan2 dokter cuma manut aja dibayar harga gorengan, ini dijadikan pembenaran buat orang2 diluar profesi kedokteran untuk memperlakukan kita sama dengan levelan diploma atau lulusan SMA..tidak ada yang berubah kalo kitanya setuju..

    Bacalah diforum2 ato lihat di tv, biar kita cuma minta Rp.1500 tapi karena kita manusia dan capek dia pasien ke70 hari ini, kita alpa..tetap aja kita dituntut masuk penjara ama keluarganya..wajar karena profesi kita menuntut kesempurnaan..semuanya bilang..JANGAN MAIN2 SAMA NYAWA MANUSIA…kalo lihat bahwa seorang insinyur dengan 4 tahun lulus, gaji standar 10 juta..apa masih mau manut???

    lupakan IDI, IDI itu pengurusnya udah pada mapan dan punya nama semua, mana ada yang tau penderitaan dokter umum dan mash muda (ceilee) kyk saya..jaman mereka muda dulu kondisinya sangat sangat jauh lebih baik, baik dari segi persaingan maupun pundapatan dibanding masyarakat umumnya…

    AMA di amerika ketika ada usulan menggaji dokter seperti kita disini, menolak dengan alasan : seseorang dibayar sama berapapun pasien yang diperiksanya..INI SISTEM KOMUNIS, itu kata AMA…IYA KAMI TERIMA kata dokter indonesia..apa masih mau manut??

    SEKALI LAGI..kita tidak bisa memberikan pelayanan dibawah sempurna, ini nyawa manusia, sudah jadi kewajiban kita memberikan pengobatan terbaik sesuai ilmu terbaru..dan sudah sewajarnya kita menuntut tarif kita sendiri yang wajar..

    kalo ada rekan2 yang ingin sosial, silahkan, tokh bila anda dibayar dengan wajar, kebutuhan keluarga tercukupi..anda BISA OBATI GRATIS sebanyak yang anda mau..menurunkan harga adalah membunuh profesi anda..KASIH GRATIS pasien tidak mampu menurut penialain anda baru benar!!!

    tokh trendnya sekarang, semua mau jadi spesialis..kenapa??perut dan keluarga itu jawabannya..padahal william osler, dokter brilian dari inggris sudah memperingatkan betapa bahayanya pemikiran seorang spesialis yang terkotak2..tapi kita semua punya keluarga..kita ingin yang terbaik buat anak kita, kalo tukang sapu aja pengen anak jadi sarajana, kita tentu mau anak lebih dari kita..tapi kalo dokter umum cuma segini dihargai..lebih baik good bye dokter umum ku..kita akan menuju dunia kedoktern yang lebih berbahaya..dunia spesialis dengan pemikiran yang terkotak-kotak..

  51. 51 gondok Desember 8, 2008 pukul 4:16 am

    ayolah cak..jangan diberangus..biar sembuh gondok ku sedikit

  52. 52 cakmoki Desember 8, 2008 pukul 4:24 pm

    @ gondok:,
    hahaha, apakah tidak lebih baik berjuang ketimbang gondok?

    …sekarang mau masuk aja ratusan juta…

    Itu tidak berlaku kalo lulus test kan πŸ˜‰ … kecuali di swasta.
    Mau jadi apa dan mau bagaimana seorang dokter, pilihan ada pada masing-masing individu dokter.. πŸ˜€

  53. 53 nadia Desember 16, 2008 pukul 11:50 am

    hmmmmm cak nah tau gaji dokter di RSUD kalisat jember atau gaji dokter umum di kab jember….. bandingin ama D 1 lulusan STAN kaya org pajak ama bea cukai…. kok perasaan ngnes dokter… rasanya nyesel cak milih kul di kedokteran , giliran lulus punya rumah ngontrak di perumnas cak…… gimana ini cak

  54. 54 cakmoki Desember 17, 2008 pukul 12:42 am

    @ nadia:
    hehehe … tenang, saya dulu gitu. Praktek ditelateni ntar lama-lama seger juga koq. Kalo perlu cari tempat praktek agak minggir… di perumnas Patrang ya ?
    Kalo masalah gaji anggap aja uang angin untuk beli pulsa hp … hahaha.
    Moga sukses selalu πŸ™‚

  55. 55 ayahrafi Januari 2, 2009 pukul 12:40 am

    hahaha…cak moki nih makin hot saja ngomongin masalah per-duitan..
    Hmm..tapi memang benar sih cak, kalau hanya mengandalkan gaji dari pemerintah ya agak repot..Isteri saya PTT gaji sebulan tinggal 1.180.000,-, kadang2 dapet uang askeskin rapelan barang 200-300 ribu untuk 3 bulan, itupun kalau turun. Uang minyak kadang dapet 100-200 ribu itupun juga untuk 3 bulan. Jadi ya bisa dibilang kurang bisa untuk dijadikan satu2nya sumber nafkah.Tapi tetep Alhamdulillah.
    Saya sendiri sebelumnya memang belum mau PTT dulu, karena kebetulan didaerah saya tinggal cukup banyak peluang untuk dokter diluar kerjaan klinis. Yah, lumayan lah cukup untuk menyalakan kompor dan beli mainan anak.
    Yang menjadi konsen sekarang ini adalah mungkin pengguliran konsep desentralisasi kesehatan terutama untuk pelayanan kesehatan dasar yang masih belum optimal. Daerah cenderung kurang PD dengan kemampuannya dalam pembiayaan dan belum tertarik menjadikan kesehatan sebagai prioritas utama pembangunan dalam konteks penganggaran [termasuk remunerasi SDM].Padahal Sehat itu adalah investasi. Pemda sering merasa kebakaran jenggot kalau ada klaim bahwa pelayanan kesehatan di PKM itu atau RS anu dinilai tidak layak atau bahkan tidak manusiawi, dan seenaknya saja pemda langsung tunjuk jari ke PKM/RS tersebut sebagai pihak yang paling bertanggungjawab. Padahal kalau pemda mau berfikir sebentar saja, bahwa kesehatan ini tanggung jawab siapa, mau dibawa kemana, dan dimana peran PKM/RS sebagai unit pelaksana teknis didudukkan maka akan dapat dipahami dimana semua masalah ini bermuara.
    Wah, ngalor ngidul ya cak…Sori kalau jaka sembung, maklum saya kurang ngerti masalah ini.

    Btw, Selamat Tahun Baru hijriah 1429 dan Tahun baru masehi 2009 ya Cak, Wish you all the best!

  56. 56 cakmoki Januari 2, 2009 pukul 3:46 am

    @ ayahrafi:
    iya, saya sengaja nulis beginian berulang kali supaya temen-temen (terutama yang baru bekerja di RS atau Puskesmas) bisa konsentrasi pada tugasnya, tidak hanya dijadikan komoditi politik (biasanya saat pilkada) dan jadi kambing hitam ketika layanan kesehatan dinilai kurang maksimal.
    Kalo sy mah udah mau keluar, udah waktunya nyari duit untuk mainan anak dan anak mertua … hahaha. Kalo ngandalkan gaji pe en es, ntar gak bisa bayar speedy πŸ˜›

    Met Tahun Baru Hijriyah 1430 dan Miladiyah 2009, moga sampeyan berdua sukses selalu. Amiiin

  57. 57 myrza Januari 2, 2009 pukul 9:21 am

    Buat mbak Nadia …
    Masak baru lulus maunya bisa langsung beli rumah dan hidup mewah Mbak..
    “nyesel deh saya ga jadi kuliah di kedokteran…”
    Kenapa mikirnya ga dibalik aja…sapa tau rumah mewah yang ditempati anak STAN/pajak/Bea cukai adalah Pondok Mertua Indah…karena kalo ngandalin baru lulus udah bisa dapet rumah…entar malah dicurigai KPK…apes deh

  58. 58 reni Juli 12, 2010 pukul 9:49 pm

    makanya didaerah dokter spesialis sepi, malah ada daerah tertentu, dokter umunya jg sepi. Karana pemerintah pada asal tu hargai jasa orang, wlpn pengabdian kan semua orang jg butuh makan.masa jasa dokter hampir sama dengan jasa tukang parkir…

  59. 59 dr.mercury Desember 2, 2010 pukul 1:12 am

    aq jga ngerasain nih, jadi dokter umum, swasta dapet gaji 1,3 jt bulan ini. sedih sih. rasanya pengen cepet spesialis kalo inget duit. tapi pas inget senengnya mendiagnosis macam2 penyakit, walopun emang ga bisa sempurna krn keterbatasan fasilitas, rasany masih pengen jadi dokter umum. apa aq usaha lagi aja y biar bisa praktek di Oz??? T.T hiks, belum mau jadi dokter spesialis, tapi prihatin dg nasib dokter umum di negeri kita tercinta ini… apa kalo kita cinta Indonesia berarti harus ikut membusuk di negeri ini??? apa itu harga mati???

  60. 60 cakmoki Desember 2, 2010 pukul 11:36 am

    @ dr.mercury:
    itu nikmatnya mendiagnosa penyakit dengan fasilitas yang minim…kata pak dosen, kemampuan diagnosa akan makin tajam πŸ™‚ …otomatis sangat membantu pasien dari segi waktu dan biaya.

    Kalo mengharapkan perhatian pemerintah sulitlah, belum lagi makin banyak aturan dari IDI sendiri yang makin mempersulit dokter untuk praktek…bukan hanya dokter umum, tapi juga dokter spesialis.
    Sebaiknya memulai membina praktek supaya bisa mandiri.
    Makasih telah berbagi cerita

  61. 61 TAUFIQ Februari 1, 2011 pukul 12:21 am

    Kalau tempat saya, lebih parah. penghasilan dr. spesialis lebih rendah dari sopir Ambulans. Jasa kita sudah harus setor, pengembaliannya dipotong macam-2. Sedangkan sopir bisa nego dg keluarga pasien dan tidak di setor lagi

  62. 62 cakmoki Februari 1, 2011 pukul 5:36 pm

    @ TAUFIQ:
    Hahaha… bener-bener parah πŸ˜€


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Wong ndeso β„’

cakmoki

Wordpress Indonesia

Silahkan baca

DISCLAIMER

web tracker

9 Desember 2009

SEMENTARA TUTUP

Maaf, sementara Blog istirahat hingga ada pemberitahuan

Harap maklum


MARI HENTIKAN KORUPSI

No Korupsi

Internet Sehat

Translator

Warga Bicara

» Makasih PLN, listrik Samarinda dah membaik, moga gak byar-pet

» Waspada Demam Berdarah

» Jangan Gunduli Palaran

» Banjir...banjir. Kapan masalah ini teratasi ?

INGA INGA INGA

» Nyeri Urat or Tulang BUKAN berarti Penyakit Asam Urat.

» Sekali lagi: Pegal, Linu Tidak Identik dengan Penyakit Asam Urat

TEMANs

9racehime | A. Fatih Syuhud | Aditiawan Chandra | A.Tajib | Agung UD | aLe | alief | alle | almascatie | Amd | Anak Peri | Anak Sultan | Anang | Anang YP | Anas | Andalas | Anggara | Anjaz | Anti Pungli | Antobilang | Anung87 | Aribowo | Arif Kurniawan | Arul | Astikirna | awan965 | axireaxi | Bambang alias HR | BatakNews | Blog Pokoke? | Biho | CalonOrangTenar | Cay | Chandra | Chielicious | chiw imudz | cK-chika | Dalamhati | Deden Nugraha | deedhoet | deKing | Desti Utami | Didats | doeytea | dnial | Edy C | Eep | Elpalimbani | erander | Evi | Fa | Fa wp | Faiq | Fertobhades | Fetro | Fortynine | Freddy | Gadis | Gaussac | Gitablu | Grandiosa | GuhPraset | GuM | Helgeduelbek | Herdy | Indonesia Kita | Indra KH | ItikKecil | iway | Jejakpena | Jennie S. Bev | Joesath | Joko Taroeb | Julee | Juli | Juliach | Junthit | Jurig | Kakilangit | Kang Adhi | Kang Kombor | Kangguru | kawaichu | Kenji | Kenzt | kikie | koecing | Kumala | Kurtubi | Kw | Laras | liezmaya | Lilik Suryanto | Lily | Linker | Lintang | Lita | Lita wp | Luthfi | MaIDeN | Majalah Dewa Dewi | Manusiasuper | Master Li | Mathematicse | macanang | mbojo | Mei | Micokelana | Mr. Geddoe | Mufti | mybenjeng | My-za | Nayla Zahra | Nayz | Ndarualqaz | Neeya | Neo Forty-Nine | Neri | Ninoy | Nieke | Nomercy | n0vri | NuDe | Om Sulis | omaigat | Ooyi | Paijo | Panca | Pandu | Panduan WP | Papabonbon | Passya | Peyek | Pinkina | Pitik | Pralangga | Prayogo | Priyadi | Qee | Raja iblis | RenjanaBiru | rivafauziah | Rivermaya | Roffi | roisZ | Rujak | Sagung | Sahrudin | Saiful Adi | SaRa | Siu | Sofi | Sora9n | Suandana | Suluh | Susiloharjo | Telmark | Thamrin | tiesmin | Triesti | Tukang Sate | Venus | Wadehel | Wahyuansyah | Wandira | Wiku | WongMangli | Wulan | Yati | Yudhipras |

:: :: :: :: :: :: :: :: ::

Kesehatan

:: Ady Wirawan :: Agus Mutamakin :: Anis Fuad :: Anis Fuad wp :: Asri Tadda :: Astri Pramarini :: Astri Pramarini (awal) :: Astri Pramarini wp :: Blog Mahasiswa FKU 2003 :: Blog Rumah Kanker :: Dani Iswara :: Dani Iswara weblog :: Dokter arek cilik :: drAnak :: drarifianto :: Dwi wp :: Elyas :: Erik Tapan :: Evy HealhtySmile :: FK Unsri :: Gies :: Gies wp :: Ginna :: Grapz :: Hendar Sunandar :: HIV News :: Huda Thoriq :: IDI Samarinda :: imcw :: Imran Nito :: Iwan Handoko :: Jhonrido :: klikharry :: Kobal :: Laksmi Nawasasi :: Mashuri :: Mave Mina :: Mbah Dipo :: Mina :: My Blogspot :: Nur Martono :: PKM Palaran :: Rara :: Rizma Adlia :: Rudy Kwang :: SenyumSehat :: Sibermedik :: SimkesUGM :: SuperKecil :: Titah :: Tito :: Tonang Ardyanto :: Tukangkomentar :: Wi :: Vina Revi :: Vina Multiply :: Yusuf Alam R :: zulharman79 ::

:: :: :: :: :: :: :: :: :: :: ::

Institusi Kesehatan

:: Depkes RI :: WHO :: WHO Indonesia :: … nyusul

:: :: :: :: :: :: :: :: ::

Kolaborasi

:: Emedicine :: ICD 10 Wikipedia :: ICD 10 Wiki Indonesia :: OSWD :: OpenWebDesign :: Pakistan Times :: Rubab :: ntar ::

Kategori

BlogTour

Arsip

Komunitas Blog

blog-indonesia.com

PAGE RANK

Powered by  MyPagerank.Net

Add to Technorati Favorites

Health Blogs - Blog Top Sites

Health

Blogs Topsites - TOP.ORG

Health Blogs - Blog Rankings

Blog directory

TopOfBlogs

Top 10 Award

Feed Burner

cakmoki Blog

Bloggerian Top Hits

My BlogCatalog BlogRank

Site Meter

Since 30 Nov 07

PENGUNJUNG

  • 5,368,637 pengintip

Asal Usul

Pebruari 2011

free counters

Translate


%d blogger menyukai ini: