Sponsorship bagian 3

Kerjasama antara Organisasi Profesi dan Produsen

Aha, ini dia sesi buka-bukaan terkait “kerjasama” beraroma niaga antara “organisasi profesi” dan “produsen” yang udah lama disorot banyak pihak. Ok, penulis hanya akan mengupas sedikit tentang organisasi profesi di bidang kesehatan terutama IDI. Tentu organisasi yang lain masih ada, namun sementara kita abaikan.

Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Itulah kira-kira gambaran bentuk dan model “kerjasama” di tiap daerah. Tidak selalu sama walaupun sama-sama bertajuk “kerjasama”.
Sedangkan yang dimaksud “produsen” adalah produsen obat, alat kesehatan, susu, dan lain-lain. Bicara “kerjasama” or sponsorship antara organisasi profesi dan produsen seolah tak ada habisnya dan hampir selalu memunculkan pro-kontra tiada akhir.
Masing-masing pihak punya alasan.

Tulisan singkat ini bukan bermaksud menelanjangi kawan sendiri *boleh juga sih mo merasa ditelanjangi*, namun tak lebih sebagai upaya “open source” arena abu-abu yang kerap membawa mudharat dibanding manfaat.
Tentu penulis ingin kelihatan obyektif, dengan mencoba memandang dari berbagai sisi. Dan penilaian ada pada masing-masing benak pembaca.

SISI POSITIF
Seperti kita ketahui, dunia medis ditujukan untuk kemaslahatan umat manusia. Untuk mencapainya diperlukan penelitian-penelitian dan upaya lain yang memerlukan dana tidak sedikit. Ironisnya, di negeri ini, proposal bertajuk penelitian ilmiah nyaris tanpa gema, lantaran kurang mendapat perhatian Pemerintahan.
Tengok, kota mana saja sih yang Pemerintah Daerahnya menyediakan Dana Penelitian Ilmiah bidang medis (termasuk bidang pengetahuan lain) dalam “neraca keuangan daerah” setiap tahunnya ?
Kalau mau jujur, nyaris gak ada !!!

Kondisi di atas memaksa insan peneliti medis untuk mengadopsi penelitian negeri lain yang kondisinya mirip dengan kondisi Indonesia.
Kalaupun mengadakan penelitian sendiri, mau tidak mau harus menggandeng “pihak lain” karena tidak mungkin membiayai sendiri.

Trus, siapa sih yang bertanggung jawab (secar komprehensif) terhadap pengembangan bidang medis di Indonesia ?

Jika hanya menjawab penelitinya sih jelas, mereka adalah para praktisi, klinisi, pemerhati, akademisi, dan lain-lain, bergantung kepada subyek dan obyek penelitian.
Lha penanggung jawab pendanaannya siapa ?
Mbuh lah …. kalau kita bahas dijamin mbulet deh.

Nah, para insan medis yang berminat mengadakan penelitian, akan mengambil langkah cepat dengan mengajak “produsen” yang notabene sudah punya “hubungan” dalam layanan medis.

Demikian pula kegiatan pengembangan bidang medis di luar penelitian, semisal: Seminar, Workshop, Symposium dan kegiatan ilmiah lainnya.

Alhasil keterikatan dengan “produsen” sebagai mitra pengembangan ilmiah tak bisa dipungkiri akan memunculkan aroma “pesan sponsor”.
Namun, sedikit ataupun banyak, terlepas aroma apapun yang ikut imbas dalam pengembangan ilmiah bidang medis, peran serta “produsen” layak kita hargai.

SISI NEGATIF
Sebagai manusia sosial, kita kadang sulit melepaskan diri dari “kebaikan” pihak lain kepada kita. Entah ini suatu hal yang baik atau jelek, semua bergantung pada “out put” nya.
Di sisi lain, sponsorship model beginian tak ayal berpotensi negatif, yakni merugikan pihak lain, dalam hal ini pengguna jasa layanan medis atau insan medis itu sendiri, langsung maupun tidak langsung.

Sebagai contoh, ketika sebuah “produsen” mensponsori salah satu item simposium, si produsen bersedia mambayar fee sekian juta, sekaligus membiayai semua pelaksanaan simposium. Judul dan pembicara dipilih dan ditentukan oleh pihak sponsor.

Apa yang terjadi?
Tak perlu heran jika materi simposium babar blas gak ada hubungannya dengan kondisi medis terkini daerah tersebut. Bisa juga sih dihubung-hubungkan supaya nampak rasional, namun sebagai orang yang sama-sama mengenyam pendidikan, insan medis tahu bahwa nuansa advertising lebih ditonjolkan. Dan jadilah tayangan presentasi menjadi sebuah media periklanan.

Pun demikian dengan para peserta. Beberapa sejawat mengaku bahwa keberangkatannya dari daerah asal untuk mengikuti kegiatan ilmiah dibiayai oleh “sponsorship” produsen obat. Transport, akomodasi dan lain-lain ditanggung produsen.

Episode lain, semisal olahraga, seperti: tenis, golf, dan lain-lain tak luput dari media “sponsorship” yang adakalanya media tersebut memang sengaja diciptakan. Nah !!!
Luar biasa !!! Inilah celah antara “kejelian” divisi marketing produsen dan insan medis sebagi jembatan sponsorship untuk meningkatkan penjualan sebuah produk.

Dampaknya bisa ditebak, bukan tidak mungkin si dokter memberikan resep kepada pasiennya yang berisi produk sebuah produsen. Tidak soal jika sesuai indikasi dan kualitas obat berdasarkan penilaian sang dokter. Bagaimana jika tidak ?

Apa salah ?
Bergantung kepada sudut penilain masing-masing pihak dan ketaatan terhadap keyakinannya.

Pada tulisan pertama trilogi “sponsorship” sudah disebutkan bahwa semua biaya berkenaan dengan penunjang sponsorship tersebut dimasukkan ke dalam nominal sebuah produk.
Andai produk tersebut adalah obat, maka biaya “sponsorship” sudah disediakan dan dimasukkan ke dalam harga obat.
Artinya, biaya tersebut ditanggung oleh pembeli obat alias penderita. Paham ?

SISI REMANG-REMANG
Di luar sisi positif dan negatif mungkin masih ada sisi lain, sebut saja sisi remang-remang yang belum terungkap ke permukaan. Nampak nyata, namun seolah sulit diungkapkan melalui kata-kata. Hanya pihak produsen dan insan medis yang terlibatlah yang bisa merasakannya.
Ada yang berani ?

RENUNGAN
Serial “sponsorship” rasanya patut menjadi bahan renungan, khususnya insan medis, karena merekalah penentu keputusan, bukan sebaliknya dimana insan medis patuh dan taat kepada produsen.
Namun, sekali lagi, semua keputusan ada pada masing-masing Organisasi Profesi dan insan medis yang ada di dalamnya.
Mungkin berbagai bentuk sponsorship bisa diarahkan pada kegiatan positif tanpa perlu merugikan pihak lain, pun di sisi lain dapat dijadikan lahan hijau tanpa peduli pada siapapun.
Silahkan pilih sendiri.

Penulis selalu yakin bahwa semua yang pernah kita lakukan akan dipertanggung jawabkan kelak kepada Yang Maha Kuasa. Benar tidaknya yang kita lakukan dengan berbagai argumen, akan ditentukan oleh Yang Maha Benar.
Dan kitapun sudah dibekali pengetahuan untuk mengetahui mana yang patut dan mana yang tidak patut kita lakukan.

Akhirnya, semoga rangkaian tulisan ini dapat menjadi pengingat khususnya bagi penulis, dengan harapan mudah-mudahan kita senantiasanya mendapatkan hidayah dan limpahan rahmat-Nya.
Amin.

:: :: :: tulisan akhir dari serial: sponsorship bagian 1 dan bagian 2 :: :: ::

Iklan

8 Responses to “Sponsorship bagian 3”


  1. 1 huda November 28, 2007 pukul 11:30 am

    Produsen obat mbiayai kegiatan ilmiah, kadang2 emang perlu gitu sih dok. Ya.. kembali lagi ke yang nyelenggarain acara, harus bijaksana dalam melangkah.

  2. 2 kangguru November 28, 2007 pukul 10:02 pm

    Penerbit juga pasang spanduk di seminar guru hahahhaha 🙂

  3. 3 suandana November 29, 2007 pukul 11:25 am

    Berarti insan medisnya yang harus melepaskan diri dari “kebaikan” pihak lain kepadanya, Cak… Dak hanya insan medis sih… Semua profesi lain juga… Tapi, apa mungkin ya? *mikir*

  4. 4 sibermedik November 29, 2007 pukul 2:54 pm

    Hore..Trilogi-nya rampung juga..SiberMEdik aja mbuat trilogi belum jadi2 sejak TIPS PRESENTASI..

    Cak..pertanyaanku…kenapa kok Simposium/Konas ga ada sponsorship dari Pabrik Rokok? Padahal dana promosinya lebih besar dibanding Pabrik Obat??
    Sekalian aja posting “Dokter kok Ngerokok?”

    Oia, mampir sini cak..minta advice dari Cak Moki sebagai Pakar IKM… http://sibermedik.wordpress.com/2007/11/26/manajemen-klinikgampanggampangsyusyah/

  5. 5 Iyas November 29, 2007 pukul 2:54 pm

    serba salah cak, semua tergantung dari insan medis itu sendiri, seandainya niatnya hanya mencari keuntungan berupa duit yah dipastikan pasien yang akan menanggung bebannya Plus makin ancur dah sistem kesehatan kita hehehehe

  6. 6 cakmoki Desember 1, 2007 pukul 12:07 am

    @ huda,
    iya, bener … ada sisi positifnya, sesuai kata mas huda, bergantung pada penyelenggara 🙂

    @ kangguru,
    Hahaha, sama … *Tossss, dong*

    @ suandana,
    *mikir lagi juga, dah lama mikir beginian soalnya* … iya, itu dia yang “konon” katanya sulit. Kalau awalnya dah pasang niat gak ada keterikatan enak, gak perlu ada rasa sungkan … hehehe, tapi kalo dah dikasih Laptop, repot tuh …kalo saya sih, tolak aja

    @ sibermedik,
    Rampungkan dong, saya tunggu lho
    Dokter koq ngerokok ?
    Jawab: ngilangin stress dan dah tahu obatnya !!! 😛 hahaha

    @ Iyas,
    hmmm, saya masih yakin banyak yang gak gitu, sumpriiit yakin … 😀

  7. 8 cakmoki Desember 2, 2007 pukul 3:05 am

    @ sibermedik,
    wah, rajin banget :)… moga segera selesai, and CD-nya hehehe


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Wong ndeso ™

cakmoki

Wordpress Indonesia

Silahkan baca

DISCLAIMER

web tracker

9 Desember 2009

SEMENTARA TUTUP

Maaf, sementara Blog istirahat hingga ada pemberitahuan

Harap maklum


MARI HENTIKAN KORUPSI

No Korupsi

Internet Sehat

Translator

Warga Bicara

» Makasih PLN, listrik Samarinda dah membaik, moga gak byar-pet

» Waspada Demam Berdarah

» Jangan Gunduli Palaran

» Banjir...banjir. Kapan masalah ini teratasi ?

INGA INGA INGA

» Nyeri Urat or Tulang BUKAN berarti Penyakit Asam Urat.

» Sekali lagi: Pegal, Linu Tidak Identik dengan Penyakit Asam Urat

TEMANs

9racehime | A. Fatih Syuhud | Aditiawan Chandra | A.Tajib | Agung UD | aLe | alief | alle | almascatie | Amd | Anak Peri | Anak Sultan | Anang | Anang YP | Anas | Andalas | Anggara | Anjaz | Anti Pungli | Antobilang | Anung87 | Aribowo | Arif Kurniawan | Arul | Astikirna | awan965 | axireaxi | Bambang alias HR | BatakNews | Blog Pokoke? | Biho | CalonOrangTenar | Cay | Chandra | Chielicious | chiw imudz | cK-chika | Dalamhati | Deden Nugraha | deedhoet | deKing | Desti Utami | Didats | doeytea | dnial | Edy C | Eep | Elpalimbani | erander | Evi | Fa | Fa wp | Faiq | Fertobhades | Fetro | Fortynine | Freddy | Gadis | Gaussac | Gitablu | Grandiosa | GuhPraset | GuM | Helgeduelbek | Herdy | Indonesia Kita | Indra KH | ItikKecil | iway | Jejakpena | Jennie S. Bev | Joesath | Joko Taroeb | Julee | Juli | Juliach | Junthit | Jurig | Kakilangit | Kang Adhi | Kang Kombor | Kangguru | kawaichu | Kenji | Kenzt | kikie | koecing | Kumala | Kurtubi | Kw | Laras | liezmaya | Lilik Suryanto | Lily | Linker | Lintang | Lita | Lita wp | Luthfi | MaIDeN | Majalah Dewa Dewi | Manusiasuper | Master Li | Mathematicse | macanang | mbojo | Mei | Micokelana | Mr. Geddoe | Mufti | mybenjeng | My-za | Nayla Zahra | Nayz | Ndarualqaz | Neeya | Neo Forty-Nine | Neri | Ninoy | Nieke | Nomercy | n0vri | NuDe | Om Sulis | omaigat | Ooyi | Paijo | Panca | Pandu | Panduan WP | Papabonbon | Passya | Peyek | Pinkina | Pitik | Pralangga | Prayogo | Priyadi | Qee | Raja iblis | RenjanaBiru | rivafauziah | Rivermaya | Roffi | roisZ | Rujak | Sagung | Sahrudin | Saiful Adi | SaRa | Siu | Sofi | Sora9n | Suandana | Suluh | Susiloharjo | Telmark | Thamrin | tiesmin | Triesti | Tukang Sate | Venus | Wadehel | Wahyuansyah | Wandira | Wiku | WongMangli | Wulan | Yati | Yudhipras |

:: :: :: :: :: :: :: :: ::

Kesehatan

:: Ady Wirawan :: Agus Mutamakin :: Anis Fuad :: Anis Fuad wp :: Asri Tadda :: Astri Pramarini :: Astri Pramarini (awal) :: Astri Pramarini wp :: Blog Mahasiswa FKU 2003 :: Blog Rumah Kanker :: Dani Iswara :: Dani Iswara weblog :: Dokter arek cilik :: drAnak :: drarifianto :: Dwi wp :: Elyas :: Erik Tapan :: Evy HealhtySmile :: FK Unsri :: Gies :: Gies wp :: Ginna :: Grapz :: Hendar Sunandar :: HIV News :: Huda Thoriq :: IDI Samarinda :: imcw :: Imran Nito :: Iwan Handoko :: Jhonrido :: klikharry :: Kobal :: Laksmi Nawasasi :: Mashuri :: Mave Mina :: Mbah Dipo :: Mina :: My Blogspot :: Nur Martono :: PKM Palaran :: Rara :: Rizma Adlia :: Rudy Kwang :: SenyumSehat :: Sibermedik :: SimkesUGM :: SuperKecil :: Titah :: Tito :: Tonang Ardyanto :: Tukangkomentar :: Wi :: Vina Revi :: Vina Multiply :: Yusuf Alam R :: zulharman79 ::

:: :: :: :: :: :: :: :: :: :: ::

Institusi Kesehatan

:: Depkes RI :: WHO :: WHO Indonesia :: … nyusul

:: :: :: :: :: :: :: :: ::

Kolaborasi

:: Emedicine :: ICD 10 Wikipedia :: ICD 10 Wiki Indonesia :: OSWD :: OpenWebDesign :: Pakistan Times :: Rubab :: ntar ::

Kategori

BlogTour

Arsip

Komunitas Blog

blog-indonesia.com

PAGE RANK

Powered by  MyPagerank.Net

Add to Technorati Favorites

Health Blogs - Blog Top Sites

Health

Blogs Topsites - TOP.ORG

Health Blogs - Blog Rankings

Blog directory

TopOfBlogs

Top 10 Award

Feed Burner

cakmoki Blog

Bloggerian Top Hits

My BlogCatalog BlogRank

Site Meter

Since 30 Nov 07

PENGUNJUNG

  • 5,378,163 pengintip

Asal Usul

Pebruari 2011

free counters

Translate


%d blogger menyukai ini: