Anggaran bisa mengantar ke penjara

Hore, tahun anggaran 2007 telah tiba.

Setiap instansi Pemerintah menyambut awal tahun dengan beragam ekspresi setelah tahu nominal mata anggaran masing-masing Instansinya.
Bagi Instansi yang dapat anggaran sesuai pengajuan tentu menyambutnya dengan suka cita. Sedangkan bagi yang tidak sesuai keinginan usulan bisa jadi bersungut, atau bersiap menjadikannya sebagai tameng ketika kelak kinerjanya dipertanyakan banyak pihak.
Tentu ada instansi yang memang mengusulkan anggaran untuk kepentingan pelayanan publik, namun tak jarang menjadikan anggaran sebagai kue yang bisa dibagi-bagi dengan dalih demi rakyat. Apa sulitnya, wong hanya mengatakan demi rakyat.

REBUTAN MENJADI PIMPRO

Beberapa teman sejawat di jajaran kesehatan ada yang tidak sudi menjadi Pimpro, malah ada yang protes ketika akan dijadikan Pimpro. Sementara teman lain berebut, sampai dibelain mencak-mencak, menangis kalau perlu bertengkar ketika harapan ditunjuk menjadi Pimpro tidak kesampaian.
Penulis tak habis pikir, apa enaknya menjadi Pimpro ?
Bukankah rumitnya bukan main, belum lagi jika ada kesalahan, baik kesalahan administrasi maupun kesalahan material. Bahkan ada semacam bisik-bisik bahwa nanti ada kewajiban memberi “balas jasa” kepada pihak yang mengaku memperjuangkan.

Apabila diantara pembaca sebagai seorang pimpinan institusi, maka tamu-tamu banyak berdatangan bila di institusi tersebut mengalokasikan mata anggaran dalam bentuk bangunan fisik.
Biasanya sih para tamu tersebut membawa-bawa nama Pejabat, anggota DPRD, Partai dan sejenisnya.
Bukan hanya fisik berwujud gedung, pelabuhan, jalan atau jembatan, tapi juga pengadaan barang, terutama barang bernilai jutaan, apalagi milyaran.

Bagaimana di Institusi Kesehatan ?
Selain item di atas, yakni fisik dan barang masih banyak item-item lain yang untungnya instansi pengawas maupun DPRD tidak banyak tahu.
Di bawah ini adalah item-item yang berpotensi untuk digerogoti.

OBAT DAN BAHAN HABIS PAKAI

Lazimnya, penatalaksanaan obat dikelola oleh GFK (gudang farmasi) sebagai institusi bagian dari Dinas Kesehatan yang berkompeten mengatur pengelolaan obat.
Kenyataannya tidak kawan.
Tak usah kaget, jika misalnya di suatu daerah, seorang kepala gudang farmasi tidak tahu menahu lalu lintas pengadaan obat.
Akan sangat parah jikalau Gudang Farmasi hanya berperan sebagai perencana, lalu meloncat sebagai penampung obat, pembagi dan evaluasi pemakaian obat. Pada kondisi ini, bila di tengah perjalanan ditemukan obat kadaluwarsa, maka si kepala gudang farmasi itulah sasaran tembaknya. Dalangnya aman karena arah pandang semua pihak tertuju kepada Gudang Farmasi.
Sekilas alur ini normal-normal saja. Coba teliti lagi kata meloncat.
Apa saja yang diloncati ?
Simak baik-baik. Secara garis besar, proses pengadaan obat melalui pelelangan, penawaran, pembelian dan pertanggung jawaban.
Rangkaian inilah yang diloncati pada contoh di atas. Dan di meja-meja tersebut itulah lalu lintas duit beredar.

Contoh kecil:
Jika produsen obat menawarkan sirup obat mens mencret (antidiare), pesaingnya tentu ada kan ? Nah, di sini sudah bisa “main”. Kalo ingin masuk standarisasi obat monggo dipersilahkan bayar, agar produknya dipakai sepanjang tahun. Jika ingin dapat lebih banyak gampang, misalnya ada 4 produsen nawarkan, terima saja semuanya dengan syarat semua bayar, maka muncullah 4 jenis sirup obat mens mencret.
Itupun belum cukup, masih ada peluang “main” harga.

Dalam tata-niaga obat ada Harga Netto Apotik (HNA) ada juga Harga Eceran Tertinggi (HET), berarti logikanya boleh membeli dengan HET.
Normalnya, orang membeli barang akan menawar dan membeli yang termurah untuk jenis obat yang sama.
Itu normalnya lho.

Bagaimana mempermainkannya ?
Sabar, sabaaaarrrr *tarik napas panjang*
Misalkan sirup obat mens mencret tersebut seharga Rp5.500,- (lima ribu lima ratus rupiah) berdasarkan HNA+Ppn, si produsen disuruh nulis misalnya Rp11.000,- (sebelas ribu rupiah) senilai Harga Eceran Tertinggi.
Sepintas tidak melanggar kan.
Alhasil mbayarnya Rp5.500,- per botol tapi dalam pertanggung jawaban dan fakturnya tertulis Rp11.000,-
Biasanya belanja untuk satu Kota selama 1 tahun mencapai ribuan botol.
Lho kan kecil cak. Husss itu baru satu contoh, kawan.
Rata-rata item obat untuk pelayanan dasar di atas seratus item.
Apalagi namanya sangat aneh, makin mudahlah otak-atiknya.
Coba jika pembaca bukan kalangan medis, lalu membaca “extract belladona”, “methyl ergometrin”, “atapulgit-pectin”, opo yo kenal ?
Pemeriksa saja terpaksa manthuk-manthuk supaya kelihatan pinter. Kalau tidak kelihatan serba tahu, kan yo malu.

Anehnya sistem pengelolaan obat yang bolong-bolong tersebut menggunakan payung hukum bernama Permenkes (Peraturan Menteri Kesehatan).
Lebih lucu lagi, tim pengadaan obat bukan dari dinas kesehatan doang. Konon ada juga titipan personil instansi lain. Kan ada biaya macem-macem, mulai perencanaan dan seterusnya, dan itu artinya bagi-bagi “jajan”.

BAHAN HABIS PAKAI

Halaah, siapa sih pemeriksa, apalagi publik yang mau pusing ngurusi barang eceran kayak gini. Namanya habis pakai, kalau dilaporkan habis ya selesai. Masa sih mau melacak pasien yang mendapatkan bebat perban, olesan betadin, bekas suntikan dan sejenisnya.
Jangan salah sangka lho. Barang habis pakai ada yang mahal, misalnya pen platina untuk servis tulang. Suntikan dan jarumnya yang kelihatan sederhana itu juga bisa dimainkan. Contohnya suntikan seharga 750 perak ditulis di kuitansi seharga 2.500 perak.
Kecil ? Lha kecelik pithik tho.
Jangan tertipu dengan kuitansi warna-warni lho. Kalau suntikan tersebut hasil subsidi (anggaran) Pemerintah yang sudah dimainkan lalu dimasukkan item kuitansi dan dibebankan kepada pasien, berarti meningkat beberapa kali lipat.
Dah ngerti kan ? Hehehe

LAIN-LAIN
Maaf sementara sampai disini ya, lain-lain itu diantaranya Pemeriksaan Kesehatan Haji, posting ini cocoknya nanti pas musim haji. Tolong diingatkan jika sudah menjelang musim haji ya.

JALAN KELUAR

Perlu kita sadari bahwa dana anggaran bermacam judul hebat dan seakan-akan demi masyarakat itu berasal dan untuk kepentingan rakyat.
Tujuan tersebut mutlak harus dikedepankan dengan wujud nyata dan bermanfaat. Jika hanya nyata kan gampang, asal kelihatan barang dan kegiatannya yo wis. Bukan, bukan begitu. Jika itu yang terjadi maka ongkos kegiatan tak lebih sebagai rutinitas menghabiskan dana.

Untuk obat dan bahan habis pakai, penulis menyarankan swakelola.
Maksudnya serahkan sepenuhnya pengadaannya kepada pelaksana teknis di awal anggaran. Selain kontrolnya mudah, ada unsur punish di tingkat pelaksana. Di Kota kami, kemungkinan ini sudah pernah diwacanakan di DPRD, dan ada peluang berhasil jika para pimpinan pelaksana teknis semisal Puskesmas atau RSUD betul-betul ingin mengutamakan kualitas.

Caranya:

  • Serahkan semua dana keperluan obat dan bahan habis pakai ke pelaksana teknis dalam setahun, setelah dihitung keperluan riil dan kemungkinan peningkatan kunjungan sekitar 15 %.
  • Pengadaan obat dilakukan langsung oleh pelaksana teknis secara reguler berdasarkan fluktuasi jenis penyakit di masing-masing wilayah. Dengan cara ini, harga obat dapat ditekan di bawah Harga Netto Apotik (HNA), asalkan dibayar tunai. Untuk apa hutang wong jelas-jelas ada uangnya.

Keuntungan:
Keuntungan swakelola antara lain:

  • Harga obat jauh lebih murah sehingga jumlahnya lebih banyak.
  • Kualitas obat dapat dipilih, minimal sesuai standar Daftar Obat Esensial Nasional (DOEN)
  • Jenis pengadaan obat lebih tepat dan dapat disesuaikan dengan flukstuasi penyakit masing-masing wilayah kerja. Jika memakai sistem drop-dropan, biasanya antara keperluan dan drop-dropan gak sesuai. Misalnya di suatu daerah mulai menampakkan peningkatan diare, diperlukan cairan infus jenis A. Koq ndilalah didrop cairan infus jenis B. Kalau sudah begini, apa bisa disebut berkualitas ?

Lha, gak mudah kan. Makanya tolong pejabat kesehatan jangan mikir mempermainkan harga doang, pikirkan keselamatan penderita.
Hidup dan mati memang diatur Tuhan YME, tetapi ketika usaha yang dilakukan salah, sama saja mencelakakan insan tak berdosa.

Masih mau ngotot Permen (peraturan menteri) dan Kepmen (keputusan menteri) agar dapat menikmati hasil permainan harga obat?
Jika masih ngotot, berarti memang gak nyambung blasss !!!
Dan maaf, penulis patut mempertanyakan keseriusan teman-teman pengambil keputusan terhadap slogan yang mereka ciptakan sendiri, yakni “pelayanan berkualitas”.
Atau jangan-jangan memang tidak mengerti tatacara ngopeni penderita.

Apabila para pejabat institusi kesehatan mempergunakan anggaran layaknya bancakan tumpeng, maka penulis tidak heran jika kelak anggaran tersebut justru mengantar ke penjara.

Semoga menjadi bahan renungan

Iklan

37 Responses to “Anggaran bisa mengantar ke penjara”


  1. 1 grandiosa12 Februari 26, 2007 pukul 1:26 am

    Jadi begini toh kondisinya? mudah2an orang2 tersebut berpikir bahwa kelak semua dipertanggungjawabkan di akherat.

  2. 2 senyumsehat Februari 26, 2007 pukul 5:10 am

    markab-markab, bancaan…oalah itu dimana2 kok pak, kata temenku dr depkes di semua daerah kayak begitu apalagi skrg udah otonomi, depkes ga tahu apa2 pokoknya terima laporan, program jalan apa engga ya ga tahu, wong ga ada reward atau punishment sih, depkes kerjanya cuma bikin SPM, tgtg kesadaran masing2…hiks

  3. 3 cakmoki Februari 26, 2007 pukul 6:58 am

    @ grandiosa12,
    Hahaha, buka dapur Pak. Dari Belgia belum kedengeran ya 🙂
    Yang hobi begituan kalo pidato biasanya sangat fasih nyebut-nyebut akhirat lho Pak, tapi nyebut doang

    @ senyumsehat,
    ssst, bukan markab Mbak, bilangnya sih bahasa halusnya “kesejahteraan”.
    Hahaha heboh ya kesehatan di sini. Akhirnya memang tergantung kesadaran masing-masing. Sedih sedih sediiihhhh

  4. 4 sinung Februari 26, 2007 pukul 8:28 am

    > https://cakmoki86.wordpress.com/2007/02/25/anggaran-bisa-mengantar-ke-penjara/#comment-571
    > senyumsehat
    > depkes ga tahu apa2 pokoknya terima laporan
    >

    pengadaan obat untuk
    program kompensasi kenaikan bbm (pkps bbm bidkes)
    maupun jaring pengaman sosial (jps bk)
    ‘konon’ dilakukan oleh departemen kesehatan (pusat)
    dan di-drop ke GFK kab/kota atau puskesmas2,
    sukar dipercaya bila ‘depkes ga tahu apa2’
    🙂

  5. 5 Anang Februari 26, 2007 pukul 8:42 am

    korupsi sudah merajalela di negeri ini bahkan sudah menjadi semacam kebudayaan baru bagi penguasa dan rakyatnya sekalian…

  6. 6 prayogo Februari 26, 2007 pukul 11:02 am

    Sepertinya di mana saja seperti itu ya Cak, hal seperti itu sudah menjadi umum dan lumrah.

    Kapan ya, bangsa ini akan berubah….
    Saya cenderung pesimis dengan bangsa ini…..

  7. 7 Yandhie Dono Februari 26, 2007 pukul 1:59 pm

    Cak Dokter… mbok ya Cak Dokter jadi pejabat yang mengambil keputusan. Biar ayem tentrem hati kami.

    Kalo skandal kesejahteraan macem ini udah jadi rahasia umum cum kebohongan publik terinstitusi, kapan negara bisa teratur, bangsa bisa maju, rakyat bisa sejahtera merata…

    Ayo Cak, jadi pejabat! Disate aja itu yang nakal2!

    Eh, kalo boleh tau, masi banyak ga sih yang seidealis Cak Dokter? Kalo nulis2 gini, bakal dimusuhi teman2 sejawat yg demen bancaan ngga? Hehehe…

  8. 8 cakmoki Februari 26, 2007 pukul 2:06 pm

    @ sinung,
    Hehehe, maaf ya, komennya tadi ketangkep akismet karena ada 2 link.
    Yang dikatakan Mbak senyumsehat kenyataanya memang begitu dalam konteks Otonomi Daerah (anggaran), karena anggaran kesehatan di tingkat I dan tingkat II dibiayai oleh pemprov dan Pemkot/Pemkab. Artinya Dinkes Tk II dan Tk I bertanggung jawab kepada Kepala Daerah dalam hal penggunaan anggaran dan realisasi pencapaian program, sehingga depkes sama sekali tidak tahu pertanggung jawaban keuangan tersebut. Yang dilaporkan ke Depkes adalah realisasi Pencapaian Program, berdasarkan Standar Pelayanan Minimal (SPM) Bidang Kesehatan. Obatpun saat ini yang melaksanakan pengadaan adalah dinkes Tk II, kecuali obat-obat program, misalnya obat TBC dll.
    Bahkan di beberapa daerah, misalnya Samarinda, anggaran untuk Puskesmas diserahkan langsung dari Pemkab/Pemkot kepada Puskesmas, tidak melalui DKK melalui instrumen form Daftar Anggaran Satuan Kerja (DASK). Artinya dari segi anggaran dan realisasi pencapaian program, Puskesmas bertanggung jawab langsung kepada Walikota/Bupati. Adapun Dinkes tk II mendapatkan tembusannya.
    Di posting sebelumnya saya sudah menulis tentang desentralisasi kesehatan.

    PKPS BBM (JPS BK) adalah program khusus yang memang diluncurkan langsung dari Depkes ke Puskesmas melalui rekening Bank dan Kantor Post. Nah program yang ini laporan pertanggung jawaban penggunaan dananya dari Puskesmas kepada Dinkes tk II dan Depkes. Tapi harap diingat, program ini kan khusus untuk Keluarga Miskin (Gakin)

    Sepertinya diskusi ini bisa dilanjutkan ya 😀

    @ Anang,
    Halo Suroboyo, bagaimana memperbaikinya ? Ada saran ?
    Di Jatim katanya Dinkesnya bagus lho, tapi yo gak ngerti jeroannya. Sssst, jarene tidak ada bedanya yo. Hahaha

    @ prayogo,
    Sengaja saya buka dapur Pak, agar kita tahu kantong-kantong yang potensi untuk bagi “kue”.
    Harapan kita, setelah diketahui dapat diperbaiki.
    Tadi saya ketemu temen-temen membicarakan ini. Sebenarnya menginginkan perbaikan. Kalau tidak, yang menjadi korban adalah masyarakat (khususnya pengguna jasa kesehatan) dan petugas lapangan yang gak tahu apa-apa. Mereka hanya berkeringat, dituntut bekerja keras dan berhadapan langsung dengan warga yang sama-sama gak tahu apa-apa.
    Kadang saya pesimis juga Pak, tetapi akan tetap berbuat semampunya termasuk melalui tulisan, dan yang penting gak ikut-ikut mereka.
    Mungkin dianggap tak ada gunanya melawan dinding kekuasaan, namun dibanding diam saja masih mending berbuat walaupun tidak berarti.
    Setuju ? 🙂

  9. 9 kangguru Februari 26, 2007 pukul 2:45 pm

    Gimana ya, yang kepikirannya cuma angka-angka ngak kepikiran kayaknya dipake buat apa angka-angka itu,

  10. 10 cakmoki Februari 26, 2007 pukul 2:57 pm

    @ Yandhie Dono,
    Hehehe, kalau mau jadi pejabat berarti kritikan saya mulai dulu jadinya kan berorientasi cari jabatan Pak.
    Saya pernah jadi pejabat tinggi di Puskesmas belasan tahun, eselonnya saja tingkat IV, lho tinggi tho. Ketika itu kalo ada staf “ngenthit” berarti si staf sudah ngidam nangis, hahaha.

    Jangan kuatir, masih banyak koq, cuman belum berani terus terang, bilangnya belum berani melawan arus.

    Kalo nulis2 gini, bakal dimusuhi teman2 sejawat yg demen bancaan ngga?

    Di pertemuan resmi sudah biasa begini ini.
    Yang musuhi mungkin ada juga, belum ada sih yang terus terang, kalau hanya rasan-rasan saya anggap radio rusak.
    Di “litsus” pernah sampai diulang, akhirnya tidak ada apa-apa.
    Diancam via tilpon oleh anggota dprd jaman orde baru juga pernah, halahhh yang beginian kan seperti macan kerdus, gantian digertak kan yo diam, wong tidak ngerti masalah kesehatan kok mau nakut-nakuti.
    Biasa lah, namanya juga dinamika kehidupan, nggih tho? 😀

  11. 11 cakmoki Februari 26, 2007 pukul 3:06 pm

    @ kangguru,
    Ya itulah Pak, mungkin kita-kita yang di tingkat lapangan ini dikira sekumpulan orang bodoh yang nggak ngerti apa-apa.
    Mungkin di benaknya penuh dengan rumus “poro gapit”. hehehe

  12. 12 cakmoki Februari 26, 2007 pukul 3:12 pm

    @ sinung,
    Maaf, saya kehilangan Link yang satunya, kalo tidak salah menuju artikel PDF, waktu saya klik kanan hilang.
    Bisa diulang ?
    Terimakasih.

  13. 13 xwoman Februari 26, 2007 pukul 5:13 pm

    pemilihan pimpro? takut kelindes ah…
    ga ikutan cak?

  14. 14 cakmoki Februari 27, 2007 pukul 1:43 am

    @ xwomen,
    Ikutan Pimpro ? Dibayar aja ogah, hiyyyy.
    Enakan pimpro ngeblog, gratisan. hahaha

  15. 15 anisfuad Februari 27, 2007 pukul 8:36 am

    jadi inget joke-nya Cak Moki eh Cak Nun (Emha Ainun) tentang jembatan surga dan neraka yang nggak jadi-jadi karena yang disuruh mbangun orang-orang di surga sementara pimpronya ada di seberang…..Moga-moga hanya joke saja….

  16. 16 cakmoki Februari 27, 2007 pukul 10:16 am

    @ anisfuad,
    Hehehe, jembatannya jadi koq, kan “ada pimpro yang baik”.
    Siiiip, wordpress diaktifkan.

  17. 17 Dani Iswara Februari 27, 2007 pukul 11:02 am

    Pak Anis dah ekspor.. 😀

    kerjaan yg gak ada korupsi dimana ya…
    (jgn2 saya jg pake uang hasil korupsi..spt nonton siaran langsung sepak bola hasil iklan rokok..) 😀

  18. 18 helgeduelbek Februari 27, 2007 pukul 1:25 pm

    Apa yah enaknya jadi pimpinan proyek atau pimpinan apapun itu, tanggung jawab berat, belum lagi kalau tergelincir, sakitnya minta ampun. Makanya jadi yang biasa-biasa saja lebih nikmat.

  19. 19 cakmoki Februari 27, 2007 pukul 1:40 pm

    @ Dani Iswara,
    Iya, saya baru tahu tadi pagi.
    Pertanyaan yang sulit dijawab, yang penting gak ikut-ikut.
    Kalo nonton siaran langsung bal-balan masuk golongan itu, berarti saya termasuk korupsi. 😦
    Enaknya tanya KPK aja

    @ helgeduelbek,
    Di setiap tempat biasanya ada yang baik Pak, tapi saat ini yang menangan mungkin masih golongan nggragasisasi.
    Iya, enakan yang biasa-biasa tapi nikmat dan ayem. Saya ngeblog berkomunikasi dengan komunitas ini merasa ayem. hehehe

  20. 20 juliach Februari 27, 2007 pukul 5:42 pm

    Yeah, soal markab-markaban ini mah bukan isyu lagi tapi sudah tradisi/kultur bangsa kita yg sudah mendarah daging sejak jaman purba.

    Tuh khan kalau kanker/tumor masih bisa dicongkel dr daging kita, kalo penyakit ini (mau dikasih nama apa?) sudah ngak bisa lagi.

  21. 21 cakmoki Februari 28, 2007 pukul 2:13 am

    @ juliach,
    Iya ya, mau dikasih nama apa nih penyakitnya. Kali “markab syndrome”.
    Kalo markaban itu tetangga saya, namanya pak markaban 🙂

  22. 22 iway Februari 28, 2007 pukul 9:48 am

    wah benar-benar “pelayanan berkualitas” maksudnya siap melayani kantong-kantong pimpro menjadi lebih berkualitas(baca: tebal) 😀

  23. 23 cakmoki Februari 28, 2007 pukul 2:18 pm

    @ iway,
    Mau daftar “pelayanan berkualitas”? 😀
    Hiks, saya gak ikut-ikut.

  24. 24 sinung Februari 28, 2007 pukul 11:38 pm

    1. link pdf di ‘pasien-ngrasani-dokter’,
    atau googling “FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENERIMAAN PENEMPATAN DOKTER SPESIALIS IKATAN DINAS”

    2. link berita menkes ‘menjanjikan’ take home pay 7jutaan berasal dari [Edisi 01/I/18 Juli – 18 Agustus 2006]atau langsung ke

    sekian dulu 🙂

  25. 26 cakmoki Maret 1, 2007 pukul 12:28 am

    @ sinung,
    Siiip, link sudah tampil dan Majalah Health & Hospital online sudah saya bookmarks. Isinya bagus.
    Merujuk “Dokter baru di simpang jalan”, masa iya sih di jaman seperti ini para sejawat baru masih enggan ke daerah. Saya malah krasan 😀
    Terimaksih segala informasinya.

  26. 27 Kang Kombor Maret 1, 2007 pukul 1:32 pm

    Anggaran?… Anggaran itu artinya hanya satu, Cak, yaitu PROYEK. BTW, sejak Kepres 80 Tahun 2003 dan adanya KPK, memang banyak orang takut jadi Pimpro saat ini. Takut kecium KPK karena ibaratnya, kedatangan KPK tidak bisa mengelak lagi. Bagi orang-orang itu KPK lebih menakutkan daripada Malaikat Izrail.

  27. 28 cakmoki Maret 1, 2007 pukul 6:27 pm

    @ Kang Kombor,
    Mestinya begitu ya Kang. Anehnya ada juga yang kebelet jadi Pimpro. Mungkin KPK dianggap sama dengan Bawasprov/Bawaskot/Bawasda yang sangsinya hanya “pembinaan” 😀

  28. 29 ndarualqaz Maret 2, 2007 pukul 4:00 pm

    jadi pimpro kok seneng? ya haruslah. kalo kita merasa bahwa kita bisa jujur dalam bekerja dan kita merasa mampu menangani suatu project, kita harus rebut kesempatan itu. jadi pimpro itu memang tanggungjawabnya di akhirat berat, tapi kalo kita bisa jujur dalam memimpin pahalanya juga besar pak

  29. 30 cakmoki Maret 2, 2007 pukul 4:09 pm

    ndarualqaz,
    Betul Mas, jika jujur, selain bermanfaat bagi orang banyak juga dapat pahala. Misalnya mbangun jalan, tidak bolak-balik bolong. Jika mbangun sekolahan tidak ambruk, jika mbangun jembatan tidak mudah ambrol.
    Seperti itulah pimpro idaman.
    Sayangnya kebanyakan yang jujur tidak mau rebutan.
    Ada juga yang baik dan jujur, tapi setelah itu terus kapok, bukan karena tanggung jawabnya, tapi bilangnya gak tahan didatangi para pemeras. Ada juga yang jujur dan berani menghadapi pemeras, tapi jumlahnya mungkin sedikiiittt.

  30. 31 wira Juli 12, 2007 pukul 12:42 pm

    Saya mau Tanya, Dimana saya bisa mendapatkan platina, yang digunakan untuk pen tulang.
    hubungi ke a/n wira 081380282142 atau
    Email: wiraaaaaaasto@yahoo.com

    terimakasih banyakl sebelumnya

  31. 32 cakmoki Juli 12, 2007 pukul 5:30 pm

    @ wira,
    Platina untuk pen tulang didapatkan di RS yang memiliki spesialis Bedah atau Bedah tulang. Pembelian pen platina berdasarkan ukuran dan bentuknya sesuai permintaan dokter bedah atau dokter spesialis bedah tulang. Saya tidak tahu apakah tanpa spesifikasi akan dilayani 🙂

  32. 33 sibermedik Juli 21, 2007 pukul 7:23 pm

    masih inget kasus RSJ surakarta???
    kacian g siy jd korban sistem….

    Masak kepala RSJ didakwa korupsi??? kn g logis…lgpl dana itu jg g dia ambil bwt pribadi kok???

    Emang logis g kalo dokter itu korup???

  33. 34 cakmoki Juli 22, 2007 pukul 12:04 am

    @ sibermedik,
    ya inget, ada di koran.
    siapapun bisa korupsi, … termasuk dokter, kesempatan begitu banyak terpampang di depan mata nunggu dicaplok. Yg gak doyan (jarang) gak akan nyaplok, diberi juga gak mau, sedangkan yg doyan korupsi sangat mudah mencaplok duit dengan cara ngakali macam-2 judul anggaran.

    Paling mudah ngecek ke distributor alat kesehatan (alkes), kebanyakan dokter terutama yg kerja di RS, Dinkes, Litbang, termasuk Puskesmas suka melakukan mark-up.
    Kalo kita gak pernah korupsi, informasi semacam itu mudah didapat. Makanya sy tau pelaku mark-up di kota kami, hehehe

  34. 35 Ian November 29, 2008 pukul 12:50 pm

    Dimana bisa jual pen patah tulang.kalo ada yg punya info hub 02199231768

  35. 36 cakmoki November 30, 2008 pukul 10:39 pm

    @ Ian:
    Pen ada di setiap Toko atau distributor alat kesehatan (alkes)


  1. 1 Musim Workshop « cakmoki Blog Lacak balik pada Januari 11, 2008 pukul 12:42 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Wong ndeso ™

cakmoki

Wordpress Indonesia

Silahkan baca

DISCLAIMER

web tracker

9 Desember 2009

SEMENTARA TUTUP

Maaf, sementara Blog istirahat hingga ada pemberitahuan

Harap maklum


MARI HENTIKAN KORUPSI

Jangan Korupsi Ah

No Korupsi

Internet Sehat

Warga Bicara

» Makasih PLN, listrik Samarinda dah membaik, moga gak byar-pet

» Waspada Demam Berdarah

» Jangan Gunduli Palaran

» Banjir...banjir. Kapan masalah ini teratasi ?

INGA INGA INGA

» Nyeri Urat or Tulang BUKAN berarti Penyakit Asam Urat.

» Sekali lagi: Pegal, Linu Tidak Identik dengan Penyakit Asam Urat

TEMANs

9racehime | A. Fatih Syuhud | Aditiawan Chandra | A.Tajib | Agung UD | aLe | alief | alle | almascatie | Amd | Anak Peri | Anak Sultan | Anang | Anang YP | Anas | Andalas | Anggara | Anjaz | Anti Pungli | Antobilang | Anung87 | Aribowo | Arif Kurniawan | Arul | Astikirna | awan965 | axireaxi | Bambang alias HR | BatakNews | Blog Pokoke? | Biho | CalonOrangTenar | Cay | Chandra | Chielicious | chiw imudz | cK-chika | Dalamhati | Deden Nugraha | deedhoet | deKing | Desti Utami | Didats | doeytea | dnial | Edy C | Eep | Elpalimbani | erander | Evi | Fa | Fa wp | Faiq | Fertobhades | Fetro | Fortynine | Freddy | Gadis | Gaussac | Gitablu | Grandiosa | GuhPraset | GuM | Helgeduelbek | Herdy | Indonesia Kita | Indra KH | ItikKecil | iway | Jejakpena | Jennie S. Bev | Joesath | Joko Taroeb | Julee | Juli | Juliach | Junthit | Jurig | Kakilangit | Kang Adhi | Kang Kombor | Kangguru | kawaichu | Kenji | Kenzt | kikie | koecing | Kumala | Kurtubi | Kw | Laras | liezmaya | Lilik Suryanto | Lily | Linker | Lintang | Lita | Lita wp | Luthfi | MaIDeN | Majalah Dewa Dewi | Manusiasuper | Master Li | Mathematicse | macanang | mbojo | Mei | Micokelana | Mr. Geddoe | Mufti | mybenjeng | My-za | Nayla Zahra | Nayz | Ndarualqaz | Neeya | Neo Forty-Nine | Neri | Ninoy | Nieke | Nomercy | n0vri | NuDe | Om Sulis | omaigat | Ooyi | Paijo | Panca | Pandu | Panduan WP | Papabonbon | Passya | Peyek | Pinkina | Pitik | Pralangga | Prayogo | Priyadi | Qee | Raja iblis | RenjanaBiru | rivafauziah | Rivermaya | Roffi | roisZ | Rujak | Sagung | Sahrudin | Saiful Adi | SaRa | Siu | Sofi | Sora9n | Suandana | Suluh | Susiloharjo | Telmark | Thamrin | tiesmin | Triesti | Tukang Sate | Venus | Wadehel | Wahyuansyah | Wandira | Wiku | WongMangli | Wulan | Yati | Yudhipras |

:: :: :: :: :: :: :: :: ::

Kesehatan

:: Ady Wirawan :: Agus Mutamakin :: Anis Fuad :: Anis Fuad wp :: Asri Tadda :: Astri Pramarini :: Astri Pramarini (awal) :: Astri Pramarini wp :: Blog Mahasiswa FKU 2003 :: Blog Rumah Kanker :: Dani Iswara :: Dani Iswara weblog :: Dokter arek cilik :: drAnak :: drarifianto :: Dwi wp :: Elyas :: Erik Tapan :: Evy HealhtySmile :: FK Unsri :: Gies :: Gies wp :: Ginna :: Grapz :: Hendar Sunandar :: HIV News :: Huda Thoriq :: IDI Samarinda :: imcw :: Imran Nito :: Iwan Handoko :: Jhonrido :: klikharry :: Kobal :: Laksmi Nawasasi :: Mashuri :: Mave Mina :: Mbah Dipo :: Mina :: My Blogspot :: Nur Martono :: PKM Palaran :: Rara :: Rizma Adlia :: Rudy Kwang :: SenyumSehat :: Sibermedik :: SimkesUGM :: SuperKecil :: Titah :: Tito :: Tonang Ardyanto :: Tukangkomentar :: Wi :: Vina Revi :: Vina Multiply :: Yusuf Alam R :: zulharman79 ::

:: :: :: :: :: :: :: :: :: :: ::

Institusi Kesehatan

:: Depkes RI :: WHO :: WHO Indonesia :: … nyusul

:: :: :: :: :: :: :: :: ::

Kolaborasi

:: Emedicine :: ICD 10 Wikipedia :: ICD 10 Wiki Indonesia :: OSWD :: OpenWebDesign :: Pakistan Times :: Rubab :: ntar ::

Kategori

BlogTour

Arsip

Komunitas Blog

blog-indonesia.com

PAGE RANK

Powered by  MyPagerank.Net

Add to Technorati Favorites

[Valid RSS]

Health Blogs - Blog Top Sites

Health

Blogs Topsites - TOP.ORG

Health Blogs - Blog Rankings

Blog directory

TopOfBlogs

Top 10 Award

Feed Burner

cakmoki Blog

Bloggerian Top Hits

My BlogCatalog BlogRank

Site Meter

Since 30 Nov 07

PENGUNJUNG

  • 5,330,891 pengintip

Asal Usul

Pebruari 2011

free counters


%d blogger menyukai ini: