Republik Mimpi terancam somasi, Blogger siap mengganti

Geregetan, terdorong ikut menulis perihal ancaman somasi atas sebuah kritikan (tayangan parodi Republik Mimpi) terhadap pengemban amanat rakyat yang bernama penguasa negara.

Ibarat sebuah Padepokan, sangat wajar jika seorang cantrik merasa gerah ketika ada seseorang atau padepokan lain melecehkan Sang Begawan sebagai pimpinan tertinggi di tempat si cantrik mengabdikan diri. Terlebih bila si cantrik adalah salah seorang tangan kanan Sang Begawan yang telah memberi kuasa kepada para “cantrik pilihan” untuk mengatur bidang yang diembannya.

Demikian halnya ketika sejak pekan lalu, media (dan blog) ramai memberitakan ancaman somasi terhadap parodi Republik Mimpi tayangan Metro TV.

Yang Dipertuan Menteri Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia sebagai salah satu tangan kanan (menteri) Presiden rupanya merasa gerah dengan tayangan Republik Mimpi yang jelas-jelas mengkritik berbagai ketimpangan Pemerintah. Gumpalan perasaan gerah akhirnya mendorong ego kekuasaan dan melanjutkannya dengan bentuk bahasa santun yakni SOMASI. Tak pelak, langkah pak Menteri menuai berbagai tanggapan, baik pro maupun kontra.
Wajar. Reaksi normal, biasa !!!

Pihak pro pemerintah mungkin mengusung masalah “ETIKA” (bahasa halus tersinggung?) dalam penyampaian kritikan, menganggap kritik murahan, menjatuhkan martabat dan sebagainya, sedang pihak pro Republik Mimpi (petang tadi berubah menjadi Kerajaan Mimpi *gak usah diganti ah, ntar gregetnya kurang*) mungkin mengusung semangat mengingatkan dalam konteks fungsi kontrol.
Itu hanya mungkin. Dalam hati siapa yang tahu ?
Belum hilang dari ingatan, (beberapa waktu lalu) juru bicara kepresidenan mengatakan dan dipertegas lagi oleh Presiden bahwa kritikan adalah obat sepanjang dalam koridor konstitusi.
Koq mendadak berubah ?
Apakah para cantrik tidak kompak ?
Ataukah sudah tidak tahan lagi mengendalikan gejolak kemarahan ?

KILAS BALIK
Ketika jaman orde baru banyak orang memilih diam ketimbang beresiko masuk bui, Gus Dur adalah salah seorang tokoh yang berani menertawakan kekuasaan dengan parodi diseling joke-joke segar.
Menjelang masa reformasi, Prof Amien Rais malah mengatakan bahwa negara sudah tidak layak dipimpin seorang kakek.
Bahkan minggu malam, Pak Amien Rais mewanti-wanti bahwa kekuasaan yang gemar main bredel, umur kekuasaannya tidak bakalan panjang.

PERBEDAAN POSISI
Kekuasaan pemerintah sekarang sudah sangat jelas didukung konstitusi karena dipilih rakyat secara sah.
Sedangkan Republik Mimpi boleh jadi oleh sebagian orang dianggap sebagai ekspresi suara rakyat, setidaknya oleh rakyat dan penggemar Republik Mimpi.
Perbedaannya terletak pada kepemilikan KEKUASAAN.
Penguasa jelas memiliki kuasa, sedang Republik Mimpi tidak memilikinya selain kekuasaan (kesempatan) menyuarakan ketimpangan tatalaksana pemerintahan.
Tak lebih.
Rakyat memilih seseorang menjadi presiden tentu bukan hanya mengantarkan seseorang duduk di kursi kekuasaan semata, namun menggantungkan harapan perbaikan di berbagai bidang. (sesuai janjinya saat kampanye)
Ini berarti para pengantar (rakyat), secara logika boleh mengingatkan seseorang yang diantarnya ketika terjadi ketimpangan dan tidak sesuai dengan harapan yang diamanatkan. Lebih-lebih sebelum diantar menuju kekuasaan, sang calon penguasa sudah berjanji mengadakan perubahan.
Kita mungkin bisa menyampaikan sindiran: perubahan menjadi baik atau menjadi tidak baik ? Perubahan juga kan ?
Janjinya sih “perubahan menjadi lebih baik”.

Nah, tatkala korupsi bagaikan tentakel gurita yang makin meluas menebar kesengsaraan, ditambah kepiluan rakyat kecil seperti harga beras naik, BBM melonjak, harga-harga kebutuhan pokok membumbung, sementara penguasa menawarkan “kenikmatan” kepada DPR sebagai “mitra” berupa PP No. 37 tahun 2006 dan kebijakan tidak populer lainnya, pantaskan penerima amanat rakyat bersama jajarannya dibiarkan ?

Terlepas dari pro kontra seputar SOMASI, rasanya sebagian blogger siap mengganti peran Republik Mimpi dalam menyuarakan ungkapan kritis terhadap segala bentuk ketidak beresan pemerintah.
Sekali lagi, Blogger siap mengganti.
Ehhh, sudah kritis ya ? Hehehe, gak ngerasa sih. Padahal segala bentuk banner kritis sudah terpasang.

Akankah pak Menteri men-somasi para blogger kritis ?
Akankah penguasa akan menggunakan kekuasaannya melalui wp untuk menghapus blog para pengkritik ?
Monggo !
Hahaha, jika itu terjadi, gampang aja. Back-up semua postingan, bikin akun baru, bikin blog baru, eksport-import postingan lama, kritik lagi. Kalau perlu lebih pedas.
Mudah kan ?

Bagaimana kalau blog baru ditutup juga ?
Gampang aja, bikin blog baru lagi, kritik lagi.
Tutup lagi, bikin lagi, tutup lagi bikin blog lagi.

M E R D E K A !!!

Iklan

41 Responses to “Republik Mimpi terancam somasi, Blogger siap mengganti”


  1. 1 grandiosa12 Maret 7, 2007 pukul 7:45 am

    Lebih setuju lagi bila kritik kita menyebabkan sesuatu yang nyata. jangan sampai mengendap menjadi omong kosong yang tak merubah apapun, walau memang saya (dan mungkin bapak juga) sadar bahwa perubahan itu tak bisa dinyatakan dalam sekejap.

    yang penting sih apapun bentuk blogs kritik, wordpress sarananya, apa betul? betuuuulll…

  2. 2 senyumsehat Maret 7, 2007 pukul 7:57 am

    M E R D E K A!!!! Berjuang terus, seperti pak Dirman, meski sakit tetap gerilya…Hidup Indonesia…darah pahlawan tertumpah jangan jadi bancaan segelintir manusia…

  3. 3 mei Maret 7, 2007 pukul 10:00 am

    mungkin cantrik itu tersungging karena merasa para pengkritik hanya bisa bicara, pun kalau mereka dalam posisi cantrik..jangan2 mereka juga akan melakukan hal yang sama…

    miris memang!!tapi sekarang aku lebih bersikap sinis terhadap para pengkritik2 itu*termasuk demo2 para mahasiswa*sekarang aja mereka demo2 yang mengganggu umum, tapi bgt mereka berada dalam posisi yang penting, mereka lupa akan apa ayng mereka demokan dan gembar gemborkan, karena sudah terlena dengan sogokan sana sini…

    wes aku milih dadi wong cilik sing mung iso ndonga semoga rego beras ra sampe koyok saiki cak..hehe

  4. 4 ndarualqaz Maret 7, 2007 pukul 10:56 am

    kritik memang penting, selama tukang kritik masih boleh beredar di negeri ini, saya masih yakin bahwa masih ada kesempatan untuk bangkit.

    dan memang kritik itu sakit didengar tapi lebih sakit jika kritik tidak didengar. tul gak. semoga indonesia bisa bangkit dan jadi negeri yang besar dan tangguh. amin

    lihat jugatoekang kritik

  5. 5 kangguru Maret 7, 2007 pukul 11:31 am

    Lebih bebas di republik Blog ya ngak ada yang somasi

  6. 6 siNung Maret 7, 2007 pukul 11:33 am

    berbagi link πŸ™‚

    1. Kamis , 01/02/2007 15:04 WIB
    Dua Blogger Malaysia Dituntut Karena Kritis
    Ardhi Suryadhi – detikInet

    http://www.detikinet.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/02/tgl/01/time/150451/idnews/737210/idkanal/399

    2. Kamis , 20/07/2006 10:29 WIB
    Di India, Situs Blog Diblok
    Annisa M Zakir – detikInet

    http://www.detikinet.com/index.php/detik.read/tahun/2006/bulan/07/tgl/20/time/102940/idnews/639705/idkanal/399

    kritik = keri yen di_itik-itik

  7. 7 prayogo Maret 7, 2007 pukul 11:42 am

    Kok aneh ya, orang tidak pernah mau di kritik. Seharusnya siapapun dia, entah pejabat atau orang biasa harus siap dengan yang namanya kritikan.

    Tip O’Niel (1994) pernah berkata: Kekuasaan itu memang lekat dengan kritikan.

  8. 8 siNung Maret 7, 2007 pukul 11:46 am

    cakmoki,
    sepertinya kalau akses pakai telkomnet instan,
    masuk mode termoderasi/tertahan oleh akisnet πŸ™‚

    sepertinya ada relevansi antara dunia maya &
    kehidupan nyata,
    kritik/masukan oleh pihak tertentu dapat dianggap
    spam yang menganggu,
    tapi kalau dilakukan oleh innercircle / trusted network
    akan dipertimbangkan (masuk akal atau untuk masuk tong :))

    rasa-rasanya …

    ada yang merasa di-spam oleh news dot com …

  9. 9 ndarualqaz Maret 7, 2007 pukul 12:04 pm

    prayogo : memang seperti itulah mas sunatulloh-nya, orang itu tidak senang dikritik, bahkan seorang toekang kritik pun apabila berada pada posisi yang terkitrik kadang tidak mampu menerimanya, bahkan sekedar otokritikpun (kritik terhadap diri sendiri) disangkal

  10. 10 rajaiblis Maret 7, 2007 pukul 3:13 pm

    tak ubahnya penganten baru …
    meski capek dan berkeringat …
    senyum tetap terkembang ketika darah pertama tertumpah …

    wakakkakakaaa …

  11. 11 xwoman Maret 7, 2007 pukul 4:04 pm

    Pantang mundur ya, blog baru ditutup, bikin lagi, tutup lagi, bikin blog lagi.
    Entahlah harus dengan bahasa apa lagi kita memberi kritik kepada mereka-mereka yang punya kekuasaan… kok dengan bahasa-bahasa kita sepertinya tidak pernah mengerti ya… *bingung*
    malah maen somasi, jangan2 bener lagi suatu hari kita-kita para blogger yang disomasi.

  12. 12 Kang Kombor Maret 7, 2007 pukul 4:04 pm

    Setuju Cak Dokter. Mangkane isi blog saya kadang ya kemritik seperti suara kritik digoreng. Ternyata Cak Dokter nulis tentang ancaman somasi Tuan Djalil juga. Sip deh, Cak! Mari kita puji yang pantas dipuji dan kritik yang pantas dikritik.

  13. 13 cakmoki Maret 7, 2007 pukul 4:33 pm

    @ grandiosa12,
    Kritik di dunia maya, berbuat untuk perbaikan di dunia nyata, gitu maksudnya ya Pak ? Betuuulll.

    @ senyumsehat,
    Merdeka juga !!! *sambil mengepalkan tangan dan ngetik*

    @ mei,
    Ho-oh, ada dulunya seneng demo pakai ikat kepala, begitu jadi DPRD perutnya jadi buncit, terus melempem.
    Iya Bu, saya juga milih jadi rakyat cilik, ngritik dan ndonga agar gemah ripah loh jinawi.

    @ ndarualqaz,
    Saya udah baca dan komen link: siklus Toekang Kritik.
    Be-Tuuul. Amin, semoga.

    @ kangguru,
    Soale yang mau somasi belum nge-Blog Pak Guru. hehehe

    @ prayogo,
    Mungkin sudah lupa pada Tips O’Niel Pak.
    Keseringan rapat je.

    @ siNung,
    Hahaha, saya suka dengan bahasa perumpamaan sampeyan itu. Yang gak ngerti sekalian gak ngerti. Tapi boleh ikut tertawa untuk menutupi ketidak mengertiannya. Sssst, petinggi innercircle kita ada yang ngerti spam gak ? *gak ngenyek*

    @ rajaiblis,
    Hahaha, ketahuan, rajaiblis suka ngintip, hayo ngaku …

  14. 14 Yandhie Dono Maret 7, 2007 pukul 5:13 pm

    Moga2 kita2 yg mengkritik juga ngga terjebak fenomena warung kopi ya. Dimana kritikannya ngga mengalir lebih jauh dari pinggiran meja, tanpa realisasi dan perbaikan dari diri sendiri juga.

    @rajaiblis: ga nyambung deeh..

  15. 15 cakmoki Maret 7, 2007 pukul 5:14 pm

    @ xwomen,
    Ya dong, maju teruuusss.
    Kalau somasi ke blooger terjadi betulan, mungkin kesulitan, kan kebanyakan pakai nickname.
    Kalau somasi saya dan temen-temen yang open face mungkin mudah, jrenggg … somasi.

    @ Kang Kombor,
    Hehehe, tergelitik ikutan nulis Kang.
    Kalau kritikan Kang Kombor sih enak, mau ngasih pilihan solusi, kurang apa hayo.
    Ya saya setuju, yang bagus kita puji, walau nggak bisa kasih reward setidaknya pujian bisa dianggap sebagai penghargaan. Nggih tho ?

  16. 16 cakmoki Maret 7, 2007 pukul 5:36 pm

    @ Yandhie Dono,
    Ya Pak, setuju. Kita tetap mengadakan perbaikan-perbaikan sesuai bidang dan kemampuan masing-masing sambil berbagi.
    Saya yakin jika dilakukan secara simultan dari hal-hal kecil sekalipun, lambat laun akan ada hasilnya juga. Sulit memang, tetapi upaya itu bukan tidak mungkin.

  17. 17 manusiasuper Maret 7, 2007 pukul 5:36 pm

    Kalo dari sisi lain, mungkin ada benarnya juga pak kritikan pak mentri itu..

    RM cuma mengolok-olok tanpa memberi solusi, itu mungkin kurang tepat jika diterapkan di negara yang sudah remuk redam ini. Beda dengan USA atau negara maju lainnya, mereka bisa mengritik apapun yang mereka anggap salah dari pemerintah, karena sakitnya negara mereak satu-satu, ga komplikasi borongan kaya kita sekarang.

    Tapi demi Tuhan, saya juga tidak setuju dengan rencana somasi republik mimpi ini. KENAPA PEMERINTAH TIDAK MENSOMASI INFOTAINMENT SAJA?? ATAU MENSOMASI SINETRON BOHONG BERBAU SETAN?? ATAU MENSOMASI MEDIA YANG SUKA MAIN KUTIP TANPA BUKTI??

    Masih banyak sebenarnya yang harus dilakukan, sebelum (kalo memang) niat menggugat acara RM tersebut…

  18. 18 helgeduelbek Maret 7, 2007 pukul 5:40 pm

    Kalau para blogger mah sepertinya gak bakal mati. bener2 mati 1 tumbuh lebih banyak lagi. BTW selama ini sudah ada khan yg diciduk? kalau gitu siap2 anomim saja yah. kalau perlu pakai hiden IP.

  19. 19 cakmoki Maret 7, 2007 pukul 6:15 pm

    @ siNung,
    Ooo itu tho maksute.
    Wis saya buka moderasinya.
    Maaf, saya baru tahu. Jadi kalau pakai telkomnet instan dimoderasi ya, apa bukan karena ada 2 link ? hehehe, ntar saya setting ulang.

    Trims, barusan baca berita itu. Alasan pihak pemblokir tak jauh dari keamanan, berita bohong dll, untuk menutupi alasan sebenarnya, yakni tergoresnya ego kekuasaan. Ciri khas negara “dunia ketiga”

    Saya pernah baca tips dan trik para pengkritik untuk mengindari kemungkinan pelacakan oleh pihak berwenang di buku blog. Tapi agak rumit, pakai setting proxy untuk meninggalkan jejak, ganti-ganti tempat online dll cara yang saya gak mudeng blas, ribet.
    Paling-paling seperti di detikinet: Site BLOCKED !!!
    Bikin lagi.

    @ manusiasuper,
    Mungkin gitu, belum terbiasa atau seperti yang Bapak sebutkan: sudah remuk redam atau hal lain.
    Kita bisa menarik pelajaran dari peristiwa ini (walau misalnya batal somasi) bahwa kritikan di negara kita hendaknya dibarengi pula dengan kiprah kita untuk senantiasa ikut memperbaiki diri seperti pesan pak Yandhie Dono, selain mengkritik dibuktikan pula dengan perbuatan nyata.

    @ helgeduelbek,
    Kalo di Indonesia saat ini rasanya tidak akan terjadi pencidukan Pak. Entah jika penguasa berubah menjadi tiran.
    Hahaha, pak guru nggak bisa ganti anonim lagi, wong sudah ada alamat plus identitas lengkap. Sayapun nggak akan anonim.
    Kalau saya sih biasa-biasa saja. Paling pol diciduk, tapi tidak semudah itu kan ? *ups koq jadi serius*

  20. 20 Lita Maret 8, 2007 pukul 12:01 am

    Kalau sudah menyangkut urusan hukum, tampaknya setiap kita akan lebih suka jika berada dalam jarak aman. Jikapun ada yang harus disuarakan, pilih/pertimbangkan cara dan sarana pendukungnya untuk mengantisipasi serangan dari pihak yang merasa dirugikan.

    Dulu, waktu ada yang ngomel-ngomel di blog saya, membawa-bawa perkumpulan tertentu, sempat ngeper juga. Akhirnya saya ‘mengalah’, setelah beberapa pertimbangan yang sudah didiskusikan serius dengan suami (sebagai partner).
    Toh tak harus kalah. Bagian tulisan yang ‘digugat’ saya ‘turunkan’ tempatnya di bagian komentar, sebagai tanggapan saya sendiri. Dan tetap bisa dinikmati oleh pembaca yang mampir. Kompromi.

    Setelah itu pula, saya jadi lebih hati-hati dalam menulis, plus bikin disclaimer segala. Penting lho itu. Bagaimanapun, teguran selalu penting supaya kita jadi lebih waspada. Sebelum kita sendiri menjadi bagian ‘sejarah yang harus dipelajari dan diambil hikmahnya’ oleh orang lain.

    Ups, maaf. Jadi numpang ndobos di sini nih, cak :p

  21. 21 cakmoki Maret 8, 2007 pukul 8:59 am

    @ Lita,
    Maturnuwun nasehatnya, Bu.
    Ya, saya faham. Alasan yang mendasari pertimbangan Bu Lita insya Allah bisa saya tangkap.
    Tulisanpun perlu pendingin ya, biar mesin nggak jebol dan awet πŸ™‚
    Saya harus akui bahwa tulisan saya cukup pedas, bahkan oleh teman-teman di jajaran institusi kami dikatakan “sangat pedas”.
    Kebiasaan saat masih mahasiswa terbawa.
    Jadi ingat, setiap akan presentasi atau menyampaikan apapun di dprd atau pemerintah kota, teman-teman wanita mengingatkan: “ojo nemen-nemen”. Suatu saat saya akan posting liku-liku “pergolakan” di kota kami. Sebagian sudah ditayangkan di blog ini.
    Walaupun demikian tetap berusaha seimbang, maksute saat pemkot, kelurahan, kecamatan dll memerlukan bantuan, siap (sudah dan akan) bantu sesuai kemampuan. Kritik tetep dong, gak bisa ngempet, biasanya saya selingi guyonan, biar gak terlalu perih. Hahaha
    Awal tahun 2001 istri memilih “berhenti” sebagai kepala puskesmas dan pns karena “ketidak cocokan” (bahasa halus). Alasan resmi dalam surat tidak ada, hanya menyatakan berhenti. Tahun berikutnya 2 orang sejawat mengikuti jejaknya, berhenti.

    Menurut Bu Lita, tulisan di blog ini masih dalam jarak aman nggak ?
    Sekali lagi terimakasih πŸ˜€

  22. 22 rajaiblis Maret 8, 2007 pukul 9:11 am

    ada yg berani mengkritik raja iblis gak ?

    wakkakakakaa …

  23. 23 cakmoki Maret 8, 2007 pukul 10:08 am

    @ rajaiblis,
    Bukan hanya kritik, malah hujatan. hahaha

  24. 24 rajaiblis Maret 8, 2007 pukul 11:03 am

    semakin banyak cacian, makian, hujatan …
    apakah itu bukan berarti tuhannya manusia hendak memuliakan derajad iblis ?

    wakkakkakaaa …

  25. 25 cakmoki Maret 8, 2007 pukul 12:51 pm

    @ rajaiblis,
    Enggak lah, yang memuliakan iblis kan manusia yang memang bersekutu dengan para iblis …

  26. 26 birulaut Maret 8, 2007 pukul 1:27 pm

    Selama ini ‘pemerintah’ tetangganya republik mimpi mungkin cuma mimpi aja pengen me-nyomasi. Tapi lama2 ga tahan juga, jadi kebawa ke kehidupan bukan mimpi deh. Mungkin di tengah2 bencana yg melanda Indonesia akhir2 ini, mereka merasa pas melontarkan somasi, biar konsentrasi para sesepuh republik mimpi ga terlalu konsen menanggapinya sehingga ya setuju aja dengan isi somasinya. ya ini dibuktikan dengan bergantinya kata republik menjadi kerajaan.

    Hmmm.. kok ya tega-teganyaaaaaa… ngasih somasi ke forum yg jelas2 membahas hal nyata cuma di alam mimpi mereka..
    Bukannya konsentrasi aja mikirin gimana caranya menangani pasca bencana alam dan menghindari bencana krn human error yg terus2an terjadi ini..
    Malah sibuk ngurusin rasa tersinggungnya karena dikritik..
    sampai kapaann bangsa kita ini bisa jadi dewasa..

    deudeuh teuiiiinggg….

  27. 27 deKing Maret 9, 2007 pukul 3:10 am

    Memang blog bisa menjadi alternatif pengganti, tetapi sayang ruang lingkup blog relatif sempit hanya untuk orang-orang yang bisa akses internet.
    Bagaimana kalau Indonesia seperti India ya? India kan sering buat film tentang korupsi yang dilakukan para aparat, pejabat bahkan sampai perdana menteri…
    *dulu sering menemani emak tercinta nonton film India πŸ˜€ *

  28. 28 cakmoki Maret 9, 2007 pukul 12:59 pm

    @ birulaut,
    Mungkin pak Menteri lagi kena sindroma menstruasi, jadinya mudah tersungging. Kalau masih suka tersinggung, sulit jadi dewasa.

    @ deKing,
    Film India sekarang masih gitu, menampilkan kritikan ketidakberesan pemerintah. Untuk layar lebar rasanya insan film kita belum ya?
    Betul juga tuh, nggak usah malu niru film India.

  29. 29 Evy Maret 9, 2007 pukul 1:48 pm

    Cak, yaopo caranya bikin baner cilik iku, aku njuk script-nya deh, ndik nggen ku kegeden , sorry OOT,ttg republik iku sakjane aku ga ngerti blas ga tahu nontok wong ga ketok seko kene mau protes langsung ngga ditanggepin…tapi mungkin cuman dg cara begitu rakyat terhibur, mau tanya langsung ngga diterimo..
    ya..salah satu penyalurannya yo.. dg parodi2 politik seperti itu..
    gitu aja kok repot (kata gus dur)..

    @ Evy
    Iki wis tak cilikno, mugo-mugo muncul script: (langsung copy paste wae)

    <p> <a href=”http://antobilang.wordpress.com/” target=”_blank”><img src=”http://img257.imageshack.us/img257/7744/7dokterdg4.jpg” height=”54″ width=”120″ border=”0″ alt=”dokter jangan pungli”></a>
    </p>

  30. 30 Dani Iswara Maret 9, 2007 pukul 8:56 pm

    saya tambahi ya cak..
    yg terakhir tambahi </a>
    dan tanda kutip disesuaikan dgn konversi masing2..

    aku yo ra tau nonton serius je.. 😦

  31. 31 joesatch Maret 9, 2007 pukul 10:40 pm

    hehehe, saya juga jadi takut. biodata saya lengkap banget di blog saya, soale, hehehehe

  32. 32 fertobhades Maret 9, 2007 pukul 11:43 pm

    Saya baru saja mengkritik Menhub soal kecelakaan transportasi di negeri ini. Kira-kira kena somasi nggak ya ?

  33. 33 cakmoki Maret 10, 2007 pukul 12:27 am

    @ Dani Iswara,
    Ah, iya Mas Dani, ada yang ketinggalan. Maturnuwun.
    aku yo jarang, kadang penasaran ruang sebelah rame ngakak πŸ™‚

    @ joesatch,
    Hiyyy, tulisan Mas joesatch “terlalu berani” untuk ukuran orang tertentu, apalagi yang menyentuh kerajaan rektorat itu. Mana identitasnya lengkap lagi. Kalau awal tahun 90-an, kira-kira sudah dipanggil, sekarang mau manggil mikir, takut dijadikan postingan, hahaha.

    @ fertobhades,
    Soal ketiadaan “Guilt Culture” terkait garuda terbakar, ihhh itu menusuk Pak, tapi kemasannya kan sudah diperhalus. Kalau “mengundurkan diri” diganti “hara kiri” gak kena somasi, tapi bisa-bisa postingan diintip terus pakai rss. hehehe

  34. 35 cakmoki Maret 10, 2007 pukul 6:29 pm

    @ Wi,
    Merdeka juga !!!
    Maaf saya salah nulis, vi hehehe. Ntar habis praktek diralat

  35. 36 chielicious Maret 12, 2007 pukul 11:50 am

    wah news dot com semalem nayangin cuplikan liputan acara ini di acara berita prancis..

    klo menurut saya sieh ..Endonesa memang ga siap di kritik..siapapun orangnya..mo pemerintah kek..mo tetangga kek..mo gimana caranya..pasti tersinggung..

    jadi inget omongannya gus pur.. ‘yang nonton acara ini kan dikit ,,ngapain pake di somasi?’ ..heheh..

  36. 37 cakmoki Maret 12, 2007 pukul 5:20 pm

    @ chielious,
    Saya kebagian sedikit, pas tayangan iputan Prancis.
    Sulit memang menerima kritik, apalagi kalau agak pedas.
    Because what, … karena apa, karena terasa perih hehehe

  37. 38 Dee Maret 14, 2007 pukul 10:52 am

    Kalau aku nggak akan pernah pake somasi, paling-paling pake so..misuh aja.

  38. 39 cakmoki Maret 14, 2007 pukul 12:28 pm

    @ Dee,
    so..misuh, supaya lebih nyamleng dan miroso πŸ˜€

  39. 40 Chandra Maret 25, 2007 pukul 3:53 pm

    Bagi yg di kritik sabarlah, klo memang langkah kita saat ini belum baik, kita perbaiki lah, masyarakat makin pintar kok,,,,,,,,, go Republik Mimpi,,,,, biar Indonesia gak Mimpi,,,,,,,,, trus,,,

  40. 41 cakmoki Maret 25, 2007 pukul 4:30 pm

    @ Chandra,
    Trims, ini dia penikmat SIK or simpus mulai unjuk gigi.
    ya, jangan sampai ikutan mimpi, mari berbuat.
    Nulis simpus yang banyak ya


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Wong ndeso β„’

cakmoki

Wordpress Indonesia

Silahkan baca

DISCLAIMER

web tracker

9 Desember 2009

SEMENTARA TUTUP

Maaf, sementara Blog istirahat hingga ada pemberitahuan

Harap maklum


MARI HENTIKAN KORUPSI

Jangan Korupsi Ah

No Korupsi

Internet Sehat

Warga Bicara

» Makasih PLN, listrik Samarinda dah membaik, moga gak byar-pet

» Waspada Demam Berdarah

» Jangan Gunduli Palaran

» Banjir...banjir. Kapan masalah ini teratasi ?

INGA INGA INGA

» Nyeri Urat or Tulang BUKAN berarti Penyakit Asam Urat.

» Sekali lagi: Pegal, Linu Tidak Identik dengan Penyakit Asam Urat

TEMANs

9racehime | A. Fatih Syuhud | Aditiawan Chandra | A.Tajib | Agung UD | aLe | alief | alle | almascatie | Amd | Anak Peri | Anak Sultan | Anang | Anang YP | Anas | Andalas | Anggara | Anjaz | Anti Pungli | Antobilang | Anung87 | Aribowo | Arif Kurniawan | Arul | Astikirna | awan965 | axireaxi | Bambang alias HR | BatakNews | Blog Pokoke? | Biho | CalonOrangTenar | Cay | Chandra | Chielicious | chiw imudz | cK-chika | Dalamhati | Deden Nugraha | deedhoet | deKing | Desti Utami | Didats | doeytea | dnial | Edy C | Eep | Elpalimbani | erander | Evi | Fa | Fa wp | Faiq | Fertobhades | Fetro | Fortynine | Freddy | Gadis | Gaussac | Gitablu | Grandiosa | GuhPraset | GuM | Helgeduelbek | Herdy | Indonesia Kita | Indra KH | ItikKecil | iway | Jejakpena | Jennie S. Bev | Joesath | Joko Taroeb | Julee | Juli | Juliach | Junthit | Jurig | Kakilangit | Kang Adhi | Kang Kombor | Kangguru | kawaichu | Kenji | Kenzt | kikie | koecing | Kumala | Kurtubi | Kw | Laras | liezmaya | Lilik Suryanto | Lily | Linker | Lintang | Lita | Lita wp | Luthfi | MaIDeN | Majalah Dewa Dewi | Manusiasuper | Master Li | Mathematicse | macanang | mbojo | Mei | Micokelana | Mr. Geddoe | Mufti | mybenjeng | My-za | Nayla Zahra | Nayz | Ndarualqaz | Neeya | Neo Forty-Nine | Neri | Ninoy | Nieke | Nomercy | n0vri | NuDe | Om Sulis | omaigat | Ooyi | Paijo | Panca | Pandu | Panduan WP | Papabonbon | Passya | Peyek | Pinkina | Pitik | Pralangga | Prayogo | Priyadi | Qee | Raja iblis | RenjanaBiru | rivafauziah | Rivermaya | Roffi | roisZ | Rujak | Sagung | Sahrudin | Saiful Adi | SaRa | Siu | Sofi | Sora9n | Suandana | Suluh | Susiloharjo | Telmark | Thamrin | tiesmin | Triesti | Tukang Sate | Venus | Wadehel | Wahyuansyah | Wandira | Wiku | WongMangli | Wulan | Yati | Yudhipras |

:: :: :: :: :: :: :: :: ::

Kesehatan

:: Ady Wirawan :: Agus Mutamakin :: Anis Fuad :: Anis Fuad wp :: Asri Tadda :: Astri Pramarini :: Astri Pramarini (awal) :: Astri Pramarini wp :: Blog Mahasiswa FKU 2003 :: Blog Rumah Kanker :: Dani Iswara :: Dani Iswara weblog :: Dokter arek cilik :: drAnak :: drarifianto :: Dwi wp :: Elyas :: Erik Tapan :: Evy HealhtySmile :: FK Unsri :: Gies :: Gies wp :: Ginna :: Grapz :: Hendar Sunandar :: HIV News :: Huda Thoriq :: IDI Samarinda :: imcw :: Imran Nito :: Iwan Handoko :: Jhonrido :: klikharry :: Kobal :: Laksmi Nawasasi :: Mashuri :: Mave Mina :: Mbah Dipo :: Mina :: My Blogspot :: Nur Martono :: PKM Palaran :: Rara :: Rizma Adlia :: Rudy Kwang :: SenyumSehat :: Sibermedik :: SimkesUGM :: SuperKecil :: Titah :: Tito :: Tonang Ardyanto :: Tukangkomentar :: Wi :: Vina Revi :: Vina Multiply :: Yusuf Alam R :: zulharman79 ::

:: :: :: :: :: :: :: :: :: :: ::

Institusi Kesehatan

:: Depkes RI :: WHO :: WHO Indonesia :: … nyusul

:: :: :: :: :: :: :: :: ::

Kolaborasi

:: Emedicine :: ICD 10 Wikipedia :: ICD 10 Wiki Indonesia :: OSWD :: OpenWebDesign :: Pakistan Times :: Rubab :: ntar ::

Kategori

BlogTour

Arsip

Komunitas Blog

blog-indonesia.com

PAGE RANK

Powered by  MyPagerank.Net

Add to Technorati Favorites

[Valid RSS]

Health Blogs - Blog Top Sites

Health

Blogs Topsites - TOP.ORG

Health Blogs - Blog Rankings

Blog directory

TopOfBlogs

Top 10 Award

Feed Burner

cakmoki Blog

Bloggerian Top Hits

My BlogCatalog BlogRank

Site Meter

Since 30 Nov 07

PENGUNJUNG

  • 5,303,309 pengintip

Asal Usul

Pebruari 2011

free counters


%d blogger menyukai ini: