Reshuffle, antara profesional dan kompromi

Kursi MenteriUsai sudah penantian panjang gonjang-ganjing Reshuffle beberapa menteri di jajaran Kabinet Indonesia Bersatu. Bagi kalangan tertentu (baca: terutama parpol) reshuffle bisa berarti positif dan negatif tergantung “nyantol” tidaknya seseorang dalam kabinet Presiden SBY.

Bagi kalangan yang anggotanya masuk kabinet, akan disambut suka cita sebagai sumber segala sumber dalam lingkup kekuasaan. Kursi kekuasaan identik dengan akses “uang” yang berarti tambahan isi pundi-pundi pribadi maupun setoran “kontribusi” kepada kelompoknya.

Bagi saya yang notabene bagian rakyat Indonesia, reshuffle TIDAK berarti apa-apa. Sikap skeptis saya dipicu oleh kenyataan bahwa jabatan menteri atau lembaga setingkat menteri tak lebih dari ajang rebutan kekuasaan. Bahwa menteri dianggap identik dengan jabatan politis bisa iya bisa tidak. Merujuk kepada fakta saat ini, kebanyakan jabatan menteri diduduki anggota parpol. Adanya sebagian menteri yang berlatar belakang praktisi dan akademisi, mungkin merepresentasikan profesionalisme. Hasil akhir dan waktu jua yang akan membuktikannya.
Ah, masih nunggu lagi.

Sulit rasanya mengamini bahwa Presiden terpilih menepati janji saat membentuk kabinet di awal kekuasaannya. Berbekal kemenangan pilpres dan jargon “Bersama Kita Bisa”, konon kabinet akan dibentuk berdasarkan keahlian dan dipilih dari tokoh profesional. Separo jalan membuktikan bahwa korupsi makin merajalela, harga-harga membumbung tinggi, kebutuhan pokok melonjak. itupun masih dihiasi tingkah polah para wakil rakyat di berbagai tingkatan yang sama sekali tidak mencerminkan tugas pokok dan fungsinya selain jor-joran anggaran ibarat rebutan jagung bakar.

Menteri beraroma kompromis masih mendominasi personil kementerian. Apa yang dapat diharapkan dari orang-orang minim keahlian dan terikat dengan kewajiban setoran kepada partainya ? Tak ada !!!
Paling-paling kelak kita akan menyaksikan mantan menteri yang digelandang sebagai pesakitan dengan dakwaan korupsi atau penggelapan uang Negara.
Itu yang nampak.
Misteri di balik kekuasaan yang melibatkan inflow dan outflow keuangan negara berbalut anggaran sulit untuk diungkap.

Kepada pembaca yang mempunyai hubungan tali persaudaraan dengan Menteri saat ini, saya mohon maaf atas sikap skeptis dan ketidak percayaan saya terhadap beliau-beliau.
Jika benar-benar bekerja untuk Indonesia, buktikan !!!

Saya malas berdebat soal program dan tetek bengeknya, ukuran kami tidak sulit koq. Sekiranya mampu mengubah wajah negeri ini menjadi tidak korup, harga-harga tidak melambung, air bersih bisa dinikmati, listrik tidak byar-pet, bahan pokok dapat dibeli rakyat kecil, jalanan tidak berlobang, layanan publik berkualitas dan murah, semua warga bisa mengenyam pendidikan, upah buruh memadai, tarif internet diturunkan, maka … percayalah, niscaya kami akan bergembira.

So, nun jauh di lubuk hati, masih ada sedikit harapan.

Ditulis: Rabo, 09 Mei 2007, dini hari
Harapan dari seorang anak negeri

Iklan

36 Responses to “Reshuffle, antara profesional dan kompromi”


  1. 1 kangguru Mei 9, 2007 pukul 6:09 pm

    weleh cakmoki ngak di undang ke cikeas toh
    kirain jadi gantiin menkes

  2. 2 Titah Mei 9, 2007 pukul 11:29 pm

    saya tahu, sangat tidak mudah buat pak sby membuat keputusan di tengah tarik ulur berbagai kepentingan. maka kompromi tidak bisa ditinggalkan. setidaknya saya masih percaya bahwa pak sby pasti mengambil keputusan terbaik di antara segala pilihan pahit…

  3. 3 peyek Mei 10, 2007 pukul 12:13 am

    “lha 2,5 tahun kan nggak cukup buat membangun” itu kompromi mereka ketika terjadi kegagalan cak!

  4. 4 cakmoki Mei 10, 2007 pukul 2:51 am

    @ Kangguru,
    Sudah diundang pak, jadi menkos, menteri kos-kosan. hahaha

    @ Titah,
    Entah apa yang terjadi di lingkar eilt politik. Seandainya pak SBY nggak dirusuhi parpol mungkin beiau nggak terlalu repot. Apa mungkin parpol tidak kebelet berkuasa?
    Moga masih ada harapan perbaikan.

    @ peyek,
    Bisa jadi. Kayaknya membangun image, soalnya 2,5 tahun lagi pemilu. Repot menilai kegagalan, abis semua politisi pinter mbulet ngomong.

  5. 5 junthit Mei 10, 2007 pukul 4:09 am

    saya sangat merindukan yang cak moki tuliskan di paragrap terakhir, dimana lagi harapan akan digantungkan kalau nggak ke beliau-beliau..

  6. 6 deking Mei 10, 2007 pukul 5:39 am

    Apa yang dapat diharapkan dari orang-orang minim keahlian dan terikat dengan kewajiban setoran kepada partainya ?

    Saya juga heran, kok beberapa menteri malahan dipindah “pos” ya?
    Misal dari Menhub jadi MEnsesneg.
    Hal itu menunjukkan bahwa seseorang menjadi menteri bukan karena keahliannya, tetapi karena kompromi.
    Contoh Bambang Sudibyo kan pakar ekonomi eh sama SBY kok ya dijadikan Mendiknas, apakah mentang2 Bambang itu seorang dosen maka dianggap tahu pendidikan?
    Mendingan angkat Kangguru jadi Mendiknas
    Cakmoki jadi Menkes
    Cak Peyek jadi Menkokesra (biar bisa menangani lumpur)
    Aneh2 saja SBY

  7. 7 cakmoki Mei 10, 2007 pukul 6:30 am

    @ junthit,
    Moga beliau-beliau masih berkenan sungguh-sungguh memperbaiki negeri tercinta dengan langkah nyata dan dapat dirasakan manfaatnya.

    @ deking,
    Saya juga setengah heran setengah maklum. Seperti contoh pak deking, pak Hatta Rajasa seorang insinyur koq ya mau di Mensesneg. Sepertinya yang profesional hanya sedikit, lebih banyak kompromi.

    Nopember tahun 2004 yang lalu saya pernah ikut pertemuan dengan Pak Dibyo di Solo, beliau mengatakan bahwa buku SD akan berlaku untuk 10 tahun tanpa perubahan ketika menjawab pertanyaan kami, ternyata tiap tahun para orang tua masih harus beli buku untuk anaknya tanpa bisa memakai buku kakak. Sebuah buka rata-rata selisih harga 4000-6000 dibanding ketentuan. Jika dikalikan jumlah murid SD, wuih …

    Lebih aneh ketika seseorang ditunjuk jadi Menteri, langsung sujud syukur, padahal tugas berat menunggu. Ini menunjukkan (rasa su’udzon saya) bahwa jabatan menteri memang dambaan bukan sebagai tanggung jawab. Tentu ada “sesuatu” di sana sehingga membuat orang menjadi mabok dan bersorak sorai kegirangan.

    Usalannya boleh juga πŸ˜› tuh, Republik Mimpi. hahaha

  8. 8 joni Mei 10, 2007 pukul 7:20 am

    Amin, mudah2an yang cak moki impikan dapat terwujud..

    Harapan harus tetap ada kan?

    Salam kenal Cak. πŸ™‚

  9. 9 cakmoki Mei 10, 2007 pukul 7:35 am

    @ joni,
    Mudah-mudahan.
    Harapan tetap ada.
    Salam kenal juga.
    Trims.

  10. 10 prayogo Mei 10, 2007 pukul 1:16 pm

    Saya paling males mengikuti politik, terlalu capek dengan hal2 yang menguras pikiran.

    Capek dehhhhhhh

  11. 11 alle Mei 10, 2007 pukul 2:26 pm

    waw,. di hari ini juga banyak banget loh harapan buat menteri2 baru,.. sentilan2 juga sih, misalnya Htta Rajasa terlihat bodoh (gak tau) fungsi setneg itu apa πŸ˜€

  12. 12 Lily Mei 10, 2007 pukul 2:40 pm

    Memang Menteri itu jabatan politis..
    Lebih aman jadi Eselon 2 ke bawah aja, tidak rentan diganti..
    Eselon 1 masih banyak kemungkinan dituker-tuker ke posisi eselon 1 lainnya,
    walau pasti sama enaknya.. ;p

    Eh, kok jadi ngomongin apa ya, topik ini kan tentang harapan ya.. ;p

    Yah..,
    abisnya udah keburu skeptis sih Pak,
    emang agak susah buat mengharapkan perubahan,
    di kala korupsi udah terstruktur seperti sekarang ini..

    Lha wong pembentukan struktur korupsi aja makan puluhan tahun,
    apalagi ngeberantasnya.. ;p

    Fiuh.. *menatap ke depan dengan tatapan kosong*

    PS: Soal Bambang Soedibyo itu,
    mungkin maksudnya beliau memang bener kaya gtu,
    tapi di tingkat2 bawahnya lebih banyak yg gak setuju berhubung buku udah jadi sumber pemasukan berbagai lapisan yang terlibat selama bertahun-tahun yang cukup lumayan.. πŸ˜‰

    Jadi klopun ‘seorang’ atasan bilang “A”,
    klo ‘ratusan’ bawahannya maunya “Z”, ya susah juga Cak..
    Apalagi kerjaannya si Menteri bukan cuma A aja,
    dia gak sempet meriksa apakah A beneran jadi A.. πŸ˜‰

    Aku sih ngeliatnya gtu *sangking skeptisnya*,
    belum tentu bener juga.. πŸ˜‰

  13. 13 huda Mei 10, 2007 pukul 3:11 pm

    klo MenKes diambil dari non-profesional, kira2 gimana jadinya ya??? πŸ˜€

  14. 14 xwoman Mei 10, 2007 pukul 3:56 pm

    Sama dengan mas Prayogo

    Cape soalnya keseringan dibo`onginnya sih

    tong kosong banget dewan2

  15. 15 chielicious Mei 10, 2007 pukul 4:15 pm

    Hmm binun mo komentar apa..jadi inget save our nation semalem, seru liat orang2 parpol itu saling adu mulut πŸ˜€

    bukan..maksudnya bukan kisu2, tapi adu argumen gitu heheh

  16. 16 kurtubi Mei 10, 2007 pukul 4:48 pm

    kursi identik dengan uang? jawabnya ya karena kekuasaan saat ini masih bernuansa uang. Jawabnya tidak! karena idealisme masih bisa diperjuangkan….. bukankah di akhir tulisan harapan: “nun jauh di lubuk hati, masih ada sedikit harapan”.

  17. 17 ndarualqaz Mei 10, 2007 pukul 4:52 pm

    alhamdulillah saya gak diminta jadi menteri pak, kalo diminta mah saya ogah. jadi menteri = selangkah mendekati korupsi.

  18. 19 calonorangtenarsedunia Mei 10, 2007 pukul 8:24 pm

    selama uang kuliahku masih bayar…
    selama gedung baru blm jadi2..
    selama dekan msh ga punya kerjaan selain meriksa baju..
    selama dosen masih ga menguasai materi padahal dia s3..
    selama spp adek2 masih naik tiap semester..
    selama lumpur blm juga beres…
    selama IPDN blm ditutup…
    selama karnelis blm ditendang dari kantor akademik kampus..
    selama IP blm keluar…
    selama budi si pengamen di mie ayam langgananku masih blm bisa sekolah..
    selama tukang ojek masih belagak jutawan..
    selama jalanan kampung utan blm dirapiin..
    selama munir blm juga tenang gara2 kasusnya ruwet..
    selama wanita masih jadi objek kekerasan fisik dan seksual..
    selama kaum intelek hanya mikir duit..
    selama indonesia masih bobrok begini..
    selama itu pula daku sulit percaya pada sesumbar penggede Negara Kesatuan Republik Imbesilia..

  19. 20 Kang Kombor Mei 10, 2007 pukul 9:46 pm

    Jadi menteri itu memang pekerjaan berat. Harapan rakyat digantung ti tempat yang mungkin tidak tergapai oleh kekuatan si Menteri itu. Yang lebih parah, mesin birokrasi di belakang menteri-menteri itu, yaitu para birokrat karir-nya. Seprofesional dan sepandai apa pun menterinya, kalau para birokrat karir di institusi yang dipimpinnya tetep birokrat karir warisan Orde Baru yang pembuluh darahnya hanya berisi proyek, prestasi menterinya tetap saja akan memble domble.

    Yang ingin saya sampaikan di sini adalah Reshuffle Kabinet tidak akan memberi perubahan apa pun bagi pelayanan publik. Yang harus dilakukan adalah revolusi birokrasi, untuk memotong pembuluh darah proyek. Pensiunkan semua pegawai pemerintahan yang berumur 40 tahun ke atas. Perbaiki sistem rekruitmen PNS yang melulu hanya menekankan pada sisi administratif belaka. Kalau swasta bisa memperoleh SDM yang bagus, mengapa negara tidak?

  20. 21 cakmoki Mei 11, 2007 pukul 5:50 am

    @ prayogo,
    Lama tak jumpa.
    Hehehe, iya pak, menguras energi. Nanti kalau sudah fit gantian urun rembug πŸ™‚

    @ alle,
    Lho, mosok itu sentilan mas, nampaknya nembak langsung *mak nyusss*

    @ Lily,
    Mmm … lebih aman lagi kalau tidak terlibat korupsi. Aman dari rasa was-was, aman dari ancaman jeruji penjara. Dari sudut jabatan, selain aman juga merasa nyaman kalau tidak regenerasi (diganti), hanya pindah-pindah pos, eselon tetep eselon I atau II. Ini mungkin lho, soale yang eselon I-II rata-rata krasan πŸ˜‰

    Jadi klopun ’seorang’ atasan bilang “A”,
    klo β€˜ratusan’ bawahannya maunya “Z”, ya susah juga Cak

    Hahaha, realistis … kita sering denger ini dari temen-temen yang jadi kepala instansi di berbagai tingkatan. Bawahan (sebagian: besar?) maunya kalo lihat duit minta dibagi habis nggak peduli asal-usul dan peruntukannya. Kalo pimpinan bilang tidak mana ada bawahan berani menuntut yang bukan haknya. Masalahnya beranikah pimpinan memberi contoh yang baik dengan berlaku jujur?
    Rasanya sih ini berlaku di semua tingkatan, termasuk lembaga kementrian.
    Saya masih percaya ada diantara menteri kita yang berani menata bawahannya *sok optimis nih*
    Jika dilakukan simultan di semua jenjang, lambat laun bisa, seperti negara lain. Mbuhhh kapan, sama-sama gak ngerti πŸ˜†

    @ huda,
    Jadinya: tambah ruwet Mas. Ini aja sudah amburadul.
    Ada kejadian nyata nih. Di Kaltim, ada subdinas jajaran Dinkes provinsi diserahkan kepada lungsuran pegawai pemprov, jadinya hanya jalan-jalan, beli peralatan yang tidak diperlukan kemudian memaksa dinkes tk II untuk menerima. Lucu, ibarat orang perlu kathok kolor diberi dasi. Walhasil, pakai dasi tapi gak kathokan, hehehe.
    Mugo-mugo wong dinkes provinsi moco iki.

    @ xwoman,
    iya lah, kebanyakan gitu itu. Bohong pekerjaan utama, jabatan pekerjaan sambilan. Kebalik enggak sih?

    @ chielicious,
    Gak usah malu-malu ah. Emang koq, sebagian mereka itu luar biasa pandai berargumen dan KO saat disodori pekerjaan nyata. Apalagi masuk tipi, mana mau kalah, yang penting ngotot, benar tidaknya urusan belakangan.

    @ kurtubi,
    iya Pak, saya masih yakin banyak orang baik. Sayangnya beliau-beliau kebanyakan tidak mau jabatan. Kalaupun ada yang mampu dan siap, beliau-beliau luput dari penunjukan karena tidak bakat menjilat. Repot ya.
    Saya sependapat, idealisme bisa diperjuangkan dari wilayah yang paling kecil sekalipun.

    @ ndarualqaz,
    Gak mungkin tho nawari yang gak mau, wong yang kebelet aja sudah ngantri koyok udun arep mbledhosss.

    @ calonorangtenarsedunia,
    wuih banyak sekali inventarisasi tugasnya. Heran juga masih jadi rebutan. Berminat jadi pemimpin nggak ?

    @ Kang Kombor,
    Memang benar Kang, tanpa integrasi dan perbaikan menyeluruh hampir mustahil bisa berhasil. Konon (kabar burung) para birokrat di level atas tidak terima adanya restrukturisasi dan perampingan jabatan. Begitu kuatnya magnet kursi jabatan sehingga seseorang yang mendudukinya adakalanya sulit meninggalkan si kursi. Uenak tenan je.
    Anehnya, sampai kini efisiensi jabatan sesuai amanat desentralisasi tidak mampu dijalankan. Malah ada kesan memberi tempat (kursi) kepada pejabat eselon tinggi. Pemborosan.

    Demikian pula tawaran pensiun dini, ketika ada yang mengajukan, urusannya mbulet atau tidak diijinkan. Istri saya keluar begitu saja, sudah gak betah dengan segala alur yang rumit. Saya berkali-kali minta keluar juga sulit. Saiki wis metu, merdeka πŸ˜€

    Saya pernah usul sambil guyon agar rekrutmen PNS disertakan syarat: bisa komputer. Lucu dong di jaman sekarang masih ngitung pakai kalkulator, laporan manual, map ketlisut, dll.
    Kalo di pelosok nun jauh di sana tanpa listrik mungkin masih bisa dimaklumi, lain halnya jika di kota yang sudah ada listrik.

    Heran juga ketika pendaftaran PNS peminatnya luar biasa banyak. Apa sih enaknya, wong gajinya kecil.

    Revolusi? hehehe, ra ngerti Kang

  21. 22 mei Mei 11, 2007 pukul 1:15 pm

    Hidup Cakmoki!!!!

  22. 23 calonorangtenarsedunia Mei 11, 2007 pukul 1:51 pm

    jadi pemimpin?
    mmmm….
    Kalo hasil musyawarah menyatakan saya mampu dan pantas memimpin serta dipercaya oleh yang dipimpin ya maju wae, cak..

    Ga baik nolak amanat..Tapi ya harus jadi pemimpin yang baik dan benar.Halalan Thoyyiban gitu,,,hehe47x..

  23. 24 cakmoki Mei 12, 2007 pukul 5:38 pm

    @ mei,
    horeee *jingkrak-jingkrak* πŸ˜€ Hihihi kayak kampanye

    @ Hana,
    Huebaaat, maju terus Han *olala joget India*
    Moga jadi pemimpin.
    Lha saya selama ini ditawari jabatan (katanya: amanah) nolak terus, berarti gak baik dong, hiks

  24. 25 calonorangtenarsedunia Mei 12, 2007 pukul 7:51 pm

    Lha saya selama ini ditawari jabatan (katanya: amanah) nolak terus,

    lha kalo dokter ditawai jabatan jadi anggota departemen agama ya wajar kalo nolak, cak…kan ga nyambung gitu sm keahlian..hehe47x…tapi kalo diminta jadi ketua ikatan dokter blog indonesia ya jangan nolak.. πŸ˜€

  25. 26 cakmoki Mei 13, 2007 pukul 12:42 am

    @ Hana,
    Mancing-mancing nich πŸ™‚ … ditawari jabatan bener dong, males pakai dasi Han, soalnya sumuk.
    ikatan dokter blog mau dong, bagian nyampah, huahaha

  26. 27 calonorangtenarsedunia Mei 13, 2007 pukul 6:21 pm

    ya kalo gt pake dasi tapi jgn pake kemeja..ga sumuk tho? isis malah, Cak.. πŸ˜€

    ditawari jabatan bener tapi kalo harus ninggal panggilan hati sebagai dokter ya memang lebih baik jangan..nanti aku periksa sama sapa? kan repot itu…

  27. 28 cakmoki Mei 13, 2007 pukul 7:53 pm

    @ Hana,
    Hehehe, kayak srimulat gitu ya, teganya …

    Entahlah, jabatan tidak menarik minat saya, bertentangan dengan nurani *halah*
    Trims advisnya Han, saya lebih suka mengikuti panggilan hati, praktek, soale hobi, hehehe

  28. 30 calonorangtenarsedunia Mei 14, 2007 pukul 8:50 pm

    ya udah..ikuti kata hati..kalo terus2an dengerin orang trus gak cocok kan nanti malah nyesel dan nyalahin sana sini,,omongan orang jadi bahan pertimbangan aja, Cak..

    *aku ini ngomong opo tho?*

  29. 31 cakmoki Mei 15, 2007 pukul 2:36 am

    @ wandira,
    hehehe, gak ikut-ikut, ntar disomasi penguasa negeri palsu.

    @ Hana,
    ya Han, trims *serius: manggut-manggut takdzim* πŸ˜‰

  30. 32 calonorangtenarsedunia Mei 15, 2007 pukul 9:33 pm

    manggut2 itu maksudnya setuju apa ngantuk, Cak?

  31. 33 cakmoki Mei 16, 2007 pukul 3:10 pm

    @ Hana,
    Setujuuuuuu

  32. 34 calonorangtenarsedunia Mei 17, 2007 pukul 1:12 pm

    ow setuju..yak pikir setubuh..wikikiki47x..

  33. 35 jurig Mei 19, 2007 pukul 11:31 am

    saya setuju dengan kang kombor … percuma kalo cuma gonta-ganti mentri …

    Se-hebat apapun mentrinya kalo birokrat-birokrat pelaksananya masih menggunakan birokrasi yg super-duper-sucks …. ya tetap aja Indonesia bakal kaya gini …

    Saya malas berdebat soal program dan tetek bengeknya, ukuran kami tidak sulit koq. Sekiranya mampu mengubah wajah negeri ini menjadi tidak korup, harga-harga tidak melambung, air bersih bisa dinikmati, listrik tidak byar-pet, bahan pokok dapat dibeli rakyat kecil, jalanan tidak berlobang, layanan publik berkualitas dan murah, semua warga bisa mengenyam pendidikan, upah buruh memadai, tarif internet diturunkan, maka … percayalah, niscaya kami akan bergembira.

    tuntutan itu sangat masuk akal … dan cuma butuh 2 hal untuk mewujudkannya : DISIPLIN & NASIONALISME … 2 hal yg jarang sekali ditemui di jajaran pemerintahan … ada tapi minor …

  34. 36 cakmoki Mei 19, 2007 pukul 3:57 pm

    @ jurig,
    Itulah persoalannya. Hambatan utama ada di tingkat pelaksana teknis yg notabene di bawah menteri or jajaran birokrasi.
    Entah ada apa hingga para menteri kesulitan memperbaiki tatakerja birokrasi. Atau mungkin sudah teralu parah ya? 😦

    Ok, saya sependapat ada birokrat di setiap tingkatan yg kinerjanya bagus tapi jumlahnya sangat sedikit. Kalaupun mereka berusaha menegakkan disiplin dan nasionalisme, seolah berhadapan dengan rangkaian batu karang.
    Lalu gimana dong? πŸ˜‰


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Wong ndeso β„’

cakmoki

Wordpress Indonesia

Silahkan baca

DISCLAIMER

web tracker

9 Desember 2009

SEMENTARA TUTUP

Maaf, sementara Blog istirahat hingga ada pemberitahuan

Harap maklum


MARI HENTIKAN KORUPSI

No Korupsi

Internet Sehat

Translator

Warga Bicara

» Makasih PLN, listrik Samarinda dah membaik, moga gak byar-pet

» Waspada Demam Berdarah

» Jangan Gunduli Palaran

» Banjir...banjir. Kapan masalah ini teratasi ?

INGA INGA INGA

» Nyeri Urat or Tulang BUKAN berarti Penyakit Asam Urat.

» Sekali lagi: Pegal, Linu Tidak Identik dengan Penyakit Asam Urat

TEMANs

9racehime | A. Fatih Syuhud | Aditiawan Chandra | A.Tajib | Agung UD | aLe | alief | alle | almascatie | Amd | Anak Peri | Anak Sultan | Anang | Anang YP | Anas | Andalas | Anggara | Anjaz | Anti Pungli | Antobilang | Anung87 | Aribowo | Arif Kurniawan | Arul | Astikirna | awan965 | axireaxi | Bambang alias HR | BatakNews | Blog Pokoke? | Biho | CalonOrangTenar | Cay | Chandra | Chielicious | chiw imudz | cK-chika | Dalamhati | Deden Nugraha | deedhoet | deKing | Desti Utami | Didats | doeytea | dnial | Edy C | Eep | Elpalimbani | erander | Evi | Fa | Fa wp | Faiq | Fertobhades | Fetro | Fortynine | Freddy | Gadis | Gaussac | Gitablu | Grandiosa | GuhPraset | GuM | Helgeduelbek | Herdy | Indonesia Kita | Indra KH | ItikKecil | iway | Jejakpena | Jennie S. Bev | Joesath | Joko Taroeb | Julee | Juli | Juliach | Junthit | Jurig | Kakilangit | Kang Adhi | Kang Kombor | Kangguru | kawaichu | Kenji | Kenzt | kikie | koecing | Kumala | Kurtubi | Kw | Laras | liezmaya | Lilik Suryanto | Lily | Linker | Lintang | Lita | Lita wp | Luthfi | MaIDeN | Majalah Dewa Dewi | Manusiasuper | Master Li | Mathematicse | macanang | mbojo | Mei | Micokelana | Mr. Geddoe | Mufti | mybenjeng | My-za | Nayla Zahra | Nayz | Ndarualqaz | Neeya | Neo Forty-Nine | Neri | Ninoy | Nieke | Nomercy | n0vri | NuDe | Om Sulis | omaigat | Ooyi | Paijo | Panca | Pandu | Panduan WP | Papabonbon | Passya | Peyek | Pinkina | Pitik | Pralangga | Prayogo | Priyadi | Qee | Raja iblis | RenjanaBiru | rivafauziah | Rivermaya | Roffi | roisZ | Rujak | Sagung | Sahrudin | Saiful Adi | SaRa | Siu | Sofi | Sora9n | Suandana | Suluh | Susiloharjo | Telmark | Thamrin | tiesmin | Triesti | Tukang Sate | Venus | Wadehel | Wahyuansyah | Wandira | Wiku | WongMangli | Wulan | Yati | Yudhipras |

:: :: :: :: :: :: :: :: ::

Kesehatan

:: Ady Wirawan :: Agus Mutamakin :: Anis Fuad :: Anis Fuad wp :: Asri Tadda :: Astri Pramarini :: Astri Pramarini (awal) :: Astri Pramarini wp :: Blog Mahasiswa FKU 2003 :: Blog Rumah Kanker :: Dani Iswara :: Dani Iswara weblog :: Dokter arek cilik :: drAnak :: drarifianto :: Dwi wp :: Elyas :: Erik Tapan :: Evy HealhtySmile :: FK Unsri :: Gies :: Gies wp :: Ginna :: Grapz :: Hendar Sunandar :: HIV News :: Huda Thoriq :: IDI Samarinda :: imcw :: Imran Nito :: Iwan Handoko :: Jhonrido :: klikharry :: Kobal :: Laksmi Nawasasi :: Mashuri :: Mave Mina :: Mbah Dipo :: Mina :: My Blogspot :: Nur Martono :: PKM Palaran :: Rara :: Rizma Adlia :: Rudy Kwang :: SenyumSehat :: Sibermedik :: SimkesUGM :: SuperKecil :: Titah :: Tito :: Tonang Ardyanto :: Tukangkomentar :: Wi :: Vina Revi :: Vina Multiply :: Yusuf Alam R :: zulharman79 ::

:: :: :: :: :: :: :: :: :: :: ::

Institusi Kesehatan

:: Depkes RI :: WHO :: WHO Indonesia :: … nyusul

:: :: :: :: :: :: :: :: ::

Kolaborasi

:: Emedicine :: ICD 10 Wikipedia :: ICD 10 Wiki Indonesia :: OSWD :: OpenWebDesign :: Pakistan Times :: Rubab :: ntar ::

Kategori

BlogTour

Arsip

Komunitas Blog

blog-indonesia.com

PAGE RANK

Powered by  MyPagerank.Net

Add to Technorati Favorites

Health Blogs - Blog Top Sites

Health

Blogs Topsites - TOP.ORG

Health Blogs - Blog Rankings

Blog directory

TopOfBlogs

Top 10 Award

Feed Burner

cakmoki Blog

Bloggerian Top Hits

My BlogCatalog BlogRank

Site Meter

Since 30 Nov 07

PENGUNJUNG

  • 5,368,637 pengintip

Asal Usul

Pebruari 2011

free counters

Translate


%d blogger menyukai ini: