Jangan biarkan si melarat tambah sekarat

Serial: pelayanan kesehatan dasar

Berbicara tentang warga miskin opname di RS, hampir selalu menyisakan kisah pilu. Persoalan klasik yang menimpa warga miskin ini sangat mudah dilihat. Pun gamblang jika kita mau sedikit membuka hati untuk mendengarkan suara hati penderita warga miskin. Saat ini, pengelolaan warga miskin diserahkan kepada Askes. Arrrgghhh !!!
Lontaran pertanyaan juga sama saban tahun. Mengapa tidak kunjung membaik ? Mengapa bahkan cenderung memburuk ?

:: :: :: MENGUAK RUANG PERAWATAN :: :: ::
Bagaimana penderita warga miskin dirawat di RSU ? Plesetan lagu Ebiet G Ade mungkin bisa mewakili:

Banyak cerita yang mestinya diucapkan ….
pasien miskin menangis sedih, oh oo oo oo …
coba dengar apa deritanya, … betapa nestapa pasien miskin, ohhh ooo ooo ooo …

Seorang tetangga pemegang kartu miskin yang menunggu keluarganya dirawat di RSU Kota kami, mengungkapkan:

saudara kami tidak terawat (gak kopen: bhs jawa, pen). Jarang ditengok dokter, perawatnya cemberut, sprei dan sarung bantal tidak pernah diganti selama dirawat.
Selanjutnya, dia bertutur sambil guyon, ” apa memang begitu nasib orang miskin kalo sakit ya … ditunggu sampai meninggal (nganti sak matine: bhs jawa, pen) “.

Kendati bernada guyon campur kesal, penuturan tersebut patut mendapatkan perhatian. Mestinya diantisipasi sejak dini (kalo mau dan serius).

Barangkali ada yang mati-matian mengatakan bahwa dengan adanya dana Gakin yang dikelola PT. Askes sangat membantu. Oke, penulis tak akan membantah pernyataan tersebut.
Namun kita juga berhak bertanya: ” benarkah ?
Oho, pertanyaan pendek. Penulis yakin, para pelaksana enggan menjawabnya secara jujur.

Tinjauan dari sisi medis sangat mudah. Coba periksa rekam medis setiap pasien warga miskin, lalu ambil sampelnya secara acak (random sampling). Selanjutnya mari kita telaah:
Apa benar pasien tersebut sudah mendapatkan perawatan yang sama seperti pasien tanpa pemegang kartu miskin dengan penyakit dan kelas ruang perawatan yang sama ? Rekam medik akan berbicara !!!

Contoh:
Pasien miskin menderita penyakit A. Kita bisa melihat berapa kali diperiksa dokter selama masa perawatan. Obat apa saja yang diberikan, meliputi: jenis, dosis, cara pemberian dan jumlahnya. Sesuaikah dengan penyakitnya ?
Jika hanya melihat yang kasat mata, kita hanya tahu bahwa si pasien mendapatkan cairan infus, disuntik lewat selang infus, dll.
Kita lupa atau tidak mau menanyakan, seperti apa kualifikasi infus set (selang infus), cairan infus, obat dan lain-lain.
Bagi orang awam, mungkin tidak sampai menilai aspek teknis medis. Namun tidak bagi dokter. Seorang dokter tahu persis, apakah dia dibatasi kompetensinya atau tidak. Nuraninya akan bicara.

Seorang teman dokter yang akrab dan menjabat komite medik mengeluhkan hal ini. Dia merasa kasihan melihat tatacara perawatan pasien miskin. Ketika penulis mengingatkan bahwa dia punya kewenangan untuk merubah, dia merasa tidak berdaya merubah untuk perbaikan lantaran sudah ada yang mengatur.
Para klinisi mengatakan dirinya hanya sebagai dokter fungsional yang tak punya wewenang manajerial. Ya, ini benar. Para dokter fungsional ibarat berada dipersimpangan.
Wow, … ada apa ini ? Olala … yang tau ngacung !!!

Sebelum mengetahui gonjang-ganjing di balik ruang perawatan pasien miskin, penulis banyak berdiskusi panjang dengan beberapa teman akrab di beberapa RSU. Bahkan sempat sedikit mencela teman akrab yang penulis anggap kurang gigih memperjuangkan perbaikan.
Ya, penulis mafhum, ada sekat luar biasa tebal … mohon maaf para sahabatku.

Dari sisi manajerial, kita tidak pernah tahu dan tidak pernah diberi tahu, berapa persen dana yang benar-benar digunakan untuk layanan warga miskin dan berapa persen untuk PT. Askes, berapa persen untuk keperluan bukan layanan.
Ekspos penggunaan dana sebagai bentuk pertanggung jawaban dari pihak pengelola jangan harap bisa terkuak. Kecuali jika pengusutan dugaan penyalahgunaan yg konon bernilai trilyun (ini uang lho) dikupas tuntas.
Apa iya? Mbuuuhhh .. !!!

Penulis menduga, pihak pelaksana pelayanan, yakni: RS, Puskesmas, termasuk di dalamnya para dokter, tidak tahu juga berapa persen nilai dana untuk pelayanan. Paling pol hanya klaim. Ehm, katanya sih kerja sama. Berani buka-bukaan gak ?
Lha kalo pelaksana pelayanan yang langsung berhadapan dengan pasien gak tahu nilai dana untuk pelayanan, apa bedanya pelaksana pelayanan tersebut dengan penjaga toko?
Coba renungkan !!!

:: :: :: KILAS BALIK :: :: ::
Penerapan Undang-undang nomer sekian tahun sekian tentang ditunjuknya PT. Askes sebagai pengelola Dana Gakin (keluarga miskin), sama sekali tidak mencerminkan perhatian sungguh-sungguh terhadap masalah kesehatan warga miskin. Lebih mirip dagelan ketimbang upaya perbaikan.

Konon, kebijakan tersebut dibuat berdasarkan penilaian bahwa Jaring Pengaman Sosial Bidang Kesehatan (JPS-BK) yang sebelumnya sebagai produk Depkes untuk menangani masalah kesehatan warga miskin, dianggap kurang berhasil. Hihihi, hanya anak kecil yang bisa dibohongi model beginian.
Setelah ditangani PT. Askes ternyata tambah ruwet, amburadul. Tak pernah sekalipun ada evaluasi terbuka pemakaian dana Gakin bidang kesehatan.

Penulis pernah mengecam pedas persoalan ini di TV Lokal (siaran langsung) yang dihadiri utusan PT. Askes dari Jakarta dan pejabat setempat.
Seperti diduga, janji perbaikan sistem pengelolaan dan evaluasi tak pernah terjadi. Akan … akan … dan akan. Bahasa klasik membosankan.

:: :: :: MENCARI SOLUSI :: :: ::
Bagi dokter yang mendambakan upaya perbaikan akan dihadapkan pada pertanyaan:

” dapatkah merubah sistem agar pasien miskin mendapatkan perawatan yang layak ?”
Hingga kini, masih berkutat pada ungkapan: bagaimana caranya, siapa saja yang punya kompetensi, darimana mulainya, dapatkah berinovasi, bagaimana jika tidak tunduk aturan depkes (UU), apa sangsinya, beranikah menuai resiko, siapa yang berani memulai dalam skala kecil … dan … bla bla bla.

Pernahkah para pembaca mendengar atau mengalami pengalaman pahit terkait perawatan warga miskin di RS ?

Mari berbagi

:: :: :: nantikan :: :: ::
serial posting berikutnya tentang upaya memperbaiki pelayanan perawatan bagi pasien miskin dalam lingkup mini.

Iklan

41 Responses to “Jangan biarkan si melarat tambah sekarat”


  1. 1 almascatie Agustus 8, 2007 pukul 5:15 am

    dia merasa tidak berdaya merubah untuk perbaikan lantaran sudah ada yang mengatur.

    aku heran.. ini negara membingungkan sekali, kadang pada saat ada orang yang kompeten dan berpikiran maju, malah terbentur pada “tembok tebal” yang sengaja didirikan oleh siapa dan entah siapa, tapi kadang juga pada saat kesempatan untuk merubah itu ada manusianya yang malah mengambil kesempatan untuk memeuhi kebutuhan sendiri.. oalah indonesia.. indonesia…. πŸ™‚

    Penerapan Undang-undang nomer sekian tahun sekian tentang ditunjuknya PT. Askes sebagai pengelola Dana Gakin (keluarga miskin)……..

    Hmmm satu lagi cak menurut saya.. semua perusahaan negara sekarang bukan lagi ‘Milik Negara’, semua perusahaan tersebut telah beralih menjadi perusahaan profit sehingga penghitungan mereka tidak lagi perhitungan pelayanan tetapi untung rugi.. so dalam pelayanan terhadap orang miskin sangat wajar jika asal-asalan dan lebih parah lagi kondisi ini malah berdampak kepada “perawat-perawat dan dokter” di RS. itung-itungan bisnis yang dipake..

    terakhir…

    Banyak cerita yang mestinya diucapkan ….
    pasien miskin menangis sedih, oh oo oo oo …
    coba kawan apa jawabnya, … ditengah nestapa pasien miskin, ohhh oo oo oo …

    ga bisa membayangkan cakmoki nyanyi pas lirik yang ditebalin hahahhaa :mrgreen:

  2. 2 vend Agustus 8, 2007 pukul 6:37 am

    wah, gini mah di surabaya udah jadi makanan sehari2 cak. jadi inget, RSu karangmenjangan dulu pernah jadi headline ato cover story di jawapos karena sempet menelantarkan pasien2nya. tau ndak, pasien2nya ditaruh mana? di lorong cak. iya, di lorong jalan tempat lewat itu..
    ndak cuma satu-dua, tapi sepanjang lorong itu.. padahal banyak yang sakit parah gitu, tapi ndak tau juga si kalo waktu itu musim penyakit jadi RSnya penuh πŸ™„

    tapi aku pernah ngalami sendiri, bedanya pelayanan kelas III, II, sama level pavilyun di salah satu RS ‘rakyat’ di sini dalam satu waktu. beda cak! di kelas III, siapapun dilayani dengan ‘galak’, karena asumsinya yang kuat di situ cuma rakyat kecil yang bandel2. di kelas II, ndak beda jauh sama kelas III. lha yang pavilyun ini beda. buaeeeekk buanged. wajar si, orang tarifnya beda, kan ya?

    tapi bukannya perbedaan tarif cuma menunjukkan bedanya fasilitas? kaya misalnya di klas III dapet bed jelek, di klas II dapet bed bagus, trus di pavilyun bed-nya buagus, ada AC, kulkas, tipi, kamar mandi sendiri, deelel. tapi kok kenyataanya pelayananya juga beda secara signifikan? ya perhatiannya, keramahannya, profesionalitasnya, dll.

    haih, indonesia gitu lo ven. πŸ™„

    *scroll komenku sendiri, kok panjang ya?*

    makanya cak, jadi mentri kesehatan aja :mrgreen:
    ya, ya, ya, ya, ya,, *gaya nagabonar* πŸ˜‰

  3. 3 juliach Agustus 8, 2007 pukul 7:23 am

    Oalah Cak…Cak…wong anakku meh mati ning RS Marinir Cilandak KKO Jakarta goro-goro ora duwe duwit cash 2jt. Ini di bulan januari 2002.

    Padahal di kasirnya tertempel VISA CARD, MASTER CARD & BCA CARD, begitu mau bayar pakai kartu, kasirnya bilang petugas yg punya otorisasi sudah pulang. Jadi kami harus cari uang kas di ATM BCA jam 2 pagi (BINGUN DEH APA SEMUA ORANG PUNYA UANG KAS RP 2JT DI RUMAH?). Selama suamiku cari uang, dokter UGD diam saja: anakku tidak diperiksa. Mereka biarkan saja Ines menangis & muntah-muntah.

    Begitu ada uang, baru dah itu anak diperiksa dan diinfus. Disuruh opname. Aku ambil klas VIP aja. Besok paginya, semua orang ramah sekali sama diriku. Berhubung lagi sewot banget aku sindir semua dari dokter sampai ke cleanning service : “Bah!!! Kau ramah karena aku punya uang!!!”. Lalu aku cari direkturnya selalian, aku marah-marahin saja sekalian : aku bisa tuntut RS jika anakku mati krn tidak dirawat gara-gara uang.

    Sontoloyonya mereka tenang dan senyum-senyum aja.

    Saking keselnya aku gambar RS, dokter, perawat & petugasnya tersenyum dgn mata melotot berisi RP 2jt & aku tempel di kaca kasir.

    Wong-wonge wis kebal weruh wong mati B E. Kuntilanak bener deh MEREKA ITU!!!

  4. 4 Lita Agustus 8, 2007 pukul 8:06 am

    Ini maksudnya nanggapi kemunculan bu Menkes yang bareng Kelik pelipur lara di MetroTV kemarenan itu, cak? Begitu tahu temanya tentang jaminan kesehatan rakyat miskin, saya langsung ingat cak Moki hehehe…

    Nonton secuil acara itu, yang ada saya lebih tertarik dengan Kelik, karena kalimatnya garing tandas seperti kerupuk yang masih baru: enak.
    Mungkin bu MenKes terkesima sama Kelik ya, jadi banyakan senyam-senyum doang, entah ngerti atau ngga arah ‘nyepet’nya Kelik πŸ˜€

  5. 5 cakbud Agustus 8, 2007 pukul 9:28 am

    Pancen kabeh podo carut marut, ra ono sing jelas.

    Gak tahu persis letak kesalahannya dimana..
    JPS-BK yang secara program begitu bagus, tapi begitu dilapangan gak sampai pada penerimanya.
    Tak pikir UU saja gak cukup… lha wong Peraturan dibuat untuk dilanggar πŸ˜›

    Bravo Cak Moki dan salam kenal

  6. 6 evi Agustus 8, 2007 pukul 10:42 am

    saya dukung cak moki jadi mentri kesehatan, hehehe….
    iya, nih kenapa bu menkes ini marah-marah mulu ya…? sebenarnya ada apa antara PT. askes, RS dan produsen obat, kayaknya ruwet banget jadi pusing kalo baca beritanya. dan lagi-lagi yang dirugikan rakyat.

    oh ya, kebetulan saya pengguna ASKES Plus, pelayanan di RS sepertinya memang beda dgn ASKES biasa spt kepunyaan Bapak saya yg PNS.

    dan sepertinya sosialisasi penggunaan ASKES Plus di daerah masih kurang, seperti waktu saya melahirkan di Tegal, dan kebetulan lagi butuh darah di PMI petugasnya tidak mau menerima kartu ASKES saya, alasannya belum pernah melihat kartu askes seperti itu. Jadi harus nunggu bosnya dulu yang saat itu tidak ada di tempat, terpaksa bayar dulu…..

  7. 7 joerig Agustus 8, 2007 pukul 10:52 am

    Cak Moki for President !

  8. 8 Shinta Agustus 8, 2007 pukul 1:23 pm

    cakmoki …

    Kalau UU nomor sekian tahun sekian itu gak ada cak… πŸ™‚

    saya lengkapi ya..UU no 40 tahun 2004 tentang sistem jaminan sosial nasional. dipasal 5 ayat 3 bagian d. disebutkan bahwa salah satu badan penyelenggara jaminan sosial adalah PT ASKES. Yang perlu ditanyakan kenapa harus ASKES ada banyak koq perusahaan asuransi yg lain…

    Kalo semua perusahaan negara ( BUMN) sekarang ini tujuan nya mencari profit…ya gak salah… tujuan pendiriannya dari zaman dulu sampai sekarang ya untuk mencari keuntungan.

  9. 9 almascatie[udah pulang] Agustus 8, 2007 pukul 1:39 pm

    oit balik lagi gara-gara baca comment nya mba` Juliach
    parahhh betullll apa lama-lama – contoh:- RS Fatmawati berganti nama menjadi PT. Fatmawati ? ga hanya orang miskin ya..

    ada uang “dokter” sayang….
    Ga ada Uang “Cash” dokter kabur

    –“

  10. 10 sibermedik Agustus 8, 2007 pukul 3:09 pm

    Perjelas mekanisme ASKES,ASKESKIN, ASTEK & JAMSOSTEK!!!
    Banyak masyarakat gak mudheng opo kuwi??
    jadi dimanfaatin oknum2 nakal….menggelembungkan dana…

  11. 11 sibermedik Agustus 8, 2007 pukul 3:13 pm

    btw,gantian comment dong????

  12. 12 sibermedik Agustus 8, 2007 pukul 3:15 pm

    cak miscall po’o kalo mo chat d YM???
    ntar bs ngobrol he..he..mumpung blm masuk kul…
    08562997978

  13. 13 suandana Agustus 8, 2007 pukul 3:48 pm

    Tapi yang punya uang juga kadang diperlakukan dengan agak ‘aneh’ tuh Cak. Dikasih obat yang harganya mahal dan kurang cocok untuk pasien. Malah bikin komplikasi. Untuk ngobati komplikasi itu, dikasih obat lain yang harganya mahal juga… Padahal waktu dikonsultasikan ke dokter di RSU lain (di Jember), katanya obat yang diberikan itu termasuk obat keras dan ndak boleh diberikan kepada pasien itu. Bingung kan, jadinya… Mana yang bener?

  14. 14 jejakpena Agustus 8, 2007 pukul 5:38 pm

    *Baca entry sama komentarnya*

    Bleh, memprihatinkan dari jaman-jaman sampe sekarang rupanya masih kaya begini ya Cak.

    Cak, kalau rame-rame pada protes `sistem aneh` itu, bisa kan terungkap? Masa sampai segitunya sistem itu `nekan` layanan kesehatannya. 😦

    Ditunggu bagian selanjutnya, ^^

  15. 15 OmSul Agustus 8, 2007 pukul 7:00 pm

    Cak, tau gak gmn caranya biar postingan diatas ndak cuma jadi postingan (yang nantinya tertumpuk dan terlupakan),tapi bisa menjadi suatu langkah nyata yang benar2 dilakukan dan benar2 bermanfaat?

  16. 16 juliach Agustus 8, 2007 pukul 7:10 pm

    Sebetulnya mengontrol realiasasi ASKES/GAKIN/teman-temannya itu gampang. Wong goblog aja bisa melakukannya, tinggal mau apa enggaknya.

    Coba aja Menkes berkunjung ke Puskesmas/RS tanpa ada agenda. Jadi tidak ada orang yg tau kunjungan mendadak itu. Masuk ke kelas II dan III (kalo ada kelas di bawahnya juga).

    Pasti dia akan menemukan 9 dari 10 RS yg gombal. Cukup menemukan 20 RS gombal (bersama semua personilnya) langsung diproses & disiarkan di TV, bisa membuat takut semua RS untuk melakukan renovasi.

    Berhubung Menkesnya goblog ora jamak & ora mari-mari, ya keadaan yg Cakmoki sebutkan ya tetap mencengeram erat di RI bagaikan kanker akut.

    Bener ngak kawan-kawan?

  17. 17 telmark Agustus 8, 2007 pukul 9:26 pm

    Blog apa ini ? hah ? Hah ? HAH ??? jgn meng-ekspos askes dan depkes sembarangan ya ?! (sambil tolak pinggang, tepat diatas ikat pinggang channel). kalau semua dana dikemukakan terang2-an, nanti saya dan anggota lainnya tidak bisa traveling lagi.

    Kenapa diributin sih orang2 miskin tsb ? kan yg namanya “MATI” tuh sudah takdir. jadi biarin aja mereka2 itu sekarat, yg penting kami asyik. sekali lagi : ASYIK. (kali ini sambil benerin kacamata oakley asli, buat maen golep).

    kalau kami dipusingin ama masalah2 “KECIL” spt ini, bagaimana kami bisa mengganti rolex kami dgn PP bertabur berlian ? hah ? Hah ? HAH ??? (merapikan kerah armani). πŸ™‚

  18. 18 imcw Agustus 8, 2007 pukul 10:57 pm

    bukannya rakyat miskin sudah biasa dimanfaatkan untuk dijadikan proyek cak?…

  19. 19 Astri Agustus 8, 2007 pukul 11:27 pm

    negara yang membunuh rakyat miskinnya dengan pelan dan pasti 😦
    Menkesnya muggle gak mutu, hidup menkes WP πŸ˜€

  20. 20 Fa Agustus 8, 2007 pukul 11:36 pm

    ah, saya jadi inget sebuah pengalaman, saat itu saya lagi njenguk anak temen saya yang sedang dirawat karena DB di sebuah RSU (di Malang), saat itu, anak teman saya itu sekamar dengan seorang pasien anak yang ditunggui oleh seorang wanita paruh baya (neneknya kali), kata temen saya, mereka pemegang kartu gakin (nggak tau saya apa istilahnya).

    kebetulan hari itu anak temen saya sudah boleh pulang, karena obat2an yang dibeli di apotik RS (sesuai resep dokter) nyisa cukup banyak, maka temen saya bertanya pada seorang suster, apakah obat itu bisa dikembalikan ke apotik, si suster dg muka datar menjawab ‘boleh’. lalu, si nenek yang menunggu pasien sebelah ikutan bertanya dg polosnya “niki obate ngge taseh kathah, dinapaaken nggih?”

    ajaib, si suster menjawab dg keras tanpa menolehkan muka dan dg nada yang menurut saya cukup sinis “tak suntikno kabeh tah??!”

  21. 21 cakmoki Agustus 9, 2007 pukul 12:12 am

    @ almascatie,
    1. Dua kondisi berbeda, berakhir dengan muara yang sama … dan korbannya sama, selalu rakyat kecil yang tak berdaya.

    2. Bener om boy, kondisinya emang begitu, pihak yang diberi kewenangan mengelola mengambil profit dan pihak pelaksana ada (baca: banyak) yang ikutan bermain. Eh, koq paham banget masalah ini sih …

    3. nyanyinya ga pakai nggol senggolan koq πŸ˜€

    @ vend,
    ya, sekitar pertengahan Juli yg lalu ramai tentang pasien miskin yang tertunda penanganannya karena tidak dibiayai oleh pihak pengelola. Kalo ga salah yg bicara di tipi Prof. Urip. berarti emangada yang ga beres seputar pengelolaan Askeskin.

    Nah, soal perbedaan layanan, di negeri ini masih sulit menerapkan pelayanan berkualitas berdasarkan penilaian pasien.
    Harapn kita sih, walau beda fasilitas, pelayanan mestinya harus sama, ramah, sabar, perhatian.
    Saya juga bertanya-tanya, mengapa hal kecil seperti itu sulit dilaksanakan ?
    Tanya kenapa ?

    @ juliach,
    Wuiiihhh, serem sekali mbak …
    1. Pasien tidak diperiksa, tidak ditangani sebelum ada uang cash, sementara petugas yg menangani card udah pulang.
    gak bisa ikut komentar, saking ngenesnya

    2. Setelah di ruang VIP, semua dokter dan perawat menjadi ramah
    … malang benar pasien bukan VIP

    3. Karikatur dokter dan perawat melototin uang 2 juta
    hihihi, ada copiannya ga mbak ? … *ingin tau soale*

    @ Lita,
    saya malah ga tahu Bu, ga nonton Metro. Mesti kalo yg jelek-jelek inget saya πŸ˜›
    Jangan-jangan beliau masih gencar mengkampanyekan Askeskin … *curiga mode ON*

    Nyesel deh ga nonton, … Bu Menteri mah nurut ama para punggawa kali.

    @ cakbud,
    salam kenal cakbud (rasanya pernah kenal πŸ™‚ )
    ok setujuh. JPS BK sama saja, konon di tingkat RS ada lah yg bisa menggunakan untuk perbaikan sarana fisik.
    Selebihnya bener tuh, … gak nyampai, dimusnahkan, “dimanfaatkan” dll.
    Akhirnya terpulang kepada para pelaksana. Hehehe, ngenes betul nasib wong miskin, hanya untuk obyek doang ya

    @ evi,
    hmmm ada … Askes plus, ada Askes prima, ada apa lagi ya …
    Nama okelah, … bagi kita, apapun namanya jika pelayanan jelek tetaplah jelek, jika bagus tetap bagus walau tanpa embel-embel plus.

    Promo soal Plus dan Prima udah merambah kemana-mana koq. Di tempat kami, penggunanya jarang menggunakan kecuali kalo pas opname. Itupun adakalanya nambah juga, hehehe … lucu ya

    @ joerig,
    waduhhh kaget saya, … presiden yang di deket siberia aja Teh πŸ˜€

    @ Shinta,
    thanks mbak, maaf saya agak gimana gitu nyebutin UU no .. Th …., soalnya saat mau diundangkan saya ikutan milisnya, hehehe.
    tentang Insurence pun udah ditanyaken di milis dan jawabannya biasa lah.
    Ada pasal profit yg ..% mbak … padahal dalam UU lain disebutkan bahwa dana gakin tidak boleh profit.

    Anehnya, ketika ada yg memperkarakan masalah ini di MK dan konon pihak penuntut dimenangkan, koq ya akhirnya balik ke askes lagi … masalah “berkat” ?

    BUMN is profit market., … dana gakin diserahkan ke lembaga profit. Coba tanya PT. Askes, … ga usah kaget kalo beliau-beliau itu mengatakan tidak mencari untung. Ya jelas, wong Untung suropati udah gak ada πŸ˜›

    @ almascatie[udah pulang],
    huahahaha

    @ sibermedik,
    Bagi warga kebanyakan, mekanisme udah jelas … maksudnya jelas ra mudheng.
    saya melihatnya bukan lagi oknum melainkan sudah tersistem.

    ok, mohon dimaafkan deh … lampu sering mati soale, jadi sementara masih ga banyak blogwalking.
    sip, no hp dah masuk memori πŸ™‚

    @ suandana,
    Separah itu ya …
    Setiap institusi layanan medis wajib memiliki prosedur tetap (seperti RS Sulianti). Protap inilah sebagai payung untuk pasien dan dokter. Langkah perawatan termasuk pemberian obat harus berdasarkan pada protap, ga bisa suka-suka.
    Sejujurnya, sayapun ga yakin setiap RSUD memilikinya.

    Tanpa protap atau seorang dokter melakukan tidakan medis (pengobatan) di luar kelaziman, salah.

    @ jejakpena,

    Cak, kalau rame-rame pada protes `sistem aneh` itu, bisa kan terungkap?

    Bisa. Sayang jarang yang mau.
    iya sih mbak, seandainya semua atau separo saja para pelaksana di institusi kesehatan protes, kita yakin bisa merubah sistem.
    Masalahnya mbak, *bisik-bisik* ada yang ikutan bermain di arena itu.

    @ OmSul,
    Langkah nyata udah posting Om, bersambung.
    Yang ini nyusul ya, tenang aja. Bukan hanya protes koq … ya ada lah langkah konkrit yg kami lakukan walaupun skala kecil sesuai wilayah kerja kami.

    @ juliach,
    seru nih … πŸ˜€

    Coba aja Menkes berkunjung ke Puskesmas/RS tanpa ada agenda. Jadi tidak ada orang yg tau kunjungan mendadak itu. Masuk ke kelas II dan III

    setuju mbak, … kalo perlu menyamar jadi pasien, biar beliau merasakan dibentaki anak buahnya di RS, hahaha … mau gak ya …

    Wow, asyik tuh disiarkan di tipi, tapi yg ini saya gak mau ikut mbak πŸ˜€

    @ telmark,
    hua hahaha …
    Persis pejabat deh kalo gini, enaknya direkam trus disebarkan keseluruh RS di pelosok negeri.

    @ imcw,
    emang sudah perannya kayak gitu kali ya πŸ˜†

    @ Astri,
    Merdeka !!!
    *mengacungkan tangan tergenggam sambil macak Bagong*

    @ Fa,

    si suster menjawab dg keras tanpa menolehkan muka dan dg nada yang menurut saya cukup sinis β€œtak suntikno kabeh tah??!”

    Jawab sang nenek pemegang kartu gakin: ” suntikno nang dapurmu dewe nduk ”

    Mbak, mungkin si suster ganas tersebut nanti kalo mati jalan sendiri, gak mau digotong orang lain, makanya sak enake dewe

  22. 22 dokterearekcilik Agustus 9, 2007 pukul 1:21 am

    Sungguh terrrlaalu (sambil nggosok dagu kayak samin di si Entong πŸ™‚ )
    Emang bikin geram mode jadi:ON kalo bicara masalah askeskin. Makanya orang pusat kalo bikin aturan jangan “think locally act globally”. Liat di Jakarta tapi di terapkan di seluruh Indonesia. Pasti gak cocok… Setujuuu kalo cak moki jadi menkes, jangan lupa program pertamanya mancing, wisata kuliner dan nge-blog
    Negara kok kayak gini…. gak masuk akal (gaya iklan permen *****…..)

  23. 23 cakmoki Agustus 9, 2007 pukul 2:25 am

    @ dokterearekcilik,
    Hasil study banding ke luar negeri kali mas, trus dicopy-paste di indonesia, … sing penting lak “sabetane” … curigesien mode ON.
    Jadi menkes boleh, asalkan rakyatnya cuman 3 orang … anak dan istri, hahaha
    betah melekan ya mas ? … *kompak*

  24. 24 itikkecil Agustus 9, 2007 pukul 10:34 am

    cakmoki for magic health minister…

    :mrgreen:

  25. 25 Shinta Agustus 9, 2007 pukul 11:14 am

    walau pun Bu Menkes sering di goblog2in, saya masih simpati koq. Ibu itu masih mau lho ngurusin 250 juta rakyat Indonesia dengan berjuta2 masalah kesehatan, Cakmoki aja… kalo jadi menkes cuma mau ngurusin 3 orang rakyatnya….

  26. 26 cakmoki Agustus 10, 2007 pukul 1:47 am

    @ itikkecil,
    presidennya: mbak ira *siyul-siyul*

    @ Shinta,
    huahahaha, iya ya … bener juga tuh mbak πŸ˜†

  27. 27 Lily Agustus 14, 2007 pukul 10:49 am

    @Shinta

    Lha iya mesti mau, orang ditunjuk/diangkat.
    Klo gak mau, gak mau ambil resiko (seperti Cakmoki misalnya.. ;p),
    ya jangan mau ditunjuk, wong Pak Pres nunjuknya juga gak maksa kok,
    yg lain juga masih banyak yg mau ditunjuk klo Ibu Siti gak mau..

    Tapi seharusnya,
    klo sudah ditunjuk (menduduki jabatan apapun..), berusahalah melaksanakan pekerjaan sebaik semaksimal mungkin.

    Dalam skala kecil,
    Cakmoki sudah menginventarisir beberapa masalah di bidang kesehatan, baik yg sifatnya lokal (di Kalimantan aja..) sampai yg nasional.
    Cobalah diberesin, sebagai orang yg punya kapasitas, dan (yg terutama..) otoritas untuk itu.
    Klo kita2 ini kan cuma bisa mengkritik. πŸ˜•

    Jadi, menurutku sih, gak usah dipuji klo karena sekedar ‘mau’ mengurusi sekian juta orang (wong memang dibayar untuk itu..), pujilah ketika ‘berhasil’ mengurusi sekian juta orang.

    Gitu lho mbak.. πŸ˜‰

  28. 28 Shinta Agustus 14, 2007 pukul 12:29 pm

    Saya tidak memuji mbak, hanya bersimpati…

    kita2..itu maksudnya siapa mbak?

    Cakmoki nggak termasuk dong… kan cakmoki bukan cuman mengkritik tapi memberikan solusi juga …

  29. 29 itikkecil Agustus 14, 2007 pukul 12:53 pm

    presidennya: mbak ira *siyul-siyul*

    saya jadi rakyat jelata aja cak…. biar bisa menghujatkritik menterinya :mrgreen:

  30. 30 cakmoki Agustus 15, 2007 pukul 3:46 am

    @ itikkecil,
    sama, … rakyat aja deh enak, gak dimintain tanda tangan .. hehehe *kompak, tosss*

  31. 32 triesti Desember 1, 2007 pukul 5:30 pm

    hehehehe.. lawong ada dokter berobat ke rumah sakit lain aja di taro di lorong di Surabaya, kalo yg rakyat ya ‘normal’ buat mereka.

    makanya, punya kenalan dokter.. trus minta tengokin biar dokter yg disana ‘mikir’.

    entah ya kalau di LN yg mana yg dijadiin bahan studi perbandingan, kalau disini, biar kelas 2 (cuma ada pilihan kelas 2 dan 1) tetap ramah semuanya, krn bukan urusan perawat atau dokter berapa si pasien bayar… semua praktis pakai asuransi. kalau bayar sendiri pun, itu urusan administrasi dan pasien. biasanya mereka juga ada dana untuk org tak mampu.

    Di jakarta banyak lho rumah sakit yg kalau kita tidak pakai asuransi yg mereka ada kerja samanya, ditolak datang. coba.. goblok bener yg bikin peraturan.

    daku bercita2 pasien Ind. lebih terjamin haknya. kesian kalau melihat org yg sakit, tidak diberikan haknya.. seperti itu lho.. the treeman.. yg medical recordnya dikekepin depkes… itu melanggar HAM. medical record tuh milik pasien, bukan milik depkes.. mau si pasien ke mana aja berobatnya, urusan dia. coba kalau the treeman kaya.. depkes ngga bakal berani kayak gitu… liat aja mereka2 yg berobat ke luar negeri, semua boleh pergi, kenapa dia tidak??

  32. 33 cakmoki Desember 2, 2007 pukul 3:00 am

    @ triesti,
    hehehe, apalagi kalo ditengokin sambil bawa bunga πŸ˜‰

    sebenernya sih (yang bener maksudnya πŸ™‚ ) miskin atau gak miskin, asuransi ataupun tidak asuransi, kelas berapapun, pelayanan harus sama dan ramah πŸ™‚ … yg beda kan tempatnya …

    iya, kalo hanya karena gak ada kerjasama trus ditolak kali yang bikin peraturan “pinter”, hehehe … kali mo minta “sesuatu” dari “kerjasama” itu.

    daku bercita2 pasien Ind. lebih terjamin haknya. kesian kalau melihat org yg sakit, tidak diberikan haknya..

    … dan adakalanya *bisa jadi sering* malah dijadikan lahan hijau untuk menambah pundi-pundi … kayak “program Gakin” yang via askes itu lho …arrrrgggh

  33. 34 kadri Januari 15, 2008 pukul 3:14 pm

    masya Allah…. kenapa sich semua orang pada curiga. Kami sebagai pegawai PT. Askes melaksanakan amanah dengan ikhlas tanpa ada imbalan apapun. Biar kita semua tahu… bahwa PT. askes tidak mendapat bayaran. hanya 5 % untuk biaya operasional. Kami tidak pernah menikmati hasil dari bekerja membantu program askeskin. Kami juga sangat bersyukur kalau ada perusahaan lain yang mau menangani program ini. Saya cuma mengingatkan, tolong kita melihat dahulu akar masalah. Jangan langsung memvonis segala sesuatu. Coba tanya pada diri sendiri apa yang sudah kita perbuat untuk negara ini. Semoga Allah yang maha kuasa mengampuni kita semua. Amien ya robbal alamin… terima kasih

  34. 35 cakmoki Januari 15, 2008 pukul 11:57 pm

    @ kadri:
    amiennnnn πŸ™‚
    5 % untuk operasional ? itu dari sekian trilyun lho … mengapa gak dipertanggung jawabkan ke publik?
    Lagu lama ah, coba tengok lagi uu yg mendasari itu … and pertanggung jawabkan secara terbuka dong, kalo cuman defend mechanism semua oreang juga bisa. Lagipula kenyataan udah bicara kan ?
    Kalo ingin tahu suara para dokter senior tentang itu, coba tengok lagi pra-peluncuran program tersebut, pedas deh. Arsipnya ada di situsnya desentarilasi kesehatan …
    Ingat, kami orang lapangan yang bersentuhan dengan pasien secara langsung, dan maaf, saya bukan dokternya Askes …hahaha

  35. 36 Shinta Januari 16, 2008 pukul 9:11 am

    Menurut berita, Depkes sudah memutuskan untuk tidak bekerjsama lagi dengan PT Askes dalam mengelola Askeskin, katanya siyy ..pemerintah gak sanggup lagi bayar premi yang dinaikkan oleh PT Askes.

    Jadi masyarakat yang tidak mampu , gak bisa berobat gratis lagi ya cak? Ke Puskesmas bayar lagi ya..?? 😦

  36. 37 cakmoki Januari 16, 2008 pukul 2:28 pm

    @ Shinta:
    ya mbak, saya baru pagi tadi baca beritannya. Ini Kabar Gembira !!! horeeeeee … moga cerai beneran !
    ya iyalah, siapa sih yg bilang gak cari untung …hehehe, orang jualan di pasarpun bilang gitu πŸ˜›

    Tetap Gratis !!! soalnya dana turun langsung ke unit pelayanan, gak pakai tangan-tangan lain lagi…horeeeeeee
    Ntar malam nulis postingnya ah

  37. 38 Nuke Juli 6, 2008 pukul 12:38 pm

    saya sangat sedih melihat pelayanan medis & paramedis dinegara ini, semboyan RS sangat bagus namun pelaksanaanya sangat bertolak belakang. saya juga paramedis namun apa daya saya untuk merubah sikap temen2 yang lain untuk care kepada pasien, saya hanya berharap mudah2an calon-calon paramedis berikutnya bukan karena pilihan akhir namun panggilan jiwa….. satu hal yang selalu jadi harapan saya pasien datang berobat dapat kenyamanan hati walapun fasilitan tidak lengkap tidak jadi masalah yang penting pelayanan dan penerimaan yang luar biasa nyaman, bukan obat saja yang menyembuhkan penyakit namun pikiran yang tenang dan senang 70% membantu ksembuhan pasien. GBU

  38. 39 Nuke Juli 6, 2008 pukul 12:49 pm

    aduhhhh kenapa jadi saling menyalahkan neh….. saya kurang paham soal Askes namun saya ada pengalaman dimaka RS yang ditunjuk untk pelayanan ASKES eh malah cari untung dari obat-obat askes yang disuplay pemerintah eh dijual mahal ke swasta waooooooo gawat memang sekarang.. tentu saja bukan dokter yang melakukan tapi pengelolanya.. manusia memang ada kurang dan lebihnya kadang ASKES sudah penuhi permintan dari RS namun apakah RS tersebut juga sudah dengan jujur menggunakan pelayanan ASKES tersebut…. saya binggung dan kaya pemerintah perlu banget meninjau langsung kelapangan.

  39. 40 cakmoki Juli 6, 2008 pukul 6:47 pm

    @ Nuke:
    Setuju !!! … saya salut, biarkan yang lain gak mau merubah sikap, yang penting kita selalu bersikap care pada pasien dan keluarganya tanpa membedakan kaya dan tidak mampu.

    hmmm, saya tidak bermaksud saling menyalahkan tapi mengajak saling terbuka, jangan sampai para pelaksana pelayanan kesehatan hanya jadi alat atau hamba sahaya yang akhirnya hanya merugikan pasien.
    So, lebih baik saya terbuka ketimbang diam tapi hati ngenes … hehehe


  1. 1 Again, August Moment « Yang Berjejak Lacak balik pada Agustus 14, 2007 pukul 5:32 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Wong ndeso β„’

cakmoki

Wordpress Indonesia

Silahkan baca

DISCLAIMER

web tracker

9 Desember 2009

SEMENTARA TUTUP

Maaf, sementara Blog istirahat hingga ada pemberitahuan

Harap maklum


MARI HENTIKAN KORUPSI

Jangan Korupsi Ah

No Korupsi

Internet Sehat

Warga Bicara

» Makasih PLN, listrik Samarinda dah membaik, moga gak byar-pet

» Waspada Demam Berdarah

» Jangan Gunduli Palaran

» Banjir...banjir. Kapan masalah ini teratasi ?

INGA INGA INGA

» Nyeri Urat or Tulang BUKAN berarti Penyakit Asam Urat.

» Sekali lagi: Pegal, Linu Tidak Identik dengan Penyakit Asam Urat

TEMANs

9racehime | A. Fatih Syuhud | Aditiawan Chandra | A.Tajib | Agung UD | aLe | alief | alle | almascatie | Amd | Anak Peri | Anak Sultan | Anang | Anang YP | Anas | Andalas | Anggara | Anjaz | Anti Pungli | Antobilang | Anung87 | Aribowo | Arif Kurniawan | Arul | Astikirna | awan965 | axireaxi | Bambang alias HR | BatakNews | Blog Pokoke? | Biho | CalonOrangTenar | Cay | Chandra | Chielicious | chiw imudz | cK-chika | Dalamhati | Deden Nugraha | deedhoet | deKing | Desti Utami | Didats | doeytea | dnial | Edy C | Eep | Elpalimbani | erander | Evi | Fa | Fa wp | Faiq | Fertobhades | Fetro | Fortynine | Freddy | Gadis | Gaussac | Gitablu | Grandiosa | GuhPraset | GuM | Helgeduelbek | Herdy | Indonesia Kita | Indra KH | ItikKecil | iway | Jejakpena | Jennie S. Bev | Joesath | Joko Taroeb | Julee | Juli | Juliach | Junthit | Jurig | Kakilangit | Kang Adhi | Kang Kombor | Kangguru | kawaichu | Kenji | Kenzt | kikie | koecing | Kumala | Kurtubi | Kw | Laras | liezmaya | Lilik Suryanto | Lily | Linker | Lintang | Lita | Lita wp | Luthfi | MaIDeN | Majalah Dewa Dewi | Manusiasuper | Master Li | Mathematicse | macanang | mbojo | Mei | Micokelana | Mr. Geddoe | Mufti | mybenjeng | My-za | Nayla Zahra | Nayz | Ndarualqaz | Neeya | Neo Forty-Nine | Neri | Ninoy | Nieke | Nomercy | n0vri | NuDe | Om Sulis | omaigat | Ooyi | Paijo | Panca | Pandu | Panduan WP | Papabonbon | Passya | Peyek | Pinkina | Pitik | Pralangga | Prayogo | Priyadi | Qee | Raja iblis | RenjanaBiru | rivafauziah | Rivermaya | Roffi | roisZ | Rujak | Sagung | Sahrudin | Saiful Adi | SaRa | Siu | Sofi | Sora9n | Suandana | Suluh | Susiloharjo | Telmark | Thamrin | tiesmin | Triesti | Tukang Sate | Venus | Wadehel | Wahyuansyah | Wandira | Wiku | WongMangli | Wulan | Yati | Yudhipras |

:: :: :: :: :: :: :: :: ::

Kesehatan

:: Ady Wirawan :: Agus Mutamakin :: Anis Fuad :: Anis Fuad wp :: Asri Tadda :: Astri Pramarini :: Astri Pramarini (awal) :: Astri Pramarini wp :: Blog Mahasiswa FKU 2003 :: Blog Rumah Kanker :: Dani Iswara :: Dani Iswara weblog :: Dokter arek cilik :: drAnak :: drarifianto :: Dwi wp :: Elyas :: Erik Tapan :: Evy HealhtySmile :: FK Unsri :: Gies :: Gies wp :: Ginna :: Grapz :: Hendar Sunandar :: HIV News :: Huda Thoriq :: IDI Samarinda :: imcw :: Imran Nito :: Iwan Handoko :: Jhonrido :: klikharry :: Kobal :: Laksmi Nawasasi :: Mashuri :: Mave Mina :: Mbah Dipo :: Mina :: My Blogspot :: Nur Martono :: PKM Palaran :: Rara :: Rizma Adlia :: Rudy Kwang :: SenyumSehat :: Sibermedik :: SimkesUGM :: SuperKecil :: Titah :: Tito :: Tonang Ardyanto :: Tukangkomentar :: Wi :: Vina Revi :: Vina Multiply :: Yusuf Alam R :: zulharman79 ::

:: :: :: :: :: :: :: :: :: :: ::

Institusi Kesehatan

:: Depkes RI :: WHO :: WHO Indonesia :: … nyusul

:: :: :: :: :: :: :: :: ::

Kolaborasi

:: Emedicine :: ICD 10 Wikipedia :: ICD 10 Wiki Indonesia :: OSWD :: OpenWebDesign :: Pakistan Times :: Rubab :: ntar ::

Kategori

BlogTour

Arsip

Komunitas Blog

blog-indonesia.com

PAGE RANK

Powered by  MyPagerank.Net

Add to Technorati Favorites

[Valid RSS]

Health Blogs - Blog Top Sites

Health

Blogs Topsites - TOP.ORG

Health Blogs - Blog Rankings

Blog directory

TopOfBlogs

Top 10 Award

Feed Burner

cakmoki Blog

Bloggerian Top Hits

My BlogCatalog BlogRank

Site Meter

Since 30 Nov 07

PENGUNJUNG

  • 5,328,160 pengintip

Asal Usul

Pebruari 2011

free counters


%d blogger menyukai ini: