Tindakan Medis dasar untuk mahasiswa kedokteran

Kapan sebaiknya mahasiswa kedokteran mempraktekkan Tindakan Medis Dasar?

Yang dimaksud “tindakan medis dasar” pada tulisan ini adalah ketrampilan tindakan medis sederhana yang biasa dilakukan oleh seorang dokter di institusi pelayanan tingkat pertama.

Begitu lulus dari pendidikan dan bertugas melayani penderita, seorang dokter mestinya sudah trampil tindakan-tindakan teknis medis sederhana, misalnya:
injeksi (im, iv,sc), memasang infus, pasang kateter, pasang nasal sonde, nebulizer, ekg, sinkronisasi hasil laboratorium dengan fisik diasnostk, minor surgery (Rossen plasty, extirpasi dll), resusitasi, formulasi cairan (GE, DBD, dll) dan … apa lagi ya …

Ketrampilan tersebut selain wajib, dapat menolong secara dini kasus-kasus yang mestinya dapat dilakukan di layanan kesehatan tingkat pertama dan dapat mengoptimalkan salah satu tugas dokter yakni bimbingan teknis kepada paramedis.

Desas desus menyebutkan bahwa kesempatan mengasah ketrampilan di atas makin sulit, konon rebutan dengan residen …
Jikalau berita ini benar (bukan alasan), saya ikut TERHARU.
Bagaimana kelak setelah menjadi dokter lalu ditugaskan di tempat yang tidak ada “siapa-siapa” selain dirinya dan paramedis?
Akankah kasus-kasus seperti status asmatikus langsung dirujuk tanpa tindakan awal yang mungkin hanya perlu tindakan 5 sampai 30 menit?
Akankah sebuah puskesmas rawat inap tidak mampu merawat GE dengan dehidrasi berat, DBD derajat II-III karena si dokter tidak mampu melakukannya?
Akankah bom “kecil” ini kita biarkan?
Tegakah bila adik-adik kita nanti minim ketrampilan dasar karena tidak kita pedulikan?

Kisah nyata:
Seorang kemenakan saat ini menjalani co ass tahun kedua. Ketika ngobrol, dia mengatakan saat baru masuk co-ass “tingak-tinguk”. Di ruangan hanya mengikuti dokter visite, hanya melihat. Syukur jika tiap bagian ada dokter residen atau dokter staf yang bermurah hati memberikan bimbingan teknis. Kalau tidak ?
Dia juga mengatakan bahwa bisa pasang infus ya saat co-ass itu tadi…. itupun di dapat di RSUD Magelang, karena di Jojga rebutan … hahhh?!?
Hal yang sama terjadi juga ponakan lain di Unair, Surabaya.
Ketika pertama “diwaduli”, saya hanya komentar pendek: ” alaaa alasannya orang malas “.
Ponakan: ” bener om, …”.
Sayapun bertanya-tanya kepada ts spesialis yang menjadi staf di RSUD dr. Soetomo, ternyata memang benar, kesempatan belajar ketrampilan tidak seluas dulu lagi, lebih-lebih dengan adanya pemendekan waktu kuliah.

Apa betul sih sistem bimbingan berantai dari dokter muda kepada adik-adiknya yang tingkat I dan seterusnya di klinik-klinik kecil dan RS satelit sudah hilang dari peredaran?
Maklum, saya tidak lagi mengikuti karena jauh nun di sini.
Rasanya dulu HMI, PMII, GMNI (yang lain lupa) atau yang independent melakukan hal itu.

Halo sejawat … bagaimana pengalaman di tempat lain?
Jangan bilang sama ya, mungkin saja saya yang salah dengar …
Karena, jika sama … gimana mau meningkatkan mutu layanan, kalau salah satu mata rantai promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif ada yang bolong

Nah di Samarinda ada kedokteran Unmul (saat ini masih psku setelah naik pangkat dari ppd).
Alhamdulillah, kedokteran di Samarinda TIDAK ada bedanya …

Bagaimana caranya agar adik-adik kita mahasiswa kedokteran bisa menguasai teknis medis dasar secara dini? … Ada usul ?

Alkisah, setelah saya cio (career is over, istilah pak Anis) dari puskesmas dan diminta bantu-bantu di lab ikm psku unmul, ngajar perdana semester VII.
Iseng-iseng saya tanya:” siapa yang sudah bisa pasang infus ?”
Mhs: ” … beluuummm “… serempak
” Ada yang bisa nyuntik ?
Mhs: ” … beluuummm “… serempak
Usut punya usut, yang mau masuk co-ass pun ternyata belum pernah ngicipi nyuntik.

coming soon … mengenalkan dapur layanan medis

Iklan

15 Responses to “Tindakan Medis dasar untuk mahasiswa kedokteran”


  1. 1 Dani Iswara Desember 31, 2006 pukul 9:58 pm

    waktu koas dl di RS Sanglah memang ‘jatah latihan’ tindakan medis agak berkurang dgn banyaknya residen dan pasien yg ingin pelayanan spesialistik (selain koas-nya yg ‘ngabur’ mulu…)..kesempatan itu justru diperoleh di RS kerjasama yg lain..apalagi kalo bisa deket dgn residen yg baik.. 🙂

    lho mederasinya kok masi ada.. 🙂
    dg kode verifikasi sptnya sdh cukup aman dr spambot..
    kec. pengen komentar yg emang ‘aman’.. terserah author aja.. 🙂

  2. 2 cakmoki Januari 1, 2007 pukul 10:59 am

    @ mas Dani
    Berarti sudah lama ya, … koas yg “ngabur” apa ngga nyesel?
    Kalo ada kesempatan di RS lain masih enak, apalagi ada residen yg mau mbimbing.
    Menurut mas Dani, apa perlu dikenalkan lebih dini?

    Aduhhh, maaf moderasi … trims koreksinya …
    untung belum disemprot mbak Mina hehehe
    Segera saya update
    😀

  3. 3 Anonymous Januari 2, 2007 pukul 3:50 am

    self test

  4. 4 anis Januari 3, 2007 pukul 5:53 am

    Kalo di RS pendidikan katanya ada “makan bertingkat”, spesialis makan chief residen, chief residen makan residen junior, residen junior makan koas, koas makan soto he..he..he..
    Dari sisi kesempatan praktek memang lebih banyak di RS satelit. Tetapi, jika tidak dibimbing juga sami mawon, nanti dapatnya ilmu hitam. Atau, yg mbimbing keliru dan yang dibimbing juga tidak tahu kalo itu keliru. Di RS pendidikan spt Sardjito atau Sanglah yg menarik mungkin aspek diskursus keilmuannya.
    Yg menarik adalah: 1)bagaimana membagi komposisi (waktu & tugas) yg tepat antara RS pendidikan dan RS Daerah, 2)pelatihan residen dan dokter spesialis di RS daerah sebagai mentor dan pembimbing koas dan residen. kalo perlu mereka juga mendapat reward sebagai dosen (misal dapat gelar akademik selain honor membimbing), 3)membuat kompilasi catatan koas/residen yang diverifikasi sebagai sumber-sumber belajar seumur hidup (misal dijadikan blog atau buku), mmm apa lagi ya…

  5. 5 cakmoki Januari 3, 2007 pukul 6:49 am

    @ pak Anis,
    hahaha di mana-mana budaya “makan” itu koq ya jadi conginetal …
    Iya ya, kalo ngga tersistem, malah dapat ilmunya “mak lampir”.
    Yang menarik itu, akan kami diskusikan dengan temen-2. Kemarin sore sms-an dg dekan, beliau oke tapi belum mbahas teknis. Trims advisnya, freeware kan hehehe
    Ya ini enaknya ngeblog sama pakar.
    🙂

  6. 6 tukangkomentar Februari 25, 2007 pukul 1:27 am

    Waktu saya masih kuliah dulu (di Jerman) kami (mahasiswa) belajar nyuntik antara kolega. Padahal saya orangnya kan paling takut suntik! Dan bayangkan kalau mulai belajar, biarpun vena-nya nongol sebesar selang pompa bensin, ya, kadang masih meleset saja. 😦
    Waktu adaptasi, bimbingan dari senior atau yang lebih senior itu hampir nol. Ada satu rekan senior (orang Batak) yang telaten dan suka mbela kita-kita ini!

  7. 7 tukangkomentar Februari 25, 2007 pukul 1:28 am

    Tambahan: Maksudnya tentu adaptasi di Indonesia.

  8. 8 cakmoki Februari 25, 2007 pukul 3:05 am

    @ tukangkomentar,
    Berarti memang sangat perlu ya.
    Beberapa bulan ini saya mencoba membimbing mahasiswa semester VII untuk tindakan tersebut setiap hari Sabtu sore dan Minggu siang di tempat saya tugas dulu. Walaupun sudah berulang demo, saat perdana nyubles pasien, mereka gemetaran juga. Setelah merasakan lha koq mereka ketagihan, mungkin saking senengnya.
    Nah ini ada masukan untuk saya, besok coba saya tawari infus antar mereka, siapa tahu mau.
    Maturnuwun Pak 😀

  9. 9 ndarualqaz Februari 25, 2007 pukul 4:31 am

    Pak, apakah tindakan medis dasar yang dilakukan oleh orang selain dokter dalam keadaan darurat bisa dibenarkan? kebetulan saya “dulu” anggota SAR (sekarang berhenti karena badan saya sudah “remuk”) yang dapet spesialisasi pertolongan darurat dan saya sempat mendapat pelatihan medis dasar seperti injeksi, pasang infus bahkan pemasangan gif pada patah atau retak tangan dan saya pernah melakukan itu semua.

    terus terang saya selama ini takut kalau2 tindakan pertolongan saya tidak sempurna, walaupun pada saat itu dalam keadaan yang benar2 darurat.

  10. 10 cakmoki Februari 25, 2007 pukul 9:42 am

    @ ndarualqaz,
    Dalam keadaan darurat, siapapun yang menolong adalah seorang penolong dan akan dihargai.
    Apalagi sudah mendapat latihan seperti SAR, Dakura dll.
    Hebat tuh 😀

  11. 11 niar-kun Juli 15, 2007 pukul 11:59 am

    iyo pak, desas desus nya emang seperti itu…, tapi kami ada skill lab, belajar nyuntik pake manekin, tapi sepertinya rasanya beda ketika nyuntik orang beneran, masak kalah ma pengguna narkoba… jas jus teruss ;))

  12. 12 cakmoki Juli 15, 2007 pukul 1:41 pm

    @ niar-kun,
    iya, rata-rata skill lab pakai peraga. Perlu berhadapan langsung, bisa menikmati tremor perdana, hehehe.
    wah, maaf ketinggalan … ntar sy masukin link kesehatan ya 🙂

  13. 13 Fajar qimindra Desember 27, 2007 pukul 10:24 am

    Akur Cak,

    Saya angkatan 96 FK Unair. Melihat adik2 kelas jadi trenyuh juga…
    Waktu angkatanku pun juga harus berani bertindak (baca;rebutan).
    malah aku masih ingat ketika julukan DM di ruang jantung adalah Dm nggledek EKG, jadi dalam 2 mgg kita harus pinter2 dekati residen tuk bisa baca ecg.

    Jadi tergantung juga keinginan para DM. Ingak2 kebaikan datang dengan adanya niat dan kesempatan.(kayak bang Napi saja)

  14. 14 cakmoki Desember 27, 2007 pukul 7:03 pm

    @ Fajar qimindra,
    Thanks share-nya … 1996, berarti kita sebaya dong *mode mlungsungi:on*
    lho, latihan ketrampilan di PHI saat preklinik emang gak ada lagi ya…

  15. 15 jude November 27, 2008 pukul 9:54 pm

    send me the medis lesson. thx


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Wong ndeso ™

cakmoki

Wordpress Indonesia

Silahkan baca

DISCLAIMER

web tracker

9 Desember 2009

SEMENTARA TUTUP

Maaf, sementara Blog istirahat hingga ada pemberitahuan

Harap maklum


MARI HENTIKAN KORUPSI

Jangan Korupsi Ah

No Korupsi

Internet Sehat

Warga Bicara

» Makasih PLN, listrik Samarinda dah membaik, moga gak byar-pet

» Waspada Demam Berdarah

» Jangan Gunduli Palaran

» Banjir...banjir. Kapan masalah ini teratasi ?

INGA INGA INGA

» Nyeri Urat or Tulang BUKAN berarti Penyakit Asam Urat.

» Sekali lagi: Pegal, Linu Tidak Identik dengan Penyakit Asam Urat

TEMANs

9racehime | A. Fatih Syuhud | Aditiawan Chandra | A.Tajib | Agung UD | aLe | alief | alle | almascatie | Amd | Anak Peri | Anak Sultan | Anang | Anang YP | Anas | Andalas | Anggara | Anjaz | Anti Pungli | Antobilang | Anung87 | Aribowo | Arif Kurniawan | Arul | Astikirna | awan965 | axireaxi | Bambang alias HR | BatakNews | Blog Pokoke? | Biho | CalonOrangTenar | Cay | Chandra | Chielicious | chiw imudz | cK-chika | Dalamhati | Deden Nugraha | deedhoet | deKing | Desti Utami | Didats | doeytea | dnial | Edy C | Eep | Elpalimbani | erander | Evi | Fa | Fa wp | Faiq | Fertobhades | Fetro | Fortynine | Freddy | Gadis | Gaussac | Gitablu | Grandiosa | GuhPraset | GuM | Helgeduelbek | Herdy | Indonesia Kita | Indra KH | ItikKecil | iway | Jejakpena | Jennie S. Bev | Joesath | Joko Taroeb | Julee | Juli | Juliach | Junthit | Jurig | Kakilangit | Kang Adhi | Kang Kombor | Kangguru | kawaichu | Kenji | Kenzt | kikie | koecing | Kumala | Kurtubi | Kw | Laras | liezmaya | Lilik Suryanto | Lily | Linker | Lintang | Lita | Lita wp | Luthfi | MaIDeN | Majalah Dewa Dewi | Manusiasuper | Master Li | Mathematicse | macanang | mbojo | Mei | Micokelana | Mr. Geddoe | Mufti | mybenjeng | My-za | Nayla Zahra | Nayz | Ndarualqaz | Neeya | Neo Forty-Nine | Neri | Ninoy | Nieke | Nomercy | n0vri | NuDe | Om Sulis | omaigat | Ooyi | Paijo | Panca | Pandu | Panduan WP | Papabonbon | Passya | Peyek | Pinkina | Pitik | Pralangga | Prayogo | Priyadi | Qee | Raja iblis | RenjanaBiru | rivafauziah | Rivermaya | Roffi | roisZ | Rujak | Sagung | Sahrudin | Saiful Adi | SaRa | Siu | Sofi | Sora9n | Suandana | Suluh | Susiloharjo | Telmark | Thamrin | tiesmin | Triesti | Tukang Sate | Venus | Wadehel | Wahyuansyah | Wandira | Wiku | WongMangli | Wulan | Yati | Yudhipras |

:: :: :: :: :: :: :: :: ::

Kesehatan

:: Ady Wirawan :: Agus Mutamakin :: Anis Fuad :: Anis Fuad wp :: Asri Tadda :: Astri Pramarini :: Astri Pramarini (awal) :: Astri Pramarini wp :: Blog Mahasiswa FKU 2003 :: Blog Rumah Kanker :: Dani Iswara :: Dani Iswara weblog :: Dokter arek cilik :: drAnak :: drarifianto :: Dwi wp :: Elyas :: Erik Tapan :: Evy HealhtySmile :: FK Unsri :: Gies :: Gies wp :: Ginna :: Grapz :: Hendar Sunandar :: HIV News :: Huda Thoriq :: IDI Samarinda :: imcw :: Imran Nito :: Iwan Handoko :: Jhonrido :: klikharry :: Kobal :: Laksmi Nawasasi :: Mashuri :: Mave Mina :: Mbah Dipo :: Mina :: My Blogspot :: Nur Martono :: PKM Palaran :: Rara :: Rizma Adlia :: Rudy Kwang :: SenyumSehat :: Sibermedik :: SimkesUGM :: SuperKecil :: Titah :: Tito :: Tonang Ardyanto :: Tukangkomentar :: Wi :: Vina Revi :: Vina Multiply :: Yusuf Alam R :: zulharman79 ::

:: :: :: :: :: :: :: :: :: :: ::

Institusi Kesehatan

:: Depkes RI :: WHO :: WHO Indonesia :: … nyusul

:: :: :: :: :: :: :: :: ::

Kolaborasi

:: Emedicine :: ICD 10 Wikipedia :: ICD 10 Wiki Indonesia :: OSWD :: OpenWebDesign :: Pakistan Times :: Rubab :: ntar ::

Kategori

BlogTour

Arsip

Komunitas Blog

blog-indonesia.com

PAGE RANK

Powered by  MyPagerank.Net

Add to Technorati Favorites

[Valid RSS]

Health Blogs - Blog Top Sites

Health

Blogs Topsites - TOP.ORG

Health Blogs - Blog Rankings

Blog directory

TopOfBlogs

Top 10 Award

Feed Burner

cakmoki Blog

Bloggerian Top Hits

My BlogCatalog BlogRank

Site Meter

Since 30 Nov 07

PENGUNJUNG

  • 5,303,313 pengintip

Asal Usul

Pebruari 2011

free counters


%d blogger menyukai ini: