Pasien gakin ke praktek spesialis

Bukan ingin memanjakan pasien gakin (keluarga miskin), bukan pula mau gagah-gagahan. Jika bisa memberikan layanan sedikit lebih baik, mengapa tidak ?
Apa maksudnya? Pasien gakin yang mana? Koq bisa? Siapa yang bayar? Dananya dari mana? Bagaiamana kelanjutannya?… Itulah mungkin beberapa pertanyaan selain pertanyaan lain yang mungkin ada di benak pembaca.

MEMAKSIMALKAN YANG BISA DIMAKSIMALKAN

Ketika pertama kali kami memperkenalkan langkah ini, hampir selalu terlontar pertanyaan yang sama: koq bisa? siapa yang bayar ? darimana dananya ?

Ok, begini jalan ceritanya:

Pada tanggal 24 Maret 2004, Rawat Inap Kecamatan Palaran resmi dioperasikan. Gedung baru tersebut masih dalam tahap pertama dari 3 tahap yang direncanakan. Maklum, pemkot tidak membangun sekaligus mengingat bangunan yang kami usulkan dan disetujui bernilai sekitar 2,5 milyar rupiah, sedangkan pemkot Samarinda di saat yang sama akan mengawali pembangunan RSUD type C plus. Maka (selain UGD) disulaplah ruang loket, kantor dan gudang menjadi Ruang perawatan dan jadilah 4 buah ruang perawatan dengan 12 tempat tidur plus 1 tempat tidur di UGD sebagai cadangan.

Dengan dimulakannya layanan rawat inap (perawatan), otomatis semua pasien dari berbagai tingkat ekonomi boleh masuk, termasuk pasien gakin.
Tidak ada persoalan ! Gakinpun akan mendapatkan layanan yang sama, cairan infus, infus set (selang infus), suntikan, jarum suntik, obat, laboratorium, dan sarana medis lainnya…sama. Bahkan bisa jadi di atas standar karena kami menggunakan dana swakelola. Artinya, obat dan bahan-bahan di atas kami beli sendiri tanpa bantuan anggaran pemerintah.

Dalam hal layanan pasien gakin, adakalanya memerlukan rujukan ke dokter spesialis karena tuntutan indikasi medis. Di sisi lain, pasien ingin tetap di rawat di Rawat Inap Palaran karena merasa dekat dengan keluarga ketimbang dirawat di RS. (kecuali jika penyakitnya mengharuskan follow up di RS).

Atas dasar itulah kami merujuknya ke praktek dokter spesialis, antar jemput ambulance, didampingi petugas sampai tuntas jika memang memerlukan pemeriksaan penunjang lanjutan seperti: rontgen, laboratorium, dll ..dll.

Di hadapan dokter spesialis, petugas pendamping memberitahukan bahwa pasien tersebut adalah pasien gakin yg sedang dirawat di Rawat Inap Palaran dan semua pembiayaan, meliputi: jasa dokter spesialis, nebus obat, pemeriksaan penunjang, semua ditanggung dana gakin dari pemerintah.

Darimana dananya?
Dari dana gakin sebelum askeskin ! Banyak tuh, puluhan juta, berlebih malah.

Gak klaim ke PT Askes ? Tidak.
Cukup menggunakan dana gakin yang ada sejak 2001 (dan tahun sebelumnya) yang langsung diluncurkan ke Puskesmas. Dana tersebut bukan hanya untuk pasien gakin, namun untuk kegiatan lain sesuai Petunjuk Teknis yang diterbitkan Depkes, seperti revitalisasi Posyandu, dan lain-lain.

PERTANGGUNG JAWABAN

Kelengkapan dan alur pertanggung jawabannya adalah sebagai berikut:

  • Copy kartu gakin (lama atau baru, termasuk yang udah kumal), KTP dan Kartu Keluarga.
  • Lembar status perawatan penderita.
  • Rincian pembiayaan, mengacu pada Perda Tarip Rawat Inap Tahun 2004
  • Berita acara, untuk selanjutnya ditagihkan kepada Bendaharawan Dana Gakin.
  • Laporan penggunaan Dana Gakin ke Dinkes dan jenjang di atas nya.

EVALUASI DAN PEMERIKSAAN

Evaluasi dilakukan bersama komisi yang membidangi kesra DPRD Samarinda sedangkan pemeriksaan oleh Bawaskot.

HARAPAN KEDEPAN

Alhamdulillah, hingga suksesi pimpinan Puskesmas pada awal Agustus 2006, pimpinan yang baru masih punya cadangan dana gakin sekitar 100 juta rupiah. Moga pimpinan yang baru dan pimpinan Puskesmas (rawat inap Palaran) selanjutnya masih mampu mengamankan pola tersebut yang nyata-nyata dapat memberikan layanan perawatan bagi warga miskin lebih baik karena tidak dibatasi dengan batasan tawar menawar, namun memberikan layanan optimal bagi warga miskin sesuai indikasi medis. Bahkan sejak beberapa bulan September 2007, warga miskin dapat menikmati pemeriksaan penunjang demam tifus terkini, yakni Tubex TF.

Dapatkah Pemkot dan Pemkab menindak lanjutinya ? Di Kaltim, sangat mungkin ! Tak perlulah pakai perantara, kan udah ada bagian keuangan sebagai pengelola teknis keuangan daerah …

RENUNGAN

Saya mafhum, langkah inipun akan menuai pro-kontra, ini hal yang biasa. Namun jika kita menempatkan diri sebagai warga miskin yang terbaring lunglai di ruang perawatan, bagaimana rasanya manakala hanya mendapatkan layanan apa adanya lantaran banyak dibatasi “tawar menawar” ? Bahkan seorang dokter spesialispun akan kebingungan saat berhadapan dengan pasien tak berdaya sementara dia tidak bisa memberikan kemampuan terbaiknya karena dibelenggu “batasan-batasan”.

Saya juga menyadari, ini hanyalah langkah kecil yang bisa jadi tidak mungkin diterapkan di semua jenjang layanan kesehatan dasar setingkat rawat inap. Belum lagi kekhawatiran dari sejawat kalau-kalau dianggap melawan arus dan menerjang aturan. Kami percaya, aturan tertinggi layanan kesehatan adalah memberikan yang terbaik sesuai kemampuan dan inovasi yang dapat dikembangkan sejauh tidak merugikan negara.

Semoga jadi renungan bersama.

Terimakasih kepada Walikota, DPRD dan DKK Samarinda atas kepercayaannya kepada kami dalam mengembangkan dana swakelola dan kepada sejawat pimpinan Rawat Inap Palaran saat ini, maju terus, tingkatkan kualitas layanan di Rawat Inap

Topik Terkait: Home care

:: :: :: cakmoki :: :: ::

 

Iklan

21 Responses to “Pasien gakin ke praktek spesialis”


  1. 1 itikkecil Februari 8, 2008 pukul 11:42 am

    Ini salah satu terobosan baru Cak, selama ini ada kesan kalo gakin itu warga negara kelas tiga. Kalo misalnya bisa dirujuk ke dokter spesialis berarti mereka setara dengan warga yang mampu. selamat buat puskes palaran.

  2. 2 Dee Februari 8, 2008 pukul 12:39 pm

    Cak Moki for Health Minister!!!

  3. 3 Rio Februari 8, 2008 pukul 4:48 pm

    hmm…
    terakhir gue denger dari temen yang kebetulan punya Rumah Sakit…sebetulnya kendala ada di pemerintah, yang sering terlambat membayar claim..sementara, selama jeda waktu tersebut harus tetap di putar demi kelancaran RS…ya..simalakama…

  4. 4 triesti Februari 8, 2008 pukul 5:59 pm

    DI Indonesia yang masalah referalnya ngga beres, sebetulnya tiap pasien bisa langsung nyelonong ke specialis. Selain itu tiap dokter menentukan tarifnya sendiri. Jadi sebetulnya kalau sang dokter mau, bisa saja tarif nya direndahkan sehingga terjangkau bagi GAKIN. Masalahnya adalah maukah si dokter menurunkan tarif sembari memberi pelayanan normal?

    Saya sering dengar kalau dirawat di kelas 3 dokternya jarang kontrol & sering jutek, sementara kalau di VIP dokternya tiap hari kontrol dan super ramah. Rupanya banyak yg diskriminasi: Ada uang, ada servis 😦

    Bila si dokter melakukan diskriminasi tarif dan menjaga servis, berapa banyak orang yg tidak berhak (artinya bukan Gakin) kemudian berusaha memanfaatkannya? Jujur saja, praktek ini biasa di Indonesia, apa lagi saat krisis (lalu). Selain itu, biasanya Gakin belum apa2 sudah ngeri ngga bisa bayar tarif (normal) dokter specialis tanpa tau ada beleid diskriminasi tarif bagi GAKIN.

    Jadi menurut saya, yang ada di Palaran bisa dilakukan dimana saja asal ada niat dan kemauan. Baik dari kalangan medis, maupun rakyat. Sukses dgn programnya cak!

  5. 5 iindepok Februari 8, 2008 pukul 9:08 pm

    Wah salut banget buat pemkot Samarinda yang mendukung pemanfaatan dana Gakin secara maksimal. Apakah dana Gakin itu sama dengan dana JPKMM ya Cak?Soalnya di Kota Saya ada yang namanya dana JPKMM. Tapi Puskesmas sering susah dlm memanfaatkannya scr max krn Dinkes kami yang saya rasa agak pelit dlm meng Acc anggaran yg kami ajukan. Ada advis Cak? Matur nuwun sakderengipun..

  6. 6 sibermedik Februari 8, 2008 pukul 9:53 pm

    Dukung cak moki jadi menkes!
    *jangan lupa yang ngrekomendasi*

    kalo diibaratkan masalah gakin macam gini tu seperti gejala(symptom),kita belum bisa ‘ngobati’ causa prima kemiskinan struktural ini..DANA ASKESKIN tampak seperti kortikosteroid yang sensasinya ngerasa sembuh padahal masalah utamanya masih berjalan,malah lebih progresif..
    nah sekarang pilihannya ngobatin symptomnya atau pnyakit utamanya?..
    penyakit utamanya adalah KEMISKINAN STRUKTURAL yg dsebabkan:
    1.Mata uang kertas,inflasi meningkat terjadi pencurian legal oleh negara2 kapitalis..nilai mata uang jatuh (ex:lihat amrik skrg lagi resesi).
    2.sistem ekonomi ribawi,
    penggunaan bunga mnyebabkan kredit hanya bisa diambil oleh pemodal besar..yang kecil bangkrut dgrogoti bunga bank.
    3.pasar saham yang tdk sehat.para pemodal nakal amat sangat mudah menjatuhkan (membangkrutkn) perusahaan tertentu semaunya(lihat yg george soros lakukan th 98) shingga bnyak pengangguran akbt bangkrutnya prusahaan2.

  7. 7 triesti Februari 9, 2008 pukul 2:10 am

    @sibermedik:
    Yg bener sebab kemiskinan struktural seperti itu. U’d better stick to things that you know or u r just gonna humiliate yourself.

  8. 8 cakmoki Februari 9, 2008 pukul 2:50 am

    @ itikkecil:
    sebenarnya bukan terobosan baru mbak, … hanya diperlukan sedikit keberanian “meningkatkan” salah satu bentuk layanan di atas standar.
    Makasih, support mbak Ira akan saya sampaikan πŸ™‚

    @ Dee:
    tingkat RT … hahahaha

    @ Rio:
    ya… kalo sistem klaim kendalanya seperti itu, di Puskesmas juga sama. Yang diceritakan ini adalah dana utuh dari Pusat yg dikirim via Bank langsung ke bawah tanpa melalui Dinkes dan Pemda. Inipun suka lambat … so saya sependapat, muter saat jeda bikin puyeng…maaf, kalo kendala ga diceritakan … πŸ™‚

    @ triesti:

    …jadi sebetulnya kalau sang dokter mau, bisa saja tarif nya direndahkan sehingga terjangkau bagi GAKIN

    bisa … dan niscaya rejekinya tambah πŸ™‚ *bentuknya bukan hanya uang*
    Maturnuwun supportnya mbak, ntar akan saya sampaikan temen-temen yg tugas di situ πŸ™‚

    @ iindepok:
    iya sama, ditambah sisa dana JPS-BK-BBM tahun-tahun sebelumnya.

    Tapi Puskesmas sering susah dlm memanfaatkannya scr max krn Dinkes kami yang saya rasa agak pelit dlm meng Acc anggaran yg kami ajukan

    eh koq bisa gitu, apa Dinkes masih ikut intervensi sampai sejauh itu?
    Juknis membolehkan Puskesmas untuk berinovasi sejauh tidak terjadi overlapping Dana dan realize.
    *bisik-bisik* kadang ada oknum dinkes (di tempat kami) minta “bagian” ke bendahara, … hehehe ada-ada saja, emangnya uang bancakan apa … yg gini sebaiknya gak usah dikasih …

    Mungkin diperlukan 1-2 orang sejawat Pimpus yang berani bicara mbak, syukur kalo semua kompak. Yang penting, kalo emang digunakan sesuai kenyataan dan sesuai aturan, menurut saya Dinkes gak akan berani menolak.
    Atau (langkah terakhir) bisa pula mengajukan hearing ke DPRD, trus mohon Pimpinan Komisi 4 DPRD yang ngundang Dinkes dan Asisten 2 Sekretaris Kota/Sek Kab. Langkah ini pernah kami lakukan …
    Tapi bilang salah seorang teman, di Jawa hal itu sulit dilakukan karena dikotomi senior-yunior sangat kental.

    @ sibermedik:
    wah, kalo itu mah kita gak bakalan sanggup. Setidaknya ada yang bisa kita perbuat di ruang-ruang kecil dimana kita berada. Jelas gak bisa menyembuhkan apapun. Mungkin hanya sedikit bisa memberi manfaat, dan sedikit itu moga mendapat ridho-Nya. Amin

  9. 9 wulan Februari 9, 2008 pukul 4:35 pm

    Sip ! salut!
    semoga bisa menjadi contoh untuk yang lain.

  10. 10 dokterearekcilik Februari 9, 2008 pukul 11:45 pm

    Semoga bisa ditiru di seluruh Indonesia, bahkan ASEAN, bahkan Seluruh dunia, mungkin sampe dunia jin……wah siapa tahu diminta presentasi di dunia jin tuh cak πŸ˜€

  11. 11 suandana Februari 10, 2008 pukul 12:07 pm

    Wah… salut… semoga terus berjalan tuh, Cak… πŸ˜€

  12. 12 calonorangtenarsedunia Februari 10, 2008 pukul 1:24 pm

    Ternyata pemerataan layanan kesehatan udah mulai membaik ya, Pah..

  13. 13 drbangkit Februari 11, 2008 pukul 1:06 am

    jadi ingat kasus di tempat saya..pasien MH lagi terapi MDT ternyata alergi dan kena steven johnsen syndrome. Kondisi pasien udah buruk gitu tetap gak mau berobat ke RS walau dikasih rujukan gakin. ternyata alasannya karena biaya transport ke Samarinda dan biaya hidup penunggu disana yang gak gratis. Akhirnya pasien diberi rujukan + uang saku dari dana gakin…kesannya sangat memanjakan sekali memang, tapi diluar sana masih banyak orang yang tak mampu berobat ke RS walau obat dan layanan udah digratiskan..

  14. 14 cakmoki Februari 13, 2008 pukul 12:02 am

    @ wulan:
    Amin

    @ dokterearekcilik:

    wah siapa tahu diminta presentasi di dunia jin tuh cak πŸ˜€

    kalo presentasi di dunia sana berarti ga boleh baca ayat Qursy ya … ntar bubar, termasuk yg presentasi, hahaha

    @ suandana:
    semoga juga πŸ™‚
    kadang saya khawatir ga diteruskan oleh para sejawat yg berikutnya, soalnya godaannya banyak … hehehe

    @ calon mantu:
    hmmm, kalo mau dan serius dan berani melawan tekanan, sebenarnya bisa. Kadang yg beginian malah ga disukai oleh pihak-pihak yg ingin ikut menikmati dana gakin. Moga enggak *berharap sembari sedikit ragu*

    @ drbangkit:

    … Akhirnya pasien diberi rujukan + uang saku dari dana gakin

    salut..hal-hal seperti ini memang diperlukan kepekaan sosial. Saya sependapat, kalo ada dana dan bisa membantu, ga bakalan ada yg protes, bahkan pihak keluarga sangat berterima kasih.
    Maju terus bos πŸ™‚

  15. 15 sajar Februari 26, 2008 pukul 10:02 pm

    kebijakan seperti itu bisa ditempuh bila puskeswmas didukung penuh oleh Dinkesnya. Saya pernah melaksanakan hal serupa pada tahun 2001an, bukan spesialis tapi spesimen laboratorium. Bisa dilakukan asal ada aturan yang jelas. Masalahnya sekarang, dana gakin semakin dilirik instansi pemerintah sehingga Dinkes menjadi terlalu hati-hati bahkan terkesan cari aman. Yang repot saat ini bahwa Puskesmas menjadi profider sekaligus disuruh jadi pendata dan sosialisator program Gakin…. Kayak kurang kerjaan aja…..

  16. 16 cakmoki Februari 27, 2008 pukul 6:25 am

    @ sajar:
    idealnya emang begitu, sayangnya di daerah kami Dinkes malah gak tahu, hehehe. Aturan dah ada, juknis tentang penggunaannya dan perda. Adapun yang lebih teknis bisa dimintakan persetujuan DPRD (komisi 2 dan 4) melalui draft yang kemudian dijadikan aturan tambahan. Langkah ini tidak harus melalui Dinkes mengingat Puskesmas bisa langsung minta hearing dengan DPRD.

    Masalahnya sekarang, dana gakin semakin dilirik instansi pemerintah sehingga Dinkes menjadi terlalu hati-hati bahkan terkesan cari aman.

    iya, dana Gakin ibarat gula, makin gencar saja yg mau ikutan mengerubuti… korbannya siapa lagi kalo bukan jajaran pelaksana pelayanan kesehatan dan gakin itu sendiri.
    Saya khawatir gakin hanya untuk obyek

  17. 17 iman Agustus 25, 2008 pukul 11:26 am

    jakarta 25 agustus 2008
    pagi hari sekitar jam 8.30 saya sudah antri dengan beberapa orang di puskesmas, saya antri cukup lama di locket pendaftaran untuk meminta surat rujukan untuk kerumah sakit jantung harapan kita, tapi apa yang saya dapet hanya kecewa yang sangat besar, petugas locked bertanya mau daftar mas ” saya bilang saya mau minta rujukan pemegang kartu gakin untuk ke RS harapan kita” dengan ketus petugas locked bilang “KALO PAKE GAKIN NANTI MAS BELAKANGAN ” padahal saya sudah antri dari pagi .
    saya bersabar demi mendapatkan rujukan ke rs harapan kita dan demi kesehatan kakak saya, karna kalo saya tidak sabar dari mana saya bisa berobat ke RS harapan kita . kira 30 menit kemudian saya bicara lagi kepada petugas locked ” mas saya cuma minta surat rujukan saya sudah antri dari pagi” dia malah jawab “KAN PERLU DITULIS JADI KAMU HARUS TUNGGU KALO PAKE GAKIN ” saya sangat kecewa saya pikir dari tadi dia juga nulis semua orang yang daftar kenapa saya seperti dilecehkan, padahal daftar cuma 2000 rupiah saya juga punya saya pikir, masalahnya saya tidak bisa bayar uang berobat di Rs harapan kita.
    akhir nya saya sudah tidak sabar dan sedikit emosi tapi karna saya masih di lindungin allah swt saya akhir nya dapat pkiran ” napa gak langsung ke dokternya aja ”
    dan saya mendapatkan surat rujukan tersebut

    intinya saya kecewa dengan petugas locked pendaftaran puskesmas yang tidak melayani saya dan berkesan melecehkan saya, karna saya antri dari pagi di suruh nunggu , sedangkan pasien terus bardatangan.

  18. 18 cakmoki Agustus 25, 2008 pukul 12:54 pm

    @ iman:
    itulah potret sebagian petugas layanan kesehatan kita kalo melayani pemegang kartu gakin…
    Saya juga gak ngerti kenapa mereka memperlakukan pemegang kartu gakin dengan tidak manusiawi…
    Tulis di koran aja

  19. 19 Tiniz November 5, 2008 pukul 8:48 pm

    Perlakuan gak manusiawi itu gak cuma dialami pemegang kartu gakin Cak, sy pernah nglihat sendiri bagaimana perlakuan petugas layanan kesehatan (suster) pada bayi teman sy yang terlahir prematur dgn cacat bawaan.

    waktu itu sy nglihat sedang dimasukkan selang ke hidung bayinya, mungkin utk menghisap lendir…tapi cara masukinnya itu loh Cak, MasyaAllah kasar sekali, bayinya sampai gak kedengaran suara tangisnya dan keluar kotoran, waktu ibunya mengingatkan susternya, malah dibentak dan dimarahin sm sang suster. Tapi begitu ada dokter yg ternyata kenal dgn si ibu, perlakuan susternya kontan berubah manis…..amit2!!!!

    Saya sampe rumah langsung ngomong sm suami, klo terjadi sesuatu sm sy atau anak2 dan sampe hrs dirawat di RS, sy mo dirawat di Sby aja…soalnya klo diSby banyak sodara dan relasi yg dokter…termasuk konco bal-balane Cak Moki

    Kenapa ya suster2 itu suka pd galak? Apa krn tiap hari liat penderitaan jadi mereka pd kebal dan matirasa terhadap penderitaan orang lain? ato mungkin empatinya udah habis dimakan kebutuhan hidup kali yah???

  20. 20 cakmoki November 6, 2008 pukul 12:51 pm

    @ Tiniz:
    Sy juga pernah dibentak ama ptgs baru di sebuah RS, hihihi … tambah tak pasang muka bego *aslinya gitu ding*, wih.. ternyata tambah medheni.
    Para ibu perlu pake jurus pura-pura kenal akrab dg dokter agar ga kena semprot kale ya …

    Kenapa ya suster2 itu suka pd galak? Apa krn tiap hari liat penderitaan jadi mereka pd kebal dan matirasa terhadap penderitaan orang lain? ato mungkin empatinya udah habis dimakan kebutuhan hidup kali yah??

    Sy selalu ga bisa menjawab dengan benar kalo ditanya seperti ini…
    Pernah di sebuah kesempatan, seorang anggota DPRD nanya seperti itu… saya njawab ngasal sambil becanda: ” … mungkin kebetulan lagi gak wawuh ama suaminya …”. *blethak…blethak…blethak* πŸ˜†

    Mungkin jawaban yang agak mendekati benar, karena stress…gaji kecil…tanggung jawab gede. Ato bisa pula pihak manajemen RSUD gak punya kewenangan dan stok untuk milih yang sabar-sabar.
    Menurut saya, apapun alasannya, sangat tidak bisa ditolerir jika seorang petugas kesehatan memperlakukan pasien dengan kemarahan.


  1. 1 Tambah atau kurang 1, Cakmoki ? « Pieces of Mind Lacak balik pada Februari 19, 2009 pukul 12:01 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Wong ndeso β„’

cakmoki

Wordpress Indonesia

Silahkan baca

DISCLAIMER

web tracker

9 Desember 2009

SEMENTARA TUTUP

Maaf, sementara Blog istirahat hingga ada pemberitahuan

Harap maklum


MARI HENTIKAN KORUPSI

No Korupsi

Internet Sehat

Translator

Warga Bicara

» Makasih PLN, listrik Samarinda dah membaik, moga gak byar-pet

» Waspada Demam Berdarah

» Jangan Gunduli Palaran

» Banjir...banjir. Kapan masalah ini teratasi ?

INGA INGA INGA

» Nyeri Urat or Tulang BUKAN berarti Penyakit Asam Urat.

» Sekali lagi: Pegal, Linu Tidak Identik dengan Penyakit Asam Urat

TEMANs

9racehime | A. Fatih Syuhud | Aditiawan Chandra | A.Tajib | Agung UD | aLe | alief | alle | almascatie | Amd | Anak Peri | Anak Sultan | Anang | Anang YP | Anas | Andalas | Anggara | Anjaz | Anti Pungli | Antobilang | Anung87 | Aribowo | Arif Kurniawan | Arul | Astikirna | awan965 | axireaxi | Bambang alias HR | BatakNews | Blog Pokoke? | Biho | CalonOrangTenar | Cay | Chandra | Chielicious | chiw imudz | cK-chika | Dalamhati | Deden Nugraha | deedhoet | deKing | Desti Utami | Didats | doeytea | dnial | Edy C | Eep | Elpalimbani | erander | Evi | Fa | Fa wp | Faiq | Fertobhades | Fetro | Fortynine | Freddy | Gadis | Gaussac | Gitablu | Grandiosa | GuhPraset | GuM | Helgeduelbek | Herdy | Indonesia Kita | Indra KH | ItikKecil | iway | Jejakpena | Jennie S. Bev | Joesath | Joko Taroeb | Julee | Juli | Juliach | Junthit | Jurig | Kakilangit | Kang Adhi | Kang Kombor | Kangguru | kawaichu | Kenji | Kenzt | kikie | koecing | Kumala | Kurtubi | Kw | Laras | liezmaya | Lilik Suryanto | Lily | Linker | Lintang | Lita | Lita wp | Luthfi | MaIDeN | Majalah Dewa Dewi | Manusiasuper | Master Li | Mathematicse | macanang | mbojo | Mei | Micokelana | Mr. Geddoe | Mufti | mybenjeng | My-za | Nayla Zahra | Nayz | Ndarualqaz | Neeya | Neo Forty-Nine | Neri | Ninoy | Nieke | Nomercy | n0vri | NuDe | Om Sulis | omaigat | Ooyi | Paijo | Panca | Pandu | Panduan WP | Papabonbon | Passya | Peyek | Pinkina | Pitik | Pralangga | Prayogo | Priyadi | Qee | Raja iblis | RenjanaBiru | rivafauziah | Rivermaya | Roffi | roisZ | Rujak | Sagung | Sahrudin | Saiful Adi | SaRa | Siu | Sofi | Sora9n | Suandana | Suluh | Susiloharjo | Telmark | Thamrin | tiesmin | Triesti | Tukang Sate | Venus | Wadehel | Wahyuansyah | Wandira | Wiku | WongMangli | Wulan | Yati | Yudhipras |

:: :: :: :: :: :: :: :: ::

Kesehatan

:: Ady Wirawan :: Agus Mutamakin :: Anis Fuad :: Anis Fuad wp :: Asri Tadda :: Astri Pramarini :: Astri Pramarini (awal) :: Astri Pramarini wp :: Blog Mahasiswa FKU 2003 :: Blog Rumah Kanker :: Dani Iswara :: Dani Iswara weblog :: Dokter arek cilik :: drAnak :: drarifianto :: Dwi wp :: Elyas :: Erik Tapan :: Evy HealhtySmile :: FK Unsri :: Gies :: Gies wp :: Ginna :: Grapz :: Hendar Sunandar :: HIV News :: Huda Thoriq :: IDI Samarinda :: imcw :: Imran Nito :: Iwan Handoko :: Jhonrido :: klikharry :: Kobal :: Laksmi Nawasasi :: Mashuri :: Mave Mina :: Mbah Dipo :: Mina :: My Blogspot :: Nur Martono :: PKM Palaran :: Rara :: Rizma Adlia :: Rudy Kwang :: SenyumSehat :: Sibermedik :: SimkesUGM :: SuperKecil :: Titah :: Tito :: Tonang Ardyanto :: Tukangkomentar :: Wi :: Vina Revi :: Vina Multiply :: Yusuf Alam R :: zulharman79 ::

:: :: :: :: :: :: :: :: :: :: ::

Institusi Kesehatan

:: Depkes RI :: WHO :: WHO Indonesia :: … nyusul

:: :: :: :: :: :: :: :: ::

Kolaborasi

:: Emedicine :: ICD 10 Wikipedia :: ICD 10 Wiki Indonesia :: OSWD :: OpenWebDesign :: Pakistan Times :: Rubab :: ntar ::

Kategori

BlogTour

Arsip

Komunitas Blog

blog-indonesia.com

PAGE RANK

Powered by  MyPagerank.Net

Add to Technorati Favorites

Health Blogs - Blog Top Sites

Health

Blogs Topsites - TOP.ORG

Health Blogs - Blog Rankings

Blog directory

TopOfBlogs

Top 10 Award

Feed Burner

cakmoki Blog

Bloggerian Top Hits

My BlogCatalog BlogRank

Site Meter

Since 30 Nov 07

PENGUNJUNG

  • 5,368,637 pengintip

Asal Usul

Pebruari 2011

free counters

Translate


%d blogger menyukai ini: