Diagnosa Turun Temurun

GAYA DIAGNOSA PELAYANAN KESEHATAN DASAR

Seorang teman mengingatkan saya tentang pola diagnosa di institusi pelayanan kesehatan dasar, beliau menceritakan hasil penelitian seorang pakar seputar diagnosa di Puskesmas di wilayah Jawa Tengah yang menyebutkan bahwa sebagian besar layanan kuratif (pengobatan) di Puskesmas dilakukan oleh paramedis. Alhasil, hasil diagnosa diragukan akurasinya dan ini akan berujung pada ketidak tepatan pemberian obat. (mungkin juga advisnya, dengan berbagai pantangan makanan ini itu)

Obrolan di ym memicu penulis untuk memaparkan kilas balik fakta terkait persoalan di atas. Bukan rahasia lagi bahwa ada (banyak apa sedikit ? ) dokter pimpinan Puskesmas yang lebih suka “tugas luar” entah kemana sehingga jarang ada di tempat. Penulis tahu sendiri, ada lho dokter pimpinan Puskesmas yang datang hanya 2-3 kali seminggu, itupun kalo gak lupa. *sori ya friends* Atau sekedar datang, kurang ngurusi bimbingan teknis…. Hayo, ngaku !!!
Apa dampaknya ? … Banyak deh, namun kita akan fokus pada dampak terhadap minimnya review or “bimbingan teknis” seorang dokter kepada paramedis, akhirnya bisa ditebak, … muncullah daftar penyakit yang itu-itu saja, ilmu warisan kebanyakan paramedis dari “kakak kelasnya” saat pendidikan. Parahnya, segala macam workshop, pelatihan, study banding dll …dll, hilang tanpa bekas, kalaupun berbekas, mirip kacamata kuda, itu yang didengar itu pula ilmunya, gak percaya ? Lihat aja Laporan Bulanan Penyakit (LB.1), ntar akan ditemukan “penyakit lain-lain” di urutan 20 penyakit terbanyak. hahahaha ….
Dan, … inilah Laporan Penyakit Dasar di Indonesia yang akan direkap hingga tingkat nasional, so … entah berapa persen akurasinya.

Tulisan ini mengajak kita semua wa bil khushush para dokter di Puskesmas dan jajaran Kesehatan mulai Dinas Kesehatan Tingkat II hingga Departemen Kesehatan untuk berbenah dengan langkah nyata dan terukur, bukan lantas serta merta menambah anggaran, … tidak benar itu !!! Toh selama bertahun-tahun gak ada hasilnya kan ? Trus gimana kiatnya ? … ntar deh, yang ini ada di bagian akhir or ditulis tersendiri. *mode jual mahal, mode:ON*

MENGUAK FAKTA
Sebentar, penulis menyampaikan ini bukan sekali lho. Ketika masih aktif di Puskesmas (hingga sekarang), di pertemuan-pertemuan resmi ataupun tidak resmi, hal ini sudah sangat sering kita ungkap untuk bersama-sama memperbaiki sistem layanan kesehatan dasar. Namun nampaknya kurang mendapatkan perhatian serius. Akhirnya kembali ke dokter masing-masing… Lha, apa gak parah coba. So, mari bersama-sama berusaha memperbaiki, daripada buang-buang energi mengumbar argumen.

POLIKLINIK UMUM ( POLI UMUM)
Di tempat inilah paling banyak pengunjungnya dibanding Poli lain. Ada yang hanya 50-100 perhari, ada yang 100-150 kunjungan per hari bahkan ada yang lebih 200 kunjungan perhari.
Yang paling idealpun tidak mungkin ditangani semuanya oleh dokter, kecuali Puskesmas yang dokternya lebih dari 3 orang. Kebanyakan ditangani oleh paramedis dan tidak diperiksa. Yang ditangani dokterpun kerap tidak diperiksa. Paling pol, tensi … lha apa gunanya ?

Dampaknya, kebanyakan diagnosa ditegakkan atas dasar anamnesa (wawancara) * tergantung mood* Selanjutnya keluarlah coretan di kertas resep, sekumpulan obat. Entah dijelaskan entah sambil lalu, bergantung kepada dokternya. Masih belum tersistem dengan baik.
Pun demikian ketika di kamar obat (apotik). Penjelasan sangat singkat. Malah ada juga yang menyerahkan sirup kering tanpa diberi cairan, misalnya sirup amoksisilin, hanya diberi garis sebagai batas pemberian cairan. Walah … piye rek !!!

POLI KIA ( Kesejahteraan Ibu dan Anak )
Wah … kata ibu-ibu, poli KIA ini konon sangat menyeramkan. Wajah-wajah para Bidan yang (pada umumnya) masam, tanpa senyum, senyum kecut, … dll …dll. Belum lagi hinaan dan cerca yang diterima para ibu ketika berat badan balita-nya tak kunjung naik. Trus, adapula yang jualan susu Formula titipan sponsor, … dengan iming-iming fee tentunya. Plus diagnosa (bagi KIA yang menangani pengobatan Balita) dan advis yang asal-asalan (warisan siapa?). Dan lain-lain sisi kelam gambaran Poli KIA, makin lengkaplah bayang-bayang menyeramkan Poli KIA. Maka tak perlu heran jika para ibu enggan kembali ke Poli KIA dengan segala dampak realisasi pencapaiuan program.

Poli-poli lain tak kalah serunya. Tanya aja ke setiap pasien yang berkunjung ke Puskesmas, dari mereka akan meluncur segudang ungkapan kecewa. Dan semua itu lama kelamaan dianggap biasa. Kalo tidak begitu bukan Puskesmas namanya. Hehehe

Tidak semuanya begitu dong ah. Tentu ada yang baik, tertata, ramah, bersahabat. Sayangnya, menurut pengamatan dan pengalaman penulis, hal itu tidak pernah berlangsung lama, karena begitu ganti dokter Pimpinan Puskesmas, berubahlah tatanan sebelumnya. Pasang surut layanan kesehatan dasar Puskesmas emang penuh dinamika. Tanpa keseriusan dari semua pihak terkait, layanan berkualitas sesuai ukuran medis dan pengguna jasa hanyalah mimpi.

Kunci dari keberhasilan, tak lain dan tak bukan adalah dokter Pimpinan Puskesmas. Hanya diperlukan sedikit keberanian untuk mengubah dan sedikit waktu.

FAKTOR PENYULIT
Pada umumnya, seorang dokter ditugaskan ke Puskesmas dengan berbagai kondisi. Yang paling umum adalah: paramedis senior yang merasa berpengalaman, kotak-kotak petugas Puskesmas, fenomena senior-yunior paramedis, dan segala keterbatasan.
Tentu ini bukan hal yang terlalu sulit jika memang si dokter ingin berbenah dengan tulus.
Sekedar gambaran, *narsis dikit πŸ˜› * penulis (ketika aktif di Puskesmas) tidak pernah segan untuk menyodorkan surat pindah kepada petugas yang: gak niat kerja, suka bolos, ngembat uang, jual surat ijin, narik biaya di luar ketentuan. Hehehe, berani ?

Faktor lain diantaranya kurangnya keberanian Dinas Kesehatan untuk memberi sangsi kepada dokter yang senang jalan-jalan pakai mobil Puskesmas Keliling maupun yang suka mbolos.

Adapun faktor teknis medis lainnya adalah keengganan dokter pimpinan Puskesmas memberikan Bimbingan Teknis ecara berkala. Oya, yang dimaksud bimbingan teknis bukan hanya pul-kumpul sambil makan-makan kayak pelatihan… bukan !!! Setiap saat si dokter bisa ngobrol santai membahas satu dau kasus bersama beberapa Petugas sambil santai, ngopi or makan singkong (kalo ada, kalo gak ada silahkan makan jempol sendiri, hehehe..guyon).
Repotnya, gak semua dokter baca setiap hari … nah loh …

Dampak dari semua kejadian di atas banyaklah … diantaranya adalah rekam medis yang tidak menggambarkan keadaan sesunguhnya karena pola pendiagnosaan yang statis sedari dulu hingga kini. Kendati rekam medisnya menggunakan piranti canggih, tetap aja hasilnya kurang bisa dipercaya…..

JALAN KELUAR
Ehm … gimana ya, … gini deh, ..di setiap Puskesmas ada Buku Pedoman Kerja bagi dokter dan Petugas 4 jilid, lengkap koq, rinci, persis tutorial bikin blog itu lho ..Jadi, enaknya baca dulu deh … πŸ™„

Semoga bermanfaat

Blogged with Flock

Tags: , , , , , ,

Iklan

32 Responses to “Diagnosa Turun Temurun”


  1. 1 Dee Desember 6, 2007 pukul 11:29 pm

    Beberapa kali ibu saya ke puskesmas, setap saya cek obatnya, kok kayaknya yang dberikan standar, itu-tu saja, parasetamol, ctm, b kompleks, padahal untuk keluhan yang lain. Apa memang diagnosanya menjurus ke arah yang sama, atau karena paramedis yang memeriksanya hanya berdasarkan kebiasaan, atau karena memang stok obat yang ada di puskesmas cuma itu-itu saja?
    Maaf cak, saya termasuk orang yang skeptis dengan kualitas layanan puskesmas, bukannya sok kaya, tak mau ke puskesmas, maunya langsung ke dokter umum atau RS. Tapi karena menyangkut kesehatan dan kadang jiwa, saya kok kadang nggak berani “berjudi” ke puskesmas.
    Eh, cak, ada nggak cerita tentang dokter yang serius dan telaten waktu praktek di luar, tetapi cenderung asal-asalan dan maunya cepet selesai waktu berada di puskesmas?

    *saya ke puskesmas, biasanya hanya kalau mencari rujukan ASKES :)*

  2. 2 dokterearekcilik Desember 7, 2007 pukul 12:38 am

    Dengan adanya program 6 bulan = selesai PTT maka tambah gak karuan karena jangankan mau urus program & peningkatan SDM, urus surat surat aja kan udah 6 bulan. jadi pas urusan surat menyurat udah selesai maka selesai juga masa tugas. Bahkan sekarang udah tidak ada kewajiban PTT lagi, gak ngerti apa pemerintah udah mikir bener bener atau sambil mabuk kali ya ???

  3. 3 suandana Desember 7, 2007 pukul 10:28 am

    Jadi sadar… Setiap ke Puskesmas, pasti diberi obat yang berbentuk tablet warna kuning dan berukuran agak kecil (dak tahu namanya)…

  4. 4 cakmoki Desember 7, 2007 pukul 11:10 am

    @ Dee,
    he-eh, kebanyakan pengobatan oleh paramedis hanya sesuai kebiasaan berdasatkan ilmu turun temurun.
    Kalo stok sih enggak, karena sejak sekitar 1990, pimpinan puskesmas bisa mengusulkannya, saat ini dah ada sekitar 250 jenis obat…yang canggih and mahal juga ada. Tapi ..ya itu, bergantung pada dokternya, kali takut prakteknya gak laku. Padahal, kalo memberikan pelayanan terbaik di Puskesmas, prakteknya dijamin laku and laris karena masyarakat akan menghargai dan percaya pada si dokter. Sayangnya sebagian para dokter punya punya pola pikir terbalik, kalo ngasih layanan seadanya di Puskesmas, dikiranya pasien lari ke praktek, gak bakalan deh … gak ada rumusnya …hehehe

    Eh, cak, ada nggak cerita tentang dokter yang serius dan telaten waktu praktek di luar, tetapi cenderung asal-asalan dan maunya cepet selesai waktu berada di puskesmas?

    hehehe, gitu aja malu … ini bukan cerita pakdhe, tapi kenyataan. kebanyakan dokter asal-asalan saat di RS or Puskesmas, tapi ramah dan telaten saat di Praktek … tentu gak bagus dong, kan mereka di RS or puskesmas dibayar negara yg notabene berasal dari rakyat, and itu dah tugasnya … kecuali kalo gak mau terima gaji …hahaha

    @ dokterearekcilik,
    iya Mas, saya juga khawatir ntar kalo jadi spesialis trus ngurusi pasien, kaget, bingung, dll… maklum, kelamaan ngerjakan tugas selama kuliah hingga PPDS … dan surat menyurat ada kalanya lebih 6 bulan … kadang untuk pindah dari satu meja ke meja lain, si surat gak jalan, ..lha suratnya gak punya kaki je, so … konon perlu ditambah “uang apalah namanya” supaya si surat bisa jalan, makin besar upetinya makin cepat suratnya … hehehe

    Bahkan sekarang udah tidak ada kewajiban PTT lagi, gak ngerti apa pemerintah udah mikir bener bener atau sambil mabuk kali ya ???

    ..kayaknya gak mabuk, cuman mendhem aja koq … hahahaha *kompak*

    @ suandana,
    kali tablet CTM… bener tuh, biasanya hapalannya selalu ada CTM dan B-kompleks … untuk sakit apapun …parah ..parah …parah

  5. 5 anggara Desember 7, 2007 pukul 11:24 am

    waduh, kalau diagnosa di puskemsmas dilakukan oleh paramedis non dokter, bahaya juga, tapi saya juga pengguna setia puskemas di dekat rumah saya, dan yang periksa dokter tuh cak, apa ada perbedaan dengan puskemas di daerah lain yaa

  6. 6 Uwong Edan Desember 7, 2007 pukul 11:24 am

    Kok kayanya semua bermasalah ya… Gimana dong? Apa saya nyerah aja? Pasrah… Lunglai ditelan jaman, jaman edan.

    Yang pinter membodohi.
    Yang kaya memperdaya.
    Yang berkuasa menindas.

    Rakyat kecil jadi korban.
    Saya jadi korban.
    Berarti, saya = rakyat kecil. Kebetulan.

    Kalo saya bukan rakyat kecil, apa kuat ya menahan godaan?
    Ah jaman edan…

  7. 7 Astri Desember 7, 2007 pukul 1:01 pm

    @Suandana
    Kalo puskesmanya di kota besar, insya Allah berkelimpahan dokter πŸ˜€ Jadi mungkin masih bisa diperiksa dokter, tapi kalo udah minggir dikit atau malah minggir banget (alias terpencil) dokternya cuma 1 atau malah gak ada. Kalo pun ada dokter biasanya jadi KaPus yang sibuk dipanggil rapat ma Dinas, pelatihan, posyandu, dll.

  8. 8 Astri Desember 7, 2007 pukul 1:03 pm

    oops, sori maksudnya buat anggara πŸ˜€
    Peace…

  9. 9 zulharman Desember 7, 2007 pukul 1:57 pm

    Kedepannya para dokter akan diwajibkan resertifikasi dokter. Dalam resertifikasi itu akan diminta juga tentang proses kerja dan hasilnya yang akan dituangkan dalam portfolio. Mungkin dengan cara ini nantinya para dokter puskesmas lebih bertanggungjawab dengan tugasnya. Khan mereka pasti malu bila dilihat portfolionya berisi diagnosis penyakit seperti pilek, BAB berdarah, diare atau istilah lain yang hanya mengaju pada simptom bukan nama penyakit sesuai ICD (walaah). Diharapkan resertifikasi ini nantinya men-drive kinerja dokter puskesmas atau dokter2 lainnya.

  10. 10 cakmoki Desember 7, 2007 pukul 2:48 pm

    @ anggara,
    udah dijawab mbak Astri bos πŸ™‚
    Malah ada salah satu Puskesmas di Jakarta Timur yang fasilitasnya cukup canggih dengan gedung yang representatif … semua tergantung daerah, para dokter dan sistemnya …sayangnya yang seperti itu masih sangat sedikit.

    @ Uwong Edan,
    gak koq, gak semua…tulisan ini mengungkap sisi-sisi kelam layanan kesehatan. Tujuannya menggugah pihak terkait untuk membenahi bersama-sama. Emang secara tersurat seolah hanya dokter yg punya peran dan seolah sebagai pihak tergugat..ini sebuah self assessment, tentu ada maksud tersirat dong πŸ™‚ …karena bagaimanapun juga dokter bukan pengambil keputusan di suatu daerah, law enforcement adalah Kepala daerah dan para Wakil Rakyat. Selain itu juga perlu suatu sistem yg mapan…
    Adapun jika yg punya kuasa tidak peduli atau bahkan menindas, Golput aja deh …hahahaha

    @ Astri,
    πŸ™‚ maturnuwun mbak …

  11. 11 cakmoki Desember 7, 2007 pukul 2:55 pm

    @ zulharman,
    ok, setuju !!! moga gak bernasib seperti angka kredit ya… atau seperti laporan (SP2TP) yang kadang hanya ditumpuk doang, atau jadi alat memeras dokter …hehehe …
    trus omong-omong gajinya masih sekitar sejutaan ya … *halah*

  12. 12 peyek Desember 7, 2007 pukul 4:18 pm

    Gresik itu ada sekitar 34 Puskemas,
    lho kok tahu? ya dulu ada project disana,

    melihat peserta yang merupakan perwakilan dari puskemas-puskemas itu pada SMS-an semua, jadi ngakak

    belakangan baru tahu, kalo cuma menghabiskan anggaran

  13. 13 itikkecil Desember 7, 2007 pukul 6:02 pm

    Faktor lain diantaranya kurangnya keberanian Dinas Kesehatan untuk memberi sangsi kepada dokter yang senang jalan-jalan pakai mobil Puskesmas Keliling

    jangan-jangan mobil itu gak ada rem nya di puskemas. Adanya di mall atau di pasar… :mrgreen:

  14. 15 rozenesia Desember 8, 2007 pukul 6:28 am

    Bleh, awalnya udah kebawa serius… tapi pas baca bagian “JALAN KELUAR”, jadi il-fil dan lupa mau komen apa… 😦

  15. 16 cakmoki Desember 8, 2007 pukul 12:21 pm

    @ peyek,
    hahaha, baru tahu ya, padahal di Jatim konon bagus …untuk sasaran jalan-jalan study banding… eh omong-omong proyek apaan sih ?

    @ itikkecil,

    jangan-jangan mobil itu gak ada rem nya di puskemas. Adanya di mall atau di pasar… :mrgreen:

    pernah diajak ya … *guyon* … iya mbak, kadang ada yg untuk nonton midnight …

    @ huda,
    iya, …makanya kita gak usah ikutan. Saya dulu waktu masih baru gak mau bawa Pusling ke rumah, mending pakai sepeda motor elek, mewek, mogokan, tapi nggaya … πŸ˜€

    @ rozenesia,
    komen aja Gun … bebas koq πŸ™‚

  16. 17 sibermedik Desember 9, 2007 pukul 12:04 pm

    cak..3-8 des sya jaga d RS (jd g smpt posting he..he..) ngerasa bahaw realita d ‘lapangan’ medis tidak selalu ideal…

    Mungkin ATTITUDE yang saya tekankan coz miris banget liat orang-orang lagi sakit-sekarat malah didepan pasien bangsal (oknum) ko-as2 pada guyon???kan ndak etis…apa Empati kita sudah mulai turun “standard”nya ya Cak? pinter text book mbuat diagnosa+status pasien tapi kok attitude ndak sesuai ya??

    Semoga aja SiberMedik bisa Istiqomah….doain Cak..

  17. 18 cakmoki Desember 9, 2007 pukul 8:21 pm

    @ sibermedik,
    ya…itulah yang kerap kita hadapi, makanya saya tiap minggu ndampingi adik-adik semester III-VII untuk langsung berhadapan dengan pasien. penekanan bukan pada diagnosa ataupun kasus (ini bisa baca buku) tapi lebih pada sikap kepada pasien atau keluarganya, ramah, empati dan support, pendeknya menjalin komunikasi yang bersahabat πŸ™‚
    Saya do’akan *dengan penuh harap* agar sibermedik gak ikut gitu deh, …caranya: tempatkan seolah diri kita yang terbaring di sana…
    Alangkah bagusnya jika ada yg mendampingi dan memberi contoh riil tatacara komunikasi dengan pasien …

  18. 19 klikharry Desember 9, 2007 pukul 8:59 pm

    hmmm…. tak kopi dulu ah…mbaca dirumah aja
    kayaknya penting neeh

  19. 20 cakmoki Desember 9, 2007 pukul 9:36 pm

    @ klikharry,
    moga kita bisa memperbaiki sistem layanan bersama-sama … πŸ™‚

  20. 21 Rudy Dewantara Desember 16, 2007 pukul 1:08 pm

    Jadi ingat,waktu saya koas public health di suatu kecamatan di Kota Malang. Saya pernah menerima rujukan pasien dengan ulcus cornea. Pasien tersebut awalnya mengeluh sakit mata karena kelilipan. Pasien mengeluh mata sakit, keluar air mata terus dan silau kalau melihat cahaya. Kemudian datang ke mantri, dan diberi obat tetes mata (yang mengandung steroid) tanpa melakukan fluoresin test. Sepertinya pasien tersebut menderita keratitis pada epitel yang merupakan kontraindikasi mutlak untuk pemberian steroid yang justru akan menghambat reepitelialisasi. Hmm..mungkin perlu dilakukan ujian kompetensi untuk paramedis sebelum mereka boleh membuka praktek. Masa cuma dokter aja yang diubek ubek masalah kompetensi, STR/SIP…

  21. 22 cakmoki Desember 16, 2007 pukul 2:25 pm

    @ Rudy Dewantara,
    kasus semacam ini nyaris terjadi dimana-mana …
    Tidak perlu uji kompetensi lagi sih, karena menurut UU no.23 Th 1992, sebenarnya mantri gak boleh praktek, gak boleh memberi terapi. Namun di sisi lain Depkes memberi tugas di poliklinik dan Puskesmas Pembantu, yang otomatis memberi terapi. Selain itu, pada sistem kenaikan pangkat menggunakan angka kredit, item memberi terapi termasuk dalam kegiatan paramedis … hahahaha, inilah Indonesia, UU tumpang tindih dan gak pernah ada upaya perbaikan, kalaupun ada hanyalah sepotong-sepotong dan tambal sulam.
    So, sejauh ini saya menggunakan jalan tengah berdasarkan kenyataan di lapangan, yakni dengan memberikan bimbingan teknis kepada paramedis secara berkala. Namun tidak semua paramedis mau, lantaran sebagian mereka merasa pinter dan merasa pengalaman … yo wis, wong udah “merasa” ya gak bakalan nyambung walau mereka ngasih terapi ngawur polll … hahaha
    Btw, udah selesai kan ?

  22. 23 ahmadpaku Desember 17, 2007 pukul 4:55 pm

    Dok, aku pernah ke puskesmas waktu itu sakit mata ikan di telapak kaki, yang nangani dokter dokter muda. aku kecewa karena mereka menangani sambil cengangas cengenges guyon sak karepe dewe. aku gak dikasih obat cuma dilihat thok telapak kakiku trus saling bertanya antar dokter muda itu ( kayaknya mereka ga tau penanganannya ) mungkin ga mendengarkan waktu kuliah tentang mata ikan. trus bilang ” ke rumah sakit aja mas “.
    Akhirnya aku bawa ke dokter spesialis kulit dan dioperasi ringan.

    Aku juga pernah kena sakit kulit ( benyek ) disekitar jari kaki. trus tak bawa ke puskesmas ( ganti dokter 2X ) dan ke dokter umum semua memberikan salep dan tidak sembuh sembuh. Akhirnya tak bawa ke dokter spesialis kulit. Cuma dilihat thok 1/2 menit ( Rp. 60.000,00 – dulu th 2003 ) trus bilang ” sudah diobati apa saja ? ” aku bilang, “Salep dan pil antibiotik “. Dokternya bilang ” sakit gini kok dikasih salep, ya ga sembuh sembuh. dia cuma kasih cairan pembersih luka dan resep antibiotik ( amoxicilyn ). ” Sering sering dibersihkan ya ! ” tidak berapa lama sakitku sembuh.

    salam kenal

  23. 24 cakmoki Desember 18, 2007 pukul 9:42 pm

    @ ahmadpaku,
    sebenarnya penyakit gitu cukup dioperasi kecil (namanya ekstirpasi) di Puskesmas, menggunakan bius lokal, 30 menit dah selesai πŸ™‚
    Semua dokter umum mestinya harus bisa ngoperasi kayak itu … hehehe

    Salam kenal juga πŸ™‚

  24. 25 titiw Desember 20, 2007 pukul 9:58 pm

    Tiap aku ke dokter di kampus (yg gratis ituh) juga selalu dikasi obat yg itu2 aja. Padahal penyakitku beda2.. kadang maag, kadang flu, eh tetep aja obatnya itu2 juga.. hehe.. aneh.. btw blog ini saya link di site saya cak, cek di tulisan “link” di halaman depan site saya. Makasih.. πŸ™‚

  25. 26 cakmoki Desember 20, 2007 pukul 10:22 pm

    @ titiw,
    kenapa gak protes? kan boleh tho nanya tentang obat yg itu-itu juga, berani gak ?
    Ok trims, ntar saya link juga ya …

  26. 27 triesti Desember 22, 2007 pukul 3:50 am

    iya.. orang tekanan darah tinggi ama rendah aja bisa salah. dulu kakek dgn suksesnya pingsan krn dikasih obat tekanan darah tinggi dari puskesmas… sementara normalnya aja udah darah rendah.

    gimana mau ngasih obat betul.. ngukur tensi aja ngga.. kalau diukur cuma sekali.

  27. 28 cakmoki Desember 22, 2007 pukul 12:17 pm

    @ tries,
    ditanya-tanya trus muncul resep obat, tanpa periksa … sebagian (sebagian besar apa sebagian kecil ya …) masih sukses begitu sih … tapi kalo urusan menghabiskan anggaran, dijamin serius deh

  28. 29 yon Desember 24, 2007 pukul 3:45 pm

    dr Moki yang saya kagumi.Mengulas tentang penelitian rekan dr Moki kalaupun untuk kemajuan pelayanan kesehatan saya acungi jempol.Tapi marilah kita lihat kilas balik sekarang yang ada di pelayanan dasar diseluruh puskesmas Indonesia adalah paramedis dan tidak semua nya goblok dalam mendiagnosa penyakit serta memberi obat.memang aturan depkes paramedis tidak boleh memberi obat dan coba tolong rekan dr mengusulkan aja kedepkes paramedis dijadikan tenaga admistrasi aja kan lebih enak dan dr harus ful time di pelayan.

  29. 30 cakmoki Desember 25, 2007 pukul 2:08 am

    @ yon,
    halo pkm Japanan, salam !!! πŸ™‚
    hahaha, ini dia penyakit kita, jajaran kesehatan yang suka eksplosif ketika ada kritik, sehingga menafikan “self assessment”.
    Makanya, baca dulu dong satu persatu, kalimat per kalimat, alinea per-alinea, trus alur dan kaitan dengan tulisan terdahulu … hehehe, sori friend.
    Eh, omong-omong … kalo yg bilang gini Bupati Sidoarjo, berani gak sampeyan njawab: ” … usulkan aja kedepkes paramedis dijadikan tenaga admistrasi aja … ” .. Hahahaha … ojo mberikan ah πŸ˜€
    Selamat berkarya, ntar kalo saya pulang ke Surabaya, mo lihat Japanan.

  30. 31 triesti Desember 25, 2007 pukul 6:47 am

    cak… kenapa ya.. di bidang kesehatan itu hirarkinya berasa sekali. apa krn cikal bakal dunia kesehatan Indonesia itu orang militer Belanda? tapi disini juga ada hirarki walau kayaknya ngga separah di Ind.

    bentar.. kalau paramedis cuma jadi admin aja.. sayang dong SDMnya. kita masih kekurangan tenaga kesehatan, kenapa yg ada cuma jadi admin??? kenapa ngga admin diurus mereka yg sekolah admin? paramedis, dokter lebih fokus ke pelayanan sendiri? paramedis & dokter diberi pelatihan yg lebih baik, dan lebih dilindungi oleh UU? tidak seperti sekarang yg paramedik tidak boleh mendiagnosa tapi kenyataannya mereka mengerjakan itu. baik pasien & si paramedis tidak terlindungi.

    seperti Yon katakan, ngga semua paramedis bodo. tapi berapa banyak juga yg memang tidak kapabel? jujur saja, dokter pun ada yg tidak kapabel. belum lagi kalau aslinya dokter gigi (yg seinget saya anatominya cuma kepala doang), tapi krn darurat diminta membantu dokter umum. saya masih sempat mendengar co-as di NL laporan anamnesenya segala pasiennya ramah, bajunya trendy dimasukin sementara ttg penyakitnya sendiri kurang. itu co-as ya.. yg sekolahnya lamaan daripada paramedik.. dan harusnya lebih pandai dari mereka yg menjadi paramedik. kalau paramedik hanya bertanya: “sakit apa pak?” dan dijawab “batuk”, langsung kasih obat standard model vitamin B, penicilin. dan dicatat di rekam medisnya : batuk. apa ngga bingung???

    batuk kan bisa saja sekedar batuk, bisa TBC, dll. kalau hanya batuk biasa ngapain dikasih antibiotik? kalau ternyata TB, diberi antibiotik untuk 3 hari kan juga hanya menyebabkan resistensi. lalu laporan ke pusatnya yg ada cuma batuk. saya jadi bertanya2 dgn segala statistik yg ada. apa gunanya dokter ngisi berpuluh2 halaman kalau basis datanya yg diisi paramedis itu ngga jelas?

    coba kalau dibanding dgn di Thailand.. dokter di kampung disana lebih dapat mengatasi masalah kebidanan daripada di Ind. karena dokter kebidanannya mau mengajari dokter umum mengatasi komplikasi pada kelahiran sebelum ke daerah, sehingga angka kematian ibu pun jauh lebih rendah daripada di Ind. (selain fasilitasnya lebih lengkap juga di daerah di Thailand).Di Ind. dokter kebidanan ada kesan malas membagi ilmu. hal yg sama juga berlaku untuk dokter mengajari paramedik untuk memberi diagnosa yg baik.

    Di Ind ada kesan tidak mau mengajari krn takut pasiennya habis. di Ind kan ‘rebutan’ pasien itu masih jamak. krn salah satunya sistem referal tidak jalan, jadi dokter spesialis pun mengurusi orang batuk pilek yg sebetulnya dokter umum saja cukup.

    idealnya, dokter yg diagnosa dan memberi obat, tapi krn ideal itu masih jauh, jumlah dokter masih terlalu sedikit, dan dari sedikit yg ada lebih banyak di kota.. saya hanya bisa mengharap adanya pelatihan bagi paramedis yg lebih baik karena mereka digaris depan dalam pelayanan kesehatan

  31. 32 cakmoki Desember 25, 2007 pukul 3:59 pm

    @ triest,
    Trims tambahannya mbak … siip πŸ˜‰ … kenyataanya emang begitu, terutama di daerah luar pulau Jawa yang notabene masih sangat sedikit dokter. Jangankan dokter, paramedis aja kurang. Kalaupun ada yg banyak, numpuk di kota karena gak mungkin nyekolahkan anaknya di ndeso dengan fasilitas pendidikan minim.

    Soal hirarki, menurut saya bergantung pada para petinggi jajaran kesehatan. Apa sih sulitnya menyederhanakan urusan, memudahkan orang lain. Tapi, hehehe, lha wong saya sendiri ngurus pangkat harus melewati banyak meja je … alhasil: gak ngurus !!!

    Makanya, sewaktu masih bertugas di lini depan, saya lebih memilih memberikan bimbingan teknis ketimbang hanya berkeluh kesah atau nunggu pelatihan.

    Setiap saat si dokter bisa ngobrol santai membahas satu dau kasus bersama beberapa Petugas sambil santai, ngopi or makan singkong (kalo ada, kalo gak ada silahkan makan jempol sendiri, hehehe..guyon).
    Repotnya, gak semua dokter baca setiap hari … nah loh …

    Nah, gak sulit kayaknya kan ?

    Tapi emang, sebagian masih “takut” kalah bersaing dengan paramedis, hahaha …

    Pelatihan sebenarnya dah rutin dilakukan, tapi entah mengapa setelah pulang ilmu tersebut seperti menguap… apa karena model “proyek” ya … itu lho, misalnya: pelatihan 5 hari, diringkas jadi 2 hari, trus tanda tangannya 5 hari … atau mungkin materinya gak mengena sehingga gak menarik, atau sebab lain.
    Saya lebih memilih Bimbingan Teknis oleh dokter secara berkala dan berkesinambungan, kalo gak dilakukan, dokternya dipindah … *mode kejam:on* … tapi inipun menuai persoalan baru karena masih banyak tempat kekurangan dokter.
    Piye ?
    πŸ™‚


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Wong ndeso β„’

cakmoki

Wordpress Indonesia

Silahkan baca

DISCLAIMER

web tracker

9 Desember 2009

SEMENTARA TUTUP

Maaf, sementara Blog istirahat hingga ada pemberitahuan

Harap maklum


MARI HENTIKAN KORUPSI

No Korupsi

Internet Sehat

Translator

Warga Bicara

» Makasih PLN, listrik Samarinda dah membaik, moga gak byar-pet

» Waspada Demam Berdarah

» Jangan Gunduli Palaran

» Banjir...banjir. Kapan masalah ini teratasi ?

INGA INGA INGA

» Nyeri Urat or Tulang BUKAN berarti Penyakit Asam Urat.

» Sekali lagi: Pegal, Linu Tidak Identik dengan Penyakit Asam Urat

TEMANs

9racehime | A. Fatih Syuhud | Aditiawan Chandra | A.Tajib | Agung UD | aLe | alief | alle | almascatie | Amd | Anak Peri | Anak Sultan | Anang | Anang YP | Anas | Andalas | Anggara | Anjaz | Anti Pungli | Antobilang | Anung87 | Aribowo | Arif Kurniawan | Arul | Astikirna | awan965 | axireaxi | Bambang alias HR | BatakNews | Blog Pokoke? | Biho | CalonOrangTenar | Cay | Chandra | Chielicious | chiw imudz | cK-chika | Dalamhati | Deden Nugraha | deedhoet | deKing | Desti Utami | Didats | doeytea | dnial | Edy C | Eep | Elpalimbani | erander | Evi | Fa | Fa wp | Faiq | Fertobhades | Fetro | Fortynine | Freddy | Gadis | Gaussac | Gitablu | Grandiosa | GuhPraset | GuM | Helgeduelbek | Herdy | Indonesia Kita | Indra KH | ItikKecil | iway | Jejakpena | Jennie S. Bev | Joesath | Joko Taroeb | Julee | Juli | Juliach | Junthit | Jurig | Kakilangit | Kang Adhi | Kang Kombor | Kangguru | kawaichu | Kenji | Kenzt | kikie | koecing | Kumala | Kurtubi | Kw | Laras | liezmaya | Lilik Suryanto | Lily | Linker | Lintang | Lita | Lita wp | Luthfi | MaIDeN | Majalah Dewa Dewi | Manusiasuper | Master Li | Mathematicse | macanang | mbojo | Mei | Micokelana | Mr. Geddoe | Mufti | mybenjeng | My-za | Nayla Zahra | Nayz | Ndarualqaz | Neeya | Neo Forty-Nine | Neri | Ninoy | Nieke | Nomercy | n0vri | NuDe | Om Sulis | omaigat | Ooyi | Paijo | Panca | Pandu | Panduan WP | Papabonbon | Passya | Peyek | Pinkina | Pitik | Pralangga | Prayogo | Priyadi | Qee | Raja iblis | RenjanaBiru | rivafauziah | Rivermaya | Roffi | roisZ | Rujak | Sagung | Sahrudin | Saiful Adi | SaRa | Siu | Sofi | Sora9n | Suandana | Suluh | Susiloharjo | Telmark | Thamrin | tiesmin | Triesti | Tukang Sate | Venus | Wadehel | Wahyuansyah | Wandira | Wiku | WongMangli | Wulan | Yati | Yudhipras |

:: :: :: :: :: :: :: :: ::

Kesehatan

:: Ady Wirawan :: Agus Mutamakin :: Anis Fuad :: Anis Fuad wp :: Asri Tadda :: Astri Pramarini :: Astri Pramarini (awal) :: Astri Pramarini wp :: Blog Mahasiswa FKU 2003 :: Blog Rumah Kanker :: Dani Iswara :: Dani Iswara weblog :: Dokter arek cilik :: drAnak :: drarifianto :: Dwi wp :: Elyas :: Erik Tapan :: Evy HealhtySmile :: FK Unsri :: Gies :: Gies wp :: Ginna :: Grapz :: Hendar Sunandar :: HIV News :: Huda Thoriq :: IDI Samarinda :: imcw :: Imran Nito :: Iwan Handoko :: Jhonrido :: klikharry :: Kobal :: Laksmi Nawasasi :: Mashuri :: Mave Mina :: Mbah Dipo :: Mina :: My Blogspot :: Nur Martono :: PKM Palaran :: Rara :: Rizma Adlia :: Rudy Kwang :: SenyumSehat :: Sibermedik :: SimkesUGM :: SuperKecil :: Titah :: Tito :: Tonang Ardyanto :: Tukangkomentar :: Wi :: Vina Revi :: Vina Multiply :: Yusuf Alam R :: zulharman79 ::

:: :: :: :: :: :: :: :: :: :: ::

Institusi Kesehatan

:: Depkes RI :: WHO :: WHO Indonesia :: … nyusul

:: :: :: :: :: :: :: :: ::

Kolaborasi

:: Emedicine :: ICD 10 Wikipedia :: ICD 10 Wiki Indonesia :: OSWD :: OpenWebDesign :: Pakistan Times :: Rubab :: ntar ::

Kategori

BlogTour

Arsip

Komunitas Blog

blog-indonesia.com

PAGE RANK

Powered by  MyPagerank.Net

Add to Technorati Favorites

Health Blogs - Blog Top Sites

Health

Blogs Topsites - TOP.ORG

Health Blogs - Blog Rankings

Blog directory

TopOfBlogs

Top 10 Award

Feed Burner

cakmoki Blog

Bloggerian Top Hits

My BlogCatalog BlogRank

Site Meter

Since 30 Nov 07

PENGUNJUNG

  • 5,378,163 pengintip

Asal Usul

Pebruari 2011

free counters

Translate


%d blogger menyukai ini: