Pasien ngrasani dokter

Gara-gara tidak diperiksa ketika berobat di poliklinik penyakit dalam rumah sakit umum, seorang pasien ngomel:

” lha wong berobat koq cuman ditanya-tanya, tidak diperiksa, dapat resep, terus nebus obat di apotik. Dokternya sakti “.

Keluhan senada sering saya dengar. Apalagi jika ibu-ibu yang wadul (mengadu), wah seru, mungkin juga diberi bumbu. Ada seorang ibu bilang begini:

” Saya kontrol bekas operasi, hanya di dudal-dudul (maksudnya diperiksa perutnya), ngerti-ngerti disuruh mbayar 90 ribu, nebus obat 2 (dua) macem 200 ribu lebih. Gitu aja koq mahal ya “.

Mendengar beginian, saya pilih ngga komentar.
Suatu ketika, seorang wanita anggota DPRD kota kami bertanya saat hearing, sebagai berikut:

” Maaf pak dokter, kenapa sih kebanyakan Bidan di rsud dan puskesmas koq judes-judes ?”

Pertanyaan yang ini saya jawab sambil guyonan:

” Pertama, mungkin memang hobi marah. Kedua, mungkin sedang perang dingin dengan suaminya “.

Masih banyak lho, tidak saya tulis semuanya, saking banyaknya.
Tentu masih amat banyak ungkapan-ungkapan para penderita tentang dokternya. Bisa benar, bisa pula diberi bumbu penyedap.
Yang jelas keluhan atau pengalaman buruk para penderita terhadap layanan kesehatan di institusi kesehatan pemerintah, amat panjang dan beragam.
Seringkali keluhan-keluhan penderita dan atau keluarganya tidak mendapat respon positif, entah tidak mau mendengar atau sebab lain, saya kurang tahu.

Menurut saya, suara pasien atau keluarganya, atau masyarakat umum tentang layanan kesehatan mestinya dapat dijadikan bahan masukan untuk perbaikan pelayanan kesehatan.
Lebih bagus jika para dokter sudah mempersiapkan layanan optimal, tidak menunggu ada keluhan. Hal ini tidak sulit dilakukan mengingat daftar panjang keluhan terhadap layanan kesehatan, terutama di institusi pemerintah, dapat diketahui sejak dini.

Saya yakin diantara pembaca memiliki cerita tak sedap soal layanan kesehatan, di praktek, rumah sakit ataupun puskesmas.
Betul kan ?
Silahkan menceritakannya, sekalian bila mungkin memberi saran perbaikan.
Saya bukan pejabat yang bisa merubah sistem, namun paling tidak bisa untuk bahan diskusi teman sejawat dokter yang memiliki komitmen terhadap perbaikan kualitas pelayanan.

Iklan

46 Responses to “Pasien ngrasani dokter”


  1. 1 simkesugm06 Februari 4, 2007 pukul 7:15 pm

    ini pasien yang ngrasani dokter atau dokter yang ngrasani pasien?

  2. 2 Dani Iswara Februari 4, 2007 pukul 7:15 pm

    kalo layanannya baik dan pasien sembuh..wajar lha wong emang mestinya gitu..

    nah yg ‘kena sisi manusia biasa dari dokter’:
    » konsumen bole ‘protes’ (surat pembaca? suara konsumen?)
    » jgn ke dokter itu lg
    » jgn langsung ke spesialis
    » maklum jika antriannya berhari-hari πŸ˜€

  3. 3 cakmoki Februari 4, 2007 pukul 8:11 pm

    @ simkesugm06,
    Iya ya, tulisan ini sepertinya ngrasani pasien yang ngrasani dokter. hahaha. Sepertinya pak Anis yang komen ya.

    @ Dani Iswara,
    Berarti Mas Dani sering diwaduli pasien ya.
    Layanan baik tapi belum sembuh, biasanya kembali.
    Tentang antrian berhari-hari, memangnya pasiennya lebih 100 semalam apa strategi marketing sih.
    Sebenarnya kalau pasien dianjurkan kontrol kemana saja malah ngga mau pindah dokter lho. hehehe *marketing apa bukan ya*

  4. 4 grandiosa12 Februari 4, 2007 pukul 8:50 pm

    dokter di sini juga sama pak, cuman nanya2 doang baru ngasi resep. Tapi ya itu tanya-jawab dengan dokter lumayan enak, dan dokter ga mau salah ngasih obat/ga mau salah mendiagnosa. Tapi ga semua dokter di belgi perfect, temen saya malah ga puas dengan salah satu dokter sampai harus second opinion ke dokter lain untuk mencari tahu penyakit yang dialaminya.

  5. 5 cakmoki Februari 4, 2007 pukul 10:05 pm

    @ grandiosa12,
    Lho koq sama, padahal eropa termasuk perfect soal urutan mendiagnosa.
    Memang ngga semua penyakit harus diperiksa, adakalanya cukup tanya-jawab (dalam bahasa medis disebut: anamnesa), sudah bisa mendiagnosa. Kalo di tanah air kebanyakan masih penyakit infeksi, jadi perlu diperiksa, mulai melihat, menyentuh sampai pakai stetoskop atau bahkan periksa laboratorium.
    Untuk second opinion diperlukan bila meragukan.

  6. 6 mrtajib Februari 4, 2007 pukul 11:04 pm

    salam kenal dulu…

    sampean dokter to?
    Wah saya ini bukan cuma tukang ngrasani, tapi malah protest dokter. Baca aja di blog saya, beberapa tulisan disini, disini,  dan kayaknya mash ada lagi

    Semoga gak kualat saya….he he he

  7. 7 cakmoki Februari 5, 2007 pukul 1:46 am

    @ mrtajib,
    Iya salam kenal, wah kesindir nih, saya waktu komen nggak nyalami, maaf ya …dan tanpa ijin ngelink, gara-gara terkesan baca tulisan tentang RSUD Kebumen.
    Saya sudah baca, senada dengan beberapa tulisan saya. Seperti itulah kebanyakan potret RSUD kita.
    Protes terhadap layanan adalah hak pasien, dan pak Tajib sudah benar.
    Sebenarnya layanan kesehatan yang berkualitas tidak nunggu protes karena sudah kewajiban para dokter. Panduan prosedur tetap tentang layanan ada di halaman download, bisa diunduh bila mau.
    Saya juga cerewet soal itu, walau bolo sendiri ya tak kritik.
    Membaca surat terbuka pak Tajib saya ikut prihatin, mosok seminggu cuman ditengok 3 kali ya.

    Layanan yang baik itu amat mudah. Ketika masih aktif di Puskesmas Perawatan, saya meriksa pasien tiap hari, lalu malamnya nengok sambil berbincang dengan keluarganya. Jadi diciptakan suasana kekeluargaan.
    Itupun masih minta pendapat keluarga, apa-apa yang dirasa kurang.
    Makanya kotak saran kosong, lha wong tiap hari ada dialog.
    Perawat kami tidak ada yang suka marah, mengunjungi pasien rata-rata tiap 2 jam, walaupun hanya sekedar menggenggam tangan pasien sambil cek infus. Mudah kan.
    Lho koq jadi panjang.
    Oya soal RSUD berkualitas saya nulis serialnya di blog ini.

    Nggak kualat koq pak, malah kalau dokter nggak serius ngopeni pasien itulah yang kualat. Hehehe.

  8. 8 helgeduelbek Februari 5, 2007 pukul 4:20 am

    Maaf nih ya Cak, ada yg ngrundel di pikiran saya. Saya tahu jadi dokter biaya mahal dan sudah jadi konsekueansi milih profesi dokter kan ya ngadepin pasien “membantu” menyembuhkan si sakit. Tapi kebanyakan dari mereka (saya yakin mereka itu tidak mau sia-sia meluangkan waktu ngeblog untuk memberikan pencerahan seperti dokter lain yg ngeblog ini) kok yah bener-bener komer-sial amat. Coba seperti yg sampean ceritakan itu apakah layak hanya memeriksa dengan hanya pegang perut minta bayaran 90 ribu, apakah aturannya memang begitu, kalau iyah jan kebangetan tenan yang bikin aturan itu. Atau ini sesuai cita-citanya jadi dokter agar cepat kaya, memperkaya diri dengan dalih mengobati/menolong si sakit. Apalagi sampai suatu ketika ada RS yg menolak tidak mau nerima pasien dari orang gak punya, apapun tipe RS-nya rasanya kemanusiaannya kok lenyap.
    Mbok yah coba berpikir mengambil posisi sebagai pasien dengan kondisi seperti itu. Duh… mengenaskan, apakah di belahan lain kondisi dokter dan RS juga seperti di indonesia. Tidak sedikit dokter yang memang patut diteladani, namun pencitraan dari perilaku yang tidak terpuji akan merusaknya. ehm… kasihan orang yang memerlukan bantuan.

  9. 9 simkesugm06 Februari 5, 2007 pukul 6:05 am

    helgeduelbek: “Coba seperti yg sampean ceritakan itu apakah layak hanya memeriksa dengan hanya pegang perut minta bayaran 90 ribu, apakah aturannya memang begitu, kalau iyah jan kebangetan tenan yang bikin aturan itu.”
    pegang perut, tindakannya memang hanya menggunakan tangan, sama antara orang biasa dengan dokter. Tetapi, alasan megang perut, cara megangnya, milih perut sebelah mananya tidak sama dengan orang awam, pak….
    yang menjadi masalah adalah ketika harus membayar. Orang kalau disuruh milih antara sembuh dengan mbayar (mahal) dengan mati atau paling tidak tersiksa tentu milih yang pertama. Repotnya, di tempat kita justru yang sering terjadi adalah gara-gara sakit, setelah sembuh menjadi miskin. Ada yang pake istilah catastrophic health expenditure….
    Ini sudah bukan lagi masalah perorangan, tapi sudah menjadi urusan sistem (kesehatan). Di British Medical Journal “(www.bmj.com), tarif dokter di sistem kesehatan Inggris juga sedang menjadi topik hangat…. (4n15)

  10. 10 prayogo Februari 5, 2007 pukul 10:24 am

    Saya juga sebenarnya agak kesel kalau berobat ke dokter, nggak di apa2in eh bayarnya mahal. Bahkan sebelnya lagi waktu saya tanya kira2 saya sakit apa, dan parah tdk, eh dianya tdk ngejawab.

    Pengalaman saya: beberapa RS di jakarta itu koordinasinya kurang. Suatu hari saya mau rongent di RS, waktu pendaftaran bagian adm bilang bisa rongent dilantai 2, ternyata setelah ke lantai 2 ngak taunya alat ronget sudah rusak hampir satu bulan. Walah dalah, kok bisa gini, mana koordinasi antar petugas di RS itu. Langsung saja saya ke bawah dan protes, eh dengan santainya orang itu bilang maaf pak? hah…maaf….

    Sebenarnya masih banyak lagi pengalaman yang tdk menyenangkan sawaktu berobat ke RS, dan rasanya terlalu panjang kalau di ceritakan di sini.

  11. 11 Dani Iswara Februari 5, 2007 pukul 8:15 pm

    » cakmoki:
    ada cak konsumen dokter yg hrs daftar antri harian di kota saya di denpasar, terutama konsumen dokter kulit, dah kadung cocok ktnya.. πŸ˜€

    » Pak Anis (via simkesugm06):

    dokter ngrasani koncone jg..(dokter sbg pasien yg periksa ke dokter tp gak ngaku sbg dokter; giliran bayar br ngaku..) πŸ˜€
    pasien malah kanker.. kantong kering πŸ˜€
    seandainya perlindungan asuransi kesehatan berjln lbh baik..

  12. 12 juliach Februari 5, 2007 pukul 9:24 pm

    Anak saya Ines lucu lagi,dia yg menentukan dokter keluarga, dokter gigi, dokter mata, dll.
    Kriterianya : yg simpatik, cakep (menurut dia), yg mau gendong dia dr ruang tunggu ke ruang periksa, yg pakai kata-kata mesra spt ma cherrie/ma pupuse (sayangku)/mon chaton (anak kucingku), yg mau dibayar pakai gambaranya & ditempel di diding (tentu aja ibunya bayar pakai duit), yg suka kasih dia kado (kalo dr giginya kasih sample odol/gambar gigi, kalo dokter umum kasih permen atau habis disuntik plesternya bergambar lucu)), dll.

    Mau disuntik/dijahit/diambil darahnya, giginya ditambal, dia enggak pernah nangis. Gampang deh.

    Yg paling ngeselin, kalo sakit batuk/pilek, kalo enggak dibawa ke Dr. Fournel kagak sembuh-sembuh, padahal obatnya sama. Kalo di Indonesia, hrs sama Oma-omanya (adik2 mami) atau saya hrs survey dulu dokternya & hrs dikasih tahu dulu hrs begini-begitu.

    Gampang-gampang susah.

  13. 13 Lita Februari 5, 2007 pukul 11:20 pm

    Wah, ganti dirasani dokter nih πŸ™‚
    Kalo ngrasani dokter sih saya sering.
    Eh, pak dokter boleh ganti ngrasani saya lho. Membantah yang salah, begitu. Siapa tahu ocehan saya memang kebanyakan ngawurnya daripada betulnya.
    *ini komentar apa sih, gak mutu banget*

  14. 14 fertobhades Februari 6, 2007 pukul 12:07 am

    Kalau saya nggak terlalu cerewet sama dokter. Berpikiran baik saja, karena sama-sama berprofesi yang berhubungan dengan orang.

    Tapi pernah waktu waktu berobat ke suatu klinik, dokternya batuk-batuk di ruang periksa. Batuknya terus-menerus dan nggak berhenti-berhenti. Akhirnya dia minta maaf dan keluar sebentar. 5 menit kemudian dia masuk dan batuknya sudah berhenti tapi mukanya agak merah. Nggak tahu diapain πŸ™‚

    Dalam hatiku : sebenarnya yang butuh berobat itu siapa ya ? Atau jangan-jangan hilang penyakit lama tapi datang penyakit baru (batuk) πŸ™‚

  15. 15 senyumsehat Februari 6, 2007 pukul 1:04 am

    Pak, aku jadi inget dulu waktu di puskesmas, kalau belum di joss bokongnya belum sembuh pasiennya meski sudah di kasih resep, mau sakit apa aja termasuk sakit gigi kalau ke puskesmas bilangnya mau suntik…

    Akhirnya meski sudah kuhilangkan penyebab sakitnya di mulut, kusuntik juga vitamin saja…biar seger badannya, tapi kalau jarumnya baru pake disposible, tidak sakit disuntiknya bilangnya kok ga kerasa belum di suntik ya…dok…hehehe repot juga neeh jd dokter ya…

    Tapi aku seneng jd dokter, ketemu macem2 pasien dan keluarganya, aku jd bisa belajar dr mereka, enaknya jd dokter bedah bisa elektif dan pasien kukasih waktu cukup buat konsultasi sblm tindakan…so aku berterima kasih pada pasien2ku aku belajar hidup dr mereka.

  16. 16 cakmoki Februari 6, 2007 pukul 5:26 am

    Aduhhhh, ma’af listrik seharian mati, nyala hampir tengah malam.
    Generator hanya kuat untuk praktek. Jadi, telat njawabnya.

    @ helgeduelbek,
    Saya yakin para orang tua yang menyekolahkan anaknya jadi dokter, bertujuan agar si anak bisa membantu sesama. Bukan agar kaya.
    Kalau tujuannya supaya kaya berarti salah jurusan. Adapun ada yang bertujuan semata-mata cepet kaya, mungkin penyimpangan tujuan awal Pak. Itu menurut saya lho. Jangan khawatir pak Guru, di kalangan dokter sendiri ramai kalau bicara tarip, pro-kontra.
    Nah yang pro mahal dengan berbagai argumen ternyata tidak satupun yang punya jet pribadi, kapal pesiar pribadi, hehehe.
    Salah satu syarat layanan kesehatan adalah “mempertimbangkan daya jangkau” atau ekonomi pasien. Kalimat tersebut berorientasi moral.
    Aturan tarip setahu saya ada melalui IDI (ikatan dokter indonesia) di masing-masing Kota. Tapi mungkin juga ada yang ngga bikin.
    Contoh di Samarinda, jasa dokter umum minimal 25 ribu (mestinya maksimal ya) dan dokter spesialis 75 ribu.
    Dengan mempertimbangkan daya jangkau, boleh dong narik hanya 10 ribu, atau gratis bagi yang gak mampu. Itu masalah “kepatutan”.
    Biasanya pasien kapok pergi lagi ke yang mahal.
    Anehnya ada yang senang mahal, tapi setelah nebus obat malah “sambat”, hehehe.
    Kalau RSUD sudah ada Perda-nya Pak, tetapi percayalah, kebanyakan “lebih mahal” dari Perda.

    @ simkesugm06,
    Yuk, kita perjuangkan agar layanan kesehatan betul-betul berpihak kepada masyarakat berlandaskan asas kepatutan.
    Sistem bisa diperbaiki koq, asal simultan dan keroyokan. Setuju ?
    Pak Anis, soal bencana sakit diposting aja. hehehe

    @ prayogo,
    Koordinasi di jajaran kesehatan amboiiii sulitnya. Belum pada taraf mengedepankan layanan, kecuali spanduknya. hahaha
    Cerita lempar sana lempar sini di RS koq sering ya, jangan-jangan merata di negeri ini.
    Nggak apa-apa panjang Mas, memang untuk menjaring keluhan untuk perbaikan. Kalau dokternya ngga mau, salah sendiri. πŸ˜€

    @ Dani Iswara,
    Lain soal kalau sudah cocok, mbok luar kota dibelani ya.
    Untungnya dokter kulit, pasiennya masih bisa ngempet, paling hanya garuk-garuk. hehehe.
    Lha kalau dokter paru, si pasien bisa megap-megap.

    @ juliach,
    Anak di atas 4 tahun rata-rata milih Bu, kalo sudah biasa be dokter yang disukai lalu pindah dokter, bisa nangis, cemberut bahkan ada yang ngga mau minum obatnya.
    Kalau ke Indo minta sangu obat ke Dr.Fournel, karena batuk penyakit terbanyak di Indonesia.

    @ Lita,
    Hiy, saya ngga berani ngrasani Bu, apalagi membantah.
    Tulisan bu Lita sangat lengkap, ilmiah dan berbobot. Malah kami terbantu dengan postingannya. Saya sudah baca koq, hanya belum berani nulis komentar. πŸ˜€

    @ fertobhades,
    Mungkin asmanya kumat Pak, beliau keluar sebentar untuk nyemprot.
    Setelah beliau ngobati, mestinya gantian pak fertob nanya: “ada yang bisa dibantu?”. Siapa tahu beliau habis gegeran sama istrinya, lalu batuknya kambuh. hehehe.

    @ senyumsehat,
    Berbahagialah para dokter yang bisa menarik pelajaran dari para pasien dan keluarganya, dan menikmati ke-dokter-annya.
    Sekarangpun sebagian masih suntik minded Mbak.
    Depkes mencanangkan “tidak perlu suntik jika tidak perlu”, sampai di tempel logo besar di Pusling. Menurut saya, agak blunder karena sebagian pasien ngga merasa berobat bila tidak disuntik.

  17. 17 anis Februari 6, 2007 pukul 10:12 am

    cakmoki:
    tentang kepatutan, saya agak ragu dengan standar pentarifan karena negara kita khan benar-benar menerapkan pelayanan kesehatan dengan sistem pasar sebebas-bebasnya. Menerapkan tarif minimal….khan juga tidak membatasi dokter mau menggratiskan pasien. Menerapkan tarif maksimalpun juga gak ada yang bakal memberi sanksi jika melanggar. Paling komplain di suratkabar. Bagi pasien yang sudah megap-megap tapi mblegedhu (kaya banget) mbayar seberapapun juga gak bakalan masukin ke koran. Malah bikin malu sendiri. Biasanya khan malah bangga telah mengeluarkan biaya mahal….
    Kecuali jika sistemnya sudah berbasis asuransi. Di Prancis yang cakupan asuransinya sangat tinggi, pernah asosiasi dokter mogok gara-gara ingin meminta tarif dokter dinaikkan. Kalau masih seperti ini, kontrolnya ada pada charity dokter, masyarakat dan kecerdikan pasien. Di puskesmas istri saya, salah satu stafnya jatuh, harus dioperasi, pasang pen, harus mbayar lebih dari sepuluh juta. Sedangkan dari Askes hanya diganti dua jutaan. Kalau cerdik, dia milih sebagai pasien gakin saja …gratis tis… Lembaga-lembaga karitatif mungkin juga sangat membantu, tetapi ya tidak bakal bisa menjangkau semuanya. Kebijakan pemerintah yang menggratiskan pasien KLB (misal DBD dan flu burung) sangat diskriminatif, meskipun jelas-jelas membantu sang pasien.
    Mahal betul ya…pingin sehat di negeri ini (*yang lagi nglumpukke buat biaya sc istri yang ketiga….kalo yg ini memang karena tidak bisa menahan diri he..he..he..*

  18. 18 oon Februari 6, 2007 pukul 10:37 am

    jadi kalo kedokter…kalo ditanya diem aja…bilang aja” lah sampeyan yang dokter kok malah tanya kepasiennya sakitnya apa!”

  19. 19 tukangkomentar Februari 6, 2007 pukul 1:43 pm

    Masalahnya semuanya sebetulnya (kalau menurut pendapat saya lho) bisa dikembalikan ke masalah komunikasi.
    Biar cuma ditanya sana ditanya situ tanpa didudul perutnya atau tanpa diperiksa pakai stetoskop, yang penting komunikasinya (baca: cara ngomong dan menjelaskannya ke pasien). Jelas (jangan terlalu rumit dan kalau bisa jangan pakai istilah kedokteran yang muluk-muluk), ramah (buang senyum kanan dan kiri, ngesemi yang pasien baik yang muda manis ataupun yang sudah sepuh keriputan, juga yang tampangnya sangar).
    Tapi kalau menurut saya, biar bagaimanapun memeriksa tubuh itu mutlak penting, biarpun dengan anamnesa saja anda sudah bisa nyangka diagnosanya, tapi kadang-kadang ada yang bisa ditemukan lagi kalau kita periksa teliti.
    Sayang dalam kurikulum kedokteran fak komunikasi belum dimasukkan atau belum dipandang sebagai sesuatu yang penting.
    Sperti yang dikomenkan Prayogo:
    “Saya juga sebenarnya agak kesel kalau berobat ke dokter, nggak di apa2in eh bayarnya mahal. Bahkan sebelnya lagi waktu saya tanya kira2 saya sakit apa, dan parah tdk, eh dianya tdk ngejawab.”
    Mending kalau nggak dipisuhi (baca: dimaki):
    “Yang dokter tu siapa, kamu atau saya? Nanya-nanya mau apa, toh situ nggak ngerti! Minum aja obatnya. Sana sudah, pasien selanjutnya sudah ngantri ni!”
    Walah, walah!!!
    Mas Cakmoki: tentang kortison baru sedang saya susun, muncul segera.

  20. 20 Lita Februari 6, 2007 pukul 3:37 pm

    Duerr duerr… Jleb jleb jleb. Hantaman telak di lambung nih.
    Kuwalat saya kalo dialem sama dokter heheheh…
    Saya dibantu ya kalo salah. Eh, bener juga perlu dibantu lho πŸ™‚

  21. 21 Kang Kombor Februari 6, 2007 pukul 3:57 pm

    Kang Kombor kok nggak pernah ngrasani dokter macam begitu yah… Yang agak sering adalah mangkel sama dokter karena datang ke rumah sakit telat mulu. Nggak di RSUD Sleman, nggak di RS Annisa Tangerang, yang namanya dokter itu nggak pernah datang tepat waktu. Mungkin karena sudah jadi dokter (nek ngendhog gemeter) makanya sakenake wae telat datang ke RS. Padahal orang sakit sudah pada nunggu untuk diperiksa.

    Dulu waktu di RSUD Sleman mau mriksakan ibunya anak-anak, saking lamanya nunggu dokter, anak saya yang masih bayi setahun dipegang-pegang sama pasien lain yang nunggu dokter juga. Hasilnya, anak yang nggak sakit malah jadi sakit setelah dibawa pulang dari mriksakke ibunya. Hladalah… gara-gara nunggu dokter, anak sehat jadi sakit!

  22. 22 laras Februari 6, 2007 pukul 5:51 pm

    Saya pengen nanya neh, apa dokter itu sebel klo ada pasien nanya2 dan kayaknya agak2 ngerti soal penyakite..maklum jaman sekarang semua bisa disearch lewat internet. Soale rata2 dokter kok njaprut kalo ditanyain, padahal pasien juga tahu diri lho soal menghargai waktu. Tapi maksudnya biar nggak khawatir soal penyakitnya kan minta kepastian sama dokter.

    ada pasingen, oleh karena dokternya nggak segera keluar (praktek dirumah)pasiennya lama2 mangkel…sambil ngeluk boyok dia mengeluarkan kekesalannya..”waahh..doktere semaput”.. πŸ˜€ (mungkin kepalanya udah cekot2 dok..mana tahan..)

  23. 23 Ady Februari 6, 2007 pukul 7:29 pm

    Memang sangat susah berhadapan dengan hal ini.
    Waktu saya PTT saya buka praktek di rumah dinas dengan istri (dokter juga. Pasien yang datang pasti bilang kalo mau berobat sama saya atau sama istri.. Ga bisa diwakili.. padahal obat yang dipakai sama.. kadang-kadang pada kasus2 tertentu kita saling konsultasi.. Tapi pasien punya keyakinan kalau dirinya cocok dengan salah satunya..Kepercayaan pasien terhadap dokternya tidak bisa dibeli.. Makanya dokter tidak boleh mengabaikan kepercayaan dan harus membangunnya… Juga harus tahan terhadap omelan pasien dan keluarga (dokter juga manusia tidak bisa memuaskan semua pasiennya)…
    Yang terpenting sistem pendidikan dokter yang sangat mahal (terutama spesialisasi) harus segera dirubah (siapa yang bertanggung jawab ya)… karena klo bayar mahal untuk pendidikan pasti ujung2nya setelah tamat maunya balik modal dulu hehehe..
    Disini (australi) semua dokter yang mau spesialisasi sangat di support pemerintahnya (almost free) anehnya sedikit dokter yang mau spesialisasi.. Sistemnya sangat beda.. sistem asuransi dan sistem dokter keluarga sebagai filter sangat berjalan baik.. Jadi spesialis hanya bekerja kalo ada kasus yang tidak bisa ditangani dokter umum.. Kapan kita bisa begitu ya??

  24. 24 passya Februari 6, 2007 pukul 9:07 pm

    bukannya men-generalisir…klo udah masuk RS pasti money talks…klo ke praktek dokter kayaknya setali 3 uang.
    tapi ada juga dokter yg baek2 dan sangat peduli di RS Husada JKT, suka gak mau dibayar ‘jasa dokter’-nya klo ngeliat pasien gak mampu. salah satunya dokter bedah….salut!!

  25. 25 Odi Februari 6, 2007 pukul 10:34 pm

    Setuju sama pak Ady, untung sekarang perpustakaan di kampus saya sudah mulai lengkap jadi nggak harus beli semua buku teks book yang harganya amit-amit. Tapi harusnya pemerintah memberi subsidi lebih untuk buku-buku teks mahasiswa seperti di India.

  26. 26 cakmoki Februari 7, 2007 pukul 3:22 am

    @ Anis,
    Itulah repotnya, sistem tumpang tindih. Saya diomeli teman-teman gara-gara nulis “keluarga Miskin dijadikan lahan hijau”. Tulisan saya di milisnya depkes mungkin juga terlalu pedas. hehehe.
    Pak Anis, bisa ngga kita niru Singapur yang pakai tiga pilar Medi Save, mampu nggak mampu terlindungi tanpa batasan layanan kesehatan. Resikonya, orang-orang yang biasa ngurusi itu nggak dapet “srimpilan”. Hah, opo yo gelem ?
    Kalau nunggu kecerdikan pasien rasanya koq lama yo, lha wong makin kurang cerdik semangkin dibuat bal-balan. hahaha.

    @ oon,
    Hehehe, iya-iya, itu salahnya yang nanya.

    @ tukangkomentar,
    Komunikasi pasien-dokter sebenarnya masuk di mata kuliah “kode etik” Pak. Kalau di UI sepengetahuan saya ada mata kuliah khusus soal hubungan pasien-dokter, di universitas lain mungkin juga ada.
    Tapi aplikasinya seperti yang ditulis di komen-komen ini.
    Mungkin perlu kursus PR kayak pegawai Bank.
    Jadi benar kalau ada guyonan:
    ” dokter menulis resep dengan tulisan sejelek-jeleknya dan menulis kuitansi dengan tulisan sebagus-bagusnya “. Hehehe
    Nggih, cortison baru saya tunggu.

    @ Lita,
    Aduhh terimakasih Bu, saya mau dibantu. Hiyyy, saya kalo sama ahli kimia paling takut lho.
    Iya, iya saling bantu, saya banyak-banyak dibantu ya πŸ˜€

    @ Kang Kombor,
    dokter=nek ngendhog gemeter. hahaha singkatan yang baru saya dengar nih. Dokternya sering telat mungkin saking banyaknya sampingan Kang. Bilangnya tetangga dokter ada 2, dokter “teladan’ dan dokter “telatan” πŸ˜€

    @ laras,
    Saya baca “waah doktere semaput”, asli tertawa terpingkal.
    Kalo pertanyaan tersebut ditujukan kepada saya, tentu saya senang bila pasien sudah mengerti duluan, komunikasi bakalan lebih nyambung dan lancar. Saya biasa aktif menjelaskan walau ngga ditanya. *muji diri sendiri*
    Tapi memang benar, bilangnya pasien-pasien, sebagian dokter kalo ditanya malah “njaprut”, bahkan ada yang marah.

    @ Ady,
    Halo Mas Ady di Australia. Ya benar, di negara maju spesialistik berorientasi pada keahlian, sedangkan di Indonesia “ganti tarip”. Makanya sebagian terus sibuk “kembali modal” (menurut penilaian umum). *nggak semua, tapi mungkin ada benarnya*
    Saya sependapat soal perbaikan sistem, siapa tahu nulis-nulis gini masih ada yang peduli.
    Semoga sukses.

    @ passya,
    Ohhhh senangnya, ternyata di RS nan megah itu ada juga yang baik. Semoga ditiru oleh sejawat lain, baik di RS maupun di praktek.
    Maksud pak Passya mungkin yang ngga mampu ngga usah mbayar jasa, toh ngga setiap hari berobat. Jangan khawatir pak, yang begitu oke koq.
    Gimana temen-temen dokter yang ngeblog, setuju kan ?

    @ Odi,
    Kita dengan India (dalam bidang medis) sudah kalah 2 langkah lho.
    Syukur deh kalo perpusnya sudah lengkap. Selamat menikmati texbook.

  27. 27 mina Februari 7, 2007 pukul 4:40 pm

    @tukangkomentar:
    kurikulum barunya kedokteran sekarang sudah diperbaharui dan ada satu kompetensi khusus untuk Komunikasi ini. mudahan di masa depan dokter-dokternya bisa berkomunikasi dengan lebih baik ya πŸ™‚

    memang betul kata mas tukangkomentar (susah banget nick-nya hehehe), kalo udah pasang senyum (biar orangnya tadinya ngebetein, kalo istilah kami di sini: “bore”) dan menjelaskan dengan sabar pada pasien dan keluarganya (biasanya sih keluarganya yang suka ‘cerewet’, apalagi yang merasa kaya dan punya sodara/kenalan dokter atau pejabat tinggi), maka semua akan sama-sama senang. pasien senang dan tersugesti untuk sembuh karena senang liat dokternya ramah dan perhatian, keluarganya senang karena informasi yang diinginkan tentang pasien dan penyakitnya didapat serta pasien ditangani dan diperhatikan, kita juga senang karena mereka tidak “bore” lagi.

    oya, konsep dokter keluarga (yang menekankan banget pada upaya preventif) yang digaung-gaungkan sejak tahun berapa itu (apa tahun 2000-an ya) di Indonesia, kok tidak begitu kedengaran lagi?

  28. 28 cakmoki Februari 7, 2007 pukul 6:38 pm

    @ mina,
    Trims tambahan infonya Mbak.
    Soal dokter keluarga tetap menggaung, masih ada juga di Renstra depkes.
    Pelaksanaannya saya rasa koq agak ribet. Coba bayangkan, jika acil Siti udah kadung cocok berobat ke Mbak Mina, tiba-tiba disuruh pindah ke dokter julak ibus, mana mau si acil pindah. Bujur kadak ?

  29. 29 mina Februari 8, 2007 pukul 6:35 pm

    hahahaha…. senangnya membaca bahasa banjar di internet. ada kah yu nang menulis blog pakai bahasa banua.

  30. 30 cakmoki Februari 9, 2007 pukul 1:41 am

    @ mina,
    hahaha bisanya cuman itu, yang halus kadak kawak Mbak.
    Rasanya sih ada, cuman saya lupa alamatnya.

  31. 31 starflake Februari 25, 2007 pukul 1:45 pm

    coba kalo dokter sini manggil anak kecil “anak kucing” ky di prancis…bisa2 digebukin sama ortunya tu dokter…haha…

  32. 32 sinung Februari 25, 2007 pukul 2:38 pm

    >
    > https://cakmoki86.wordpress.com/2007/02/04/pasien-ngrasani-dokter/#comment-255
    > Ady
    > Yang terpenting sistem
    > pendidikan dokter yang sangat mahal
    > (terutama spesialisasi) harus segera dirubah

    | http://www.jmpk-online.net/files/01.mustikowati.pdf
    |
    | faktor-faktor yang mempengaruhi penerimaan
    | penempatan dokter spesialis ikatan dinas
    |
    | Responden tidak keberatan mengembalikan
    | uang pendidikan 6-20 kali asal
    | terlepas dari perjanjian ikatan dinas
    |

    yang dapat ikatan dinas juga ‘ogah’ ke penempatan daerah ‘tertentu’,
    apalagi yang ‘bayar sendiri’?

  33. 33 cakmoki Februari 25, 2007 pukul 4:20 pm

    starflake,
    Apalagi manggil “anak-kuntil”, gebukannya bisa dua kali πŸ˜€

  34. 34 Qee April 4, 2007 pukul 9:02 pm

    Betapa membahagiakannya menjadi manusia yg berdedikasi dengan profesinya sendiri. Selamat berjuang Pak. Nulis dan ngasih manfaat buat kami kami juga sama dengan jihad kok πŸ™‚

  35. 35 cakmoki April 6, 2007 pukul 4:55 am

    @ Qee,
    Ehm ehm, jangan muji ah, ntar kepala saya bisa mekar dan mbledosss πŸ˜€

  36. 36 Qee April 6, 2007 pukul 7:56 pm

    Muji?? mana…mana??? Mana orangnya yg muji? sini kasi liat. Nda boleh itu…bisa bikin GR…bahaya itu…!!! duuhh…gimana sihhh..
    Ckakakaka…

  37. 37 cakmoki April 7, 2007 pukul 3:12 am

    @ Qee,
    walahhh, saya terlanjur GR, ralaaattt πŸ˜€

  38. 38 tyas April 8, 2007 pukul 11:58 am

    Wah saya telat baca postingan yang ini dok, tapi bukan berarti kritikan saya telat ya πŸ™‚
    BTW makasih sarannya di kolom tanya jawab, saya (akhirnya) dah operasi apendiks tgl 31 maret kemaren. Maturnuwun dok πŸ™‚
    Oh iya, saya juga ngrasani dokter lho di:
    http://pramesti_kusumaningtyas.blogs.friendster.com/catatan_harian_zombie/2007/04/surat_cinta_unt.html

  39. 39 cakmoki April 8, 2007 pukul 7:24 pm

    @ tyas,
    Alhamdulillah, sudah operasi. Maaf, berarti jawaban saya sangat terlambat. Saya sudah baca “dokter oh dokter” sebelum jawab pertanyaan minggu lalu itu, hanya saja tidak bisa komentar karena harus login di friendster.
    Wah bagus dan salut kritikannya di “surat Cinta …”. Itu perlu untuk perbaikan. Saya agak heran, apendisitis 4 hari (hehehe kelamaan).

    Point 1. Saya ikut prihatin, menyedihkan. Mestinya sprei dan sarung bantal diganti setiap hari. Kamar mandi 1-2 kali sehari harus dibersihkan oleh cleaning servis. Kenyamanan layanan pasien mestinya diutamakan.
    Sekedar mau nyombong, di tingkat kecamatan, kami bisa melakukan itu. Bahkan ngepel 2 kali sehari ditambah pewangi aneka aroma.

    Point 2. Soal visite. Maaf, saya jadi teringat keluhan pasien gak mampu yang tidak pernah ditengok dokter selama sakit. Bukannya mau menyamakan dengan pasien tak mampu. Sayapun mengkritik keras perilaku sejawat dokter yang gak visite untuk melalkukan follow-up dan dialog dengan para pasiennya, terlebih dibayar mahal.
    Mestinya visite dilakukan sehari sekali, walaupun hari libur.

    Di postingan saya sebelumnya, seputar layanan Rumah Sakit, tulisan saya cukup pedas.
    Saya gembira ada pengguna jasa layanan kesehatan peduli dengan memberikan saran dan kritikan untuk perbaikan.
    Moga diperhatikan.

    Boleh saya copy-paste ? Jika diijinkan akan saya edarkan kepada teman-teman di kota kami.

  40. 40 tyas April 20, 2007 pukul 8:47 pm

    silahkan dok, dengan sangat senang hati πŸ™‚

  41. 41 cakmoki April 20, 2007 pukul 11:53 pm

    @ Tyas,
    Trims ya

  42. 42 ruly Juli 13, 2007 pukul 5:53 pm

    saya dong dok, ikutan curhat..
    sebulan yg lalu papa saya ga enak badan, beliau sih udah sering tensi diatas 240 hehehe habis udah stroke 7 tahun, lah cuma makan adalat doang. krn pensiunan dr bumn jd dpt asuransilah buat rawat inap.
    krn agak mual jd kita ke ugd, n dokter jaganya tanpa ngomong n cuma duduk doang, perawat lgsg nepuk2 perut n ngukur tensi, yah 240.
    langsung dibilang udah rawat inap..
    ibu bilang, ga usah kita minta obat aja, soalnya bpk itu sering tensinya 240 n masih bisa jalan tenang (ini stroke yg ke-2)
    eh susternya malah melotot bilang
    ‘biasa gimana, kemarin tetangga saya tensinya 240 katanya gpp eh pulang kerumah meninggal..’ lah kok nakuti kyk gitu sih,
    toh klu dilihat scr fisik, dgn jalan masih seimbang, tangan bisa diangkat keatas dan bisa senyum kok bisa mati kyk tetangganya

    n dokternya cm duduk sama sekali ga meriksa..
    akhirnya saya melotot, kok ga diperiksa sih dok ?
    ini papa saya cuma mau minta obat mana sama ama tetangga situ..
    akhirnya dokternya mau periksa, nepuk-nepuk perut n buat resep doang.. bayar 20ribu hehehe

    saya jd menganggap krn kita dicover asuransi, yg ga perlu opname, obat n segala macam pemeriksaan jadi diadakan n cenderung dipaksakan pk nakut2in segaala..

    yang paling lucu klu ditanya dokter ‘sakit apa?
    looooooh sayakan bukan dokter,
    mana saya tau saya sakit apa..
    yang saya tahu ‘apa saya yang sakit..’ kan beda githuu..

  43. 43 cakmoki Juli 14, 2007 pukul 12:50 am

    @ ruly,
    Sungguh memprihatinkan.
    Itulah potret sebagian besar layanan medis di negeri ini, tidak ramah, kurang perhatian, gak serius, meremehkan, tidak memeriksa, tidak memberi penjelasan, dan yang paling parah “nakut-nakuti” dengan ungkapan “mati”.
    Menurut sy, dokternya juga keliru tidak mengingatkan petugasnya. Mungkin sistem dan pengawasan pihak manajemen terhadap kinerja para petugas juga gak beres.
    Bayangkan jika yg datang pasien miskin, bisa-bisa dibentak 😦

    oya, perawatan hipertensi, apalagi pernah stroke kalau bisa rutin dan sedapat mungkin tensi diupayakan turun. Tentu tidak ke tempat yg tadi, jika memungkinkan periksa ke dokter lain yg lebih profesional.

    Moga ayahanda dapat sehat kembali πŸ™‚

  44. 44 gatotburisrowo Februari 15, 2008 pukul 4:16 pm

    mumpun sampean lagi girang, saya mau lapor sekaligus mohon pencerahan. begini:
    Mertua saya diabetes, kaki luka dan harus di amputasi. Malem-malem, cari kamar di RS jawabanya seragam, penuh, atau kalau mau VIP yang harganya jut-jutan. Akhirnya beliau cuma di kasih antibiotik untuk menghadang infeksi. Besoknya kakak kembali ke RS tempat mertua biasa dirawat. Jawaan sama. Bingung kita. benar benar bingung sementara mertua makin drop. Kok kakak-ku punya ide mbagi-mbagi duit dan kue ke suster-suster itu. lembar-lembar Rp 50K berterbangan kemana-mana. Nyatanya terus ada kamar kosong dan mertua saya bisa masuk dirawat disana. Bayangkan, untuk mendapat kamar saja, sudah keluar duit, stress dan keringat begitu rupa.
    Disebelah pembaringan mertua sebelum masuk kamar itu, tergeletak bocah SD kelas enam yan sudah enam hari mengidap DB. Ibunya cerita baru bisa bawa anaknya ke RS karena baru hari itu bisa ngumpulin duit utangan. Tapi di rumah sakit di gelatikin begitu saja karena β€˜kamar penuh, adanya VIP’.
    Menghadapi situasi seperti itu sontak saya geram, tapi dipikir-pikir cuma menghabiskan energi batin. Mereka itu sakit pak de, kemana mereka harus berobat ya???

    Sorry pak Dhe kalau tidak berkenan

  45. 45 cakmoki Februari 16, 2008 pukul 2:45 am

    @ gatotburisrowo:

    mumpun sampean lagi girang

    Girang?
    Maaf, postingan ini menceritakan tentang ungkapan dan pengalaman para pasien yang tidak dilayani dengan semestinya di institusi layanan medis, misalnya puskesmas dan RS.
    Jadi, tulisan ini adalah otokritik berdasarkan pengalaman buruk keluarga pasien agar menjadi perhatian pihak manajemen RS untuk mengadakan perbaikan.
    Lha saya ikutan ngritik teman sendiri koq dibilang lagi girang.
    Piye tho?


  1. 1 Pasien ngrasani dokter « Ngobrol Kesehatan Weblog Lacak balik pada Agustus 6, 2008 pukul 3:19 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Wong ndeso β„’

cakmoki

Wordpress Indonesia

Silahkan baca

DISCLAIMER

web tracker

9 Desember 2009

SEMENTARA TUTUP

Maaf, sementara Blog istirahat hingga ada pemberitahuan

Harap maklum


MARI HENTIKAN KORUPSI

Jangan Korupsi Ah

No Korupsi

Internet Sehat

Warga Bicara

» Makasih PLN, listrik Samarinda dah membaik, moga gak byar-pet

» Waspada Demam Berdarah

» Jangan Gunduli Palaran

» Banjir...banjir. Kapan masalah ini teratasi ?

INGA INGA INGA

» Nyeri Urat or Tulang BUKAN berarti Penyakit Asam Urat.

» Sekali lagi: Pegal, Linu Tidak Identik dengan Penyakit Asam Urat

TEMANs

9racehime | A. Fatih Syuhud | Aditiawan Chandra | A.Tajib | Agung UD | aLe | alief | alle | almascatie | Amd | Anak Peri | Anak Sultan | Anang | Anang YP | Anas | Andalas | Anggara | Anjaz | Anti Pungli | Antobilang | Anung87 | Aribowo | Arif Kurniawan | Arul | Astikirna | awan965 | axireaxi | Bambang alias HR | BatakNews | Blog Pokoke? | Biho | CalonOrangTenar | Cay | Chandra | Chielicious | chiw imudz | cK-chika | Dalamhati | Deden Nugraha | deedhoet | deKing | Desti Utami | Didats | doeytea | dnial | Edy C | Eep | Elpalimbani | erander | Evi | Fa | Fa wp | Faiq | Fertobhades | Fetro | Fortynine | Freddy | Gadis | Gaussac | Gitablu | Grandiosa | GuhPraset | GuM | Helgeduelbek | Herdy | Indonesia Kita | Indra KH | ItikKecil | iway | Jejakpena | Jennie S. Bev | Joesath | Joko Taroeb | Julee | Juli | Juliach | Junthit | Jurig | Kakilangit | Kang Adhi | Kang Kombor | Kangguru | kawaichu | Kenji | Kenzt | kikie | koecing | Kumala | Kurtubi | Kw | Laras | liezmaya | Lilik Suryanto | Lily | Linker | Lintang | Lita | Lita wp | Luthfi | MaIDeN | Majalah Dewa Dewi | Manusiasuper | Master Li | Mathematicse | macanang | mbojo | Mei | Micokelana | Mr. Geddoe | Mufti | mybenjeng | My-za | Nayla Zahra | Nayz | Ndarualqaz | Neeya | Neo Forty-Nine | Neri | Ninoy | Nieke | Nomercy | n0vri | NuDe | Om Sulis | omaigat | Ooyi | Paijo | Panca | Pandu | Panduan WP | Papabonbon | Passya | Peyek | Pinkina | Pitik | Pralangga | Prayogo | Priyadi | Qee | Raja iblis | RenjanaBiru | rivafauziah | Rivermaya | Roffi | roisZ | Rujak | Sagung | Sahrudin | Saiful Adi | SaRa | Siu | Sofi | Sora9n | Suandana | Suluh | Susiloharjo | Telmark | Thamrin | tiesmin | Triesti | Tukang Sate | Venus | Wadehel | Wahyuansyah | Wandira | Wiku | WongMangli | Wulan | Yati | Yudhipras |

:: :: :: :: :: :: :: :: ::

Kesehatan

:: Ady Wirawan :: Agus Mutamakin :: Anis Fuad :: Anis Fuad wp :: Asri Tadda :: Astri Pramarini :: Astri Pramarini (awal) :: Astri Pramarini wp :: Blog Mahasiswa FKU 2003 :: Blog Rumah Kanker :: Dani Iswara :: Dani Iswara weblog :: Dokter arek cilik :: drAnak :: drarifianto :: Dwi wp :: Elyas :: Erik Tapan :: Evy HealhtySmile :: FK Unsri :: Gies :: Gies wp :: Ginna :: Grapz :: Hendar Sunandar :: HIV News :: Huda Thoriq :: IDI Samarinda :: imcw :: Imran Nito :: Iwan Handoko :: Jhonrido :: klikharry :: Kobal :: Laksmi Nawasasi :: Mashuri :: Mave Mina :: Mbah Dipo :: Mina :: My Blogspot :: Nur Martono :: PKM Palaran :: Rara :: Rizma Adlia :: Rudy Kwang :: SenyumSehat :: Sibermedik :: SimkesUGM :: SuperKecil :: Titah :: Tito :: Tonang Ardyanto :: Tukangkomentar :: Wi :: Vina Revi :: Vina Multiply :: Yusuf Alam R :: zulharman79 ::

:: :: :: :: :: :: :: :: :: :: ::

Institusi Kesehatan

:: Depkes RI :: WHO :: WHO Indonesia :: … nyusul

:: :: :: :: :: :: :: :: ::

Kolaborasi

:: Emedicine :: ICD 10 Wikipedia :: ICD 10 Wiki Indonesia :: OSWD :: OpenWebDesign :: Pakistan Times :: Rubab :: ntar ::

Kategori

BlogTour

Arsip

Komunitas Blog

blog-indonesia.com

PAGE RANK

Powered by  MyPagerank.Net

Add to Technorati Favorites

[Valid RSS]

Health Blogs - Blog Top Sites

Health

Blogs Topsites - TOP.ORG

Health Blogs - Blog Rankings

Blog directory

TopOfBlogs

Top 10 Award

Feed Burner

cakmoki Blog

Bloggerian Top Hits

My BlogCatalog BlogRank

Site Meter

Since 30 Nov 07

PENGUNJUNG

  • 5,301,967 pengintip

Asal Usul

Pebruari 2011

free counters


%d blogger menyukai ini: