Sponsorship Bagian 1

Blogged with Flock

Menguak Kerjasama Dokter – Produsen Obat

Sebagian khalayak sudah tahu tentang ” kemesraan ” antara dokter dan produsen obat tertentu. Tudingan miring seputar ” kerjasama ” dengan beragam bentuk dan gaya ini pun sering kali diekspos media. Bukan masalah kerjasamanya semata, melainkan lebih kepada dampak yang ditimbulkannya, yang berujung pada mahalnya harga obat serta kecenderungan peresepan obat yang irrasional.

Salah satu penilitian terkait harga obat menyebutkan bahwa biaya non produksi ( konon lebih 30 % ) berperan pada mahalnya harga obat di Indonesia. Kendati tidak menyebutkan secara gamblang maksud dari “ biaya non produksi “, kita sudah mafhum bahwa yang tersirat adalah biaya ” kerjasama ” antara produsen obat dengan dokter. Dan nilai total semua komponen obat dibebankan kepada pengguna alias penderita alias orang sakit. Lho …

Pada posting bagian pertama ini penulis hanya membatasi bahasan ” kerjasama dokter – produsen obat “. Kerjasama dokter sebagai individu dan produsen obat ( dan atau bahan habis pakai ) tertentu.
Penulis ingin ( sedapat mungkin ) berada di posisi tengah, tidak ingin menghakimi salah satu pihak. Namun pada kesempatan ini tentu ada sedikit pesan moral, setidaknya untuk diri sendiri. So, jika ada pihak yang merasa ( sedikit ) ditelanjangi, penulis mohon maaf yang setulus-tulusnya.

BAGAIMANA SIH BENTUK KERJASAMANYA ?

Pada umumnya bentuk kerjasama yang diketahui publik adalah penulisan resep “obat produk tertentu ” oleh seorang dokter kepada pasiennya, atau anjuran ( kadang seperti paksaan ) untuk menyerahkan resep pada apotik tertentu. Ada yang lain ?
Simak ringkasannya, di bawah ini:

  • Perjanjian pemberian persentase nilai penjualan obat, maksudnya: seorang dokter mendapatkan persentase tertentu berdasarkan deal dengan produsen obat dari nilai penjualan obat dalam kurun waktu tertentu, misalnya bulanan, triwulan dan lain-lain.
  • Persentase jumlah resep, maksudnya: seorang dokter mendapatkan persentase tertentu dari apotik berdasarkan jumlah resep dalam kurun waktu tertentu. Ada apotik yang memberlakukan persentase kepada semua resep yang masuk, adapula yang hanya memberikan persentase berdasarkan deal dengan dokter tertentu.
  • Paket ” fee “, maksudnya: pihak produsen memberikan ” fee ” berupa uang yang ditransfer ke nomor rekening dokter tertentu berdasarkan deal paket yang telah ditentukan. Biasanya nilai paket ditentukan oleh pihak produsen obat. Contoh: pihak produsen obat memberlakukan paket ” antibiotik tertentu “. Jika seorang dokter dalam penulisan resepnya mencapai jumlah tertentu dalam kurun waktu tertentu, maka pihak produsen akan menyerahkan ” fee ” kepada sang dokter.
  • Kontrak penulisan resep, maksudnya: seorang dokter mendapatkan sejumlah uang berdasarkan deal apabila mampu menulis resep produk obat tertentu. Contoh: deal dokter-produsen obat menyepakati jika sang dokter menulis resep “obat A ” dalam jumlah 5 box dalam tempo tertentu, maka akan mendapatkan fee sesuai perjanjian.
  • Reward, artinya: pemberian uang atau barang tertentu atau apapun sesuai kebijakan pihak produsen obat. Bentuk reward dan kurun waktunya bisa macam-macam, masing-masing produsen obat punya trik dan tips khusus soal ini.

Selain bentu-bentuk kerjasama di atas, tentu masih banyak varian yang sengaja dibuat untuk menjalin ” kerjasama ” tersebut. Sejauh ini, cerita-cerita dari para sejawat dan med-rep terkait ” kerjasama ” sangat beragam, bergantung banyak hal yang mungkin menjadi pertimbangan kedua belah pihak.
Tidak semua “kerjasama” berkonotasi negatif. Kerjasama di atas bisa diarahkan untuk sesuatu yang positif dan tidak merugikan orang lain, terutama pasien … Apa bisa ?

So … pilihan ada pada diri masing-masing …
Mohon bantuan do’a dan support, agar penulis tetap tidak mengikuti ” kerjasama ” di atas dan atau sejenisnya … karena berbagai alasan … thanks.

Perlu diingat bahwa bentuk semacam ini tidak melulu berlaku di dunia medis, namun juga di bidang apapun di negeri tercinta ini. Sekali lagi, pilihan ada pada masing-masing individu … Semoga jadi bahan renungan kita semua.

Akhirnya: …

Allahumma Robbannas, mudhibal ba’sa, isyfi antasy-syafi, la syafiya illa anta, syifa’an, la yughodiru saqoman ( HR. Bukhori )

Posting ini merupakan bagian pertama dari Trilogi Kerjasama Insan Kesehatan dengan Produsen Obat dan atau alat kesehatan.

coming soon:

  1. Sponsorship Bagian 2: kerjasama institusi kesehatan dengan produsen obat ( dan atau alat kesehatan )
  2. Sponsorship Bagian 3: kerjasama organisasi profesi medis dengan produsen obat ( dan atau alat kesehatan )

 

 

 

Blogged with Flock

Tags: , , , ,

Iklan

30 Responses to “Sponsorship Bagian 1”


  1. 1 vend November 8, 2007 pukul 1:05 am

    yang kaya beginian pernah jadi cover-story -nya metropolis -nya jawapos cak..
    duh, bangsa, bangsa..

  2. 2 Anang November 8, 2007 pukul 2:56 am

    lho ini masalah nyawa lhooo kok dianggap enteng

  3. 3 Lily November 8, 2007 pukul 10:06 am

    Duh.. gimana bisa tau apakah dokter tempat kita selama ini ‘mengadu nasib’ dalam hal kesehatan melaksanakan praktek2 semacam itu atau gak ya Cak.. 🙄

  4. 4 sibermedik November 8, 2007 pukul 10:26 am

    “Permisi Dok….kalo bisa meresepi 20 obat ini, dokter bisa dapet bonus jalan-jalan ke Singapore lho?”…Itu pernah saya denger waktu “nyamar” jadi dokter di suatu Kongres Nasional….*Tampang Dokter Like Appearance*

    Ada juga Dokter ngetop yg “ngerjain” detailer
    Dokter: Eh..kemarin saya liat home thater bagus di Mal****
    Detailer: Oh..nama tokony apa dok?merk Home Theaternya pa dok? nanti kami kirim ke Alamat Anda?

    ..Pye Cak??? Seneng Sih??tapi kita juga mesti bijak..SiberMedik sendiri masih calon dokter..kok cobaannya “keren” kaya gitu ya?

  5. 5 Shinta November 8, 2007 pukul 10:55 am

    Menurut saya, kalo obat yg diberikan dokter memang sesuai dan dapat meyembuhkan penyakit yang saya derita, saya tidak akan mempersoalkan apakah ada kerjasama atau tidak antara dokter dengan produsen obat tsb.

    tapiiiii….kalo obat yang diberikan hanya karena ada kerjasama padahal tidak saya perlukan dan tidak menyembuhkan… saya akan marah…marah sekali! 😡

    Cakmoki, HR Bukhori nya diterjemahkan dong … biar saya tau artinya… 🙂

  6. 6 Chandra November 8, 2007 pukul 11:17 am

    Apabila ini terus berlangsung untuk mencapai “Indonesia Sehat” mustahil ,,,,,,

  7. 7 itikkecil November 8, 2007 pukul 11:45 am

    jadi ngerti cak…. itu sebabnya kenapa kalo gak pake resep dokter harga obatnya bisa lebih murah :mrgreen:

  8. 8 evi November 8, 2007 pukul 12:03 pm

    saya punya sobat yg bekerja pada perusahaan farmasi yg berpusat di bandung ( tau kan dokter…?), dia crita memang ada semacam perjanjian antara dokter dgn perusahaanya (spt poin no.3 itu). lah, dia pernah crita tuh si dokter A lagi minta mobil ama kita. saya yg orang awam nanya, “kok bisa?”

    pengalaman saya pas melahirkan di kampung juga gitu, pak dokter meresepkan obat semuanya produk perushaan yg di bandung itu. sampai saya berujar ” wah…benar-benar dokter s***e dia” hehehe….
    maaf nggih pak….

  9. 9 kangguru November 8, 2007 pukul 3:05 pm

    kemesraan itu juga terjadi antara penerbit dengan sekolah dok, meskipun dilarang oleh peraturan mentri no 11 tetep aja jalan terus

  10. 10 dokterearekcilik November 8, 2007 pukul 5:16 pm

    Waaah rame serangannya, nimbrung ah….. sebagai tersangka yg terlibat 😦 sebenernya tidak hanya didalam negri aja kejadian ini, di negara maju juga ada kok. Cuman batasannya udah tegas jadi gak kacau. Buat saya pribadi prinsipnya tidak mau ditarget, karena kalo diberi target ama detailer pasti kacaukan pikirannya. Btw perbandingan khasiat obat bermerek, merek ecek2 dan generik emang ada, bukan cuman isu. Ada beberapa penelitian ttg hal tsb tapi unpublished karena gak sesuai dengan motto pemerintah yg katanya “khasiat obat generik = bermerek”. Juga yg bikin sponsorship jadi kenceng karena dokter hanya dihargai pemerintah sekedarnya, padahal biaya peningkatan SDM udah mendesak. Belum lagi IDI dan Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) mensyaratkan ketentuan peningkatan ketrampilan yg biayanya wwwwwwwooooowwwwww Yaaaa jadi kayak posting … Biar aja, biar tambah seru ya cak he…he…he

  11. 11 suandana November 9, 2007 pukul 10:38 am

    kalau yang di pendidikan, mungkin karena lembaga pengawasannya kurang mantap, Cak… 😦
    kalau dokter, sebenarnya praktek seperti itu dilarang apa ndak sih? maksudnya, pake undang-undang seperti di pendidikan itu?

  12. 12 Iyas November 9, 2007 pukul 2:53 pm

    selalu menjadi perdebatan yang menarik cak, maren ngikut seminar dan ada pertanyaan boleh gak kita sebagai dokter meresepkan obat a (harganya nih obat mayan mahal) untuk mengurangi Berat badan dan jawaban 2 orang prof berbeda, prof A menjawab boleh asal tetap sesuai dengan indikasi dan dosis yang tepat prof B menjawab sebaiknya coba dulu dengan life style changing baru kalo gagal pake obat itu.
    setelah dipikir2 jaman sekarang kebanyakan (ga semua) mau serba instan lalu coba kita berpikir dari sudut pandang yang berbeda para peneliti (pencipta tuh obat) khan kasihan juga udah cape2 nemuin obat baru tapi ala hasil ga dipake padahal obatnya itu emang bagus dan terbukti secara klinis.
    jadi buat saya tergantung pasien kalo mereka tidak keberatan yach knapa enggak. lagian khan semua juga untung pasien bisa cepat sembuh, pencipta dibayar, dokter pun ikut kebagian hehehehhe
    ups kepanjangan.
    salam kenal all

  13. 13 n0vri November 9, 2007 pukul 4:30 pm

    Bener Cak. Kongkalikong kayak gini gak cuma dokter kok. Hampir semua profesi ada kerjasama dzalim seperti ini. Semua kembali ke integrity masing-masing orangnya; mau atau nggak ngasih makan anak istri dengan uang hasil kolusi kayak gitu. Mudah-mudahan kita masih kuat untuk gak tergoda ya Cak.
    Btw, apa kabar? Saya udah lama banget gak mampir 😉

  14. 14 cakmoki November 9, 2007 pukul 6:08 pm

    @ vend,
    ya, di Tempo malah lebih seru … dimuat di laporan khusus dan ditampilkan juga hasil wawancara dengan beberapa pihak terkait.

    @ Anang,
    iki dianggep abot lho cak Anang … hahaha

    @ Lily,
    kebanyakan pasien gak bakalan tahu … namun ada tanda-tanda seperti di atas itu, atau gabungan dari beberapa tanda, hehehe

    @ Sibermedik,

    Permisi Dok….kalo bisa meresepi 20 obat ini, dokter bisa dapet bonus jalan-jalan ke Singapore lho?

    … kalo 30 obat jalan2 ke Venice … hahaha, udah ditawari gitu ya ..ehm, asyik dong …
    Cobaan emang beraaaatttsss

    @ Shinta,
    hmmm, cukup adil … kali sebaiknya begitu, ada keseimbangan. Sebagian memberikan obat sesuai indikasi dengan harapan dapat menyembuhkan, sementara sebagian lainnya “takluk” di haribaan iming-iming bonus.

    Arti Hadits, untuk kita semua:
    ” Wahai Rabb seluruh manusia, Pelenyap segala macam penyakit, sembuhkanlah. Engkau adalah Maha Penyembuh, tidak ada penyembuh selain Engkau, penyembuhan yang tidak meninggalkan penyakit ”

    @ Chandra,
    ya, mungkin ini salah satu faktor penghambat “Indonesia Sehat” diantara faktor penghambat lainnya.

    @ itikkecil,
    pura-pura baru ngerti ya … 😛

    @ evi,
    beberapa tahun belakangan ini produk pabrik tersebut merajai hampir di seluruh Indonesia. Konon karena berani “bayar” kontrak dan “reward” paling tinggi diantara yang lainnya. Makanya di kalangan dokter sendiri jadi bahan guyonan, kalo pas naik pesawat dibayari perusahaan tersebut, dikatakan naik pesawat “S**** Air” … hahaha

    @ kangguru,

    kemesraan itu juga terjadi antara penerbit dengan sekolah

    ehm, seru juga 🙂

    @ dokterearekcilik,
    senang mendengar bukan golongan yang “tunduk pada target” … emang kalo bicara ini sangat seru mas, akhirnya saling terkait dengan “harga dari pemerintah” kepada dokter, biaya penelitian dll yg semuanya harus ditanggung sediri…
    Soal peran “institusi Pemerintah” dan “IDI” ntar ada posting sendiri..atau mas Rizal mau nulis ? … hehehe. Tosss dulu dong

    @ suandana,
    sama mas, semua profesi ada kode etik dan aturan yang mengikat …
    pedih, mengingat hal-hal semacam ini hampir merata dari pusat sampai jauh di bawah pusat.

    @ Iyas,
    salam kenal juga, trims ya 🙂
    iya, kalo ngomongin beginian dijamin seru, rumit dan akhirnya ngambang … so pilihan ada pada masing-masing 😉

    Selain peran produsen dan provider, pasien sebagai pengguna jasa layanan medis juga ikut berperan.
    Tak jarang minta obat yang super canggih padahal sakitnya ringan karena merasa punya uang banyak, … lha pas waktunya bayar obat, ternyata nebus separonya, hahaha

    @ n0vri,
    kayaknya iya, hampir semua profesi punya kesempatan seperti itu …

    mau atau nggak ngasih makan anak istri dengan uang hasil kolusi kayak gitu

    … jadi ingat QS: al-Baqarah … *ayatnya lupa* 🙂
    ya, moga kita tetap diberi hidayah-Nya. Amin

    Maaf lahir batin, pak … saya juga gak sempat blogwalking, *pura-pura* agak sibuk … hehehe

  15. 15 Shinta November 9, 2007 pukul 7:00 pm

    Terima kasih cakmoki …. 🙂

  16. 16 imcw November 9, 2007 pukul 11:03 pm

    Dokter juga manusia, Cak. 🙂

  17. 17 yusuf alam November 10, 2007 pukul 12:39 am

    godaan terbesarnya justru sangat menggairahkan… he he he he
    ga ku ku ku banged

  18. 18 cakmoki November 10, 2007 pukul 2:33 am

    @ imcw,
    hahaha, tulllll 😀

    @ yusuf alam,
    masa sih, sebenernya ada bocoran gak, seberapa menggairahkannya “angpao” tersebut ? … soalnya kalo ditanya angka gak ada yg ngaku 😉

  19. 19 cakmoki November 10, 2007 pukul 2:39 am

    @ Shinta,
    sama-sama mbak 🙂

  20. 20 Ricky(Nomor Telepon:08567272981) November 29, 2007 pukul 5:29 pm

    Perkenalkan,nama saya:Ricky,saya ingin menawarkan kerja sama,jika anda berminat,harap hubungi saya di nomor telepon:08567272981.Atas perhatiannya,saya ucapkan terima kasih.

  21. 21 dokteria Januari 18, 2008 pukul 10:32 am

    hehe.. ya maap..

    hidup kan musti nyari duit bo’. pas masuk kuliah dulu juga mbayar mahal.. apalagi sekarang.

    salah sendiri yang sakit-nya bego’. yaa.. dikibulin aja.

    mo berhenti.. gimana ya.. temen2 gw semua gitu.. kecuali cakmoki..:). temen2 gw gitu. kalo dah pada berhenti nanti gw mau ikutan.. sekarang sayang.. gengsi donk temen2 pada beli BM terbaru..

    aku kan butuh home teater. butuh kolam renang di blakang rumahku, butuh utk nyekolahin anak nanti ke luar negeri.

    bilang aja pada ngiri. kalo mo kaya, jadi dokter donk!!

    😛

  22. 22 cakmoki Januari 18, 2008 pukul 4:44 pm

    @ dokteria:
    hahaha, ini paling palesu 😛

  23. 23 Ronzky Maret 4, 2008 pukul 10:34 am

    Sedih khan ngeliat dokter seperti itu….?
    Semua itu tergantung pada dokter yang juga manusia…. dimana banyak sekali peluang yang tercipta untuk melakukan hal seperti itu… Tapi jangan salah…..Hal seperti itu memang sudah lazim dikalangan dunia kesehatan…..tapi cobalah buka mata kita lebar-lebar, masih banyak dokter yang mempunyai jiwa sosial, berpikiran idealis dan mempunyai integritas yang mumpuni untuk menolak hal seperti ini……..dan hal tersebut tidak bisa dilihat dari sisi dokternya saja……tapi lihat juga dari sisi perusahaan farmasi yang menngelontorkan uang serta rayuan maut melalui detailmen-nya….
    Yah saya rasa….tinggal bagaimana kita menyikapi hal seperti ini… UUPK 29 masih terlalu lemah untuk menjerat dokter yang bermain diatas penderitaan orang yang gak mampu…….

    Salam…

  24. 24 cakmoki Maret 5, 2008 pukul 12:37 am

    @ Ronzky:
    iya, masih banyak koq yang menjunjung idealisme, ikutan bangga deh 🙂

    Salam

  25. 27 preventordoctor April 26, 2009 pukul 8:45 pm

    sedikit pesen dari guru saya dok,
    beliau yang bener2 ahli di bidang imunologi… salah satu spesialis yang terkenal di kota saya… kaya raya, anak2nya sekolah di amrik… masi ngomong gini kok:
    ” Saya itu tiap hari belajar, dik…, tau gak knapa saya belajar? karena banyak orang di sekitar saya yang suka nipu.. saya gak mau ketipu ama detailer2 itu… makanya kalo detailer2 itu mau ngajuin obat ke saya, mereka harus mampu ngejelasin mekanisme kerja obatnya… saya gak mau ditekan2 sama pabrik obat, kalo menurut jurnal, obat itu emang hebat, gak usah pake perjanjian2 juga obat itu bakal saya resepin lebih sering…, toh mereka juga bakal seneng”.
    alhasil jarang detailer dateng ke beliau… takut kayake, kalo ditanya macem2 farmakokinetik dsb.. hehehe.

  26. 28 cakmoki April 27, 2009 pukul 12:17 pm

    @ preventordoctor:
    saya sependapat, sayapun gitu … gak mengijinkan detailer njelaskan produknya, bukannya merendahkan, tapi temen-2 detailer hanya dikursus produk-2 yg menjadi tanggung jawabnya supoyo payu… hehehe.
    Tentang belajar, kita berkewajiban belajar setiap hari hingga akhir hayat agar ilmu tetap terpelihara dan bermanfaat sesuai perkembangan terkini 🙂
    Makasih sharing dan kunjungannya.. moga sukses selalu.


  1. 1 Sponsorship Bagian 2 « cakmoki Blog Lacak balik pada November 17, 2007 pukul 12:03 am
  2. 2 Sponsorship bagian 3 « cakmoki Blog Lacak balik pada November 27, 2007 pukul 11:27 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Wong ndeso ™

cakmoki

Wordpress Indonesia

Silahkan baca

DISCLAIMER

web tracker

9 Desember 2009

SEMENTARA TUTUP

Maaf, sementara Blog istirahat hingga ada pemberitahuan

Harap maklum


MARI HENTIKAN KORUPSI

No Korupsi

Internet Sehat

Translator

Warga Bicara

» Makasih PLN, listrik Samarinda dah membaik, moga gak byar-pet

» Waspada Demam Berdarah

» Jangan Gunduli Palaran

» Banjir...banjir. Kapan masalah ini teratasi ?

INGA INGA INGA

» Nyeri Urat or Tulang BUKAN berarti Penyakit Asam Urat.

» Sekali lagi: Pegal, Linu Tidak Identik dengan Penyakit Asam Urat

TEMANs

9racehime | A. Fatih Syuhud | Aditiawan Chandra | A.Tajib | Agung UD | aLe | alief | alle | almascatie | Amd | Anak Peri | Anak Sultan | Anang | Anang YP | Anas | Andalas | Anggara | Anjaz | Anti Pungli | Antobilang | Anung87 | Aribowo | Arif Kurniawan | Arul | Astikirna | awan965 | axireaxi | Bambang alias HR | BatakNews | Blog Pokoke? | Biho | CalonOrangTenar | Cay | Chandra | Chielicious | chiw imudz | cK-chika | Dalamhati | Deden Nugraha | deedhoet | deKing | Desti Utami | Didats | doeytea | dnial | Edy C | Eep | Elpalimbani | erander | Evi | Fa | Fa wp | Faiq | Fertobhades | Fetro | Fortynine | Freddy | Gadis | Gaussac | Gitablu | Grandiosa | GuhPraset | GuM | Helgeduelbek | Herdy | Indonesia Kita | Indra KH | ItikKecil | iway | Jejakpena | Jennie S. Bev | Joesath | Joko Taroeb | Julee | Juli | Juliach | Junthit | Jurig | Kakilangit | Kang Adhi | Kang Kombor | Kangguru | kawaichu | Kenji | Kenzt | kikie | koecing | Kumala | Kurtubi | Kw | Laras | liezmaya | Lilik Suryanto | Lily | Linker | Lintang | Lita | Lita wp | Luthfi | MaIDeN | Majalah Dewa Dewi | Manusiasuper | Master Li | Mathematicse | macanang | mbojo | Mei | Micokelana | Mr. Geddoe | Mufti | mybenjeng | My-za | Nayla Zahra | Nayz | Ndarualqaz | Neeya | Neo Forty-Nine | Neri | Ninoy | Nieke | Nomercy | n0vri | NuDe | Om Sulis | omaigat | Ooyi | Paijo | Panca | Pandu | Panduan WP | Papabonbon | Passya | Peyek | Pinkina | Pitik | Pralangga | Prayogo | Priyadi | Qee | Raja iblis | RenjanaBiru | rivafauziah | Rivermaya | Roffi | roisZ | Rujak | Sagung | Sahrudin | Saiful Adi | SaRa | Siu | Sofi | Sora9n | Suandana | Suluh | Susiloharjo | Telmark | Thamrin | tiesmin | Triesti | Tukang Sate | Venus | Wadehel | Wahyuansyah | Wandira | Wiku | WongMangli | Wulan | Yati | Yudhipras |

:: :: :: :: :: :: :: :: ::

Kesehatan

:: Ady Wirawan :: Agus Mutamakin :: Anis Fuad :: Anis Fuad wp :: Asri Tadda :: Astri Pramarini :: Astri Pramarini (awal) :: Astri Pramarini wp :: Blog Mahasiswa FKU 2003 :: Blog Rumah Kanker :: Dani Iswara :: Dani Iswara weblog :: Dokter arek cilik :: drAnak :: drarifianto :: Dwi wp :: Elyas :: Erik Tapan :: Evy HealhtySmile :: FK Unsri :: Gies :: Gies wp :: Ginna :: Grapz :: Hendar Sunandar :: HIV News :: Huda Thoriq :: IDI Samarinda :: imcw :: Imran Nito :: Iwan Handoko :: Jhonrido :: klikharry :: Kobal :: Laksmi Nawasasi :: Mashuri :: Mave Mina :: Mbah Dipo :: Mina :: My Blogspot :: Nur Martono :: PKM Palaran :: Rara :: Rizma Adlia :: Rudy Kwang :: SenyumSehat :: Sibermedik :: SimkesUGM :: SuperKecil :: Titah :: Tito :: Tonang Ardyanto :: Tukangkomentar :: Wi :: Vina Revi :: Vina Multiply :: Yusuf Alam R :: zulharman79 ::

:: :: :: :: :: :: :: :: :: :: ::

Institusi Kesehatan

:: Depkes RI :: WHO :: WHO Indonesia :: … nyusul

:: :: :: :: :: :: :: :: ::

Kolaborasi

:: Emedicine :: ICD 10 Wikipedia :: ICD 10 Wiki Indonesia :: OSWD :: OpenWebDesign :: Pakistan Times :: Rubab :: ntar ::

Kategori

BlogTour

Arsip

Komunitas Blog

blog-indonesia.com

PAGE RANK

Powered by  MyPagerank.Net

Add to Technorati Favorites

Health Blogs - Blog Top Sites

Health

Blogs Topsites - TOP.ORG

Health Blogs - Blog Rankings

Blog directory

TopOfBlogs

Top 10 Award

Feed Burner

cakmoki Blog

Bloggerian Top Hits

My BlogCatalog BlogRank

Site Meter

Since 30 Nov 07

PENGUNJUNG

  • 5,368,637 pengintip

Asal Usul

Pebruari 2011

free counters

Translate


%d blogger menyukai ini: