Menjaja Laboratorium

Belasan tahun belakangan ini bermunculan piranti Laboratorium digital sebagai jawaban atas perlunya pemeriksaan instan guna membantu menegakkan diagnosa. Piranti ini sangat cocok digunakan di praktek dokter atau klinik-klinik layanan medis yang kadang memerlukan hasil pemeriksaan segera (instan) sebagai penunjang diagnosa klinis.

ANTARA INDIKASI DAN TAWARAN

Pemeriksaan Laboratorium adakalanya diperlukan sebagai penunjang diagnosa setelah dilakukan pemeriksaan klinis, terutama pada kondisi-kondisi tertentu. Keputusan untuk memanfaatkan Pemeriksaan Laboratorium selayaknya mempertimbangkan beberapa hal, diantaranya: selektif, sistematis dan efektif. Selektif, maksudnya memilih jenis pemeriksaan yang mengarah pada Diagnosa Klinis, sistematis artinya berurutan dari pemeriksaan paling sederhana hingga pemeriksaan lanjutan jika memang diperlukan, sedangkan efektif mengandung makna bahwa pemeriksaan laboratorium hendaknya dapat dilakukan secara cepat, tepat dan efisien, baik dari segi waktu mauoun biaya. So, jika ada yang murah dan akurat mengapa pilih yang mahal ?

Beberapa waktu yang lalu, penulis sempat berbincang panjang dengan seorang paramedis yang membantu praktek seorang dokter. Paramedis tersebut dengan bangganya menceritakan bahwa paket pemeriksaan digital untuk Gula Darah, Kolesterol dan Uric acid (asam urat) bak pisang goreng nan laris manis di tempat dia bekerja. Kog bisa ? Iya, lantaran hampir semua pasien dewasa “ditawari” berbagai pemeriksaan di atas dengan menggunakan piranti Pemeriksaan Laboratorium Digital. Ketika penulis menanyakan tentang indikasinya, si paramedis bingung menjawab, dan diapun mengatakan hanya sebagai pelaksana atas perintah ibu dokter.

Betapa naifnya !!!
Hmmm, untaian kata manis berbunyi “menawarkan” atau apapun persamaannya tanpa indikasi medis (atau indikasi yang dibuat-buat) tiada beda dengan penipuan. Walhasil, hitungannya hanyalah menghabiskan packing dan keuntungan. Adapun dampak yang ditimbulkan, entah itu kesalahan informasi (salah kaprah) maupun “kecemasan pasien” diabaikan.

Seburuk itukah potret di balik kamar praktek dokter ? Tidak !!! Penulis tak hendak berdebat soal hitung menghitung mana yang buruk mana yang tidak, namun lebih kepada “kepatutan” dan “etika”.
Kalaupun ditinjau dari hukum dagang yang mungkin menganut paham: menawarkan lantas keputusan menerima tawaran atau tidak diserahkan kepada pasien yang notabene tidak tahu apa-apa tersebut dibenarkan, kita tentu bertanya: ” apakah itu patut dilakukan oleh seorang dokter dan tidak melanggar etika ?” … Hmmm …

Ilustrasi diatas hanya satu contoh diantara fakta-fakta yang dapat kita temui di mana saja, di klinik, di puskesmas, di RS dan lain-lain.
Argumen dari beberapa sejawat yang sempat ketemu langsung dengan penulis bahwa mereka “hanya menawarkan” kepada pasien, tentu sulit diterima. Di dunia nyata, penulis tak pernah segan mengatakan kepada teman sendiri bahwa perilaku tersebut adalah penipuan, pembodohan dan sama artinya dengan menyebarluaskan berita bohong.

Bayangkan !!! Pemeriksaan Laboratorium tanpa indikasi medis, apa jadinya ? Tak pelak, istilah medis yang rancu akan makin bermunculan, seperti: Gejala Asam Urat, Gejala Kencing Manis, Gejala Kolesterol. Dan para pasien pun manggut-manggut takdzim, bahkan ada yang senang dan bangga mengatakan: saya punya gejala asam urat … bla bla bla. Berapa kadar asam uratnya ? … 5, 5 mg % … hahaha … klop dah!!!

Di sisi lain, mereka tak pernah menduga bahwa dakwaan seperti: “gejala kencing manis” adakalanya akan menyisakan stres nan mendalam bagi sebagian pasien. Tak ayal ada diantaranya yang pergi berobat segar bugar hanya dengan keluhan kesemutan, pulangnya menjadi lunglai hingga berbilang tahun karena stres berkepanjangan. Nah !

So, kepada pembaca yang pernah mengalami hal-hal demikian, jangan keburu cemas, cari second opinion.

Semoga bermanfaat.

Iklan

21 Responses to “Menjaja Laboratorium”


  1. 1 iyas Januari 15, 2008 pukul 8:00 am

    pertamaxxxxx
    emang dokter-dokter sekarang dah jadi banyak pedagang cak, sayang ilmu pedagangnya diterapkan pada tempat dan situasi yang kurang tepat dan ujung-ujungnya pasien jadi sutrisss dan keluar duit banyak.
    semoga saya ndak ketularan penyakit ini cak :D:D

  2. 2 Ketiban Duren Januari 15, 2008 pukul 12:53 pm

    Ya Pak Cak Dok Moki, betul itu. Saya cukup bersyukur di tempat saya tinggal dokternya masih banyak yang menepati sumpahnya. Kemarin dada saya sempat agak2 nyeri, jadi sekalian periksa jantung, siapa tahu gitu. Nah, langsung aja ngambil paket yang lumayan komplit.

    Eh si dokter malah nyaranin ga perlu yg terlalu, step by step, kalo ada indikasi baru ke pemeriksaan yg lebih dalam.

    Alhasil, cuma bayar hampir 1/2 dari harga awal. Lho jadi curhat…

    Semoga dokter2 di Indonesia semakin banyak yg seperti Cak Dok Moki.

    Amiin..

  3. 3 cakmoki Januari 15, 2008 pukul 2:01 pm

    @ iyas:
    makanya mudah ketahuan, soalnya gak ngerti ilmu dagan, hehehe
    merdeka !!!

    @ Ketiban Duren:
    saya ikut bersyukur dan percaya masih banyak dokter yang bisa memberikan informasi yang benar kepada para pasiennya πŸ™‚
    Amin

  4. 4 Dee Januari 15, 2008 pukul 2:49 pm

    tetanggaku, wong ndeso kluthuk baru saja pulang dari periksa ke seorang dokter. waktu ditanya kata dokter sakit apa, dengan lugunya dia jawab: “jare doktere aku loro gejala je …”

  5. 5 huda Januari 15, 2008 pukul 4:53 pm

    Ya.. itung2 check Up πŸ˜€ asal jangan sampe maksa atau dengan rayuan2 gombal segala…

  6. 6 Juliach Januari 15, 2008 pukul 7:20 pm

    Di sini sama aja Cak. Cuman bedanya biayanya diganti sama Security Social dan asuransi. Ini tergantung dengan situasi keluarga/financial masing-masing, so pasti yg masih muda, tak punya anak dan berduit yg bayar mahal dan orang tua >= 65 th & pensiunnya <= standard + istri jadinya gratis, ibu hamil gratis sama sekali, dll.

    Contohnya : Ibu hamil wajib periksa ke dokter setiap bulan, dokter memberi rujukan ke lab check anti-toxoplasma, kadar gula, jamur di vagina, dll (buanyak deh). Hasilnya dikirim langsung ke dokter dan si Ibu mendapat salinannya. Jika ada yg tdk beres, dokter memberi resep atau check ulang (diabet). Jika sudah dipastikan si Ibu kena diabet, dokter memberi rujukan ke dokter diabet (RS). Dokter diabet lalu memberi informasi, mengontrol dan memonitor si Ibu. Untuk memonitor kadar gula darah, dia memberi resep untuk mengambil alat monitor+jarum+lidah sensor(insulin jika perlu) ke pharmasi/apotek.

    Ibu hamil wajib USG

  7. 7 Juliach Januari 15, 2008 pukul 7:35 pm

    Di sini pagi-pagi lab.nya penuh dengan kakek2/nenek2, ibu hamil hanya 1 atau 2. Maklum mereka prioritas dan gratis sih.

  8. 8 sibermedik Januari 16, 2008 pukul 12:18 am

    Modal Gluco Test aja di Kamar Praktek dah untung banyak..malah ada yg modal USG..(tapi ngawur make’nya…asal..maklum balikin modal)

  9. 9 dokterearekcilik Januari 16, 2008 pukul 12:54 am

    Itu pasti karena penjual alat kena gejala dikejar target, pembeli kena gejala cari keuntungan. Sedangkan Cak moki kena gejala jadi blogger πŸ˜€

  10. 10 cakmoki Januari 16, 2008 pukul 1:03 am

    @ Dee:
    hahaha, niku termasuk golongan sakit nopo pak Dhe ?

    @ huda:
    hehehe, itu emang salah satu argumen temen-2, tapi apa yo masuk akal kalo umur masih likuran dihantam kromo πŸ™‚
    Moga enggak ah

    @ Juliach:
    beda mbak, kalo yang itu mah saya justru salut karena emang ada indikasinya, sistematis dan teratur. Lagipula, ibu hamil dam usia lanjut adalah kelompok beresiko, so perhatian terhadap kesehatan mereka sudah seharusnya berlebih kayak di sana.
    Kali di sini masih sebatas angan-angan…eh, ada juga ding yang sudah teratur cuman biaya ditanggung sendiri.
    Lha wong ngusulkan pap-smear aja susahnya minta ampyun …hehehe

  11. 11 cakmoki Januari 16, 2008 pukul 1:09 am

    @ sibermedik:
    dimana gerangan ? πŸ˜› menurut pengakuan ts, katanya sih gitu ..ehm..ehm

    @ dokterearekcilik:
    hehehe, iya …uenak tenannnn πŸ˜€

  12. 12 zulharman Januari 16, 2008 pukul 12:47 pm

    Sekarang ini ada lagiyang lebih parah Cak. Ada lab klinik yang sudah ternama menerima pemeriksaan lab langsung tanpa surat rujukan pemeriksaan dari dokter. Saya menengkap seolah2 lab klinik sudah seperti rumah sakit yang bisa menuntaskan masalah pasien. contohnya kemarin ada pasien demam , tiba di lab klinik swasta tersebut langsung diperiksa panel demam dari anti Dengue, malaria, Typus dan darah rutin, padahal demamnya baru hari kedua. setelah diterima hasilnya negatif semua ya jelas baru hari pertama. pasien tersebut mengatakan ia harus membayar 400 ribu. lalu saya katakan bahwa ia sebenarnya harus konsultasi dulu sama dokter nanti dokter yang memberi pengantar pemeriksaan yang diperlukan.

    Saya memandang bahwa peran, tugas dan funsi laboratorium sudah melampaui dari kompetensi instansi tsbt. Hal ini juga terjadi pada apotek.

  13. 13 Astri Januari 16, 2008 pukul 3:17 pm

    Hidup ngelab atas indikasi πŸ™‚

  14. 14 Astri Januari 17, 2008 pukul 6:29 am

    @Zulharman, Cak Moki
    Sebenarnya panel lab itu asyik juga kalo memang sesuai indikasi πŸ™‚ alangkah indahnya jika paket itu hanya ditawarkan ke dokter yang bisa menilai kondisi pasien bukan dijajakan ke pasien yang datang langsung ke lab.
    Gara2 pasien yang merasa mengerti jadinya ditekuk deh ama yang kemaruk πŸ˜€

  15. 15 kombor Januari 17, 2008 pukul 12:05 pm

    Saya kok ke laboratorium kalau dokternya nyuruh. Kalau atas inisiatif sendiri nggak pernah. Terhadap dokter yang selalu menyarankan untuk melakukan semua pemeriksaan lab sebaiknya diapakan, Cak? Disuruh kembali ke kampus lagi?

  16. 16 cakmoki Januari 17, 2008 pukul 2:36 pm

    @ zulharman:
    sama mas, di sini juga mulai ada kecenderungan ke arah itu. Ntar bisa-bisa sekalian nyediakan sama obatnya … entah mengapa lab seolah sudah segalanya, dianggap kayak kalkulator kali … hehehe

    @ Astri:
    Hiduppp !!! πŸ˜‰
    iya mbak, kalo sudah mapan seperti yang dibilang mbak Juliach di Perancis, dokter bisa menyarankan paket untuk penderita or kondisi tertentu berdasarkan indikasi.

    Tekuk menekuk ? walah, minggu kemarin ada temen datang ke Palaran dari Jatim, saling tekuk, saling melahap sesama TS…apa bener sih ? *pura-pura nggomblohi*

    @ kombor:
    cocok itu Kang, seharusnya begitu supaya gak ngabis abisin uang untuk keperluan yang belum tentu perlu.
    hehehe, maksudnya disuruh belajar lagi ya Kang πŸ˜€

  17. 17 sibermedik Januari 19, 2008 pukul 1:15 pm

    Ada indikasinya kok?indikasi cari tambahan bonus ngrjuk pasien k lab rekanan..btw,jstru qta hrs introspksi,knp alat2 dgnsis+reagen2nya 90% import?jstru itu yg mbuat bea lab meningkat..

  18. 18 cakmoki Januari 19, 2008 pukul 3:06 pm

    @ sibermedik:
    berapa persen ? πŸ˜› ..boleh gak mau nerima bonus koq
    Hmmm, kali kalo buatan dalam negeri biaya makin meningkat saking banyaknya liku-liku yang harus dilalui saat bikin alat diagnosis

  19. 19 habibiearifianto Januari 23, 2008 pukul 8:44 pm

    Ada yang lebih parah cak, di wonogiri ada spesialis yang rejin USG dan foto ronsen, mentang-mentang punya alatnya, alhasil biaya kesehatan jadi bengkuak..

    soro…soro..wis loro isih kudu mbondo..

  20. 20 cakmoki Januari 24, 2008 pukul 12:03 am

    @ habibiearifianto:
    wah, berarti setiap pasien diwajibkan USG dan Rontgen ya…
    jan soro tenan kuwi mas …

  21. 21 Manika Juli 16, 2008 pukul 10:55 pm

    @habibiearifianto: wah yg di RS Wonogiri di infokan dong dokter siapa? Secara kalo lg d rmh mertua, kalo sakit bisa2 dirujuk kesana. Saya harus pasang kuda2 eh antisipasi nih sblmnya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Wong ndeso β„’

cakmoki

Wordpress Indonesia

Silahkan baca

DISCLAIMER

web tracker

9 Desember 2009

SEMENTARA TUTUP

Maaf, sementara Blog istirahat hingga ada pemberitahuan

Harap maklum


MARI HENTIKAN KORUPSI

Jangan Korupsi Ah

No Korupsi

Internet Sehat

Warga Bicara

» Makasih PLN, listrik Samarinda dah membaik, moga gak byar-pet

» Waspada Demam Berdarah

» Jangan Gunduli Palaran

» Banjir...banjir. Kapan masalah ini teratasi ?

INGA INGA INGA

» Nyeri Urat or Tulang BUKAN berarti Penyakit Asam Urat.

» Sekali lagi: Pegal, Linu Tidak Identik dengan Penyakit Asam Urat

TEMANs

9racehime | A. Fatih Syuhud | Aditiawan Chandra | A.Tajib | Agung UD | aLe | alief | alle | almascatie | Amd | Anak Peri | Anak Sultan | Anang | Anang YP | Anas | Andalas | Anggara | Anjaz | Anti Pungli | Antobilang | Anung87 | Aribowo | Arif Kurniawan | Arul | Astikirna | awan965 | axireaxi | Bambang alias HR | BatakNews | Blog Pokoke? | Biho | CalonOrangTenar | Cay | Chandra | Chielicious | chiw imudz | cK-chika | Dalamhati | Deden Nugraha | deedhoet | deKing | Desti Utami | Didats | doeytea | dnial | Edy C | Eep | Elpalimbani | erander | Evi | Fa | Fa wp | Faiq | Fertobhades | Fetro | Fortynine | Freddy | Gadis | Gaussac | Gitablu | Grandiosa | GuhPraset | GuM | Helgeduelbek | Herdy | Indonesia Kita | Indra KH | ItikKecil | iway | Jejakpena | Jennie S. Bev | Joesath | Joko Taroeb | Julee | Juli | Juliach | Junthit | Jurig | Kakilangit | Kang Adhi | Kang Kombor | Kangguru | kawaichu | Kenji | Kenzt | kikie | koecing | Kumala | Kurtubi | Kw | Laras | liezmaya | Lilik Suryanto | Lily | Linker | Lintang | Lita | Lita wp | Luthfi | MaIDeN | Majalah Dewa Dewi | Manusiasuper | Master Li | Mathematicse | macanang | mbojo | Mei | Micokelana | Mr. Geddoe | Mufti | mybenjeng | My-za | Nayla Zahra | Nayz | Ndarualqaz | Neeya | Neo Forty-Nine | Neri | Ninoy | Nieke | Nomercy | n0vri | NuDe | Om Sulis | omaigat | Ooyi | Paijo | Panca | Pandu | Panduan WP | Papabonbon | Passya | Peyek | Pinkina | Pitik | Pralangga | Prayogo | Priyadi | Qee | Raja iblis | RenjanaBiru | rivafauziah | Rivermaya | Roffi | roisZ | Rujak | Sagung | Sahrudin | Saiful Adi | SaRa | Siu | Sofi | Sora9n | Suandana | Suluh | Susiloharjo | Telmark | Thamrin | tiesmin | Triesti | Tukang Sate | Venus | Wadehel | Wahyuansyah | Wandira | Wiku | WongMangli | Wulan | Yati | Yudhipras |

:: :: :: :: :: :: :: :: ::

Kesehatan

:: Ady Wirawan :: Agus Mutamakin :: Anis Fuad :: Anis Fuad wp :: Asri Tadda :: Astri Pramarini :: Astri Pramarini (awal) :: Astri Pramarini wp :: Blog Mahasiswa FKU 2003 :: Blog Rumah Kanker :: Dani Iswara :: Dani Iswara weblog :: Dokter arek cilik :: drAnak :: drarifianto :: Dwi wp :: Elyas :: Erik Tapan :: Evy HealhtySmile :: FK Unsri :: Gies :: Gies wp :: Ginna :: Grapz :: Hendar Sunandar :: HIV News :: Huda Thoriq :: IDI Samarinda :: imcw :: Imran Nito :: Iwan Handoko :: Jhonrido :: klikharry :: Kobal :: Laksmi Nawasasi :: Mashuri :: Mave Mina :: Mbah Dipo :: Mina :: My Blogspot :: Nur Martono :: PKM Palaran :: Rara :: Rizma Adlia :: Rudy Kwang :: SenyumSehat :: Sibermedik :: SimkesUGM :: SuperKecil :: Titah :: Tito :: Tonang Ardyanto :: Tukangkomentar :: Wi :: Vina Revi :: Vina Multiply :: Yusuf Alam R :: zulharman79 ::

:: :: :: :: :: :: :: :: :: :: ::

Institusi Kesehatan

:: Depkes RI :: WHO :: WHO Indonesia :: … nyusul

:: :: :: :: :: :: :: :: ::

Kolaborasi

:: Emedicine :: ICD 10 Wikipedia :: ICD 10 Wiki Indonesia :: OSWD :: OpenWebDesign :: Pakistan Times :: Rubab :: ntar ::

Kategori

BlogTour

Arsip

Komunitas Blog

blog-indonesia.com

PAGE RANK

Powered by  MyPagerank.Net

Add to Technorati Favorites

[Valid RSS]

Health Blogs - Blog Top Sites

Health

Blogs Topsites - TOP.ORG

Health Blogs - Blog Rankings

Blog directory

TopOfBlogs

Top 10 Award

Feed Burner

cakmoki Blog

Bloggerian Top Hits

My BlogCatalog BlogRank

Site Meter

Since 30 Nov 07

PENGUNJUNG

  • 5,343,886 pengintip

Asal Usul

Pebruari 2011

free counters


%d blogger menyukai ini: