Meramu Sajian Mahasiswa Kedokteran

Mengintip Pelatihan Pengembangan Modul dan Skenario KBK

Selasa dan Rabo, 25-26 Maret 2008, saya berkesempatan mengintip pelaksanaan pelatihan pengembangan modul dan skenario Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) tahun ke II di PSKU Unmul ( Universitas Mulawarman) Samarinda. Pertemuan dari pagi hingga sore tersebut dipandu oleh Prof. Harsono dan Bu Titi Savitri dari FK UGM. Pada dasarnya, dalam tempo 2 hari para dosen didorong untuk mampu meramu sajian sebagai bahan pembekalan para calon dokter.

Silang pendapat, pro-kontra, pusing, peras otak dan selingan canda mewarnai jalannya diskusi. Lha piye, dosen yang notabene seorang dokter dipaksa diwajibkan mampu membuat skenario PBL (Problem Base Learning) dalam studi kasus bagi mahasiswa. Merangkai cerita penyakit teryata tidak mudah kendati setiap hari para dosen berhadapan dengannya. Bahkan membuat judul yang menarikpun perlu memeras otak dan imaginasi. Gak boleh lepas alur, gak boleh terlalu tertutup, gak boleh terlalu terbuka, …semi kali ya 😛

PEMETAAN MATERI

Tak terbayang betapa beratnya beban Tim Blok menyusun urutan pembelajaran untuk membekali mahasiswa dari tahun pertama hingga lulus dokter. Integrasi dan kesinambungan materi dari basic medical science hingga aplikasi klinis bukan perkara mudah, pun memadukan visi serta teknis pembelajaran antara dosen pre klinis dengan para klinisi (yang super sibuk). Belum lagi menghitung kemampuan mahasiswa dalam menyerap materi pembelajaran agar tidak terlalu membebani mahasiswa, wow…rumit.

Terlihat kerut merut dahi para dosen saat menyusun urutan materi pembelajaran, dari learning outcome, cakupan konten, List Topic, tema, pendekatan pembelajaran, penjadwalan hingga kolaborasi antar blok.

PRESENTASI BLOK

Seru !!! 😀 Inilah saat yang ditunggu-tunggu untuk melihat seberapa jauh gambaran integrasi antar blok. Tak ayal, acungan tangan interupsi, tanggapan, pertanyaan membanjiri sesi presentasi.

Dengan semangat kebersamaan dan saling memperbaiki, alhasil dapat dilakukan koreksi-koreksi materi Blok sehingga diharapkan dapat menyuguhkan sajian yang lebih terintegrasi dan menyeluruh bagi mahasiswa. Tentu tidak menutup kemungkinan dilakukan koreksi ulang jika dalam evaluasi ditemukan kekurangan.

Ada kejadian menarik. Saat presentasi Disfungsi Ereksi, penyaji menampilkan jadwal materi tentang “pengenalan organ reproduksi pria” yang mengalokasikan waktu 3 jam. Kontan seorang sejawat spesialis kulit dan kelamin mengacungkan tangan sembari berkomentar: “…apa nggak kelamaan tuh, untuk mengenal dan memahami seluk beluk cucakrowo organ reproduksi pria 3 jam …”. hahaha, iya ya, padahal untuk mengenal si cucakrowo organ reproduksi pria, sekali plorot dijamin inget selamanya * guyon ™ * 😆 … Mungkin ada yang mbatin, “…iya sampeyan langsung kenal Paklik, lha tiap hari mloroti celana pasien, lha mahasiswa (eh, mahasiswi ding), belum tentu kenal, wong miliknya sendiri aja kadang gak paham je …” …hehehe…

TERBUKANYA TIRAI

Akhir dari pertemuan tersebut menghasilkan ending menggembirakan, yakni terbukanya sekat antara tahap pre-klinik dan klinik. Para dokter klinisi di RS sepakat untuk mereview ulang dan memberikan bimbingan jika mahasiswa yang masuk tahap co-ass di bagian-bagian (bedah, obsgyn,penyakit dalam, anak, dll), ternyata dianggap belum siap menghadapi pasien sesungguhnya, …mungkin saking bingungnya peralihan dari menghadapi pasien virtual dengan saat menghadapi pasien beneran. Syukurlah… siiip, mudah-mudahan tirai-tirai pembatas di kerajaan-kerajaan kecil bagian-bagian luruh dan makin terbuka seiring dengan tuntutan ilmu pengetahuan. Semoga !!!

Demikian laporan singkat pandangan mata jalannya Pelatihan Pengembangan Modul dan Skenario Kurikulum Berbasis kompetensi di PSKU Universitas Mulawarman, Samarinda.

Moga bermanfaat.

:: :: :: tulisan ini diposting menggunakan wlw :: :: ::

🙂

cakmoki

Iklan

33 Responses to “Meramu Sajian Mahasiswa Kedokteran”


  1. 1 sibermedik Maret 27, 2008 pukul 5:25 pm

    kalau di FKUNS,PBL(PROBLEM BASED LEARNING) namanya diganti jadi BBM(BELAJAR BERDASARKAN MASALAH). Diplesetkan oleh teman-teman yang masih pakai sistem konvensional (SKS) menjadi BELAJAR BIKIN MASALAH he5x..

  2. 2 juliach Maret 27, 2008 pukul 6:37 pm

    Apalagi mahasiswi yg pakai jilbab dan dari keluarga puritan. Jangankan disfungsi ereksi dan mengapa, ereksinya sendiri saja tidak tahu.

    Entar di-refer ke Mak Erot wakakakaka……..

  3. 3 wulan Maret 27, 2008 pukul 8:02 pm

    waduh bu, kayaknya gak ada hubungannya dg pakai jilbab atau tidak pakai jilbab deh 🙂
    Pelajaran Biologi di SMA kan udah ada tuh,mengenal organ reproduksi pria dan wanita.
    Lulusan sma yg bisa masuk FK sptnya gak begitu naif amit. Yg agak mendetail mungkin, kalau cuma ereksi sih sptnya udah paham.

  4. 4 aRuL Maret 28, 2008 pukul 12:32 am

    cak moki juga dosen yah?
    *mengingat2 impian jadi dokter pernah terlintas dalam fikiran2ku saat SMA*

  5. 5 aRuL Maret 28, 2008 pukul 12:37 am

    *koq koment ke-2 itu terlihat rasis yah?*

  6. 6 dwi Maret 28, 2008 pukul 3:00 am

    hohoho
    sejujurnya wi masih ga ngerti gimana itu kbk n apa itu blok..
    secara wi kan generasi sks hehe

  7. 7 habibie arifianto Maret 28, 2008 pukul 7:44 pm

    Kapok cak moki, hehe.. komen2 kali ini bikin bingung semua buat ngejawabnya… hidup cak moki! tapi kok aku malah lupa ga kasih komen masalah ini ya? huehehe…
    iya cak, podo wae, dimana-mana di Indonesia ini jarang ada yang akur antara orang pre klinik sama klinik..

  8. 8 juliach Maret 29, 2008 pukul 7:31 am

    Aku bukan rasist Arul. Masalah ini biasanya agak tabu untuk kalangan mereka.

    Lagi pula kalo hanya gambar-gambar/pilem-pilem kayaknya ngak nyos deh buat nerangin calon dokter. Sebetulnya lebih baik langsung lihat aslinya alias jadi co-ass gitu. Tapi masalahnya pasien disfungsi ereksi ini tidak banyak yang pergi ke dokter/seksolog/psykolog (aku pikir masalah ini kompleks antara fisik (sehat/sakit/bawaan kali ye)& psy) (tertekan, ketekutan, capai, pasangan ngak bisa ngimbangi/kebosanan). Mereka percaya Mak Erot adalah ahlinya dalam penyembuhan penyakit ini.

    Jadi siapa yang mau dijadikan uji coba/tontonan para calon dokter? Apa hanya bayang-bayang saja atau dari buku saja?

    Cak, aku jadi sok tahu nih.

  9. 9 cakmoki Maret 29, 2008 pukul 10:44 am

    @ sibermedik:
    plesetan BBM ada benernya, sang dosen memeras otak bikin skenario (baca: masalah), trus mhs belajar mengurai.
    Contohnya: Tn. Y, umur 28 tahun, beberapa bulan ini mengeluh tidak bisa ereksi. Padahal sebelumnya si cucakrowo rajin bangun setiap pagi. Demikian pula ketika tiba saatnya siap “betempur” dengan istrinya, segala jurus tidak mampu membangunkannya, si cucakromo “anteng”, menolehpun tidak. Tak ayal istri Tn Y uring-uringan. Sejak kelahiran anak pertama setahun yang lalu, karier Tn Y menngkat pesat. Sekitar setengah tahun belakangan Tn Y kerja hingga larut malam. Bahkan tak jarang pekerjaan kantor dibawa pulang.
    Masalah:
    1. …bla…bla…bla
    2. …bla…bla…bla…dst
    Lha, cocok tuh lesetannya …hahaha

    @ juliach:
    Enggak koq, sama aja…soalnya menyangkut keilmuan. Kalo ilustrasi di atas hanya komentar guyon temen-temen karena yg presentasi kebetulan masih jomblowati…hehehe

    @ wulan:
    kayaknya anak SMP aja dah hapal ya…cuman nama, fungsi…dll kali perlu waktu khusus untuk memepelajari.

    @ aRuL:

    cak moki juga dosen yah?

    ups…bukaaaannnn 😆

    @ dwi:
    sama Wi…saya agak mudeng baru kemarin, itupun setelah melihat pelatihan.

    @ habibie arifianto:
    makanya komen masalah ini jangan sulit-sulit, ntar saya ga bisa jawab 😀

    iya cak, podo wae, dimana-mana di Indonesia ini jarang ada yang akur antara orang pre klinik sama klinik..

    penyakit turun-temurun? ..akur kalo pas makan-makan ..hahaha

    @ juliach:
    monggo, …kita diskusi 🙂 …jadi boleh berpendapat untuk saling memberi saran.

  10. 10 sibermedik Maret 29, 2008 pukul 3:00 pm

    Wakaka..iyo cak,ngomong2 soal cara belajar mahasiswa kami tuh pingin ilmu kdokteran tiap mata kuliahnya ada menu INSTALL-UNINSTALL.
    Ini karena saking banyaknya mata kuliah dan terpisahnya tiap SMF yang punya sudut pandang sendiri sehingga tidak dapat terintegrasi, akibatnya recall memory jadi lambat.

  11. 11 zulharman Maret 29, 2008 pukul 3:52 pm

    Selamat meramu sajiannya Cak, semoga enak, murah dan bergizi (EMB) he…he.. 🙂

    Pada awalnya saya juga binggung tentang KBK, sehingga banyak yang mengatakan KBK itu singkatan dari kurikulum berbasis kebingungan…. 🙂

    Belum lagi PBL, singkatan dari pleasure based learning, karena penerapannya tidak sesuai kaidah sehingga isinya hanya kesenangan untuk ngomong-ngomong bareng-bareng dan kumpul-kumpul sesama mahasiswa apalagi kalo tutornya datang terlambat 🙂

    Tapi Alhamdulillah sekarang udah mulai cerah, Terimakasih buat guru saya Prof. Harsono dan Bu Titi Savitri serta yang lainnya.

  12. 12 cakmoki Maret 29, 2008 pukul 4:53 pm

    @ sibermedik:
    makanya, KBK or BBM berusaha menjawab masalah tersebut, …tiap ganti blok diadakan review, responsi atau setel video untuk manggil memory.

    @ zulharman:
    ya, beliau emang jempolan untuk membangkitkan semangat dan menuntun kita… pas bimbingan di tempat kami, beliau banyak menggunakan istilah Jawa, jadi kalo yg ngerti ketawa…yang ga ngerti ikutan ketawa…hahaha

  13. 13 habibie arifianto Maret 29, 2008 pukul 11:18 pm

    “Aku bukan rasist Arul…. Masalah ini biasanya agak tabu untuk kalangan mereka.Lagi pula kalo hanya gambar-gambar/pilem-pilem kayaknya ngak nyos deh buat nerangin calon dokter. Sebetulnya lebih baik langsung lihat aslinya alias jadi co-ass gitu.”

    cak baca komennya mbak Juliach jadi inget senior saya.. Ceritanya begini, Senior saya dulu ngakunya sih orang salafusshalih cak, pake celana diatas lutut, plihara jenggot panjang (walau saya juga plihara jenggot juga sih, hehe..)nah pas stase obsgyn, dicari residen sampe pusiiiiiing gak ketemu-ketemu berulang kali sampe si residen apal, ternyata pas ditanya alesannya, gak mau ngerjain pasien (pemeriksaan gynekologis dalam dan bantu partus) karena bukan muhrim nya… bahkan liat pasien “telanjang” mau partus aja nggak mau, saya yakin agama saya , cak moki dan dia tidak mengajarkan hal ini, membantu hanya yang muhrim, walau yang non muhrim kalo nggak dibantu mau nggak mau matek juga. jadi kita semua berpikiran, opo dia aja ya yang pikirannya ngeres cak?!
    dan itu nggak cuma satu orang cak, ternyata bhuanyak. Kalo saya mah, atas dasar ilmu pengetahuan, dan asas kemanusiaan kok ya no problem yo cak?!Toh pikiranku gak ngeres liat begituan, sing ono mesakno..

  14. 14 cakmoki Maret 30, 2008 pukul 12:57 am

    @ habibie arifianto:
    iya, ada yang berpandangan gitu, … bergantung keyakinan masing-masing kali ya … hanya saja, dalam hati sy bertanya-tanya, kalo emang gak mau nolong pasien karena alasan “muhrim” (dalam konteks pemeriksan fisik), mengapa masuk kedokteran yg nyata-nyata berhadapan dg hal-hal semacam itu?
    Seniornya Mas Habibie itu gak mau meriksa hanya kasus obsgyn apa juga kasus lain ? Misalnya: penyakit-2 abdomen, thorax ..dll. Kan kalo berlandaskan nash umum (‘am) berarti gak mau meriksa perut pasien selain kasus obsgyn yg bukan muhrimnya dong *halah* 😀

    Kalo saya mah, atas dasar ilmu pengetahuan, dan asas kemanusiaan kok ya no problem yo cak?!Toh pikiranku gak ngeres liat begituan, sing ono mesakno..

    Saya pernah mengikuti Bahtsul Masa’il masalah ini, kalo gak salah acuannya ‘Ianatuth tholibin, fatkhul mu’in dll *lupa*, ternyata dalam hal pemeriksaan dokter-pasien, diperbolehkan walaupun bukan muhrim, termasuk ngeliat “jeroan” dengan indikasi medis. Hujjah (argumen) nya kalo gak salah seperti yg sampeyan katakan, yakni: ilmu pengetahuan dan kemanusiaan dalam rangka pengobatan.

  15. 15 Mia Maret 30, 2008 pukul 11:55 am

    Salam ,saya sih cuma mendoakan semoga nggak bikin calon dokter tambah bingung ,habis terlalu banyak yang mau dimasukin ke otak para calon dokter …..ya mas ?! 😉

  16. 16 cakmoki Maret 30, 2008 pukul 2:52 pm

    @ Mia:
    Salam,
    iya mbak Mia…moga para peramu menu bisa memilihkan yang prioritas supaya gak muntah 😉

  17. 17 tukangkomentar April 1, 2008 pukul 5:50 am

    *koq koment ke-2 itu terlihat rasis yah?*
    Wah, maaf, ya, sepertinya aRul belum/kurang mengerti makna “rasist” atau “ras”.
    Saya baca komen mBak Juliach bolak-balik, kk nggak ketemu yang nadanya berdasarkan rasisme, ya?! Lain kalau seandainya mBak Juliach maki-maki: Cino, Jowo, Bule, Abang, Ijo, Belang, kotak-kotak dsb.
    🙂

  18. 18 habibie arifianto April 2, 2008 pukul 2:37 pm

    berita terbaru sih semuanya cak, terakhir denger dari bidannya yang kerja di Balai Pengobatan yang dia pimpin segala macem pasien cewek nggak mau dipegang, hehehe..
    opo tumon?! Cocoke jadi andrologi aja kali ya

  19. 19 cakmoki April 2, 2008 pukul 4:08 pm

    @ tukangkomentar:
    waktu smp sy suka dipanggil: ireng elek koyok sepur kluthuk …gak ngerasa apa-apa tuh…hehehe

    @ habibie arifianto:
    “cewek” mulai lahir procot sampai embah-2 ? 🙄
    kali keyakinannya emang gitu ya…sumprit baru denger 😀

  20. 20 Fadli Wilihandarwo April 25, 2008 pukul 10:40 am

    Alo om dokter…
    Pengen ngasih info nih… Saya baru aja buat blog khusus anak FK. Mohon saran dan kritiknya yah…

    Yah, blog ini sebagai tempat kumpulnya para mahasiswa kedokteran. Masih belum ada apa-apanya sih. Entar 2 atau 3 minggu lagi baru bener-bener jadi dengan desain sendiri dan berbagai fasilitas lainnya.

    Langsung aja ke http://www.anakFK.com

  21. 21 cakmoki April 26, 2008 pukul 2:54 am

    @ Fadli Wilihandarwo:
    alo juga 🙂
    Ok, bagus, ntar saya link ya ..
    Met berkarya, moga sukses selalu

  22. 22 wafa Juli 27, 2008 pukul 6:22 pm

    saya mahasiswi fk’07 universitas mataram,,
    dan sekarang pake sistem kbk alias blok,,,,
    pusing banget nh,,,
    LO (learning objective) menjadi camilan setiap hari yang harus dicari dan dilahap

  23. 23 cakmoki Juli 27, 2008 pukul 10:12 pm

    @ wafa:,
    semua FK seluruh Indonesia harus pake KBK, namun kita menyadari bahwa pemeriksaan dan komunikasi calon dokter dengan pasien secara langsung danmandiri tidak dapat tergantikan… karenanya kami berpendapat masih diperlukan ketrampilan teknis medis yang kita tahu gak semuanya dapat dicover dengan KBK … saya ikut nyusun Blok … so tahu banget ada kelemahannya … hehehe

  24. 24 saztie Agustus 1, 2008 pukul 12:55 pm

    alo… di tengah kebingungan menjelang saat2 terakhir di FK… jadi muncul penyesalan kenapa dulu wkt SPMB milih FK. temenq yg kul d teknik skrg udah kerja d papua dg gji 10 jt / bln! lha aq? skrg blm lulus… berharap ketar ketir apa bisa lulus wkt yudisium ntar (kabarnya angkatanq untuk thn pertama DM yg g lulus 95 org!!!!) hwaaaaaa!!!!!! stres stres stres stres…………

  25. 25 cakmoki Agustus 1, 2008 pukul 2:25 pm

    @ saztie:
    hahaha, sabar… enjoy aja, ntar akan merasakan kenikmatan tiada tara.
    Ukuran kepuasan bukan hanya duit kan ?

  26. 26 dzulfikar zacky Oktober 10, 2008 pukul 10:50 pm

    huff,,,, pake KBK tuh yang gak enak pas cari referensi ama solving kasus skenario blok, karena kita selaku mahasiswa bener2 gak tau sama sekali, apalagi pas dulu masih semester satu. ampun dah..

  27. 27 cakmoki Oktober 11, 2008 pukul 1:30 am

    @ dzulfikar zacky:
    iya, emang KBK dimaksudkan agar mhs aktif dengan bimbingan tutor. KBK terus dikembangkan dan dievaluasi agar skenario yg disusun gak menimbulkan bias dan gak menyulitkan mhs … 🙂

  28. 28 reza fahlevi Oktober 18, 2008 pukul 7:06 pm

    TS yang terhormat

    wah bagaimana yah dok angkatan maahasiswa kurikulum lama yang gak dapet PBL..kok kayaknya jadi out of date…pas ngeliat materi PBL adek2 tingkat yang keren keren..bisa ketinggalan nih…*pengen juga ikut PBL tapi kyknya g mungkin deh ngulang kuliah*….

  29. 29 cakmoki Oktober 18, 2008 pukul 11:02 pm

    @ reza fahlevi:
    KBK emang mengedepankan pemeriksaan klinis (pake alat bantu) sejak dini dan mhs dipacu untuk aktif mencari referensi terkini melalui PBL.
    Bisa dikejar koq … caranya dengan melatih ketrampilan tenis medis di institusi pelayanan, misalnya di rawat inap Palaran seperti mhs semester 5 s/d 7 dimana mereka berhadapan langsung dengan pasien, mulai anamnesa dan seterusnya…
    Kalo minggu biasanya sy yng menemani. Soalnya, kalo hanya mengandalkan di RSUD gak cukup, apalagi coas di RSUD adalah kasta terendah, bagian diomeli…hahahaha.
    Met nge Blog ya … temen yg lain diajak nge Blog dong

  30. 30 reza fahlevi Oktober 19, 2008 pukul 12:03 am

    waah anak2 semester 5 -7 diajakin ya ke palaran..bagus banget tuh…pernah juga siy denger ada acara ke palaran..tp g tau anak2 rutin g…hehe…coas rantai terakhir di RSUD…g konsultan..dokter jaga ampe perawat punya hak bebas marahin coas…wah ini nge blog juga baru belajar gara2 terinspirasi blog cak moki…harap dipandu ya dok…oia izin ngelink ya..

  31. 31 cakmoki Oktober 19, 2008 pukul 12:54 am

    @ reza fahlevi:
    kayaknya yg ke Palaran kegiatan ekstrakurikuler yg ga ada jadwal khusus, padahal kita siap aja kalo emang temen-temen mau.
    Hahaha, jadi bener suka dimarahi ya.. mestinya udah ga jamannya lagi. 😀
    Saya link juga, kita sama-sama belajar, blog nya bagus koq, saluuut 😀

  32. 33 cakmoki Juni 9, 2010 pukul 6:49 pm

    @ Morphic:
    Ok, makasih 🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Wong ndeso ™

cakmoki

Wordpress Indonesia

Silahkan baca

DISCLAIMER

web tracker

9 Desember 2009

SEMENTARA TUTUP

Maaf, sementara Blog istirahat hingga ada pemberitahuan

Harap maklum


MARI HENTIKAN KORUPSI

Jangan Korupsi Ah

No Korupsi

Internet Sehat

Warga Bicara

» Makasih PLN, listrik Samarinda dah membaik, moga gak byar-pet

» Waspada Demam Berdarah

» Jangan Gunduli Palaran

» Banjir...banjir. Kapan masalah ini teratasi ?

INGA INGA INGA

» Nyeri Urat or Tulang BUKAN berarti Penyakit Asam Urat.

» Sekali lagi: Pegal, Linu Tidak Identik dengan Penyakit Asam Urat

TEMANs

9racehime | A. Fatih Syuhud | Aditiawan Chandra | A.Tajib | Agung UD | aLe | alief | alle | almascatie | Amd | Anak Peri | Anak Sultan | Anang | Anang YP | Anas | Andalas | Anggara | Anjaz | Anti Pungli | Antobilang | Anung87 | Aribowo | Arif Kurniawan | Arul | Astikirna | awan965 | axireaxi | Bambang alias HR | BatakNews | Blog Pokoke? | Biho | CalonOrangTenar | Cay | Chandra | Chielicious | chiw imudz | cK-chika | Dalamhati | Deden Nugraha | deedhoet | deKing | Desti Utami | Didats | doeytea | dnial | Edy C | Eep | Elpalimbani | erander | Evi | Fa | Fa wp | Faiq | Fertobhades | Fetro | Fortynine | Freddy | Gadis | Gaussac | Gitablu | Grandiosa | GuhPraset | GuM | Helgeduelbek | Herdy | Indonesia Kita | Indra KH | ItikKecil | iway | Jejakpena | Jennie S. Bev | Joesath | Joko Taroeb | Julee | Juli | Juliach | Junthit | Jurig | Kakilangit | Kang Adhi | Kang Kombor | Kangguru | kawaichu | Kenji | Kenzt | kikie | koecing | Kumala | Kurtubi | Kw | Laras | liezmaya | Lilik Suryanto | Lily | Linker | Lintang | Lita | Lita wp | Luthfi | MaIDeN | Majalah Dewa Dewi | Manusiasuper | Master Li | Mathematicse | macanang | mbojo | Mei | Micokelana | Mr. Geddoe | Mufti | mybenjeng | My-za | Nayla Zahra | Nayz | Ndarualqaz | Neeya | Neo Forty-Nine | Neri | Ninoy | Nieke | Nomercy | n0vri | NuDe | Om Sulis | omaigat | Ooyi | Paijo | Panca | Pandu | Panduan WP | Papabonbon | Passya | Peyek | Pinkina | Pitik | Pralangga | Prayogo | Priyadi | Qee | Raja iblis | RenjanaBiru | rivafauziah | Rivermaya | Roffi | roisZ | Rujak | Sagung | Sahrudin | Saiful Adi | SaRa | Siu | Sofi | Sora9n | Suandana | Suluh | Susiloharjo | Telmark | Thamrin | tiesmin | Triesti | Tukang Sate | Venus | Wadehel | Wahyuansyah | Wandira | Wiku | WongMangli | Wulan | Yati | Yudhipras |

:: :: :: :: :: :: :: :: ::

Kesehatan

:: Ady Wirawan :: Agus Mutamakin :: Anis Fuad :: Anis Fuad wp :: Asri Tadda :: Astri Pramarini :: Astri Pramarini (awal) :: Astri Pramarini wp :: Blog Mahasiswa FKU 2003 :: Blog Rumah Kanker :: Dani Iswara :: Dani Iswara weblog :: Dokter arek cilik :: drAnak :: drarifianto :: Dwi wp :: Elyas :: Erik Tapan :: Evy HealhtySmile :: FK Unsri :: Gies :: Gies wp :: Ginna :: Grapz :: Hendar Sunandar :: HIV News :: Huda Thoriq :: IDI Samarinda :: imcw :: Imran Nito :: Iwan Handoko :: Jhonrido :: klikharry :: Kobal :: Laksmi Nawasasi :: Mashuri :: Mave Mina :: Mbah Dipo :: Mina :: My Blogspot :: Nur Martono :: PKM Palaran :: Rara :: Rizma Adlia :: Rudy Kwang :: SenyumSehat :: Sibermedik :: SimkesUGM :: SuperKecil :: Titah :: Tito :: Tonang Ardyanto :: Tukangkomentar :: Wi :: Vina Revi :: Vina Multiply :: Yusuf Alam R :: zulharman79 ::

:: :: :: :: :: :: :: :: :: :: ::

Institusi Kesehatan

:: Depkes RI :: WHO :: WHO Indonesia :: … nyusul

:: :: :: :: :: :: :: :: ::

Kolaborasi

:: Emedicine :: ICD 10 Wikipedia :: ICD 10 Wiki Indonesia :: OSWD :: OpenWebDesign :: Pakistan Times :: Rubab :: ntar ::

Kategori

BlogTour

Arsip

Komunitas Blog

blog-indonesia.com

PAGE RANK

Powered by  MyPagerank.Net

Add to Technorati Favorites

[Valid RSS]

Health Blogs - Blog Top Sites

Health

Blogs Topsites - TOP.ORG

Health Blogs - Blog Rankings

Blog directory

TopOfBlogs

Top 10 Award

Feed Burner

cakmoki Blog

Bloggerian Top Hits

My BlogCatalog BlogRank

Site Meter

Since 30 Nov 07

PENGUNJUNG

  • 5,303,313 pengintip

Asal Usul

Pebruari 2011

free counters


%d blogger menyukai ini: