IPDN: Mengapa harus Bubar ?

Maaf, tulisan ini sangat terlambat, perlu mempelajari banyak hal untuk ikut menyuarakan hati nurani bersama-rekan-rekan blogger. Kendati awalnya merasa terwakili oleh teman-teman, akhirnya tak kuasa menahan gejolak untuk ikut menulisnya.

Tabligh Akbar IPDN: untuk apa?
Bak menyiram bara api dengan setetes air, tak guna. Itupun tidak menyentuh bara sesungguhnya, yakni “kekejaman sistematis”. Sebuah pendekatan religius tidak pada tempatnya. Apalagi kegiatan angin-anginan serupa pernah dilakukan dengan hasil hampa.

Ini bukan menyangkut oknum. Bukan hanya praja, bukan pula dosen. Lebih dari itu, menyangkut sebuah lembaga yang tersistem membentuk sebuah tiran.

Bayangkan, ada sebuah sel dalam lembaga pendidikan, lorong gelap (diduga salah satu tempat penyiksaan), klinik penderitaan, praja hilang tak terlacak, entah apa lagi catatan hitam di dalamnya.
Dan MAKAM TANPA NISAN.
Mungkinkah dalam makam tak bernisan tersebut terbujur praja lain seperti alm Cliff dan alm Wahyu ? Mungkinkah daftar panjang korban kekejaman melebihi dari tulisan Kang Kombor (46) ?
Dari sudut kesehatanpun, kekejaman di IPDN, menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan fisik, jiwa dan kesehatan sosial.
Tak pantas menunggu korban jatuh lagi.

Mengherankan, perintah Kepala Negara untuk mengusut tuntas persoalan di atas, ibarat membentur tembok.

Menimbang, mengingat, memperhatikan: segala kekejaman dan bentuk kebengisan lainnya, maka tiada kalimat yang lebih pantas selain solusi terbaik, yakni:

BUBARKAN IPDN !!!

SOLUSI TINDAK LANJUT:
Beberapa blogger (dan pihak lain) memberikan pemikiran alternatif bagi praja yang sedang dalam proses pendidikan, yakni:
Memindahkan praja ke Perguruan Tinggi yang memiliki Fakultas Ilmu Pemerintahan atau sejenisnya. Bolehlah biaya pendidikan ditanggung Negara, daripada membiarkan sebuah tiran tetap berdiri.
Cara inipun perlu diikuti dengan “reformulasi” kebiasaan pola pikir dan tindakan sebelumnya. Pun, perlu follow up: selama, setelah lulus dan setelah berada di lingkungan penyelenggara pemerintahan. Langkah ini bukan berarti menjadikan “mantan praja” sebagai pesakitan. Lebih sebagai bimbingan kerkelanjutan untuk menghindari terulangnya kebiasaan buruk dimanapun mereka ditempatkan bekerja kelak.

Kemungkinan-kemungkinan.
Ok, banyak blogger menyatakan Bubarkan IPDN dengan beragam alasan. Sayapun sependapat. Kita tidak boleh lupa, bahwa keputusan bukan di tangan kita. Untuk itu, kita perlu tetap mengikuti langkah-langkah yang akan diambil oleh pengambil keputusan berkenaan persoalan IPDN. Tentu kita berkewajiban mengkritisi dan berteriak lagi, jika pengambil keputusan hanya melakukan langkah tambal sulam.

Sekali lagi, masalah IPDN bukan persoalan kekejaman semata. IPDN adalah potret nyata sebuah Tiran, kekejian yang tersistem. Karenanya, tidaklah cukup hanya memindahkan atau menghukum pelaku kekejaman. Tidak cukup. Jika ada yang mengatakan praja dan para dosen sebagai korban, mungkin iya. Dan jika berpikiran seperti itu, solusi terbaik tetap sebuah kalimat:

BUBARKAN IPDN !!!

NB:
Salut kepada rekan-rekan yang telah menulis sebelumnya, dan maaf tidak menyertakan link saking banyaknya. πŸ˜€

Iklan

52 Responses to “IPDN: Mengapa harus Bubar ?”


  1. 1 Titah April 16, 2007 pukul 2:54 pm

    Saya tidak ingin ikut terburu-buru. Saya cukup senang membaca koran pagi ini: Pelaksana tugas Rektor IPDN Johanis Kaloh mencari bukti konkret untuk mengungkap terjadinya kekerasan antarpraja. Dia meminta dilakukan pemeriksaan fisik, tes urine, darah, dan rontgen terhadap seluruh praja.

    Kita support dan kita kawal yuk, tapi jangan keburu menjatuhkan vonis sebelum dilakukan pengusutan tuntas.

  2. 2 cakmoki April 16, 2007 pukul 3:59 pm

    @ Titah,
    Saya senang ada yang bersikap bijak, tidak buru-buru.
    Kita tidak pada posisi memvonis koq, semacam ungkapan sikap dan pendapat. Tentu keputusan akan dilakukan oleh para pengambil keputusan seperti tertulis pada item “kemungkinan-kemungkinan”, sambil melihat proses hukumnya.

    Adapun test lab, saya koq meragukan hasilnya, lantaran test tersebut tidak selalu menggambarkan akibat masa lalu. Misalnya, seseorang retak tulang iga setahun yang lalu, maka rontgen hari ini tidak dapat menemukannya.

    Ya, sayapun tertarik mengikuti proses pengungkapan seputar IPDN πŸ™‚

  3. 3 Yandhie Dono April 16, 2007 pukul 5:14 pm

    Menurut cerita dari seorang kawan yg lulusan IPDN, di sana itu ngga cuman yg masih berstatus praja penuntut ilmu yg gebug2in junior, bahkan yg udah jadi camat dan bupati pun pada sesi2 tertentu juga bisa ikutan memberi ‘pendidikan’ buat ‘adik’2nya.

    Yang jadi kekhawatiran saya tuh, kalau calon2 pemimpin institusi negara dan daerah dididiknya dengan jalan seperti ini, gimana yah nantinya kalau udah beneran jadi camat, bupati, etc… Budayanya, mentalnya, whih… tak terbayangkan.

    Itu dari sisi kekerasan ya, bagaimana dengan isu freesex, etc. etc.?

  4. 4 pitik April 16, 2007 pukul 5:15 pm

    setelah dibubarkan lalu apa?maaf cak Dokter…kayaknya kita harus memikirkan lebih jauh lagi tidak sekedar rektif..misalnya apa ada pengganti sekolah gratis setelah pembubaran IPDN ini?

  5. 5 faiq April 16, 2007 pukul 5:31 pm

    Pelaksana tugas Rektornya itu orang dalam atau dari luar, ya?? Kalau orang dalam saya tak yakin akan ‘fair’. Kalau tak salah Presiden sudah membentuk Tim pengusut (bukan untuk membuat tambah kusut,lho πŸ˜€ ) dari tokoh2 pilihan. Dan kalau memang benar terbukti ada hal2 yang tak semestinya dalam dunia pendidikan di IPDN, saya sepakat dengan pendapat cak dr. yaitu: “bubarkan IPDN, pindahkan praja ke Perguruan Tinggi yang memiliki Fakultas Ilmu Pemerintahan atau sejenisnya, dan biaya pendidikannya ditanggung Negara…”.

  6. 6 n0vri April 16, 2007 pukul 5:59 pm

    Saya belum ikutan nulis sendiri Cak, belum sempat. Tapi saya satu suara dengan teman-teman semua, bubarkan IPDN, one way or another.

    Kalo hanya dirombak hasilnya seperti cakmoki bilang; “tambal sulam”, ini sudah terbukti, berkali-kali ada yang mati, tapi perbaikan tak kunjung datang. Jadi cukup sudah nyawa dibuang sia-sia karena kebodohan yang dibungkus istilah pengasuhan dan disiplin yang salah kaprah.

    Semua harus satu suara, karena bangsa ini punya memori pendek. Gampang lupa. Kalo gak bubar sekarang, kita nanti lupa sampai ada yang mati lagi.

    Satu nyawa sudah terlalu mahal, maka bubarkan IPDN.

  7. 7 ..:X W O M A N:.. April 16, 2007 pukul 6:22 pm

    sama dengan # n0vri belum sempet posting juga…

    IPDN: Mengapa harus Bubar ?

    Karena sejak berstatus “Praja IPDN” mengajarkan kekerasan, memperlakukan junior dengan kekerasan, dan setelah lulus menjadi pejabat tak berperasaan!

    Bubarkan IPDN dan jangan ada lagi kekerasan dalam institusi pendidikan

    maaf cak, kalo urusannya sudah begini saya tidak bisa bicara dengan bijak!

  8. 8 grandiosa12 April 16, 2007 pukul 6:47 pm

    Sebaiknya gerakan ini jangan dibatasi untuk blogger, jika andaΒ² anggota milisΒ² besar, teruskan dan informasikan kepada mereka tentang perihal sikap kita untuk membubarkan IPDN. Saya sendiri menunggu format petisi yang digodok anto wadehel bu evy dkk..

  9. 9 mbah keman April 16, 2007 pukul 7:21 pm

    Jangan dibubarkan tapi, di non aktifkan saja, untuk waktu yang belum di tentukan,

  10. 10 venus April 16, 2007 pukul 7:55 pm

    cak, kalo petisinya udah jadi, jangan lupa ikut ‘tanda tangan’. tolong sebarkan ke komunitas sampeyan. mari kita mulai bergerak. saya jijik sejijik-jijiknya, eneng seeneg-enegnya, marah semarah-marahnya. kita gak boleh lagi diem nonton berita di tivi.

    @ mbah keman: kalo cuma non aktif dan ‘digantung’ gitu malah gak karuan, mbah. bubarkan, kemudian kembalikan sekian ribu praja itu ke daerah masing-masing. sekolahin di sana aja.

  11. 11 manusiasuper April 16, 2007 pukul 8:56 pm

    BOEBAR BOEBAR!! Komunitas Barbar kok dipertahankan…

  12. 12 junthit April 17, 2007 pukul 1:26 am

    wah..wah..sepertinya bakal ada demo besar2an neeh…

  13. 13 cakmoki April 17, 2007 pukul 1:51 am

    @ Yandhie Dono,
    iya pak, kekhawatiran kita sedikit banyak ada, hal ini bisa kita lihat dari kultur per-konco-an dalam hal jabatan pemerintahan. Jangan-jangan juga ada semacam “upeti” dari “adik” kepada “kakak”. Yang saya tahu, ikatannya luar biasa kuat. Jika dalam lingkaran tersebut ada yang slah, paling hanya mutasi dan masih memegang jabatan.
    Soal isu “freesex” ada info lebih detail nggak?

    @ pitik,
    iya betul, tawaran alternatif solusi selayaknya disertakan. Saya sendiri hanya punya 1 pemikiran seperti tertulis di “solusi” tindak lanjut. Bagaimanapun para praja sudah bersusah payah untuk masuk ke sana. Tidak radikal “bubar” saja, merekapun punya hak untuk melanjutkan pendidikan sesuai klausul awal, misalnya tanpa biaya dan klausul lain yang masih dalam batas kewajaran.
    Selain itu, kita juga mencoba realistis bahwa masih ada proses hukum dan ketetapan para pengambil keputusan. Boleh dikata gerakan ini semacam perjuangan, yang bisa berhasil dan bisa pula gagal.
    Ada idea lain? Monggo.

    @ faiq,
    Itulah yang kita tidak jelas pak. Memang sih, kalo tim tersebut dikomandani orang Depdagri patut dipertanyakan netralitasnya.
    Saya ngeri melihat tayangan senin pagi di sctv, apalagi setelah ada pengakuan keluarga praja yang lenyap tanpa penjelasan.
    Kalau para pengambil keputusan mau dan serius, rasanya tidak sulit mencarikan jalan keluar setelah dibubarkan.

    @ n0vri,
    Nggak harus memaksa diri kalau lagi sibuk Pak, toh sebuah pemikiran dalam bentuk komentar sama derajatnya dengan tulisan itu sendiri.
    Saya sependapat bahwa penundaan akan menambah tumpukan masalah yang makin rumit untuk diatasi, akhirnya lupa atau sengaja dilupakan.

    @ ..:X W O M A N:..,
    hahaha, sama. Makin banyak baca dan lihat informasi, adrenalin saya ikut terpacu. Masih dalam batas toleransi koq. Sayapun merasa tulisan di atas bisa dikategorikan “kurang bijak”, udah niat je.

    @ grandiosa12,
    ya, bisa kita kirim via email, ke channel TV dan media online lainnya. Termasuk ke situs lembaga negara. Moga Tim Perumus petisi dapat segera menyelesaikan tugasnya.

    @ mbah keman,
    Wah pakai istilah padanan sangat santun. Itu bahasa halus dari “bubar” ya Mbah ? πŸ˜€

    @ venus,
    Siaaappp Bu. *nyangklong ransel bawa bekal*

    @ manusiasuper,
    Siiip lah. Di TV koq belum ada ramai-ramai gerakan seperti ini ya.

  14. 14 cakmoki April 17, 2007 pukul 1:57 am

    @ junthit,
    Ramai pak, di berbagai media cetak dan elektronik menempatkan kekerasan IPDN sebagai berita utama dalam 1-2 minggu ini. Blogger demo lewat tulisan. Irit, nggak pakai transport dan konsumsi πŸ˜€

  15. 15 antobilang April 17, 2007 pukul 2:13 am

    Cakmoki, semoga dukungan blogger terhadap kemajuan bangsa melalui pemberangusan praktek kekerasan di dunia pendidikan akan menuai hasil positif.
    Biarkan komentar miring, komentar pesimis, menghujat apa yang kita serukan ini sebagai hal sia-sia atau hanya mau rame2an. Mereka itukan masih belum bisa berempati terhadap keluarga2 korban yang harus menanggung kehilangan nyawa akibat salah kaprahnya sistem kekerasan di IPDN.

    Siap tanda tangan Petisi Ya Cak?

  16. 16 cakmoki April 17, 2007 pukul 3:07 am

    @ antobilang,
    ya semoga. Pro kontra adalah hal yang biasa, kita tidak perlu membalas dengan hujatan. Saya juga yakin keluarga korban ada di pihak kita.
    Tanda tangan, siap dong.

  17. 17 Evy April 17, 2007 pukul 5:24 am

    ALhamdulillah, akhirnya aku nggak sendirian ada teman sejawat yang ikutan memahami keaadaan ini sudah tidak wajar lagi. Aku bener2 panas dan ga bisa wise lagi, waktu Baca hasil autopsy-nya cak, MasyaAllah… nangis aku cak, kita berjuang nyelametin anak orang kadang sampe ga tidur, disitu anak orang di gebukin sampe mati, sakit rasanya hati ini… udah gitu mereka melenggang kangkung dan tetep dapat jabatan seolah nothing happend dan dianggapnya semau itu bagian dari pembinaa OMG…

  18. 18 Biho April 17, 2007 pukul 8:35 am

    Bubarkan IPDN.

  19. 19 grandiosa12 April 17, 2007 pukul 9:45 am

    atas saya spammer.. wakakakaka

  20. 20 alief April 17, 2007 pukul 10:07 am

    setuju, kalo perlu setuju juta wis… POKOKE BUBARKAN IPDN.

  21. 21 Biho April 17, 2007 pukul 10:08 am

    Atas saya Spammer newbie… euekeuekeuekeueeeek

  22. 22 Biho April 17, 2007 pukul 10:09 am

    wah keduluan Alief… berarti atasnya Alief Spammer newbie… eukeukeukeukkk..

  23. 24 jokotaroeb April 17, 2007 pukul 11:37 am

    Udah bubarkan saja IPDN, kasian tu orangtua mereka yang jadi korban IPDN coba kalo itu terjadi pada anak mereka sendiri apa mereka akan diam saja!?

  24. 25 sibermedik April 17, 2007 pukul 12:58 pm

    Cak..ntar saya Posting…analisis kematian yang dapat terjadi dengan sistem pendidikan yg spt itu…tunggu ya???
    Sabar Boz!!!

    He..he..Sinichi Kudho tapi Dokter..Cie…???

  25. 26 chielicious April 17, 2007 pukul 1:01 pm

    Wah sya juga belom nulis tentang ini dah emang ga mau.. saya udah keburu muak dengan hal2 sperti ini,, Indonesia ga pernah belajar..

    Saya setuju klo ipdn di bubarkan tapi nasib para karyawan di sana bagaimana? banyak nasib orang di pertaruhkan ..pemerintah juga pasti mikirin sebab akibatnya..

    mudah2an pemerintah memberikan solusi yang adil dan tepat , meskipun saya meragukan..

    mudah2an juga kasus semacem ini ga kejadian lagi dimanapun..

  26. 27 siNung April 17, 2007 pukul 3:52 pm

    bagaimana cara mengokomodir keingingan praja mempunyai seragam
    bila ipdn dibubarkan ?

    ===
    Mantan Gubernur Praja Dino Ariez Fahrizal :

    “Anak SD hingga SMA saja punya seragam. Kami pun ingin punya seragam,”

    sumber http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_c&id=281086
    Jawapos, Berita Utama, Selasa, 17 Apr 2007, Hapus Emblem, Seragam Tetap
    ===

    πŸ™‚

  27. 29 cakmoki April 17, 2007 pukul 4:36 pm

    @ Evy,
    Sekitar 13 tahun yl, saya dan beberapa teman suka ngritik model-model “penyeragaman” pola pikir gaya IPDN, dapet hadiah “litsus” sampai 2 kali.
    Era seperti ini ternyata masih jua berjalan penantian “lonceng kematian” di IPDN. Saya juga gak habis pikir, orang berani bayar mahal bahkan ke luar negeri agar sembuh dari sakit, eh di IPDN yang sehat malah disakiti sampai meninggal dunia.

    @ Biho,
    Bravo *sambil mengepalkan tangan ala supporter*

    @ grandiosa12,
    Beliau yang di atas pak Roffi calon Bupati kutai Timur πŸ˜€

    @ alief,
    Ho-oh Cak

    @ Luthfi,
    Yel khas Kampus Biru. hahaha

    @ jokotaroeb,
    hi, gara-gara kasus IPDN jokotaroeb bermetamorfose jadi spiderman. hehehe. Bubarrr !!!

    @ sibermedik,
    Ya ditunggu. Aplikasi kedokteran Kehakiman nih. siiip

    @ chielicious,
    Nasib karyawan bukan persoalan bagi pemerintah, kembalikan ke habitatnya di Depdagri.
    Kalo solusi ala Pemerintah sih, prakiraan saya paling-paling “ganti baju” doang. Hasil akhir bisa tidak sesuai harapan, setidaknya kita udah ikut berupaya menuju perbaikan.

    @ siNung,
    Gaya sebagian pns emang gitu. Kebanggaan ada di baju dan emblem. Dibanding negeri lain, kemenangan penyelenggara negeri kita terletak pada emblem berjejer, bukan pada prestasi kerja.
    Seorang petinggi masih berkata normatif ya, substansi permasalahan malah dikaburkan.
    Apa bedanya tanda pangkat dengan tanpa tanda pangkat ? Wong letak masalahnya “kekejaman sistematis”
    Jika para praja ingin punya seragam, gampang aja, bikin sendiri. Atau pesan di Malioboro, lebih murah. hahaha

  28. 30 cakmoki April 17, 2007 pukul 5:01 pm

    @ juliach,
    Sayangnya kengerian tersebut cenderung dipertahankan penguasa negeri.
    Tambah ngeri !!!

  29. 31 Kang Kombor April 17, 2007 pukul 7:10 pm

    Agar kata kunci pembubaran IPDN menjadi kata kunci pavorit di Google, saya himbau kepada teman-teman blogger yang setuju IPDN dibubarkan agar membuat satu posting yang judul dan isi postingnya mengandung gabungan kata “bubarkan IPDN” atau “Pembubaran IPDN”. Usulan ini disampaikan oleh Antobilang.

    Silakan tulis di blog masing-masing cukup satu postingan saja, walaupun isinya hanya link ke Petisi Anak Bangsa (Tuntutan Pembubaran IPDN), ini akan membuat tuntutan ini semakin berkekuatan.

  30. 32 passya April 17, 2007 pukul 7:57 pm

    Bubarkan IPDN atau pengelola IPDN?

  31. 33 Fa April 17, 2007 pukul 8:02 pm

    wah, saya setuju (bahkan sedelapan, sesembilan dst) atas anjuran pembubaran IPDN, klo alasan saya sih ndak susah2, cuman karena lulusan IPDN sudah terbukti tidak bisa membawa perbaikan yg cukup berarti buat negara ini *maap klo ada lulusan IPDN yg merasa tersinggung* πŸ˜€

  32. 34 fertobhades April 17, 2007 pukul 9:34 pm

    Pak, saya berada di jalur yang berbeda. Tapi saya mendukung setiap usaha PERBAIKAN PENDIDIKAN di negeri ini. Seandainya perbaikan itu berujung pada pembubaran, mungkin itu jalan yang terbaik, walaupun dalam hati saya masih ada sedikit optimisme untuk “membangun dari reruntuhan”

  33. 35 cakmoki April 17, 2007 pukul 11:59 pm

    @ Kang Kombor,
    Oke Kang, sudah test di google, wuih … marak. Gak kepikiran bikin tautan ke media massa. Ntar kita update, agar masuk halaman pertama, soale di halaman pertama-hal 5 didominasi media.
    Maturnuwun.

    @ passya,
    Ciaatttt, siap pak.

    @ Fa,
    Aroma pembubaran makin kencang dimana-mana. Terkuak pula “praja-praja titipan” di IPDN. Media-media lokal juga tak kalah garang meneriakkan hal serupa. Entah mengapa para penguasa masih mbulet.

    @ fertobhades,
    Nggak masalah koq pak, yang beda kan cuman jalurnya saja. Substansinya sama yakni Perbaikan Pendidikan.
    Kalaupun ada diantara rekan-rekan berbeda dalam substansi, tidak mengurangi respek saya terhadap teman-teman.
    Tim yang ditunjuk untuk meneliti, rasanya belum memaparkan alternatif-alternatif jalan keluarnya. Bisa saja optimisme pak fertob menjadi pilihan, kita tidak tahu πŸ™‚

  34. 36 peyek April 18, 2007 pukul 10:06 am

    Setuju cak dengan analisa njenengan, lha pembubaran adalah solusi terbaik

  35. 37 ndarualqaz April 18, 2007 pukul 1:24 pm

    bubar – bubar – bubar – bubar – bubar – bubar – bubar – bubar – bubar – bubar – bubar – bubar

    weleh sampe capek saya nulis bubar hari ini.

    (melalui koment ini saya juga mau minta maaf buat semua teman, saya malah dapet untung dari moment IPDN ini, job bikin stiker anti IPDN dan pembubaran IPDN terus mangalir ke tempat kerja saya, sebenarnya saya merasa tak enak harus menari di atas penderitaan teman2 kita di IPDN, tapi apa boleh buat, dapur saya harus terus ngebul….)

  36. 38 tukangkomentar April 19, 2007 pukul 1:32 am

    Terus kalau sudah bubar bagaimana?
    Apakah yang semua yang bertanggung jawab akan di”tangani” secara hukum? Ataukah mereka “kebal”?
    Siapa sih yang bertanggung jawab?
    1. Menteri yang mengatasi sisten pendidikan ini: karena dia tidak mampu mengontrol dan menanggulangi masalah ini.
    2. Orang-orangnya sang menteri, yang mungkin ditugaskan untuk “mengawasi” lembaga-lembaga atau sekolah-sekolah semacam itu.
    3. Pimpinan dan guru sekolah yang bersangkutan, karena: tidak bisa mengatur murid-muridnya, tidak bisa mendidik mereka menjadi manusia (yang baik), tidak bisa/tidak mau mencegah dan/atau menangani kekerasan-kekerasan tersebut.
    4. Para jaksa dan hakim “terhormat” dan para petugas yang bertugas menyelidiki dan membongkar peristiwa-peristiwa tersebut. Mereka tidak mampu (atau mungkin juga tidak mau, tidak ada interes) untuk menangani hal ini. Apa sih arti jiwa seorang muda dari pelosok dan yang nggak punya backing? Kan seperti kambing saja bisa disembelih tanpa ada yang protes?
    5. Para pelaku.
    Dengan urutan seperti di atas.
    Jadi sesuai dengan pepatah: Ikan busuknya dari kepalanya (tambahan: penggorengannya tidak perlu dibuang, tetapi ikannya yang sudah busuk, kan?).
    Tapi, inilah Indonesia. “Setia kawan” atau tidak ada minat.
    Perbaikan pendidikan tidak akan tercapai dengan hanya menutup atau membubarkan sekolahnya, tetapi dasar dan urikulum serta pengawasan pendidikannya yang harus diperbaiki. Termasuk mendongkrak dan menghukum yang bertanggung jawab (dan memeberi ganti rugi keluarga yang ditinggalkan).

  37. 39 cakmoki April 19, 2007 pukul 11:07 am

    @ peyek,
    Boleh dikata “urun rembug”. Andai dipersempit konteksnya, bisa dianggap sebagai tawaran (bargaining) tertinggi, tidak sama dengan dagang sapi. Pra kiraan sih, pemerintah tidak berani mengambil langkah “bubar”, soalnya pelajaran selama ini kayak gitu. Cenderung tambal sulam seperti yang sudah-sudah dengan hasil “nihil” alias tanpa perbaikan.

    @ ndarualqaz,
    wah wah wah, kalo mas ndaru nggak cerita ini, saya nggak pernah mengira dampaknya sampai sejauh itu.
    Berarti nggak kalah dengan media elektonik, kecipratan tanpa sengaja. hahaha *royalti*

    @ tukangkomentar,
    haduhhh, ini sih bukan lagi komentar. Beruntung dapat tambahan analisa panjang.

    Memang sudah seperti “lingkaran setan” pak. Kita bisa bayangkan, dalam sebuah institusi “sempit” dengan persoalan sebesar itu, rasa-rasanya aroma “setia kawan” dan “tidak ada minat” untuk menyelesaikan masalah masih sangat kental. Sehingga langkah terbaik yang diharapkan, kemungkinan sulit menjadi kenyataan.

    Hingga tadi malam yang merupakan batas akhir tugas tim pelaksana pencari fakta, kita belum mendapatkan gambaran sedikitpun soal alternatif jalan keluarnya.

    So kita tunggu πŸ˜€

  38. 40 tofan hidayat April 19, 2007 pukul 7:44 pm

    IPDN menjadi seperti itu karena :
    1. Kultur militer yang terbangun karena mendagrinya dulu TNI AD dan rektornya juga TNI AD.Seragam IPDN harus diganti karena dengan seragam seperti itu, dalam cara berpikir mereka, mereka seolah-olah bukan bagian dari masyarakat di sekitarnya.
    2. masih ada waham kekuasaan pada sebagian besar masyarakat bahwa segala sesuatu yang berbau militer, baik uniform ,tingkah laku, cara bicara, dan sejenisnya itu,pasti ditakuti masyarakat, dianggap berwibawa, powerfull,rejekinya banyak dan sejenisnya, yang berefek kepada adanya perasaan sebagai warga negara kelas satu, berderajat tinggi, kasta “ksatria”,tingkat ekonomi agak di atas rata-rata dan menganggap masyarakat di luar itu sebagai kurang berkualitas, warga negara kelas dua, kasta “sudra” bahkan varia (maaf kepada saudara dari Bali, saya meminjam dulu terminologi ini), dan madesu ( masa depan suram).
    3. Adanya kultur feodalisme birokrasi yang bersalin wajah dari priyayi bangsawan/ningrat menjadi priyayi birokrat sipil dan militer, yang sayangnya agama-agama yang ada di negara kita tidak mampu mereduksi hal-hal seperti ini.
    4. Kultur ini, merupakan borok dan kanker yang mengakar dalam cara pikir mayoritas bangsa kita, yang terwujud dalam bentuk korupsi, orang ‘makan’ orang, jeruk makan jeruk, karakter assassination,
    yang sayangnya dalam periode penjajahan sampai kemerdekaan, orde lama, orde baru, bahkan sampai orde kabinet bersatu pun tidak bisa berkurang, malah makin mengakar.
    5. Bangsa kita hanya bisa diinsyafkan bila pemanasan global sudah terjadi maksimal, banyak pulau tenggelam, panen gagal, generasi muda
    banyak mati karena narkoba, flu burung merajalela di mana-mana, dan jawa timur tenggelam karena lumpur lapindo.

  39. 41 cakmoki April 20, 2007 pukul 3:01 am

    @ tofan hidayat,
    wah analisanya hebat nih, tinjauan lengkap dari berbagai aspek.
    Saya tak sanggup lagi menjawab komentar, saking lengkapnya.
    Ya, saya sependapat. Jujur saja, saya masih agak pesimis tentang keseriusan para pengambil keputusan untuk memperbaiki negeri ini tanpa harus menunggu akumulasi persoalan. Eh, padahal masalah sudah menumpuk ya. Trus kapan ada langkah nyata, soale mulai bosan disuguhi janji dan harapan kosong.
    Trims tambahan analisanya πŸ˜€

  40. 42 pannita April 20, 2007 pukul 1:37 pm

    Bubar? memang kalo bubar sudah bisa langsung selesai masalahnya cak ?
    IPDN adalah salah satu contoh dari jeleknya sebuah sistem di Indonesia. Penerapan sistem yang salah dalam sebuah komunitas akan memproduksi individu yang error …. input—> sistem salah —-> output error.

    Kalo bicara masalah sistem yang salah bukan hanya IPDN cak tetapi keseluruhan sistem yang sekarang lagi diterapkan oleh bangsa kita. Contoh sistem yang sangat basic sekali untuk bangsa kita adalah pendaftaran penduduk, banyak sekali orang2 yang punya ktp double atau bahkan triple. Padahal pendaftaran penduduk ini sangat berpengaruh terhadap stabilitas keamanan dan bahkan variable penting dalam pemilihan presiden.

    So… IPDN hanya sebuah contoh Institusi pendidikan yang menggunakan sistem yang salah dan fatal dan masih banyak puluhan intitusi pendidikan yang lain yang juga menggunakan sistem yang salah… memang sich masih belum fatal dan ketahuan, tapi apakah nanti kalo sudah ketahuan kita juga akan meminta semua intitusi itu untuk dibubarkan?

  41. 43 cakmoki April 21, 2007 pukul 12:25 am

    @ pannita,
    Saya sependapat tentang “buruknya sistem” yang sudah massif.
    Adapun permasalahan IPDN, jika mengacu pada kaidah input-sistem-proses-output-outcome, ada beberapa pemikiran dan pendapat terkait penanganannya. Setiap orang memiliki alasan dan analisa sebagai landasan solusi (pemecahan masalah). Kesempatan perubahan sistem bahkan nama sudah diberikan kepada institusi tersebut, dan gagal.

    Coba kita bandingkan dengan “dwifungsi” ABRI yang boleh dikata berhasil merubah secara internal dalam konteks “dwifungsi”.
    Apakah kesempatan self assessment akan diberikan “lagi” kepada IPDN, kita tidak tahu.

    Jika pembubaran bukan langkah bijak untuk menyelesaikan masalah, kira-kira langkah apa yang terbaik untuk memperbaikinya ?

  42. 44 starflake April 21, 2007 pukul 9:58 am

    IPDN = Institut Penganiayaan Dalamnya Ngeri…itu kata mas kelik pelipur lara…

  43. 45 cakmoki April 21, 2007 pukul 4:35 pm

    @ starflake,
    hehehe, makin banyak akronim ya

  44. 47 cakmoki April 26, 2007 pukul 2:51 am

    @ Fourtynine,
    hehehe, saya sudah baca minggu lalu postingan tersebut, cuman nggak komen. Isinya beraroma satire sih.
    Pemerintah nggak bakal mau membubarkan, denger-denger proyeknya gedhe πŸ˜€


  1. 1 Efek Video kekerasan IPDN, ciptakan Petisi Online « cK stuff Lacak balik pada April 17, 2007 pukul 9:29 pm
  2. 2 Aksi Pembubaran IPDN (Suatu Tinjauan Matematis) « manusia biasa Lacak balik pada April 18, 2007 pukul 5:16 pm
  3. 3 Asem Manis Hidup Disband IPDN!!! « Lacak balik pada April 19, 2007 pukul 12:16 pm
  4. 4 Alasan rasional dong!!! « SENYUM itu SEHAT Lacak balik pada April 20, 2007 pukul 2:29 pm
  5. 5 Dikotomi Senior Yunior « cakmoki Blog Lacak balik pada Agustus 10, 2007 pukul 6:41 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Wong ndeso β„’

cakmoki

Wordpress Indonesia

Silahkan baca

DISCLAIMER

web tracker

9 Desember 2009

SEMENTARA TUTUP

Maaf, sementara Blog istirahat hingga ada pemberitahuan

Harap maklum


MARI HENTIKAN KORUPSI

No Korupsi

Internet Sehat

Translator

Warga Bicara

» Makasih PLN, listrik Samarinda dah membaik, moga gak byar-pet

» Waspada Demam Berdarah

» Jangan Gunduli Palaran

» Banjir...banjir. Kapan masalah ini teratasi ?

INGA INGA INGA

» Nyeri Urat or Tulang BUKAN berarti Penyakit Asam Urat.

» Sekali lagi: Pegal, Linu Tidak Identik dengan Penyakit Asam Urat

TEMANs

9racehime | A. Fatih Syuhud | Aditiawan Chandra | A.Tajib | Agung UD | aLe | alief | alle | almascatie | Amd | Anak Peri | Anak Sultan | Anang | Anang YP | Anas | Andalas | Anggara | Anjaz | Anti Pungli | Antobilang | Anung87 | Aribowo | Arif Kurniawan | Arul | Astikirna | awan965 | axireaxi | Bambang alias HR | BatakNews | Blog Pokoke? | Biho | CalonOrangTenar | Cay | Chandra | Chielicious | chiw imudz | cK-chika | Dalamhati | Deden Nugraha | deedhoet | deKing | Desti Utami | Didats | doeytea | dnial | Edy C | Eep | Elpalimbani | erander | Evi | Fa | Fa wp | Faiq | Fertobhades | Fetro | Fortynine | Freddy | Gadis | Gaussac | Gitablu | Grandiosa | GuhPraset | GuM | Helgeduelbek | Herdy | Indonesia Kita | Indra KH | ItikKecil | iway | Jejakpena | Jennie S. Bev | Joesath | Joko Taroeb | Julee | Juli | Juliach | Junthit | Jurig | Kakilangit | Kang Adhi | Kang Kombor | Kangguru | kawaichu | Kenji | Kenzt | kikie | koecing | Kumala | Kurtubi | Kw | Laras | liezmaya | Lilik Suryanto | Lily | Linker | Lintang | Lita | Lita wp | Luthfi | MaIDeN | Majalah Dewa Dewi | Manusiasuper | Master Li | Mathematicse | macanang | mbojo | Mei | Micokelana | Mr. Geddoe | Mufti | mybenjeng | My-za | Nayla Zahra | Nayz | Ndarualqaz | Neeya | Neo Forty-Nine | Neri | Ninoy | Nieke | Nomercy | n0vri | NuDe | Om Sulis | omaigat | Ooyi | Paijo | Panca | Pandu | Panduan WP | Papabonbon | Passya | Peyek | Pinkina | Pitik | Pralangga | Prayogo | Priyadi | Qee | Raja iblis | RenjanaBiru | rivafauziah | Rivermaya | Roffi | roisZ | Rujak | Sagung | Sahrudin | Saiful Adi | SaRa | Siu | Sofi | Sora9n | Suandana | Suluh | Susiloharjo | Telmark | Thamrin | tiesmin | Triesti | Tukang Sate | Venus | Wadehel | Wahyuansyah | Wandira | Wiku | WongMangli | Wulan | Yati | Yudhipras |

:: :: :: :: :: :: :: :: ::

Kesehatan

:: Ady Wirawan :: Agus Mutamakin :: Anis Fuad :: Anis Fuad wp :: Asri Tadda :: Astri Pramarini :: Astri Pramarini (awal) :: Astri Pramarini wp :: Blog Mahasiswa FKU 2003 :: Blog Rumah Kanker :: Dani Iswara :: Dani Iswara weblog :: Dokter arek cilik :: drAnak :: drarifianto :: Dwi wp :: Elyas :: Erik Tapan :: Evy HealhtySmile :: FK Unsri :: Gies :: Gies wp :: Ginna :: Grapz :: Hendar Sunandar :: HIV News :: Huda Thoriq :: IDI Samarinda :: imcw :: Imran Nito :: Iwan Handoko :: Jhonrido :: klikharry :: Kobal :: Laksmi Nawasasi :: Mashuri :: Mave Mina :: Mbah Dipo :: Mina :: My Blogspot :: Nur Martono :: PKM Palaran :: Rara :: Rizma Adlia :: Rudy Kwang :: SenyumSehat :: Sibermedik :: SimkesUGM :: SuperKecil :: Titah :: Tito :: Tonang Ardyanto :: Tukangkomentar :: Wi :: Vina Revi :: Vina Multiply :: Yusuf Alam R :: zulharman79 ::

:: :: :: :: :: :: :: :: :: :: ::

Institusi Kesehatan

:: Depkes RI :: WHO :: WHO Indonesia :: … nyusul

:: :: :: :: :: :: :: :: ::

Kolaborasi

:: Emedicine :: ICD 10 Wikipedia :: ICD 10 Wiki Indonesia :: OSWD :: OpenWebDesign :: Pakistan Times :: Rubab :: ntar ::

Kategori

BlogTour

Arsip

Komunitas Blog

blog-indonesia.com

PAGE RANK

Powered by  MyPagerank.Net

Add to Technorati Favorites

Health Blogs - Blog Top Sites

Health

Blogs Topsites - TOP.ORG

Health Blogs - Blog Rankings

Blog directory

TopOfBlogs

Top 10 Award

Feed Burner

cakmoki Blog

Bloggerian Top Hits

My BlogCatalog BlogRank

Site Meter

Since 30 Nov 07

PENGUNJUNG

  • 5,368,637 pengintip

Asal Usul

Pebruari 2011

free counters

Translate


%d blogger menyukai ini: