Samarinda: DBD merebak

Lagi, siklus tahunan berulang.
Persis seperti tulisan saya sebelumnya yakni DBD hadir sepanjang tahun.
Dinas Kesehatan (Samarinda) tergopoh-gopoh menyusun dalih, bukannya bertindak nyata, tetapi sibuk berkilah.

Padahal menyangkut nyawa manusia.
Padahal setiap tahun merebak nyata.
Padahal setiap bulan ada kasusnya.
Padahal panduan sudah ada.
Padahal dana tersedia.

Mari kita simak cuplikan berita Samarinda Post kemarin:
( Jum’at. 26 Januari 2007 )

Untuk mengantisipasi makin meluasnya kasus DBD, DKK Samarinda menurut Astuti terus melakukan berbagai upaya. Diantaranya sosialisasi kepada masyarakat tentang gerakan 3 M serta abatisasi.

“Untuk fogging tergantung permintaan. Biasanya jika ada satu wilayah yang sudah terdeteksi ada DBD, warga minta dilakukan fogging di daerahnya,” kata Astuti sembari menyebut stok obat-obatan dan bubuk abate di DKK Samarinda tersedia mencukupi.

Sementara itu informasi yang diperoleh Sapos menyebutkan, kasus DBD paling banyak terjadi di daerah pinggiran kota ini. Diantaranya Palaran dan Bukuan. Terhadap hal itu Asuti mengatakan belum bisa memastikan. “Saya tidak hafal datanya. Tapi nanti akan saya cek,” ujarnya.

Catatan: teks sesuai aslinya, sedangkan cetak tebal adalah tambahan saya sebagai penekanan.

Yuk, kita perhatikan 3 alinea cuplikan di atas. Anggap saja berita tersebut benar. Dan percayalah, kemungkinan memang benar, saya sudah hapal lagunya.

Alinea pertama.
Untuk gerakan 3 M ( menutup, menguras dan menimbun ) sudah lama bergema. Itupun masih ada pemeriksaan jentik nyamuk secara berkala di bak penampungan warga.
Satu Kelurahan atau Desa diambil sampel rumah, lalu diperiksa bak mandi, gentong, drum dan semua penampungan air dengan melibatkan kader.
Selanjutnya dihitung persentase antara yang bebas jentik nyamuk dengan jumlah semua yang diperiksa. Hasil perhitungan adalah Angka Bebas Jentik.
Apakah kegiatan ini jalan ? Kegiatannya jalan, namun hasilnya, mbuh !
Koq gitu ? Ya, karena pernah sebuah desa dinyatakan bebas jentik seluruh rumah, sekali lagi bukan sampel (dan tentu dengan bangga), eh ternyata tak lama kemudian ada kasusnya.
Hal itu bisa terjadi, mengingat mobilitas penduduk antar desa amat mudah.
Tapi apa argumen orang-orang Dinas Kesehatan Samarinda ?
” Itu impor dari Kota lain “.
Duh, kenapa gak sekalian impor dari Jakarta.
Kendati bisa dianggap benar ditinjau dari “permainan kata-kata”, argumen tersebut amat sangat tidak cerdas.

Soal abate, sebenarnya tidak pernah cukup, sehingga petugas Puskesmas sering gegeran dengan warga. Betapa tidak, di media digembar-gemborkan cukup dan gratis, kenyataannya tidak. Sehingga warga membeli kepada penjaja abate. Uniknya, ada diantara penjaja tersebut berseragam laiknya PNS. Bayangkan saja, bagaimana penilaian orang.

Bilangnya gratis, tapi koq beli.
Mungkin bisa dibuat parikan:
” Jare numpak dokar, koq mlaku. Jare gak mbayar, koq tuku “.
Sayapun pernah dipaksa membeli Abate oleh penjaja lewat pagar belakang rumah. Ketika saya tanya asal muasal Abate, mbulet dan masih maksa. Dan saat saya katakan bahwa saya orang kesehatan, barulah penjaja tersebut mengatakan tidak memaksa, mungkin dia lupa sebelumnya ngotot maksa.
Saya sangat maklum, wong DKK-nya saja mbulet, tak heran ditiru oleh orang lain, dan jadilah lingkaran pembuletan.

Alinea kedua.
Wah, saya sulit mengomentarinya.
Coba baca lagi, seorang Kepala Dinas Kesehatan mengatakan bahwa pengasapan (fogging) tergantung permintaan. Jika suatu daerah terdeteksi ada DBD, warga minta dilakukan fogging.
Itulah kenyataannya.
Oke, saya beri tahu. Di Samarinda, feedback DBD diberikan dari Rumah Sakit kepada DKK awal bulan berdasarkan kasus bulan sebelumnya.
(paling cepat setelah penderita keluar RS)
Dalam feedback tertulis nama, umur, nama orang tua, alamat dan tanggal masuk maupun keluar Rumah Sakit. Setelah itu, Dinas Kesehatan meneruskan ke Puskesmas, dan petugas Puskesmas menindaklanjuti dengan melakukan pencarian penderita berdasarkan feedbak, lalu diadakan yang namanya penyelidikan. Setelah ada kepastian data feedback, barulah dilakukan pengasapan (fogging)
Apa artinya ?
Artinya, rangkaian teori dan birokrasi di atas adalah sia-sia belaka, sekali lagi sia-sia dan sudah terlambat.
Lha iya tho, wong saat didatangi ke rumah penderita, yang bersangkutan sudah seger waras. Opnamenya kan sudah berlalu. Virusnya sudah nongkrong di nyamuk-nyamuk Aedes agypti, siap mencari mangsa.
Jadi untuk kesekian kalinya, boleh gak boleh saya ingin mengatakan bahwa Dinas Kesehatan Samarinda masih senang memelihara kebodohan.
Hai friends, serius dong. Jangan seneng ngapusi gitu ah.
Kalau sampeyan wis serius tenan, tolong dibantah tulisan saya ini. Piye ?

Alinea ketiga.
Nah ini daerah tempat saya tinggal. Kecamatan Palaran.
Seminggu sekali, sepengetahuan saya, ada gak ada kasus, laporan DBD dikirim ke DKK. Mau harian juga bisa, lantaran sejak 2004 sudah ada Rawat Inap. Laporannya cukup lengkap, mulai tanda klinis sampai pemeriksaan laboratorium disertakan.
Tapi saya sudah hapal lagu klasik DKK, begitu ramai di koran, temen-temen di DKK sontak minta laporan.
Walah, berarti laporan rutin mingguan gak dibaca dong.
Apa buktinya ?
Baca lagi kata Kepala Dinas Kesehatan di atas, beliau mengatakan:
Saya tidak hafal datanya. Tapi nanti akan saya cek,” ujarnya.

Rasanya sekarang bulan Januari 2007 ya, sedangkan DBD sudah ada trend meningkat sejak akhir Nopember 2006 yang lalu, dan penderita sudah tergeletak.
Ah jangan-jangan masih mau berkilah dengan rumus sakti “belum KLB”.

Oya, sedikit narasi tentang 3 M.
Di beberapa daerah Ibukota Provinsi Kalimantan Timur ini, masih belum bisa menikmati air PDAM yang kadang ngadat itu.
Contoh daerah saya. Dari 5 kelurahan, 4 diantaranya tidak ada pipa ledeng, sedangkan 1 kelurahan pipa ledeng sudah ada tapi belum jangkep.
Pada musim kemarau, warga di 4 kelurahan tersebut mencari air di sumber-sumber mata air, tak jarang memakai air sungai lalu diolah sendiri. Ketika hujan turun, maka seluruh drum dibuka untuk menampung air hujan. Artinya, air sangat mahal.
Berarti salah satu M yakni menguras menjadi pekerjaan yang sulit untuk dilakukan.
Mau dikuras ? Iya kalau ada hujan, kalau tidak bagaimana.
Saudara tentu akan menyimpulkan bahwa infrastruktur tidak diperhatikan oleh yang terhormat Pemerintah Kota Samarinda.
Bukan karena kota kami minim anggaran saudara-saudara.
RAPBD sekitar 700 Milyar, jumlah penduduk antara 500-600 ribu jiwa, terdiri dari 6 kecamatan. Silahkan lihat situs Kota Samarinda.
Karenanya tak usah terkejut bila di waktu tertentu diare juga mudah meningkat sama halnya dengan DBD.

Bagaimana deteksi dini DBD ?
Maksudnya begini, bila ada anak panas lalu tidak turun-turun, disertai penurunan kondisi tubuh, dan dicurigai atau khawatir menderita DBD, alangkah baiknya bila di Puskesmas bisa diperiksa laboratorium untuk deteksi dini agar tidak terlambat.
Berbeda manakala nunggu penderita mengalami tanda-tanda perdarahan kulit, mimisan, sampai syok.

Nah untuk menghindari hal itu, diperlukan deteksi dini, yakni dengan pemeriksaan trombosit dan hematokrit sebagai parameter diagnosa DBD selain gejala yang nampak. (gejala klinis)
Bila pembaca menanyakan: apakah Puskesmas wajib memiliki alat hitung trombosit ?
Menurut saya, WAJIB dan mudah.
Masa sih yang beginian aja harus dikirim ke Rumah Sakit, lucu kan. Apalagi yang tempatnya jauh.

Mahalkah harganya ?
Sangat mahal saudara, sekitar 500 ribu rupiah sudah dapat kualitas lumayan.
Tahun 2002, ketika masih aktif di Puskesmas, saya pernah mengusulkannya saat Rapat Koordinasi di Balai Kota. Gak digubris.
Daripada ruwet usul-usul, akhirnya beli sendiri.
Mudah-mudahan saja teman-teman di Puskesmas bisa mengikuti.
Keuntungannya, penderita DBD bisa diketahui lebih dini, sehingga dapat diberikan perawatan lebih dini pula.
Konsekwensinya, di sisi lain bagi DKK dianggap suatu kenaikan, dengan kata lain kejelekan.

Yah kalau memang naik, apakah harus ditutup-tutupi ?
Mau bohong ?
Laporan palsu demi prestise ?
Mau mengorbankan penderita ?
Semoga pula teman-teman di Puskesmas dapat menyajikan data apa adanya, agar penanggulangannya lebih terarah.
Sayangnya sebagian besar masih takut-takut. Entah di tempat lain,mungkin lebih berani, lebih bagus, atau mungkin tidak ada bedanya.

Tulisan ini masih sangat umum, belum mengarah ke teknis medis dan sistem pelayanan. Kalau nulis begituan, malah nampak carut marutnya. Mungkin lain kali.

Baiklah, rasanya sudah cukup pedas. Untuk teman-teman DKK Samarinda gak perlu khawatir, toh saya tetap bantu sampeyan-sampeyan semampunya.
Selamat bekerja para sejawat, semoga sukses.

Brosur singkat DBD silahkan download di sini.

Berita Terkait:

Terpaksa Dirawat di Lorong
Penderita DBD Meningkat
Seorang Lagi Penderita DBD Meninggal

Iklan

14 Responses to “Samarinda: DBD merebak”


  1. 1 anis Januari 27, 2007 pukul 4:50 pm

    pak Moki, saya rasa tidak cukup pedas. Hanya, pedas sekali. Tapi, beliaunya (atau DKK) baca blog ini gak ya?…..

  2. 2 prayogo Januari 27, 2007 pukul 5:00 pm

    Indonesia (kita) tdk pernah belajar dari pengalaman. Bencana, penyakit datang silih berganti. Tdk ada tindakan riil dari pemerintah…

    Semuanya berlalu begitu saja…

  3. 3 helgeduelbek Januari 27, 2007 pukul 6:12 pm

    lagu lama rupanya… pemerintah pusat, daerah, sama saja. Semua suka memerintah, usul dari bawah dikira nyaingin ikut memerintah.

  4. 4 cakmoki Januari 28, 2007 pukul 12:39 am

    @ Anis,
    Hehehe, kalau gitu nanti ditambahi gula, ngurangi pedasnya.
    Ada yang baca Pak, temen sendiri. Paling-paling kudu ngguyu.
    Kalau ketemu, biasanya temen-temen hanya bilang: “pancet ae “.

    @ Prayogo,
    Betul Mas, kebanyakan begitu. Ada yang bagus tetapi sedikit.
    Sebenarnya tidak sulit asal serius.
    Tapi kapan ya ?

    @ Helgeduelbek,
    Memerintah. Kata kerja yang disertai nada instruktif ya.
    Saya kira hanya di daerah saya saja lho Pak.
    Kalau banyak daerah yang juga begitu, sungguh sangat memprihatinkan.

  5. 5 Dani Iswara Januari 28, 2007 pukul 3:17 am

    untung saya bukan pejabat 😀

  6. 6 cakmoki Januari 28, 2007 pukul 7:53 am

    @ Dani Iswara,
    Di jajaran pejabat kesehatan Kaltim, saya beruntung mengalami dua Kakanwil hebat dan 1 Ka DKK bagus. Selebihnya, begitulah.
    Sebenarnya ada beberapa senior saya yg bagus, tapi gak mau jadi pejabat. Mungkin males dirasani gini ini. hehehe.

  7. 7 nina Februari 18, 2007 pukul 9:36 pm

    ada juga kok pejabat dkk yang moco
    tapi ra iso opo-opo
    makasih cerminnya
    smoga makin pedes ben cepet nyari tombo

  8. 8 cakmoki Februari 19, 2007 pukul 11:36 am

    @ nina,
    hahaha, pejabat sing endi wae tho.
    Koq ra iso ngopo-opo keneng opo ?
    Eh iyo iyo wis ngerti ding.
    Kapan nggawe situs ? Nggawe blog wae, sing gratisan koyo iki 😀

  9. 9 ungu_mania Maret 6, 2007 pukul 3:48 pm

    Ya gimana mau orientasi preventif&promotif kalau paradigmanya masih paradigma sakit. Yo nunggu sakit tho… baru bergerak…
    btw emang di FK/FKG/Keperawatan belajar banyak ttg pencegahan/masalah kesehatan masyarakat???
    Udah saatnya nih … It is the time for “Public Health” untuk unjuk gigi… tul ga…???
    Kembali deh ke jalur masing-masing…

  10. 10 cakmoki Maret 6, 2007 pukul 11:55 pm

    @ ungu_mania,
    Sebenarnya sih paradigma yang berlaku masih sesuai “konvensi Alma Ata”, yakni preventif&promotif. Tentu juga berjalan beriringan dengan “kuratif” dan “rehabilitatif”. Pendeknya harus integrasi personal dan program.
    Artinya preventif dan promotif harus dijalankan sepanjang tahun dan kuratif mutlak diperlukan saat ada penderita. Gak mungkin kan, penderita yang sudah kena hanya dicekoki dengan penyuluhan doang.
    Tapi kenyataan masih “reaktif”, mbingungi saat ada kasus, maka itulah jadinya. Masih banyak ya PR kita.
    Di FK, mata kuliah IKM (Public Health) saat ini diberikan mulai semester II sampai semester akhir. Jadi bekal udah lebih dari cukup, tinggal aplikasi. Lhaaaa di bagian aplikasi inilah gak jalan sesuai harapan. So, benar tuh: kembali ke jalur yang benar.
    Maksute, semua harus serius dan kompak. Bisa gak ya ?

  11. 11 ungu_mania Maret 7, 2007 pukul 4:36 pm

    Setuju…mari kita berjalan seiring…cak moki…
    Kita amat menghargai profesi dokter dan paramedis lainnya dengan tidak ikut terlibat langsung dalam penanganan kuratif..karena kami tidak berwenang dan sedikit ilmu ttg itu (walau ada materi biomedik,farmakologi,dll)… bagaimana dengan sebaliknya?
    Menurut informasi yg dapat dipercaya materi IKM di FK memang dimulai dari semester 2 sampai akhir tapi ya total cuma maksimal 14 SKS tho… dari 100 an sks yang FKM punyee…
    Mungkin karena jaringan antara “aktor-aktor kesehatan” yang kurang OK menyebabkan pekerjaan agak2 overlap…
    Hope we gain better future….for Indonesian Health especially Samarinda of course…
    Thanks dok…

  12. 12 cakmoki Maret 7, 2007 pukul 5:25 pm

    @ ungu_mania,
    Itulah perlunya integrasi antara SKM dan dr serta semua komponen dalam jajaran kesehatan. Tapi emang saya akui, masih banyak teman sejawat yang agak egosektor. Dikiranya bisa kerja sendiri, emange superman. Hehehe, saya bisa diprotes teman sendiri nih.
    Ok, semoga sesuai harapan kita. Trims

  13. 13 herwanto Maret 15, 2007 pukul 3:52 pm

    dari pengamatan saya dari tahun 90an sampai sekarang dbd tetap pancet, baik puskesmas yang memiliki kinerja tinggi dan puskesmas yang katanya mlempem sama saja, dari sebelum otonomi penuh puskesmas sampai sekarang otonomi puskesmas sama saja, sebab keberhasilan pengendalian dbd tidak sematan tanggung jawab bidang kesehatan, sampai bulan januari 2006/2007 kasus di wilayah pusk. palaran, sidomulyo, karang asam, wonorejo dll juga tetap tinggi, apakah ini yang dinamakan keberhasilan puskesmas yang tidak maksimal, atau dananya tidak ada, atau koordinasi yang tidak jalan, atau logistik yang di drop ke puskesmas disalahgunakan dll timbul dibenak saya. Perlu diingat kasus dbdb 2007 kembali lagi melanda kota-kota besar yang memiliki sdm bagus, PWS dan kewaspadaan dini bagus . kenapa demikian ? Coba kita renungkan, lihat sekeliling kita sudahkan lingkungan kita bebas dari Sarang Nyamuk, sudahkah kepedulian ditanamkan dimasyarakat, adakah rasa memiliki kota ini sehingga mau menjaga kebersihan dan keindahan kota ini, sudahkan memperlihatkan kinerja yang baik sebagai aparatur. Kesimpulan saya dbd bukan milik dkk, tapi dari dan untuk mereka, kalau kota ini mau bebas dari dbd bukan dari kesehatan, tapi dari masyarakat itu sendiri, sekarang bagaimana memeneg masyarakat kearah itu dengan kondisi masyarakat yang sangat heterogen, seperti Kota Samarinda. SELAMAT BERKARYA

  14. 14 cakmoki Maret 16, 2007 pukul 3:57 am

    Hehehe, sudah dijawab sendiri. Saya tunggu yang lebih teknis.

    Jawaban:
    Bahwa masalah kesehatan, khususnya dalam bahasan DBD, BUKAN melulu tanggung jawab Jajaran Kesehatan melainkan tanggung jawab bersama, saya sependapat. Tapi tidak sebatas ungkapan itu kan ?
    Perlu diingat, hal tersebut akan terwujud jika Jajaran Kesehatan sebagai promotor berfungsi dengan benar. Ukuran sederhana adalah koordinasi di tingkat II (mengacu kepada pedoman desentralisasi kesehatan). Apakah ini sudah dilakukan, menurut saya TIDAK. Sungguh naif jika promotor yang lebih mengerti teknisnya masih bekerja sendiri-sendiri, lalu mengharapkan peran serta pihak lain. Nonsen.
    Indikasinya adalah ketiadaan integrasi.
    Contoh: Sebelum musim hujan tiba, mestinya sudah ada integrasi personal dan program. Artinya subdin yang membawahi promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif beserta seluruh jajaran di bawahnya (Puskesmas) sudah action, bukan menunggu korban bergelimpangan di RS. Sayangnya di wilayah dasar ini tidak dilakukan.

    promotif: bahwa DBD adalah endemis, maka konsekwensi logis adalah: penyuluhan secara simultan tanpa menunggu korban. Ini berarti dilakukan terus menerus. Saya yakin ini tidak dilakukan, yang terjadi adalah himbauan 3M saat sudah terjadi ledakan DBD.

    preventif
    Ok, yang ini kita mafhum, yakni 3M, Abatisasi dan bisa juga fogging dimasukkan walau kurang efektif. Kenyataan: 3M (sudah dibahas di posting lain) dan penulis menyediakan tatacara bergambar di halaman download. Pihak kesehatan bisa menyebarkannya tanpa menunggu terjadinya kasus. Sudahkah ? Bagiannya PKM ? Puskesmas ?

    ABATISASI: fakta menunjukkan abate baru ribut saat sudah terjadi melubernya kasus DBD, itupun sering tidak cukup, walau di media dikatakan cukup. Masih menunggu permintaan, masih sering ditinggal nonton TV. Artinya: belum beres. Dan ini masih dalam wilayah kesehatan, bukan masyarakat.

    FOGGING:
    Nunggu permintaan, haaaah ?
    Apa dana yang diajukan P2M masih 750-900 ribu untuk satu focus ?
    Ini kesalahan mendasar, tidak serius dan cari uang !!!

    Kuratif
    Hahaha, walaupun beberapa bulan lalu ada workshop DBD yang mungkin dananya belasan juta (lebih?), saya yakin dan percaya TIDAK BERGUNA.
    Mengapa ? Karena saya yakin yang ikut tidak tahu blas kriteria diagnosa dan pendekatannya. Bayangkan, penanganan kasus beresiko hilangnya nyawa hanya bermodal belajar print-out fotokopian, dan bermodal pelatihan sehari.

    FAKTA:
    Subdin P2M (atau apalah namanya) dan sebagian besar Pimpus TIDAK SERIUS, terbukti dengan tiadanya alat ukur trombosit dan hematokrit sebagai parameter diagnostik.
    Inipun belum cukup, masih diperlukan pengetahuan mendiskripsikan antara lab dan klinis. Jangan ada lagi istilah Gejala DBD. Ini namanya pembodohan.
    Kalau hanya mengandalkan Rumple leed’s Test, sudah bukan jamannya untuk saat ini. Tidak efektif, menyulitkan pasien.

    Rehabilitatif
    Ohhh, yang ini tidak terurus. Mapping dan penanganan penderita pasca perawatan DBD hanya dikunjungi untuk PE (penyelidikan/pengamatan Epidemiologi) yang berakhir dengan permintaan Fogging. TERLAMBAT !!!
    Penderita sudah bermain, bersekolah, dll sementara virus sudah menyebar, nongkrong dalam nyamuk Aedes agypti.

    Kesimpulan,
    Sekaligus sebagai tawaran solusi.
    Sebelum mengharapkan peran serta masyarakat dan pihak terkait, mari kita dandani lebih dahulu jajaran kesehatan. Integrasi dan koordiniasi adalah kata kunci. Adapun infrastruktur terkait 3 M, yakni tersedianya Air Bersih bagi warga, sampaikan saja secara jujur kepada Walikota bahwa hal tersebut adalah tanggung jawab walikota, sehingga tidak ada lagi warga kesulitan air. Bayangkan, bagaimana mau menguras sebagai salah satu unsur 3M, jika air saja sulit. Sekali lagi sampaikan kepada walikota. Berani ?

    Subdin-subdin harap kompak. Bisa kan ?
    Misalnya, membiasakan diskusi/evaluasi berkala antar subdin dan jangan berjalan sendiri-sendiri berdasarkan DIP melulu. Hindari jalan-jalan yang tidak perlu walaupun judulnya heboh, kayak studi banding dan semacamnya. Kita bisa belajar dengan membaca dan pengamatan lapangan sendiri koq.

    Jangan lagi mark-up anggaran. Tidak bakalan program berhasil jika masih cari duit dari situ.
    Jangan juga menutup-nutupi kenyataan. Gak apa-apa insidens tinggi kalau memang kenyataan begitu, agar selanjutnya dapat ditemukan akar permasalahannya.

    Biasakan membaca, bukan membaca tabloit gosip, tapi ilmu khususnya ilmu kesehatan. Perbanyak referensi agar tidak berpandangan sempit.

    Laporan harap dibaca, dianalisa dan dilanjutkan dengan langkah nyata. Bukan sekedar menampilkan grafik, lalu gegeran karena hanya menilai angka doang, tanpa pembanding variabel dan narasi.

    Bagaimana jika kita usulkan perombakan ?
    Misalnya, jika memang Kepala Dinas Kesehatan dan atau Subdin yang sudah tidak mampu atau ngawur diusulkan DIGANTI saja.

    Dan kepada TS kepala Puskesmas:
    Maaf, biasakan membaca, belajar rutin dan review kasus bersama stafnya. Tanpa itu, diseminasi internal tidak jalan, berarti info keluar juga seret dan basi.
    Belajar menulis juga dong. Masa sih gak bisa. Misalnya bikin brosur.

    Jika semua persyaratan pokok internal kesehatan sudah berjalan, maka bolehlah kita berharap peran serta masyarakat dan pihak terkait. Kalau sedikit-sedikit peran serta, sedangkan pemeran utama hanya nonton TV, jalan-jalan, sibuk proyek, … opo pantes mengatakan partisipasi ?
    Sekali-sekali coba seharian ikut nungguin pasien DBD. Coba rasakan betapa stressnya para pasien dan keluarga. Kalau perlu bermalam di samping penderita. Bukan hanya kunjungan dinas sesaat agar nampak perhatian lalu kelihatan fotonya di media. Mengapa ? Agar kita menjadi peka, punya sedikit nurani.
    Mengapa saya mengatakan ini ? Karena saya merasakan melekan bersama keluarga pasien DBD, tidak hanya sekali, tidak hanya sebulan, tidak hanya setahun. Tidak harus tiap hari. Setidaknya selain upaya promotif dan preventif, support bagi penderita dan keluarganya sangat diperlukan. Dan tidak perlu dipamerkan di koran.

    Akhirnya, MARI BERBENAH !!!
    Salam 🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Wong ndeso ™

cakmoki

Wordpress Indonesia

Silahkan baca

DISCLAIMER

web tracker

9 Desember 2009

SEMENTARA TUTUP

Maaf, sementara Blog istirahat hingga ada pemberitahuan

Harap maklum


MARI HENTIKAN KORUPSI

Jangan Korupsi Ah

No Korupsi

Internet Sehat

Warga Bicara

» Makasih PLN, listrik Samarinda dah membaik, moga gak byar-pet

» Waspada Demam Berdarah

» Jangan Gunduli Palaran

» Banjir...banjir. Kapan masalah ini teratasi ?

INGA INGA INGA

» Nyeri Urat or Tulang BUKAN berarti Penyakit Asam Urat.

» Sekali lagi: Pegal, Linu Tidak Identik dengan Penyakit Asam Urat

TEMANs

9racehime | A. Fatih Syuhud | Aditiawan Chandra | A.Tajib | Agung UD | aLe | alief | alle | almascatie | Amd | Anak Peri | Anak Sultan | Anang | Anang YP | Anas | Andalas | Anggara | Anjaz | Anti Pungli | Antobilang | Anung87 | Aribowo | Arif Kurniawan | Arul | Astikirna | awan965 | axireaxi | Bambang alias HR | BatakNews | Blog Pokoke? | Biho | CalonOrangTenar | Cay | Chandra | Chielicious | chiw imudz | cK-chika | Dalamhati | Deden Nugraha | deedhoet | deKing | Desti Utami | Didats | doeytea | dnial | Edy C | Eep | Elpalimbani | erander | Evi | Fa | Fa wp | Faiq | Fertobhades | Fetro | Fortynine | Freddy | Gadis | Gaussac | Gitablu | Grandiosa | GuhPraset | GuM | Helgeduelbek | Herdy | Indonesia Kita | Indra KH | ItikKecil | iway | Jejakpena | Jennie S. Bev | Joesath | Joko Taroeb | Julee | Juli | Juliach | Junthit | Jurig | Kakilangit | Kang Adhi | Kang Kombor | Kangguru | kawaichu | Kenji | Kenzt | kikie | koecing | Kumala | Kurtubi | Kw | Laras | liezmaya | Lilik Suryanto | Lily | Linker | Lintang | Lita | Lita wp | Luthfi | MaIDeN | Majalah Dewa Dewi | Manusiasuper | Master Li | Mathematicse | macanang | mbojo | Mei | Micokelana | Mr. Geddoe | Mufti | mybenjeng | My-za | Nayla Zahra | Nayz | Ndarualqaz | Neeya | Neo Forty-Nine | Neri | Ninoy | Nieke | Nomercy | n0vri | NuDe | Om Sulis | omaigat | Ooyi | Paijo | Panca | Pandu | Panduan WP | Papabonbon | Passya | Peyek | Pinkina | Pitik | Pralangga | Prayogo | Priyadi | Qee | Raja iblis | RenjanaBiru | rivafauziah | Rivermaya | Roffi | roisZ | Rujak | Sagung | Sahrudin | Saiful Adi | SaRa | Siu | Sofi | Sora9n | Suandana | Suluh | Susiloharjo | Telmark | Thamrin | tiesmin | Triesti | Tukang Sate | Venus | Wadehel | Wahyuansyah | Wandira | Wiku | WongMangli | Wulan | Yati | Yudhipras |

:: :: :: :: :: :: :: :: ::

Kesehatan

:: Ady Wirawan :: Agus Mutamakin :: Anis Fuad :: Anis Fuad wp :: Asri Tadda :: Astri Pramarini :: Astri Pramarini (awal) :: Astri Pramarini wp :: Blog Mahasiswa FKU 2003 :: Blog Rumah Kanker :: Dani Iswara :: Dani Iswara weblog :: Dokter arek cilik :: drAnak :: drarifianto :: Dwi wp :: Elyas :: Erik Tapan :: Evy HealhtySmile :: FK Unsri :: Gies :: Gies wp :: Ginna :: Grapz :: Hendar Sunandar :: HIV News :: Huda Thoriq :: IDI Samarinda :: imcw :: Imran Nito :: Iwan Handoko :: Jhonrido :: klikharry :: Kobal :: Laksmi Nawasasi :: Mashuri :: Mave Mina :: Mbah Dipo :: Mina :: My Blogspot :: Nur Martono :: PKM Palaran :: Rara :: Rizma Adlia :: Rudy Kwang :: SenyumSehat :: Sibermedik :: SimkesUGM :: SuperKecil :: Titah :: Tito :: Tonang Ardyanto :: Tukangkomentar :: Wi :: Vina Revi :: Vina Multiply :: Yusuf Alam R :: zulharman79 ::

:: :: :: :: :: :: :: :: :: :: ::

Institusi Kesehatan

:: Depkes RI :: WHO :: WHO Indonesia :: … nyusul

:: :: :: :: :: :: :: :: ::

Kolaborasi

:: Emedicine :: ICD 10 Wikipedia :: ICD 10 Wiki Indonesia :: OSWD :: OpenWebDesign :: Pakistan Times :: Rubab :: ntar ::

Kategori

BlogTour

Arsip

Komunitas Blog

blog-indonesia.com

PAGE RANK

Powered by  MyPagerank.Net

Add to Technorati Favorites

[Valid RSS]

Health Blogs - Blog Top Sites

Health

Blogs Topsites - TOP.ORG

Health Blogs - Blog Rankings

Blog directory

TopOfBlogs

Top 10 Award

Feed Burner

cakmoki Blog

Bloggerian Top Hits

My BlogCatalog BlogRank

Site Meter

Since 30 Nov 07

PENGUNJUNG

  • 5,317,035 pengintip

Asal Usul

Pebruari 2011

free counters


%d blogger menyukai ini: