Hamil via Internet

Berita hangat (agak basi) dari manca

BBC memberitakan bahwa sebagian remaja China menggunakan internet sebagai media komunikasi s3ksual. Tanpa pendidikan yang memadai dari orang tua dan para ahli, bisa diduga komunikasi antar remaja tersebut berbuah kehamilan. Parahnya, menurut survey seorang dokter di Shanghai, para pria menghilang begitu si remaja putri mengaku hamil. Walah … 😦

Bagaimana di Indonesia ?
Sejauh ini penelitian sejenis masih musiman. Kalaupun ada yang mengadakan penelitian, hanya hangat sesaat kemudian hilang tertimpa isu lain. Langkah nyata untuk menanggulanginya terbentur pada kultur antara tabu dan tidak tabu, pun perbedaan pandangan dari sisi keyakinan. Batasanpun menjadi kabur.

Tak heran jika sebagian warga kita tak mengenal anatomi dan fungsi organ vitalnya sendiri (pakai cermin sambil mesam-mesem ?), bahkan setelah menikah sekalipun. Belum lagi tarik ulur perlu tidaknya pendidikan s3ksual sejak dini.

Boleh jadi para orang tua (berlandaskan keyakinan atau apapun) merasa berhasil memaksa anaknya tidak mengucapkan alat k3lamin ketika di dalam rumah. Kenyataannya (walaupun malu-malu) para remaja akan mencari tahu melalui komunikasi antar teman (yang sama-sama dalam masa pencarian) atau media lain. Buktinya kita mampu menyebutkan alat k3lamin (dengan berbagai nama) lelaki maupun perempuan.
Apa ada yang gak tahu kalo pines (maksudnya p3nisun) itu adalah jimat para lelaki ? Sebaliknya, apa ada yang tidak tahu kalo vaginun itu adalah k3lamin perempuan ?
Walau hanya di dalam hati, jika ditunjukkan skrinsyutnya dijamin ngerti kan?
Darimana kita tahu ?

Pendidikan s3ksual, bukan berarti membicarakan masalah hubungan k3lamin doang, melainkan pendidikan bertahap (sesuai umur) dan berkelanjutan.
Tahap awal dapat dilakukan sejak dini oleh para orang tua dengan memanfaatkan keseharian, misalnya saat mandi si lelaki kecil sudah diperkenalkan bahwa tonjolan di bawah pusar tempat keluarnya kencing bernama p3nis, demikian pula sebaliknya.

Sejauh ini penulis beberapa kali diminta menyampaikan pengenalan “reproduksi sehat” bagi para remaja di sekolah-sekolah.
Untuk remaja setingkat SLTP / Madrasah Tsanawiyah, penulis memperkenalkan organ vital, tanda-tanda baligh dan proses menstruasi (menggunakan animasi flash). Tentu bergambar dong (bu gurunya juga ikutan lho). Gak mungkin kan, menjelaskan p3nis ( pangeran kecil ™ ) tanpa gambar, ntar yang terbayang malah pisang atau halo-halo.
Parn0 ? Tergantung sudut pandang 😉 . Toh suka atau tidak seseorang sebenarnya menyentuh alat k3lamin setiap hari, misalnya saat mandi atau cebok. Apa ada saat sabunan gak nyabuni k3lamin ? Atau, apa ada lelaki yang gak megang p3nisnya saat kencing ? *emange pake jepitan 😛 *

Akhirnya, keputusan memberikan pendidikan s3ksual dalam konteks bertahap dan berkesinambungan atau tidak, kembali kepada masing-masing.

:: :: :: trims konfs dinihari :: :: :: *lirik pemrakarsa*

Iklan

55 Responses to “Hamil via Internet”


  1. 2 almascatie Juli 24, 2007 pukul 11:07 am

    Akhirnya, keputusan memberikan pendidikan s3ksual dalam konteks bertahap dan berkesinambungan atau tidak, kembali kepada masing-masing.

    tapi setidaknya cakmoki sudah memulai lewat tulisan duluan nih tinggal yang lain yang akan membentuk satu komunitas lagi kayaknya 🙂

  2. 3 almascatie Juli 24, 2007 pukul 11:10 am

    *halah kok comment diatas malah jadi gitu iks 😦 *
    eh link yang ini hoehetmoet.nl bisa jga tuh buat bahan pendidikan seks nya cuman luar negeri sih cakmoki mau ga bikin blognya neh 😀
    *hasil survey pagi2*

  3. 4 cakmoki Juli 24, 2007 pukul 11:39 am

    @ almascatie,
    hehehe, ini hanya kerangka pikir menggunakan background berita BBC, belum mulai, baru preview ke arah yg lebih spesifik.
    Sebenarnya “ibu guru kita” sudah puanjang lebar menulis soal ini, tenang aja, kita tunggu kiprah beliau selanjutnya 😀 … saya gak ikut-2

    eh, ada link bagus ya … ntar saya intip, trims

  4. 5 itikkecil Juli 24, 2007 pukul 12:26 pm

    cak, kayaknya masih ada salah kaprah, tentang pendidikan s*ks. Banyak yang beranggapan pendidikan s*ks itu fungsinya untuk mengajari tentang cara berhubungan s*ks, padahal saya sepakat dengan cakmoki, lewat ini kan mereka bisa dapet informasi yang benar tentang kesehatan reproduksi mereka sendiri (atau karena istilahnya itu banyak orang yang alergi). Di beberapa daerah termasuk di sini sudah mulai dicoba dimasukkan di muatan lokal ataupun ekstrakulikuler tentang kesehatan reproduksi bagi remaja. Karena akibat kurang pengetahuan, bisa jadi makin banyak yang hamil di luar nikah….

  5. 6 kangguru Juli 24, 2007 pukul 1:03 pm

    Kirain Internet sekarang dah bersperma cak hahahhahahah

  6. 7 starflake Juli 24, 2007 pukul 2:05 pm

    soalnya mungkin s3x education ato pelajaran biologi yang bahasan reproduksi itu satu2nya pelajaran yang gak ada praktik lab-nya kali cak..jadi pada eksperimen sendiri…heheh…

  7. 8 Titah Juli 24, 2007 pukul 2:33 pm

    cak, gimana caranya hamil lewat internet? *o’on mode on*
    anak saya cowok cak, hampir 17 tahun. saya mau ngasih pendidikan s3ksual malah grogi, deg-degan, n blingsatan je… piye yo enake?

  8. 9 Lita Juli 24, 2007 pukul 3:34 pm

    Emang bisa ngirim sperma via WAN?
    Kecuali abis konprensi trus kopdar, nah itu *nyengir*

    Eh, baru selesai baca artikelnya. Ternyata memang seperti yang diduga.
    HAH, bisa sampe gak kenal siapa yang jadi bapak si bayi itu kebangeten banget banget! Emangnya gak kenalan dulu langsung tancep? Lo kira layar buat nonton filem! *emosi*

    Yailah, kenapa saya selalu kebagian link di balik kata ‘pisang’?

    *pencet Apple+S* Mayan buat bikin draft 😉

  9. 10 xwoman Juli 24, 2007 pukul 4:07 pm

    hahahaha… aku malah ketawa2 baca tulisannya cakmoki…

    masa cuma chatting2an bisa sampe hamil sih cak *belaga oon* 😀

  10. 11 Lintang Juli 24, 2007 pukul 4:08 pm

    wah hebat ya internet bisa bikin hamil *ra mudheng mode on*
    Jd inget postingan Joe yg diminta tanggung jawab sm cewek medan.
    Sekarang memang jaman edan, mau2nya orang berhubungan seks dg orang yg baru dikenal, kayake emang udah nge trend deh kayak yg di luar negeri *prihatin*

  11. 12 chielicious Juli 24, 2007 pukul 5:04 pm

    Ngakak pas baca penisun dan vaginun .. mwahahha

    Btw itu beneran dari internet trus jadi hamil? gimana caranya ?? O_o

  12. 13 huda Juli 24, 2007 pukul 5:45 pm

    Hehehe.. bahkan saya pernah diceritain ko-as cewek masukin kateter ke uretra pasien cewek malah dimasukin ke vagina. Yg seperti ini bahkan berkali2 ditemukan. Itu entah ko-as ceweknya gak merhatiin kuliah anatomi jaman dulu atau agak grogi di depan pasien ya?

    Tapi klo mhsw2 yg cowok wah.. pada pinter2 masalah beginian.. 😀

  13. 14 wAnAboed Juli 24, 2007 pukul 6:38 pm

    indonesia sama saja pak, tapi gak curhat lewat internet kali …

    http://harrypottersouthpark.wordpress.com/ (funny movie)

  14. 15 ndarualqaz Juli 24, 2007 pukul 7:51 pm

    walah, emang sekarang hal ini [hehehe, saya males nyebutinnya] sangat meresahkan. saya kenal dengan seorang aktivis di bidang ini [terutama tentang AIDS] di madiun, temen deket saya. kemaren ketika ada MOS [masa orientasi siswa] dia ngadain presentasi tentang hal ini di sma-sma di madiun dan hasilnya……. sungguh mengherankan, bukan tanggapan mereka, tapi ketika sesi yanya jawab.

    masak anak kelas 1 sma baru masuk udah tanya gini : “mas, kalo oral itu bisa bikin kena HIV gak?”,

    whuaaaaaaat, baru kelas satu aja udah tau hal semacem ini, gimana gedenya. dan ketika beberapa orang yang tanya itu diajak ngomong di luar acara, mereka ada yang ngaku pernah melakukannya adinya ereka tanya…….. ???????

    “mengerikaaaaaaaaannnnnnnnnnnnnnnnnnnnn”

  15. 16 Kang Kombor Juli 24, 2007 pukul 8:08 pm

    OOT, zaman dulu (konon) raja-raja jawa punya ngelmu sanggama jarak jauh. Nggak perlu nginternet, hahaha!

    Anakku mbedain cowok sama cewek: kalau cowok punya belalai. Entah siapa yang ngajarin. Aku nggak akan nyebut belalai tapi burung. Orang Jawa kan nyebutnya manuk! Heh, lalu kalau cowok punya belalai, cewek punya apa? Jawabannya nunuk. Maaf yang punya nama seperti alat kelamin perempuan sebutan anakku itu ya.

  16. 17 peyek Juli 24, 2007 pukul 11:44 pm

    jadi tertarik sama animasi flashnya cak!
    bisa dishare nggak cak?

  17. 18 cakmoki Juli 24, 2007 pukul 11:59 pm

    @ itikkecil,
    Setuju mbak, … senang mendengar pengenalan reproduksi sehat sebagai muatan lokal. Di tempat kami dah ada 2 sltp yg melakukannya, masih belum bisa simultan, namun udah lumayan.

    iya, bisa jadi ketidak mengertian akan mendorong “coba-coba” akhirnya jadi.

    @ kangguru,
    ah, wak ini bisa aja … trus bisa didonlot … hahaha

    @ starflake,
    hahaha, iya kali … konon gueu biologi agak risih kalo sudah menerangkan masalah organ r3produksi. Mungkin juga takut cekikikan sendiri 😀

    @ Titah,
    “judul” sengaja dibuat bombastis mbak 🙂
    Informasi terbaik bersumbar dari ibu … saya dulu ketika smp sudah dididik soal itu oleh ibu. Kalo gak salah pertama kali intronya diterangkan mimpi basah.
    Pilihan intro dan waktu mungkin gak sama setiap orang, seorang ibu biasanya lebih tahu karena lebih dekat dengan putranya.

    @ Lita,
    Gak dijelasken bagaimana episode per episode sih, kali langsung ketemuan sekalian … ya ya yaaaaa …

    Sy juga tercengang pertama baca. Mungkin pakai nickname, alamat palesu, dll … toh “bagian lain” kenalan sangat akrab dan saling pengertian 😛 *gak ikutan emosi*

    hueee, mau tak kasih link “adviser” gak tega, ntar gak kober ngejar deadline, … pr dah bejibun gitu 😉

    @ xwomen,
    di bagian mana yg bikin ketawa , hayo 😉
    Kalo cuman chating dijamin gak hamil, kecuali ada adegan “kerja sama” yang saling menyenangkan *halah*

    @ Lintang,
    Nah itu dia, belum ada penelitian lebih lanjut soal itu.
    Demikian juga tentang trend, apakah ini bagian “gaya hidup” atau sebab lain kita tidak tahu.
    konon di sebuah negara nun jauh disana, jika remaja belum pernah “mencicipi” hubungan s3ksual dianggap gak gaul …

    @ chielicious,
    eh? penisun dan vaginun itu obrolan ala blogger, kayaknya perlu dikasih label ™ 😛

    lah mana saya tahu chie, … kesan saya waktu baca arikel BBC, internet hanya media doang, langkah selanjutnya ‘terserah pemeran utama” … hehehe, BBC bisa aja

    @ huda,
    huahaha, … bener begitu mas? kali gak kenal miliknya sendiri tapi sangat paham milik lawan tandingnya 😀
    Solusi: silahkan ko-as cewek melihat miliknya sendiri via cermin dengan posisi litotomi

    kalo ko-as cowok gak usah ditanya, hapal eksterior sampai interior diluar kepala, hahaha *ko-as cewek dilarang protes*

    @ wAnAboed,
    Indonesia lewat mana Wan ? … kasih alamatnya dong *bletak*
    ok, trims link dah dicopy, siap masuk brogroll

    @ ndarualqaz,
    huahahaha, pertanyaan balasan untuk siswa yang nanya: berapa kali, dimana, kapan ? *halah*

    saya mbayangken kalo misalnya sang presenter belum nikah, knock out deh presenternya ngadepi audien remaja yang udah lihai.

    seraaaammmmm

    @ Kang Kombor,

    OOT, zaman dulu (konon) raja-raja jawa punya ngelmu sanggama jarak jauh. Nggak perlu nginternet, hahaha!

    ada bocoran jopo montronya nggak ? Bagi-bagi dong Kang

    Huahahaha, nunuk oh nunuk (istilah dari Kang Kombor ™)
    nunuk kali yg jenis monthok kalo ninik yg kelas endhog ceplok ya ..

    Tanya Kang: kalo misalnya mbak nunuk itunya sakit, apa ya dikatakan: mak nunuk nunuke loro ? *yg gemas silahkan keroyok Kang Kombor*

  18. 19 cakmoki Juli 25, 2007 pukul 12:05 am

    @ peyek,
    ya cak, maaf… saya udah beberapa kali upload gagal terus, filenya kegedean, soalnya file flash swf saya embed dengan file avi.
    maklum, dial-up hehehe

  19. 20 triesti Juli 25, 2007 pukul 12:27 am

    Pendidikan seks itu penting, penting juga bagaimana mengemasnya. apa lagi sekarang dimana2 dibombardir dgn hal yg menjurus ke sana. lebih baik preventif daripada daripada. coba saja bandingkan amerika yg seperti indonesia hanya sibuk dgn abstinen dan eropa yg lebih terbuka ttg pendidikan seks dan hasilnya.

    kalau kls 1 SMA sudah oral.. yah dipikir2 jaman dulu anak umur 9 tahun juga sudah banyak yg kawin. itu kan relatif. sekarang tinggal diarahkan sebisa mungkin jangan ngapa2in, tapi kalau ngapa2in jangan sampai kena penyakit, jangan sampai hamil (sehingga jangan sampai perlu aborsi).

  20. 21 cakmoki Juli 25, 2007 pukul 12:46 am

    @ triesti,
    ya mbak, saya sependapat. Hingga kini, pendidikan seks belum menjadi program prioritas depkes. Tentu kami tidak menunggu itu, mengingat di lapangan tidak selalu sama dengan pandangan para pengambil keputusan.
    Karena itulah pola dan kemasan yg kami buat sangat individual bergantung kepada kondisi lokal dan audiennya. Tantangan lain adalah referensi yg harus kami cari sendiri lalu disesuaikan dengan bahasa audiens agar mudah dipahami. Tidak semua teman-teman di lapangan seberuntng saya yg bisa akses internet dan dapat mendengarkan masukan dari pihak lain. Akibatnya kegiatan ini cenderung sporadis, tidak tertata, dan harus ngatur waktu agar tidak tabrakan dengan program wajib.

    Ironis memang, kegiatan sepenting ini harus dilakukan individual, biaya sendiri (yg ini gak masalah) dan tidak bisa teratur.
    Usulan-usulan agar pendidikan seks masuk program institusi kesehatan belum bisa gol menjadi sebuah program yg sistematis.

    Parahnya, jika seorang dokter di daerah berganti, belum tentu program rintisan semacam ini berlanjut. Siapa yg mau repot ngeluarkan biaya sendiri ? lagi-lagi individual …
    Ahhhh *keluh*

    Ada saran mbak ?

  21. 22 almascatie Juli 25, 2007 pukul 1:39 am

    Ironis memang, kegiatan sepenting ini harus dilakukan individual, biaya sendiri (yg ini gak masalah) dan tidak bisa teratur.
    Usulan-usulan agar pendidikan seks masuk program institusi kesehatan belum bisa gol menjadi sebuah program yg sistematis.

    *pejabat mode on*
    Proyek pendidikan seks ini ada pemasukkan buat kas negara kangtong ga cak? sebab kalo ga ada sih maka antri dulu cak, masih banyak proyek yang butuh perhatian dan tenaga kami. 🙂

    *pejabat mode off bakal calon bapak mode on*
    Kalo menurut saya sih, kayaknya dimulai dari bakal calon bapak seperti saya ini, jadi pada saat udah jadi bapak cakmoki dan ibu ga sendirian lagi, tapi udah ada bapak+ibu yang mengajari, membimbing, dan mengarahkan pendidikan seks tersebut yang diawali dari keluarga.

    *bakal calon bapak mode off*

  22. 23 deKing Juli 25, 2007 pukul 2:32 am

    Setuju cak…
    Oh ya ini serius lho cak…
    Pas conf kemarin kan saya pamit untuk kerja kan?
    Nach pulang kerja saya mampir basement untuk ngecek kotak surat dan ternyata di kotak surat tsb ada banyak sekali kondom masih baru (seumur-umur itu pertama kali saya lihat kondom secara langsung).
    Setelah saya lihat2 kemasan kondom dan juga tanya teman flat, ternyata kondom tsb dibagikan secara gratis untuk tujuan promosi sekaligus program kampanye sex sehat.
    Walau secara tidak langsung kejelekan program ini (pembagian kondom) adalah seperti mendorong terjadinya sex bebas sich tetapi kalau dipikir lebih jauh sebenarnya kerangka utama program tsb bagus…yaitu pendidikan sex dan juga kampanye sex sehat.

  23. 24 mei Juli 25, 2007 pukul 9:23 am

    mbok ya di bahas sekalian tahapan2 untuk sex education cak…khok sajakke nanggung gt..hehe

  24. 25 axireaxi Juli 25, 2007 pukul 10:37 am

    pak dokter, setahu saya keluarga-muda baru akan punya anak minimal setelah lewat 9 bulan

    apakah sekarang dunia kedokteran sdh sangat maju?
    atau hitung2an matematika saya yg keliru n ngawur?

    http://www.kompas.com/ver1/Hiburan/0706/30/082056.htm

    maaf kalo agak OOT

    matur nuwun,
    adi.n

  25. 26 Luna Moonfang Juli 25, 2007 pukul 11:07 am

    komen OOT :

    “…menurut survey seorang dokter di Shanghai, para pria menghilang begitu si remaja putri mengaku hamil…”

    ini internetan apa diculik alien ya ???? 😆

    komen ga OOT :
    pendidikan sex sedari dini perlu banget cak … apalagi budaya tabu kan udah ga “cocok banget” di Indonesia …
    *kok tetep berkesan OOT ya … ??? …*

  26. 27 Fa Juli 25, 2007 pukul 11:10 am

    usullll Cak…
    gimana klo kita bikin milis khusus pendidikan seksual buat anak sesuai tahapan usia? Moderator dan pemateri utamanya Cak Moki sama Bu Lita *main tunjuk seenaknya, tapi suerrr, sudah dg pertimbangan matang*, nah ntar CakMoki ma Bu Lita ngasih materi, trus sama para orangtua anggota milis diterapkan di rumah, klo ada pengalaman2 dr para orangtua bisa juga dishare di milis, hehehe… *itung2 buat persiapan saya nantinya, hihi*

    eh, tadi saya belum bilang yah? Menurut saya pendidikan seks buat anak itu perluuu banget, daripada mereka nyari info di luaran *yg tentu nggak bisa dikontrol sepenuhnya oleh ortu* jd mending ortu duluan kan yg ngajari.. 😀

  27. 28 manusiasuper Juli 25, 2007 pukul 11:55 am

    Tanpa Skrinsyur, saya tidak percaya cak…

  28. 29 cakmoki Juli 25, 2007 pukul 2:14 pm

    @ almascatie,
    kalo dijadikan workshop di hotel bintang tujuh, banyak kas dong, … apalagi kalo ditindak lanjuti study banding ke Shanghai 😛

    *untuk calon bapak, kapan ? luamaaaa …*
    benar, biasanya di KUA diadakan semacam “pendidikan s3ksual” ketika menjelang pernikahan. Menurut saya sebaiknya sebelum itu, soalnya kalo pas mau nikah si calon pengantin udah gak konsentrasi.
    Mungkin terbayang “penisun dan vaginun”, hahaha

    @ deKing,

    … saya mampir basement untuk ngecek kotak surat dan ternyata di kotak surat tsb ada banyak sekali kondom masih baru

    Bisa dikirim gak ? *bisik-bisik* … ukuran M selusin, ntar kalo kebesaran diiket karet, kalo kekecilan direndam air anget 😆

    Di Indo hal seperti itu masih kontroversi. Di media ada kampanye pemakaian kondom. Sy sependapat, memang benar … di satu sisi seolah mendorong s3ks bebas (sebenarnya diem-diem udah terjadi sih), di sisi lain untuk keamanan, terhadap resiko hiv ataupun ab0rsi.
    Pilih mana nih …

    @ mei,
    hehehe, entah mengapa sy gak berani mbak, … lebih cocok presenternya ibu-ibu kali…

    @ axireaxi,
    walah, setelah baca linknya … kali mensosialisasikan “budaya menabung” mas.
    Kemajuan, seperti padi yang tadinya 6 bukan bisa dimajukan panen menjadi 2,5 bulan … hehehe

    Menurut rumus matematika, berarti hitungan kita keliru, ntar kita tanyaken aja kepada om deKing.

    @ Luna Moonfang,

    ini internetan apa diculik alien ya ????

    diculik kali Teh 😀 … atau mungkin pakai jurus menghilangkan jejak untuk membuat jejak baru.

    Iya, saya sependapat. Menurut sy juga perlu dibuat 3-4 tahap, tahap pertama untuk SLTP, kedua SMU-mhs, ketiga pranikah dan keempat pasca menikah. Ini pendapat pribadi sih, soalnya materinya beda-beda.
    *mikir, kenapa Teteh ini merasa OOT … ada apa ya?, mode heran ON*

    @ Fa,
    Tentang usulan milis:
    Sip, usulan heboh … bakal rame tuh, setidahnya rame yg ngintip dan copy paste bagi yg malu ikutan gabung.
    sejujurnya, sy gak berani memulai, namun usulan ini akan saya bawa ke rapat IDI samarinda minggu depan (29 Juli 2007), moga ada respon positif dari teman-teman yg ahli. … Tosss

    Tentang pendidikan s3ks:
    iya, cocok mbak … ini perlu untk melatih atau memberi dorongan bagi orang tua agar berani mendidik s3ks kepada anak-anaknya.

    @ manusiasuper,
    hahaha, mana ada yang mau sukarela Cil …
    eh, punya skrinsyutnya gak … bagi-bagi dong *nunggu kiriman skrinsyurrr*

  29. 30 Lita Juli 25, 2007 pukul 2:37 pm

    @ Fa:
    *gdubrak*
    Beneran? Atas pertimbangan apa, ya? Asli, berat badan saya jauh dari idel, jadi mungkin kurang berat untuk dibandingkan
    *mode o’on*

  30. 31 suandana Juli 25, 2007 pukul 3:11 pm

    Bahasa di posting kali ini tingkat ‘tinggi’ nih… Saya belum nyampai tingkatan itu. Makanya, supaya generasi penerus nanti tidak seperti saya, maka diperlukan adanya pendidikan s3ks yang baik (tidak ngawur dan kebablasan). Gimana kalau kita usul ke Depdiknas, Cak? Bikin petisi atau gimana gitu? 😀

  31. 32 triesti Juli 25, 2007 pukul 4:02 pm

    Kalau sekolah katolik biasanya mereka kerja sama dgn keuskupan (kalau di Jakarta), dan tiap tahun di sekolah ada penyuluhan sejak paling tidak SMP. Yang memberi penyuluhan ada yg dokter juga, dan setau saya volutering. Mungkin bisa via posyandu diajarkan bagaimana memberi tahu anak ttg hal ini (bayi dari mana, beda lelaki dan perempuan, mens krn makin lama makin dini)? Juga menerbitkan buklet yg bisa dibaca di perpustakaan sekolah misalnya. Buku sex education disini untuk anak usia 10-12thn amat sangat gamblang penuh gambar, mereka mendapat info yg di Ind. baru diperoleh saat SMA. mulai dari cerita sperma, telur, DNA, ciuman sampai homoseksual dan segala fetish. Di Ind. rasanya tidak mungkin, krn org masih akan ribut tabu. Tapi saya ingat, ada anak lulus PMDK ke UI(Artinya pintar dong) bertanya ‘anak itu ditentukan posisi saat senggama ya jenis kelaminnya’. Kemana aja dia waktu pelajaran biologi ngajarin X dan Y?

  32. 33 cakmoki Juli 25, 2007 pukul 4:10 pm

    @ Lita,
    😉 🙂 😛 😆

    @ suandana,
    Bukaaaannnn mas, kalo internet mah bahasa tingkat tinggi.
    P3ndidikan s3ks sih pendidikan tingkat rendah, soale mbahas yang rendah-rendah je …

    Iya ya, koq diknas nggak mau masukkan program beginian, padahal kita-kita siap dan gratis lho *kalo perlu bawa minum sendiri*

  33. 34 cakmoki Juli 25, 2007 pukul 4:58 pm

    @ triesti,
    Di Posyandu gak semua berani penyuluhan beginian mbak, kalo saya sih enjoy aja … hehehe … tinggal menyesuaikan ada anak kecil atau enggak, kemasan dan bahasa bisa disesuaikan.

    Betul mbak, di Indonesia, baru ngomong pendidikan s3ks aja, udah ribut duluan. kadang sy suka guyon: “alahh yg ribut paling juga ngintipan”

    Soal jenis kelamin, saya malah yakin kalo pertanyaan tersebut bisa juga terlontar dari yg sudah mahasiswa, sarjana bahkan yang sudah rumah tangga.
    saya pernah menghadapi hal serupa saat penyuluhan ke ibu-ibu 😀

  34. 35 santribuntet Juli 25, 2007 pukul 5:59 pm

    China… pelajaran yang tak perlu ditiru…?
    Padahal Nabi saw yang mulia bersabda: “belajarlah meskipun hingga ke negeri China” rupanya ada pelajaran menarik di sana, tapi bukan untuk ditiru apalagi ditiduri..
    melainkan dihayati kaya apa rasanyaa yaa.. ber hub sx di internet… husss kok aku nglantur sehhh .. maafin dokter. ini mungkin karena lama liburan ngeblog jadi koment juga ngaco…

  35. 36 Juliach Juli 25, 2007 pukul 6:07 pm

    Oh…a…lah… itu mah bukan hamil via internet!!! Kalo mau show pake webcam, dijamin tidak pernah hamil!!! Yang jadi masalah itu janjian meeting via internet dan kelanjutannya … nah itu berbahaya!!!

  36. 37 triesti Juli 25, 2007 pukul 7:58 pm

    disini yg penyuluhannya sudah baik saja masih bisa kebobolan, gimana di Ind. soalnya yg dipikir cuma posisi saja sih.

    yah kalo ngga nantinya jadi dipasangi microchip kalau kena penyakit kelamin. itukan yg sedang dibahas di papua. linknya ada di blog saya. ide paling bodoh yg pernah saya tau. sudah kayak nazi saja. mereka itu orang sakit, bukan anjing.

  37. 38 cakmoki Juli 25, 2007 pukul 9:57 pm

    @ santribuntet,
    setuju Ustadz … yang dilakukan sebagian Remaja Shanghai (konon 100.000 remaja putri hamil) dengan cara transaksi s3ks via internet, mungkin salah satu yang tidak boleh ditiru.
    Saya sendiri juga ingin tahu heran, kalo antar kota berjauhan, bagaimana cara ketemuannya… lha kalo bolak balik pakai pesawat bangkrut dong. Anatu mungkin saking hebohnya sekali ketemu langsung hamil 🙄

    @ Juliach,
    hehehe, iya Bu … internet hanya media … selanjutnya adegan sensor 😀

    @ triesti,
    ya bener, sibuk cari posisi dan nggak ngukur kemampuan. Yang kemampuan cekakpun nekat nguber jabatan.

    walah, berita itu ya … beruntung mbak Triesti nun jauh di sana, andai melihat langsung tayangan dialog para pejabat di TV dalam negeri mungkin malah sulit membedakan antara ide bodoh dan omongan linglung, hehehe

  38. 39 antobilang Juli 26, 2007 pukul 1:25 am

    walah…ngeri euy 😛

    *gaya spammer*

  39. 40 cakmoki Juli 26, 2007 pukul 2:49 am

    @ antobilang,
    … asyik euy, untuk bahan konfs … 😆

  40. 41 axireaxi Juli 26, 2007 pukul 9:03 am

    o.., berarti sebenarnya itungannya tetap 9 bulan_an ya

    “nabung” duluan 3 bulan, trus sisanya “saat resmi”

    wah..wah..
    *garukgarukdhengkul*

  41. 42 aLe Juli 26, 2007 pukul 1:14 pm

    wah aLe gak ikutan, belum cukup umur ^_^

  42. 43 cakmoki Juli 26, 2007 pukul 4:41 pm

    @ axireaxi,,
    hahaha, ahli matematika pusing nich …
    kan bilang mas Adi 2-1= tidak mesti, … “tergantung” yang “menggantung” *garuk-garuk bawah dengkul*

    @ aLe,
    belum cukup umur ? … tanpa skrinsyur (kata om mansup) belum bisa diercaya 😀

  43. 44 rahmawati Juli 27, 2007 pukul 9:31 am

    Wah, itu jelas freaky.. Kok ya mau2nya baru kenal udah langsung *******. Kayaknya Indonesia perlu survey juga deh.. Siapa tau ada penemuan baru yang ga kalah mencengangkan.. ya ngga, Cak? 😉

  44. 45 sibermedik Juli 27, 2007 pukul 10:29 am

    Dear all Doctor..Pengalaman merupakan guru yang paling berharga, dengan ini SiberMedik ingin mengajak para teman sejawat untuk berbagi pengalaman kepada para calon teman sejawat (mahasiswa keokteran) lewat buku yang akan Sibermedik rilis insya Allah bulan Desember 2007 yang berjudul :

    “Ringer Laktat untuk Calon Teman Sejawat: Kapita Selekta Pengalaman PTT”Buku ini berisi tentang kumpulan pengalaman tentang dokter-dokter yang telah melaksanakan PTT di luar daerah -terutama Pulau Jawa-. Sibermedik memiliki harapan dengan terbitnya buku ini akan menggugah para Calon Dokter untuk melaksanakan PTT dalam rangka pengabdian terhadap masyarakat karena seperti yang kita tahu, masih banyak daerah diluar Jawa yang belum tersentuh Pelayanan Kesehatan. Pengalaman-pengalaman para dokter yang telah menunaikan PTT diharapkan dapat menjadi wacana, motivator, sekaligus mutiara-mutiara hikmah dalam menjalani etos kerja di lapangan.Untuk itu, kami menantikan artikel kiriman dari rekan-rekan teman sejawat dengan syarat:

    Diketik dengan Times New Roman (Fonts 12), Spasi Single, max 3 Hal A4.
    Format File .doc (ms.word) atau .pdf (adobe acrobat).
    Disertai data diri : Nama, Tempat-Tgl Lahir, Alamat Rumah&Email, Asal FK, Masa Bakti PTT, No telepon yang bisa dihubungi.
    Artikel dikirim via email: sibermedik@yahoo.com ; paling lambat 01 September 2007.
    Atas partisipasi rekan-rekan sekalian dengan mengirimkan artikel ini, Sibermedik akan mengirimkan merchandise untuk artikel-artikel yang akan dimuat di buku “Ringer Laktat untuk Calon Teman Sejawat: Kapita Selekta Pengalaman PTT” ini.

    Terima Kasih Atas Perhatiannya.

  45. 46 nayla zahra Juli 27, 2007 pukul 4:33 pm

    bacanya sambil “cengar-cengir” abis seru banget …
    hmmm S3x EdUcaTiOn.. kayaknya rada sulit yah Pa??? atau…

  46. 47 cakmoki Juli 28, 2007 pukul 3:03 am

    @ rahmawati,
    mbayangin kalo Indonesia survey hasilnya seperti apa ya ? … jangan-jangan kayak dugaan mbak rahma, … mencengangkan … huaaaaa
    eh, link Blog-nya mana nih 😉

    @ sibermedik,
    woro-woro sepertinya perlu dibuat posting khusus lalu trackback ke temen-2.
    Ok, selamat atas pembuatan kapita selekta “khusus”, semoga dapat memberi manfaat bagi sesama.

    @ nayla zahra,
    iya tuh, S3x EdUcaTiOn sangat sulit apilkasinya … kalaupun ada yg melakukan masih bersifat insidental, belum bisa simultan. benturan sebenarnya bukan di tingkat masyarakat (audien) tapi di tingkat wacana …

  47. 48 aRuL Juli 29, 2007 pukul 4:08 am

    eh telat bacanya….
    btw ini terinspirasi conf itu hari yah cak?
    hehehe
    penisun dan penisem
    hahaha 🙂
    sudah dibagi2 blum pembahasannya 😛

  48. 49 cakmoki Juli 29, 2007 pukul 4:52 am

    @ aRuL,
    hehehe, iya … supaya gak terlalu mencolok dikaitkan dengan berita BBC. Bahasannya belum dibagi sih, kapan-kapan aja kalo pas konfs ramai-ramai 😀

  49. 50 sibermedik Juli 29, 2007 pukul 9:35 am

    sory boz…pingin partisipasi gak??
    dikejar deadline niy..bantuin dong???

  50. 51 cakmoki Juli 29, 2007 pukul 3:01 pm

    @ sibermedik,
    duhh maaf, gak bisa bantu, lagi banyak tugas nih 😀

  51. 52 Yari NK Juli 31, 2007 pukul 11:56 am

    Bagaimanapun juga enak ya jadi laki-laki?? Tinggal Plug-and-Play terus kalau udah kabur!! (Hehehehe…. 😀 )

  52. 53 cakmoki Agustus 1, 2007 pukul 3:24 am

    @ Yari NK,
    hahaha, iya kali 😆

  53. 54 Lily Agustus 1, 2007 pukul 9:07 am

    Saya setuju dengan pendidikan seksual,
    mungkin lebih tepatnya bukan sedari dini,
    melainkan dilakukan pada saat yang tepat,
    dan bertahap sesuai dengan kemampuan pemahaman si anak,
    plus dengan bahasa yang benar tapi tetap mudah dipahami (jadi gak membuat ambigu..). 🙂

    Pengalamanku sih gak pernah dapet pendidikan seksual dari orang tua,
    malah cenderung dihalangi..
    Tapi ya itu, dampaknya aku malah tertarik dan sering mencari tahu sendiri melalui berbagai media yang ada.

    Untungnya, pengetahuan terpenuhi tapi tidak ke arah yang salah.. 😉
    Sekarang malah jadi referensi teman2 buat konsul, hehehe.. ;p

  54. 55 cakmoki Agustus 1, 2007 pukul 3:43 pm

    @ Lily,

    Saya setuju dengan pendidikan seksual, mungkin lebih tepatnya bukan sedari dini, melainkan dilakukan pada saat yang tepat,
    dan bertahap sesuai dengan kemampuan pemahaman si anak, plus dengan bahasa yang benar tapi tetap mudah dipahami (jadi gak membuat ambigu..)

    makasih masukannya mbak. Cara ini lebih tepat untuk di dalam keluarga atau dalam skala kecil kali ya …

    Sekarang malah jadi referensi teman2 buat konsul, hehehe.. 😛

    berarti dah bisa buka konsul online dong 😆


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Wong ndeso ™

cakmoki

Wordpress Indonesia

Silahkan baca

DISCLAIMER

web tracker

9 Desember 2009

SEMENTARA TUTUP

Maaf, sementara Blog istirahat hingga ada pemberitahuan

Harap maklum


MARI HENTIKAN KORUPSI

Jangan Korupsi Ah

No Korupsi

Internet Sehat

Warga Bicara

» Makasih PLN, listrik Samarinda dah membaik, moga gak byar-pet

» Waspada Demam Berdarah

» Jangan Gunduli Palaran

» Banjir...banjir. Kapan masalah ini teratasi ?

INGA INGA INGA

» Nyeri Urat or Tulang BUKAN berarti Penyakit Asam Urat.

» Sekali lagi: Pegal, Linu Tidak Identik dengan Penyakit Asam Urat

TEMANs

9racehime | A. Fatih Syuhud | Aditiawan Chandra | A.Tajib | Agung UD | aLe | alief | alle | almascatie | Amd | Anak Peri | Anak Sultan | Anang | Anang YP | Anas | Andalas | Anggara | Anjaz | Anti Pungli | Antobilang | Anung87 | Aribowo | Arif Kurniawan | Arul | Astikirna | awan965 | axireaxi | Bambang alias HR | BatakNews | Blog Pokoke? | Biho | CalonOrangTenar | Cay | Chandra | Chielicious | chiw imudz | cK-chika | Dalamhati | Deden Nugraha | deedhoet | deKing | Desti Utami | Didats | doeytea | dnial | Edy C | Eep | Elpalimbani | erander | Evi | Fa | Fa wp | Faiq | Fertobhades | Fetro | Fortynine | Freddy | Gadis | Gaussac | Gitablu | Grandiosa | GuhPraset | GuM | Helgeduelbek | Herdy | Indonesia Kita | Indra KH | ItikKecil | iway | Jejakpena | Jennie S. Bev | Joesath | Joko Taroeb | Julee | Juli | Juliach | Junthit | Jurig | Kakilangit | Kang Adhi | Kang Kombor | Kangguru | kawaichu | Kenji | Kenzt | kikie | koecing | Kumala | Kurtubi | Kw | Laras | liezmaya | Lilik Suryanto | Lily | Linker | Lintang | Lita | Lita wp | Luthfi | MaIDeN | Majalah Dewa Dewi | Manusiasuper | Master Li | Mathematicse | macanang | mbojo | Mei | Micokelana | Mr. Geddoe | Mufti | mybenjeng | My-za | Nayla Zahra | Nayz | Ndarualqaz | Neeya | Neo Forty-Nine | Neri | Ninoy | Nieke | Nomercy | n0vri | NuDe | Om Sulis | omaigat | Ooyi | Paijo | Panca | Pandu | Panduan WP | Papabonbon | Passya | Peyek | Pinkina | Pitik | Pralangga | Prayogo | Priyadi | Qee | Raja iblis | RenjanaBiru | rivafauziah | Rivermaya | Roffi | roisZ | Rujak | Sagung | Sahrudin | Saiful Adi | SaRa | Siu | Sofi | Sora9n | Suandana | Suluh | Susiloharjo | Telmark | Thamrin | tiesmin | Triesti | Tukang Sate | Venus | Wadehel | Wahyuansyah | Wandira | Wiku | WongMangli | Wulan | Yati | Yudhipras |

:: :: :: :: :: :: :: :: ::

Kesehatan

:: Ady Wirawan :: Agus Mutamakin :: Anis Fuad :: Anis Fuad wp :: Asri Tadda :: Astri Pramarini :: Astri Pramarini (awal) :: Astri Pramarini wp :: Blog Mahasiswa FKU 2003 :: Blog Rumah Kanker :: Dani Iswara :: Dani Iswara weblog :: Dokter arek cilik :: drAnak :: drarifianto :: Dwi wp :: Elyas :: Erik Tapan :: Evy HealhtySmile :: FK Unsri :: Gies :: Gies wp :: Ginna :: Grapz :: Hendar Sunandar :: HIV News :: Huda Thoriq :: IDI Samarinda :: imcw :: Imran Nito :: Iwan Handoko :: Jhonrido :: klikharry :: Kobal :: Laksmi Nawasasi :: Mashuri :: Mave Mina :: Mbah Dipo :: Mina :: My Blogspot :: Nur Martono :: PKM Palaran :: Rara :: Rizma Adlia :: Rudy Kwang :: SenyumSehat :: Sibermedik :: SimkesUGM :: SuperKecil :: Titah :: Tito :: Tonang Ardyanto :: Tukangkomentar :: Wi :: Vina Revi :: Vina Multiply :: Yusuf Alam R :: zulharman79 ::

:: :: :: :: :: :: :: :: :: :: ::

Institusi Kesehatan

:: Depkes RI :: WHO :: WHO Indonesia :: … nyusul

:: :: :: :: :: :: :: :: ::

Kolaborasi

:: Emedicine :: ICD 10 Wikipedia :: ICD 10 Wiki Indonesia :: OSWD :: OpenWebDesign :: Pakistan Times :: Rubab :: ntar ::

Kategori

BlogTour

Arsip

Komunitas Blog

blog-indonesia.com

PAGE RANK

Powered by  MyPagerank.Net

Add to Technorati Favorites

[Valid RSS]

Health Blogs - Blog Top Sites

Health

Blogs Topsites - TOP.ORG

Health Blogs - Blog Rankings

Blog directory

TopOfBlogs

Top 10 Award

Feed Burner

cakmoki Blog

Bloggerian Top Hits

My BlogCatalog BlogRank

Site Meter

Since 30 Nov 07

PENGUNJUNG

  • 5,301,963 pengintip

Asal Usul

Pebruari 2011

free counters


%d blogger menyukai ini: