Membayar Data

Pernahkan diantara pembaca ketika mencari data tertentu di suatu instansi Pemerintah layanan publik lantas dimintai uang dalam jumlah tertentu dengan alasan bla-bla-bla ?
Jika iya, ceritakan dong, dimana gerangan, untuk kepentingan apa dan berapa jumlahnya?
Menurut rumor, sebuah fakultas PTN di bilangan Jogjakarta memungut biaya bagi yang ingin mendapatkan data. Benarkah? Moga hanya rumor…

Sungguh mengejutkan ketika mengetahui bahwa salah satu (moga yang lain enggak) Dinas Kesehatan Tingkat II di Kalimantan Timur memungut biaya (bla-bla-bla) jika ada mahasiswa atau siapapun yang ingin mendapatkan data di Puskesmas untuk kepentingan pembelajaran, penelitian atau lainnya.

Begini jalan ceritanya:

Dinas Kesehatan tingkat II tersebut bersama kepala Puskesmas-kepala Puskesmas (konon sejak setahun terakhir ini) membuat kesepakatan bahwa siapa saja yang ingin mendapatkan data dari Puskesmas wajib membayar 75.000 rupiah setiap lembar surat pengantar ke Puskesmas. Sekali lagi: dasarnya kesepakatan.

Duhhhh !!! … ini kabar paling parah yang pernah terdengar. Bayangkan, para kepala Puskesmas yang notabene dokter or dokter gigi, begitu (maaf) bodohnya membuat kesepakatan tersebut. Katro banget !!! Apapun alasannya, tak ada kata yang lebih tepat selain bodoh.
Betapa tidak, di belantara pesatnya kemajuan teknologi informasi dimana sudah begitu banyak Dinas Kesehatan tingkat I maupun tingkat II seantero Nusantara menggelar data nan informatif untuk publik, … duilah … masih ada jua Dinas Kesehatan tingkat II yang tertatih-tatih sembari menengadahkan tangan demi 75.000 hanya untuk mengeluarkan data.

Dan itu di propinsi nan kaya saudara-saudara, dan di wilayah yang masing-masing Puskesmasnya udah diberi kepercayaan langsung oleh kepala daerah untuk mengelola uang sendiri melalui RKA SKPD ( Rencana Kegiatan Anggaran Satuan Kerja Perangkat Daerah ). Dan nilainya puluhan juta, dan kalau mau jujur, sudah berlebihan. Jangan mungkir !!! Berdebatlah disini secara terbuka, gak usah melalui sms.

Kalo mo tahu argumennya nih, Duhhh !!! *lagi* gak tega deh mo nulis, lantaran saking konyolnya itu argumen. Hahahaha, oh … frinds … betapa sampeyan-sampeyan itu sudah mempermalukan diri sendiri sebagai kepala Puskesmas. Andai yang memerintah adalah Dinas Kesehatan Tingkat II, lawan !!! Jangan lagi beralasan dengan ungkapan “bukan masalah berani tidak berani” … capek deh. Kalo alasannya bukan “tidak berani” kemungkinan lain adalah “sama dan sebangun” atau “penakut”. Iya kan?
Dan gak perlu ngomel bahwa tulisan ini hanya “mencari kesalahan”, lha wong emang salah. Gimana coba.

Anehnya, Dinas Kesehatan tingkat II yang satu ini, senang membuat kebijakan berdasarkan kesepakatan antara Dinas Kesehatan tingkat II dengan Puskesmas. Ya ampun, apa gak pernah baca Buku Pedoman Kerja Puskesmas tho. Itu tuh, yang 4 jilid itu lho. Di situ mah, lengkap. Ini menyangkut nyawa manusia kawan, bukan lucu-lucuan kayak main boneka-bonekaan lho.
Makanya, jangan hanya sibuk cari cara menghabiskan anggaran doang, baca tugas pokok dan fungsinya dong.

Inilah bagian kecil koleidoskop 20007 nan kelam, wajah kesehatan di salah satu kota propinsi kami. Hmmm.

Moga, para kepala Daerah dan DPRD mengawasi instansi-instansi teknis di wilayah masing-masing dan menindak lanjuti perilaku memalukan ini.

*mode geram: off*
Met berjuang kawan … jalan benar selalu tersedia di depan mata, silahkan pilih sendiri.

Iklan

37 Responses to “Membayar Data”


  1. 1 suandana Desember 15, 2007 pukul 7:15 am

    Tapi, dak hanya di instansi kesehatan lho, Cak… Di tempat saya juga *bisik-bisik*

  2. 2 Luthfi Desember 15, 2007 pukul 10:49 am

    hahhahaha
    gak cuman di kalimantan koq Pak πŸ˜›

    1. beberapa waktu lalu teman saya memerlukan data iklim (curah hujan, kelembapana udara) utk wilayah sekitar Bogor. datang ke stasiun BMG, datanya ditukar dengan duit 50 ribu

    2. Teman saya dulu pernah punya penelitian (walopun akhirnya gagal dan ganti topik), berkaitan dengan harga harian spesies ikan selama 5 tahun. Dia cuman perlu 1 spesies aja. Apa yang terjadi? Nyari via internet gak nemu, via dinas ga ada harga harian tsb. Akhirnya ybs turun langsung ke TPI di Cilacap. Tau gak di sana ada apa? Ada komputer, tapi gak pernah dipake buat ng-input data, yang ada adalah datanya dicatet dalam logbook (buku gede ukuran folio yg biasa dipake buat pelajaran akuntansi itu lho).
    Saya pikir, harga 75 rb itu upah dari effort staf kelas bawah yg dengan sukarela nginput data. Yayayayaya, walopun sebenarnya dia sudah nerima gaji dari pemerintah

    oh iya, saya gak ngeblog lho di sini πŸ˜› , Komen ini bahkan lebih panjang dr tulisan saya sehari2 di blog saya πŸ˜›

    Salam

  3. 3 Luthfi Desember 15, 2007 pukul 10:54 am

    Tambahan : 3 baris terakhir saya pada nomer 2, bukan berarti saya setuju lho dengan pungli 75 ribu itu.

    Jadi gini Pak … nggak selamanya data yang ada digunakan untuk riset dalam kapasitas ilmiah (skripsux, thesis dst), khan ada juga data tsb dimanfaatkan oleh prshn2 (misalnya farmasi) … jd mungkin … para kepala2 puskesmas itu menganggap uang 75 rb itu amat layaklah buat gitu2an
    apalagi di Indonesia ini pungli dkk khan sudah biasa
    witing tresno jalaran soko kulino klo kata mbah saya

    *bingung dengan kalimat2 yg sudah ditulis*

  4. 4 cakmoki Desember 15, 2007 pukul 12:57 pm

    @ suandana,
    ha? jadi yang gak genah-gak genah kayaknya kompak ya …hahahaha
    berapa pasarannya ? *halah, kayak makelar* πŸ˜€

    @ Luthfi,
    hahaha, kabarnya sih gitu. Ada temen dari Belanda mo cari data di BPS, hanya untuk data gizi (kalo gak salah), berapa hayo? 6000 us $ ..gila gak?

    1. catet ah, BMG … πŸ™‚

    2. hahaha, sama … sebagian kantor pemerintah masih menggunakan buku untuk data dan komputer untuk game πŸ˜›
    Gini, instansi pemerintah itu punya tanggung jawab untuk publikasi hasil kerjanya baik internal maupun eksternal, termasuk kepada sektor terkait or publik. So, mengapa gak di publish malah dipakai untuk jualan ? sedangkan yang lain publish data cuma-cuma.

    Ok, data emang untuk berbagai kepentingan, saya selalu memberikan data kepada siapapun juga yang memerlukan tanpa rasa khawatir sedikitpun, termasuk data Keuangan … hehehe

    Iya kali, budaya ikut arus, padahal pungutan kayak gitu, sumprit deh gak bisa bikin kaya, malah ngutang mulu …

  5. 5 ario dipoyono Desember 15, 2007 pukul 7:11 pm

    Mungkin itu bukan pungutan boss tapi sumbangan seiklasnya dengan memakai minimal he..he..he.. :))

  6. 6 cakmoki Desember 15, 2007 pukul 11:50 pm

    @ ario dipoyono,
    hahaha, itu mah, bahasa jaman orba …hahahaha

  7. 7 itikkecil Desember 17, 2007 pukul 12:12 pm

    data eh knowledge is the power πŸ˜†

  8. 8 kurtubi Desember 17, 2007 pukul 1:10 pm

    Meengikuti hukum pemasaran: jika permintaan banyak sementara barang sedikit, yaa di situlah bisnis berjalan… πŸ™‚

    Cakmoki lama tak bersua apa kabar.. avatarnya makin keren saja… πŸ™‚
    salam

  9. 9 cakmoki Desember 17, 2007 pukul 1:37 pm

    @ itikkecil,
    yes madame πŸ™‚

    @ kurtubi,
    hahaha, iya … artinya sama dengan pasar kan?
    kabar baik ustadz … berkat do’a para sahabat πŸ™‚

  10. 10 Shinta Desember 17, 2007 pukul 3:43 pm

    Saya dulu pernah dimintain Rp 2 jt oleh oknum lembaga peradilan, untuk mendapatkan satu putusan pengadilan yg sudah jadi yurisprudensi (terbuka buat publik), padahal kalo fotokopi paling Rp.20 ribu saja, sementara saya perlunya 3 putusan. Alasannya putusan tsb sudah disimpan di gedung Arsip Nasional, halah..jauh bener yaa nyimpen nya.
    Ya nggak jadi lah ..mahal bener… eehh si oknum masih nyeletuk.. gpp mbak mahal..kan yang bayar klien nya… :O

    itu dulu, sekarang sudah zaman keterbukaan informasi, cari data sudah semakin mudah, departemen sudah menyediakan informasi yg bisa didownload gratis atau cukup bayar biaya fotokopi saja. Beneran fotokopi lho cak … 200 rupiah per lembar. Mudah2an daerah juga begitu ya cak… πŸ™‚

  11. 11 cakmoki Desember 18, 2007 pukul 2:08 am

    @ Shinta,
    2 tahun yg lalu saya ke salah satu Dinas Kesehatan di Jatim, pakai sandal jepit, kacamata item, malah difotokopikan…hahaha, mana dikasih buku data setahun, cuma-cuma. Padahal kalo fotokopi sendiri gak masalah.
    Lhaaaaa, yg saya tulis ini Dinas Kesehatan yg fakir miskin kali (…mentalnya πŸ˜› …) .. padahal Puskesmas nyari data ke kelurhan-kelurahan gak mbayar, ublek-ublek seenaknya, giliran mereka diminta data, …bayar !!! *geleng-geleng gak bisa berhenti* πŸ˜›

  12. 12 dokterearekcilik Desember 18, 2007 pukul 6:04 am

    Kan sambil menyelam minum air….sambil nyimpen data cari duit, semoga semakin hari negara kita semakin baik *sambil berusaha meyakinkan diri yang selalu gak percaya ucapan itu*

  13. 13 rezco Desember 18, 2007 pukul 8:43 am

    “..Menurut rumor, sebuah fakultas PTN di bilangan Jogjakarta..”

    SEMOGA BKN FAKULTAS SAYA

  14. 14 Fajar Rudy Q Desember 18, 2007 pukul 9:36 am

    Wah, emang tega betul kalau sesama TS saling malak.
    Atau Jangan-jangan TS = Teman Sejahat.
    Gimana kalu CakMoki mendirikan Health Watch??

  15. 15 Shinta Desember 18, 2007 pukul 9:44 am

    Tips mendapatkan data gratis :

    Pake sandal jepit dan kacamata item hehhehhe….. tapi..koq..sandal jepit ssiiiyyy… πŸ™‚

  16. 16 peyek Desember 18, 2007 pukul 10:21 am

    Cak, saya kemarin ngobrol dengan seorang teman LSM,
    banyak sebenarnya data yang sebenarnya layak diketahui publik tapi tidak di publish untuk publik, mungkin juga termasuk data yang dimaksud dalam tulisan ini.

    kalo informasi yang berupa data-data itu tidak diberikan ke publik, apa namanya ndak membohongi? apalagi sampai minta-minta seperti itu.

    Malahan teman saya berkata, jangan harap negeri ini ada good goverment ada instansi yang bener-bener tanpa korup, jangan sekali-sekali berharap, karena itu bener-bener cumak ngipi.

    Sekedar informasi cak, korupsi yang terjadi di RSUD Gresik, yang notabene dilakukan oleh konspirasi beberapa dokter, sampai dengan hari inipun tanpa penyelesaian yang jelas. katanya sudah divonis tapi masih menjabat sebagai jajaran direksi, agh embuh cak!

    inilah negeri ini dengan semua lini.

    link terkait :

    di sini

    katanya sudah divonis tapi masih menjabat sebagai jajaran direksi, agh embuh cak!

  17. 17 peyek Desember 18, 2007 pukul 10:24 am

    saya tidak menuduh siapa-siapa dalam komentar saya diatas, tolong cak moki cek ulang tentang kebenarannya, bisa jadi komentar saya salah dan link yang saya berikan kurang bisa membantu.

    suwun cak!

  18. 18 er Desember 18, 2007 pukul 11:26 am

    BENER banget tuh cak…..dengan alasan dan dalih yang dibuat serasional mungkin, yang sebagai ganti ongkos cetak lah, yang sebagai kontribusi lah, yang …., yang….pokoke ada ajah…alasannya, padahal tidak ada aturan tertulisnya!!
    Yang udah pernah saya temuin sih di Dinas Pendidikan…udah gitu cak….data di dinas itu tuh ada macem2 tipenya:
    tipe satu…tipe data yang bisa menghasilkan uang (data dijelek2in, sehingga jadi ada proyek)
    tipe dua….tipe data yang bisa menghasilkan penghargaan (data dibagus2in, sehingga menang banyak penghargaan)
    tipe tiga (mudah2an ada…he…he..), data yang “mungkin” bener sesuai kenyataannya (tapi kayaknya jarang deh!!!)
    Satu lagi cak, untuk masalah pendataan ini negara kita kayaknya ancur banget yah????bayangkan dalam satu instansi yang sama, dua kasubdin misalnya, punya dua data berbeda untuk masalah yang sama…(emang kagak pernah koordinasi yah??) halah…cape…deh!!!
    Oh indonesia…..

  19. 19 anas Desember 18, 2007 pukul 4:41 pm

    😦
    Sedih cak, tapi keliatannya mang dah umum kali ya
    namanya pungli itu khan paling sulit ilang cak

  20. 20 Juliach Desember 18, 2007 pukul 10:15 pm

    Apa sih yang ngak bisa diperjual-belikan di indonesia?

  21. 21 cakmoki Desember 18, 2007 pukul 10:49 pm

    @ dokterearekcilik,

    *sambil berusaha meyakinkan diri yang selalu gak percaya ucapan itu*

    saya juga tetep gak yakin … hehehe

    @ rezco,
    semoga … coba ditelusuri, pura-pura minta data .. hehehe

    @ Fajar Rudy Q,
    ya itu lah … saling malak dengan alasan “dimasuk-masukkan akal tapi tetep gak masuk akal”
    Rasanya gak perlu Health Watch, soalnya sebelum nulis ini, dah dipeseni begini: ” nanti akan ditinjau, tapi tolong jangan diblow-up” … hehehe, padahal tetep blow-up

    @ Shinta,

    tapi..koq..sandal jepit ssiiiyyy… πŸ™‚

    lha sedang berlibur je … kan gak bawa sepatu πŸ˜‰ … itu asih untung gak pakai sarung … hahahaha

    @ peyek,
    Trims link-nya cak peyek πŸ™‚
    Untuk data, saya hanya berpikiran sederhana. Kalo bekerja dan membuat record bener, mengapa mesti takut ?
    Lha, yang disembunyiin tuh, sudah tentu ada yg gak bener atau malah gak bener semua … hahaha
    Demikian pula data keuangan (halah yg ini mah hampir musykil), gak perlu ditutupi karena instansi pemerintah mempertanggung jawabkan kepada publik. Bukan hanya substansinya doang sih, tapi juga “kepatutannya”. Soalnya ada yg seaolah-olah dah bener menurut peraturan dan administrasi tapi gak patut.

    RSUD Gresik ? yg di Bunder itu kan? … hahaha, itu sih kata ICW, mulai perban sampai obat sarat dengan korupsi.
    Hmmm, divonis salah tetep menjabat ya ? Mbuh juga ah πŸ˜€ .. mungkin termasuk “ngenthitan makmuman bersama-sama” πŸ™„

    @ peyek,

    saya tidak menuduh siapa-siapa dalam komentar saya diatas

    hahaha, lha wong tulisan ini sebenarnya udah “nembak” langsung koq … gak papa cak peyek, mari kita tembak bersama, kalo mereka mo mbantah kan ya nulis di sini, tapi gak ada yang mbantah kan? …karena emang iya πŸ˜›

    @ er,
    hahahaha, lengkap deh ulasannya … bener tuh, jadi ada data “make-up” untuk kecantikan supaya dapet penghargaan … anehnya yang menilai juga gimana gitu (…baca:bego πŸ™‚ …) apalagi kalo dikasih “oleh-oleh” … yang paling banyak ngasih oleh-oleh maka itulah yang dapet medali emas, kadang giliran kayak arisan πŸ˜€

    Koordinasi ? …wow, jangan ditanya deh, itu adalah kata yang paling sulit dilaksanakan walau berseberangan meja…hahaha

    @ anas,
    tul … tapi juga bisa paling mudah ilang dengan hanya satu kata dan satu perbuatan, yakni: tidak !!! …hehehe, masalahnya masih suka nyari argumen pembenaran …tul gak?

  22. 22 cakmoki Desember 18, 2007 pukul 10:55 pm

    @ Juliach,
    ah iya, semua bisa ya … πŸ™‚ denger-denger jabatan juga *sambil pura-pura gak tau*

  23. 23 hariadhi Desember 19, 2007 pukul 12:10 am

    Mas Dokter. Setau saya pukesmas itu termasuk public service kan? (Apa saya yang salah, sekarang sudah dimiliki swasta?) Kalau public service kan artinya mereka nyedot pajaknya masyarakat. Lho kalau udah dibiayai masyarakat harusnya mereka juga mengikhlaskan layanannya. Termasuk masalah data itu.

    Atau mereka mungkin menganggap mahasiswa itu bukan bagian dari masyarakat ya? Jadi apa dong? Sampah?

    Pantas pengetahuan di Indonesia ga bisa maju. Mau neliti aja didrakula-in.

  24. 24 cakmoki Desember 19, 2007 pukul 3:00 am

    @ hariadhi,
    betul sekali πŸ™‚
    Jangankan mahasiswa yang jelas-jelas untuk kepentingan pembelajaran, masyarakatpun boleh akses data, toh data tersebut berasal dari kontribusi masyarakat. Bahkan di beberapa tempat, data tersedia online, tinggal jumput aja, gratis, gak pakai prosedur yang mbulet.
    Lha, ini masih ada jua yg pakai jurus “pemalakan” (dengan berbagai nama), so tulisan ini boleh dikata beraroma kegeraman …
    hahaha … baru denger ada istilah “didrakulain”

  25. 25 Luthfi Desember 21, 2007 pukul 12:30 am

    nambah ah
    kraton2 di cirebon per halaman data 20 ribu
    demikian kata temenku yang bersumber dari temennya

    *agak gak valid sih*

  26. 26 triesti Desember 22, 2007 pukul 3:39 am

    ah, data dan duit… waktu nyari data SUSENAS… dipesenin orang dalam supaya pakai surat dari sekolah agar murah dan gampang. hasilnya: disuruh bayar 60juta!!!!! pake embel2 belum tentu keluar pula.

    tapi kalo baca papernya mereka.. suka dibilang: sayang jarang yg mau penelitian ttg kemiskinan. gimana mau neliti, datanya aja bikin miskin.

  27. 27 cakmoki Desember 22, 2007 pukul 12:06 pm

    @ Luthfi,
    hmmm, lumayan juga tuh … perlu ditelusuri sampai ke ujungnya, ntar akan ketahuan siapa aktornya ..hehehe

    @ triesti,
    tahu nggak, awalnya … di alinea pertama ada link ke osculate tentang yg 6.000 US$, tapi tak hapus soalnya blom ijin πŸ™‚

    suka dibilang: sayang jarang yg mau penelitian ttg kemiskinan. gimana mau neliti, datanya aja bikin miskin.

    hahaha, kali maksudnya anggaran udah direncanakan tapi gak bisa makai, trus takut hangus

  28. 28 cie Desember 28, 2007 pukul 11:33 am

    bukan bermaksud membela tapi pernah ga merasakan yang namanya “mengumpulkan data” susahnya ga ketulungan,mulai dari non response, responden susah ditemui, wilayah susah dijangkau deelel..mungkin “uang” untuk membayar data itu sbg pemasukan untuk menutup biaya pengumpulan data.

  29. 29 cakmoki Desember 28, 2007 pukul 12:19 pm

    @ cie,
    saya? ya pernah dong…sering malah …tapi gak pewrnah “jualan data” dengan dalih apapun. Jangankan data, artikel di halaman download dalam format flash, gratis, boleh diambil siapapun dan kapaanpun, padahal itu milik pribadi yg gak dibiayai negara dan tidak digaji untuk membuatnya.

    Jika “mengumpulkan data” dalam rangka pekerjaannya dimana ia digaji di Institusi Pemerintah, maka ekspos data adalah kewajiban karena biayanya ditanggung Negara yang notabena adalah berasal dari rakyat dan dipertanggung jawabkan kepada rakyat sesuai amanat Undang-Undang dan sumpahnya ketika dilantik sebagai PNS.

    Di institusi yang pernah saya pimpin, semua data Gratis !!!

    Lha kalau berniat “mengumpulkan data” emang untuk cari uang or “menutup” biaya, sekalian aja dijual atau dibukukan, itupun kalo laku … hahahaha πŸ˜€
    Coba lihat negara lain, seperti India, Nepal, Vietnam, Thailand dan negara kecil lainnya … download data gratis, lantas muncullah interaksi saling koreksi, makanya mereka lebih maju dari kita, itu masalah mental … sorry πŸ™‚

  30. 30 chachacha Desember 28, 2007 pukul 1:36 pm

    Menarik…

    “Lha kalau berniat β€œmengumpulkan data” emang untuk cari uang or β€œmenutup” biaya, sekalian aja dijual atau dibukukan, itupun kalo laku … hahahaha”…..udah ada kok data2yang dikumpulkan oleh instansi pemerintah dan dibukukan….dan, siapa bilang gak laku?

    kalo dilihat sekilas mungkin selemar dua lembar kertas yang hanya berisi deretan angka2,grafik,atau kata-kata (yang selanjutnya kita sebut DATA) itu gak ada harganya, tapi dengan kemampuan, ilmu, data itu diolah jadi informasi, gak cuma satu informasi kita butuhkan, beberapa informasi jadilah knowledge, ilmu pengetahuan….

    mengumpulkan data juga bukan soal gampang, butuh waktu dan tenaga juga,kyak yang dibilang ‘cie’….

    emang merencanakan dan melaksanakan survei kemiskinan perkara mudah?….kayaknya jangan disamakan juga mencari data di lab dengan data yang dikumpulkan satu persatu di seluruh penduduk/kepala keluarga se-indonesia

    memungut biaya yang terlalu besar dan terkesan mengada-ada juga bukan hal yang seharusnya….hal ini memang amat sangat disayangkan sekali…

    masih memandang data itu murah?

    oia…buat triesti, saya punya referensi tentang pengukuran kemiskinan, kalo mau tau lebih lanjut ato mengembangkan, feel free to email me: emaildianlagi@gmail.com, oke….

    buat cak moki, thx ya, sukses slalu dengan blognya…^-^

  31. 31 cie Desember 28, 2007 pukul 4:05 pm

    mungkin yg perlu diperjelas maksud dari “menjual data” itu data dalam bentuk apa dulu..krn setau saya publikasi survei2 dan sensus di BPS(instansi pemerintah yg bertugas menyediakan data di indonesia) di ekspos kok (datang aja ke perpus-nya),emang sih ga dikasih gratis..tp ya difotocopy atau pinjam jg bisa.Nah setau saya yang dijual itu dalam bentuk raw data-nya (data mentah hasil survei atau sensus) yang masih bisa diolah lagi sesuai kebutuhan pengguna.
    Yup,kalo bisa sih gratis..(mungkin udah kebijakan pemerintah buat nambah pemasukan kas negara kalee)

  32. 32 cakmoki Desember 29, 2007 pukul 12:31 am

    @ chachacha,
    Seru !!!
    Pertama: apapun or dari siapapun pendapat berkenaan dengan Data dan Uang di institusi pemerintah, tetap saya hargai, bebas πŸ™‚ … tapi tentu siap berdebat kan .. hehehe

    Kedua:
    Perlu diketahui, saya belasan tahun di pinggiran Kaltim, dengan fasilitas minim, dan untuk cari data primer harus blusukan naik sepeda motor butut kadang campur jalan kaki or ngangkat sepeda motor lantaran jalan berlumpur, mendaki bukit, nyeberang sungai.
    *Notice it: tahunan* …tanpa dana dan gak pakai seragam necis … emangnya mo ngelencer πŸ™‚
    So, soal sulitnya cari data dari rumah ke rumah gak usah nanya.
    Data mentah, setengah mateng atau dalam bentuk visual … gratis !!!
    Bukannya mo pamer lho πŸ˜‰ … ini mah soal mental semata, so apapun argumen yg mau dipakai, penilaian pihak lain patut dijadikan renungan.
    Di dunia nyata, persoalan macam ini sudah sering jadi perdebatan, dan saya gak kaget dengan segala macam argumen .. πŸ˜‰

    Data memang sangat berharga, namun ketika kita sudah mendapatkan gaji dari bagian pekerjaan itu (survey se Indonesiapun ada dana hingga ke petugas lapangan lho), lantas masih memungut dana darinya *dengan argumen yg bisa dimasuk-masukkan akal*, maka layak merenung sejenak, pantaskah kita melakukannya?
    Saya masih percaya, ada Yang Maha Tahu …hehehe, ini semua pendapat pribadi yg selalu saya lontarkan tanpa henti, so sorry.
    Thanks share nya ya πŸ™‚

    Mbak Tries, tuh ada yang nawari data Gratis, so gak perlu keluar 6 ribu US dollar, dan gak usah capek-capek pulang ke indo.

    @ cie,
    data rutin lah, demografi kayak jumlah penduduk dll trus data penunjang lain misalnya fasilitas pendidikan, kesehatan, dll … bukan hasil survey … πŸ˜‰ or penelitian.
    Namun, apapun bentuk data, sepengetahuan saya tidak ada satupun kebijakan pemerintah yang membolehkan pemasukan kas dari pos tersebut.
    Saya rasa (di masa desentralisasi ini) gak ada satupun pemerintah daerah yang berani membuat Perda soal ini. Kalo ada, kita serbu aja *pakai tulisan di media maksudnya* hehehe

  33. 33 Agung Desember 29, 2007 pukul 2:28 pm

    Ya selama ada hitam di atas putih nya sih ga masalah…

    Biar bisa diaudit gitu, ditelusuri aliran dananya dan alokasinya kemana. Juga bisa dikoreksi ke depannya apakah harga yang ditawarkan pantas, atau kemurahan, atau kemahalan, atau seharusnya ga ada harga.

    Yang paling penting peruntukan dananya jelas. Ga masuk kantong2 pribadi yang sebenernya udah nerima gaji.

    *daagh, sorry kalo ada yg salah2 kata, ga dibaca semuanya sich…hehe*

  34. 34 cakmoki Desember 29, 2007 pukul 4:07 pm

    @ Agung,
    gak ada, … namanya juga pungutan di luar aturan, mana ada hitam di atas putihnya. gak ada … hehehe
    Karena gak ada, maka semuanya serba gak jelas, atau dibikin seolah jelas tapi tambah gak jelas.

  35. 35 cie Desember 30, 2007 pukul 5:47 pm

    “Ya selama ada hitam di atas putih nya sih ga masalah…”
    yup setuju bangetttt…
    “Namun, apapun bentuk data, sepengetahuan saya tidak ada satupun kebijakan pemerintah yang membolehkan pemasukan kas dari pos tersebut”
    setau saya ada cak,Peraturan pemerintah ttg Penerimaan Negara Bukan Pajak..disitu menetapkan penjualan data publikasi statistik termasuk sbg salah satu penerimaan negara bukan pajak *mohon koreksinya

  36. 36 cie Desember 30, 2007 pukul 5:49 pm

    eit kurang lengkap..jelasnya PP no 22 tahun 1997

  37. 37 cakmoki Desember 30, 2007 pukul 6:22 pm

    @ cie,

    setau saya ada cak,Peraturan pemerintah ttg Penerimaan Negara Bukan Pajak..disitu menetapkan penjualan data publikasi statistik termasuk sbg salah satu penerimaan negara bukan pajak … jelasnya PP no 22 tahun 1997

    ok, ntar saya cari, data statistik apa saja yang dimaksud sebagaimana PP no 22 tahun 1997 tersebut … trims infonya ya πŸ™‚


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Wong ndeso β„’

cakmoki

Wordpress Indonesia

Silahkan baca

DISCLAIMER

web tracker

9 Desember 2009

SEMENTARA TUTUP

Maaf, sementara Blog istirahat hingga ada pemberitahuan

Harap maklum


MARI HENTIKAN KORUPSI

Jangan Korupsi Ah

No Korupsi

Internet Sehat

Warga Bicara

» Makasih PLN, listrik Samarinda dah membaik, moga gak byar-pet

» Waspada Demam Berdarah

» Jangan Gunduli Palaran

» Banjir...banjir. Kapan masalah ini teratasi ?

INGA INGA INGA

» Nyeri Urat or Tulang BUKAN berarti Penyakit Asam Urat.

» Sekali lagi: Pegal, Linu Tidak Identik dengan Penyakit Asam Urat

TEMANs

9racehime | A. Fatih Syuhud | Aditiawan Chandra | A.Tajib | Agung UD | aLe | alief | alle | almascatie | Amd | Anak Peri | Anak Sultan | Anang | Anang YP | Anas | Andalas | Anggara | Anjaz | Anti Pungli | Antobilang | Anung87 | Aribowo | Arif Kurniawan | Arul | Astikirna | awan965 | axireaxi | Bambang alias HR | BatakNews | Blog Pokoke? | Biho | CalonOrangTenar | Cay | Chandra | Chielicious | chiw imudz | cK-chika | Dalamhati | Deden Nugraha | deedhoet | deKing | Desti Utami | Didats | doeytea | dnial | Edy C | Eep | Elpalimbani | erander | Evi | Fa | Fa wp | Faiq | Fertobhades | Fetro | Fortynine | Freddy | Gadis | Gaussac | Gitablu | Grandiosa | GuhPraset | GuM | Helgeduelbek | Herdy | Indonesia Kita | Indra KH | ItikKecil | iway | Jejakpena | Jennie S. Bev | Joesath | Joko Taroeb | Julee | Juli | Juliach | Junthit | Jurig | Kakilangit | Kang Adhi | Kang Kombor | Kangguru | kawaichu | Kenji | Kenzt | kikie | koecing | Kumala | Kurtubi | Kw | Laras | liezmaya | Lilik Suryanto | Lily | Linker | Lintang | Lita | Lita wp | Luthfi | MaIDeN | Majalah Dewa Dewi | Manusiasuper | Master Li | Mathematicse | macanang | mbojo | Mei | Micokelana | Mr. Geddoe | Mufti | mybenjeng | My-za | Nayla Zahra | Nayz | Ndarualqaz | Neeya | Neo Forty-Nine | Neri | Ninoy | Nieke | Nomercy | n0vri | NuDe | Om Sulis | omaigat | Ooyi | Paijo | Panca | Pandu | Panduan WP | Papabonbon | Passya | Peyek | Pinkina | Pitik | Pralangga | Prayogo | Priyadi | Qee | Raja iblis | RenjanaBiru | rivafauziah | Rivermaya | Roffi | roisZ | Rujak | Sagung | Sahrudin | Saiful Adi | SaRa | Siu | Sofi | Sora9n | Suandana | Suluh | Susiloharjo | Telmark | Thamrin | tiesmin | Triesti | Tukang Sate | Venus | Wadehel | Wahyuansyah | Wandira | Wiku | WongMangli | Wulan | Yati | Yudhipras |

:: :: :: :: :: :: :: :: ::

Kesehatan

:: Ady Wirawan :: Agus Mutamakin :: Anis Fuad :: Anis Fuad wp :: Asri Tadda :: Astri Pramarini :: Astri Pramarini (awal) :: Astri Pramarini wp :: Blog Mahasiswa FKU 2003 :: Blog Rumah Kanker :: Dani Iswara :: Dani Iswara weblog :: Dokter arek cilik :: drAnak :: drarifianto :: Dwi wp :: Elyas :: Erik Tapan :: Evy HealhtySmile :: FK Unsri :: Gies :: Gies wp :: Ginna :: Grapz :: Hendar Sunandar :: HIV News :: Huda Thoriq :: IDI Samarinda :: imcw :: Imran Nito :: Iwan Handoko :: Jhonrido :: klikharry :: Kobal :: Laksmi Nawasasi :: Mashuri :: Mave Mina :: Mbah Dipo :: Mina :: My Blogspot :: Nur Martono :: PKM Palaran :: Rara :: Rizma Adlia :: Rudy Kwang :: SenyumSehat :: Sibermedik :: SimkesUGM :: SuperKecil :: Titah :: Tito :: Tonang Ardyanto :: Tukangkomentar :: Wi :: Vina Revi :: Vina Multiply :: Yusuf Alam R :: zulharman79 ::

:: :: :: :: :: :: :: :: :: :: ::

Institusi Kesehatan

:: Depkes RI :: WHO :: WHO Indonesia :: … nyusul

:: :: :: :: :: :: :: :: ::

Kolaborasi

:: Emedicine :: ICD 10 Wikipedia :: ICD 10 Wiki Indonesia :: OSWD :: OpenWebDesign :: Pakistan Times :: Rubab :: ntar ::

Kategori

BlogTour

Arsip

Komunitas Blog

blog-indonesia.com

PAGE RANK

Powered by  MyPagerank.Net

Add to Technorati Favorites

[Valid RSS]

Health Blogs - Blog Top Sites

Health

Blogs Topsites - TOP.ORG

Health Blogs - Blog Rankings

Blog directory

TopOfBlogs

Top 10 Award

Feed Burner

cakmoki Blog

Bloggerian Top Hits

My BlogCatalog BlogRank

Site Meter

Since 30 Nov 07

PENGUNJUNG

  • 5,301,967 pengintip

Asal Usul

Pebruari 2011

free counters


%d blogger menyukai ini: