ABS

Mengulang ngomel Kritik

Siapa sih tak kenal ABS? Istilah ABS hampir disamakan dengan sikap menjilat dari bawahan kepada atasan, yakni ketika bawahan melaporkan hal-hal yang baik kepada bos dengan menyembunyikan kekurangannya. Sikap ini bisa terjadi dimana saja, institusi pemerintah, swasta, parpol ataupun institusi lainnya.

Sorotan terbanyak tentu ditujukan pada instansi pemerintah. Sikap ABS di lingkungan pemerintahan, mulai tingkat pusat hingga tingkat paling bawah, nyaris selalu menuai cibiran. Wajar saja, karena pelaksanaan program instansi pemerintah menggunakan dana negara (uang rakyat). Selain itu ABS sangat kental dengan aroma KKN. Para pemburu jabatan biasanya menggunakan cara ini untuk meraih kursi empuk ketimbang melalui kinerja profesional. Bagi yang sudah terlanjur senang duduk di kursi empuk, ABS digunakan agar kursinya tidak bergoyang.

Cibiran khalayak berubah menjadi sumpah serapah ketika ABS berujung petaka. Sering kita mendengar laporan dahsyat kepala instansi kepada kepala daerah berakhir dengan berita mengejutkan di media. Contohnya laporan dibangunnya beberapa sarana pendidikan di sebuah daerah. Presentasinya hebat, masuk tivi, diakhiri sorak sorai pendengarnya, eh beberapa bulan kemudian sarana-sarana yang dibanggakan tersebut satu persatu ambruk berguguran.

Kasus lain misalnya laporan pembangunan bendungan. Jika hanya mengandalkan ABS, maka tak perlu kaget bila bendungan tersebut jebol beberapa saat setelah diresmikan dan akhirnya banjir.
Sudah banyak kisah pilu gara-gara ABS. Ada yang belum diresmikan sudah rusak, ada pula yang lengkap laporannya tapi gak ada wujudnya, kayak siluman. 😛

Bagaimana Institusi Kesehatan ?
Sorry lah, instansi kesehatan tidak ada bedanya, alias sami mawon. Huahaha 33x *ngakak sampai ngiler, nggilani*
Lha buktinya apa cak? Halah, mosok kura-kura naik perahu 😉 … peyek ya peyek, tapi jangan diremet-remet, ngenyek ya ngenyek tapi jangan banget-banget 🙄 Kalau memang masih belum tahu, mari kita cari tahu.

Monggo, kita kilas balik sebentar.
Ada sebuah provinsi menampilkan keberhasilan program imunisasinya (UCI=Universal Child Immunization) yang nyaris mencapai nilai sempurna, Kesanalah beberapa daerah jalan-jalan study banding untuk meniru kiat-kiat keberhasilannya.
Apa lacur, di daerah tersebut pula munculnya kasus polio. Akhirnya program imunisasi polio masal (PIN=Pekan Imunisasi Nasional) diputar lagi entah sampai berapa kali putaran sampai polio habis.

Beberapa waktu yang lalu sempat ramai tayangan kasus busung lapar melalui media. Tak urung jajaran kesehatan setempat kalang kabut dibuatnya. Mungkin tidak menduga, mungkin juga tidak tahu, mungkin … mungkin … mungkin.
Saat ini harga susu formula naik nih, selain dapat diramalkan akan ada kasus kurang gizi (caranya dengan menghitung jumlah pemakai di tiap kelurahan, jumlah pemakaian sebelum dan sesudah naik, pengganti susu, serta variabel lain), moment ini bisa juga untuk argumen jika benar-benar ada kasus kurang gizi kendati tanpa data pendukung, cihuy … *satir banget ya*

Hajatan tahunan melalui tayangan media, adalah merebaknya kasus Demam Berdarah Dengue di berbagai daerah. Ketika media cetak atau elektronik mengekspos kasus DBD, saat itulah kebanyakan instansi kesehatan mulai rapat. Hebat kan, … sementara pasien-pasien DBD bergelimpangan di RS, di saat yang bersamaan (setelahnya ding), rapat koordinasi mulai digelar, … walah … walah.

Contoh-contoh di atas (masih banyak lho) seolah mempertegas dugaan bahwa kebiasaan “menyembunyikan sesuatu” masih menjadi siklus tahunan.
Apakah ini dampak ABS ?
Ataukah ada sebab politis kronis lainnya ?
Trus, output workshop nya gimana ?
a-be-es ohhh a-be-es

:: :: kalimat renungan: tak ada kata terlambat untuk berbenah :: ::

Iklan

30 Responses to “ABS”


  1. 1 joerig Juli 11, 2007 pukul 3:40 pm

    kirain abs yg rem itu … hehehehe

    OOT ya … 😀

  2. 2 Titah Juli 11, 2007 pukul 4:09 pm

    trus gimana baiknya? brani ngritik harus brani ngasih solusi lo (tumben solusinya kelupaan, biasanya ada?) 😉

  3. 3 doeytea Juli 11, 2007 pukul 4:17 pm

    Perilaku ABS dan korupsi merupakan penyakit kronis birokrasi kita. So, solusinya adalah : reformasi birokrasi

  4. 4 deKing Juli 11, 2007 pukul 11:20 pm

    Agak OOT nich Cak…
    Rada2 mirip dengan workshop apus-apus (palsu) itu…bagaimana kira2 dengan kegiatan yang dilakukan anggota DPRD Jatim datang jauh2 ke Belanda “hanya” untuk mencari data hari jadi Jatim.
    Masak “studi banding” itu sampai ada 2 gelombang? Kalau mmg cr data seperti itu kan cukup satu rombongan saja kali ya…
    *Maaf OOT, habis rasanya gemes sih 😀

  5. 5 tyas Juli 12, 2007 pukul 12:06 am

    tapi kadang2 si B-nya kok yang emang mo dibikin seneng, ga peduli yang sebenernya terjadi…
    itu kasus studi banding DPRD Jatim ke Belanda juga bikin naik tensi aja, huh

  6. 6 tukangkomentar Juli 12, 2007 pukul 12:16 am

    Cari data hari jadi Jatim ke Belanda? Seperti cara resep sambel trasi ke bulan, nggih?
    Weleh, terus-terang saja mau pariwisata gratis, gitu lho! Apakah anak istrinya di bawa? Atau paling nggak dibawakan oleh-oleh keju Gouda atau bibit tulip (tentu termasuk ongkos “dll”). 🙂
    Hebat! Inovatif!

    Lha, masalah ABS:
    kalau seorang di Indonesia jadi atasan (apapun), kan langsung merasa sudah jadi “Tuhan”, apalagi kalau sudah pakai seragam (seragam apapun). Masa berani melawan “Tuhan”. Bisa-bisa ditendang!
    Pengalaman sendiri (waktu masih di hidup dan berkerja di Indonesia): karena kritik, lalu saya ditekan.
    Bukankah ini juga sebuah bentuk “korupsi”?
    (Nyambung nggak sih? 🙂 )

    Menyembunyikan sesuatu atau “tidak (mau) tahu” atau tidak tahu (karena info dari bawahan ya berdasarkan “ABS”. Atau diberi tahu tapi ngeyel biarpun sudah tahu, bahwa tidak tahu. Sehingga yang seharusnya diketahui dan bisa diberi-tahukan jadinya ditidak-mau-tahui.
    Namanya: tahu.

    Indonesia, oh, Indonesia………

  7. 7 andalas Juli 12, 2007 pukul 12:41 am

    wahh itu mah ‘B’ nya perlu ditatar ulang ya cak? saya rasa a-be-es itu ada karena ‘B’ maunya denger yang baik2 doang. jadinya gitu deh bawahan gak berani ngelaporin yang jelek-jeleknya. *bener gak ya!!*

  8. 8 mybenjeng Juli 12, 2007 pukul 12:46 am

    nah yang direform bossny ato bawahannya neeh…

  9. 9 rivafauziah Juli 12, 2007 pukul 3:08 am

    Ada lagi yang lebih parah waktu mendengar ada dana PINJAMAN dari Luar (UTANGAN) masing2 daerah berlomba2 dan mengklaim bahwa di lingkungan terbanyak terkena FLU BURUNG. Ada yang sakit Flu sedikit diisukan FU BURUNG, Bahkan Kalau perlu di suntik mati Karena apa…????!! Karena Mengharapkan Dana UTANGAN Tadi….
    Buktinya, waktu ngantar sodara karena terserang FLU yang ditanya pertama kali oleh Mantri (nama panggilan pembantu dokter di daerah) Di Rumah Pelihara Unggas Tidak, atau di sekitar rumah banyak yang pelihara Unggas tidak…?!! Seakan2 memfonis kalau itu adalah Flu Burung… Sungguh2 aneh Diagnosanya…. (ketawa Geli sambil gigit Jari Kaki… hiii.hiii. hiii)
    Padahal Sakitnya gara2 main layangan dan pulang kehujanan…..

  10. 10 rivafauziah Juli 12, 2007 pukul 3:10 am

    Tambahan buat joerig : ABS = Asal Bisa Sikat

  11. 11 cakmoki Juli 12, 2007 pukul 3:25 am

    @ joerig,
    bukan teh, hehehe

    @ Titah,
    wah cermat juga ya 🙂 … solusinya ada koq, gak ditampilkan supaya ada masukan, lebih terbuka dan tidak terkesan menggurui.

    Menurut sy, untuk jajaran kesehatan salah satu solusinya adalah: “tulis laporan apa adanya” walau misalnya ada tekanan dari kepala daerah hanya karena gengsi daerah. Gak ada resiko apapun sepanjang kita mampu menyampaikan berdasarkan data akurat.

    Contoh: jika di suatu kelurahan setiap tahun banyak kasus diare dan pencetusnya adalah tidak adanya sarana air minum yg memadai, tetap dilaporkan sesuai kenyataan, tidak lantas ditulis misalnya “kesadaran masyarakat kurang”. Mestinya, jalan keluarnya adalah pengadaan sarana air minum. Kalo dikatakan “kesadaran masyarakat kurang” maka jalan keluarnya “tingkatkan penyuluhan”, lha … jadi gak nyambung kan?
    Sayangnya orang kesehatan mulai tingkat I, II dan Puskesmas kebanyakan “manut”, akhirnya masalah yg satu belum selesai sudah tertumpuk masalah lainnya, akhirnya mengeluh sendiri karena dijadikan bulan-bulanan, hahaha.

    Kalo di depdagri katanya lebih serem, berani ngomong apa adanya tanpa “petunjuk” atasan, konon sama saja dengan siap dimutasi.
    Di posting lama, sy sudah bahas ini 😀

    @ doeytea,
    Setuju !!! Gimana kalo lebih fokus, misalnya: pensiunkan dini pns yg gak mutu (ABS, Korupsi, dll) … eh terlalu serem gak ya.

    @ deKing,
    gak OOT koq, masih dalam substansi bahasan *gak perlu terikat judul kan 😉 *
    lha iya, wong hanya cari data hari jadi aja sampai gerudukan ke Belanda. Kali sudah gak nemu alasan halus sehingga pakai alasan tidak cerdas blasss seperti itu. Trus nanti untuk lebih afdhol, nyebrang ke Belgia, dilanjutkan ke Perancis untuk dokumentasi, kemudian ke Jepang untuk hak paten, lengkaplah sudah apus-apusan …

    Ntar tahun depan kesana lagi dg alasan “pemutakhiran data” hari jadi, hahaha. Lengkap dengan penerjemahnya, satu wisatawan peserta satu penerjemah … 😛 Andaikan mereka kepingin ke Spanyol, kira-kira alasannya apa ya

    Kalo hanya cari data hari jadi, menurut saya cukup duduk manis di depan komputer sinambi ngopi plus nyamil pisang goreng. *gemes juga*

    @ tyas,
    “B” model begituan cocoknya dibuatkan kerajaan kecil dan disediakan punggawa hewan pengerat, hahaha

    DPRD jatim kalo gak salah berakhir masa jabatan tahun depan, mungkin ke Belanda sebagai “penghargaan” atas “kerja sama dan saling pengertian” antara Pemprov dan DPRD. Bahasa halusnya biasanya gitu.

    @ tukangkomentar,
    Ntar kalo dari Belanda nyeberang ke Jerman didemo aja Pak 😀

    iya, ABS masih “keluarga besar korupsi”. Rupanya punya memory gelap saat kerja di Indo ya …. sebelum era reformasi emang parah, berani menentang Bos selain ditendang juga diinjak-injak sampai lungset.
    Sekarang gak parah-parah amat sih, masih mirip 😦

    hahaha, itulah siklus “tahu menahu dan tidak untuk diketahui” yg terjadi hingga saat ini. *mengenaskan*

    @ andalas,
    ya, salah satu lingkarannya seperti itu. Biasanya ada saja “bawahan” yang berani berkata benar menggunakan trik agar “B” tidak tersinggung, resikonya “bawahan” bisa dikucilkan,… repot jadinya.

    @ mybenjeng,
    Menurut saya, tergantung kedudukan “bawahan” dan “bos”. Kalo keduanya sama-sama “kepala” institusi dengan tingkat berbeda, keduanya di reform. Kalau “bos” adalah “kepala” institusi sedangkan “bawahan” adalah staf, reform pertama adalah “bos”, adapun bawahan masih mungkin diperbaiki bila “bos” hasil reform memberikan suasana kondusif. Ini menurut pendapat saya lho, bisa salah, hahaha

  12. 12 cakmoki Juli 12, 2007 pukul 3:43 am

    @ rivafauziah,
    wah iya tuh, parah… jangan-jangan flu karena habis mancing di kali juga dituduh, hahaha …
    ada lagi bantuan (utangan) bahan makanan untuk warga miskin diembat sama petugasnya, alasan yg dipakai biasanya untuk “operasional”, … seremmm.

  13. 13 axireaxi Juli 12, 2007 pukul 9:39 am

    abs = asal bini senang?

    ups, maaf…

    btw, kalo soal jilat menjilat, cheetah jg melakukannya lho pak.
    itu sbg bentuk kasih sayang di kelompoknya (ibu-anak-saudara)

    salam,
    adi.n

  14. 14 suandana Juli 12, 2007 pukul 10:02 am

    Sebenarnya sih, kalau memang mau mengganti seluruh “B” yang bermasalah, itu artinya REVOLUSI lho, Cak…
    *tolah-toleh, soalnya ini kata yang sensitif*
    😀
    SEMANGAT!!!

  15. 15 chielicious Juli 12, 2007 pukul 1:56 pm

    Holohhh..cape dehh *aming syndrome*

  16. 16 imcw Juli 12, 2007 pukul 2:03 pm

    biasanya mobil atau motor yang pake ABS lebih mahal lho cak…katanya bisa mengoptimalkan fungsi pengereman sehingga mobil tidak terlalu ngepot dan oleng…nggak nyambung ya?…:)

  17. 17 Kang Kombor Juli 12, 2007 pukul 4:56 pm

    Gara-gara bawahan laporan memakai gaya ABS, setelah terkuak media bahwa laporan tersebut omong kosong, pejabat yang mongkog dengan laporan itu malahan ngumpat pakai ABS juga: Asu! Bajingan! Semprul!

    Haree geenee maseeh pakai ABS!

  18. 18 cakmoki Juli 12, 2007 pukul 6:06 pm

    @ axireaxi,
    *manggut-manggut* iya ya, gak kepikir A-Bini-S dan rumus penjilatan, hehehe

    @ suandana,
    *tolah-toleh juga* kalo mau berhasil sepertinya gitu sih ya, mungkin kalimatnya sedikit dimodifikasi menjadi “perbaikan”

    @ chielicious,
    sabar chie, sabar 😉

    @ imcw,
    huaaa, iya betul tuh katanya, blum pernah nyoba.
    Judulnya keliru kali ya 😀

    @ Kang Kombor,
    ABS berantai
    hahaha, singkatan terakhir kayaknya lebih mak-nyus Kang

  19. 19 Fa Juli 12, 2007 pukul 11:50 pm

    *geleng-geleng* ngelu aku Cak, obate opo yo? 😀

  20. 20 cakmoki Juli 13, 2007 pukul 2:45 am

    @ Fa,
    hehehe, obate pijet mbak 🙂

  21. 21 manusiasuper Juli 13, 2007 pukul 10:53 am

    Tapi sulit membedakan Menjilat dengan Memuji dan Membahagiakan Orang Lain kan cak? Semua tergantung niat pribadi masing-masing tokh?

  22. 22 klikharry Juli 13, 2007 pukul 3:08 pm

    kira-kira masih ada tempat gak buat mereka2 yang sok idealis?

  23. 23 itikkecil Juli 13, 2007 pukul 3:27 pm

    ABS kayaknya masih jadi budaya ya cak…. Hmmmppphhh….. Kadang-kadang juga atasannya suka mengingkari kalo ada hal-hal yang dianggap gagal. tergantung bawahan juga sih.. mau vokal (kayak cakmoki) atau dibiarin saja… hancur lebur urusan belakangan…
    btw, saya muji bukan ACS (asal cakmoki senang) loooo 😀

  24. 24 Domba Garut! Juli 13, 2007 pukul 8:20 pm

    Seperti pepatah orang Wonosobo mengatakan: ‘The truth at often times hurts’ inilah yang menjadikan mereka ciut tidak berani membeberkan fakta. Ujung2nya kalangan ‘grass-roots’ lah yang menuai akibat.

    Moga2 dengan ulasan ini bisa banyak mengetuk nurani, what is right and needs to be said, will be said, though it may taste too bitter.

  25. 25 peyek Juli 14, 2007 pukul 12:04 am

    walah cak, sami rawon!

    embong malang mampir nang rawon setan
    demi kursi goyang wong-wong podho nyetan, uedyan!

  26. 26 peyek Juli 14, 2007 pukul 12:07 am

    Edit Judul Cak jadi AJBS !

    Anak Jaya Bapak Suenang !

  27. 27 Lita Juli 14, 2007 pukul 12:16 am

    Heran. Harga susu formula naik, kok yang ribut orang di desa, ya? Bukannya orang desa pada menyusui anaknya?
    Lebih dari setahun ya gak usah mikiri susu formula juga. Lha wong susu segar dari peternakan sebelah juga layak, kok. Ngapain ngejar gengsi dari susu kalengan yang diimpor. Niru gaya orang kota?

    *mode sarkastis*
    Mohon dimaapkeun bagi yang kurang berkenan.
    Saya jengkel amat sangat sama DepKes (dan mentrinya dwong). Masa urusan ASI gak diurus DepKes???! Kenapa solusi harga susu mahal adalah MPASI?! Kenapa tidak dengan penyuluhan (re)laktasi, perbaikan gizi ibu, dan penyuluhan pembuatan MPASI bergizi ala rumahan (homemade)?! Kenapa jalan pintas?!…
    Tanya kenapa ™ Sponsor? Auk ah lap…

  28. 28 cakmoki Juli 14, 2007 pukul 2:08 am

    @ manusiasuper,
    eh? itu beda cil karena ada kata asal mendahului senang. *loh koq jadi kayak ilmu nahwu nih*
    walah, acil mansup pura-pura nih 😀

    @ klikharry,
    baik yang sok idealis, tidak idealis maupun yang idealis beneran, ada tempat … so tenang aja, hehehe
    Menurut saya sih bagusnya idealis tetap dipelihara. Bisa dibayangkan jika orang medis gak lagi idealis, korbannya tak lain dan tak bukan adalah khalayak.

    @ itikkecil,
    Sejauh ini masih seperti itu. Di sisi lain selalu ada pimpinan dan anak buah yg bersinergi saling menguatkan dan kritis konstruktif satu sama lainnya.
    Kita berbagai dan ngrumpi sambil ajak-ajak begini termasuk berbuat, … walau dikit-dikit 😉
    Sy gak vokal lho mbak, … lemah lembut gini je, huahaha

    ACS, istilah baru nih …

    @ Domba Garut!,
    Pepatah Madura katanya gitu juga, obat itu pahit tapi harus ditelan kalo ingin sembuh walaupun nelannya terasa mual
    Trims supportnya dari seberang benua 😀

    @ peyek,
    huahahaha, parikane asyik cak, … cocok !!!
    AJBS kayaknya konotasi positif ya

    @ Lita,
    Alhamdulillah desa kami gak ribut, malah beberapa hari ini para ibu yg nggendong anaknya berujar: “aman, susu formula mahal gak patheken, si bayi pakai ASI, asli, segar, bergizi, … bisa nabung” … Ini rangkuman dari beberapa ungkapan para ibu bayi. Senang sy mendengarnya.
    Eh itu yg dimkasud Bu Lita mungkin “desa Jakarta” ya … atau mungkin setengah desa setengah kota.

    hehehe tenang bu, walau menkes ngobral pesan sponsor MPASI, petugas lapangan di desa gak bilang gitu, tetap seperti semula, yakni lebih menggalakkan perbaikan Gizi keluarga. Soale kalo aneh-aneh, ibu-ibu yg ikut penyuluhan bubar dan selanjutnya gak datang lagi. Eh jangan bilang-bilang kalo sabda menkes gak sama dg di lapangan ya 😉

    MPASI itu kayaknya akan berakhir dengan langkah workshop berantai, biasanya lengkap dengan sponsornya, huaaaaaaa
    Gimana kalo nulis postingan khusus tentang MPASI, dan harus sambil pura-pura marah 😉

  29. 29 cak bledug September 3, 2010 pukul 11:00 pm

    Kalo saya amati yang sering menjadi kelemahan adalah dibidang pelaporan kesehatan yang merupakan tugas sanitarian puskesmas apalagi puskesmas saya petugas sanitariannya gak mau kedaerah kecuali ingin tandatangan sppd ke Kades sisanya ngerjain proyek fiktif bersama kepala puskesmas di puskesmas,Kalau laporan lapangan 100% juga fiktif jadi kalau ada KLB dokter puskesmas jadi sumpahan penduduk, kebetulan kapusnya hanya sma Tapi PNS senior cing wak…wak…wak…

  30. 30 cakmoki September 4, 2010 pukul 12:52 am

    @ cak bledug:
    ha ha ha … itulah kalo salah menempatkan seorang Ka Pusk… namanya Puskesmas, KaPusk yang paling tepat adalah dokter, sesuai kompetensinya, walaupun katakanlah masih PTT… kalo enggak, ya begitu itu jadinya.
    Menurut saya, yang salah adalah KaDinkes dan Kepala Daerah… soalnya, Puskesmas adalah institusi teknis, bukan kantor yang hanya asal Tanda Tangan dan SPPD .. 😀
    Waktu saya jadi Ka Pusk, staf saya kebanyakan senior … gak masalah, semuanya nurut.
    Ini bukan persoalan jabatan, tapi tanggung jawab profesi dan integritas pengetahuan medis. Bukankah begitu ?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Wong ndeso ™

cakmoki

Wordpress Indonesia

Silahkan baca

DISCLAIMER

web tracker

9 Desember 2009

SEMENTARA TUTUP

Maaf, sementara Blog istirahat hingga ada pemberitahuan

Harap maklum


MARI HENTIKAN KORUPSI

Jangan Korupsi Ah

No Korupsi

Internet Sehat

Warga Bicara

» Makasih PLN, listrik Samarinda dah membaik, moga gak byar-pet

» Waspada Demam Berdarah

» Jangan Gunduli Palaran

» Banjir...banjir. Kapan masalah ini teratasi ?

INGA INGA INGA

» Nyeri Urat or Tulang BUKAN berarti Penyakit Asam Urat.

» Sekali lagi: Pegal, Linu Tidak Identik dengan Penyakit Asam Urat

TEMANs

9racehime | A. Fatih Syuhud | Aditiawan Chandra | A.Tajib | Agung UD | aLe | alief | alle | almascatie | Amd | Anak Peri | Anak Sultan | Anang | Anang YP | Anas | Andalas | Anggara | Anjaz | Anti Pungli | Antobilang | Anung87 | Aribowo | Arif Kurniawan | Arul | Astikirna | awan965 | axireaxi | Bambang alias HR | BatakNews | Blog Pokoke? | Biho | CalonOrangTenar | Cay | Chandra | Chielicious | chiw imudz | cK-chika | Dalamhati | Deden Nugraha | deedhoet | deKing | Desti Utami | Didats | doeytea | dnial | Edy C | Eep | Elpalimbani | erander | Evi | Fa | Fa wp | Faiq | Fertobhades | Fetro | Fortynine | Freddy | Gadis | Gaussac | Gitablu | Grandiosa | GuhPraset | GuM | Helgeduelbek | Herdy | Indonesia Kita | Indra KH | ItikKecil | iway | Jejakpena | Jennie S. Bev | Joesath | Joko Taroeb | Julee | Juli | Juliach | Junthit | Jurig | Kakilangit | Kang Adhi | Kang Kombor | Kangguru | kawaichu | Kenji | Kenzt | kikie | koecing | Kumala | Kurtubi | Kw | Laras | liezmaya | Lilik Suryanto | Lily | Linker | Lintang | Lita | Lita wp | Luthfi | MaIDeN | Majalah Dewa Dewi | Manusiasuper | Master Li | Mathematicse | macanang | mbojo | Mei | Micokelana | Mr. Geddoe | Mufti | mybenjeng | My-za | Nayla Zahra | Nayz | Ndarualqaz | Neeya | Neo Forty-Nine | Neri | Ninoy | Nieke | Nomercy | n0vri | NuDe | Om Sulis | omaigat | Ooyi | Paijo | Panca | Pandu | Panduan WP | Papabonbon | Passya | Peyek | Pinkina | Pitik | Pralangga | Prayogo | Priyadi | Qee | Raja iblis | RenjanaBiru | rivafauziah | Rivermaya | Roffi | roisZ | Rujak | Sagung | Sahrudin | Saiful Adi | SaRa | Siu | Sofi | Sora9n | Suandana | Suluh | Susiloharjo | Telmark | Thamrin | tiesmin | Triesti | Tukang Sate | Venus | Wadehel | Wahyuansyah | Wandira | Wiku | WongMangli | Wulan | Yati | Yudhipras |

:: :: :: :: :: :: :: :: ::

Kesehatan

:: Ady Wirawan :: Agus Mutamakin :: Anis Fuad :: Anis Fuad wp :: Asri Tadda :: Astri Pramarini :: Astri Pramarini (awal) :: Astri Pramarini wp :: Blog Mahasiswa FKU 2003 :: Blog Rumah Kanker :: Dani Iswara :: Dani Iswara weblog :: Dokter arek cilik :: drAnak :: drarifianto :: Dwi wp :: Elyas :: Erik Tapan :: Evy HealhtySmile :: FK Unsri :: Gies :: Gies wp :: Ginna :: Grapz :: Hendar Sunandar :: HIV News :: Huda Thoriq :: IDI Samarinda :: imcw :: Imran Nito :: Iwan Handoko :: Jhonrido :: klikharry :: Kobal :: Laksmi Nawasasi :: Mashuri :: Mave Mina :: Mbah Dipo :: Mina :: My Blogspot :: Nur Martono :: PKM Palaran :: Rara :: Rizma Adlia :: Rudy Kwang :: SenyumSehat :: Sibermedik :: SimkesUGM :: SuperKecil :: Titah :: Tito :: Tonang Ardyanto :: Tukangkomentar :: Wi :: Vina Revi :: Vina Multiply :: Yusuf Alam R :: zulharman79 ::

:: :: :: :: :: :: :: :: :: :: ::

Institusi Kesehatan

:: Depkes RI :: WHO :: WHO Indonesia :: … nyusul

:: :: :: :: :: :: :: :: ::

Kolaborasi

:: Emedicine :: ICD 10 Wikipedia :: ICD 10 Wiki Indonesia :: OSWD :: OpenWebDesign :: Pakistan Times :: Rubab :: ntar ::

Kategori

BlogTour

Arsip

Komunitas Blog

blog-indonesia.com

PAGE RANK

Powered by  MyPagerank.Net

Add to Technorati Favorites

[Valid RSS]

Health Blogs - Blog Top Sites

Health

Blogs Topsites - TOP.ORG

Health Blogs - Blog Rankings

Blog directory

TopOfBlogs

Top 10 Award

Feed Burner

cakmoki Blog

Bloggerian Top Hits

My BlogCatalog BlogRank

Site Meter

Since 30 Nov 07

PENGUNJUNG

  • 5,354,783 pengintip

Asal Usul

Pebruari 2011

free counters


%d blogger menyukai ini: