Simulasi Pasien Palsu

Oleh-oleh Stroma: Health Care Simulation

Sejak tahun 2007 semua Fakultas Kedokteran diwajibkan menggunakan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) dalam metode pendidikannya. Menggunakan sistem blok, terjadwal, materi terukur, parameternya jelas dan lain-lain sebagai prasyarat KBK. Materi pendidikan tidak jauh beda dengan sistem konvensional, kecuali pembaharuan pada metode, sistematika dan lamanya kuliah (dengan menhilangkan mata kulaih yang dianggap kurang berhubungan dengan bidang medis). Dan yang spektakuler, untuk menjadi dokter tidak perlu berlama-lama lagi, cukup 5 tahun, yakni 3,5 tahun jenjang pre-klinik dan 1,5 tahun jenjang klinik (co-ass). Wahhh !!!

Pada sesi ini, dr. Umatul Khoriyah dan pak Anis Fuad, S.Ked, DEA mempresentasikan pernak-pernik simulasi ketrampilan teknis medis (skills lab) bagi mahasiswa kedokteran sebagai salah satu metode dalam KBK.

INOVASI KETRAMPILAN MEDIS

(makalah lengkap silahkan hubungi Senat Mahasiswa FK Unika Atmajaya)

dr. Umatul Khoriyah . Dengan penguasaan materi yang matang beliau menyampaikan berbagai upaya inovatif untuk menyiasati hambatan-hambatan terkait Skills Lab sebagai sarana belajar ketrampilan medis mahasiswa kedokteran.

Manikin (Mannequin) merupakan manusia (dan bagian tubuhnya) mainan untuk melatih mahasiswa dengan harapan dapat meningkatkan ketrampilan medis, kepercayaan diri, diskusi interaktif sehingga mahasiswa siap ketika memasuki pendidikan klinis di RS (co-ass).

Berbeda dengan pasien sesungguhnya, manikin ga bisa bicara, ga bisa mengeluh, ga kelihatan mimik mukanya, ga bisa nangis, ga bisa merintih kesakitan dan ga bisa protes layaknya pasien beneran. *namanya juga boneka*.

Untuk memberikan nuansa “klinis”, para ahli dan para pelaku pendidikan kedokteran telah berupaya menjawab persoalan tersebut, diantaranya dengan membuat alat bantu yang dipasang di badan sukarelawan (dibayar euy), melatih aktor pemeran pasien…dll..dll. Pendekatan tersebut bukan tanpa kendala mengingat manusia sakit tidak pernah bisa tergantikan. Bayangkan ketika seorang sukarelawan yang telah dipasang alat bantu atau aktor yang sudah dilatih berperan menjadi pasien (misalnya) sedang diinfus oleh mahasiswa. Pasien palsu tersebut ga akan bereaksi kesakitan spontan andai mahasiswa salah tusuk, bisa jadi malah menahan tawa melihat mahasiswa keliru tusuk jarum infus.

Dari sisi mahasiswapun menampakkan kendala. Mereka akan kehilangan sensasi deg-degan dan perasaan lain ketika umpamanya harus berlatih menangani pasien Gawat Darurat. Mereka tidak bisa merasakan bagaimana adrenalin meningkat saat harus segera menolong pasien Status Asmatikus … dll …dll.

Tantangan sekaligus pemicu bagi para pelaku pendidikan kedokteran untuk terus mengembangakan Skills Lab agar mendekati aroma klinis, karena bagaimanapun Skills Lab tidak dapat menggantikan suasana sesungguhnya.

Semangat Bos !!! πŸ˜€

Anis Fuad, S.Ked, DEA. Saya dibuat kagum oleh presentasinya. Penyampaiannya yang lugas, runtut dan enjoy mampu menghilangkan kantuk peserta simposium. Beliau menawarkan modernisasi simulasi ketrampilan medis bagi mahasiswa dengan menggunakan prasarana asah ketrampilan medis virtual ala game online. Menarik !!!

Dari beberapa contoh yang beliau paparkan, saya tertarik dengan alur teknis medis virtual layaknya menghadapi pasien beneran. Tahapan mulai anamnesa (wawancara) menanyakan keluhan, pemeriksaan fisik, alternatif pemeriksaan penunjang, penegakan diagnosa, penatalaksanaan hingga advis kepada pasien, harus dilakukan mahasiswa tahap demi tahap secara virtual. *era online nih*

Menurut beliau, mahasiswa harus mampu menggunakan bahasa Inggris dengan “baik” sebagai syarat pertama. *beraaatsss Bos*. Konon kalo salah bertanya, si pasien virtual akan menjawab: “i don’t know…”. Dan kalo salah tusuk or salah tindakan, pasien virtual akan bereaksi layaknya pasien beneran, reaksinya bisa macam-macam, bisa berteriak kesakitan, sesak napas atau bahkan mati.

Keunggulan lain, pembelajaran menggunakan sarana virtual ini dapat dilakukan bersama-sama secara interaktif, kayak game lah. πŸ˜€ … pun tepat tidaknya setiap tahapan ketrampilan medis dapat langsung terlihat.

Kata pak Anis, seperti halnya pilot yang harus lulus ujian simulasi sebelum mengemudikan pesawat, mahasiswa kedokteran dituntut lulus ujian simulasi pasien virtual sebelum berhadapan dengan pasien sesungguhnya.

:: :: :: Tantangan dan Renungan :: :: ::

Upaya inovatif untuk meningkatkan ketrampilan medis mahasiswa kedokteran adalah tanggung jawab kita semua, khususnya para guru *termasuk petinggi Dikti lho* agar cita-cita untuk mencetak dokter yang kompeten dapat terwujud. Tantangan menghadang di depan kita, namun dengan kebersamaan dan keihlasan, mudah-mudahan kendala-kendala tersebut dapat kita lewati.

:: :: :: Penutup :: :: ::

Sayang, saya tidak bisa mengikuti simposium hingga akhir acara. Sebelum sesi terakhir saya dan mas Dani harus meninggalkan arena simposium … pulang. πŸ˜€ *ditunggu anak mertua* πŸ˜›

Terimakasih kepada Panitia STROMA, SMFK Atmajaya dan semuanya … sampai jumpa di acara berikutnya … daaaggg

:: :: :: posting ditulis menggunakan wlw :: :: ::

Iklan

23 Responses to “Simulasi Pasien Palsu”


  1. 1 astri Maret 21, 2008 pukul 10:35 pm

    pasien vietual boleh banget tuh, apalagi di bbrp pusat pendidikan jumlah pasien sdh tdk sebanding lg dgn jumlah mahasiswanya. mana masa pendidikan dipersingkat pula.
    Lagi di JakArta nih ikutan KPPIK

  2. 2 sibermedik Maret 22, 2008 pukul 3:41 am

    Masalahnya adalah pasien beneran gak ada menu UNDO,jadi nek salah gak iso di ulang he5x..

    5tahun pendidikan emang bikin iri..cepet2an jadi dokter..nggak tau dah ‘mateng’ belum ilmu teori,skill,&attitude nya..ngomong2 ‘mateng’ malah pingin jeruk’e pak ustadz cak,enak ndak? :p

    mampir k blogq cak..

  3. 3 juliach Maret 22, 2008 pukul 5:40 am

    Setuju kalo semua dokter fasih bhs inggris. Waktu bule-buleku pada sakit bersamaan, aku sungguh repot. Harus lari dari UGD ke poli kulit di RS. Ps Rebo Jakarta, kayak orang gila saja.

  4. 4 cakmoki Maret 22, 2008 pukul 12:43 pm

    @ astri:
    iya mbak, itu salah satu alasan diperkenalkannya simulasi virtual. Berarti pusat-pusat pendidikan perlu mempersiapkan infrastrukturnya. Kalo mhs sih dijamin siap, dan menyenangkan soalnya kayak mainan. Bisa berlatih kapanpun dan dimanapun.

    Met mengikuti KPPIK …moga sukses πŸ˜€

    @ sibermedik:
    hahaha, iyo bener kuwi…
    Ntar kalo pak Anis presentasi lagi, salah satu item hambatan: gak bisa UNDO πŸ˜›

    5 tahun … saya juga belum nemu kedokteran di luar sana yg pakai kurikulum 5 tahun. Eamang kalo 1,5 tahun di klinik kayaknya berat, kecuali jika punya RS khusus pendidikan yang cukup besar.

    Jeruke enak tur legi πŸ˜‰

    @ juliach:
    setuju !!!

    Waktu bule-buleku pada sakit bersamaan, aku sungguh repot. Harus lari dari UGD ke poli kulit di RS. Ps Rebo Jakarta, kayak orang gila saja.

    hehehe, repot jadi penerjemah ya πŸ˜€

  5. 5 zulharman Maret 22, 2008 pukul 3:59 pm

    Cak yuk buat game animasi kecil-kecilan aja pake flash. Misalnya game cara nyuntik IM yang benar. Ntar kita buat pasien modelnya yang siip seperti AiswaraRay, he…he..:).

  6. 6 cakmoki Maret 23, 2008 pukul 1:29 am

    @ zulharman:
    setuju πŸ˜€ … tapi gak punya gambar gluteus Aiswarya Rai, enake pinjem gluteus nya siapa ? trus kalo salah suntik pakai teriakannya Dinosaurus biar heboh…hahaha

  7. 7 zulharman Maret 23, 2008 pukul 8:06 am

    Wah harus cepat cari gluteus nih, soalnya april ini situs berisi gluteus akan diblokir oleh DEPKOMINDO .. πŸ™‚

  8. 8 Yudhi H.Gejali Maret 23, 2008 pukul 10:35 am

    Cak, kualitas asil KBK nanti gimana?
    Cak Optimis gak??
    Soalnya kalo aku perhatikan, mereka memang akan lebih matang dari sisi Clinical skill..but weak in the basic medical science.

    Kalo di Negri Barat sih, mereka terbiasa baca text book tiap hari, bagi mereka Gaul di Mall dan Gaul Medic sudah jadi gaya hdup anak kedokteran. Lha kita??

    Menurutku, agak susah yah..
    Gimana?? Aku cuma komentar aja..masalahnya aku bukan pakarnya sich..

  9. 9 dokterearekcilik Maret 23, 2008 pukul 12:37 pm

    Kalo soal gluteus gak usah cari yg import, yg lokal lebih baik dan mendekati kenyataan, contoh: inul, dewi persik, julia perez, dll masih banyak. πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€

  10. 10 sibermedik Maret 23, 2008 pukul 6:51 pm

    @cakmoki,zulharman&dokterearekcilik
    iyo jarenΓ¨ april ini mau dblokir pemerintah..sing mesakno Sp.OG bingung cari gambar genetalia feminina soale termasuk gambar ‘begituan’ he5x..

    btw,mbok blog ku disambangi dok?kesepian kangen suroboyo..
    sibermedik.wordpress.com

  11. 11 boyke Maret 23, 2008 pukul 9:30 pm

    @Yudhi H.Gejali
    Maaf komentar sedikit…

    “Soalnya kalo aku perhatikan, mereka memang akan lebih matang dari sisi Clinical skill..but weak in the basic medical science.”

    Sekarang aja saya merasa basic medical science kita sangat lemah. berapa persen mahasiswa kedokteran yang diajak diskusi soal (misalnya) efek TGF beta-1 terhadap apoptosis dan bisa nyambung? ga terlalu banyak sejauh yang saya temui CMMIIW.

    Keterampilan klinis yang didapatkan dalam pendidikan kedokteran masa sebelumnya (saya dapet yang KIPDI 2) tidak terlalu menekankan pada keterampilan klinis. Mahasiswa sekarang sudah diajari cara pasang kateter uretra sejak awal sekali, sedang saya diajarin secara ‘informal’ waktu putaran poli. beda kan mustinya?
    Kebetulan juga sekarang dengan berkembangnya Problem Based Learning (PBL)membuat mahasiswa berkenalan dengan keterampilan klinis lebih dini, dan membuat mereka lebih “punya tujuan” dalam belajar di fakutas kedokteran. DUlu saya selalu bingung waktu diajari siklus kreb di biokimia. saya bilang , barang apaan nih?”. Namun dengan diberi suatu kasus, maka mahasiswa dapat belajar teori yang diajarkan secara lebih holistik. sekali lagi, CMIIW

  12. 12 cakmoki Maret 23, 2008 pukul 9:33 pm

    @ zulharman:
    cari dimana Mas ? ikuuuuttttt !!!
    Mosok sih, gluteus aja dilarang..lha depan gluteus berarti boleh ya πŸ˜›

    @ Yudhi H.Gejali:
    kualitas hasilnya belum bisa kita ramalkan mengingat metode ini baru beberapa tahun dengan berbagai kendala, baik infra struktur, mahasiswa, dosen dll.

    Cak Optimis gak??

    setelah mempelajari masing-masing kopetensi blok dan rincian tahapan setiap blok, saya masih optimis πŸ™‚ …kita akan dapat menilai setelah masuk co-ass di pertengahan putaran bagian-bagian tentang bagaimana aplikasi KBK dan PBL setelah berhadapan dengan keadaan sesungguhnya. Trus ada tahapan lagi di lapangan ketika bersentuhan dengan masyarakat dimana pendekatannya bukan klinis semata.
    Memang benar bahwa ketersediaan dan kebiasaan baca texbook masih jadi kendala tersendiri.
    Karena itulah kita seyogyanya ikutan memberi masukan dan saran agar metode tersebut benar-benar dapat menghasilkan dokter yang lebih berkualitas, pengetahuan, ketrampilan, kompetensi maupun sisi kemanusiannya.

    Sejujurnya, tantangan terhampar di depan kita, … terutama mengsinergikan basic madical science dan clinical skill serta public health. Sungguh, ini bukan pekerjaan mudah, dan sayapun bukan pakarnya …hehehe

    @ dokterearekcilik:

    yg lokal lebih baik dan mendekati kenyataan, contoh: inul, dewi persik, julia perez, dll masih banyak. πŸ˜€

    setuju banget πŸ˜€ … yang beginian saya ma’muman, seperti bait lagu: “selera kita, tak jauh berbedaaaaaa” hehehe

    @ sibermedik:
    kalo gitu gluteus dan “yang begituan” divirtualkan aja deh, …atau mungkin ada perkecualian untuk kepentingan medis akan diijinkan. mbok menowo lho.

    iyo-iyo, tak sambangi πŸ˜€

  13. 13 ayu Maret 24, 2008 pukul 2:33 am

    Asslm.. mampir ni dok..
    Dok, denger2 dari ade tingkat di FK Unmul juga pake mannequin kan yah? KBK juga.. Ada lat ketrampilan medis rutin juga seperti injeksi, tensi, dll. Trus ada mata kuliah yg mmepelajari Bagaimana Harusnya Sikap Dokter Itu Dengan Pasiennya.. Yg ga di didapat sama angkatan2 diatasnya. Huhu.. jadi iri.

  14. 15 tukangkomentar Maret 24, 2008 pukul 5:03 pm

    Salam,
    dalam pendidikan sebagai emergency doctor dan juga dalam rangka refreshing (yang minimal setahun sekali harus dijalani), di Jerman sudah biasa menggunakan manekin “mega code”.
    Manekin-manekin tersebut dihubungkan dengan ntebook, sehingga dengan software spesial keadaan-keadaan gawat-darurat bisa disimulasikan dan efek penanganan bisa juga disimulasikan dengan bantuan software tersebut.
    Juga kami bisa berlatih intubasi dan juga berlatih menggunakan balon pernafasan dengan ambu-breathing-bag (yang kelihatannya mudah, tetapi menurut saya lebih sulit dipelajari dari pada intubasi!).
    Memang canggih, tetapi semuanya ini untuk saya pribadi hanya merupakan pelengkap dari sebuah sistem pendidikan yang berlangsung terus tidak ada hentinya!
    Semuanya ini tidak akan bisa menggantikan pengalaman atau menghindarkan kita dari kesulitan-kesulitan pada waktu menghadapi pasien secara langsung.
    Yang lebih penting ialah pendampingan dan penmbimbingan dari senior (yang harus bersedia membagi pengetahuannya, pengalamannya dan ketrampilannya dengan para adik-adik tanpa takut disaingi).
    Dan yang paling penting ialah pengertian kita-kita ini sendiri terhadap profesi: apakah kita memandangnya sebagai “job” atau “status simbol” atau memang kita ini berjiwa dokter (bh. Junani archiatros = penyembuh).
    Kita harus ingat, bahwa manusia dan persepsinya tentang penyakit itu berbeda-beda, tergantung kultur, pendidikan, lingkungan dll.
    Detail-detail ini belum/tidak bisa ditampung dalam sebuah software. Kita saja yang otaknya lebih kompleks dari sebuah software setiap hari menghadapi situasi-situasi yang memerlukan pemikiran lebih lanjut yang tergantung juga dari kultur, pendidikan dan lingkungan kita sendiri sebagai manusia.
    Coba mari kita pikirkan:
    – apakah etik (yang merupakan salah satu tonggak terpenting dalam dunia kita) tercangkup juga dalam software tersebut.
    – apakah algoritme-algoritme yang terkandung dalam software-software tersebut (sudah) mencakup semua perbedaan-perbedaan persepsi (seperti yang saya singgung di atas)
    Secara singkat: sistem baru ini harus dipandang sebagai pelengkap dari sistem pendidikan konvensionil (yang mungkin di Indonesia juga masih perlu diperbaiki?).
    Last but not least: pertukaran pikiran dan “tahu batas” merupakan juga hal-hal yang penting dalam dunia kedokteran kita.
    Salam.

  15. 16 cakmoki Maret 25, 2008 pukul 1:25 am

    @ ayu:
    Wa’alaikum salam …makasih udah mampir. Baru tau juga ada blog dari Karang Asam, hehehe
    Iya bener, sistem tersebut dimulai tahun 2007. Kita persiapannya dah sejak 2005 tapi harus belajar dulu and tengak-tengok FK lainnya, jadilah agak lambat.
    Ga perlu terlalu risau, toh ntar di klinik ada cara untuk memadukan itu semua. Atau kalo ada waktu, ikutan temen TBM yg tiap minggu ke Pusk Rawat Inap Palaran untuk aplikasi sikap dokter ke pasien secara langsung, sekalian teknis medis…asyik koq πŸ™‚

    @ hariadhi:
    trims πŸ˜€

    @ tukangkomentar:
    salam,
    Pandangan penjenengan merupakan detail dari posting sebelumnya (oleh-oleh stroma: ). Di satu sisi kita (di Indonesia) harus mengejar ketertinggalan dalam hal penerapan teknologi, di sisi lain tak dapat dipungkiri bahwa teknologi ada batasnya yg tidak bisa menggantikan peran dokter maupun pasien saat berhadapan langsung, belum lagi aspek-aspek yg menyertainya, seperti: epidemiologi, kultur, ekonomi, tingkat pendidikan, lingkungan …dll.
    Dikti memang menetapkan seperti itu, namun para dosen senior menyatakan bahwa semua software tersebut merupakan alat bantu untuk menunjang sistem konvensional, so metode-metode konvensional tidak ditinggalkan.
    Kata salah seorang dosen senior (di Unmul), Dikti boleh menetapkan menu, toh para dosen sebagai koki yang akan meramu agar nilai-nilai hakiki dunia kedokteran tetap terjaga. *ssst jangan bilang Dikti ya… πŸ˜€ * … Maturnuwun pandangannya, mirip koq dengan pandangan para dosen yg ada di tingkat klinik.
    Salam

  16. 17 tukangkomentar Maret 25, 2008 pukul 2:56 am

    Cak,
    masalahnya (menurut pengamatan saya) ialah:
    bagaimana kokinya? Apakah koki itu rela menurunkan ilmunya atau kki itu menganggap muridnya sebagai calon saingan?
    Sebetulnya, kalau menurut saya, itu adalah suatu hal atau sifat yang sehat, kalau menganggap dokter lain sebagai saingan.
    Masalahnya: bagaimana strategi mereka untuk mengahadapi saingan-saingan itu? Apakah menjuruskan mereka ke arah negatif atau menolak untuk menurunkan ilmunya atau, yang ideal, menurunkan ilmunya dan berusaha memperdalam ilmu sendiri dan memperdalam pengertian tentang profesi.
    Dan: apakah dosen-dosen itu sendiri mengerti nilai-nilai hakiki kehidupan ini? Ataukah mereka lebih memberatkan nilai “Sudirman” (demi kehidupan keluarga? Maaf sarkastis, ni! πŸ™‚ )

    Yah, mungkin saya sudah ketinggalan jaman, mungkin dedikasi dan pengertian profesi rekan-rekan sejawat di Indonesia berbeda sekali dengan yang saya alami kira-kira 20 tahun yang lalu.
    Yang pasti, ada satu yang dedikasi dan pengertian profesinya ideal: panjenengan (wah, ngelem ada udangnya di balik batu, nih!?).

    Dan, berbahaya sekali kalau kita menyebut “dikti” dalam profesi kita.

  17. 18 cakmoki Maret 25, 2008 pukul 11:51 am

    @ tukangkomentar:
    ya pak,
    Yang begituan selalu ada, …pelit ilmu, sulit lulus, ditanya marah..dll, mirip raja-raja kecil yg ga mau dikalahkan.
    Saya sendiri bukan di bidang itu lho, namun secuil yang pernah saya dengar setiap dosen harus mengikuti “menu” yang dibuat oleh tim, sesuai kompetensi yang sudah ditetapkan.

    Dan, berbahaya sekali kalau kita menyebut β€œdikti” dalam profesi kita.

    Hehehe, jangan-jangan njenengan udah denger kalo di Dikti ada yg khusus ngurusi KBK, konon gegeran terus, sementara FK-FK yang
    menggunakan KBK udah dapat menjalankan kurikulum lengkap dengan pemetaan blok setiap kompetensi.
    Masalah lain, batasan yang dibuat oleh “para dewa” di Dikti belum tentu cocok dengan hasil analisa situasi masing-masing FK.
    Dan masih banyak masalah-masalah dalam implementasinya..(menurut cerita temen-2 yg nangani)

    Saya juga khawatir dengan adanya ujian kompetensi setelah mhs jadi dokter. Lha kalo standarnya aja masih belum sepakat, apalagi parameter assessment.. apa kira-kira bisa mencapai lebih 80% dokter yg dianggap kompeten? Atau malah jadi “lahan” penjajahan baru?

  18. 19 sibermedik Maret 25, 2008 pukul 6:15 pm

    trekbek manual: MENKES BEDAH “SAATNYA DUNIA BERUBAH: TANGAN TUHAN DIBALIK FLU BURUNG “BUKU DI FKUNS: http://sibermedik.wordpress.com/2008/03/25/saatnya-dunia-berubah-bedah-buku-menkes/

  19. 20 binchoutan April 17, 2008 pukul 9:01 am

    jadi ingat film kesukaan saya dari SD dulu sampai sekarang ER (emergency room)
    nontonya saja bikin deg deg an, makin dag dig dug kalau lagi ngeliat Dr. John Carter..he he.. πŸ˜†
    UGD di Indonesia seperti juga nggak yaa? or it’s just a hollywood things.. πŸ™„
    sekarang ada gamenya juga lho.. seru seru!!

  20. 21 cakmoki April 17, 2008 pukul 4:08 pm

    @ binchoutan:
    UGD di Indonesia seperti juga nggak yaa? or it’s just a hollywood things..
    di beberapa RS Swasta terkemuka kayak gitu, sayangnya di RS Pemerintah beluuuummmm, mestinya sih bisa, lha wong dana tersedia dan semuanya ditanggung negara

  21. 22 uniqueque Mei 20, 2008 pukul 4:03 pm

    boleh tahu game nya er itu gimana dapetinnya yaaa? maklum, kita tinggal dipelosok indonesia. kalau ada vcd nya er sy jg mau dong.

  22. 23 cakmoki Mei 21, 2008 pukul 10:50 pm

    @ uniqueque:
    di sini belum ada. VCD juga belum ada yang bikin πŸ˜€


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Wong ndeso β„’

cakmoki

Wordpress Indonesia

Silahkan baca

DISCLAIMER

web tracker

9 Desember 2009

SEMENTARA TUTUP

Maaf, sementara Blog istirahat hingga ada pemberitahuan

Harap maklum


MARI HENTIKAN KORUPSI

Jangan Korupsi Ah

No Korupsi

Internet Sehat

Warga Bicara

» Makasih PLN, listrik Samarinda dah membaik, moga gak byar-pet

» Waspada Demam Berdarah

» Jangan Gunduli Palaran

» Banjir...banjir. Kapan masalah ini teratasi ?

INGA INGA INGA

» Nyeri Urat or Tulang BUKAN berarti Penyakit Asam Urat.

» Sekali lagi: Pegal, Linu Tidak Identik dengan Penyakit Asam Urat

TEMANs

9racehime | A. Fatih Syuhud | Aditiawan Chandra | A.Tajib | Agung UD | aLe | alief | alle | almascatie | Amd | Anak Peri | Anak Sultan | Anang | Anang YP | Anas | Andalas | Anggara | Anjaz | Anti Pungli | Antobilang | Anung87 | Aribowo | Arif Kurniawan | Arul | Astikirna | awan965 | axireaxi | Bambang alias HR | BatakNews | Blog Pokoke? | Biho | CalonOrangTenar | Cay | Chandra | Chielicious | chiw imudz | cK-chika | Dalamhati | Deden Nugraha | deedhoet | deKing | Desti Utami | Didats | doeytea | dnial | Edy C | Eep | Elpalimbani | erander | Evi | Fa | Fa wp | Faiq | Fertobhades | Fetro | Fortynine | Freddy | Gadis | Gaussac | Gitablu | Grandiosa | GuhPraset | GuM | Helgeduelbek | Herdy | Indonesia Kita | Indra KH | ItikKecil | iway | Jejakpena | Jennie S. Bev | Joesath | Joko Taroeb | Julee | Juli | Juliach | Junthit | Jurig | Kakilangit | Kang Adhi | Kang Kombor | Kangguru | kawaichu | Kenji | Kenzt | kikie | koecing | Kumala | Kurtubi | Kw | Laras | liezmaya | Lilik Suryanto | Lily | Linker | Lintang | Lita | Lita wp | Luthfi | MaIDeN | Majalah Dewa Dewi | Manusiasuper | Master Li | Mathematicse | macanang | mbojo | Mei | Micokelana | Mr. Geddoe | Mufti | mybenjeng | My-za | Nayla Zahra | Nayz | Ndarualqaz | Neeya | Neo Forty-Nine | Neri | Ninoy | Nieke | Nomercy | n0vri | NuDe | Om Sulis | omaigat | Ooyi | Paijo | Panca | Pandu | Panduan WP | Papabonbon | Passya | Peyek | Pinkina | Pitik | Pralangga | Prayogo | Priyadi | Qee | Raja iblis | RenjanaBiru | rivafauziah | Rivermaya | Roffi | roisZ | Rujak | Sagung | Sahrudin | Saiful Adi | SaRa | Siu | Sofi | Sora9n | Suandana | Suluh | Susiloharjo | Telmark | Thamrin | tiesmin | Triesti | Tukang Sate | Venus | Wadehel | Wahyuansyah | Wandira | Wiku | WongMangli | Wulan | Yati | Yudhipras |

:: :: :: :: :: :: :: :: ::

Kesehatan

:: Ady Wirawan :: Agus Mutamakin :: Anis Fuad :: Anis Fuad wp :: Asri Tadda :: Astri Pramarini :: Astri Pramarini (awal) :: Astri Pramarini wp :: Blog Mahasiswa FKU 2003 :: Blog Rumah Kanker :: Dani Iswara :: Dani Iswara weblog :: Dokter arek cilik :: drAnak :: drarifianto :: Dwi wp :: Elyas :: Erik Tapan :: Evy HealhtySmile :: FK Unsri :: Gies :: Gies wp :: Ginna :: Grapz :: Hendar Sunandar :: HIV News :: Huda Thoriq :: IDI Samarinda :: imcw :: Imran Nito :: Iwan Handoko :: Jhonrido :: klikharry :: Kobal :: Laksmi Nawasasi :: Mashuri :: Mave Mina :: Mbah Dipo :: Mina :: My Blogspot :: Nur Martono :: PKM Palaran :: Rara :: Rizma Adlia :: Rudy Kwang :: SenyumSehat :: Sibermedik :: SimkesUGM :: SuperKecil :: Titah :: Tito :: Tonang Ardyanto :: Tukangkomentar :: Wi :: Vina Revi :: Vina Multiply :: Yusuf Alam R :: zulharman79 ::

:: :: :: :: :: :: :: :: :: :: ::

Institusi Kesehatan

:: Depkes RI :: WHO :: WHO Indonesia :: … nyusul

:: :: :: :: :: :: :: :: ::

Kolaborasi

:: Emedicine :: ICD 10 Wikipedia :: ICD 10 Wiki Indonesia :: OSWD :: OpenWebDesign :: Pakistan Times :: Rubab :: ntar ::

Kategori

BlogTour

Arsip

Komunitas Blog

blog-indonesia.com

PAGE RANK

Powered by  MyPagerank.Net

Add to Technorati Favorites

[Valid RSS]

Health Blogs - Blog Top Sites

Health

Blogs Topsites - TOP.ORG

Health Blogs - Blog Rankings

Blog directory

TopOfBlogs

Top 10 Award

Feed Burner

cakmoki Blog

Bloggerian Top Hits

My BlogCatalog BlogRank

Site Meter

Since 30 Nov 07

PENGUNJUNG

  • 5,317,035 pengintip

Asal Usul

Pebruari 2011

free counters


%d blogger menyukai ini: