Lucu aja

Di posting sebelumnya berulang kali menampilkan fakta betapa lambannya langkah petinggi jajaran kesehatan di daerah kami dalam mengatasi penyakit endemis (misalnya DBD, Diare). Beliau-beliau baru buka suara ketika media memberitakan membludaknya penyakit tertentu di RS. Sekitar 1-2 minggu yang lalu media cetak Kaltim mengekspos diare.

Dua bulan peringatan kewaspadaan terhadap diare terpampang di sidebar kanan atas, tepat di bawah foto wong ndeso ™, font bold warna merah. Pemasangan peringatan tersebut bukan tanpa alasan. Sebulan penuh penulis melihat langsung meningkatnya penderita diare di kecamatan kami berdasarkan angka kesakitan dibanding bulan sebelumnya. Pola tahun-tahun sebelumnyapun memberikan gambaran peta kesakitan yang sama. Ketika itu hujan mulai berkurang, dilihat dari frekuensi per minggu. Bulan berikutnya (Juli), hujan mengguyur kota kami nyaris saban hari, hingga banjir di berbagai tempat, toh penderita Diare makin meningkat. Penulis salah dalam hal cuaca, benar dalam hal peningkatan diare.

Nah ketika media cetak terbesar di Kaltim mengekspos melubernya jumlah penderita diare di RS-RS di kota kami, kelucuan muncul.
Cocok dengan prediksi semula, argumen yang disampaikan kepala dinas kesehatan daerah kami masih sama seperti yang dulu.
Belum terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB). KLB adalah parameter angka kesakitan suatu penyakit menggunakan ukuran tertentu dibanding kasus sebelumnya. Ini hitungan epidemiologi (penyelidikan penyakit) dan masalah kewenangan kepala daerah dalam penyampaiannya. Biasanya kepala Daerah enggan menyebut KLB mungkin lantaran dianggap menurunkan kredibilitaasnya. Bayangkan, jika ini yang terjadi, ancaman penyakit dipertaruhkan hanya dengan kredibilitas seseorang. Betapa murahnya harga rakyat. (kecuali saat pilkada)
Musim kemarau. Kalimat ini sangat lucu lantaran sebulan ini kota kami lagi senang-senangnya menampung curahan hujan yang turun hampir saban hari. Lihat posting crit. Seorang kepala dinas kesehatan bisa-bisanya mengatakan kemarau di saat kota diguyur hujan. Tidak ngerti masalah, ilmu hapalan atau apa ya ? cape deh … Penyakit diare adalah salah satu penyakit menular yang dilaporkan mingguan dan bulanan. Entahlah jika tidak pernah dievaluasi. Parahnya, tidak ada langkah apapun setelah publikasi merebaknya kasus diare. Tak pelak ungkapan pasrah para ibu muncul di media. Walah …

Kejadian ini memaksa penulis menerawang kejadian 14 bulan yang lalu ketika kepala daerah melantik kepala dinas kesehatan kota kami. Apa yang disampaikan kepala daerah di media sangat tidak mendidik dan menunjukkan nuansa politisnya sangat dominan. Betapa tidak, kepala daerah mengatakan dalam sambutannya (diliput media) bahwa untuk menjadi kepala instansi (dalam hal ini kesehatan) tidak cukup bermodal kepintaran, tapi lebih ditentukan ini (kata beliau seraya menunjukkan garis tangan). Jika di suatu kesempatan kepala daerah meneriakkan profesionalisme sedangkan di kesempatan lain menujukkan garis tangan, sulit kita berharap adanya perbaikan. Lha, garis tangannya dibikin sendiri tuh. Suka-suka lah.

Kala itu, penulis menentang secara terbuka, sekaligus memberi masukan beberapa senior kami yang layak menjadi kepala dinas kesehatan kota kami. Upaya face to face pun sudah dilakukan sembari berdiskusi panjang. Beberapa orang masuk nominasi. Penulis tentu gembira karena beberapa diantaranya adalah senior kami yang memang pantas mengemban amanat nan berat. Di saat yang bersamaan menyeruak kecurigaan, jangan-jangan dicantumkannya nominator hanya sebagai pemanis belaka. Terlebih senior-senior yang kami anggap layak (dan diakui pula oleh berbagai kalangan) bukan tipe orang-orang penjilat.

Akhirnya dugaan kami benar.
Selidik punya selidik, nuansa politis ikut berperan sangat besar. Konon kepala daerah merasa terdesak, entah terdesak oleh siapa.
Semua prediksi kami (ngerumpi) seputar masalah kesehatan ke depan, benar adanya. Seperti panggung dagelan saja. Lucu !!!
Penjarah tanah rakyat nan merajalela, kurang seriusnya penanganan masalah kesehatan adalah contoh kecil. Entah bidang lainnya *sementara pura-pura tidak tahu padahal tahu*

Ahhhh, lagi-lagi rakyatlah yang harus menanggung beban menjadi korban.

:: :: :: siklus kesalahan berulang, kebanyakan study banding sih :: :: ::

Iklan

26 Responses to “Lucu aja”


  1. 2 almascatie Agustus 1, 2007 pukul 5:41 am

    sangat mengherangkan memang ya.. aku ga tau apakah emang sistem negara ini sudah seperti ini ataukah orang2 yg duduk disitu semua yg tidak bis a berpikir dengan normal bahkan lebih mementingkan ‘urusan kantor’ dari pada sebagai pegawai negeri yg nota bene adalah pelayan rakyat.
    kondisi yg mirip sekali terjadi di ambon juga, pemerintah berusaha menyangkal wabah diare skarang dengan bermacam2 alasan setelah memakan korban yg banyak baru ada ‘pengakuan’ dari yg berwenang dan baru mulai didistribusikan obat2 dan tetek bengek lainnya…. capek deh grrRRRrrrrRRRrrrrRRrr terlalu banyak prosedur.. banyak kepentingan, hanya untuk satu perut harus mengorbankan banyak orang…
    *tulisan cakmoki kok bikin saya mangkel pagi2 ya :mrgreen: *

  2. 3 triesti Agustus 1, 2007 pukul 5:43 am

    yah pejabat depkes tuh aneh.. ketika laporan rumah sakit lengkap ada masalah di lapangan yg belum jelas sebabnya, dibilang kinerja rumah sakit tidak benar soalnya yg di tempat lain tidak lapor. tidak semua rs bikin meeting kematian teraturkan.

    saya tau ada masalah diare pada anak2 yg sehat yg akhirnya mati dalam bbrp hari di Jakarta tapi depkes malah tidak mau tau. sementara itu setau saya CDC pun maret lalu belum menemukan sebabnya padahal semua sample sudah dikirim.

  3. 4 deking Agustus 1, 2007 pukul 6:27 am

    Bener Cak…memang lucu, apalagi sang kepala daerah hehehe

    kepala daerah mengatakan dalam sambutannya (diliput media) bahwa untuk menjadi kepala instansi (dalam hal ini kesehatan) tidak cukup bermodal kepintaran, tapi lebih ditentukan ini (kata beliau seraya menunjukkan garis tangan)

    .
    Eh Cak, tapi mungkin Kepala Daerah berbicara seperti itu karena beliau sangat religius. Beliau sangat percaya dengan takdir jadi segala hal dikaitkan dengan takdir hehehehe

  4. 5 deking Agustus 1, 2007 pukul 6:28 am

    Eh maaf Cak, komentarnya ada dua. Kalau Cak Pangki Suwito eh Cakmoki tidak keberatan mohon dihapus saja komentar pertama yang quote-nya ancur itu.

  5. 6 cakmoki Agustus 1, 2007 pukul 6:29 am

    @ almascatie,
    sama om boy. Tempat kamipun baru rapat setelah pasien bergelimpangan. Catat, baru rapat. Adapun obat, cairan infus dll dikirimkan setelah kejadian diare berakhir atau hampir berakhir. huaaa … *thethek dan bengek dikembaliin aja deh* 😆
    Coba deh, ajakin temen-temen di ambon untuk bergabung dengan kita, ntar kita rame-rame saling dukung, … sip tosss *mode tooos kumat*

    Hati-hati om, kalo pagi jangan baca tulisan saya, hahaha … kemungkinannya hanya 2, kalo gak mangkel ya satunya

    @ triesti,
    Sejauh ini, pihak RS sangat wellcome untuk akses data, bahkan tanpa birokrasi berbelitpun bisa. Selain laporan rutin, tilpon setiap saat juga bisa jika ada masalah endemis.

    Alasan RS yg lain tidak lapor menurut sy argumen tidak cerdas, toh misalnya ada 6 RS yg lapor dari 10 RS, keenam RS yg lapor bisa disampaikan datanya dan dah bisa analisa temporal.
    Kalo kematian, biasanya lebih mudah mbak, dah ada blankonya, dan langsung terekam melalui entry data, entah kalo malas. Atau bisa jadi pihak berwenang ga baca laporannya, ditumpuk doang dan direkap akhir tahun, bla bla bla.

    Untuk kasus analisa sampel melalui isolasi ataupun kultur, kalo gak salah, Prof Iwan Darmansjah pernah mengkritik keras kinerja depkes. Konon kita mampu beli alatnya, SDM pun bisa dilatih include dalam paket pembelian …
    Ke CDC sebagai integrasi program atau hanya analisa sampel penyebab, hehehe yg ini maaf mbak … belum denger penjelasan resminya.

  6. 7 cakmoki Agustus 1, 2007 pukul 7:24 am

    @ deKing,
    Istilah ini (lucu) mulai saya pakai untuk menggantikan kromo inggil misalnya: ra nggenah, ued*n dan sejenisnya supaya yg baca gak cemot-cemot 😆
    Banyak yang lebih lucu. Ini baru buka-buka pinggirnya biar isis, kalo buka lainnya, huwaaa tambah lucu 😛

    Saking religiusnya kali ya, pakai garis tangan segala.

    quote segera diperbaiki *kalo gak ketiduran*

  7. 8 itikkecil Agustus 1, 2007 pukul 8:32 am

    cak….. coba kalo misalnya dapet bantuan dana…. pasti langsung teriak-teriak kalo kasus di daerahnya banyak. Tapi kok sayah jadi tambah sinis gini ya???? :mrgreen:
    tapi memang lucu ya cak….. aku aja langsung ngakak pagi-pagi….

  8. 9 anggara Agustus 1, 2007 pukul 9:53 am

    Banyak hal yang harus dibenahi oleh pengelola negara ini, kita sangat terbiasa dengan reaktif dan tidak terbiasa dengan responsif. Saya pikir, masalah-masalah kesehatan sebenarnya bisa diprediksi. Namun apakah ada yang mau memprediksi dan memberikan analisisnya dengan baik?

  9. 10 Shinta Agustus 1, 2007 pukul 10:26 am

    Cakmoki dulu yg milih kepala daerahnya siapa? HHmm..pecinta garis tangan juga kali ya.

  10. 11 neen Agustus 1, 2007 pukul 11:38 am

    Yang kena diare pun karena garid tangan, bukan salah pemda dan kepala dinkesnya!

  11. 12 sibermedik Agustus 1, 2007 pukul 12:42 pm

    “apa itu EPIDEMI?PANDEMI?WABAH?KLB..”

    Hal diatas Cak yg perlu dijelaskan ke teman sejawat, termasuk parameter2nya?

    Usul: blognya untuk hal2 yg teknis mbok dilampirin Algoritma nya…itung2 intisari blog…

    liat aja bbrp blog saya..(g da mksud sombong) suerrr!!

  12. 13 Luna Moonfang Agustus 1, 2007 pukul 1:22 pm

    ya kalo bukan rakyat … siapa lagi yg mau dikorbanin … 😦

  13. 14 cK Agustus 1, 2007 pukul 2:25 pm

    benar…lucu sekali :mrgreen:

    *satir mode ON*

  14. 15 cakmoki Agustus 1, 2007 pukul 5:53 pm

    @ itikkecil,
    hahaha, mari ngakak bersama mbak. Lucu emang ya …

    @ anggara,

    Banyak hal yang harus dibenahi oleh pengelola negara ini, kita sangat terbiasa dengan reaktif dan tidak terbiasa dengan responsif.

    Bener bos, lebih bagus lagi jika menggunakan manajemen kreatif pakai prediksi berdasarkan analisa data periode sebelumnya.
    Sayangnya, seperti njenengan katakan, lebih suka reaktif, alhasil kaget-kaget …

    … Apakah ada yang mau memprediksi dan memberikan analisisnya dengan baik?
    Ada !!! Kabar buruknya tidak ditindak lanjuti. Kalaupun dipakai akan dimodifikasi disesuaikan dengan mata anggaran, bukan untuk problem solving, duhhh … piye ?

    @ Shinta,
    walah langsung ditohok nih, …
    saya gak milih, soale program yg ditawarkan saat kampanye tidak terukur, semacam jargon doang …

    @ neen,
    hehehe, garis tangan … kamsudnya gak perlu dinkes lagi? *bletak*

    @ Sibermedik,
    untuk yang teknis, lengkap dengan Grafik flash dan narasi udah saya bikinkan di blog lain. Sak protap-protapnya, dah pakai ebook standalone. Sebagian saya sediakan di halaman download untuk sejawat, mhs kedokteran dan kalangan kesehatan.
    Begitu pula bacaan sistematis sudah tak upload

    Lagipula di kes.go.id tingkat I dan II dah bertebaran. Kendalanya, gak nyambung dengan pembaca. Sehingga pintu diskusi tertutup, lha wong ra mudeng. Ini salah satu kesalahan kita yg maksa bicara teknis di komunitas umum. Makanya situs mereka kurang begitu diminati.

    nah berdasarkan masukan teman-2 pembaca, blog ini berisi esensi kesehatan itu sendiri yg terbuka untuk diskusi sehingga bisa interaktif. Adapun data empiris adalah wewenang institusi kesehatan, bukan saya. Kalaupun saya menampilkan di office online, tak lebih sebagai sampel semata.
    kalo mas siber mo bikin yg teknis monggo dipersilahkan.
    Bagus tuh 🙂

    Saya mohon maaf jika tulisan di sini kurang berkenan bagi kalangan medis. Saya menganggap semua insan medis dah sarapan texbook saban hari, jadi konten ini area diskunsinya, hehehe … tosss

    @ Luna Moonfang,
    hahaha, kayak yang sudut sovyet itu ya

    @ cK,
    yang ngajari siapa , hayo *lempar Chika pakai sarung*

  15. 16 mrtajib Agustus 1, 2007 pukul 6:04 pm

    #Biasanya kepala Daerah enggan menyebut KLB mungkin lantaran dianggap menurunkan kredibilitaasnya.

    –> kayaknya bukan uma itu saja. kayaknya sih sering pemerintah “menyembunyikan” anak jalanan, sampah-sampah, dan “yang mengurangi keindahan kota”….hanya karena 1) ingin dapat adipura, 2) kedatangan pejabat di atasnya….30 dll..

    Padahal,setelah itu, ya dibiarkan bgitu saja…

    *sedih*

  16. 17 mrtajib Agustus 1, 2007 pukul 6:11 pm

    sekalian saja promosi, nich…saya ngomong tentang kota saya di blog Bumen Kotaku, http://wongbumen.info

    *asik…promosi ra mbayar*

  17. 18 indra kh Agustus 1, 2007 pukul 7:02 pm

    Kelucuan yang memprihatinkan. Kepala dinasnya harus diganti dengan Cak Moki kayaknya 🙂

  18. 19 imcw Agustus 1, 2007 pukul 9:54 pm

    kejujuran memang terkadang menyakitkan cak…orang yang jujur adalah orang yang berjiwa besar dan penuh tanggung jawab…semua itu tidak ada dalam diri atasan cakmoki itu…

  19. 20 manusiasuper Agustus 1, 2007 pukul 10:15 pm

    Sudah saya bilang, CAKMOKI FOR HEALTH MINISTER!!

    Di Banjarmasin Cak, KLB Demam Berdarah baru ditetapkan setelah 3 bulan pasca puncak wabah. Jadi ketika KLB jalan, pengobatan gratis, jumlah pasien sudah turun jadi hanya 1/10-nya saja dari bulan-bulan sebelumnya…

  20. 21 Astri Agustus 2, 2007 pukul 1:10 am

    Ayo bikin kementrian kesehatan sendiri… Kita bloggers mereka muggles 😀

  21. 22 cakmoki Agustus 2, 2007 pukul 2:02 am

    @ mrtajib,
    makasih tambahan tentang alasan keengganan kepala daerah mengakui KLB, Gus Tajib.

    Ok, trims juga info blog Kebumen, ntar tak kunjuungi, suguhan seprti biasa, telo rebus 😆

    @ indra kh,
    hahaha, blogger dilarang jadi pejabat, … rugi dong, enakan ngeblog

    @ imcw,
    waduhhh halusnya 😀 … sindiran yang sangat mengena, moga ada temen di atas sana yg baca *sempat surfing gak ya*

    @ manusiasuper,
    bukan di bumi etam aja ya, kayaknya seragam seluruh negeri.

    ketika KLB jalan, pengobatan gratis, jumlah pasien sudah turun jadi hanya 1/10-nya

    Laporan kepala daerah: situasi terkendali, … bleh

    @ Astri,
    departemen kes virtual ya mbak 😀
    … muggles n pirates *nglirik bolo di sana*

  22. 23 kurtz Agustus 2, 2007 pukul 10:32 pm

    aduuh pliss deh ah.. politik lagi mengurusi kesehatan…. apa memang politik seperti itu… lalu percayakah dengan sebuah wadah politik yang dianggap lebih suejuk, damai, adil dan sejahtera? kata2 para aktivitasnya sih membenarkannya… tapi aku tak karena ya itu tadi fakta2 seperti inilah kadang mengalergi pada politik.

    sepertinya asumi kata2 yang diawali ploy bermasalah ya:
    politik, poligami, poliandri, polisi … pol…pol… dst.. 🙂

  23. 24 cakmoki Agustus 3, 2007 pukul 12:35 am

    @ kurtz,
    sekarang kesehatan malah masuk “jualan” utama setelah pendidikan hampir di setiap pilkadal. Mungkin karena bisa untuk membuai mimpi ya …
    Tambah sejuk, tambah adil, dan tambah sejahtera hanya untuk yang ngomong itu doang, bukti tidak pernah ada, hahaha

    iya ya, poly yg gak masalh belum nemu pak

  24. 25 mina Agustus 3, 2007 pukul 8:06 pm

    kayaknya hal kayak gitu memang ditutup-tutupi ya cak? malu dia kedapatan KLB.

  25. 26 cakmoki Agustus 3, 2007 pukul 11:48 pm

    @ mina,
    Tahun lalu saya malah dengar sendiri mbak, ts di pkm diminta “ngatur” angka kesakitan supaya nampak “aman”, weleh …


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Wong ndeso ™

cakmoki

Wordpress Indonesia

Silahkan baca

DISCLAIMER

web tracker

9 Desember 2009

SEMENTARA TUTUP

Maaf, sementara Blog istirahat hingga ada pemberitahuan

Harap maklum


MARI HENTIKAN KORUPSI

Jangan Korupsi Ah

No Korupsi

Internet Sehat

Warga Bicara

» Makasih PLN, listrik Samarinda dah membaik, moga gak byar-pet

» Waspada Demam Berdarah

» Jangan Gunduli Palaran

» Banjir...banjir. Kapan masalah ini teratasi ?

INGA INGA INGA

» Nyeri Urat or Tulang BUKAN berarti Penyakit Asam Urat.

» Sekali lagi: Pegal, Linu Tidak Identik dengan Penyakit Asam Urat

TEMANs

9racehime | A. Fatih Syuhud | Aditiawan Chandra | A.Tajib | Agung UD | aLe | alief | alle | almascatie | Amd | Anak Peri | Anak Sultan | Anang | Anang YP | Anas | Andalas | Anggara | Anjaz | Anti Pungli | Antobilang | Anung87 | Aribowo | Arif Kurniawan | Arul | Astikirna | awan965 | axireaxi | Bambang alias HR | BatakNews | Blog Pokoke? | Biho | CalonOrangTenar | Cay | Chandra | Chielicious | chiw imudz | cK-chika | Dalamhati | Deden Nugraha | deedhoet | deKing | Desti Utami | Didats | doeytea | dnial | Edy C | Eep | Elpalimbani | erander | Evi | Fa | Fa wp | Faiq | Fertobhades | Fetro | Fortynine | Freddy | Gadis | Gaussac | Gitablu | Grandiosa | GuhPraset | GuM | Helgeduelbek | Herdy | Indonesia Kita | Indra KH | ItikKecil | iway | Jejakpena | Jennie S. Bev | Joesath | Joko Taroeb | Julee | Juli | Juliach | Junthit | Jurig | Kakilangit | Kang Adhi | Kang Kombor | Kangguru | kawaichu | Kenji | Kenzt | kikie | koecing | Kumala | Kurtubi | Kw | Laras | liezmaya | Lilik Suryanto | Lily | Linker | Lintang | Lita | Lita wp | Luthfi | MaIDeN | Majalah Dewa Dewi | Manusiasuper | Master Li | Mathematicse | macanang | mbojo | Mei | Micokelana | Mr. Geddoe | Mufti | mybenjeng | My-za | Nayla Zahra | Nayz | Ndarualqaz | Neeya | Neo Forty-Nine | Neri | Ninoy | Nieke | Nomercy | n0vri | NuDe | Om Sulis | omaigat | Ooyi | Paijo | Panca | Pandu | Panduan WP | Papabonbon | Passya | Peyek | Pinkina | Pitik | Pralangga | Prayogo | Priyadi | Qee | Raja iblis | RenjanaBiru | rivafauziah | Rivermaya | Roffi | roisZ | Rujak | Sagung | Sahrudin | Saiful Adi | SaRa | Siu | Sofi | Sora9n | Suandana | Suluh | Susiloharjo | Telmark | Thamrin | tiesmin | Triesti | Tukang Sate | Venus | Wadehel | Wahyuansyah | Wandira | Wiku | WongMangli | Wulan | Yati | Yudhipras |

:: :: :: :: :: :: :: :: ::

Kesehatan

:: Ady Wirawan :: Agus Mutamakin :: Anis Fuad :: Anis Fuad wp :: Asri Tadda :: Astri Pramarini :: Astri Pramarini (awal) :: Astri Pramarini wp :: Blog Mahasiswa FKU 2003 :: Blog Rumah Kanker :: Dani Iswara :: Dani Iswara weblog :: Dokter arek cilik :: drAnak :: drarifianto :: Dwi wp :: Elyas :: Erik Tapan :: Evy HealhtySmile :: FK Unsri :: Gies :: Gies wp :: Ginna :: Grapz :: Hendar Sunandar :: HIV News :: Huda Thoriq :: IDI Samarinda :: imcw :: Imran Nito :: Iwan Handoko :: Jhonrido :: klikharry :: Kobal :: Laksmi Nawasasi :: Mashuri :: Mave Mina :: Mbah Dipo :: Mina :: My Blogspot :: Nur Martono :: PKM Palaran :: Rara :: Rizma Adlia :: Rudy Kwang :: SenyumSehat :: Sibermedik :: SimkesUGM :: SuperKecil :: Titah :: Tito :: Tonang Ardyanto :: Tukangkomentar :: Wi :: Vina Revi :: Vina Multiply :: Yusuf Alam R :: zulharman79 ::

:: :: :: :: :: :: :: :: :: :: ::

Institusi Kesehatan

:: Depkes RI :: WHO :: WHO Indonesia :: … nyusul

:: :: :: :: :: :: :: :: ::

Kolaborasi

:: Emedicine :: ICD 10 Wikipedia :: ICD 10 Wiki Indonesia :: OSWD :: OpenWebDesign :: Pakistan Times :: Rubab :: ntar ::

Kategori

BlogTour

Arsip

Komunitas Blog

blog-indonesia.com

PAGE RANK

Powered by  MyPagerank.Net

Add to Technorati Favorites

[Valid RSS]

Health Blogs - Blog Top Sites

Health

Blogs Topsites - TOP.ORG

Health Blogs - Blog Rankings

Blog directory

TopOfBlogs

Top 10 Award

Feed Burner

cakmoki Blog

Bloggerian Top Hits

My BlogCatalog BlogRank

Site Meter

Since 30 Nov 07

PENGUNJUNG

  • 5,303,313 pengintip

Asal Usul

Pebruari 2011

free counters


%d blogger menyukai ini: