Kebanggaan dokter ndeso

dokter ndeso koq bangga, mbelgedhesss !!!

Ya benar, apa yang dibanggakan dari dokter ndeso ? Beda dengan dokter kota. Coba lihat dokter yang di RS bertaraf International, praktek bersama, RS, Dinas Kesehatan dan para dokter Depkes, tongkrongannya sangat meyakinkan. Berjas putih, stetoskop dikalungkan di leher, HP terkini, mobil jreng, rumah mewah *saking mewahnya sampai gak pernah diinjek tetangga* dan berbagai atribut glamour lainnya. Serba wah !!!

Tak heran jika para pengguna jasa layanan medis rela merogoh kantongnya demi layanan kelas satu. Kata kuncinya adalah kualitas. Hukum alam yang sangat wajar dan tidak ada yang perlu dipersalahkan. Semacam need and demand kali ya πŸ˜‰ . Tak salah pula khalayak memiliki pandangan semacam itu.

Bandingkan dengan pandangan terhadap dokter ndeso β„’. Tongkrongannyasaja sudah tidak meyakinkan. Boro-boro mau bergaya, pakai batik sajasudah dikira mau kondangan, apalagi pakai jas dan dasi. Ihhh, sumuk fren … pakai sarung mah baru cocok πŸ˜›

Kira-kira para orang tua masih ada yang bangga nggak bila memiliki calon mantu dokter ? Kayaknya sih pandangan udah berubah. Mungkin para gadis gak tertarik lagi menjadi calon anggota IIDI (Ikatan Istri Dokter Indonesia) πŸ˜›

Ditinjau dari sisi informasipun, dokter ndeso β„’ identik dengan strata bawah (kaum dokter) yang minim informasi, gak kenal TI, berkendara sepeda motor (paling poll mobil seken mogokan) dan merek kelam lainnya. Ini pandangan global internal lho. Anggapan tersebut suka atau tidak akan melahirkan efek lain, misalnya besaran tarip. Seorang teman sejawat (sesama dokter ndeso β„’) pernah berkata: ” walah mas, tarip 10 ribu saja kadang diutang “. Hahaha, baru tahu dia …

Di sebuah pertemuan resmi, seorang pejabat Depkes mengatakan bahwa dokter ndeso β„’ jauh tertinggal dibanding dokter kota dalam hal akses informasi, alhasil update ilmunya sangat lambat. Alih-alih berinternet, komputer saja gak bisa (maksud beliau, gak punya komputer kali). Sebuah penilaian wajar dari seorang pejabat di pusat pemerintahan, tak perlu dipungkiri.

Secara struktural, berbeda dengan Dinas Kesehatan yang hampir di setiap meja dihiasi komputer canggih sekelas Pentium 4 atau Core 2 Duo, sayangnya masih ada saja yang membuka spreadsheet semisal excell, sementara menggunakan kalkulator untuk menghitung, … huahahah. *tertawa guling-guling* Sumprit gak ngenyek, hanya lucu aja.

Nun dibalik perbedaan atribut di atas, para dokter ndeso β„’ tak perlu kecil hati dan minder saat bertemu temannya yang dokter kota, hanya karena pandangan yang dilekatkan pada dirinya. Berbanggalah kawan, nikmati saja pilihan ke-ndeso-an itu.

Sungguh, saya sangat bangga sebagai dokter ndeso β„’. Banyak hal menyenangkan di balik cap stempel ke-ndeso-an yang tidak dimiliki dokter kota nan glamour.
Betapa tidak, setiap hari punya kesempatan bergaul dengan segala strata warga masyarakat tanpa direpotkan senyum pura-pura layaknya pertemuan antar pejabat. Serba alami.

Belum lagi jika menghadiri kondangan ke tempat yang hanya bisa dilewati roda 2. Naik sepeda motor berdua, dipeluk dari belakang sambil nggol senggolan, kurang apa coba … . Duuuuhhh nikmatnya … πŸ˜‰
*jomblo dilarang ngiler*

Di saat senggang adakalanya bertamu ke pelosok desa, menemui sesama wong ndeso, senang rasanya mendapat sambutan hangat tuan rumah, menikmati suguhan wedhang kopi dan jagung atau pisang rebus sambil menggelar obrolan ringan, uenak tenan.
Di suatu kesempatan seorang sohib dokter spesialis bedah tulang (orthopedi) di Surabaya berkata: ” enak kamu mok (cakmoki), banyak kesempatan bergaul dengan banyak orang. Aku ketemu bojo aja jarang, pulang-pulang semua udah tidur “.
Walah, ternyata dokter kota bisa berkeluh kesah.

Betapa menyenangkan menikmati kehidupan sebagai dokter ndeso β„’ …
Sebuah contoh keseimbangan, ada yang di kota ada pula yang di desa.

:: :: :: napak tilas sebuah nasehat eyang kakung sehabis belajar mengaji: ” apapun pilihannya, bekerja serius dan tak lupa mengaharap ridho-Nya :: :: ::

technorati tags:, , , ,

Blogged with Flock

Iklan

51 Responses to “Kebanggaan dokter ndeso”


  1. 1 traju Juli 21, 2007 pukul 7:22 am

    pertamakss yaa…
    manusia emang ngga ada puasnya, biarpun jd dokter ndeso tp kan tetep aja dokter yg masih lebih baik dari perawat, suster, atau penjaga mayat di rumah sakit itu…hehehe

  2. 2 sibermedik Juli 21, 2007 pukul 10:03 am

    walah dok..masih inget postingan ku “..ndak online dok??..”
    ternyata dr.AH kmrn sms-an lg katanya lg kena malaria+mumet dana puskesmasnya di korup ma KAPUSKESnya..nggak genah Rek..Rek!! kacian g siy..

    jadi sebenernya dokter “ndeso” mungkin lebih ganas drpd dokter kutho…jadi seperti Semboyannya Tukul:
    Wajah boleh Ndeso tetapi Rejeki ne Kutho.

    * Mungkin KAPUSKES nya dikejar setoran bwt daftar PPDS…Wakkakkakakk..!!!*

  3. 3 cakmoki Juli 21, 2007 pukul 11:14 am

    @ traju,
    iya betul πŸ™‚ … yang miskin pun ada yang lebih miskin
    Mohon dibaca lengkap mas, pertama: ini bukan soal pebandingan dg profesi lain, melainkan internal, kedua: baca nilai yg terkandung dalam postingan ini, bukan keluhan melainkan ajakan bekerja serius dan mensyukuri nikmat

    @ sibermedik,
    Kalo semua dokter ndeso begitu bukan berarti dr.AH juga kan ?
    KaPusk korupsi? itu mah gampang, sesama dokter apa sulitnya nanyaken. Dan yg penting tidak ikut nerima “dum-duman”. Kalo protes sementara di saat bersamaan ikut terima “berkat” podho wae kuwi.
    Kalo dr.AH emang mau memperbaiki, bisa koq.
    Sy dulu hari pertama datang di puskesmas (sebagai staf) kemudian tau ada korupsi kecil-kecilan, sudah berani mengadakan perbaikan. Kalo gak berani jadi ngenes sendiri, hehehe
    Berani?

  4. 4 Luna Moonfang Juli 21, 2007 pukul 11:15 am

    selamat πŸ˜†

    *komenku kok akhir-akhir ini ga mutu terus ya… BINGUNG MODE : ON*

  5. 5 imcw Juli 21, 2007 pukul 12:28 pm

    saya termasuk wong kota tetapi dengan penamplan wong ndeso…:)

  6. 6 cakmoki Juli 21, 2007 pukul 12:53 pm

    @ Luna Moonfang,
    ada apa Teh ? πŸ™‚

    @ imcw,
    pola hidup sederhana apa nyamar om?
    sy mo penampilan kota gak bisa je πŸ˜›

  7. 7 suandana Juli 21, 2007 pukul 12:54 pm

    Hidup sebagai orang ndeso itu memang asik, Cak… Sesama orang ndeso harus saling dukung, nih… Hidup orang ndeso!!! SEMANGAT!!! πŸ˜€

    Oh iya, Cak…

    *jomblo dilarang ngiler*

    Peringatan ini kurang efektif jika disampaikan setelah cerita sebelumnya (naik motor berdua, dipeluk dari belakang sambil ….) itu. Reaksi tubuhnya langsung jalan otomatis nih

    *ngiler ON*

  8. 8 cakmoki Juli 21, 2007 pukul 1:09 pm

    @ suandana,
    Semangat juga !!!

    Reaksi tubuhnya langsung jalan otomatis nih

    hahaha, … supaya gak ngiler, … gerilya, banyak pilihan kali πŸ˜€

  9. 9 .:nien:. Juli 21, 2007 pukul 1:31 pm

    mampir cak … wong ndeso rejeki kutho yo akeh kok! no worry!

  10. 10 cakmoki Juli 21, 2007 pukul 2:11 pm

    @ .:nien:.,
    sip sip, semangat !!! πŸ˜€
    Maturnuwun ampirane

  11. 11 Lita Juli 21, 2007 pukul 3:26 pm

    Ndeso nggak ndeso, yang penting ilmunya update dan ‘waras’ alias otaknya ngga cuma bisa kerja hanya dalam keadaan ‘diisi uang’ (kaya celengan aja).

    Asalkan diajak ngomong nyambung, bersedia diskusi, gak jadi bemper buat promosi produsen entah-apa-itu (obat kek, susu formula kek), cukup sabar (setidaknya ngga langsung nyuruh pasien minggat begitu stetoskop dikalungkan dan resep selese ditulis tanpa boleh tanya apa-apa), dan gak suka bercanda mesum (*doh).

    Lha sampeyan ngaku ndeso, tapi asik gitu kok. Lebih asik daripada dokter spesialis, praktik di rumah sendiri, halaman luas, punya alat pribadi, ruang tunggu luas, dsb tapi kalo ditanya jawabannya ngirit benerrrrr. Enakan sama cak Moki lah. Sebodo amat mobil dia berapa.

    *yak ampun, komentar ini kesannya sirik banget yak :p

  12. 12 anas Juli 21, 2007 pukul 3:41 pm

    Ndeso yo ben cak, sing penting apik atine hehehe πŸ™‚

  13. 13 deKing Juli 21, 2007 pukul 9:37 pm

    Cak, ndeso atau tidak ndeso sarung tetap is the best karena sarung itu isis, praktis dan demokratis kan cak?
    *maaf cak, numpang menggunakan deskripsi sarung versi cakmoki. Mumpung belum dipatenkan*
    BTW…
    Menurut saya maju berkembangnya pengetahuan sesorang bukan karena faktor ndeso atau kotanya. Nek dasar’e males ya walau di kota dia akan selalu ketinggalan.
    Yang penting semangatnya kan Bung … eh Cak…

  14. 14 Dani Iswara Juli 21, 2007 pukul 10:44 pm

    tp kan gak ada dokter pejabat kota yg (berani terang2an) ngeblog.. eh ada ngga ya.. πŸ˜€ (sambil lirik2 daftar bloglines kesehatan..)

    saking katroknya cakmoki..beliau termasuk salah satu blogger dokter pertama yg saya temukan..ngoprek PDA pula..

    eh tantangannya itu lho cak..gemana caranya biar di desa, pelosok, tp tetep tau update ilmu..pake hp sinyal satelit?? πŸ˜€

    korupsi? emang dah banyak ya tempat kerja (pemerintahan) yg gak ada korupsinya.. πŸ˜€

  15. 15 cakmoki Juli 22, 2007 pukul 12:37 am

    @ Lita,
    hahaha, jadi kesannya kayak celengan gitu ya *tau aja*

    …Asalkan diajak ngomong nyambung …
    dijamin nyambung, terutama waktu nyebutin tarip, tegas dan lugas πŸ˜›

    sy bukan ngaku ndeso te-em, ndeso te-em betulan je, kalo sepakbola kira-kira bagian kiper.

    gak sirik koq, kenyataan emang beginu eh begitu.
    Kayaknya komen ini perlu di copy paste trus disebar luaskan ke dokter-dokter, seru kali πŸ˜€

    @ anas,
    amin, duhhh rasane adhem dielem *joget-joget ge-er*

    @ deKing,
    lah, sik inget diskripsi “sarung” hehehe, iya ding pakar matematik πŸ˜‰

    Menurut saya maju berkembangnya pengetahuan sesorang bukan karena faktor ndeso atau kotanya. Nek dasar’e males ya walau di kota dia akan selalu ketinggalan.
    Yang penting semangatnya kan Bung … eh Cak…

    siap komandan !!! *semangat mengejar ketinggalan*

    @ Dani Iswara,
    ada, hahaha … aman koq, soale masih sealiran.

    asli sy katrok, makanya belajar banyak ke mas Dani (freeware) πŸ˜›

    kabar gembira mas, sy dapet email beberapa temen di desa lamongan, pinggiran sampang madura, ponorogo, aceh, dll … ternyata diem-diem ts kita itu sudah mulai surfing. Rata-rata masih pakai dial-up, mungkin masalah signal jadi kendala, seperti tempat kami. Sayangnya belum siap nge-blog. Gak pp, yg penting sudah mulai mau download informasi terkini, hehehe … perjalanan masih panjang nampaknya.

    korupsi sih kayaknya masih menggurita, terutama jajaran struktural 😦

  16. 16 almascatie Juli 22, 2007 pukul 1:45 am

    Kira-kira para orang tua masih ada yang bangga nggak bila memiliki calon mantu dokter ? Kayaknya sih pandangan udah berubah. Mungkin para gadis gak tertarik lagi menjadi calon anggota

    kira ga ada lagi cak, kebanyakan orang tua dan anak gadis udah ga milih menantu atau suami dokter lagi tapi dah mo jadi dokter lansung…
    Hidup Dokter Ndeso, selama masih ada dokter ndeso, maka ucapan “orang miskin [maaf] dilarang kedokter” tidak pernah terwujud!
    πŸ˜€

  17. 17 almascatie Juli 22, 2007 pukul 1:46 am

    lha kok ga masuk ya.. postingan pertama…. 😦
    sek di ripres sek

  18. 18 almascatie Juli 22, 2007 pukul 1:50 am

    Kira-kira para orang tua masih ada yang bangga nggak bila memiliki calon mantu dokter ? Kayaknya sih pandangan udah berubah. Mungkin para gadis gak tertarik lagi menjadi calon anggota IIDI (Ikatan Istri Dokter Indonesia)

    Kira-kira ga ada lagi cak, skarang semua orang tua dan anak ceweknya pada ga mau cari dokter lagi, tapi mo jadi dokter semua. dokter vs dokter… πŸ™‚
    HIdup dokter ndeso, selama masih ada mereka maka pandangan pesimis “orang miskin dilarang kedokter” tidak pernah ada.. karena ada dokter ndeso πŸ˜€

  19. 19 almascatie Juli 22, 2007 pukul 2:01 am

    Kira-kira para orang tua masih ada yang bangga nggak bila memiliki calon mantu dokter ? Kayaknya sih pandangan udah berubah. Mungkin para gadis gak tertarik lagi menjadi calon anggota IIDI (Ikatan Istri Dokter Indonesia)

    kira-kira ga lagi cakmoki, merka ga mau ama dokter lagi tapi pada mo jadi dokter semua. dan jelas pasti jodohnya “dokter vs dokter” atau bisa “dokter kota vs dokter ndeso”

  20. 20 almascatie Juli 22, 2007 pukul 2:02 am

    OOT : wedew empat kali nulis baru masuk 😦 capek

  21. 21 cakmoki Juli 22, 2007 pukul 2:02 am

    @ almascatie,
    yg mana? gak ada tuh ….

  22. 22 cakmoki Juli 22, 2007 pukul 5:26 am

    @ almascatie ,
    hahaha, kalo dokter ndeso vs dokter kuta jadinya kira-kira seperti apa ya?

  23. 23 cakmoki Juli 22, 2007 pukul 9:35 pm

    @ almascatie,
    walah, maaf mas Al … ternyata kesangkut πŸ™‚
    Makasih supportnya untuk dokter ndeso, … saudara kita warga miskin harus ada yg ngurusi …

  24. 24 Lina Inverse Juli 22, 2007 pukul 10:04 pm

    mau dikota, mau di desa, sing penting ikhlas ngalap barokah, kata Umiku, tarip 10ribu (yg kadang diutang pula) yang barokah, lebih ‘kerasa’ daripada tarip 100ribu yang cuman lewat aja πŸ˜€

    *salut sih, tapi mo ngelem lagi takut CakMokinya ge er, hehe*

  25. 25 cakmoki Juli 22, 2007 pukul 10:40 pm

    @ Lina inverse,
    Maturnuwun mbak, pancen bener … mensyukuri nikmat-Nya merupakan karunia yg tak bisa diukur dengan apapun …*tosss* hehehe

  26. 26 Astri Juli 23, 2007 pukul 12:44 am

    Cak Moki ini contoh dokter di desa yang nggak ndeso blas… Liat aja isi blognya… Belum tentu dokter yang tongkrongannya keren, ngota mau berbagi ilmu dengan sukarela seperti Cak Moki ini.
    Hidup ndeso!!! Eh, bukan berarti Cak Moki gak keren lho ya πŸ˜‰

  27. 27 n0vri Juli 23, 2007 pukul 8:20 am

    Tenang Cak…
    ndeso boleh, asal jangan ndesani…
    alias jadi orang kampung boleh, asal jangan kampungan…
    yang tongkrongannya keren, malah sering keliatan kampungan, cak…
    pake PDA canggih cuman buat sms doang… πŸ˜€

  28. 28 peyek Juli 23, 2007 pukul 10:44 am

    wah kemarin teman laki-laki saya dapat seorang bu dokter,
    kalo pas guyon, “lha ini bu dokter biasa nyuntik lha sekarang kok disuntik?” hihihiks

    temen laki itu berdomisili Gresik cak, lha bu dokter lagi PTT di Madiun, seminggu sekali temen saya berangakat ke Madiun menemui istrinya yang dokter, kalo pas guyon “lha nggak ke Madiun tha?”, “lapo?” jawab dia, langsung tak jawab cak “Setor manuk!”

    he..he…he…maaf cak agak nggak nyambung, syndrome dokter

  29. 29 itikkecil Juli 23, 2007 pukul 11:56 am

    Cak, apakah kalo dokter ndeso pasti penghasilannya ndeso juga… saya kok gak percaya tuh. Soalnya di daerah sini, banyak kok dokter yang tinggalnya di desa tapi kayaraya….
    Cakmoki walaupun ngakunya dokter ndeso tapi punya blog… Nah, berapa banyak dokter kota *halah* yang punya blog??????

  30. 30 chielicious Juli 23, 2007 pukul 1:44 pm

    Yang penting enjoy ajaa πŸ˜€

  31. 31 Yandhie Dono Juli 23, 2007 pukul 4:03 pm

    Kalo tampang kutho rejeki ndeso… gimana kang cak dok?
    Lebih ngeneskah? ihik…

  32. 32 mina Juli 23, 2007 pukul 8:49 pm

    huhuhu… para dokter kota itu belum tentu hapenya dia bisa pake πŸ˜€ belum tentu ngerti internet. belum tentu mau mengamalkan life-long learning. ah kok ikutan ngedumel πŸ˜€

  33. 33 cakmoki Juli 24, 2007 pukul 7:23 am

    @ Astri,
    Maturnuwun mbak *jogat-joget sampai semaput saking senengnya* πŸ™‚

    @ n0vri,
    ohhh, gitu tho rahasianya πŸ˜‰ … semangat !!!

    @ peyek,
    Hahahaha … hahaha … iki guyonan gresik asli. Sumprit saya ketawa ngakak, terutama ” setor manuk “ untuk Bu dokter πŸ˜‰

    @ itikkecil,
    Amin. Duhhh senengnya dido’akan. Kaya teman dan tetangga termasuk kaya juga kan, … apalagi banyak teman ngeblog … tosss πŸ™‚

    @ chielicious,
    siap bos

    @ Yandhie Dono,
    Apa ada ? Agak kurang percaya saya, … Nyamar kali, hehehe

    @ mina,
    Mosok sih mbak ? Seingat saya, dr kota lebih hebat, lebih ngerti, lebih banyak amalnya *lirak-lirik yg pakai jas* πŸ˜€

  34. 34 Qeong Ungu Juli 25, 2007 pukul 10:32 pm

    Lama-lama tulisannya ko makin banyak berisi kesebelan yg dikemas dlm guyonan? (*bingung mode on*) Bapak kenapa tho??

  35. 35 cakmoki Juli 26, 2007 pukul 2:16 am

    @ Qeong Ungu,
    gak pp koq Qee πŸ˜†
    ini rangkuman “keluh kesah” temen-temen yang hanya ditumpuki tugas tapi kurang (baca: tidak) diperhatikan. Terutama yg bertugas di pedalaman dan daerah sulit. Sedang cerita tentang sy hanya selingan untuk keseimbangan. Tulisan setengah pedhas bernada guyonan gini kadang berguna agar para petinggi tidak tersungging … hehehe

  36. 36 neen Juli 30, 2007 pukul 2:21 pm

    “Di sebuah pertemuan resmi, seorang pejabat Depkes mengatakan bahwa
    dokter ndeso β„’ jauh tertinggal dibanding dokter kota dalam hal
    akses informasi, alhasil update ilmunya sangat lambat. Alih-alih
    berinternet, komputer saja gak bisa (maksud beliau, gak punya
    komputer kali).”

    Pejabat depkes itu SALAH, buktinya Cak Moki, dokter ndeso tapi punya blog keren!!!

  37. 37 cakmoki Juli 30, 2007 pukul 4:18 pm

    @ neen,
    hahaha, beliau-beliau benar dong, … lha kami-kami masih mulai belajar, je … karenanya kami akan mengejar ketertinggalan itu πŸ˜€

  38. 38 jimbeam Agustus 1, 2007 pukul 6:21 pm

    Dok, banyak dokter seperti sampeyan gitu yang pada awalnya melaske banget dan kena sindroma rendah-rendahan sak sembarane mulai omong ndek2’an, rendah2an tarip, rendah2an penganggon lan sak sembarange tapi yo iku hanya only pas dewek’e nglakoni PTT doang, begitu yang bersangkutan dapet ijin praktek dan bisa buka warung dewe trus maju dan punya celengan dan berkesempatan ambil spesialis langsung setelahnya yang bersangkutan nyari koleganya yang masih ngaku ndeso dan berkeluh kesah sok menderita karena gak kober ketemu anak bojo soale sibuk simposium ke manca negoro utawa sibuk betul melayani pasien2nya yang ndak brenti mulai pagi sampe pagi lagi antrinya blum lagi ngrangkep di 14 rumah sakit seminggunya plus beberapa warung praktek bersama. Pak dokter dan bu dokter tersebut jelas sudah gak ndeso lagi karena tuntutan keadaan dan itu juga bukan dosa ato salah, sudah ndak mungkin lagi sarungan soale ndak mungkin juga misalnya datang ke acara pengukuhan demi pengukuhan sambil kekeuh sarungan apa lagi boncengan naik suprapit kreditan dan make hape nokia 5110! Cak dokter saya koq yakin sampeyan juga bakal seperti gitu dan bakal lupa sudah pernah ngobrol “ndek2’an” koyo ngene dan melupakan warga negara klas ndek2’an seperti di forum ini. Saya jadi kepengen nunggu dan ndak rela mati duluan supaya bisa liat apa bener diagnosa saya soal sampeyan Cak, sorry no offense.. keep posting Cak dokter, aku sueneng moco tulisan peno..

  39. 39 cakmoki Agustus 4, 2007 pukul 12:52 am

    @ jimbeam,
    Hahaha, diagnosa sampeyan pasti salah, soale saya mancep di desa nun di pinggiran Samarinda, Kaltim dan tidak akan ambil spesialis karena ini sudah pilihan.

    Kalaupun saya nulis ini, bukan untuk saya sendiri lantaran kami sekeluarga mensyukuri nikmat-Nya atas pilihan kami.
    Tengok teman-teman kami yg di pedalaman, … yang hanya dituntut namun kurang diperhatikan.
    Kalo saya gak butuh perhatian, gak perlu belas kasihan dan simpati, hehehe.
    Tossss, mana hadiahnya, sampeyan kan keliru diagnosa, hayo πŸ˜†

  40. 40 jimbeam Agustus 5, 2007 pukul 3:12 pm

    Cakmoki,
    Saya berdoa semoga saya salah dan kalah soale sudah terlalu banyak sodara-sodara tercinta dipelosok ndeso lan pedukuhan pinggir alas bahkan juga yang diperkampungan kumuh kota2 metropolis ditinggal mlayu nggolek ndonya dokter-dokter yang tadinya jadi tumpuan harapan dan satu2nya wujud kehadiran tangan Tuhan buat mereka.Gak salah koq nek sampeyan pada akhirnya juga kepingin nguber ndonya seperti yang lain-lainnya, saya koq malah jadi bertanya-tanya ada apa gerangan dengan dikau koq sampe patah ati atawa mutung kaya gitu… he.he.he.
    Soal tuntutan yang berlebihan saktemene sopo sih sing nuntut koyo mengkono kuwi cak? Setahu saya koq selama ini ndak ada lho yang brani sama jajaran departemen bolo-bolo sampeyan kuwi, coba apa pernah panjenengan ikut tender pengadaan peralatan kesehatan ato obat2an, kalo pernah pasti sampeyan tahu seperti apa kuatnya bolo-bolo panjenengan kuwi, lha trus sapa seh yang brani-brani nuntut macem2 gitu? Ato coba diliat brapa ratus dokter yang namanya tersebut sebagai dokter suatu puskesmas tapi namanya doang yang muncul dan dokternya asyik buka warung di poli2 pabrikan sampe puskesmas dikuasai caretakernya ya pak ato bu mantri dan itu bisa berlangsung tahunan tanpa ada tindakan blas..Trus mana yang namanya dituntut itu? Kalo soal ndak diperhatikan sih saya setuju Cak, saking ndak diperhatikannya sampe bisa sak karepe dewe ndak muncul berbulan-bulan di puskesmas kan? he.he.he.
    Ok Cak, dungakno aku akeh rejeki, nek keturutan sugih mengko tak sumbang rumah sakit kuomplit sak isine.. lha sementara iki yo tak sumbang dungo wae mugo-mugo aku salah diagnosa. he.he.
    Salam hormat, Bravo Cakmoki!!

  41. 41 almascatie Agustus 5, 2007 pukul 3:22 pm

    maaf.. saya menyela diskusi nya pak jimbean sama cakmoki tapi kayaknya asyik nih… πŸ™‚ apa yang dituturkan pak jimbean merupakan hal biasa terjadi di bangsa ini, masalah yang tidak hanya terjadi dibidang kesehatan tetapi sudah menjadi kebiasaan diseluruh bangsa, dan pak jimbean -maaf pak- kayaknya paham banget nih, dokter juga kah? hehehe
    n dicakmoki kayaknya yang disampaikan sama pak jimbe ini tantangan sekaligus kondisi yang harus diperbaiki, saya rasa cakmoki sudah memulai dari lingkungan sekitar cakmoki sendiri sapa tau bisa berkembang sampai kedaerah-daerah lain…
    ya semoga negara ini bisa menjadi lebih baek lagi πŸ˜€
    *ini bukan diagnosa tapi cerita2 aja kok πŸ™‚ *

  42. 42 cakmoki Agustus 5, 2007 pukul 5:56 pm

    @ jimbeam,
    hahaha, ini bukan soal kalah menang om, … kalo baca tulisan saya sebelumnya mungkin sedikit paham.
    Yg saya bela tentu teman-teman nun di pedalaman yg tinggal di rumah kayu seperti yg pernah saya alami. Pernah ke pedalaman? Mereka tidak praktek ke kota, jauh, harus naik kethinting (perahu bermotor) nyaris seharian. Praktek di rumah dinas, kebanyakan nabloki nyamuk. Mereka ga ngeluh, makanya saya yg ngomel.

    Tuntutan? Tolong simak, jika ada wabah atau kejadian meningkatnya penyakit menular, merekalah sasaran pertama hujatan. Hampir semua program depkes, bermuara ke Puskesmas.

    Adapun teman dokter yg suka ninggalkan Puskesmas, sayapun tidak senang, tentu mereka salah.

    saya koq malah jadi bertanya-tanya ada apa gerangan dengan dikau koq sampe patah ati atawa mutung kaya gitu… he.he.he

    *tolah-toleh cari yang mutung*
    Saya tidak bisa memaksa siapapun untuk percaya bahwa saya tinggal dan berbaur dengan masyarakat adalah sebuah pilihan yang menyenangkan. Yang penting kami enjoy dan berupaya berbuat sekecil papun untuk orang lain selagi bisa. Ya rugi dong, kalo sampai patah hati atawa mutung anugerah nikmat Tuhan …

    saking ndak diperhatikannya sampe bisa sak karepe dewe ndak muncul berbulan-bulan di puskesmas kan? he.he.he.

    Berbulan-bulan? Dimana gerangan ? Laporkan aja tuh, atau demo …

    oke, saya do’akan cepet sugih, ntar ga perlu bantu bikin RS, bantu warga miskin disekitarnya saja ya … πŸ™‚

    Maturnuwun do’anya, moga terkabul, amin.

    @ almascatie,
    tengkyu Om, iya … saya mengakui masih banyak kekurangan di jajaran kami (kesehatan). Tentu kurang bijak jika saya hanya berkeluh kesah tanpa berbuat apapun.
    Semangat !!!
    Tetap berupaya minimal di daerah sendiri, sambil tak lupa … seperti biasa nih .. ehm ehm … mengkritik yg ga bener, .. hehehe

  43. 43 jimbeam Agustus 7, 2007 pukul 11:07 am

    Dear Cakmoki,
    Mohon dimaafken kalo saya clemang-clemong asal njeplak. Saya ini cuma rakyat jelata awam yang pastinya termasuk golongan orang2 yang paling takut dengan penyakit, karena begitu saya sakit maka harus ada anggaran belanja kebutuhan primer yang harus dikalahkan untuk mengembalikan kesehatan saya. Logika macam apa ini coba, wong kebutuhan primer koq dikalahkan padahal kesehatan kan juga kebutuhan primer, gampangnya saya mau bilang kalo saya ini termasuk golongan kere, yang memandang masalah kesehatan itu sebagai kemewahan.. ha.ha.ha. Ya begitulah ironinya sebagian besar golongan kami2 ini yang gilanya lagi merupakan mayoritas di negara tercinta ini.
    Trus apa hubungannya dengan sampeyan ya? hubungannnya yang jelas yo saya jadi berharap betul punya buanyak tetangga Bapak atau Ibu dokter seperti sampeyan yang ndak bosen nabloki nyamuk. ha.ha.ha.
    Kalo soal KLB sepertinya koq gampang aja jawabannya toh Cak, yo seperti biasa yang terpapar di media masa bahwa jajaran depkes sudah berusaha matek-matekan tapi karena kurangnya tenaga medis serta sarana pendukung dan tentu saja anggarannya menjadi kendala mengatasi KLB, trus jangan lupa di imbuh’i dengan menyalahken saja budaya masyarakat setempat yang ndak peduli sanitasi lingkungan, ndak sadar lingkungan, tingkat pendidikan rendah, kemiskinan, kemalasan, sak karepe dewe, jorok, ndak nurut sama dokter dan bla..bla..bla… he.he.he.
    Saya paham koq kalo sekolah dokter mulai jaman dulu sampe mbesok2 muahal bianget dan makin hari makin banyak yang bercita2 kalo dah besar jadi dokter bakal gigit jari, saya juga paham kalo pada akhirnya banyak yang kejar setoran untuk ngembalikan modal dan ikut berpacu meninggalkan sumpah Hipokrates yang pastinya dibaca kueras2 pake dibumbui suasana syahdu dan khidmad waktu pelantikan dokter.. Eh, tapi ada yang ndak saya sukai dari sumpah dokter itu, koq ya ada anjuran KKN untuk “sejawat”, mbok ya antara sejawat dan customer lainnya disamakan aja …Saya akan memperlakukan “teman sejawat saya” sebagai mana saya sendiri ingin diperlakukan… halah, koq nggedabyah lagee seh..
    Cakmoki, dunia memang ndak adil, gara2 cak Hipokrates sepertinya sampeyan dan bolo2 sampeyan yang sudah beruntung menjadi warga negara istimewa dan kepanjangan tangan Tuhan memang dilarang untuk mengeluh atawa mengomel bahkan mewakili mengomel kayanya juga ndak boleh, tragis betul ya… Hiks’..hik’s..
    Selamat berjuang Cakmoki, berat betul memang sumpah yang pernah sampeyan ucapken dulu ..Saya ikrarkan sumpah ini dengan sungguh-sungguh dan dengan memperΒ­taruhkan kehormatan diri saya..

  44. 44 cakmoki Agustus 7, 2007 pukul 11:53 am

    @ jimbeam,
    Gini aja deh, saya anjurkan baca beberapa posting dan artikel di Blog ini (kalo berkenan) dengan jernih, sehingga sampeyan lebih bisa menilai di mana posisi saya dan bagaimana sikap saya.
    Soale kayaknya gak nyambung nih dengan pokok permasalahan.
    Setelah itu mari kita diskusikan secara sehat. Piye ?

    Dan, maaf …. walaupun banyak kekurangan, saya tidak sebusuk seperti yang sampeyan gambarkan πŸ™‚

  45. 45 jimbeam Agustus 10, 2007 pukul 4:42 pm

    Cakmoki,
    Saya ndak bilang dan ndak menggambarkan sampeyan busuk. Saya juga pembaca setia blog sampeyan dan tentunya saya selalu berusaha dengan pikiran jernih tapi yo piye Cak, saya juga manusia.. Memang banyak hal yang saya sampaikan OOT, ma’af kalau saya ikutan berkeluh kesah dan akibatnya mengcounter keluh kesah ato “omelan” sampeyan yang katanya mewakili rekan-rekan sampeyan di forum terbuka ini. Ma’af juga kalo saya jadi risih membaca “omelan” sampeyan karena menurut pendapat saya itu ndak pantes buat orang yang sekaliber sampeyan, masih buanyak profesi lain yang lebih menyedihkan kondisinya di republik ini Cak.
    Saya bener2 berharap semua semua dokter di negara ini bisa tulus ikhlas without “ngomel” soale itu sepertinya koq ndak mensyukuri nikmat dan kesempatan yang diberikanNYA untuk menjadi seorang profesional ‘ndek negoro iki.
    Ma’afkan saya Cak, tidak ada maksud saya menyerang sampeyan, saya cukup puas kalo bisa jadi tembok penghalang diblakang sampeyan supaya sampeyan ndak bisa melangkah mundur dan kemudian “katut arus”.
    Kalau sampeyan tidak berkenan ya ndak masalah dan untuk itu saya minta ma’af tapi terus terang tetep aja saya kurang ajar karena pengen liat apa sampe mbesuk-mbesuk sampeyan masih komit seperti Mother Theresa gitu, kalo ‘ndak terbukti ya ijinkan saya buat tersenyum.. Sepurane Cakmoki yo…
    Salam.

  46. 46 cakmoki Agustus 10, 2007 pukul 5:04 pm

    @ jimbeam,
    Bebas om, berpendapat apapun ga papa juga …
    Perkara beda persepsi antara saya dan pembaca lain dengan sampeyan, itu sih biasa.
    Tulisan saya lebih kearah solusi, bukan ngomel doang.
    Kalo mau memperhatikan, ada pesan moral, coba baca alinea terakhir tuh … yang tulisannya samr itu lho, … hehehe

  47. 47 KoasObsGyn UGM 2003 September 22, 2007 pukul 10:39 pm

    Hikss22….Terharu cak,,ternyata money is nothing…it’s everything..wakakakakakak…
    Nha, itu cak yang gak dipikirin calon2 PPDS,taunya bludas-bludus masuk jurusan yang kira2 “potensial”..eeh taunya ketemu anak-bojo aja jarang,,dimana nikmatnya??
    Mungkin emang konsekuensi setiap pekerjaan itu ada,,tapi apa esensi mencari uang banyak bila hak anak-istri tidak ditunaikan–at least secara psikis tidak ditunaikan karena ketemu…

  48. 48 cakmoki September 22, 2007 pukul 11:29 pm

    @ KoasObsGyn UGM 2003,
    hehehe, ya…tapi pilihan ada di tangan masing-masing, dan pilihan tersebut patut kita hargai πŸ™‚

  49. 49 secondprince September 23, 2007 pukul 3:32 pm

    hmm jadi dokter ternyata susah ya
    *la apa hubungannya*
    wah saya jadi kagum nih dgn Pak Dokter πŸ˜€

  50. 50 cakmoki September 25, 2007 pukul 12:05 am

    @ secondprince,
    sebenarnya engga juga… kami hanya mengungkap hal-hal yang tidak diketahui khalayak, betapa banyak hal yang harus kami kerjakan di luar bidang medis.
    Trims πŸ™‚


  1. 1 Al Kitab dan Etika Kedokteran « Analisis Pencari Kebenaran Lacak balik pada September 23, 2007 pukul 4:19 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Wong ndeso β„’

cakmoki

Wordpress Indonesia

Silahkan baca

DISCLAIMER

web tracker

9 Desember 2009

SEMENTARA TUTUP

Maaf, sementara Blog istirahat hingga ada pemberitahuan

Harap maklum


MARI HENTIKAN KORUPSI

Jangan Korupsi Ah

No Korupsi

Internet Sehat

Warga Bicara

» Makasih PLN, listrik Samarinda dah membaik, moga gak byar-pet

» Waspada Demam Berdarah

» Jangan Gunduli Palaran

» Banjir...banjir. Kapan masalah ini teratasi ?

INGA INGA INGA

» Nyeri Urat or Tulang BUKAN berarti Penyakit Asam Urat.

» Sekali lagi: Pegal, Linu Tidak Identik dengan Penyakit Asam Urat

TEMANs

9racehime | A. Fatih Syuhud | Aditiawan Chandra | A.Tajib | Agung UD | aLe | alief | alle | almascatie | Amd | Anak Peri | Anak Sultan | Anang | Anang YP | Anas | Andalas | Anggara | Anjaz | Anti Pungli | Antobilang | Anung87 | Aribowo | Arif Kurniawan | Arul | Astikirna | awan965 | axireaxi | Bambang alias HR | BatakNews | Blog Pokoke? | Biho | CalonOrangTenar | Cay | Chandra | Chielicious | chiw imudz | cK-chika | Dalamhati | Deden Nugraha | deedhoet | deKing | Desti Utami | Didats | doeytea | dnial | Edy C | Eep | Elpalimbani | erander | Evi | Fa | Fa wp | Faiq | Fertobhades | Fetro | Fortynine | Freddy | Gadis | Gaussac | Gitablu | Grandiosa | GuhPraset | GuM | Helgeduelbek | Herdy | Indonesia Kita | Indra KH | ItikKecil | iway | Jejakpena | Jennie S. Bev | Joesath | Joko Taroeb | Julee | Juli | Juliach | Junthit | Jurig | Kakilangit | Kang Adhi | Kang Kombor | Kangguru | kawaichu | Kenji | Kenzt | kikie | koecing | Kumala | Kurtubi | Kw | Laras | liezmaya | Lilik Suryanto | Lily | Linker | Lintang | Lita | Lita wp | Luthfi | MaIDeN | Majalah Dewa Dewi | Manusiasuper | Master Li | Mathematicse | macanang | mbojo | Mei | Micokelana | Mr. Geddoe | Mufti | mybenjeng | My-za | Nayla Zahra | Nayz | Ndarualqaz | Neeya | Neo Forty-Nine | Neri | Ninoy | Nieke | Nomercy | n0vri | NuDe | Om Sulis | omaigat | Ooyi | Paijo | Panca | Pandu | Panduan WP | Papabonbon | Passya | Peyek | Pinkina | Pitik | Pralangga | Prayogo | Priyadi | Qee | Raja iblis | RenjanaBiru | rivafauziah | Rivermaya | Roffi | roisZ | Rujak | Sagung | Sahrudin | Saiful Adi | SaRa | Siu | Sofi | Sora9n | Suandana | Suluh | Susiloharjo | Telmark | Thamrin | tiesmin | Triesti | Tukang Sate | Venus | Wadehel | Wahyuansyah | Wandira | Wiku | WongMangli | Wulan | Yati | Yudhipras |

:: :: :: :: :: :: :: :: ::

Kesehatan

:: Ady Wirawan :: Agus Mutamakin :: Anis Fuad :: Anis Fuad wp :: Asri Tadda :: Astri Pramarini :: Astri Pramarini (awal) :: Astri Pramarini wp :: Blog Mahasiswa FKU 2003 :: Blog Rumah Kanker :: Dani Iswara :: Dani Iswara weblog :: Dokter arek cilik :: drAnak :: drarifianto :: Dwi wp :: Elyas :: Erik Tapan :: Evy HealhtySmile :: FK Unsri :: Gies :: Gies wp :: Ginna :: Grapz :: Hendar Sunandar :: HIV News :: Huda Thoriq :: IDI Samarinda :: imcw :: Imran Nito :: Iwan Handoko :: Jhonrido :: klikharry :: Kobal :: Laksmi Nawasasi :: Mashuri :: Mave Mina :: Mbah Dipo :: Mina :: My Blogspot :: Nur Martono :: PKM Palaran :: Rara :: Rizma Adlia :: Rudy Kwang :: SenyumSehat :: Sibermedik :: SimkesUGM :: SuperKecil :: Titah :: Tito :: Tonang Ardyanto :: Tukangkomentar :: Wi :: Vina Revi :: Vina Multiply :: Yusuf Alam R :: zulharman79 ::

:: :: :: :: :: :: :: :: :: :: ::

Institusi Kesehatan

:: Depkes RI :: WHO :: WHO Indonesia :: … nyusul

:: :: :: :: :: :: :: :: ::

Kolaborasi

:: Emedicine :: ICD 10 Wikipedia :: ICD 10 Wiki Indonesia :: OSWD :: OpenWebDesign :: Pakistan Times :: Rubab :: ntar ::

Kategori

BlogTour

Arsip

Komunitas Blog

blog-indonesia.com

PAGE RANK

Powered by  MyPagerank.Net

Add to Technorati Favorites

[Valid RSS]

Health Blogs - Blog Top Sites

Health

Blogs Topsites - TOP.ORG

Health Blogs - Blog Rankings

Blog directory

TopOfBlogs

Top 10 Award

Feed Burner

cakmoki Blog

Bloggerian Top Hits

My BlogCatalog BlogRank

Site Meter

Since 30 Nov 07

PENGUNJUNG

  • 5,303,313 pengintip

Asal Usul

Pebruari 2011

free counters


%d blogger menyukai ini: