Ah, Bu Menteri ini

Beberapa waktu yang lalu, Menkes RI mengumumkan berlakunya obat murah. Nampaknya ini dilakukan sebagai jawaban keluhan melambungnya harga obat. Maka dikumandangkanlah siaran ulangan obat generik murah meriah berkualitas. Salah satunya antibiotika golongan amoksisilin.

Eh, tiba-tiba muncul berita di media cetak ( Kaltim Post) bahwa Indonesia sudah resisten terhadap Amoksisilin, artinya obat ini tidak manjur lagi. Bu Menkes (menurut media) akan menelorkan larangan penggunaan Amoksisilin di Indonesia berdasarkan penelitian tim ahli. (siapa saja mereka?)

Saya merasa terusik membaca pernyataan bu Menkes di media cetak terkait resistensi Amoksisilin. Mengapa ?

Pertama, bu Menkes menyatakan bahwa para dokter spesialis sudah tidak menggunakan amoksisilin lagi, sedangkan dokter umum masih menggunakan.

Komentar:

Ah Bu Menteri ini, bukankan pemakaian ciprofloxacin mengalami booming beberapa tahun terakhir ? Rasanya sih kondisi ini patut dijadikan pertimbangan sebagai variabel kontrol. Kemungkinan cross resistance (resistensi silang) tidak dapat diabaikan begitu saja tho? Tidak adil juga jika penelitian hanya dilakukan terhadap satu jenis obat tanpa menyertakan obat lain. Lebih-lebih jika argumen yang mendasari disebutkan seolah-olah berhubungan dengan mahalnya bahan baku amoksisilin dari China.

Konon bahan baku obat selama ini didatangkan dari Asia (China) dan Eropa (Belgia), … yang bener mana dong. Mengapa gak beli bahan baku ke India? *Mode curiga On* … jangan-jangan ada monopoli.
Andaikata booming ciprofloxacin ikut terlibat terjadinya resistensi amoksisilin, berarti ulah siapa hayo.

Oya Bu Menteri, coba deh sekali-sekali masuk ruangan RSUD Ssttt …. di sana juga terjadi booming cefotaxime, itu tuh … harap tidak kaget jika menjumpai nyaris semua pasien satu ruangan (sakit apapun) digelontor cefotaxime. Menurut pendapat saya, ini ibarat benih terjadinya resitensi di masa mendatang. Pasien sih gak ngerti atau mungkin senang karena dianggap ampuh. Siapa saja pelakunya, hayo ….

So, dikotomi dokter spesialis-dokter umum terkait penggunaan obat membuat saya risih. Saya yakin ibu Menteri masih ingat bahwa dalam sistem layanan kesehatan, keduanya merupakan satu mata rantai sistem reveral (rujukan). Piye ?

Selain itu, keputusan melanjutkan ke dokter spesialis atau tetap sebagai dokter umum awalnya adalah pilihan, bukan masalah kemampuan intelektual semata. Kelebihan kemampuan dokter spesialis dibanding dokter umum adalah hal yang amat wajar dan memang harus begitu. Namun tidak lantas ada pemutusan mata rantai kan ?
*Mode curiga On* … jangan-jangan berhubungan dengan upaya menggolkan “proyek” kaplingan dokter keluarga yang sarat “anggaran” ruarrr biasa besar. Jika iya, ah … lagi-lagi masyarakat tak lebih sebagai obyek sapi perah belaka.

Pada poin ini, keputusan resistensi amoksisilin (kalau jadi) tanpa publikasi jujur sistem penelitian dan personil yang terlibat di dalamnya, adalah hoax.

Kedua, di luar inner cycle (internal medis dan farmasi) masih ada sistem niaga obat yang amburadul. Ini terbukti dengan mudahnya mendapatkan antibiotika semisal amoksisilin, tetrasiklin di warung-warung. Tahukah ibu Menteri bagaimana masyarakat menggunakannya? Kebanyakan mereka membeli 1-2 biji lalu menelannya. Pun kebiasaan menghentkan minum antibiotik ketika si pemakai merasa sembuh tanpa menghabiskannya. Tak aneh jika kemudian terjadi resistensi.

Lha yang ngawasi (BPOM) gimana dong … Masihkah bisik-bisik para med-rep bahwa BPOM senang menerima upeti dari PBF (Perusahaan Besar FarmasI) terus berlangsung. Jawab: hehehe … investigasi patut dilakukan. Padahal dokumen Depkes menyebutkan bahwa lebih 30% biaya obat adalah biaya “non produksi” (baca: anggaran angpao). Dan itu semua dibebankan kepada pasien. Huaaaa.

Di kesempatan (media) yang sama, ibu Menteri menyatakan akan diproduksi antibiotika lain yang tempat dan bahan bakunya dari Indonesia.

Komentar:

Salut Bu, langkah maju mengingat persoalan ini hanya masalah peralatan dan teknis pembuatan, tenaga kita rasanya mampu melakukannya dan negeri ini tidak sulit membeli peralatan (asal tidak mark-up). Koq baru sekarang ? Yakin lebih murah dan nih ?
Jika suatu saat terjadi resistensi obat lain, mohon tidak menilai siapa yang menggunakan, lebih tepat jika penilaian diarahkan kepada siapa yang rasional siapa yang tidak. Pokok persoalannya di situ kan?

Ketiga, salah satu petinggi Depkes menyatakan (di media) bahwa proses pelarangan masih dalam penggodokan, menunggu hasil tim peneliti.

Komentar:

Hati-hati Bu, kendati melibatkan peneliti “independen”, tidak ada salahnya sikap waspada dalam kondisi siaga satu. Konon di bawah ibu, ada para petualang yang oleh dokter senior disebut “mister lobby”. Masih segar dalam ingatan kita betapa konyolnya pengelolaan dana warga miskin diserahkan kepada pihak ketiga (baca:PT Askes). Hasilnya apa ? Gak jelas … koq berlanjut? … gurih soale. Lagi-lagi korbannya adalah warga miskin sebagai lahan hijau mengeruk uang rakyat.

Maaf Bu, waktu diskusi online menjaring pendapat, saya terpaksa berkata pedas saking tidak betahnya dibohongi mentah-mentah oleh “mister lobby” (baca: petualang Depkes)
*Mode geram on: moga diselidiki KPK*

Akhirnya, keputusan ada ditangan para petinggi Depkes dan ibu Menteri selaku penangung jawabnya. Semoga sukses dan mendapatkan limpahan rahmat-Nya. Amin.

Saya ingin titip renungan untuk semua program Depkes yang melibatkan anggaran:

” Pantaskah keluarga dan anak-anak kita mendapatkan makanan dan biaya pendidikan dari sumber yang tidak jelas (baca: diragukan kehalalannya) ? “

:: :: :: lega :: :: ::

technorati tags:, , ,

Blogged with Flock

Iklan

49 Responses to “Ah, Bu Menteri ini”


  1. 2 chiw imudz Juli 22, 2007 pukul 4:07 am

    OOT:

    Eh, tiba-tiba muncul berita di media cetak ( Kaltim Post) bahwa Indonesia sudah resisten terhadap Amoksisilin

    emang bener ya Cak? kok aku masih sering pake amox?

  2. 3 bebek Juli 22, 2007 pukul 4:27 am

    “tidak jelas” itu yang bikin orang penasaran… Jadinya “tidak jelas” itu membuat hidup menjadi lebih hidup… πŸ˜€

  3. 4 Luthfi Juli 22, 2007 pukul 5:53 am

    knp yg dimslhkan amox-nya? bukan dosisnya?

  4. 5 cakmoki Juli 22, 2007 pukul 6:07 am

    @ chiw imudz,

    emang bener ya Cak? kok aku masih sering pake amox?

    Bilang koran sih gitu Wi, … kalo bener (versi peneliti) harus publish dulu, terutama soal: dimana, kapan, siapa, dll.

    @ bebek,
    hehehe, iya kali …
    kirain “tidak jelas” itu bikin hidup makin “tidak jelas” πŸ˜€

  5. 6 cakmoki Juli 22, 2007 pukul 6:22 am

    @ Luthfi,
    Betul mas, masalah utama sebenarnya terletak pada “dosis”, “lama” pemberian dan “indikasi’ nya, atau dengan kata lain masalah “rasional” apa enggak. Lebih dari itu, mestinya beberapa jenis antibiotik yang banyak beredar di pasaran.
    Sampeyan aja yang nanyaken ke Bu Menteri ya, lebih dekat soalnya πŸ˜€

  6. 7 deKing Juli 22, 2007 pukul 6:56 am

    Jujur agak bingung jadi bacanya pelan2, semoga tidak kehilangan poin yang ada.
    *poin utamanya korupsi kan cak hehehehe*
    Saya setuju dengan pendapat cakmoki, cuma saya biar kelihatan kalau saya benar2 membaca maka saya akan memajang beberapa quote hehehe.

    bu Menkes menyatakan bahwa para dokter spesialis sudah tidak menggunakan amoksisilin lagi, sedangkan dokter umum masih menggunakan

    Hmmm berarti dalam hal penentuan obat yang dijadikan patokan hanya sebatas “gelar” dokternya saja ya, antara umum dan spesialis. Lantas kok sepertinya “kasta” dokter spesialis lebih tinggi dr dokter umum ya Cak?

    Tidak adil juga jika penelitian hanya dilakukan terhadap satu jenis obat tanpa menyertakan obat lain.

    Bener juga cak. Tetapi omong2 sebenarnya apakah tim yg bertugas melakukan penelitian tsb benar2 independen? Jangan2 tim tsb ada titipan pesan dari sponsor (salah satu pemasok obat mungkin). Lha buktinya dari quote tsb terkesan yang diuji/diteliti hanya sebagian “wakil” obat saja ya

  7. 8 imcw Juli 22, 2007 pukul 8:29 am

    suatu blunder yang tidak perlu dilakukan oleh menteri kita yang tercinta ini…mengapa saya bilang begitu karena penelitian tentang efektivitas amoxillin masih dalam penelitian dan setahu saya sesuatu yang masih diteliti haram untuk dibuka di muka umum…biasanya setelah hasil penelitian itu diseminarkan baru boleh diketahui oleh umum…

    mengapa ibu menteri kita itu sampai berkata’ dokter spesialis udah tidak ada yang pake amoxicillin, yang masih pake hanya dokter umum’…memang ibu menteri kita ini jarang main ke daerah ya?…di daerah masih sulit nyari antibiotika terbaru dengan harga ratusan ribu…masih banyak dokter spesialis di denpasar (termasuk kota besar) yang masih menggunakan amoxicillin karena memang disesuaikan dengan kemampuan pasien…

    setelah berita itu muncul, saya jadi tidak enak hati untuk meresepkan pasien obat yang mengandung amoxicillin…sial! (saking keselnya)

  8. 9 anas Juli 22, 2007 pukul 10:54 am

    Kalau begitu apakah ini suatu berita kepagian yang terlalu cepat rilis, padahal penelitiannya saja belum rampung ? Ataukah memang benar bahwa ada semacam oknum yang ‘titip’ so, buat cepet-cepet memberikan keuntungan bagi mereka desas-desus ini cepat-cepat dimunculkan ? *mode curiga : on *

  9. 10 cakmoki Juli 22, 2007 pukul 1:42 pm

    @ deKing,
    Betul, point utama nyerempet masalah itu, dan sikap “terburu-buru” bu Menteri yg nampak panik, padahal yg katanya resisten tersebut baru aja diluncurkan (pakai uang negara dong)

    Lantas kok sepertinya β€œkasta” dokter spesialis lebih tinggi dr dokter umum ya Cak?

    Dari sisi keilmuan , iya ! Dari sudut pendapatan, tergantung πŸ˜› … kalo berkewajiban bayar zakat trus gak mampu bayar berarti masih belum nishob, … loh tanggapan sy koq OOT gini πŸ˜‰

    quote kedua, dugaan sy juga begitu, sudah terlalu banyak sih kebijakan yang didasarkan kepentingan rakyat kerja sama.

    @ imcw,
    itulah Om, *bisik-bisik* beberapa ts mengatakan bahwa ibu menteri tercinta ini mungkin hebat dalam hal klinis, namun parah dalam soal “permainan”. Kesannya terlalu mudah dibohongi bawahan.

    Beliau gak sempat ke daerah kali, atau cukup puas dapat laporan ABS.
    Di Kaltim, berita tersebut muncul dengan judul font gedhe, otomatis gampang dibaca khalayak. Lebih repot lagu kalo hanya baca judulnya doang. Kami mau gak mau ngomong ke pasien bahwa pernyataan ibu kita masih penelitian dan belum tentu setiap daerah sama ketika mereka mulai bertanya. Nah, dampak psikologisnya dah mulai muncul kan.
    Kesal, geram, payah deh

    @ anas,
    syukurlah sudah menganalisa seperti itu.
    Yang jelas sih “kepagian”, masih terbawa aroma tidur kali. Sy juga curiga ada “sesuatu”. Kemarin ketemu salah satu personil produsen obat, beliau sampai geleng-geleng dan langsung pasang mode curiga juga, plus sedikit bocoran “permaianan’ tingkat atas.

  10. 11 tito Juli 22, 2007 pukul 3:24 pm

    klien saya juga sudah mulai tiru-tiru memberi antibiotik sendiri pada piaraannya. Repot kalau sudah begini.

  11. 12 fertobhades Juli 22, 2007 pukul 3:25 pm

    cak, apa ada publishing yg memberitahukan bahwa ada obat-obatan tertentu yang sudah mengalami resisten ? bisa didapat dimana ?

    Apa kita sebagai pasien bisa menolak obat yang diberikan oleh dokter/apotik ? Saya pernah membeli suatu obat di suatu apotik tetapi diberikan obat yang namanya berbeda dengan yang dituliskan dokter. tapi kata petugas apotiknya : kandungan dalam obatnya sama saja. Saya nggak percaya begitu saja dan mencari apotik lain.

    thanks cak….

  12. 13 Majalah " Dewa Dewi " Juli 22, 2007 pukul 4:37 pm

    Kalo di Indonesia, kebanyakan masyarakatnya udah banyak yang kebal dengan berbagai antibiotika. Ini sudah salah kaprah sejak awal. Ada kecenderungan kalo dokter Indonesia menggunakan antibiotika secara tergesa – gesa. Bahkan obat generik-pun dinomorduakan ( yang saya tau, lhoh ). Karena pemahaman masyarakat akan kasiat obat ini rendah.

    Dokterpun ingin menjaga imej agar mampu menuliskan obat ngejreng yang cespleng. Di Eropa atau di Belanda yang saya tau, dokter tidak gegabah dalam penggunaan antibiotika. Justru daya tahan tubuh yang harus ditingkatkan melalui peningkatan kwalitan makanan yang bergisi dan istirahat yang cukup. Sebagai contoh kalo seseorang sakit flu.

    Di Belanda orang ini nggak bakalan dikasih obat apa – apa ke dokter. Dia dianjurkan tidur istirahat dan makan yang cukup.Tempat kerja juga mewajibkan yang bersangkutan istirahat di rumah. Jika ada panasnya, dianjurkan minum paracetamol. Sedangkan di Indonesia, masyarakat lebih percaya sama obat pabrik bermerek yang sudah berkombinasi ( bodrek, miksagrip, dll)

    Saya selalu setuju, kalo terus dikampanyekan penggunaan obat generik, dan dokter secara hati – hati menuliskan resep anti biotik apalagi yang dari golongan penicillin. BTW, artikelnya bravo, Cak !

  13. 14 cakmoki Juli 22, 2007 pukul 7:40 pm

    @ tito,
    wah, sudah sejauh itu ya … lha jenisnya mana bisa kira-kira dan dosisnya mana bisa ngukur berdasarkan BB dan kondisi klinis.

    @ fertobhades,
    Di Indonesia belum ada pernyataan resmi obat resisten pak. Yg di atas itu pernyataan bu Menteri dan masih dalam taraf penelitian.
    Lembaga yg berwenang mengumumkannya entah depkes atau BPOM, kita masih belum tahu.

    Soal beli obat di apotik, pasien berhak menolak jika tidak sama dengan yg tertera di resep, kecuali bila sudah dikonsultasikan kepada dokter pemberi resep atas persetujuan pasien.

    @ Majalah “Dewa Dewi”,
    ya benar, dalam konteks “rasionalisasi obat” kita di Indo sudah seperti yg digambarkan (salah kaprah), dokter cenderung memberikan obat “multi farmasi”(banyak jenis obat, kadang antibiotika 3 jenis) sementara pasien (kebanyakan) senang jika “cespleng”. Klop lah kondisi tersebut sebagai bom waktu.

    Tentang obat generik, setuju … perlu sosialisasi terus menerus melalui media. Selain itu dokter tidak perlu khawatir “gak laku” lantaran hanya memberi parasetamol (misalnya pada kasus yg tidak perlu antibiotika). Demikian pula jika emang gak perlu obat, gak perlu maksa diri. Pasien tetep yakin koq kepada dokter asalkan memberi penjelasan yg benar.
    Sy sebagian besar pakai obat generik, toh pasiennya gak lari cari obat “heboh”. Kalo ada yg harga ribuan kenapa harus beli yg ratusan ribu, hehehe

    Maturnuwun, diskusinya hebat deh πŸ™‚

  14. 16 tyas Juli 22, 2007 pukul 9:38 pm

    wah bener pakde, waktu nginep di RS saya dicekoki cefotaxime mulu, sampe bingung juga obat ini gunanya apaan sampe dikasih berbotol2 gitu, pemaksaan pemakaian obat yang ga perlu kah?

  15. 17 Fa Juli 22, 2007 pukul 9:54 pm

    wuihhh… Cak Moki sudah mengeluarkan taring! saya tinggal ngipasi aja πŸ™‚ *abis ndak ngerti mo komen apaan*

    tapi klo soal resisten sama amoksisilin, saya yg nggak ngerti dunia kedokteran aja ngerasa lucu, maksutnya gini, kenapa si ibu menteri itu langsung mau mencomot amoksisilinnya? klo ternyata soal resisten itu karena kesalahan penggunaan spt yg diungkap cak moki, apa nanti nggak bakal terulang sama antibiotik yg baru yg bakal dibuat itu?

  16. 18 Astri Juli 22, 2007 pukul 10:05 pm

    Ini komentar titipan dari dr. Rizal SpA:
    Saya masih pake amoxicillin untuk penyakit yang ringan, masalahnya bukan resistensi tapi sampe saat ini distribusi amoxicillin tidak sampai ke sidoarjo. katanya pabrik tidak produksi lagi karena terlalu murah. Yang jelas amoxicillin masih berguna dan secara klinis masih manjur, yang tidak manjur distribusi obatnya. Kalo bu mentri punya peta resistensi kuman di seluruh wilayah Indonesia, saya pinjem doooong :p
    Karena sepanjang pengetahuan saya peta kuman setiap daerah berbeda, itu dasar penentuan resistensi. Btw sebenarnya yang perlu ditertibkan apotik-apotik yang bisa menjual segala macam obat daftar G secara bebas, itu jadi sumber resistensi. Bahkan saya pernah temui penjualan obat TBC secara bebas, kalo menurut saya sih mending itu aja diurus daripada menghentikan amoxicillin

  17. 19 cakmoki Juli 22, 2007 pukul 10:12 pm

    @ Nayz,
    ditunggu …

    @ Tyas,
    loh, koq jadi seragam gitu, jangan-jangan merata seluruh Indonesia.
    Bener tyas, cefotaxime itu antibiotika gologan sepalosporin yg pangkat dan harganya lebih mahal dibanding amoksisilin. Kalo ada alasan sih gak masalah, lha sy pernah lihat sendiri pasien diabet (opname karena lemes) gak ada infeksi digelontor cefotaxime, piye jajale, … kayak lagu wajib, huaaa

    @ Fa,
    hiks … betuuullll, itulah salah satu akar masalahnya. Kalo di suatu daerah memang terbukti resisten (berdasarkan penelitian yg jujur), gak soal, harus ditarik demi keselamatan pemakai. Namun tanpa memperbaiki sistemnya, ya sami mawon. Jadinya mirip negeri Kamboja, lak dadi repot tah …

  18. 20 dani iswara Juli 22, 2007 pukul 10:16 pm

    nanti keluar lg..siapa dipelintir siapa..
    rakyat mati dipelintir di tengah2..

  19. 21 Lita Juli 22, 2007 pukul 10:33 pm

    Soal obat murah, saya merasa senang sekaligus khawatir.
    Senang karena pasien ‘kurang mampu’ -semoga- bisa mendapat kesempatan pengobatan yang lebih baik, terutama jika harus bertumpu pada biaya pribadi.
    Khawatir, jangan-jangan jadi lebih mudah ‘mengobral’ deret obat di resep, berhubung harga obat kini lebih terjangkau oleh pasien ekonomi ‘bawah’.

    Lagipula kok seperti gegabah ya langsung mau nyapu bersih amoksisilin. Memangnya yang resisten ini se-endonesah? Tergantung perilaku pasien (dan perlakuan dokter)nya, dong. Kasihan yang jarang-jarang kena antibiotik dan masih bisa diatasi dengan AB generasi pertama yang ‘murah-meriah-berkualitas’ itu.

    Kalau tidak salah ingat, hasil tes urin dan resistensi AB jaman hamil Daud dulu, saya juga belum resisten terhadap amoksisilin, kok (walau keputusan akhirnya tetap tidak diterapi dengan AB). Nuduh deh, kalo bilang (seluruh) Indonesia resisten. Saya pencilan sendirian, po?

    *tetep pakai mode curigaan, as always kalo main ke mari*

  20. 22 cakmoki Juli 22, 2007 pukul 11:09 pm

    @ Astri,
    hehehe, saya juga dapet beberapa titipan “aspirasi” terkait pernyataan bu Menteri di media.
    Mirip mbak, yang dipertanyakan ts adalah sensitivitas kuman tiap daerah gak bisa disama ratakan, lha kalo suatu daerah masih sensitif untuk apa ditarik. Belum lagi masalah lain seperti mbak Astri bilang, tata niaga obat yg amburadul, pengawasan yg lemah (kali yg ngawasi ikut jualan) dll malah cenderung diabaikan. Lucu kan ya …

    Ntar kita sama-sama pinjem peta resistensi ke bu Menteri. Sumpek dah, lha penelitian belum selesai sudah woro-woro di koran, piye bos-bos kita ini …

    Soal obat daftar G yg seperti gedhang goreng, yg jelas bukan kita … hehehe, gak ada yg ngacung *siapa gerangan ?*

    @ dani iswara,
    tepat sekali perumpamaannya, saling pelintir, rakyat kelenger di tengah, .. kita ikut kena korban pelintiran lho, gak ditengah persis, agak-agak medio-lateral kali …

    @ Lita,
    *barisan curigesien mode on*
    soal seneng sekaligus khawatir, … jangan bilang-bilang ya … sebenernya sih (kalimat opo tho iki) kita gak yakin (bahasa halus dari gak percaya, halah) kalo institusi layanan medis memiliki “prosedur tetap”. Kalaupun dijawab ada, kita perlu bukti otentik.

    Ini belum bicara masalah kepatuhan terhadap protap, misalnya penyakit tertentu yg gak perlu antibiotika bener-bener gak dikasih antibiotika berdasarkan rekam medik pe-resep-an (punya gak ya?). Atau, kalaupun perlu antibiotika jenis “lini pertama” tidak lantas dicekoki 3 jenis antibiotika “lini di atasnya”, blah … πŸ˜› *ketularan nuduh*

    Gimana seandainya bu Menteri di-add konferens aja …

  21. 23 rickisaputra Juli 23, 2007 pukul 12:09 am

    wuaduh.. nggak ngarti..
    puyenggg… πŸ˜†

    :mrgreen:

  22. 24 Astri Juli 23, 2007 pukul 12:26 am

    Koreksi cak, yang nulis komentar di atas asli bojoku (dr. Rizal) bukan aku. Kalo aku sih cuma bisa komentar, ah bu menteri lupa minum CPZ ya…

  23. 26 almascatie Juli 23, 2007 pukul 3:06 am

    jangan2 semua orang dinegara ini hanya dijadikan kelinci percobaan bagi peneliti-peneliti itu [siapa saja mereka?]
    *ikut2 cakmoki ‘curigation mode on’ :)*

  24. 27 sibermedik Juli 23, 2007 pukul 7:12 am

    *Rumus Matematika On*

    Diketahui:
    tuh kan…rumus “sesat” farmasi ku kmrn bener?
    Amoxicillin yg Rp.3rb masa’ sama dgn yg Rp.20rb?

    tapi dr Majalah Health&Hospital kmrn emang kita dilirik untuk mproduksi obat Rp.1000-an (emang permen??)

    Ditanyakan:
    Lha pripun….Askeskin emnag bisa nutup biaya obat?? y nggak lah..apalagi yg ngurus Askeskin jg orang2 yg kongkalikong *Mode Curiga On*

    Jawab:
    Obat Murah + Ampuh = Biasanya g aman.
    Obat Aman + Murah = Biasanya g ampuh.
    Obat Aman + Ampuh = Biasanya g murah.

    ada formula lain????

  25. 28 peyek Juli 23, 2007 pukul 11:04 am

    kapan saatnya dokter ndeso kayak sampeyan pindah ke kota dan menjadi pengambil kebijakan ya cak?

    apa malah kayak sampeyan ini sengaja di taruh di ndeso biar bisa senggol-senggolan?

    lha apa nggak ada mutasi dari ndeso ke kota atau sebaliknya cak?

  26. 29 penggalih Juli 23, 2007 pukul 12:39 pm

    tuh kan bener rumus kemaren???
    coba baca HEALTH & HOSPITAL EDISI UNTUNG RUGI RUMAH SAKIT, dsitu dibahas masalah obat Rp.1000-an

  27. 30 ndarualqaz Juli 23, 2007 pukul 1:35 pm

    halah, itu poro kawulo dewo dewi di kayangan kok pada bikin kebijakan yang mepersulit manusia di muka bumi terus tho, kalo yang golongan kesatria sih gampang, bisa mbeli dengan hasil upeti rakyat, la kalo yang sudro gimana……

    nDonyo memang sudah gonjang-ganjing, sekarang jamannya kesatria, dan dewa berpihak pada buto dan gendruwo, sedang gendruwo dan buto tambah galak gara2 didukung sama dewo dan kesatrio…….

    sekarang walopun bagong yang suka protes gak dicekal, sayangnya yang diprotes merasa kalo mereka gak perlu mendengar protes, ato mungkin mereka sudah budek kalo dengar suara bagong…….

    saya ini cuma bagong, cuma bisa protes kalo jatah makan saya lebih sedikit daripada gareng ato petruk, saya cuma bisa berkata “nggih” kalo semar buka suara…. biarlah golongan kesatria yang masih baik seperti cak Moki ini saja yang ngurus hal yang di luar nalar bagong….

    sory cak, OOT
    harap2 cemas semoga gak di jadikan sepam sama cak Moki

  28. 32 Kangguru Juli 23, 2007 pukul 3:56 pm

    amoksilin tuh binatang apa sich cak?
    alah ini asal komen heheheh

  29. 33 Juli Juli 23, 2007 pukul 4:56 pm

    Cak, ini asli OOT sekedar share aja. Tadi, saya ke Depkes Kuningan. Karena gedung lagi renovasi, cari parkir uangel tenan. Wes muter-muter gedung 3 kali juga gak dapet-dapet ..bayangin lamanya 😦 . Akhirnya saya nekat parkir deket lobi yang kira2 muat 5-6 mobil. Wes, angel-angel parkir’e, begitu turun mobil di semprit satpam. Kata pak Satpam, ” Bu, maaf tidak boleh parkir disini. Ini parkirnya Bu Menteri” Hehehe, saya langsung ingat postingannya Cak Moki.

  30. 34 irvan132 Juli 23, 2007 pukul 5:56 pm

    ati-ati, kadaluarsa. parah tuh.

    -IT-

  31. 35 kurtubi Juli 23, 2007 pukul 6:26 pm

    Beginilah kalau dr.kritis bin cakmoki bicara…. jlontor2 semoga bu mantri dan bu menteri baca dengan khusu(s)

    “terjadinya resitensi di masa mendatang. Pasien sih gak ngerti atau mungkin senang karena dianggap ampuh. Siapa saja pelakunya, hayo ….”

    — jadi percaya pada dokter itu harus berapa persen cak? —

  32. 36 cakmoki Juli 24, 2007 pukul 8:13 am

    @ rickisaputra,
    ah yang benar … jangan-jangan para ahli turun gunung sambil nyamar πŸ™‚

    @ Astri,
    Waduhh mbak, teganya.
    sy jadi malu *tutup muka*
    salam untuk beliau ya … dan mohon dikoreksi.

    komentar sampeyan di bawah sy gak berani ngasih tanggapan, lebih menghunjam dari postingan soale πŸ˜›

    @ aRuL,
    siiip, tosss

    @ almascatie,
    argh, menyeramkan … sy pura-pura gak berani mengatakan itu *antena curigation sy tambah tinggi*

    @ peyek,
    Tenang cak, ini emang pilihan sebagai “kiper” sambil nggol senggolan.
    Tentu ada mutasi, ada tawaran menggiurkan pula … dan tentu boleh menolak “dum-duman berkat” … hehehe, enak tho, bisa milih sesuai kata hati … asyiiik

    @ penggalih,
    hehehe, iya, …untuk ukuran “kepentingan”, rumus kemarin benar. Tidak benar untuk kepentingan khalayak karena yg membuat ukuran tidak melibatkan pengguna.
    Isi majalah itupun (yg terindikasi pesan sponsor) mengabaikan pengguna, dengan meninjau hanya dari sisi keuntungan.
    Sy paham, sejawat yg hobi obat mahal dapat sesuatu (baca: uang) dari produsen, karenanya tidak heran jika menuduh obat murah=tidak ampuh, bla … bla … bla 😦

    @ ndarualqaz,
    oiiiiy, halo sejawat *hayo, ngaku !!!*
    Sesama bagong dilarang saling mendahului πŸ™‚
    Titip aspirasi sama mas ndaru aja deh, siiip … tosss

    @ Anang,
    biasane yg gaya gak mudeng gini malah ngerti njobo njero πŸ˜€

    @ Kangguru,
    amoksisilin binatang yang suka nggigit kuman pak πŸ˜›
    … alah pura-pura euy …

    @ Juli,
    hehehe, mestinya dari rumah sangu banner “Menkes RI”, begitu sampai parkiran pasang banner di atas mobil sambil pakai kacamata item, … dijamin pak satpam depkes mundhuk-mundhuk bawakan tas πŸ˜€

    @ irvan132,
    Amoksisilin ? .. enggaklah, ada tulisan font bold yg mudah dilihat dibalik blister πŸ™‚

    @ kurtubi,
    ibu Menteri tidak sempat baca beginian kayaknya, agenda kegiatan beliau dah padat je … πŸ˜‰

    konon, boleh percaya 100% kepada dokter yang layak dipercaya, hehehe … maaf pak ini jawaban diplomatis yg tidak memihak dan tidak menjatuhkan *supaya kelihatan bijak sekaligus kelihatan mbulet*

  33. 37 Rizma Juli 24, 2007 pukul 8:33 am

    wah cak,, kalo ampe cefo juga jadi resisten,, kita pake apa lagi ya?? apa ntar ditemuin obat yang lain lagi?? πŸ˜•

  34. 38 cakmoki Juli 24, 2007 pukul 9:12 am

    @ sibermedik,
    Sori komen “formula” sampeyan dipenjara moderasi πŸ™‚

    Amoxicillin yg Rp.3rb masa’ sama dgn yg Rp.20rb?

    Tanggapan: nominal memang tidak sama, kualitas belum tentu tergantung beberapa variabel.
    Jika keduanya menggunakan bahan baku yg sama (sejauh ini sama-sama dari china) dengan quality controle sama maka kualitasnya pasti sama walaupun harga dan bungkusnya beda. Yg membedakan adalah: Rp3000,- disubsidi pemerintah, sedangkan Rp20.000,- diproduksi Produsen swasta yg didalamnya termasuk biaya non produksi (baca: biaya untuk upeti bagi yg perlu diberi upeti), so … total satuan harga menjadi melangit.

    Maksudnya harga Rp1000,- bukan pukul rata. Misalnya parasetamol, Rp1000,- berisi 10 tablet (misal saja), sedangkan jika amoksisilin, Rp1000,- berisi 3 kaplet, dst …

    Askeskin:
    Tanpa ragu: Bohong !!!

    Formula:
    Depkes mempunyai semua syarat untuk membuat formula sebagai berikut:
    Obat Murah + Ampuh = Aman.
    Obat Aman + Murah = Ampuh.
    Obat Aman + Ampuh = Murah.
    Persoalannya, maukah depkes menggunakan powernya untuk membuat formula tersebut?
    Jika pertanyaannya mampukah, maka jawabnya mampu.
    Sebaliknya, jika pertanyaannya mau, saya gak yakin. Lha wong dana untuk Keluarga Miskin (Gakin) saja diserahkan ke askes gitu, gimana mau percaya …

    Maaf, depkes tidak berani membuka forum diskusi terbuka di situsnya, payah … Kalo bekerja jujur, kenapa harus tertutup ?
    Harus registrasi ? gak ada form untuk itu kecuali kolom kecil untuk members, entah siapa membersnya … 😦 😦 😦

  35. 39 cakmoki Juli 24, 2007 pukul 9:18 am

    @ Rizma,
    walah Ma, maaf kelewatan saking semangatnya πŸ™‚
    Kalo cefo resisten, kali pakai sepalosporin generasi 4 yg gak bakal kejangkau 80% warga Indonesia. Trus ? … gak tahu Ma, kita tanyaken aja kepada para ahli nan cerdik pandai

  36. 40 marmotji Juli 24, 2007 pukul 2:39 pm

    Maaf, cakmoki, saya nyelonong ajah..
    tapi rasanya dunia kesehatan ini adalah sebuah gelembung besar yang mampu menyedot duit sebanyak-banyaknya dari mana pun arahnya.
    Sakit rasanya dibohongin dokter, tapi ndak punya pilihan lain, kecuali menghitung hari menunggu mati…
    Mending mati daripada berobat.

  37. 41 cakmoki Juli 25, 2007 pukul 12:28 am

    @ marmotji,
    lho lho lo, jangan mas, … jangan menunggu hari …
    karena sistem tak kunjung beres itulah maka kita perlu bersama-sama memperjuangkannya.
    iya benar, adakalanya program-program tidak berpihak kepada masyarakat walaupun judulnya dibuat seolah-olah berpihak. Kami sebagai orang dalam, merasakan betul kuatnya himpitan dari berbagai arah, namun tidah lantas berdiam diri kan ?

    Semangat !!!

  38. 42 drsix Juli 31, 2007 pukul 12:43 pm

    cak… bu menterinya sekantor sama aku..
    tar aku bilangin deh… he he he…

  39. 43 cakmoki Juli 31, 2007 pukul 1:50 pm

    @ drsix,
    makasih πŸ™‚ perlu NIP ngga ?
    Sekalian sama dirjen-dirjennya ya, dijamin mual deh … hahaha

    pindah wp dong, komunitasnya ramai, interaktif dan friendly, asyiiik
    Temen-temen dah banyak yg pindah ke wp lho

  40. 44 samara Agustus 3, 2007 pukul 11:50 pm

    ehm…ehm….

  41. 45 cakmoki Agustus 4, 2007 pukul 12:40 am

    @ samara,
    ahaaa, ada sejawat dari depkes rupanya … tabik bos πŸ˜€

  42. 46 sidoel Agustus 15, 2007 pukul 10:25 pm

    kadang qt sbagai rakyat obat jadi bingung gara2 bu mentri,disiang bolong muncul berita harga generik turun ahh senang rasanya tp apa jadinya seminggu dua minggu kedepan, obat murah meriah tapi gak ada barang, trutama amok. gmn mau murah jadinya malah marah karna banyak resep amok tp qt rakyat obat gak bisa nyediain amok. bu mentri ternyata bingung nich, biar gak pusing umumin aja amok resisten so gampang dech…..

  43. 47 sidoel Agustus 15, 2007 pukul 10:30 pm

    bu mentri ternyata bingung nich gara2 hilang di pasaran, biar gak pusing umumin aja amok resisten so gampang dech…..

  44. 48 cakmoki Agustus 16, 2007 pukul 1:23 am

    @ sidoel,
    iya tuh, … kenap ya beberapa bulan setelah pengumuman turun, gak tersedia obat di pasaran.
    Ada bocoran gak ?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Wong ndeso β„’

cakmoki

Wordpress Indonesia

Silahkan baca

DISCLAIMER

web tracker

9 Desember 2009

SEMENTARA TUTUP

Maaf, sementara Blog istirahat hingga ada pemberitahuan

Harap maklum


MARI HENTIKAN KORUPSI

Jangan Korupsi Ah

No Korupsi

Internet Sehat

Warga Bicara

» Makasih PLN, listrik Samarinda dah membaik, moga gak byar-pet

» Waspada Demam Berdarah

» Jangan Gunduli Palaran

» Banjir...banjir. Kapan masalah ini teratasi ?

INGA INGA INGA

» Nyeri Urat or Tulang BUKAN berarti Penyakit Asam Urat.

» Sekali lagi: Pegal, Linu Tidak Identik dengan Penyakit Asam Urat

TEMANs

9racehime | A. Fatih Syuhud | Aditiawan Chandra | A.Tajib | Agung UD | aLe | alief | alle | almascatie | Amd | Anak Peri | Anak Sultan | Anang | Anang YP | Anas | Andalas | Anggara | Anjaz | Anti Pungli | Antobilang | Anung87 | Aribowo | Arif Kurniawan | Arul | Astikirna | awan965 | axireaxi | Bambang alias HR | BatakNews | Blog Pokoke? | Biho | CalonOrangTenar | Cay | Chandra | Chielicious | chiw imudz | cK-chika | Dalamhati | Deden Nugraha | deedhoet | deKing | Desti Utami | Didats | doeytea | dnial | Edy C | Eep | Elpalimbani | erander | Evi | Fa | Fa wp | Faiq | Fertobhades | Fetro | Fortynine | Freddy | Gadis | Gaussac | Gitablu | Grandiosa | GuhPraset | GuM | Helgeduelbek | Herdy | Indonesia Kita | Indra KH | ItikKecil | iway | Jejakpena | Jennie S. Bev | Joesath | Joko Taroeb | Julee | Juli | Juliach | Junthit | Jurig | Kakilangit | Kang Adhi | Kang Kombor | Kangguru | kawaichu | Kenji | Kenzt | kikie | koecing | Kumala | Kurtubi | Kw | Laras | liezmaya | Lilik Suryanto | Lily | Linker | Lintang | Lita | Lita wp | Luthfi | MaIDeN | Majalah Dewa Dewi | Manusiasuper | Master Li | Mathematicse | macanang | mbojo | Mei | Micokelana | Mr. Geddoe | Mufti | mybenjeng | My-za | Nayla Zahra | Nayz | Ndarualqaz | Neeya | Neo Forty-Nine | Neri | Ninoy | Nieke | Nomercy | n0vri | NuDe | Om Sulis | omaigat | Ooyi | Paijo | Panca | Pandu | Panduan WP | Papabonbon | Passya | Peyek | Pinkina | Pitik | Pralangga | Prayogo | Priyadi | Qee | Raja iblis | RenjanaBiru | rivafauziah | Rivermaya | Roffi | roisZ | Rujak | Sagung | Sahrudin | Saiful Adi | SaRa | Siu | Sofi | Sora9n | Suandana | Suluh | Susiloharjo | Telmark | Thamrin | tiesmin | Triesti | Tukang Sate | Venus | Wadehel | Wahyuansyah | Wandira | Wiku | WongMangli | Wulan | Yati | Yudhipras |

:: :: :: :: :: :: :: :: ::

Kesehatan

:: Ady Wirawan :: Agus Mutamakin :: Anis Fuad :: Anis Fuad wp :: Asri Tadda :: Astri Pramarini :: Astri Pramarini (awal) :: Astri Pramarini wp :: Blog Mahasiswa FKU 2003 :: Blog Rumah Kanker :: Dani Iswara :: Dani Iswara weblog :: Dokter arek cilik :: drAnak :: drarifianto :: Dwi wp :: Elyas :: Erik Tapan :: Evy HealhtySmile :: FK Unsri :: Gies :: Gies wp :: Ginna :: Grapz :: Hendar Sunandar :: HIV News :: Huda Thoriq :: IDI Samarinda :: imcw :: Imran Nito :: Iwan Handoko :: Jhonrido :: klikharry :: Kobal :: Laksmi Nawasasi :: Mashuri :: Mave Mina :: Mbah Dipo :: Mina :: My Blogspot :: Nur Martono :: PKM Palaran :: Rara :: Rizma Adlia :: Rudy Kwang :: SenyumSehat :: Sibermedik :: SimkesUGM :: SuperKecil :: Titah :: Tito :: Tonang Ardyanto :: Tukangkomentar :: Wi :: Vina Revi :: Vina Multiply :: Yusuf Alam R :: zulharman79 ::

:: :: :: :: :: :: :: :: :: :: ::

Institusi Kesehatan

:: Depkes RI :: WHO :: WHO Indonesia :: … nyusul

:: :: :: :: :: :: :: :: ::

Kolaborasi

:: Emedicine :: ICD 10 Wikipedia :: ICD 10 Wiki Indonesia :: OSWD :: OpenWebDesign :: Pakistan Times :: Rubab :: ntar ::

Kategori

BlogTour

Arsip

Komunitas Blog

blog-indonesia.com

PAGE RANK

Powered by  MyPagerank.Net

Add to Technorati Favorites

[Valid RSS]

Health Blogs - Blog Top Sites

Health

Blogs Topsites - TOP.ORG

Health Blogs - Blog Rankings

Blog directory

TopOfBlogs

Top 10 Award

Feed Burner

cakmoki Blog

Bloggerian Top Hits

My BlogCatalog BlogRank

Site Meter

Since 30 Nov 07

PENGUNJUNG

  • 5,330,891 pengintip

Asal Usul

Pebruari 2011

free counters


%d blogger menyukai ini: