Anggaran Haji Depkes, aduhai !!!

Kamis, 1 Maret 2007

Berita koran: Biaya KESEHATAN HAJI menggelembung Rp106 Milyar.
Masih menurut berita, ceritanya begini:

Sebenarnya alokasi anggaran Kesehatan Haji berdasarkan APBN sebesar 60 Milyar rupiah. Nah tahun ini DPR RI merekomendasikan anggaran melalui Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA). Bimsalabim, maka Depkespun memunculkan angka Rp 106 Milyar. Fantastik. Kayak kucing dikasih pindang. Sikaattttt !!!
Salah seorang anggota DPR mengatakan: ” … saya beranggapan Depkes adalah sarang penyamun yang memperalat jama’ah haji “.

Huahaha, belum tahu dia.

Jika semua berita di atas benar, penulis tidak terkejut. Habis sudah sumpah serapah, hanya memenuhi postingan saja. Itulah wajah Depkes yang sebenarnya. Itulah perilaku beberapa penghuni Gedung di Rasuna Said yang selama ini hobi banget bikin bermacam program. Tak lebih dan tak kurang, program-program yang berubah-ubah ibarat kedok untuk menggerogoti uang rakyat. Yang ngomong menggerogoti bukan penulis lho, tuh anggota DPR RI. Benar tidaknya silahkan bertanya kepada anggota DPR yang ngomong itu dan kepada petinggi Depkes. Jangan tanya penulis.
Barangkali beliau-beliau itu “ngidam” dipanggil KPK.
Barangkali Depkes ingin naik kelas dalam peringkat departemen terkorup menurut TII, dari peringkat 10 mengejar medali.
Barangkali mau nyusul kolega SISKOHAT mantan Menag yang jadi terpidana.

Berikut anggaran sebenarnya:

  • Obat-obatan: Rp 10,1 M
  • Alat Kesehatan-Test Kehamilan: Rp 3,3 M
  • Vaksin Meningitis: Rp 19,8 M
  • Pengobatan dan Perawatan Jamaah Haji di 12 Embarkasi: Rp 1,2 M
  • Cadangan Obat-obaran: Rp 1,0 M
  • Tiket 964 dokter/paramedis: Rp 11,5 M
  • Insentif 964 dokter/paramedis: Rp 6,7 M
  • Pelayanan Kesehatan 138 orang: Rp 1,9 M
  • Ambulance di Arab Saudi: Rp 1,5 M

Bahwa selama ini posting penulis sangat pedas, bukannya tanpa alasan. Menilik terungkapnya permainan anggaran jamaah haji, posting sebelumnya seolah hanya penegasan belaka.
Itu baru anggaran haji lho, belum imunisasi, obat program, alat kesehatan, dll.
Bahwa sebelum ini penulis mengungkap otak-atik anggaran di jajaran Dinas Kesehatan Daerah tingkat I dan II, maka tulisan tersebut benar adanya lantaran Depkes sudah sukses memberi contoh nyata berupa tutorial penggelembungan anggaran kesehatan haji.
Padahal penulis merencanakan membuat posting “permainan” pemeriksaan haji di Dinkes tingkat II menjelang musim haji yang akan datang. Seru juga tapi jangan sekarang. Momennya kurang sip.

Halo Depkes, hai !!! Bisa mbledhosss tuh gelembungnya.
Bagaimana mungkin bisa mencapai Indonesia Sehat 2010, kalau diawali dengan gelembung-gelembung kebohongan.
Nonsens. Impossible !!!

Ayo dong, sadar sadaaarrr !!!

Iklan

21 Responses to “Anggaran Haji Depkes, aduhai !!!”


  1. 1 Pandu Maret 2, 2007 pukul 7:53 am

    Memang semakin banyak hal yang dilakukan oleh mereka-mereka itu tidak masuk akal. Apakah akal mereka sudah hilang. Kok saya jadi tambah muak yah. Pingin misuh-misuh ning kok gak ada guna. Apakah bener kantor pemerintah kita sekarang jadi sarang penyamun. Edan tenan.

  2. 2 Yandhie Dono Maret 2, 2007 pukul 10:27 am

    Memang orang kalo udah punya AKSES tuh suka jadi “lupa diri” ya (dengan sadar melupakan akal moralnya)… Ngga banyak lho orang2 yang udah punya akses dan kesempatan buat berbuat korup bisa menahan diri buat ngga melakukannya. Ngga cuman di Indonesia kok, Nigeria tuh yang sampe pemerintahannya digelari “sistem korupsi terinstitusi” oleh PBB aja dengan tenangnya masih korup2 aja seolah2 ngga ada yang tau, lha wong sesuai konstitusi kok, katanya, ngga melanggar konstitusi dan hukum kok, dalihnya. Di sana 70% anggaran pemerintahan masuk kantong pribadi. Lha Indonesia ya gejala2nya juga mirip tho ya? Moga2 jangan sampe deh separah itu…

    Mangkanya nih saya salut sama orang2 macam Cak Moki yang tetep “lurus” walau bisa dan ada kesempatan kalo mau untuk korup.

    Bingung ngga sih, orang2 di pemerintahan dan departemen2nya, udah dicerca, dicela, dibeberkan borok2nya, masih aja korup. Sebegitu besarnya daya tarik harta duniawi.

    Kalo dah gini, gimana mau mikirin kesehatan masyarakat? Hilangnya warisan budaya? Perburuan liar? Illegal logging? Kepunahan spesies2? Global warming? HAYAH NGELANTUR!! Hehehe… mungkin ini namanya collective consciousness menuju bunuh diri (pelan2) ya? Mumet Cak, kadang2 obatnya cuman apathy, boleh ga?

  3. 3 xwoman Maret 2, 2007 pukul 11:33 am

    Kalo sedikit-demi sedikit kecurangan mereka terbongkar, truss merekanya ‘keukeuh’ pada pendirian untuk tetap “nipu”… suruh aja ganti profesi jadi tukang sulap!!!

    .:Yandhie Dono:.
    Kok commentnya hampir sama panjang dengan postingannya sih, hahaha…

  4. 4 mei Maret 2, 2007 pukul 1:19 pm

    ck ck ck, ternyata…cak, orang yang berprofesi dokter itu khan harusnya orang yang sabar, suka menolong, jujur yo cak???bukannya dalam sumpah “palapa” dulu begitu adanya??kmana itu perginya??

  5. 5 prayogo Maret 2, 2007 pukul 3:01 pm

    Sepertinya negeri kita ini sudah bobrok di semua lini, hampir semua sudah terjangkiti virus yang namanya KKN. Semua orang sudah tidak punya rasa malu, semua orang sudah tidak peduli dengan sekelilingnya.

    Anggaran segitu besarnya, padahal kenyataan di lapangan…
    sungguh jauh panggang dari api….

    Saya hanya bisa mengurut dada, tanda keperihatinan saya…..

  6. 6 ndarualqaz Maret 2, 2007 pukul 3:03 pm

    kayak gak tau aja pak, emang gitu pak kerjan petinggi kita, suka bikin gelembung. kalo mereka bikin istilah pengembangan kesehatan masyarakat, yang mereka maksud tu pengembangan kesehatan kantong mereka. kan menurut mereka, mereka itu juga masyarakat.

  7. 7 cakmoki Maret 2, 2007 pukul 3:58 pm

    @ Pandu,
    Saking pinternya, yang tidak masuk akalpun “dimasuk-masukkan” akal.
    Saya juga ingin mengatakan: uedan tenan !!!

    @ Yandhie Dono,
    Haah ? Masa sih kita mau diseret kearah sana, 70 % itu kan guedhe banget, mana terkonstitusi lagi, berarti tahu-sama-tahu, mungkin janjian gitu ya. Heran juga kalau tidak ada perasaan bersalah sedikitpun.

    Mudah-mudahan kita tidak termasuk golongan “itu”.
    Saya punya temen dekat di depkes, orangnya baik, sederhana.
    Punya jabatan tapi biasa-biasa saja dan gejala-gejalanya bakal tersingkir (disingkirkan?).

    Koq apathy sih, bukan ah. Komennya halus, mirip tusukan pedang pelan-pelan menembus jantung. Hebat jugak cara ngritiknya 🙂
    Mereka itu kroso nggak yo ?

    @ xwomen,
    Tukang sulap ? Kalau uangnya disulap : abrakadabra terus jadi bebek gimana ? Nggak jadi ketangkap. Hehehe
    Mudah-mudahan jadi malu terus sadar ya *sambil menadahkan tangan*

    @ mei,
    Saya juga gak tahu, padahal katanya puinter-puinter Bu.
    Diantara teman ada guyonan, yang genah katanya tinggal 25 %. Ini guyonan lho. Kalau ternyata betul, jan melas tenan

    @ prayogo,
    Sama, bertahun-tahun sudah mengurut dada, prihatin. Sekarang geregeten Pak.

    @ ndarualqaz,
    Ooooo begitu yah bahasanya. Supaya kelihatan membela masyarakat, gitu?
    Tahu juga sih, maksudnya bisa menduga, pura-pura kaget Mas.

  8. 8 grandiosa12 Maret 2, 2007 pukul 7:15 pm

    kapan sadarnya mereka?.. cuma bisa ikut kwesel.. beuh…

  9. 9 mina Maret 2, 2007 pukul 7:17 pm

    wah, kalo ngomongin depkes, saya bisa berbusa2 😀

  10. 10 tukangkomentar Maret 2, 2007 pukul 7:41 pm

    Ada nggak anggaran kesehatan untuk yang mau ke Vatikan atau ke Lourdes?
    Atau untuk yang mau ziarah ke sungai Gangga?
    Maaf rekan-rekan yang muslim: bukankah naik haji itu urusan pribadi? Ataukah sudah tercantum dalam UUD?
    Ataukah semuanya ini rekaan dari orang-orang tertentu saja supaya mereka bisa dapat penghasilan tambahan?

  11. 11 antobilang Maret 2, 2007 pukul 11:09 pm

    weh…pak (cakmoki), saya sudah buatkan banner DOKTER jangan PUNGLI e, lha kalo kayak gini berarti perlu saya ganti DEPKES jangan KORUPSI?

    emang kelakuan para birokrat kita itu masih kayak gitu, malu2in bener.

  12. 12 Dani Iswara Maret 3, 2007 pukul 12:47 am

    aduh kapan nggenahnya yah..
    apa ya pikiran dan nurani bisa tenang kayak gitu itu.. 😦

  13. 13 senyumsehat Maret 3, 2007 pukul 9:08 am

    Astaghfirullah…no comment pak…cuman pingin nangis aja…:(

  14. 14 cakmoki Maret 3, 2007 pukul 6:30 pm

    @ grandiosa12,
    Sadar ?
    Dengan ini menyataken bahwa mereka-mereka tukang gelembung itu mengambil uang rakyat dengan sesadar-sadarnya. (?!?!?!)
    Hal-hal yang menyangkut pertanggung jawaban akan diatur dengan cara serapi-rapinya dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya serta dalam jumlah yang sebesar-besarnya. Duuuhhh

    @ mina,
    Tulis aja Mbak. Sepanjang-panjangnya, biar khalayak tahu bahwa demikianlah adanya. Dan bahwasanya kita kecipratan sumpah serapah tersebab (pernah) menjadi bagian depkes, anggap aja bonus.

    @ tukangkomentar,
    Hehehe, logikanya harus ada juga ya. Kayaknya perlu diangkat. Seru!
    Soal UUD saya tidak tahu Pak.
    Kalau di tingkat II sepengetahuan saya, tatalaksana pemeriksaan dll diatur oleh Surat Keputusan Kepala Daerah. *mohon dibetulin bagi yang ngerti*
    Nah, di situpun banyak akal-akalannya. Pendeknya mbulet dan berakhir dengan pembengkaan pungutan-pungutan (ini akan saya posting menjelang musim haji)

    @ antobilang,
    Ya siip, perlu tuh asal nggak merepotkan Mas Anto.
    Saya yakin tidak semua birokrat begitu, tapi mungkin sudah menjamur dan saya tidak bisa memberikan proporsinya. Memang malu-maluin. Sangat memalukan dan tidak tahu malu.

    @ Dani Iswara,
    Nggenahnya nunggu orang-orang seperti Mas Dani jadi Mentri 🙂
    Tapi biasanya nggak dipilih karena dianggap ngrusuhi, dianggap mengganggu “ketenangan” menggelembungkan anggaran

    @ senyumsehat,
    Iki saputangane Mbak, cupcupcup air matanya dihapus ya

  15. 15 grapz Maret 3, 2007 pukul 11:12 pm

    iya tuh cak, DEPKES emang gudangnya korupsi. dari laporan Puskesmas sampe ke Anggaran Haji. Apalagi sekarang ada Anggaran baru untuk program dokter keluarga, makin deh…

  16. 16 cakmoki Maret 4, 2007 pukul 10:14 am

    @ grapz,
    Sudah lama tuh dokter keluarga didengungkan, akhirnya jadi program (proyek) juga ya.
    Saya tidak pernah setuju program dokter keluarga, karena:
    Pertama:
    Memperlakukan pasien sebagai obyek yang bisa diatur seenaknya. Ini kan sudut pandang dokter, bukan sudut pandang pasien sebagai pengguna jasa pelayanan. Pasien tidak pernah dimintai pendapat. Pasien itu BUKAN “kaplingan”

    Kedua:
    Pasien punya hak untuk memilih dokternya sesuai keinginan.
    Di tempat kami, pasien memiliki tempat berobat sesuai keinginannya, bisa ke bidan ke mantri atau ke dokter. Misalnya pasien sudah biasa dan cocok berobat ke mantri, depkes dan dokter tidak memiliki hak untuk merebutnya, ya kan ?
    Demikian pula jika sudah cocok berobat ke dokter tertentu, walaupun belasan kilometer akan ditempuh.

    Saya sejak dulu sudah curiga, ujungnya “projecy oriented”.
    Tapi banyak yang setuju lho, saya tetap menghargai yang setuju sekaligus tetap saya kritik. Hehehe

  17. 17 manusiasuper Maret 4, 2007 pukul 11:21 am

    CAKMOKI FOR HEALTH MINISTER!!

    Ada yang mau bikin banner??

  18. 18 cakmoki Maret 4, 2007 pukul 11:23 am

    Hehehe, health minister : ndeso, ndesit, kecepit.

  19. 19 deKing Maret 4, 2007 pukul 10:29 pm

    Serius tidak bisa kasih komentar…
    cuma bisa menggelengkan kepala…trenyuh dengan keadaan mental orang Indonesia

  20. 20 cakmoki Maret 5, 2007 pukul 1:41 pm

    @ deKing,
    Menggelengkan kepala dan trenyuh, … bukankah ini sebuah komentar ?
    Jangan malu ah, hehehe


  1. 1 si blogger semakin diperhitungkan « [roffi’s blog] Lacak balik pada Maret 3, 2007 pukul 7:37 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Wong ndeso ™

cakmoki

Wordpress Indonesia

Silahkan baca

DISCLAIMER

web tracker

9 Desember 2009

SEMENTARA TUTUP

Maaf, sementara Blog istirahat hingga ada pemberitahuan

Harap maklum


MARI HENTIKAN KORUPSI

No Korupsi

Internet Sehat

Translator

Warga Bicara

» Makasih PLN, listrik Samarinda dah membaik, moga gak byar-pet

» Waspada Demam Berdarah

» Jangan Gunduli Palaran

» Banjir...banjir. Kapan masalah ini teratasi ?

INGA INGA INGA

» Nyeri Urat or Tulang BUKAN berarti Penyakit Asam Urat.

» Sekali lagi: Pegal, Linu Tidak Identik dengan Penyakit Asam Urat

TEMANs

9racehime | A. Fatih Syuhud | Aditiawan Chandra | A.Tajib | Agung UD | aLe | alief | alle | almascatie | Amd | Anak Peri | Anak Sultan | Anang | Anang YP | Anas | Andalas | Anggara | Anjaz | Anti Pungli | Antobilang | Anung87 | Aribowo | Arif Kurniawan | Arul | Astikirna | awan965 | axireaxi | Bambang alias HR | BatakNews | Blog Pokoke? | Biho | CalonOrangTenar | Cay | Chandra | Chielicious | chiw imudz | cK-chika | Dalamhati | Deden Nugraha | deedhoet | deKing | Desti Utami | Didats | doeytea | dnial | Edy C | Eep | Elpalimbani | erander | Evi | Fa | Fa wp | Faiq | Fertobhades | Fetro | Fortynine | Freddy | Gadis | Gaussac | Gitablu | Grandiosa | GuhPraset | GuM | Helgeduelbek | Herdy | Indonesia Kita | Indra KH | ItikKecil | iway | Jejakpena | Jennie S. Bev | Joesath | Joko Taroeb | Julee | Juli | Juliach | Junthit | Jurig | Kakilangit | Kang Adhi | Kang Kombor | Kangguru | kawaichu | Kenji | Kenzt | kikie | koecing | Kumala | Kurtubi | Kw | Laras | liezmaya | Lilik Suryanto | Lily | Linker | Lintang | Lita | Lita wp | Luthfi | MaIDeN | Majalah Dewa Dewi | Manusiasuper | Master Li | Mathematicse | macanang | mbojo | Mei | Micokelana | Mr. Geddoe | Mufti | mybenjeng | My-za | Nayla Zahra | Nayz | Ndarualqaz | Neeya | Neo Forty-Nine | Neri | Ninoy | Nieke | Nomercy | n0vri | NuDe | Om Sulis | omaigat | Ooyi | Paijo | Panca | Pandu | Panduan WP | Papabonbon | Passya | Peyek | Pinkina | Pitik | Pralangga | Prayogo | Priyadi | Qee | Raja iblis | RenjanaBiru | rivafauziah | Rivermaya | Roffi | roisZ | Rujak | Sagung | Sahrudin | Saiful Adi | SaRa | Siu | Sofi | Sora9n | Suandana | Suluh | Susiloharjo | Telmark | Thamrin | tiesmin | Triesti | Tukang Sate | Venus | Wadehel | Wahyuansyah | Wandira | Wiku | WongMangli | Wulan | Yati | Yudhipras |

:: :: :: :: :: :: :: :: ::

Kesehatan

:: Ady Wirawan :: Agus Mutamakin :: Anis Fuad :: Anis Fuad wp :: Asri Tadda :: Astri Pramarini :: Astri Pramarini (awal) :: Astri Pramarini wp :: Blog Mahasiswa FKU 2003 :: Blog Rumah Kanker :: Dani Iswara :: Dani Iswara weblog :: Dokter arek cilik :: drAnak :: drarifianto :: Dwi wp :: Elyas :: Erik Tapan :: Evy HealhtySmile :: FK Unsri :: Gies :: Gies wp :: Ginna :: Grapz :: Hendar Sunandar :: HIV News :: Huda Thoriq :: IDI Samarinda :: imcw :: Imran Nito :: Iwan Handoko :: Jhonrido :: klikharry :: Kobal :: Laksmi Nawasasi :: Mashuri :: Mave Mina :: Mbah Dipo :: Mina :: My Blogspot :: Nur Martono :: PKM Palaran :: Rara :: Rizma Adlia :: Rudy Kwang :: SenyumSehat :: Sibermedik :: SimkesUGM :: SuperKecil :: Titah :: Tito :: Tonang Ardyanto :: Tukangkomentar :: Wi :: Vina Revi :: Vina Multiply :: Yusuf Alam R :: zulharman79 ::

:: :: :: :: :: :: :: :: :: :: ::

Institusi Kesehatan

:: Depkes RI :: WHO :: WHO Indonesia :: … nyusul

:: :: :: :: :: :: :: :: ::

Kolaborasi

:: Emedicine :: ICD 10 Wikipedia :: ICD 10 Wiki Indonesia :: OSWD :: OpenWebDesign :: Pakistan Times :: Rubab :: ntar ::

Kategori

BlogTour

Arsip

Komunitas Blog

blog-indonesia.com

PAGE RANK

Powered by  MyPagerank.Net

Add to Technorati Favorites

Health Blogs - Blog Top Sites

Health

Blogs Topsites - TOP.ORG

Health Blogs - Blog Rankings

Blog directory

TopOfBlogs

Top 10 Award

Feed Burner

cakmoki Blog

Bloggerian Top Hits

My BlogCatalog BlogRank

Site Meter

Since 30 Nov 07

PENGUNJUNG

  • 5,368,637 pengintip

Asal Usul

Pebruari 2011

free counters

Translate


%d blogger menyukai ini: