Razia dokter dispensing

Entah sekedar isu apa betulan, sebelumnya gak pernah ngecek dan gak ambil pusing, tapi kali ini nulis sedikit tentang “dispensing”. Bilang temen-temen mau ada razia dokter dispensing, maksudnya dokter dispensing akan “ditertibkan”. Sekitar 6 tahun lalu pernah ada razia dokter dispensing di Samarinda , sehingga beberapa sejawat “ngakali”, bila ngobati perlu 4 macam obat maka 2 macam obat diberi di ruang praktek, 2 macam obat lainnya diresepkan.

Difinisi
Dispensing di kalangan dunia kedokteran difinisi sederhananya adalah seorang dokter yang praktek dengan menyediakan obatnya … all in gitu.
Misalnya seorang pasien datang, di tanya-tanya, diperiksa, (mungkin juga disuntik) lalu diberi obat, dijelaskan penyakitnya (mungkin ada juga yang pakai alat bantu semisal pda or komputer), diberi obat, dijelaskan cara pakai obat (mungkin juga cara kerja obat or jenisnya), disertai advis (anjuran atau larangan atau periksa laboratorium atau lainnya), lalu bayar (mungkin juga ada yang digratiskan) …
Itulah gambaran “dokter dispensing” … jelas?
Berapa biayanya? … paling itu yang mau ditanyakan kan …

Contoh:
Di kecamatan Palaran Samarinda ada 7 dokter praktek.
Biaya jasa dokter (saat ini) rata-2 berkisar antara 10 ribu sampai 20 ribu termasuk suntik simptomatis (kecuali injeksi spesifik semisal injeksi bricasma untuk asma or sesden atau buscopan untuk kolik, biaya ditambah seharga obat suntik tersebut)
Biaya obat tergantung jenis obat dan jumlahnya.

Contoh kasus:
Bila seorang pasien dewasa Tonsilitis (amandel) disertai panas lalu misalnya mendapatkan obat:
Ospamox 500 mg sebanyak 12 biji: 12×700= Rp 8.400,-
Alphamol 600 mg sebanyak 12 biji: 12×300= Rp 3.600,-
Jumlah obat Rp 12.000,-
Bila jasa dokter antara Rp 10.000,- sampai Rp20.000,-, maka pasien tersebut membayar Rp22.000,- sampai 32.000,-

Bila anak 5 tahun berat 18 kg dengan kasus yang sama misalnya mendapat obat seperti dibawah:
Sirup Topcillin Forte sekitar Rp 10.000,-
Sirup penurun panas sekitar Rp4.000,-
Jumlah obat: Rp14.000,-
Maka total biaya untuk anak tersebut antara Rp24.000,- sampai Rp34.000,-
bdan ila menggunakan obat generik akan menghemat sekitar 4 ribu sampai 8 ribu.

Contoh di atas adalah di Palaran Samarinda. Tentu banyak pilihan untuk jenis dan harga obat, yang di atas termasuk kategori “agak mahal”, kenyataan umumnya di bawahnya.
Itulah “dokter dispensing”, menyediakan obat untuk para pasiennya

Untung dan ruginya (subyektif)
Keuntungan:

  • Pasien tidak repot lagi wira-wiri ke apotik
  • Harga cenderung lebih murah dibanding harus ke apotik yang rata-rata gak jelas harganya (oya jelas ding, jelas mahal sampai ratusan ribu).
  • Si dokter bisa berdialog langsung tentang tatacara minum obat, kegunaan, mana yang harus habis mana yang boleh disimpan dan sebagainya.
  • Biasanya dokter ambil sedikit keuntungan harga obat dari harga beli (kecuali yang ndableg)
  • Dokter bisa memberi label obat dan klip plastik (tapi masih banyak yang nulis misalnya 3×1 di blister obat, yang ini maaf: “gak mutu”)

Kerugian:

  • Masih banyak dokter dispensing yang memberi tanda garis spidol di botol obat bentuk sirup dan menyuruh pasien menambahkan air masak sesuai garis (menurut saya yang ini dokter males dan gak bondo), tapi mudah diperbaiki dengan menyuruh beli gelas ukur atau kalo gak mampu beli pakai aja botol dot anaknya, jika gak punya anak pinjam aja punya anak tetangga … lha gak bondo kan …
  • Masih banyak dokter dispensing yang nulis “aturan pakai” di blister obat dan tidak mencantumkan kegunaan, misalnya apakah antibiotika ataukah obat sakit kepala dll, yah … itu tadi, gak mutu.
  • Apalagi ya kerugiannya ? …

Nah berkenaan dengan isu “razia dokter dispensing” di Samarinda, kepada para sejawat saya himbau gak usah terlalu risau, gak usah sms atau ngundang rapat hanya untuk mbahas itu, buang waktu. Sejauh melayani pasien dengan tulus dan meringankan biaya, ga papa. Wajarlah kalo kita nyediakan obat, meski sedikit sekalipun.

Pro kontra masalah ini tak pernah selesai, termasuk dengan ketentuan bahwa dokter boleh dispensing bila dalam radius sekian kilometer tidak ada apotik (saya lupa, kalo gak salah 6 km ya) .
Setahu saya dokter lebih kompeten dibanding penjual obat di warung dan recehan obat di kaki lima (kecuali obat nyamuk, obat semut dan obat tanaman)

Kepada institusi terkait, masalah dokter dispensing Samarinda,

  • bila mau razia tak kan ada yang melarang, namun lebih bijak jika kita melakukan dialog berkelanjutan demi berlangsungnya layanan medis yang lebih baik dan terjangkau agar bermanfaat agi penguna layanan medis (update: pen)
  • pekerjaan kita masih banyak, contoh: public warning, membersihkan mafia pemutihan resep dan praktek jual beli obat secara bebas yang beresiko pada penyalah gunaan obat-obat tertentu.
  • tidak semua pasien punya cukup uang untuk nebus obat yang konon mencapai ratusan ribu rupiah. Belum lagi kalo perlu kontrol karena penyakitnya mengharuskan demikian. Tidakkah masyarakat kelas beginian jadi pertimbangan kita untuk tetap mendapatkan layanan yang layak melalui sentuhan seorang dokter ?

Bukannya mau mencari pembenaran, namun aspek pengguna jasa layanan kesehatan (pasien) menurut saya patut menjadi pertimbangan.

Semoga menjadi renungan 😀

Iklan

11 Responses to “Razia dokter dispensing”


  1. 1 Huda Toriq Desember 20, 2006 pukul 1:39 pm

    Wah.. tujuan tulisan ini sepertinya “menantang” tim razia ya Pak?

    Kalau boleh tahu, biasanya pihak yang merazia itu siapa Pak? (maaf kalo pertanyaannya tolol :D)

    Saya belum terjun langsung ke dunia praktek medis, tapi rasanya kalau dokter dilarang menjual obat sendiri memang kelihatannya hanya akan mempersulit pasien.

    Tapi bagaimana korelasinya dengan etik kedokteran? Juga membatasi dokter2 yang ndableg seperti yang Bapak tulis?

  2. 2 Huda Toriq Desember 20, 2006 pukul 1:46 pm

    Oiya, Pak.. saya blogger baru.. boleh minta tolong di-add kan link ke blog saya? http://huda.orgfree.com/

    Terimakasih.

  3. 3 Has2 Desember 20, 2006 pukul 4:38 pm

    wah, ternyata dokter bisa emosi juga ya? Susah juga mbedain “ngakali” ato “nakali”

  4. 4 cakmoki Desember 21, 2006 pukul 4:12 am

    @ Huda toriq.1,
    Thanks kunjungannya,
    1. “menantang” itu bahasa politik ya … maksud saya sih “mempersilahkan” … 😀
    2. Tim razia or penertiban konon ada POM, Yan kes tk II, mungkin ada npad nya, wong temen-temen yang pernah didatengi ngga cerita (mungkin saking paniknya, ngga tanya surat perintah) dan sy belum pernah ngicipi dirazia dispensing … hehehe
    3. Betul, kode etik no 12 (kalo ngga salah) mengamanatkan “kemudahan”, artinya mudah dan murah (terjangkau) … lha yang “ndableg” itu misalnya beli obat 5 ribu dijual ke pasiennya 15 ribu … yang kayak gini jangan dong … istilah ndableg hanya pendapat pribadi lho.

    @ sejawat Huda toriq.2,
    (mohon jangan protes ya, ini kan do’a. amin)
    Maaf saya kurang setuju blogger baru, wong sy udah berkunjung ke http://huda.orgfree.com/ dan lihat postingan “rumah Tuhan …” dan “pembungkaman …”, …pop-up nya cuantik, waktu itu ngga berani komen, abis canggih sih … betul kata dr. Erik Tapan, mas Huda benar-benar expert di bidang Teknologi Informasi …. hebat.
    Mestinya kami-kami ini diajari, ntar tak traktir mie dan wedang jahe simpang lima …
    Add-link tentu dong, kan sekeluarga … (add-link itu apaan sih, ndesit asli)
    Selamat berkarya … semoga sukses
    🙂

    @ Mas Hastu,
    mbuka rahasia nih …
    bahasa kerennya “mbelani” temen-temen yang sambat Mas … ceritanya ruwet ya.
    Untuk postingan mas Has2 terkini saya ngga berani komen, ntar kelihatan begonya dan bisa-bisa komen saya malah “ngawur poll” … hehehe
    Selamat melekan nulis Bossss …

  5. 5 juliach Januari 15, 2007 pukul 5:47 pm

    Sorry nih, Cakmoki, saya bukan dokter. Siapa sih yg bikin razia? Kayak enggak pernah sakit/miskin aja/tinggal di remote area! Bayangin jika Praktek dokter-apotik jaraknya 2 km aja, jalannya naik lagi, pasiennya ngak punya mobil/motor. Kalo ada pasien nginjek paku/diare berat (maklum orang kita kalo belum parah belum ke dokter), si dokter ngak punya apa-apa. Mati deh pasien itu.

    Jadi ingat bagian penerimaan pasien (UGD) UKI, Jakarta yg enggak mau mengganti nama pasien (tetangga saya, tukang jual rujak yg digigit ular) dgn nama saya/suami saya yg mengunakan Security Social & Assuransi Perancis (padahal sudah saya bilangin daftar dgn nama GARCIA Denis. Saya sanggup bayar saat itu, jika saya kembali ke Perancis baru diganti rugi). Alasannya moral. Padahal registrasinya belum masuk ke komputer. Plus, pasien belum dirawat jika belum ada Rp. 2 jt untuk garansi. Kesannya bodo amat, kita marah, pasien mati, ternyata moral mereka sudah kebal melihat orang sekarat. Tenang aja!!!
    Weleh-weleh-weleh….

  6. 6 yusuf Januari 17, 2007 pukul 1:25 am

    dispensing OK2 aza…cuman perlu standarisasi saja…ndak usah dirazia lah… nanti jadi cari kesempatan “damai” asal udah… tahu sendiri lah..

  7. 7 cakmoki Januari 17, 2007 pukul 2:21 pm

    @ juliach,
    Wah dapat pembelaan dari Perancis nih. Terimakasih Bu.
    Saya malah 15 km dari kota. Aneh ya, khalayak pada umumnya (lebih-lebih saudara yang gak mampu) lebih suka tersedia lengkap, dalam arti, kalau mereka sakit (gak minta sakit) maunya diperiksa, lalu dapat obat dan segera pulang ke rumah kumpul keluarga dengan harapan sembuh. Dan kalau bisa biaya murah. Lha kalau mereka-mereka itu masih harus ke apotik nebus obat ratusan ribu, rasanya gimana, apa tega ? … kenyataannya ada yang tega.
    Saya sebagai “orang dalam” kadang malu juga. Teriak-teriak kemudahan pelayanan, berkualitas dan murah, …. hah malah dapat kritikan temen sendiri. Untungnya masih ada temen-temen se-ide.
    Syukur sejak 2004 di tempat kami ada Rawat Inap, lumayan bagus, UGD ber-AC, tujuannya bantu warga. Contoh: total biaya melahirkan rata-rata 400 ribu sudah termasuk obat dan pemeriksaan dokter untuk ibu dan bayinya. Operasi kecil sekitar 100 ribu di ruang ber-AC. Yang miskin Gratis.
    Gara-gara bikin gini, menuai banyak protes bolo dewe… hehehe.
    Mudah-mudahan yang ngganti saya bisa meneruskan.
    Moga pula Depkes dan semua jajarannya serius, nggak korupsian dan betul-betul membela yang miskin.
    Lho, koq saya jadi tambah cerewet … 😀

    @ yusuf,
    Ya deh, standarisasi teknis medis emang sudah semestinya, untuk melindungi penderita.
    Btw, koq ada “damai”, apa itu gerangan ?
    😀

  8. 8 rio September 7, 2008 pukul 8:48 am

    allo cak moki, serius! web blog ini superb!luar biasa !(beneran..)
    boleh dong disisipin jurnal medis dalam atau luar (atau linknya aja)
    trus cak moki bole konsul ga? sbg dokter pasti pernah di pkm kan, tolong dong diberikan tips2 untuk para dokter pkm. soalnya makin lama makin ‘ndablek’ sekalian SOP-nya kalo boleh
    trims ya

  9. 9 cakmoki September 8, 2008 pukul 12:13 am

    @ rio:
    Makasih supportnya … saran link jurnal akan ditindak lanjuti.
    Untuk per pkm-an udah saya posting dalam beberapa judul (dengan nada canda dan sedikit nyelekit 🙂 )..namun demikian, lagi-lagi ini saran yang bagus, trims *lagi*.
    SOP untuk perawatan (rawat inap) udah tersedia di halaman download..silahkan diunduh dan diperbaiki sesuai referensi terkini.
    Trims 🙂

  10. 10 Do2 Maret 20, 2009 pukul 2:03 am

    Buat cak moko top deh! Terus gimana pembahasan tentang razia bidan praktek & perawat yg jauh dari praktek dokter?

  11. 11 cakmoki Maret 20, 2009 pukul 3:34 am

    @ Do2:
    Ahhhh, masih ada issue itu ya … 😀 … Gak ada razia koq.
    Kalo jauh dari dokter gak ada masalah … kalo dekat dengan dokter, diperlukan surat penugasan di luar jam dinas oleh pimpus yang diatur oleh Dinas Kesehatan Tingkat II.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Wong ndeso ™

cakmoki

Wordpress Indonesia

Silahkan baca

DISCLAIMER

web tracker

9 Desember 2009

SEMENTARA TUTUP

Maaf, sementara Blog istirahat hingga ada pemberitahuan

Harap maklum


MARI HENTIKAN KORUPSI

Jangan Korupsi Ah

No Korupsi

Internet Sehat

Warga Bicara

» Makasih PLN, listrik Samarinda dah membaik, moga gak byar-pet

» Waspada Demam Berdarah

» Jangan Gunduli Palaran

» Banjir...banjir. Kapan masalah ini teratasi ?

INGA INGA INGA

» Nyeri Urat or Tulang BUKAN berarti Penyakit Asam Urat.

» Sekali lagi: Pegal, Linu Tidak Identik dengan Penyakit Asam Urat

TEMANs

9racehime | A. Fatih Syuhud | Aditiawan Chandra | A.Tajib | Agung UD | aLe | alief | alle | almascatie | Amd | Anak Peri | Anak Sultan | Anang | Anang YP | Anas | Andalas | Anggara | Anjaz | Anti Pungli | Antobilang | Anung87 | Aribowo | Arif Kurniawan | Arul | Astikirna | awan965 | axireaxi | Bambang alias HR | BatakNews | Blog Pokoke? | Biho | CalonOrangTenar | Cay | Chandra | Chielicious | chiw imudz | cK-chika | Dalamhati | Deden Nugraha | deedhoet | deKing | Desti Utami | Didats | doeytea | dnial | Edy C | Eep | Elpalimbani | erander | Evi | Fa | Fa wp | Faiq | Fertobhades | Fetro | Fortynine | Freddy | Gadis | Gaussac | Gitablu | Grandiosa | GuhPraset | GuM | Helgeduelbek | Herdy | Indonesia Kita | Indra KH | ItikKecil | iway | Jejakpena | Jennie S. Bev | Joesath | Joko Taroeb | Julee | Juli | Juliach | Junthit | Jurig | Kakilangit | Kang Adhi | Kang Kombor | Kangguru | kawaichu | Kenji | Kenzt | kikie | koecing | Kumala | Kurtubi | Kw | Laras | liezmaya | Lilik Suryanto | Lily | Linker | Lintang | Lita | Lita wp | Luthfi | MaIDeN | Majalah Dewa Dewi | Manusiasuper | Master Li | Mathematicse | macanang | mbojo | Mei | Micokelana | Mr. Geddoe | Mufti | mybenjeng | My-za | Nayla Zahra | Nayz | Ndarualqaz | Neeya | Neo Forty-Nine | Neri | Ninoy | Nieke | Nomercy | n0vri | NuDe | Om Sulis | omaigat | Ooyi | Paijo | Panca | Pandu | Panduan WP | Papabonbon | Passya | Peyek | Pinkina | Pitik | Pralangga | Prayogo | Priyadi | Qee | Raja iblis | RenjanaBiru | rivafauziah | Rivermaya | Roffi | roisZ | Rujak | Sagung | Sahrudin | Saiful Adi | SaRa | Siu | Sofi | Sora9n | Suandana | Suluh | Susiloharjo | Telmark | Thamrin | tiesmin | Triesti | Tukang Sate | Venus | Wadehel | Wahyuansyah | Wandira | Wiku | WongMangli | Wulan | Yati | Yudhipras |

:: :: :: :: :: :: :: :: ::

Kesehatan

:: Ady Wirawan :: Agus Mutamakin :: Anis Fuad :: Anis Fuad wp :: Asri Tadda :: Astri Pramarini :: Astri Pramarini (awal) :: Astri Pramarini wp :: Blog Mahasiswa FKU 2003 :: Blog Rumah Kanker :: Dani Iswara :: Dani Iswara weblog :: Dokter arek cilik :: drAnak :: drarifianto :: Dwi wp :: Elyas :: Erik Tapan :: Evy HealhtySmile :: FK Unsri :: Gies :: Gies wp :: Ginna :: Grapz :: Hendar Sunandar :: HIV News :: Huda Thoriq :: IDI Samarinda :: imcw :: Imran Nito :: Iwan Handoko :: Jhonrido :: klikharry :: Kobal :: Laksmi Nawasasi :: Mashuri :: Mave Mina :: Mbah Dipo :: Mina :: My Blogspot :: Nur Martono :: PKM Palaran :: Rara :: Rizma Adlia :: Rudy Kwang :: SenyumSehat :: Sibermedik :: SimkesUGM :: SuperKecil :: Titah :: Tito :: Tonang Ardyanto :: Tukangkomentar :: Wi :: Vina Revi :: Vina Multiply :: Yusuf Alam R :: zulharman79 ::

:: :: :: :: :: :: :: :: :: :: ::

Institusi Kesehatan

:: Depkes RI :: WHO :: WHO Indonesia :: … nyusul

:: :: :: :: :: :: :: :: ::

Kolaborasi

:: Emedicine :: ICD 10 Wikipedia :: ICD 10 Wiki Indonesia :: OSWD :: OpenWebDesign :: Pakistan Times :: Rubab :: ntar ::

Kategori

BlogTour

Arsip

Komunitas Blog

blog-indonesia.com

PAGE RANK

Powered by  MyPagerank.Net

Add to Technorati Favorites

[Valid RSS]

Health Blogs - Blog Top Sites

Health

Blogs Topsites - TOP.ORG

Health Blogs - Blog Rankings

Blog directory

TopOfBlogs

Top 10 Award

Feed Burner

cakmoki Blog

Bloggerian Top Hits

My BlogCatalog BlogRank

Site Meter

Since 30 Nov 07

PENGUNJUNG

  • 5,343,886 pengintip

Asal Usul

Pebruari 2011

free counters


%d blogger menyukai ini: