Kilas Balik Pra Askeskin

Barangkali ada yang merasa gerah manakala posting tentang Askeskin muncul beberapa pekan yang lalu. Rupanya niatan Menkes menceraikan PT Askes dalam mengelola dana layanan kesehatan keluarga miskin ( gakin ) “menarik perhatian” beberapa pihak. Maka, dapat dimengerti jika argumen yang dilontarkan oleh yang pro maupun kontra beragam, bahkan melebar dan kadang sedikit memanas. (konon) Demi si miskin, apa iya ?

DEMI SIAPA ?

Well, saya berharap bahasan pembiayaan layanan kesehatan bagi warga miskin benar-benar untuk mereka (warga miskin). Kendati demikian bukan berarti tabu untuk didiskusikan (oleh siapa saja), terlebih bagi para pelaku yang bersentuhan secara langsung dengan warga miskin.

Bahwa setelah ada “kebijakan” Menkes ada beberapa pihak yang terlibat langsung maupun tidak langsung ( dalam hal pelaksanaan kerja maupun penggunaan dana ) merasa tidak nyaman, bisa jadi kondisi ini merupakan “akibat” dari “solusi” yang dibuat sebagai “produk kebijakan” masa sebelumnya. Demikian pula jika saat ini Menkes membuat “kebijakan” maka akan ada “akibat” pada masa yang akan datang.

Persoalannya, sudahkah dipikirkan dan disiapkan langkah antisipasi untuk mengatasi “akibat” yang bakalan mucul belakangan ? Sungguh, saya masih meragukannya (maksud saya secara teknis lho, bukan jargon atau pernyataan normatif semata).

Masalah lain, kita masih suka menggunakan “kebijakan reaktif” ketimbang mematangkan “kebijakan kreatif” yang sudah mempersiapkan langkah solusinya jika timbul persoalan di kemudian hari.

KILAS BALIK ( 2004)

Nah, pro-kontra dan gonjang-ganjing atas keputusan Menkes saat ini tak lepas dari pro-kontra sebelumnya, yakni ketika diadakan diskusi terbuka terkait PT Askes Ngurusin Gakin (2004) di situs Desentralisasi Kesehatan.

Pembahasan panjang tentang pembiayaan layanan kesehatan bagi warga miskin bukanlah barang baru. Seperti biasa, episode input-proses-output-outcome dijadikan landasan pokok untuk menasbihkan sebuah kebijakan agar gol, dengan berbagai argumen dan beragam pendekatan tentunya.

Untuk itu, tak ada salahnya melacak balik latar belakang dan pola pikir dibuatnya kebijakan model pembiayaan layanan kesehatan bagi warga miskin sebelumnya. Kalaupun dianggap sebagai flashback tidak mengapa. Menurut saya hal ini dapat dijadikan pertimbangan dalam menentukan rancang bangun yang lebih mapan, dengan mereduksi faktor penghambat dan mengencangkan faktor penguat. Bisa jadi masih ada faktor non teknis yang mempengaruhinya, yakni kemungkinan adanya kepentingan politik. Siapa tahu ?

Pertanyaannya kini:

Mampukah Menkes (depkes) dan jajarannya serta sektor terkait mengoptimalkan “kebijakan” yang sudah dirancang agar benar-benar dapat dirasakan manfaatnya secara langsung oleh warga miskin ?

Topik terkait:

Iklan

24 Responses to “Kilas Balik Pra Askeskin”


  1. 1 Dee Februari 8, 2008 pukul 3:06 am

    Orang miskin dan kemiskinan, memang menjadi dagangan paling jos Cak. Tujuan yang sangat mulia, kadangkala menjadi tunggangan pihak tertentu. Mudah-mudahan, niatan yang tulus, perencanaan yang baik, pelaksanaan teknis yang bertanggung jawab serta pengendalian yang optimal, dapat membuat si miskin memiliki kembali senyum mereka yang hilang.

  2. 2 itikkecil Februari 8, 2008 pukul 10:05 am

    semoga saja bisa cak. kasihan warga miskin. tapi yang perlu dipertanyakan juga, bagaimana yang pura-pura miskin demi mendapatkan pelayanan askeskin ini.

  3. 3 sibermedik Februari 8, 2008 pukul 9:39 pm

    Miskin kok bangga?

  4. 4 nayaka123 Februari 10, 2008 pukul 12:33 am

    yang salah sejak dulu pada saat proses penunjukan pengelola askeskin ke pt.askes, seharusnya menkes tenderkan dulu ke beberapa rekanan. itukan uang trilyunan.. masak langsung tunjuk begitu saja. yang jelas KPK ga boleh diam, menkes dan askes harus diperiksa.

  5. 5 tonick Februari 14, 2008 pukul 11:41 am

    bisa-bisa om A Rafiq jadi bingung…kenapa dulu nyanyi lagu “Si Miskin Bercinta”, akhire malah sampe ke urusan kesehatan hihihihihi

  6. 6 cakmoki Februari 14, 2008 pukul 1:27 pm

    @ Dee:
    Nggih Pak Dhe, moga harapan kita dapat terwujud

    @ itikkecil:
    Entah mengapa ada yang pura-pura miskin. Moga terketuk pintu hatinya agar tidak begitu lagi.

    @ sibermedik:
    yang jelas ngenes

    @ nayaka123:
    kalo ga salah saat diskusi sebelum diluncurkannya program tersebut sudah ada usulan untuk tender terbuka. Penunjukan langsung dana negara segitu gede suka atau tidak suka akan menuai pertanyaan berbagai pihak. Sayangnya ketika hal itu dipertanyakan bukannya menjelaskan secara terbuka dan rinci malah ada pihak yang meradang.

    yang jelas KPK ga boleh diam, menkes dan askes harus diperiksa.

    Sungguh, saya juga sangat mengharap

    @ tonick:
    hehehe, dulu ga kepikiran kayak gini kali Mas

  7. 7 habibiearifianto Februari 15, 2008 pukul 4:00 pm

    wah pusing cak, Muwardi Solo mawut gara-gara askeskin gak kunjung dibayar…
    LAgipula pengawasan yang paling penting sama ketua RT opo Kelurahan, masalahnya, banyak pasien Ngakin bukan askin alias ngaku miskin, kemana mana bawa HP terbaru, mana HP nya lebih gonjreng daripada punya residen, staf atau koasnya. Tapi sekarang mending cak, ngurus askeskin dipersulit, harus minta ijin pak Gubernur. Jadi kalo nggak karep beneran/ nggak kepepet beneran ya males aja ngurus sampe Gubernuran.
    Oalah.. sakit wae kok repot…

  8. 8 cakmoki Februari 16, 2008 pukul 1:52 am

    @ habibiearifianto:
    hahaha, sama Mas. Di sini juga, bawa kartu miskin tapi naik motor plat putih, kredit atau enggak kan mengundang tanya bagi yang lain, lha wong plat putih sambil bawa HP yg bisa ditutul-tutul pakai layar sentuh, dokternya aja pakai sepeda motor yg tetanus…hehehe

    Kalo harus ngurus ke Gubernuran, apa yg miskin beneran bisa tuh?
    Oalah.. sakit wae kok repot…

  9. 9 anno Maret 29, 2008 pukul 4:22 pm

    askeskin 2007 diganti jamkesmas 2008… apa lagi nih? askeskin aja masalahnya belum kelar.. nanti di 2009 apa lagi yah namanya?

  10. 10 cakmoki Maret 29, 2008 pukul 5:01 pm

    @ anno:
    gak tahu, mungkin ntar namanya jadi *bancakankeskin* πŸ˜†

  11. 11 Ook April 11, 2008 pukul 5:07 pm

    sekarang kan lagi diaudit total semua penyelengara askeskin baik pt askes, RS, pmi, apotek dll. kita tunggu saja hasilnya.
    emang harus begitu, biar ketahuan siapa yang mark up dana askeskin. biar menkes gak asal nuding ke Pt Askes atau RS. Dan Kantor Cabang Askes atau RS yang mark up harus diumumkan ke publik. jangan di-generalisasi semuanya Askes atau semuanya RS yang mark up.

  12. 12 cakmoki April 12, 2008 pukul 12:38 am

    @ Ook:
    sependapat, moga audit berjalan jujur…kapan itu pernah ada penyidikan terkait dana trilyunan, entah kenapa berhenti tanpa penjelasan ke publik.
    Dan moga para petinggi benar-benar mengedepankan warga miskin, bukan menjadikannya sebagai obyek apapun alasannya πŸ™‚
    Thanks

  13. 13 Ook Mei 4, 2008 pukul 4:14 pm

    aku lagi mikir2 nih….
    kira-kira apa ya kata bu menkes kalo ternyata tidak terbukti terjadi mark up dana askeskin…?
    kalo ternyata masalah utama askeskin 2007 adalah karena depkes tidak menyiapkan dana yang cukup buat askeskin 2007?
    moga verifikator jamkesmas bisa bekerja sama dengan bu menkes, walau sampai skrg mereka belum ditraining juga….

  14. 14 cakmoki Mei 5, 2008 pukul 11:33 pm

    @ Ook:
    sama..mikir juga πŸ™‚
    untuk menilai kebenarannya, sekalian aja main buka-bukaan πŸ™‚ …pihak RS dan depkes open book dan kalau perlu audit.

    Hahaha, saya sudah menduga, depkes bakalan pakai jurus “sambil jalan” untuk pelaksanaan jamkesmas termasuk tatalaksana kinerja verifikator …
    Nulis aja, biar semua pihak tau.. πŸ˜€

  15. 15 ardi Mei 12, 2008 pukul 6:47 pm

    belum terlihat verifikator di rumah sakit neh …, kirain dah ada .. sebab 3 hari yang lalu … berobat ke rumah sakit gara gara batuk. Tanya bentar ma petugas rs, katanya belum ada.

  16. 16 cakmoki Mei 14, 2008 pukul 1:19 am

    @ ardi:
    berarti belum merata tuh..di sini udah.

  17. 17 ardi Juni 6, 2008 pukul 2:11 pm

    ada info menarik neh (mungkin cak moki dah tau) mengenai sistem informasi dari menkes.

    rumah sakit cuman dikasi file excel yang telah diprogram dengan untuk tagihan (cuman tagihan) rumahsakit. (moga moga pihak rumah sakit sadar akan bahaya virus yang menyerang file2 ms. office – bikin backup -) jika tidak sia sia kerjaannya.

    dari segi pengerjaan jadi lebih lambat, sebab satu file excell gak bisa di kerjain rame rame … (udah coba bantu teman dari RS agar tu file excell bisa share worksheet) tp gak pernah bisa tuntas.

    sementara itu petugas harus memilah milah lg per ruangan per poli (manual) tidak menggunakan aplikasi (agar cepat), sebab gimana nanti nya membagi kembali ke poli / ruangan ? … hasil verifikasi nya pun kempel (ngumpul semua) gak keliatan nantinya yang mana yang disetujuin yang mana ngga … tau tau ..keluar total jumlah duit verifikasi. sehingga jika ada selisih gimana nantinya pihak rumah sakit mengetahui di bagian mana yang selisih. (semua serba manual)

    sepertinya jalur sistem informasi terputus. mudah2 an nantinya sistem informasinya bisa menyeluruh dari pelayanan sampai dengan verifikasi.

    maaf jika saya salah.

    ^_^

  18. 18 ardi Juni 6, 2008 pukul 2:16 pm

    tambahan dikit :

    kadang kadang sering muncul pesan error, seperti nya program di dalam excel nya masih mature.

  19. 19 cakmoki Juni 6, 2008 pukul 11:28 pm

    @ ardi:
    ya, saya udah dapat sampelnya dari Pak Suparman via email.
    Kita berharap banyak masukan dari berbagai pihak untuk membenahi sistim tersebut. SIK (sistem Informasi Kesehatan) yang sudah digulirkan sejak 1996, menurut saya gagal total dan hingga kini hanya gonta-ganti format.
    Ini disebabkan beberapa faktor, diantaranya:

    1. Depkes dan kebanyakan jajaran kesehatan lebih berorientasi proyek (project oriented) ketimbang ketimbang output dan outcome.

    2. Kurang memperhatikan user, sehingga yang muncul adalah penyeragaman yg belum tentu cocok di setiap daerah, baik dari segi kemudahan, keamanan, efisiensi dan integrasi data.

    3. Masih suka studi banding. Para petinggi atau jajaran kesehatan Tk I dan II rame-rame ke sudatu layanan medis yg dianggap berhasil, trus pulangnya memaksakan kehendaknya tanpa memperhatikan SDM, sehingga akhirnya macet…. dll … dll.

    Dalam hal pemakaian ms.excell untuk tagihan, mungkin Depkes beranggapan bahwa piranti tersebut cukup friendly use bagi pengguna komputer tanpa mempertimbangkan hambatan-hambatan yang bakal dihadapi di lapangan (RS, Puskesmas)

    Upaya jalan keluar yang mestinya patut dipertimbangkan, antara lain:

    1. Kerjasama dengan pihak programmer di setiap unit layanan medis agar keinginan Depkes nyambung dengan keinginan dan kemampuan semua petugas unit layanan (poli, UGD, Ruangan, Kamar operasi, Lab, apotik, dll) sehingga dapat diterjemahkan oleh programmer dalam bentuk dan format yang “user friendly” dan terintegrasi. Yang penting satu piranti dapat menampung beberapa macam pekerjaan dan outputnya dapat diakses oleh semua unit layanan sehingga gak perlu wira-wiri.
    Inipun gak bisa sekali kerja, perlu follow up dan evaluasi bersama antara user dan programmer agar dapat dilakukan perbaikan manakala ditemukan kesulitan. Bukan hanya tagihan dan verifikasi, dengan satu piranti mestinya juga dapat mengerjakan semua jenis billing system dan rekapitulasi penyakit.
    Dan hal-hal begini saya rasa gak sulit bagi programmer.

    2. Memberi kebebasan pada unit layanan medis di manapun berada untuk menyesuaikan piranti yang dipakai sesuai keinginan dan kemampuan user. Bahkan programmer pun gak bisa memaksakan jenis piranti tertentu jika ternyata user gan bisa mengoperasikan. Disinilah perlunya kolaborasi berkesinambungan antara pihak unit layana medis dengan programmer.

    Untuk back up, kalo saya sih sekalian pakai HDD eksternal misalnya: maxtor (80 GB) yg bisa jalan tanpa instalasi dan harganya cuman sekitar 550 ribu (di samarinda). Semua tertampung tuh, ga cuman data gakin πŸ™‚

    Sebagai contoh, di sebuah RSUD di samarinda (RSUD A. Moeis) merekrut seorang programmer dan mengusulkan kepada kepala daerah sebagai tenaga tetap RS dan digaji oleh pemerintah daerah. Dengan cara ini, program medical record dapat dievaluasi setiap saat bahkan dapat dikembangkan sehingga sistem report dan record terpantau setiap saat dan lebih efisien. (saya dah dapat ijin dari senior yg jadi direktur di RSUD tersebut untuk menulisnya di Blog…mungkin bulan depan dah kelar)

    so, kalo hanya mengandalkan ms.excell … dijamin gak sampai setahun dah kalang kabut … hehehe.

  20. 20 ardi Juni 11, 2008 pukul 10:30 pm

    @cakmoki

    moga moga nantinya lebih baik,…

    saya jg sudah bikinkan aplikasi buat temen saya di RS untuk pelayanan masyarakat miskin .. mulai dari pelayanan sampai dengan sistem penagihan .. dan laporan nya disesuaikan dengan pedoman (manlak 2008) bisa di convert ke excell.

    tp yang masih jd kendala bagi temen saya, dia gak bisa gunakan tu software karena ada perintah dari atas …

    “kalau di kasih excell ya gunakan itu saja, yang ada di CD yang dikasih itu… jangan yang lain”

    ^_^

    tauk ah gelap….

  21. 21 zahra Oktober 13, 2008 pukul 2:47 pm

    Heheheeee, wuakakakakakkkk hebat!!! program bu menkes laris manis ….
    well, as i know dari sumber terpercaya banyak yg menyangka klu askes itu korupsi!!!!!! Jadi kaya dunk!!!
    weleh2 ternyata banyak pegawai askes yg KO gara2 ngurusin askeskin dengan gaji yg sama saja seperti sebelum terima penugasan, ealah tiwas kita koar2 eh bukan ding menkes koar2 askes menggelembungkan dana.
    di beberapa RS justru yang banyak terjadi di lapangan adalah ketidaksesuaian data yang diklaimkan ke askes dengan Medical record RS, so?????????????????????????
    apa salahnya askes dengan MR? dengan berkas penagihan??? setau saya askes memudahkan RS untuk sistem administrasi, pelayanan ganda terlacak, wis pokoke lengkaplah, memudahkan kami yang di RS.
    ohya kemarin RS kami diperiksa sama tim itjen Depkes, kayaknya masih canggih orang2 dari askes soal logika kesesuaian tindakan dg pasien, duhhhh mengerikan.
    Di RS kami juga ketua Tim Itjen sempat minta uang, mujurnya Direktur kami orangnya tegas tidak mau memberi uang, uang adari mana???? hayo bu mentri ini PR buat Anda lho ya, anak buahnya aja masih suka minta yg di audit tuh…coba KPK datang yang kena malah yg meng-audit, wekekekekkkeekkkk ternyata seneng duit to….

  22. 22 cakmoki Oktober 13, 2008 pukul 3:08 pm

    @ zahra:
    Sssst, Ketua Tim Itjen minta uang berapa ? πŸ™‚
    Btw, RS mana ?

  23. 23 yuflihu Januari 6, 2009 pukul 11:26 am

    cak moki, saya mo berbagi cerita tentang jamkesmas. ada tetangga saya yang bener2 miskin dan dapat kartu jamkesmas. dia mengalami kecelakaan, rahangnya patah dan harus di pasang pen. waktu di rumah sakit biaya pen nya diminta sebesar 1.5 juta. waktu ditanyakan ke pihak askes, mereka menjawab bukan askes lagi yang menangani pelayanan. sebenarnya kalo ada kasus seperti ini kemana kita harus mengadu. karena katanya kalo pake jamkesmas semua gratis.

  24. 24 cakmoki Januari 6, 2009 pukul 9:36 pm

    @ yuflihu:
    Silahkan mengadu ke Bidang Pelayanan Medik RSUD.
    Kalau perlu sekalian ke Dinas Kesehatan dan Kepala Daerah (Bupati/Walikota) setempat agar masalah tersebut menjadi perhatian.
    Trims πŸ™‚


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Wong ndeso β„’

cakmoki

Wordpress Indonesia

Silahkan baca

DISCLAIMER

web tracker

9 Desember 2009

SEMENTARA TUTUP

Maaf, sementara Blog istirahat hingga ada pemberitahuan

Harap maklum


MARI HENTIKAN KORUPSI

No Korupsi

Internet Sehat

Translator

Warga Bicara

» Makasih PLN, listrik Samarinda dah membaik, moga gak byar-pet

» Waspada Demam Berdarah

» Jangan Gunduli Palaran

» Banjir...banjir. Kapan masalah ini teratasi ?

INGA INGA INGA

» Nyeri Urat or Tulang BUKAN berarti Penyakit Asam Urat.

» Sekali lagi: Pegal, Linu Tidak Identik dengan Penyakit Asam Urat

TEMANs

9racehime | A. Fatih Syuhud | Aditiawan Chandra | A.Tajib | Agung UD | aLe | alief | alle | almascatie | Amd | Anak Peri | Anak Sultan | Anang | Anang YP | Anas | Andalas | Anggara | Anjaz | Anti Pungli | Antobilang | Anung87 | Aribowo | Arif Kurniawan | Arul | Astikirna | awan965 | axireaxi | Bambang alias HR | BatakNews | Blog Pokoke? | Biho | CalonOrangTenar | Cay | Chandra | Chielicious | chiw imudz | cK-chika | Dalamhati | Deden Nugraha | deedhoet | deKing | Desti Utami | Didats | doeytea | dnial | Edy C | Eep | Elpalimbani | erander | Evi | Fa | Fa wp | Faiq | Fertobhades | Fetro | Fortynine | Freddy | Gadis | Gaussac | Gitablu | Grandiosa | GuhPraset | GuM | Helgeduelbek | Herdy | Indonesia Kita | Indra KH | ItikKecil | iway | Jejakpena | Jennie S. Bev | Joesath | Joko Taroeb | Julee | Juli | Juliach | Junthit | Jurig | Kakilangit | Kang Adhi | Kang Kombor | Kangguru | kawaichu | Kenji | Kenzt | kikie | koecing | Kumala | Kurtubi | Kw | Laras | liezmaya | Lilik Suryanto | Lily | Linker | Lintang | Lita | Lita wp | Luthfi | MaIDeN | Majalah Dewa Dewi | Manusiasuper | Master Li | Mathematicse | macanang | mbojo | Mei | Micokelana | Mr. Geddoe | Mufti | mybenjeng | My-za | Nayla Zahra | Nayz | Ndarualqaz | Neeya | Neo Forty-Nine | Neri | Ninoy | Nieke | Nomercy | n0vri | NuDe | Om Sulis | omaigat | Ooyi | Paijo | Panca | Pandu | Panduan WP | Papabonbon | Passya | Peyek | Pinkina | Pitik | Pralangga | Prayogo | Priyadi | Qee | Raja iblis | RenjanaBiru | rivafauziah | Rivermaya | Roffi | roisZ | Rujak | Sagung | Sahrudin | Saiful Adi | SaRa | Siu | Sofi | Sora9n | Suandana | Suluh | Susiloharjo | Telmark | Thamrin | tiesmin | Triesti | Tukang Sate | Venus | Wadehel | Wahyuansyah | Wandira | Wiku | WongMangli | Wulan | Yati | Yudhipras |

:: :: :: :: :: :: :: :: ::

Kesehatan

:: Ady Wirawan :: Agus Mutamakin :: Anis Fuad :: Anis Fuad wp :: Asri Tadda :: Astri Pramarini :: Astri Pramarini (awal) :: Astri Pramarini wp :: Blog Mahasiswa FKU 2003 :: Blog Rumah Kanker :: Dani Iswara :: Dani Iswara weblog :: Dokter arek cilik :: drAnak :: drarifianto :: Dwi wp :: Elyas :: Erik Tapan :: Evy HealhtySmile :: FK Unsri :: Gies :: Gies wp :: Ginna :: Grapz :: Hendar Sunandar :: HIV News :: Huda Thoriq :: IDI Samarinda :: imcw :: Imran Nito :: Iwan Handoko :: Jhonrido :: klikharry :: Kobal :: Laksmi Nawasasi :: Mashuri :: Mave Mina :: Mbah Dipo :: Mina :: My Blogspot :: Nur Martono :: PKM Palaran :: Rara :: Rizma Adlia :: Rudy Kwang :: SenyumSehat :: Sibermedik :: SimkesUGM :: SuperKecil :: Titah :: Tito :: Tonang Ardyanto :: Tukangkomentar :: Wi :: Vina Revi :: Vina Multiply :: Yusuf Alam R :: zulharman79 ::

:: :: :: :: :: :: :: :: :: :: ::

Institusi Kesehatan

:: Depkes RI :: WHO :: WHO Indonesia :: … nyusul

:: :: :: :: :: :: :: :: ::

Kolaborasi

:: Emedicine :: ICD 10 Wikipedia :: ICD 10 Wiki Indonesia :: OSWD :: OpenWebDesign :: Pakistan Times :: Rubab :: ntar ::

Kategori

BlogTour

Arsip

Komunitas Blog

blog-indonesia.com

PAGE RANK

Powered by  MyPagerank.Net

Add to Technorati Favorites

Health Blogs - Blog Top Sites

Health

Blogs Topsites - TOP.ORG

Health Blogs - Blog Rankings

Blog directory

TopOfBlogs

Top 10 Award

Feed Burner

cakmoki Blog

Bloggerian Top Hits

My BlogCatalog BlogRank

Site Meter

Since 30 Nov 07

PENGUNJUNG

  • 5,368,637 pengintip

Asal Usul

Pebruari 2011

free counters

Translate


%d blogger menyukai ini: