Penjarah Tanah Rakyat

Sindikat Tanah Rakyat, ditengarai melibatkan pejabat, aparat dan rakyat. Loh, rakyat koq ikutan ? Iya, ada yang ikut bermain, diikutkan sebagai alat atau diikutkan untuk kemudian ditendang.

Kita sudah sering mendengar sindikat nark0ba, sindikat ilegal logging, sindikat TKI dan sindikat-sindikat lain. Mereka umumnya berdiri sendiri-sendiri, memiliki “wilayah kekuasaan” sendiri. Kalaupun bersatu, tetap ada semacam pengkaplingan “lahan usaha

Siapa sangka, ternyata ada sindikat “multi usaha” di tingkat daerah dan regional, khususnya di daerah kami, Samarinda (Kalimantan Timur). Nyaris semua bidang usaha skala besar dikuasainya. Inilah sindikat bergaya olimpiade, multi event.
Dengan kekuatan uangnya, sindikat tersebut mengatakan bahwa tidak ada satupun pejabat di daerah kami yang tidak bisa dibeli. Huah, klaim hebat !!! Benarkah ?

Kendati sebelumnya sudah sering mendengar isu tersebut, tak urung rasa kaget menerpa ketika Selasa dini hari (beberapa hari yang lalu) mendapatkan penjelasan atas kasus penjarahan tanah rakyat di kecamatan kami (kecamatan Palaran, Samarinda).

CARA KERJA
Bagaimana cara kerjanya ? Kami (selama 2 tahun terakir ini) menghimpunnya dalam beberapa tahap berdasarkan hasil sounding di area sengketa dan bocoran orang dalam. (boleh jadi ada yang terselip mengingat begitu tebalnya tembok penghalang)
Berikut ringkasannya:

Tahap Pertama:
Mereka bekerja sama dengan lurah (kemungkinan besar atas titah kepala daerah) untuk menginventarisir tanah garapan rakyat yang tidak memiliki sertifikat di ujung-ujung desa. Pemetaanpun dilakukan sembari mendata siapa saja pemiliknya.

Tahap Kedua:
Pihak kelurahan memecah tanah ratusan hektar tersebut menjadi sempalan-sempalan berdasarkan data kepemilikan.
Selanjutnya, kelurahan menerbitkan surat kepemilikan tanah baru kepada beberapa orang yang nantinya dianggap mudah dikendalikan (baca: ditipu).

Tentu saja orang-orang terpilih tersebut girang alang kepalang ketika diminta menyerahkan KTP untuk mendapatkan tanah hadiah garapan lengkap dengan surat hak kepemilikan. Perjanjiannya: tanah bersurat kepemilikan tersebut langsung dibeli oleh “seseorang” sebelum si orang terpilih menyentuh suratnya.
Ibarat mendapat durian runtuh, manggut-manggut diiringi senyuman adalah satu-satunya pilihan.
Menolak ? Gampang, surat kepemilikan baru diterbitkan dengan nama baru.

Tahap Ketiga:
Saatnya manajemen konflik komunal.
Pihak berwenang di kelurahan dan kecamatan (lengkap dengan atribut plus para punggawa keamanan) mengumumkan adanya pembelian tanah garapan rakyat oleh “seseorang”.
Sontak pemilik tanah garapan asli berontak, demo, berbondong-bondong mendatangi kantor kelurahan.
Saudara-saudara menuntut tanah garapan ? Mana buktinya ? … Jangan mimpi !!!
Hahahaha, baru tahu mereka bahwa selama ini ngurus kepemilikan tanah “dibuat mahal” dan “dibuat rumit” hingga mereka lelah ngurus lantaran harus berulang kali menginjak kantor dan meninggalkan pekerjaan, adalah skenario yang direncanakan. Mana tahan ?

Tahap Keempat:
Setelah pemilik asli lelah menuntut dan disfungsi tak berdaya, negoisasi adalah sebuah pilihan akhir kalau tidak ingin bertangan hampa.
Di episode tragis ini,si pemilik asli harus menerima keputusan untuk menjual tanah garapan (tanpa bukti surat kepemilikan) kepada “seseorang” yang sudah (seolah-olah terlanjur) membeli kepada pemilik fiktif. Harganya pasti sangat murah.

Tahap Kelima:
Di sebuah ruang pertemuan yang dihadiri pejabat setempat, wakil “seseorang”, aparat keamanan, penegak hukum dan pemilik asli tanah garapan, bersabdalah pimpinan rapat:

” Terimakasih atas kerjasama saudara-saudara pemilik tanah garapan yang telah berbesar hati menerima jalan terbaik bagi kita semua. Pun demikian kepada “wakil pembeli” yang telah rela mengeluarkan dana lagi untuk memenuhi keinginan para pemilik asli yang telah bertahun-tahun memanfaatkan tanah garapannya. Semua itu adalah niat luhur demi terciptanya suasana kondusif di daerah kita. Sedangkan kami hanyalah sebagai fasilitator agar kebijakan kami dapat diterima kedua pihak dengan lapang dada. dan … bla bla bla “

Bubarrrr !!! Peserta pertemuan dan suporternya pulang dengan tenang. Ada yang lunglai menyimpan duka lara, ada yang tersenyum simpul mangayun langkah kemenangan.

Kepada siapa akan mengadu? Tempat berkeluh (baca: penegak hukum) ada di jajaran depan pertemuan. Mereka sudah lelah diombang-ambingkan untuk kemudian berakhir nestapa.

:: :: :: sebuah episode menyedihkan dari rangkaian kisah pilu warga desa yang jauh dari rekaman media :: :: ::

Iklan

25 Responses to “Penjarah Tanah Rakyat”


  1. 1 aribowo Juli 26, 2007 pukul 2:37 pm

    indonesia memang negara yang parah

  2. 2 Luna Moonfang Juli 26, 2007 pukul 2:48 pm

    selalu ada celah yg bisa dimanfaatkan oleh pihak2 yg “berkepentingan” … 😦

    @ariwibowo,
    dibanding negara mana mas ? …

  3. 3 anggara Juli 26, 2007 pukul 3:06 pm

    Persoalan tanah, terutama tanah yang berstatus hak milik adat memang susah, lihat saja HPH yang mencaplok tanah-tanah adat. apalagi tanah individu yang tak bersertifikat.

  4. 4 miskan Juli 26, 2007 pukul 3:17 pm

    Samarinda?? yang gw inget ya cafe remang2 di pinggir sungai mahakam, hehehe. cak moki pasti tau πŸ˜€

    Rata2 pejabat di Kaltim bisa dibeli

    Bukan hanya pejabat yang bisa dibeli cakmoki. jurnalis juga bisa dibeli…jadi anteng2 aja pejabatnya.

    selalu dan selalu dan selalu rakyat yang jadi korban……

  5. 5 suandana Juli 26, 2007 pukul 3:31 pm

    Kalau berpikiran pendek, jalan yang bisa ditempuh untuk menghapuskan sistem itu adalah dengan mengganti seluruh jajaran administrasi pemerintahan mulai dari bawah sampai ke yang paling pucuk di bagian atas. Kemudian, para anggota sindikat itu di-nasionalisasi (hartanya). Kalau menolak, ya dihukum mati! πŸ‘Ώ
    *mode kejam ON*

    Tapi, ini berarti akan ada revolusi… Rakyat lagi yang jadi korban 😦

  6. 6 Juliach Juli 26, 2007 pukul 4:47 pm

    Judulnya diganti ah, jadi : “MENJARAH MILIK RAKYAT”.

    Intinya tidak hanya tanah, yang saya tahu sih kalo bisa dijarah ya semuanya dijarah aja.

  7. 7 cakmoki Juli 26, 2007 pukul 5:19 pm

    @ aribowo,
    sebenarnya ini kasus lokal mas, entah di daerah lain. Moga gak seperti daerah kami…

    @ Luna Moonfang,
    iya Teh, cara kerjanya rapi banget. Yg lebih seru pagarnya luar biasa ketat, sehingga sulit ditembus. Hebatnya lagi, koq bisa-bisanya nemu celah untuk itu.

    @ anggara,
    Mereka udah ngurus ulang dari bawah gak tembus juga, uang hilang suratpun gak didapat. Dari tinjauan hukum gimana pak?

    @ miskan,
    hahaha, sy pernah satu kali mancing malam di taman tepian remang-2 itu. trus ada suara kresek-kresek di pepohonan bunga. Tak kira ular, gak tahunya 2 pasang kaki πŸ˜†

    eh, koq tahu banyak sih. padahal saya dah gak nyebut-nyegut jurnalis lho … konon ada yg suka minta “gaji khusus”, bener ya …
    pantesan, ribut sehari, setelah itu aman dan damai …

    @ suandana,
    wowww, sereemmmm.
    Idealnya gitu kali ya.
    Atau dulu pernah mo direalisasikan pensiun dini dan zero growth untuk pns … entah kenapa gak jadi. Maksudnya mau dibuat semacam filter.
    Ahhh, rakyat lagi yg jadi korban …

    @ Juliach,
    hiks, ternyata dari Perancis punya zoom nih. Iya, saya mo ngomongin gitu masih belum nyampai, serasa tercekat …

  8. 8 kurtubi Juli 26, 2007 pukul 5:42 pm

    Gak dimana-mana Pak Lurah ada aja yaa tekhnik dan montasenya… perlu ditirukah? πŸ™‚

  9. 9 deking Juli 26, 2007 pukul 6:51 pm

    Diantara anggota sindikat sepertinya yang paling mengenaskan adalah rakyat. Kalau pejabat-aparat hanya mengenaskan secara moral, tetapi bagi rakyat-sindikat tidak hanya moral saja yang mengenaskan tetapi juga material (fisik).
    Kalau anggota sindikat lain (pejabat-aparat) mungkin benar2 “tak tersentuh” oleh rakyat yang menjadi korban, tetapi rakyat yang jadi sindikat akan berurusan langsung dengan rakyat-korban.

  10. 10 telmark Juli 26, 2007 pukul 11:26 pm

    mangkanya, lurah, camat, atau pejabat lainnya, sebaiknya jgn lulusan IPDN ya cak ? (buat Penggemar IPDN sorry ya… kenyataan kan ?).

    apa tak ada sebuah solusi utk masalah pertanahan yg selaluuuuu saja terjadi, dan selaluuuuu saja rakyat yg kalah.

  11. 11 Astri Juli 27, 2007 pukul 3:17 am

    wah IPDN akhirnya kebawa juga.

  12. 12 cakmoki Juli 27, 2007 pukul 4:16 am

    @ kurtubi,
    Kirain hanya di daerah kami aja, gak tahunya sama juga hehehe,
    teknik montase di gelombang yang sama.

    @ deKing,
    Analisa padat.
    Paragraf kedua kayaknya udah terjadi, rakyat yg jadi sindikat konon stresss, gak berani keluar rumah, mungkin baru nyadar atau mungkin isi amplopnya habis.

    @ tekmark,
    solusinya udah terjawab di paragraf pertama: bubarkan IPDN *loh koq lari kesitu juga saya* hehehe

    @ Astri,
    hehehe, lagi hangat mbak.
    Btw, linknya koq gak nyanthol mbak, siapa tau ada yang ingin sowan blog sampeyan πŸ™‚

  13. 13 miskan Juli 27, 2007 pukul 7:41 am

    Hahahaha, itulah samarinda, selain cafenya ya sungai mahakamnya kalau meluap pasti buaaanjir apalagi yang di mal lembuswana.

    memang ada seh jurnalis yang minta gaji khusus,……saya 4 tahun di balikpapan dan kerja di media jadi taulah jurnalis mana yang bisa dibeli dan dapat gaji khusus, hehehehe.

    Makanya di Kaltim itu jurnalis yang bener2 Independen bisa diitung dengan jari. Sama di T4ku skarang Timika, malah nga ada yg indepeden, hiks….

    Padahal peran media juga penting dalam menegakkan kebenaran dan keadilan dan sebagai alat kontrol pejabat-pejabat brengsek kita. πŸ˜€

    Saya bukan jurnalis lho.

    Cakmoki butuh jurnalis yang bener2 indepeden trus tulisan ini dimuat dikoran??

    Link blogku dunk cakmoki….

  14. 14 itikkecil Juli 27, 2007 pukul 8:26 am

    speechless…. jadi inget juga kasus tanah yang di Meruya itu cak….

  15. 15 sibermedik Juli 27, 2007 pukul 9:04 am

    kok tumben diluar medis dok?

  16. 16 anggara Juli 27, 2007 pukul 9:45 am

    @cak moki
    sebenarnya, prosedur pengurusan itu kalau mau mudah dan nggak jlimet ya lewat notaris, kamu marjinal seperti itu biasanya suka di tipu2 sama oknum BPN, jangan lupa kasus meruya itu juga melibatkan BPN, dan sampai sekarang mereka (baca: BPN) bebas dari masalah. Menurut saya, ada dua kemungkinan, warga maunya cepat dan membayar suap sehingga mereka malah nggak tahu apa2 lalu mudah ditipu dan yang kedua warga memang mengurusnya sesuai ketentuan, tetapi malah ditipu. Untuk yang kedua lebih mudah (dan juga sulit dalam praktek), bisa di laporkan melakukan tindak pidana yang menipu warga

  17. 17 candanya jurig Juli 27, 2007 pukul 5:28 pm

    mungkin para penjarah itu harus dimutasi ke mordor aja biar kapok … πŸ˜†

  18. 18 klikharry Juli 27, 2007 pukul 6:45 pm

    wah cak… emang sudah segitu parahnya ya?

  19. 19 caplangβ„’ Juli 27, 2007 pukul 8:38 pm

    *ngeliat candanya jurig*
    skalian aja disuruh beli tanah di situ! πŸ˜›

    mental pejabatnya banyak yg rusak
    yang jadi korban ya rakyatnya [lagi]

  20. 21 anas Juli 28, 2007 pukul 12:03 am

    Sadis ya cak, jadi ingat posting kemaren, apakah ini acara untuk mengembalikan modalnya ?

  21. 22 cakmoki Juli 28, 2007 pukul 1:41 am

    @ miskan,
    wah, pantesan ngerti luar dalam, lha wong 4 tahun di media, hehehe.
    Jauhnya nyeberang nun di sana.

    Kita perlu banget jurnalis independent yang tulisannya gak diberangus.
    Konon tulisan kontrol sulit masuk ya, atau paling hanya insidental, selebihnya dinetralisir tulisan lain yang berisi puja puji kepada para pejabat, repooottt.

    Ok, saya link πŸ˜€
    Maturnuwun infonya yg sangat berharga

    @ itikkecil,
    Persis mbak, bedanya di tempat kami gak ada yg meliput, pinggir hutan soale

    @ sibermedik,
    iya bener, makanya di bawah header ada tulisan … dan keseharian.
    Kita di daerah tidak bisa hanya ngurusi medis melulu, … hampir semua persoalan saling terkait, saling bantu. Sama seperti Posyandu yg memerlukan bantuan pihak lain. Kitapun akan diwaduli banyak persoalan, mulai masalah tanah, masalah anak gak bisa sekolah dll, … kewajiban kita untuk membantu semampunya. hehehe

    Teman-teman yg gak mau bantu urusan masyarakat di luar bidang medis biasanya gak populer, trus pada saat kita minta bantuan akan diacuhkan. Makanya dokter di daerah gak boleh langsung nyalahkan masyarakat jika programnya gak jalan, bisa jadi karena dia gak peduli orang lain.

    @ anggara,
    Siap pak, terimaksih saran-sarannya. Akan kami sampaikan kepada temen-temen yg membantu ngurusi soal ini.
    Sejauh ini masyarakat menempuh jalan kedua (jalur resmi), mbulet, gak pernah selesai.
    Yang mencoba jalur sogok juga ada, akhirnya nyerah karena setelah habis berjuta-juta suratnya gak kunjung selesai.

    Ntar coba notaris.
    Maturnuwun πŸ˜€

    @ candanya jurig,
    iya deh, tak kirim ke teh Jurig untuk ngawal ke mordor πŸ˜€

    @ klikharry,
    wuih, parah banget.

    @ caplangβ„’,
    mereka (penjarah tanah) gak pernah beli tanah, wong selama ini dapet tanah hadiah dari nipu warga.

    kali enaknya ditimbuni tanah πŸ˜›

    @ Anang,
    hahahaha, semua asusila dari Panca Asusila (versi cak Anang) diborong para penjarah kali cak …

    @ anas,
    yang model ini saya baru tahu.
    mungkin juga terkait “pengembalian modal” atau dalam rangka ngisi pundi-pundi mereka.

  22. 23 almascatie Juli 28, 2007 pukul 7:44 am

    belum ada paguyuban anti penjarahan tanah ya cak…
    perasaan dari dulu sampai sekarang ngomong kaya gini kok menyesakkan dada orang-orang yang membela hak2 rakyat kecil selalu sendirian ya, ga ada kekuatan besar yang mampu atau jangan besar lah setidaknya seimbang dikit gitu buat melawan mereka 😦
    sesak memang sesak.. dari sabang sampe merauke ga ada tanah kosong yang tidak dijadikan ladang penindasan.
    😈 😈 😈 😈 😈 😈

  23. 24 cakmoki Juli 28, 2007 pukul 5:04 pm

    @ almascatie,
    belum om, perlu bikin paguyuban kali ya … supaya punya power … riskan juga sih kalo pengurusnya dapat dibeli juga …*ahhh, serasa gak ada jaln lain lagi* 😦

  24. 25 sibermedik Juli 29, 2007 pukul 9:21 am

    ternyata..kita satu visi dok…
    seneng punya teman sejawat kayak dokter…
    cup..cup..muah..he..he..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Wong ndeso β„’

cakmoki

Wordpress Indonesia

Silahkan baca

DISCLAIMER

web tracker

9 Desember 2009

SEMENTARA TUTUP

Maaf, sementara Blog istirahat hingga ada pemberitahuan

Harap maklum


MARI HENTIKAN KORUPSI

Jangan Korupsi Ah

No Korupsi

Internet Sehat

Warga Bicara

» Makasih PLN, listrik Samarinda dah membaik, moga gak byar-pet

» Waspada Demam Berdarah

» Jangan Gunduli Palaran

» Banjir...banjir. Kapan masalah ini teratasi ?

INGA INGA INGA

» Nyeri Urat or Tulang BUKAN berarti Penyakit Asam Urat.

» Sekali lagi: Pegal, Linu Tidak Identik dengan Penyakit Asam Urat

TEMANs

9racehime | A. Fatih Syuhud | Aditiawan Chandra | A.Tajib | Agung UD | aLe | alief | alle | almascatie | Amd | Anak Peri | Anak Sultan | Anang | Anang YP | Anas | Andalas | Anggara | Anjaz | Anti Pungli | Antobilang | Anung87 | Aribowo | Arif Kurniawan | Arul | Astikirna | awan965 | axireaxi | Bambang alias HR | BatakNews | Blog Pokoke? | Biho | CalonOrangTenar | Cay | Chandra | Chielicious | chiw imudz | cK-chika | Dalamhati | Deden Nugraha | deedhoet | deKing | Desti Utami | Didats | doeytea | dnial | Edy C | Eep | Elpalimbani | erander | Evi | Fa | Fa wp | Faiq | Fertobhades | Fetro | Fortynine | Freddy | Gadis | Gaussac | Gitablu | Grandiosa | GuhPraset | GuM | Helgeduelbek | Herdy | Indonesia Kita | Indra KH | ItikKecil | iway | Jejakpena | Jennie S. Bev | Joesath | Joko Taroeb | Julee | Juli | Juliach | Junthit | Jurig | Kakilangit | Kang Adhi | Kang Kombor | Kangguru | kawaichu | Kenji | Kenzt | kikie | koecing | Kumala | Kurtubi | Kw | Laras | liezmaya | Lilik Suryanto | Lily | Linker | Lintang | Lita | Lita wp | Luthfi | MaIDeN | Majalah Dewa Dewi | Manusiasuper | Master Li | Mathematicse | macanang | mbojo | Mei | Micokelana | Mr. Geddoe | Mufti | mybenjeng | My-za | Nayla Zahra | Nayz | Ndarualqaz | Neeya | Neo Forty-Nine | Neri | Ninoy | Nieke | Nomercy | n0vri | NuDe | Om Sulis | omaigat | Ooyi | Paijo | Panca | Pandu | Panduan WP | Papabonbon | Passya | Peyek | Pinkina | Pitik | Pralangga | Prayogo | Priyadi | Qee | Raja iblis | RenjanaBiru | rivafauziah | Rivermaya | Roffi | roisZ | Rujak | Sagung | Sahrudin | Saiful Adi | SaRa | Siu | Sofi | Sora9n | Suandana | Suluh | Susiloharjo | Telmark | Thamrin | tiesmin | Triesti | Tukang Sate | Venus | Wadehel | Wahyuansyah | Wandira | Wiku | WongMangli | Wulan | Yati | Yudhipras |

:: :: :: :: :: :: :: :: ::

Kesehatan

:: Ady Wirawan :: Agus Mutamakin :: Anis Fuad :: Anis Fuad wp :: Asri Tadda :: Astri Pramarini :: Astri Pramarini (awal) :: Astri Pramarini wp :: Blog Mahasiswa FKU 2003 :: Blog Rumah Kanker :: Dani Iswara :: Dani Iswara weblog :: Dokter arek cilik :: drAnak :: drarifianto :: Dwi wp :: Elyas :: Erik Tapan :: Evy HealhtySmile :: FK Unsri :: Gies :: Gies wp :: Ginna :: Grapz :: Hendar Sunandar :: HIV News :: Huda Thoriq :: IDI Samarinda :: imcw :: Imran Nito :: Iwan Handoko :: Jhonrido :: klikharry :: Kobal :: Laksmi Nawasasi :: Mashuri :: Mave Mina :: Mbah Dipo :: Mina :: My Blogspot :: Nur Martono :: PKM Palaran :: Rara :: Rizma Adlia :: Rudy Kwang :: SenyumSehat :: Sibermedik :: SimkesUGM :: SuperKecil :: Titah :: Tito :: Tonang Ardyanto :: Tukangkomentar :: Wi :: Vina Revi :: Vina Multiply :: Yusuf Alam R :: zulharman79 ::

:: :: :: :: :: :: :: :: :: :: ::

Institusi Kesehatan

:: Depkes RI :: WHO :: WHO Indonesia :: … nyusul

:: :: :: :: :: :: :: :: ::

Kolaborasi

:: Emedicine :: ICD 10 Wikipedia :: ICD 10 Wiki Indonesia :: OSWD :: OpenWebDesign :: Pakistan Times :: Rubab :: ntar ::

Kategori

BlogTour

Arsip

Komunitas Blog

blog-indonesia.com

PAGE RANK

Powered by  MyPagerank.Net

Add to Technorati Favorites

[Valid RSS]

Health Blogs - Blog Top Sites

Health

Blogs Topsites - TOP.ORG

Health Blogs - Blog Rankings

Blog directory

TopOfBlogs

Top 10 Award

Feed Burner

cakmoki Blog

Bloggerian Top Hits

My BlogCatalog BlogRank

Site Meter

Since 30 Nov 07

PENGUNJUNG

  • 5,354,783 pengintip

Asal Usul

Pebruari 2011

free counters


%d blogger menyukai ini: