Dilema Antibiotika

Antibiotika: dari apotik hingga kaki lima
Siapa tak kenal antibiotika ? Tak penting apa nama golongan obat antibiotikanya, tak peduli berapa dosis dan lama pemakaiannya, tak soal kegunaannya, yang penting kenal.
Di Indonesia, antibiotika nyaris dapat dijumpai dimanapun kita berada. Tidak hanya di RS, Puskesmas, Klinik, Apotik atau Toko Obat, namun sudah sangat jauh merambah kemana-mana hingga ke kaki lima.
BOLEH BELI 1 BIJI
Antibiotika yang paling mudah didapat adalah golongan Tetrasiklin dan Penisilin (ampisilin dan amoksisilin). Belakangan, hampir semua golongan antibiotika sangat mudah diperoleh. Nampaknya, fenomena peredaran jenis obat di pangsa pasar signifikan dengan kebiasaan dokter, paramedis , RS dan Puskesmas dalam memberikan jenis antibiotika kepada para pelanggannya (pasien). Karenanya tak perlu heran jika kita dengan mudah mendapatkannya. Bahkan antibiotika golongan kuinolon seperti Siprofloksasin juga bisa diperoleh dengan mudah. Wow !!!
Bagaimana para pembeli menggunakannya ?
Penggunaan antibiotika oleh masyarakat tanpa resep dokter pada umumnya salah. Kalaupun indikasinya benar, cara penggunaan menyangkut: dosis, frekuensi ataupun lama penggunaannya sering salah ketimbang benarnya. Demikian pula sebaliknya. Ini terjadi karena antara pembeli dan penjual tidak tahu apapun tentang antibiotika. Penjual akan berpedoman pada motto: “yang penting laku” sedangkan pembeli berpedoman pada “katanya” teman, tetangga serta mungkin pengalaman yang diperolehnya ketika berobat.Sebagai contoh, seseorang hanya minum antibiotika 1-2 biji untuk berbagai keadaan. Kalau merasa tidak mempan, barulah mereka ke dokter atau institusi layanan medis. Kita akan mengetahuinya saat bertanya apakah sudah minum obat sebelumnya. Rata-rata menjawab : “sudah” … “minum obat warung”.
Andai dengan 1-2 biji sudah merasa nyaman, maka mereka tidak akan pernah berobat atau konsultasi tentang penggunaan antibiotika tersebut. Dan ketika orang lain merasakan keluhan yang sama, maka antar mereka akan share dan jadilah “penyuluhan dari mulut ke mulut” sesama anggota masyarakat.
Fenomena ini bukan tridak mungkin akan memicu terjadinya resistensi berskala besar, lantaran melibatkan banyak orang.
SALAH SIAPA ?
Mencari kesalahan terkait mata rantai pemakaian antibiotka membabi buta di masyarakat sangatlah sulit. Mungkin hukum pasar sangat berpengaruh, yakni barang disediakan jika ada permintaan. Need and demand ? Bisa jadi !!!

Menurut penulis, menimpakan kesalahan pada salah satu pihak adalah tindakan sia-sia, karena biasanya mbulet dan akhirnya terlupakan. Maka sikluspun berulang tanpa penyelesaian.
Karenanya, pembelajaran dan penyebarluasan tatacara penggunaan antibiotika serta anjuran agar tidak menggunakan antibiotika tanpa petunjuk dokter, lebih baik daripada hanya berkeluh kesah dan sibuk saling menyalahkan.

Selain kebiasaan buruk sebagian masyarakat kita dalam menggunakan antibiotika bagi dirinya sendiri, faktor-faktor lain bisa jadi ikut berperan. Kondisi ini mungkin dipicu oleh beberapa hal, diantaranya : mahalnya biaya berobat, minimnya informasi, kebiasaan “instan”, iklan media dan berbagai faktor pemicu lainnya.

HIMBAUAN
Akhirnya, melalui tulisan singkat ini, penulis menganjurkan kepada segenap khalayak, agar menggunakan antibiotika hanya atas petunjuk dokter.
Hal ini penting agar tidak terjadi resistensi (menjadi kebal) terhadap antibiotika tertentu yang akan merugikan masyarakat di kemudian hari.

Sebagai contoh sederhana, apabila kelompok masyarakat tertentu resisten terhadap antibiotika tertentu, maka mereka memerlukan antibiotika lain yang lebih kuat untuk menanggulangi penyakit yang mestinya sudah bisa diberantas dengan antibiotika ringan. Akibatnya, antibiotika yang diperlukan menjadi makin mahal dan tentu tidak mudah memperolehnya.

So, sekali lagi, gunakan antibiotika hanya atas petunjuk dokter. Jika dokter menganjurkan untuk menghabiskan antibiotika walaupun sudah tidak ada keluhan, maka gunakan antibiotika tersebut sampai habis, supaya tidak terjadi resistensi.

Semoga berguna …

Iklan

39 Responses to “Dilema Antibiotika”


  1. 1 huda Desember 22, 2007 pukul 1:31 am

    Saya sendiri jarang make obat. Setelah kuliah di kedokteran malah tambah jarang, apalagi antibiotik. Golongan sefalosporin saya bahkan blas gak pernah mencicipi :D,

    btw, dengan kondisi spt di negara kita, sebetulnya masih berguna gak ya, make golongan penisilin spt amox & ampi

  2. 2 triesti Desember 22, 2007 pukul 4:02 am

    perdagangan obat di Ind tuh harus dibenahi.. terlalu banyak yg harusnya ngga jualan tapi mahal jualan. obat palsu juga banyak toch.

  3. 3 triesti Desember 22, 2007 pukul 4:03 am

    typo: mahal= malah
    kayaknya prof Iwan sering ngomel ttg ini

  4. 4 fajar rudy q Desember 22, 2007 pukul 10:17 am

    Betul Cak…….
    sering kita berhadapan dengan pasien hari panas I, dah minta AB n plus maksa dengan alasan khan dicover ma insurance.Dan kadang dibandingkan ma TS yang senior yang mudah kasih AB. kalau sudah bgt, solusinya gmn?

  5. 5 imcw Desember 22, 2007 pukul 10:54 am

    Khan udah Cak bahas tentang bisnis obat dengan dokter. Ada hubungannya dengan penggunaan antibiotika yang tidak rasional.

  6. 6 cakmoki Desember 22, 2007 pukul 12:42 pm

    @ huda,
    iya, kalo gak perlu untuk apa juga

    btw, dengan kondisi spt di negara kita, sebetulnya masih berguna gak ya, make golongan penisilin spt amox & ampi

    Masih, .. misalnya: pasca ekstirpasi, circum, pyodermi, tonsilitis akut, impetigo, dll … saya di praktek masih pakai itu dan efektif koq, rata-rata pasien cek ulang walau dah sembuh, mereka hanya ingin tahu … soale periksa ulang doang … gak bayar …hahahaha

    @ triesti,
    iya, sayangnya (lagi-lagi) balai POM cuma Public warning via net, gak mau simultan via TV … 🙂
    Trus yg di daerah, ada sebagian oknum Balai POM yg kerjaannya “gerilya” cari segenggam berlian …hahahaha

    Makanya, kita ngomel bareng, ngikuti Prof Iwan D, biar tambah rame dan seru

    @ fajar rudy q,
    kalo emang menurut pemeriksaan gak perlu AB ya tetep gak perlu, bilang aja : “…ini demi keamanan pasien untuk jangka panjang …, supaya gak resisten (menjadi kebal) … “. Biasanya nurut koq, …saya juga suka ngalami begitu.
    Ada lagi lho, pasien stomatitis dikasih antibiotika sampai 2-3 macam, hahaha … dikiranya besok langsung sembuh, padahal sama aja … paling cepet 3 hari …
    Kali ada fenomena “adu kesaktian” sesama TS

    @ imcw,
    iya Om, ini lebih mengerucut …hehehe, ntar lebih mengerucut lagi trus sampai pada daerah “puncak” … gimana?

  7. 7 tiyangsae Desember 22, 2007 pukul 2:44 pm

    saya ndak kuat kena amoksisilin. alergi, pak. langsung gatel2 gitu.

  8. 8 iyas Desember 22, 2007 pukul 5:49 pm

    ndak taulah cak, serba repot. sekarang dah banyak bakteri yang resisten pada antibiotik2 tertentu, ujung2 nya harus pakai ab kelas tinggi dan pastinya harganya lebih muahall.
    yah kalo buleh saran ama pemerintah, mohon dibuat peraturannya yang membatasi penjualan antibiotik heuehehehe plus bagi teman sejawat cobalah gunakan dulu obat2 first line jangan maen langsung dibom pake sefalosporin dsb (nemu banyak terutama di klinik 24 jam di daerah jabodetabek) :D:D
    smoga taon baru ntar sistem kesehatan kita bisa jadi lebih baik dikit hehehehe

  9. 9 Hermin Desember 22, 2007 pukul 9:34 pm

    Masalahnya, edukasi untuk ini belum merambah ke masyarakat di lini yang paling bawah (alias berpendapatan pas-pasan ditambah dengan tingkat pendidikan yang ala kadarnya), jadi kata “tetangga”, “teman”, “pakdhe”, “bulek” masih dipercaya… yaa, istilah kerennya sekarang BUZZ MARKETING (walau ini buzz marketing yang ga tepat sama sekali).

    Kalau mengutip sebagian kata mereka, kenapa membeli antibiotik tanpa resep dokter dan mengkonsumsinya tanpa aturan yang benar :
    “Lha gimana ya dok… berobat ke dokter mahal, ke rumah sakit atau puskesmas “ruwet” banget suster atau dokternya, antri lagi… tambah pusing. Saya butuh cepet sembuh biar bisa cari makan, kata tetangga minum antibiotik ini besok sudah sehat, dan memang terbukti. Dari pada mesti keluar duit banyak dan pusing wira-wiri ke dokter, rumah sakit, laborat, apotik… walaaaah”

  10. 10 cakmoki Desember 22, 2007 pukul 11:31 pm

    @ tiyangsae,
    kalo gitu sebaiknya tulis di sebuah kertas tentang riwayat alergi terhadap amoksisilin, trus masukkan dompet.
    Ini penting agar nantinya tidak diberi obat yg sama, soalnya merk dagang amoksisilin banyak.
    Dan kalo berobat (moga gak sakit 🙂 ) sebaiknya mengatakan alergi amoksisilin sebelum diberi resep.

    @ iyas,

    bagi teman sejawat cobalah gunakan dulu obat2 first line jangan maen langsung dibom pake sefalosporin dsb (nemu banyak terutama di klinik 24 jam di daerah jabodetabek) 😀 😀

    Setuju !!!
    saya dukung *sambil mengepalkan tangan* 🙂

    @ Hermin,
    yaaaa, bener sekali, koq sama ya alasan mereka di daerah Jatim ama di daerah kami yang ndesit nyelempit ? … hehehe
    Di sini dah lumayan mbak, mereka dah dokter minded dan lebih percaya ke dokter walaupun pendidikan gak sebagus di sana 🙂
    Trims share-nya

  11. 11 dokterearekcilik Desember 23, 2007 pukul 9:35 pm

    peredaran antibiotik udah pada tingkat membahayakan, mata rantai harus diputus. pertama yang harus dibenahi ya apotik, toko obat maupun penjual obat. Kalo dengan persuasif pada masyarakat di Indonesia masih sulit….jauh. Gak ngerti kok pemerintah kayaknya adem ayem aja…..kayak gak ada masalah. Semoga bukan karena korupsi antara penyedia obat dengan badan yang berwenang 😦

  12. 12 sibermedik Desember 23, 2007 pukul 10:37 pm

    bagaimana dengan generasi II-V?
    derivat Asam Klavulanat?…klo sampai jatuh ke Pengecer jalanan..Cape’ deh…

    Merindukan Sistem imun yang kayak Antivirus komputer…bisa diupdate tiap 3 hari..he..he…jadi gak perlu pake antibiotik.

  13. 13 sibermedik Desember 23, 2007 pukul 10:38 pm

    jare mampir cak?tiwas tak enten’i

  14. 14 cakmoki Desember 23, 2007 pukul 11:55 pm

    @ dokterearekcilik,
    selama ini kayaknya lebih lunak dari persuasif, dengan kata lain … kayaknya lebih suka lirik-lirikan *gak nuduh lho, cuman nodong*
    ya, semoga … semoga bukan korupsi *nun jauh di sanubari, gak yakin*

    @ sibermedik,
    generasi berapapun, asalkan banyak peminat, maka barang akan tersedia 😀 … ohhh ya, belum mampir ya 😀 … mohon disori deh, soalnya seharian nungguin mhs latihan kasus … hehehe

  15. 15 Astri Desember 24, 2007 pukul 2:44 am

    Kisah2 edan:
    1. Ada yang nekat, batuk pilek dua hari mainnya udah pake levofloxacin, padahal klinisnya gak ke arah pneumonia… Tidaaak!!!!
    2. Edan lagi, obat TB dibeli ketengan, soalnya kemahalan, jadi kalo pas batuk aja diminum 😦
    Apotiknya yo edan kok tetap dilayani, pasiennya keminter 😦 apa kata dunia 😦
    3. Trus, ada pasien yang ngaku mracang Amoxicillin n Supertetra di rumah 😦 rutin diminum kalo lagi capek2
    Gimana mau gak resisten 😦 Kapan ya penjualan obat itu benar2 dibatasi, hanya sesuai resep dokter? Tidak ada yang dijual bebas di luar apotik kayak orang yang mracang tadi?

    Good News:
    Ada beberapa pasien yang mulai mengerti bahwa tidak semua penyakit perlu antibiotik.

  16. 16 Asta Qauliyah Desember 24, 2007 pukul 8:36 am

    Di sisi lain, mungkin perlu juga sedikit dimengerti mengapa sebagian masyarakat cenderung ‘memilih’ langsung pake antibiotika ketimbang nanya2 ke dokter dulu. Beli antibiotika saya pikir jauh lenih enteng ketimbang konsul ke dokter, mana pake lama ngantri dan harus membayar sejumlah rupiah. Yah, ujung2nya masih akan ngurut dada; keadaan emang banyak membuat masyarakat kita berlaku yang ‘tidak selayaknya’…
    Semoga bangsa ini cepat berubah (lebih baik). Amin

  17. 17 oliveoile Desember 24, 2007 pukul 10:13 am

    Masyarakat awam biasanya selalu mencari biaya yang termurah dahulu.
    Kalau sakit flu atau batuk, biasanya beli obat dulu di toko obat. Kalo belum sembuh, baru deh ke dokter.

  18. 18 boyke Desember 24, 2007 pukul 12:29 pm

    Dari pihak dokter sendiri memang menajdi dilema. bukan hanya masalah kerjasama dokter dan pabrik obat yang anda pernah bahas, tapi juga mengenai kepercayaan masyarakat. Contoh, jika seseorang wanita usia muda dateng ke dokter, dengan keluhan kencing terasa panas dan nyeri sejak tadi pagi, apa yang seorang dokter biasanya berikan? biasanya akan langsung memberikan antibiotik. padahal kemungkinan ini adalah suatu infeksi saluran kemih sederhana, yang hanya dengan minum banyak 3 liter sehari sudah membaik. namun jika dokter itu tidak memberikan antibiotik, penderita akan bertanya – tanya (paling tidak dalam hati) mengapa dokter tidak memberikan antibiotik. karena itu seorang dokter yang “cerewet” juga dibutuhkan, karena segala tindakan yang dilakukan dan tidak dilakukan harus diterangkan kepada pasien. harus diterangkan kenapa tidak diberikan antibiotik. memang resikonya akan ada pasien yang tidak terlalu percaya pada dokter tersebut. namun jika semua dokter sudah sepakat tidak emngumbar antibiotik seenakknya, maka di masa depan masalah yang kita hadapi saat ini mengenai resistensi antibiotik akan perlahan teratasi. semoga.

  19. 19 Mama Desember 24, 2007 pukul 5:06 pm

    iya tuh cak, saya punya temen yang kelakuannya kayak saleswoman amoksisilin, saban dengar orang ngeluh sakit dia bilang, “aahh… minum aja amoksisilin, pasti sembuh!”

  20. 20 bacabaca Desember 24, 2007 pukul 9:27 pm

    obat itu racum pembunuh bagi virus or bakteri, semakin kita sering meracuni virus or bakteri di tubuh kita sama saja kita meracuni diri sendiri. yang baik adalah, jaga kesehatan dengan makan cukup, tidur cukup, mikir yg cukup-cukup ajah, sama ngebolg kalo lagi bete. dijamin ngak bakalan kenalan sama antibiotik. kecuali lagi sial, ngijek paku payung karatan. ya mau ngak mau disuntik antibiotik biar ngak tetanus…. cmiiw… thx

  21. 21 bloGEsam Desember 25, 2007 pukul 2:11 pm

    Awalnya aku gak tahu kalo antibiotika itu harus diabisin. Dulu aku pernah keracunan antibiotika dan dirawat di RS selama 1 minggu.

    Dokternya emang udah bilang klo obatnya harus dihabiskan meskipun sudah sembuh. Karna bandel, aku simpan obatnya (antibiotika)… seminggu lg kok merasa gak enak, langsung aja aku telan antibiotik… gak sampe 5 menit tubuhku langsung lemas dan dari kaki sampe muka bengkak semua.

    Nyampe RS, aku menggigil gemetaran dan kuku tangan dan kaki udah biru semua… kata dokternya “Untung saja segera dibawa ke RS”.

    Mulai saat itu aku gak berani lg nyimpen2 obat… Komennya panjang ya ??? hehehe… gpp kan… 🙂

  22. 22 cakmoki Desember 25, 2007 pukul 3:33 pm

    @ Astri,
    hahaha, iya mbak..kisah nyata edan tersebut persis sama dengan di daerah kami nan ndesit kecepit. So kalo soal beginian kayaknya gak ada lagi batasan ndesit dan kota ya …

    Good News: siip, bravo. Moga makin banyak yang ngerti sehingga kalo diresepi antibiotika, mereka berani nanya ke dokternya.

    @ Asta Qauliyah,
    ya, salah satu faktor pemicu adalah “mahalnya” biaya berobat, terutama ke dokter praktek.
    Di daerah kami ada fenomena menarik. Setahun belakangan ini semua layanan kesehatan dasar di Puskesmas tidak dikenakan biaya alias gratis. 3-6 bulan pertama kunjungan meningkat tajam, laris manis deh. Namun setelah itu, kondisi kembali seperti semula, beli obat ke warung sebagai tindakan awal dan atau ke dokter praktek.
    Kalo dibilang faktor “antri” sih kayaknya enggak, karena kallo ke dokter praktek juga harus antri berjam-jam. Apa masyarakat sudah mulai mengerti yang namanya “layanan berkualitas” ? Ini perlu dikaji lebih dalam ….

    @ oliveoile,
    bener, kalau obat-obat daftar “W” (obat bebas) gak papa dan itu memang sering dilakukan. Adakalanya membantu, karena sakit-sakit ringan kadang bisa teratasi.

    @ boyke,
    saya sependapat, di dunia nyata kerap kita jumpai ilustrasi seperti itu. Dan kita percaya, masih banyak dokter “cerewet” yang mau menjelaskan perlu tidaknya penggunaan antibiotika pada penyakit.
    Walau sulit, tak ada salhnya kita share lewat tulisan. Kalaupun gak ada yang baca, setidaknya sebagai dokumen bahwa kita sudah meperingatkan resiko terjadinya resistensi terhadap antibiotika.
    Trims 🙂

    @ Mama,
    trus si temen nyambi jualan juga ya …

    @ bacabaca,

    …ngebolg kalo lagi bete

    koq nunggu bete sih …lha saya gak pernah bete tapi ngeblog terus je ..hahaha

    @ bloGEsam,
    makasih share-nya … yang beginian ini penting untuk kita semua.
    makin panjang makin bagus koq, namanya juga sharing … so, bagi bagi pengalaman 🙂

  23. 23 triesti Desember 25, 2007 pukul 7:28 pm

    @bacabaca
    antibiotik itu untuk melawan bakteri, bukan virus.

  24. 24 sibermedik Desember 25, 2007 pukul 10:39 pm

    @bacabaca
    antibiotik itu untuk melawan bakteri, bukan virus.

    terutama yang lazim para ‘hidung belang’ bilang “Penyakait Koboi”
    (GO & atau Syphilis)…sibermedik juga nggak tau kenapa kok namanya KOBOI? cuma anamnesis aja mereka bilang…”..abis njajan..”..”abis pipis di semak-semak..”..atau bilang..”jauh dari istri..maklum di rantau..”

  25. 25 kiki Desember 27, 2007 pukul 3:11 pm

    yah, nasib rakyat negara berkembang, UUD ;-P
    pas amox sempet ‘ilang’ dan kemudian muncul lagi dengan harga di atas HET yang tertera di kemasannya, gantian ab cipro yang jadi ‘kacang goreng’
    alasannya UUD lagi : lebih murah.
    lalu……………….?????

  26. 26 cakmoki Desember 27, 2007 pukul 8:33 pm

    @ kiki,
    …lalu …???? … Resisten !!! 😀 😦 😦 😦

  27. 27 qutilang Januari 3, 2008 pukul 3:05 pm

    Salam kenal Dok,
    apakah benar kalo terlalu sering minum antibiotik bisa menyebabkan gigi kuning?

  28. 28 cakmoki Januari 4, 2008 pukul 12:00 am

    @ qutilang:
    salam kenal juga, trims 🙂
    Enggak. Hanya satu jenis antibiotika yang salah satu efek sampingnya menyebabkan gigi kuning, yakni: Tetrasiklin, lainnya enggak

  29. 29 amaliasolicha Januari 4, 2008 pukul 8:57 pm

    Cak… tp kenapa klamaan minum antibiotik bisa bikin mual?? mpe ga nafsu makan selama 3 hari, apa ad kontra indikasi krn aku punya maag?? mohon penjelasannya ya cak , matur tengkyu:D

  30. 30 cakmoki Januari 5, 2008 pukul 1:24 am

    @ amaliasolicha:
    Ntar, yg dimasud kelamaan itu berapa hari dan jenis antibiotikanya apa ya ?
    emang ada beberapa jenis antibiotika yang memiliki efek samping iritasi lambung, misalnya: golongan cotrimoksazol, golongan Tetrasiklin, golongan kloramfenicol (dan tiamfenicol), golongan eritromisin (kadang-kadang), siprofloksasin…
    Bisa juga bukan dari antibiotikanya, tapi obat lain misalnya obat-obat pereda nyeri.
    Kalo penyakit maag (dispepsia) sih, kebanyakan karena “faktor kecemasan”, misalnya mau ujian, telat kiriman uang saku, lagi bete, marah ama pacar 😉 *guyon* dan sejenisnya … hehehe
    Tengkyu juga 🙂

  31. 31 Lily Januari 14, 2008 pukul 4:42 pm

    Waduh.. jadi merasa tersindir neh.. ;p
    Soalnya aku juga termasuk pasien mbandel nih kayanya, hehehe.. ;p

    Please allow me to have my confession, ya Cak.. 😉

    Saya ini alergi Penisilin, jadi tiap ke dokter selalu bilang, pernah juga lupa bilang (di klinik kantor) trus dikasih Amoxycillin, ya gak diminum.. ;p
    Dulu pernah diresepi Erythromycin, sejak saat itu antibiotiknya Ery terus.

    Saya suka minum Erythromycin sendiri, malah sedia stok 1 blister di kotak obat di rumah buat jaga2..
    Tapi suka ini jangan diartikan sering ya Cak, aku mulai minum Ery klo flu berat dan rasa sakitnya sudah sampai ke tenggorokan (rada tenggorokan) plus demam.
    Dosisnya 3 kali sehari 1 kaplet 500 mg (dulu waktu diresepi pertama kali masih kecil, jadi 3x sehari kapsul 250 mg, tapi sejak beberapa thn lalu kayanya gak mempan, jadinya aku naikin dosisnya, hehe.. ;p)
    Dan setiap kali minum selalu sampai habis 1 blister, walaupun sebelum habis juga biasanya udah sembuh.

    Pernah suatu kali berhubung walaupun sakit berat tetep harus banyak kegiatan aku jadi lupa jadwal minum obat, akhirnya suka kelewat dan gak sembuh pas habis 1 blister, akhirnya jadi 2 blister.. (ini juga salah deh kayanya.. ;p)

    Alasannya kenapa gak ke dokter ya sama dengan yg lain2 Cak.. 😉
    Dokter mahal! Apalagi di kota Jakarta nan hiruk-pikuk ini, ke dokter umum aja mesti siapin uang minimal 300rb klo gak mau ninggalin KTP pulangnya.. ;p
    Gak ada dokter baik hati nan pemurah kaya Cakmoki (ngerayu neh, hehehe.. ;p)

    Gimana tuh Cak? Bandel yah? Bahaya ya? Hehehe.. ;p
    Thx before, Cak! 🙂

  32. 32 cakmoki Januari 15, 2008 pukul 12:51 am

    @ Lily:
    hehehe, maaf kalo tersindir *padahal asli nyindir 😉 *
    soal alergi emang sebaiknya pasien sendiri yang mengatakan saat berobat, dan alangkah baiknya jika dokter memberikan catatan untuk diberikan kepada pasien, bisa berupa catatan alergi di kertas resep.

    Bagi orang tertentu dan penyakit tertentu (itu-itu saja), penggunaan antibiotika bisa dibenarkan jika tahu tatacara dan syaratnya atas petunjuk dokter sebelumnya. So, emang seharusnya menggunakan 1 keur, sampai habis kendati sudah merasa sembuh. Saya bisa memaklumi karena emang biaya dokter mahal,…300 ribu ya, wow…banyak banget… ;;)

    Sejauh kasusnya seperti itu dan menggunakannya benar seperti di atas, gak bahaya koq 🙂 … dan gak bandel … hehehe

  33. 33 Lily Januari 16, 2008 pukul 2:55 pm

    Oh ya, keur..
    Dulu itu kirain tulisannya ‘cure’.. ;p

    Thanks a lot, Cak! 🙂
    Bagus deh klo gak bandel, jadi gak dihukum ya.. ;p

  34. 34 cakmoki Januari 16, 2008 pukul 4:04 pm

    @ Lily:
    hehehe, emangnya siapa berani menghukum ? ntar malah dilempar sandal 😛

  35. 35 amaliasolicha Februari 3, 2008 pukul 2:28 pm

    kelamaan bagiku itu cak skitar 3 hari :D, wah lupa nm antibiotiknya apa cak :D, hehehe…maag ku kumat emang biasanya krn stress sich :D, maturnuwun cak atas tanggapannya..;)

  36. 36 cakmoki Februari 3, 2008 pukul 6:04 pm

    @ amaliasolicha:
    hehehe, sayangnya ga bisa didiskon tuh, 3 hari ga lama koq 🙂
    Maturnuwun juga

  37. 37 wita Desember 27, 2008 pukul 4:36 pm

    sy jg pernah ‘dipaksa’ pasen supaya ngasih AB, pdhl gak ada indikasi. dunia yg aneeh..

  38. 38 cakmoki Desember 28, 2008 pukul 3:37 am

    @ wita:
    Mungkin si pasien biasa beli AB 2 biji di warung 🙂

  39. 39 montokd2p Oktober 14, 2010 pukul 1:30 am

    Kejadian ini udh lama, tp nempel trus di ingatan.

    Waktu itu sy msh SMP klas 2,(skrg 37 th)
    sy punya saudara jauh (di jlsin susah urutannya) yg ortunya ngefans abis ama antibiotik (mbuh mrek n jenis apa). Klo anaknya batuk dikash antibiotik,lecet jg bgtu,pokoknya sakit apapun antibiotik dech.

    Ortu sy pernah negur,bgt jg dgn saudara2 yg lain….tp ya begitu ga di reken……

    Singkatnya adik sepupu yg kecil sakit,udh diksh antibiotik ama ortunya ga smbuh jg. Msk hr ke 5, keadaannya nambah ga bnr, badan panas, tp menggigil, keringat dingin,matanya merah. Yg aneh kulit lengan kanan dr siku ampe ke jari2 merah, dan bengkak. (klo di kaki mgkin “kaki gajah”)

    Stlah ke RS, cek lab dan sbgainya, dokter binggung….
    Katanya “ini penyakit baru”….
    Akhirnya cairan di tgannya di ambil….

    Mbuh… Gimana ceritanya…. Yg sy dger dr pamanku, ktanya penyakit tsbt di sebabkan kuman or bakteri yg kebal ama antibiotik.

    Alhamdulillah sepupu bs sembuh….*ga tau gmn cr pengobatan ato di apain*
    Makanya sy jd parno ama AB, klo ga dokter yg bilang n ngeresep sy ga brani nelen AB.

    Emang bner antibiotik penyebabnya cak…? Bs ya bs jg tdk *lha sy ga liat langsung *becanda* hehehe,
    Sy cm share ama temen2 cak….

    Maturnuwun yo pakpo


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Wong ndeso ™

cakmoki

Wordpress Indonesia

Silahkan baca

DISCLAIMER

web tracker

9 Desember 2009

SEMENTARA TUTUP

Maaf, sementara Blog istirahat hingga ada pemberitahuan

Harap maklum


MARI HENTIKAN KORUPSI

Jangan Korupsi Ah

No Korupsi

Internet Sehat

Warga Bicara

» Makasih PLN, listrik Samarinda dah membaik, moga gak byar-pet

» Waspada Demam Berdarah

» Jangan Gunduli Palaran

» Banjir...banjir. Kapan masalah ini teratasi ?

INGA INGA INGA

» Nyeri Urat or Tulang BUKAN berarti Penyakit Asam Urat.

» Sekali lagi: Pegal, Linu Tidak Identik dengan Penyakit Asam Urat

TEMANs

9racehime | A. Fatih Syuhud | Aditiawan Chandra | A.Tajib | Agung UD | aLe | alief | alle | almascatie | Amd | Anak Peri | Anak Sultan | Anang | Anang YP | Anas | Andalas | Anggara | Anjaz | Anti Pungli | Antobilang | Anung87 | Aribowo | Arif Kurniawan | Arul | Astikirna | awan965 | axireaxi | Bambang alias HR | BatakNews | Blog Pokoke? | Biho | CalonOrangTenar | Cay | Chandra | Chielicious | chiw imudz | cK-chika | Dalamhati | Deden Nugraha | deedhoet | deKing | Desti Utami | Didats | doeytea | dnial | Edy C | Eep | Elpalimbani | erander | Evi | Fa | Fa wp | Faiq | Fertobhades | Fetro | Fortynine | Freddy | Gadis | Gaussac | Gitablu | Grandiosa | GuhPraset | GuM | Helgeduelbek | Herdy | Indonesia Kita | Indra KH | ItikKecil | iway | Jejakpena | Jennie S. Bev | Joesath | Joko Taroeb | Julee | Juli | Juliach | Junthit | Jurig | Kakilangit | Kang Adhi | Kang Kombor | Kangguru | kawaichu | Kenji | Kenzt | kikie | koecing | Kumala | Kurtubi | Kw | Laras | liezmaya | Lilik Suryanto | Lily | Linker | Lintang | Lita | Lita wp | Luthfi | MaIDeN | Majalah Dewa Dewi | Manusiasuper | Master Li | Mathematicse | macanang | mbojo | Mei | Micokelana | Mr. Geddoe | Mufti | mybenjeng | My-za | Nayla Zahra | Nayz | Ndarualqaz | Neeya | Neo Forty-Nine | Neri | Ninoy | Nieke | Nomercy | n0vri | NuDe | Om Sulis | omaigat | Ooyi | Paijo | Panca | Pandu | Panduan WP | Papabonbon | Passya | Peyek | Pinkina | Pitik | Pralangga | Prayogo | Priyadi | Qee | Raja iblis | RenjanaBiru | rivafauziah | Rivermaya | Roffi | roisZ | Rujak | Sagung | Sahrudin | Saiful Adi | SaRa | Siu | Sofi | Sora9n | Suandana | Suluh | Susiloharjo | Telmark | Thamrin | tiesmin | Triesti | Tukang Sate | Venus | Wadehel | Wahyuansyah | Wandira | Wiku | WongMangli | Wulan | Yati | Yudhipras |

:: :: :: :: :: :: :: :: ::

Kesehatan

:: Ady Wirawan :: Agus Mutamakin :: Anis Fuad :: Anis Fuad wp :: Asri Tadda :: Astri Pramarini :: Astri Pramarini (awal) :: Astri Pramarini wp :: Blog Mahasiswa FKU 2003 :: Blog Rumah Kanker :: Dani Iswara :: Dani Iswara weblog :: Dokter arek cilik :: drAnak :: drarifianto :: Dwi wp :: Elyas :: Erik Tapan :: Evy HealhtySmile :: FK Unsri :: Gies :: Gies wp :: Ginna :: Grapz :: Hendar Sunandar :: HIV News :: Huda Thoriq :: IDI Samarinda :: imcw :: Imran Nito :: Iwan Handoko :: Jhonrido :: klikharry :: Kobal :: Laksmi Nawasasi :: Mashuri :: Mave Mina :: Mbah Dipo :: Mina :: My Blogspot :: Nur Martono :: PKM Palaran :: Rara :: Rizma Adlia :: Rudy Kwang :: SenyumSehat :: Sibermedik :: SimkesUGM :: SuperKecil :: Titah :: Tito :: Tonang Ardyanto :: Tukangkomentar :: Wi :: Vina Revi :: Vina Multiply :: Yusuf Alam R :: zulharman79 ::

:: :: :: :: :: :: :: :: :: :: ::

Institusi Kesehatan

:: Depkes RI :: WHO :: WHO Indonesia :: … nyusul

:: :: :: :: :: :: :: :: ::

Kolaborasi

:: Emedicine :: ICD 10 Wikipedia :: ICD 10 Wiki Indonesia :: OSWD :: OpenWebDesign :: Pakistan Times :: Rubab :: ntar ::

Kategori

BlogTour

Arsip

Komunitas Blog

blog-indonesia.com

PAGE RANK

Powered by  MyPagerank.Net

Add to Technorati Favorites

[Valid RSS]

Health Blogs - Blog Top Sites

Health

Blogs Topsites - TOP.ORG

Health Blogs - Blog Rankings

Blog directory

TopOfBlogs

Top 10 Award

Feed Burner

cakmoki Blog

Bloggerian Top Hits

My BlogCatalog BlogRank

Site Meter

Since 30 Nov 07

PENGUNJUNG

  • 5,330,891 pengintip

Asal Usul

Pebruari 2011

free counters


%d blogger menyukai ini: