Suramnya Program KB

Seiring dengan kebijakan Pemerintah di awal era Reformasi, salah satu gebrakan spektakuler adalah dikebirinya Kementrian Negara Kependudukan / Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional. Entah apa alasan yang melatar belakangi kebijakan tersebut, bisa jadi penghematan anggaran nasional, bisa jadi alasan politis, bisa jadi karena faktor lain. Entahlah !

MENIMBANG MANFAAT

Jujur saja, penulis tidak mampu mengukur secara empiris perbandingan antara ada dan tidaknya manfaat pengkebirian Kementrian Negara Kependudukan / Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional. Sebagai orang lapangan, penulis hanya dapat merasakan adanya kesenjangan pasca penghapusan Kementrian Negara Kependudukan / BKKBN (Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional).

Dalam hal pernak-pernik kontrasepsi, seolah masyarakat kita yang notabene sebagian besar berdiam di pedesaan dipaksa untuk memilih sendiri metode kontrasepsi yang bakalan digunakan. Tak ada lagi binaan langsung dari rumah ke rumah oleh para Petugas Lapangan Keluarga Berencana (PLKB). Tak ada lagi konseling personal approach, tak ada lagi monitor penggunaan dan monitor efek samping alat kontrasepsi (alkon).

Jika kita bicara ada dan tidak, point-point kecil kegiatan tersebut boleh jadi masih ada, namun jika kita mau membuka mata, sempalan kegiatan di atas tak terkoordinir, tidak merata (setiap daerah mungkin beda) dan yang lebih parah, tak terukur.

Memang benar Program KB terintegrasi dengan Program Pembinaan Kesehatan Keluarga (Kesga) di Puskesmas. Benar pula bahwa secara teknis medis, layanan KB dilaksanakan di Puskesmas sebagai salah satu bagian Usaha Kesehatan Pokok (UPK) Puskesmas dan jaringannya (Puskesmas Pembantu, Bidan Desa, Posyandu). Pun demikian pula layanan KB di RS dan Poliklinik-poliklinik. Masih ada dan eksis.
Penulis juga mengakui bahwa penyuluhan tentang KB masih jalan, demikian pula program yang terkait dengannya. Mungkin di beberapa daerah masih berdiri tegak BKKB Provinsi sebagai penanggung jawab institusional. Tanpa PLKB, apa ya bisa efektif ?
Keraguan tetap muncul lantaran tidak ada lagi pembinaan secara terus menerus, terorganisir dan berkesinambungan terkait program KB.

KB DAN DESENTRALISASI

Sebelum masa reformasi, setiap bulan dilaksanakan monitoring dan evaluasi program KB di tingkat Kelurahan/Desa, Kecamatan, Kabupaten/Kota, Provinsi hingga Nasional, yang menelorkan langkah-langkah strategis unttuk perbaikan periode berikutnya (bulan, triwulan, semester ataupun tahunan). Tak ada satupun kepala daerah yang berani menolaknya. Suka atau tidak, setiap kepala daerah harus bertanggung jawab terhadap kelangsungan dan peningkatan program KB.

Setelah masa reformasi, praktis kegiatan di atas hilang. Kalaupun ada, lebih bersihat insidental dengan memanfaatkan moment Nasional ataupun moment daerah.

Bicara kegiatan KB, ibarat roda mesin tanpa henti, melelahkan, blusukan, bahkan adakalanya para pelaksana lapangan yang terdiri dari dokter, bidan, PLKB dan para kader harus keluar uang sendiri. Capek, kadang menyenangkan jika ada sedikit keberhasilan, kadang bikin puyeng jika banyak hambatan. Kendati demikian, dinamika tersebut adalah kenikmatan tersendiri manakala kita bisa sedikit berbuat untuk sesama.

UPAYA JALAN KELUAR

Bagaimana menindak lanjuti “kesenjangan” dalam hal tanggung jawab, koordinasi, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi Program KB di daerah?
Pertanyaan di atas patut mendapatkan perhatian kita semua. Rasanya perlu diadakan kajian ulang menyangkut: pencapaian program, faktor penguat dan penghambatnya lantas merumuskannya dengan melibatkan sektor terkait.

Semoga !!!

:: :: :: Terimakasih kepada sahabat Suyanto, PLKB yang kini menjadi staf Kelurahan di Palaran atas informasinya terkait Program KB saat ini :: :: ::

 

Iklan

23 Responses to “Suramnya Program KB”


  1. 1 Dee Januari 25, 2008 pukul 1:07 am

    Mungkin akan lebih tepat kalau program KB sekarang ini lebih diarahkan kepada konseling bagi para pasangan untuk membantu merencanakan pertumbuhan keluarga mereka. Agar nantinya mereka dengan kesadaran sendiri mampu memilih alat kontrasepsi, atau bahkan memilih untuk tidak menggunakan alat kontrasepsi, tentu dengan segala kesiapan untuk menghadapi resikonya. Pendapat saya, program KB di masa lalu mungkin identik dengan propaganda dan “pemaksaan” untuk berkeluarga kecil, dan menempatkan individu yang memilih untuk tidak mengikuti program KB sebagai orang yang tidak mengikuti kelaziman dalam masyarakat. Mungkin faktor inilah yang dianggap sebagai titisan orde baru, sehingga harus dienyahkan dari muka bumi (yang dienyahkan kok semuanya ya, nggak dipilah mana yang masih relevan untuk dilakukan, korban lainnya kayaknya posyandu ya cak?).
    Sebuah kasus cukup menarik: Di kampungku saat ini, banyak pasangan muda yang hampir tiap tahun bereproduksi. Istilahnya, senggol-plenthing. Sekali senggol saja langsung mlenthing. Bukan berarti mereka tidak mau membatasi kelahiran, atau mereka sudah sangat berkecukupan sehingga merasa mampu menghidupi anak bahkan sampai 12. Lha wong untuk hidup berdua saja senen-kemis. Boleh jadi, mereka tidak kuasa membatasi atau merencanakan jumlah kelahiran karena memang ketidak tahuan mereka, bahwa datangnya kehamilan itu bisa direkayasa, eh diatur. Bahkan tanpa menggunakan alat kontrasepsi sekalipun. Tapi, kepada siapakah mereka bertanya?

  2. 2 sibermedik Januari 25, 2008 pukul 2:34 am

    KB pd knytaanx tdk merata dan pd orde baru thn 70-80an trkesan dpaksakn.
    ktidakmerataan ini dpt trlihat pada slh satu suku WNI kturunan yg mgkin ‘balas dendam’ krn d negeri asalnya anak tdk boleh banyak (you tau lah Cak!),blm lagi ada yg brkdok prsaingan untk jumlah pmeluk agama trtentu lwt program KB dgn alasan ekonomi(pdahal ALLAH mnjamin rizki tiap mahluk).
    nah ini smua harus dluruskan! dari visi,misi,tujuan,etc jgn smpai hanya mguntungkn pihak trtentu..tdk brmaksud SARA,tp tiap WNI brhak dprlakukan semestinya.

  3. 3 mybenjeng Januari 25, 2008 pukul 3:39 am

    gak komen deh. belum ber-KB sich… πŸ™‚

  4. 4 Stethoscope_guy Januari 25, 2008 pukul 8:16 am

    Iya nih..menurut info yang sering aku denger dari senior-senior di lapangan, program KB kita jadi kendor banget. Yang sewaktu jaman orde baru pasang KB, sekarang udah ga pasang lagi. Memang masalahya ada di tingkat edukasi dan pengertian masyarakat mengenai KB itu sendiri.
    Yah..memang ujung-ujungnya kembali lagi ke dedikasi seorang dokter untuk membeikan KIE ke masyarakat..sehingga mereka ngerti.

    Regards.

  5. 5 cakmoki Januari 25, 2008 pukul 11:28 am

    @ Dee:
    setuju Pak Dhe …
    saya sendiri lebih kearah konseling langsung secara aktif, melalui media berkumpul di masyarakat atau melalui konseling pra-nikah.
    Oke juga tentang pilihan alat kontrasepsi dan pilihan pakai atau tidak, yang penting masarakat mengerti. Pada akhirnya toh mereka sendiri yang menentukannya.

    Posyandu masih jalan, hanya kurang gregetnya kali… entah mengapa, padahal sekarang disediakan dana bagi petugasnya, gak seperti dulu yang hanya suka rela. Mengapa ya ? Penjenengan tahu sebabnya?

    Di kampungku saat ini, banyak pasangan muda yang hampir tiap tahun bereproduksi. Istilahnya, senggol-plenthing. Sekali senggol saja langsung mlenthing.

    hahaha…sama, di sini juga. Gak banyak sih tapi emang bener mereka gak ngerti, lha buktinya sambat …

    @ sibermedik:
    itu di kota kali ya…kalo di pedesaan yang terjadi sebaliknya ..walah…mbrojol terus tuh πŸ˜€
    Sebenarnya program KB terpulang pada masing-masing koq… Emang benar rizqi dijamin, tapi saat ini udah gak banyak wanita yg mau nggandeng Balita, sinambi nggendong adiknya sinambi ngandhut … belum lagi kalo malem harus “momong” anak sulunya yg senengannya kelon mulu. *yg ini episode paling asyik, bayangin aja deh*

    @ mybenjeng:
    Tenane Rek πŸ˜› .. ya deh, moga segera ber KB *artinya cepetan gitu lho*

    @ Stethoscope_guy:
    iya, sebenarnya untuk edukasi dah ada para petugas lapangan, seperti bidan, tim posyandu, dll. Tapi tanpa dokter, masyarakat kita kurang puwass… enak koq jalan-jalan di masyarakat sambil edukasi.
    asyiik deh, dapet jajan, dll dll … hahaha

  6. 6 suparman Januari 25, 2008 pukul 12:58 pm

    @sibermedik

    ktidakmerataan ini dpt trlihat pada slh satu suku WNI kturunan yg mgkin β€˜balas dendam’ krn d negeri asalnya anak tdk boleh banyak (you tau lah Cak!),blm lagi ada yg brkdok prsaingan untk jumlah pmeluk agama trtentu lwt program KB dgn alasan ekonomi(pdahal ALLAH mnjamin rizki tiap mahluk

    Rasanya berdasar syak wasangaka seperti ini kok sudah nggak relevan lagi, saya juga tinggal di lingkungan mereka tetapi rasanya nggak ada ‘doktrin’ seperti itu, bahkan keluarga muda nya rata2 punya anak 1 atau 2 pemikirannya : biaya edukasi di kota besar sangat mahal sekali.

    Mudah-mudahan saja pemerintahan yang akan datang kembali menghidupkan BKKBN atau buat lembaga lain yang konsen masalah KB ini.

  7. 7 sibermedik Januari 25, 2008 pukul 1:38 pm

    @Suparman
    Tserah klo dbilang siak wasangka,tp sbg akademisi yg dbekali daya analitik empiris silahkan cek badan sensus ‘etnis’ tsb,mningkat psat jstru d era reformasi..
    @cak moki
    wah cak,dikeloni ma siapa?nikah aja belum..dadi dokter sik cak! lalu ikut SPMB(Seleksi Pnerimaan Mnantu Baru)..he5x

  8. 8 suparman Januari 25, 2008 pukul 4:52 pm

    @sibermedik

    iya deh…
    saya memang nggak punya data primer untuk kasus ini.
    Badan Sensus itu BPS bukan ya..?

  9. 9 prim Januari 25, 2008 pukul 5:59 pm

    Program KB, nampaknya mulai gak terdengar lagi,.. karena bangsa lagi banyak masalah..jadi KB kurang terdengar gaungnya.. atau malah uda ilang ..aku gak tau..!

  10. 10 Juliach Januari 25, 2008 pukul 6:05 pm

    Waktu aku di SMP klas 3 di Solo, ada 2 teman yg hamil. Jadi perkiraan umur mereka 15 tahunan. Selanjutnya, ada teman (atau tetangga) yg punya anak umur 16, 17, 18 th. Tapi jumlah ini bisa dihitung sama jari. Ataukah aku sendiri tidak tahu karena ini termasuk hal yang tabu, di masyarakat banyak yang ditutup-tutupi.

    Th. 2001 aku kembali ke Indonesia dan banyak mengunjungi tempat-tempat terpencil, betapa kagetnya melihat banyak gadis yang sudah menggendong anak, umur mereka 15-18th. Umur 20th mereka sudah punya 2-3 anak. Sedangkan aku sendiri juga lagi mengendong anakku I umur 1 1/2 th dan aku sendiri umur 32th.

    Hal ini tidak hanya di luar jawa, di jawa sendiri banyak sekali aku temukan, di Jawa Barat: Cikampek, Purwakarta, Sukabumi, Tasikmalaya. Cipanas, Indramayu, di Jawa tengah agak sedikit berkurang walau masih ada, di Jawa timur: Jember ke Timur masih banyak juga.

    Parahnya lagi di Jawa Barat, kalau sudah akil balik, anak perempuan sudah boleh kawin.

    Aku pikir perlu sekali pendidikan seks dan KB diberikan sejak kelas 1 atau 2 SMP dan orang tua mereka. Serta mengubah pola pikir masyarakat, karena banyak di antara mereka yg berpikir mempunyai anak perempuan merupakan beban keluarga. Jadi secepat mungkin mereka mengeluarkan anak-anak perempuan mereka dengan cara mengawinkan mereka dengan pria yg sudah bekerja/ anak bujang yg orang tuanya mampu. Selain itu ada juga yang berpikiran banyak anak=banyak rejeki, ada yang berpikir mempunyai anak itu untuk menunjang pensiun di hari tuanya, di Indramayu anak perempuan jika sudah akil balik dan belum kawin = tidak laku, dll.

    Menurutku KB itu untuk merencanakan (planning) kehidupan kita seterusnya: pendidikan (kita sendiri/anak), pekerjaan, pernikahan, mempunyai anak, liburan dan hari tua (menabung/asuransi).

    Jadi program KB ini diprogram ke otak masyarakat dulu, baru alat kontrasepsi untuk membantu/menunjang.

    Hiks…organisasinya kompleks banget deh…

  11. 11 sibermedik Januari 25, 2008 pukul 6:58 pm

    klo ada pasangan yg mau pnya anak datang ketempat praktek saya ntar di resepi aja kayak obat
    R/ SIGNA PRO RENATA
    (baca: SECUKUPNYA) he5x..

  12. 12 cakmoki Januari 26, 2008 pukul 12:10 am

    @ Prim:
    iya, emang bener… sebenarnya ada dan terus berjalan, hanya saja sangat jauh dibanding dulu.

    @ Juliach:
    Pendidikan seks sejak dini (setingkat SLTP) pernah rutin dilaksanakan hingga tingkat desa oleh BKKBN bekerja sama dengan dokter Puskesmas bertajuk: Reproduksi Sehat … sekarang entah masih jalan secara merata apa enggak, saya sungguh tidak tahu. Secara pribadi sih masih suka diundang untuk presentasi Reproduksi Sehat, tapi insidental aja… ini sepertinya membantu memberi pengetahuan dasar seputar merencanakan rumah tangga dan menghindari kawin dini.

    Sebenarnya sebelum reformasi, program ini tertata bagus dan kompleks tapi terintegrasi, masif dan berkesinambungan. Sayangnya kini tinggal kenangan πŸ™‚

    @ sibermedik:
    itu resep untuk yang masih jomblowati kan? πŸ˜›

  13. 13 Shinta Januari 26, 2008 pukul 6:26 pm

    ” tapi saat ini udah gak banyak wanita yg mau nggandeng Balita, sinambi nggendong adiknya sinambi ngandhut … ” hahhahah…jadi inget foto ibu saya hehehe

  14. 14 cakmoki Januari 26, 2008 pukul 10:36 pm

    @ Shinta:
    ..ada rencana seperti itu juga ga? πŸ˜‰ *mbayangkan mbak Shinta nggandeng, nggendong, ngandhut*

  15. 15 Stethoscope_guy Januari 27, 2008 pukul 1:50 am

    Prinsip: “BANYAK ANAK, BANYAK REJEKI”, masih banyak dianut ama masyarakat desa yang (maaf) pendidikannya masih rendah. Meskipun biaya hidup makin tinggi, mereka seolah tidak menyadari.Karena setelah anak itu agak ‘gede’an bakal disuruh kerja ama ortu nya.
    Jadi pembantulah, jadi TKI lah, jadi ‘apa’ lah, bahkan ada keluarga profesi pengamen. Makin Banyak Anak, Makin Banyak Income.

    Trus..ada lagi anggapan yang salah dari masyarakat, setelah pake KB pil, mereka merasa ‘kering’, dan takut jadi ga subur lagi.

  16. 16 cakmoki Januari 27, 2008 pukul 11:45 am

    @ Stethoscope_guy:
    ya, sebagian masih gitu … untuk menggantungkan hidup di hari tua kali, ..tak jarang juga ternyata gak sesuai harapan.

    Trus..ada lagi anggapan yang salah dari masyarakat, setelah pake KB pil, mereka merasa β€˜kering’, dan takut jadi ga subur lagi.

    dulu di lapangan sering dapat pertanyaan gini, sekarang dah jarang πŸ™‚

  17. 17 Astri Januari 28, 2008 pukul 3:41 am

    Agak melenceng sedikit, cukup banyak yang berprasangka suntikan TT pranikah itu isinya kontrasepsi, sehingga ada beberapa oknum yang minta dikeluarkan surat sudah TT buat KUA tanpa disuntik.
    Denger2 kabar gak bener dari mana ya??? Cak Moki pernah denger?

  18. 18 Astri Januari 28, 2008 pukul 3:43 am

    Yang susah aadlah menjelaskan bahwa haid yang berkurang jumlahnya saat berKB bukan berarti ada penumpukan darah kotor dalam tubuh.
    Hidup kata tetangga 😦

  19. 19 cakmoki Januari 28, 2008 pukul 6:36 pm

    @ Astri:
    iya, pernah ada “gugon tuhon” (berita dari mulut ke mulut) seperti itu, beberapa tahun yg lalu, tak kira hanya di tempat kami lho … gak tahunya disitu juga … hehehe, jangan-jangan merata. Alhamdulillah sekarang udah enggak lagi πŸ™‚

    Yang susah aadlah menjelaskan bahwa haid yang berkurang jumlahnya saat berKB bukan berarti ada penumpukan darah kotor dalam tubuh. Hidup kata tetangga 😦

    yang ini asli masih ada … hahaha

  20. 20 intan Januari 27, 2010 pukul 11:47 pm

    Nimbrung nih cak moki, menurutku “era Baby’s Boom udah lewat” sekarang jamannya “young parent” so biar mereka KB dengan 2 anak sekalipun karena buanyak jumlah keluarga mudanya tetep aja terjadi ledakan jumlah penduduk, belum lagi pabrik bayi di Malingsia yang jadi trend centre penjualan bayi… Tapi menurutku program KB era sekarang jauh lebih manusiawi karena tidak ada unsur paksaan, justru mereka yang cari sendiri untuk ber KB ria.

  21. 21 cakmoki Januari 28, 2010 pukul 2:47 am

    @ intan:
    KB mandiri bukan hanya sekarang, sejak 1990-an yang lalupun sudah tidak ada paksaan.
    Tapi cobalah jalan-jalan ke pedesaan yang jauh dari jangkauan layanan publik. Mereka masih membutuhkan program KB yang tertata.
    Program KB bukan hanya ngurusi jumlah anak, namun juga memberikan bimbingan pra-nikah, perawatan kehamilan, perawatan bayi, pendidikan, peran keluarga di masyarakat, UPPKS, upaya permodalan untuk berwiraswasta, dll…dll.
    Itulah program KB…sekali lagi bukan hanya masalah jumlah anak.


  1. 1 Tambah atau kurang 1, Cakmoki ? « Pieces of Mind Lacak balik pada Februari 19, 2009 pukul 12:01 am
  2. 2 Tambah atau kurang 1, Cakmoki ? « dragus.cn Lacak balik pada Februari 16, 2011 pukul 6:22 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Wong ndeso β„’

cakmoki

Wordpress Indonesia

Silahkan baca

DISCLAIMER

web tracker

9 Desember 2009

SEMENTARA TUTUP

Maaf, sementara Blog istirahat hingga ada pemberitahuan

Harap maklum


MARI HENTIKAN KORUPSI

Jangan Korupsi Ah

No Korupsi

Internet Sehat

Warga Bicara

» Makasih PLN, listrik Samarinda dah membaik, moga gak byar-pet

» Waspada Demam Berdarah

» Jangan Gunduli Palaran

» Banjir...banjir. Kapan masalah ini teratasi ?

INGA INGA INGA

» Nyeri Urat or Tulang BUKAN berarti Penyakit Asam Urat.

» Sekali lagi: Pegal, Linu Tidak Identik dengan Penyakit Asam Urat

TEMANs

9racehime | A. Fatih Syuhud | Aditiawan Chandra | A.Tajib | Agung UD | aLe | alief | alle | almascatie | Amd | Anak Peri | Anak Sultan | Anang | Anang YP | Anas | Andalas | Anggara | Anjaz | Anti Pungli | Antobilang | Anung87 | Aribowo | Arif Kurniawan | Arul | Astikirna | awan965 | axireaxi | Bambang alias HR | BatakNews | Blog Pokoke? | Biho | CalonOrangTenar | Cay | Chandra | Chielicious | chiw imudz | cK-chika | Dalamhati | Deden Nugraha | deedhoet | deKing | Desti Utami | Didats | doeytea | dnial | Edy C | Eep | Elpalimbani | erander | Evi | Fa | Fa wp | Faiq | Fertobhades | Fetro | Fortynine | Freddy | Gadis | Gaussac | Gitablu | Grandiosa | GuhPraset | GuM | Helgeduelbek | Herdy | Indonesia Kita | Indra KH | ItikKecil | iway | Jejakpena | Jennie S. Bev | Joesath | Joko Taroeb | Julee | Juli | Juliach | Junthit | Jurig | Kakilangit | Kang Adhi | Kang Kombor | Kangguru | kawaichu | Kenji | Kenzt | kikie | koecing | Kumala | Kurtubi | Kw | Laras | liezmaya | Lilik Suryanto | Lily | Linker | Lintang | Lita | Lita wp | Luthfi | MaIDeN | Majalah Dewa Dewi | Manusiasuper | Master Li | Mathematicse | macanang | mbojo | Mei | Micokelana | Mr. Geddoe | Mufti | mybenjeng | My-za | Nayla Zahra | Nayz | Ndarualqaz | Neeya | Neo Forty-Nine | Neri | Ninoy | Nieke | Nomercy | n0vri | NuDe | Om Sulis | omaigat | Ooyi | Paijo | Panca | Pandu | Panduan WP | Papabonbon | Passya | Peyek | Pinkina | Pitik | Pralangga | Prayogo | Priyadi | Qee | Raja iblis | RenjanaBiru | rivafauziah | Rivermaya | Roffi | roisZ | Rujak | Sagung | Sahrudin | Saiful Adi | SaRa | Siu | Sofi | Sora9n | Suandana | Suluh | Susiloharjo | Telmark | Thamrin | tiesmin | Triesti | Tukang Sate | Venus | Wadehel | Wahyuansyah | Wandira | Wiku | WongMangli | Wulan | Yati | Yudhipras |

:: :: :: :: :: :: :: :: ::

Kesehatan

:: Ady Wirawan :: Agus Mutamakin :: Anis Fuad :: Anis Fuad wp :: Asri Tadda :: Astri Pramarini :: Astri Pramarini (awal) :: Astri Pramarini wp :: Blog Mahasiswa FKU 2003 :: Blog Rumah Kanker :: Dani Iswara :: Dani Iswara weblog :: Dokter arek cilik :: drAnak :: drarifianto :: Dwi wp :: Elyas :: Erik Tapan :: Evy HealhtySmile :: FK Unsri :: Gies :: Gies wp :: Ginna :: Grapz :: Hendar Sunandar :: HIV News :: Huda Thoriq :: IDI Samarinda :: imcw :: Imran Nito :: Iwan Handoko :: Jhonrido :: klikharry :: Kobal :: Laksmi Nawasasi :: Mashuri :: Mave Mina :: Mbah Dipo :: Mina :: My Blogspot :: Nur Martono :: PKM Palaran :: Rara :: Rizma Adlia :: Rudy Kwang :: SenyumSehat :: Sibermedik :: SimkesUGM :: SuperKecil :: Titah :: Tito :: Tonang Ardyanto :: Tukangkomentar :: Wi :: Vina Revi :: Vina Multiply :: Yusuf Alam R :: zulharman79 ::

:: :: :: :: :: :: :: :: :: :: ::

Institusi Kesehatan

:: Depkes RI :: WHO :: WHO Indonesia :: … nyusul

:: :: :: :: :: :: :: :: ::

Kolaborasi

:: Emedicine :: ICD 10 Wikipedia :: ICD 10 Wiki Indonesia :: OSWD :: OpenWebDesign :: Pakistan Times :: Rubab :: ntar ::

Kategori

BlogTour

Arsip

Komunitas Blog

blog-indonesia.com

PAGE RANK

Powered by  MyPagerank.Net

Add to Technorati Favorites

[Valid RSS]

Health Blogs - Blog Top Sites

Health

Blogs Topsites - TOP.ORG

Health Blogs - Blog Rankings

Blog directory

TopOfBlogs

Top 10 Award

Feed Burner

cakmoki Blog

Bloggerian Top Hits

My BlogCatalog BlogRank

Site Meter

Since 30 Nov 07

PENGUNJUNG

  • 5,284,837 pengintip

Asal Usul

Pebruari 2011

free counters


%d blogger menyukai ini: