Doctor Future

wuih, judul keren nih … mau ngomong apaan sih postingan ini?

Sebuah harapan, tepatnya batasan agar seorang dokter nantinya dapat memenuhi standarisasi yang telah ditetapkan oleh WHO.

Why not ? …. Harus bisa !!!
Bukannya mau bergaya, bukan pula suatu yang berlebihan dan bukan barang baru, mengingat batasan WHO tentang dokter masa depan adalah bagian dari kehidupan dan profesi seorang dokter.

FAKTA KASAT MATA

:: :: :: Gambaran Baik :: :: ::

  • Duhhh, dokternya ramah, baik deh dan … murah *ini penting*
  • Dokter telaten menjelaskan penyakit penderita …
  • Bu dokter yang di sana itu sabar ya, mana cantik lagi …
  • ehm … dokternya fren … yahud … banyak senyum, gak suka nakut-nakuti, orangnya baikan …

… sila ditambahkan …
… moga golongan ini makin banyak …

:: :: :: Gambaran Buruk ( Tidak Baik ) :: :: ::

  • Dokter koq jutek ..
  • Lagi BeTe kali, atau jangan-jangan PMS …
  • Mahal … resepnya malah lebih mahal …
  • Dokter Lupa Tersenyum 😦 …
  • Hobi marah, senyumnya kecut, hiiiyyy … *padahal di rumah takut ama istri* πŸ˜›
  • Suka nakut-nakuti *supaya sering kontrol?* …
  • Malaikat baju putih nan menyeramkan …
  • Jarang ngomong … mahal informasi … *tapi waktu nyebutin tarip, sangat jelas dan gamblang*
  • Kongkalikong dengan produsen obat, alat kesehatan, dll … bonus man, bonus …
  • Ada juga yang ramah, sangat baik, pas nebus obat mahal banget, pakai antibiotika golongan sefalosporin generasi ketiga, padahal hanya flu … (yang ini termasuk gak ? ) … wow !!!
  • Udah jelek, bergaya, narsis, pakai kacamata item lagi … πŸ˜›

… sila ditambahkan …
… sayangnya golongan sering dikeluhkan …

:: :: :: BATASAN DOCTOR FUTURE :: :: ::

WHO menerapkan batasan bahwa dokter masa depan wajib memenuhi kriteria sebagai berikut:

  1. Care provider *jajan apa tho ini …*.
  2. Decision maker
  3. Communicator
  4. Community leader
  5. Manajer

Menurut penulis, batasan tersebut bukan barang baru, toh dalam pedoman kerja seorang dokter, depkes sudah menyusunnya dalam bentuk buku, lengkap sak contoh-contohnya.
Kurang apa coba. *kurang baca and kurang menjiwai kali*

Secara garis besar, batasan di atas dapat dijelaskan *ga jelas amat sih* sebagai berikut:

Care Provider.
Dalam memberikan pelayanan medis, seorang dokter hendaknya:

  • Memperlakukan pasien secara holistik
  • memandang Individu sebagai bagian integral dari keluarga dan komunitas.
  • Memberikan pelayanan yang bermutu, menyeluruh, berkelanjutan dan manusiawi.
  • Dilandasi hubungan jangka panjang dan saling percaya.

Decision Maker.
Seorang dokter diharapkan memiliki:

  • Kemampuan memilih teknologi
  • Penerapan teknologi penunjang secara etik.
  • Cost Effectiveness

Communicator.
Seorang dokter, dimanapun ia berada dan bertugas, hendaknya:

  • Mampu mempromosikan Gaya Hidup Sehat.
  • Mampu memberikan penjelasan dan edukasi yang efektif.
  • Mampu memberdayakan individu dan kelompok untuk dapat tetap sehat.

Community Leader.
Dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, seorang dokter hendaknya:

  • Dapat menempatkan dirinya sehingga mendapatkan kepercayaan masyarakat.
  • Mampu menemukan kebutuhan kesehatan bersama individu serta masyarakat.
  • Mampu melaksanakan program sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Manajer.
Dalam hal manajerial, seorang dokter hendaknya:

  • Mampu bekerja sama secara harmonis dengan individu dan organisasi di luar dan di dalam lingkup pelayanan kesehatan, sehingga dapat memenuhi kebutuhan pasien dan komunitas.
  • Mampu memanfaatkan data-data kesehatan secara tepat dan berhasil guna.

So, apa sulitnya ?
Syarat utama cuman 2, yakni belajar setiap hari dan friendly for all.

:: :: :: mohon maaf, posting ini bukan untuk menggurui, melainkan sebagai pengingat khususnya bagi penulis sendiri, … mo ikutan boleh, enggak yo wis :: :: ::

Ucapan terimakasih diucapkan kepada:

  1. dr. H. Emil Bachtiar Moerad SpP
  2. dr. Paramitha Swandari M.Kes

Atas segala support dan kepercayaan serta sharing materi sehingga ringkasannya dapat tayang sebagai media berbagi.
Tak lupa, penulis mohon maaf, tidak menyertakan download edisi flash swf lantaran terintegrasi dengan desktop publishing tools lainnya.

Iklan

50 Responses to “Doctor Future”


  1. 1 almas Agustus 25, 2007 pukul 11:38 pm

    pertamaxcommment OOT aja πŸ™‚

  2. 2 almas Agustus 25, 2007 pukul 11:48 pm

    Bu dokter yang di sana itu sabar ya, mana cantik lagi …

    Pak DOkter sana ganteng banget ya kaya Pangky Suwito :mrgreen:

    Syarat utama cuman 2, yakni belajar setiap hari dan friendly for all.

    syarat yg susah ga hanya ke dokter aja bahkan keseluruh pelayan orang banyak kali ya..

    hmm cak mo tanya apa setiap dokter dalam menganalisa penyakit itu mempunyai kesimpulan yg berbeda? sebab kemaren kakak saya yg kebetulan sakit diabetes dan sedang hamil muda dikasih obat *nama obatnya lupa* yg masalah kakak saya itu alergi sama obat itu dan sudah dikasiih tau ke dokternya tapi sama dokterna tetep ngotot diberikan obat itu..
    dan akhernya kakak saya terpaksa dirawat dirumah sakit gara2 mengkomsumsi obat yg diberikan oleh dokter tersebut.. apa memang setiap penyakit harus diobati dengan obat tertentu tanpa melihat riwayat pasien tersebut.. makasih cak
    :mrgreen:

  3. 3 cK Agustus 25, 2007 pukul 11:55 pm

    tambahan…
    dokter harus ganteng biar bisa digebet pasiennya πŸ˜† πŸ˜†

  4. 4 cakmoki Agustus 26, 2007 pukul 12:27 am

    @ almas,
    ganti photo ah, biar gak ge-er πŸ˜›
    eh, belajar tiap hari susah ya ? hehehe, anggap aja baca komik, biar enjoy …

    akhernya kakak saya terpaksa dirawat dirumah sakit gara2 mengkomsumsi obat yg diberikan oleh dokter tersebut.. apa memang setiap penyakit harus diobati dengan obat tertentu tanpa melihat riwayat pasien tersebut..

    Pertama, saya menyatakan simpati kepada kakak om Boy sekeluarga, teriring do’a semoga segera sembuh dan ga terulang kejadian serupa.

    Kedua:
    Persoalan alergi obat dan rekam medik udah pernah kita bahas. Informasi alergi obat tertentu dari pasien udah disampaikan dan itu sangat membantu dalam menentukan pemberian terapi. Mestinya tidak boleh terjadi error semacam ini hingga pasien harus masuk RS.

    Setiap penyakit harus diobati dengan obat yang sesuai berdasarkan kondisi penyakit dan riwayat alergi. Selalu ada pilihan jenis obat karena panduan pemberian obat ada urutannya.
    Katakanlah seorang pasien memerlukan obat jenis A sebagai pilihan pertama, namun ternyata ada riwayat alergi terhadap obat golongan A, maka dipilih obat urutan berikutnya disertai penjelasan kepada pasien bahwa yang bersangkutan tidak dapat diberikan obat tersebut dan diganti obat lain. Mungkin khasiatnya lebih lambat atau tidak seideal obat A, namun ini akan menyelamatkan pasien. Secara ga langsung tercipta saling percaya dan edukasi yang berguna bagi pasien maupun dokter.
    Berarti …. belum “doctor future” kali ya … “care provider” dan “community leader” harus mengulang 1 semester … 😦

    @ cK,
    agak ganteng ato menjelang ganteng bisa gak?
    untung sy dah laku … kalo jadi syarat utama, bakalan masuk panti jomblo selamanya 😦 *chika kejaaammm*

  5. 5 Shinta Agustus 26, 2007 pukul 1:05 am

    “Dilandasi hubungan jangka panjang dan saling percaya” … hhmmmm….mirip obrolan mantan jomlo ya … πŸ™‚

    ” Mampu mempromosikan Gaya Hidup Sehat ” ini harus cak…jangan sampai ada dokter ngerokok depan pasiennya.

  6. 6 dokterearekcilik Agustus 26, 2007 pukul 5:32 am

    Waaah….. bagus cak moki…….cuman kapan kita sampe kesana
    Pemerintah juga mesti menghargai dokter, menghargai masyarakat dan sarana kesehatan. Sekarang RSU & Puskesmas kan hanya diperas untuk memenuhi PAD, kesiaaan …..semoga in the future bisa sesuai WHO semua dokter se Indonesia ini …….. Amin

  7. 7 cakmoki Agustus 26, 2007 pukul 7:44 am

    @ shinta,

    ini harus cak…jangan sampai ada dokter ngerokok depan pasiennya.

    … perlu area khusus gak? …

    @ dokterearekcilik,

    Pemerintah juga mesti menghargai dokter, menghargai masyarakat dan sarana kesehatan. Sekarang RSU & Puskesmas kan hanya diperas untuk memenuhi PAD, kesiaaan

    walah … masih ada tho pemerasan berkedok PAD, dokter dijadikan alat dan masyarakat dijadikan obyek … kasiman 😦 …berarti masih sulit dong ya … lha salah satu komponen seperti alat kesehatan dibelikan murahan mana bisa bermutu ?

    in the future bisa sesuai WHO semua dokter se Indonesia ini …….. Amin

    saya tambah bersemangat mendengarnya, … amin

  8. 8 manusiasuper Agustus 26, 2007 pukul 10:13 am

    Tempat saya ada ahli Gizi, Di Rumah Sakit Ulin cak, beratnya hampir 100 kilo!! Lebih mungkin…

    Kali aja cakmoki kenal, he…

  9. 9 Roffi Grandiosa Agustus 26, 2007 pukul 10:16 am

    (OOT) jika presiden RI seorang dokter.. apa jadinya negara kita ya?

    maap sudah lama tak bersua

  10. 10 dwi Agustus 26, 2007 pukul 12:19 pm

    Pengennya semua orang si, dokternya baik, MURAH, dan jelasin ttg penyakit qt sejelas2nya.
    Tapi susah euy nemuin dokter ky gitu.
    Terakhir wi ke dokter senior yang juga dosen wi, professor pula, duh.. Uang konsultasinya mahal! Resepnya apalagi, dan hebatnya salah diagnosis pula!
    *kecewa hiks hiks*

  11. 11 d'King Agustus 26, 2007 pukul 2:20 pm

    Seorang dokter memang sebaiknya membantu proses healing, bukan sekedar curing.

    BTW cak, kalau melihat poin2 utama itu (care provider, decision maker,communicator, community leader dll) saya rasa bisa diterapkan untuk banyak profesi termasuk profesi saya sebagai seorang “baby sitter”.

  12. 12 cakmoki Agustus 26, 2007 pukul 2:23 pm

    @ manusiasuper,

    beratnya hampir 100 kilo!! Lebih mungkin…
    Kali aja cakmoki kenal, he

    duilah, jauhnya pang … ulun dikasih bagian yg beginian, tega banar.
    Koq tau beratnya segitu, pernah nggendong ? πŸ˜› *lirik calon anak menantu*

    @ Roffi Grandiosa,

    jika presiden RI seorang dokter.. apa jadinya negara kita ya?

    menurut saya, gak bagus … ntar yg diurusin kesehatan doang πŸ˜›

    eh iya nih, lama gak jumpa … rasanya dulu pernah cerita september ini balik ke tanah air, … bener gak?

    @ dwi,
    kita bisa gak?

    Uang konsultasinya mahal! Resepnya apalagi, dan hebatnya salah diagnosis pula!

    yang beginian gak bisa ditiru kali ya πŸ˜€

  13. 13 cakmoki Agustus 26, 2007 pukul 2:36 pm

    @ d’King,
    ok, … entah mengapa dalam aplikasi di lapangan tidak seperti yang diharapkan, paradigma tersebut seolah terlupakan.

    BTW cak, kalau melihat poin2 utama itu (care provider, decision maker,communicator, community leader dll) saya rasa bisa diterapkan untuk banyak profesi termasuk profesi saya sebagai seorang β€œbaby sitter”

    bisa jadi, kali dasar-dasar provider emang gitu ya …
    Trus, saya kebagian “maiden sitter” ? … aha, asyiiiikkk πŸ˜‰ ..tosss

  14. 14 xwoman Agustus 26, 2007 pukul 4:16 pm

    asal jangan terlalu “RAMAH” aja cak… palagi kalau dokternya laki-laki dan pasiennya perempuan, bisa berabe dan males kembali lagi ke dokter tersebut. Kecuali pasiennya sama ganjennya πŸ˜†

  15. 15 sibermedik Agustus 26, 2007 pukul 5:22 pm

    :: :: :: Gambaran Buruk Tidak Baik :: :: ::

    * Dokter koq jutek ..
    * Lagi BeTe kali, atau jangan-jangan PMS …
    * Mahal … resepnya malah lebih mahal …
    * Dokter Lupa Tersenyum 😦 …
    * Hobi marah, senyumnya kecut, hiiiyyy … *padahal di rumah takut ama istri* πŸ˜›
    * Suka nakut-nakuti *supaya sering kontrol?* …
    * Malaikat baju putih nan menyeramkan …

    Emangnya dokter malaikat apa?? semua ada +/- nya cak,
    yang penting mengubah orientasi “Costumer Satisfaction” dengan “God Satisfaction”…dengan kata lain “Kerja Adalah Ibadah”.. (Dikutip dari buku 8 ETOS KERJA -Jansen Sinamo-)

  16. 16 imcw Agustus 26, 2007 pukul 9:38 pm

    tuntutan terhadap profesi dokter semakin tinggi…susah juga ya jadi dokter…:(

  17. 17 dani iswara Agustus 26, 2007 pukul 11:19 pm

    jgn2 malah jd futuristik πŸ˜€

  18. 18 'K, Agustus 27, 2007 pukul 1:04 am

    yg ga kalah penting tuh obat jgn terpaku dari produsen tertentu
    mentang2 bonus gede tapi jadi mahal ga karuan
    samangat!!!! lanjutin sosialisasi future dokternya cak
    keren tuh klo bisa gitu

  19. 19 Shinta Agustus 27, 2007 pukul 1:07 am

    Gak perlu area khusus cak…. yg penting sadar aja kalo dokter itu icon nya gaya hidup sehat…

  20. 20 cakmoki Agustus 27, 2007 pukul 1:55 am

    @ xwoman,
    pernah punya pengalaman buruk tentang “kerahaman”, rupanya πŸ˜›

    @ sibermedik,

    Emangnya dokter malaikat apa?? semua ada +/- nya cak

    emang bukan dan tidak akan pernah.
    Bermanis muka, ramah, sabar … rasanya aplikasi tuntunan akhlaq.

    Nah, terkait dengan “God Satisfaction”, suara pasien dan atau keluarganya sebagai pengguna jasa pelayanan medis adalah dalam kerangka “hablum minannas” πŸ™‚ … so …ibadah juga bukan?

    @ imcw,
    hehehe …jadi dokter susah, … konon pasarannya tinggi sih πŸ™„

    @ dani iswara,
    eh … jangan-jangan iya ya πŸ™‚

    @ ‘K,
    Posting tentang “produsen obat tertentu” akan dibuat secara khusus, siiip bosss πŸ™‚

    @ Shinta,
    setujuuuuh mbak πŸ˜€

  21. 21 triesti Agustus 27, 2007 pukul 5:24 am

    ‘masih ada tho pemerasan berkedok PAD, dokter dijadikan alat dan masyarakat dijadikan obyek’

    PAD tuh apa sih cak?

    benernya yg ditulis berlaku disini juga. dokter suka jutek. apa lagi kalo bau2 bedah. berhubung daku koleksi dokter & rumah sakit disini.. jadi ya berasa deh bedanya… ada yg ngga nemu foramen, trus yg ngasih tau cuma asistennya yg nyuruh balik lagi buat diobok2 nyari zygomaticofacial nerve. Emang enak! Ada yg baik banget, mau dengerin masalah kita apa dan usaha refer ke dokter yg juga cooperatif. Ada yg udah dibilangin alergi masih salah ngasih obat. mana bayar dokterkan mahal banget disini.

  22. 22 itikkecil Agustus 27, 2007 pukul 9:43 am

    Udah jelek, bergaya, narsis, pakai kacamata item lagi …

    kok kayaknya saya tau dokter yang kayak gini….

    *mengingat-ngingat…..* ah ya…. cakmoki…
    tapi cakmoki kan ganteng…..

    saya kok sebal sama dokter yang suka kasih antibiotik yang mahal itu… jadinya saya kan kebal sama antibiotik murahan……

  23. 23 sibermedik Agustus 27, 2007 pukul 10:17 am

    niy kalo mo tau..d UNS masuk FK aja ada yg 100-250 juta..(walah mending tumbas sawah…)

  24. 24 cakmoki Agustus 27, 2007 pukul 1:57 pm

    @ triesti,
    PAD adalah Pendapatan Asli Daerah. Dalam hal bidang kesehatan, uang retribusi atau apapun namanya disetorkan ke Pemerintah Daerah setempat. Tentu ada target, misalnya RS A targetnya … rupiah per tahun, Puskesmas … rupiah pertahun, Dinas Kesehatan … rupiah pertahun.
    Sumber dana tersebut semuanya dibebankan kepada pasien or pengguna jasa layanan kesehatan.

    kapan-kapan nulis dong mbak, tentang perbedaan layanan medis di sini dan di sana, agar kami lebih terpacu untuk berbenah.

    @ itikkecil,
    saya ? ganteng? πŸ˜† *joget-joget sampai ngiler*

    Obat mahal konon (menurut penelitian oleh tim dari depkes) karena lebih 30% bukan biaya produksi.
    Bahasa vulgarnya ada “kontrak” obat tertentu yangmana deal kontrak tersebut dibebankan kepada pasien.
    So resistensi bisa jadi karena “memaksakan” pakai antibiotik jenis tertentu yg membabi buta …

    @ sibermedik,

    d UNS masuk FK aja ada yg 100-250 juta..(walah mending tumbas sawah…)

    wooooowwwww …. *lihat angka lagi* … wuiiiihhhhh …. 😦

  25. 25 iamedel Agustus 27, 2007 pukul 4:32 pm

    Anu cak, saya mo nanya berkaitan dengan quote di bawah ini.
    [quote]… narsis, pakai kacamata item lagi … [/quote]

    Mangnya cak moki kalo di ruang praktek pake kacamata item terus yah? *penting banget yah gw* πŸ˜›

  26. 26 kangguru Agustus 27, 2007 pukul 6:01 pm

    hmmm harus jadi community leader juga cak….

    *vote cakmoki for menkes*

  27. 28 cakmoki Agustus 28, 2007 pukul 11:17 am

    @ iamedel,

    Mangnya cak moki kalo di ruang praktek pake kacamata item terus yah?

    huahaha, ntar dikira pemijat …

    @ kangguru,
    minimal community leader untuk orang satu rumah πŸ˜€

    @ manusiasuper,
    ulun kada umpat πŸ˜†

  28. 29 jejakpena Agustus 28, 2007 pukul 11:48 am

    *ikut kangguru dan mansup* !! 😈

    Ehm, fakta tentang dokter ya, πŸ˜›
    Sering dengar ada fakta yang kurang baik tentang dokter ini, tapi gak tau ya, selama ini dokter-dokter yang pernah jadi langganan itu baik-baik deh. Ibu dokternya juga lembut banget, jadi ngerasa nyaman aja. (halaah curhat) :mrgreen:

    Mudah2an target WHO nya bisa terwujud secara merata di lapangan ya Cak. Jadi pas misalnya nanti ditanya, “Gimana ya pelayanan dokter Indonesia pada umumnya”

    “Waah, pokoknya memuaskan deh”. Padahal bisa jadi dia cuma berobat di satu tempat aja, tapi karena di hampir semua tempat udah kaya gitu, ke dokter manapun dia datang, kepuasan akan pelayanannya akan sama. Wuih, apa gak keren banget tuh. πŸ™‚ *membayangkan*

  29. 30 cakmoki Agustus 28, 2007 pukul 12:28 pm

    @ jejakpena,
    *ikut mbak yang baik aja deh, …dapet kiriman es krim… πŸ™‚ *

    selama ini dokter-dokter yang pernah jadi langganan itu baik-baik deh. Ibu dokternya juga lembut banget, jadi ngerasa nyaman aja

    siiip, say bisa niru tuh …

    Waah, pokoknya memuaskan deh

    keren, saya ingin termasuk di kelompok itu juga lho.
    Betapa menyenangkan kalo sebagian besar layanan kesehatan bisa memuaskan *mbayangkan juga*

  30. 31 vend Agustus 29, 2007 pukul 2:55 am

    ndak bosen2nya bilang :
    vote cakmoki for mentri kesehatan!! :mrgreen:

    oiya cak, pernah baca di koran, katanya dokter wajib kasi penjelasan tentang masing2 obat yang diresepin, trus wajib kasi obat alternatip klo pasien keberatan (sama harganya). pertanyaannya, kenapa kok resep biasanya ditulis dengan tulisan tangan yang ruwet? -ndak nyambung, hehehe..-

  31. 32 Kang Kombor Agustus 29, 2007 pukul 12:28 pm

    Kriteria dokter masa depan itu sangat bagus. Mudah-mudahan semua dokter Indonesia bisa memenuhi kriteria tersebut dan menjadi dokter-dokter masa depan.

    Eiittss….. jangan lupa, di masa kini Sampeyan juga dokter sehingga tetap harus memenuhi kriteria-kriteria itu.

  32. 33 super_kecil Agustus 29, 2007 pukul 9:50 pm

    ayo bang ciptakan “doctor future”
    biar anak kecil ga takut lagi ma dokter

  33. 34 cakmoki Agustus 29, 2007 pukul 11:15 pm

    @ vend,
    ya benar, seharusnya emang begitu, pasien boleh bertanya, boleh mengajukan keberatan soal biaya dan berhak mendapatkan informasi.

    kenapa kok resep biasanya ditulis dengan tulisan tangan yang ruwet?

    saya sendiri gak ngerti, mengapa koq “harus” jelek? …kalo yang emang aslinya jelek sih ga soal, lha bagus trus dibuat jelek…ada apa?

    Ada semacam adekdot di kalangan medis *tapi jangan omong2 ya … πŸ™„ rahasia *
    dokter menulis resep sejelk-jeleknya dan menulis kuitansi dengan tulisan sebagus-bagusnya

    @ Kang Kombor,

    Eiittss….. jangan lupa, di masa kini Sampeyan juga dokter sehingga tetap harus memenuhi kriteria-kriteria itu.

    waduhhh, berarti sebentar lagi saya jadi mantan dokter … hahaha… berganti blogger…
    Oke Kang, siap melaksanakan tugas, … apa delapan enam gitu ganti.

    @ super_kecil,
    ho-oh Cil, … eh yang menciptakan kita semua dong, setuju ?

  34. 35 zulharman Agustus 30, 2007 pukul 1:58 pm

    Ingat The five stars doctor , ingat 7 area kompetensi dokter Indonesia.

    Tujuh area kompetensi tersebut adalah Komunikasi efektif; Keterampilan Klinis; Landasan Ilmiah Ilmu Kedokteran; Pengelolaan Masalah Kesehatan; Pengelolaan Informasi; Mawas Diri dan Pengembangan Diri; Etika, Moral, Medikolegal dan Profesionalisme serta Keselamatan pasien.

    Dengan komunikasi efektif dokter tidak judes dan dapat berkomunikasi dan berempati dengan pasien. Dengan ketrampilan klinis dokter memiliki ketrampilan yang oke dalam mendiagnosis dan menterapi pasien. Dengan landasan ilmiah ilmu kedokteran, dokter tidak ngawur dalam mendiagnosis dan menterapi karena ada landasan ilmunya. Dengan pengelolaan Masalah Kesehatan maka dokter mumpuni dalam mengelola masalah kesehatan. Dengan Pengelolaan Informasi; Mawas Diri dan Pengembangan Diri; maka dokter terus mengupdate pengetahuan dan kemampuannya serta dapat mengelola informasi dengan benar serta penerapan IT. Dengan Etika, Moral, Medikolegal dan Profesionalisme serta Keselamatan pasien maka dokter dapat memberikan kenyamanan dan keamanan bagi dirinya sendiri dan pasiennya.

    Semoga kompetensi ini benar-benar dibekali oleh institusi pendidikan kedokteran buat lulusan dokternya.

  35. 36 cakmoki Agustus 30, 2007 pukul 10:31 pm

    @ zulharman,
    wow keren
    trims tambahannya mas
    Moga sesuai harapan kita semua

  36. 37 Wisnu,S.ked Agustus 31, 2007 pukul 11:01 am

    mungkin masalah moral ini yang masih di dalam grey area…hehehe..
    dokter kemaruk semakin merajalela, pasang plang praktek dimana2..
    halo depkes/dinkes??

  37. 38 cakmoki Agustus 31, 2007 pukul 11:32 am

    @ Wisnu,S.ked,
    kali mirip dengan jualan bakso ya … cabang jl…ini, cabang jl … itu, cagang jl … mbuh … hahaha

  38. 39 oddworld Agustus 31, 2007 pukul 6:45 pm

    Sedikit info, adik saya yang ,alhamdulillah, barusan keterima di FK UNS membayar untuk uang pembangunan plus biaya lain-lain plus SPP semester pertama sebesar 9 juta rupiah (agak nggak jelas sih, katanya karena perubahan sistem pembelajaran menjadi Problem Base Learning maka ada penambahan biaya untuk persiapan sarana dan prasarana) Uang SPP tiap semester sekitar 500-600rb (dibawah sejuta deh)
    Pokoknya jangan takut masuk FK karena masalah biaya, ada banyak beasiswa kok.
    Kalau ttg doctor as a community leader jadi ingat Mahathir Mohammad… πŸ™‚

  39. 40 cakmoki Agustus 31, 2007 pukul 10:41 pm

    @ oddworld,
    wow, lumayan juga ya …
    kalo spp segitu sih murah
    Sejauh ini, PBL ga ada biaya tambahan karena hanya perubahan sistem, yang tadinya konvensional menjadi studi kasus dengan skenario yg udah ditetapkan.
    Gak murni PBL sih, kuliah konvensional tetap masih jalan.
    Emang sebenarnya sekolah dokter di PTS gak mahal, kecuali yang lewat jalur extention.

  40. 41 arya September 20, 2007 pukul 10:57 am

    saya jadi inget artikel tomorrow doctornya GMC. salutttt semoga dokter di indonesia bisa jadi dokter yg tak hnya pintar otak namun pintar sosial…

  41. 42 cakmoki September 21, 2007 pukul 9:38 am

    @ arya,
    ya, semoga…kita sama-sama berharap…

  42. 44 cakmoki September 22, 2007 pukul 12:36 am

    @ Luluch,
    Thanks link-nya ya
    ntar saya lihat πŸ™‚

  43. 45 anang Oktober 26, 2008 pukul 6:53 pm

    ada five star doctor, berarti ada yang four star, three star, two star dan one star dong?kayak hoter aja, yang pengen dapet fiver star bayar lebih mahal, yang ga punya uang ke dokter one star aja.Semoga ga ada yang seperti itu kelak….

  44. 46 Yuddi Oktober 27, 2008 pukul 4:34 am

    futurenya itu kapan cak? sekarang? besok? lusa? kemarin?
    soalnya menurut saya kalimat future itu bisa sangat kontekstual..

    kalo saya lebih sepakat sama ide cak moki.. belajar tiap hari dan friendly for all..

    Hehehe.. ngapunten cak, baru nongol udah ngomel-ngomel..

    salam kenal,
    Yuddi

  45. 47 cakmokic Oktober 27, 2008 pukul 11:57 pm

    @ anang:
    ya, semoga πŸ™‚

    @ Yuddi:
    bergantung kepada yang njalani… mungkin dah ada yg memulainya kemarin, ato malah ga blass …hahaha

    Salam kenal … makasih kunjungannya πŸ™‚

  46. 48 Rental Projector Murah Agustus 28, 2009 pukul 4:35 pm

    Wah….bahaya nih kalo dokter yang buruk kalo kita berobat bukan sembuh malah tambah parah,coba kalo dokternya baik n cantik pula baru lihat aja udah sembuh apalagi kalo diperiksa.

  47. 49 cakmoki Agustus 29, 2009 pukul 11:39 pm

    @ Rental:
    πŸ™‚


  1. 1 Dokter Keluarga: welcome !!! « cakmoki Blog Lacak balik pada Oktober 1, 2007 pukul 11:57 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Wong ndeso β„’

cakmoki

Wordpress Indonesia

Silahkan baca

DISCLAIMER

web tracker

9 Desember 2009

SEMENTARA TUTUP

Maaf, sementara Blog istirahat hingga ada pemberitahuan

Harap maklum


MARI HENTIKAN KORUPSI

Jangan Korupsi Ah

No Korupsi

Internet Sehat

Warga Bicara

» Makasih PLN, listrik Samarinda dah membaik, moga gak byar-pet

» Waspada Demam Berdarah

» Jangan Gunduli Palaran

» Banjir...banjir. Kapan masalah ini teratasi ?

INGA INGA INGA

» Nyeri Urat or Tulang BUKAN berarti Penyakit Asam Urat.

» Sekali lagi: Pegal, Linu Tidak Identik dengan Penyakit Asam Urat

TEMANs

9racehime | A. Fatih Syuhud | Aditiawan Chandra | A.Tajib | Agung UD | aLe | alief | alle | almascatie | Amd | Anak Peri | Anak Sultan | Anang | Anang YP | Anas | Andalas | Anggara | Anjaz | Anti Pungli | Antobilang | Anung87 | Aribowo | Arif Kurniawan | Arul | Astikirna | awan965 | axireaxi | Bambang alias HR | BatakNews | Blog Pokoke? | Biho | CalonOrangTenar | Cay | Chandra | Chielicious | chiw imudz | cK-chika | Dalamhati | Deden Nugraha | deedhoet | deKing | Desti Utami | Didats | doeytea | dnial | Edy C | Eep | Elpalimbani | erander | Evi | Fa | Fa wp | Faiq | Fertobhades | Fetro | Fortynine | Freddy | Gadis | Gaussac | Gitablu | Grandiosa | GuhPraset | GuM | Helgeduelbek | Herdy | Indonesia Kita | Indra KH | ItikKecil | iway | Jejakpena | Jennie S. Bev | Joesath | Joko Taroeb | Julee | Juli | Juliach | Junthit | Jurig | Kakilangit | Kang Adhi | Kang Kombor | Kangguru | kawaichu | Kenji | Kenzt | kikie | koecing | Kumala | Kurtubi | Kw | Laras | liezmaya | Lilik Suryanto | Lily | Linker | Lintang | Lita | Lita wp | Luthfi | MaIDeN | Majalah Dewa Dewi | Manusiasuper | Master Li | Mathematicse | macanang | mbojo | Mei | Micokelana | Mr. Geddoe | Mufti | mybenjeng | My-za | Nayla Zahra | Nayz | Ndarualqaz | Neeya | Neo Forty-Nine | Neri | Ninoy | Nieke | Nomercy | n0vri | NuDe | Om Sulis | omaigat | Ooyi | Paijo | Panca | Pandu | Panduan WP | Papabonbon | Passya | Peyek | Pinkina | Pitik | Pralangga | Prayogo | Priyadi | Qee | Raja iblis | RenjanaBiru | rivafauziah | Rivermaya | Roffi | roisZ | Rujak | Sagung | Sahrudin | Saiful Adi | SaRa | Siu | Sofi | Sora9n | Suandana | Suluh | Susiloharjo | Telmark | Thamrin | tiesmin | Triesti | Tukang Sate | Venus | Wadehel | Wahyuansyah | Wandira | Wiku | WongMangli | Wulan | Yati | Yudhipras |

:: :: :: :: :: :: :: :: ::

Kesehatan

:: Ady Wirawan :: Agus Mutamakin :: Anis Fuad :: Anis Fuad wp :: Asri Tadda :: Astri Pramarini :: Astri Pramarini (awal) :: Astri Pramarini wp :: Blog Mahasiswa FKU 2003 :: Blog Rumah Kanker :: Dani Iswara :: Dani Iswara weblog :: Dokter arek cilik :: drAnak :: drarifianto :: Dwi wp :: Elyas :: Erik Tapan :: Evy HealhtySmile :: FK Unsri :: Gies :: Gies wp :: Ginna :: Grapz :: Hendar Sunandar :: HIV News :: Huda Thoriq :: IDI Samarinda :: imcw :: Imran Nito :: Iwan Handoko :: Jhonrido :: klikharry :: Kobal :: Laksmi Nawasasi :: Mashuri :: Mave Mina :: Mbah Dipo :: Mina :: My Blogspot :: Nur Martono :: PKM Palaran :: Rara :: Rizma Adlia :: Rudy Kwang :: SenyumSehat :: Sibermedik :: SimkesUGM :: SuperKecil :: Titah :: Tito :: Tonang Ardyanto :: Tukangkomentar :: Wi :: Vina Revi :: Vina Multiply :: Yusuf Alam R :: zulharman79 ::

:: :: :: :: :: :: :: :: :: :: ::

Institusi Kesehatan

:: Depkes RI :: WHO :: WHO Indonesia :: … nyusul

:: :: :: :: :: :: :: :: ::

Kolaborasi

:: Emedicine :: ICD 10 Wikipedia :: ICD 10 Wiki Indonesia :: OSWD :: OpenWebDesign :: Pakistan Times :: Rubab :: ntar ::

Kategori

BlogTour

Arsip

Komunitas Blog

blog-indonesia.com

PAGE RANK

Powered by  MyPagerank.Net

Add to Technorati Favorites

[Valid RSS]

Health Blogs - Blog Top Sites

Health

Blogs Topsites - TOP.ORG

Health Blogs - Blog Rankings

Blog directory

TopOfBlogs

Top 10 Award

Feed Burner

cakmoki Blog

Bloggerian Top Hits

My BlogCatalog BlogRank

Site Meter

Since 30 Nov 07

PENGUNJUNG

  • 5,303,313 pengintip

Asal Usul

Pebruari 2011

free counters


%d blogger menyukai ini: