Flek Paru, apa iya ?

Beberapa tahun belakangan ini, hampir dimana-mana istilah Flek Paru mencuat kembali. Sudah terlalu banyak anak dengan keluhan batuk lama didakwa sebagai flek paru dan berlanjut pada pemberian obat TBC selama 6 bulan, 12 bulan hingga 2 tahun.
Saking takut dan nurutnya orang tua, atau mungkin karena minimnya informasi, atau merasa tidak ada jalan lain, maka para orang tua manut saja si anak dijejali obat TBC sekian lama, plus embel-embel keharusan minum obat bangun tidur pagi.

IDAI sudah memperingatkan hal ini, yakni kecenderungan dokter mendakwa flek paru. Beberapa dokter tak tahan menggugat mempertanyakan keabsahan diagnosa flek paru, termasuk beberapa orang tua ikut meragukannya.

Tak soal jika memang TBC.
Bagaimana jika ternyata bukan ? Bagaimana jika ternyata asma ? Bagaimana jika batuk lain yang bukan TBC ?
Lagi-lagi, informasi menjadi salah satu kata kunci untuk menjawabnya.

FAKTA BERBICARA
Sejak sekitar tahun 2000-an di daerah kami, kecamatan Palaran, Kota Samarinda, Kalimantan Timur, perusahaan kayu lapis masih jaya-jayanya. Beberapa klinik Perusahaan menjadi ajang rebutan para dokter. Penulis nggak ikut-ikut kendati mereka (pihak perusahaan) melayangkan permohonan untuk menjadi dokter klinik perusahaan.

Saat itu ada kecenderungan, para dokter perusahaan menjalin “kerja sama” dengan dokter “tertentu”. Entah kebetulan atau booming, setiap anak dengan batuk lama dan pada pemeriksaan radiologis (rotgen) menunjukkan kesan: Bronkitis atau bronkopnemonia ditambah suspect (tidak menyingkirkan kemungkinan) TBC atau biasa disebut suspect spesifik, tak ayal si anak menuai hadiah diagnosa TBC dan disusul dengan pengobatan jangka panjang.
Tak peduli imunisasi lengkap, tak peduli si anak tak nampak sakit, tak peduli si anak lincah pencilakan, pokoknya ™ FLEK Paru dan minum obat jangka lama.
Tak hanya beberapa anak, tak hanya belasan anak, puluhan sodara-sodara !!!

Untungnya di kota kami hanya ada 1-2 dokter yang hobi mendiagnosa flek dengan pesan TIDAK BOLEH periksa ke dokter lain. *ahhhhh*
Di kota kelahiran penulis, Jember, ternyata sami mawon. Seorang anak tetangga yang menderita asma mulai kakek, dan ibunya, tak luput dari dakwaan flek dan sudah minum obat 18 bulan, masih juga batuk dan ngak-ngik saat malam tiba. (sekali nebus obat ratusan ribu)
Terpaksa penulis anjurkan untuk menghentikannya, ganti obat asma.
Dia tidak sendiri, dalam satu lingkungan, beberapa anak dengan batuk lama, rata-rata didakwa flek dan mendapatkan obat TBC.

Tetangga depan rumah di Palaran, kedatangan ponakan 2 balita dari Jakarta. Batuk lama, sembuh 2 minggu kumat lagi, kadang sembuh sebulan lalu batuk lagi sampai 1 minggu lebih. Keduanya membawa obat TBC. Keduanya juga didakwa menderita flek dan sudah minum obat setahun lebih.
Tante dan om-nya yang tetangga depan rumah, bertanya-tanya berobat setahun lebih koq masih botak-batuk, krak-krok, ngiklik.

R E L A S I
Beberapa kali penulis konsultasi dan mendiskusikan fenomena flek kepada seorang sejawat DSA di Surabaya, kakak ipar di Magelang yang juga DSA dan ahli paru di kota kami. Beliau-beliau hanya tertawa sambil mengatakan: “tidak semudah itu”. Dan tentu ada komentar serta pendapat yang kurang pantas dipublikasikan.

SIKAP ORANG TUA
Beragam ekspresi dan pertanyaan menggelayut di benak para orang tua ketika anaknya didakwa flek dengan keharusan minum obat selama 6 bulan.

  1. Pertama: orang tua bangga lega karena merasa sudah ketemu penyakitnya. Mereka rela membayar berapapun setiap bulan dan berapa lamapun berobat. Pada kelompok ini kadang ada sebagian pindah berobat ketika setelah pengobatan 2 tahun si anak tetap batuk-batuk.
  2. Kedua: orang tua terkejut, merasa tidak ada yang TBC di sekitarnya. Karena ingin sembuh, tetap nurut minum obat TBC selama 6 bulan. Ketika 6 bulan berlalu tetap batuk dan dikatakan belum sembuh tetap mau melanjutkan minum obat.
  3. Ketiga: orang tua setengah percaya setengah tidak percaya saat dikatakan flek dan harus minum obat TBC selama 6 bulan. Diam-diam mereka mencari second opinion untuk meyakinkan benar tidaknya si anak menderita flek (TBC).

URUN REMBUG

  1. Jika dakwaan tersebut menimpa anak atau kerabat , bagaimana sikap para pembaca?
  2. Apa saran pembaca terkait fenomena di atas ?

Semoga bermanfat

Topik Terkait:

About these ads

444 Responses to “Flek Paru, apa iya ?”


  1. 1 juliach April 24, 2007 pukul 5:12 am

    Hi…hi…hi…

    PERTAMAX

  2. 2 juliach April 24, 2007 pukul 5:20 am

    Kayaknya aku termasuk korban diagnosa FLEK PARU, waduh waktu SD disuntikin terus 2X seminggu sampai 2 th (sampai-sampai sekarang phobi sama suntikan).

    Sekarang aku malah terheran-heran karena waktu bayi divaksin BCG kok masih terkena Flek.

  3. 3 juliach April 24, 2007 pukul 5:47 am

    Wah ngak bisa rembug. Soalnya waktu visit medical bulan ke-3 utk si Vicky, aku tanya soal vaksinasi BCG. Dokter bilang nanti jika sudah berumur 2 th saja atau mau dibawa ke negara yg beresiko anak terkena TBC atau sebelum masuk sekolah. Tambahnya lagi: ada kemungkinan dihapus wajib vaksinasi BCG.

    Ini ada cerita konyol (menurutku).

    Sebelum aku bawa si Ines ke Indonesia, sudah divaksin BGC & dicheck jika vaksinnya jalan. Tapi Bapakku selalu melarang dia bermain dengan anak-anak kampung, alasannya mereka itu batuk-batuk & ingusan. Nanti bisa tertular dan parahnya bisa terkena TBC.

    Hal ini menyebabkan pertengkaran antara Denis (eks-suami) & bapakku.
    Menurut Denis, engak apa-apa biar antibodi latihan bekerja & anak nanti kebal sendiri, tapi si Bapak tak mau tahu. Sehingga Denis menyebut Bapakku: RACIST!!!

  4. 4 cakmoki April 24, 2007 pukul 6:26 am

    @ juliach,
    wah, baru aja ngedit, sudah disambar pertamax.
    Hehehe, mencicipi pengobatan flek paru tempoe doeloe ya
    Sekarang entah dari mana asal-usulnya, kecenderungan itu muncul lagi. Pro kontra, biasalah lagu dalam negeri dan budaya ewuh pekewuh.

    Soal mulainya BCG tidak sama untuk negara maju dan negera berkembang, seperti indo yang memberikan bcg sejak lahir. Ada program: “The Global Plan TO STOP TB 2006-2015″. Negara maju mungkin sudah duluan bebas TBC. Bisa dimaklumi jika dokter Vicky menetapkan planning seperti itu.

    Tentang cerita konyol, keduanya sama-sama benar jika mengacu pada hubungan argumen yang dipakai. Berdasarkan perkembangan imunologi (kekebalan) anak, saya memihak Dennis, boleh kan ? hahaha

  5. 5 mariana silvania April 24, 2007 pukul 10:11 am

    pak..anakku juga di curigai kena TB.. udah dua kali suntik BCG (oya..dokter anakknya nyuntik BCG ankku di pahanya…bukan di tangan)..pertama suntik BCG usia satu bulan..trus di suntik lagi usia 9 bulan karena bekasnya ga muncul aja..
    Oya anakku juga lincahnya minta ampun..trus makannya banyak..tapi karena enggak gendut..orang dirumah pada curiga.
    di tunggu sarannya ya pak

  6. 6 evi April 24, 2007 pukul 11:18 am

    lah…masalah flek paru ini Dok, kadang bikin pusing atau bingung para ortu termasuk saya.

    kejadiaanya saya punya pengasuh dari Nasywa lahir, pokoknya dia ini is the best deh! saat saya mo ke apotik Mbaknya ini minta dibeliin “rifampicin”. Saya beliin juga, walaupun bingung krn kata Mbaknya ini obat batuk.

    Saya penasaran karena selama saya batuk belum pernah minum obat ini. besoknya saya langsung browsing internet penasaran dgn “rifampicin “, masya Allah…..ternyata obat TBC. rasanya mau pingsan, tau semua ini. Bagaimana caranya saya ngomong baik2 ke Mbaknya tanpa harus menyakiti, soalnya ini menyangkut nasib Nasywa.

    akhirnya atas saran DSA nya Nasywa, Mbaknya disuruh Rontgen kalo positif ya hrs berobat, tp dia memilih pulang.

    alhamdulillah Nasywa sehat, sempat jg sih diberi obat TBC sama DSA nya ktnya untuk pencegahan, tp tidak saya minum
    kan, lah Nasywa tiap bulan berat badannya naik dan makannya juga OK kok.

  7. 7 dwi April 24, 2007 pukul 12:00 pm

    dok, adek wi kemaren baru aja didiagnosis “flek paru”
    hasil rontgennya emang ada flek, tapi tes BTA nya (-) kok, trus dikasih obat sama dokternya yang harus diminum selama 3 bulan.
    tapi wi blum lihat salinan resepnya..
    nah klo BTA – artinya bukan TBC dunk??

  8. 8 n0vri April 24, 2007 pukul 1:39 pm

    Jadi gregetan ama dokter nakal (padahal adikku suami-istri dokter, kakak sepupu juga dokter, he he he)
    Menjawab tantangan cakmoki, kalo kerabat yang divonis Flek paru:
    - Langsung naik banding, cari info dari bebrapa dokter ahli lain (sesuai spesialisasinya)yang punya reputasi bersih, sekaligus bawa hasil tes lab dan radiologinya.
    - Saran saya, seperti yang pernah saya alami ketika divonis radang sinusitis, jangan langsung dituruti kalo harus mengalami pengobatan panjang begitu, balik ke poin di atas, mending cari second or third opinion. Kalo emang udah “banding” maupun “kasasi” masih diovonis flek, ya mesti berobat…

    Btw, pasien kayak saya, rewel ya dok?

  9. 9 mei April 24, 2007 pukul 2:00 pm

    ambil langkah yang ke3

    Ning juga gak gemuk2 amat, dan kebetulan mbak yang sekarang ini ringkih, sering batuk..dia juga cerita kalau suaminya pernah kena paru2 basah alias TB waktu d kampung. agak takut2 juga, cuman karena gak ada pilihan dan sepertinya dia gak batuk cekrah cekreh gt ya aku tetap pekerjakan.

    Lagian Ning juga maemnya mau khok, walaupun gak gendut tapi montok..hehe

  10. 10 xwoman April 24, 2007 pukul 2:02 pm

    ya mungkin mempelajari dulu gejala-gejalanya lebih detail terus jangan hanya berpegang pada satu opini dokter!

  11. 11 cakmoki April 24, 2007 pukul 3:09 pm

    @ mariana silvania,
    Kronologisnya bagaimana Bu?
    Kita perlu mengetahui maksud “dicurigai” TB. Maaf, saya agak berprasangka, jangan-jangan kata-kata “dicurigai” berlanjut dengan pemberian obat TB.
    Kecurigaan TB pada anak, diantaranya mengacu pada: gejala (gejala TB pada anak BUKAN didominasi batuk, melainkan panas naik turun, berat badan cenderung turun, kurang nafsu makan). Ada pula batuk yang tidak kunjung sembuh disertai panas naik turun dan BB menurun. Gejala di atas masih perlu konfirmasi dengan pemeriksaan Mantoux test (tes tuberkulin), Laju endap darah dll.
    Menurut saya, jika ibu meragukan, alangkah baiknya konsultasi dengan DSA lain. Atau sebelumnya silahkan lihat tautan topik terkait yang pertama. Semoga bukan

    @ evi,
    Saya ikut bersyukur Nasywa sehat. Sayang sekali mbaknya terlanjur pulang. Maaf nih, mungkin si mbak tersinggung. Bisa jadi mbak tersebut minum Rifampisin hanya karena ikut-ikutan saja. Toh obat TB bukan hanya Rifampisin, masih ada INH, Pirazinamide, Ethambutol dan B6. Inipun diminum sedikitnya 6 bulan.
    Jangan-jangan pengasuh Nasywa tidak menderita TB, soalnya dia titip Rifampisin saat ibu ke apotik dengan alasan untuk batuk, berarti obat tersebut tidak rutin kan ?
    Rupanya kasus semacam ini meluas ya. Perlu diskusi lanjutan nih

    @ dwi,
    Yang dimaksud adik itu usia anak-anak(kurang 12 th) atau dewasa?
    Hal ini penting lantaran manifestasi klinis (gejala) berbeda pada anak dengan dewasa. Itupun perlu dilihat secara klinis “nampak sakit” atau “tidak nampak sakit”
    Hasil rontgen memang ada flek, maaf itu tulisan radiolog apa memang nampak ada gambaran spesifik ?
    Kayakya usia dewasa ya, soalnya ada BTA. Anak kan nggak mungkin bisa ngeluarkan dahak. Jika BTA negatif atau meragukan, BTA diulang hingga 3 kali. Pada dasarnya, menegakkan diagnosa TB Paru tetap menggunakan kaidah kedokteran, yakni: anamnesa, gejala klinis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang (lab, Ro, dll).

    Pemberian obat 3 bulan tanpa penjelasan lain, saya meragukan karena pengobatan TB paru sedikitnya 6 bulan, menggunakan obat panduan WHO dan Depkes RI.
    Setuju, lihat copy resepnya dulu. Perlu juga dipertimbangkan second opinion.

    @ n0vri,
    aha, sip sharing pemikirannya. Moga dapat diikuti para ortu yang lain. Punya kerabat dokter malah enak dong, bisa diskusi panjang.

    Tentang pasien bertanya, sudah memang haknya. Idealnya dokter dan pasien atau keluarganya ber-sparing partner dalam hal pengobatan.
    Di praktek, para pasien kami biasakan bertanya, berpendapat bahkan boleh ngeyel. Ini penting untuk menjalin komunikasi dan transfer pengetahuan agar proses pengobatan berjalan sesuai harapan. Inipun seorang dokter hendaknya bersikap legowo, memberikan kesempatan kepada pasien untuk konsultasi dengan dokter lain yang lebih ahli.
    Bukan monopoli. Niscaya dokter demikian akan lebih dipercaya para pasiennya. Saya pribadi lebih suka jika pasien banyak mengerti tentang penyakit. Selama ini, walau pasien sudah tahu penyakitnya, nggak ngobati sendiri koq, masih tetap berkunjung, ehm … nganter shodaqoh. hahaha

  12. 12 n0vri April 24, 2007 pukul 3:42 pm

    Wah, ALhadulillah kalo ketemu dokter yang sabar mau dengerin pasiennya kayak Cakmoki. Beberapa dokter yang saya temui di Jakarta juga begitu, tapi umumnya udah senior.

    Sebagai pasien, saya juga sadar kompetensi saya, jadi saya hanya berusaha memastikan bahwa vonis yang diberikan dokter adalah murni vonis berdasarkan diagnosa medis, bukan diagnosa lainnya (apalagi diagnosa ekonomis, maaf ya dok :) ). Begitu dijelaskan dengan jawaban yang memuaskan, saya akan sangat patuh terhadap pengobatan dokter, kan dokter memang yang punya kompetensi mengobati. Minum obat berapapun banyaknya dan seringnya, tetap saya jalani, lha wong saya mau kembali sehat.

    Semoga dokter-dokter muda mau ikutan dokter ideal yang mau mendengarkan… hidup dr. Moko! :D

  13. 13 cakmoki April 24, 2007 pukul 4:17 pm

    @ mei,
    Paru-paru basah, istilah yang amat sangat sulit didiskripsikan. Apa betul yang dimaksud TB dan minum obat 6 bulan?
    Batuk sekali-sekali dengan interval cukup lama, belum tentu TB.
    Jika meragukan ngga ada salahnya Rontgen atau BTA. Kan bu Mei banyak relasi tho :D

    @ XWOMEN,
    Betul, setuju !!! *kayak kampanye* hehehe

    @ n0vri,
    Saya ikut gembira masih banyak dokter sabar, moga dijadikan panutan untuk yang lain khususnya saya sendiri.
    Mudah-mudahan pula nantinya para pasien dan masyarakat Indonesia tambah pinter, seperti di negara maju *menghayal dikit* :)
    DIAGNOSA EKONOMIS, hahaha memang ada dan nyata.

    Trims do’anya pak, semoga kami-kami senantiasa mendapatkan bimbingan-Nya

  14. 14 mariana silvania April 24, 2007 pukul 4:26 pm

    anakku belum di kasih obat TB sih pak..berat badannya alhmd naik terus..dan masih dalam ukuran normal(klo diliat dari Kartu kesehatannya).Sekarang lagi ga batuk (dulu pernah) ..jarang pilek. nafsu makannya bagus.ga mau diem alias aktif banget..
    di curigai tertular karena badannya ga gendut..dulu pernah batuk-batuk.pernah panas tinggi,waktu pilek. tapi trus yang bantu2 dirumah, keluarganya ada yang menderita TB (ada 4 orang anggota keluarga nya yang kena).
    klo tentang suntik BCG yang ga ada bekasnya itu gimana pak? udah dua kali disuntiknya..apa perlu imunisasi BCG lagi ?

  15. 15 cakmoki April 24, 2007 pukul 4:43 pm

    @ mariana silvania,
    Yang dimaksud bekas, ada jaringan parut kecil, kayak bekas luka.
    Menurut saya nggak perlu BCG lagi, kan sudah 2 kali.

    Pada umumnya, anak-anak mengalami batuk, adakalanya lama. Belum tentu TB. Kebanyakan karena virus.
    Bisa saja seorang anak tiap bulan sakit panas, batuk pilek karena ketularan sekitarnya atau sebab lain.
    Seiring dengan bertambahnya umur, daya tahan tubuh anak akan meningkat dan makin jarang sakit. Boleh dibilang proses pembelajaran mengenal penyakit sekaligus membentuk daya tahan tubuh.
    Syukurlah tidak minum obat TB walaupun sempat dicurigai TB.

    Soal berat badan biasalah, itu kan hasil rumpian ibu-ibu kalo pas ngumpul, atau merasa nggak enak sama ibu lain yang punya anak gendut. yang penting mau makan-minum, bermain, aktif dan sehat. Ya kan ?
    Moga si kecil tetap sehat. Sudah bisa minta adik belum? *bercanda* :D

  16. 16 calonorangtenarsedunia April 24, 2007 pukul 8:26 pm

    assalammu’alaikum..warahmatullah..wabarakaaatuh..!
    hadirin sidang jum’at yg dimuliakan Allah..
    *padahal skrg hari selasa*

    cak, ga bisa pake krim muka ya buat ngilangin flek di paru nya? hehe47x…
    *masih korslet abis UTS*

  17. 17 cakmoki April 24, 2007 pukul 10:40 pm

    @ calonorangtenarsedunia,
    UTS-nya bisa nggak ?
    Jangan-jangan belajarnya Sistem Kebut Semalam. hehe47x…

  18. 18 junthit April 25, 2007 pukul 3:42 am

    wah kasian yang nggak tau klo gitu…

  19. 19 grandiosa12 April 25, 2007 pukul 6:25 am

    kasian banget yah yang ‘salah’ diagnosa.. melanggar kode etik ga dok?

  20. 20 manusiasuper April 25, 2007 pukul 12:01 pm

    Kalo paru-paru basah itu gimana pak?

    Saya kena waktu umur 6 bulan…

  21. 21 cakmoki April 25, 2007 pukul 5:25 pm

    @ junthit,
    ya pak, karena itulah kita berkewajiban menyampaikan informasi yang benar kepada khalayak dan saling berbagi, agar para pasien tahu akan hak-haknya, tidak segan untuk bertanya.

    @ grandiosa12,
    Enggak pak, bukan masalah etika namun lebih kearah teknis medis. Pada kasus tertentu, kesalahan tindakan medis bisa dianggap “medical error”. Mungkin suatu saat nanti perlu dibahas.

    @ manusiasuper,
    Paru-paru basah sebetulnya tidak dikenal dalam dunis medis. Bahwa seorang dokter mengatakan Paru-paru basah (apa ada yang kering?) mestinya disertai penjelasan tentang penyakitnya.
    Bisa saja istilah serupa dipakai agar mudah diingat, misalnya: “kerumut” sama dengan campak atau morbili.

    Di tempat kami ada juga pasien menyebut paru-paru basah. Saya berkewajiban menjelaskan sesuai hasil pemeriksaan sambil memperkenalkan penyakit sebenarnya. Hal ini penting agar pasien mendapatkan informasi yang benar, tidak bias.

    Jika pak mansup dulu pernah dikatakan menderita Paru-paru basah kemudian mendapatkan obat 6-9 bulan, kemungkinan yang dimaksud oleh dokter yang merawat adalah TB. Jika tidak diikuti dengan pengobatan di atas, mungkin paru-paru basah tersebut bukan TB. Lha, bias tho.
    Setidaknya dengan diskusi kecil-kecilan begini, kita ikut membangun wacana kesehatan.

  22. 22 peyek April 25, 2007 pukul 11:50 pm

    semoga bisa dilanjut tulisan njenengan soal ini cak, soale jadi momok para orang tua cak!

  23. 23 Kang Kombor April 26, 2007 pukul 1:54 am

    Aku ra moco, Cak. Mung arep ngandhani nek pindah omah.

  24. 24 cakmoki April 26, 2007 pukul 2:58 am

    @ peyek,
    Insya Allah pak. Saya siapkan artikel lengkapnya. Maturnuwun

    @ Kang Kombor,
    Nggih Kang, maklum koq, njenengan kan lagi sibuk.
    Jadi link yang ini ya. Atau tak masukkan semua aja dah, ben lengkap.
    Maaf Kang, nggak bisa ngewangi langsung. Mbantu do’a aja ya :)

  25. 25 calonorangtenarsedunia April 26, 2007 pukul 9:37 am

    bisa doooonnkk…
    hana gt loh!!

  26. 26 cakmoki April 26, 2007 pukul 1:06 pm

    @ calonorangtenarsedunia,
    Selamat :D Biasanya kalo bisa uts or us ada acara makan-makan.
    Mana, manaaa Han ?

  27. 27 calonorangtenarsedunia April 26, 2007 pukul 9:32 pm

    ah,,
    makan2 sih nanti aja kalo nikahan, cak…
    wakakak47x…

  28. 28 cakmoki April 27, 2007 pukul 12:59 am

    @ calonorangtenarsedunia,
    Makan sendiri aja ah :D

  29. 29 faiq April 27, 2007 pukul 4:01 am

    Kalau obat TBC diminum anak/orang yang tak TBC, dampaknya apa dok??.., Untung Cak Moki nggak ikut trend. Kalau semua dokter kayak Cak Moki, pabrik obat TBC kebat-kebit dunk cak?… he…he…he **langsung kabur…, terus tidur**

  30. 30 cakmoki April 27, 2007 pukul 8:32 am

    @ faiq,
    Dampak medis sangat individual. Ditinjau dari sudut farmakologi, membebani kerja liver (metabolisme) dan ginjal (ekskresi or pembuangan). Menanggulanginya dengan makanan bergizi dan banyak minum.
    Dari sudut biaya, buang uang yang tak perlu. Dan buang waktu.
    Anak-anak di indonesia rata-rata batuk 4-10 kali dalam setahun.
    Dalam sehari anak batuk-batuk yang berobat sekitar 5-10 anak. Kalo semua dituduh TB, Indonesia banjir obat TB. hahaha

  31. 31 mariana silvania April 28, 2007 pukul 9:32 am

    dok..klo test ICT TB positif tuh artinya positif TB ya ?

  32. 32 cakmoki April 28, 2007 pukul 12:49 pm

    @ mariana silvania,
    Nggak mesti, test tersebut hanya menunjukkan infeksi, bukan menunjukkan penyakit TB.
    Pemeriksaan tersebut tidak lebih baik dari test Tuberkulin (mantoux test) pada anak. Sedangkan pemeriksaan ICT pada dewasa menurut saya hanya buang uang dan waktu. Toh jika positif harus periksa Kuman Batang Tahan Asam (BTA) melalui dahak. Pembuktian ada tidaknya pengakit paru pada ICT positif adalah dengan membuktikan ada tidaknya kuman, dengan pemeriksaan BTA (dahak) atau biakan kuman.
    Jika ada gejala fisik yang mengarah ke TB, lebih efektif jika periksa langsung BTA (pada dewasa). Selain biaya murah, pemeriksaan tersebut (BTA) jika menunjukkan hasil positif, berarti TB.

  33. 33 mariana silvania April 28, 2007 pukul 6:44 pm

    dok, anaku udah di test ICT TB. Hasilnya positif, leokosit tinggi : 10.400 .di foto torax menunjukkan sedikit bercak.

    aku juga udah di tes ICT, hasil nya degatif, Udah test BTA1, 2,3 hasilnya juga negatif atau tidak ada bakteri tahan asam.
    test darah normal.ro torax ; Hili kasar dengan corak paru bertambah. tidak tampak KP aktif ataupun kelainan Lain..

    gimana atuh ya anakku..harus di test mantux dulu ?

  34. 34 cakmoki April 29, 2007 pukul 12:06 am

    @ mariana silvania,
    Ok, ICT TB positif, menunjukkan ada infeksi, bukan lantas serta merta sakit TB. Leukosit naik nggak seberapa. Sayang foto rontgen nggak lihat sendiri. Tulisan bercak kemungkinan diskripsi radiolog di lembar diskripsi. Jika tidak didukung data klinis misalnya panas naik turun lebih 2-3 minggu, berat badan cenderung turun dan anak tampak sakit, terus terang saja saya meragukannya. Diagnosa TB tetap berangkat dari gejala klinis. Batuk lama, bukan tanda khas pada anak untuk mendiagnosa TB.
    Beberapa ahli anak menyebutkan kemungkinan lain misalnya asma (tidak selalu mengi), bronkitis atau batuk alergi. Keluhan ini seringkali didiagnosa TB.

    Test Mantoux boleh, untuk meyakinkan, acuannya tetap tanda klinis seperti di atas.
    Sedangkan hasil pemeriksaan ibu, jelas tidak ada apa-apa.

    Kalau boleh usul, rasanya perlu second opinion ke dokter lain. Bisa saja saya salah. Saya hanya menyayangkan apabila anak-anak yang bukan TB, didiagnosa TB.

    Semoga diberikan jalan terbaik untuk anak ibu.

  35. 35 mariana silvania April 29, 2007 pukul 12:42 pm

    makasih banyak ya dok…seneng deh bisa nge-blog sambil konsultasi.

    pagi nadya udah mulai di kasih obat..Abi-nya Nadya mutusin ngasih obat..:(( sedih sih liat dia minum, Nadya paling susah minum obat. ..tadi warna pipisnya merah…mungkin pengaruh obat ya.

    Tapi nanti aku akan bawa anakku ke spesilis paru anak .. sekalian test Mantux..mohon doa atuh ya dari semuanya…

  36. 36 cakmoki April 29, 2007 pukul 9:17 pm

    @ mariana silvania,
    Sama-sama Bu, saya juga senang bisa berdiskusi.
    Ya, warna merah pada air seni karena zat warna dari Rifampisin.

    Saya sependapat untuk konsultasi ke dokter paru. Jika dokter paru sebagai second opinion memutuskan minum obat jangka panjang, berarti itulah yang terbaik untuk Nadya.

    Semoga diberikan kesehatan bagi ibu sekeluarga

  37. 37 dwi April 30, 2007 pukul 11:00 am

    dok, ternyata oh ternyata adek wi dikasih rifampicin,, heran juga knpa cuma 3 bulan dan, knapa dikasih rifampicin padahal BTA – ??
    mohon pencerahan..

  38. 38 cakmoki April 30, 2007 pukul 11:30 am

    @ Dwi,
    Pemeriksaan BTA 3 kali dan hasilnya BTA – (negatif), bukan TB. Berarti tidak ada indikasi pemberian Rifampicin.
    Pemberian obat 1 (bulan) dimungkinkan jika ditujukan untuk profilaksis, misalnya bepergian ke daerah yang nyata-nyata endemis.
    Boleh koq nanyaken kepada dokter yang merawat alasan pemberian rifampicin (ada yang lain nggak, misalnya: IHH, etambutol, pirazinamid, vit B.6).

  39. 39 siNung Mei 1, 2007 pukul 2:31 am

    syahdan :)

    ada korelasi positf antara obat anti-TBC dengan ke-pikun-an (!)

    bagaimana nih boss ?

  40. 40 bulleballi Mei 1, 2007 pukul 7:05 pm

    wah … jadi takut juga nih …

    Soale anak saya 1,5 th dah 3 minggu batuk belum sembuh, sudah 3 kali difisioterapi karena dahaknya ga bisa keluar.

    terahir pindah dokter diinfoin Bronkitis
    ada dahak antara tenggorokan & dada …obat yg dikasi Citocetin,amoxine,Sirplus … ( klo kaya gini TB bukan dok? ) ….

    ditunggu pencerahannya

  41. 41 cakmoki Mei 2, 2007 pukul 5:50 am

    @ siNung
    Soal itu belum berani komentar deh, soalnya banyak variabel.
    Jangan-jangan obyek penelitian sebelumnya sudah pikunan, hahaha

    @ bulleballi,
    Mungkin benar bronkitis atau batuk alergi.
    Kalau dahaknya nggak bisa keluar biasanya agak lama, perlu dipertimbangkan tambahan pengencer dahak (ekspektoran) misalnya: sirup Ambroksol 3×1 sendok takar, disamping obat yang sudah ada.
    Moga si kecil cepat sembuh :D

  42. 42 siNung Mei 2, 2007 pukul 9:31 pm

    @41

    > GERIATRI
    > Buku Ajar Geriatri ( Ilmu Kesehatan Usia Lanjut )
    > Oleh : Prof. dr. R. Boedhi Darmojo, dr. H. Hadi Martono

    cmiiw :)

  43. 43 cakmoki Mei 2, 2007 pukul 10:43 pm

    @ siNung,
    Hahaha, ini instruksi ya.
    Ayo dong nulis, boleh dimuat di sini koq. Jadi author ya :D

  44. 44 tito Juni 22, 2007 pukul 2:22 pm

    salam sejawat dok..
    mau ikutan rembuk dikit..dari pengalaman pribadi,kadang emang susah susah gampang untuk menegakkan diagnosa tb paru, apalagi pada anak. ada pengalaman, pasien anak dengan x foto suspek spesifik proses, LED tinggi, BB gak naik2, batuk pilek berulang, nnll colli teraba & tidak nyeri,panas sumeng tiap malam..maksudnya supaya mantep saya rujuk ke Sp.A untuk kepastian diagnosa, oleh Sp.A di test Mantoux tapi hasilnya negatif..akhirnya ga jadi diagnosa Tb, tapi setelah di kasi obat oleh Sp.A tetap aja gak sembuh.Saya pikir reaksi anergi, akhirnya saya putuskan terapi TB, setelah 2 bulan evaluasi ternyata hasilnya baik. menurut dokter, apa memang mantoux test satu2nya baku emas diagnosa Tb? dari yang saya ketahui, bila dari tanda dan gejala sugestif Tb,kita masih bisa kasih terapi tb dan evaluasi dalam 2 bulan, bila membaik berarti tb, bila tetap/memburuk berarti bukan tb atau MDRT Tb.
    Repot ya dok,saya juga bingung kalo dapat pasien,yang katanya berobat ke dokter dibilang anaknya kena bronkitis tapi mesti berobat 6 bulan,kena paru-paru basah berobat 6 bulan ( apa yang dimaksud paru2 basah itu efusi pleura ya? :)
    eh dok, sebenarnya siapa sih yang bikin istilah2 flek paru, paru2 basah itu..waktu kuliah gak pernah diajarin kan ya? :)
    ok deh salam kenal..

  45. 45 cakmoki Juni 22, 2007 pukul 3:15 pm

    @ Tito,
    Salam kenal mas Tito, terimakasih telah berbagi.
    Menurut referensi dan panduan IDAI, test Mantoux tidak spesifik, begitu juga radiologis, kecuali milier.
    Beberapa kali diskusi dg ts SpA, klinis tetap memegang peranan penting.
    Memang ada pendapat yang pakai sistem evaluasi 2 bulan.
    Selama ini px yg mendapat tx TB (ada yg sampai 2tahun) sy konsul ke dr paru, tidak ada satupun yg TB, rata-rata asma. Beberapa bulan lalu ada dimuat soal ini di majalah dokter kita, cenderung asma.

    hehehe, kalo istilah flek saya gak tahu siapa yg memulai, rasanya udah lama sekali, termasuk paru-paru basah (kalo kering kripik paru ;) ). Yg saya ketahui pasien yg didiagnosa paru-2 basah mendapatkan terapi TB, berarti istilah lain untuk TB makin kabur. Ini pernah dikritik keras oleh Prof Iwan Darmansjah dan beberapa SpA senior.

    Sekali lagi maturnuwun
    ohya, saya biasa dipanggil cak oleh temen-temen blogger, gak pakai dok-dokan hehehe

  46. 46 paunk Juli 4, 2007 pukul 11:17 am

    Efusi pleura masif -> ini pengobatannya gimana ya klo boleh tau? adik saya TB Paru, udah jalan obat sekitar 4 bulan, tapi menurut dokter masih perlu ‘operasi’ -> doketr menjelaskan dengan istilah operasi, untuk mengambil nanah yg ‘sudah mengerak’ yg dimaksud dgn operasi apakah pembedahan atu hanya diambil dengan jarum suntik?
    trim’s

  47. 47 cakmoki Juli 4, 2007 pukul 11:50 am

    @ paunk,
    Efusi pleura pengobatannya dengan aspirasi atau penyedotan cairan dalam pleura menggunakan jarum khusus.
    Untuk pengobatan TB Paru berarti kurang dua bulan lagi, biasanya akan sembuh stelah pengobatan 6 bulan.
    Moga jawaban singkat ini membantu dan semoga adik segera sembuh :)

    » ke atas

  48. 48 Ari Juli 11, 2007 pukul 3:37 pm

    Salam Dok
    tolong jelaskan keterangan hasil lab, karena dokter yang menangani saya tidak memberikan keterangan yang lengkap

    Thorax lateral:
    infíltrat di perihiller dan parakardial tdk tampak pembesaran KGB hilus, cor dlm batas normal, sinus kosto tumpul, kesan:TB tersangka dg efusi pleura kanan

    USG Thorax:
    Tampak anekoik dgn jaringan nekrotik di pleura kanan volume 500-750cc dgn kedalaman 3-4cm
    kesan:efusi pleura kanan

    apa yang dimaksud dengan LED? karena nilai saya 102 dan itu 10 kali lipat dari orang dewasa normal

    Hasil cairan yang sudah diambil, untuk keterangan gramnya tertuliskan “tidak terdapat kuman” apakah masih aman?

    kenapa cairannya tidak mencapai 500cc & sebagian tercampur dengan darah?

    berapa kali saya harus melakukan penyedotan?

    untuk gambar dapat dilihat di http://allabout.myself.web.id/rontgen/

    trima kasih

  49. 49 cakmoki Juli 11, 2007 pukul 4:39 pm

    @ Ari,
    salam,
    dokter yg merawat tidak menjelaskan secara lengkap kemungkinan agar tidak menimbulkan rasa cemas.
    Idealnya adalah perpaduan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang (rontgen, usg, lab). Namun demikian saya akan mencoba menjelaskannya.
    Ok, gambar sudah saya lihat.

    Rontgen:
    Jelas ada cairan di pleura kanan. Efusi=cairan, pleura=selaput antara dinding paru dan dinding dada.
    Infiltrat maksudnya peradangan, perihiller=sekitar hilus, pericardial=sekitar jantung, KGB=kelenjar getah bening, cor=-jantung.

    Artinya:
    Ada cairan di pleura kanan dg tanda peradangan, hal ini diperkuat dengan LED=laju endap darah yg tinggi (ini untuk konfirmasi Rontgen).
    Adapun Jantung: normal.
    TB=TBC, di rontgen biasa ditulis gitu, maksudnya tersangka adalah agar tidak dikesampingkan penyakit TBC sebagai penyebab timbulnya cairan di pleura. Hal ini dicocokkan dengan pemeriksaan fisik pleh dokter yg merawat. Kalo mengarah ke sana kan diberikan obat selama 6 bulan.

    Cairan yg diambil harus diperiksa ada tidaknya kuman untuk melihat penyebaran kuman. Jika tidak ada kuman (dibuktikan dengan pemeriksaan Gram yg artinya deteksi kuman dg pengecatan Gram), maka cairan tersebut tidak ada kumannya. Kalo ingin lebih spesifik bisa saja cairan dibiakkan untuk melihat ada tidaknya mikroorganisme lain selain kuman. Namanya disebut kultur (pembiakan). Namun perlu waktu lama (sekitar 1 minggu).

    Jumlah cairan yg diambil tidak selalu cocok dengan prakiraan melalui rotgen, perhitungan melalui rotgen adalah perhitungan matematis yg banyak dipengaruhi oleh berbagai hal, sedangkan hasil penyedotan adalah angka riil. Biasanya akan diambil berulangkali selama masih ada cairan hingga cairan habis agar tidak sesak atau nyeri dada.
    Melihat cairan jernih kekuningan, sepertinya aman. Darah yg tercampur dg cairan tentu akan dianalisa oleh dokter, apakah karena darah dari bekas penyedotan atau berasal dari cairan pleura. Saya menduga darah berasal dari proses penyedotan (sepanjang tusukan jarum), karena jika dari pleura warna cairan tidak kuning tapi kemerahan dan homogen.

    Rasanya sudah terjawab semua ya, eh kalo merasa masih ada yg belum terjawab boleh dilanjutkan.

    Moga segera sembuh :)

  50. 50 Ari Juli 11, 2007 pukul 5:39 pm

    trima kasih banyak dok atas pencerahannya, semoga sukses selalu buat dokter

    salam

  51. 51 cakmoki Juli 12, 2007 pukul 2:00 am

    @ Ari,
    ok, sama-sama.
    trims juga atas supportnya :)

  52. 52 Ari Juli 16, 2007 pukul 4:13 pm

    Salam dok!

    sy udah minum obat dari dokter, knapa akhir2 ini tulang sy sedikit linu/ngilu, dan nadi sy detaknya sedikit cepat dari sebelumnya, dan berat tubuh sy jadi naik, knapa semuanya itu terjadi?, ato gara2 obat yg sy minum?,

    oh iya apakah penyakit sy ini disebut juga Pneumonia, seperti Post blogger terakhir di blog dokter?

    trima kasih dok,

  53. 53 Tanti Agustus 31, 2007 pukul 4:07 pm

    Cak, say acoba dibantu informasi, kata dokter anak saya, anak say ayang baru 11 bulan ini terkena flek dan diberi pengantar untuk ke lab cek darah dan rotgen, Anak saya memang nggak bisa naik berat badannya 11 bulan beratnya 6 Kg, berat lahirnya 2,6 kg, kalau pilek sama batuk mulai dari umur 5 bulan jadi pajak bulanan, cuma akhir-akhir ini dia batuk dan pilek nggak sembuh2 hampir 3 minggu ini. diberikan anti biotik amoxilin sama dokternya bisa sembuh tapi seminggu kemudian batuk2 lagi .. apakah ini gejala dari TB Cak ??
    mohon bantuannya
    Thanks ^^

  54. 54 cakmoki Agustus 31, 2007 pukul 9:47 pm

    @ Tanti,
    Bisa jadi dokter yg memeriksa berlandaskan pemeriksaan klinis (fisik).
    Tanda klinis TBC pada anak lebih didominasi oleh panas yang naik turun dalam waktu lama dan berat badan yg tidak kunjung naik, namun berat badan juga dipengaruhi oleh banyak faktor.

    Untuk lebih jelasnya, silahkan bertanya kepada dokter anak yg ngeblog, alamat beliau adalah: doktere arek cilik
    moga ananda segera sembuh

  55. 55 mita September 22, 2007 pukul 5:47 pm

    nama saya ana, baru-baru ini saya periksa ke dokter saya didiagnosa ada flek diparu2 saya tapi BTA negatif,saya juga ada penyakit bronchitis asmatis, tapi saya di beri obat yang untuk flek, saya masih bingung dok,apa sih flek paru2 itu?kalau BTA negatif apakah masih dibilang TBC apa bedanya dengan TBC?apakah ada hubungannya antara bronchitis yang saya derita dengan flek paru2 saya?apakah dengan pengobatan yang lama ini(6 bulan) batuk saya bisa sembuh total?terima kasih ya dok or cak

  56. 56 cakmoki September 22, 2007 pukul 11:41 pm

    @ mita,
    ok mita, pengobatan 6 bulan adalah pengobatan untuk TBC. Mungkin penamaan flek paru ditujukan agar tidak panik, namun sebenarnya menjadi bias. Kalo BTA positif, pasti TBC… kalo negatif tapi dokter masih curiga TBSC, maka BTA diulang hingga 3 kali dan kalo hasilnya tetap negatif berarti bukan TBC.
    TBC dan Bronkitis sih ga ada hubungannya, wong keduanya penyakit yg berbeda.

    apakah dengan pengobatan yang lama ini(6 bulan) batuk saya bisa sembuh total?

    Kalo TBC, biasanya sembuh total.
    Lha kalo batuknya karena bronkitis atau Asma, maka pengobatan 6 bulan gak ada pengaruhnya, artinya batuk akan tetap datang jika kena dingin, debu or asap…

    Moga berguna, dan semoga segera sembuh :)

  57. 57 mita September 29, 2007 pukul 4:50 pm

    terima kasih ya infonya, berarti kemungkinan batuk saya sembuh total jauh dari harapan dong karena saya ada asma dan bronchitis, saya sudah test BTA 3x dan hasilnya negatif, kalau bukan TBC, trus TBSC apa ya cak? kalau bukan TBC terus apa gunanya pengobatan 6 bulan cak? maaf ya banyak nanya abis saya masih penasaran. thanq so much

  58. 58 cakmoki September 29, 2007 pukul 6:41 pm

    @ mita,
    ok :)
    maaf mita, asma tidak bisa sembuh, namun bisa dikendalikan, gak perlu kecil hati, yang penting ready obat asma yang paling nyaman untuk mita.
    Kalo udah BTA negatif 3x dan jelas batuknya karena asma, bisa dipastikan bukan TBC.

    …kalau bukan TBC terus apa gunanya pengobatan 6 bulan cak?

    i dont know.
    Jika di praktek pribadi saya menemui kasus seperti ini, saya akan mengambil 2 langkah pilihan kepada pasien:
    1. Menghentikan obat TBC yang 6 bulan itu, dan
    2. Mempersilahkan meneruskan obat 6 bulan kalo pasien menghendakinya, disertai penjelasan bahwa penyakitnya bukan TBC …
    hehehe…ini hanya pendapat pribadi saya lho, selebihnya tentu saya menghargai dokter yg merawat mita :)
    So, its up to you

    Trims

  59. 59 mita Oktober 6, 2007 pukul 4:40 pm

    thank you so much for the info, tapi saya mau tanya lagi nih maaf ya cak, kemarin saya cek up ke dokternya saya tanya masalah ini beliau bilang flek ini tetap TBC meskipun BTA negatif, apa begitu dok? oya kalau saya teruskan pengobatan meskipun bukan TBC apa tidak ada efek sampingnya untuk saya, tapi kalau tidak ada efek sampingya utk saya akan saya teruskan,oya saya mau tanya memang ada ya penyakit paru-paru yang kerendem cairan tetangga saya ada yang menderita penyakit ini beliau juga menderita penyakit jantung apa karena penyakit jantungnya maka paru-parunya kerendem cairan? itu disebabkan oleh apa ya cak?trus apa sih itu broncheapnhemonia? apa itu juga disebabkan oleh flek paru?maaf ya dok pertanyaan saya karena disekitar saya banyak yang menderita penyakit paru-paru yang aneh?
    thanks a lot ya dok, maaf merepotkan…………………………..

  60. 60 cakmoki Oktober 7, 2007 pukul 4:43 pm

    @ mita,
    ok, bisa saja seperti itu, kalo emang dokternya yakin setelah melakukan pemeriksaan, karena pemeriksaan BTA emang sulit, walau nyata TBC belum tentu BTA-nya positif.
    Efek samping obat selalu ada, namun dengan banyak minum dan cukup makanan bergizi, efek samping dapat diminimalisir.

    Paru-paru kerendem cairan? Menurut saya, lebih tepat : ada cairan di paru, mungkin yang dimaksud efusi pleura yakni adanya cairan di pleura paru. Penyebabnya banyak, kebanyakan karena infeksi, di pleura ataupun penjalaran dari infeksi sekitar jaringan paru.

    Bronchopnemonia adalah salah satu infeksi jaringan paru dan saluran pernapasan…
    Penyakit paru jenisnya emang banyak, gak aneh-aneh koq, cuman mungkin karena kurang penjelasan…

    ok, sama-sama

  61. 61 jhal Oktober 7, 2007 pukul 4:55 pm

    waduh apa tuh penyebabnya “Flek Paru – Paru” pak…

  62. 62 cakmoki Oktober 7, 2007 pukul 5:23 pm

    @ jhal,
    Flek paru-paru, kalo yang dimaksud oleh si dokter adalah TBC, penyebabnya: bakteri or kuman :)

  63. 63 mita Oktober 9, 2007 pukul 3:36 pm

    terima kasih pencerahannya dok, tapi saya mau tanya lagi dok, ada kasus orang yang kena efusi pleura ciri-cirinya sesak nafas, setelah diperiksa ada cairan diparu-parunya,cairan pun disedot, setelah seminggu kemudian di periksa lagi dokter memvonis kanker paru stadium 4, tidak lama kemudian orang itu meninggal, kok serem banget ya, cairan itu darah, air or dahak dok? kalau flek paru itu bukannya diparu-parunya itu juga ada semacam cairan, apakah itu sama kasusnya dok?oya 1 lagi dok apakah kipas angin atau angin kalau sedang naik motor berbahaya untuk paru-paru dok, karena kalau habis naik motor or kipas angin saya suka sesak nafas,trus kalau kecapean juga saya suka sesak apakah itu ciri2 orang yang kena flek paru dok?tolong infonya ya dok, thanq so much……………..

  64. 64 cakmoki Oktober 9, 2007 pukul 10:30 pm

    @ mita,
    ya, cairan or efusi pleura hanyalah dampak or tanda, sedangkan penyebabnya macam-2. Tidak selalu kanker paru.
    Cairan tergantung penyebabnya. Kalo kanker biasanya berisi darah.

    Ini beda dengan Flek paru. Adakalanya pada flek paru terjadi juga efusi pleura jika ada penyebaran infeksi ke pleura. Jika tidak ada penyebaran, maka tidak akan terjadi efusi pleura.

    Tentang kipas angin dan angin saat berkendara sepeda motor, bisa saja menyebabkan seseorang sesak, terutama pada penderita asma atau bronkitis alergi… ini sih gak bahaya, cuman menjadi pencetus. Karenanya menurut saya kalo berkendara sepeda motor sebaiknya pakai pelapis di dada.

    Thanks too :)

  65. 65 wita November 8, 2007 pukul 8:37 pm

    sbnrnya, cuma oknum aj. dokter ga semua spt itu, dan jika memang yg terjadi spt itu, knapa gak mikir yg positif aja. masyarakat harus percaya kepada dokter yg diminta pertolongan. jgn lupa ya, terlalu nyari2 kesalahan itu..

  66. 66 cakmoki November 9, 2007 pukul 3:45 pm

    @ wita,
    bener, saya sependapat… hanya oknum, emang gak semua… apa saya nulis semua? enggak lah … Namun jangan sampai menjadi trend mengingat model beginian sudah hampir merata, walau gak semua … atau nunggu semua ?
    Dan IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) juga sudah memperingatkan para anggotanya secara online melalui salah satu tulisan dokter spesialis anak di situs IDAI.

    Perlu diketahui, koreksi or share antar sesama dokter sudah sangat biasa, terbuka dan dinamis. Dan ini sudah dibiasakan sejak masih pendidikan…. bisa dibilang “self assessment”, … kecuali yang takut dan lebih suka diam (ngikuti arus ?) :roll:
    Sayangnya, belum ada teman dokter yang membantah tulisan ini dan mendiskusikannya secara terbuka.

    Menurut saya, untuk mencari kebenaran tentu harus tahu kesalahan, kemudian menginventarisir, lalu mencari jalan keluarnya … apalagi menyangkut penyakit berpotensi endemis semacam ini.

    Maaf kalo berbeda visi ya … hehehe

  67. 67 wita November 20, 2007 pukul 8:24 pm

    maaf lo cakmoki, saya baru buka blog anda. saya disini ga mau berdebat dan ga mau jg dibilang ga sopan. jd saya skrg mau bertanya saja: menurut cakmoki, efek dari missdiagnosa tentang TB dengan overdiagnosa TB didaerah indonesia tercinta yg msh endemis ini, manakah yg paling memberikan efek buruk paling banyak?iya, saya juga tau efek samping obat TB. tp kriteria diagnosa TB memang ‘begitu mudah’ ditegakkan hanya dengan tanda2 klinis & pemeriksaan penunjang, dan semuanya ini memang membutuhkan ‘kebijaksanaa’ dari pihak tenaga medis. Saya juga senang ada orang spt cakmoki yg peduliiiiiii sekali tentang hal ini.tp.. gmn ya..(mengutip:’Tak peduli imunisasi lengkap, tak peduli si anak tak nampak sakit, tak peduli si anak lincah pencilakan, pokoknya ™ FLEK Paru dan minum obat jangka lama”.)hem,…

  68. 68 cakmoki November 21, 2007 pukul 12:56 am

    @ wita,
    boleh koq berdebat ataupun beda pendapat, gak perlu sungkan :)

    efek dari missdiagnosa tentang TB dengan overdiagnosa TB didaerah indonesia tercinta yg msh endemis ini, manakah yg paling memberikan efek buruk paling banyak?

    Menurut saya, secara umum overdiagnosa TB ya karena missdiagnosa, karena bukan TB didiagnosa TB … ini umum lho.

    Nah, jika yang dimaksud missdiagnosa adalah penderita TB tapi tidak didiagnosa TB, saya rasa tidak ada satupun yang berani membuat komperasi tanpa data akurat, kecuali jika hanya beropini. Inipun akan pro-kontra. Tentu keduanya memiliki dampak buruk.
    Yang pertama (missdiagnosa) beresiko penyebaran, sedangkan yang kedua (overdiagnosa) beresiko resistensi, selain biaya dan waktu pengobatan yang panjang.
    Keduanya tidak serta merta dapat dibandingkan karena variabelnya beda, kecuali dilakukan pendekatan statistik sebagai parameter.

    Dari beberapa pasien yang didakwa TB Paru dan saya rujuk ke Spesialis Paru di kota kami, tidak satupun yang TB Paru, so.. ;)

    Di luar itu, perlu diingat bahwa ada satu variabel penting yang sering dilupakan, yakni pasien (dan keluarganya). Mereka bukan obyek lho, melainkan makhluk hidup yang punya harkat.
    Apakah mereka layak begitu mudahnya didakwa TB Paru lantas “dipenjara” dengan masa pengobatan yang mestinya tidak mereka alami?

    beberapa kali ditemukan anak penderita asma diberikan obat TB 6 bulan, dilanjutkan lagi 9 bulan bahkan 2 tahun dan wa akhirul kalamun, setelah selesai dan dinyatakan sembuh, tak lama kemudian kambuhlah batuk dan sesaknya setelah ada faktor pencetus. Nah !!!

    Bagi sejawat yang tidak pernah bergaul dan bertamu ke masyarakat kebanyakan di kampung-kampung, mana tahu fenomena dan keluhan pasien terdakwa TB Paru yang seperti ini ?

    Oya, saya sudah sering mempertanyakan dan memunculkan masalah ini di forum terbuka yang melibatkan banyak pihak, bukan hanya internal kesehatan. Mengapa ? Supaya kejujuran, karena salah satu hakikat aplikasi ilmu kedokteran adalah “kejujuran” dalam arti jangan ada penipuan.

    Memang upaya seperti ini tidak mudah dan selalu banyak tantangan wa bil khusus dari kalangan internal medis.
    Namun itu hanya riak kecil, yang pada saatnya nanti jika masyarakat kita sudah pada pintar, riak-riak tersebut akan hilang dengan sendirinya.

    Maaf ini pendapat saya, yang merasa tidak hanya hidup di dunia hanya untuk mencari uang, namun ada saatnya kita dimintai pertanggung jawaban.
    Thanks :)

  69. 69 wita November 22, 2007 pukul 9:45 pm

    mengutip lagu dari seurius band: “dokter juga manusia,..”

  70. 70 cakmoki November 23, 2007 pukul 1:51 am

    @ wita,
    hahaha … ya kali :)

  71. 71 abyb Desember 13, 2007 pukul 2:24 pm

    Trim Cak atas infonya…saya lagi cari second opinion nih.
    anak saya (2,4 th, BB 12kg) sering pilek (tidak batuk), terus oleh dokter dimt test darah, tes manthoux & rontgen. hasil tes darah ada 3 yg ktnta tdk normal, KED/LED nya 35-70, segmen 40,limfosit 58. sedangkan tes manthouxnya negatif, hasil rontgent menunjukan bercak-bercak perselubungan peri bronchial (+) & peri hiller kanan (minimal, kelenjar lymphe hillus kanan menmadat, bronchial marking peri hiller kasar sehingga dicurigai PKTB, DD/Allergica bronchitis. melihat hasil ini dokter memvonis flek dan harus minum obat slm 6 bln, tapi tidak langsung saya turuti…karena anak saya nafsu makannya baik dan lincah. saya cari info ke dokter lain, kemungkinan tdk flek/TBC, tapi alergi. Gimana cak? apa hrs tes alergi? mhn sarannya. trim

  72. 72 hendy setyo mulyo Desember 14, 2007 pukul 7:25 pm

    Hallo,

    Mau tanya nih, saya kebetulan skrg dalam masa pengobatan flek paru (sudah 3 bulan). Saya dikasih obat TBC juga oleh dokter yg merawat saya. Dan memang manjur, sekarang saya tidak pernah batuk lagi, berat badan naik terus (dulu sebelum berobat 50kg, skrg sudah 58kg). Nah yang ingin saya tanyakan itu ttg bekas flek di paru2nya. Saya ingin tahu berapa lama bekas flek hitam di paru2 itu hilang? Mohon ada yg bisa menjawab. Makasih.

    Hendy

  73. 73 cakmoki Desember 15, 2007 pukul 12:02 pm

    @ abyb,
    gini, sebenarnya kunci menegakkan diagnosa paling utama adalah pemeriksaan fisik, barulah pemeriksaan penunjang lab, rontgen dll sebagai alat bantu jika dirasa meragukan.
    Kalo keluhan utamanya pilek, bersin atau kadang buntu sih, menurut saya bisa jadi Rhinitis allergica, pilek karena alergi yang sering dipicu oleh: debu, dingin, asap, dll.
    Kalo Rontgen sih gak spesifik untuk anak, apalagi Manthoux test negatif.
    Menurut saya gak perlu test alergi, untuk apa ? Ntar hasilnya bisa puluhan jenis, kan malah repot tuh kalo hasilnya alergi roti, nasi, tepung, gandum dll, bisa puluhan … hehehehe
    Coba ke dokter lain deh, atau beri obat misalnya: actifed syrup, minumnya kalo pas pilek aja.
    Moga berguna :)

    @ hendy setyo mulyo,
    Pertama:
    Obat harus sampai 6 bulan, full ..gak boleh berhenti walau merasa enakan.

    Kedua:
    Setelah 6 bulan dan dinyatakan sembuh, gak ada lagi bekasnya, kecuali kalo ketularan lagi oleh orang lain.

    Moga segera sembuh seperti sediakala :)

  74. 74 wanti Desember 29, 2007 pukul 10:24 am

    5 tahun lalu saya menjalani medical check up sbg syarat family visa disebuah kedutaan. waktu itu hasil/reportnya FAIL karena kata dokter di klinik rujukan kedutaan, dari hasil rontgen, paru2 saya dinyatakan ada flek nya. saya kaget banget karena waktu itu (s/d sekarang alhamdulillah), saya tidak merasa ada keluhan batuk2 atau gejala tbc lainnya.saya jelaskan ke dokter bahwa keperluan visa saya adalah untuk ikut tinggal dengan suami bukan untuk kerja dan menyatakan bahwa saya akan segera berobat sesampai dinegara tujuan, pada akhirnya dokter itu berbaik hati (mungkin gak tega juga karena dulu saya msh pengantin baru)dgn mengganti report saya menjadi FIT dan memberikan resep obat yg harus saya minum utk menghilangkan flek tsb. Tetapi sampai sekarang saya tidak pernah memeriksakan diri ke dokter disini ataupun sekedar mengkonsumsi obat yg diresepkan dokter tsb.alasan saya tidak pergi ke dokter, karena menurut info yg saya dengar dinegara tempat tinggal saya ini sangat ketat ttg kesehatan pendatang, penderita tbc atau paru2 termasuk yang “haram” untuk bisa tinggal disini, kalau terbukti berpenyakit ini maka akan dipulangkan.(gawat kan..jauh dari suami..)

    pertanyaan saya,
    1. flek paru yg tdk ada gejalanya apa ada kemungkinan tbc?dari info yg saya dengar, flek pada paru juga bisa berasal dari polusi asap kendaraan atau udara malam yg dingin, keduanya mungkin terjadi pada saya karena dulu saya pernah kerja dan kuliah malam hari.
    2. obat apa yg harus saya minum?(krn resep obat dari dokter yg dulu..entah terselip dimana..)
    3. apa sekarang saya harus periksa/rontgen lagi ke dokter waktu pulang ke indonesia?

    semoga pak dokter ngga bosen jawab pertanyaan2 dari saya…terima kasih ya pak dokter baik hati!

  75. 75 cakmoki Desember 29, 2007 pukul 4:00 pm

    @ wanti,
    1. Diagnosa ditegakkan atas dasar klinis (wawancara or keluhan or anamnesa dan pemeriksaan fisik). Jika curiga terhadap penyakit tertentu atau meragukan, barulah dilakukan pemeriksaan penunjang, misalnya: rontgen, darah, urine, kimia darah, biakan kuman, dll, dll.
    Repotnya, sebagian dokter kita masih ada yang hanya mengandalkan hasil pemeriksaan penunjang semata, terlebih jika menyangkut medical ceck-up.
    So, pemeriksaan fisik or tanda klinis tetap merupakan prioritas utama, kalaupun dilakukan pemeriksaan penunjang, tetap pada alur sinkronisasi.

    Jika yang dimaksud Flek Paru adalah TBC, maka penyebabnya adalah tertular oleh kuman Mycobacterium tuberculosa, bukan disebabkan dingin, polusi dan sebagainya. Faktor-2 tersebut hanya sebagai pemicu doang bukan penyebab.

    2. Kalau bukan TBC dan gak ada keluhan, gak perlu obat apapun. Dan jika TBC (ini dibuktikan dengan adanya keluhan dan pemeriksaan sputum), maka harus minum obat 6 bulan.

    3. Menurut saya gak perlu kalau gak ada keluhan. Lagipula, kita kan belum tahu diskripsi hasil rontgen-nya. Kalo bisa disalin ntar kita bahas, jangan-jangan hanya dugaan karena ahli radiologi kan memeriksa rontgen tanpa memeriksa pasiennya.

    Moga berguna … :)

  76. 76 Noora Maret 10, 2008 pukul 10:14 am

    Cak,
    Anak saya (11.5 bln,7.25kg/70cm bb lahir 3.2kg) belum didiagosa flek paru atau TB or penyakit yg lain. Kemarin konsul ke dsa ttg betapa BB nya sulit naik, kadang kepalanya anget2 ga jelas, makan sussahhhh bgt.
    Test lab darah (LED 15), urin (menyingkirkan kemungkinan ISK, hasil negatif smua) dan foto thorax (kesan : ada flek, trus infiltrat2 gitu deh n suspect PKTB).Behavior anak ttep aktif, daya tahan tubuh alhamdulillah jarang sakit meski sering travelling). Tidak ada batuk, pilek, bab sehari 1-2 kali tidak diare.

    Kira2 gimana ya Cak baiknya? kalo memang TB saya gpp pengobatan 6 bulan itu. tapi apa yang bisa menegakkan kalo itu memang bener TB?
    tks sarannya

  77. 77 cakmoki Maret 11, 2008 pukul 1:05 pm

    @ nora:
    berarti masalah utamanya BB sulit naik karena ga mau makan.
    Pemeriksaan rontgen pada bayi tidak bisa dijadikan satu-satunya ukuran walaupun menunjukkan ada infiltrat. Suspect artinya dugaan or tidak menutup kemungkinan adanya TB Paru, namun pemeriksaan fisiklah yang paling penting.
    Kalo dsa tidak mengatakan TB (setelah beliau memeriksa anak dan lab penunjang) berarti menurut beliau bukan TB Paru.
    Pemeriksaan penunjang lain kayaknya normal aja tuh.

    Tentang Berat Badan dan ga suka makan sering dikeluhan para orang tua. Menurut saya, anak ga bisa dipaksa makan. Bisa saja si anak sukanya hanya jajanan atau bahkan ga suka makanan apapun, sukanya malah mainan.
    So BB tidak naik belum tentu karena penyakit lho.

    Jika masih ragu dan ibu merasa bahwa anak ada gangguan, boleh second opinion ke dsa lainnya.

    Atau bisa juga konsul ke dokter spesialis paru, jika curiga TB paru.

    Di tempat kami, ada puluhan anak didakwa TB paru (flek paru) trus minum obat 6 bln hingga ada yang 2 tahun, setelah selesai tetep saja.

  78. 78 yanti Maret 18, 2008 pukul 1:05 pm

    Cak Moki,

    Mau curhat sedikit nih. Naila (4 thn) sudah 3 minggu lebih batuk2. Tanpa panas, tanpa pilek. Nafsu makan baik, anaknya juga tetap lincah. Kemarin2 ini batuk biasanya malam menjelang tidur dan saat bangun pagi. Tapi nggak pernah terbangun malam untuk batuk2, alias tidurnya nyenyak. Seminggu belakangan batuknya kira2 jam 8-12 siang (bukan malam lagi).

    Setelah 2 minggu diberi Cefat dan obat batuk oleh DSA langganan, saya ‘naik banding’ ke DS Paru2 Anak. Oleh beliau dicurigai asma karena saya punya riwayat asma. Tapi karena dengan Ventolin nggak membaik juga, akhirnya beliau minta Naila ditest PPD (mantoux), rontgen paru2 & lateral, dan test darah (darah rutin, morfologi darah tepi, IgE, dan SGOT/SGPT tanpa LED).

    Harilnya:
    - PPD negatif (0 mm)
    - Rontgen, oleh DS Radiologi ditulis terdapat bercak dan noda keras, suspect TBC
    - Nilai2 darah rutin normal, lekosit 6500, morfologi tidak terdapat sel lekosit muda, IgE cukup rendah dalam batas normal (saya lupa persisnya).

    Dengan hasil ini, DS Paru2 Anak nggak berani menegakkan diagnosa TBC. Kemungkinan alergi juga kecil karena IgEnya rendah. Beliau menyarankan untuk menunggu dua minggu, bisa jadi ini adalah infeksi virus dengan penyembuhan yg lama. Dan Naila hanya diberi puyer kombinasi Ventolin dan Mucopect.

    Tapi beliau minta, kalau 2 minggu ke depan masih tetap batuk2, kemungkinan besar terapi TB akan dimulai.

    Kalau sempat, saya minta tanggapan Cak Moki ya :). Makasih banget sebelumnya…

  79. 79 cakmoki Maret 19, 2008 pukul 2:54 am

    @ yanti:
    iya, nampaknya tidak mengarah ke TB Paru.
    Bisa jadi emang virus. Bisa pula asma or alergi walaupun lab gak mendukung.
    Adakalanya anak mengalami batuk hingga berminggu-minggu dan pada pemeriksaan penunjang ga ditemukan kelainan apapun.
    Kita tunggu 2 minggu ke depan, moga sebelum itu Naila udah sembuh.

    Thanks share-nya :)

  80. 80 yanti Maret 24, 2008 pukul 8:44 am

    makasih juga ya Cak :). yang saya rada penasaran, kira2 vlek & noda2 di paru2nya itu karena apa, kalau bukan TBC?

    @ yanti:
    Jika hasil follow up nanti ternyata bukan TB Paru, bercak atau noda-noda di paru bisa saja: dahak, peradangan lokal oleh mikrorganisme selain TB, gambaran peningkatan pembuluh darah, kelenjar getah bening, dll.
    Trims

  81. 81 hendy setyo mulyo Maret 29, 2008 pukul 3:01 am

    Halo Cak Moki,

    Skrg ini terapi TB saya sudah 6 bulan.
    Berat badan saya sudah naek 15kg dibanding saat awal pngobatan. Bulan lalu saya dirontgen dan tampak ada perbaikan meskipun bayangan vleknya belum hilang benar. Akhirnya oleh dokter saya disuruh melanjutkan pengobatan dan 2 bulan lagi saya akan dirontgen lagi untuk mengetahui perkembangannya lagi. Akan tetapi akhir2 ini saya merasakan adanya sesak nafas sedikit meskipun tidak pernah batuk. Jika saya berolahraga sesak nafas saya ini hilang, tapi jika tidak, maka muncul kembali. Apakah sesak nafas saya ini bisa dibilang normal, karena saya belum 100% sembuh total?
    Terima kasih sbelumnya.

  82. 82 cakmoki Maret 29, 2008 pukul 10:09 am

    @ hendy setyo mulyo:
    halo :)
    adakalanya keluhan sesak timbul walaupun sudah dinyatakan sembuh, ini karena “bekas” TB yg menimbulkan “gejala sisa” di saluran pernafasan.
    Kita tunggu hingga 2 bulan ke depan. Tapi kalaupun setelah sembuh total keluhan tersebut masih ada, gak papa.
    Moga segera pulih kembali
    Trims

  83. 83 wawan April 1, 2008 pukul 11:39 pm

    Malem cak ….
    mau cari 2nd opinion berbasis web :D,
    Tadi sore mrikasiin si kecil umur 8.5 tahun. Udah batuk berdahak (tapi batuknya ngak sering2, ngak ngikil kata orang jawa). Kalo malem berkeringat (sejak kecil kalo tidur begitu, berkeringat). Setelah diperiksa ada benjolan di sekitar leher, paru-paru bersih (via rotngen). BB badang datar…. ngak naik juga ngak turun, anaknya lincah, main bola, renang dan makannya baik.

    kemudian diperiksa darah,hasilnya

    Hemoglobin 12,4
    Leukosit 7.400
    NETROFIL batang 2
    NETROFIL SEGMEN 47
    Limfosit 44
    LED 1 jam 10

    Kemudian dikatakan kemungkinan TB (Flek) dan diberikan obat,
    pronicylage
    salbutamol
    trilac
    mucopet
    aminophylin
    inoxin
    rifampicin

    Menurut cak bagaimana apakah sy perlu melakukan test BTA dulu sebelum memberikan obat

    terima kasih sebelumnya

    wawan-jogja

  84. 84 bunda lia April 5, 2008 pukul 2:06 pm

    salam kenal….
    setahun yang lalu anak saya Hatta (6 tahun) di diagnosa terkena flek paru ( dari hasil rontgen-ada bercak, test darah dan BB yang susah naik). Setelah 1 thn pengobatan, saya rasa kok tidak ada perubahan, masih sering batuk (terutama malam hari), BB tetap susah naik (saya sampai sering sedih melihat Hatta yg kurus sekali), saya hentikan pengobatan tanpa konfirmasi ke Dokternya, dengan pertimbangan saya kasihan dgn Hatta yg harus mengkonsumsi obat-obatan terus (dengan hasil yg tidak memuaskan )dan saya sangat mengkhawatirkan keadaan ginjalnya.
    Apakah Hatta terkena asma bukan flek paru? Apa ciri anak yg menderita asma? Apakah ada hubungannya antara asma dan BB yang susah naik?
    Menurut Cakmoki, apa yg harus saya lakukan? Terus terang saya sangat bingung dgn kondisi Hatta, saat ini saya hanya berusaha menjaga pola makannya(makannya lumayan,tp klo lagi sakit langsung drop) sehari 3 kali,memberi Vitamin (seven seas) dan susu.Tp saya masih ragu apakah flek parunya(kalau memang benar) sudah hilang(dgn melihat kondisi Hatta yg sedikit sekali perubahannya)?

  85. 85 cakmoki April 5, 2008 pukul 5:03 pm

    @ wawan:
    maaf ketinggalan :)
    Hasil lab dan rontgen tidak menunjukkan TB Paru.
    Sedangkan obat di atas adalah gabungan antara obat TB dan obat asama atau batuk berdahak.
    Pembesaran kelenjar leher (limfadenitis) tidak serta merta menggambarkan TB. Bisa karena sebab lain semisal: penjalaran infeksi saluran nafas atau reaksi infeksi.

    Dokter tersebut tidak salah karena beliau hanya mengatakan kemungkinan dan belum menetapkan skedul pengobatan.

    Saya sependapat, periksa BTA lebih dahulu untuk memastikan, namun harap diingat bahwa pemeriksaan BTA sangatsulit, apalagi pada anak.
    Semoga segera teratasi dn pulih seperti sediakala :)

    Sekali lagi mohon maaf atas keterlambatan jawaban ini.

    @ bunda lia:
    salam kenal juga :)

    Hail rontgen pada anak sangat sulit untuk menentukan diagnosa TB paru, …lagipula, bercak tersebut bisa disebabkan oleh berbagai hal, diantaranya: gambaran infeksi, gambaran peningkatan vaskularisasi (pembuluh darah) yg biasa terjadi pada bronkitis dan asma.

    Menurut saya, dengan tidak adanya perubahan setelah pengobatan TB selama 1 tahun (mestinya 6 bulan udah bersih kalo emang benar TB paru), bisa jadi bukan TB Paru, dan tidak menutup kemungkinan perkiraan ibu benar bahwa anak menderita asma.

    Tanda asama bergantung pada gradasinya, jika berat akan terdengar suara khas (mengi) karena sesak terutama saat udara dingin semisal pada malam hari. Pada asma ringan, tak ubahnya seperti batuk alergi yang lain, yakni: sering batuk terutama malam hari, kadang nafas berat dan biasanya anak belum merasa sesak, namun dokter akan mengetahui tanda-tanda sesak ringan dengan melihat tarikan otot diantara iga dan waktu ekspirasi yang relatif lebih panjang dari normal (dengan pemeriksaan stetoskop).

    Adapun berat badan pada anak umur segitu adakalanya susah naik karena aktifitasnya relatif tinggi.

    Menurut saya tak ada salahnya konfirmasi ke dokter spesialis paru, sekaligus menceritakan bahwa anak sudah mendapatkan pengobatan TB selama 1 tahun (kalo bisa dengan copy resepnya)

    Moga penjelasan ini membantu, teriring do’a mudah-mudahan ananda segera sehat kembali :)
    trims

  86. 86 INDRA April 9, 2008 pukul 10:27 am

    Dengan Hormat,

    Saya adalah orang yang beraktivitas dari pagi hingga malam hari, sehubungan dengan pekerjaan dan studi saya. dalam keseharian saya menggunakan sepeda motor.

    2 minggu yang lalu, saya didiagnosa bronchitis acut. dari hasil rongent radiolog mengatakan “gambaran bronchitis. tak tampak aktif KP”. setelah membaca hasil rontgen dokter saya juga mengatakan bahwa tidak ada TBC. saya diberikan obat-obat sebagai berikut,
    5 hari pertama diberikan:
    1. Dexaflox, sehari 2 x 1 tablet setiap 12 jam ;
    2. Ambroxol, sehari 3 x 1 tablet.

    pada saat kontrol dokter menilai dahaknya masih “bandel”, saya diberikan obat sebagai berikut :
    1. Dexaflox, sehari 2 x 1 tablet setiap 12 jam ;
    2. 2 jenis obat lainnya yang katanya pengganti ambroxol (saya lupa namanya)yang katanya keduanya untuk batuk, hanya fungsinya yang satu untuk mengencerkan dahak, dan yang satu lagi untuk mengeluarkan dahaknya.

    yang ingin saya tanyakan :
    1. pada saat sakit saya berkeringat cukup banyak, apakah benar ini adalah salah satu gejala bronchitis ? saya takut ini adalah TB.

    2. Pada saat sakit kemarin, saya pernah mengeluarkan dahak berdarah tetapi hanya terjadi pada pagi hari saja (siang dan malam dahaknya biasa), darahnyapun tidak terlalu banyak (dahaknya lebih dominan) saya menduga ini akibat dari saya terlalu kencang berdahaknya. apakah ini juga bisa terjadi pada penderita bronchitis ? saya takut, karena setahu saya ini adalah salah satu gejala TB.

    3. Kemarin (8 April 2008) obatnya sudah habis, tapi saya masih mengeluarkan dahak berdarah, walaupun sekarang dahaknya hanya bercak saja dan frekuensinya sudah sangat sedikit. sayapun masih suka batuk terutama jika kedinginan, oleh karena itu jika tidur saya menggunakan jaket. apakah ini biasa dalam proses penyembuhan ?

    4. Kondisi badan saya sudah normal (tidak demam), keringat normal, aktivitas juga sudah lancar. dokter saya bilang kalau sudah tidak apa-apa tidak usah kontrol lagi. tapi saya masih mengeluhkan dahak dan sedikit batuk. bagaimana saran bapak ?

    5. Berat saya saat ini 97 Kg, nafsu makan juga normal (terus terang makan saya cukup banyak). dokter saya mengatakan dengan berat segitu, kemungkina TB sangat kecil. apakah benar demikian ?

    6. apakah benar orang yang menggunakan sepeda motor lebih rentan terkena bronchitis ?

    7. saya pernah membaca dalam dalam “cover” obat KONIDIN. disitu dikatakan bahwa KONIDIN dapat mengurangi batuk sisa-sisa bronchitis. apakah mungkin batuk yang masih “bandel” ini adalah yang dimaksud batuk sisa-sisa bronchitis ? lalu apakah minum KONIDIN juga adalah solusinya ?

    Terima kasih, mohon jawabannya.

  87. 87 cakmoki April 10, 2008 pukul 4:11 am

    @ INDRA:
    dengan hormat, * ehm, formal banget…santai aja ah :) *

    1. Enggak. Rata-rata jika demam akan keluar keringat banyak, apalagi dengan berat badan segitu. Pun demikian pula pada batuk yang berat. So, keringat banyak bukan berarti menunjukkan kedua penyakit di atas.

    2. Keluar darah saat batuk bisa terjadi pada semua batuk yg kencang karena iritasi saluran pernafasan. Memang benar, salah satu tanda TBC diantaranya keluar darah saat batuk, tapi bukan berarti kalo batuk ada darah lantas disebut TBC. Lagipula hasil pemeriksaan fisik maupun Rontgen bukan TBC.

    3. Ya, ntar batuk tersebut akan berangsur hilang, kadang hingga lebih seminggu atau bahkan 2-3 minggu seperti halnya batuk karena alergi. Gak papa, yg penting udah diobati dan bukan TBC.

    4. Saran saya, teruskan obat pengencer dahak (ekspektoran), misalnya: ambroxol atau bromhexin atau carbocistein atau glyceril guaicolate. Dan minum air hangat dalam jumlah banyak sebagai ekspektoran (untuk mempermudah pengeluaran dahak)

    5. Tidak. Semua orang (dengan berat tubuh berapapun) bisa kena TBC jika ada sumber penularan disekitarnya dan kondisi tubuh pas tidak sehat.

    6. Benar. Karenanya dianjurkan menggunakan pelindung dada dengan kertas koran atau plastik atau jaket kulit yang setidaknya dapat mengurangi terpaan angin or embun secara langsung. Dan kalo perlu menggunakan pelindung wajah untuk menghindari debu.

    7. Menurut saya jangan menggunakan konidin mengingat obat tersebut mengandung (salah satunya): dekstrometorfan yang bekerja menekan batuk dan di sisi lain menimbulkan penyempitan saluran nafas (bronkus), sehingga dahak gak bisa keluar, bisa-bisa malah sesak. Emang kebanyakan obat batuk (yang dilempar di pasaran) di Indonesia hampir selalu diembel-embeli klaim bisa untuk segala jenis batuk, namanya juga jualan…bahkan iklan beberapa obat batuk, sekali minum langsung sembuh….hehehe.

    Moga penjelasan singkat ini bermanfaat, teriring do’a mudah-mudahan segera sembuh … thanks.

  88. 88 INDRA April 10, 2008 pukul 3:00 pm

    Terima kasih jawabannya pak dokter.

    ada beberapa lagi yang lupa saya tanyakan.

    1. Dokter saya menyarankan agar saya berolahraga renang. bagaimana mekanismenya sehingga renang dapat membantu menyembuhkan/mencegah bronchitis ? bukankah orang bronchitis harus menghindari dingin ?

    2. apakah ambroxol, bromhexin, carbocistein dan glyceril guaicolate bisa dibeli tanpa resep dokter ? mana yang lebih baik diantara obat-obat tersebut ? lalu berapa kali sehari dan selama berapa hari ?

    Terima kasih sebelumnya.

  89. 89 cakmoki April 10, 2008 pukul 4:32 pm

    @ INDRA:
    1. Benar. Renang adalah salah satu olahraga (berat) yang dapat meningkatkan ketahanan tubuh karena semua anggota badan aktif bergerak. Ini akan memperlancar peredaran darah dan metabolisme dalam tubuh kita, sehingga daya tahan (terutama) paru-paru dan jantung akan meningkat dan otomatis menjadi lebih sehat. Hanya saja olahraga ini sulit untuk dilakukan secara rutin, namun jika bisa rutin tentu sangat menguntungkan.

    2. Bisa. Sama aja koq, semuanya berfungsi mencairkan dahak dan memudahkan pengeluaran dahak, cuman cara kerjanya yang berbeda. Setiap orang gak sama,ada yg merasa enak dengan ambroxol, ada yg enak dengan bromhexin, dst…bahasa awamnya: cocok-cocokan.
    Cara minum sama: 3×1 sehari, bisa diminum dalam jangka lama

    Thanks :)

  90. 90 91 April 14, 2008 pukul 3:18 pm

    cak, mau tanya. kalau udah dinyatakan sembuh dari TB, apakah bisa muncul lagi?
    teman dekat saya ada yang dinyatakan paru-paru basah kalau gak salah ada tambahan ‘kondisi seperti tbc’. dia dalam pengobatan dan katanya, obatnya mirip dengan obat untuk TB. kebetulan, 1 atau 2 tahun yang lalu, dia juga pernah didiagnosa tb. hari ini masuk bulan ke-5 pengobatan dari 6 bulan pengobatannya.
    waktu dia masih sma dulu, dia cukup aktif merokok. tapi, menjelang masuk kuliah, dia sudah tidak merokok aktif lagi. hanya sesekali dan bisa dihitung dengan sebelah tangan dalam 4 tahun terakhir ini. tetapi, lingkungan di sekitarnya merupakan perokok aktif. ayah, kakak, kakak ipar dan beberapa temannya suka merokok. apakah ini adalah salah satu pencetus? karena setau saya, TB juga diakibatkan perokok pasif. kebetulan juga, ayahnya dulu pernah TB. apakah dia tertular oleh ayahnya? tapi, itu pun masa waktu dia smp atau sma. jadi udah lama.
    waktu dia pertama kali tb, dia sbenarnya harus dirawat dan disedot cairan paru. tapi tidak dilakukan dan dibolehkan untuk rawat jalan. kalau gak salah setelah 6 bulan pengobatan gratis dari rmh sakit, dia dinyatakan sembuh.
    lalu, waktu bulan november 2007 kemarin, dia merasakan gejala yang mirip dengan yang sebelumnya. setelah itu, dia kembali ke tempat dia berobat pertama kali, dan didiagnosa sama dengan penyakit yang dideritanya 1-2 tahun yang lalu.
    karena gak percaya, dia cek ke dokter paru. kebetulan, di kota kami ada rmh sakit khusus paru. di sana di rontgent, bta, cek darah, dll. saya lupa hasilnya apa aja. yang pasti, diagnosis dokternya adalah seperti yang saya tuliskan di atas (kurang lebih yang saya pahami adalah begitu).
    di awal pengobatannya yang sekarang, dia disedot cairan paru. setelah disedot, dia merasa enakan. napas gak terlalu sesak lagi. sekarang juga dah naik berat badannya. dulu itu, 56-an. tadi baru dicek, 64. batuk udah nggak. cuma katanya, dia merasa pada dada-nya masih terasa…apa ya? bisa dikatakan masih belum enak banget (kalo gak salah, ini waktu bulan lalu). waktu ditanyakan pada dokter yang merawatnya, katanya ‘karena masih pengobatan. gak apa-apa.’ tapi, dia masih khawatir.
    akhir-akhir ini teman saya jadi cukup khawatir dengan tes kesehatan saat masuk kerja. apakah akan berpengaruh, cak? maksudnya, saat tes masuk kerja tentunya ada medical check-up yang tempatnya telah ditentukan oleh perusahaan tempat melamar. apakah dengan rontgent yang mungkin masih tergambar adanya flek pada paru atau bercak pada paru akan menghambatnya dalam melamar pekerjaan? eh, apa ini salah konsul ya? kalo gitu, minta pendapat ya…
    maaf kalo banyak banget curhat-nya..
    thx b4.

  91. 91 cakmoki April 14, 2008 pukul 5:48 pm

    @ 91:
    Kalo udah dinyatakan sembuh beneran (setelah minum obat 6 bulan) dan dibuktikan dengan hasil cek BTA, maka gak akan muncul lagi, kecuali tertular lagi dari sumber penularan di sekitarnya, ini dinamakan reinfeksi, bukan kambuhan….berbeda lho :)
    Sedangkan adanya cairan (pleural effusion/efusi pleura) bisa jadi karena TB-nya yang menyebabkan penjalaran infeksi ke pleura dan timbul cairan sehingga emang harus disedot sampai habis agar dada tidak merasa berat dan sesak.
    So, selain mengobati penyakit primernya (TB), dokter yg merawat juga mengobati “efusi pleura” dengan menyedot secara berkala sesuai hasil rontgen serta obat-obatan yg dianggap perlu oleh dokter.

    Tentang melamar pekerjaan:
    Jika sudah sembuh, gak ngaruh… sebaiknya pakai rekomendasi dokter Paru yang merawat, karena kalo rontgen ulang trus dokter perusahaan gak ngerti kronologisnya, bisa-bisa main vonis hanya berdasarkan rontgen baru yang gak selalu sama dengan rontgen follow up dari dokter paru.
    Karenanya, sekali lagi mintakan rekomendasi hasil pengobatan setelah sembuh untuk kepentingan apapun, termasuk melamar pekerjaan.

    Moga penjelasan singkat ini berguna…Trims :)

  92. 92 91 April 16, 2008 pukul 8:26 am

    mmm…begitu ya…
    terima kasih, ya, cak.

    btw, tentang reinfeksi, apakah setelah masa pengobatannya yang sekarang ini -selama dia berada dalam ketahanan tubuhnya yang menurun- saat terkena atau berinteraksi dengan teman atau orang lain yang terkena tb, dia akan terkena tb lagi?
    apakah perlu meminum suplemen makanan, seperti stimuno, supradyne atau semacamnya agar ketahanan tubuh tetap terjaga baik setiap hari?
    apakah perlu adanya pemeriksaan berkala setelah masa pengobatan 6 bulan, walaupun udah dinyatakan sembuh oleh dokter paru, cak?

    thx b4..

  93. 93 cakmoki April 17, 2008 pukul 1:36 am

    @ 91:
    iya, kemungkinan re-infeksi hanya terjadi ada sumber penularan dan dalam kondisi seperti diatas. Itupun masih perlu dibuktikan dengan pemeriksaan fisik dan penunjang ( dahak, rontgen ).

    Suplemen artinya konsumsi vitamin dan mineral. Jika kita sudah makan dan minum cukup gizi, mengandung karbohidrat, lemak, protein, sayur mayur, lauk pauk dan buah dalam jumlah cukup, suplemen tidak diperlukan lagi karena hakekatnya, suplemen yg dijual isinya sama dengan yg kita makan sehari-hari dalam makanan dan minuman.

    Pemriksaan berkala tidak begitu diperlukan jika sudah dinyatakan sembuh oleh dokter sp paru, kecuali jika ada keluhan yang tanda-tandanya mirip dengan saat pertama kali menderita TB. Gak mesti mengarah ke TB lantaran seseorang yg sembuh dari TB kadang mengeluh sesak, batuk, nyeri dada, bahkan batuk darah ..dll..padahal udah sembuh. Keluhan semacam ini dinamakan sequelae atau “gejala sisa’, bukan berarti masih ada sisanya lho…ilustrasinya begini: kalo kita kena sayat pisau, lantas diobati hingga sembuh, tak jarang meninggalkan “sisa” or “bekas” luka, …seperti inilah yg dimaksud dengan sequelae.

    Thanks

  94. 94 91 April 19, 2008 pukul 7:32 am

    Oooh…begitu….
    yup! saya sudah cukup mengerti sekarang.
    terima kasih, cakmoki.

    oya, maksud “tidak ditemukan kuman (atau basil ya?) TB” apa? apa berarti hasil bta (atau hasil lab penunjang lain) negatif?

    thx b4…

  95. 95 cakmoki April 19, 2008 pukul 2:23 pm

    @ 91:

    oya, maksud “tidak ditemukan kuman (atau basil ya?) TB” apa? apa berarti hasil bta (atau hasil lab penunjang lain) negatif?

    betul :) .. jika BTA (-) 3 x pemeriksaan, berarti ok

  96. 96 rezt April 22, 2008 pukul 7:04 pm

    duh..ribet nih..curhat gpp ya..lg cari bahan tentang TBC..pusing..
    gak lagi-lagi dah..

  97. 97 cakmoki April 23, 2008 pukul 1:07 pm

    @ rezt:
    hehehe, bukan di sini kalo cari bahan…ini mah menyangkut aplikasinya ke pasien dan masalah diagnosa terutama bagi anak.
    Moga dapat bahan bagus di http://www.emedicine.com :)

  98. 98 INDRA April 25, 2008 pukul 10:47 am

    Indra lagi nih pak dokter. manu nanya :

    Frekuensi batuk saya sudah sangat berkurang. tetapi kenapa yah dahaknya masih saja ada, terutama pagi hari. bahkan pagi hari terkadang dahaknya sangat kental warnanyapun hijau dan kadang2 kemerahan. Apakah mungkin awalnya bronchitis lalu bisa merembet jadi TB ?

  99. 99 cakmoki April 26, 2008 pukul 6:44 pm

    @ INDRA:

    Apakah mungkin awalnya bronchitis lalu bisa merembet jadi TB ?

    Enggak, kalo Bronkitis ya Bronkitis sedangkan TBC disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosa. Keduanya adalah penyakit yang berbeda, lagi pula TBC adalah penyakit menular, so kalaupun seseorang yg tadinya misalnya menderita bronkitis lalu menderita TBC berarti TBC-nya karena ketularan dari orang lain entah di mana dan entah kapan terjadinya.

    Ato, bisa pula ekspektoran di atas dikombinasi dengan bronkodilator, yakni obat untuk melebarkan saluran pernafasan agar dahak lebih mudah keluar. Obat ini biasa dipakai untuk asma, tapi bisa juga untuk bronkitis. Apalagi jika penderita bronkitis merasa berat or ampek saat bernafas.
    Contoh: Euphyllin retard mite 125 mg, diminum 2-1/2 atau 2×1. Atau salbutamol 2 mg diminum 3×1/2 tablet (supaya gak berdebar)… hingga batuk berdahak hilang.

    Berarti, dapat menggunakan salah satu dari bronkodilator (euphyllin or salbutamol) dan salah satu dari ekspektoran (bromhexin, ambrokxol, dll).

    Catatan:
    Semua obat bronkodilator memiliki efek samping berdebar or lemes, karenanya dosis yang saya anjurkan di atas adalah dosis rendah untuk menghindari efek samping. Jika dengan dosis normal gak mengalami efek samping, bagusnya pakai dosis normal.

    Dalam praktek sehari-hari adakalanya digunakan kombinasi Bronkodilator, ekspektoran dan kadang ditambah dengan steroid.

    Moga segera sembuh

  100. 100 91 April 27, 2008 pukul 10:17 am

    sip!
    terima kasih atas info dan saran-sarannya, cakmoki…

  101. 101 cakmoki April 27, 2008 pukul 3:55 pm

    @ 91:
    sama-sama…Trims :)

  102. 102 INDRA April 29, 2008 pukul 6:35 pm

    sekali lagi nih dok, bener deh setelah ini saya gak nanya lagi, he3.

    waktu hari sabtu kemaren saya dites dahak, dengan sistem SPS (Sewaktu – Pagi – Sewaktu), karena kata dokter tes dahak lebih akurat dari rontgen. hari sabtunya diambil sampel, dan dikasih obat salbutamol 2×1 dan GG 3×1. sampel berikutnya diambil senin. anehnya pada saat hari senin pagi dahaknya malah gak mau keluar, begitu pula siangnya. yang keluar hanya dahak biasa, bahkan lebih banyak ludahnya. Petugas laboratorium malah berkata : “dilihat dari warnanya saja negatif pak, mungkin bapak cuma alergi, tapi tetap akan kami tes”. hasil tes itu belum saya bawa, mungkin besok baru saya bawa.

    Anehnya lagi tadi pagi dan sore ini (sesaat sebelum saya menulis pesan ini), keluar lagi dahak yang mencurigakan. Mungkin karena faktor psikologis kali ya dok, pas mau dites malah gak keluar. yang membuat saya makin penasaran, saya selalu berkeringat malam (biasanya tidak sebanyak sekarang)

    Untuk memenuhi rasa penasaran saya, adakah cara lain untuk mengetes TB selain rontgen dan tes dahak, misalnya dengan tes darah? dan biasanya biayanya berapa, jawab ya dok….terima kasih.

  103. 103 cakmoki April 30, 2008 pukul 3:42 pm

    @ INDRA:
    yaaaaaa … boleh dong…kita kan diskusi, tentu sangat bermanfaat bagi saya dan mungkin bagi yang lain.

    Emang bener bahwa tes dahak (BTA) adalah tes paling akurat dibanding lainnya untuk memastikan TB Paru, so gak diperlukan Tes Darah … ntar malah buang duit yang gak ada manfaatnya.

    Disamping keakuratannya, Tes Dah juga dikenal sangat sulit, karena gak mudah mengeluarkan dahak, seringnya malah liur, dimana-mana gitu dan itu juga disebutkan dalam referensi, walaupun udah dikasih ekspektoran seperti GG. Jalan lain, dosis GG nya ditambah menjadi 4×2, kalaupun masih sulit saat tes Dahak karena berbagai faktor, setidaknya ada hasil Tes Dahak walaupun tidak full SPS.

    Adapun keluar keringat banyak pada malam hari, tidak serta merta mengarah pada penyakit tertentu, banyak faktor yang mempengaruhinya.

    Ditunggu hasilnya ya :)
    Trims

  104. 104 INDRA Mei 2, 2008 pukul 9:15 am

    Ternyata bener dugaan sang laboran itu dok…
    hasilnya negatif…

    A : Sewaktu, Sputum, Negatif
    B : Pagi, Liur, Negatif
    C : Sewaktu, Liur, Negatif

    yang B dan C gak ada dahaknya tuh dok… cuma liur doang.
    apa dengan data demikian sudah cukup untuk menyimpulkan ?

    terima kasih

  105. 105 cakmoki Mei 2, 2008 pukul 2:18 pm

    @ INDRA:
    Menurut saya, kalo hasilnya seperti di atas dan setelah dicocokkan dengan penjelasan dokter, hasil Rontgen serta obat-obat yg beliau berikan, udah cukup untuk menyimpulkan.

    Terimakasih :)

  106. 106 hendy setyo mulyo Mei 3, 2008 pukul 1:48 pm

    Halo Cak Moki,

    Mau nanya lagi nih, teman saya setelah mengetahui saya kena TB dia langsung menanyakan apakah penyakit saya ini menular ato ngga. Tapi waktu saya diperiksa ke dokter 7 bulan lalu, dokter yg periksa saya bilang kalo TB saya ini ga menular. Yg ingin saya tanyakan, TB sperti apa yg menular dan ga menular? Soalnya kalo TB saya memang menular, berarti orang2 yg dekat dg saya sperti orangtua dan kakak2 saya serta keponakan saya jg bisa ketularan, namun nyatanya mereka baek2 saja hingga kini. Dan kalo penyakit saya ini bukan TB, tp saya sudah minum obat TB hingga kini kondisi badan saya makin membaek dan sudah hampir sembuh. Mohon pencerahannya.
    Makasih banyak :)

  107. 107 cakmoki Mei 3, 2008 pukul 3:05 pm

    @ hendy setyo mulyo:
    Halo,
    Ok, tempo hari udah kita bahas… dan setelah saya scroll ke atas ternyata jawaban saya emang kurang jelas, maaf ya :)

    Pada dasarnya TB Paru adalah penyakit menular yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosa. Jika seorang penderita TB diobati (6 bulan) dan dinyatakan sembuh (dibuktikan dengan pemeriksan dahak dan rontgen), maka tidak akan menular lagi karena kumannya udah tidak ada. Kalaupun ada keluhan batuk or sesak, bisa jadi karena “gejala sisa” atau sequelle,…kayak orang yang kena pisau, lantas lukanya sembuh tapi masih ada guratannya, padahal udah gak infeksi,..seperti itulah ilustrasinya.

    Adapun penularan penyakit, dalam hal ini TB paru, dipengaruhi oleh:
    (a) daya tahan tubuh seseorang, artinya jika seseorang daya tahan tubuhnya bagus, maka kuman Mycobacterium tuberculosa tidak akan menyebabkan sakit kendati deket dengan penderita TB. Tapi sebaiknya semua anggota keluarga diperiksa untuk mengetahui tertular tidaknya oleh penderita.

    (b) kuman Mycobacterium tuberculosa. Jika jumlah kuman yang masuk tubuh sedikit dan daya tahan tubuh bagus, maka seseorang tidak akan tertular, demikian pula sebaliknya.

    (c) faktor linkungan. Kondisi lngkungan yang kurang sehat, misalnya kurang ventilasi, lembab, kumuh dan sejenisnya, maka akan memudahkan penularan TB paru.

    Ketiga faktor tersebut saling berkaitan satu dengan lainnya.

    Pada umumnya, setelah 6 bulan pengobatan dan dinyatakan sembuh, seorang penderita akan sembuh kecuali ketularan oleh orang lain. Bisa saja udah sembuh total tapi masih ada semacam bercak sebagai “gejala sisa” or sequelle. ini bukan berarti masih ada penyakitnya, namun lebih kepada sikap hati-hati seorang dokter, sehingga adakalanya menambah masa pengobatan 1-3 bulan.
    Orang yang sudah sembuh dari TB bukan penderita TB lagi. Pernah sakit TB sih emang iya, tapi udah sembuh dan gak ada kumannya.
    Hanya sja di masyarakat kita, jika seseorang pernah menderita suatu penyakit menular, seolah-olah penyakitnya masih ada, kayak digembol terus dalam tubuhnya, ..hehehehe.
    ini makin diperparah oleh ungkapan-ungkapan yang sering kita dengar di masyarakat kita.

    Contoh:
    Seseorang berkata: “Saya punya Tifus”. Padahal dia menderita Tifes misaknya udah 3-4 bulan yang lalu. Ungkapan gini kan seolah-olah tifes-nya kerasan dan masih ngendon dalam tubuh kita. Padahal dia seger waras.

    Moga bermanfaat :)

  108. 108 hendy setyo mulyo Mei 7, 2008 pukul 3:22 am

    Halo Cak Moki,

    Terima kasih atas penjelasannya yg benar2 jelas :D. hehe. Mau tanya satu hal lagi, bekas sisa sperti sesak nafas, batuk2 setelah dinyatakan sembuh itu akan berlangsung berapa lama ya? Apakah ada obat untuk menghilangkan bekas sisa itu?
    Makasih banyak.

    Hendy

  109. 109 DEWI ZAKIAH Mei 7, 2008 pukul 2:21 pm

    Mau nimbrung ni cak!
    Anak kedua saya sudah dua minggu ini mengkonsumsi obat TB. Karena hasil diagnosa (tes rontgen, tes mantoux)dikatakan bahwa anak saya positif TB. Tapi sy masih belum yakin bahwa anak saya positif TB, karena anak saya tidak mengalami panas yang turun-naik, trus nafsu makannya juga tidak masalah, cuma memang berat badannya dua bulan terakhir memang agak menurun, tapi menurut saya itu dikarenakan ia kurang istirahat (sekolah pagi-sore). Asal mulanya divonis TB adalah: 1 tahun yang lalu anak saya batuk2 dan di lehernya seperti ada kelenjar. waktu itu saya kira anak saya kena kanker KGB, kebetulan kakak ibu saya mengidap penyakit tsb. Namun setelah dibiopsi hasilnya adalah “kemungkinan gejala Spesifik (gejala TB)” trus setelah 2 minggu minum obat, saya tanya ke dokter lain dan saran dari dokter tersebut adalah “kalau masih bisa diobati dengan minum susu dan makan teratur, lebih baik diobati dengan itu saja daripada harus minum obat sampai 6 bulan, toh hasilnya masih kemungkinan gejala” waktu itu saya fikir saran dokter tersebut bisa diterima dan akhirnya saya tidak melanjutkan pengobatan. Nah pada 2 bulan terakhir ini anak sy kembali batuk-batuk, kemudian saya bawa ke puskesmas, pada dokter puskesmas saya ceritakan kasus 1 tahun yang lalu tersebut dan saya disarankan untuk membawa anak untuk tes mantoux dan foto. Hasinya adalah anak saya positif TB.Gmana menurut pendapat Dokter? sy jadi khawatir, karena menurut informasi yang sy terima bahwa obat TB memberikan efek samping yang buru kepada hati dan ginjal, benarkah itu? Trim’s sebelumnya.

  110. 110 cakmoki Mei 8, 2008 pukul 3:11 pm

    @ hendy setyo mulyo:
    ok, sama-sama.
    Gejala sisa gak mesti bisa dihilangkan, bergantung kepada bentuk dan keluhan yang menyertainya, adakalanya reversibel adakalanya kambuh jika terpapar faktor pemicu, misalnya: dingin, debu, asap dan sebagainya. Demikian pula lamanya keluhan akibat gejala sisa gak bisa ditentukan, namun bisa dikendalikan sesuai dengan keluhannya.
    Trims :)

    @ Dewi Zakiah:
    ok, setelah membaca kronologis sejak “diduga” TB Kelenjar, dan hasil pemeriksaan penunjang saat ini, emang sebuah dilema.
    Jika saat ini dasar diagnosa TB adalah berat badan yang agak menurun ditambah Mantoux Test dan Rontgen, sebaiknya periksa ke dokter lain untuk mendapatkan second opinion (kalau perlu ke dokter spesialis paru) dengan menceritakan ulang kronologisnya, membawa hasil pemeriksaan dan copy resep obat.
    Jika setelah diperiksa ulang oleh dokter lain ternyata emang TB, maka seyogyanya melanjutkan pengobatan TB. Demikian pula sebaliknya, jika dinyatakan bukan TB, sebaiknya pengobatan dihentikan.
    Moga bermanfaat
    Trims

  111. 111 nina Mei 9, 2008 pukul 3:17 pm

    Cak, anaku abis step cak… trus kata dokternya diindikasi kena flek. trus dikasih obat pyravit dengan dosis 1 sendok / hari. Tapi kemudian aku ke dokter yang lain katanya diagnosa TB nya salah atau harus ditegakkan??? Maksudnya apa ya???? Trus diminta tes LED lagi and darah lengkap dan ronsen ulang??? Piye ki cak?? Bahaya nggak untuk anak 1,5 th ronsen 2 kali dengan jarak 3 bulan??? Sedikit yang saya dengar dari konsultasi itu kalau emang TBC obatnya nggak itu tapi harus kombinasi. Maksudnya piye ya Cak?? Berhubung aku nggak begitu ngerti dan nggak paham jadi belum aku cek lab, or ronsen lagi (ronsen and cek lab kan ya mahal trus takut efek/resiko untuk anak ). Gimana cak??? tolong kasih pencerahan cak ………

  112. 112 cakmoki Mei 10, 2008 pukul 12:33 am

    @ nina:
    Step atau kejang demam dapat disebabkan oleh berbagai penyakit. Maksudnya, semua penyakit yang menimbulkan demam tinggi dapat mengakibatkan Step.
    Mungkin saja dokternya menduga TB sebagai penyebab demam yang berakibat Kejang Demam or Step.
    Kalo saat ini udah sehat, menurut saya gak perlu test apapun.
    Rontgen, kalo emang diperlukan, gak papa diulang dalam jangka segitu untuk anak umur 1,5 tahun. Tapi masalahnya bukan itu, tanpa indikasi yang jelas, sebaiknya gak usah Rontgen. Untuk apa ?

    Tentang Obat TBC, obatnya merupakan kombinasi antara:
    INH, Rifampicin, Ethambutol, B6, Pyrazinamid.
    Sedangkan Pyravit isinya cuman INH dan Vit B6 doang, so kalao hanya itu namanya bukan obat TB.

    Adapun yg dimaksud menegakkan diagnosa adalah rangkaian metode untuk memastikan penyakit atau setidaknya memperkirakan penyakit.
    Caranya adalah:
    1. Anamnesa (wawancara), yakni menanyakan keluhan dan tanda-tanda penyakit, misalnya: panas berapa hari, dll…dll

    2. Pemeriksaan Fisik, yakni pemeriksaan dengan: melihat (inspeksi), memegang (palpasi), mendengarkan dengan stetoskop (auskultasi), dll.

    3. Pemeriksaan penunjang: Lab (darah, urine, kimia darah..dll), Rontgen, dll…dll…dll.

    Pemeriksaan penunjang (Lab, Rontgen dll…dll) harus berdasarkan indikasi atau alasan yang tepat untuk menentukan penyakit.
    Lha kalo gak jelas untuk apa ??? Hehehe :)

    Sekali lagi, jika anak udah sembuh dari Step dan gak ada tanda-tanda ke arah penyakit TB, apalagi misalnya anak saat ini dalam keadaan sehat, maka segala anjuran pemeriksaan tersebut gak perlu dilakukan.

    Moga bermanfaat, trims

  113. 113 nina Mei 12, 2008 pukul 1:34 pm

    Ya, terima kasih atas pencerahanne cak. Anakku kondisine saiki sehat, makan bagus, asal dengan ikan, ayam, telor mau. Umur 1,5 th beratnya 12 kg. Trus sebenere piravit itu obat apa cak??? diteruskan apa tidak??? Kata doktere harus 6 bulan, 1 sendok/hari.

  114. 114 via Juni 22, 2008 pukul 3:51 pm

    siang dok. . .

    begini dok, saya divonis menderita flek paru dengan BTA negatif, saya telah menjalani pengobatan selama 9 bulan, tetapi setelah 9 bulan berat badan saya tidak begitu drastis naiknya,dari selama 9 bulan berat saya hanya naik 5 kg.setelah pengecekan terakhir tidak dirongent dan dokter langsung menghentikan pengobatan,tetapi saya minta cek darah. setelah di cek hasilnya laju endap darah saya 25 normalnya >15, kata dokter itu normal,dan tidak perlu minum obat TB lg. tetapi dok saya masih suka batuk kalau malam hari dan saya masih takut untuk menghentikan pengobatan, kira2 menurut dokter saya harus bagaimana, thanq b4

  115. 115 cakmoki Juni 22, 2008 pukul 6:19 pm

    @ nina:
    waduhhhhh…maaf, kelewatan … :)
    Kandungan Pyravit: INH dan Vit B6… ga papa diterusin
    Sekali lagi mohon maaf ya

    @ via:
    met siang (sore ding hehehe)
    Penyakit TB akan sembuh setelah pengobatan 6 bulan … dan diagnosa pasti adalah dengan BTA, kalo negatif diulang hingga 3 kali. Bisa saja dengan pemeriksaan klinis dan Rontgen, namun setelah 6 bulan biasanya udah sembuh.
    LED (laju endap darah) tidak serta merta menggambarkan penyakit tertentu, lagipula nilai normal tersebut adalah mean (rata-2) dari sekumpulan nilai normal, so peningkatan LED tidak selalu menunjukkan bahwa seseorang menderita penyakit. Kondisi tersebut dapat terjadi juga pada orang yang sehat wal afiat.

    Menurut saya, kalo dokter udah memutuskan untuk menghentikan pengobatan, sebaiknya hentikan saja, toh batuk malam hari banyak penyebabnya, bisa karena batuk alergi, bisa karena bronchitis, bisa karena asma ringan dan lain-lain.

    Moga penjelasan singkat ini membantu… trims :)

  116. 116 Wahyu Hidayat Juli 14, 2008 pukul 4:53 pm

    Salam kenal Dok,

    Nama saya Wahyu Hidayat. Umur 24 tahun.

    Sejak kuliah saya lumayan sering begadang depan komputer, dan semenjak kerja saya lebih sering lagi bergadang dan sering pulang larut malam (lewat jam 12 malam) memakai sepeda.

    Seminggu yang lalu saya batuk2. Dan pada batuk2 tertentu keluar darah (dari mulut dan hidung) yang lumayan banyak (+- 1 gelas) kecil. Kemudian setelah diperiksa ke dokter, saya di rontgen dan ternyata saya divonis flek paru2 (TBC)

    Sekarang saya menjalani pengobatan dari dokter (di cek 1 bulan sekali) dan harus minum obat dokter setiap hari. Katanya selama 6 bulan.

    Yang ingin saya tanyakan:

    1.Selain pengobatan dokter, adakah pengobatan alternatif lain yang bisa mempercepat kesembuhan paru2 saya.

    2.Jika ada ramuan dari tumbuh2an tertentu, mohon penjelasan bahan2, cara membuat, dan aturan minumnya.

    3.Adakah makanan dan minuman yang bagus untuk saya konsumsi dan makanan minuman apa yang baiknya saya hindari.

    4.Betulkah, jika saya lupa 1 hari saja saya lupa minum obat dokter, saya harus mengulang pengobatan dari awal.

    Terima kasih banyak.

    Regards,

    Wahyu Hidayat

  117. 117 cakmoki Juli 15, 2008 pukul 12:57 am

    @ Wahyu Hidayat:
    salam kenal … :)

    1 @ 2 : sepengetahuan saya gak ada obat lain selain obat yang sudah direkomendasikan oleh WHO untuk pengobatan TB Paru, yakni menggunakan regimen Obat TB selama sedikitnya 6 bulan.

    3. Cukup makanan bergizi, yakni cukup karbohidrat, protein, lemak dan vitamin secara teratur. Makanan tersebut udah biasa kita makan seperti nasi, lauk pauk, sayuran dan buah serta susu (kalo bisa).
    Hindari minuman beralkohol karena mempengaruhi absorbsi obat dan metabolisme obat di liver.

    4. Tidak. Kendati demikian, sebaiknya jangan sampai lupa. sehari ada 24 jam kan? nah jika lupa pagi, bisa diminum di waktu lain saat ingat, yang penting dalam keadaan perut kosong. Emang dalam pengobatan TB Paru, dokter akan mendoktrin seperti itu supaya pengobatan tidak sia-sia, mengingat resiko penularan, resiko pengobatan makin lama dan tentu biaya makin besar … hehehe :)

    Thanks … moga pada saatnya nanti (setelah pengobatan 6 bulan), bener-bener sembuh.

  118. 118 Wahyu Hidayat Juli 18, 2008 pukul 5:42 pm

    Terima kasih dok atas jawabannya. Mau tanya lg dok :-)

    1. Ada yang merekomendasikan minum coconut, bagus ga dok?
    2. Selama ini saya minum obatnya setelah makan dok, apakah ada pengaruhnya?
    3. Apa bedanya flek pada paru2 dengan TBC?
    4. Apakah penyakit flek paru2 saya menular? Klo menular, melalui media apa aja?

    Jangan kapok ya dok jawab petanyaan saya :-)

    Trims

  119. 119 cakmoki Juli 19, 2008 pukul 12:18 am

    @ Wahyu Hidayat:
    sama-sama :)

    1. Coconut gak ada pengaruh terhadap penyembuhan TB
    2. Iya, penyerapannya kurang optimal, karena itu sebaiknya sebelum makan atau dalam keadaan perut kosong.
    3. Sama. Itu hanya beda istilah yang mungkin untuk menyamarkan aja.
    4. TB Paru adalah penyakit menular dan penularannya lewat droplets or hembusan nafas yg mengandung kuman Mycobacterium tuberculosa.

    Thanks :)

  120. 120 widya prasetyadi Juli 28, 2008 pukul 5:21 pm

    Tolonnnnng!
    aq cowok 28 tahun
    3 hr yl aq muntah darah trus aq ke RS disana aq divonis TB PARU dari hasil rontgen.
    tp stlh muntah yg ke3 aq sadar klo hal tsb krn mimisan yg tertelan.
    aq cek di internet gejala TB Paru salah satunya batuk2 dan ga doyan makan. nah untuk 2 hal ini kayaknya 100% ga bener deh soalnya aq ga pernah batuk n aq doyan bgt makan bahkan 1hr sampe 4kali.
    Aq DISURUH MINUM OBAT SAMPE 9BLN!

    ada yg bisa kasih pencerahan ga kirim ke emailku y?

  121. 121 cakmoki Juli 28, 2008 pukul 11:34 pm

    @ widya prasetyadi:
    Kalo emang meragukan hasil diagnosa di RS, ada baiknya cari second opinion dengan periksa ke dokter spesialis paru (ke prakteknnya aja dan ga usah kembali ke RS).
    Diagnosa pasti TB Paru adalah dengan pemeriksaan dahak (BTA=Bakteri Tahan Asam).
    Thanks

  122. 122 widya prasetyadi Juli 31, 2008 pukul 11:43 am

    yg aneh adalah:
    - saya ga pernah batuk (muntah darah tsb trnyta mimisan yang tertelan)
    - BTA saya negatif
    - Hasil rontgen,oleh radiolog tidak ditulis ada TB Paru
    - Leukosit normal (5,85)
    - Sy doyan banget makan
    apakah sy memang ada kemungkinan TBParu or salah diagnosa?
    mintak pencerahannya ya pak?

  123. 123 cakmoki Juli 31, 2008 pukul 2:55 pm

    @ widya prasetyadi:
    eh… udah saya jawab di posting “Nama Penyakit yang Rancu”
    menurut saya bukan TBC :)
    bisa jadi emang karena darah mimisan yang tertelan sebelum muntah darah. Sebagai patokan, darah yang keluar dari lambung warnanya kehitaman karena bereaksi dengan asam lambung, sedangkan darah yg keluar dari paru atau iritasi saluran napas atau dari mimisan yg ga sempat tertelan ke lambung, warnanya merah segar …
    Trims

  124. 124 susan Agustus 20, 2008 pukul 10:56 am

    waddduuuhhh…..
    keknya aq dah ketinggln bgt ya dok….??!!
    emang bener dech, kata swamiku…dokter itu ada yg lulus dgn IPK 3, ada jg yg 2, so..jgn cm percaya sm 1 dokter aja, palagi cm gara2 tuh dokter kliatan lariss…(hehehe just kidding lho dok)
    terusterang lg bingung bgt niyy,,
    anakku,umur 22 bulan,BB cuma 8,6kg. tapi anaknya lincah bgt, sampe yg ngeliatin aja cape…
    sekitar sbln yl, batuk berdahak tp gak ngiklik (bhs jawanya).
    trus, aq bw ke dsa langganan.diksh obt puyer+pengencer dahak plus disurh tes darah+ronsen.
    trus,setelah obt hbs, aq kesana lgi dgn membw hasl tes lab.
    yg ngegemesin…dsa tsb cm melirik sekilas hasil tes labnya, langsung memvonis TB Pulmo and dikash obt Rimcure yg warnanya merah banget (maksudnya apa ya?)

    krn kuatir salah diagnosa,aq lgsg nyari second opinion. nah, menrt dsa yg satunya ini, sblm memcvonis anak kena TB, hrs ada pemeriksaan lbh lanjut dl.coz, kasian anaknya klo dijejali obat2an selama itu…
    padhl scr fisik, anakku msh lincah pencila’an tuh dan badanya gak panas sama sekali
    so, dsa ini sementara berasumsi anakku bronchitis. diksh obt batuk,pengencer dahak,vitamin dan disuruh makan makanan yg bergizi + susu yg banyak.
    ditunggu sampe 2 minggu, klo nafasnya msh bunyi grok2 juga, baru di tes lab ulang.
    aduh dok, aq bingung bgt niy, sebaiknya anakku diapain ya??
    apa tes manthoux itu lbh akurat drpd tes darah+ronsen?
    apakah tes manthoux itu ckp efektif utk anak < 2th?
    apakah aq hrs nyari third opinion ke dktr sp paru anak?

    keknya aq mau deh, melakukan apppaaaa saja, asalkan anakku gak minum obt selama itu….( hiks )

  125. 125 cakmoki Agustus 20, 2008 pukul 10:27 pm

    @ susan:
    Secara umum, tanda utama TP Paru pada anak: panas lebih 2-3 minggu, lemah (lesu), berat badan menurun, adakalanya batuk berkepanjangan, …trus ada kecurigaan kontak sekitar anak sebagai sumber penularan.
    Jika ada tanda tersebut, masih ada beberapa kemungkinan, yakni: Bronchopnemonia, Bronchiolitis, TB Paru dll…dll.
    Pemeriksaan yang dianjurkan (gak selalu), meliputi: Tes darah, Rontgen, Test Mantoux… test-test tersebut dilakukan kalo emang perlu, kalo dokternya yakin bukan TB Paru tapi misalnya lebih ke arah Bronchopnemonia atau Bronchitis dengan infeksi sekunder atau lainnya, maka tes dan rontgen gak diperlukan.

    Tanpa mengurangi rasa hormat kepada dokter yang mendiagnosa TB Paru, saya lebih sependapat dengan pendapat dokter kedua yang mendiagnosa Bronchitis.
    Perlu diketahui, batuk berkepanjangan pada anak kebanyakan karena Bronchitis, Asma, batuk alergi (dengan berbagai pemicu yang sulit diketahui) … dan bisa berlangsung berminggu-minggu…ini (diantaranya) karena anak di bawah 6 tahun gak bisa ngeluarin dahak.

    Sebagai gambaran, di tempat kami (pinggiran samarinda) setiap hari rata-rata 10 anak datang berobat dengan batuk lama (lebih seminggu), bahkan ada yang 3 minggu lebih baru bisa sembuh…bisa dibayangkan kalo semua harus test macam-macam dan berakhir dengan TB Paru hanya karena ahli Radiologi menulis: suspect specific? … wuaaaaaa …bukannya meremehkan, tapi Rontgen dan test-test soal itu gak spesifik, …digunakan sebagai penunjang diagnosa, bukan satu-satunya diagnosa, lagipula pemeriksaan fisik oleh dokter dan wawancaralah (anamnesa) yang memegang peranan penting.

    Oiya, Test Mantoux untuk menunjang diagnosa juga. Misalnya hasil test mantoux lebih 10 mm dengan penebalan tertentu, maka kesimpulannya baru sebatas curiga, masih perlu follow up lebih lanjut untuk benar-benar menentukan apakah anak TB Paru atau bukan…

    Maaf, kita hanya share dan ini hanya pendapat saya… so keputusan ada pada setiap orang tua. :)

    Trims

  126. 126 susan Agustus 21, 2008 pukul 12:03 pm

    wah, tq bgt ya dok atas infonya. sayangnya, koq tugasnya jauh bgt sih dok…smp samarinda sgala.pdhal qt2 para ibu2 ini, butuh bgt lho..pencerahan dr dokter spt cak moki ini…
    coba klo msh di sekitar pulau jawa,bisa dijabanin smpe sana yaa…

    dok, saya mo tanya lagi nih.. (msh penasaran bgt sm yg namanya TB)
    1. nafas grok2 ato mengi, itu asalnya dr mn sih?
    apakah klo msh ada dahaknya, akan terus berbunyi spt itu?
    2. apakah BB anak itu ada kaitany dgn faktor genetik
    (klo ortunya kecil, ya anaknya jg ga bs gemuk) ?
    3. dari dsa yg kedua, anak sy diksh resep obat : amoxsan,
    selvigon,prednison,septrin paed,equal dan mucos.Masing2
    fungsi dr obat2 itu apa ya dok?
    4. klo sampe 2 minggu ini batuk anak saya msih ada(meskipun
    sdh jarang2),menurut dokter/cakmoki,sbaiknya sy recheck
    tes darah ato tes manthoux ato nyari third opinion ke
    dktr spes paru anak ato sy biarkan sj smpe sembuh sndri?
    5. klo di semarang sini, apakah ada ya dktr yg spt cakmoki
    (yg cakmoki kenal tentunya), yg tdk materialis, yg sgt
    peduli pd keluhan2 pasiennya….klo ada, saya bs minta
    referensinya?
    6. apakah ada hubungany, TB/bronchitis dgn binatang peliha
    raan? krn dirmh, sy miara burung kenari+kelinci

    tx be4 atas waktunya ya dok..

  127. 127 cakmoki Agustus 21, 2008 pukul 4:37 pm

    @ susan:
    hehehe, di sini juga banyak ibu-ibu :D … walau di kalimantan, kami biasa menggunakan bahasa Jawa dalam kehidupan sehari-hari, …serasa di kampung sendiri.

    1. Nafas grok-grok ato mengi disebabkan oleh penyempitan saluran pernafasan karena adanya peradangan (inflamasi) dinding bagian dalam saluran nafas, sebagai akibat dari reaksi alergi (ato bisa juga infeksi). Perlu diketahui bahwa mengi (asma) akan timbul jika terpapar bahan alergen (bahan pemicu timbulnya reaksi alergi), misalnya: dingin, debu, angin, kelelahan, tepungsari, bulu binatang, dll…dll. Reaksi alergi tersebut (pada mengi or asma) mengakibatkan inflamasi saluran nafas sehingga saluran nafas relatif menyempit dan menimbulkan suara ngak-ngik…

    2. iya, salah satu yg mempengaruhi tumbuh kembang anak adalah faktor genetik disamping faktor lain. Tapi tidak selalu begitu.

    3. Amoxan (amoksisilin) adalah antibiotik golongan penisilin untuk memberantas bakteri, Selvigon untuk pereda batuk, prednison adalah steroid untuk alergi, septrin adalah antibiotik golongan sulfa untuk memberantas kuman (bakteri), equal adalah gula rendah kalori dan mucos (ambroxol) adalah pengencer dahak.
    Jika anak mengi ato nampak sulit bernafas (sesak), menurut saya masih kurang obat untuk melebarkan saluran nafas (bronkodilator)..hehehe, maaf sekedar opini…. dan antibiotiknya kalo emang perlu, cukup satu jenis aja (salah satu dari amoxan or septrin paed)…tapi beliau (dsa) yg meriksa dan lebih tahu kondisi anak. :)

    4. Receck ato ke spesialis paru (gak harus spesialis paru anak).

    5. wahhhh, mohon maaf … saya gak tahu

    6. TB Paru disebabkan kuman Mycobacterium tuberculosa yg ditularkan dari penderita lain sehingga gak ada hubungan dengan binatang piaraan. Kalo bronchitis alergica dan asma emang ada hubungannya karena boleh jadi bulu ato reruntuhan bulu yg menjadi debu akan memicu timbulnya batuk.

    Thanks

  128. 128 Naning September 2, 2008 pukul 8:50 pm

    DEAR CAKMOKI,
    anakku dua-duanya masuk rumah sakit, aq jadikan 1 kamar. yang besar usia 23 bulan dan yang kecil 9 bulan.

    yang besar :
    usianya 23 bulan.dalam 3 hari beratnya turun 1 kg, BB skrg 15 kg. dia punya riwayat multiple alergie, alergi protein susu sapi, dia paling sering opname. waktu usia 6 bulan kalo gak salah ingat dia terdiagnosa bronkopneumoni, tapi gak pengobatan flek/tbc. trakir opname +/- 2 bulan yang lalu karena febris, hasil lab semua bagus, tapi panasnya nyampe 41,3. gak kejang sih… akhirnya juga pulang tanpa diagnosa pasti. kali ini dia opname karena panas naik turun sejak sabtu 30/8/08, batuk sangat berat, sepertinya nafasnya juga rada sesak, setiap kali batuk dia sering “mblokek” ( kayak mau muntah ), tapi juga gak jarang jadi muntah beneran. bapaknya ada riwayat asma dan alergi.
    foto thorax 3/9/08 : jantung tak tampak kelainan, paru : hilus tak tampak kelainan, peri hiler kiri suram, diafragma dan sinus tak tampak kelainan. kesan curiga spesifik.
    hasil lab 3/9/08 : Hb 12,2. lekosit 4,1. limfosit 68, led 9, IGg dengue +, widal negatif. saya-nya takut kalo2 dia-nya di diagnosa flek. apakah juga ada kemungkinan kearah situ kalo diliat dari hasil lab n thorax-nya? saat ini dia dapat injeksi taxegram, cortidex, satu lagi apa ya? lupa…, oralnya cosyr syrup. opini nya donk dok… tx b4.

    si kecil usia 9 bulan. 2 kali ini opname. yang terakir 3 minggu yll, utamanya karena panas, muntah, batuk, pilek, dan hematoma kepala ( karena mgk jatuh) tapi kok gak ada yang tau ya???…hehehe.
    waktu itu batuk pileknya udah berlangsung 1 bulan. udah diobati oleh prof…. tapi gak sembuh juga, sampe akirnya opnam. udah IR juga. tetep gak ilang. sampai akhirnya kemarin sy bw ke DSPA lain, dan cek lab, thorax juga. untuk labnya sih rutin bagus, cuma sgot-sgptnya aja yang agak tinggi. sedang thoraxnya kesannya bronkopneumoni, infiltratnya cukup luas. nah dianya sekarang opnam juga, sebelahan ama kakaknya. cuma karena saking puyengnya ngrasain anak opnam semua, saya jadi pikun……nggak bisa inget 100% therapi dia. cuma kata DSPA-nya, setelah opnam ini nanti, coba kita evaluasi 1-2 mgg, apakah ada perbaikan atau tidak, jika hasil thorax nanti tetep aja gak ada perbaikan, kemungkinana bisa ke arah flek, baru dipikirkan untuk pengobatan flek-nya. setuju gak dok????? terus terang, terang terus..
    sayanya jadi bego, udah gak bisa mikir n nalar lagi. :((((

    thanks before….

  129. 129 Naning September 2, 2008 pukul 10:10 pm

    dalam hitungan jam udah nyanya lagi. hehehehe…..
    barusan kedua anak itu dapat PYRAVIT…. yac ?! berarti harus pengobatan INH donk?? it’s mean…TBC?
    duh…jadi bingung, kalo diliat dari fisiknya kayaknya gak mungkin mereka terkena TBC. saya jadi ragu di minumkan gak ya pyravitnya??? disatu sisi jika emang diagnosanya tbc IT’S OK, TAPI KALO GAK???? KAN NGERUSAK HATI…
    gimana donk nich….. wise gak sih kalo saya pending-kan minum pyravit nya dulu, sampai bener2 yakin dengan diagnosanya. kenapa gak di test mantoux dulu ya??? LED-nya juga normal kok….
    ada masukan gak>>> semoga dapet reply cepet ya… tx b4

  130. 130 cakmoki September 3, 2008 pukul 5:09 am

    @ Naning:
    Kebetulan saya juga ngerawat pasien di rawat inap ndeso ™ … dalam 2 bulan ini angka kesakitan Bronkopnemonia meningkat yang ditandai dengan: panas tinggi (kadang naik turun), nafas cepat, batuk grok-grok sampe nungging-nungging, … rata-rata 3-5 anak perhari yg masuk opname karena gak mau makan minum dan kondisi lemah.
    Selama ini, saya tidak menganjurkan Rotgen pada anak dengan tanda klinis seperti di atas, kecuali untuk konfirmasi (itupun amat jarang, paling 2 anak dalam 1 tahun yg saya mintakan rontgen).
    Soale, kalo dirontgen … hasilnya hampir selalu: suspect spesific alias curiga TBC…. namanya juga curiga, lha wong asma aja hasil rontgen-nya bisa curiga TBC juga …

    Pendapat saya (dengan tetap menghormati para ahli):
    Saya cenderung Bronkopnemonia, acapkali batuknya berlangsung lama (hingga berminggu-minggu) walau panas udah turun.
    Ini artinya, saya gak percaya kalo kedua anak ibu menderita flek paru. …. hehehe, maaf.
    Lagipula, bapaknya ada riwayat asma … bisa jadi asma kan…(dengan sekunder infeksi sehingga ada panas)

    Soal Pyravit, kalo boleh berpendapat, gak usah diminum deh.
    Kalo emang konsekwen dengan diagnosa Flek (TBC) Paru, tentu obatnya adalah: INH (dan B6), Pyrazinamide, Rifampicin dan Ethambutol.
    Andai benar nantinya TB paru, toh akan diulang dengan pengobatan yang udah standar … tapi, saya masih tetep gak percaya.

    Trus Cosyr, adalah obat yang salah satu komponennya mengandung dekstrometorfan, yakni obat penekan batuk yg efek sampingnya makin menyempitkan saluran nafas dan dahak makin kental, …alhasil dahak makin sulit keluar, makin ampek…dan batuk makin lama.

    Sekali lagi, ini pendapat saya lho … mohon maaf jika saya keliru.
    Trims

  131. 131 susan September 12, 2008 pukul 2:27 pm

    cak, saya penasaran bgt nih..
    apakah semwa orang (tmsuk anak2) yg kena TB Paru, musti didului dgn gejala panas demam..??
    ato, ada gak sih..yg gak panas en ga demam, tapi ujug-ujug **bhs indonesianya apa?** langsung TB…?????

  132. 132 cakmoki September 13, 2008 pukul 1:02 am

    @ susan:
    Pertanyaan yang bagus nih :)

    apakah semwa orang (tmsuk anak2) yg kena TB Paru, musti didului dgn gejala panas demam..??

    gak selalu. Tanda ato gejala yang mengarah pada TB paru pada umumnya tidak berdiri sendiri. Kalo kita bicara “tanda”, selalu dimulai dengan tanda terbanyak, trus dilanjutkan dengan tanda-tanda lain sebagai konfirmasi dan kelengkapan informasi jika curiga ke arah penyakit tertentu.
    Dalam hal TB Paru pada anak, tanda terbanyak adalah panas or demam lebih dari 2-3 minggu disertai dengan penurunan aktifitas dan berat badan. Adakalanya disertai batuk berkepanjangan (jarang).
    Sedangkan pada dewasa, tanda terbanyak pada umumnya batuk lama, lemah, dll.
    Seorang dokter akan memeriksa dengan seksama dan kalo curiga terhadap penyakit tertentu adakalanya memerlukan pemeriksaan penunjang (lab, rontgen dll) untuk menunjang diagnosa.
    Dari sisi pasien, tentu berhak untuk bertanya dan mencari opini dokter lain jika diagnosa dokter sebelumnya dirasa meragukan.

    ato, ada gak sih..yg gak panas en ga demam, tapi ujug-ujug **bhs indonesianya apa?** langsung TB…?????

    Kemungkinan tersebut ada. Tapi jumlahnya dikit, dimana seseorang tidak nampak sakit tapi pada pemeriksaan dahak ditemukan kuman batang asam yakni kuman Mycobacterium tuberculosis. Penderita demikian disebut TB non aktif.

    Berikut di bawah ini adalah Kriteria Diagnosis TB Anak:
    (1) Pemeriksaan bakteri (+) / Patologi Anatomi (PA) (+)

    (2) Bakteri/PA (-), Mantoux Test (Mt) (+), Rontgen (Ro) (+), Sumber penularan (sumber) (+) *artinya, di sekitar anak ada yang sakit TBC*, Gejala (+), BCG (-)

    (3) Bakteri/PA (-), Mantoux Test (Mt) (+), kemudian pada 1 tahun terakhir (anak dibawah 6 tahun): Ro(-), Sumber (+/-), Gejala (+/-), BCG (-).

    (4) Bakteri/PA (-), Mantoux Test (Mt) (+), kemudian pada anak dibawah di atas 6 tahun: Ro (-), Sumber(+/-), Gejala(+), BCG(-).

    (5) Bakteri/PA (-), Mantoux Test (Mt) (-), Ro (+ luas disertai pembesaran kelenjar), Sumber(+/-), Gejala(+/-), BCG(-).

    (6) Bakteri/PA (+), BCG(+).

    (7) Bakteri/PA (-), Mantoux Test (Mt) (+), Ro (+ luas disertai pembesaran kelenjar), Sumber(+/-), Gejala(+/-), BCG(+).

    Jika anak yang dicurigai TB memenuhi salah satu dari kriteria di atas, maka bisa didiagnosa TB aktif yang memerlukan pengobatan.

    Tanda ato gejala pada TBC Anak pada umumnya: sulit makan, berat badan menurun, demam lama, pembesaran kelenjar (leher).

    hihihi, 2 pertanyaan pendek jawabnya sak embrek … maaf kalo kepanjangan ya :)

    Thanks

  133. 133 NANING September 16, 2008 pukul 1:48 pm

    Lha kalo pyravit diberikan dengan alasan profilaksis gimana?

  134. 134 cakmoki September 16, 2008 pukul 3:13 pm

    @ Naning:
    Boleh aja … lagipula pengobatan Pyravit (INH dan B6) untuk sebulan gak akan berdampakj buruh seandainya ternyata bukan TBC.
    Trus, profilaksis terhadap apa ??? Bukannya anak-anak tersebut gak akan pergi kemana-mana (terutama ke daerah endemis TB) kan?
    Kalo masih bingung, Pyravit diminumkan sesuai anjuran dokter yang ngasih … ntar bisa evaluasi setelah itu.

    Logikanya, kalo pyravit dimaksudkan untuk profilaksis, ini artinya anak yang diberikan obat tersebut tidak menderita TBC. Karena kalo TBC tentu diberikan obat yang udah baku, sedangkan profilaksis diberikan kepada seseorang yang akan pergi ke daerah endemis TBC sebagai upaya pencegahan supaya gak ketularan.

    Alasan lain, seorang dokter diperkenankan memberikan Pyravit kepada pasiennya jika ragu-ragu atau sulit menentukan apakah TBC atau bukan berdasarkan kriteria yang tertulis di jawaban mbak Susan.
    Thanks

  135. 135 susan September 17, 2008 pukul 10:24 am

    makasih bangeeetttt…..cak, atas jawabanny.
    tapi sayang, aq gak mudeng…hiks..*maklum, wong ndeso*

  136. 136 cakmoki September 17, 2008 pukul 5:08 pm

    @ susan:
    hahaha, iya maaf… lupa gak njelaskan satu persatu…

  137. 137 erna-zakir Oktober 7, 2008 pukul 1:05 pm

    halo mas minta tolong dong, kami tinggal di kalimantan juga. Kami di Hulu Sungai Kalsel, rata2 anak di daerah kami bila batuknya kelamaan bakal divonis flek paru alias TB paru. Ihhh…. ngeri khan??? anak saya kadang batuk trus sembuh trus nanti batuk lagi tapi batunya agak lama…ya kami takut membawanya ke DSA karena ntar divonis minum obat 6 bulan. Wah gimana ya caranya, rata2 anak2 teman juga pada ikutan program 6 bulan, ya saya gak langsung percaya begitu saja tanpa mengetahui jelas… gimana baiknya ya???

  138. 138 ari satrya darma Oktober 7, 2008 pukul 4:35 pm

    Selamat sore cak
    salam kenal dari saya, gini cak saya mempunyai anak laki-laki usia 2,5 tahun, 1 bulan yang lalu tepatnya tanggal 28 Agustus 08 anak saya menderita batuk dan pilek, langsung saya bawa ke DSA di rumah sakit Honoris yang sekarang berganti nama Mayapada Hospital di Tangerang..oleh DSA itu setelah diperiksa anak saya di suruh tes Rontgen, saya mengikuti saran dokter tersebut dan ternyata setelah hasil rontgen tersebut ada iinfiltrasi halus flek di paru anak saya dan dokter Specialis Anak tersebut langsung memvonis bahwa anak saya tersebut positif TB (flek Paru) dan harus mengkonsumsi obat selama 6 bulan dan ini baru saya kasih obat baru 1 bulan, memang anak saya tersebut berat badannya tidak naik2 tetapi anak saya tersebut lincah dan hiperaktif dan setelah anak saya mengkonsumsi obat yang dari DSA itu obat TB yang berwarna merah untuk pagi dan sore berwarna putih itu berat badan anak saya naik sekitar 1 kilo yang tadinya 12 kg menjadi 13 kg…yang saya akan tanyakan cak apakah anak saya tersebut harus melanjutkan meminum obat tersebut mengingat sampai 6 bulan menurut anjuran DSAnya? dan anak saya tersebut blm saya tes mantaouk…saya mohon saran dari cak…terima kasih atas jawaban yang cak berikan

    –ARI SATRYA DARMA–

  139. 139 cakmoki Oktober 8, 2008 pukul 1:06 am

    @ erna_zakir:
    hahaha… gitu ya? …apalagi saat ini, sejak sebelum puasa hingga pasca lebaran banyak anak batuk berkepanjangan … :)
    Baiknya ke dokter yang gak hobi memvonis TB Paru.
    Sy yakin gak semua dokter mudah memvonis TB Paru pada anak yang batuk lama … :)

    @ ari satrya darma:
    Selamat malem :)
    Salam kenal ….. wow, begitu mudahnya ??? :(

    Saya salinkan kriteria diagnosa TB Paru yaa…

    Berikut di bawah ini adalah Kriteria Diagnosis TB Anak:
    (1) Pemeriksaan bakteri (+) / Patologi Anatomi (PA) (+)

    (2) Bakteri/PA (-), Mantoux Test (Mt) (+), Rontgen (Ro) (+), Sumber penularan (sumber) (+) *artinya, di sekitar anak ada yang sakit TBC*, Gejala (+), BCG (-)

    (3) Bakteri/PA (-), Mantoux Test (Mt) (+), kemudian pada 1 tahun terakhir (anak dibawah 6 tahun): Ro(-), Sumber (+/-), Gejala (+/-), BCG (-).

    (4) Bakteri/PA (-), Mantoux Test (Mt) (+), kemudian pada anak dibawah di atas 6 tahun: Ro (-), Sumber(+/-), Gejala(+), BCG(-).

    (5) Bakteri/PA (-), Mantoux Test (Mt) (-), Ro (+ luas disertai pembesaran kelenjar), Sumber(+/-), Gejala(+/-), BCG(-).

    (6) Bakteri/PA (+), BCG(+).

    (7) Bakteri/PA (-), Mantoux Test (Mt) (+), Ro (+ luas disertai pembesaran kelenjar), Sumber(+/-), Gejala(+/-), BCG(+).

    Jika anak yang dicurigai TB memenuhi salah satu dari kriteria di atas, maka bisa didiagnosa TB aktif yang memerlukan pengobatan.

    Tanda ato gejala pada TBC Anak pada umumnya: sulit makan, berat badan menurun, demam lama, pembesaran kelenjar (leher).

    Nah, jika meragukan diagnosa terhadap anak bapak, ada baiknya mencari second opinion ke DSA lain dengan membawa hasil pemeriksan (dalam hal ini rontgen).
    Selain itu perlu juga bapak meminta copy resep ke apotik, apakah obat yang diberikan adalah obat TB Paru sesuai standar terapi ataukah bombandir berbagai macam obat …

    Maaf, saya tidak bermaksud mempengaruhi ataupun menghasut, namun keterbukaan dalam pengobatan penyakit menurut saya sangat penting dalam rangka mempertanggungjawabkan integritas keilmuan dan penyebarluasan pengetahuan bagi kita semua..

    Menurut saya, untuk sementara obat tersebut dilanjutkan sambil ke DSA lain hingga dapat dipastikan apakah TB paru atau bukan.

    Atau, bapak dapat berdiskusi dengan dr Rizal DSA yang nge-Blog di sini

    Moga bermanfaat … Terimakasih :)

  140. 140 Lusi Oktober 17, 2008 pukul 2:31 pm

    cak Moki salam kenal. artikelnya bagus, sekalian minta ijin boleh aku copy artikel2nya?
    Cak, tolong dong diulas tentang benjolan di belakang telinga pada anak-anak. ketika berkunjung ke saudara, banyak banget ketemui kasus seperti itu
    makasih ya Cak

  141. 141 cakmoki Oktober 17, 2008 pukul 4:03 pm

    @ Lusi:
    salam kenal, mbak… :)
    Monggo silahkan copy jika dianggap layak.
    Ya, terimakasih sarannya, ntar suatu saat sy posting tentang itu.
    Makasih

  142. 142 Yani Oktober 21, 2008 pukul 4:20 pm

    cak anak sya (3,8 thn) wkt 7 bln yg lalu pernah menjalani tes manteux, rontgen krn hasil lab darahnya LEDnya tinggi klo gak salah 100, berat badannya sih susah naik skrg 12 kg. Tapi pda dasarnya dia memang susah makan. Hasil tes manteuxnya negatif dan torax rontgennya bersih gak ada flek, jd DSAnya menyimpulkan bahwa anakku tidak TB, brt badannya susah naik krn pola makannya. Nah yg membingungkan saya kok bisa LED-nya tinggi? apa penyebabnya?.
    Belakangan ini dah ampir sebulan dia batuk pilek gak sembuh2, paling sembuh bentar trus kambuh lagi, dilehernya muncul benjolah2 kcil 2 bh. Nah kata DSAnya klo ampe obt batuk yang diberi ini gak sembuh, maka anakku hars menjalani tes manteux lg?… Haruskah anak saya tes lagi?.. apa kemungkinan anak saya terkena TB?
    Sebagai informasi, kami ada turunan alergi, ayahnya pernah asma sewaktu kecil, sedang saya alergi debu selalu bersin2 hingga sekarang.
    Trus anak kedua saya jg (8 bln) skrg jg batuk pilek ganti2an ama kakaknya, dia malah nafasnya kadang mengi, DSAnya bilang dia batuk alergi. Pertanyaan saya perlukah kedua anak saya menjalani tes alergi?… Bagaiamana tips2 untuk anak2 alergi. Trims sebelumnya…

  143. 143 cakmoki Oktober 22, 2008 pukul 11:26 pm

    @ Yani:
    Menilik kronologi di atas, salah satu kemungkinan adalah Asma atau bisa juga disebut batuk alergi, sama aja.
    Pada asma gak selalu disertai mengi, … pada asma yg ga berat biasanya batuk pilek lama, kadang ngikil (ngiklik…bhs jawa, hehehe)
    Adapun LED tinggi bisa dialami oleh siapapun yg batuk pilek lama.
    Sedangkan pembesaran kelenjar leher (limfadenitis) dapat terjadi oleh bayak sebab, misalnya: iritasi tenggorokan karena batuk lama sehingga memicu peningkatan produksi limfosit yg mengakibatkan pembesaran kelenjar leher, dan sebab lain termasuk TB (jika disertai kriteria diagnosa TB lainnya).
    Berikut di bawah ini adalah kriteria TB Anak seperti jawaban sebelumnya:
    (1) Pemeriksaan bakteri (+) / Patologi Anatomi (PA) (+)

    (2) Bakteri/PA (-), Mantoux Test (Mt) (+), Rontgen (Ro) (+), Sumber penularan (sumber) (+) *artinya, di sekitar anak ada yang sakit TBC*, Gejala (+), BCG (-)

    (3) Bakteri/PA (-), Mantoux Test (Mt) (+), kemudian pada 1 tahun terakhir (anak dibawah 6 tahun): Ro(-), Sumber (+/-), Gejala (+/-), BCG (-).

    (4) Bakteri/PA (-), Mantoux Test (Mt) (+), kemudian pada anak dibawah di atas 6 tahun: Ro (-), Sumber(+/-), Gejala(+), BCG(-).

    (5) Bakteri/PA (-), Mantoux Test (Mt) (-), Ro (+ luas disertai pembesaran kelenjar), Sumber(+/-), Gejala(+/-), BCG(-).

    (6) Bakteri/PA (+), BCG(+).

    (7) Bakteri/PA (-), Mantoux Test (Mt) (+), Ro (+ luas disertai pembesaran kelenjar), Sumber(+/-), Gejala(+/-), BCG(+).

    Jika anak yang dicurigai TB, memenuhi salah satu dari kriteria di atas, maka bisa didiagnosa TB aktif yang memerlukan pengobatan.

    Tanda ato gejala yg mengarah pada kecurigaan pada TBC Anak pada umumnya: sulit makan, berat badan menurun, demam lama, pembesaran kelenjar (leher).

    Trims

  144. 144 Utami Taufiq November 14, 2008 pukul 3:52 pm

    Ass.wr.wb
    Cak,saya punya anak (sekarang 7th 1,5bl) yang divonis dokter menderita Flek Paru dan mesti menjalani pengobatan 6bulan.6bulan yang lalu,pengobatan 6bulan itu telah selesai,saya tidak lagi memeriksakan anak saya ke dokter,karena kondisinya yang (menurut saya) cukup baik.Anak saya ini sangat aktif,banyak/doyan makan,dan jarang sakit flu.Saya sering mendengar kalo terlalu banyak mengkonsumsi obat (apapun itu) dapat berpengaruh pada otak anak (menjadi kurang daya tangkapnya),Apakah benar itu Cak?? Itu juga yang menjadi salah satu pertimbangan saya,untuk menyudahi proses pengobatan ini setelah 6bulan berjalan.Bijaksanakah tindakan saya?? Apa yang seharusnya saya lakukan? Minggu ini,anak saya terserang batuk berdahak yang cukup menguatirkan,apakah hal ini karena masih adanya flek paru2 itu?

    Terima kasih sebelumnya,cak.

    Wss.wr.wb

  145. 145 cakmoki November 15, 2008 pukul 12:32 am

    @ Utami Taufiq:
    Wa’alaikum salam,
    Kalo emang Flek Paru (TBC), mestinya sudah sembuh dalam 6 bulan, kecuali ketularan lagi, kalo di sekitarnya ada penderita TBC.

    Saya sering mendengar kalo terlalu banyak mengkonsumsi obat (apapun itu) dapat berpengaruh pada otak anak (menjadi kurang daya tangkapnya),Apakah benar itu Cak??

    Tidak benar.

    Tentang menyudahi pengobatan TBC setelah 6 bulan adalah hak orang tua jika emang meragukan diagnosa TBC dan hasil pengobatan setelah 6 bulan.

    Jujur saja, saya juga meragukan diagnosa TBC (flek paru) hanya karena batuk berdahak yg lama dan hanya berdasarkan rontgen.
    Saya tidak bermaksud mempengaruhi orang tua yang anaknya divonis flek paru.
    Menurut saya, batuk berdahak lama bukan tanda utama Flek Paru. Kebanyakan batuk berdahak pada anak karena asma, bronkitis atau batuk alergi atau bisa juga bronkopnemonia.
    Argumen saya diperkuat dengan fakta bahwa anak-anak yang divonis TBC (flek paru) dengan pengobatan 6 bulan bahkan ada yang diobati hingga 2 tahun toh tetep batuk berdahak ketika disekitarnya ada yang batuk.
    Menurut para orang tua yang anaknya diobati 6 bulan, ketika kontrol trus rontgen, hasilnya: masih ada… ini berulang hingga 6 bulan berikutnya dan berikutnya lagi.
    Nah, setelah 2 tahun masih batuk berdahak, apakah logis jika anak tersebut divonis TBC (flek paru) ???

    Akhirnya, tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada para sejawat yang begitu mudah memvonis flek paru pada kasus batuk berdahak, para orang tua berhak untuk memeriksakan anaknya ke dokter lain sebagai second opinion.

    Terimakasih
    Wass, wr, wb.

  146. 146 bimbim November 16, 2008 pukul 9:55 pm

    Dok, ikutan nanya ya….

    Anak saya perempuan , umur 3 tahun , berat nya skg 12 kilo. Anak nya aktif, lincah, dan baru sakit flu sekali seumur hidup dia. Tapi memang dia makannya agak susah dan dikit.

    Ayah nya termasuk kurus, BMI ayah nya cuma 19.

    Setiap kalo kita ke dokter anak, mayoritas dokter bilang anak saya ini kurang gizi, kemungkinan TBC, enzim tidak bagus, dll.

    Ada dokter yang bilang juga kalo normal, mungkin genetik krn bapaknya juga kurus.

    Saya jadi bingung, dok..Ada saran???

    Thanks.

  147. 147 cakmoki November 16, 2008 pukul 10:53 pm

    @ bimbim:
    Penilaian Gizi tidak melulu dilihat dari Berat Badan. Menilik informasi yg ibu sampaikan, menurut saya normal aja tuh. Toh BB minimal untuk anak usia 3 tahun (36 bulan) yakni 11,5 kg, udah terlampaui. Bisa jadi karena faktor genetik mengingat bapaknya kurus :).
    Ga perlu risau Bu, yang penting anak aktif dan sehat. Untuk makanan, anak ga bisa dipaksa-paksa, ntar ada saatnya doyan makan seiring dengan bertambahnya usia dan saat mulai sosialisasi dengan anak sebayanya. Kalaupun tetep ga doyan makan, ga papa juga.
    Kalo suatu saat terpaksa ke dokter, ga perlu datang ke dokter yg hoby memvonis TBC, (kecuali kalo ada tanda-tanda TBC diperkuat dengan adanya penderita TBC di sekitarnya)… hehehe …gak menghasut lho.
    Thanks

  148. 148 bimbim November 17, 2008 pukul 6:47 pm

    Lanjut nanya boleh ya Cak…

    Tadi siang anak saya ikutan ke dokter ngaterin adiknya imunisasi, trus sekalian nanya masalah BB nya….

    Dokter nya bilang gak ada gejala TBC, mungkin di masalah pencernaan katanya…

    Trus dikasih obat

    1. Racikan, isinya enzyplex dan Neptasan (atau Heptasan), agak susah bacanya.
    2. Curvit CL
    3. Imboost force.

    No 2 n 3 kan vitamin n penguat kekebalan tubuh ya? Yang no 1 saya liat2 di internet utk enzim n alergi.

    Menurut Cak gimana? aman gak ya mengkonsumsi vitamin sebanyak itu? Apa perlu cari second atau kalo perlu forth opinion? Hhehehe…

    Thnks ya….

  149. 149 cakmoki November 18, 2008 pukul 1:31 am

    @ bimbim:
    Mengkonsumsi vitamin di atas dalam jumlah banyak dan lama ga papa. Tapi ga perlu kecewa kalo ntar hasilnya ga sesuai harapan.
    Menurut saya, cukup curvit CL … gak perlu semua, hanya buang-buang duit… isinya mirip-mirip aja koq.

    Tentang klaim untuk kekebalan tubuh, sah-sah aja…wong namanya jualan, hahaha. Contoh: zinc dalam salah satu obat di atas yg diunggul-unggulkan untuk meningkatkan kekebalan, sebenernya zinc tersebut ada dalam susu, ikan, dll, dan itu udah cukup untuk memenuhi kebutuhan zinc dalam tubuh kita.
    Maaf, ini hanya pendapat saya :)
    Trims

  150. 150 medi November 29, 2008 pukul 2:44 pm

    Assalam Wr. Wb.

    Salam kenal dulu dok!
    Mo nanya nih…
    3 minggu yang lalu saya medical chek-up untuk ngelamar CPNS.
    Karena tidak lulus saya ambil hasil medicalnya dan hasil rotgennya tertulis:
    Diagnosa : Bercak kalsifikasi di apeks paru kiri.
    kesan : KP sinistra agaknya tenang.
    Maksud dua pernyataan di atas apa ya dok?
    Memang saya pernah menjalani pengobatan TB dan sudah dinyatakan sembuh.
    Apakah diagnosa ini merupakan “bekas TB” yang pernah cak tulis
    sebelumnya?

  151. 151 cakmoki Desember 1, 2008 pukul 2:45 am

    @ medi:
    Wa’alaikum salam,
    Mengingat bahwa pernah menjalani pengobatan TB sampai sembuh, bisa jadi “bekas TB”.
    Untuk memastikannya, sebaiknya periksa ke spesialis paru yang dulu merawat supaya ada semacam rekomendasi dari beliau.
    Trims

  152. 152 ahmad bajuri Februari 15, 2009 pukul 12:23 am

    Assalam Wr. Wb.

    Salam kenal dulu dok!
    Mo nanya nih…

    anak ku, noval umur 4,9 tahun berat badan 15kg, lincah, aktiv, agak susah makan. tapi kalau lagi mau, makannya banyak. normal gak sih.

    trims.
    ahmadbajuri

  153. 153 cakmoki Februari 15, 2009 pukul 2:58 am

    @ ahmad bajuri:
    wa’alaikum salam, wr, wb,
    salam kenal juga :)
    Kondisi tersebut Normal.

    Trims.. Wass

  154. 154 widodo p Februari 18, 2009 pukul 10:09 pm

    Cak Moki salam kenal,melihat penjelasan Cak Moki yg cermat n detail saya ingin konsul nih,2 minggu yang lalu tiba2 saja saya batuk trus muntah darah tanpa sebab,rasanya dari tenggorokan saya ngucur darah akibatnya saya batuk2, darah merah segar keluar cukup banyak kurang lebih 5 sendok makan,menurut dokter karena tidak ada tanda2 yang khas tb(saya merasa segar bugar gk sakit,nafsu makan normal, tdk merokok,tidak pernah batuk yg sangat lama) kemungkinan waktu batuk terlalu ngejan trus luka, lukanya mengenai pembuluh darah di tenggorokan jadi keluar darah banyak bahkan sampai keluar melalui hidung,saya sempat ngintip diagnosis dokter(diagnosis tidak dijelaskan kpd saya hanya bilang mungkin radang,padahal saya gk merasa demam) yaitu (1.)Faringitis akut,artinya apa ya cak? trus saya cari secon opinion,sama dokter no2 sy di rotgen(ket:normal,tdk nampak infiltrat,cor tajam,tulang tdk ada kelainan),1x BTA (-), diambil darah untuk tes TB dot (-)Dokter no2 memperkuat diagnosis dokter 1 kemungkinan luka di tenggorok, dan saya diberi obat untuk menghentikan pendarahan Transamin tranexamid acid,bronkis,dan antibiotik,akhirnya yang sy minum obat Dr 2,sampai hari ke 7 sya batuk masih keluar darah sehari 2x diawali rasa sangat gatal ditenggorokan trus keluar darah beku/menggumpal spt cacing diikuti keluar darah segar,lucunya setelah obat Dr 2 habis saya minum obat Dr 1,masuk hari ke10 darah keluar sehari 1x,hari13 waktu batuk hanya keluar sedikit darah yg beku/nggumpal, sekarang sudah memasuki hari ke 30 sudah tidak keluar darah tapi skrg jadinya saya sakit batuk kadang keluar dahak putih biasa kadang tdk keluar dahak,dada kadang terasa agak sesak dan cekit2 sebentar,(2.)kira2 kenapa ya cak?saya skrg tidak menkonsumsi obat apapun,(3.)klo rekomen obat yg cocok dgn keluhan sy skrg apa ya cak? dan sebenarnya saya sakit apa sih cak?,moga2 sih gk sakit apa2 he..he..,maaf cak konsul saya terlalu panjang ya..? terima kasih banyak sebelumnya cak

  155. 155 cakmoki Februari 18, 2009 pukul 10:50 pm

    @ widodo p:
    Menilik kronologi di atas, kedua dokter tersebut sebenarnya memiliki pendapat yang sama, yakni: bukan TBC. Hal ini dibuktikan dengan tanda klinis dan Rontgen serta dipastikan dengan pemeriksaan BTA (-).
    Adapun faringitis akut maksudnya infeksi tenggorokan yg mungkin terjadi karena iritasi akibat batuk sehingga mengeluarkan darah dan terjadi infeksi.

    Menurut saya, kemungkinan: bronkitis alergi atau batuk alergi atau bisa juga asma ringan, yang biasanya dipicu oleh: dingin, asap, debu, kelelahan.

    Obat yang dapat digunakan:
    1) Bronkodilator (melonggarkan saluran pernafasan sekaligus untuk meredakan sesak), misalnya: Euphyllin Retard Mite 125 mg, diminum 2×1.

    2) Pencair dahak, misalnya Ambroxol 30 mg (merk apapun) atau Bromhexine 8 mg (merk apapun), diminum 3×1.

    3) Steroid sebagaianti alergi, misalnya: Methyl prednisolon (lameson atau lexcomet, dll), diminum 2×1.

    Ketiga obat tersebut diminum setidaknya selama seminggu atau hingga sembuh.
    Catatan:
    Jika minum obat Euphyllin Retard Mite 125 mg merasa berdebar, lemas, maka dosis diturunkan menjadi 2×1/2 tablet. Adakalanya obat untuk melonggarkan nafas (bronkodilator) menimbulkan efek samping berdebar walaupun dosis yg saya rekomendasikan adalah dosis rendah.

    Jika dalam seminggu belum membaik, sebaiknya kontrol ke dokter.

    Semoga segera sembuh
    Trims

  156. 156 WIDODO Februari 20, 2009 pukul 11:57 pm

    Waduh respon Cak Moki cepat sekali neh,thanks Cak, kesimpulan Cak Moki emang tajem,memang sebulan yang lalu saya sangat kecapekan sekali,trus mondar-mandir luar kota (malang – blitar) pake motor cak ,tanpa pelindung dada yg memadai lagi+begadang ampe malam sama rekan2 kantor pokoknya schedule kegiatan padet banget,akhirnya stamina down, pas sakit kemarin tuh kayaknya saya stress banget cak,belum pernah batuk keluar darah kaya gitu,ampe gk bisa tidur+diare+pusing, sampe kemarin tuh,habis konsul ke Cak Moki, kena maag juga aku Cak, seperti diserbu penyakit, kayaknya sumbernya dari stress ya Cak? anyway terima kasih udah nerima konsulku Cak,salutt…!

  157. 157 cakmoki Februari 21, 2009 pukul 5:52 pm

    @ WIDODO:
    Iya, kayaknya kelelahan psikis maupun fisik …
    Met istirohat :)
    Moga segeara sembuh

  158. 158 Newton_13 Maret 31, 2009 pukul 9:38 pm

    Salam kenal cak….MAu berkonsultasi sedikit ini…

    Jadi begini ceritanya:
    HAmpir 3 bulan yang lalu saya MedCheck di sebuah untuk keperluan test masuk kerja…dan hasil rontgen bilang: “Proces specifik actief sinistra”…Alhasil saya gak lo2s test kesehatan tersebut dan di anjurkan untuk berkonsultasi dengan dokter paru
    FYI, saya tidak memiliki gejala2 TB, seperti batuk2 berdahak yang lama atw nafsu makan berkurang, malah terbilang kuat makan :)
    Setelah berkonsultasi dengan dokter sp.paru (di rontgen lg), orang radiologi bilang :
    Dipuncak paru kiri terlihat kesuraman tipis, mencurigakan suatu gambaran fibrokalsofokasi proses lama. Kemungkinan fibroinfiltrat blm dapat disingkirkan”…trus di Mantoux jg, dan hasilnya positif (bekas nya memerah)
    Dan dokter paru tsb menyimpulkan bahwa saya dahulu pernah kena TB, trus gak diobatin— so (mungkin) si bakteri msh ngendap di paru2 kali???
    Jadilah saya di kasi obat RIMCURE 3-FDC bwt 2 bln (1x sehari,3 tablet)…dan beliau bilang mudah2n 2 bulan bisa bersih flek nya coz emang flek nya masih tergolong kecil dan tipis…serta obat nya pake yang bagus

    2 bln kemudian…
    saya dtg lg…ditimbang berat badan(naek 4 kilo se, maklum abis dibilang kena flek jadi rajin minum susu)…trus di stetoskop bentar…dan beliau bilang perkembangan nya bagus…..
    Tapi saya harus makan obat yg beda lg untuk2 bln kedepan…obatnya: Rimactazid & StarMuno….baru setelah itu akan di rontgen lg…

    Yang pengen ditanyain:
    1. Apakah saya bener kena TB??
    2. Apakah bener flek bisa hilang dalam 2 bulan (kurang dari 6 bulan)???KLo gak, berarti saya gak perlu ikut test kesehatan dulu selama masih minum obat…coz hasilnya akan sama2 aja???
    3. setelah divonis TB, saya rajin olahraga (lari pagi), dan dianjurin minum susu cair+ madu…is it help??

    Mohon Pencerahan nya CAk………dan Smoga sukses sll:)

  159. 159 cakmoki Maret 31, 2009 pukul 10:07 pm

    @ Newton_13:
    Salam kenal,
    1) Benar tidaknya TB paru dapat diketahui dengan pemeriksaan BTA Dahak sebanyak 3 kali saat pertama kali dicurigai TB Paru. Dan waktu tersebut udah berlalu… Selain itu, TB Paru pada dewasa dapat ditegakkan dengan pemeriksaan fisik dan radiologis.
    namun yang paling akurat (sesuai anjuran WHO) adalah dengan pemeriksaan dahak BTA (Bakteri Tahan Asam).

    2) Secara medis, kuman Mycobacterium tuberculosa akan hilang dengan pengobatan 2 bulan pada kasus yang minimal. tapi secara program, wajib hingga 6 bulan. Hal ini untuk memastikan bahwa TBC benar-benar tuntas.

    3) ya … bener. Pada dasarnya memerlukan makanan bergizi.

    Trims

  160. 160 Newton_13 April 1, 2009 pukul 7:10 pm

    cak, tanya lg ya:)

    1. Tadi saya baca2 postingan yang ditas

    “4. Tidak. Kendati demikian, sebaiknya jangan sampai lupa. sehari ada 24 jam kan? nah jika lupa pagi, bisa diminum di waktu lain saat ingat, yang penting dalam keadaan perut kosong.”

    Berarti obat TBC itu harus diminum saat perut kosong kah???coz dokter saya bilang makan obat nya 1x sehari…that’s all, so saya berasumsi sendiri bahwa makan obatnya justru setelah sarapan (seperti obat laen pada umumnya)??

    2. Kategori kasus TB yang minimal itu seperti apa se cak???mohon penjelasan yang lebih spesifik???ada gak kemungkinan hilang dalam 1 bulan???

    3. Flek paru yang kelihatan dihasil rontgen itu sebenarnya merupakan gambaran dari koloni para bakteri TBC atau gambaran jaringan parut (klo gak salah) bekas luka akibat di grogotin ama si bakteri???

    Maaf ni cak jadi “nambah”

    Salam Sehat……Halah:)

  161. 161 cakmoki April 2, 2009 pukul 12:17 pm

    @ Newton_13:
    1) Mungin dah ada di etiket obat tulisan kecil “sebelum makan”, mungkin juga tidak. Gak papa. Bukan berarti obatnya gak berkhasiat, hanya saja penyerapannya di lambung gak 100 %. Ntar selanjutnya diminum dalam keadaan perut kosong.

    2) Lesi minimal, maksudnya hanya sedikit. Biasanya pada awal penularan atau bisa juga pada kasus TBC yang meragukan. Gak bisa sembuh dalam 1 bulan.

    3) Pertanyaan bagus nih… baru pertama ada yg nanya ini… :D
    Bisa keduanya. Pada kasus TB aktif, gambaran Rontgen merupakan koloni kuman sedangkan pada kasus TB yang udah sembuh adakalanya meninggalkan jaringan parut (sequelle).

    Trims

  162. 162 sumadi April 21, 2009 pukul 7:57 pm

    Dok, mau tanya. anak saya di vonis flek paru-paru karena hasil dari rontgen & Mantoux nya positif. Apakah dari hasil ini masih dibutuhkan second opinion dari dokter yg lain? mohon tanggapannya Dok. terimakasih
    Sumadi

  163. 163 cakmoki April 22, 2009 pukul 2:58 am

    @ sumadi:
    Bergantung pada keluhan anak dan keyakinan para orang tua.
    Yang dimaksud keluhan anak adalah mengapa anak menjalani pemeriksaan Test Mantoux dan Rontgen.
    Kalo merasa yakin anak menderita TB Paru, tidak perlu second opinion. Namun jika merasa gak yakin, maka tidak ada salahnya mencari second opinion.
    Terimakasih :)

  164. 164 Nita Yunita April 30, 2009 pukul 3:00 pm

    Ass…lam kenal cakmoki ak mau konsul nich anak ak sekarang usia 22 bulan,wt usia 0 sampe 1 tahun dia sering flu,sampe kedengeran ngorok banyak dahak di saluran pernafasannya,kata DSA saluran pernafasan anak sy sempit jadi klo flu lama harus sering dibawa renang..dia pun sempet bilang klo bb anak sy turun terus harus di rotgen..tapi alhamdulillah bb anak sy selalu naik n anak sy anaknya aktive..setelah lewat 1 tahun anak sy batuk2+FLU sy bawa ke DSA disuruh tes darah ma rotgen hasih rotgen bagus cuma udah ada kontak kuman hasil tes darah lednya 29…katanya led naik bisa dari radang, lalu disuruh tes mantoux juga hasil negative,begitu dokter tau sy pernah pengobatan tb(setahun yang lalu udah dinyatakan sembuh dengan led 12) anak sy langsung di vonis minum obat 6 bulan sy cari second opini ke dr laih (Spc paru2) katanya klo tes mantouxnya negative belum tentu Tb apalagi hasil rotgennya bersih..katnya itumah batuk biasa..lalu sy cari 1 dokter lagi n beliau pun berkesimpilan bukan tb..Alhamdulillah anak sy sembuh..selang be2rapa bulan anak sy batuk lagi..tanpa disertai pilek udah ke DSA 3x masih tetep sembuh bentar batu lagi..sy ganti DSA lain masih sama.bb anak sy turun 0.6 tadinya 11 jadi 10.4..anak sy aktive,tidur gk keringatan di punggung..tapi di kepala n itu sudah berlangsung sejak bayi..apalagi setelah mimi su2 kepalanya keringatan,makan agak susah..sekarang su2 juga gk mau maunya teh manis tapi sy ganti sama air+madu,be2rapa hari yang lalu selama 3 hari setiap malem badan anak sy panas tinggi tapi siangnya tidak,sy mau tanya apa anak sy mesti tes mantoux lagi? apakah rumah yang kurang sirkulasi udara n tidak terkena sinar matahari juga bisa jadi penyebabnya?.makasih cakmoki..di tunggu jawabannya

  165. 165 arumsaputra April 30, 2009 pukul 3:46 pm

    Salam kenal cak dokter,…..
    Selasa kemaren anak saya (11,5 bulan) divonis TBC dg pengobatan 6 bulan. Dengan catatan berat badan 7,8 kg hasil Rontgen suspect spesifik dan hasil labnya (yang menurut dsa menunjukan TBC) sbb:
    - lekosit 10.300
    - Limfosit 21
    - LED 30
    sedang hasil mantoux test, kemerahan sekitar 1cm (tanpa benjolan) saya tidak tau itu + atau -, karena dsa nya tidak ngecek lagi (hanya cek rontgen dan lab saja). kemudian anak saya diberi obat rifamtibi 90 mg. inh 70 mg, pza 100 mg, semuanya di racik bentuk puyer.
    Padahal saat itu kondisi anak saya baik2 saja (tidak sedang batuk, pilek dan panas). Awalnya saya kedokter hanya untuk konsultasi karena saat itu anak saya masih ASI dg volume mimik susunya pagi-sore 250 ml dan malam-paginya enen (saya bekerja). Saat ini anak saya paling senang makan nasi lunak dg lauk dipisah (kalo dicampur langsung dilepeh…).
    Sebenarnya saya agak terkejut dengan vonis dsa tsb, krn saya gak pernah terpikir bahwa anak sy TBC, awalnya sy hanya berfikir bahwa anak saya kurang asupan saja.
    Mohon masukannya cak Moki, hari ini sy mulai kasih obat ke anak saya, tp rencananya sabtu besok saya akan cari dsa lain untuk compare.
    Terimakasih.

  166. 166 elin April 30, 2009 pukul 4:04 pm

    cak ada satulagi yang ingin sy tanyakan,Tb Kulit sewaktu April 2005 sy sempet panas tinggi selama 10 hari wt itu dokter ber asumsi DB,baru ketahuan TB kulit september 2005 karena sy sering batuk sembuh n di betis sy ada semacam memar tadinya kecil trus membesar rasanya sakit jalan bisa tapi klo berhenti harus duduk karena gk kuat nahan sakitnya,klo shalat subuh gk bisa sujud karena kaki gk bisa di lipat n gk bisa berdiri lama juga n ilang..dokter memberi sy zanabet setelah minum be2rapa hari memar nya ilang n sy melanjutkan obat tb,namun setelah 4 bulan berhenti karena hamil tiap makan obat keluar lagi,setelah kandungan sy 7 bulan tiba2 keluar darah yang banyak saat bab sy ketakutan lalu di USG tapi bayi sehat2aj sy ke dokter katanya smbeyen dalam karena saluran darah kehimpit ma bayi,lalu sy juga cerita tentang pengobatan yang di hentikan n dokter sarankan di lanjutkan,wt itu sy periksa darah lednya 75..rotgen tidak karena lagi hamil..sy minum obat selama 1 tahun..lebih lama dari biasa karena sempet di hentikan..sy mau tany cak apa bedanya TB Kulit n tb yang biasa? apa mungkin menular ke bayi..wt sy selesai pengobatan anak sy usia 7 bulan

  167. 167 Nita Yunita April 30, 2009 pukul 4:13 pm

    Ass…lam kenal cakmoki ak mau konsul nich anak ak sekarang usia 22 bulan,wt usia 0 sampe 1 tahun dia sering flu,sampe kedengeran ngorok banyak dahak di saluran pernafasannya,kata DSA saluran pernafasan anak sy sempit jadi klo flu lama harus sering dibawa renang..dia pun sempet bilang klo bb anak sy turun terus harus di rotgen..tapi alhamdulillah bb anak sy selalu naik n anak sy anaknya aktive..setelah lewat 1 tahun anak sy batuk2+FLU sy bawa ke DSA disuruh tes darah ma rotgen hasih rotgen bagus cuma udah ada kontak kuman hasil tes darah lednya 29…katanya led naik bisa dari radang, lalu disuruh tes mantoux juga hasil negative,begitu dokter tau sy pernah pengobatan tb(setahun yang lalu udah dinyatakan sembuh dengan led 12) anak sy langsung di vonis minum obat 6 bulan sy cari second opini ke dr laih (Spc paru2) katanya klo tes mantouxnya negative belum tentu Tb apalagi hasil rotgennya bersih..katnya itumah batuk biasa..lalu sy cari 1 dokter lagi n beliau pun berkesimpilan bukan tb..Alhamdulillah anak sy sembuh..selang be2rapa bulan anak sy batuk lagi..tanpa disertai pilek udah ke DSA 3x masih tetep sembuh bentar batu lagi..sy ganti DSA lain masih sama.bb anak sy turun 0.6 tadinya 11 jadi 10.4..anak sy aktive,tidur gk keringatan di punggung..tapi di kepala n itu sudah berlangsung sejak bayi..apalagi setelah mimi su2 kepalanya keringatan,makan agak susah..sekarang su2 juga gk mau mesti dipaksa maunya teh manis tapi sy ganti sama air+madu,be2rapa hari yang lalu selama 3 hari setiap malem badan anak sy panas tinggi tapi siangnya tidak,sy mau tanya apa anak sy mesti tes mantoux lagi? apakah rumah yang kurang sirkulasi udara n tidak terkena sinar matahari juga bisa jadi penyebabnya?.makasih cakmoki..di tunggu jawabannya

  168. 168 cakmoki Mei 1, 2009 pukul 12:36 pm

    @ arumsaputra:
    salam kenal …
    Saya tidak terkejut dengan diagnosa tersebut, dalam artian udah gak sedikit para ibu yang tadinya memeriksakan masalah berat badan dan masalah makan anak tanpa keluhan lain, ujug-ujug periksa Lab, Matoux Test, Rontgen … alhasil berakhir dengan vonis TBC Paru dan harus minum obat 6 bulan, test lagi…minum obat lagi 6 bulan, dan demikian seterusnya sampe 2 tahun.
    Jika vonis TBC udah ditegakkan, konsekuensinya harus mencari sumber penularan. Dan sumber penularan terdekat pada usia bayi, tak lain dan tak bukan adalah keluarga terdekat (orang serumah). Jika punya pembantu, sy khawatir pembantu jadi terdakwa. iya kalo bener, lha kalo enggak gimana hayo :)

    Menurut saya, anak yang gak suka makan minum dan berat badannya sulit naik, tidak serta merta TBC dan tidak mesti ada gangguan. Bisa jadi hanya soal selera ato anak lebih seneng bermain ketimbang disuruh makan or minum. Tak jarang para orang tua dibuat kalang kabut oleh si kecil masalah makan dan minum. Apapun upaya orang tua seolah gak membuat si kecil mau makan atau minum.
    Langkah yang masih bisa dilakukan, diantaranya dengan memberi porsi kecil sesering mungkin.
    Cara lain, dengan sesekali mengajak si kecil ke tampat ortu lain yg punya anak suka makan. Dengan begitu, diharapkan anak meniru anak lainnya.
    Tapi upaya-upaya tersebut dan upaya membuat banyak variasi makanan belum tentu berhasil mengingat naluri bermain anak kadang lebih besar ketimbang makan dan minum.
    Upaya ibu dengan memisah nasi dan lauk udah bagus. Ditelateni aja, ntar ada saatnya anak sangat suka makan seiring dengan tumbuh kembang anak.

    Tentang vonis TBC dan keputusan meneruskan pengobatan TBC atau enggak, sepenuhnya berada di tangan orang tua. Tak ada salahnya minta pendapat ke DSA lain.

    Sejauh ini, hasil konsultasi saya dengan temen DSA di milis kami, cenderung gak sependapat dengan terlalu cepatnya vonis TBC hanya gara-gara BB sulit naik atau hanya gara-gara batuk berkepanjangan.

    Saya sependapat membawa anak untuk compare ke dokter lain.

    Trims :)

    @ elin:
    Pengobatannya hampir sama, yakni 2 bulan pertama fase intensif kemudian dilanjutkan dengan 4-10 bulan dengan regimen INH-Rifampicin.
    Kalo udah selesai dan dinyatakan sembuh, tentu gak menular.
    Makasih :)

    @ Nita Yunita:
    wa’alaikum salam dan salam kenal,
    Keluhan batuk atau disertai pilek berkepanjangan pada anak sangat sering terjadi, bahkan seringkali setiap 2-4 minggu batuk lagi, demikian seterusnya. Hal itu tidak lantas menandakan TBC.
    Terlebih dengan hanya panas 3 hari atau lebih. Banyak penyakit-2 viral yang menunjukkan tanda seperti itu.

    Test Mantoux sama atau lebih dari 1 cm, bukan memastikan TBC tapi kecurigaan terhadap TBC (kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan penujang lain) jika ditunjang dengan tanda lain atau adanya kecurigaan sumber penularan.

    Tentang keringatan (pagi, siang, sore atau malam), sangat wajar. Ini karena proses metabolisme anak yang masih dalam masa pertumbuhan. Bukan menandakan penyakit tertentu.

    Jika saat ini anak masih panas, boleh periksa ke dokter. Bukan test Mantoux. Sangat banyak penyakit-2 yang mengakibatkan anak panas, sebagian besar penyakit oleh virus.
    Trims … Wass

  169. 169 naning Mei 6, 2009 pukul 4:18 pm

    halo dok….
    lama tidak masuk kesini lagi. saya mau konsultasi nih. si bungsu sekarang usianya 2,5 tahun. sebelum 1 tahun dia sering keluar masuk RS karena panas, bronchopneumoni, diare, alergi dll. sekarang beratnya 22 kg. mgk memnag termasuk gemuk. dulu susunya pake soya, tapi saya ganti susunya sejak usia 2 tahun menjadi sustagen. tidak ada masalah di pencernaan. yang jadi pemikiran saya sampe sekarang adalah, kenapa dari bayi pola pernapasan dia cenderung cepat seperti terengah-engah. apakah ada hubungannya dengan paru-paru atau asma atau alerginya??. bahkan tidak jarang jika dia beraktifitas terlalu berlebih, saking cepetnya nafasnya, bisa sampai muntah. saya sendiri mencoba mngkuti irama pernafasannya, dan gak nyaman juga rasanya. dia tipe anak yang pilih2 makanan, lebih sering yang sop-sopan. konsumsi sayur memang kurang menurut saya. saya sering kasian sama anak saya yang ini. mungkin ada saran saya harus bagaimana nih dok??. dan juga sejak lahir kalo dia tertawa sampai terkekeh2/ngakak2 selalu diakhiri dengan cegukan agak lama, itu terjadi sampai dengan sekarang. imunisasinya juga sudah lengkap. O iya. sejak lahir, kadar lekositnya selalu tinggi, 18.000. dia sering opname karena panas tinggi dgn suhu bisa sampe 41 derajat tapi tidak step, tanpa sebab yang jelas. tidak batuk, tidak pilek, tidak diare. kata dokternya karena virus, dan dia anak alergi dengan daya tahan tubuh yang lemah. mohon sarannya. tks

  170. 170 cakmoki Mei 6, 2009 pukul 10:22 pm

    @ Naning:
    halo :)
    Jika ada riwayat asma ataupun batuk alergi, napas terengah tersebut kemungkinan berhubungan dengan keduanya. Bisa juga berhubungan dengan berat badan, tapi gak selalu.

    Berikut ini parameter frekuensi nafas.

    Tabel: Pedoman Perhitungan Frekuensi Napas (WHO)

    : Umur Anak :: :: Napas Normal :: :: Takipnea (Napas cepat)
    0 – 2 Bulan :: :: 30-50 per menit :: :: sama atau > 60x per menit
    2-12 Bulan :: :: 25-40 per menit :: :: sama atau > 50x per menit
    1- 5 Tahun :: :: 20-30 per menit :: :: sama atau > 40x per menit

    Jika termasuk napas cepat (takipnea) berdasarkan umur dan frekuensi nafas pada tabel di atas, gak ada salahnya periksa ke dokter. Kalo gak ada keluhan lain dan anak nampak enjoy, gak perlu ke dokter.

    Cegukan (reflux gastro-esofageal) bisa disebabkan banyak faktor. Jika hanya 1-2 hr dan gak ada keluhan lain, gak papa. dan gak perlu obat khusus, kecuali atas saran dokter yg meriksa.

    Lekosit tinggi, bisa jadi berkaitan dengan penjelasan dokter, yakni infeksi virus.

    Thanks.

  171. 171 CLOUD Mei 31, 2009 pukul 12:15 am

    Hi dok, nanya donk..
    kalau kasus 2 diatas yg dokter2nya sembarangan menganalisa dan mem-vonis seseorang terkena tbc sementara setelah dicek ke tempat lain (opinion ke dua ,ketiga,dsb) ternyata tempat lain tidak ada.
    ada tidak yah tempat untuk menuntut dokter yg sembarangan tersebut sehingga ijin prakteknya dicabut.
    soalnya saya ada beberapa teman yg kehilangan pekerjaan gara2 kasus tersebut.
    sementara agen tempat mereka bekerja tidak mau mengganti tempat medical check up lain, dan tempat medical check up tersebut tidak mau menerima second opinion dari tempat medical lain.
    ada tidak yah,misalnya seperti ikatan dokter indonesia, atau mungkin bisa meng-complain melalui dinas kesehatan atau sejenisnya.
    kalau seperti ini terus, kapan indonesia mau maju ditipu2 oleh para dokter yg semabrangan tersebut.
    seandainya kalau semua dokter seperti cak,pasti deh indonesia akan semakin bagus di bidang kedokterannya.

  172. 172 cakmoki Mei 31, 2009 pukul 7:26 pm

    @ CLOUD:
    Perbedaan interpretasi dalam mendiagnosa penyakit dapat terjadi dimana saja di belahan dunia. Hal ini dipengaruhi oleh banyak faktor yg seringkali tidak berhubungan langsung dengan bidang medis. Contoh: “kerjasama” (dalam tanda kutip) antara dokter dg pihak lain. Bisa pula karena perbedaan pertimbangan sudut pandang, terutama antara sisi epidemiologis, klinis dan psikososial (termasuk pekerjaan). Idealnya, pandangan klinis dan epidemiologis serta psikososial mestinya sejalan. tapi seringkali jalan sendiri-sendiri. (di Indonesia)

    Perbedaan-2 tersebut (dalam hal ini dakwaan TBC Paru) tidak bisa dipakai landasan untuk mencabut ijin praktek lantaran perbedaan pendiagnosaan penyakit jamak terjadi di dunia medis.
    Karena itulah pasien punya kebebasan untuk mencari second opinion.

    Celakanya, perusahaan atau tempat kerja acapkali hanya berlangganan pada 1 atau dokter tertentu saja.
    Menurut saya, sikap perusahaan tersebut kurang tepat, karena sama aja dengan mengabaikan pendapat dokter lain. Di sisi lain, dunia medis bersifat dinamis yg terbuka untuk didiskusikan terutama jika menyangkut penyakit.

    Sepengetahuan saya, karyawan dapat megajukan keberatan ke pihak perusahaan berdasarkan rekomendasi atau hasil pemeriksaan second opinion dari dokter lain.

    Complain ke IDI atau Dinas Kesehatan tidak banyak berpengaruh. Hal ini karena perbedaan pendapat di dunia medis bukan termasuk pelanggaran.

    Mungkin yg paling berkompeten Insitusi Tenaga Kerja. Sayangnya saya tidak tahu persis sejauh mana Institusi Tenaga Kerja memberikan perlindungan kepada karyawan.
    Yg kita khawatirkan kalau-kalau Institusi Tenaga Kerja kalah dengan pemilik modal … hehehe.

    Trims

  173. 173 de2k September 3, 2009 pukul 10:19 pm

    pak dokter..telat nih nanyanya:) setaun lalu ada flek di paru2 saya. dokter pertama vonis bronkitis. krn keluhan sakit tdk berkurang 5 hari kemudian kembali ke rumah sakit, tp ditangani dokter berbeda. berat badan menurun 3 kilogram (tapi saat sakit itu saya ttp puasa ramadhan dok :D) langsung divonis tbc deh. 3 hari kemudian, stlah minum obat tbc, terasa malah semakin sesak nafas. akhirnya kembali ke rumah sakit yg sama, lgsung dirujuk ke specialis paru.nah, dokter specialis ini melakukan tes TBA dan mantoux dua2nya negatif.akhirnya disarankan untuk foto scan. sebetulnya, apakah kelebihan foto scan ini dibandingkan rontgen biasa. dokter tetap menyarankan meneruskan minum obat tbc,tapi saya hentikan:)stlh tdk minum obat, malah batuk berhenti. tapi sekarang saya jadi parno sendiri dok, bagaimana kalo trnyata memang betul saya kena tbc:) trus, mungkinkan ga kondisi udara jakarta yg penuh asap itu menyebabkan flek paru? thx

  174. 174 Sri September 12, 2009 pukul 12:26 pm

    Salam kenal, mau nanya nih cak. Saat ini keponakan (4 th) dititipkan di rumah saya krn pengasuh pulang. Baru2 ini kakak saya memberitahukan bahwa anaknya ada flek paru. Dari hasil test mantoux positif, katanya msh sangat tipis krn normalnya 10, dia baru 12 (saya nga gitu ngerti maksudnya). Kakak saya mengatakan bahwa tidak mungkin menular dr anak ke anak, hanya bs nular dr org dewasa ke anak. Saat ini ia sedang minum obat sekitar 1bln. Yg jd pikiran krn saya punya 2 org anak (12 thn dan 10 thn),mungkinkah tidak menular dr anak ke anak mengingat ia menempel terus pd anak saya yg berusia 10th. Mohon beri penjelasan agar hati saya agak tenang. terima kasih.

  175. 175 cakmoki September 13, 2009 pukul 3:36 am

    @ de2k:
    Maaf, kelewatan …. :)
    Untuk memastikan diagnosa TB Paru adalah dengan pemeriksaan dahak BTA. tapi dapat juga dengan rontgen.
    Kalo ngeliat kronologisnya, kayaknya dokter paru gak yakin TBC.
    Foto scan memiliki kelebihan dapat mendeteksi lebih detail, tapi untuk TB paru gak lebih baik dari rontgen, kecuali kalo dokter tersebut bermaksud untuk menyingkirkan kemungkinan penyakit lain.
    Mungkin aja bronkitis yang sebagian besar berhubungan dengan reaksi alergi yang dipicu oleh debu, asap, cuaca, dll.
    TBC disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosa, bukan oleh udara ataupun asap.
    Trims

    @ Sri:
    Salam kenal,
    TBC adalah penyakit menular yg disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosa yang dapat ditularkan dari siapapun juga kepada siapapun juga tanpa memandang umur.
    Jika seseorang tertular TB Paru, maka seseorang (mulai anak hingga orang tua) yg tertular tersebut bisa sakit, bisa juga tidak. Hal ini dipengaruhi beberapa faktor.
    Pertama, bergantung pada jumlah kuman yang masuk tubuh.
    Kedua, bergantung pada daya tahan tubuh seseorang.
    Ketiga, bergantung pada faktor lingkungan.
    Model penularan tersebut berlaku juga pada penyakit menular yg lain.
    Masalahnya, diagnosa TB paru pada keponakan nampaknya masih meragukan.

    Perlu diketahui bahwa akhir-akhir ini banyak anak dengan keluhan batuk berkepanjangan didiagnosa sebagi TB paru (flek paru) hanya berdasarkan test Mantoux dan Rontgen. Sejujurnya, saya kurang percaya dengan cara diagnosa tersebut. Tapi entah mengapa, banyak orang tua yang lebih suka kalo anaknya didiagnosa TB paru dan minum obat hingga 6 bulan lebih, bahkan hingga setahun. Padahal, menurut saya kebanyakan batuk pada anak disebabkan infeksi pernafasan, bronkitis, batuk alergi, asma.
    Tapi ini hanya pendapat saya, keputusan akhir berada pada masing-2 dokter dan orang tua.

    Berikut di bawah ini adalah Kriteria Diagnosis TB Anak:
    (1) Pemeriksaan bakteri (+) / Patologi Anatomi (PA) (+)

    (2) Bakteri/PA (-), Mantoux Test (Mt) (+), Rontgen (Ro) (+), Sumber penularan (sumber) (+) *artinya, di sekitar anak ada yang sakit TBC*, Gejala (+), BCG (-)

    (3) Bakteri/PA (-), Mantoux Test (Mt) (+), kemudian pada 1 tahun terakhir (anak dibawah 6 tahun): Ro(-), Sumber (+/-), Gejala (+/-), BCG (-).

    (4) Bakteri/PA (-), Mantoux Test (Mt) (+), kemudian pada anak dibawah di atas 6 tahun: Ro (-), Sumber(+/-), Gejala(+), BCG(-).

    (5) Bakteri/PA (-), Mantoux Test (Mt) (-), Ro (+ luas disertai pembesaran kelenjar), Sumber(+/-), Gejala(+/-), BCG(-).

    (6) Bakteri/PA (+), BCG(+).

    (7) Bakteri/PA (-), Mantoux Test (Mt) (+), Ro (+ luas disertai pembesaran kelenjar), Sumber(+/-), Gejala(+/-), BCG(+).

    Jika anak yang dicurigai TB memenuhi salah satu dari kriteria di atas, maka bisa didiagnosa TB aktif yang memerlukan pengobatan.

    Tanda ato gejala seorang anak dicurigai TBC, jika menunjukkan tanda berikut: sulit makan, berat badan menurun, demam lama (lebih 2-3 mingu) tanpa diketahui sebabnya, pembesaran kelenjar (leher).

    Demikian penjelasn saya, moga berguna.
    Trims

  176. 176 Sri September 13, 2009 pukul 12:27 pm

    Terima kasih atas penjelasannya Cak. Apa yg hrs saya lakukan jk memang ia adalah positif TB mengingat ia akan ada di rmh saya sekitar 1/2 blnan lg. Apakah saya jg hrs menyarankan kakak saya utk periksa ulang dan mencari 2nd opinion? Hal ini termasuk hal yg sensitif krn tdk ada org tua yg senang jk anaknya diketahui oleh org lain menderita TB. Terima kasih sekali lg.

  177. 177 cakmoki September 14, 2009 pukul 12:32 am

    @ Sri:
    Ya, ibu benar, saya sependapat. Sebaiknya mencari second opinion. Andai setiap orang tua bersikap seperti ibu, saya yakin masyarakat kita makin memahami masalah kesehatan dan secara tidak langsung ikut meningkatkan pengetahuan kesehatan masyarakat.
    Trims

  178. 178 cutey September 16, 2009 pukul 1:48 pm

    Dear Dok,

    Dok, saya mau tanya sedikit tapi rumit…

    apakah flek paru anak ( TB anak ) dapat menular dari anak ke anak??

    karena saya baca diatas, kata dokter dapat menular pada siapa saja tanpa memandang usia., tapi banyak dokter yang mengatakan kalau tidak dapat menular dari anak ke anak.. ( dan mereka sepertinya sangat yakin )
    saya jadi bingung nih dok…..??????

    apakah dokter ada literatur ( atau apa lah… ) yang bisa di check?? karena ini menjadi perdebatan sengit antara saya dan sahabat saya yang mengakibatkan kita sedikit bertengkar.. bila ada cataatn yang bisa dia baca, pasti dia akan lebih percaya..

    Maaf ya dok bila merepotkan..
    sebelumnya terima kasih banget..

  179. 179 cakmoki September 16, 2009 pukul 5:21 pm

    @ cutey:
    Calon sarjana ato sarjana gak boleh marah apalagi bertengkar hanya gara-gara beda pendapat…hehehe.

    Pendapat para dokter tentu boleh berbeda berdasarkan banyak faktor.
    Namun mari kita kembali ke referensi, di antaranya: Nelson Texbook of Pediatric, Clinical Tuberculosis (Crofton, SJ et all), dan lain-lain.
    Lagi pula, di dalam buku-2 ajar fakultas kedokteran di Indonesia rata-rata menyebutkan bahwa seorang anak dicurigai TB paru, salah satunya, bila ada sumber penularan, tanpa menyebutkan perkecualian umur. Ini artinya dapat ditularkan oleh semua umur. Kalaupun ada dokter yang mengatakan tidak dapat ditularkan dari anak ke anak, mestinya harus dapat menunjukkan referensinya, bukan malah sebaliknya.
    Mongo silahkan baca lagi bukunya :) … lebih baik kembali ke referensi daripada eyel-eyelan sama temen, setuju kan ?
    Makasih

  180. 180 Sri September 17, 2009 pukul 12:20 am

    ketemu lg Cak. Bener kt Cutey bnyk silang pendapat. Hr ini saya sempat rame dgn kakak saya mengenai hal ini. Ia tdk terima ketika saya mengatakan kemungkinan anaknya dpt menulari anak lain. saya membaca The New England Journal of Medicine dan saya terkaget2 membaca penularan yg sedemikian luas dr seorg anak yg berusia 9th. Ia menulari 20% dr jumlah org yg berkontak dgnnya menyebar dr keluarga, teman sekolah, supir bus smp org2 yg di sekitarnya. Memang itu adalah data th 99. Tetapi jk ada survey mengenai ini maka seyogyanya tdk ada keraguan ttg penularan dr anak ke anak bahkan ke org dewasa. Td pagi saya berkonsultasi dgn dokter anak saya dan saya menceritakan kondisi saya. Saran yg beliau berikan benar2 membuat saya seperti tertimpa dinding. Ia menyarankan anak saya jg dirontgen trus hrs minum obat profilaksis (yg ktnya bukan obat TB tetapi utk mencegah TB) dan yg plg fantastis hrs diminum selama keponakan saya minum obat TB (6 bln) krn sdh berkontak dgn keponakan sekitar 2mg. Mohon komentar dan sarannya Cak. Saya saat ini dlm dilema krn 1 sisi adalah kakak dan sisi lain saya berhadapan dgn suami. Terima kasih.

  181. 181 cakmoki September 17, 2009 pukul 8:15 pm

    @ Sri:
    Saya sependapat… sy tidak (belum) menemukan satu referensipun tentang penularan TB paru yg katanya tidak bisa ditularkan dari anak ke anak. Semua referensi yg sy baca dari tahun 1959 hingga saat ini masih menyebutkan bahwa sumber penularan tidak mengecualikan umur, artinya bisa dari umur berapapun.
    Sungguh, saya salut pada ibu yg ikut membaca jurnal. Di sisi lain, dokter wajib membaca jurnal secara berkesinambungan agar dapat mengetahui laporan kasus per kasus seperti yg ibu sebutkan, bukan hanya berdasarkan pendapat semata.

    Terkait dengan dakwaan TB paru pada anak, salah satu konsekuensinya adalah dampak psikologis, terutama ketika si penderita bermain bersama anggota keluarga yg lain.
    Inilah yg mestinya dipertimbangkan dokter dalam menegakkan diagnosa.
    Setahu saya, obat profilaksis hanya INH dg dosis 10-20 mg per kg berat badan diminum selama 1 bulan saat kontak dengan penderita TB paru, kecuali jika ada pertimbangan lain.

    Sy masih meragukan kebenaran diagnosa TB Paru pada keponakan ibu. Hal ini berdasarkan pengalaman selama ini dimana beberapa anak yg didiagnosa TB paru berdasarkan Rontgen dan tes mantoux, tidak ada satupun yg TB paru setelah saya konsulkan ke dokter spesialis paru terpercaya di kota kami.

    Menurut saya, bukannya ingin meremehkan kemungkinan tertular, namun sementara ini ibu gak perlu terburu-buru memeriksakan Rontgen pada kedua anak ibu.
    Kita lihat aja perkembangannya

    Sy sangat memahami posisi ibu dalam menyikapi persoalan tersebut, baik dalam keluarga ibu sendiri maupun kaitannya dengan orang tua kemenakan.
    Demikian pendapat saya, dan mohon maaf jika tidak memuaskan ibu. Teriring do’a semoga ibu sekeluarga sehat selalu.
    Terimakasih

  182. 182 Kevin November 2, 2009 pukul 1:43 pm

    Dok, sekitar 10 hari yg lalu saya mencoba untuk periksa darah dan rontgen karena batuk yg terus menerus selama 2 minggu lebih dan tubuh saya juga sering lemas..
    Dari hasil darah diketahui LED saya 45 dan pemeriksaan thorax menyatakan KP kanan saya aktif..

    Dokter umum menyatakan saya terkena TBC, dan saya berobat ke dokter spesialis paru yang akhirnya beliau jg menyatakan saya terkena TBC.. saya diberikan obat yg setiap hari harus diminum

    pertanyaan saya:
    1. Apakah saya masih boleh berolahraga dan fitness?? sampai sebatas mana??
    2. Saya sedang menjalani tes kerja di beberapa perusahaan dan BUMN. Berapa lama sampai setelah saya diberikan obat TBC tersebut, kondisi paru saya tidak terlihat penyakit TBC jika dilakukan pemeriksaan rontgen (agar saya bisa lolos tes kesehatan)??

    Terima kasih dok. Informasi dari dokter diatas sebelum message saya ini banyak membantu saya

  183. 183 cakmoki November 2, 2009 pukul 2:22 pm

    @ Kevin:
    1) Boleh tetap beolah raga sesuai kemampuan. Malah bagus untuk pemeliharaan dan meningkatkan kondisi tubuh secara umum, serta memperbaiki pernafasan dan peredaran darah.

    2) TBC pada umumnya sembuh setelah pengobatan selama 6 bulan. Untuk test kerja sebaiknya menyertakan rontgen dan keterangan selesai pengobatan TBC dari dokter paru. Hal ini penting mengingat bahwa adakalanya hasil rontgen pasca pengobatan menunjukkan gejala sisa dan kadang dinilai menderita TBC walaupun sejatinya sudah sembuh.

    Moga segera sembuh sesuai skedul pengobatan TBC (6 bulan).
    Trims

  184. 184 rina November 11, 2009 pukul 12:46 am

    Assalamualaikum pak dokter…
    langsung aja yah..
    anak saya usia 19 bulan BB/TB 10,5kg/85. sebulan lalu priksa ke dokter karena susah makan dan BB nya naik tp tidak signifikan.
    di test mantoux hasilnya negatif, di rontgen hasilnya bronchopnemonia(salah nulis ya;-) tapi dia jarang batuk dan pilek, cuma akhir2 ini kepalanya suka tiba2 anget, tp badannya biasa aja.
    mungkin kah anak saya TB juga?karena dokternya ngasih serangkaian obat TB. buat info aja, dia ada turunan asma dari ayahnya, mungkinkah BB yang susah naik sama susah makannya efek dari asma (kalo ada)?trus Dok, kalo susah makannya mungkin ga karena ada yang ga beres sama pencernaannya?perasaan nih ya, tiap ke dokter kalo curhat ttg BB susah naik pasti disuruh rontgen sama mantoux. ga ada tuh yang bilang buat skrinning saluran pencernaan. menurut dokter kalo mau liat saluran cernanya bagus atau ngga pake uji lab apa?oh iya, anak saya dengan susah makannya tetep aktif.
    makasih ya dok buat pencerahanya
    wassalam….

  185. 185 cakmoki November 11, 2009 pukul 3:14 am

    @ rina:
    Berdasarkan hasil pemeriksaan tersebut bisa dipastikan bukan TBC.
    Gak ada hubungan langsung antara asma dengan berat badan.
    Pada anak, acapkali berat badanya gak naik atau bahkan tetap karena berbagai faktor, bukan berarti lantas ada penyakit atau sesuatu yang gak beres di pencernakannya. Sejauh anak gak ada keluhahn dan tetap aktif, berarti gak papa, gak masalah.
    Umur segitu dengan berat badan 10,5 kg masih termasuk ukuran normal. Gak ada yng salah tuh… Kalo diperiksa macem-macem hanya karena gak suka makan malah menimbulkan banyak interpretasi yang berujung pada pemberian obat yang gak ada korelasinya dann bahkan membuat anak makin tersiksa. Belum lagi biaya yang dikeluarkan menjadi sia-2.
    Lagi pula, tumbuh kembang anak tidak dilihat dari berat badan semata, namun yang paling penting adalah aktifitas si anak.
    Asalkan masih mau minum susu atau jajan atau makan lain, gak masalah.
    Ada saatnya anak gak suka makan dan suatu saat doyan makan seiring dengan tumbuh kembang dan bertambahnya usia anak.

    Di sini banyak banget anak gak suka makan, gak ada satupun yang saya anjurkan rontgen dan mantoux kalo hanya masalah berat badan tanpa keluhan yang lain. Buang-2 waktu, duit dan hasil pemeriksaan lab serta mantoux bisa aja keliru.
    Ini pendapat sy, namun jika ingin periksa berbagai macam pemeriksaan, monggo … :)

    Trims

  186. 186 rina November 11, 2009 pukul 5:36 am

    makasih banyak ya Dok…
    terharu…dijawabnya cepet banget;-)
    kalo gitu mau nanya sedikit lagi…
    anak saya sulit minum susu formula sampe sekarang maunya ASI terus, alhamdulillah masih ada walaupun tdk sebanyak dulu
    tapi…kalo dikasih yoghurt mau, apa2 atau ga apa2 dok?satu lagi ya dok…adakah efek buruk jika anak diberikan vitamin yang terus2an?
    hatur nuhun pisan ya…;-)
    bangga neeh…punya dktr kayak gini..hi hi…

  187. 187 cakmoki November 11, 2009 pukul 5:52 am

    @ rina:
    Walau gak sebanyak dulu, ASI tetap paling bagus. Gak papa dikasih yoghurt asalkan anaknya mau. Demikian pula vitamin, dapat digunakan jangka panjang. Gak ada efek buruknya kecuali nambah anggaran… :)
    Perlu diketahui bahwa vitamin berfungsi untuk membantu metabolisme (pengolahan makanan dalam tubuh), bukan untuk menambah nafsu makan atau untuk merubah dari susu ke makanan.
    Moga sehat selalu.
    Hatur nuhun juga … ^_^

  188. 188 sisil November 12, 2009 pukul 2:17 pm

    Selamat siang dok,

    Mau tanya nih dok. Umur saya 39 tahun. Bulan lalu saya divonis ada flex paru, cuma sedikit kata dokter sambil menunjukkan hasil rontgen. Terus terang saya amat buta dalam hal membaca gambar rontgen. Hasil Test LED 75. Dokter memberi obat TB 4 macam : Rifampicin, TB Vit, Tibigon & Pyrazinamida, kontrol 2 minggu sekali lama pengobatan 6 bulan. Pertanyaan saya Dok, dengan flex yg katanya sedikit apa perlu pengobatan 6 bulan ? Apa bedanya dengan “Flex banyak”. Mungkinkah sekarang ini (berarti 1 bulan pengobatan) saya sudah sembuh dengan test lab. ulang barangkali hasilnya berbeda, mengingat saya sudah rajin minum obat dan banyak pantang makan.
    Sebagai informasi, riwayat keluarga saya tidak ada yang TB, demikian juga kantor, rumah bersih dan sehat.
    Mungkinkah flex saya dikarenakan saya sering mandi malam seteleh berkeringat deras ? Mohon jawaban, Terima kasih banyak atas bantuannya.

  189. 189 cakmoki November 12, 2009 pukul 4:03 pm

    @ sisil:
    Met siang,
    Flek paru (TBC) harus diobati selama 6 bulan, sedikit ataupun banyak sama saja. Pada umumnya akan sembuh total setelah pengobatan 6 bulan.
    Dianjurkan makan makanan bergizi, bukan malah pantang macam-2 makanan.
    TBC adalah penyakit menular yg ditularkan melalui droplets (percikan uap air dari hawa mulut dan pernafasan). Penularan dapat terjadi jika pernah berdekatan dengan penderita TBC dimanapun berada, misalnya di pasar, mall, tempat-tempat umum, dll.
    TBC bukan karena mandi malam setelah berkeringat deras ataupun tanpa berkeringan, namun sekali lagi adalah penyakit menular yang disebabkan kuman Mycobacterium tuberculosa.

    Jika meragukan diagnosa dokter tersebut berdasarkan hasil rontgen, boleh mencari second opinion ke dokter spesialis paru yang lain.
    Trims

  190. 190 sisil November 12, 2009 pukul 4:10 pm

    Dok, trims ya atas jawabannya. Paling tidak saya ga bertanya-tanya lagi kok bisa kena TB (pasrah). Berarti saya harus sabar dan rajin minum obat. Sekali lagi trims ya dok. Sukses selalu untuk dokter dan keluarga.

  191. 191 cakmoki November 12, 2009 pukul 4:42 pm

    @ sisil:
    sama-sama, makasih juga atas do’anya. Moga demikian pula sebaliknya. :)

  192. 192 sisil November 16, 2009 pukul 12:34 pm

    Dokter, mau tanya lagi nih seputar di atas.

    Kalo penularan TBC sendiri apakah bisa menular kalo saya berciuman dengan anak misalnya. Udah gede sih dok, 9 tahun. Tapi kan bungsu, jadi hanya dia yang biasa diciumi (jadi curhat dah).

    Trus lagi dok, gimana hubungan dengan suami, apa masih boleh. Atau harus nunggu sampe sembuh (6 bulan ?).

    Jangan bosan ya dok jawab pertanyaan saya. Trims banyaaaaak banget.

  193. 193 andreee Desember 4, 2009 pukul 12:40 pm

    cak, curhat dong …
    saya laki-laki tidak perokok, usia 32
    dulu saya pernah disuruh minum obat selama 6 bulan, dan alhamdulillah ga putus-putus sampai selesai. pada hari terakhirnya saya juga diperiksa dahak dan dikasih kesimpulan negatif artinya sudah sembuh kata orang laboratnya.

    nah, kemudian 4 tahun kemudian saya menjalani medical check up, dan menjalani tes rontgen dan divonis ada flek dan K.P masih aktif.

    padahal saya berat badan naik melulu selama setahun terkahir ini dari 50 sampai saat ini 61kg karena nafsu makan saya sekarang tinggi. jarang sekali batuk dan kalo batuk paling lama semingguan bgitu.tidak pernah berkeringat malam. oia, tinggi badan saya 172cm.

    nah, menurut cak moki gimana tuh? *saya saat ini juga sedang menunggu hasil tes mantoux juga, takutnya salah diagnosa juga malah saya gagal bekerja*

  194. 194 cakmoki Desember 4, 2009 pukul 4:03 pm

    @ sisil:
    hadhuhhh, mak…mohon maaf, kelewatan gak terjawab….
    Penularan TBC lewat droplets (percikan uap ludah), termasuk lewat ciuman. Karenanya sebaiknya gak usah nyium anak untuk sementara. Ntar kalo udah selesai pengobatan bisa dirapel.. :)
    Sedangkan tentang hubungan intim dengan suami, gakk papa sejauh bisa menghindari penularan. Apa bisa ? … hehehe
    Trims

    @ andreee:
    Kalo sudah minum obat 6 bulan dinyatakan sembuh, berarti gak ada lagi kuman Mycobactorium tuberculosa. Kecuali jika ketularan lagi dari penderita TBC.
    Kalaupun hasil rontgen menunjukkan TBC aktif, bisa jadi gambaran aktif tersebut hanya sequele, yakni bekas-bekasnya saja.
    Untuk membuktikannya bukan dengan tes mantoux, tapi dengan pemeriksaan dahak.
    Jika hasil pemeriksaan dahak sebanyak 3 kali menunjukkan hasil negatif, berarti diskripsi hasil rontgen salah, artinya bukan TBC. Sebaliknya jika pemeriksaan dahak menunjukkan hasil positif, berarti benar ada TBC aktif yang terjadi karena ketularan penderita TBC entah kapan dan dimana.

    Trims

  195. 195 sisil Desember 4, 2009 pukul 6:04 pm

    Dokter, trims atas jawabnnya. Dah lama menunggu sih, tapi gak pa-pa kok.

    Kalo kembung-2 n nyeri ulu ati akibat minum obat TB tuh ga pa-pa, dok ? saya kok tiap hari ya tersiksa gitu. Muntah juga tapi ga sering.

    Trims sekali lagi ya dok.

  196. 196 cakmoki Desember 5, 2009 pukul 6:05 am

    @ sisil:
    Gak papa, mbak… kadang emang gitu. Kalo sangat mengganggu, dapat menggunakan anti mual/muntah. Sedangkan untuk nyeri ulu hati dapat menggunakan obat penghambat peningkatan produksi asam lambung, misalnya: simetidine ato famotidin ato ranitidin. Obat-2 tersebut gak mengganggu penyerapan obat TB.
    Trims

  197. 197 andreee Desember 6, 2009 pukul 11:22 am

    makasih cak atas jawabannya..
    btw apakah semua dokter akan berpendapat dengan cak moki?
    *ngarep mode on*
    :):)

  198. 198 cakmoki Desember 6, 2009 pukul 8:55 pm

    @ andree:
    Tidak semua dokter memiliki pendapat dan penilaian yang sama terhadap hasil ceck up.
    Menurut saya kalo memungkinkan minta rekomendaSI dari dokter yang yang dulu memberikan pengobatan 6 bulan bahwa udah sembuh.
    Biasanya dokter yang sudah berpengalaman menilai hasil ceck up, tidak akan serta merta mempercayai hasil rontgen. :)

  199. 199 sisil Desember 7, 2009 pukul 10:38 am

    Dok, matur suwun sanged yo …

    Kali lain saya boleh konsul lagi kan ?

    Salam sejahtera tuk dokter dan keluarga.

  200. 200 budi Desember 7, 2009 pukul 12:02 pm

    dear dokter,
    saya kemarin foto rontgen dan hasilnya:
    - KP sinistra lama, DD mass
    - Cor tidak ada kelainan
    kalau perlu usul: foto thorax lateral sinistra

    nah, itu apa artinya ya,dok?kemarin ga dibilang apa-apa sama bagian rontgen’nya

    makasih sebelumnya

  201. 201 cakmoki Desember 8, 2009 pukul 12:50 am

    @ sisil:
    sami-sami, mbak.
    Ya, tentu kita bisa diskusi lagi.
    Salam juga untuk keluarga

    @ budi:
    KP artinya Koch Pulmonum atau TBC, sinistra artinya kiri. Lama dimaksudkan bahwa menurut ahli radiologi yang membaca rontgen diduga ada TBC (KP) yang sudah berlangsung lama atau bisa juga bekas TBC.
    DD artinya different diagnose atau diagnosa banding atau ada kemungkinan mass. Sedangkan mass adalah jaringan padat.
    Cor artinya jantung.
    Foto thorax lateral sinistra artinya: foto dada dari samping kiri.

    Dapat dimaklumi jika bagian rotgen tidak mengatakan apa-2 karena yang berkompeten untuk menilai hasil tersebut adalah dokter yang menyarankan rontgen berdasarkan hasil pemeriksaan fisik yang dilakukan oleh beliau.

    Hasil rontgen di atas merupakan penilaian dokter ahli radiologi dari aspek foto rotgen, sedangkan kesimpulan akhir berada pada dokter yang menyarankan rontgen.
    Trims

  202. 202 NURBIYANTO Desember 25, 2009 pukul 9:36 pm

    Salam jumpa lagi,

    Cak lama nggk konsul nich. Sekarang mau konsul anak saya umur 9 bulan. Berat badan sangat kurang 5,5 kg dan sering batuk berdahak sampai kadang2 muntah. Pas minggu kemarin sakit diare sehari sampai 3 – 5 kali. Periksa ke dokter dan disuruh test darah ,rongsen dan test tinja. Di rongsen dokter diagnosa mengarah ke TB dan di tinja ada lemak. Disuruh dokter stop susu bayi (sapi) tapi ASI tetap. Dikasih obat diare ama probiotik. Tapi masih mencret sampai sekarang. Untuk pengobatan TB belum dilakukan oleh dokter.
    Pertanyaan saya Cak,1. Haruskah minum obat TB mengingat anak saya baru 9 bulan. 2. kenapa masih mencret, tp dicoba distop obatnya nya jd reda mencretnya.
    Bingung dok, mohon pencerahan.

  203. 203 NURBIYANTO Desember 25, 2009 pukul 11:25 pm

    Cak ,nyusul ada hasil lab thorag foto :
    Cor : besar,bentuk normal
    sinus dan diagfragma normal
    pulmo : hili normal,corakan bronchovasculer bertambah
    Tampak infiltrat di suprahiler & perihiler
    kesan : Bronchopneumonia cc TB

    trims dok

  204. 204 cakmoki Desember 26, 2009 pukul 2:11 pm

    @ NURBIYANTO:
    Salam jumpa …
    1) Obat TB dapat diberikan umur berapapun jika emang TB, dengan dosis dihitung berdasarkan berat badan.
    Hasil Rontgen menunjukkan Brochopnemonia dengan DD TB, artinya anak menderita Bronchopnemonia dengan tidak menyingkirkan kemungkinan TB.
    Pada Bronchopnemonia, diperlukan pengobatan sekitar seminggu atau lebih bergantung pada berat ringannya batuk yang dialami anak.

    2) Lamanya pengobatan diare bergantung pada kemungkinan penyebabnya. Jika diare disebabkan virus, biasanya sembuh dalam 3-5 hari. Jika diare disertai lendir atau berbusa, kemungkinan desentri basiler atau desentri amoeba. Pengobatannya memerlukan waktu seminggu.
    Bisa juga diare-nya berhubungan dg Bronchopnemonia, dimana dahak tertelan dan memicu terjadinya diare.

    Moga segera sembuh.
    Trims

  205. 205 devi Desember 30, 2009 pukul 5:23 pm

    salam kenal cakmoki,saya 24 tahun divonis dokter kena tb tes mantoux positif anak saya juga umur 1 tahun,skrg qta dalam pengobatan,apa anak saya bs sembuh karena saya yg trus mengasuhnya?saya menggunakan pil kb ,apa masih boleh selama pengobatan?suami saya apa bs tertular tb dari saya,ada dokter anak saya liat rontgen saya ktnya diparu saya ada cairan dan harus disedot,pleuritis ,apa bs disembuhkan?trimakasih

  206. 206 cakmoki Desember 31, 2009 pukul 4:09 pm

    @ devi:
    TB Paru, pada orang dewasa ataupun pada anak, dapat disembuhkan secara tuntas dengan pengobatan TB selama 6 bulan. Setelah sembuh tidak akan menularkan kepada siapapun karena kuman sudah gak ada lagi.
    Penderita TB bisa menuarkan kepada orang disekitarnya jika tidak diobati, tapi tidak akan menular jika diobati hingga sembuh.

    Pleuritis yg mengakibatkan cairan pada rongga pleura (efusi pleura=pleural effusion) dapat disembuhkan dengan penyedotan dan dengan mengobati penyakit primernya.
    Moga segera sembuh dan sehat.
    Terimakasih.

  207. 207 siska Januari 4, 2010 pukul 8:18 am

    salam kenal, selamat pagi…
    ada yang ingin saya tanyakan :
    bagaimana dengan kasus seorang ibu yg masih sakit paru-paru basah (seharusnya saat ini msh dalam proses terapi, tetapi krn satu & lain hal terapi terhenti).
    nah, bila ibu tersebut hamil, bagaimana? apakah bisa berbahaya bagi janin yang dikandung? bagaimana dengan si ibu? apakah yang harus dilakukan?
    Mengingat, akhir-akhir ini si ibu batuk-batuk (sering) kembali.
    Mohon pencerahan…
    Terima kasih.

  208. 208 cakmoki Januari 5, 2010 pukul 2:54 am

    @ siska:
    Salam kenal …
    Bila yang dimaksud paru-paru basah itu TBC, maka ibu tersebut wajib minum obat selama 6 bulan walaupun sedang hamil.
    Obat TBC (rifampicin, INH, pyrazinamid, ethambutol, vit B6) termasuk kategori B dan C pada kehamilan yg artinya aman untuk janin dan ibunya.
    Sedangkan jika yang dimaksud paru-paru basah tersebut bukan TBC maka perlu bertanya kepada dokter yang mengatakan paru-paru basah tentang makasud dari “paru-paru basah”. Saya gak yakin saat ini masih ada dokter yg mengatakan paru-paru basah mengingat paru-paru basah tidak ada dalam terminologi penyakit di dunia medis.
    Terimakasih.

  209. 209 siska Januari 6, 2010 pukul 6:15 pm

    Dear Cakmoki…

    saya kurang tahu apakah yg diderita itu TBC ato bukan, ttp yang pasti sekitar bln Juni th lalu, blio pernah opname & disedot cairan yg ada di paru2 nya. proses penyedotan dilakukan melalui punggung sebelah kiri.
    jadi, meski si ibu sedang sakit, aman ya baginya juga bagi janinnya?

  210. 210 cakmoki Januari 7, 2010 pukul 12:18 am

    @ siska:
    dear mbak siska,
    kalo dilakukan penyedotan, biasanya Pleural Effusion (efusi pleura), yakni penyakit pleura (selaput paru) yang disertai adanya cairan dalam pleura (antara lapisan luar paru dengan selaput pleura). Penyebanya bisa berbagai faktor yang dapat diketahui melalui pemeriksaan dokter.
    Jika diobati, aman buat janin yang dikandungnya.
    Trims

  211. 211 Sisil Januari 14, 2010 pukul 6:06 pm

    Dok, tanya lagi nih.

    Bulan ini obat yang saya minum menurun jadi 2 macam.
    O ya, pengobatan flek saya sudah bulan ke-3.
    Tapi dok, obat yang saya minum kok bikin efek macam-macam ya.
    Untuk yang Rifampicin bikin mual, kembung, trus nyeri ulu hati. Obat ini diminum sebelum makan. Untuk mengurangi efek tersebut saya juga minum enziplex.

    Obat ke-2 (INH) saya minum setelah makan. Nah obat ini bikin gatal-gatal. Dokter kasih Histapan untuk mengurangi gatalnya. Tapi kok histapan bikin saya muleng-muleng ya, dok. Saya coba pake incidal, lumayan. Diminum bersamaan dengan INH. Tapi 4-5 jam kemudian gatal lagi, trus saya minum 1 lagi (berarti 2 buah). Obat ini (INH) juga bikin sariawan, walaupun minum saya dah banyak.

    Melihat kondisi di atas, apa gak berbahaya dok. Mual, kembung, nyeri ulu hati, gatal-2, bukankah merupakan penolakan dari tubuh ?
    Kalo dipaksa, apa gak bikin komplikasi ? (tolong dibetulkan kalo salah).

    Trus satu lagi dok, obat-2 yang saya minum apa aman buat ginjal saya. Soale banyak banget.

    Jangan bosan jawab pertanyaan saya ya, dok.

    Trims atas bantuannya.

  212. 212 cakmoki Januari 14, 2010 pukul 10:00 pm

    @ Sisil:
    ya, bulan ketiga dan seterusnya obatnya beda dengan 2 bulan pertama.
    Kadang rifampicin menimbulkan keluhan lambung. Penanggulangannya udah bener, pake enzyplex atau ranitidine dan sejenisnya.
    Sedangkan gatal setelah minum INH dapat ditanggulangi dengan antihistamin yang paling nyaman. Kalo lebih enak pake incidal, obat tersebut dapat dilanjutkan.
    Adapun sariawan dapat ditanggulangi dengan tablet hisap, misalnya FG-Troche, dihisap 6 kali sehari.
    Keluhan-keluhan tersebut merupakan efek samping obat, tidak bahaya dan bukan komplikasi.
    Obat TB aman untuk ginjal dan sudah menjadi standart internasional. Artinya, setiap penderita TB di seluruh dunia wajib menggunakan obat yang telah ditetapkan oleh WHO agar benar-benar sembuh.
    Trims

  213. 213 Sisil Januari 15, 2010 pukul 1:57 pm

    Dokter …

    Trims atas pencerahannya. Belakangan ini memang agak kuatir dengan efek obat tersebut. Baca jawaban dari dokter saya jadi lega.

    BTW 6 bulan lama ya, dok. Bosen juga minum obat. Hehe ..

    Sekali lagi trims. Sukses dan sehat selalu untuk dokter dan keluarga.

  214. 214 engkun Januari 15, 2010 pukul 9:54 pm

    Dokter saya mau tanya

    Di pergelangan tangan dan leher istri saya ada benjolan sebesar kacang tanah, kata dokter adalah TB Kelenjar. Permasalahannya istri saya ini sedang menyusui balita (usia 9 bulan), apabila minum obat INH, Rifampicin, Pyrazinamide, dan Ethambutol apakah ada efek samping buat balita yang sedang disusui ? kalau ada bagaimana solusinya dan berapa dosis obat yang harus di konsumsinya (BB : 46 Kg)
    Saya tunggu tanggapannya, terimakasih.

  215. 215 cakmoki Januari 16, 2010 pukul 7:20 pm

    @ Sisil:
    iya, 6 bulan sangat lama, tapi ntar gak terasa, tahu-tahu udah selesai…hehehe :)
    Makasih do’anya, Mbak…moga demikian pula sebaliknya.

    @ engkun:
    Obat TB atau dikenal dengan regimen TB aman untuk ibu menyusui. Obat-obat tersebut rata-rata termasuk kategori B pada kehamilan dan wanita menyusui, yang artinya aman.
    Moga istri segera sembuh.
    Trims

  216. 216 musfarsyah Januari 27, 2010 pukul 5:47 pm

    tlon9 carikan tntang bronkopnemonia data who&indonesia

  217. 218 Uti Februari 9, 2010 pukul 11:42 am

    Salam kenal,

    Anak saya sering batuk pilek dan kebetulan ada riwayat asma so klo dah sakit jadi rewel krn agak susah nafas n gak bisa tidur malemnya. Saat ini usianya udah 4,5th berat 14 kg & tinggi 103. Knapa ya berat badannya susah naik? padahal makan minum doyan trus rajin kasih vitamin juga. Dok klo melihat data di atas anak saya masih tergolong sehat atau kurang gizi ya? Saya sbagai ibu sangat kwatir sekali dengan kondisi anak saya tersebut. Saat ini anak saya sakit batuk pilek lagi, sudah di bawah ke DSA dan minum obat yang berikan, hanya saja 2 hari ini belum ada perubahan.Saya tanya dokternya ktnya ank sy gpp dan dianjurkan menghabiskan obat yg udah ada. Akhirnya saya menurut aja apa yg dikatakan dokter dengan tetap memberikan obat ke anak saya. lumayan ada perubahan, dalam arti klo pagi siang anak saya sudah kliatan sehat dan batuk pileknya juga jarang. Yg jdi masalh klo menjelang sore knapa anak saya jadi demam dan klo batuk dahaknya jadi susah kluar. Lalu di hari ke tiga anak saya mimisan trus belekan juga tapi alhamdullilah skarang mimisannya sudah gak lagi setelah di kasih daun sirih ibu mertua. Menurut dokter apakah saya perlu melakukan pemeriksaan kembali atau menunggu reaksi anak stelah obat dihabiskan? Sebenarnya bahaya tidak ya klo anak sering ke dokter trus mengkonsumsi obat dan antibiotik? jadi takut juga klo lihat efek samping yg tertera di dalam kemasan obat. Lalu kondisi anak saya yg seperti ini apakah bisa dibilang adanya penyakit TB?? apa yang harus saya lakukan yah dok?? o iya satu pertanyaan lagi, mengkonsumsi susu kambing ettawa bagus tidak yah untuk anak balita?? trima kasih sebelumya.

    Sukse slalu yah dok…..

    ^__^ ‘uti’

  218. 219 cakmoki Februari 9, 2010 pukul 6:29 pm

    @ Uti:
    salam kenal :)

    1) Dengan umur 4,5 th dan BB 14 tahun, masih gakpapa. BB adalah salah satu ukuran tumbuh kembang anak, yang penting anaknya aktif dan komunikatif. BB anak susah naik dapat disebabkan oleh berbagai faktor, diantaranya karena aktifitasnya, dll.

    2) Mengingat ada riwayat asma, menurut saya obat hendaknya dihabiskan dan periksa kembali ke dokter yg sama jika belum sembuh. Sangat wajar anak usia segitu mudah kambuh asmanya terutama jika terpapar allergen, misalnya setelah aktifitas berlebihan, debu, cuaca, dingin, asap, dll.

    3) TBC pada anak tidak dinilai hanya dari batuk dan berat badan. Anak dicurigai TBC bila : (a) demam yang tidak diketahui sebabnya hingga lebih 2 minggu, (b) BB cenderung menurun dan anak menjadi lesu, (c) adanya sumber penularan. Nah jika ada 3 hal tersebut, dokter akan menganjurkan pemeriksaan Mantoux test. Sedangkan Rontgen biasanya sulit dinilai karena kalo anak sedang batuk lantas difoto rontgen, suka dinilai sebagai TBC oleh radiolog karena banyak dahak yang di dalam foto rontgen nampak seperti awan. Kejadian semacam ini sering terjadi, dimana anak tidak menderita TBC tapi diobati TBC hanya gara-gara orang tuanya panik dan ketemu dg dokter yg dikit-2 mendiagnosa TBC.

    Menilik bahwa dokternya udah mengatakan gakpapa, berarti dokternya tahu jika anak tersebut asma, bukan TBC.

    Tentang antibiotika, jika emang ada indikasi, misalnya tanda infeksi yg menyertai asma atau batuk pilek berkepanjangan, maka pemberian antibiotika adalah keharusan. Gak papa. Justru kalo ada infeksi sekunder tapi gak diberikan antibiotika, penyakit bisa bertambah berat.
    Biasanya, anak dengan riwayat batuk pilek yg dalam (grak-grok), agak lama sembuhnya, soalnya anak tidak bisa mengeluarkan.
    Jadi, antibiotika diperlukan jika ada indikasi dan beguna menghentuikan infeksi kuman.
    Selain itu, bisa jadi agak sering ke dokter, kdang 1-2 kali dalam sebulan terutama pada musim-2 tertentu.

    4) Yg perlu dilakukan adalah melanjutkan obat dari dokter dan periksa ke dokter yg sama bila belum tuntas.

    5) Semua susu memiliki komposisi yang mirip. Kalaupun ada iklan yg menawarkan keistimewaan susu produknya, itu hal biasa, namanya juga jualan… hehehe.
    Untuk itu, biarkan anak memilih susu yang disukainya.

    Moga sehat selalu.
    Makasih

  219. 220 umar Februari 11, 2010 pukul 9:23 am

    Afwan (maaf) belum sempat baca semua,lain kali insya Alloh Kami kunjungi lagi. bagi tema-teman yang ingin menambaha wawasan tentang kesehatan silahkan mampir ke blog kami, berkahalami1.wordpress.com

  220. 221 cakmoki Februari 11, 2010 pukul 3:28 pm

    @ umar:
    erimakasih kunjungannya :)

  221. 222 nila Februari 23, 2010 pukul 12:41 pm

    saya mau tanya dok

    anak saya tiap hari batuk, bersin2 dan pilek terutama kalau pagi bangun tidur. kalau siang,sore atau malam jarang. gejala itu mirip sekali dengan pengasuhnya, sementara pengasuhnya orang tuanya di kampung kena TB semua. BB anak saya (4th) tdk naik2 tapi masih dalam batas normal (14kg), anak kadang2 kelihatan lesu. Jadi saya takut kalau2 kena TB. Hasil tes lab :
    - Tes maktuk hslnya negatif
    - Rontgen :
    * cor, sinuses & diafragma normal.
    * Pulmo : hili kabur, corakan bronchovasculer bertambah.
    tampak samar nodu;nodul opak dikedua perihiler &
    paracardial
    * Kesan : curiga KP positif
    - Tes darah :
    * Eosinofil : 13* (tinggi)
    * Laju endap darah : 30mm/1jam (tinggi)
    * Yang lainnya normal

    Bagaimana menurut pendapat dokter, apa hasil tersebut sudah mengindikasikan TB ? Kalau belum meyakinkan apa yang harus saya lakukan, karena kalau blm yakin saya kasihan kalau anak saya harus minum obat terus min 6 bulan.
    Terima kasih sebelumnya atas pendapat & sarannya.

    Nila

  222. 223 dewi Februari 23, 2010 pukul 4:11 pm

    dok, mau nanya nih. aku udah batuk pilek lebih dari 4 minggu(batuk saya ini suka beriak). saya suka ngerasa lemes dan sesak nafas. waktu itu saya diajak sama mama saya kedokter, terus begitu saya diperiksa saya dibilang hanya terkena ISPA saja, lalu saya diberi obat. tetapi hingga saat ini batuk yang saya derita belum sembuh juga. apakah saya termasuk ciri- ciri penderita TBC? terimkasih sebelumnya :D

  223. 224 cakmoki Februari 23, 2010 pukul 4:12 pm

    @ Nila:
    hehehe… itulah kalo anak sedang batuk lantas dirontgen. Hasilnya gak akan jauh dari itu : “curiga KP”… hampir selalu begitu, apapun sebab batuknya, bahkan pada batuk alergi atau asma sekalipun.
    Maaf, saya tidak dalam posisi memutuskan, kecuali para pasien saya sendiri di praktek. :)

    Sebenarnya, kalo hanya dinilai dari sudut keluhan, yakni: “…batuk, bersin2 dan pilek terutama kalau pagi bangun tidur. kalau siang,sore atau malam jarang..” arahnya berhubungan dengan cuaca bukan ? Sedangkan mengenai pengasuhnya, perlu dibuktikan apakah dia TBC atau enggak, yakni dengan test BTA.

    Demikan sekedar gambaran penjelasan singkat dari saya, selebihnya dapat dibaca pada diskusi sebelumnya (scroll ke atas), dimana masalah semacam ini panjang lebar didiskusikan pada topik ini.
    Namun perlu diketahui bahwa pendapat-2 saya yang tidak mudah percaya berkenaan dengan maraknya dakwaan TBC pada anak, adalah pendapat pribadi yang dilandasi dengan banyak faktor.
    Adapun keputusan akhir, sepenuhnya berada pada masing-masing orang tua :)

    terimakasih

  224. 225 cakmoki Februari 23, 2010 pukul 4:18 pm

    @ dewi:
    Mungkin benar, hanya ISPA, dimana kalo berdahak dan sesak kadang sembuhnya lama. Untuk itu diperlukan obat sesak (melonggarkan nafas atau bronkodilator), pencair dahak dan kalau perlu anti alergi.
    Sedangkan untuk membuktikan TBC atau bukan, dapat dilakukan dengan pemeriksaan dahak BTA (kuman batang asam). Jika pemeriksaan dahak BTA 3 kali menunjukkan hasil negatif berarti bukan TBC.

    Makasih

  225. 226 andre Februari 23, 2010 pukul 5:20 pm

    dok, dulu sy pernah minum obat selama 6 bulan dan dinyatakan sembuh dari tbc.
    apakah ada kemungkinan bisa kena penyakit tbc ini ?
    sebelumnya

  226. 227 cakmoki Februari 23, 2010 pukul 10:06 pm

    @ andre:
    seseorang bisa terkena TBC jika ketularan penderita TBC lainnya, baik yang belum pernah TBC maupun yang sudah pernah TBC.
    Makasih :)

  227. 228 andre Maret 1, 2010 pukul 9:08 am

    makasi ya,dok atas penjelasannya..

    nah, jika saya tertular lagi apakah pengobatan dilakukan sampai 6 bulan seperti sebelumnya?

    nah, kemudian apakah kuman ini jadi lebih kebal? karena saya pernah melakukan terapi pengobatan sebelumnya?

  228. 229 cakmoki Maret 1, 2010 pukul 2:41 pm

    @ andre:
    benar, jika tertular lagi, maka perlu pengobatan 6 bulan.
    Pengobatan ulangan tidak membuat kuman menjadi kebal sejauh pengobatannya dilakukan dengan benar sesuai anjuran dokter… :)
    Makasih

  229. 230 devi Maret 13, 2010 pukul 12:27 pm

    dok, sy mau nanya…anak sy umur 5 th kondisi batuk pilek BB 22kg TB 120cm periksa lab LED nya 36 lekositnya 11 300. hasil ronsenya hilus kanan suram, tampak infiltrat di perihiler kiri. didiaknosa dokter terkena flek. tp anak sy blm test mantoux. Apakah dari data diatas anak sy terkena flek meski blm di test mantoux? oleh DSA diberikan terapi obat TB vit, rifampicin. dan baru sy berikan 2hr ini. Apakah telat kl sy second opini keDSA yg lain? tolong saya dok, saya bingung sekali…terima kasih banyak dokter.

  230. 231 cakmoki Maret 14, 2010 pukul 6:22 am

    @ devi:
    walah, kalo gitu caranya, setiap anak indonesia yang batuk trus difoto rontgen, jadinya TBC semua lak-an…. :D

    pertanyaan serupa ada di atas, demikian juga jawaban dan penjelasannya…monggo, silahkan scroll ke atas…

    Second opinion adalah hak pasien dan kelurganya… tak ada kata terlambat untuk mencari kebenaran.
    Makasih

  231. 232 ika Maret 18, 2010 pukul 5:43 pm

    salam kenal cak..
    anak saya 17 bulan, seminggu yg lalu divonis tb oleh dokter,
    gejala awal, 3 hari sebelum panas anak saya batuk pilek lalu saya bawa ke dokter umum dan dikasih obat flu dan antibiotik – anak saya hampir 2bln sekali batuk pilek dan selalu ke dokter yg sama dan dikasih obat flu dan antibiotik, dokter itu selalu bilang, bersih ko ga ada flek- setelah obat habis badannya malah jadi panas smp 39.4 disertai kejang 1x lalu saya bawa ke ugd sebuah rmkit, cuma dikasih obat yg dimasukan ke anus jika kambuh lagi kejang nya.
    hari kedua anak saya kejang lagi tp tidak panas suhunya 37.4, lalu disarankan di opname dan masuk icu, klo anak saya nangis setelah nangis selesai pasti kejang.
    lalu ank saya di rontgen, tes darah, smp scan city dan eeg takutnya kejang karena jatuh.. hasilnya normal
    setelah di lihat pada bekas suntikan di tgan kanan dokter bilang PPD postif lalu melihat hasil rontgen katanya ada flek di paru2 nya, menurut adik saya yg nurse flek itu karena waktu di rontgen anak saya sedang batuk pilek.. walhasil anak saya harus minum obat rimcure paed 60 selama 6bln
    yg mau saya tanyakan,
    1. apakah gejala awal dari tb adalah panas disertai kejang ?
    hari berikutnya saat anak saya kejang suhu badannya tidak panas
    2. apa ada pengaruh hasil rontgen pada saat batuk flu yg bisa mempengaruhi hasil yg berujung pada kesimpulan bahwa anak saya tb ?
    3. apa karena obat flu dan antibiotik yg diberikan dokter umum itu tidak cocok, sehingga bisa menyebabkan anak saya panas demam dan timbul kejang ? padahal biasanya pake obat itu 3hari batuk pilek nya sembuh
    4. setelah pengobatan 6bln ada kah kemungkinan kejang2 bisa muncul lagi ?
    5. setelah minum obat rimcure ini anak saya pasti mencret, padahal menurut dokternya biasanya klo pake obat ini malah jadi susah bab, apa ada kemungkinan salah diagnosa ?
    maaf klo penjelasannya puanjang, soalnya saya masih ragu tentang tb ini, soalnya dilihat anak saya lincah2 aja dan berat badannya selalu naik

  232. 233 hana Maret 19, 2010 pukul 1:24 am

    Cak, anak saya 21 bln dengan berat badan kurang (9,3 kg)karena memang susah makan / pilih2 makanan. DSA menyarankan untuk rontgen thorak dan tes darah. Setelah dilakukan rontgen thorak dan juga periksa darah, kemarin dokter memvonis anak saya flek paru. Resep obat belum saya tebus karena saya masih ragu apa betul anak saya TB. Mohon saran dari Cakmoki. Berikut hasil dari pemeriksaan thorak : Infiltrat minimal perihiler dan paracardial tak tampak limfedinopati hilus,kalsifikasi hilus (+) Sinus costophrenicus lancip. Diafragma licin CTR kurang dari 0,5.
    Kesan : Radiologis suspect spesifik proses dengan besar cor normal.

    Hasil rontgen sudah saya scan apabila nanti dibutuhkan akan saya kirim via email. Makasih.

  233. 234 cakmoki Maret 19, 2010 pukul 4:52 pm

    @ ika:
    saya sependapat dengan adik ibu yg nurse…. setiap anak batuk, kalo dirontgen hasilnya seolah TBC (flek)…. tapi TBC bukan hanya berdasarkan hasil rontgen… lha kalo gitu, semua anak se indonesia akan dianggap TBC hanya gara-2 rontgen saat batuk… opo tumon ? :D

    1) tidak
    2) ya, ada pengaruh
    3) setiap anak panas, beresiko timbul kejang jika panasnya melampaui ambang batas kejang masing-2 anak, apapun penyebab panasnya…. batuk pilek, diare, panas karena koreng, dll.
    Lagipula, panas batuk pilek banyak sebabnya… seandainya panas batuk pilek tersebut karan bronchopenomia, maka panasnya bisa berlangsung hingga lebih 3 hari – 1 minggu walaupun menggunakan antibiotika dan obat panas terbaik dan termahal…
    Panas batuk pilek hanya keluhan atau gejala saja, sedangkan penyakitnya bisa macam-macam, misalnya: Bronkopnemonia (pnemonia), bronkitis oleh kuman, dll…dll…dll

    4) sebagaimana jawaban no.3…. kejang demam bisa timbul oleh panas akibat berbagai penyakit. Sedangkan pengobatan 6 bulan adalah obat untuk mengobati TBC saja…

    5) biasanya emang sulit BAB (konstipasi), tapi juga bisa diare… Efek samping obat tsb tertulis gangguan gastrointestinal, artinya: bisa sulit BAB maupun diare …gitu :)

    Kalo ibu ragu tentang TBC… saya malah gak percaya babar blass (dengan tetap menghormati hasil diagnosa sejawat dokter)

    Makasih

    @ hana:
    ok, silahkan scan dan kirim via email:
    cakmoki2006 [at] yahoo [dot] com
    saya tunggu…

  234. 235 ika Maret 19, 2010 pukul 5:19 pm

    terimakasih atas jawaban cak..
    klo cak yg berprofesi sbgai dokter saja ragu, apalagi saya yg hanya ibu rt yg bener2 berpengetahuan `nol besar` ttg tb ? :)
    menurut cak, apa saya harus lakukan ? test ulang anak saya untuk meyakinkan bahwa anak saya tb atw tidak ?
    terus, obat rimcure itu jg apa saya lanjutkan ? mengingat saya aja masih ragu ttg penyakit nya ?

  235. 236 cakmoki Maret 19, 2010 pukul 5:33 pm

    @ ika:
    Maaf, saya bukan ragu, tapi tidak percaya … :D … beda kan?
    Tes ulang di tempat yang sama kemungkinan hasilnya akan sama …
    Untuk itu, periksa ke dokter lain sebagai second opinion merupakan salah satu langkah yang bijak…. kalo setelah itu masih ragu, cari dokter lain lagi …. :)

    Mengingat bahwa saya tidak percaya (berdasarkan kronologi di atas), tentu saya tidak menganjurkan untuk melanjutkan…

    Mungkin ibu belum membaca keseluruhan diskusi para pembaca…
    Berikut ini saya copy paste salah satu jawaban atas pertanyaan yang sama:

    Dalam hal TB Paru pada anak, tanda terbanyak adalah panas or demam lebih dari 2-3 minggu disertai dengan penurunan aktifitas dan berat badan. Adakalanya disertai batuk berkepanjangan (jarang).
    Sedangkan pada dewasa, tanda terbanyak pada umumnya batuk lama, lemah, dll.
    Seorang dokter akan memeriksa dengan seksama dan kalo curiga terhadap penyakit tertentu adakalanya memerlukan pemeriksaan penunjang (lab, rontgen dll) untuk menunjang diagnosa.
    Dari sisi pasien, tentu berhak untuk bertanya dan mencari opini dokter lain jika diagnosa dokter sebelumnya dirasa meragukan.

    ato, ada gak sih..yg gak panas en ga demam, tapi ujug-ujug **bhs indonesianya apa?** langsung TB…?????

    Kemungkinan tersebut ada. Tapi jumlahnya dikit, dimana seseorang tidak nampak sakit tapi pada pemeriksaan dahak ditemukan kuman batang asam yakni kuman Mycobacterium tuberculosis. Penderita demikian disebut TB non aktif.

    Berikut di bawah ini adalah Kriteria Diagnosis TB Anak:
    (1) Pemeriksaan bakteri (+) / Patologi Anatomi (PA) (+)

    (2) Bakteri/PA (-), Mantoux Test (Mt) (+), Rontgen (Ro) (+), Sumber penularan (sumber) (+) *artinya, di sekitar anak ada yang sakit TBC*, Gejala (+), BCG (-)

    (3) Bakteri/PA (-), Mantoux Test (Mt) (+), kemudian pada 1 tahun terakhir (anak dibawah 6 tahun): Ro(-), Sumber (+/-), Gejala (+/-), BCG (-).

    (4) Bakteri/PA (-), Mantoux Test (Mt) (+), kemudian pada anak dibawah di atas 6 tahun: Ro (-), Sumber(+/-), Gejala(+), BCG(-).

    (5) Bakteri/PA (-), Mantoux Test (Mt) (-), Ro (+ luas disertai pembesaran kelenjar), Sumber(+/-), Gejala(+/-), BCG(-).

    (6) Bakteri/PA (+), BCG(+).

    (7) Bakteri/PA (-), Mantoux Test (Mt) (+), Ro (+ luas disertai pembesaran kelenjar), Sumber(+/-), Gejala(+/-), BCG(+).

    Jika anak yang dicurigai TB memenuhi salah satu dari kriteria di atas, maka bisa didiagnosa TB aktif yang memerlukan pengobatan.

    Makasih

  236. 237 ika Maret 22, 2010 pukul 2:53 pm

    oks cak..
    aku mau cari second opinion ke spa yg lain.. biar lebih yakin..
    thank yah udh mau berbagi.. :)

  237. 238 cakmoki Maret 23, 2010 pukul 2:38 pm

    @ ika:
    oks…. monggo :)

  238. 239 Iwan April 4, 2010 pukul 10:28 pm

    salam kenal cak…
    tidak sengaja saya menemukan blog anda, tulisan anda sangat membantu banyak orang yg sedang bermasalah dgn anaknya…. salut kepada anda…..
    cak, saya mau minta pendapat ttg kondisi anak saya : umur 3 tahun 3 bulan, beratnya 10,5 kg, tinggi 89 cm (saat lahir BB 2,9 kg TT 49 cm). Permasalahannya anak saya TT & BB kurang dibanding anak2 sebaya, kondisi ini berawal saat usia 1 tahun 7 bulan anak saya tidak mau makan sama sekali (saat itu beratnya 8,5 kg), sebagai gantinya saya beri pediasure, dan kembali mau makan usia 2 tahun 4 bulan.
    Saya bawa ke dokter anak, pendapatnya : anak saya kena flek (dari hasil rontgen/ katanya ada “kabutnya”), lalu diberi obat yg harus diminum rutin (nggak tahu sampai kapan), tapi hanya seminggu saja saya berikan krn saya tidak yakin (lingkungan tidak ada yg TBC, aktivitas normal, tidak batuk)
    Saya bawa ke dokter lain dgn membawa hasil lab dokter pertama, ternyata pendapatnya sama, dan diberi obat INH-CIBA Syrup. Lumayan, nafsu makan anak saya bertambah.
    Kembali saya bawa kedokter ketiga, ternyata pendapatnya sama (dengan melihat hasil rontgen ulang)
    CakMoki, mohon pendapat anda :
    1. Apakah mungkin anak saya terkena flek hanya dengan melihat hasil rontgen saja ? terus terang saya masih ragu….
    2. Mengapa anak saya pertumbuhannya lambat dibanding anak2 sebaya ? mohon pendapatnya cak…. mungkin ada saran, dll… hal2 yg menghambat pertumbuhan anak..?
    3. Kemana saya harus membawa anak saya ? apakah perlu ke spesialis paru
    Tks untuk saran & pendapatnya cak.

  239. 240 niken April 6, 2010 pukul 2:41 pm

    assalamualaikum…..

    wah yang ditulis membuat saya tambah deg-degan nih, apa pasal…???? beberapa waktu ataw tepatnya 1 minggu yang lalu, anakku Dzaki difonis terkena flek dan di beri obat untuk jangka waktu 1 bulan. yo manut sama dokter semua diminum sesuai dosis dan aturan minumnya. tapi….kemiarin saya baca di internet masalah flek paru ini membuat saya bimbang dilanjut atau ndak yo minum obatnya….mau ke dokter lain juga ragu2 harus gimana nih….
    anakku umur 5 tahun 1 bulan dengan TT & BB 108cm & 17kg, apakah ukuran tersebut masih dalam batas wajar untuk anak seusianya karena anaknya aktif dan nafsu makan lumayan….bagaimana sikap saya ya seharunya……….

  240. 241 indra April 7, 2010 pukul 1:55 pm

    saya sudah membaca komen-komen diatas..
    dan
    saya mo tanya dunk dok.. :D
    apa hasil rontgen bisa jadi acuan terkena tb ?
    soalnya pada hasil rontgen terdapat flek di paru bagian kiri, itu dengan photo rontgen dengan posisi khusus…
    di sisi lain saya “tidak” mengalami tanda2 umum penderita tb seperti : batuk berdahak, berat badan menurun, tidak enak badan, sesak nafas, berkeringat pun tidak..
    dokter yg saya datangi meminta saya meminum obat selama 6 bulan tanpa putus..
    pertanyaan saya :
    1. apakah flek paru bisa diindikasikan menderita tb (dilihat tidak ada tanda-tandanya)
    2. kalaupun saya meminum sampai 6 bulan apakah flek masih ada
    3. apa ada cara menghilangkan flek paru selain meminum obat (mungkin referensi makanan atau minuman menurut dokter)
    Makasih sebelumnya… :D

  241. 242 cakmoki April 7, 2010 pukul 3:29 pm

    @ Iwan:
    Mohon maaf, terlambat menjawab…kelewatan ..:)

    1) Menilik kronologi di atas, sejujurnya saya juga ragu, alias tidak percaya anak bapak didiagnosa TBC hanya dengan melihat hasil rontgen… jawaban selengkapnya dapat dilihat pada diskusi sebelumnya (silahkan scroll)

    2) Mengacu BB dan umur, emang berat badan kurang. Pada umur 3 tahun, minimal 11,5 kg. Tapi perlu diingat bahwa Tumbuh Kembang anak bukan hanya dilihat dari berat badan semata, namun lebih pada aktifitas dan komunikasi.
    Kurangnya berat badan pada anak dapat disebabkan oleh banyak faktor, bukan lantas didakwa TBC. Pada anak yang aktif, biasanya anak lupa atau tidak mau makan. Mereka lebih suka bermain ketimbang disuruh makan, sehingga seringkali berat badan anak menjadi kurang. Jika memungkinkan, diusahakan banyak variasi makanan dan jajanan untuk melatih anak agar mau makan. Kalo perlu memberikan makanan ato makanan kecil saat anak bermain. Tentu upaya-2 melatih anak agar mau makan tidak bisa dilakukan dalam tempo singkat, tapi perlu waktu berbulan-bulan bahkan adakalanya bertahun=-tahun.
    Menurut saya, yang penting anak aktif dan tetap melatih anak agar mau makan dan minum susu sesuai selera anak.
    Kalo orang tua panik, biasanya akan didiagnosa TBC hanya gara-gara berat badan.

    3) boleh cek ke dokter spesialis paru.
    Kalo gak ada keluhan lain, dan hanya masalah berat badan, gak harus ke dokter. Cukup dengan melatih anak dengan berbagai cara agar anak mau makan sesuai cita rasa yg disukainya.

    Sekali lagi mohon maaf atas keterlambatan jawaban saya.
    Makasih :)

    @ niken:
    Assalamu’alaikum….
    Ukuran berat badan dibanding umur, sangat wajar alias normal.
    Saya gak ngerti mengapa anak tersebut didiagnosa flek paru (TBC)…kalo hanya masalah berat badan, lantas dirontgen…menurut saya diagnosa TBC patut diragukan.
    Kalo emang ragu, tidak perlu minum obat TBC… :)
    Penjelasan selengkapnya, silahkan scroll dan silahkan baca diskusi-2 sebelumnya. Di situ akan terjawab dengan gamblang.

    Makasih

    @ Indra:
    1) flek paru adalah istilah lain untuk TBC. artinya sama aja.
    TB paru dapt dipastikan dengan pemeriksaan BTA 3 kali. Kalo hasil BTA negatif, maka bukan TB paru, walaupun rontgen mengatakan flek.
    Kalo berkenan, silahkan ditulis di sini tentang diskripsi hasil rontgen, ntar akan saya jelaskan …

    2) Kalo emang TBC, dibuktikan dengan pemeriksaan dahak BTA, maka wajib minum obat TBC selama 6 bulan. Niscaya kuman Mycobacterium tuberculosa akan hilang setelah minum obat 6 bulan. Sedangkan rontgen hanyalah alat bantu diagnosa, yang bisa salah. Terlebih yg membaca rontgen adalah dokter radiologi yang tidak memeriksa pasien secara langsung. Gambaran flek (bercak pada paru) tidak selalu mengindikasikan TBC.

    3) Untuk menghilangkan kuman Mycobacterium tuberculosa hanya dengan obat yg sudah teruhi selama puluhan tahun.
    Harap dibedakan antara flek (bercak) pada paru dengan kuman TBC. Tidak sama.
    Seabagi contoh: seseorang yang menderita TBC adakalanya masih menyisakan gambaran bercak pada paru walaupun sudah sembuh dengan pengobatan. Itu bukan berarti masih ada TBC, tapi merupakan sequelle atau sisa TBC.

    makasih :)

  242. 243 Rita April 9, 2010 pukul 11:26 am

    Dok, anak saya usia 1tahun , 3 hri yll divonis DSAnya kena TB kr brt bdn krg ( 7,3kg tinggi 73cm, bb lhr 25,5 tinggi 46cm) dan hasil LED ( I:21 II:48). DSA tdk menjlskn secara detail apa yg menjadi pertanyaan saya katanya walo dijelaskn sy tdk akan mengerti (jutek gak ?…). Nurut sy bayi saya lincah & aktif, tdk pernah batuk kecuali terkn flu itupun krn tertular sdr saya, makan jg lumayan (walo kdg jg mkn sdkt klo gak mood, selain ASI dia jg minum sufor 3~4 btl sehari @120cc.1bulan ini dia terkn panas 2x y pertm 5hari dan yg ke2 3 hari (setelah suhu badan dingin keluar bercak2 merah yg nurut sy itu gabaken, ap bnr ya?) menurut DSAnya bkn ….
    Semua resep saya tebus dan sdh sy minumkan, setelah baca2 diinternet sy smkn ragu dg skt yg divoniskn kpd bayi sy.
    Yg sy tykn : apa hsl LED tinggi itu pasti menandakan klo pasti terkn TB?
    Apa sy hrs mencari alterntf dokter lain ?
    Bgm dg obat2 dari DSAnya ? apa tetap hrs sy minumkn ?
    Mhn pjlsaannya. thank

  243. 244 cakmoki April 10, 2010 pukul 1:41 am

    @ Rita:
    Seperti halnya jawaban saya sebelumnya, LED bukan untuk memastikan TBC. Sejujurnya, dengan keluhan seperti itu, dengan tetap menghormati pendapat sejawat yg lain, saya tidak percaya bahwa itu TBC.
    Monggo silahkan mencari second opinion ke dokter lain. :)
    Makasih.

  244. 245 Rita April 10, 2010 pukul 9:22 am

    Menurut dokter untuk second opinion saya harus ke Dokter Anak atau dokter paru? Mksh

  245. 246 cakmoki April 10, 2010 pukul 12:42 pm

    @ Rita:
    Ke keduanya boleh, tapi saya lebih sreg ke dokter paru. Makasih :)

  246. 247 ria.. April 12, 2010 pukul 3:48 pm

    assalamu’alaykum cak..
    anakku cowok umur 19bl BB 9kg. kalo malam pasti batuk, suara berat kaya banyak dahaknya. sjak umur 8bl dh bolak-balik ke DSA,(dokternya baik, gk lgsg curiga TB) katanya anaku alergi..jd pasti akan bolak-balik terus ke dsa. tiap batuk dikasih vectrizine and ambroxol..tp terakhir dikasih antibiotik puyer(biasanya gk pernah mau dikasih puyer,tp terakhir katanya radang parah:<) yang apa isinya gk bisa baca tulisannya….hehe..
    yang aku takutin kok 3 bulan ini beratnya malah turun, dari 10, 9.8, 9 naik 9.5 eh hari ini timbang di posyandu jd 9kg…pusing…
    tapi emang makannya susah banget…susunya jg susah, karenA DIDUGA KERAS ALERGI(aku pnya riwayat alergi, anakku jg keluar bercak merah dilipatan tangan, kaki n pipi)kalo makan seafood,telor n susu sapi jd ketiganya gk aku kasih. susunya dikasih isomil plus yg soya.
    kemaren-kemaren suka panas badannya, tp alahamdulillah sebulan ini gk pake panas, tp BB turun dan 'belekan' tp gk merah matanya..
    saran cak apa aku harus curiga TB atau usaha keras(mgkn skarag kurang keras) untuk naikin BBnya?
    mohon sarannnya dengan amat sangat…
    makasih sebelumnya.
    Wassalamu'alaykum..

  247. 248 cakmoki April 14, 2010 pukul 12:36 am

    @ ria:
    assalamu’alaikum…
    Pertama, saya sependapat dengan DSA tersebut dimana beliau menyebutkan Batuk Alergi. Penyakit ini kerap dialami anak, pada umumnya 1-2 kali sebulan ke dokter.
    Pemicunya biasanya tertular orang-orang sekitarnya, atau paparan alergen (pemicu timbulnya batuk alergi), misalnya: debu, cuaca, hawa dingin (karenanya sering terjadi pada malam hari), asap, dll.

    Tentang BB gak usah terlalu dipikirin. Hal itu wajar mengingat anak sedang batuk dimana banyak energi terbuang. Lagipula, berat badan segitu masih dalam ukuran wajar.
    Tentang dugaan alergi seafood, susu sapi, dll… apa iya begitu..toh setelah gak ngasih makanan dan susu sapi, si anak tetep aja batuk kan ?
    Mari kita ingat ilmu gizi dasar, yakni 4 Sehat 5 Sempurna.. :)
    Tapi saya gak akan banyak komentar tentang dakwaan alegi makanan tersebut…yang pasti, pasien-2 saya tidak pernah saya anjurkan untuk menyetop makanan dan minuman bergizi hanya gara-gara gatal atau bercak merah. Usia balita adalah usia emas untuk tumbuh kembang. Jadi sangat aneh kalo anak dilarang makan makanan bergisi, seperti seafood, telor, dll …

    Maaf, saya bukan penganut : dikit-2 curiga TBC hanya karena berat badan sulit naik dan batuk berkepanjangan, karena tidak sesuai dengan panduan pengobatan. Saya tidak akan pernah mengorbankan anak orang untuk minum obat TBC dan membuat anak stress, hanya gara-gara orang tuany panik terkait berat badan.
    Pada anak yang aktif, berat badan sangat wajar tidak bisa naik dengan cepat karena energinya digunakan beraktifitas yg merupakan proses belajar dan bagian dari tumbuh kembang anak.
    Terlebih jika anak sedang sakit… yg gak mungkinlah berat badannya naik pesat. Hal ini wajar karena energinya digunakan untuk melawan penyakit dan mengganti energi yang berkurang selama sakit.

    Namun, keputusan akhir ada pada masing-2 orang tua.

    Demikian penjelasan dan pendapat saya. Selengkapnya dapat dibaca pada diskusi-2 sebelumnya (scroll ke atas).

    Makasih :) … Wassalam

  248. 249 ria.. April 14, 2010 pukul 12:31 pm

    thanx ya cak…hehe..jadi lega…iya deh,setelah dipikir2 kenapa harus membatsi asupan gizinya ya …ok deh…yang penting 4 sehat 5 sempurna…maju terus cak untuk mencerdaskan para pasien…..

  249. 250 cakmoki April 14, 2010 pukul 2:21 pm

    @ ria:
    Sama-sama, mbak … makasih juga telah berbagai :)

  250. 251 Rita April 15, 2010 pukul 7:38 am

    Dok anakkku 1 tahun di vonis kn radang paru2, salah satu obat yg diberikan DSAnya adalah puyer warna merah darah, sehingga pipis & BAB nya sering berwarna merah ( ngeri juga sih…) . Mohon penjelasan mengenai obat ini dan fungsinya apa?

    Mksh

  251. 252 cakmoki April 15, 2010 pukul 4:37 pm

    @ Rita:
    Kalo radang paru-paru mestinya artinya Bronkopnemonia atau pnemonia…. Sedangkan TBC biasanya dianalogikan dengan Flek Paru oleh sebagian DSA.
    Obat yang mengakibatkan warna merah pada air seni dan BAB biasanya salah satu obat TBC, yakni rifampicin.

    Mohon maaf, saya tidak bisa menjelaskan isi keseluruhan obat tersebut tanpa mengetahui isi masing-2 obat di dalam puyer. Kecuali kalau punya copy resep (copy resep adalah hak pasien).
    makasih

  252. 253 Ine Mulyani April 15, 2010 pukul 6:04 pm

    Dokter, umur saya 27 th dengan TB/BB 150/47. Seminggu yang lalu saya batuk berdarah dengan frekuensi jarang (1-2x sehari). Lalu oleh dokter umum dirujuk rontgen dengan hasil tampak bercak pada paru kanan dan kesan suspect KP. Karena dokter saya ga mau langsung memvonis TB, maka saya dirujuk ke sp.paru. Tapi karena RS terdekat tidak ada SP.paru maka saya periksa ke SP.Penyakit Dalam. Dgn hanya melihat hasil rontgen (tanpa pemeriksaan sama sekali), dokter SP.PD itu merujuk untuk tes dahak dan darah. Ternyata hasil BTA 3x semuanya negatif, tes darah normal kecuali LED 1 Jam : 32.
    Saya menunjukkan semua hasil Lab & rontgen tsb ke Dr.SP.PD tp beliau tetap menyuruh terapi TBC meski banyaknya darah pada batuk saya sudah berkurang dan hasil BTA 3x negatif. Justru dia mengatakan kalo TBC itu ga mesti diliat dari BTA.Katanya BTA yang positif menunjukkan bakterinya sangat banyak. Dia mengacu pada hsl rontgen dan adanya darah pada batuk saya meski interval waktunya sangat lama.
    Obat yang diresepkan :Codein 20 mg, Kalnex 500 mg, Rifampicin 450 mg, inoxin 400, PYRAZINAMIDE 500 MG, Santibi 500 mg.
    Apakah saya harus tetap meminum obat untuk TBC itu untuk pencegahan kalaupun saya tidak TBC mengingat saya punya bayi berumur 3 bulan dan sedang menyusui?
    Atau lebih baik cari second opinion ke dokter SP.Paru?
    Terimakasih

  253. 254 Ine Mulyani April 15, 2010 pukul 6:13 pm

    Tambahan lagi dokter : Dari sejak batuk pertama, saya tidak sedang sakit dan tidak menunjukkan gejala umum TBC selain batuk darah yang frekuensinya jarang dan intervalnya lama. Saya tidak panas,demam, sesak atau keringat malam.

  254. 255 Sisca April 24, 2010 pukul 10:42 pm

    Dok,

    Saya senang sekali menemukan blog ini karena pas betul dengan yang sedang terjadi terhadap anak saya dan saya sedang dalam kondisi kebingungan,mohon diberikan informasi yang akurat.

    Anak saya umurnya sekarang 3,5 tahun laki-laki. Di usia 3 tahun beratnya hanya 12 kg, menurut dokter normalnya 15kg. Dia sering banget sakit batuk pilek, menurut pendapat dokter anak, ia terkena alergi sehingga sering dikasih obat batuk pilek untuk anak alergi (ryvel, ventolin, mucopet, ryzen,tiriz,..) dan memang selalu sembuh diberikan obat-obat tersebut. Namun saya curiga kenapa berat badannya susah sekali naik padahal nafsu makan dan porsi makannya cukup besar. Dari segi perkembangan motorik semua normal, cukup aktif, tapi kurus saja. Karena mendengar banyak pendapat orang untuk tes mantuk..akhirnya saya minta tes mantuk. Stl dites, hasilnya adalah lebar bekas suntikan sepanjang 1 cm pas. Dokter anak saya masih ragu-ragu dan menyarankan saya untuk tes darah. Dan hasil tes darah anak saya adalah leukosit 9.650 (basofil 2.060, eosinofil 3.820, batang 0.000, neutrofil 44.20, limfosit 38.40, monosit 11.600) Eritrosit 4.56, hemoglobin 11.70, hematokrit 35.50, RDW 17.2, Trombosit 503.00, LED 22 Nilai-nilai MC :MCV 77.8, MCH 25.8, MCHC 33.1 .

    Dari hasil pemeriksaan lab tsb, dokter anak pun belum bisa memastikan apakah benar-benar TBC atau tidak. Saya tanya apakah perlu dirontgen dan beliau menyatakan tidak perlu dan memberikan resep obat yaitu PYRAVIT (INH Pyridoxine). Setelah minum obat tsb selama 1,5 bulan lebih, saya lihat ada perkembangan yang cukup drastis, terlihat lebih tinggi, lebih sehat, dan sudah naik berat badannya hampir 1 kg.Napsu makan juga bertambah. Dokter menganjurkan untuk terus melanjutkan obatnya tapi saya belum tahu untuk sampai berapa lama. (sementara masih 1 x tebus obat dan belum habis)

    Yang saya ingin tahu, apakah dengan kondisi tsb di atas anak saya benar terkena TBC? Karena saya perhatikan tidak sering demam. Kemudian dokter itu mengatakan obatnya sangat ringan sekali, jika lupa memberikan juga tidak apa2 (aturan minum 1×1 4 ml) dan pernah lupa berikan sekitar kurang lebih 3-4 kali/3-4 hari.

    Saya benar2 mohon petunjuk, supaya saya lebih mantap melangkah. Saya sungguh tidak mau menyesali jika ada keterlambatan penanganan hanya karena ketidaktahuan saya. Sebelum dan sesudahnya saya ucapkan banyak terima kasih.

  255. 256 cakmoki April 25, 2010 pukul 3:55 am

    @ Sisca:
    Saya sependapat dengan DSA yang merawat anak ibu bahwa anak tersebut menderita batuk alergi dimana sering dialami anak balita. Tak jarang anak seusia itu kerap ke dokter, kadang 1-2 kali sebulan. Hal itu wajar mengingat anak sedang dalam masa tumbuh kembang dan belajar mengenal lingkungan.
    Tidak ada satupun yang menunjang ke arah diagnosa TBC.
    Sebagaimana diskusi sebelumnya, tanda utama “kecurigaan” terhadap TBC adalah:
    a) Demam tidak spesifik lebih 2-3 minggu.
    b) BB yg cenderung menurun dan penurunan aktifitas, anak nampak lesu dan tidak bergairah
    c) Ada sumber penularan di lingkungan terdekat atau keluarga dekat yang sering kontak dengan anak.

    Jika ada tanda-2 tersebut, barulah seorang DSA melakukan pemeriksaan lengkap, Tes mantoux, dll.

    Dari hasil lab di atas gak ada yang mengarah ke TBC. untuk itu sangat wajar DSA meragukannya.

    Sungguh, ibu beruntung mendapatkan DSA yang sangat cermat dan tidak main tuduh TBC hanya gara-gara BB sulit naik.
    Sebenarnya, ibu sudah menjawab sendiri pertanyaan mengapa BB anak sulit naik. Itu karena anak aktif, sehingga kalorinya digunakan untuk aktifitas motorik.

    Adapun setelah minum Pyravit BB anak menjadi naik, itu hanya kebatulan belaka.
    Lagipula, obat TBC tidak cukup dengan Pyravit, tapi harus lengkap, yakni: INH, Pyridoxine, Rifampicin, Pyrazinamide dan Ethambutol. Obat-2 tersebut diminum selama 6 bulan.

    Banyak anak yg didakwa TBC, minum obat 6 bulan, 12 bulan hingga 2 tahun…setelah itupun masih suka batuk.
    Rata-2 alasan para ibu rela anaknya minum obat TBC hanya masalah berat badan dan sering batuk.

    Akhirnya, keputusan ada pada masing-2orang tua. Sedangkan setiap dokter punya argumen masing-2 terhadap diagnosa TBC.

    Terimakasih

  256. 257 @ tria April 26, 2010 pukul 3:57 pm

    Dok jika hasil Mauntoux 7mm x 9mm dan hasil rontgen “kedua sinus diafragma normal, bentuk & bsr COR normal, pneumonitis paracardinal ka/ki”, apakah dipastikan positif TB? anak sy 1 th BB 7,5KG, nafsu makan lumayan. Soalnya sdh 2 DSA menyatakan klo positif TB? Mhn pencerahannya.
    Mksh

  257. 258 @ tria April 27, 2010 pukul 12:01 pm

    Dok, bgm ciri2 anak mengidap malnutrisi? apakah tes mantoux dpt dipengaruhi oleh malnutrisi?.
    Saya tanya ke DSA mengapa hsl tes mtx <10mm dinyatakan positif TB? dan dijwb krn anak sy malnutrisi yg berpengaruh pd tes mtx.Betulkah?
    Apa pengobatan slm 6 bln dpt dijamin tdk akan terkn kuman lg? Mksh sblmnya…

  258. 259 cakmoki April 27, 2010 pukul 6:27 pm

    @ tria:
    Menurut saya, hasil pemeriksaan tersebut tidak menunjang ke arah TBC Paru
    Uumur 1 tahun dengan bb 7,5 kg bukanlah malnutrisi. Emang BB nya relatif kurang sedikit dari parameter, tapi bukan malnutrisi.
    Lagipula, malnutrisi tidak serta merta mempengaruhi hasil Mantoux test…kenyataannya hasil rontgen normal.

    Pengobatan 6 bulan untuk TBC akan memberantas kuman M. tuberculosa. Tapi seseorang dapat tertular lagi jika di lingkungan terdepat, terutama anggota keluarga dalam rumah ada yang menjadi sumber penularan TBC.
    Makasih

  259. 260 @ tria April 27, 2010 pukul 7:18 pm

    Dok jika obat2 TB dikonsumsi oleh yg bkn penderita TB apa ada efek sampingnya? bgm menurut dokter apa mesti sy pindah ke DSA y ke 3 kali? ( wah pdhl DSA yg ke 2 adlh dokter paru anak di kotaku dg gelar Prof. DR Dr. ….. Sp.. hiks2)

  260. 261 Sisil April 28, 2010 pukul 6:19 pm

    Selamat sore dokter,

    Kemarin pengobatan TB saya terakhir, hasil rontgen dah bagus kata dokternya. Senengnya dok, akhirnya terbebas dari minum obat.

    Trims banget sudah membantu saya selama ini, menjawab pertanyaan-2 dan keluhan2 saya.

    Saya masih boleh kan mampir di sini ?

    Sekali lagi terima kasih banyaaaaak ya, dok. Sukses selalu buat dokter dan keluarga.

    Salam.

  261. 262 efi April 29, 2010 pukul 10:05 am

    slamat pagi dokter,

    Anak saya umur 6 thn divonis flek dan sedang minum obat (Rifampicin, Phyrazinamid, Tb vit & curvit) selama 1,5 bulan. Pertanyaan saya kenapa setiap kali anak saya minum obat tersebut selalu mengeluh sakit perut, apakah memang seperti itu efek sampingnya? Apakah ada cara lain agar anak saya tidak sakit perut setelah minum obat? soalnya saya kasihan melihat anak saya mengeluh sakit perut bahkan sampai keluar keringat menahan sakit. Rifampicin itu diminum berapa jam sebelum makan dok? Apakah boleh setelah minum rifampicin langsung makan? selama ini setelah minum obat rifampicin anak saya langsung makan, Saya mohon penjelasan yg sejelas2nya dok, terima kasih

  262. 263 cakmoki April 29, 2010 pukul 2:06 pm

    @ tria:
    Jika bukan TB, efek samping medis boleh dikata gak ada. Tapi secara non medis, apling tidak akan menghamburkan anggaran yg tidak perlu, buang-2 waktu dan bisa jadi anak menjadi tersiksa harus minum obat selama itu.
    Andaikata di sini (ndeso kami) semua yang BB nya sediki kurang lantas di periksa mantoux test dan rontgen, boleh jadi ada puluhan anak didakwa TBC setiap harinya … :D

    Keputusan untuk mencari pendapart dokter lain, sepenuhnya berada pada para orang tua.

    Makasih

    @ Sisil:
    Selamat siang…
    Saya ikut senang mendengarnya… makasih juga, selama ini telah berbagi.. moga diskusi kita bermanfaat bagi yg lain.

    Ya, tentu boleh mampir .. gak harus menulis komen, anggap saja bertegur sapa …hehehe.
    Makasih juga atas support dan do’anya, semoga demikian pula sebaliknya.
    Salam

    @ efi:
    Selamat siang…
    Adakalanya keluhan lambung dialami oleh anak yang sedang minum obat TBC, terutama rifampicin.
    Pada prinsipnya, minum obat TB dianjurkan dalam keadaan perut kosong, yakni 2 jam sebelum makan atau 6 jam setelah makan. Namun, agar para orang tua tidak lupa dan minum obatnya teratur, para dokter lebih memilih menganjurkan minum obat sebelum makan, yakni setelah bangun tidur di pagi hari.

    Maaf, saya tidak merekomendasikan apapun untuk menanggulangi keluhan sakit perut, karena ntar kalo misalnya setelah 6 bulan masih dianggap belum tuntas, bisa-2 saya dituduh sebagai penyebabnya.. :D
    Untuk itu, sebaiknya menanyakan langsung kepada dokter yang memberi obat TBC. Termasuk cara minum obat rifampicin yang dilakukan selama ini.

    Tapi kalo ibu segan menanyakannya, rifampicin paling cepat diberikan 1/2 jam sebelum makan. Adapaun untuk menanggulangi sakit perut, dapat diberikan 1-2 keping roti marie sebelum minum obat.

    Makasih

  263. 264 Sisca Mei 2, 2010 pukul 7:12 pm

    Selamat sore dokter,

    Saya lega sekali membaca komentar dokter untuk kasus anak saya.Berarti memang benar anak saya tidak menderita TBC. Kalau boleh saya bertanya lagi dok, kenapa dianjurkan minum Pyravit dan bahkan masih harus diteruskan lagi utk kedua kalinya. Apakah karena ada efek samping menambah nafsu makan? Apakah saya ikuti saja saran DSA tsb sambil terus kontrol.

    Sekali lagi saya ucapkan terima kasih untuk waktu berharga dokter yang mau menjawab pertanyaan2 kami.

    Salam hangat dari kami sekeluarga.

  264. 265 efi Mei 3, 2010 pukul 6:04 pm

    sore dokter,

    Terima kasih atas penjelasan yg telah dokter berikan. Setelah sy ikuti petunjuk dari dokter ternyata “manjur”, setelah minum obat rifampicin anak saya tdk mengeluh sakit lagi. sekalian saya mau bertanya lagi apa benar dalam pengobatan penyakit paru apabila saya lupa memberikan salah satu obatnya itu harus dari mula lagi? kenapa? terima kasih dokter…

  265. 266 @ tria Mei 4, 2010 pukul 7:54 am

    Dok apa anak yg mengkonsumsi obat TB pupnya jg keras dan berwarna agak gelap? mengapa? Mksh

  266. 267 cakmoki Mei 4, 2010 pukul 3:11 pm

    @ Sisca:
    Selamat sore…
    Pyravit diberikan untuk kasus yang meragukan dan gak jelas TBC atau bukan… seandainya bukan TBC, gak ada efek sampignya… toh efek samping INH yang menimbulkan kekurangan vit B6 udah dicegah dengan Piridoksin 10 mg (B6) yang ada dalam Pyravit.
    Nafsu makan sebenarnya gak berkaitan dengan pemberian Pyravit. Nayatnya banyak juga anak yang BB nya tetep tetep aja walau minum pyravit berbulan-bulan.
    Manakala kondisi anak membaik dan moodnya lagi bagus, otomatis anak akan doyan makan :)
    Tentang perlu tidaknya kontrol ke dokter, gak papa jika ingin kontrol. Yg pasti, kalo TBC obatnya: Rifampicin, Phyrazinamid, ethambutol, INH dan Vit B6. So, kalo hanya Pyravit, bukan untuk TBC tapi sekali lagi untuk kasus-2 yang meragukan.

    Makasih

    @ efi:
    Enggak lah… emang kadang ada dokter atau orang lain yg bilang begitu, maksudnya supaya gak lupa :)
    Makasih

    @ tria:
    Bener…hal itu karena pengarugh rifampicin.

  267. 268 end war Mei 5, 2010 pukul 10:35 pm

    dok anaku baru di diagnosa flek paru,anaku 3thn beratnya 10 kg anaknya aktif,dan pintar serta ngomongya cerewet di bandingkan umur sebanyany tpi knp berat bdnnya ga naik naik makan&minum susu teratur klopun makn susah masih thp wajar,kmarin di ronsen &tes darah tpi dokter masih belum bisa mastiin skrng anaku harus tes lab air liur menurut dokter gimana,apa anakku + flek apa dari efek flek,trim

  268. 269 Sisca Mei 5, 2010 pukul 10:44 pm

    Malam dok, senanggg bener nih dapat keterangan yang sangat2 jelas dari dokter. Bener2 TOP deh…jarang bener ketemu dokter yang bisa memberikan keterangan seperti ini, selain menenangkan orang tua tapi juga membuat orang tua makin cerdas dan cermat. Tetap hadir terus ya dok…smoga bisa menolong lebih banyak lagi anak2 melalui informasinya yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan. Dedikasi dokter untuk menyehatkan masyarakat benar2 pantas diacungkan jempol…sukses terus ya dok, dan jangan bosan dengan pertanyaan2 kami yang supeeerrr bawel..^_^

  269. 270 see Mei 6, 2010 pukul 2:28 pm

    selamat siang dok,
    kronologis:
    salam kenal, saya mempunyai anak laki-laki (Nabil) usia 6,5 BULAN. hari Rabu kemarin saya mendapati ada benjolan sebesar kacang (diameter +- 0,5 cm)di belakang kepala bagian bawah (deket telinga kiri). saya dan istri tidak begitu mengetahui kapan tepatnya benjolan itu muncul.
    karena khawatir kami memeriksakan Nabil ke DSA. menurut DSA benjolan itu kelenjar limpe (maaf saya kurang faham istilahnya) dan wajar/normal biasa terjadi pada anak balita.

    dokter kemudian memeriksa leher Nabil dan mendapati ada benjolan (katanya). menurutnya benjolan di leher tsb bisa merupakan gejala TB. kami pun kaget, padahal selama ini Nabil baik-baik saja (ceria tidak ada demam/batuk ato gejala TB lainnya). berat badan Nabil sekarang 6,8 Kg, menurut dokter kurang berat, padahal kalo saya cari referensi lain berat Nabil masih dalam batas ideal.
    DSA kemudian melakukan test mantoux dan menyarankan agar dilakukan tes darah juga rontgen.

    hasil rontgen:
    cor, sinuses, diaghfraghma normal
    PUlmo: hili kasar dan corakan bertambah tampak pembercakan
    kesan: spesifik proses aktif
    hasil tes darah:
    SGOT 45u/l normal L=<35 W=<31
    SGPT 29u/l normal L=<41 W=<31
    LED : 1jam = 5mm/jam
    : 2jam = 10mm/jam

    pertanyaan:
    1. tes mantoux baru dapat diketahui besok (setelah 2hari). sampai saat ini (30jam setelah suntik mantoux) pada tangan Nabil tidak terjadi pembengkakan. apakah ini pertanda negatif?
    2. apakah benjolan dileher dan berat-badan yang "kurang" saja bisa menjadi tanda awal/gejala penyakit TB?
    3. bagaimanakah penjabaran dari hasil tes darah dan rontgen diatas dalam bahasa orang awam?
    4. Mohon saran dan pencerahan dari dokter untuk kami.
    terimakasih.

  270. 271 cakmoki Mei 6, 2010 pukul 6:02 pm

    @ end war:
    Kalo dokternya belum bisa mastiin, kemungkinan bukan flek paru (TBC)
    Kepastiannya nunggu tes liur (maksudnya BTA dahak). Jika pemeriksaan 3 kali menunjukkan hasil negatif, berarti bukan TBC.
    Makasih

    @ Sisca:
    Sama-sama, mbak…makasih atas support dan do’anya. Semoga sehat selalu :)

    @ see:
    Selamat sore …
    Pembesaran kelanjar limfe di leher dan sekitar telinga sering dijumpai pada anak. Penyebabnya banyak, salah satunya (terbanyak) karena proses peradangan kelenjar limfe (limfadenitis) akibat penjalaran infeksi yang sebelmnya terjadi di saluran nafas bagian atas (tenggorokan, hidung). Sebab-2 lainnya sulit diketahui. Tapi sebagian dokter di Indonesia menghubungannya dengan “kemungkinan TBC”. Namanya kemungkinan, bisa benar bisa juga salah :)
    Tentang berat badan, saya sependapat dengan penjenengan bahwa berat badan tersebut masih dalam batas ideal.

    1) ya, kemungkinan negatif. Seorang anak dicurigai TBC bila hasil tes mantoux menjukkan indurasi (penebalan) _> 10 mm.

    2) Tidak.

    3) Rontgen pada anak tidak spesifik untuk diagnosa TB paru sikarenakan anak di bawah 6 tahun belum bisa mengeluarkan dahak spontan. Kesan: spesifik proses aktif, adalah kesan dari sudut pandang radiologis, bukan kepastian.
    Selengkapnya tentang kriteria TBC Paru pada anak, silahkan scroll ke atas. Ntar akan ketemu rinciannya :)

    4) Nunggu hasil test Mantoux dan kesimpulan dokter. Jika meragukan diagnosa dokter, boleh mencari second opinion ke DSA yang lain atau ahli paru

    Makasih

  271. 272 see Mei 7, 2010 pukul 3:52 pm

    terimakasih atas nasihat dokter.
    menurut DSA-1 :
    Nabil positif TB berdasarkan analisa:
    1. Hasil tes mantoux (bekas suntikan merah di lengan) setelah 48jam tidak hilang. (padahal cenderung mengecil)
    2. Hasil rontgen atau lebih tepatnya hasil analisa dokter rontgen (karena foto rontgen tidak dilihat sama sekali) menunjukan kesan spesifik proses aktif.
    3. Berat badan yang “kurang”.
    4. hasil tes darah yang “menunjukan” adanya infeksi. (saya kurang jelas menyimak)
    DSA-1 juga menceritakan anaknya TB pada usia 4bulan dan “mencoba” meyakinkan kami bahwa Nabil memang dalam kondisi harus segera ditangani. dengan bahasa yang KURANG RAMAH beliau juga “menantang” kami untuk memeriksakan Nabil ke DSA lain untuk mencari second opinion. karena menurutnya hasilnya pasti sama.
    merasa tertantang kami lalu mengunjungi DSA-2.
    analisa DSA-2:
    1. ada pembengkakan di belakang kepala dan leher akibat radang kelenjar. (bukan TB)
    2. tes rontgen pada anak tidak bisa dijadikan dasar untuk vonis TB = MERAGUKAN. (sama dengan pendapat dok cakmoki).
    3. hasil tes darah menunjukan angka dalam batas toleransi.
    4. LED normal
    5. hasil Tes Mantoux = MERAGUKAN
    6. riwayat kontak dengan penderita TB = ragu.
    DSA-2 sangat berhati-hati memvonis Nabil TB. selanjutnya Nabil diberikan obat antibiotik selama 7 hari untuk melihat perkembangannya.
    dengan ramah DSA-2 menerangkan secara rinci pertanyaan-pertanyaan dari kami. kami sangat senang dengan cara penyampaian DSA-2 ini. sayangnya di kota kami tidak banyak Dokter Spesialis Anak yang ramah.

    Terimakasih dokter Cakmoki atas saran dan tanggapan yang diberikan dengan cepat dan tepat.

  272. 273 cakmoki Mei 7, 2010 pukul 6:27 pm

    @ see:
    Saya sependapat dengan DSA ke dua bukan karena kesamaan pandangan tapi lebih kepada persamaan penilaian berdasarkan berbagai faktor.

    Pada umumnya, pembesaran kelenjar leher (termasuk belakang kapala bagian bawah dan sekitar telinga) adalah peradangan lokal kelenjar getah bening atau lazim disebut: limfadenitis.
    Pengobatan awal 1 minggu kemudian dilanjutkan hingga 2-3 minggu jika setelah seminggu belum mengecil. Selanjutnya, limfadenitis dibiarkan hingga mengecil dengan sendirinya, asalkan tidak dipegang-pegang atau ditekan-tekan.

    Sungguh, saya ikut bangga masih banyak dokter spesialis anak yang tidak terburu-buru mendiagnosa TBC hanya karena masalah berat badan maupun peradangan kelenjar. Saya juga bangga bahwa makinnbanyak p[arang orang tua yang mengerti masalah kesehatan terutama menyangkut kesehatan anak.
    Semoga sehat selalu.

    Terimakasih

  273. 274 see Mei 8, 2010 pukul 10:33 am

    ya, terimakasih dok.
    sekarang permasalahannya adalah Nabil susah minum obat. obat yang diberikan berupa sirup vitamin yang dicampur puyer antibiotik. Nabil selalu menolak setiap minum obat kalaupun diminum pasti muntah. padahal obat harus diminum 8 jam sekali. kami khawatir Nabil kurang nutrisi karena makanan yang dimakan dimuntahkan lagi.
    adakah saran dari dokter tentang permasalahan ini?

  274. 275 cakmoki Mei 9, 2010 pukul 5:27 am

    @ see:
    hampir semua anak gak suka obat, cuma derajat ketidak sukaannya berbeda-beda.
    obat dapat dicampur dengan makan atau minuman lain agar rasanya tidak terlalu brasa obat, misalnya: sari buah, susu, dll…harap diingat bahwa susu tidak menetralkan obat seperti yang sering kita dengar.
    Selain itu, kalo gak bisa sekaligus, obat dapat diberikan sedikit demi sedikit agar tidak dimuntahkan. Andaikata 1 sendok takar bisa masuk semua dalam 1 jam..gak masalah. gak akan mengurangi khasiat obat.
    Makasih

  275. 276 kiky amalia Mei 10, 2010 pukul 1:46 pm

    dok. ayah saya setiap malam sesak nafas, lalu sampai suatu malam beliau nafasnya terengah-engah sekali lalu dibawa ke rumah sakit dan di rotgen di diagnosa edem paru tb aktif, tetapi setelah pulang dari rs.. periksa ke dokter lain,,,di bawa hasil rotgen nya dan ternyata katanya tb nya tidak aktif, tetapi hanya ada jaringan parut bekas tb… dan itulah yang sering menyebabkan sesak nafas..
    kalo begitu maksudnya apa ya dok? ayah saya juga disarankan pengobatan rutin.

  276. 277 cakmoki Mei 10, 2010 pukul 3:55 pm

    @ kiky amalia:
    Kalo bisa silahkan kirim scan hasil rotgen dan diskripsi hasil rontgen oleh radiolog via email.

    TB aktif maksudnya TBC yang sedang aktif dan perlu pengobatan 6 bulan.
    Selain itu, saya juga ingin tahu apa maksud pengobatan rutin dan berapa lama yg disarankan dokter.
    Soalnya, kalo pengobatan rutin 6 bulan adalah obat untuk TBC.

    Ntar saya jelaskan setelah melihat scan rontgen-nya
    Alamat email:
    cakmoki2006 [at] yahoo [dot] com
    Saya tunggu
    Trims

  277. 278 kiky amalia Mei 11, 2010 pukul 1:25 pm

    hasil deskripsi dari lab, CTR=50% DD/Tb aktif, sinus diagfragma normal. kesan edem paru. kurang lebih yang saya ingat segitu dok, setelah pulang kerja saya kirim kan hasil scan foto lab nya deh,. tetapi begitu kontrol ke dokter SpP, dokter bilang tb nya sudah tidak aktif… hanya ada jaringan parut yang menghambat kerja organ paru juga organ lainya… dan dokter nya juga bilang bapak pengobatan rutin dulu, dua minggu kembali lagi. ayah saya mengalami penurunan beart badan yang drastis (kurang lebih 7 kg). si dokter juga bilang bahwa penyakit maag yang di derita ayah, juga akibat dari jaringan parut tersebut. saat ini, setelah seminggu pengobatan dokter, sekarang ayah sudah makin membaik (Sudah bisa berjalan-jalan, sudah mau makan) tetapi jika malam terkadang sesaknya datang lagi, dan mengganggu tidurnya.

  278. 279 anunk permana Mei 12, 2010 pukul 3:02 pm

    ya, kalo kita nggak yakin dengan diagnose dokter nggak usah konsultasi ke dokter, kalo aku sih percaya apa yang dikatakan oleh dokter, karena memang keluhanku, walaupun harus mengkonsumsi obat dengan jangka waktu yang cukukp lama.

  279. 280 kiky amalia Mei 12, 2010 pukul 3:20 pm

    duh ya…. bukan aku gag percaya tapi aku gag ngerti mana yang benar….. hasil rontgen atau dokter nya… plis dehhhhhhhhhhh

  280. 281 cakmoki Mei 13, 2010 pukul 2:02 pm

    @ kiky amalia:
    Kalo dokter spesialis paru udah melihat hasil Rontgen dan menyatakan tb nya udah gak aktif, itu berarti sesaknya emang karena jaringan parut di saluran nafas atau lazim disebut dengan gejala sisa atau sequellae.
    Untuk itu, menurut saya, bapak sebaiknya mengikuti skedul pengobatan rutin yang disarankan dokter sp paru.
    Perlu diketahui bahwa Rontgen adalah alat bantu diagnosis. Hasil yg ditulis oleh dokter radiologi adalah hasil berdasarkan pandangn radiologis tetapi beliau tidak melihat dan memeriksa pasiennya secara langsng. Penilaian akhir berada pada dokter sp paru.

    Moga beliau segera sembuh.
    Makasih

  281. 282 kiky amalia Mei 14, 2010 pukul 1:43 pm

    duh lega nya.. terimakasih atas bantuan nya ya cakmoki,,,,,,….
    saya akan mengikuti anjuran dokter. saya sudah cari tempat scan untuk scan hasil rotgen tetapi ga ada yang menerima scan dengan luas gambar besar seperti hasil rotgen….
    terimakasih

  282. 283 cakmoki Mei 14, 2010 pukul 5:13 pm

    @ kiky amalia:
    Sama-sama…makasih juga, telah berbagi… teriring do’a semoga ayahanda segera sembuh :)

  283. 284 Rita Mei 15, 2010 pukul 8:29 pm

    Dok apa anak yg menderita TB cenderung berkeringat banyak? apalagi saat tidur? klo mmg benar itu dikarenakan apa?
    Makasih dok…

  284. 285 cakmoki Mei 17, 2010 pukul 2:41 am

    @ Rita:
    Tidak. gak ada hubungannya :)
    Anak cenderung berkeringat banyak karena metabolisme yg relatif lebih tinggi dibanding dewasa, sehingga berkeringat lebih banyak sebagai produk sisa metabolisme. Hal ini normal mengingat anak masih dalam masa tumbuh kembang.
    Makasih

  285. 286 Rita Mei 20, 2010 pukul 8:37 pm

    Malam dok,
    Anak saya 14bulan diprediksi terkena TB, sebetulnya yang efektif mengkonsumsi apa ya dok untuk menambah berat badan anak saya ? ( usia 1th 7,5kg) kok sepertinya tdk ada kenaikan , walo sdh diberikan vitamin oleh DSA paru-nya ( mahal lagi vitaminnya he3 ), hanya berpengaruh 1 minggu nafsu makannya luar biasa tapi setelah itu ya up down lagi, sedih deh…
    Teman saya menyarankan makan bubur Preda, benar gak sih? mengandung apakah bubur ini? tapi kok DSA saya tidak menyarankan ya?
    Besok mulai kontrol bulan ke 2, he3 takut ditegur jika BB anak saya masih tetep, tapi lah gimana sy sdh berusaha semaksimal mungkin, akhir2 ini sulit lagi minum sufor…
    Mohon penjelasan dan pencerahan doketr.
    Makasih
    Semoga Allah yang membalas kebaikan dokter, ngomong2 gak ada rencana mutasi ke Malang ya dok he3, sulit cari dokter seperti anda…

  286. 287 cakmoki Mei 21, 2010 pukul 6:12 am

    @ Rita:
    Met pagi …
    Pertama saya ingin meluruskan, bahwa vitamin bukan untuk nafsu makan sebagaimana yg diiklankan, tapi zat penunjang untuk metabolisme (pengolahan makanan). Ga ada salahnya memberi vitamin, tapi hendaknya selalu diingat bahwa vitamin bukan nafsu makan.
    Ibu sudah benar dengan tetap berusaha memberikan yg terbaik bagi anak.

    Kedua, tentang sufor… atau produk makanan yg lain. Sebenarnya produk-2 tersebut tidak jauh beda, gak ada yg istimewa. Kalaupun ada anak yg BB nya naik dengan makanan merk tertentu, belum tentu anak yang lain juga begitu. Sangat banyak merk susu atau bubur dengan klaim yg heboh… tapi ada yg dilupakan, bahwa anak punya selera sendiri yg kadang di luar perkiraan kita walaupun para orang tua sudah memilih beragam merk. :)

    Ketiga: tentang Berat Badan. Pembahasan BB selalu seru karena akan ada produk-produk tertentu yg ditawarkan dan ada faktor kepanikan orang tua.
    Sulitnya BB anak naik, dapat disebabkan banyak faktor. Gak mesti karena penyakit. Terlebih pada usia anak yang mulai mengenal lingkungannya. Adakalanya mereka lebih suka beraktifitas, bermain mengenal benda di sekitarnya, ketimbang makan. Tentu orang tua tetap dianjurkan untuk berusaha memberikan susu atau makanan yang disukai anak, apapun merknya.
    Caranya bermacam-macam, bergantung pada mood anak dan trik para orang tua. Misalnya:
    1) Memberi tambahan porsi susu saat tidur
    2) Memberi makanan atau susu sedikit demi sedikit sambil ikut bermain dengan anak. (tapi makanannya jangan dihabisin ibunya lho)
    3) Mengajak anak bermain dengan anak lain seusianya supaya anak meniru anak lain yang doyan minum susu dan doyan makan.
    4) Dll … dll ….

    Upaya-2 tersebut belum tentu berhasil dalam jangka pendek. Tak jarang anak mulai mau makan dan minum setelah mulai pra sekolah atau mulai sekolah TK.

    Jika segala cara sudah diusahakan tapi BB anak sulit naik karena aktifitasnya yg lincah, dan anak tidak sakit, enurut saya gak masalah. Ini selalu saya sampaikan kepada orang tua yg memeriksakan anaknya ke praktek hanya gara-2 BB sulit naik.
    Memang banyak dokter yg mengaitkan BB sulit naik pada anak dengan TBC. Itu hak dan pendapat masing-2 dokter dengan berbagai argumen. Saya tidak termasuk golongan yg itu … :D

    Wah…saya udah jadi penduduk ndeso sini, tidak ada keinginan untuk ke kota.

    Semoga sehat selalu

    Terimakasih atas do’anya, demikian pula sebaliknya. Amiin

  287. 288 eka sutriani Mei 21, 2010 pukul 6:31 pm

    assalamu’alaikum wr.wb
    saya mau tanya.. bagaimana cara mengobati penyakit bronkitis asmatis?? apa yang menyebabkan penyakit bronkitis asmatis muncul??? apa saja makanan,atau apa yang dilarang untuk penyidap penyakit bronkitis asmatis??? karena kemarin pas suami saya di bawa kerumah sakit untuk diperiksa, kata dokter penyakit tersebut penyakit bawaan, misalnya karena dulunya sering tidur di lantai, alergi dingin, dan terlalu banyak merokok.. apa yang semua tadi saya sebutkan benar??? tolong bantu saya untuk bisa memecahkan masalah saya. dan apa saja yang bisa menobati penyakit tersebut.
    wassalamu’alaikum wr.wb

  288. 289 Rita Mei 21, 2010 pukul 8:37 pm

    Ass. Wr Wb.

    Duh makasih banyak penjelasan dan pencerahan dari dokter, sangat banyak membantu dan mengurangi stres saya, jadi plong…

    Sebetulnya penjelasan2 seperti ini yg saya butuhkan jika tiba waktu kontrol ke DSA putri saya, sesuai saran dokter sebelumnya untuk ke second opinion mslh diagniosa TB putri saya.. ini sdh kali kedua saya bertemu dg dokter anak yang hanya bertindak: pasien datang – periksa anak – diam – menulis resep lalu bayar dan pulang, dan klo sy bertanya malah jawaban yg saya terima jawaban yg krg bersahabat ( jad curhat nih… ).

    Saya berusaha berbesar hati saja demi kesehatan anak saya, bersyukur ada dokter yg selalu hadir membantu. Terima kasih ( Mungkin Allah yg mengirimnya ).

    Nah, setelah kunjungan/kontrol kami yg ketiga anak saya mulai trauma dok, ditimbang nangis, masuk ruangan saja nangis (walo ada boneka sak abrek disana…), apalagi diperiksa dia meronta2.
    Bgmn dok mengatasi trauma pada anak saya? padahal butuh waktu minim 6 bulan untuk pengobatan Tb ini… Apa mesti pindah DSA lagi? iya klo dokternya kayak cakmoki? klo sama saja? terus terang saya kasian lht anak saya nangis ketakutan seperti itu.

    Mohon bantuannya lagi dok…

    Apa boleh saya via email jika ingin menyampaikan sesuatu yang menurut sy tdk perlu ditampilkan disini? makasih.

    Wassalam

  289. 290 Rita Mei 21, 2010 pukul 8:48 pm

    Ada yg ketinggalan dok, apa bisa susu diganti dengan yogurt? krn alhmd. anak saya suka sekali dg yogurt,perbandingannya bgm? (saat masih mau minum susu dulu tiap minum 120cc).
    Sebetulnya brp liter air yg mesti dibutuhkan anak usia 14bulan?

    Makasih

  290. 291 cakmoki Mei 22, 2010 pukul 1:49 am

    @ eka sutriani:
    Assalamu’alaikum…
    tenang…tenang…tenang … :) … sabar dulu, pelan-2.

    Gini, penyakit bronkitis, asma atau gabungan keduanya dapat dijumpai setiap hari di praktek. Biasa aja koq… obatnya juga mudah dan murah.
    Nah, kembali ke bronkitis asmatis. Penyakit ini dapat terjadi oleh 2 sebab:
    1) bawaan (herediter)
    2) acquired. Yakni penyakit yg ditandai batuk dengan sesak napas oleh berbagai faktor, diantaranya: polusi, asap (termasuk asap rokok), debu, cuaca (terutama cuaca dingin atau musim hujan atau mendung), kelelahan, dll…dll…

    Apapu penyebabnya, obatnya sama saja, bergantung pada keluhannya saat ini. Obat utama adalah:
    1) Bronkodilator (obat untuk melonggarkan saluran napas), misalnya: euphyllin retard mite, diminum 2×1.
    2) Jika batuk, dapat menggunakan obat batuk ekspektoran atau mukolitik, misalnya: ambroxol atau bromhexine, diminum 3 atau 4 kali 1 sehari.
    3) Steroid, untuk meredakan inflamasi saluran napas, misalnya: Methylprednisolone, diminum 2 x 1 sehari.

    Ketiga obat tersebut diminum bersamaan hingga sembuh.
    Jika ada infeksi sekunder, diperlukan antibiotika.

    Selengkapnya tentang Bronkitis, silahkan baca artikel di Blog ini pada link berikut:
    https://cakmoki86.wordpress.com/2010/04/22/bronkitis-kronis/

    Makasih … wassalam :)

    @ Rita:
    Assalamu’alaikum …
    Maaf, saya sudah menduga, ujung-ujungnya pengobatan TBC :)

    Untuk mengatasi anak yang trauma ada 2 jalan:
    1) Jika dokternya bijak dan tahu anak berontak, menangis saat diperiksa dan menolak saat ditimbang, mestinya gak usah diperiksa lagi, toh tetep aja memberikan obat TBC selama 6 bulan. Cukup si ibu diminta menimbang dirumah, lantas menentukan dosis obat berdasarkan berat badan. Anaknya ga usah dibawa ke dokter. Cara ini dibenarkan dalam praktek medis untuk kasus-2 yang memerlukan pengobatan jangka panjang.

    2) Cara kedua ini rahasia, jangan bilang-bilang ya…. :D
    Jika orang tua meragukan diagnosa TBC dan menduga DSA yg ada di kota tersebut kemungkinan juga mendiagnosa TBC gara-gara berat badan, gak ada salahnya ke dokter sp paru, atau ke DSA di kota lain yg paling dekat.
    Jika itupun membuat anak trauma dan orang tua meragukan diagnosa TBC (dasar diagnosa biasanya tes mantoux dan rontgen), sementara anak sehat-sehat saja, kecuali hanya masalah berat badan, menurut saya gak usah melanjutkan pengobatan TBC yang meragukan.
    Pertimbangannya, perkembangan psikologis anak lebih berharga ketimbang memaksakan menjalani pengoabatan TBC anak yang masih meragukan.
    Ini pendapat saya, bisa saja saya keliru, namun bisa juga benar … keputusan akhir berada pada masing-2 orang tua.
    Maaf, jawaban saya mungkin nampak terlalu berterus terang.

    Tentang makanan dan minuman, gak papa anak minum yoghurt jika emang suka. gak perlu ngitung perbandingan, yang penting anak masih mau minum susu. Secara perlahan, frekuensi susu dapat ditambah di sela-sela minum yoghurt.

    Kebutuhan air pada anak dg berat badan 10 kg sekitar 1 liter per hari. Jika 7 kg, minimal sekitar 700 cc.

    Boleh kita diskusi via email.
    Alamat email:
    cakmoki2006 [at] yahoo [dot] com
    Mohon maaf, saya biasanya membuka email setelah lewat tengah malam… kadang keesokan harinya

    Makasih
    Wassalam

  291. 292 Rita Mei 22, 2010 pukul 11:16 am

    Dok, sbtlnya sblmnya sy sdh pernah menceritakan kronologis penyakit anak sy juga hsl lab-nya ( mgkn dokter lupa krn maklum yg berkonsultasi byk he3..)

    Pada DSA-1 hy di suruh periksa drh, sbb :
    hemoglobin = 11,2
    leukosit = 10.400
    LED = I:21 II: 48 ( atas dsr ini lgsg divonis terkn tb)
    hitung jenis:
    seg = 23
    lympo = 71
    mono = 6
    hamatrokit = 35
    trombosit 215.000
    eritrosit = 4,2
    mcv 82
    mhc 27
    mchc 32

    Sy memutuskn ke DSA 2, tes mantoux + rongsen,
    hsl mantx diameter 7x9mm
    hsl rongsen :
    kedua sinus diafragma normal
    bentuk besar cor normal
    pneumonitis paracardinal ka/ki

    Dok DSA yg ke 2 ini adalah spesialis paru anak di kota saya, dimana hy ada 2 dokter, dia slh satunya….

    Apa menurut dokter hasil lab diatas mmg anak sy meragukan menderita TB? saat ini usia 14bln BB 7,8kg
    Dia aktif, perkmbgn normal tp saat ini blm bs berjln, masih jalan dibantu tgn satu untuk dipegangi.

    Mhn pencerahan lg dok…

    Mksh

  292. 293 cakmoki Mei 22, 2010 pukul 12:17 pm

    @ Rita:
    Makasih udah mengingatkan saya… Tapi kalo ga salah udah saya jawab 1 bulan yg lalu ya ? Soalnya ada lebih dari 1 nama Rita :)

    Menilik kronologis dan tidak adanya keluhan yg patut untuk mengarah pada kecurigaan TBC paru dan hasil Lab serta rotgen, menurut saya bukan lagi meragukan TBC Paru, tapi tidak ada alasan untuk mencurigai TBC paru.
    Rasanya jawaban saya udah sangat tegas … hahaha.
    Sekali lagi, keputusan akhir berada pada orang tua. Beda kalo di praktek, dimana saya memeriksa dan berhadapan langsung, saya akan tegas mengatakan: ” hentikan, buang-buang duit dan waktu “.
    Tetapi saya sangat maklum jika inipun masih membuat para ibu ragu-ragu dan bingung.

    Terimakasih

  293. 294 eka sutriani Mei 22, 2010 pukul 5:19 pm

    assalamu’alaikum wr.wb…
    Terima kasih dok atas infonya, tapi apa dengan obat yang di atas dokter sebutkan itu dapat mengobati penyakit bronkitis asmatis??? dan apakah penyakit itu akan terus meyerang suami saya sampai seumur hidup dok??? obat yang dokter sebutkan di atas adanya dimana yah dok, apakah di apotek banyak????
    wassalamu’alaikum wr.wb…

  294. 295 eka sutriani Mei 22, 2010 pukul 5:30 pm

    assalamu’alaiku wr.wb….
    tambahan lagi dok….
    tapi suami saya tidak batuk dok, keluhannya sesak nafas (kalau buat nafas dadanya sesak) dan badannya sering panas dok, sering juga menggigil kedinginan dok.. sekarang aja orangnya lagi tidur memakai slimut yang tebal banget, padahal tadi sebelumnya habis jalan-jalan dan tidak merasa sakit lagi, tapi tiba-tiba pulang kerumah malahan langsung tidur dan selimutan. bagaimanadok cara menyikapi penyakit seperti itu, yang sama sekali saya tidak tahu. tolong yah dok bantu saya untuk memecahkan masalah saya..
    sebelumnya terima kasih….
    wassalamu’alaikum wr.wb…

  295. 296 Rita Mei 22, 2010 pukul 6:58 pm

    Alhamdulillah, smg mmg Allah yg mengirim dokter untuk putri saya….

    Dengan mengucapkan Bismillah sy akan menghentikan pengobatan TB pada putri sy dok…. Alhmd. suami juga setuju. Selebihnya semua akan sy serahkan pada Allah saja dok…

    Untuk vitaminnya apa msh bs diteruskan ya dok? krn sdh terlanjur sy tebus, isinya al.
    heprosan XII
    elsazyn XV
    profixin XV
    ziukid 60cc
    likurmin 100cc
    optimax 60cc

    Krg lbh tertulis seperti itu, maaf jk slh tls krn tulisannya jg krg jls bg sy, semua dicampur dlm satu botol sirup.Sbtlnya obat2 diatas mengandung dan berfungsi apa dok?

    Terima kasih ya dok bantuannya, smg dokter tdk akan bosan dg pertanyaan2 sy selanjutnya.

    Smg Allah senantiasa memberikan rahmat untuk dokter & keluarga, amin.

  296. 297 cakmoki Mei 23, 2010 pukul 1:56 am

    @ eka sutriani:
    Assalamu’alaikum..
    iya lah … obat tersebut lazim digunakan untuk bronkitis-asmatis, asma, dan penyakit saluran nafas lain yg disertai sesak.
    Kalo ga batuk gak perlu diberi obat batuk.
    Obat adanya di apotik :D
    Tidak menyerang seumur hidup.
    Gini … maaf, sebaiknya ceritakan kronologisnya, keluhannya, usia suami, dan obat-obat yang sudah diberikan dokter, supaya diskusi kita lebih terarah.
    Saya tunggu.
    Makasih…wassalam

    @ Rita:
    Ok :)
    Obat-obat di atas dilanjutkan hingga habis:
    heprosan, masudnya Heptasan, adalah antihistamin yg biasa digunakan untuk merangsang nafsu makan secara tidak langsung. Jika minum obat ini biasanya ngantuk.
    elsazyn = elsazym, adalah enzym untuk memantu pencernaan.
    profixin, maaf saya tidak mengomentari obat ini :)
    ziukid = zinkid, adalah micronutrien untuk regenerasi sel2. Lazim digunakan pada diare dan infeksi saluran pernafasan.
    likurmin, curcumoid, suplemen, asam amino dan multivitamin.
    optimax, suplemen dan vitamin.

    Selanjutnya, cukup dberi sirup Likurmin. Obat ini sudah ada lysin, suplemen, multivitamin untuk asupan zat penunjang pada anak. Amn digunakan untuk jangka panjang dan ga ada efek sampingnya.

    Terimakasih atas do’anya, semoga demikian pula sebaliknya. Amiiin.

  297. 298 Rita Mei 24, 2010 pukul 10:55 am

    Dok knp dg obat proxifin? tdk berbahaya kan?
    Untuk pemberian Likurmin nanti berapa kali dlm sehari? Apa putri sy boleh mengkonsumsi Yakult?

    Makasih

  298. 299 Rita Mei 25, 2010 pukul 11:31 am

    Oh iya dok ada yg kelupaan, ada obat satu lagi yg telanjur sy tebus: Rimcure Paed, kyknya obat TB ya? Apabila diminumkan apa ada efek berbahaya pd anak sy?

    Makasih…

  299. 300 Rita Mei 25, 2010 pukul 11:40 am

    Dok apakah oang dewasa yg perokok aktif pasti menderita TB? ciri2nya bgm? suami saya perokok aktif tiap hari batuk berdahak tapi tdk parah/tdk sering, hanya sesekali batuk, apakah ini termsk salah satu cirinya?

    Makasih…

  300. 301 cakmoki Mei 25, 2010 pukul 12:35 pm

    @ Rita:
    proxifin mungkin diberikan dokter supaya anak ga rewel, bisa juga supaya ga mual. Gapapa.
    Rimcure Paed adalah obat TBC. Kalo misalnya bukan TBC tapi minum Rimcure Paed, efesk sampingnya : nambah anggaran.
    TBC disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosa, bukan oleh rokok.
    Pemeriksaan TBC pada dewasa untuk memastikan diagnosa adalah dengan pemeriksaan dahak BTA. kalo positif berarti ada kuman M.tuberculosa, kalo negatif berarti gak ada kuman M.tuberculosa.
    Makasih
    Makasih

  301. 302 fitri wahyuni Mei 26, 2010 pukul 12:28 am

    mau nanya nich….
    Ipar saya sakit,awalnya didiagnosa DBD,tp setelah di Rotgen ternyata dia terkena Efusi Pleura,ada berupa penumpukan cairan dalam parunya.
    Gejala awal yg dialaminya sakit kepala hebat,mual muntah, sesak didada,sakit dada,batuk kering lebih dari 2 minggu,deman yg turun naik, yg paling kelihatan adalah penurunan berat badan dalam arti bertambah kurus.
    Dari hasil pemeriksaan dokter setelah dilakukan penyedotan cairan dalam paru memang ada gejala mengarah ke TB…
    Menurut Dokter kira2 berapa lama penularannya ke sekitar terjadi mengingat TB penyakit menular,dan kebetulan sekali kami adalah keluarga besar yang smuanya tinggal satu atap.
    Saya punya dua nak perempuan dan sekarang sedang hamil,apakah bisa membahayakan nantinya bagi janin yg saya kandung…dan anak2 saya

  302. 303 cakmoki Mei 26, 2010 pukul 1:27 am

    @ fitri wulandari:
    Pengobatan TBC sedikitnya 6 bulan. Tapi pada umumnya tidak menular kalo udah diobati sedikitnya 2 bulan.

    Untuk janin yang dikandung gak papa sejauh ibunya ga ketularan.
    Sedangkan untuk anak, sebaiknya sedapat mungkin tidak berdekatn dengan penderita untuk sementara waktu hingga dinyatakan sembuh oleh dokter.
    Makasih

  303. 304 fitri wahyuni Mei 26, 2010 pukul 7:48 am

    Ada cara lain ngak dok,,,agar anak2 saya tidak ketularan penyakit ini?
    Karena tidak mungkin rasanya mereka tidak kontak dan berdekatan dengan pasien sementara kami tinggal satu atap.
    Dan bagi penderita apa yg seharusnya disarankan agar penyakitnya tidak membahayakan bagi orang lain disekitarnya.
    Dan lingkungan yg bagaimana yg sebaiknya bagi penderita untuk pemulihan penyakitnya,sementra tempat kami berada didaerah lembab,karena disamping rumah ada kali yg notabennya dijadikan tempat sampah bagi org disekitar rumah kami dan klg kami sendiri.

  304. 305 fitri wahyuni Mei 26, 2010 pukul 7:56 am

    Penderita adalah seorang mahasiswi disebuah perguruan tinggi dijakarta,jurusan yg diambilnya Farmasi dan sedang menyyesaikan Apotekernya,dan sedang praktek akhir pula…
    Apakah ada pengaruh dari obat-obatan yg slma ini jd bahan prakteknya dengan penyakit yg didertitanya.

  305. 306 fitri wahyuni Mei 26, 2010 pukul 8:02 am

    atau apa karena terlalu seringnya penderita mengkonsumsi obat-obatan,karena sakit sedikit penderita terbiasa minum obat..
    dan yg paling sering dikonsumsi obat warung pula,disamping penderita kurang nafsu makan.
    makasih dok…

  306. 307 cakmoki Mei 26, 2010 pukul 12:59 pm

    @ fitri wahyuni:
    Jika anak sudah immunisasi BCG, kecil kemungkinan ketularan. Lagipula, kalau sudah mendapatkan pengobatan, kemungkinan menular sangat kecil.

    Bagi penderita, cukup dengan: (a) minum obat teratur sesuai anjuran dokter, (b) makan makanan bergizi dan cukup istirahat, (c) Menjaga agar tidak terlalu dekat ketika berbicara dengan orang lain.

    Lingkungan yg sehat adalah : cukupa mendapatkan sinar matahari dan ventilasi ruangan sedikitnya 15% dari luas ruangan.

    Penyakit TBC disebabkan oleh kuman Mycobacterrium tuberculosa, artinya penderita tertular dari orang lain, entah dimana. Bukan pengaruh obat-obatan untukpraktek dan bukan pengaruh konsumsi obat.

    Trimakasih

  307. 308 Rita Mei 26, 2010 pukul 2:07 pm

    Dok anak saya tiba2 batu berdahak dan tidak pilek, diberi obat apa ya dok? BB 7,8kg. Makasih

  308. 309 Rita Mei 27, 2010 pukul 10:30 am

    Sibuk ya dok?
    Smg batuknya bkn krn tdk minum obat TB lg ya? (maaf sy msh kepikiran.. )
    putri sy yg 14bln boleh minum yakult gak dok?

    Mksh

  309. 310 cakmoki Mei 27, 2010 pukul 5:42 pm

    @ Rita:
    Batuk pilek sangat sering dan wajar terjadi pada anak. Kadang 2 kali sebulan ke dokter kalo pas sekitarnya ada yg batuk-pilek atau faktor cuaca.
    Lha kalo batuk berdahak, ngiklik, krok-krok, trus dianggap TBC, disini lebih 10 anak sakit seperti itu setiap harinya… belum lagi yg berobat ke Puskesmas dan tempat lain… bisa-2 setahun ada ribuan anak didakwa TBC … lumayan, dokternya bisa kaya :D

    Sementara dapat diobati dengan:
    1. Sirup Prospan, diminum 3 x 1/2 sendok takar
    2. Sirup Rhinos Junior, diminum 3 x 1/2 sendok takar.

    Anak usia 14 bulan boleh minum Yakult.

    Ya, saya biasanya bisa online setelah tengah malam. Kadang sore kalo pasa ada waktu luang.
    Makasih

  310. 311 Rita Mei 27, 2010 pukul 8:37 pm

    Maaf dok sy kok kesulitan mencari Sirup Prospan ya? padahal sdh ke Apotik yg paling lengkap di Malang. Apa ada alternatif lain? selama ini saya beri actifed kok tetap gak ada penurunan batuknya.

    Batuknya ngiklik pada malam hari…

    Saya tunggu.. makasih

  311. 312 cakmoki Mei 28, 2010 pukul 12:53 am

    @ Rita:
    Bisa menggunakan Actifed yang Expectoran. Tapi kalo selama ini menggunakan yg tanpa expectoran, dapat ditambahkan sirup ambroxol (merk dagang apa aja). Jangan menggunakan Actife DMP, mengingat DMP malah menimbulkan efek samping : dahak makin kental dan makin sesak.
    Biasanya batuk ngiklik atau krok-2 memerlukan waktu agak lama mengingat anak tidak bisa mengeluarkan dahak secara spontan.

    Kalo ngiklik banget dan anak nampak kesulitan bernapasa atau sesak, maka obatnya sebagai berikut:
    1) Actifed expectorant, 3×1/2 sendok takar
    2) Sirup Bronsolvan, 3×1/2 sendok takar
    Makasih

  312. 313 eka sutriani Mei 28, 2010 pukul 3:25 pm

    assalamu’alaikum.wr.wb….
    maaf dok, baru bisa balas. soalnya kemarin saya lagi sibuk banget…
    gini ceritanya dok.. dulunya itu suami saya pas baru terkena penyakit bronkitis asmatis gejalanya sering batuk-batuk, badannya panas kadang-kadang dingin, nafasnya pendek, kalau habis tidur lalu bangun nafasnya kaya mau putus. sekarang juga masih kaya gitu, namun dibikin biasa saja sama suami saya. soalnya suami saya tidak mau bikin repot orang lain, bahkan sama istrinya sendiri juga nda mau merepotin.. makannya saya bingung dok. dibeliin obat yang dianjurkan sama dokter kamarin nda mau.. bingung saya dok.. harus bagaimana????
    obat yang dulu suami saya minum yaitu obat LEVOFLOXACIN 500, EUPHILLIN RET MITE, CODIPRONT TAB, NOVALGIN TAB. umur suami saya 23 tahun.
    Apa obat tersebut obat untuk penyakit bronkitis asmatis dok????? soalnya obat tersebut tidak membikin suami saya sembuh dok, malahan kambuh lagi…
    bagaimana solusinya dok???? mohon bantuannya yah dok….
    terima kasih…..
    wassalamu’alaikum.wr.wb….

  313. 314 cakmoki Mei 28, 2010 pukul 11:47 pm

    @ eka sutriani:
    Solusinya hanya satu: berobat hingga sembuh.
    Tentu obat tersebut sangat tepat. Kalupun kambuh, obat tersebut dapat digunakan lagi hingga sembuh.
    Penyakit tersebut dapat kambuh jika terpapar : hawa dingin, debu, asap, kelelahan, stress.

    1) Levofloxacine dan euphyllin retard mite bisa dilanjutkan.
    2) Obat batuknya, dapat menggunakan obat batuk ekspektoran atau mukolitik, misalnya: ambroxol atau bromhexine, diminum 3 atau 4 kali 1 sehari.

    3) Steroid, untuk meredakan inflamasi saluran napas, misalnya: Methylprednisolone, diminum 2 x 1 sehari.

    4) Pereda demam, cukup dengan Parasetamol 500 mg, diminum 3×1 sesudah makan hingga demamnya reda.
    Tapi, kalo gak mau minum, saya gak bisa ngasih saran lagi.
    Silahkan dibujuk supaya mau berobat supaya sembuh, apalagi masih berusia sangat muda.

    Makasih

  314. 315 eka sutriani Mei 29, 2010 pukul 11:13 am

    assalamu’alaikum.wr.wb…
    berarti kalau obat yang dulu suami saya konsumsi dari hasil periksa yang sebelumnya masih bisa digunakan lagi yah dok???? apa pakai obat yang dokter tadi sarankan diatas….
    wassalamu’alaikum.wr.wb…

  315. 316 cakmoki Mei 29, 2010 pukul 5:14 pm

    @ eka sutriani:.
    Assalamu’alaikum, wr, wb.
    ya.. bisa.
    Kalo dengan obat yg sebelumnya tidak membaik stelah makai selama seminggu. Dapat menggunakan obat yg saya rekomendasikan. Bedanya hanya pada obat batuk dan obat pereda panas
    Wassalam.

  316. 317 kiky amalia Mei 29, 2010 pukul 7:13 pm

    dokter, kemarin-kemarin saya pernah konsultasi soal ayah saya yang di diagnosa tb aktif, tetapi dokter paru bilang tidak aktif hanya sisa jaringan parutnya saja. setelah pengobatan 2 minggu dengan dokter paru ayah saya periksa rotgen lagi, dan ini haslnya,
    a. cor = normal (hasil sebelumnya = 50%)
    b. sinus dan diagfragma = normal
    c. pulmo = corakan bronchovaskule kasar dengan bercak berawan tebal, perihiler kanan kiri paracardical kanan dan lapangan tengah kiri.
    d. kesan = KP duplex.

    maksudnya apa ya dok?

  317. 318 cakmoki Mei 30, 2010 pukul 1:39 am

    @ kiky amalia:
    Rasanya sama dengan yang sebelumnya.
    Prinsipnya, kalau dokter paru menyatakan tidak aktif atau lebih dikenal dengan sequellae atau “gejala sisa”, itu artinya keluhan yang dialami adalah keluhan yang timbul akibat “bekas” penyakitnya. Ibarat luka di kulit, walaupun sudah sembuh dan tidak infeksi, adakalanya meninggalkan jaringan parut. Nah, itulah yang menimbulkan keluhan.

    a. cor = normal (hasil sebelumnya = 50%) … artinya: jantung normal
    b. sinus dan diagfragma = normal, artinya: ujung paru bagian bawah dan sekat rongga dada Normal
    c. pulmo = corakan bronchovaskule kasar dengan bercak berawan tebal, perihiler kanan kiri paracardical kanan dan lapangan tengah kiri. Artinya: ada peningkatan pola gambaran pembuluh darah kapiler di paru kanan dan sebelah kanan jantung, serta paru kiri
    d. kesan = KP duplex. Artinya: gambaran di atas diduga TBC di Patru kanan dan kiri berdasarkan gambaran Radiologis.

    Nah, “Kesan” tersebut dicocokkan oleh dokter paru berdasarkan pemeriksaan fisik dan riwayat penyakit.
    Jika dokter paru mengganggap kesan radiologis gak cocok dengan pemeriksaan beliau, maka analisa dokter paru tersebut yang dijadikan patokan. Ini karena pemeriksaan Rontgen merupakan pemeriksaan penunjang, bukan satu-satunya pemeriksaan untuk memastikan diagnosa.
    Pemeriksaan TBC yang dapat memastikan diagnosa adalah pemeriksaan Dahak (BTA). Jika hasilnya positif, pasti TBC. Jika negatif, bukan TBC.

    Terimakasih.

  318. 319 Rita Mei 31, 2010 pukul 10:38 am

    Dok, mohon dijelaskan mengenai LED putri saya yaitu= I:21 II: 48 , klo mmg bukan TB mengapa LEDnya tinggi? apa sebab akibat dr LED tersebut? berbahayakah?…

    Saya mendapat info dari DSA saya yg pertama klo dibiarkan akan mengakibatkan radang otak, benarkah?

    Saya tunggu dok, mksh

  319. 320 cakmoki Mei 31, 2010 pukul 4:35 pm

    @ Rita:
    LED tinggi banyak sebabnya. Lha anak korengan aja LED nya bisa naik.
    Radang Otak (meningitis) itu disebabkan penyebaran mikro-organisme pada penyakit-2 tertentu ke selaput otak, kalau tidak diobati. Tidak semua penyakit dan tidak dipihat dari LED.
    Lagipula, LED hanya salah satu pemeriksaan yang tidak berarti apapun tanpa pemeriksaan menyeluruh.
    So, LED tidak bisa untuk mendiagnosa penyakit. Tidak bisa untuk menentukan bahaya atau tidaknya seseorang hanya dengan LED.
    Gak perlu terlalu khawatir hanya karena LED tinggi tanpa keluhan apapun…. :)
    Makasih

  320. 321 Rita Mei 31, 2010 pukul 9:03 pm

    Wah makasih lho dok penjelasannya, jadi lega…maaf ya dok jika seorang Ibu yg khawatir dengan kesehatan putrinya ini terlalu sering bertanya…. semoga dokter tidak bosen dan terus diberi kesehatan agar selalu bermanfaat bagi orang lain.

    Salam,

  321. 322 cakmoki Juni 1, 2010 pukul 12:59 pm

    @ Rita:
    Terimakasih juga telah berbagai…
    Ya, ga papa. Kita bisa berdiskusi di sini tentang masalah kesehatan.
    Sekali lagi, terimakasih atas support dan do’anya. Semoga demikian pula sebaliknya.
    Salam

  322. 323 Mia Laras Juni 7, 2010 pukul 8:19 am

    Ass.wr.wb. Cak Moki…
    Bersyukur banget nemu blogna dokter, karena saya lagi kebingungan berat dengan diagnosa Spa yang meriksa anak saya yang berumur 11 bulan.
    Awalnya saya ke Spa tsb karena saya nemuin benjolan kecil, seperti kelenjar yang bengkak di belakang kepala anak saya…setelah diperiksa, ujug-ujug didiagnosa flek paru. Beliau juga mencek bekas suntikan BCG, dan katanya hasil yg bagus adalah kalau bekas suntikannya ‘bejendol’ ga masuk ke dalam. Sementara bekas suntikan anak saya agak mendem ke dalam.
    Anak saya langsung ditest mantoux hari itu juga. Spa-nya jg minta agar anak saya test darah dan rontgent.
    Hasil test mantoux, tidak menunjukkan adanya pembengkakan.
    Hasil test darah :
    Hb 11,8 gr %
    Lekosit 10.600 /mm3, Eritrosit 3,8 juta/mm3 (H), thrombosit 360 ribu/mm3,Hematokrit 35 % (H), LED 1/2 jam 13/28 mm/jam (H)
    Diff count : basofil 0%, eosinofil 2 %, batang 0 %, segmen 20 %, limfosit 76 %, monosit 2 %.
    Hasil foto rontgent :
    Jantung normal bentuk dan ukurannya. Aorta normal. Corakan bronkovaskular agak kasar di kedua paru. Tak tampak lesi parenkim/spesifik. Hilus kasar bilateral. pleura tak menebal. Sinus dan diagframa bilateral normal. Tak tampak deviasi trakea. Mediastinum superior tak melebar. Tulang-tulang dan jaringan lunak tak tampak kelainan.
    kesan : tersangka bronkitis.

    Berdasarkan hasil pemeriksaan itu semua, Spa ybs mendiagnosa anak saya terkena flek paru dan diberi resep untuk 2 minggu dengan obat2an (semuanya dlm bentuk puyer) sbb :
    santibi 135 (diberikan di awal hari, waktu anak baru bangun,1x sehari);
    INH 60 ( 3x sehari sehabis makan)
    Vitamin B Kompleks ( 3x sehari sehabis makan)

    Untuk informasi anak saya sepertinya tidak menunjukkan gejala tb seperti yang sudah Cak tulis, dia ceria, aktif bergerak,tidak batuk,makan gak susah, bb 9,2 kg, tinggi 74 cm, hanya saja kalau tidur di malam hari suka keringetan dan garuk2 kepala bagian samping dan telinga dan pernah menderita flu beberapa waktu yang lalu.

    Jadi menurut Cak, apa perlu anak saya menjalani pengobatan seperti yang diharuskan oleh Spa-nya?Sedih liat anak saya harus minum obat2an itu.
    Maaf ya Cak kalau saya sudah menulis panjang lebar (sekaliii)…Mohon pencerahannya.Terima kasih banyak.

  323. 324 cakmoki Juni 7, 2010 pukul 5:14 pm

    @ Mia Laras:
    Assalamu’alaikum, wr, wb…

    Pembesaran kelenjar di sekitar leher, kepala bagian bawah dan sekitar telinga bawah, biasanya karena penyebaran infeksi pernafasan di waktu sebelumnya, misalnya: radang tenggorokan, flu, dan sejenisnya. Pembesaran kelenjar tersebut disebut dengan limfadenitis, kerap terjadi pada anak yg mengalami Flu atau Infeksi Saluran Pernafasan yg lain.

    Mengacu pada kronologisnya dan hasil pemeriksaan, menurut saya: Bukan TBC Paru (flek paru).
    Kalau nyeri (ditandai dengan dipegang-2 oleh anak atau anak menghindar ketika disentuh kelenjarnya), cukup diberikan:
    1) Antibiotika, misalnya Eryhtromycin (dosisnya: 30-50 mg per kg berat badan per hari, dibagi dalam 3-4 dosis pemberian), selama sedikitnya seminggu.

    2) Pereda nyeri (anti inflamasi yg juga bisa untuk demam) misalnya: sirup Ibuprofen. Dosisnya: minimal 10 mg per kg berat badan per dosis, diberikan 3-4 kali sehari.

    Kalo gak nyeri, cukup dengan antibiotika saja. Gak perlu obat luar.

    Setelah itu, ditunggu hingga mengecil. Yang penting gak boleh dipegang-pegang, gak boleh diplurut-plurut (bahasa indonesianya sy gak tahu :) ), supaya gak makin membesar.
    Ntar akan mengecil dalam beberapa minggu.

    Tentang bekas BCG, gak mesti mbendol, bisa juga mendelep. yang penting ada bekasnya.

    Jika jawaban saya masih kurang tegas, dan penjenengan masih menanyakan perlu tidaknya minum obat TB seperti yg dirsepkan di atas, jawaban saya adalah: tidak perlu dilanjutkan.

    Terimakasih.

  324. 325 Mia Laras Juni 8, 2010 pukul 12:22 pm

    Ass.wr.wb…
    Cak Moki, terima kasih banyak atas penjelasannya…
    Sekarang saya jadi lebih tenang dan memutuskan untuk tidak meneruskan meminumkan obat tersebut kepada anak saya.
    Selanjutnya saya mau cari dokter yang menganut RUM untuk pengobatan limfadenitisnya…sekali lagi terima kasih banyak ya dok…

  325. 326 cakmoki Juni 9, 2010 pukul 12:09 am

    @ Mia Laras:
    Assalamu’alaikum, wr, wb,
    Termakasih juga telah berbagi.
    Moga sehat selalu.
    Wassalam

  326. 327 taufik Juni 17, 2010 pukul 12:42 pm

    Assallammuallaikum wr. wb.

    Cak moki yang budiman salam kenal dari taufik , maaf ni saya mau tanya, saya sakit batuk berdahak hampir dua bulan terakhir ini maka saya memeriksakan diri ke dokter umum dekat rumah, saya di anjurkan rontgen setelah rontgen hasilnya spt ini ” bercak2 infiltrat di paru-paru kiri atas,paru – paru kanan bersih, hila normal, sinus,diagphragma dan cor baik.” hasil rontgen tersebut saya bawa kembali ke dokter. dokter mem vonis saya terkena TBc dan harus menjalani pengobatan selama 6 bulan. tapi saya masih kurang yakin, apakah saya terinfeksi TB atau bukan? mohon pencerahan dan sarannya cak moki. terima kasih banyak.

    salam
    Taufik.

  327. 328 cakmoki Juni 17, 2010 pukul 3:25 pm

    @ Taufik:
    Assalamu’alaikum, wr, wb,
    Salam kenal.
    Jika memang ada infiltrat di paru bagian atas, salah satu kemungkinannya adalah TBC. Untuk memastikannya adalah dengan pemeriksaan Dahak BTA (Bakteri Tahan Asam) 3 kali. Jika salah satu pemeiksaan menunjukkan hasil positif, pasti TBC dan memerlukan pengobatan 6 bulan untuk menuntaskan kuman Mycobacterium tuberculosa.

    Jika dokternya udah yakin TBC dengan melihat hasil rontgen dan pemeriksaan fisik yg beliau lakukan, maka sebaiknya menjalani pengobatan 6 bulan sebagaimana saran dokter.

    Apa yang disarankan dokter bisa dimaklumi karena kadangkala pada TBC yang belum luas, pemeriksaan Dahak BTA bisa saja menunjukkan hasil negatif dikarenakan pemeriksaan Dahak BTA emang sulit untuk menemukan kuman di dahak yg diperiksa di bawah mikroskop.

    Makasih

  328. 329 Dewi Juni 24, 2010 pukul 11:02 am

    Assalamualaikum wr. wb

    Salam Kenal.

    Anak saya berumur 26 bulan juga di vonis terkena flek. Setelah saya membaca blog ini saya jadi bingung plus takut.

    Karena anak saya juga di kasih pil yang harus di minum setiap bangun tidur pagi hari.dan obat batuk (lupa namanya)untuk penderita asma, sampai saya sempat bingung apa anak saya juga terkena Asma.

    Padahal anak saya sangat aktif, makannya pun banyak cuma berat badannya aja yang susah naiknya.

    Terus gimana dunk supaya saya dapat informasi yang benar tentang penyakit anak saya.

    Ada gak DSA di Yogyakarta yang tidak mudah memfonis anak terkena flek.

    Mohan sarannya………..

  329. 330 cakmoki Juni 24, 2010 pukul 5:18 pm

    @ Dewi:
    Assalamu’alaikum…
    Salam kenal…
    saya tidak tahu DSA di Jogja… Obat bronkodilator, atau biasa dikenal sebagai obat asma oleh orang awam, adalah obat untuk melonggarkan saluran napas. Bukan hanya untuk asam, tai juga diunakan untuk infeksi saluran pernapasan yang disertai batuk berat, atau sesak, atau batuk berkepanjangan karena alergi, dll.

    Kalo hanya masalah berat badan dan anak aktif, bukankah sangat wajar terjadi diusia anak suka bermain dan aktif beraktifitas, serta sedang dalam masa ingin tahu lingkungannya ?

    Untuk menentukan sikap, silahkan baca diskusi sebelumnya supaya gak bingung.
    Pilihannya cuma 2.
    Kalo gak yakin TBC, ya gak usah minum obat TBC. Begitu pula sebaliknya, jika yakin dengan diagnosa dokter, silahkan dilanjutkan obatnya.

    Saya rasa, jawaban saya sudah sangat jelas dan tegas :)
    Makasih
    Wassalam

  330. 331 menik Juni 29, 2010 pukul 1:29 pm

    Selamat siang..
    Seneng banget bisa nemu blog ini.. dan tentunya akan teambah seneng jika Cak moki berkenan menjawab segala kebingungan ini.. :)
    Berawal dari keluhan batuk “kemayu” (ga yg parah, cm uhuk2 dikit) yg ga sembuh2 adanya benjolan di leher/bawah telinga yg sudah cukup lama dan diteruskan dg rontgent thorax-B, didapatlah hasil :
    - CTR < 50%, bentuk & letak normal
    - Paru : tak tampak bercak/infiltrat pada kedua paru.
    Tampak jelas kalsifikasi pada apeks paru kanan dan parakardinal kanan.
    Corakan bronkovaskuler kasar.
    Ada fibrosis di lap kanan bawah.
    Sinus kostofrenikus kanan tampak tumpul.
    Diafragma mendatar.
    Kesa : bronkitis kronis. TB Paru lama dg reaksi pleura kanan, mungkin tenang.

    Mohon penjelasan itu artinya apa ya Cak..? apa sy kena TBC..? menularkah & apa bs sembuh..?

    Maturnuwun, lemah teles, Gusti Allah ingkang mbales..

    "salam-menik"

  331. 332 cakmoki Juni 29, 2010 pukul 2:15 pm

    @ menik:
    Selamat siang …
    Menilik keluhan dan hasil rontgen, penyakit tersebut menunjukkan : Bronkitis kronis, yakni penyakit saluran pernapasan yang ditandai dengan batuk berdahak yang dipicu oleh: asap , debu dan asap industri, polusi udara, cuaca, dll.

    Kesan TB Paru lama artinya “tidak menutup kemungkinan adanya TBC”. Untuk memastikannya harus periksa dahak. Jika hasil pemeriksaan dahak sebanyak 3 kali menunjukkan hasil negatif, pasti Bukan TBC. Begitu pula sebaliknya.

    Selengkapnya tentang Bronkitis kronis, silahkan baca artikel Di Blog ini, bejudul Bronkitis kronis, pada link berikut:
    https://cakmoki86.wordpress.com/2010/04/22/bronkitis-kronis/

    Makasih

  332. 333 menik Juni 29, 2010 pukul 4:13 pm

    thanks for ur quick response.. Gbu..

  333. 334 celin Juli 1, 2010 pukul 2:26 pm

    Selamat siang dok,

    salam kenal, anak saya 1 thn 3 bln, 2 bln yg lalu saya bawa periksa, sejak usia 9 bln BB anak saya susah naiknya, disamping itu makan jg lumayan susah.

    sebelumnya dsa saya yang biasa bilang ga masalah, kr pada dasarnya anak saya aktif & selalu ceria.

    kebetulan pas periksa 2 bln yg lalu, yg nanganin bukan dsa saya yang biasa, karna beliau sedang cuti (mau ga mau saya ke dsa lain)

    yg ingin saya katakan bahwa saya kurang setuju dgn hasil pemeriksaan dsa tsb, beliau lgs menvonis anak saya kena TBC, dilihat dari kondisi BB anak saya yg tidak naik2, pada saat itu BB = 8.4kg.

    Pada saat itu beliau jg menanyakan apakah anak saya suka berkeringat kalau malam hari? kr memang kenyataan anak saya suka berkeringat pada mlm hari, saya jwb iya bener, mlm hari anak saya bisa ganti baju sampai brp kali, karna keringatan.
    akhirnya beliau semakin yakin kalau anak saya kena TBC.

    Apakah bener bgtu dok? jika anak suka berkeringat pada mlm hari semakin memberi keyakinan bahwa anak tsb TBC?

    Hari itu juga anak saya disuruh agar dirontgen, dan hasilnya adalah :

    Pemeriksaan : Thorax AP/PA

    Cor : Bentuk, letak dan ukuran normal
    Pulmo : Corakan bronchovasculer meningkat
    Tampak bercak infiltrat paracardial, paru kanan bawah.
    Hillus kanan melebar
    Sinus costophrenicus kanan kiri lancip
    Diafragma, tulang normal

    Kesan : Proses spesifik(lab?)

    saya kurang mengerti membaca hasil pemeriksaan tsb, smntra dsa jg kurang bisa diajak komunikasi.
    (beliau tidak menjelaskan secara detail)
    beliau hanya memberikan resep Pyravit INH agar diberikan setiap bangun pagi sebelum makan 1 kali setiap hari & likurmin u/penambah nafsu makannya.

    yang ingin saya tanyakan apakah saya hrs ttp meneruskan memberikan obat tsb atau lbh baik saya cari DSA lain untuk second opinion.

    seperti dokter bilang diatas, klo diberikan Pyravit adalah untuk kasus TBC yang blm pasti/msh diragukan, jd mohon saran apa yang hrs saya lakukan?

    terima kasih dok untuk bantuannya

  334. 335 celin Juli 1, 2010 pukul 2:30 pm

    Oh, iya dok, tambahan, mohon dibantu untuk membaca hasil rontgen anak saya.

    Terimakasih

  335. 336 cakmoki Juli 1, 2010 pukul 5:48 pm

    @ menik:
    sama-sama… makasih juga telah berbagi.

    @ celin:
    saya sependapat dengan DSA pertama…. :)
    Semua anak, cenderung berkeringat pada malam hari karena pada anak mengalami metabolisme (pengolahan makanan) yang jauh lebih tinggi ketimbang orang dewasa. Hal ini sangat wajar mengingat anak masih dalam masa pertumbuhan. Berkeringat pada malam hari bukan tanda TBC.

    Hasil rontgen tersebut akan seperti itu kalo anak sedang batuk, bahkan dalam keadaan gak sakitpun kadang seperti itu hasilnya.
    Kalo semua anak yg ke dokter dirontgen, hasilnya seperti itu karena dokter radiologi hanya melihatnya dari gambaran foto rontgen, tidak ikut memeriksa anak dan tidak tahu keluhannya.

    Jika keluhannya hanya masalah berat badan dan batuk, gak perlu rontgen. Soalnya, kebanyakan akan dituduh TBC.

    Kalau ingin jawaban yg lebihtegas dari saya, hentikan saja obat tersebut, kecuali likurmin… :)

    Makasih

  336. 337 celin Juli 1, 2010 pukul 7:16 pm

    makasih dok, saya sng mendengar jawaban dokter.
    jd apa yg selama ini menjadi pertanyaan saya sudah terjawab, sng bisa menemukan blog ini.

    btw boleh tnya 1 hal lagi ya dok, tp diluar topik diatas.
    anak saya kan sudah 1 thn 3 bln, tapi belum saya imunisasi Hib & varisela.
    dengan usianya sekarang apakah dia masih bisa diberikan imunisasi tsb?

    saya baru menanyakan ini karena tadinya saya & suami tidak berniat imunisasi yg disarankan tsb, maka dari itu kami tidak menanyakan hal ini kepada Dsa saya.

    tp td setelah saya baca di milis, katanya imunisasi ini sgt ptg, sehingga skrg saya jd ingin imunisasikan anak saya.

    makasih ya dok

  337. 338 cakmoki Juli 2, 2010 pukul 2:19 pm

    @ celin:
    Bisa. Imunisasi tersebut sangat penting.
    Pada dasarnya, tak ada kata terlambat untuk imunisasi. Kalaupun di Blog ini atau di internet menemukan jadwal imunisasi yg berpedoman pada umur, hal tersebut hanya untuk memudahkan cara program imunisasi saja.
    Makasih

  338. 339 venni Juli 19, 2010 pukul 11:02 pm

    salam kenal cak moki..
    seneng banget bisa ketemu blog ini apalagi di saat kebingungan sperti skrg ini,, cak moki.. saya mohon bantuannya, saya seorang ibu r.tangga, pd bln apr lalu saya didiagnosa kena tb paru, sblmnya memang saya ada batuk2 sudah kurang lebih 2 bulan yang ngga sembuh2, saya pertama kalinya pergi ke dokter umum dkt rmh lalu dikasih antibiotik(sy lupa namanya) dan obat batuk pengencer dahak, ada lebih mendingan tp blm sembuh total, kemudian batuk2 lg saya ganti ke dokter umum lain dan dikasih antibiotik lg, tp blm sembuh jg, terakhir saya mengalami batuk2 yg agak parah apalagi kalau malam tidur pun batuk dan badan menjadi demam, akhirnya suami membawa saya ke dsa yg sebetulnya adalah dokter anak saya dulu, memang dokter ini walaupun seorang dokter anak tp dia jg menerima pasien dewasa dan namanya lumayan terkenal di daerah saya, akhirnya saya dirontgen dan disuntik ppd, ternyata hslnya positif dan dari hasil rontgennya jg positif. Karena kurang percaya saya bs kena tb, saya ada menjumpai seorang spesialis paru di rs, saya disuruh tes dahak dan tes darah. ternyata memang dari tes dahaknya didapat hasil positif 2. saya disuruh opname 5 hari di rs, tp suami saya tdk mengijinkan karena ktnya opname jg percuma karena dari hasil ppd ( suami dan 2 anak saya jg disuntik ppd stlh sy didiagnosa positif tb oleh dsa ), suami dan anak pertama saya jg sudah positif, hanya anak kedua saja yg hslnya negatif, jd suami saya menyuruh saya balik konsultasi saya ke dsa anak saya, saya dikasih obat dengan dosis sbb : INH ciba 400 mg 1 tablet, rimactane 450 mg 1 tablet, dan Pezeta ciba 500 mg 3 tablet. kalau suami dan anak pertama saya INH ciba dan rimactane saja dan untuk anak kedua saya INH saja untuk pencegahan. obat2an tsb saya rutin makan selama 3 bln setiap pagi hari bangun tanpa pernah bolong seharipun. dan kontrol jg teratur sesuai anjuran dokternya. setelah 3 bln pd tgl 6 juli kemarin saya dikurangi dosisnya oleh dsa nya menjadi hanya inh dan rimactane saja. Yang saya mau tanyakan ke cak moki, apakah obat2an tsb sudah benar dosisnya? mengapa setelah sekian lama saya makan obat2an tsb saya masih ada batuk2 yg tidak kunjung hilang ( terakhir kali kontrol tgl 6 juli kemarin saya ada tanya ke dsa nya, ktnya memang begitu tidak bisa lsg hilang batuknya ). saya jadi bingung dan juga takut apakah bakterinya yg resisten atau saya harus ganti ke spesialis paru, tp sudah setengah jalan pengobatan begini saya jg tidak berani sembarangan ganti dokter. oya, dsa ini tidak pernah menyuruh tes dahak dan darah, saya pernah tanyakan hal itu, tp dia jawab kalau itu percuma saja dan kalau sudah selesai pengobatan 6 bulan hanya perlu dirontgen ulang saja. gimana nih cak?? mohon bantuannya cak dan sebelumnya saya ucapkan banyak terima kasih.

  339. 340 cakmoki Juli 20, 2010 pukul 12:45 am

    @ venni:
    Salam kenal…
    Pada dewasa, kepastian diagnosa TBC Paru hanya dengan pemeriksaan dahak BTA. Jika positif, bisa dipastikan TBC.
    Pengobatannya 6 bulan.
    Obat yg diberikan oleh dr. Paru adalah obat standar Internasional yang ditetapkan WHO. Di Indonesia, regimen (kombinasi obat) yg ditetapkan oleh Depkes sama persis dengan obat yang diberikan dokter paru.
    Untuk itu, skedul pengobatan TB Paru pada dewasa harus mengikuti anjuran dokter Paru, bukan DSA (walaupun beliau terkenal).

    Tentang batuk, bisa hilang pasca pengobatan 6 bulan, bisa berkurang ditengah pengobatan, bisa juga berlangsung lama walaupun kuman Mycobacterium tuberculosa sudah tidak ada dalam tubuh dan dinyatakan sembuh. Hal ini dapat terjadi kalau saluran pernafasan mengalami retriksi (kaku dan menyempit). kalau sudah diobati sebagaimana obat yang diberikan oleh dokter paru, maka tidak laggi berbahaya, hanya saja kadang masih ada keluhan batuk berkepanjangan.

    Adapun untuk menanggulangi batuknya biasanya diberikan juga obat-2 bronkodilator (untukmelonggarkan saluran nafas dan untuk supaya tidak sesak) serta obat pencair dahak atau penekan batuk, bersama dengan obat TBC.
    Karena itu, seyogyanya mengikuti skedul pengoabatn yg diberikan oleh dokter paru…gak perlu pindah dokter dan gak perlu mengikuti sarabn DSA (maaf).

    Semoga segera sembuh sesuai rencana pengobatan.
    Terimakasih

  340. 341 venni Juli 22, 2010 pukul 8:04 am

    Makasih ya cak… sekarang saya jd mengerti kalau batuknya ternyata kadang2 tidak bisa hilang sepenuhnya.. saya hanya takut klu masih ada bakterinya kan bs membahayakan orang lain.. brarti saya sekarang harus konsult ke dokter paru lagi ya cak?? sbab saya cuma sekali aja yg disuruh tes dahak ke dokter paru,, selanjutnya saya balik ke dsa tsb sampai memasuki pengobatan skrg udah jalan 3,5 bln..
    kira2 klu menurut cak moki dokter paru bersedia ngga ya klu menerima pasien tb yang sudah rawat setengah jalan begitu dari dokter lain?

  341. 342 cakmoki Juli 23, 2010 pukul 12:06 am

    @ venni:
    Ya, benar… sebaiknya melanjutkan ke dokter paru lagi.
    Percayalah, dokter paru selalu menerima para pasien yang memerlukan pertolongannya… itu sudah komitmen setiap dokter sesuai sumpahnya. :) … saya percaya, beliau akan menerima pemnjenengan dengan tangan terbuka.
    Makasih

  342. 343 eko Agustus 2, 2010 pukul 7:11 pm

    ass.wr.wb..mOhon bantuanya dong..saya punya adek,dulu dy pernah terkena flek pd th 2002.wkt itu pernah di sedot tp cairan yg keluar sedikit hampir ga ada n dy melakukan pengobatan selama 6 bulan..sekarang dy sdh dinyatakan sudah sembuh tp kenapa ya kok bekasnya masih kl di rontgen, n sekrg dy susah cari kerja kan ada tes kesehatan tu tp dipermasalahkan terus menerus,n wktu itu hsl rontgen pun dipinjam untuk membuktikan bahwa sudah sembuh ,n dibawa ke dokter spesialis mlh mpe 2 org dokter spesialis menyatakan sdh sembuh bahwa itu cm bekas aja n ga usah di obati lg..gimana ya solusinya jika seandainya ada kesempatan ikut tes kesehatan kerja lg supaya hasil rontgen itu tidak ada bekas tersebut.ato punya solusi lain?

  343. 344 cakmoki Agustus 2, 2010 pukul 11:53 pm

    @ eko:
    Tindakan yang sudah dilakukan selama ini sebenarnya sudah benar, yakni dengan menyertakan hasil Rontgen dan keterangan dokter spesialis bahwa penyakit tersebut sudah sembuh dan hanya napak bekasnya saja pada rontgen.
    Yang menentukan seseorang diterima atau ditolak dari sisi kesehatan, adalah seorang dokter yang ditunjuk oleh pihak Perusahaan atau institusi lainnya, bukan pihak manajeman yang notabene bukan dokter. dapaun dokter yang ditunjuk, wajib mengikuti hasil penilaian dokter spesialis.

    Jika masih ditolak, maka dapat mengadukan ke Departemen Tenaga Kerja setempat.
    Cara lain adalah melalui jalur hukum.
    Makasih

  344. 345 Tatien Agustus 12, 2010 pukul 9:52 am

    Dok,
    Anakku Hafizh -8 bulan- beberapa hari lalu panas (seminggu)+ nafsu makan turun, dikasih penurun panas, panasnya turun. Panas berulang besoknya, setiap hari (selama seminggu tsb harus minum penurun panas)
    akhirnya aku bawa ke dokter, dan tes darah (di curigai tifus) di rujuk untuk ke spesialis anak.

    Menurut dokter dokter anak, kemungkinan hasil lab salah, karena hemoglobin rendah, tetapi leukosit dan eritrosit normal. Oh, ya anak saya susunya ASI.
    Oleh karna itu, di minta untuk tes ulang, kemudian di lihat juga -maaf- barangnya hafizh, ternyata kulupnya menutup (kata dokternya obatnya ya…harus segera di sunat, minimal 10 hari sejak panasnya turun). Selain tes darah ulang, di periksa pula Tes urin, test urin cultur rontgent dan mantoux.

    Tadi malam, dibacakan Hasil Test urin dan urin culture OK, tidak ada aneh.
    Tes darah, LEDnya tinggi, Hemoglobin rendah dan test mantoux positif, benjolan 15mm. Sebelumnya hafizh sudah pernah suntik BCG dan ada sisa luka di bekas suntikan BCG-nya. Karena test mantoux positif, anak saya di Vonis kena Flex.
    Sewaktu test tsb, pulangnya hafizh di beri antibiotik, ternyata panas turun, dan nafsu makan bertambah, tetapi dia kena batuk + flu(kakaknya 4.5 tahun sedang batuk dan saya flu. seminggu setelah tes, saat membaca hasil test (tadi malam), anak saya di timbang berat badannya naik, awalnya 7kg, berubah jadi 7.4kg, sudah tidak panas hanya batuk. Pagi ini, hafis panas lagi + mencret.

    Apakah mungkin anak saya benar2 flex? saya kasihan kalau dia harus minum obat 6 bulan jika ternyata bukan flex, dok. Kalau memang flex, ya saya pasti akan lakukan pengobatan tsb.

    Ohya, Dokter praktek dimana, ya.. karna saya sedang mencari second opinion dari dokter lain.

    Terima kasih.
    Tatien

  345. 346 hilda Agustus 12, 2010 pukul 7:40 pm

    salam kenal dok,
    saya sekarang lagi bingung berat. sudah 3 bulan ini saya batuk terus dan sudah 4 kali bolak balik k dokter umum yg sama, tapi belum sembuh juga. Pada awalnya batuk saya selalu kambuh lagi karena saat hampir sembuh saya makan coklat dan makanan yg pedas2. Kemudian setelah saya berobat yg k-4 kali, kira2 3 minggu yg lalu, dokter menyarankan untuk di rognten dan periksa darah, karena batuk saya yg tak kunjung sembuh.

    Setelah saya melakukan foto paru dan tes darah, hasil rongten paru menunjukkan kesuraman hampir seluruh lap. paru kiri dan paracardical kanan, tidak tampak efusi, cor dalam batas normal, pulmo suggest gambaran KP dgn sekunder infeksi. Sedangkan tes darah, HB 11, LED 109.
    hasil tes itu saya bawa ke dokter umum tempat saya biasa berobat dan dokter menyatakan kalo saya terkena TBC dan menganjurkan saya untuk secepatnya minum obat.

    ang ingin saya tanyakan, apakah bisa diputuskan seseorang menderita TBC berdasarkan kadar LED yg tinggi? Menurut info yg saya baca gejala TBC adalah serangan demam seperti influenza dan bersifat hilang timbul (ini saya rasakan 2X tapi saat itu suami saya juga sedang flu dan saya menduga saya tertulari oleh dia), Penurunan nafsu makan (nafsu makan saya tetap).
    Selain itu saat ini saya juga mempunyai bayi berumur 6 bulan yang masih ASI. Semenjak saya batuk, BB nya naik tapi tidak terlalu banyak (pada bulan 1 & 2 selalu naik 1 kg, selanjutnya hanya 4 ons, bahkan kemaren tidak ada kenaikan) dia juga sempat mengalami batuk tapi tidak sering, sekarang batuknya sudah hilang, apakah anak saya juga memiliki kemungkinan tertular?tapi dia selalu ceria dan aktif bermain.
    Dokter menyarankan saya untuk tidak lagi menyusui anak saya agar tidak tertular, jika memang saya positif TBC apakah benar saya tidak boleh menyusui lagi dok? karena saya berencana untuk memberikan ASI sampai umur 2 tahun.

    Maaf y dok, saya jadi curhat disini dan sebelumnya terima kasih,saya senang sekali bisa konsultasi disini, karena menurut saya jawaban dari dokter yg menangani saya kurang memuaskan. Saya mohon pencerahan dari dokter. Terima kasih

  346. 347 cakmoki Agustus 13, 2010 pukul 12:48 am

    @ hilda:
    Salam kenal…
    Belum tentu TBC. Terlebih jika sebelumnya tertular suami yg mengalami batuk. Belakangan ini beberapa daerah juga banyak orang sakit batuk berkepanjangan, termasuk di daerah kami. Umumnya ISPA dan Bronkistis.

    Hasil rontgen menunjukkan dugaan, bukan memastikan. Kesuraman pada paru bisa juga karena bronkitis dan pnemoni. LED tinggi dapat terjadi pada banyak penyakit yg berlangsung lama.
    Untuk memastikan TBC atau bukan, diperlukan pemeriksaan dahak BTA 3 kali, sewaktu, pagi dan sewaktu atau pagi-sewaktu-pagi. Jika salah satu hasilnya positif, pasti TBC. Jika negatif, berarti bukan TBC.
    Andaipun TBC, tetap dapat menyusui bayi karena penularannya bukan melalui ASI tapi melalui pernapasan.
    Menurut saya, sebaiknya periksa ke dokter spesialis Paru dengan membawa hasil Rontgen dan Lab.
    Moga segera sembuh :)
    Makasih

  347. 348 evie Oktober 7, 2010 pukul 6:49 pm

    sore dok…
    anak sy 6 thn divonis flek dan dalam pengobatan 6 bln. hasil rongen I (9 maret 2010 ) : cor, sius dan diafragma baik
    Hilus kanan suram
    Tampak infiltratdi perihiler kiri
    Tulang dan jaringan lunak baik
    Kesan : Proses spesifik
    rongen II (26 juni 2010 ) : Masih tampak infiltrate dikedua peri-
    hiler dan paracardial
    Kesan : proses spesifik, dibandingkan foto tgl
    9-3-2010 STQA
    rongen III (2 oct 2010 ) : Dibandingkan foto tgl 26 juni 2010
    infiltrat di perihiler kanan
    (perbaikan)
    sekarang sedang dalam keadaan batuk pilek. kadang mengeluarkan dahak berwarna agak hijau ada bercak merah. biasa berobat dgn DSA, tp dokternya berhalangan sy berobat ke DSP. Beliau mengatakan stop pengobatan, dan berikan obat batuk serta antibiotik. yg sy ingin tanyakan:
    1. apakah anak saya sudah sembuh atau br perbaikan?
    2. apakah obat rifampicin dan tb vit saya hentikan pemberiannya?
    3. apakah bercak merah yg ada didahak anak sy itu darah?
    4. bagaimana cara pencegahan agar anak sy tidak kena flek lagi?
    terima kasih dokter

  348. 349 cakmoki Oktober 8, 2010 pukul 12:32 am

    @ evie:
    1) Percayalah, kalo hanya mengandalkan hasil rotgen, obat TBC akan tetap dilanjutkan.
    Saya sependapat dengan Dokter Sp Paru yang mengatakan “STOP PENGOBATAN TBC” … ini mengandung makna yang dalam, bukan sekedar menyuruh mengganti dengan antibiotika dan obat batuk.. hal ini karena kebanyakan batuk berkepanjangan pada anak disebakan Bronkopnemonia, bukan TBC (Flek Paru)… di sini sama, dari beberapa anak yg didakwa TBC (flek Paru), setelah konfirmasi ke Dokter Paru, tidak ada satupun yang TBC (Flek Paru), tapi bronkopnemonia, bronkitis, asma. Sayapun akan berkata hal yg sama dengan dokter Sp Paru :D
    Kata-kata dokter Sp Paru tersebut secara tersirat menunjukkan bahwa bukan Flek Paru. Kalo orang awam mungkin tidak memahami, namun bagi saya, sudah pasti makna yg terkandung dalam kalimat dokter sp Paru tersebut adalah bukan Flek Paru.
    Namun, seperti jawaban-2 sy sebelumya, semuanya bergantung pada masing-2 ortu.

    2) iyalah…hentikan… kan advis dari dokter paru diminta untuk menghentikan.
    gayanya rontgen emang gitu… masih proses…. masih proses … lama-lama perbaikan… sungguh tidak logis, mengingat Radiologis merupakan pemeriksaan penunjang… makanya hasinya: didahului dengan kata: Kesan. yg menentukan adalah pemeriksaan fisik oleh dokter dan riwayat penyakit.

    3) Wana merah yg di dahak, kadang air seni, ludah, adalah pengaruh zat warna pada Rifampicin.

    4) Maaf… pendapat saya sama dengan dokter sp Paru… :) jadi gak ada yg harus dicegah dari TBC.

    makasih

  349. 350 rakryan79 Oktober 8, 2010 pukul 5:22 pm

    Selamat sore dok..
    Pada bulan juni adik saya mengalami batuk darah atau yg kemudian saya ketahui sebagai hemoptoe. Dari hasil rontgen dan cek dahak bta + mengindikasikan penyakit TBC. Sebelum dirawat di RS adik saya mengalami hemoptoe sebanyak 4x di hari2 yg berbeda dalam 2 minggu. Kemudian dia di rawat inap di RS selama 12 hari, setelah pendarahannya stop kemudian pulang. Umur adik saya 21th, BB sebelum masuk RS 52 kg, BB setelah keluar RS 56 kg. Karena keterbatasan biaya, kami alihkan pengobatan TBC ke salahsatu puskesmas dibogor, disana adik diberi obat paket bernama RIFASTAR begitu yg saya tahu dr pencarian di internet, dgn komposisi perbutir : rifampicin 150mg, isoniazid 75mg, pyrazinamide 400mg dan ethambuthol 275mg. Selama 2 bulan pertama adik minum 4 butir/hari tanpa putus. Kemudian cek dahak dan hasilnya negatif. Bulan ke 3 s/d ke 5 diberi obat yg sama sebanyak 4 butir/hari yg diminum hanya pada hari selasa, kamis dan sabtu. Adik saya memang bandel, satu bulan setelah keluar dr RS dia balik kerja ke lampung. Sekarang pengobatan memasuki bulan ke 5 dan di akhir bulan ke 4 terjadi hal yg tidak di inginkan, adik batuk darah lagi atau hemoptoe di lampung, badannya meriang dan sebelum batuk darah badan terasa panas gerah. Setelah 4 hari dia pulang ke bogor dan sore harinya batuk darah lagi/hemoptoe, badannya meriang, tulang2 dipunggung sakit linu. Hari ini, jum’at siang dia batuk darah lagi. Kondisinya sama, sebelum batuk darah td malam badan terasa panas gerah.
    Pertanyaan saya:
    Apa yg harus saya lakukan, apakah adik saya harus dirawat inap lagi? Apakah bisa berobat jalan, misalnya dgn minum obat kalnex 500mg? Apakah boleh minum kalnex tanpa resep dokter?
    Kami terkendala biaya, askes adik masih blm jg keluar, klo ada askes mungkin kami tidak terlalu bingung.
    Terimakasih

  350. 351 cakmoki Oktober 9, 2010 pukul 12:37 am

    @ rakryan79:
    Selamat malam…
    1) Benar, harus dirawat di RS mengingat adik mengalami hemoptoe, terlebih sudah berulang dan disertai keluhan demam serta sakit pada punggung.
    2) Dalam keadaan sekarang, Kalnex tidak cukup untuk mengobati hemoptoe. Yang paling penting adalah perawatan untuk mengatasi hemoptoe dan memulihkan kondisi.
    Tentang Askes, mohon maaf, saya tidak tahu bagaimana cara mempercepat keluarnya Kartu Askes. Konon bisa diurus dimanapun untuk perawatanyang sifatnya urgent, namun saya tidak tahu pasti kebenarannya.

    Terimakasih

  351. 352 ria sagita Oktober 14, 2010 pukul 6:09 pm

    maaf dokter saya begitu sedih melihat anak sya skt,kdg tiap malam kepikiran.anak saya umurnya 4,6 tahun bb 15 kg sering kena batuk2 tp kata dktr anak saya terkna Tb paru dan mkn obt slma 9bln.dan dinyatakan sembuh memeng di keluarga kami ada riwayat Tb tp alhamdulilah sdh berobat smua.Dan akhir2 ini ud 3 bln batuk terus tp dikasih obt agk lumayan egk terlalu sering batuk.tp batukny dtg pas pagi ama malam itupun berdahak.keturunan kami ada asma jg.yg bikin bingung dkter anak suruh mkn obat 6 bln tp ada 2 dokter paru2 egk suruh mkn obt lg.hasil mantox 9mm,hasil rongen menunjukan bronkhitis,tp wktu di rongen lg batuk.anak saya memang sering sakit2an egk jauh dr batuk & skt tifus.anaknya lincah tp kalo org liat suka bilang skt karena mukanya agak pucat alias kuning dikit tp kelopak matanya merah kalo diliat.apa pengaruh makan obt Tb makanya mukanya keliat agak pucat.pdal tes urine bgs.tp pernh 2 kali hb ny turun,skr egk lg.saya takut mau ngsih antibiotik kalo lg batuk sebab trauma gr2 anak sepu2 saya sakit lupus terllu byk obt.tolong sya dokter supaya egk bikin saya stres lg…kmana lg sya mncari bantuan sampe2 suami mrh anak dikasih obt terus///

  352. 353 cakmoki Oktober 15, 2010 pukul 2:33 am

    @ ria sagita:
    Menilik dalam keluarga ada riwayat asma, kemungkinan besar asma, bukan TBC. Saya sependapat dengan dokter paru tersebut untuk tidak minum obat TBC lagi… terlebih di rontgen menunjukkan bronkitis. Pada asma, hasil rontgen biasanya ditulis bronkitis.

    Menurut saya, gak perlu antibiotika…cukup dengan obat batuk ekspektoran dan obat bronkodilator (obat untuk melonggarkan saluran nafas, yg lazim digunakan pada asma dan bronkitis serta batuk karena alergi).
    1) ekspektoran, misalnya sirup ambroxol atau sirup bromhexine (merk dagang bebas memilih), diminum 3×1 sendok takar.

    2) bronkodilator, misalnya: sirup brondilex atau sirup bronsolvan, diminum 3×1 sendok takar.

    Kedua obat tersebut dapat disimpan dan diminum lagi kalo pas kambuh…
    Biasanya kambuh kalo dipicu oleh: kelelahan karena aktifitas berlebihan, cuaca dingin, debu, bulu binatang, asap, dan bahan polusi lainnya, dll.
    Makasih

  353. 354 little lupina Oktober 15, 2010 pukul 7:26 pm

    Dok, mau tanya dong,
    kemarin baru tes dan hasilnya begini..
    maksudnya apa yah dong..
    butuh penjelasan,
    makasih,

    1. Jantung : CTR > 50%
    2. Trakhea di garis tengah
    3. Kedua hilus tidak menebal
    4. Corakan bronkovaskuler kedua paru baik
    5. Sudut kostofrenikus lancip. Diafragma licin
    6. Tulang-tulang dan jaringan lunak dinding dada kesan dalam batas normal

    Kesimpulan : Tak tampak kelainan radiologis pada cor dan pulmo

  354. 355 cakmoki Oktober 16, 2010 pukul 5:49 pm

    @ little lupina:
    Maksudnya: jantung dan paru-paru: normal

  355. 356 Ika Rismawati November 12, 2010 pukul 11:50 am

    Asalamualaikum,wr.wb Dok saya bingung mengenai batuk yang diderita anak saya jika dia terkena batuk jangka waktu sembuhnya cukup lama,dan pada saat tidur sulit sekali bernafas dan sering terbangun pada saat batuk karena khawatir saya bawa anak saya ke dokter spesialis, setelah konsultasi dengan dokter tsb katanya banyak lendir di paru2nya sehingga membuat anak saya sulit untuk bernafas saya tanyakan apa anak saya terkena flek?tp kta dokter tersebut jng mendifonis penyakit itu dulu,karena ktanya penyakit flek itu kering dan di sebabkan oleh kuman,kemudian anak saya dianjurkan untuk dilakukan penguapan dari 3-5 kali berturut2 kegiatan trsbut sudah saya jalankan,hasilnya sih anak saya sudah agak longgar ketika batuk,tetapi setelah selang beberapa hari anak saya panas kemudian saya bawa ke bidan terdekat tetapi bidan trsbt mendifonis anak saya terkena bronkhitis/flek,anjurannya anak saya harus terapi minum obat selama 6 bulan,saya bingung dok harus menjalankan yang mana sampai saat ini saya masih menjalankan terapi uap dirumah,dan saya tidak berani menjalankan terapi minum obat salama enam bulan karena saya khawatir anak saya hanya batuk biasa bukan flek.

  356. 357 cakmoki November 12, 2010 pukul 5:36 pm

    @ Ika Rismawati:
    Benar kata dokter bahwa batuk pada anak bukanlah tanda TBC paru Flek paru).. pada umumnya ISPA dengan berbagai sebab.
    Apa yang dikatakan bidan tersebut tidak benar… lagipula, bidan tidak diajarkan ilmu penyakit sehingga tidak mengerti seluk beluk penyakit.
    Penyakit batuk berdahak dan lama, kerap dijumapi di Indonesia, di sini juga banyak… rata-2 belasan yg datang ke praktek per hari dengan keluhan semacam itu.
    Obat yang lazim dipake:
    1. Bronkodilator, yakni obat untuk melonggarkan nafas atau sesak, supaya nafas menjadi lega dan longar.

    2. Ekspektoran, yakni obat untuk mengencerkan dahak supaya mudah dikeluarkan.. pada anak, dahak biasanya ditelan karena belum bisa mengeluarkan dahak secara spontan hingga usia 6 tahun..kadang setelah itu dimuntahkan

    3. jika ada tanda infeksi kuman (melalui pemeriksaan dokter), barulah diberikan antibiotika yg dosisnya disesuaikan dengan berat badan.

    4. Adakalanya diperlukan antinflamasi steroid pada batuk yang diduga berhubungan dengan fajtor alergi, misalnya: cuaca, debu, dingin, asap, dll

    kalo hanya uap aja, sama fungsinya dengan ekspektoran, yakni mencairkan dahak.

    Makasih

  357. 358 steve November 16, 2010 pukul 11:29 am

    hallo salam kenal cak
    Saya pernah mengalami masalah dengan paru2 pada bulan september 2009 dengan gejala meriang di mlm hari,leher terasa sakit,batuk berdahak(sesekali ada darah) kemudian saya berobat ke internist dan pada waktu itu beliau mengatakan bahwa itu radang paru2 (berdasar rontgen) namun beliau memberikan saya resep berbagai macam obat tbc (rifampicin) dan 1 obat cair yg dikatakan untuk batuk dan setelah beberapa hari gejala2 diatas sudah hilang namun beliau meminta untuk rontgen kedua dan hasilnya menunjukkan ada kemajuan di paru2 saya..Setelah itu si dokter bilang,nampaknya tidak harus berobat sampai 6 bulan jadi obatnya bisa di stop namun saya diminta untuk datang kembali seminggu setelah itu dan kemudian saya balik lagi kesana dan ternyata dokternya beda dan dokter tsb bilang kalau obatnya harus diminum hingga 6 bulan..Namun dengan mempertimbangkan biaya saya memutuskan untuk berhenti setelah 3 bulan tersebut..
    Dan sampai selama ini saya tidak pernah batuk2,meriang atau sakit leher seperti sebelumnya dan berat badan waktu setaun yg lalu (pd saat sakit) dan sekarang tetap tidak ada penurunan namun ada sedikit kenaikkan..Dan sebagai tambahan saya adalah perokok aktif yg kurang lebih sudah merokok dr tahun 2004 dan baru beberapa hari ini saya memutuskan untuk berhenti
    Pertanyaannya :
    1. Apakah pada saat tersebut saya tbc/flek paru2 ? Jika Ya,mengapa saya diberikan resep obat TBC ? apa obat untuk radang dan tbc ada sedikit kesamaan?
    2. Apakah tanda2 pada hasil rontgen tbc dengan radang(pneumonia) itu kurang lebih sama?

  358. 359 steve November 16, 2010 pukul 11:52 am

    Dikarenakan kasusnya terlalu panjang jadi saya bagi dengan 2 bagian hehehe
    Dan pada hari Jumat yang lalu saya melakukan medical check up untuk study ke Australia dan dari hasil rontgen tersebut didapati bahwa paru2 saya ada kelainan dan saya memberitahu sesuai dengan cerita sebelumnya di atas namun nampaknya si dokter tetap menyimpulkan bahwa itu bukan bekas radang melainkan tbc (si dokter belum tahu saya perokok)

    Pertanyaaannya:
    1.Jika saya menderita TBC pada waktu itu,apa mungkin setelah 3 bulan pengobatan yg saya alami kumannya belum mati semua dan sekarang ini masih dalam keadaan tidur (dormant)? Jika Ya mengapa saya tidak pernah mengalami keluhan sama sekali di bagian pernapasan khusunya paru2?
    2.Apabila ini bukan tbc melainkan bekas radang atau karena merokok(yg saya sangat yakin karena ini hehehe),bagaimana cara mengurangi bekasnya atau mungkin menghilangkannya dalam 1 bulan karena saya ingin tes medical ulang bulan depan?
    3.Atau mungkin apakah ada cara untuk menyamarkan bekas2 itu pada hasil rontgen ?(mungkin ini illegal question hehehe tapi saya perlu mengetahuinya karena study ini sangat berarti sekali bagi masa depan saya)
    3.Langkah2 apa saja yg sebaiknya saya ambil untuk mengetasi semua hal tersebut?

    Thank You Very Much before ^_^
    NB : maaf cak mungkin ada pertanyaan yg di luar hal medis

  359. 360 steve November 16, 2010 pukul 12:16 pm

    oh ia just my two cents :
    Menurut saya cara diagnosis seseorang TB atau tidak masih rancu di Indonesia..
    Bukannya memberikan obat TB pada pasien yang bukan TB yang minimal 6 bulan (dan begitu juga sebaliknya) itu merupakan suatu tindakan yang merugikan pasien dari segi kesehatan (krn obatnya cukup keras) dan ekonomi (jika pasien tersebut mendapatkan obat di luar puskesmas atau lembaga kesehatan yg telah disubsidi WHO)
    Saya pernah membaca keputusan Menteri Kesehatan mengenai TBC dan saya rasa hal2 yg dimuat disana sudah cukup lengkap..Oleh karena itu,dengan segala hormat, kepada dokter2 jika menemui pasien dengan gejala TBC jangan langsung di vonis TBC sebelum menjalani sputum test,rontgen dada,uji LED (Laju Endap Darah) dan mungkin jika pasien bisa menunggu 2-3 bulan lamanya dapat melakukan uji kultur atau biakkan
    mengingat tbc merupakan penyakit pembunuh no 1 di Indonesia,seharusnya mengapa perlu istilah penyamaran seperti flek paru atau paru2 basah ? Jika supaya menghindari pasien agar tidak dikucilkan,menurut saya itu adalah hal konyol karena yg namanya terkena penyakit harusnya dibantu bukan dikucilkan dan hal ini perlu dimengerti olah masyarakat
    Dan menurut saya TBC merupakan penyakit yang tidak berbahaya jika ditangani dengan benar berdasarkan standar WHO namun akan menjadi berbahaya jika yg namanya salah diagnosis dan jujur saja berdasarkan dari pengalaman sendiri dan bbrp kesaksian mungkin mengalami hal ini

    Awalnya saya tidak tahu apa2 mengenai tbc,namun setelah 2 hari belakangan setelah si panel dokter menyatakan saya TBC hanya berdasarkan beberapa pertanyaan yg beliau tanyakan dan rontgen dada,saya mulai menggali2 informasi mengenai ini..
    Maaf jika terkesan agak keras,namun saya harap bisa membantu semuanya yg membaca blog ini..

  360. 361 cakmoki November 16, 2010 pukul 11:23 pm

    @ steve:
    Halo…salam kenal…

    Sesi pertama:

    1) Maaf, saya tidak tahu mengapa dokter mengatakan radang namun diberikan regimen TBC.
    Menilik bahwa dokter meminta untuk kembali, kemungkinan hasil rontgen meragukan, antara radang atau TBC.. hal ini emang bisa terjadi. Itu sebabnya diberikan rifampicin, dll… untuk menilai respon pengobatan. Ingin hanya mungkin lho.. soalnya, kalo saya lebih suka terbuka, TBC atau bukan.
    kalo bukan TBC gak perlu obat TBC… jika TBC diobati dengan Obat TBC sesuai prosedur berdasarkan pemeriksaan sputum (Dahak-BTA).

    2) Tanda TBC dan Pnemoni pada rontgen berbeda. Namun, pada TBC yang minimal, hasilnya bisa mirip… demikian pula pada bronkitis kronis yang dipicu oleh asap (dalam hal ini asap rokok), hasil rontgen kadang menunjukkan adanya gambaran kabut pada bagian apex (bagian atas) paru. Dan ini memberikan gambaran yg mirip dengan TBC type minimal.

    Sebenarnya, untuk memastikan TBC atau mukan adalah hal yg mudah dan murah, yakni dengan pemeriksaan Dahak BTA sebanyak 3 kali (sewaktu-pagi-sewaktu).
    Jika salah satu hasil BTA-Dahak positif, berarti dipastikan TBC. Sebaliknya jika negatif, berarti bukan TBC.
    Maaf, kalimt ini sengaja saya ulang agar diperhatikan oleh pembaca yg lain, dan juga sejawat.

    Sejujurnya saya meragukan diagnosa TBC tersebut hanya dengan Rontgen… yang paling tepat, sesuai prosedur, adalah dengan Dahak-BTA (sputum)

    Sesi Kedua:

    1) Jika benar TBC, pengobatan harus 6 bulan menggunakan regimen TBC yang telah ditetapkan secara Internasional, yakni: Rifampicin, Pyrazinamide, INH-B6, Ethambutol.
    Jika ternyata TBC dan diobati hanya 3 bulan, kemungkinan bkuman belum mati semua…. itu sebabnya tidak munculkeluhan karena sebagian kuman udah mati dan sebgian belum.

    2) Jika hanya sequelae (bekas bronkitis ataupun bekas radang), gak bisa hilang jika terbentuk jaringan parut.. namun bisa hilang kalo belum terbentuk jaringan parut.
    Tidak ada cara khusus untuk menghilangkan bekas tersebut.

    3) Gak ada cara khusus untuk meminimalkan bekasnya… menurut saya, bekas rdang, atau bahkan bekas TBC, tidak menghalangi sesorang untuk belajar maupun bekerja.

    Sesi Ketiga..
    Menurut saya cara diagnosis seseorang TB atau tidak masih rancu di Indonesia..
    Menurut saya, tidak rancu… prosedur diagnosa TBC di Indonesia sudah baku.
    Indonesia, sebagaimana negara lain, mengikuti prosedur pemeriksaan dan diagnosa serta pengobatan TBC seperti negara lain.
    Untuk memastikan diagnosa TBC adalah dengan pemeriksaan Dahak-BTA..gak bisa ditawar-tawar :D
    Kalo di Puskesmas dan RSUD, pemeriksan Dahak-BTA dan Obat TB semuanya gratis. Ini berlaku di seluruh Puskesmas dan RSUD di Indonesia karena merupakan program Nasional.
    Tidak peduli pasien kaya raya ataupun tidak mampu, semua pengobatan TBC di Puskesmas dan RSUD adalah gratis.

    Saya sependapat, TBC paru tidak perlu disamarkan dengan istilah Flek Paru (udah saya tulis artikelnya di blog ini).. karena tidak mendidik.. lagipula, TBC bisa disembuhkan dengan pengobatan teratur selama 6 bulan…. dan gratis tentunya .. obatnya tersedia di Puskesams ddan RSUD.

    Makasih :)

  361. 362 san November 29, 2010 pukul 1:38 pm

    Halo Cak, mau nanya lg nich…
    1. Sejak minum obat tbc saya jd sering ngerasa kembung ama mual, terus saya minum obat polysilene, mendingan sih cuma bbrp kmd muncul lg. Apa ga bahaya sering minum polysilene?

    2. Ada efek samping ke liver ga pengobatan tbc ini?

    3. Kl dahak di pagi hari msh berwarna kuning kental gitu biar cm sedikit, apa berarti kuman tbc msh banyak (pengobatan dah 3 bln)?

    4. Kt dkt stlh minum obat 1 bln aman utk berhub. suami istri. Apa betul dok?

    5. Sesudah saya divonis tbc lg, suami dan anak saya yang umur 9 thn di rontgen, hslnya ga kena tbc. Tp anak saya yg umur 2 thn blm dirontgen. Apa perlu Cak, kl mnrt dktnya sih ga usah?

    Salam………

  362. 363 cakmoki November 29, 2010 pukul 2:27 pm

    @ san:
    1) Polysilane gak bahaya walaupun digunakan dalam jangka panjang..isinya hanya antasida… yang penting minum dalam jumlah cukup.

    2) Enggak

    3) Berarti masih ada kuman walaupun gak banyak. Moga setelah 6 bulan udah gak ada dahak kuning lagi.

    4) Betul… idealnya 2 bulan. Namun secara klinis boleh setelah 1 bulan.

    5) Gak perlu.

    Makasih :)

  363. 364 steve November 30, 2010 pukul 5:47 am

    Cak balik lagi nih

    Kemarin saya cek hasil rontgen sbb:
    Cor : tidak tampak kelainan
    Pulmo : Tampak gambaran infiltrat apex kanan
    Diafragma dan Sinus baik
    Kesimpulan : KP dextra aktif (minimal lesion)

    kemudian saya konsultasi ke Spesialis paru2 dan beliau mengatakan bahwa tidak begitu terlihat lesi2 tersebut dan tidak yakin bahwa itu TB namun beliau menyarankan untuk tes dahak dan hasil dari tes dahak (3x) tersebut adalah negatif

    Pertanyaan saya :
    1.Apakah dari hasil rontgen saja seperti di atas TANPA melihat hasil tes dahak bisa dikatakan TB aktif atau inaktif?
    2.Berdasarkan keterangan rontgen DAN tes dahak itu,apakah bisa dikatakan TB aktif?
    trims cak sebelumnya
    3.

  364. 365 san November 30, 2010 pukul 3:29 pm

    Makasih Cak atas jawabannya…Tapi ada bbrp pertanyaan lagi nich..Moga jangan bosen yah ngejawabnya….he he he

    1. Obat tbc yg gratis dr pemerintah itu skrg model 1 mcm ga seperti yg saya mkn skrg Rimstar 1 mcm tp mengandung 4 komponen obat?

    2. Apa kuman yang ‘tidur’ menimbulkan gejala yg sama seperti kuman yg aktif? Bisa terdeteksi ga di hsl rontgen atau dahak?

    3. Kl sdh dinyatakan sembuh o/ dkt, apa perlu pemeriksaan rutin u/ antisipasi terkena lg?

    4. Cairan yg ada di paru2 itu cara penyedotannya lewat dada/punggung?

    5. Apa paru2 yg berisi cairan itu selalu terkena tbc?

    6. Saya punya sodara yg pernah terkena sakit paru2 sekitar thn 70-an, kt dia dl sih diobatin dgn cara disuntik tiap hari slm berbln2. Jaman skrg pengobatan dgn suntik dah ga dipake?

    7. Apa semua rs itu punya aturan yg sama kl pasien penderita tbc hrs dipisahkan dr penyakit lain? Saya wkt diopname dibilangin gitu jd terpaksa ambil kls 1 yg tidur sendiri jd biayanya mahal.

    Maaf kebanyakan nih pertanyaannya soalnya mumpung kepikir ada yg mau ditanyain kl ke dkt sendiri mah blm tentu mau ngejwab dianya….. Untung ada Cakmoki nih….

    Makasih pisan……….

  365. 366 cakmoki Desember 1, 2010 pukul 2:51 am

    @ steve:
    Rontgen adalah pemeriksaan penunjang diagnostik, bukan satu-satunya alat diagnosa. Lagipula, yang menentukan adalah dokter yang meminta rontgen, sedangkan diskripsi radiolog untuk bahan pertimbangan.

    1. Tidak bisa hanya dari rontgen, terlebih lesi minimal yang meragukan, kecuali TBC yang nyata-nyata ada lesi.
    Diagnosa pasti untuk TBC adalah pemeriksaan BTA Sputum.

    2. Berdasarkan pendapat ahli paru yang meragukan hasil rontgen dan hasil Sputum BTA, bukan TBC.
    Program Pemberantasan TBC dari WHO jelas-jelas menyatakan bahwa diagnosa pasti TBC adalah pemeriksaan Sputum BTA. Kalo negatif berarti bukan TBC
    Makasih

    @ san:
    1. Iya, benar… kemasannya dijadikan 1 paket yang terdiri dari 4 regimen. Itu sudah program dari WHO untuk seluruh dunia.

    2. Kuman bisa terdeteksi dengan pemeriksaan dahak, kecuali yang sangat minimal.
    Bisa juga terdeteksi dengan pemeriksaan rontgen jika menimbulkan infiltrat pada paru bagian atas (apex)

    3. Tidak perlu.

    4. Iya, lewat dada atau punggung.

    5. Pleural efusi (cairan pleura paru) bukan di paru, tapi di selaput pleura, yakni selaput yang membatasi paru dengan dinding rongga dada.
    Pleura efusi dapat disebabklan oleh banyak faktor, bukan hanya TBC.

    6. Pengoabatan TBC paru ada beberapa jenis, salah satunya paket dengan suntikan dan obat. Sekarang masih digunakan. Pilihan jenis pengobatan ditentukan oleh dokter berdasarkan hasil pemeriksaan. Setiap penderita TBC tidak selalu sama cara pengobatannya. Semuanya sudah ada standarisasi secara international untuk masing-2 metode pengobatan TBC yang harus dipatuhi oleh semua dokter.Karena itulah pengalaman pengoabatan TBC setiap pasien gak sama. Dan pasien tidak sepenuhnya diberitahu secara detail oleh dokter tentang metode pengobatan dan alasannya karena sangat bersifat teknis medis.

    7. Iya. Khusus untuk pasien TBC rawat inap, harus dipisahkan. Ini aturan standar yang telah ditetapkan oleh WHO.

    Moga bermanfaat.
    Makasih

  366. 367 san Desember 1, 2010 pukul 11:54 am

    Makasih atas jawabannya yah…Tp ada perty lagi nih…
    1. Kl dosis setelah 3 bln apa berkurang ga pemberian obatnya? Misalnya jd cuma 2 tablet sehari.

    2. Peralatan makan perlu dipisahkan ga? Kt dkt sih ga usah soalnya pake sabun aja dah mati kumannya. Apa betul?

    Sebelumnya makasih lagi yah……….

  367. 368 cakmoki Desember 2, 2010 pukul 12:06 am

    @ san:
    1) Ada paket yang dosisnya pake dosis maintenance (dikurangi), ada juga yang enggak, hanya frekuensinya dikurangi menjadi 3 kali seminggu… bergantung pada pilihan dokter berdasarkan hasil pemeriksaan dan analisa beliau.

    2) Gak perlu dipisah, soalnya udah dicuci dan kuman mati dengan sabun.
    Makasih

  368. 369 san Desember 2, 2010 pukul 2:13 pm

    makasih banyak yah Cak…Salam sehat dan sejahtera buat Cak sekeluarga….

  369. 370 san Desember 11, 2010 pukul 4:01 pm

    halo cak…

    ada yg mau ditanyain lg nih cak..
    Tiap bangun tidur pagi saya masih suka batuk2 dan mengeluarkan dahak berwarna kuning. Menjelang siang sampai malam batuk jarang2 dan kadang2 berdahak sedikit. Batuk yg dirasakan akibat ada rasa gatal atau cuma ada rasa penuh di saluran tenggorokan krn ada dahak. Yg mau ditanyain, saya suka minum obh combi batuk berdahak kl batuknya dirasa terlalu sering (minum cuma 2x aja). Kl dah minum obh, batuk jd jarang muncul. Apa obh efeknya menekan batuk(menghentikan batuk) atau mengencerkan dahak? Kl ga minum obh pun dahak gampang sih keluarnya.
    Kalo rifampicin bisa membuat dahak berwarna merah muda ga?
    Kenapa yah dah 3 bln berobat tp dahak msh berwarna kuning? Apa berarti msh ada infeksi atau radang di paru2?
    Ditunggu jawabannya yah …….makasih.

  370. 371 avi Desember 12, 2010 pukul 3:11 pm

    saya senang dapt blog dokter ini,,
    bulan juni kmrn saya batuk darah, keluar darah dari hidung saya jg,
    setelah photo,, dokter specialis paru di kota saya mengatakan saya terkena tb paru dan harus mengikuti pengobatan selama 6 bulan. lalu saya di beri tante saya obat yang dari puskesmas. say tidak pernah putus minum obat. tanggal 24 novemnber kmrn saya selesai minum obatnya, saya periksa ke dokter dan di suruh photo lagi. hasil di paru kanan saya masih ada flek dengan lesi minimal,ukuran jantung normal.kata dokter itu gak ada masalah lagi, tapi saya masih di beri obat untuk 2 minggu trdiri dari, inh, rimaphisin dan entambhutol. yang saya mau tanyakan: apakah saya sudah benar2 sembuh setelah saya minum obat untuk 2 minggu itu dok?,, saya masih sering sesak nafas klo jalan, dan naik tangga, nyeri di dada kiri, punggung saya juga suka sakit. kaki saya yang sebelah kanan juga bengkak dok. perlu dokter tau bulan oktober kmrn saya masuk rumah sakit karena perut saya suka sakit, setelah cek darah fungsi hati saya mengalmi kenaikan(spgot 45). saya bingung apa penyakit saya ini makin bertambah lagi atau hanya pengaruh obat tb itu aja,, mohon di balas ya dokk, saya takut sekali jangan2 saya jdi sakit jantung,, makasih ya dok

  371. 372 cakmoki Desember 12, 2010 pukul 4:32 pm

    @ san:
    Halo..
    OBH untuk mencairkan dahak, kecuali kalo ada kombinasi DMP (dekstromethorphan) dimana fungsinya menekan batuk.
    Rifampicin menyebabkan warna merah pada cairan tubuh, misalnya: urine, ludah, dll. Itu karena zat warna yg dikandung rifampicin.

    Adapun keluarnya dahak berwarna kuning pada pagi hari dikarenakan dahak terkumpul saat tidur dimana posisi tubuh terlentang.
    Untuk memastikan masih ada infeksi atau enggak, dapat dilakukan pemeriksaan dahak BTA untuk follow up hasil pengobatan.
    Makasih

    @ avi:
    Sesak dan mudah lelah, bisa jadi karena sequllae (gejala sisa) dari TB paru.. terlebih jika masih ada lesi minimal.
    Untuk memastikan masih ada tidaknya kuman TBC setelah minum obat 6 bulan dan ditambah 2 minggu, sebaiknya periksa dahak BTA 3 kali.
    Kalo pada rontgen dinyatakan bahwa jantung normal, kemungkinan emang gak ada kelainan jantung (ditinjau dari ukuran).
    Namun, kalo masih khawatir, gak ada salahnya periksa ke dokter jantung supaya gak kepikiran.
    Moga segera pulih kembali.
    Makasih

  372. 373 san Desember 13, 2010 pukul 9:01 pm

    Makasih atas jawabannya…

    Wkt sept lalu kan dah diperiksa BTA 3x hsl negatif, berarti kemungkinan bsr skrgpun negatif juga. Kl hsl negatif berarti tdk ada infeksi/radang? Mungkin ga batuk darah yg terjd pd saya di bln sept lalu itu akibat gejala sisa bukan krn infeksi paru?

    oh ya Cak, saya juga ada keluhan sakit di lengan kanan atas dah 2 bln gitu. Saya lupa gara2 apa bisa sakit mungkin salah posisi tidur entah apa. Kalau tgn diangkat ke atas mengarah ke blk suka sakit ngilu gitu. Dah pake koyo ama counterpain tp ga sembuh. Mohon anjurannya Cak pake obat apa yah…
    Makasih….

  373. 374 cakmoki Desember 13, 2010 pukul 11:40 pm

    @ san:
    ok, kalo gitu gak perlu periksa dahak. Mungkin batuk darahnya yg dulu karena gejala sisa.
    Untuk nyeri lengan, dapat menggunakan Meloxicam 7,5 mg atau 15 mg (merk dagang bebas memilih, kalo bisa yg generik), diminum 1×1 sesudah makan. Atau natrium diklofenak 50 mg (merk dagang misalnya: voltaren, klotaren, divoltar, dll), diminum 3×1 sesudah makan hingga sakitnya hilang.
    Moga segera sembuh.
    Makasih

  374. 375 san Desember 14, 2010 pukul 9:16 am

    oh gitu yah ..
    ok dech saya mau beli dulu obatnya … makasih banyak Cak…

  375. 376 cakmoki Desember 14, 2010 pukul 1:41 pm

    @ san:
    sama-sama :)

  376. 377 san Desember 20, 2010 pukul 5:06 pm

    Cak, skrg obat paru saya dikurangi ama dkt jd sehari 1 tablet yg isinya rifampicin & INH aja.
    Yg saya mau tanyain, kl rifampicin itu u/ matiin kumannya bukan? Kl INH u/ apa?
    Makasih yah..

  377. 378 cakmoki Desember 20, 2010 pukul 6:58 pm

    @ san:
    INH untuk menghambat pertumbuhan kuman (bakeriostatik) supaya gak berkembang.
    Makasih

  378. 379 san Desember 21, 2010 pukul 10:05 am

    oh gitu yah..
    makasih Cak….

  379. 380 cakmoki Desember 21, 2010 pukul 3:21 pm

    @ san:
    Sama-sama … makasih juga :)

  380. 381 Reni Yuniati Desember 30, 2010 pukul 10:46 am

    mau ikut nimbrung dok

    aku termasuk orang tua yg anti obat, kalo batuk pilek aja diusahakan pake madu & asupan makanan yg berkualitas, cuman kalo udah demam saya nyerah :( , dok kemarin anak saya (1Thn 7bln) rongen paru hasilnya : -tak tampak pelebaran Mediastinum Superior-Kedua sinus Costophrenicus dan diafragma normal-Cor tak membesar,batas kanan kiri jelas, apex dikiri Hillus kiri tampak menebal-Pulmo tampak bercak2 Infilltrat pd perihiller & parracardal-Tulang Dada baik , Kesan Suggestive Proses spesifik , pada saat dirongen kondisi anak saya sedang batuk pilek & demam , minta info & sarannya dok mengenai hasil rongen anak sy ini & apakah efektif rongen disaat anak sedang sakit ?

  381. 382 cakmoki Desember 30, 2010 pukul 12:49 pm

    @ Reni Yuniati:
    Hampir semua anak yg sedang batuk kalo dilakukan rontgen hasilnya gak akan jauh dari itu…spesifik artinya mengarah ke TBC. Namun perlu diingat bahwa diskripsi tersebut hanya kesan dan berdasarkan pandangan radiologi :D
    Kalo minta pendapat saya, tentu sy tidak bisa begitu saja mempercayai hasil rontgen hanya gara-2 anak batuk.
    Makasih

  382. 383 Reni Yuniati Desember 30, 2010 pukul 1:24 pm

    terimakasih atas infonya kalo boleh saya minta saran lagi dok buat pegangan saya pada saat kontrol ulang ke Dsa nanti, anak saya nafsu makannya bagus tapi bulan ini flu & batuk sampai 2 kali kena & yg mengkhawatirkan Flu yg sekarang ini disertai demam naik turun selama 5hr (chek darah Typusss atau Dbd negative)apa perlu melakukan rongen ulang setelah anak Flu & batuknya hilang, menurut Dr dng kondisi spt ini Dsa bakal menyarankan apa lg & kira2 pertanyaan apa yg harus saya persiapkan, ada efek negatifnya nga dok kalo anak di rongen & tes mantuk ?

  383. 384 cakmoki Desember 30, 2010 pukul 4:30 pm

    @ Reni Yuniati:
    Dua bulan terakhir ini emang lagi musim batuk berat, kadang hingga 1-2 minggu… bukan hanya di Indonesia, tapi juga di kawasan asia tenggara. Pada musim begini, biasanya pada balita bisa mengalami epsisode panas batuk pilek hingga lebih sekali dalam sebulan.

    Panas batuk pilek adalah ISPA dengan berbagai gradasi, bisa juga pnemonia, bronkopnemonia… gak perlu rontgen dan gak perlu bolak-balik periksa Lab… soale, penyebabnya udah jelas dan obatnya juga udah jelas… hanya diperlukan pemeriksaan fisik , dilihat rongga mulut or tenggorokan, kemudian mendengarkan pernapasan dengan stetoskop.. hanya dengan begini udah bisa diketahui penyakitnya dan diputuskan obat-obatnya :D
    Namun, bergantung kepada hobi masing-masing dokter, apakah hobi dikit-2 periksa lab dan rontgen atau enggak. Kalo dapat dokter yg hobi begitu, siap-siap isi dompet maburrr… dan kalo ortu juga hobi periksa lab dan suka panik, maka klop :D
    Maaf, saya tulis fakta semacam ini untuk pembelajaran bagi kita semua.
    Makasih

  384. 385 Reni Yuniati Desember 31, 2010 pukul 2:49 pm

    Terimakasih banyak dok atas penjelasannya yg sudah bikin saya sedikit lebih tenang, mudah2an anak sy bisa segera pulih & hal2 yg dikhawatirkan tdk terjadi :)

  385. 386 cakmoki Desember 31, 2010 pukul 3:33 pm

    @ Reni Yuniati:
    Sama-sama…makasih telah berbagi :)
    Moga sehat selalu

  386. 387 kris Januari 12, 2011 pukul 12:46 am

    ahaha.. betul sekali cak,
    nampaknya memang ada “flek-o-phobia” yang kental sekali di masyarakat kita.
    di satu sisi, itu bagus, untuk awareness, tapi terkadang pihak pelayanan kesehatan (ngga cuma dokter kok), terkadang kurang bijak memilah, dan ujung2nya tetap kena pengobatan rutin selama 6 bulan.
    sebenarnya ada tahapan yang panjang sebelum bisa menetapkan seseorang apakah menderita TB atau tidak, dan boleh diakui, tahapan itu memang boros (uang & waktu) serta agak berbelit-belit bagi orang awam.
    Karena apa? Karena hasil lab, rontgen, bta, itu bermanfaat bagi tenaga medis, bukan pada pasien (secara langsung), pasien boleh jadi memandang itu hanya suatu pemborosan. Bagi pasien, yang terpenting adalah hal riil, dan hal riil di sini adalah obat.
    Jadi mungkin saja, adanya fenomena “tembakan 6 bulan” itu tidak lain karena permintaan pasar juga, yang senangnya main potong kompas. hehe..
    Saya mungkin termasuk dokter yang pelit obat, cak, saya pantang mengeluarkan Antibiotik, sebelum saya teryakinkan kalau itu memang benar-benar dibutuhkan.
    pelan-pelan kami di Puskesmas belajar mengembalikan Antibiotika ke tempat yang seharusnya.
    Mungkin apa yang kami lakukan bukanlah hal besar, tapi ya.., kalau tidak dimulai, kapan kita mau berubah? :D

  387. 388 cakmoki Januari 12, 2011 pukul 3:28 am

    @ kris:
    Setuju :D
    Met berjuang !!!

  388. 389 dini Januari 26, 2011 pukul 8:22 pm

    jadi penasaran mau nanya niy..kalo hasil rontgen anaku keira (14bulan) seperti ini artinya apa ya..?
    Thorax PA (digital)
    Cor.sinuses & diaphragma :normal
    Pulmo : Hili Kabur, corakan paru bertambah, tampak bercak lunak di perhilier terutama kanan.
    Kesan :Suspect spesifik proses
    thx before..

  389. 390 cakmoki Januari 27, 2011 pukul 12:45 am

    @ dini:
    Suspect spesifik proses artinya: dugaan TBC … tapi hasil rontgen gak selalu benar soalnya hanya melihat foto..sementara padaanak yang sedang batuk kalo dirontgen hasilnya akan seperti itu walaupun misalnya hanya batuk alergi.
    makasih

  390. 391 astuti Februari 17, 2011 pukul 12:30 pm

    saya mau nanya hsil rotjen anak saya negini tmpk bercak di perihiler corakan bron kovaskuler bertambah apa maksudnya. dan untk mengetahui penyakit flek pada anak tes apa saja ya donk? mksh rotjgen dilakukan pada saat anak saya btuk pilek. dan gelaja yg nyata klo anak terserang flek

  391. 392 cakmoki Februari 17, 2011 pukul 1:06 pm

    @ astuti:
    Maksudnya ada gambaran peningkatan pembuluh darah kapiler (bronchovascular pattern)… gambaran ini jamak terjadi kalo anak dirontgen dalam keadaan sedang batuk pilek… gak mesti Flek (TBC) Paru… selengkapnya tentang pemeriksaan untuk Flek (TBC) Paru pada anak silahkan baca pada diskusi-2 sebelumnya.
    Makasih

  392. 393 bunda kei2 Februari 19, 2011 pukul 12:34 am

    Salam kenal cak dokter…..
    Ternyata cape juga baca kasus dan komentarnya 11 berharap ada kasus yg sama dan tambahan informasi untuk kasus yang berbeda tapi ga tahan juga untuk tanya langsung ke pertanyaan yang meresahkan hati……

    Anak saya perempuan usianya 14 bulan, ada benjolan di samping telinga kanan dan kiri masing2 1 benjolan……

    badannya mudah sekali berkeringat apalagi pd saat tidur bibagian kepala khususnya tetapi ayahnya memang keringatnya berlebih…dan saat tdr tidak ada kelainan hanya ketika sakit batuk pilek suka mengorok, tp klo sehat tdk….namun kadang2 jika di sdang tertidur dan terbangun tiba2 sering glagapan kata orang jawa mah…..takutnya sesak nafas…..

    BB sulit sekali naik, walopun naik tdk signifikan usia 14 bulan BB 8,8 kg dengan berat lahir 2,65 kg, kata DSA jika pd usia 1 tahun berat anak normal adalah min, 3 X BB lahirnya jd 7,95 kg berarti berat badan ade termasuk normal. makannya pun doyan apa ja mau dimakan, anaknya lincah, jarang sakit juga, batuk pilek pernah di kasih alco sembuh berapa minggu mulai lg trs dikasih lagi obat nipe sembuh dan langsung tdk sakit lagi.

    dari gejala yg terjadi timbul kekhawatiran, dari usia 8 bulan memang sdh ada benjolan, sdh dikonsultasikan DSA dugaannya bukan TB hanya kelenjar saja. hingga usia 14 sekarang ini ternyata benjolannya masih ada dan membaca gejalanya ditakutkan ada sesuatu diparu2nya entah apa itu…..

    akhirnya dgn rujukan DSA ade di rontgen…..
    hasil rontgen:
    Cor, sinuses & diaphragma normal.
    pulmo Hili tertutup bayangan jantung, corakan paru bertambah, perihiller kanan berbecak lunak.
    kesan suspect bronchopneumia, DD/spesifik proses

    hasil sdh dikonsuktasikan ke DSA dan DSA pun tdk yakin dengan gejala yang timbul dan hasil rontgen, kemudian DSA merujul lg untuk mlakukan tes mantoux……hasilnya belum dikonsultasikan dengan dokter karena baru besok sore….tp sdh membuat bunda ga bs tdr…saking penasarannya….jika dilihat dari benjolannya mah kecil cuma ada kemerahan seperti digigir serangga sekitar 1cm. tp benjolannya hanya ditengah saja,,,,saya tdk berani merabanya…….

    Tapi aanak saya itu tenaganya sangat kuat , sampai pada saat rontgen dan tes mantoux perawatnya kewalahan dan bilang anaknya but banget….aku julukin juga samsonwati…hehehehe….

    yang ingin saya tanyakan buanyak….
    Dari hasil rontgen apa maksudnya??karena DSA kei2 tdk banyak menjelaskan hanya menyarankan tes mantoux untuk memastikan kekhawatiran dan kecurigaan.

    kei2 juga diberikan imunisasi IPD apakah tdk melindunginya dari penyakit paru dan saluran pernafasan????

    bronchopneumia itu penyakit apa???bronkhitis kah????
    penyebabnya apa ya???kemungkinan tertularnya dr apa???cara pencgahannya dan penyembuhannya spt apa????

    apakah ayah dan bundanya juga perlu di rontgen juga???karena ibunya juga aktif kemana2 dgn “bebek besinya” dan kadang tanpa perlindungan jaket tebal hanya jaket cardigan tipis, lalu ayahnya juga sering keringat, keringat berlebih…..barang kali tertular dari orang tuanya, pdhl ayahnya tdk merokok tetapi kakeknya perokok berat walopun tidak tinggal serumah dan sekota tapi jika sedang bersama kei2 tp disekitar kei2….trs krn rumahnya “mewah” alias mepet sawah apakah pengaruh dr sering kena angin????atau krn kondisi udara yg dingin dan lingkuangan yg lembab memiliki pengaruh pd kesehatan paru2nya????lalu makanan yang sehat untuk kei2 itu makanan seperti apa, soalnya sdh 14 bulan dan mulai ingin makan segala, jd doyan bgt ngemil…

    maaf jika curhatnya kepanjangan ya…..
    tp klo ga cerita panjang ga pus sih….maklum anak pertama juga jauh dr orang tua, karena kurangnya pengalaman jd khawatir akan hal2 tertentu yg tdk biasa pd anak apalagi sempat keguguran di pertama kehamilan……

    Matur nuwun sanget…..

  393. 394 cakmoki Februari 19, 2011 pukul 11:14 am

    @ bunda kei2:
    Salam kenal,
    Dear Ibundanya Samsonwati, :D
    Saya akan berusaha menjawab sesingkat mungkin, sejelas mungkin, sesuai kemampuan driji saya nutuli keyboard.

    Pembesaran kelenjar leher atau di belakang telinga dan sekitarnya, kerap dialami oleh anak yang sering batuk pilek.
    Jalan ceritanya (bhs kerennya patofisiologi) sebagai berikut: ketika anak mengalami infeksi di rongga mulut dan saluran nafas bagian atas oleh mikro-organisme (virus, kuman, dll), maka secara otomatis tubuh si anak bereaksi meningkatkan produksi limfosit untuk memberantas mikro-organisme tersebut. Pabrik terbanyak untuk memproduksi limfosit jika ada infeksi di rongga mulut dan sal. nafas bagian atas adalah kelenjar-2 getah bening yg ada di tenggorokan, di sepanjang leher, mulai leher bawah hingga belakang telinga dan pangkal kepala bagian bawah, searah dengan otot-otot leher.
    Itu sebabnya kalo anak batuk pilek, radang tenggorokan, maka akan nampak pembesaran kelenjar di tenggorokan saat diperiksa dengan lampu senter.
    Jika produksi limfosit oleh kelenjar di tenggorokan belum cukup, maka kelenjar di leher ikutan membantu meningkatkan produksi limfisit, sehingga terjadi pembesaran kelenjar di sepanjang kelenjar leher, mulai bawah hingga atas.
    Karenanya, pada anak yang sering batuk pilek or sering radang tenggorokan, adakalanya dijumpai benjolan kelenjar di leher… bisa satu, dua, tiga, empat, dst. Bahasa kerennya *halah*, disebut: limfadenitis… gak usah cari di google tentang limfadenitis, soalnya ntar malah kletemu tulisan yg bikin stress :D
    Benjolan tersebut pada umumnya akan berangsur mengecil seiring dengan bertambahnya usia dan semakin jarangnya anak batuk pilek.
    Limfadenitis hanya perlu obat jika sedang mengalami infeksi aktif, yang ditandai dengan makin membesarnya kelenjar, merah, dan nyeri.
    Itupun dokter hanya memberi obat untuk 2-3 minggu, Setelah itu dibiarkan mengecil dengan sendirinya.

    Anak berkeringat adalah wajar, soalnya anak sedang mengalami tumbuh kembang, sehingga metabolisme nya (proses penolahan makanan, dll) meningkat. Komponen terbanyak buangan proses metabolisme adalah air, yang sebagian besar dikeluarkan dalam bentuk: urine dan keringat. So, wajar kan kalo anak berkeringat pada malam hari, dikarenakan pada malam hari (saat tidur) si anak gak beraktifitas, sehingga buangan metabolisme dlm bentuk keringat lebih banyak pada malam hari.
    Jadi, gak usah heran kenapa anak yang tidurnya di ruang ber-Ac masih jua berkeringat.
    Beda dengan kita-kita ini yang ssudah gak mungkin tumbuh lagi. *gemuk pada dewasa bukan termasuk tumbuh lho* :P

    Bronkopnemonia adalah salah satu penyakit infeksi saluran pernafasan yg ditandai dengan batuk pilek, krok-krok, nafas berat, dll… penyakit ini mah buanyak.. tiap hari dijumpai di praktek dokter, termasuk di ndeso sini.
    Repotnya (bagi masyarakat awam), rontgen dianggap segalanya yg dianggap bisa membaca semua penyakit hanya dengan selembar kertas photo.. padahal rontgen adalah diagnosa penunjang untuk memperkuat diagnosa dokter berdasarkan pemeriksaan klinis.
    Repotnya lagi, dokter radiologi tidak melihat langsung si anak, hanya membaca hasil rontgen. Lantas, mengapa diskripsi hasil rotgen harus begitu ?.. itulah yang namanya panduan alias protap baku. Tidak salah. namun seringkali membuat ortu resah.
    Kalo DSA ragu terhadap hasil rontgen (pada kasus ini), sebenarnya persoalan udah selesai. Cukup dengan menjelaskan kepada ortu bahwa pembesaran kelanjar tersebnut adalah limfadenitis sebagaimana penjelasan di atas, bukan TBC kelenjar.

    Tentang rumah “mewah”, bukan penyebab atau faktor yg mempengaruhi anak batuk pilek, namun karena ketularan orang sekitarnya. Udara daerah “mewah’ lebih segar.
    Beda dengan rumah “melankolis” (rumah mepet jalan daerah metropolis), dimana buanyak polusi, asap, debu, yang dapat menjadi salah satu faktor anak mudah batuk pilek.

    Tentang BB anak…saya gak banyak komentark..intinya sependapat dengan DSA tersebut. Sejauh anak aktif, bengok-bengok ibarat baterey 4 alkaline, tentu saja beratnya sulit naik, lha wong kalorinya digunakan untuk berkatifitas yg justru sangat penting untuk tumbuh kembang anak dibanding sekedar berat badan naik, ginak-ginuk tapi gak kuat mlayu :D

    Sudah ah, rasanya jawaban saya terlalu panjang :D
    semoga penjelasan yang sangat tidak singat ini dapat memnbantu :)
    Maturnuwun

  394. 395 bunda kei2 Februari 20, 2011 pukul 4:59 am

    Cak nyambung lagi nih……kemarin sore hasil tes mantoux sdh dilihat dokternya, trs dokternya yakin klo itu TB paru karena setelah diukur kemerahan dan benjolannya lebih dari 10 mm…..makanya DSA yakin klo itu TB paru, dr hasil rontgen dan tes mantoux, dokternya sendiri bilang pdhl saya tdk yakin krn liat dr perkembangan anaknya……tp melihat tes mantouxnya akhirnya DSA menjadi yakin……kemudia ade diberikan RIMCURE PAED (rifamicin) yang katanya bikin urinenya jd merah. ade hrs minum obat mulai pagi ini sebelum makan.

    yg ingin saya tanyakan apakah hasil tes mantoux benar2 akurat untuk mentest adanya TB paru,,,,jika ada test lain yang lebih bs meyakinkan untuk TB paru, karena ade masih 14 bulan belum bs mengeluarkan dahak, yang saya baca dr diskusi sblmnya BTA tdk dapat dilakukan…….

    Tapi mlam hari saya liat benjolannya sdh semakin berkurang sekitar 8 mm. saya masih kurang yakin karena ade jarang banget batuk hanya sekitar 2-3 kali dr mulai kelahirannya, memang dl saat kehamilan saya cek lab TORCH bundanya ada virus influensa, tp DSK menyatakan tdk brbahaya krn virusnya dorman, atau dl kena influensa berat, tp skarang tdk lagi. apa itu merupakan pengaruh juga apa yang ade alami skarang….

    lalu obat yang DSA berikan hanya 1 obat RIMCURE PAED (rifamicin, isoniazid, pyrazinamide) saya berikan atau tidak…….karena saya baca diskusi sebelumnya bahwa obat itu dapat menggangu fungsi hati jika tidak tepat penggunaannya…..

    Mohon sarannya cak….bundanya bingung…….-_________-

  395. 396 bunda kei2 Februari 20, 2011 pukul 11:40 am

    oia cak hari ini ade ndak tak kasih obat dl nih…masih bingung…..tes mantouxnya positif sih……apa perlu ke dokter sp paru untuk lebih meyakinkan ???????..soalnya ade ga pernah panas tinggi lebih dari 3 hari, pernah panas tinggi mpe 38 tapi diberi salmol dan novalgin drop panasnya reda cak….

  396. 397 cakmoki Februari 20, 2011 pukul 1:17 pm

    @ bunda kei2:
    Kalo dokternya yakin dan penjenangan juga yakin, silahkan diminum obat yang diberikan dokter :) … saya gak ikut-2 :D
    Jalan lain adalah periksa ke Dokter Sp Paru dengan membawa semua hasil Lab dan Rontgen sebagai upaya second opinion.

    Tes yang paling dapat dipercaya hasilnya hanya BTA tapi anak emang sulit ngeluarkan dahak.

    Tentang hasil TORCh, gak ada hubungannya sama sekali dengan konsisi anak sekarang.
    makasih

  397. 398 fafa Februari 21, 2011 pukul 3:04 pm

    cak.. mampir lagi nie
    anak saya, 3hn 4bulan, hari jumat kmaren di diagnosa flek paru. emang 3minggu ini batpil, muncul-tenggelam batuknya diikuti panas gara2 tiap kali sembuh, ketularan lagi dari spupunya. di keluarga g ada yang TB, kami juga hampir jarang ketemu orang lain (ma`lum, dipelosok.susah kendaraan..hehe). jadi sehari2 di rumah aja. kecuali akhir pekan itu, berkunjung/dikunjungi sepupu.
    sekarang ini lagi dirawat, gara2 typhus..

    entah kenapa, qo, hati saya ttp g sreg ya. rasanya g percaya anak saya TB. anak saya lahirnya 3,7kg, tp di umurnya sekarang cm 13,5kg. kebetulan anak saya makannya pemilih, tidak terlalu suka sayur, tapi saya usahakan ttp bergizi. porsi makannya lumayan banyak tapi makannya emang lama (suka diemut). disamping itu dilihat dari postur ortunya, kami memang tinggi+kurus. jadi saya rasa wajar2 aja anak saya bertubuh mungil.

    menurut cak gmn? anak saya ini susah minum obat. kayanya g kebayang harus minum obat tb sampe 6 bulan rutin..

    makasih y,cak. maap jadi curhat..

    sukses!

  398. 399 fafa Februari 21, 2011 pukul 3:12 pm

    wah.. cak.. tambahan nie. anak saya 3thn4bulan, tingginya 93cm, beratnya 12,5kg. masuk kategori mungil kan? apa kurus???

  399. 400 fafa Februari 21, 2011 pukul 3:16 pm

    nambah lagi deh.. anak saya tu aktif.. pecicilan. kalo demam juga ga rewel. masih aktivitas. cuma kalo batuk, biasanya males makan tapi mau banyak minum.
    mungkin g ya,tb?
    maap ya,cak.. ampe 3 kali komentar. hehe

  400. 401 cakmoki Februari 22, 2011 pukul 2:02 pm

    @ fafa:
    Seperti halnya diskusi-diskusi sebelumnya, seorang anak dicurigai TBC atau Flek bila: demam lebih 2 minggu tanpa diketahui sebabnya, BB cenderung turun, anak nampak lesu, aktifitas menurun, dst dst.
    Usia segitu dengan BB 12,5 kg termasuk normal… yang penting aktifiasnya… ukuran tumbuh kembang anak bukan lagi berat badan, tapi aktifitas, komunikasi dan kreatifitas. Itu sebabnya setiap lomba balita sehat, yang juara bukan yang gemuk ginak-ginuk tapi yang aktif pencilakan dan banyak omongnys…ibarat baterey, mungkin setara dengan baterey 4 alkaline… :D

    Wajar dong kalo anak males makan kalo pas batuk.

    Akhirnya, keputusan untuk menggunakan Obat TB atau tidak, terpulang kepada pemahananpara ortu setelah mempertimbangkan berbagai hal.
    Makasih

  401. 402 niken ari Maret 15, 2011 pukul 6:10 pm

    salam kenal,

    mohon pendapatnya. anak saya laki-laki, usia 7 th 3 bl, bobot 19 kg tinggi 104 cm
    sejak kecil/bayi kecenderungan perawakannya kecil/cungkring. aktivitas oke, malah bisa dikatakan ‘pencilakan’. kemampuan berpikir/nalar juga oke bahkan guru dan sejumlah pihak bilang di atas rata-rata, banyak omong. yg pasti gampang banget makan bahkan seringkali porsinya lebih banyak dibanding saya ^^
    belakangan sering batuk. seingat saya, rentan/sensitif tertular bat-pil. sekali kena batuk, biasanya lama, tp jarang sampai berdahak.
    kalau batuk atau nangis sering akhirnya muntah
    dulu, sering sy bw terkait konsultasi perawakan ‘cungkring’nya itu, bbrp bilan dia oke saja.
    krn sy masih kurang sreg n yakin, terutama soal dia suka batuk, akhir tahun kemarin kmbali sy bw ke dokter, tanya soal batuk2nya itu.
    akhirnya dsa langganan (dia yg sreing rawat anak sy sejak kecil) kasih rujukan tes lab.
    hasilnya:
    1. anti mycobact.TBC “negatif”
    2. xray
    -Cor : CTR , 50%
    - Pulmo : Socarakan bronchovaskuler meningkat
    Tampak bercak di kedua perihiler dan paracardial
    Hillus menebal
    - Diagframa dankedua sinus normal
    - Trachea tak deviasi
    - Soft tissue dan skeleton normal

    Kesan : Suspect Proses spesifik

    menurut dokter anak saya, hasilnya ga maslah, TB negatif. kalau soal hasil xray, itu normal ga perlu dikuatirkan.
    akhirnya anak sy cm dikasi obat ant-alergi n diminta menghindari makanan2 yg mungkin bisa nimbulkan alergi.

    semua itu sempat bikin lega. batuk anak sy reda
    tapi, setlah sebulan reda, sepakn terakhir kembali batuk lagi, uhuk2, tanpa dahak

    akhirnya sy cb tnya dokter lain, dokter kantor, lagsung divonis TB n disuruh obat 6-12 bl. tp juga diminta tes mantoux dl

    nah, saran njenengan gimana? soalnya maslah ini trus mnjadi beban pikiran sy.
    matur nuwun jawabnya

  402. 403 cakmoki Maret 16, 2011 pukul 6:01 pm

    @ niken ari:
    Salam kena,
    mohon maaf atas keterlambatan menjawab karena berbagai kesibukan.

    Berdasarkan kronologis penuturan penjenengan tentang riwayat batuk yg hampir rutin sebulan sekali, serta hasil lab, x-ray, saya sependapat dengan DSA langganan, yakni bukan TBC.
    Adapun anak sering batuk adalah hal yg sangat wajar terutama jika masa-2 bermain dan masa sekolah dimana anak tiap hari kontak dengan temannya sehingga mudah tertular di saat musim batuk seperti 6 bulan terakhir ini.
    Gak usah terlalu dipikir.. :D … sebagai perbandingan, di ndeso sini rata-2 lebih 10 anak datang ke praktek, yang mengalami batuk seperti anak penjenengan … bayangkan saja kalo semuanya divonis TBC hanya gara-2 rontgen dan batuk berkepanjangan, bukankah dakwaan semacam itu (TBC) patut dipertanyakan ?
    Lha trus nanti setelah 6 bulan masih suka batuk gimana hayo… dijamin akan disuruh minum obat TBC lagi …lagi dan lagi, selama masih batuk hingga anak makin jarang batuk seiring dengan tumbuh kembang dan daya tahan yg makin membaik.
    Namun, ini pendapat saya berdasarkan fakta sehari-hari… keputusan sepenuhnya tentu ada di tangan orang tua masing-2.

    Semoga sehat selalu
    Maturnuwun

  403. 404 muti muti Maret 17, 2011 pukul 12:25 pm

    cak salam kenal ya…saya mau ikutan tanya juga nih,,,skaligus mau curhat,,,hehehe…umur saya 22thn. saya jg di diagnosa kena flek paru,,sebelumnya saya cuma periksa lambung yg udah kronis banget sampe harus di endoskopi,,,setelah di endoskopi saya disarankan rontgen untuk melihat apa ada keluhan lain slain maag,,krn 3 thn belakangan berat bdn saya ga nambah2,,skalinya nambah juga langsung turun lagi…

    dilihat dr hasil rontgen,kata dokter penyakit dalam yg menangani saya ternyata ada flek di paru2 bagian kiri saya dan saya juga melihat memang ada perbedaan hasil rontgen antara paru2 sebelah kanan dan kiri,,kalo yg dibilang ada flek memang agak putih2 gitu..dan saya lgsung di diagnosa terkena TBC oleh dokter penyakit dalam tersebut..setelah itu saya langsung ditujukan untuk ke dokter spesialis paru2 aja…dan sampai skrg sudah jalan 5 bulan saya berobat di spesialis paru2,trus sudah 2 kali periksa BTA hasilnya juga negatif…saya juga harus rutin minum obat setiap bangun tidur,,nama obatnya RIMACTACID,,pd awal2nya saya minum obat itu perut saya terasa mual,,apa emang obat paru bikin mual atau emang msh terpengaruh sama maag saya???

    saya memang sering mengalami nyeri di dada sebelum pengobatan ini,,tp saya ga pernah batuk2 sampe yg rutin dan berlebihan gitu…
    dan kemarin saya check up,dokternya bilang kalo pengobatan saya sudah sebentar lagi,,,
    lalu,apabila saya sudah dinyatakan sembuh apa saya msh tetap harus minum obat paru itu untuk mencegah muncul kembali flek di paru2 saya,,,apakah flek itu bisa muncul lg di paru2 saya?

  404. 405 cakmoki Maret 17, 2011 pukul 3:04 pm

    @ muti muti:
    salam kenal,
    iya, kadang obat tersebut menimbulkan mual…tapi gak masalah. Adapun maag atau dispepsia, sebagian besar dipicu oleh cemas , stress dan sejenisnya.
    Kalo TBC udah sembuh, kuman akan musnah dari tubuh dan gak akan muncul lagi kecuali kalau ketularan dari penderita TBC.
    makasih

  405. 406 muti muti Maret 17, 2011 pukul 3:18 pm

    makasih ya cak jawabannya,,,
    tp mau tanya lg nih,,,apa ini bisa menular juga cak???

  406. 407 cakmoki Maret 17, 2011 pukul 5:09 pm

    @ muti muti:
    sama-sama
    iya, menular … tapi kalo udah diobati sekian lama (5 bln) gak akan nular
    makasih

  407. 408 muti muti Maret 17, 2011 pukul 6:00 pm

    berarti sebelum 5 bln kmrn itu bisa nular dong,,,dengan cara apa tuh kira2???,,,kalo saya suka ciuman berarti bisa nular lewat itu juga donk…maaf ya cak,,nanya mulu…hehehee,,,makasih…

  408. 409 cakmoki Maret 18, 2011 pukul 12:30 am

    @ muti muti:
    lho koq bikin kesimpulan sendiri ? :D
    pada dasarnya, setelah pengobatan 2 bulan gak nular. Lha pertanyaannya kann udah berjalan 5 bulan.
    Sebelum 2 bulan, masih bisa nular melalui droplets (percikan cairan ludah atau pernafasan, termasuk ciuman tentunya).
    ..iya..iya ..saya maklum, namanya orang panik, walau dijawab berulang tetep masih penasaran …hehehe..dan jangan-2 gak baca diskusi sebelumnya :P
    makasih

  409. 410 muti muti Maret 18, 2011 pukul 9:15 am

    hehehe,,,iya panik cak,, jd melencong2 deh nanya nya…makasih ya cak…

  410. 411 cakmoki Maret 18, 2011 pukul 7:29 pm

    @ muti muti:
    ga papa, namanya juga sedang panik.. ntar lama-lama akan mengerti dan gak panik lagi :D
    Makasih

  411. 412 san Maret 23, 2011 pukul 3:11 pm

    Halo Cak..

    Mau nanya soal paru2 lagi nih dah lama ga mampir ke sini…
    Gini Cak…pengobatan paru2 saya dah 6 bln & mg kmrn saya control sekalian dirontgen & mnrt dktnya kondisi paru2 kiri saya yg terinfeksi itu udah “better”. Jd beliau berani utk maju meneruskan pengobatan 3 bln ke depan. Obatnya ditambah jd Rimactacid & Levofloxacin. Saya ga nanya ke dktnya obat ke 2 itu apa cm nanya lbh keras ga efeknya, beliau ngejwb ga keras. Wkt saya beli obat itu nanya ke org apoteknya ktnya itu antibiotik. Kl antibiotik diminum slm 1 bln gitu ga terlalu berat efeknya?
    Obat levofloxacin itu fungsinya buat apa yah Cak?
    Memang sampai saat ini saya msh suka batuk terutama di pagi hari & suka ada dahak berwarna kuning. Saya nanya dahak kuning itu berarti msh ada kuman TBC & mnrt dkt dahak kuning itu tdk selalu menandakan msh adanya kuman & beliau jg blg saya msh beruntung krn BTA saya negatif sejak awal ada pasiennya yg BTA nya positif trs walaupun udah dikasih obat yg lama. Saya sih ga masalah pengobatannya dilanjutkan kl memang akan memulihkan paru2 saya menjd lbh baik lg melihat kondisi badan sudah cukup baik ga cepet cape dan nafas jg ga pendek kecuali lari2 yah pasti ngos2an donk…he he he
    Terus biasanya pengobatan paru2 itu plg lama berapa bulan yah?
    Sebelumnya makasih yah Cak…..

  412. 413 cakmoki Maret 24, 2011 pukul 12:34 pm

    @ san:
    Halo jugak :)
    Pengobatan TB paru adalah 6 bulan. Dapat dilanjutkan hingga 9 bulan atau lebih pada TB yang luas dan BTA masih positif setelah pengobatan 6 bulan.
    Levofloxacin adalah antibiotika golongan quinolone.
    Pemberian obat tersebut mungkin karena dokter menganggap ada infeksi sekunder untuk eradikasi (pemberantasan) kuman hingga tuntas.
    Makasih

  413. 414 san Maret 24, 2011 pukul 2:28 pm

    Oh gitu yach.. Makasih atas jawabannya yah…

  414. 415 cakmoki Maret 24, 2011 pukul 3:25 pm

    @ san:
    nggih, sami-sami

  415. 416 fafa April 1, 2011 pukul 4:41 am

    dok.. berkunjung lagi ni..
    akhirnya anak saya diterapi tb, hari ini masuk bulan kedua.
    saya perhatikan, sejak pengobatan, qo malah jadi gampang sakit ya?
    waktu awal pengobatan,keringetnya bisa bercucuran mulai dari kepala sampai dada (saat ini aga berkurang). asal kena angin atau dibawa keluar rumah, langsung batuk+diare. Malah jadi kasihan liatnya. Sebelum pengobatan baik2 aja (dulu kami biasa main keluar rumah, ke toko, atau berkunjung ke neneknya setidaknya seminggu sekali), tapi sekarang keluar jalan2 di komplek saja, atau dikunjungi sodara-sodaranya, langsung kena batuk. Akhirnya kami jadi takut membawa anak kami keluar. Sekarang hari-harinya dihabiskan di rumah (sedih melihat dia begitu merindukan dunia luar), padahal rencananya tahun ini akan disekolahkan.
    bagaimana ya,dok? saya g tega liatnya.
    oya, selain obat2an,kami juga memberikan madu.
    saat ini anak saya diare (sudah 10hari, sembuh+sakit bergantian antara 2-3 hri sekali,lebih sering diare), sudah sempat minum antibiotik (dari dsa-nya),dialac, dan nystatin. sudah dijaga makanannya hanya bubur+tahu/daging/telur+pisang, tapi qo g sembuh2 y? apakah efek samping obatnya?
    makasih dok.

  416. 417 fafa April 1, 2011 pukul 9:01 am

    oiya dok,mau nambahin.
    pagi ini anak saya udah 3x ke wc. pupnya banyak lendirnya. mungkin g ya anak saya g kuat dgn obatnya jd efeknya kena pencernaan (diare)? thx

  417. 418 cakmoki April 1, 2011 pukul 6:00 pm

    @ fafa:
    met sore
    kalo udah terapi TB, konsekwensinya harus minum obat 6 bulan.
    Anak jangan terlalu dipingit, ntar malajh gampang sakit soalnya kurang kontak dengan dunia luar.
    Ga papa sekolah , toh udah diobati

    Tentang diare, akhir-2 ini emang lagi musim… bukan karena efek samping obat TB.
    kalo BAB berlendir, perlu ditambahkan sirup anti amoeba, misalnya: sirup Flagyl… dosisnya minimal 50 mg per kg berat badan per hari selama 5-10 hari.. obat ini diminum bersama obat yg diberikan dokter.
    Moga segera sembuh.
    makasih

  418. 419 fafa April 3, 2011 pukul 4:51 pm

    dok,saya lagi. setelah tanya cak kemarin, sorenya kami ke dokter langganan lagi tuk terapi diarenya. sdh dikasih antibiotik dan skarang sudah baikan.

    ini dok, kronologis ttg tbnya:
    18 februari yang lalu, anak saya sempat rontgen. hasilnya cor normal, pulmo tampak bercak putih, kesan KP. LED-nya 72. Kemudian dia dirawat karena typus selama 5 hari. Tgl 3 MAret dites mantoux hasilnya negatif. Dokter memberikan terapi tb untuk 1 bulan pertama.

    Kemarin, anak saya dites darah (LEDnya 6) dan dites mantoux ulang (oleh dokter yang berbeda dgn yang dulu mendiagnoda tb),karena katanya 1 bulan stlh tes pertama dilakukan tes ulang untuk memastikan diagnosaya, dan ternyata hasilnya negatif lagi.
    lalu beliau merekomendasikan untuk menghentikan obatnya (obat tb-nya) karena anak saya ini memang tidak tb.
    tapi dari tulisan dokter “kalo udah terapi TB, konsekwensinya harus minum obat 6 bulan” apakah tidak apa2 saya menghentikan obatnya?

    trus kenapa ya,dok LED-nya bisa turun drastis gt, dari 72 ke 6 dalam waktu sekitar 1 bulan?apakah ada kaitannya dengan terapi tb yang telah dilakukan atau karena kemarin diperiksa dalam keadaan diare? tidak apa-apakah LED anak saya hanya 6 (anak saya perempuan, setau saya LED normal memang di bawah 20.tapi kan angka 6 ini jauh sekali dari 20)?

    maaf ya,dok,nanya terus.
    semoga sukses ya dok..
    makasih yaa.. jangan kapok ditanya terus.hehehe

  419. 420 fafa April 3, 2011 pukul 4:55 pm

    oya.. dulu rontgennya dengan posisi terlentang,bukan miring. kira2 bercak putihya karena apa ya,dok? apakah memang slalu karena tb?
    trus, normalkah anak usia 3tahun keringatnya bercucuran? bisa sampai basah kuyup kepalanya. apakah bisa jadi penanda,sebenarnya memang ada masalah di paru2ya meskipun mantouxnya negatif?
    makasih..

  420. 421 cakmoki April 3, 2011 pukul 8:15 pm

    @ fafa:
    ya, sayapun sejak awal meragukan TB, sebagimana diskusi-2 sebelumnya. Adapun jawaban saya : “kalo udah terapi TB, konsekwensinya harus minum obat 6 bulan” adalah jawaban yg sifatnya umum mengingat ada ortu yang suka anaknya didiagnosa TB dan dokternya juga suka mendiagnosa TB.
    kalo dokternya mengatakan bgukan TB, sudah sepantasnya obatnya dihentikan… gak masalah menghentikan obat TB , lha wong emang bukan TB :D

    Adapun Lab (LED, dll), bisa berubah-ubah hasilnya, bergantung pada banyak faktor.. lagipula, lab merupakan alat bantu. Yg lebih penting adalah pemeriksaan klinis si dokter.

    Tentang rontgen , posisi apapun, pada anak seringkali begitu karena anak gak bisa mengeluarkan dahak secara spontan sehingga pada rontgen terlihat bercak. Makanya hasil rontgen hanya ditulis “kesan”.. artinya, disesuaikan dengan pemeriksaan dokter yg langsung meriksa secara fisik … kata-kata kesan bukan suatu kepastian.

    Adapun tentang keringat, semua anak memproduksi keringat lebih banyak (dengan jumlah yang bervariasi setiap anak) ketimbang dewasa karena anak masih dalam masa pertumbuhan, sehingga metabolismenya lebih aktif ketimbang dewasa… kondisi ini sangat wajar atau normal.
    Nah, keringat adalah produk metabolisme. Normal aja kan ? :D
    Ini hanya ilmu alam belaka.. sebenernya mudah dicerna dengan lohgika sederhana, hanya saja kadang ortu suka panikan dan masih percaya mitos… jadinya tambah kepikiran yang enggak-enggak…hahaha

    Makasih

  421. 422 fafa April 8, 2011 pukul 7:07 pm

    iya,cak. makasih juga..
    sekarang ni anak lagi batuk,baru mulai dari kemarin.
    semoga batuk biasa ya dok (ceritanya masih `aga` panik :D) jadi cepet sehatnya.

  422. 423 cakmoki April 10, 2011 pukul 11:21 pm

    @ fafa:
    ya, semoga segera sembuh… batuk banyak jenisnya… walaupun lama gak serta merta menjurus ke TBC :)

  423. 424 Hendi April 15, 2011 pukul 4:18 pm

    Saya sudah menjalani pengobatan TB selama lebih kurang 6 bulan.
    Dengan dokter yang pertama saya diberi obat Rifampicin, dan juga anti alergi PROMEDEX.
    Terus saya pindah ke kota lain, dan kemudian melakukan perawatan dengan dokter di kota lain tersebut.
    Saya memberikan salinan resep dari dokter pertama ke dokter kedua.
    Dokter kedua mengatakan bahwa PROMEDEX itu tidak boleh (bisa juga dikatakan sebagai RACUN bagi tubuh) meskipun ada beberapa dokter yang masih memberikan. Benarkah itu? efek apa saja yang bisa ditimbulkan dari penggunaan PROMEDEX? Bahkan kata dokter yang kedua bahwa bisa memperparah TB. Benarkah?
    Karena penggunaan PROMEDEX tersebut, maka dokter yang kedua mengatakan saya harus kembali melakukan perawatan ulang selama 9 bulan. saya diberikan obat INH CIBA 400 mg (diminum 1 tablet malam hari), ARSITAM 500 mg (diminum 2 tablet malam hari) dan PEZETA CIBA 500 mg ( diminum 2 tablet malam hari ). Sudah benarkah?
    Apakah ada pengaruh jika obat2 tersebut dikonsumsi dalam jangka waktu lama? misal ke ginjal atau hati?
    Terima kasih

  424. 425 cakmoki April 17, 2011 pukul 9:59 pm

    @ Hendi:
    Promedex tidak memperparah TBC, tapi bikin ngantuk soalnya mengandung antihistamin
    Un tuk pengobatan TB, bukan hanya dengan rifampcin danpromedex aja, tapi yang benar adalah obat yg diberikan dokter kedua.
    Obat tersebut aman untuk jangka panjang
    Makasih

  425. 426 Hendi April 18, 2011 pukul 9:09 pm

    Thanks untuk jawabannya.
    Ada lagi yang mau saya tanyakan.
    Kadang-kadang saya merasakan rasa nyeri di daerah dada.
    apakah itu normal? apakah akan hilang suatu saat nanti?

    Maaf udah banyak tanya… :)
    Thanks.

  426. 427 cakmoki April 20, 2011 pukul 3:44 am

    @ Hendi:
    ya, keluhan tersebut wajar…ntar akan berangsur hilang jika pengobatan udah tuntas.
    moga segera sembuh
    makasih :)

  427. 428 san April 20, 2011 pukul 3:01 pm

    Halo Cakmoki met siang…
    Mau nanya nih…
    1. Kl paru2 yg sdh selesai terapi pengobatan TBC itu bentuknya apa jd bolong2 seperti sarang tawon atau byk bekas parut seperti kulit terluka yg sdh sembuh?
    2. paru2 ya sdh sembuh kl suatu saat nanti ada pendarahan lg tp stlh dirontgen bkn TBC, apa pengobatannya hrs terapi obat TBC lagi?
    3. Apa obat batuk OBH berbahaya & mempunyai efek samping kl sering2 diminum dlm jk lama?
    Sebelumnya makasih yah Cak…………

  428. 429 cakmoki April 20, 2011 pukul 4:59 pm

    @ san:
    met sore,
    1) enggaklah. Paru mempunyai kemampuan kompensasi yang luar biasa, sehingga jika pernah infeksi, akan pulih. Kalaupun membekas pada umumnya hanya terjadi penebalan pada jaringan paru

    2) Tidak. Hanya diperlukan obat untuk menghentikan perdarahan saja

    3) Gak papa

    Makasih

  429. 430 san April 20, 2011 pukul 8:48 pm

    Wah cepet banget ngejawabnya…Makasih banyak yah Cak atas jawabannya, tp ada pertanyaan lg nih…kalau pendarahan krn gejala sisa itu hrs bed rest ga atau cm jgn terlalu cape aja?
    Kl obat u/ menghentikan pendarahannya cm perlu minum kalnex 500 aja tanpa antibiotik lg?
    Makasih yah……….

  430. 431 san April 22, 2011 pukul 8:52 pm

    Cak kelewat yah blm dijawab, he he he…. Sekalian ada pertanyaan lg nih, kl BTA negatif berarti kumannya ga akan menular? Makasih yah….

  431. 432 cakmoki April 22, 2011 pukul 9:37 pm

    @ san:
    ya, bener,,gak perlu bedrest, gak perlu antibiotika dan cukup dengan kalnex
    BTA negatif berarti gak ada kuman….lha yang menular apanya hayo :D
    makasih

  432. 433 san April 23, 2011 pukul 8:47 pm

    oh gitu yach………..Makasih banyak yah Cak……..

    @ san:
    sama-sama :)

  433. 434 saree Mei 3, 2011 pukul 2:38 pm

    shallom……
    siang dok.reva anak sy sudah 4bl ini pengobatan rutin TB…tp masuk pengobatan ke3 bl ada keluhan dimatanya ada benjolan putih ( seperti jerawat batu) n matanya memerah seperti skt mata.setlah saya periksakan ke Dr.Mata…katanya akibat dari TBnya…Bulan April ini reva opname gejala typus batuk nya ngekel…dari gejala badannya panas selama 10 hari disekitar kepala (tutun naik ) nafsu makan n minum susunya berkurang drastis..selama 6hr reva diopname..kmrn tgl 2 mei saya kontrolkan ke Drnya disuruh test darah utk livernya ternyata hasilnya livernya tidak baik dengan hasil 39 ( normalnya 0-33)…akhirnya dikasih obta selama 20hr…kt Drnya setelah 20 hr kontrol utk test darah lagi..klo hasilnya masih tdk bagus maka obat TBnya diganti….klo kasus spt itu saya harus gimana yah dok?

  434. 435 cakmoki Mei 4, 2011 pukul 1:14 am

    @ saree:
    wa’alaikum salam, wr, wb,
    SGOT 39 hanya naik dikit… wajar saja karena abis opname dan gak mau makan… ntar akan membaik kalo kondisinya udah bagus.
    Menurut saya silahkan melanjutkan obat yang telah diberikan dokter.
    Kita diskusikan lagi setelah selesai pengobatan 6 bulan :D … itupun kalo ada keluhan
    Moga segera pulih kembali.
    Makasih… Wass.

  435. 436 nina Mei 4, 2011 pukul 11:24 pm

    Saya sudah dua minggu lebih batuk. Awalnya waktu masih radang tenggorokan saja, saya ke dokter di klinik kampus dan diberi paracetamol, DG troches, dan amoxicillin. Setelah seminggu lebih terus betuk berdahak dengan frekuensi sering, saya ke dokter lain dan diberi resep codipront, cefadroxil, dan FG troches. Disuruh rontgen juga. Setelah mengonsumsi obat tersebut frekuensi batuk berkurang tapi ketika batuk masih berdahak kental. Dan suara saya menjadi serak. Saya sudah rontgen tapi saya belum sempat konsultasi lagi. Hasil rontgennya begini:
    Cor tidak membesar, bentuk normal
    Pulmo: garis-garis kabur dan noda paracardial kanan
    Diafragma normal, sinus-sinus terbuka.
    Ro: Gambaran bronchitis.

    Apakah hasil rotgen tersebut menunjukkan saya terkena bronchitis? Obat apa yang harus diminum? Dulu waktu kecil saya juga pernah terkena bronkitis beberapa bulan.
    Terima kasih banyak.

  436. 437 cakmoki Mei 5, 2011 pukul 3:39 pm

    @ nina:
    Menilik kronologinya dan hasil rontgen dinyatakan bronkitis, bisa juga batuk alergi (dengan berbagai variannya).

    Silahkan menggunakan obat sbb:
    1) Obat bronkodilator (melonggarkan saluran nafas), misalnya: Euphylline Retard Mite (dosis rendah), diminum 2×1 sehari. Obat ioni lazim digunakan pada Bronkitis, asma, batuk alergi dan batuk berat guna melonggarkan nafas sehingga dahak mudah keluar dan nafas menjadi lega.

    2) Obat batuk ekspektoran, misalnya: ambroxol atau bromhexine (merk dagang bebas memilih), diminum 3×1

    3) Anti-inflamsi steroid, misalnya: methyl prednisolon, diminum 2×1. Obat ini dimaksudkan untuk meredakan proses inflamasi or peradangan pada saluran nafas.

    Ketiga obat di atas diminum sedikitnya seminggu hingga sembuh.
    Jika belum membaik setelah seminggu, sebaiknya kontrol ke dokter.. namun jika mebaik dalam seminggu tapi belum tuntas, maka obat tersebut dapat dilanjutkan hingga sembuh.

    Selengkapnya tentang bronkitis, silahkan baca artikelnya di blog ini pada link berikut:
    https://cakmoki86.wordpress.com/2010/03/26/bronkitis-akut/

    Moga segera sembuh
    Makasih

  437. 438 nina Mei 5, 2011 pukul 7:37 pm

    Apakah obat-obat tersebut (methyl prednisolon, dll) dapat dibeli tanpa resep dokter?

  438. 439 cakmoki Mei 6, 2011 pukul 4:39 pm

    @ nina:
    bisa… namun pamaikaiannya sebaiknya tidak lebih dari 2 minggu agar tidak timbul efel samping

  439. 440 Afifudin Mei 11, 2011 pukul 9:18 pm

    Cak ,ganggu sebentar,mau konsultasi, 6 minggu yg lalu saya terkena batuk berdarah kemudian periksa ke RS trus cek darah katanya sih darahnya normal kemungkinan radang tp kayaknya dokter tu masih ragu,,setelah saya 2 hari minum obat batuk berdarahnya dah gak ada tp pada hari ke 4 saya pergi ke mall ,di sana kan tempatnya dingin ber ac trus batuk saya kambuh lagi dan mengeluarkan darah,trus saya pergi ke mantri katanya infeksi paru pulang di kasih obat(lupa namanya) katanya antibiotik ,,setelah itu dah gak batuk berdarah lagi yang ada batuk biasa,,tp yang masih janggal sekarang kok mudah lelah,setiap kerja gak terlalu berat ja napasnya sudah terengah engah,,kalo udah gitu mau ngomong aja kyaknya tersiksa karena napasnya cepat habis,,menurut cak moki penyakit apa ni??
    trus sebaiknya harus bagaimana??
    Terima kasih sebelumnya cak atas perhatiannya

  440. 441 cakmoki Mei 12, 2011 pukul 1:45 pm

    @ Afifudin:
    Maksih telah menyampaiakn kronologisnya secara lengkap.
    Menilik semua kronologi di atas dan keluhan saat ini, sebaiknya periksa (1) Rontgen dan (2) Pemeriksaan Dahak (BTA) sebanyak 3 kali, untuk memastikan penyakitnya.
    Selanjutnya, periksa ke dokter paru dengan membawa hasil kedua pemeriksan di atas, agar dapat ditentukan lengkah pengobatan yang tepat.
    Makasih

  441. 442 Afifudin Mei 12, 2011 pukul 5:11 pm

    Kalo boleh tahu perkiraan berapa biaya rontgen ma BTA cak??sekarang posisiku lagi di samarinda,,mungkin cak moki prakteknya juga di samarinda z??

  442. 443 cakmoki Mei 12, 2011 pukul 11:39 pm

    @ Afifudin:
    Biaya rontgen di Lab Klinik sekitar 60-70 ribu.. sedangkan BTA gak sampai 10 ribu.
    Sy praktek di ndeso pinggiran Samarinda, 1,5 jam dari kota :D
    Kalo periksa dokter, dimana aja sama lah
    Makasih


  1. 1 Balada Penenun dari Lombok « AKU Lacak balik pada April 25, 2007 pukul 4:58 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Wong ndeso ™

cakmoki

Wordpress Indonesia

Silahkan baca

DISCLAIMER

web tracker

9 Desember 2009

SEMENTARA TUTUP

Maaf, sementara Blog istirahat hingga ada pemberitahuan

Harap maklum


MARI HENTIKAN KORUPSI

Jangan Korupsi Ah

No Korupsi

Internet Sehat

Warga Bicara

» Makasih PLN, listrik Samarinda dah membaik, moga gak byar-pet

» Waspada Demam Berdarah

» Jangan Gunduli Palaran

» Banjir...banjir. Kapan masalah ini teratasi ?

INGA INGA INGA

» Nyeri Urat or Tulang BUKAN berarti Penyakit Asam Urat.

» Sekali lagi: Pegal, Linu Tidak Identik dengan Penyakit Asam Urat

TEMANs

9racehime | A. Fatih Syuhud | Aditiawan Chandra | A.Tajib | Agung UD | aLe | alief | alle | almascatie | Amd | Anak Peri | Anak Sultan | Anang | Anang YP | Anas | Andalas | Anggara | Anjaz | Anti Pungli | Antobilang | Anung87 | Aribowo | Arif Kurniawan | Arul | Astikirna | awan965 | axireaxi | Bambang alias HR | BatakNews | Blog Pokoke? | Biho | CalonOrangTenar | Cay | Chandra | Chielicious | chiw imudz | cK-chika | Dalamhati | Deden Nugraha | deedhoet | deKing | Desti Utami | Didats | doeytea | dnial | Edy C | Eep | Elpalimbani | erander | Evi | Fa | Fa wp | Faiq | Fertobhades | Fetro | Fortynine | Freddy | Gadis | Gaussac | Gitablu | Grandiosa | GuhPraset | GuM | Helgeduelbek | Herdy | Indonesia Kita | Indra KH | ItikKecil | iway | Jejakpena | Jennie S. Bev | Joesath | Joko Taroeb | Julee | Juli | Juliach | Junthit | Jurig | Kakilangit | Kang Adhi | Kang Kombor | Kangguru | kawaichu | Kenji | Kenzt | kikie | koecing | Kumala | Kurtubi | Kw | Laras | liezmaya | Lilik Suryanto | Lily | Linker | Lintang | Lita | Lita wp | Luthfi | MaIDeN | Majalah Dewa Dewi | Manusiasuper | Master Li | Mathematicse | macanang | mbojo | Mei | Micokelana | Mr. Geddoe | Mufti | mybenjeng | My-za | Nayla Zahra | Nayz | Ndarualqaz | Neeya | Neo Forty-Nine | Neri | Ninoy | Nieke | Nomercy | n0vri | NuDe | Om Sulis | omaigat | Ooyi | Paijo | Panca | Pandu | Panduan WP | Papabonbon | Passya | Peyek | Pinkina | Pitik | Pralangga | Prayogo | Priyadi | Qee | Raja iblis | RenjanaBiru | rivafauziah | Rivermaya | Roffi | roisZ | Rujak | Sagung | Sahrudin | Saiful Adi | SaRa | Siu | Sofi | Sora9n | Suandana | Suluh | Susiloharjo | Telmark | Thamrin | tiesmin | Triesti | Tukang Sate | Venus | Wadehel | Wahyuansyah | Wandira | Wiku | WongMangli | Wulan | Yati | Yudhipras |

:: :: :: :: :: :: :: :: ::

Kesehatan

:: Ady Wirawan :: Agus Mutamakin :: Anis Fuad :: Anis Fuad wp :: Asri Tadda :: Astri Pramarini :: Astri Pramarini (awal) :: Astri Pramarini wp :: Blog Mahasiswa FKU 2003 :: Blog Rumah Kanker :: Dani Iswara :: Dani Iswara weblog :: Dokter arek cilik :: drAnak :: drarifianto :: Dwi wp :: Elyas :: Erik Tapan :: Evy HealhtySmile :: FK Unsri :: Gies :: Gies wp :: Ginna :: Grapz :: Hendar Sunandar :: HIV News :: Huda Thoriq :: IDI Samarinda :: imcw :: Imran Nito :: Iwan Handoko :: Jhonrido :: klikharry :: Kobal :: Laksmi Nawasasi :: Mashuri :: Mave Mina :: Mbah Dipo :: Mina :: My Blogspot :: Nur Martono :: PKM Palaran :: Rara :: Rizma Adlia :: Rudy Kwang :: SenyumSehat :: Sibermedik :: SimkesUGM :: SuperKecil :: Titah :: Tito :: Tonang Ardyanto :: Tukangkomentar :: Wi :: Vina Revi :: Vina Multiply :: Yusuf Alam R :: zulharman79 ::

:: :: :: :: :: :: :: :: :: :: ::

Institusi Kesehatan

:: Depkes RI :: WHO :: WHO Indonesia :: … nyusul

:: :: :: :: :: :: :: :: ::

Kolaborasi

:: Emedicine :: ICD 10 Wikipedia :: ICD 10 Wiki Indonesia :: OSWD :: OpenWebDesign :: Pakistan Times :: Rubab :: ntar ::

Kategori

BlogTour

Arsip

Komunitas Blog

blog-indonesia.com

PAGE RANK

Powered by  MyPagerank.Net

Add to Technorati Favorites

[Valid RSS]

Health Blogs - Blog Top Sites

Health

Blogs Topsites - TOP.ORG

Health Blogs - Blog Rankings

Blog directory

TopOfBlogs

Top 10 Award

Feed Burner

cakmoki Blog

Bloggerian Top Hits

My BlogCatalog BlogRank

Site Meter

Since 30 Nov 07

PENGUNJUNG

  • 4,646,547 pengintip

Asal Usul

Pebruari 2011

free counters


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 550 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: