Ogah jadi dokter Ndeso ™

MENGAPA DOKTER OGAH DI DESA ?

Tulisan ini tidak terkait dengan postingan soal gaji, melainkan sebuah pandangan pribadi berdasarkan pengakuan beberapa teman sejawat seputar betah tidaknya seorang dokter tinggal di desa. *pengakuan bisik-bisik* dokter di desa atau Puskesmas itu gak bisa dibanggakan, paling kucluk, mau bergaya pakai jas putih ntar malah dikira mantenan, udah ndesit duitnya dikit.

Tidak seperti kebanyakan dokter di Jawa-Bali yang bisa betah bertahun-tahun di tempat tugas (tergantung desanya juga sih), di luar Jawa-Bali khususnya Kalimantan Timur rata-rata para dokter tidak betah tinggal di tempat tugas.
Ketika seorang dokter yang baru lulus harus memilih tempat tugas ( PTT ) antara Jawa-Bali atau luar Jawa-Bali, niscaya akan memilih yang pertama seandainya boleh memilih.
Kesempatan bertugas di Jawa-Bali tentu tetap ada, namun daya tampungnya sedikit.
Pilihan lain adalah luar Jawa-Bali, tinggal pilih sesuai (kata hati) minat dan rencana.

Seperti kita ketahui bahwa para dokter mempunyai beberapa kesempatan (pilihan) pasca masa tugas (PTT) ataupun setelah lulus pendidikan, yakni:

  • Mendaftar sebagai PNS (pegawai negeri sipil), ABRI, POLRI.
  • Bekerja di sektor swasta (Rumah Sakit Swasta atau lainnya)
  • Melanjutkan spesialisasi.
  • Melanjutkan jenjang S2 dan seterusnya.
  • Bekerja mandiri (praktek, buka klinik, dll)
  • Bekerja di sektor non medis

Setelah memilih salah satu diantaranya, masih berlanjut pada pilihan lain tentang tempat (kota), institusi dan lain-lain. Weleh, rumit !!!
Perlu disadari bahwa kebijakan pemerintah (depkes) soal penempatan dokter setelah lulus dari pendidikan bisa berubah-ubah. Kondisi ini (perubahan kebijakan) akan mempengaruhi pilihan para dokter untuk menetapkan masa depannya.
Kita tidak pernah tahu sampai kapan kebijakan PTT berlangsung dan bagaimana setelahnya (pasca PTT). Pengalaman sudah membuktikan bahwa kebijakan PTT boleh dikata berujung pada penelantaran para dokter (pasca PTT).
Kalaupun nantinya pemerintah (depkes) menelorkan kebijakan penghapusan PTT, seyogyanya ada sinkronisasi antara Depkes dengan fakultas kedokteran agar para dokter sudah tahu dan mempersiapkan dirinya sejak di bangku kuliah.

Mengapa para dokter ogah bermukim di desa ?
Para dokter akan memberikan jawaban beragam saat dihadapkan pada pertanyaan di atas. Setiap jawaban tentu mempunyai alasan (yang berbeda pula).
Berikut adalah daftar alasan-alasan yang (mungkin) dilontarkan para dokter ketika disodori pertanyaan di atas.

  • Fasilitas pendidikan untuk anak tidak memadai.
  • Kurang tersedianya (fasilitas) infrastruktur, seperti: air bersih, listrik, tilpon, jalan, pasar, dan lain-lain.
  • Tidak jelasnya program penempatan dokter dari Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah.
  • Kesempatan menambah penghasilan (finansial) yang tidak menjanjikan.
  • Serba tidak jelas

PENGABDIAN DAN PENGHASILAN
Sarjana bidang apapun akan bercita-cita menerapkan ilmunya dan berusaha mencari penghasilan yang cukup untuk hidup layak bagi dirinya sendiri dan keluarganya, tak terkecuali para dokter. Wajar kan? *emangnya tiap malem mau nabok nyamuk selama3-5 tahun, gitu penuturan dari para sejawat*

Idealnya di setiap kecamatan (terutama di daerah pinggiran) setidaknya ada seorang dokter yang bertempat tinggal dan memberikan layanan kesehatan di kecamatan tersebut. Bisa dibayangkan betapa kurang terurusnya layanan kesehatan ketika seorang dokter bertugas di Puskesmas di suatu Kecamatan namun ia bertempat tinggal dan praktek di kota. Selama ini sorotan utama sebagai kambing hitam adalah si dokter.
Apa benar ? Belum tentu !!! Kurang pengabdian ? Belum tentu !!!
Sebagai ilustrasi, di sebuah kecamatan ada sebuah Puskesmas, listrik kadang lupa menyala (byar pet), HP tidak ada signal, sarana air bersih gak jelas, mau ke kota sulit, sekolah hanya sampai SLTP, penghasilan masyarakat rendah, jalan entah ada entah tidak (kalaupun ada banyak kubangan) dan berbagai pernik style minimalist lainnya, bla … bla … bla.
Dengan setumpuk keterbatasan di atas tidak salah rasanya jika si dokter hanya mampu bertahan sekitar 5 tahun, selanjutnya memilih minggat pindah ke kota, menunggu digantikan oleh dokter pengganti atau memilih jalur lain.
Siklus ini akan berulang dan berulang.

Siapa sih sarjana yang mau mengorbankan anaknya sekolah di tempat ndesit kecepit, sementara menginginkan pendidikan si anak lebih baik dari orang tuanya?
Bolehlah seorang dokter memiliki kemampuan sebagai pionir membangun sebuah kecamatan, namun amatlah sulit menggapai tersedianya infra struktur yang memadai dalam waktu 5-10 tahun, sementara ia memiliki anak yang memerlukan pendidikan dan sarana lainnya.
Siapa suruh milih jadi dokter !!! Hah, masa gitu sih.

Akhirnya, kepada seluruh Pemerintah Daerah Tingkat II terutama di luar Jawa-Bali, berkenan kiranya mengarahkan pembangunan ke kecamatan dan desa-desa.
Jangan ngurusi mega proyek di perkotaan saja (bisik-bisik: ada fee 10% dari nilai proyek) sementara infrastruktur di kecamatan-kecamatan dan pedesaan kurang sentuhan. Maksudnya infrastruktur dasar adalah: air bersih, jalan, sarana pendidikan (jangan gampang roboh ya), listrik (bukan spec byar pet lho), sarana kesehatan dan lain-lain.
Gitu lho Bosss.
Mana janjimu? *halah, udah tahu banyak ingkarnya masih nanya jua, cak* 😦

SELAMAT BERJUANG KAWAN !!!
Maju Tak Gentar Membela Yang Bayar Benar.

Iklan

57 Responses to “Ogah jadi dokter Ndeso ™”


  1. 1 ndarualqaz Mei 24, 2007 pukul 4:17 pm

    PETROMAX dinyalain dulu baru koment

  2. 2 ndarualqaz Mei 24, 2007 pukul 4:28 pm

    memang sulit ya pak kerja di desa, kalo kitanya nggak nrimo malah mangkel sendiri. saya juga punya kakak yang kerja di kalimantan, di perkebunan (tepatnya dimana saya lupa), gaji gede, fasilitas dari perusahaan oke, cuma ya itu, gak ada fasilitas memadai buat anak, makanya sekarang si anak di paketkan ke jawa buat sekolah di sini, tapi repot sekali.

    sepertinya tidak hanya guru pak yang emoh kerja di desa terpencil, hampir semua orang emoh, kalo bisa pengennya kerja di tempat yang nyaman dan penuh sarpras.

    tapi juga tak sedikit kan pak orang yang rela berkorban kerja di desa terpencil, mereka inilah pahlawan sesungguhnya bagi rakyat kecil.

  3. 3 sofi Mei 24, 2007 pukul 4:28 pm

    ADA UANG ADA OBAT – ANDA SEHAT >>

  4. 4 sofi Mei 24, 2007 pukul 4:29 pm

    ADA UANG ADA OBAT – ANDA SEHAT– TIDAK ADA UANG ANDA SEKARAT

    Istilah Baru dunia kedokteran kita..

    males login.. Net Lambat Salam kenal

  5. 5 jurig Mei 24, 2007 pukul 4:55 pm

    hmmm … mengenaskan ya cak …

    selamat berjuang deh buat para dokter ….

  6. 6 super_kecil Mei 24, 2007 pukul 5:57 pm

    di desa udah ada apoteker?
    kaya’nya belum ya?

  7. 7 Suluh Mei 24, 2007 pukul 7:49 pm

    Dokter… OH dokter… Selamat berjuang…
    Btw, saya lumayan sering berobat ke puskesmas.. terus saya perhatikan beberapa kali ketika saya berobat kesana cuma di cek tekanan darah ma keluhan doang.. Trus mau tahu yang bikin saya terheran-heran pak dokter.. Jumlah jenis obatnya sama dengan jumlah keluhannya… He he he.. Trus saya pernah tanya-tanya fungsi dan guna obat satu per satu malah dimaki maki dan dibilang gak sopan.. akhirnya gak jadi periksa.. Mungkin terlalu berat ya beban seorang dokter ampe begitu… Selamat berjuang… Salut…

  8. 8 Dani Iswara Mei 24, 2007 pukul 9:42 pm

    akhirnya dokter perlu ‘transmigrasi’ jg ya cak.. 😀

  9. 9 Shan-in Lee Mei 24, 2007 pukul 9:59 pm

    Banyak yang bilang jadi dokter enak. Banyak yang maksa menyarankan Shan-in ambil FK habis lulus SMA ini… Tapi dasar Shan-in, nggak niat jadi dokter walaupun dikataian tampang IPA.

    Ternyata jadi dokter banyak makan ati-nya juga ya…
    *tersadar setelah baca manga/komik Say Hello to Black Jack dan entry ini*

    Berjuang Pak!!

  10. 10 Rizma Adlia Mei 24, 2007 pukul 10:23 pm

    @ Shan-In,,

    itu bukan ngomongin Ma kan,, 😛

    Cak, Ma ga tau nih bakal PTT atau ngga,, PTT tuh bener bener wajib ya??

  11. 11 peyek Mei 24, 2007 pukul 11:54 pm

    tapi dokter jelas calon kaya cak, pelan tapi klakon!

    kemarin ke Surabaya International Hospital njeguk teman, wah rumah sakit kok kayak hotel berbintang.

  12. 12 9racehime Mei 25, 2007 pukul 1:02 am

    susah juga ya…kaya makan buah simalakama….
    emg harus ada realisasi pemerintah ttg pemerataan pembangunan sih….
    tapi buat dokter2 ato guru2 yg rela “ndeso” demi memberikan kontribusi, two thumbs up untukmu, pak! 🙂

  13. 13 imcw Mei 25, 2007 pukul 1:10 am

    PTT udah nggak wajib lagi Cak…coba baca Permenkes 512/2007, bakalan tambah sepi deh di desa…

    PTT tidak dihapus tetapi tidak wajib…jadi dokter yang baru tamat bisa langsung mendapatkan SIP tanpa perlu melampirkan surat selesai masa bhakti…

  14. 14 kurt Mei 25, 2007 pukul 2:55 am

    waah Cak, di kampungku meski desa, dokter hidupnya pada enak…lah wong disamping harus nolongin para pesakitan… mereka juga suka dipanggil tahlilan, puputan, muludan, sunatan, kadang pula dipanggil ceramah… wis pokoke sibuk dan “rejeh” meyeh-meyeh….

  15. 15 faiq Mei 25, 2007 pukul 8:27 am

    Lain di Jawa lain pula di luar jawa ya dr.? Lha…, wong mantri di desa ortu saya saja larisnya bukan main, apalagi dokternya. Tapi BTW, di Malay sinipun sama saja, banyak juga guru yang ogah-ogahan ditugaskan di Sabah & Serawak, pinginnya pada dekat dengan pusat (bukan ‘udel’ lho cak dr.)… 😀 😆

  16. 16 Shan-in Lee Mei 25, 2007 pukul 9:00 am

    @ cc Rizma: nggak tau juga ngomonging siapa ya~

    Baidewei, jadi dokter di daerah bisa nggaet cewe nggak, Pak?
    *dilempar truk*

  17. 17 iway Mei 25, 2007 pukul 9:23 am

    padahal otonomi ya cak, kok masih terpusat aliran proyeknya 😦

  18. 18 alle Mei 25, 2007 pukul 9:46 am

    kenapa gak masa2 tua aja milih jadi dokter nDeso,.. klo lagi muda puas2in di kota

  19. 19 Nur Martono Mei 25, 2007 pukul 10:04 am

    Coba Cak Moki Buat Artikel Lagi ? Kenapa Dokter Indonesia Ndak Mau Kerja di Luar Negeri, Padahal Banyak DIcari lohhh
    Banyak jemaah haji butuh dokter Indonesia di Arab Saudi, Banyak TKI yang sakit di luar negeri butuh dokter Indonesia.

    Jadi dokter ndeso di Amerika, Eropa, Australia, Timur Tengah, buat yang fresh graduate kan asik juga Cak. Daripada mesti nyogok2 untuk PTT, hitung2 cari pengalaman PTT di ndeso Kuwait asik juga lohhh

  20. 20 evi Mei 25, 2007 pukul 10:34 am

    ada dokter dikampungku, lepas PTT pilih praktik mandiri dan rupanya hokinya disitu pasiennya ruar biasa ramenya…..
    jadi kuaya sekali dia…..

  21. 21 cakmoki Mei 25, 2007 pukul 10:58 am

    @ ndarualqaz,
    Kebanyakan teman sejawat yg bertugas di tempat terpencil kebanyakan gitu mas, sang anak “dipaketkan” kepada simbah untuk sekolah. Ada juga yg istri & anaknya gak dibawa karena gak ada air bersih, jadi kalo kepingin … ehm … ehm cepitkan pintu *istilah kami*
    Sebenarnya tidak perlu di tempat nyaman, yg penting (kalo bisa) ada fasilitas primer seperti air bersih dan sekolah memadai sudah cukup. Listrik mabuk gak masalah, masih bisa lampu teplok (saya punya petromaks lho).
    Tanpa itu semua, toh kamipun berangkat jua, hehehe.
    Iya betul, banyak temen-temen yg rela mengarungi belantara dan sungai minim fasilitas. Ada yg ke posyandu harus nginep, ngasih makan nyamuk, asyik 😀
    @ sofi,
    wuih, menyeramkan. Mestinya dokter gak boleh gitu, apalagi untuk yg gak mampu, lupa ama sumpahnya kali 😦
    Beruntung di tempat kami pengobatan gratis, hanya saja belum tertata optimal.
    Lam kenal (rasanya sudah) … salaman 😉
    @ jurig,
    hiks, iya teh.
    Support teh Jurig akan saya teruskan kepada teman-teman nun jauh di sana, di tepian sungai dan pinggir belantara. Trims 🙂
    @ superkecil,
    iya belum ada. Berminat? Asyik lho bisa mencicipi mandi air asem atau di sungai kalo mau, hehehe.
    @ Suluh,
    Betul, layanan Puskesmas seperti yg digambarkan Mas Suluh itu termasuk jurusan gak genah, layanan tidak bermutu. Eh kebanyakan memang gitu ya … ditanya doang, tanpa penjelasan, kemudian keluar obat 😦 Seberat apapun beban pekerjaan *berat dan tiap tahun tambah program* mestinya tetap ramah, melakukan pemeriksaan, memberikan penjelasan dan support kepada pasien. Mungkin petugasnya habis bertengkar dengan istri/suami, hehehe.
    Siap berjuang, maturnuwun 😀
    @ Dani Iswara,
    iya Mas Dani, ts nun di pedalaman tertunda S2 karena sulit cari pengganti. Kami-kami yg menetap di ndeso ™ dibilang TKI dalam negeri oleh teman-2, hehehe.
    @ Shan-in Lee,
    mmmmm … enak juga sih, yang gak enak ada juga. Disarankan masuk FK ya … sekolahnya 6,5 tahun, kalo IT sudah S2. Dari segi status mungkin dianggap gimana gitu, keluarga mungkin bangga.
    Gaet cewek bisa, umur 60-an, hehehe.
    ok Shan, trims.
    @ Rizma Adlia,
    Peraturan terbaru, PTT gak wajib lagi Ma. Bisa langsung praktek sendiri, setelah registrasi dan uji kelayakan. Entah nanti, soalnya peraturan berubah-ubah.
    @ peyek,
    Amin, trims do’anya cak. Kalo saya selalu bersyukur, buktinya bisa ngeblog, hehehe.
    iya lah, SIH untuk golongan berduit, sementara pasien yg ndeso™ harus ada yg ngurusi. Penjaga gawang cak 😉
    @ 9racehime,
    Buah simalakama-nya udah dimakan koq, rasanya sedep-sedep asem 🙂
    Trims supportnya, kunjungannya juga.
    @ imcw,
    walah, teman di pedalaman bakal sulit cari pengganti. Jadi ceritanya yg di desa benar-benar ditasbihkan menjadi ndeso™ asli ya, asyik.
    Terimakasih infonya.
    @ kurt,
    iya pak, bersyukur. Kayak saya, sering dapat kondangan, kadang kalo sempat ikut tahlilan, pakai sarung … isis dan praktis.
    Rejeh meyeh-meyeh, istilah baru nih, amin.
    @ faiq,
    Memang yang dekat pusat itu enak pak, hampir semuanya ada, apalagi yang dekat “udel”. hahaha
    @ iway,
    ya betul. Sejak tahun 2006 daerah tidak boleh lagi menjaring pegawai di daerahnya, harus melalui pusat. Tambah ruwet.
    @ alle,
    wah enak dong kalo bisa gitu.
    Lha kalo sudah pensiun di desa, trus dipanggil ke dusun piye? Semaput gak kuat jalan jauh, hahaha.
    @ Nur Martono,
    Lha iya, kenapa ya? Padahal bisa bolak balik naik motor mabur, gaji besar. Mungkin kendala bahasa atau gak boleh sama orang tua, atau dijodohin. Ok, ntar kapan-2 nulis soal itu.
    salam untuk teman-2 di seberang pak 😀
    @ evi,
    ya, harusnya berani seperti itu. Desanya di mana? Kalo di pedalaman Kaltim, hokinya kodok sama nyamuk *bilang teman di sono* hahaha
    Tapi sebenarnya, asal istiqomah dimana-mana sama aja, paling beda fasilitas 🙂

  22. 22 Ady Mei 25, 2007 pukul 12:59 pm

    Cak aku paling senang waktu PTT, ikan segar teruuss, yang di Bali harga 100ribuan disana cuma 5 ribu wah berat badanku naik 10 kg..
    However… Lama kelamaan aku jadi ga betah, bayangkan listrik cuma dari jam 6 sore sampe jam 12 malam (kalo nonton Liga Champion ga bisa, pas waktu itu ada Piala Eropa cuma bisa gigit jari hiks hiks) trus kaloada pasien yang di rawat tengah malam harus Slanger Genset sendiri..
    Tapi secara keseluruhan aku menikmati sekali masa2 PTTku seandainya ada PTT yang kedua aku ma lagi kok…

  23. 23 laras Mei 25, 2007 pukul 2:10 pm

    halo cak moki..apa kabar, lama nggak maen kesini, wah tambah top markotop nih!!

    Cak, adikku waktu PTT di tempatkan di kalimantan barat bagian kemringet (lupa kbupten mana) dari pontianak harus naik perahu othok setngah jam..tapi begitu selesai PTT kok ya nggak kapo lho, pancet ae ndik kalimantan…tapi nggak gitu katro si..di Pontianaknya.biyuh..biyuh..warunge larisnya ngepol…

    hidup dokter di ndesa….

  24. 24 mei Mei 25, 2007 pukul 2:58 pm

    jadi ingat dulu ada ada teman yang lulus spk, masuk D1 bidan desa. begitu lulus di tempatin di daerah bojonegoro(masih jawa timur tapi pelosok-sok).

    dia kirim surat ke aku katanya…”huaduhh in, ra ono listrik, ra ono tipi…matek aku, hiburanku cuman radio butut sama jingklonge uakehhh, ra iso turu aku..trus yen babaran aku d bayari kangkung, bayem utowo tempe”

    begitu lepas masa dinas, dia milih balik k jombang, dan sekarang dinas di rumkit abri d jombang..hehe

  25. 25 gies Mei 25, 2007 pukul 3:45 pm

    saya sih, bukannya gak mau PTT di desa, tapi nggak boleh sama ortu:(

  26. 26 anas Mei 25, 2007 pukul 5:19 pm

    @ super_kecil

    di desa udah ada apoteker?
    kaya’nya belum ya?

    Mau daftar ya ? Nga’ takut dengan keadaan ndeso yang ndesit kecepit ?

  27. 27 chielicious Mei 25, 2007 pukul 5:38 pm

    Heu~klo aku gak mungkin bisa deh kayaknya tahan tinggal di desa *dengan listrik byar pet dsb* ampe 5 tahun .. *emang chie ini manja*

  28. 28 elpalimbani Mei 25, 2007 pukul 6:20 pm

    Kepada yang terhormat, seluruh kacung-kacung Pemerintah Daerah Tingkat II terutama di luar Jawa-Bali, kalian dengar titah cakmoki ?! Laksanakan!!!
    *kabur, sebelum digebuki satpol…*

  29. 29 Takodok Mei 25, 2007 pukul 6:41 pm

    hehe, sepupu saya senang2 saja PTT di Sumatra, yang memang tidak terlalu ndeso sih, bahkan ada yg di Flores, soale pada bisa ngakalin tuh! 😀

    Profesi mulia ya cak? Lebih mantabs kalau niat mulia disambut dengan baik oleh……itu, yg kata oom yg komen di atas, kacung-kacung. Ssst!
    *kabur juga, takut dikejar Sekda, biar rada elit gitu, masa’Satpol sih? 😛 *

  30. 30 kw Mei 25, 2007 pukul 6:53 pm

    dear cak moki
    kali pertama saya kenal ini blog dari wadehel
    salam kenal, nice to meet u. ( bagi linknya ya? Ya. thx:)

  31. 31 cakmoki Mei 26, 2007 pukul 12:16 am

    @ Ady,
    Makan ikan terusss. Masih pakai nasi juga kan?
    Jadi ikut inget slanger Genset, mana gak nyala-nyala, sambil tepuk-tepuk nyamuk. Heran juga ya, bisa menyenangkan, padahal kalo dipikir jauh dari mana-2. Selamat mengenang masa lalu, Mas Ady. Moga sukses di Aussie 🙂

    @ laras,
    Kabar baik Bu.
    Hebat, masih krasan di sana. Biasanya kalo warung dan kendilnya ngebul jadi krasan, siiip.
    Maturnuwun tambahan semangatnya. Hidup dokter ndeso ™

    @ mei,
    hahaha, balada bidan desa kecepit kuwi, bolo koq jingklong. Dulu dibayar sayur, moga sekarang dibayar pakai uang, walaupun receh mambu lengo klentik, tetep duwik. hehehe

    @ gies,
    Nggak boleh sama ortu apa gak boleh sama anak mertua, hayo 😉

    @ chielicious,
    mmm … belum dicoba kali Chie, ntar kalau ke desa betulan bisa tahan lebih 5 tahun, apalagi berdua sama si aa ehm ehm 😉

    @ elpalimbani,
    Huahaha, keren. Mudah-mudahan Kepala Daerah mendengar obrolan kita. Tenang Mas, satpol gak bisa ngejar, soalnya anggaran belum turun *halah*

    @ Takodok,
    hiks, di Flores kata temen lebih parah (di ndesonya), tiap hari makan ikan asin sama sayur kacang, dan supaya awet kuwahnya dibikin banyak.
    Trims bantuan semangatnya, moga didengar beliau-beliau untuk membangun desa.

    @ kw,
    Salam kenal juga. Maturnuwun telah mampir.
    Iya, akan saya link 😉

  32. 32 wargabanten Mei 26, 2007 pukul 12:46 am

    ralat :
    ADA UANG ADA OBAT – ANDA SEHAT– TIDAK ADA UANG ANDA SEKARAT
    Istilah Baru dunia kedokteran kita..

    ================================================
    Tidak semua Dokter pakai istilah seperti itu kok.
    Justru daerah terpencil seperti saya yang ada hanya Mantri Suntik (istilah kami2) Pengobatan malah sering digratiskan.
    Soalnya warga sekitar rata2 tetangga. Kalau di daerah kami rasa gotong royongnya masih tinggi. Berobat ke pak Mantri Suntik saja tidak bawa uang pun jadi. Dan bayarnya nanti setelah panen raya tiba. Lha kalau lupa? (sudah biasa : kata pak mantri suntik)

    Dan Hidup di desa (daerah terpencil) harus mau susah dan bersahaja. Tidak seperti di kota. Mantri Suntik hidupnya bisa melebihi DOKTER..?

    ———
    Øm kî†å kåñ $µdåh $ålåmåñåñ… $ålålåmåñ lågî jµgå gåk Þå Þå kºk

  33. 33 cakmoki Mei 26, 2007 pukul 2:20 am

    @ wargabanten,
    Saya akui masih ada saja sejawat yang seperti istilah di atas. Gak papa koq, memang kenyataan, kamipun seperti terbelah dua kubu, biasa lah kebanyakan profesi hampir selalu ada pro kontra soal etika profesi.
    Sebagian dari kami bertekat memperbaikinya meski harus berhadapan dengan teman sendiri. Sungguh tidak mudah, tetapi bukan berarti tidak bisa.

    wah hebat tuh Pak Mantri di tempat bu Sofi. Di desa kebanyakan begitu ya, kadang memang gak punya uang, yang penting diobati dulu.
    Hehehe, iya lah adakalanya lupa 😉

    Ok terimakasih salamannya

  34. 34 Lita Mei 26, 2007 pukul 12:24 pm

    *terbungkam menatap kalimat mutakhir di artikel*
    Bener banget. Membela yang bayar, maksudnya.
    Doh…

    Kemarin lihat arsip tulisan lama (1991) cak, ketika negara bagian Texas memajukan kasus tuntutan produsen susu formula terhadap AAP. Tentang promosi dan marketing. Lalu muncul artikel berjudul “Who would pay for breastmilk advertising?”.

    Intinya, negara -entah sengaja atau tidak- tidak tahu (gimane carenye?!) bahwa hingga saat tuntutan diajukan, semua produsen susu formula (bayi) TELAH memasarkan produknya secara LANGSUNG melalui tenaga kesehatan -dokter, perawat, bidan, nutritionist, dll (yang seharusnya dilarang keras).

    “Eh tanya kenapa ™ ?” DUIT.
    *halah kampanye lagi yak 😀

  35. 35 cakmoki Mei 27, 2007 pukul 2:30 am

    @ Lita,
    Terakhir itu kelihatan terlalu satire ya 😉

    Wah, dokumen lama itu terjadi di negeri ini, berarti kita ketinggalan 16 tahun. Sekarang kiat produsen beda, produsen beralamat di US produknya di lempar ke sini. Kan konsumen sini mudah dibujuk rayu 😦
    Apalagi yg berbau “sayang anak” seperti susu Formula, walaupun di negeri asal produsen gak dipakai, yang penting ada label Luar negeri.

    Iya tuh, ada dokter gitu. Kalo bidan malah lebih seru, pakai iming-2 bonus kalo bisa laku sekian biji. Dokter juga ding. Institusi tak ketinggalan. Bisa ditolak koq, kaloada yg berani maksa, wani gegere 😀

    Kayak lagu dangdut ya…: hanya karena rupiah … :((
    Takut miskin kali. Hahaha *emang kita kampanye koq, melawan sistem*

  36. 36 calonorangtenarsedunia Mei 27, 2007 pukul 8:56 pm

    @Kurt

    waah Cak, di kampungku meski desa, dokter hidupnya pada enak…lah wong disamping harus nolongin para pesakitan…

    itu dokter apa pengacara? kok ngurusi pesakitan?

    @Cak Dokter
    wis,,makanya jadi psikolog aja…ruwet kan jadi dokter??
    wehehehehe47x…

  37. 37 cakmoki Mei 27, 2007 pukul 9:28 pm

    @ Hana,
    Hah ? Kuliah lagi … yeee trus ntar diledek ya 😦

  38. 38 junthit Mei 28, 2007 pukul 12:05 am

    kalau dipikir2 lebih enak didesa laris manis,sabetan oke daripada di kota sepi , nggak ada sabetan..Persaingan dokter di kota lbh berat..

  39. 39 cakmoki Mei 28, 2007 pukul 9:27 am

    @ junthit,
    Hahaha, dengan kata lain, murah meriah. Setuju !!!

  40. 40 kangguru Mei 28, 2007 pukul 11:52 am

    yang enak sich penghasilan kota hidup di desa halah

  41. 41 yusuf SOLO Mei 28, 2007 pukul 1:42 pm

    tidak hanya dokter saja… yang wegah di ndeso..maksudnya sangat terpencil…
    kalo punya anak dan keluarga… apakah tega menyekolahkan anak di daerah sangat terpencil..
    nanti kalo pas kuliah sangat kentara sekali ndesoo super katrowk tenan…

    semakin besar tantangan juga semakin besar pahalanya kalo dilakukan dengan ikhlas..

    baiknya ada kebijakan WKD = Wajib Kerja Dokter agar mau praktik di ndesoooo…. selama ga usah lama-lama enam bulan saja… seperti masa tugas tentara di daerah pertempuran… setiap enam bulan bergilir…

  42. 42 cakmoki Mei 28, 2007 pukul 1:57 pm

    @ kangguru,
    Itu yang dicari pak, hidup di desa penghasilan kota. Kalo jalan ke kota pakai sandal jepit, bawa tas kresek tapi uangnya banyak, gak kentara, hehehe, asyik

    @ yusuf SOLO,
    Sarjana di ndeso (terpencil) umumnya camat, guru dan dokter. Cerita-cerita kalo pas ke kampung halaman, rata-rata ngomongkan anak-anak yang nampak ndeso and katro dibanding sedulur di kota, hiks.
    Insya Allah ikhlas, hanya mau tertawa kalo cerita dokter per-ndeso-an.

    WKD gantinya PTT? Asyik kali, kecuali bagi yang hamil tua, soale pas tugas kemudian cuti melahirkan, hahaha diskon 🙂

  43. 43 Vina Revi Mei 30, 2007 pukul 1:41 pm

    termasuk yang rela klo harus dilempar ke desa …

  44. 44 mina Mei 30, 2007 pukul 6:14 pm

    barusan balik dari desa bitahan baru di lokpaikat, tapin. punya pustu tapi gak pernah difungsikan 🙂 kami berkunjung (dan nginap) di sana malah disuruh tinggal seorang huehehehehehe…..

  45. 45 cakmoki(gak login) Mei 31, 2007 pukul 2:24 pm

    @ Vina Revi,
    desa mana mbak?
    Ah, saya gak bisa ikutan komen di Multiply.
    Kayaknya harus punya akun di multiply juga ya 🙂

    @ Mina,
    sama Mbak. Pustu kadang kosong.
    Hiks, nginap sorang … ngasih makan nyamuk, hehehe

  46. 46 siNung Juni 2, 2007 pukul 4:03 pm

    Syahdan,ada pulau disuatu negara yg dicaplok negara lain karena ogah menempati. Shg terjadi kehebohan & saling menyalahkan 😦

    Syukur, msh ada dokterndeso, org2ndeso yg tinggal di ndeso&pulau2terluar.

    semoga akses internet & listrik makin menjangkau (murah jg:) wilayah ndeso ndeso&pulau2terluar.
    Amin yaa rabbal ‘alamin.

  47. 47 cakmoki Juni 2, 2007 pukul 4:56 pm

    @ siNung,
    Syahdan … kata halus dari kenyataan kali ya 🙂
    Iya sih, sebenarnya kalo masyarakatnya kopen gak bakalan dicaplok tetangga. Di kaltim ada pulau yg seperti itu. Sadar ketika sudah kecaplok beneran 😦

    Trims supportnya.
    Memang salah satu kendala bagi yg suka internet adalah maslah koneksi. Selain lambat, juga mahal 😦
    Pingin speedy unlimited aja gak ada kabel optiknya. Untuk bidang kita, akses tersebut luar biasa bermanfaat *pendapat pribadi*

  48. 48 wulan Juni 2, 2007 pukul 9:10 pm

    Semoga Allah SWT membalas jasa para dokter yang dengan ikhlas bertugas di pedalaman dengan segala kekurangannya. Hidup dokter ndeso !

  49. 49 cakmoki Juni 3, 2007 pukul 12:31 am

    @ wulan,
    Maturnuwun do’anya Mbak, supportnya juga

  50. 50 tiyokkpras Juni 5, 2007 pukul 2:43 pm

    Artikel2 yang bermutu Cak! Senang bisa perluas wawasan. Salam kenal!

  51. 51 cakmoki Juni 5, 2007 pukul 6:00 pm

    @ tiyokkpras,
    Terimakasih support dan kunjungannya 🙂

  52. 52 sibermedik Juni 8, 2007 pukul 7:16 am

    niy..saya juga lagi posting di Sibermedik..ya nyambung dokter Ndeso…Curhat dokter Papua
    buka..ya….

  53. 53 cakmoki Juni 8, 2007 pukul 11:51 pm

    @ sibermedik,
    ok maturnuwun, ntar saya lihat

  54. 54 najmi Desember 14, 2007 pukul 1:57 pm

    ga semua gaji dokter PTT dikit kok,,tante saya bilang di daerah Jambi,tepatnya daerah kepulauan ga ingat namanya,gaji dokter PTT bisa sampai 6 jutaan gitu..
    so tetap semangat buat dokter PTT..kan bisa ngembangin ilmu,n bisa ngerjain kasus2 yg mungkin di kota dokter spesialis yg ngerjain(dokter umum cuma ngerujuk aja…hiks..hiks..sedihnya..)susah belajar tapi ga bisa praktek-in
    satu lagi,di desa masih banyak freshair n freshwater,ini adalah hal yg langka di kota..
    trusss pasiennya ga cerewet2…
    salam kenal buat seluruh anak FK se-indonesia

  55. 55 cakmoki Desember 15, 2007 pukul 1:05 am

    @ najmi,
    hahaha, itu bukan gaji, penghasilan kali …lagi pula, artikel ini bukan keluh kesah, melainkan “bargaining”, ok ?
    Lihat Jambi-nya kali, kalo di kota iya, lha kalo di ndeso katro yg gak ada listrik?

    satu lagi,di desa masih banyak freshair n freshwater,ini adalah hal yg langka di kota..
    trusss pasiennya ga cerewet2…

    pernah ke pedalaman Kaltim ? … gambaran blockqute itu gak ada, dan seminggu di sini dijamin nangis deh …hahahaha, gak percaya ? silahkan datang kesini, air yg kecoklatan (ini diminum lho), udara tercemar debu batubara dan asap pabrik, hutan gundul, nyamuk …. entahlah kalo sinetron.
    Pasien gak cerewet ? iya emang, tapi saya pernah dicegat pakai parang tuh, padahal untuk nolong orang sakit parah …jalan kaki … di jalan setapak, … belum lagi kalo harus operasi di kegelapan, …indah ya …hahahaha


  1. 1 ..Ndak Bisa On-Line, Dok??.. « SiberMedik..Give You More Than Medicine Lacak balik pada Juli 18, 2007 pukul 11:09 am
  2. 2 Kebanggaan dokter ndeso « cakmoki Blog Lacak balik pada Januari 11, 2008 pukul 1:39 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Wong ndeso ™

cakmoki

Wordpress Indonesia

Silahkan baca

DISCLAIMER

web tracker

9 Desember 2009

SEMENTARA TUTUP

Maaf, sementara Blog istirahat hingga ada pemberitahuan

Harap maklum


MARI HENTIKAN KORUPSI

Jangan Korupsi Ah

No Korupsi

Internet Sehat

Warga Bicara

» Makasih PLN, listrik Samarinda dah membaik, moga gak byar-pet

» Waspada Demam Berdarah

» Jangan Gunduli Palaran

» Banjir...banjir. Kapan masalah ini teratasi ?

INGA INGA INGA

» Nyeri Urat or Tulang BUKAN berarti Penyakit Asam Urat.

» Sekali lagi: Pegal, Linu Tidak Identik dengan Penyakit Asam Urat

TEMANs

9racehime | A. Fatih Syuhud | Aditiawan Chandra | A.Tajib | Agung UD | aLe | alief | alle | almascatie | Amd | Anak Peri | Anak Sultan | Anang | Anang YP | Anas | Andalas | Anggara | Anjaz | Anti Pungli | Antobilang | Anung87 | Aribowo | Arif Kurniawan | Arul | Astikirna | awan965 | axireaxi | Bambang alias HR | BatakNews | Blog Pokoke? | Biho | CalonOrangTenar | Cay | Chandra | Chielicious | chiw imudz | cK-chika | Dalamhati | Deden Nugraha | deedhoet | deKing | Desti Utami | Didats | doeytea | dnial | Edy C | Eep | Elpalimbani | erander | Evi | Fa | Fa wp | Faiq | Fertobhades | Fetro | Fortynine | Freddy | Gadis | Gaussac | Gitablu | Grandiosa | GuhPraset | GuM | Helgeduelbek | Herdy | Indonesia Kita | Indra KH | ItikKecil | iway | Jejakpena | Jennie S. Bev | Joesath | Joko Taroeb | Julee | Juli | Juliach | Junthit | Jurig | Kakilangit | Kang Adhi | Kang Kombor | Kangguru | kawaichu | Kenji | Kenzt | kikie | koecing | Kumala | Kurtubi | Kw | Laras | liezmaya | Lilik Suryanto | Lily | Linker | Lintang | Lita | Lita wp | Luthfi | MaIDeN | Majalah Dewa Dewi | Manusiasuper | Master Li | Mathematicse | macanang | mbojo | Mei | Micokelana | Mr. Geddoe | Mufti | mybenjeng | My-za | Nayla Zahra | Nayz | Ndarualqaz | Neeya | Neo Forty-Nine | Neri | Ninoy | Nieke | Nomercy | n0vri | NuDe | Om Sulis | omaigat | Ooyi | Paijo | Panca | Pandu | Panduan WP | Papabonbon | Passya | Peyek | Pinkina | Pitik | Pralangga | Prayogo | Priyadi | Qee | Raja iblis | RenjanaBiru | rivafauziah | Rivermaya | Roffi | roisZ | Rujak | Sagung | Sahrudin | Saiful Adi | SaRa | Siu | Sofi | Sora9n | Suandana | Suluh | Susiloharjo | Telmark | Thamrin | tiesmin | Triesti | Tukang Sate | Venus | Wadehel | Wahyuansyah | Wandira | Wiku | WongMangli | Wulan | Yati | Yudhipras |

:: :: :: :: :: :: :: :: ::

Kesehatan

:: Ady Wirawan :: Agus Mutamakin :: Anis Fuad :: Anis Fuad wp :: Asri Tadda :: Astri Pramarini :: Astri Pramarini (awal) :: Astri Pramarini wp :: Blog Mahasiswa FKU 2003 :: Blog Rumah Kanker :: Dani Iswara :: Dani Iswara weblog :: Dokter arek cilik :: drAnak :: drarifianto :: Dwi wp :: Elyas :: Erik Tapan :: Evy HealhtySmile :: FK Unsri :: Gies :: Gies wp :: Ginna :: Grapz :: Hendar Sunandar :: HIV News :: Huda Thoriq :: IDI Samarinda :: imcw :: Imran Nito :: Iwan Handoko :: Jhonrido :: klikharry :: Kobal :: Laksmi Nawasasi :: Mashuri :: Mave Mina :: Mbah Dipo :: Mina :: My Blogspot :: Nur Martono :: PKM Palaran :: Rara :: Rizma Adlia :: Rudy Kwang :: SenyumSehat :: Sibermedik :: SimkesUGM :: SuperKecil :: Titah :: Tito :: Tonang Ardyanto :: Tukangkomentar :: Wi :: Vina Revi :: Vina Multiply :: Yusuf Alam R :: zulharman79 ::

:: :: :: :: :: :: :: :: :: :: ::

Institusi Kesehatan

:: Depkes RI :: WHO :: WHO Indonesia :: … nyusul

:: :: :: :: :: :: :: :: ::

Kolaborasi

:: Emedicine :: ICD 10 Wikipedia :: ICD 10 Wiki Indonesia :: OSWD :: OpenWebDesign :: Pakistan Times :: Rubab :: ntar ::

Kategori

BlogTour

Arsip

Komunitas Blog

blog-indonesia.com

PAGE RANK

Powered by  MyPagerank.Net

Add to Technorati Favorites

[Valid RSS]

Health Blogs - Blog Top Sites

Health

Blogs Topsites - TOP.ORG

Health Blogs - Blog Rankings

Blog directory

TopOfBlogs

Top 10 Award

Feed Burner

cakmoki Blog

Bloggerian Top Hits

My BlogCatalog BlogRank

Site Meter

Since 30 Nov 07

PENGUNJUNG

  • 5,343,888 pengintip

Asal Usul

Pebruari 2011

free counters


%d blogger menyukai ini: