Sinetron dokter TIDAK mendidik

Saatnya membela diri

Maaf, pembaca boleh menganggap tulisan ini sebagai upaya membela diri, namun penulis merasa punya hak untuk meluruskan penggambaran dokter dalam adegan sinetron stasiun tivi yang menurut penulis menyesatkan.
Jika sebelumnya penulis banyak menyoroti tingkah polah sebagian “sejawat” dan kebodohan diri sendiri berangkat dari banyaknya keluhan seputar layanan kesehatan dengan maksud bersama-sama memperbaikinya, maka kali ini penulis perlu menyampaikan uneg-uneg lantaran pencitraan dokter yang keliru dalam tayangan sinetron.

MENJUAL DOKTER

Beberapa waktu lalu Bu Lita mengeluhkan tayangan sinetron bodoh dalam posting Merkurius Nyasar. Beliau (Bu Lita) menyentil kesalahan konyol penyebutan nama zat kimia dan adegan memegang planet.
Penulis baru tahu ternyata penggambaran dokter konyolpun tak luput dari bahan jualan tayangan tivi bernama sinetron.
Di tengah geliat penilaian terhadap sebagian dokter yang materialis, eksklusif serba mahal, mewah dan sejenisnya, muncul pula bumbu penyedap yang dicekokkan kepada masyarakat (penikmat sinetron) secara bersambung, penggambaran dokter yang amat sangat konyol.
Adegan pencitraan dokter mirip germo, pen-diagnosa-an ngawur dan adegan konyol seputar dunia medis secara serampangan dijejalkan kepada pemirsa tivi layaknya berita rutin.
Masyarakat di negeri ini memliki tingkat pendidikan dan nalar beragam, bahkan sebagian besar diantaranya masih berada di pedesaan. Mungkin pula sebagian warga memandang sebuah sinetron sebagai sebuah kebenaran. Bisa jadi sebagian pemirsa “sangat percaya” kepada adegan sinetron.
Apa jadinya ?

MENANAM BENIH KEBOHONGAN

Penulis bukanlah seorang peramal, bukan pula seorang yang “ngerti sakdurunge winarah” (mengerti peristiwa sebelum terjadi). Namun secara nalar kita paham bahwa menanam benih kebohongan akan menuai buah sekitar kebohongan.
Bisa dibayangkan jika dokter yang (seharusnya) diplot sebagai manusia berbudi luhur, bekerja sungguh-sungguh untuk masyarakat, memiliki niat baik, memiliki integritas sosial, tiba-tiba muncul dalam tayangan sinetron bak sosok berhati iblis dan konyol.
Boleh jadi ada penyimpangan, seorang dokter berperilaku tidak sesuai harapan, tetapi tidak dapat mewakili semua dokter.
Bisa jadi seorang dokter salah mendiagnosa, namun tidak serta merta menggambarkan semua dokter.
Bisa jadi biaya dokter sangat mahal, tetapi tidak semua dokter mahal.

RATING DAN DUIT

Tayangan sinetron yang laris boleh jadi mengundang pemasang iklan. Artinya, duit bakal berdatangan. Rating makin meningkat, makin berjibunlah tumpukan uang. Sinetron makin terkenal, pemirsa makin penasaran, makin ditunggu kehadirannya.
Jika kekonyolan gambaran dokter makin dipercaya banyak orang, maka makin banyaklah kebodohan ditanamkan. Hasilnya bisa diduga. Stasiun tivi yang mengusung kebebasan kreasi, kebebasan bersuara, kebebasan berekspresi dan jargon ideal lainnya, tak lebih sebuah industri yang memelihara borok dan menularkannya kepada banyak (ribuan atau jutaan?) orang. Tidak mungkin kan, tayangan sinetron hanya ditonton produser, sutradara dan pemerannya ?
Bagaimana tuh kualitas stasiun tivi ?
Derajatnya tak lebih baik dari dokter yang ndableg.
Sungguh tidak proporsional, dengan kata lain tidak profesional.
Penulis mengakui, sebagian dokter bisa jadi berperilaku tidak pantas, materialistis, mewah dan sejenisnya. Kendati demikian, tidak sepantasnya stasiun tivi memanfaatkan kekonyolan hanya untuk meraih rating dan uang.
Mestinya para pelaku sinetron mengadakan kajian ke lapangan secara adil dan proporsional. Atau meminta pendapat ahli dengan menghubungi Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI).
Penulis yakin PB IDI cukup terbuka dan tidak menutup mata jika pihak pembuat sinetron berniat mengangkat tema tentang dokter yang tidak ideal.

A J A K A N

Mari membangun bangsa ini dengan cara dan informasi yang benar. Bahwa memang ada yang salah di belantara medis, bersama-sama kita bisa memperbaikinya, ketimbang eksploitasi kebohongan dengan tujuan mencari uang semata.Penulis maklum, stasiun tivi dan jaringannya juga perlu makan, monggo mencarinya dengan cara elegan.

Kepada PB IDI, mohon kiranya melayangkan surat keberatan kepada pihak stasiun tivi yang menayangkan sinetron dengan penggambaran dokter konyol.
Penulis menghimbau kepada stasiun tivi, jika ingin menayangkan sosok kehidupan dokter, gambarkanlah apa adanya. Pencitraan yang keliru hanya akan memperburuk carut marutnya sendi-sendi kehidupan bangsa ini.
Coba bayangkan ketika seorang dokter baru lantas ditugaskan di tengah masyarakat dengan otak dipenuhi penggambaran dokter yang sangat keliru, betapa makin sulitnya tantangan yang harus dihadapi.
Jangan sampai terulang pengalaman penulis, hanya karena ingin menolong orang sakit dengan menyusuri jalan setapak, sesampai di tempat malah dicegat parang.
Setuju ?

Semoga tulisan ini menggugah semua pihak untuk bersama-sama memperbaiki pencitraan negeri tercinta, Indonesia. *halahhh, gak usah terlalu serius*

Iklan

55 Responses to “Sinetron dokter TIDAK mendidik”


  1. 1 prayogo Februari 28, 2007 pukul 3:45 pm

    Saya mendukung sekali Cak, memang saya lihat di beberapa sinetron seorang dokter tidak mencerminkan bahwa dia dokter. Bahkan di sinetron itu dokter lebih banyak urusan pribadinya dari pada pengabdiannya kepada masyarakat.

    Saya orang yang tidak pernah suka dengan yang namanya sinetron, apapun itu.
    Beda dengan film yang ceritanya kisah nyata, atau sebuah legenda, kalau yang ini saya masih mau nonton.

    Dokter harus dikembalikan kepada fungsi yang sebenarnya. Yakni mengabdi kepada masyarakat, bangsa dan negara. Demi terciptanya Banga yang sehat secara jasmani dan rohani.

    Hidup Dokter…..

  2. 2 kangguru Februari 28, 2007 pukul 3:55 pm

    Setuju pak Dokter, malah nambah list lagi sinetron yang ngambil tempat di sekolah juga, ngak mendidik banget

  3. 3 xwoman Februari 28, 2007 pukul 3:57 pm

    aseli cak, dicegat parang ??? huhuhu takut sekali… korban sinetron kali yang nyegatnya! iya kalo diliat sinetron sekarang memang banyak ga mendidiknya, harus ada pembenaran tuh πŸ˜‰
    Kalo cak mau maju, aku siap mendukung dari belakang πŸ˜€

  4. 4 Dee Februari 28, 2007 pukul 4:10 pm

    Nyaris tidak ada sinetron yang mendidik. Kasihan betul profesi yang ditampilkan di sinetron. Guru, dokter, satpam, pak RT, polisi, ustad, mendadak menjadi sosok bodoh yang tidak layak diteladani. Maaf, saya nggak punya data atau contoh riilnya, karena saya sudah muak nonton sinetron, bahkan saya “melarang” istri anak saya nonton sinetron gombal bin ra mutu tersebut. Mending nonton Nickelodeon…

  5. 5 cakmoki Februari 28, 2007 pukul 5:02 pm

    @ prayogo,
    Saya kepingin sok nasionalis sekali-sekali mencintai sinetron sendiri, nggak tahunya, walah, gimana gitu.
    Herannya banyak penggemarnya juga Pak. Berbeda di blog ya, walaupun bayar pulsa, saya merasakan banyak dapat ilmu.
    Terimakasih tambahan semangat untuk mengabdi.
    Btw, nulis di blog bisa disebut mengabdi kecil-kecilan nggak ? Hahaha *becanda*

    @ kangguru,
    ya itulah Pak, sedih, dunia pendidikan malah dipakai lahan permainan dalam sinetron, bikin anak didik jadi males dan berani melawan guru.
    Mungkin waktu sekolah dulu produsernya ndableg, nggak mikir akibatnya 😦

    @ xwomen,
    Aseli mbak, tahun ke 2 ketika bertugas. Maklum saja saat itu masih setengah hutan, penduduk masih sedikit. Bukan dampak sinetron sih, wong ketika itu jarang tivi, hanya karena belum biasa dengan kesehatan. Sereeem.
    Sekarang dah agak modern koq, buktinya bisa ikut ngeblog.
    Iya, maju terus, terimaksih didorong, jangan keras-keras ndorongnya ya, ntar saya nyungsep πŸ˜€

    @ Dee,
    Inggih Pak, hobi saya nonton bal-balan. Ndilalah kersaning remote, mijet sinetron Indonesia tercinta yang ra mutu. Maka menulislah postingan ini, hahaha.
    Maturnuwun.

  6. 6 helgeduelbek Februari 28, 2007 pukul 9:05 pm

    Nasibnya memang mirip dengan profesi guru yang sering dilecehkan lewat sinetron, dasar gemblung yang bikin.

  7. 7 Lita Februari 28, 2007 pukul 9:21 pm

    Kalau semua profesi bisa mengajukan tuntutan resmi seperti yang cak Moki usulkan, sinetron isinya apa ya? πŸ˜€

  8. 8 kikie Februari 28, 2007 pukul 9:25 pm

    terakhir nonton sinetron … kelas 5 SD dulu. kalau dengar dari banyak kawan sih memang sinetron sekarang tidak mendidik. meskipun tidak pernah nonton sinetron, tapi aku lumayan sering tidak sengaja mendengar adegan2 sinetron di tv yang ada di depan kamar kostku. aduh, dialognya … cara berbicara tokoh2nya … kasar ajah. pantes yah banyak anak sekolah sekarang cara berbicaranya “hebat”.

    ada nggak ya sinetron yang mendidik πŸ˜€

  9. 9 manusiasuper Februari 28, 2007 pukul 10:09 pm

    Terkadang, memang masih ada beberapa stereotif negatif terhadap dokter pak, seperti perpanjangan kapitalisme kesehatan dan sebagainya..

    Tapi semua pekerjaan memiliki stereotif negatif itu kan? Dokter, perawat, guru, PNS, wartawan, POLISI, sopir angkot, presiden, mentri, POLISI, anggota DPR…

    Semua punya, hanya saja, bagaimana kita membuktikan bahwa stereotif itu adalah salah…

  10. 10 cakmoki Februari 28, 2007 pukul 11:58 pm

    @ helgeduelbek,
    Tuh kan, berarti tidak terlalu salah saya menilai sinetron Indo.
    Di tempat kami istilah gemblung sering dipakai Pak, artinya kalau tidak salah : g*b**k Hehehe, bahasa transmigran Jawa Timuran

    @ Lita,
    Haduhh, langsung diterjemahkan menuntut, saya jadi malu.
    mmm, gimana kalau sinetron tentang dunia blog ? Masuk profesi gak sih.
    Misalnya, “Balada seorang Blogger” … *halah*

    @ kikie,
    Berarti saya betul-betul tersesat nonton sinetron ya. hahaha
    Sinetron mendidik belum pernah dengar, mungkin ada tapi gak laku.
    Saya pernah nguping sekumpulan penggemar sinetron membicarakan judul-judul sinetron, wah seru, seperti diskusi di tivi. Judulnya juga heboh Mbak, coba sekali-sekali nonton, tapi kalo kesal jangan nimpuk saya πŸ˜€

    @ manusiasuper,

    Semua punya, hanya saja, bagaimana kita membuktikan bahwa stereotif itu adalah salah…

    Cara membuktikannya adalah: “bekerjalah dengan benar sesuai bidang masing-masing”.
    Begitu kan Pak ?
    Bahasanya itu lho, halus banget πŸ™‚

  11. 11 Evy Maret 1, 2007 pukul 1:14 am

    mustinya bikin film dokumenter aja ya cak, mereka ga tahu perjuangan kita di IDT, naik boat di mahakam,tinggal sendirian di sebelah puskesmas, berpisah sm keluarga cuman bawa bayi 3 bulan, nolong ngelahirin di atas rumah perahu, malem2 di bangunin melerai orang berantem trus njahit kaki hampir putus gara2 di bacok, operasi bakti sosial di pelosok2 Indonesia…, ga tidur semalemam operasi di OK emergency…, nepokin nyamuk di awal2 praktek, keliling sekolah2 di desa, ngerjain UKGS dan posyandu…yg spt itu ga pernah di ekspos di TV, so sad…:(

  12. 12 antobilang Maret 1, 2007 pukul 2:04 am

    sinetron sekarang ga ada lagi misi yang mau dibawa, kecuali rating dan uang.

    ayo para pembuat sinetron, bikin sinetron yang tokoh utamanya Cakmoki!
    *nanti saya ikut nimbrung beken yah*

  13. 13 cakmoki Maret 1, 2007 pukul 2:14 am

    @ Evy,
    hik, melas, ngenes, nelongso, eh keliru ding: “pengabdian”, biar agak gagah dikit lah.
    Kalau toh pura-pura serius, gak bakal jadi Mbak. Hal ini disebabkan oleh berbagai kendala, antara lain:

    Pertama:
    Produser tidak ada yang mau karena selain tidak menguntungkan, sutradara dan kru takut gak bisa mandi, takut suara binatang malam, takut kena malaria, takut melihat darah aseli, opomaneh yo, pokoke banyaklah.

    Kedua:
    Jikalau mendatangkan Mbak Evy sebagai pemeran utama, berarti perlu biaya pulang pergi dari US ke kaltim bagian ndeso. Biaya membengkak.

    Ketiga:
    Kalau memakai bintang sinetron nanti jadinya lucu. Bayangkan saja ketika adegan njahit luka menganga, pemeran sinetron yang mestinya njahit luka dengan tenang, malah kelihatan kudu muntah. Iya kalo hanya muntah, lha kalo semaput kan tambah lucu, jadinya bukan dokter nolong pasien tapi dokter digotong pasien. Belum lagi adegan visum mayat tenggelam 7 hari, uletnya jalan-jalan: uget-uget-uget, sedaaap πŸ˜€

    Mengingat dst, menimbang dst, … setelah memahami kendala teknis di lapangan, maka dengan ini, pihak produser:
    MEMUTUSKAN
    ora sido, alias batal.
    Maka dibuatlah sinetron-sinetronan, aneh gak apa yang penting laku.
    *halah, koyok SK*

  14. 14 cakmoki Maret 1, 2007 pukul 2:29 am

    @ antobilang,
    Mari kita mengkhayal.
    Pura-puranya ada yang bikin sinetron. Tapi tak pikir-pikir gak bisa jadi, sebaaabbb: saya ga bisa pakai jas putih, selain gatel gak pantes.
    Sehubungan kalo ke lapangan senang pakai jaket dan topi, lebih cocok kalo diwakili Mas antobilang sebagai pemeran utama, jadi saya bisa numpang keren. Hahaha

    OOT
    Maaf Mas, bannernya langsung saya jumput. Siiip

  15. 15 Dani Iswara Maret 1, 2007 pukul 4:10 am

    dah gak pernah nonton sinetron.. πŸ˜€

    pemerannya mungkin krg eksplorasi ya..
    ato sutradaranya krg pas ngarahinnya..
    biasanya kan ada penasehat/semacamnya yg bersangkutan dgn profesi yg dilakoni..

    salahnya mrk, gak tanya cakmoki dl sih.. πŸ˜€

  16. 16 alle Maret 1, 2007 pukul 6:51 am

    sorry agak OOT (banget!) πŸ™‚
    Klo dokter doyan ngiklan gimana tuh Pak? saya pernah denger rubrik kesehatan di salah satu radio, ada dokter yang selalu bawa2 beberapa produk kesehatan,.. jadi seperti salesman gt

  17. 17 Yusuf Alam Romadhon Maret 1, 2007 pukul 12:13 pm

    Iya… sinetron kalo nampilkan sosok dokter dan kerjanya sering WAGU, terlalu overacting, terlalu memaksakan, tidak PAS… sering geli dan malu sendiri..
    belum lagi masalah konteks cerita… RA MUTU BLAS…

  18. 18 Kang Kombor Maret 1, 2007 pukul 1:24 pm

    Akhirnya Cak Moko nulis juga soal sinetron. Emang nggak mutu kan sinetron kita? BTW, ternyata lembaga rating yang ada di Indonesia ini (menurut sentilan News Dot Com) hanya ada satu di Indonesia dan TIDAK PERNAH DIAUDIT. Artinya, rating yang dipublikasikan oleh pe-rating tersebut belum tentu dapat dipertanggungjawabkan. Bisa saja toh, pe-rating tersebut dibayari oleh Multivision Plus agar semua sinetron tidak bermutunya mendapat rating tinggi.

  19. 19 mrtajib Maret 1, 2007 pukul 2:27 pm

    sinetron dkter tidak mendidik, apa ada sinetron lain yang mendidik pak? Sinetron agama, khususnya?

  20. 20 mei Maret 1, 2007 pukul 3:20 pm

    huhu..berhubung aku masih agak suka nonton sinetron..ya ndak berani ngomong apa2 to cak, hehe…sekarang lagi suka nonton Intan, dan ada tokoh yang namanya rado, dia DM gt cak..ngganteng pisan jee…kelingan masa sekolah yang pernah naksir DM pas aku lagi praktek neng puskesmas desa..huhu*halah malah ra mutu komene..ngapurane cak.=)

  21. 21 cakmoki Maret 1, 2007 pukul 6:29 pm

    @ Dani Iswara,
    Para senior membicarakannya di majalah “dokter kita”, ceritanya beliau-beliau menyayangkan sinetron tersebut. Kalau tanya ke kita-kita bisa tambah runyam sinetronnya πŸ˜€

    @ alle,
    Ya gak boleh Mas. Kalau ganti profesi yang tidak bersangkut paut dengan profesi dokter mungkin boleh, misalnya beralih profesi di dunia real estate, yang diiklankan rumah. Ada juga yang kerja di pabrik farmasi, nah yang beginian memang jadi bias, apakah si dokter sebagai peneliti ataukah sebagai alat pemasaran. Kalau yang ini dibahas mungkin bisa seru.

    @ Yusuf Alam Romadhon,
    Berarti sama-sama kesasar nonton yang RA MUTU BLAS ya. Hahaha ada temennya.

    @ Kang Kombor,
    Hehehe, habis baca tulisan Bu Lita dan Kang Kombor tempo hari, saya penasaran juga. Apa iya sih gak mutu, ternyata bener Kang.
    Multivision itu kerajaan PH ya ? *halah pertanyaan ndesit*

    @ mrtajib,
    Saya tidak tahu Gus, setiap mijet remote banyak sinetron, mungkin ada cuman saya gak kober lihat.
    Sinetron Agama? Wah itu kan keahlian Gus Tajib. Sering sih orang ngomongkan, judulnya lupa-lupa ingat. Rahasia Ilahi ? Mak Lampir ? Apa ada yang bagus Pak ?

    @ mei,
    iya saya sepintas lihat iklannya, DM yang megang jarum trus diselentiki itu tho.
    Koq sempet naksir DM nang ndeso emange praktek apa ?

  22. 22 Ady Maret 1, 2007 pukul 6:35 pm

    Tapi kalo sinetron luar banyak yang bagus loh..
    misalnya The Hospital(sinetron Korea) pernah diputar Indosiar itu kayaknya lumayan rasional… terutama kisah cinta antar dokter, dokter dengan suster, etc… hehehe
    DOKTER… JUGA… MANUSIAAA

  23. 23 fourtynine Maret 1, 2007 pukul 9:14 pm

    Salam kenal. Pokoknya saya dukunglah semua pengungkapan terhadap kebohongan media, termasuk dalam menampilkan sosok doktor dalam kehidupan nyata, bukan kehidupan versi sinetron

  24. 24 cakmoki Maret 2, 2007 pukul 12:05 am

    @ Ady,
    iya, yang dari luar bagus-bagus. Dulu ada serial “emergency” kayak kejadian di UGD betulan.
    Saya ikutan yang kisah cinta boleh gak ? *bletakkk*

    @ fourtynine,
    Halo fabio cannavaro, salam kenal juga.
    Trims dukungannya πŸ˜€

  25. 25 senyumsehat Maret 2, 2007 pukul 3:32 am

    RS-ku dulu di Jakarta suka dipake untuk ambil adegan sinetron, aku pernah di tawarin sama kru-nya peran dokter beneran, cuman main sebentar katanya tapi action-cut…action-cut bisa bolak balik seharian, di bayare 100 ribu untuk muncul berapa menit gitu…perawat2ku ngerayu…klo dokter ga mau uangnya ntar buat kita2 aja dook, tapi dokter masuk Tipi…halah aku males, kengangguren temen, mending operasi di OK, sejam dapet duapuluh kali lipet…hahaha ono2 wae wong2 iku…lek saiki sing meranke dokter sopo to pak? duduk dokter to? lek dokter lak ga bakal asal2an begitu…

  26. 26 cakmoki Maret 2, 2007 pukul 4:02 am

    @ senyumsehat,
    Lho, dadi gak sido ?
    Saiki ono sinetrone, aku cuman sak kelebatan ndelok iklane. Sing meranke bintang sinetron, jenenge gak apal, mbuh Bejo mbuh sopo ngono.
    Ono adegan nylentik suntikan, lucu koyok nylentik kabel kobong … liyane mesti asal-asalan.

  27. 27 senyumsehat Maret 2, 2007 pukul 3:28 pm

    hahahah nylentik kabel kobong opo nylentik laler ijo…sing nemplek ndik klambine….hahaha…ga jelas wong2 iku…

  28. 28 cakmoki Maret 2, 2007 pukul 4:01 pm

    @ senyumsehat,
    Hahaha, iyo Mbak.
    Gak jelas, gak genah, gak karu-karuan. Ups kebanyakan …

  29. 29 chielicious Maret 2, 2007 pukul 5:49 pm

    Sinetron Endonesa ya memang sperti ini mo diapain lagi.. beberapa teman saya yang sampe ngirim email ke RP2*rumah produksi* yang mbuat sinetron2 ga becus entah di baca ato ga tuh suratnya..

    Jarang tuh saya nemu sinetron yang tokoh2nya bersikap profesional dengan pekerjaannya.. *tapi kurang tau juga deh dah jarang nonton tivi sieh semenjak sadar klo acara tivi busuk smua* heheh..apalagi sinetron yang isinya lebih menyorot sisi keprofesionalan suatu profesi halah koq jadi serius gini bahasanya ..

    ga sperti serial tv luar.. sinetron Endonesa bener2 pembodohan..

  30. 30 chielicious Maret 2, 2007 pukul 5:50 pm

    btw salam kenal ya cakmoki πŸ˜€

  31. 31 mina Maret 2, 2007 pukul 7:33 pm

    saya gak nonton sinetron πŸ˜€ karena sekarang lagi gak punya tipi hehehehe…. selain memang cepet ngantuk. kalo minggu malah dipake nonton DVD.

    saya rasa pembuat sinetronnya kurang riset. atau memang tidak mau riset, kan mahal, karena kalo udah riset, mosok hasilnya gak dipake.

    pernah nonton serial duo bedah plastik McNamara-Troy yang berjudul Nip/Tuck di Trans? walau sekarang sudah dibrentiin, karena memang vulgar sekali gara2 Troy sangat tidak bermoral, kalo gak banyak digunting di sana-sini.
    Nah, itu tokoh dokter-dokter di sana dilatih dulu gimana cuci tangan sebelum bedah, cara megang alat, cara membedah, dsb. Pembedahan dilakukan pada manikin sangat mirip manusia lengkap dengan layer2 kulit, lemak, darah, dsb yang dibuat mirip asli. benar-benar keren. dan mahal. mereka menyewa satu konsultan perawat khusus bedah plastik yang tahu betul seluk beluk perbedahplastikan, untuk memastikan semuanya terliha real dan akurat, biar kalo dokter bedah plastik yang lihat, gak akan ngomel2.

  32. 32 fertobhades Maret 2, 2007 pukul 10:11 pm

    Betul kata mina, sinetron terkadang dibuat tanpa adanya riset/penelitian terhadap sesuatu. Jadi asal buat dengan hanya membayangkan seperti apa kejadian yang sebenarnya.

    Saya membayangkan contoh-contoh film luar yang betul-betul melalui riset mendalam, misalnya Forrest Whitaker yang baru saja dapet Oscar karena perannya sebagai Idi Amin, sang diktator Uganda dalam film The Last King of Scotland. Risetnya bener-bener luar biasa. Dan semuanya nggak dipraktekkan disini.

    *saya bukan penggemar sinetrol lho* πŸ™‚

  33. 33 ndarualqaz Maret 3, 2007 pukul 12:00 pm

    yang namanya sinetron itu sebagian besar (ato semua) hanya sampah (itu kalo menurut saya), dan saya sangat tidak setuju profesi dokter, guru, ato profesi lain yang mulia dimasukin ke keranjang sampah.

  34. 34 cakmoki Maret 3, 2007 pukul 5:58 pm

    @ chielicious,
    Ya mbak, salam kenal juga.
    Kalau ngga suka nonton sinetron tivi trus nonton apa dong, ketoprak humor ? Mas Tukul 4 mata ? layar tancap ? *becanda*

    @ mina,
    Kalau riset mahal, ada yang murah Mbak, … wangsit. hahaha
    Mungkin sutradara kita mau instan, atau bintangnya takut darah, kan ada yang lihat darah langsung muntah, apalagi lihat nanah, hiyyy.

    @ fertobhades,
    Itulah bedanya Pak, letaknya di riset.
    seperti halnya Idi Amin, saya terkesan pemeran Mahatma Gandhi yang serius menguruskan badannya dan belajar budaya India berbulan-bulan demi perannya.
    Kalau kita masih senang opera sabun atau sejenis Mak Lampir.

    @ ndarualqaz,
    Saya pernah ngritik beginian di kumpulan anak buah yang senang sinetron, saya malah ganti dikritik: ” wah bapak ini nggak pernah nonton sih, bagus-bagus pak “. Lho, piye ?

  35. 35 tito Maret 4, 2007 pukul 8:56 am

    banyak sekali yang tak mendidik di sinetron. Setting di sekolah, tapi tak pernah membahas pelajaran. Sama juga ketika setting ada di rumah sakit. Isinya masih melulu cinta, belum pernah menggali bidang lain lebih dalam. Di jepun sono ada dorama (sinetron kalau di sini :p), judulnya “team medical dragon”. Ceritanya tentang dokter bedah jantung. bagus.

  36. 36 cakmoki Maret 4, 2007 pukul 10:24 am

    @ tito,
    Ooo, ternyata cerita cinta. Jadi rumah sakit sekedar pajangan ya. Pantesan gak beres.
    Kalau jepun gak punya channel-nya. Hehehe

  37. 37 chielicious Maret 5, 2007 pukul 11:15 am

    heheh klo saya lebih baik nonton dvd πŸ˜€ nontonnya juga produk luar donk *gak nasionalis mode on*

    klo drama jepun..ada beberapa judul yang paling saya suka ..Pride ..tentang suka duka jadi pemain hoki es *kisah cintanya ga terlalu di ekspos makanya saya suka heheh* ..dan Good luck tentang suka duka jadi pilot pesawat .. *sekali lagi ga melulu cinta*

  38. 38 cakmoki Maret 5, 2007 pukul 1:26 pm

    @ chielicious,
    Koleksi dvd saya masih minim nih. Kali bukan selera pasar hehehe.
    Cerita cinta klasik Gone with the wind, asyiiik.
    Cari Agatha christie belum nemu, eh iya sih maksudnya beli, kalo nyari mana ada orang yang buang dvd

  39. 39 jokotaroeb Maret 7, 2007 pukul 11:22 am

    Mereka itu engga pernah memikirkan sampai kesana pa dokter yang penting buat mereka duit..duit..duit..dan duit… saya sih lebih baik nonton bola dari pada nonton sinetron he… Gol..gol…gol.. ale..ale.ale…

  40. 40 FK Unsri Maret 9, 2007 pukul 10:01 pm

    tapi di film serinya barat bagus bagus,, Grey’s Anatomy ata uHouse,, beneran mendidik dan tetep fun,,

  41. 41 joesatch Maret 9, 2007 pukul 10:43 pm

    sinetron, secara umum, malah sangat tidak mendidik dalam segala hal lho, cak πŸ˜›

  42. 42 cakmoki Maret 10, 2007 pukul 12:00 am

    @ jokotaroeb,
    duit…duit duit duit…duit duit (dilagukan kayak lagu sepakbola)
    Sama dong, daripada sinetron mending nonton Bola, sayang favorit saya Barca kalah, tapi siapapun yang menang sepakbola tetap asyik.

    @ FK Unsri,
    Itulah bedanya, di sono serius, kayak betulan, kadang terbawa seolah jadi bagian adegan di layar tv.

    @ joesatch,
    Hehehe, lha wong saya itu kesasar Mas, bilangnya bagus-bagus nggak tahunya adegan aneh-aneh. Masih penasaran, cari chanel yang lain, ternyata sami sami mawon.

  43. 43 mufti Maret 12, 2007 pukul 6:53 pm

    Cerita2 di sinetron itu emang biasanya geblek, semua profesi selain profesi selebritis dimainin. Mungkin yang nulis males cari tau ttg dokter, atau mungkin disengaja, semacam anekdot gitu.

  44. 44 cakmoki Maret 13, 2007 pukul 12:23 am

    @ mufti,
    Eh iya, mungkin mereka sengaja bikin parodi. Kayak Republik Mimpi, judulnya “dokter-dokteran”. Hahaha

  45. 45 Qee April 4, 2007 pukul 9:01 pm

    Bicara soal mutu dan akhlak, justru serial serial impor seperti produksi Korea malah lebih bermutu. Ide cerita jelas, dialognya menuntut untuk berfikir dan jauh dari kesan mesum. Misalnya serial Wedding yg tayang jam 12 Wita hari minggu. Sungguh sesuai sama judul, nda ada pacaran, nda ada tuh perempuan yg teriak teriak kalo ngomong, atau orang yg sampe belo matanya meranin pihak antagonis pas rebutan warisan. Tapi yg ginian malah distop, ga diterusin, kalah rating, ga nguntungin.
    Miris sekali melihat sinetron yg mbawa profesi guru (however mereka itu rekan sejawat saya), ko ya mesa’ne, O’ON, konyol, menggelikan dan nda ada unsur yang bisa dihormati samasekali. Dekadensi moralnya udah parah ya Pak.

  46. 46 cakmoki April 5, 2007 pukul 6:25 am

    @ Qee,
    Tak kira sinetron korea isinya cinta-cintaan, hehehe dasar saya yang ndesit. Kalo sinetron kita, gimana gitu. Mungkin memburu uang ya.
    Saya mending lihat mas Tukul, sekalian nyantai, walaupun kebagian separo adegan.

  47. 47 n0vri April 5, 2007 pukul 12:43 pm

    Wah Cak..
    Sinetron Indonesia itu gak ada yang bener… jadi gak cuma profesi dokter kok, tapi memang sinetron kita menghina akal sehat. Makanya Alhamdulillah saya nggak pernah mau ikutan dihina alias malas nonton sintron. Pulang kerja dah capek, mending nonton berita atau sekalian nonton channel khusus olahraga dengan acara favorit: bal-balan. Lebih seru dan menghibur.

  48. 48 cakmoki April 5, 2007 pukul 6:15 pm

    n0vri,
    Saya paling senang juga bal-balan, sampai direwangi tidak tidur. Ditambah jagung goreng, siiippp

  49. 49 memeth Juni 13, 2007 pukul 8:26 pm

    emmm…saya juga pembenci sinetron kacangan yg di tipi2 itu.
    tapi sungguh, saya hera luar biasa, kenapa adaaaa aja yg nonton malah penggemar fanatik. oke, kita2 disini komentarnya seragam dan rata2 setuju kl sinetron indonesia memprihatinkan. tp seperti angin lalu. masih lebih banyak yg suka (ini saya ngomong tanpa riset lo, hihihi).

    ada enggak ya, survey ttg penonton sinetron. seperti apa mereka, demografis dan psikogafis. saya sungguh2 penasaran.
    dr observasi kecil2an, penonton setia sinetron adl ibu2 rumah tangga dan remaja serta anak2 yg tidak kritis.
    tapi itu kesimpulan yg masih prematur buanget.

    kebetulan, salah satu alternatif topik tesis saya adalah ttg pemberdayaan konsumen, mungkin lebih spesifik para penikmat sinetron. pengennya, saya kasih intervensi supaya daya kritis mereka meningkat. tujuan jangka panjang sih, supaya penonton endonesa ada daya tawar thd rumah2 poduksi.
    cumaaaa…..masih belon tahu gmn cara menterjemahkannya dlm metode penelitian eksperimen.

    ehhh kalo boleh tahu, kita2 yang prihatin en gak suka sinetron, karakterna kayak apa ya???
    asumsi saya, pasti karena panjengan dan anda2 ini pinter2 and open mind, berwawasan.
    wah kok kayaknya seperti klub eksklusif aja.
    saya jadi pengen memahami dan mengerti lebih dalam ttg penggemar snetron……
    mungkin perlu wawancara mendalam ya….

    wah maap lho, Pak, jadi puanjang luebar gini….

  50. 50 cakmoki Juni 14, 2007 pukul 3:14 am

    @ memeth,
    iya tujuan kita diskusi koq. Gak eksklusif koq, wong terbuka bagi siapa saja, hehehe
    Selamat penelitian ya, moga sukses πŸ™‚

  51. 51 budi sutomo Desember 3, 2007 pukul 10:24 pm

    Setuju! sinetron kita memang banyak yg ngga mendidik. Belum lama saya mendengar iklan sebuah sinetron di TV, masa ada dialog yang berbunyi begini; “singkong di campur keju, rasanya sepet-sepet gemana gitu” masa singkong dan keju rasanya sepet? kalau digunakan istilah legit atau gurih dan lezat masih masuk akal, tapi sepet, buah pisang mentah kali sepet. pembodohan yang lucu….

  52. 52 cakmoki Desember 3, 2007 pukul 11:19 pm

    @ budi sutomo,
    hahaha, iya … kali pemain sietronnya dan sutradaranya habis makan pisang mentah πŸ˜€

  53. 53 Arri Desember 4, 2007 pukul 6:28 pm

    Topik SInetron, berarti sinetron yang baru2 aja kan?

    Inget dulu pas masih nonton TVRI, sinetronnya sepertinya cukup mendidik πŸ™‚

    Ada SARTIKA… yah, saya ga tau sih apakah sinetron ini mengangkat kehidupan dokter secara realistis, tapi paling enggak penggambaran Dewi Yull sebagai dokter kayaknya lebih masuk akal.

    Trus ada SERUMPUN BAMBU, kisah transmigran..

    Ada ACI…

    Tapi mungkin kalo diangkat lagi jadi sinetron yang kurang (baca: TIDAK) laku ya?
    Dulu cuma ada TVRI sih, jadi mau ga mau ya nonton itu aja.. hiks hiks hiks…

  54. 54 cakmoki Desember 6, 2007 pukul 1:09 am

    @ Arri,
    iya, yang baru maksudnya …
    “Sartika” yang paling mendekati realistik walau ada sebagian sejawat menganggap agak berlebihan di beberapa episode.
    Kalo yang sekarang mah, kayaknya hanya menjual iklan … hahaha


  1. 1 Agama di Komersilkan, siapa yang salah? « PRAYOGO - thinking is freedom Lacak balik pada Maret 5, 2007 pukul 1:15 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Wong ndeso β„’

cakmoki

Wordpress Indonesia

Silahkan baca

DISCLAIMER

web tracker

9 Desember 2009

SEMENTARA TUTUP

Maaf, sementara Blog istirahat hingga ada pemberitahuan

Harap maklum


MARI HENTIKAN KORUPSI

Jangan Korupsi Ah

No Korupsi

Internet Sehat

Warga Bicara

» Makasih PLN, listrik Samarinda dah membaik, moga gak byar-pet

» Waspada Demam Berdarah

» Jangan Gunduli Palaran

» Banjir...banjir. Kapan masalah ini teratasi ?

INGA INGA INGA

» Nyeri Urat or Tulang BUKAN berarti Penyakit Asam Urat.

» Sekali lagi: Pegal, Linu Tidak Identik dengan Penyakit Asam Urat

TEMANs

9racehime | A. Fatih Syuhud | Aditiawan Chandra | A.Tajib | Agung UD | aLe | alief | alle | almascatie | Amd | Anak Peri | Anak Sultan | Anang | Anang YP | Anas | Andalas | Anggara | Anjaz | Anti Pungli | Antobilang | Anung87 | Aribowo | Arif Kurniawan | Arul | Astikirna | awan965 | axireaxi | Bambang alias HR | BatakNews | Blog Pokoke? | Biho | CalonOrangTenar | Cay | Chandra | Chielicious | chiw imudz | cK-chika | Dalamhati | Deden Nugraha | deedhoet | deKing | Desti Utami | Didats | doeytea | dnial | Edy C | Eep | Elpalimbani | erander | Evi | Fa | Fa wp | Faiq | Fertobhades | Fetro | Fortynine | Freddy | Gadis | Gaussac | Gitablu | Grandiosa | GuhPraset | GuM | Helgeduelbek | Herdy | Indonesia Kita | Indra KH | ItikKecil | iway | Jejakpena | Jennie S. Bev | Joesath | Joko Taroeb | Julee | Juli | Juliach | Junthit | Jurig | Kakilangit | Kang Adhi | Kang Kombor | Kangguru | kawaichu | Kenji | Kenzt | kikie | koecing | Kumala | Kurtubi | Kw | Laras | liezmaya | Lilik Suryanto | Lily | Linker | Lintang | Lita | Lita wp | Luthfi | MaIDeN | Majalah Dewa Dewi | Manusiasuper | Master Li | Mathematicse | macanang | mbojo | Mei | Micokelana | Mr. Geddoe | Mufti | mybenjeng | My-za | Nayla Zahra | Nayz | Ndarualqaz | Neeya | Neo Forty-Nine | Neri | Ninoy | Nieke | Nomercy | n0vri | NuDe | Om Sulis | omaigat | Ooyi | Paijo | Panca | Pandu | Panduan WP | Papabonbon | Passya | Peyek | Pinkina | Pitik | Pralangga | Prayogo | Priyadi | Qee | Raja iblis | RenjanaBiru | rivafauziah | Rivermaya | Roffi | roisZ | Rujak | Sagung | Sahrudin | Saiful Adi | SaRa | Siu | Sofi | Sora9n | Suandana | Suluh | Susiloharjo | Telmark | Thamrin | tiesmin | Triesti | Tukang Sate | Venus | Wadehel | Wahyuansyah | Wandira | Wiku | WongMangli | Wulan | Yati | Yudhipras |

:: :: :: :: :: :: :: :: ::

Kesehatan

:: Ady Wirawan :: Agus Mutamakin :: Anis Fuad :: Anis Fuad wp :: Asri Tadda :: Astri Pramarini :: Astri Pramarini (awal) :: Astri Pramarini wp :: Blog Mahasiswa FKU 2003 :: Blog Rumah Kanker :: Dani Iswara :: Dani Iswara weblog :: Dokter arek cilik :: drAnak :: drarifianto :: Dwi wp :: Elyas :: Erik Tapan :: Evy HealhtySmile :: FK Unsri :: Gies :: Gies wp :: Ginna :: Grapz :: Hendar Sunandar :: HIV News :: Huda Thoriq :: IDI Samarinda :: imcw :: Imran Nito :: Iwan Handoko :: Jhonrido :: klikharry :: Kobal :: Laksmi Nawasasi :: Mashuri :: Mave Mina :: Mbah Dipo :: Mina :: My Blogspot :: Nur Martono :: PKM Palaran :: Rara :: Rizma Adlia :: Rudy Kwang :: SenyumSehat :: Sibermedik :: SimkesUGM :: SuperKecil :: Titah :: Tito :: Tonang Ardyanto :: Tukangkomentar :: Wi :: Vina Revi :: Vina Multiply :: Yusuf Alam R :: zulharman79 ::

:: :: :: :: :: :: :: :: :: :: ::

Institusi Kesehatan

:: Depkes RI :: WHO :: WHO Indonesia :: … nyusul

:: :: :: :: :: :: :: :: ::

Kolaborasi

:: Emedicine :: ICD 10 Wikipedia :: ICD 10 Wiki Indonesia :: OSWD :: OpenWebDesign :: Pakistan Times :: Rubab :: ntar ::

Kategori

BlogTour

Arsip

Komunitas Blog

blog-indonesia.com

PAGE RANK

Powered by  MyPagerank.Net

Add to Technorati Favorites

[Valid RSS]

Health Blogs - Blog Top Sites

Health

Blogs Topsites - TOP.ORG

Health Blogs - Blog Rankings

Blog directory

TopOfBlogs

Top 10 Award

Feed Burner

cakmoki Blog

Bloggerian Top Hits

My BlogCatalog BlogRank

Site Meter

Since 30 Nov 07

PENGUNJUNG

  • 5,328,160 pengintip

Asal Usul

Pebruari 2011

free counters


%d blogger menyukai ini: