<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>cakmoki Blog</title>
	<atom:link href="http://cakmoki86.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://cakmoki86.wordpress.com</link>
	<description>sharing informatika kedokteran, kesehatan masyarakat dan keseharian</description>
	<lastBuildDate>Sat, 07 Nov 2009 17:03:14 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='cakmoki86.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/6daf7e9ac7c8ded617d0496e32d08905?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>cakmoki Blog</title>
		<link>http://cakmoki86.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Sekilas Erysipelas</title>
		<link>http://cakmoki86.wordpress.com/2009/11/07/sekilas-erysipelas/</link>
		<comments>http://cakmoki86.wordpress.com/2009/11/07/sekilas-erysipelas/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Nov 2009 10:11:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cakmoki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Health]]></category>
		<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[Erisipelas]]></category>
		<category><![CDATA[Erysipelas]]></category>
		<category><![CDATA[Infeksi]]></category>
		<category><![CDATA[Penyakit]]></category>
		<category><![CDATA[Penyakit Kulit]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cakmoki86.wordpress.com/2009/11/07/sekilas-erysipelas/</guid>
		<description><![CDATA[KODE ICD-10 : A46.0 : Erysipelas
 Pernahkah pembaca menjumpai seseorang menderita penyakit kulit yang ditandai dengan kulit berbercak merah, berbatas tegas, melepuh, kadang berair, adakalanya bernanah dan membentuk area erosi cukup luas pada permukaan kulit ? Jika iya, maka tanda umum tersebut merupakan gambaran dari Erysipelas.
Meski sekarang sudah jarang, penyakit ini masih dapat dijumpai di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cakmoki86.wordpress.com&blog=570093&post=1433&subd=cakmoki86&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>KODE <strong><a title="International Classification of Diseases" href="http://apps.who.int/classifications/apps/icd/icd10online/" target="_blank">ICD-10</a></strong> : <a title="A46.0 : Erysipelas" href="http://apps.who.int/classifications/apps/icd/icd10online/?ga30.htm+a460" target="_blank">A46.0</a> : <strong><a title="Wikipedia : Erysipelas" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Erysipelas" target="_blank">Erysipelas</a></strong></p>
<p style="text-align:left;"><a title="Erysipelas" href="http://www.atlasdermatologico.com.br/listar.asp?acao=mostrar&amp;arquivo=Erysipelas1.JPG" target="_blank"><img style="display:inline;border-width:0;margin:5px 10px 0 0;" title="erysipelas di paha" src="http://cakmoki86.files.wordpress.com/2009/11/erysipelas_paha.jpg?w=110&#038;h=140" border="0" alt="erysipelas di paha" width="110" height="140" align="left" /></a> Pernahkah pembaca menjumpai seseorang menderita penyakit kulit yang ditandai dengan kulit berbercak merah, berbatas tegas, melepuh, kadang berair, adakalanya bernanah dan membentuk area erosi cukup luas pada permukaan kulit ? Jika iya, maka tanda umum tersebut merupakan gambaran dari <strong><a title="Erysipelas" href="http://emedicine.medscape.com/article/1052445-overview" target="_blank">Erysipelas</a></strong>.</p>
<p style="text-align:left;">Meski sekarang sudah jarang, penyakit ini masih dapat dijumpai di praktek sehari-hari, terutama pada anak-anak yang sebelumnya ditemukan adanya koreng atau luka di sekitar timbulnya Erysipelas (Erisipelas).</p>
<p><span id="more-1433"></span></p>
<p style="text-align:left;"><strong>Apa Erysipelas itu ?</strong></p>
<p style="text-align:left;"><a title="Sumber Gambar : DermAtlas" href="http://dermatlas.med.jhmi.edu/derm/" target="_blank"><img style="display:inline;border:0;margin:5px 10px 0 0;" title="erysipelas di leher" src="http://cakmoki86.files.wordpress.com/2009/11/erysipelas_wajah.jpg?w=140&#038;h=110" border="0" alt="erysipelas di leher" width="140" height="110" align="left" /></a> Erysipelas ( Erisipelas ) adalah infeksi akut pada kulit dan jaringan di bawah kulit yang sebagian besar disebabkan oleh bakteri <em>Streptococcus pyogenes. </em></p>
<p style="text-align:left;">Erysipelas dapat terjadi pada semua usia dan semua bangsa (ras), namun paling sering terjadi pada bayi, anak dan usia lanjut.</p>
<p style="text-align:left;"><em>Aste N, Atzori L, Zucca M, Pau M, Biggio P</em> menyebutkan bahwa Erysipelas lebih sering terjadi pada pria ketimbang wanita, dengan perbandingan 4:1.</p>
<p style="text-align:left;">Sekitar 85 % Erysipelas terjadi di kaki dan wajah, sedangkan sebagian kecil dapat terjadi di tangan, perut dan leher serta tempat lainnya.</p>
<p style="text-align:left;"><strong>Bagaimana terjadinya ?</strong></p>
<p style="text-align:left;">Erysipelas terjadi oleh penyebaran infeksi yang diawali dengan pelbagai kondisi yang berpotensi timbulnya kolonisasi bekteri, misalnya: luka, koreng, infeksi penyakit kulit lain, luka operasi dan sejenisnya, serta kurang bagusnya hygiene.</p>
<p style="text-align:left;">Selain itu, Erysipelas dapat terjadi pada seseorang yang mengalami penurunan daya tahan tubuh, misalnya: diabetes millitus, malnutrisi (kurang gizi), dan lain-lain.</p>
<p style="text-align:left;"><strong>Apa saja tanda-tandanya ?</strong></p>
<p style="text-align:left;">Erysipelas pada umumnya diawali dengan panas, menggigil, sakit kepala, nyeri sendi, muntah dan rasa lemah.</p>
<p style="text-align:left;">Pada kulit nampak kemerahan, berbatas tegas dengan bagian tepi meninggi, nyeri dan teraba panas pada area tersebut.</p>
<p style="text-align:left;">Di permukaan kulit adakalanya dijumpai gelembung kulit (bula) yang berisi cairan kekuningan (seropurulen). Pada keadaan yang berat, kulit nampak melepuh dan kadang timbul erosi (kulit mengelupas).</p>
<p style="text-align:left;"><strong>Perlukah pemeriksaan Laboratorium ?</strong></p>
<p style="text-align:left;">Tidak perlu ! Pasalnya, penyakit ini sangat mudah dikenali secara kasat mata. kalaupun dilakukan pemeriksaan Lab, hasilnya menunjukkan peningkatan lekosit hingga 20.000 atau lebih. Itu saja. Kecuali untuk tujuan penelitian di RS Sentra Pendidikan Kedokteran, dimana diperlukan kultur darah dan cairan erosi luka untuk mengetahui jenis kuman.</p>
<p style="text-align:left;"><strong>PENGOBATAN</strong></p>
<p style="text-align:left;">Saat ini, sudah sangat jarang dijumpai Erysipelas yang berat disertai kondisi tubuh lemah hingga memerlukan rawat inap. Pada umumnya masyarakat segera berobat saat masih fase awal sehingga hanya diperlukan rawat jalan dan perawatan di rumah sekitar 7 – 10 hari.</p>
<p style="text-align:left;"><strong>Obat-obat yang lazim digunakan:</strong></p>
<p style="text-align:left;"><strong>Obat pilihan utama</strong> (drug of choice):</p>
<p style="text-align:left;">Penicilline masih merupakan obat pilihan utma dan memberikan respon sangat bagus untuk penyembuhan Erysipelas.</p>
<ul style="text-align:left;">
<li>
<div>Benzyl penicilline 600-1200 mg, diberikan secara intravenous setiap 6 jam, sedikitnya 10 hari.</div>
</li>
<li>
<div>Penicilline Procain G: 0,6-1,2 juta unit, diberikan secara intramuskuler (suntik di bokong atau paha), 2 kali sehari selama 10 hari.</div>
</li>
<li>
<div>Amoxycilline 500 mg, diminum 3 x 1 selama 7-10 hari. Atau ampicilline 500 mg, diminum 4 x 1 selama 7-10 hari. Dapat juga diberikan kombinasi Amoxycilline dan Clavulanic acid selama 10 hari.</div>
</li>
</ul>
<p style="text-align:left;"><strong>Obat-obat lain</strong> yang dapat digunakan, diantaranya:</p>
<ul style="text-align:left;">
<li>
<div>Erythromycin. Diminum 4 kali 250-500 mg sehari, selama 10 hari. Dosis anak: 30-50 mg per kg berat badan per hari, diberikan 3-4 kali sehari selama 10 hari.</div>
</li>
<li>
<div>Cloxacilline atau Dicloxacilline, diminum 4 kali 250-500 mg sehari, selama 10 hari.</div>
</li>
<li>
<div>Cephalosporine, misalnya cefadroxyl, diminum 3 kali 500 mg selama 10 hari.</div>
</li>
<li>
<div>Dan lain-lain.</div>
</li>
</ul>
<p style="text-align:left;"><strong>Obat Topikal</strong> (obat luar):</p>
<ul style="text-align:left;">
<li>
<div>Kompres dengan Sodium Chloride 0,9 %.</div>
</li>
<li>
<div>Salep atau krim antibiotika, misalnya: Natrium Fusidat, Mupirocin, Garamycin, Gentamycin.</div>
</li>
</ul>
<p style="text-align:left;">Apakah Erysipelas berbahaya ? Jika diobati secara dini tentu tidak bahaya. Hanya saja dibutuhkan kesabaran, mengingat waktu yang diperlukan untuk penyembuhan sekitar 7 – 10 hari atau lebih.</p>
<p style="text-align:left;">Semoga bermanfaat.</p>
<p style="text-align:center;">:: :: :: posting menggunakan <a title="Windows Live Writer" href="http://get.live.com/writer/overview" target="_blank">WLW</a> :: :: ::</p>
<div class="wlWriterEditableSmartContent" style="display:inline;float:none;text-align:center;margin:0;padding:0;">Technorati Tags:<a rel="tag" href="http://technorati.com/tags/Erysipelas">Erysipelas</a>,<a rel="tag" href="http://technorati.com/tags/Erisipelas">Erisipelas</a>,<a rel="tag" href="http://technorati.com/tags/Penyakit+Kulit">PenyakitKulit</a>,<a rel="tag" href="http://technorati.com/tags/Infeksi">Infeksi</a>,<a rel="tag" href="http://technorati.com/tags/Kesehatan">Kesehatan</a>,<a rel="tag" href="http://technorati.com/tags/Informasi">Informasi</a></div>
Posted in Artikel, Health, Informasi, Kesehatan Tagged: Erisipelas, Erysipelas, Infeksi, Informasi, Kesehatan, Penyakit, Penyakit Kulit <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cakmoki86.wordpress.com/1433/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cakmoki86.wordpress.com/1433/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cakmoki86.wordpress.com/1433/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cakmoki86.wordpress.com/1433/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cakmoki86.wordpress.com/1433/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cakmoki86.wordpress.com/1433/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cakmoki86.wordpress.com/1433/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cakmoki86.wordpress.com/1433/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cakmoki86.wordpress.com/1433/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cakmoki86.wordpress.com/1433/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cakmoki86.wordpress.com&blog=570093&post=1433&subd=cakmoki86&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cakmoki86.wordpress.com/2009/11/07/sekilas-erysipelas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">cakmoki</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://cakmoki86.files.wordpress.com/2009/11/erysipelas_paha.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">erysipelas di paha</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://cakmoki86.files.wordpress.com/2009/11/erysipelas_wajah.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">erysipelas di leher</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Penyakit berbahaya atau bukan ?</title>
		<link>http://cakmoki86.wordpress.com/2009/10/29/penyakit-berbahaya-atau-bukan/</link>
		<comments>http://cakmoki86.wordpress.com/2009/10/29/penyakit-berbahaya-atau-bukan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Oct 2009 19:38:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cakmoki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Health]]></category>
		<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[Penyakit]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cakmoki86.wordpress.com/2009/10/29/penyakit-berbahaya-atau-bukan/</guid>
		<description><![CDATA[DOK, APAKAH PENYAKIT SAYA BERBAHAYA ?
 Ketika seseorang sakit atau mengalami gangguan kesehatan, adakalanya ia bertanya-tanya dalam hati: “ bahaya atau tidak ? “ Pertanyaan senada kadang ditanyakan langsung kepada dokter yang memeriksanya di saat  berobat. Namun tak jarang ada yang menanyakan bahaya tidaknya penyakit melalui email atau melalui forum tanya jawab di internet seiring [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cakmoki86.wordpress.com&blog=570093&post=1424&subd=cakmoki86&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:left;"><strong>DOK, APAKAH PENYAKIT SAYA BERBAHAYA ?</strong></p>
<p style="text-align:left;"><a href="http://cakmoki86.files.wordpress.com/2009/10/tidak_berbahaya.jpg"><img style="display:inline;border-width:0;margin:5px 10px 0 0;" title="tidak_berbahaya" src="http://cakmoki86.files.wordpress.com/2009/10/tidak_berbahaya_thumb.jpg?w=140&#038;h=155" border="0" alt="tidak_berbahaya" width="140" height="155" align="left" /></a> Ketika seseorang sakit atau mengalami gangguan kesehatan, adakalanya ia bertanya-tanya dalam hati: <em>“ bahaya atau tidak ? “</em> Pertanyaan senada kadang ditanyakan langsung kepada dokter yang memeriksanya di saat  berobat. Namun tak jarang ada yang menanyakan bahaya tidaknya penyakit melalui email atau melalui forum tanya jawab di internet seiring dengan makin berkembangnya informasi interaktif masalah kesehatan di internet. Pertanyaan ini sangat wajar. Siapa sih yang mau dihinggapi penyakit berbahaya ?</p>
<p style="text-align:left;"><span id="more-1424"></span></p>
<p style="text-align:left;">Dalam  pelayanan medis dan komunikasi dokter-pasien, seorang pasien berhak mengetahui informasi tentang penyakit dan kondisi yang dialaminya, sedangkan seorang dokter berkewajiban memberikan informasi kepada pasiennya dengan cara yang “bijak”.</p>
<p style="text-align:left;">Pada keadaan tertentu seorang dokter mungkin tidak sulit untuk memberi tahu kepada pasiennya bahwa penyakit yang diderita si pasien tidak berbahaya. Sebaliknya di saat yang lain, dimana kondisi pasien sudah pada <em>fase terminal</em>, bisa jadi seorang dokter merasa kesulitan untuk memberi tahu kondisi pasien dengan cara apa adanya. Menghadapi situasi semacam ini biasanya seorang dokter memilih jalan tengah, yakni memberi tahu keluarga dekat si pasien dengan cara yang “bijak” sembari memberi support untuk tetap berikhtiar.</p>
<p style="text-align:left;">Ditinjau dari sudut pandang pasien, istilah “bahaya” barangkali bukan hanya berbahaya terhadap jiwa, langsung maupun tidak langsung, tapi mungkin dapat bermakna lain bergantung pada penyakit dan maksud penderita itu sendiri.</p>
<p style="text-align:left;">Sebagai contoh, ketika seorang pria dewasa menderita Disfungsi Ereksi lantas menanyakan bahaya atau tidak terkait penyakitnya, tentu istilah “bahaya” yang ditanyakannya tidak berhubungan dengan keselamatan jiwa. Pada kasus ini, istilah “bahaya” mungkin dimaksudkan apakah nantinya “cucakrowo” masih mampu berkicau sambil mengepakkan sayap atau lunglai selamanya. Makna lain mungkin dimaksudkan apakah ia nantinya mampu memuaskan pasangannya dan memberikan keturunan atau tidak.</p>
<p style="text-align:left;">Demikian pula misalnya ketika seorang gadis menanyakan bahaya tidaknya bekas cacar air di wajahnya. Pada contoh ini, istilah bahaya sangat mungkin berhubungan dengan “penampilan”.</p>
<p style="text-align:left;">Lain lagi manakala seorang penderita Herpes zoster menanyakan bahaya tidaknya penyakit yang sedang dideritanya. Secara umum, pertanyaan “bahaya” mungkin dikaitkan dengan rasa nyeri yang ditimbulkan oleh Herpes zoster. Sedangkan secara khusus, bila Hepers zoster menyerang area wajah, khususnya area mata, pertanyaan “bahaya” barangkali berhubungan dengan efek terhadap fungsi penglihatan.</p>
<p style="text-align:left;">Tatkala seorang ibu diberitahu bahwa anaknya menderita infeksi amandel (tonsilitis), boleh jadi istilah “bahaya” yang ada di benaknya dikaitkan dengan operasi atau tidak. *membahayakan isi dompet* <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align:left;">Beberapa contoh kecil  di atas menunjukkan bahwa istilah “bahaya” yang digunakan seseorang terkait dengan penyakit yang sedang dideritanya, tidak selalu berhubungan dengan keselamatan jiwa. Istilah “bahaya” tersebut memiliki makna lebih luas, lebih bervariasi, bahkan adakalanya bersifat individual bergantung pada pelbagai faktor yang menyertainya.</p>
<p style="text-align:left;">Menilik beragamnya maksud pertanyaan “bahaya” dari masing-masing pasien berkenaan dengan penyakitnya, seorang dokter dituntut untuk lebih “mengenal” para pasiennya agar informasi yang diberikan tidak meruntuhkan mental pasien. Jika tidak, “maksud baik” seorang dokter untuk memberitahu pasien dengan tujuan agar mengetahui penyakitnya, bukan tidak mungkin justru akan membuat pasien makin menderita sepulang dari ruang pemeriksaan dokter.</p>
<p style="text-align:left;">Di media online, pertanyaan tentang “bahaya” tidaknya penyakit kerap diajukan oleh pengunjung. Hal ini sangat wajar mengingat begitu banyaknya informasi penyakit dan kesehatan bertebaran diinternet.</p>
<p style="text-align:left;">Kadang seseorang merasa sangat khawatir hanya gara-gara membaca kalimat yang beraroma “menakutkan”, seperti: <em>waspadai</em> … <em>jangan remehkan</em> … <em>nol koma sekian persen berakhir dengan kematian</em> … dan kata-kata bombastis sejenis yang bagi sebagian orang mengakibatkan tak dapat tidur semalaman.</p>
<p style="text-align:left;">Salahkah ? Tidak. Keduanya tidak salah. Penulis artikel mungkin ingin mengajak pembaca untuk berhati-hati, sedangkan pembaca yang ketakutan juga tidak bersalah atas rasa takutnya.</p>
<p style="text-align:left;">Lantas bagaimana jalan keluarnya ? Yang diperlukan menurut saya adalah dibukanya pintu dialog online, melalui email atau halaman tanya jawab (konsultasi atau apapun namanya) secara berkesinambungan agar dapat saling bertukar informasi secara “bijak”.</p>
<p style="text-align:left;">Dibanding di ruang pemeriksaan dokter atau di praktek, dialog online bisa dibilang lebih sulit lantaran komunikasi antara pengunjung dan dokter dilakukan dengan “tidak saling berhadapan”. Berbeda dengan di ruang periksa, dimana seorang dokter sedikit banyak dapat menilai pasien sehingga lebih mudah memilih kalimat yang tepat dalam memberikan informasi.</p>
<p style="text-align:left;">Bagimana pendapat pembaca ?</p>
<p style="text-align:left;">Silahkan berbagi … <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align:center;">:: :: :: posting menggunakan <a title="Windows Live Writer" href="http://get.live.com/writer/overview" target="_blank">WLW</a> :: :: ::</p>
<div id="scid:0767317B-992E-4b12-91E0-4F059A8CECA8:4930b8c5-ba78-40fe-bdca-50edf7af6adf" class="wlWriterEditableSmartContent" style="width:439px;display:block;float:none;margin-left:auto;margin-right:auto;padding:0;">Technorati Tags: <a rel="tag" href="http://technorati.com/tags/Penyakit">Penyakit</a>,<a rel="tag" href="http://technorati.com/tags/Informasi">Informasi</a>,<a rel="tag" href="http://technorati.com/tags/Kesehatan">Kesehatan</a>,<a rel="tag" href="http://technorati.com/tags/Health">Health</a>,<a rel="tag" href="http://technorati.com/tags/Pasien">Pasien</a>,<a rel="tag" href="http://technorati.com/tags/Dokter">Dokter</a></div>
Posted in Artikel, Health, Informasi, Kesehatan, Umum Tagged: Health, Informasi, Kesehatan, Komunikasi, Penyakit <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cakmoki86.wordpress.com/1424/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cakmoki86.wordpress.com/1424/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cakmoki86.wordpress.com/1424/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cakmoki86.wordpress.com/1424/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cakmoki86.wordpress.com/1424/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cakmoki86.wordpress.com/1424/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cakmoki86.wordpress.com/1424/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cakmoki86.wordpress.com/1424/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cakmoki86.wordpress.com/1424/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cakmoki86.wordpress.com/1424/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cakmoki86.wordpress.com&blog=570093&post=1424&subd=cakmoki86&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cakmoki86.wordpress.com/2009/10/29/penyakit-berbahaya-atau-bukan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">cakmoki</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://cakmoki86.files.wordpress.com/2009/10/tidak_berbahaya_thumb.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">tidak_berbahaya</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hordeolum alias Timbilen</title>
		<link>http://cakmoki86.wordpress.com/2009/10/18/hordeolum-alias-timbilen/</link>
		<comments>http://cakmoki86.wordpress.com/2009/10/18/hordeolum-alias-timbilen/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Oct 2009 19:33:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cakmoki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Health]]></category>
		<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[Hordeolum]]></category>
		<category><![CDATA[Penyakit]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cakmoki86.wordpress.com/2009/10/18/hordeolum-alias-timbilen/</guid>
		<description><![CDATA[Kode ICD-10 : H00 : Hordeolum ( Stye )
 Hampir setiap orang mengenal timbilen atau timbil yang dalam bahasa medis disebut Hordeolum. Penyakit ini dapat menyerang siapa saja, mulai anak-anak hingga orang tua. Disebutkan bahwa angka kejadian pada usia dewasa lebih banyak dibanding anak-anak. Tidak ada perbedaan angka kejadian (insidens rate) antara wanita dengan pria. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cakmoki86.wordpress.com&blog=570093&post=1416&subd=cakmoki86&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:left;">Kode ICD-10 : <strong><a title="ICD - 10 : Hordeolum" href="http://apps.who.int/classifications/apps/icd/icd10online/?gh00.htm+h00" target="_blank">H00</a></strong> : <strong><a title="Wikipedia : Hordeolum ( Stye )" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Stye" target="_blank">Hordeolum</a></strong> ( Stye )</p>
<p style="text-align:left;"><a title="DermAtlas: Hordeolum" href="http://www.dermatlas.com/derm/" target="_blank"><img style="display:inline;border-width:0;margin:5px 10px 0 0;" title="Hordeolum or Timbilen" src="http://cakmoki86.files.wordpress.com/2009/10/external_hordeolum.jpg?w=140&#038;h=110" border="0" alt="Hordeolum or Timbilen" width="140" height="110" align="left" /></a> Hampir setiap orang mengenal timbilen atau timbil yang dalam bahasa medis disebut <strong><span style="color:#ff0000;">Hordeolum</span></strong>. Penyakit ini dapat menyerang siapa saja, mulai anak-anak hingga orang tua. Disebutkan bahwa angka kejadian pada usia dewasa lebih banyak dibanding anak-anak. Tidak ada perbedaan angka kejadian (insidens rate) antara wanita dengan pria. Adakalanya seseorang mudah banget mengalami timbilen (berulang). Ibaratnya, baru sembuh yang satu, kemudian muncul lagi timbil di tempat yang lain.</p>
<p style="text-align:left;">Hordeolum ( stye ) adalah infeksi atau peradangan pada kelenjar di tepi kelopak mata bagian atas maupun bagian bawah yang disebabkan oleh bakteri, biasanya oleh kuman Stafilokokus <em>(Staphylococcus aureus)</em>. Hordeolum dapat timbul pada 1 kelenjar kelopak mata atau lebih. Kelenjar kelopak mata tersebut meliputi kelenjar Meibom, kelenjar Zeis dan Moll.</p>
<p><span id="more-1416"></span></p>
<p style="text-align:left;">Berdasarkan tempatnya, hordeolum terbagi menjadi 2 jenis :</p>
<ol style="text-align:left;">
<li>
<div><strong><span style="color:#ff0000;">Hordeolum interna</span></strong>, terjadi pada kelenjar Meibom. Pada hordeolum interna ini benjolan mengarah ke konjungtiva (selaput kelopak mata bagian dalam).</div>
</li>
<li>
<div><span style="color:#ff0000;"><strong>Hordeolum eksterna</strong></span>, terjadi pada kelenjar Zeis dan kelenjar Moll. Benjolan nampak dari luar pada kulit kelopak mata bagian luar (palpebra).</div>
</li>
</ol>
<p style="text-align:left;"><strong>G E J A L A</strong></p>
<p style="text-align:left;">Tanda-tanda hordeolum sangat mudah dikenali, yakni nampak adanya benjolan pada kelopak mata bagian atas atau bawah, berwarna kemerahan. Adakalanya  nampak bintik berwarna keputihan atau kekuningan disertai dengan pembengkakan kelopak mata.</p>
<p style="text-align:left;">Pada hordeolum interna, benjolan akan nampak lebih jelas dengan membuka kelopak mata.</p>
<p style="text-align:left;">Keluhan yang kerap dirasakan oleh penderita hordeolum diantaranya rasa mengganjal pada kelopak mata, nyeri takan dan makin nyeri saat menunduk. Kadang mata berair dan peka terhadap sinar.</p>
<p style="text-align:left;">Hordeolum dapat membentuk abses di kelopak mata dan pecah dengan mengeluarkan nanah.</p>
<p style="text-align:left;"><strong>PENGOBATAN</strong></p>
<p style="text-align:left;">Pada umumnya hordeolum dapat sembuh sendiri (self-limited) dalam 1-2 minggu. Namun tak jarang memerlukan pengobatan secara khusus, obat topikal (salep atau tetes mata antibiotik) maupun kombinasi dengan obat antibiotika oral (diminum).</p>
<p style="text-align:left;">Urutan penatalaksanaan hordeolum adalah sebagai berikut:</p>
<ul style="text-align:left;">
<li>
<div>Kompres hangat selama sekitar 10-15 menit, 4 kali sehari.</div>
</li>
<li>
<div>Antibiotik topikal (salep, tetes mata), misalnya: Gentamycin, Neomycin, Polimyxin B, Chloramphenicol, Dibekacin, Fucidic acid, dan lain-lain. Obat topikal digunakan selama 7-10 hari, sesuai anjuran dokter, terutama pada fase peradangan.</div>
</li>
<li>
<div>Antibiotika oral (diminum), misalnya: Ampisilin, Amoksisilin, Eritromisin, Doxycyclin. Antibiotik oral digunakan jika hordeolum tidak menunjukkan perbaikan dengan antibiotika topikal. Obat ini diberikan selama 7-10 hari. Penggunaan dan pemilihan jenis antibiotika oral hanya atas rekomendasi dokter berdasarkan hasil pemeriksaan.</div>
</li>
</ul>
<p style="text-align:left;">Adapun dosis antibiotika pada anak ditentukan berdasarkan berat badan sesuai dengan masing-masing jenis antibiotika dan berat ringannya hordeolum.</p>
<p style="text-align:left;">Obat-obat simptomatis (mengurangi keluhan) dapat diberikan untuk meredakan keluhan nyeri, misalnya: asetaminofen, asam mefenamat, ibuprofen, dan sejenisnya.</p>
<p style="text-align:left;"><strong>ANJURAN UNTUK PENDERITA</strong></p>
<ul style="text-align:left;">
<li>
<div>Hindari mengucek-ucek atau menekan hordeolum.</div>
</li>
<li>
<div>Jangan memencet hordeolum. Biarkan hordeolum pecah dengan sendirinya, kemudian bersihkan dengan kasa steril ketika keluar nanah atau cairan dari hordeolum.</div>
</li>
<li>
<div>Tutup mata pada saat membersihkan hordeolum.</div>
</li>
<li>
<div>Untuk sementara hentikan pemakaian make-up pada mata.</div>
</li>
<li>
<div>Lepaskan lensa kontak (contact lenses) selama masa pengobatan.</div>
</li>
</ul>
<p style="text-align:left;"><strong>Kapan dilakukan insisi ?</strong></p>
<p style="text-align:left;">Dianjurkan insisi (penyayatan) dan drainase pada hordeolum, apabila:</p>
<ul style="text-align:left;">
<li>
<div>Hordeolum tidak menunjukkan perbaikan dengan obat-obat antibiotika topikal dan antibiotika oral dalam 2-4 minggu.</div>
</li>
<li>
<div>Hordeolum yang sudah besar atau sudah menunjukkan fase abses.</div>
</li>
</ul>
<p style="text-align:left;">Setelah insisi dianjurkan kontrol dalam seminggu atau lebih untuk penyembuhan luka insisi agar benar-benar sembuh sempurna.</p>
<p style="text-align:left;"><strong>PENCEGAHAN</strong></p>
<ul style="text-align:left;">
<li>
<div>Jaga kebersihan wajah dan membiasakan mencuci tangan sebelum menyentuh wajah agar hordeolum tidak mudah berulang.</div>
</li>
<li>
<div>Usap kelopak mata dengan lembut menggunakan washlap hangat untuk membersihkan ekskresi kelenjar lemak.</div>
</li>
<li>
<div>Jaga kebersihan peralatan make-up mata agar tidak terkontaminasi oleh kuman.</div>
</li>
<li>
<div>Gunakan kacamata pelindung jika bepergian di daerah berdebu. *misalnya di jalanan ndeso ™ Palaran* <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' />  (mohon dengan hormat agar diperhatikan)</div>
</li>
</ul>
<p style="text-align:left;">Semoga bermanfaat.</p>
<p style="text-align:left;">Silahkan download edisi cetak (format PDF 354 KB) <a title="Edisi cetak Hordeolum" href="http://www.box.net/shared/mlvq1huf6i" target="_blank">di sini</a></p>
<p style="text-align:center;">:: :: :: posting menggunakan <a title="Windows Live Writer" href="http://get.live.com/writer/overview" target="_blank">WLW</a> :: :: ::</p>
<div id="scid:0767317B-992E-4b12-91E0-4F059A8CECA8:e7de6281-ab4d-4d13-8818-d8009b0ae113" class="wlWriterEditableSmartContent" style="display:inline;float:none;margin:0;padding:0;">Technorati Tags: <a rel="tag" href="http://technorati.com/tags/Hordeolum">Hordeolum</a>,<a rel="tag" href="http://technorati.com/tags/Stye">Stye</a>,<a rel="tag" href="http://technorati.com/tags/Timbilen">Timbilen</a>,<a rel="tag" href="http://technorati.com/tags/Infeksi">Infeksi</a>,<a rel="tag" href="http://technorati.com/tags/Penyakit">Penyakit</a>,<a rel="tag" href="http://technorati.com/tags/Penyakit+Mata">Penyakit Mata</a></div>
Posted in Artikel, Health, Informasi, Kesehatan Tagged: Health, Hordeolum, Informasi, Kesehatan, Penyakit <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cakmoki86.wordpress.com/1416/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cakmoki86.wordpress.com/1416/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cakmoki86.wordpress.com/1416/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cakmoki86.wordpress.com/1416/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cakmoki86.wordpress.com/1416/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cakmoki86.wordpress.com/1416/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cakmoki86.wordpress.com/1416/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cakmoki86.wordpress.com/1416/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cakmoki86.wordpress.com/1416/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cakmoki86.wordpress.com/1416/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cakmoki86.wordpress.com&blog=570093&post=1416&subd=cakmoki86&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cakmoki86.wordpress.com/2009/10/18/hordeolum-alias-timbilen/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>26</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">cakmoki</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://cakmoki86.files.wordpress.com/2009/10/external_hordeolum.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Hordeolum or Timbilen</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dilarang makan wajan</title>
		<link>http://cakmoki86.wordpress.com/2009/10/11/dilarang-makan-wajan/</link>
		<comments>http://cakmoki86.wordpress.com/2009/10/11/dilarang-makan-wajan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Oct 2009 04:00:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cakmoki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Gaya Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Health]]></category>
		<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[Komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[Makanan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cakmoki86.wordpress.com/2009/10/11/dilarang-makan-wajan/</guid>
		<description><![CDATA[PENGUMUMAN : DILARANG MAKAN WAJAN DAN COBEK
 Pembahasan seputar larangan (pantangan) makanan terkait dengan penyakit (sakit) tertentu telah kita diskusikan 2 tahun yang lalu pada artikel Pantangan Makanan. Adapun pembatasan makanan tertentu dan anjuran makanan bergizi seimbang telah tercantumkan pula pada setiap artikel yang membahas penyakit sesuai spesifikasinya.
Kali ini, kita membahas respon positif para penderita [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cakmoki86.wordpress.com&blog=570093&post=1412&subd=cakmoki86&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:left;"><strong>PENGUMUMAN : <span style="color:#ff0000;">DILARANG MAKAN WAJAN DAN COBEK</span></strong></p>
<p style="text-align:left;"><a title="Jangan makan wajan, atoz" href="http://www.gettyimages.com/"><img style="display:inline;border-width:0;margin:5px 10px 0 0;" title="Jangan makan wajan, atoz" src="http://cakmoki86.files.wordpress.com/2009/10/wajan.jpg?w=140&#038;h=120" border="0" alt="Jangan makan wajan, atoz" width="140" height="120" align="left" /></a> Pembahasan seputar larangan (pantangan) makanan terkait dengan penyakit (sakit) tertentu telah kita diskusikan 2 tahun yang lalu pada artikel <a title="Gak boleh makan sabun kaleee :)" href="http://cakmoki86.wordpress.com/2007/12/01/pantangan-makanan/" target="_blank">Pantangan Makanan</a>. Adapun <em><span style="text-decoration:underline;">pembatasan</span></em> makanan tertentu dan <em><span style="text-decoration:underline;">anjuran</span></em> makanan bergizi seimbang telah tercantumkan pula pada setiap artikel yang membahas penyakit sesuai spesifikasinya.</p>
<p style="text-align:left;">Kali ini, kita membahas respon positif para penderita berkenaan dengan larangan makan makanan secara membabi buta sehingga menjadikan tanda tanya bagi penderita dan bahkan adakalanya menjadi bahan guyonan, seperti judul posting di atas <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  ..</p>
<p><span id="more-1412"></span></p>
<p style="text-align:left;">Artinya apa ? Artinya, sebagian masyarakat sudah cukup pintar dan cerdas untuk <em>tidak menelan mantah-mentah</em> larangan makan makanan tertentu dari dokter ataupun petugas kesehatan lainnya manakala dianggap tidak sesuai dengan penyakit atau keluhan mereka.</p>
<p style="text-align:left;">Berikut adalah contoh 3 ungkapan penderita yang layak kita jadikan pelajaran untuk memperbaiki informasi kesehatan bagi masyarakat luas.</p>
<blockquote><p>Seorang pria usia tiga puluhan bertutur <span style="color:#0000ff;">:” Pasca perayaan Agustusan saya berobat lantaran berasa pegal, linu-linu, badan serasa remuk. Eh, sama dokter disuruh periksa lab, darah lengkap, urine, asam urat, kolesterol, kadar gula dan lain-lain. Itupun masih diwanti-wanti <em>gak boleh makan kacang</em>, <em>gak boleh makan gorengan</em> dan entah apa lagi, saya tidak begitu ingat soalnya saat itu menahan tawa … “.</span> Setelah berhenti sejenak, pria tersebut melanjutkan : <span style="color:#0000ff;">“ di perjalanan pulang saya tertawa beneran sambil meremas pengantar lab dan membuangnya. Malamnya pindah berobat. Gak sampai 50 ribu, tiga hari kemudian udah seger “.</span> Sembari tersenyum lebar, ia berujar : “<span style="color:#0000ff;"> saya masih pingin tertawa manakala teringat <em>gak boleh makan gorengan</em>. Sapa yang mau makan <em>wajan</em> … “.</span></p></blockquote>
<p style="text-align:left;">Kejadian serupa saya jumpai ketika mudik Lebaran. Di saat ada sepupu yang menceritakan larangan makan gorengan, salah seorang kerabat yang suka ndagel menimpali: <span style="color:#0000ff;">“ bener itu, gak boleh makan gorengan artinya gak boleh makan wajan … atos … hahaha “.</span> Cerdas !!!</p>
<blockquote><p>Gadis kecil, usia sekitar 6 tahun, menderita koreng (pyodermi) di kedua kaki dan betisnya. Si ibu yang mengantarnya ke dokter berkisah: <em>“ Anak saya dibilang alergi, gak dibolehkan makan ayam, ikan, telor. Hanya dibolehkan makan tahu tempe dan daging sapi. Sudah seminggu lebih diobati salep dan hanya makan pake tahu tempe, malah tambah parah. Aneh, anak segini hanya disuruh makan dengan lauk tahu tempe, lha gizinya gimana ? Setiap kali makan dia menangis karena gak diberi lauk telor dan ayam kesukaannya “.</em> Pinter !!!</p></blockquote>
<p style="text-align:left;">Setelah tahu bahwa penyakit tersebut tidak ada hubungannya dengan makanan dan tidak ada pantangan makanan apapun, tersenyumlah si ibu dan si gadis kecilpun bersorak kegirangan.</p>
<blockquote><p>Pakde Wd, berusia 65 tahun lebih, menderita Asma sudah sejak belasan tahun yang lalu. Beliau menceritakan pengalamannya yang menurut beliau cukup menggelikan. Suatu hari di tengah malam pria kurus ini mengalami serangan asma dan kebetulan kehabisan persediaan obat asma. Maka berobatlah beliau ke suatu tempat, diantar oleh kerabatnya. Pakde Wd sangat paham bahwa setiap serangan asma (status asmatikus) datang mendera, tensinya akan naik menjadi sekitar 160/90, dan akan normal kembali ketika serangan asma mereda. Malam itupun tensinya naik saat diperiksa oleh dokter.</p></blockquote>
<p style="text-align:left;">Apa sih yang menurut Pakde Wd menggelikan ? Ternyata Pakde Wd gak boleh makan daging dan bla…bla…bla, gara-gara saat serangan asma tensi darahnya naik. Kata beliau : <em><span style="color:#0000ff;">“ Gak perlu dilarang, lha wong saya hanya berkesempatan makan daging setahun 2 kali saat Idul Fitri dan Idul Adha. Itupun sudah tidak kuat nyokot “</span></em>. Owaaalah Pak De … njenengan ndesit tapi pinter.</p>
<p style="text-align:left;">Banyak cerita soal larangan makan makanan dan minuman yang <em><span style="text-decoration:underline;">tidak bijak</span></em> dijadikan bahan guyonan oleh warga masyarakat di arena kongkow-kongkow, di kantor, di mall, di pasar, di warung makan di kedai kopi dan tempat lain dimana orang berkumpul. Sikap tersebut setidaknya merupakan salah satu corong dalam meng-counter salah kaprah informasi kesehatan terkait larangan makan yang acap kali menjadikan pasien ketakutan.</p>
<p style="text-align:left;">Mungkin ada diantara sejawat dokter yang besikap eksplosif mendengar contoh penuturan para pasien di atas. Itu sangat wajar. Namun belajar mengakui kekeliruan kemudian memperbaikinya akan lebih berguna bagi dirinya sendiri maupun bagi khalayak.</p>
<p style="text-align:left;">Betapapun, belajar dari masyarakat dan pasien merupakan bagian dari pendidikan kedokteran berkelanjutan yang tidak mudah didapatkan di bangku kuliah. Pelajaran berharga semacam itu hanya dapat dipetik jika kita mampu membuka pintu hati, mengalahkan ego, dan menjalin komunikasi dokter-pasien secara berkelanjutan, bukan hanya terbatas di ruang praktek ataupun di ruang pemeriksaan semata, tapi juga di ranah komunitas.</p>
<p style="text-align:left;">Semoga bermanfaat.</p>
<p style="text-align:left;">Silahkan berbagi.</p>
<p style="text-align:center;">:: :: :: posting menggunakan WLW :: :: ::</p>
<div id="scid:0767317B-992E-4b12-91E0-4F059A8CECA8:95e729a7-e931-44f0-9a19-33f598ed52f5" class="wlWriterEditableSmartContent" style="display:inline;float:none;text-align:center;margin:0;padding:0;">Technorati Tags: <a rel="tag" href="http://technorati.com/tags/Makanan">Makanan</a>,<a rel="tag" href="http://technorati.com/tags/Informasi">Informasi</a>,<a rel="tag" href="http://technorati.com/tags/Kesehatan">Kesehatan</a>,<a rel="tag" href="http://technorati.com/tags/Komunikasi">Komunikasi</a>,<a rel="tag" href="http://technorati.com/tags/Dokter">Dokter</a>,<a rel="tag" href="http://technorati.com/tags/Pasien">Pasien</a></div>
Posted in Artikel, Gaya Hidup, Health, Informasi, Kesehatan Tagged: Health, Informasi, Kesehatan, Komunikasi, Makanan <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cakmoki86.wordpress.com/1412/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cakmoki86.wordpress.com/1412/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cakmoki86.wordpress.com/1412/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cakmoki86.wordpress.com/1412/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cakmoki86.wordpress.com/1412/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cakmoki86.wordpress.com/1412/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cakmoki86.wordpress.com/1412/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cakmoki86.wordpress.com/1412/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cakmoki86.wordpress.com/1412/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cakmoki86.wordpress.com/1412/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cakmoki86.wordpress.com&blog=570093&post=1412&subd=cakmoki86&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cakmoki86.wordpress.com/2009/10/11/dilarang-makan-wajan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">cakmoki</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://cakmoki86.files.wordpress.com/2009/10/wajan.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Jangan makan wajan, atoz</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mahakam asin, diare mengancam</title>
		<link>http://cakmoki86.wordpress.com/2009/10/02/mahakam-asin-diare-mengancam/</link>
		<comments>http://cakmoki86.wordpress.com/2009/10/02/mahakam-asin-diare-mengancam/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Oct 2009 08:23:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cakmoki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Events]]></category>
		<category><![CDATA[Gaya Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Health]]></category>
		<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Air]]></category>
		<category><![CDATA[Air Bersih]]></category>
		<category><![CDATA[Diare]]></category>
		<category><![CDATA[Palaran]]></category>
		<category><![CDATA[Penyakit]]></category>
		<category><![CDATA[Penyakit Kulit]]></category>
		<category><![CDATA[Samarinda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cakmoki86.wordpress.com/2009/10/02/mahakam-asin-diare-mengancam/</guid>
		<description><![CDATA[SUNGAI MAHAKAM ASIN, AIR MACET, DIARE MULAI DATANG
 Sudah hampir sepekan air asin masuk sungai Mahakam. Episode tahunan ini tak pelak membuat warga khususnya Kelurahan Rawamakmur, Kecamatan Palaran, Samarinda dibuat repot. Seperti biasa, mesin pengolah air di ndeso ™ Palaran yang bersumber dari sungai Mahakam tak berani beroperasi. Konon alat pengolah air bisa rusak jika [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cakmoki86.wordpress.com&blog=570093&post=1305&subd=cakmoki86&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p align="left"><strong>SUNGAI MAHAKAM ASIN, AIR MACET, DIARE MULAI DATANG</strong></p>
<p align="left"><a href="http://cakmoki86.files.wordpress.com/2009/10/sumur.jpg"><img style="border-bottom:0;border-left:0;display:inline;border-top:0;border-right:0;margin:5px 10px 0 0;" title="Sumur dan Tandon" src="http://cakmoki86.files.wordpress.com/2009/10/sumur_thumb.jpg?w=110&#038;h=140" border="0" alt="Sumur dan Tandon" width="110" height="140" align="left" /></a> Sudah hampir sepekan air asin masuk sungai Mahakam. Episode tahunan ini tak pelak membuat warga khususnya Kelurahan Rawamakmur, Kecamatan Palaran, Samarinda dibuat repot. Seperti biasa, mesin pengolah air di ndeso ™ Palaran yang bersumber dari sungai Mahakam tak berani beroperasi. Konon alat pengolah air bisa rusak jika dipaksakan. Alhasil, 3 hari para pelanggan tak mendapatkan tetesan air. Memang ada bantuan dropping air dari PDAM kota melalui pasokan dengan truk tangki, tapi tak banyak membantu. Itupun masih disertai kebiasaan buruk, yakni membayar “seikhlasnya”. *pancet, ae*</p>
<p><span id="more-1305"></span></p>
<p align="left"><strong>AIR DI PALARAN</strong></p>
<p align="left">Kecamatan Palaran, Samarinda (ibukota Kaltim nan kaya) terdiri dari 5 kelurahan, yakni kelurahan Rawamakmur (ibukota kecamatan), kelurahan Bukuan, kelurahan Simpangpasir, kelurahan Handil Bakti dan kelurahan Bantuas. Sebagian warga kelurahan Rawamakmur (belum semua) mendapatkan air dari PDAM unit Palaran dengan harga yang relatif amboi. Sebagian warga kelurahan Bukuan mendapatkan air dari Pengelola Air Swasta dengan harga Rp 60.000,- per 1200 litar. Sedangkan selebihnya dan warga kelurahan lain mendapatkan air dari PAH (penampungan air hujan), sumur tanah (sebagian besar airnya kayak kuah rawon), sumur bor (masih harus diolah), sumber air di bukit-bukit dan pinggir hutan dan sebagian lagi nekat membeli air sungai mahakam dengan harga Rp2.000,- per drum.</p>
<p align="left"><a href="http://cakmoki86.files.wordpress.com/2009/10/bor.jpg"><img style="border-bottom:0;border-left:0;display:inline;border-top:0;border-right:0;margin:5px 10px 0 0;" title="Ini Sumur Bor lho" src="http://cakmoki86.files.wordpress.com/2009/10/bor_thumb.jpg?w=140&#038;h=100" border="0" alt="Ini Sumur Bor lho" width="140" height="100" align="left" /></a> Sudah berbagai cara dan metode pengolohan air dilakukan oleh berbagai pihak agar warga mendapatkan air bersih. Namun dengan makin maraknya pemangkasan bukit dan penambangan batu bara di dekat pemukiman, segala upaya tersebut seakan sia-sia. Akhirnya warga dipaksa untuk bisa survive sendiri tanpa kejelasan kapan seluruh warga Palaran mendapatkan air bersih. Hanya ada satu kepastian, yaitu lontaran janji sebuah kata berjudul “akan”. Entah, 5 tahun lagi, sepuluh tahun lagi atau mungkin memang tidak pernah direncanakan dengan sungguh-sungguh.</p>
<p align="left">Sebagian besar warga makin skeptis menyikapi janji-janji penyediaan Air bersih. Anehnya, 3 orang anggota DPRD dari Dapil Palaran (pada periode 2004-2009) belum kedengaran memperjuangkan penyediaan Air Bersih bagi seluruh warga kelurahan Palaran. Hanya 1 orang yang benar-benar memperhatikan dan memperjuangkan penyediaan Air Bersih pada periode 1999-2004. Sayang sekali setelah tidak terpilih <em>(beliau meninggal dunia beberapa tahun yang lalu, dan beliau pulalah yang bahu-mambahu bersama kami memperjuangkan pembangunan Rawat Inap Palaran yang representatif seperti yang sekarang ini)</em>, upaya beliau tidak dilanjutkan oleh anggota DPRD penerusnya.</p>
<p align="left"><strong>KUALITAS AIR DI PALARAN</strong></p>
<p align="left">Setiap tahun, Puskesmas Palaran melalukan uji kualitas air dengan mengambil sampel sumber-sumber air kemudian diperiksakan ke Labotaroium Daerah. Hasinya: buruk ! Tingkat keasaman rendah, kadar besi tinggi dan berwarna keruh setelah semalam diinapkan walau saat diambil berwarna bak air mineral dalam botol.</p>
<p align="left">Kodisi air tersebut memberikan pelajaran berharga kepada kami. Warga menjadi sangat paham bagaimana mengolah air berdasarkan masing-masing wilayah. Bahkan adakalanya air dari sumber yang sama memerlukan kombinasi tawas, kaporit atau bubuk kapur yang berbeda di saat-saat tertentu. Hal ini wajar mengingat saat musim hujan dan musim kemarau mengakibatkan perubahan komposisi air di berbagai sumber air.</p>
<p align="left">Saya sendiri menjadi sedikit peka untuk mengolah air, menakar kombinasi bahan pengolah, hanya dengan melihat warna dan mencicipi sedikit air. Tapi yang paling ahli (diantara orang serumah) adalah anak mertua. Beliaulah yang mengatur penyediaan bahan pengolah air dan menentukan takarannya. Sedangkan saya kebagian tukang aduk air di tengah malam. *sambil nembang* <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' />  Dan 3 hari ini, episode ngaduk air di tengah malam terulang lagi.  Walah, kembali ke awal era 1995, rek! … <em><span style="color:#0000ff;">Nyedot air dari sumur dan sumur bor … nampung di bak pengolahan … mengalirkan air hasil olahan ke tandon penampungan … menyedot ke tandon di menara kayu … lantas mengalirkan melalui instalasi air layaknya instalasi air PDAM. </span></em>*nggaya bowww, tapi boyok pegel kabeh, rek*</p>
<p align="left">Koq gak pake buku-buku Pengolahan Air Bersih, cak ? Udah dong, udah banyak buku-buku dibaca sampai khatam dan ditrapkan. Gak ada yang memuaskan. Malah berbau banger. Yah, wajarlah, lha wong yang nulis para ahli dari luar Kaltim yang berbeda kondisi alam maupun sifat airnya. Makanya gak ada yang cocok.</p>
<p align="left"><strong>AIR DAN KESEHATAN</strong></p>
<p align="left">Semua orang sangat paham bahwa air adalah salah satu bagian kehidupan yang sangat penting, termasuk kaitannya dengan kesehatan. Kelangkaan air bisa dipastikan akan meningkatkan resiko <a title="Diarrhea" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Diarrhea" target="_blank">diare</a><strong></strong>, dan resiko lain dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Bisa dibayangkan betapa sengsaranya seorang yang menderita diare sementara air sangat langka.</p>
<p align="left">Suatu hari pernah seorang pejabat dari jajaran kesehatan Samarinda menengok pasien diare yang sedang diinfus. Si pejabat berujar:” jangan lupa cuci tangan ya… “. Si pasien dan keluarganya mengernyitkan dahi. Setelah si pejabat pulang mereka ngomel: <em><span style="color:#0000ff;">“ sapa sih yang gak tahu kalo kita harus mencuci tangan. Emangnya pake air apa coba…” </span><span style="color:#000000;">(bahasa sudah diperhalus dan sumpah serapah dihilangkan)</span></em>. Ketahuan deh, gak pernah baca laporan, gak tahu profil kesehatan dan gak memahami komunikasi dengan pasien. Diakui ajalah.</p>
<p align="left">Kita juga paham bahwa sebagian besar tubuh kita mengandung air dan <em>83% darah kita terdiri dari air</em>. Apa jadinya jika kebutuhan pokok tersebut tak terpenuhi ? Tak perlu heran jika nanti akan terjadi ledakan diare, orang lebih mudah mengalami <strong><a title="Infeksi Saluran Kemih" href="http://cakmoki86.wordpress.com/2007/04/05/isk-kencing-menetes-air-matapun-berlinang/" target="_blank">ISK</a></strong> (infeksi saluran kemih), <a title="Berbagai Penyakit Kulit" href="http://cakmoki86.wordpress.com/tanya-jawab/tanya-2/penyakit-kulit/" target="_blank"><strong>penyakit kulit</strong></a> dan lain-lain.</p>
<p align="left">Dua malam yang lalu beberapa warga ngobrol sambil nunggu Liga Champion. Ada yang sangat menarik manakala salah seorang dari mereka berujar<em><span style="color:#0000ff;">:” Lha iya, kita sudah membayar pajak dan retribusi dari berbagai jurusan. Mulai ongkos kencing sampai pajak makanan. Tapi ngurusi air aja gak genah … “</span></em>. Yang lain menimpali<em><span style="color:#0000ff;">:” Mungkin dibuat nyangoni pejabat dan DPRD jalan-jalan ke luar daerah dan ke luar negeri. Gitu aja gak tahu !”</span></em>. Kamipun cekikikan sambil nyruput kopi. xixixi <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p align="left">Akhirnya, kami sebagai warga, sangat mengharapkan keseriusan para penyelenggara pemerintahan, terutama di Samarinda, untuk memenuhi kewajibannya sebagaimana janji-janji yang pernah diucapkan saat Pilkada dan Pemilu. Begitu banyak masalah di negeri ini, jangan lagi ditambah dengan penggunaan uang rakyat untuk keperluan yang tidak menggambarkan kepedulian kepada rakyat jelata.</p>
<p align="left">Pada kesempatan ini pula, kami ikut prihatin atas musibah yang menimpa saudara-saudara kita di Sumatra Barat. Teriring do’a, semoga para korban yang wafat mendapatkan tempat yang layak di sisi-Nya dan diberikan ketabahan bagi para korban lainnya.</p>
<p align="center">:: :: :: posting menggunakan <a title="Windows Live Writer" href="http://get.live.com/writer/overview" target="_blank">WLW</a> :: :: ::</p>
<div id="scid:0767317B-992E-4b12-91E0-4F059A8CECA8:7e8c7392-c83b-40f1-9035-3d1c8c2d56e3" class="wlWriterEditableSmartContent" style="width:421px;display:block;float:none;margin-left:auto;margin-right:auto;padding:0;">Technorati Tags: <a rel="tag" href="http://technorati.com/tags/Air">Air</a>,<a rel="tag" href="http://technorati.com/tags/Diare">Diare</a>,<a rel="tag" href="http://technorati.com/tags/Penyakit">Penyakit</a>,<a rel="tag" href="http://technorati.com/tags/Kesehatan">Kesehatan</a>,<a rel="tag" href="http://technorati.com/tags/Palaran">Palaran</a>,<a rel="tag" href="http://technorati.com/tags/Samarinda.">Samarinda.</a></div>
Posted in Artikel, Berita, Events, Gaya Hidup, Health, Informasi, Kesehatan, Opini, Umum Tagged: Air, Air Bersih, Artikel, Berita, Diare, Gaya Hidup, Health, Kesehatan, Opini, Palaran, Penyakit, Penyakit Kulit, Samarinda <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cakmoki86.wordpress.com/1305/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cakmoki86.wordpress.com/1305/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cakmoki86.wordpress.com/1305/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cakmoki86.wordpress.com/1305/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cakmoki86.wordpress.com/1305/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cakmoki86.wordpress.com/1305/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cakmoki86.wordpress.com/1305/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cakmoki86.wordpress.com/1305/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cakmoki86.wordpress.com/1305/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cakmoki86.wordpress.com/1305/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cakmoki86.wordpress.com&blog=570093&post=1305&subd=cakmoki86&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cakmoki86.wordpress.com/2009/10/02/mahakam-asin-diare-mengancam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">cakmoki</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://cakmoki86.files.wordpress.com/2009/10/sumur_thumb.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Sumur dan Tandon</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://cakmoki86.files.wordpress.com/2009/10/bor_thumb.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Ini Sumur Bor lho</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Swakelola Puskesmas Rawat Inap</title>
		<link>http://cakmoki86.wordpress.com/2009/09/26/swakelola-puskesmas-rawat-inap/</link>
		<comments>http://cakmoki86.wordpress.com/2009/09/26/swakelola-puskesmas-rawat-inap/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Sep 2009 03:04:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cakmoki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Gaya Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Health]]></category>
		<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Palaran]]></category>
		<category><![CDATA[Puskesmas]]></category>
		<category><![CDATA[Samarinda]]></category>
		<category><![CDATA[Swakelola]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cakmoki86.wordpress.com/2009/09/26/swakelola-puskesmas-rawat-inap/</guid>
		<description><![CDATA[ Sesuai janji saya saat posting Wacana Puskesmas 24 Jam beberapa waktu yang lalu, kali ini saya ingin berbagi pengalaman ketika masih aktif mengelola Puskesmas Rawat Inap Palaran, Samarinda.
Beberapa sejawat dokter sudah sejak sekitar tahun 1995-an mewacanakan dan mencoba memperkenalkan swakelola ke internal jajaran Kesehatan dan jajaran Pemerintah Kota Samarinda sebagai salah satu model pengelolaan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cakmoki86.wordpress.com&blog=570093&post=1268&subd=cakmoki86&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p align="left"><a title="Rawat Inap Palaran (ndeso full)" href="http://puskesmaspalaran.wordpress.com/" target="_blank"><img style="display:inline;border-width:0;margin:5px 10px 0 0;" title="Rawat Inap Palaran (ndeso full)" src="http://cakmoki86.files.wordpress.com/2009/09/inap120.jpg?w=140&#038;h=110" border="0" alt="inap120" width="140" height="110" align="left" /></a> Sesuai janji saya saat posting <a title="Wacana Puskesmas 24 Jam" href="http://cakmoki86.wordpress.com/2009/06/28/wacana-puskesmas-24-jam/" target="_blank">Wacana Puskesmas 24 Jam</a> beberapa waktu yang lalu, kali ini saya ingin berbagi pengalaman ketika masih aktif mengelola Puskesmas Rawat Inap <a title="Puskesmas Rawat Inap Palaran" href="http://puskesmaspalaran.wordpress.com/" target="_blank">Palaran</a>, Samarinda.</p>
<p align="left">Beberapa sejawat dokter sudah sejak sekitar tahun 1995-an mewacanakan dan mencoba memperkenalkan swakelola ke internal jajaran Kesehatan dan jajaran Pemerintah Kota Samarinda sebagai salah satu model pengelolaan sebagian keperluan Puskesmas terutama untuk menunjang pelayanan medis agar lebih berkualitas dan lebih tepat sasaran, khususnya pengadaan obat dan Bahan Habis Pakai.</p>
<p><span id="more-1268"></span></p>
<p align="left">Sayangnya, tatkala pihak petinggi Pemkot telah setuju dan bersedia untuk memberi modal awal, hanya beberapa teman sejawat dokter Pimpinan Puskesmas yang menyatakan bersedia, sedangkan sebagian besar ogah mikir ruwet (alasan yang dilontarkan). Nah, lho.</p>
<blockquote>
<p align="left">Sering sudah saya ungkapkan secara terbuka bahwa upaya untuk meningkatkan pelayanan kesehatan lebih kerap terkendala faktor internal, yakni orang-orang kesehatan sendiri dibanding kendala dari pihak lintas sektoral. Apa pasal ? Gak tahu !!!</p>
</blockquote>
<p align="left">Melalui diskusi panjang di milis kami, seorang teman (acc prof Monash tapi gak diakui di negeri dewe), staf ahli Menkes, yang biasa melanglang menjalin jejaring dengan pihak luar berujar:</p>
<blockquote>
<p align="left"><em>… Mok, yang aku maksud tidak hanya pemikir meskipun kita tau pemikir di republik ini sering pake akal sendiri tanpa memperhitungkan sinergi dengan pemikir lain dan decision makers. Orang selalu bicara BLU tapi gak mikir apakah decision maker mau implementasi dan bagaimana implikasi penganggaran dan kewenangannya. Belum lagi konteks format kepegawaian. Orang bicara tentang family physician tanpa mikir sinergi dan sinkronisasi sistem kesehatan yang berjalan dan sistem UU yang ada. Mengapa family physician di Australia berjalan sempurna? Karena sistem kesehatannya mengatakan begitu, bahwa primary health care bermula dari family physician, yang juga ditunjang dengan struktur kemasyarakatan yang ada, seorang family physician bertangung jawab terhadap suatu neighborhood (mungkin seperti kelurahan disini). Seorang spesialis disana silahkan saja menerima pasien batuk pilek asal mau terima konsekwensi tidak dapat reimburse dari medical care, karena reimbursement medical care harus cantumkan provider number dari family physician alias GP.</em></p>
</blockquote>
<p align="left">Berangkat dari pengalaman masa lalu dan kesadaran bahwa begitu besar harapan pengguna jasa pelayanan medis untuk mendapatkan pelayanan yang berkualitas dan bersahabat, maka ketika permintaan untuk dibangunkan Puskesmas Rawat Inap yang memadai dipenuhi Pemkot Samarinda, kami (saya dan seorang sejawat dokter) berkesempatan untuk mengoperasionalkan Rawat Inap secara <strong>swakelola</strong>, khususnya obat dan Bahan Habis Pakai (BHP). Tentu setelah mendapatkan lampu hijau dari Kepala Dinas Kesehatan (kala itu) dan persetujuan DPRD melalui hearing.</p>
<p align="left">Berikut ini adalah fakta beberapa faktor penghambat dan upaya untuk meningkatkan kualitas pelayanan yang sudah dilakukan sejak 24 Maret 2004 (so, harap dicatat: bukan ide, namun nyata dan sudah dilakukan).</p>
<p align="left"><strong>Fakta 1: Gedung Rawat Inap</strong>.</p>
<p align="left">Sejauh ini Gedung Rawat Inap jadi satu dengan Puskesmas Induk sehingga suka atau tidak suka, pasien dipaksa dirawat di ruang yang gaduh karena berdekatan dengan Poli-poli di Puskesmas Induk, terutama pada jam kunjungan Rawat Jalan. Kondisi demikian kami anggap sebagai salah satu hambatan yang harus diperbaiki.</p>
<p align="left"><strong>Upaya Jalan Keluar</strong>:</p>
<p align="left">Mengupayakan pembangunan Gedung khusus Rawat Inap yang terpisah dari Puskesmas Induk. Bukan hanya itu, tata ruang dan luas setiap ruang dapat kita minta agar lapang dan nyaman. Artinya, luas dan tata ruang tidak lagi bersandar pada standar Depkes. Kita dapat menggambar denah sesuai lalu lintas pasien, kenyamanan dan aspek psikologis serta keamanan. Selanjutnya, kita bisa minta tolong membuatkan detail gambar kepada insinyur. Kalo gak punya kenalan, mau gak mau bayar.</p>
<p align="left">Kami dibuatkan 6 gambar pilihan oleh seorang insinyur (Ir. Smr) dan akhirnya kami pilih salah satu yang paling cocok senilai 2,5 milyar. Setelahnya, gambar tersebut kita ajukan kepada Kepala Daerah. Akhirnya, permintaan kami disetujui dengan perjanjian akan dibangun dalam 3 tahap.</p>
<p align="left">Lho, koq mudah ? Sapa bilang mudah… Sungguh, orang-orang yang pertama tidak setuju dengan upaya tersebut adalah dari internal kesehatan, di Puskesmas dan Dinkes tingat II. Alih-alih mendukung, kebanyakan dari mereka malah mencibir.</p>
<p align="left"><strong>Fakta 2: Obat dan Bahan Habis Pakai.</strong></p>
<p align="left">Ketika itu, pengadaan obat dilakukan melalui permintaan ke Gudang Farmasi setiap 2 bulan sekali. Jenis dan jumlah obat “disesuaikan” dengan pelbagai pertimbangan, diluar pertimbangan kepentingan penderita. Itupun sesuai Permenkes diwajibkan lelang. Hmmm, lelang … konon menurut cerita pihak PBF, harga obat bisa melonjak (dilonjakkan) beberapa kali lipat. Bisa dibayangkan berapa banyak uang negara hilang melalui proses tersebut.</p>
<p align="left">Tentu situasi tersebut merupakan penghalang besar terciptanya pelayanan berkualitas dan murah.</p>
<p align="left"><strong>Upaya Jalan Keluar</strong>:</p>
<p align="left"><strong><span style="color:#c80000;">Swakelola</span></strong> Obat, Bahan Habis Pakai dan Reagen Laboratorium. Modal awal sekitar 25 juta rupiah yang kami peroleh dari pinjaman. Sebagian obat kami bawa dari praktek (bersama dr. Ergia L yang saat ini menempuh pendidikan spesialisasi Anak … thanks Dr. Lia).</p>
<p align="left">Cara pengadaan: membeli cash ke PBF <strong><span style="text-decoration:underline;">melalui</span></strong> apotik.</p>
<p align="left"><strong>Keuntungan swakelola:</strong></p>
<ol>
<li>
<div>Harga obat lebih murah dari Harga Netto Apotik (HNA). Sebagai contoh, jika harga netto apotik suatu obat semisal 10.000 rupiah, maka dengan sistem diskon dari PBF dapat diperoleh lebih murah, katakanlah 7.000 rupiah, sehingga harga jual ke pasien (dengan keuntungan sekitar 15-20%) dapat kita tekan menjadi di bawah HNA. Selain itu, jenis dan merk obat dapat dipilih sesuai kebutuhan sesuai penyakit pasien. Andai obat habis dalam seminggu karena adanya peningkatan penyakit tertentu, maka kita dapat membelinya sebelum obat habis. Dengan demikian, pasien selalu mendapatkan obat sesuai penyakitnya tepat waktu, dan murah.</div>
</li>
<li>
<div>Bahan Habis Pakai (BHP), seperti: cairan infus, infus set, cath, spuit (suntikan), jarum suntik (needle) dan sejenisnya, dapat kita pilih yang kelas 1 dengan harga murah (diskon dan cash). Pasien sebenernya gak pernah tahu jenis dan kulaitas cairan infus. Kebanyakan dari mereka tahunya hanya diinfus dan netes. Namun, Bukankah tugas dokter untuk memberikan yang terbaik ? Contoh, kita bisa belikan cairan RD5, Asering dll … dll… dengan merk terbaik dan bertutup karet, bukan tutup plastik. Demikian pula cath, kita mampu beli misalnya Otsucath (merk ini biasa dipakai di RS swasta dan RSUD paviliun). Masyarakat ndeso berhak mendapatkan yang terbaik dengan harga murah bukan ?</div>
</li>
<li>
<div>Reagen Laboratorium. Saat ini, Puskesmas Rawat Inap Palaran (ndeso ™ full) sudah mampu membeli sendiri Fotometri manual seharga sekitar 65 juta. Kalo minta ke Pemerintah, kayaknya gak bakalan dikasih deh …. hehehe. Bahkan sejak 2 tahun yang lalu sudah menggunakan Tubex TF untuk deteksi typhus. <em><span style="color:#0000ff;">( kata temen saya, seorang DSA di Surabaya, test Widal sudah saatnya ditinggalkan, itu mah jaman Ken Arok … kalau keberatan silahkan protes kepada beliau )</span></em>. Namun kami masih menggunakn test widal untuk follow up. Contoh lain, untuk pemeriksaan sekret vagina bagi yang keputihan, hanya 22.000 dan selesai dalam 1 jam. Sekali lagi, semuanya menggunakan modal sendiri, termasuk mikroskop binokuler buatan Olympus seharga hampir 10 juta (kayaknya sekelas dengan milik FK).</div>
</li>
<li>
<div>Pengembangan Obat dan BHP. Dengan swakelola, kami mampu menyisihkan sebagian keuntungan untuk pengembangan dan peningkatan kualitas Obat maupun Bahan Habis Pakai. Menurut bendaharawan, kekayaan saat ini mencapai ratusan juta rupiah.</div>
</li>
<li>
<div>Pemerintah tak perlu repot. Belanja rata-rata Obat dan Bahan Habis Pakai sekitar 30-40 juta perbulan. Atau sekitar 360-480 juta per tahun. Artinya, Pemerintah Daerah tidak perlu lagi mengucurkan Anggaran senilai 360-480 juta per tahun. Dan itu berlanjut hingga tahun-tahun mendatang. ( sudah selayaknya Pemerintah Daerah memberikan reward yang layak kepada Rawat Inap … bener gak ? ). So, sungguh aneh jika uang jaga perawat dan bidan malah diamputasi. Koq tega ya?</div>
</li>
</ol>
<p align="left"><strong>Fakta 3: Tarip Perawatan.</strong></p>
<p align="left">Hasil sounding dan rasan-rasan masyarakat, konon umumnya biaya perawatan cenderung gelap gulita, tahu-tahu keluar kuitansi di luar perkiraan. Bukankah ini merupakan kendala yang harus diperbaiki ? Seorang teman yang kini bekerja sebagai pengelola IT di RSUD memberikan ilustrasi sebagai berikut: <em><span style="color:#0000ff;">“ orang lebih suka makan di KFC dan sejenisnya, salah satunya karena taripnya jelas. Andai kita punya uang 100 ribu, kita akan tahu makanan dan minuman apa saja yang dapat dibeli dengan uang segitu”.</span></em></p>
<p align="left"><strong>Upaya Jalan Keluar</strong>:</p>
<p align="left">Untuk menjamin keterbukaan tarip perawatan, kami menyusun Perda Tarip Rawat Inap. Semuanya serba jelas dan terbuka. Contoh, biaya melahirkan, termasuk jahit (bagi yang perlu episiotomi), visit dokter, infus (jika diperlukan) dan obat senilai maksimal 420.000.</p>
<p align="left">Saat hearing di DPRD, yang terpenting bukan itung-itungan njlimet, tapi jaminan biaya realistis untuk perawatan suatu penyakit. Presentasi cukup 45 menit (kalo kelamaan ntar anggota DPRD bosan lantaran mumet mendengar istilah aneh-aneh). Setelah itu diskusi sekitar 1 jam. Ketika kami hearing tentang Perda Tarip, tidak ada satupun item yang dicoret.</p>
<p align="left"><strong>Fakta 4: Konsentrasi Petugas.</strong></p>
<p align="left">Sepengetahuan saya, petugas Rawat Inap masih dibebani tugas rutin Puskesmas seperti Posyandu, dan berbagai UPK (Upaya Pokok Kesehatan lain. Menurut saya hal ini akan menggangu konsentrasi petugas dalam merawat pasien di Rawat Inap maupun tugas UPK. Hampir gak mungkin kita menuntut kinerja optimal dengan tugas ganda di ruang perawatan dan UPK.</p>
<p align="left"><strong>Upaya Jalan Keluar</strong>:</p>
<p align="left">Saat itu kami mengusulkan (sebenernya maksa) perekrutan petugas khusus (perawat, bidan, lab, cleaning service, laundry, dll) dari wilayah kami sendiri (Palaran) agar tercipta koordinasi yang bagus dan tidak terkendala transport.</p>
<p align="left">Dengan rencana 30-40 Tempat Tidur, kami memerlukan maksimal 25 tenaga khusus (perhitungan menggunakan Index Staff Need, bukan pake selera atau “titipan’) di Rawat Inap tanpa ada tugas lain. Sayangnya, karena kesalahan inventarisasi Bagian Kepegawaian Dinkes, tenaga yang dapat disetujui Pemerintah Daerah hanya 11orang (perawat, bidan dan Lab), plus 1 orang laundry honorer, 1 orang cleaning service honorer dan 1 orang catering kontrak.</p>
<p align="left"><strong>Fakta 5: Jasa Petugas.</strong></p>
<p align="left">Kita tahu, seberapapun rajinnya dan seberapapun beban kerja serta seberapa pandaipun petugas, gajinya sama jika golongan dan masa kerjanya sama. Di sisi lain, kita ingin memberikan pelayanan berkualitas melalui optimalisasi kinerja dan konsentrasi full dari masing-masing petugas. Lantas, bagaimana untuk memberikan tambahan jasa bagi petugas dengan legal formal?</p>
<p align="left">Sebagaimana prinsip dasar perawatan, petugas adalah salah satu pilar penting tercapainya pelayanan berkualitas. Tanpa reward yang memadai, mustahil cita-cita tersebut akan terwujud.</p>
<p align="left"><strong>Upaya Jalan Keluar</strong>:</p>
<p align="left">Lagi-lagi melalui Perda. Seperti halnya Guru, petugas perawatan Rawat Inap juga layak mendapatkan tambahan jasa sesuai dengan tuntutan kualitas pelayanan yang kita harapkan dari mereka. Dan pilihan yang paling masuk akal adalah jasa jaga dan jasa perawatan yang dapat dimasukkan dalam item Perda berdasarkan aturan yang berlaku.</p>
<p align="left">Pertanyaan yang kami terima saat menyampaikan hal tersebut adalah: <em><span style="color:#0000ff;">“ Bukankah pegawai sudah mendapatkan gaji dan bukankah merawat pasien adalah tugasnya?“</span></em>.</p>
<p align="left">Saya ingin memberikan ilustrasi sederhana. Coba bandingkan, seorang petugas rawat inap harus selalu siap selama 8 jam plus menangani pasien UGD, sementara petugas bukan Rawat Inap bisa nonton TV setelah tugasnya selesai sekitar jam 7.30 sampai jam 13.00. Bahkan adakalanya sudah bisa bersantai sebelum jam 13.00. Ditinjau dari sudut efesiensi waktu, jelas berbeda. Belum lagi dari tingkat stress dan bolak-balik dipanggil pasien yang harus dilayani dengan ramah.</p>
<blockquote>
<p align="left">Anehnya, pertanyaan yang bersifat keberatan (ataukah iri?) tersebut datang dari insan kesehatan, bukan dari lintas sektor ataupun masyarakat. Sebagai perbandingan, tidak ada satupun keberatan dari masyarakat ketika kami mengadakan simulasi tentang Perda Tarip bersama Camat, Lurah-lurah, stakeholder maupun instansi lintas sektoral.</p>
</blockquote>
<p align="left">Alhasil, usulan jasa petugas dalam item Perda Rawat Inap disetujui oleh DPRD dan Pemerintah Daerah. Bahkan salah seorang anggota DPRD menyarankan untuk meningkatkan besaran jasa jaga perawat dan bidan dalam jangka waktu tertentu jika menunjukkan kinerja yang bagus.</p>
<p align="left">Segini dulu serial garis besar swakelola Rawat Inap (Palaran). Ntar akan disambung dengan Rekam Medik dan kesinambungan sistem swakelola serta hambatan-hambatan terutama oleh insan kesehatan sendiri. Kenyataan pahit, bahwa inovasi yang sudah terprogram jangka panjang kadang tidak berjalan sesuai alur manakala terjadi pergantian kepemimpinan. Terlebih ketika godaan “uang” dengan kemasan berbagai judul melambai di depan mata. Tapi kita harus berani mengurai kekeliruan agar mudah memperbaikinya jika ingin benar-benar memberikan pelayanan kesehatan berkualitas sebagaimana nasehat <strong><em>Dr. Bill Goulds</em></strong>. Kalo tidak, maka bersiaplah mengucapkan selamat tinggal kepada pelayanan berkualitas.</p>
<p align="left">Semoga bermanfaat.</p>
<p align="left">Silahkan berbagi.</p>
<p align="left"><strong>Dokumen:</strong> silahkan download</p>
<ul>
<li><a title="Contoh Protap (CHM)" href="http://www.box.net/shared/ly7292q0zs" target="_blank">Contoh Protap</a> (format CHM: 237 MB)</li>
<li><a title="Contoh Protap (zip: flash dan CHM)" href="http://www.box.net/shared/akl1aly92m" target="_blank">Protap</a> (ZIP: Flash dan CHM: 1,1 MB)</li>
<li><a title="Contoh Ringkasan Perda Tarip Rawat Inap" href="http://www.box.net/shared/8ndnn2nc32" target="_blank">Contoh Ringkasan Perda</a> (PDF: 36 KB)</li>
<li><a title="Pedoman BLU" href="http://www.box.net/shared/vx0j5im7tn" target="_blank">PP No.23 tahun 2005</a> ( 51 KB, merupakan pedoman teknis tatalaksana BLU sebagai landasan swakelola)</li>
</ul>
<p align="center">:: :: :: posting menggunakan <a title="Windows Live Writer" href="http://get.live.com/writer/overview" target="_blank">WLW</a> :: :: ::</p>
Posted in Artikel, Gaya Hidup, Health, Informasi, Kesehatan, Opini, Umum Tagged: Artikel, Gaya Hidup, Health, Informasi, Kesehatan, Opini, Palaran, Puskesmas, Samarinda, Swakelola <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cakmoki86.wordpress.com/1268/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cakmoki86.wordpress.com/1268/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cakmoki86.wordpress.com/1268/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cakmoki86.wordpress.com/1268/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cakmoki86.wordpress.com/1268/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cakmoki86.wordpress.com/1268/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cakmoki86.wordpress.com/1268/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cakmoki86.wordpress.com/1268/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cakmoki86.wordpress.com/1268/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cakmoki86.wordpress.com/1268/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cakmoki86.wordpress.com&blog=570093&post=1268&subd=cakmoki86&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cakmoki86.wordpress.com/2009/09/26/swakelola-puskesmas-rawat-inap/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>40</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">cakmoki</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://cakmoki86.files.wordpress.com/2009/09/inap120.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Rawat Inap Palaran (ndeso full)</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Idul Fitri 1430 H</title>
		<link>http://cakmoki86.wordpress.com/2009/09/20/idul-fitri-1430-h/</link>
		<comments>http://cakmoki86.wordpress.com/2009/09/20/idul-fitri-1430-h/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 Sep 2009 17:49:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cakmoki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Hari Raya]]></category>
		<category><![CDATA[Idul Fitri]]></category>
		<category><![CDATA[Lebaran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cakmoki86.wordpress.com/2009/09/20/idul-fitri-1430-h/</guid>
		<description><![CDATA[ Pada kesempatan yang berbahagia dan hari yang penuh berkah ini, perkenakan saya mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430 H. Minal aidin wal faizin. Mohon maaf lahir dan batin. Semoga kita senantiasa mendapatkan limpahan rahmat, maghfiroh dan ridho-Nya. Taqabbalallahu minna wa minkum taqabbal ya Kariim. Amin Ya Robbal ‘Alamin.
cakmoki &#38; keluarga.
Tag Technorati: {grup-tag}Hari Raya,Idul [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cakmoki86.wordpress.com&blog=570093&post=1265&subd=cakmoki86&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p align="left"><a href="http://cakmoki86.files.wordpress.com/2009/09/lebaran.jpg"><img style="border-bottom:0;border-left:0;display:inline;border-top:0;border-right:0;margin:5px 10px 0 0;" title="Selamat Hari Raya 1430 H" src="http://cakmoki86.files.wordpress.com/2009/09/lebaran_thumb.jpg?w=140&#038;h=170" border="0" alt="Selamat Hari Raya 1430 H" width="140" height="170" align="left" /></a> Pada kesempatan yang berbahagia dan hari yang penuh berkah ini, perkenakan saya mengucapkan <strong>Selamat Hari Raya Idul Fitri</strong> 1430 H. <strong>Minal aidin wal faizin</strong>. Mohon maaf lahir dan batin. Semoga kita senantiasa mendapatkan limpahan rahmat, maghfiroh dan ridho-Nya. Taqabbalallahu minna wa minkum taqabbal ya Kariim. Amin Ya Robbal ‘Alamin.</p>
<p align="left">cakmoki &amp; keluarga.</p>
<div id="scid:0767317B-992E-4b12-91E0-4F059A8CECA8:7ec32efd-6404-4dbf-b84b-9d203a904624" class="wlWriterEditableSmartContent" style="display:inline;float:none;margin:0;padding:0;">Tag Technorati: {grup-tag}<a rel="tag" href="http://technorati.com/tags/Hari+Raya">Hari Raya</a>,<a rel="tag" href="http://technorati.com/tags/Idul+Fitri">Idul Fitri</a>,<a rel="tag" href="http://technorati.com/tags/Lebaran">Lebaran</a></div>
Posted in Berita, Renungan, Umum Tagged: Hari Raya, Idul Fitri, Lebaran <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cakmoki86.wordpress.com/1265/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cakmoki86.wordpress.com/1265/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cakmoki86.wordpress.com/1265/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cakmoki86.wordpress.com/1265/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cakmoki86.wordpress.com/1265/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cakmoki86.wordpress.com/1265/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cakmoki86.wordpress.com/1265/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cakmoki86.wordpress.com/1265/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cakmoki86.wordpress.com/1265/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cakmoki86.wordpress.com/1265/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cakmoki86.wordpress.com&blog=570093&post=1265&subd=cakmoki86&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cakmoki86.wordpress.com/2009/09/20/idul-fitri-1430-h/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">cakmoki</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://cakmoki86.files.wordpress.com/2009/09/lebaran_thumb.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Selamat Hari Raya 1430 H</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Eksim ( Eczema, Dermatitis )</title>
		<link>http://cakmoki86.wordpress.com/2009/09/11/eksim-eczema-dermatitis/</link>
		<comments>http://cakmoki86.wordpress.com/2009/09/11/eksim-eczema-dermatitis/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Sep 2009 15:54:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cakmoki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Gaya Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Health]]></category>
		<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[Kedokteran]]></category>
		<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Dermatitis]]></category>
		<category><![CDATA[Eczema]]></category>
		<category><![CDATA[Eksim]]></category>
		<category><![CDATA[Penyakit]]></category>
		<category><![CDATA[Penyakit Kulit]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cakmoki86.wordpress.com/2009/09/11/eksim-eczema-dermatitis/</guid>
		<description><![CDATA[Kode ICD-10 : L.20 dan L.30 : Eczema
 Siapa tak kenal eksim ? Walaupun penyakit eksim tidak berbahaya dan tidak menular, keluhan yang ditimbulkannya membuat penderita merasa tersiksa dan tak jarang mempengaruhi kepercayaan dirinya. Terlebih jika eksim muncul di kulit yang terlihat oleh orang lain. Eksim atau eczema atau lebih dikenal (secara umum) dengan dermatitis [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cakmoki86.wordpress.com&blog=570093&post=1260&subd=cakmoki86&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p align="left"><strong>Kode ICD-10 : <a title="Atopic Dermatitis" href="http://apps.who.int/classifications/apps/icd/icd10online/?gl20.htm+l20" target="_blank">L.20</a> dan <a title="Dermatitis" href="http://apps.who.int/classifications/apps/icd/icd10online/?gl20.htm+l30" target="_blank">L.30</a> : <a title="wikipedia: Eczema" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Eczema" target="_blank">Eczema</a></strong></p>
<p style="text-align:left;"><a title="Eczema" href="http://paxye.com/blog/eczema/" target="_blank"><img style="display:inline;border-width:0;margin:5px 10px 0 0;" title="eksim ( eczema )" src="http://cakmoki86.files.wordpress.com/2009/09/eksim.jpg?w=110&#038;h=140" border="0" alt="eksim ( eczema )" width="110" height="140" align="left" /></a> Siapa tak kenal eksim ? Walaupun penyakit eksim <span style="color:#c80000;"><strong>tidak berbahaya</strong></span> dan <strong><span style="color:#c80000;">tidak menular</span></strong>, keluhan yang ditimbulkannya membuat penderita merasa tersiksa dan tak jarang mempengaruhi kepercayaan dirinya. Terlebih jika eksim muncul di kulit yang terlihat oleh orang lain. Eksim atau eczema atau lebih dikenal (secara umum) dengan <strong><span style="color:#c80000;">dermatitis</span></strong> adalah <em>peradangan</em> kulit akibat reaksi <em>hipersensitif</em> (respon berlebihan) terhadap alergen (pencetus timbulnya reaksi alergi) dari luar (eksogen) maupun dari dalam tubuh penderita (endogen). Pada umumnya eksim bersifat residif (kambuhan), namun dapat dikendalikan agar tidak mudah kambuh.</p>
<p><span id="more-1260"></span></p>
<p style="text-align:left;">Sebagian para ahli membedakan antara eksim dan dermatitis namun kebanyakan tidak membedakannya. Ini dapat dimengerti, dikarenakan beragamnya bentuk klinis (penampakan) dermatitis, maupun faktor pencetusnya yang dipengaruhi oleh banyak faktor. Kadang seseorang dapat mengalami lebih dari satu jenis dermatitis di saat yang sama.</p>
<p style="text-align:left;"><strong>FAKTOR PENYEBAB</strong></p>
<p style="text-align:left;">Penyebab eksim hingga kini belum diketahui secara pasti. Para ahli menengarai timbulnya (dan kekambuhan) eksim di picu oleh faktor pencetus, yakni:</p>
<ol style="text-align:left;">
<li><strong>Faktor eksogen</strong> (dari luar), misalnya: faktor fisik (suhu, gesekan, sinar, dll), bahan kimia (deterjen, semen, oli, bahan pakaian, dll), mikro-organisme (kuman, virus, jamur, parasit), dan lain-lain.</li>
<li><strong>Faktor endogen</strong> (dari dalam), misalnya dermatitis atopik, dimana pada dermatitis jenis ini dijumpai adanya riwayat atopi atau riwayat alergi (misalnya asma, rhinitis alergika dan berbagai bentuk alergi lainnya). Stress diduga dapat memicu timbulnya (atau kekambuhan) eksim.</li>
</ol>
<p style="text-align:left;">Masing-masing penderita eksim memiliki riwayat pemicu (faktor pencetus) yang berbeda dengan penderita lain. Kadang seorang penderita eksim mengalami kekambuhan eksim pada kakinya ketika memakai sandal plastik, sementara yang lain kambuh saat terpapar sabun cuci (deterjen) atau lainnya. Dengan kata lain, pengalaman faktor pencetus setiap orang gak selalu sama. Oleh karena itu, jika misalnya seseorang mengalami kekambuhan sesaat setelah makan kepiting, bukan berarti penderita eksim yang lain gak boleh makan kepiting juga.</p>
<p style="text-align:left;">Dengan memahami beragamnya faktor pencetus timbulnya eksim, maka larangan makan makanan tertentu bagi semua penderita eksim, bukanlah langkah yang tepat.</p>
<blockquote><p><em>Di ndeso ™ kami, Palaran, entah dari mana sumbernya, rata-rata penderita eksim pernah tidak makan makanan tertentu (ayam, telor, ikan, dll) atas rekomendasi dari temen, tetangga dan entah dari siapa lagi. Toh, eksim tetep muncul juga. Kini masyarakat udah mulai mengerti bahwa faktor pencetus timbulnya (atau kambuhnya) eksim <span style="text-decoration:underline;">tidak sama</span> bagi setiap orang. Alhamdulillah.</em></p></blockquote>
<p style="text-align:left;"><strong>GEJALA EKSIM</strong></p>
<p style="text-align:left;">Pada kondisi tertentu tanda-tanda eksim sangat mudah dikenali, namun adakalanya sulit dibedakan dengan penyakit kulit yang lain. Keluhan utama penderita eksim pada umumnya adalah <em>gatal</em> dan timbulnya <em>bercak merah</em> pada kulit. Sedangkan kelainan kulit yang bersifat spesifik bergantung pada stadiumnya.</p>
<ul style="text-align:left;">
<li>Pada <strong>stadium akut</strong>, biasanya kulit yang terkena eksim nampak kemerahan, mengalami penebalan dan timbul bercak-bercak, adakalanya berair (basah).</li>
<li>Pada <strong>stadium subakut</strong>, bercak merah dan penebalan kulit nampak mereda, kemudian bercak yang basah akan mengering dan menjadi keropeng (krusta).</li>
<li>Pada <strong>stadium kronis</strong>, eksim nampak kering, bersisik dan mengalami hiperpigmentasi (menghitam). Tak jarang eksim mengalami perubahan bentuk menjadi bintik-bintik menonjol, bahkan kadang mengalami erosi.</li>
</ul>
<p style="text-align:left;">Perlu dipahami bahwa gejala eksim tidak selalu runtut kayak teori di atas. Bisa jadi seseorang menderita eksim dengan gambaran bentuk stadium kronis tanpa melalui stadium sebelumnya.</p>
<p style="text-align:left;">Tempat munculnya eksim sangat bervariasi. Meski begitu, sebagian ahli membaginya berdasarkan kasus terbanyak pada golongan umur tertentu. Menurut <em><a title="About Eczema" href="http://www.knoltoday.com/health/2008/10/03/about-eczema/" target="_blank">Dr. Bryan Cho</a></em>, pada bayi, eksim sering dijumpai di wajah dan kepala, sedangkan pada anak dan dewasa, eksim sering dijumpai di pergelangan tangan, siku, leher, lutut dan kaki.</p>
<p style="text-align:left;"><strong>PENGOBATAN</strong></p>
<p style="text-align:left;"><a href="http://cakmoki86.files.wordpress.com/2009/09/dryskin462.jpg"><img style="display:inline;border-width:0;margin:5px 10px 0 0;" title="Pemeliharaan kulit" src="http://cakmoki86.files.wordpress.com/2009/09/dryskin462_thumb.jpg?w=140&#038;h=100" border="0" alt="Pemeliharaan kulit" width="140" height="100" align="left" /></a> Seperti halnya penyakit lain, prinsip pengobatan eksim adalah dengan menghilangkan penyebabnya (causa). Namun mengingat penyebab eksim belum diketahui secara pasti, maka pengobatan ditujukan untuk meredakan keluhan (simptomatis) dan mencegah kekambuhan.</p>
<p style="text-align:left;">Obat-obat yang lazim digunakan untuk pengobatan eksim, yakni:</p>
<p style="text-align:left;"><strong>A. Obat minum (sistemik)</strong></p>
<p style="text-align:left;"><strong>Antihistamin</strong> biasa digunakan untuk meredakan rasa gatal, sedangkan pada kondisi yang berat dapat digunakan obat golongan steroid atau kombinasi antara steroid dan antihistamin.</p>
<p style="text-align:left;">Penggunaan obat golongan <strong>steroid</strong> hendaknya atas anjuran dokter agar terhindar dari efek samping yang tidak diinginkan (pada pemakaian jangka panjang),misalnya wajah menjadi bengkak, berat badan meningkat, dan lain-lain. Kalaupun mengunakan obat golongan steroid, biasanya dokter akan memberikannya secara <em>tappering down</em>, yakni menurunkan dosis secara berkala untuk menghindari efek samping.</p>
<p style="text-align:left;"><strong>B. Obat luar atau obat topikal</strong> (salep, krim, jelly, lotion, kompres, pasta)</p>
<p style="text-align:left;">Pemilihan bentuk obat luar (topikal) didasarkan pada bentuk eksim dan keluhan yang menyertainya.</p>
<p style="text-align:left;">Bentuk basah atau fase akut diberikan obat dalam bentuk kompres basah. Bentuk subakut diberikan obat lotion, pasta pendingin atau krim.</p>
<p style="text-align:left;">Eksim di daerah berambut diberikan obat topikal berbentuk krim, adapun daerah tidak berambut diberikan obat berbentuk pasta.</p>
<p style="text-align:left;">Pada eksim bentuk kronis pada umumnya diberikan obet topikal berbentuk salep.</p>
<p style="text-align:left;">Pemilihan bentuk-bentuk obat di atas tidaklah mutlak. Artinya, penderita eksim boleh memilih bentuk sediaan obat yang dirasa paling nyaman bagi dirinya.</p>
<p style="text-align:left;">Pada eksim bernanah karena infeksi sekunder oleh garukan, dapat diberikan antibiotika hingga infeksi mereda.</p>
<p style="text-align:left;">Selain obat-obat di atas, kadang diperlukan pula obat-obat lain untuk pemeliharaan kelembaban kulit.</p>
<p style="text-align:left;"><strong>PENCEGAHAN KEKAMBUHAN</strong></p>
<p style="text-align:left;">Untuk <a title="Eczema Prevention" href="http://www.about-skin-disorders.com/articles/eczema/eczema-prevention.php" target="_blank">mencegah</a> kekambuhan eksim, silahkan ikuti <a title="Tips mencegah kekambuhan eksim" href="http://www.skincarephysicians.com/eczemanet/whatIs.html#prevented" target="_blank">tips</a> berikut ini:</p>
<ul style="text-align:left;">
<li>Mengenali dan menghindari paparan faktor pencetus (alergen). Upaya ini tidak mudah lantaran beragamnya faktor pemicu yang sulit untuk dikenali dan kalaupun dikenali kadang sulit dihindari.</li>
<li>Menjaga agar kulit tetap lembab. Jika perlu menggunakan pelembab setelah mandi sesuai saran dokter yang merawat.</li>
<li>Menggunakan pakaian kering dan sedapat mungkin menggunakan pakaian berbahan katun.</li>
<li>Menghindari perubahan suhu ekstrim mendadak. (terlalu panas yang menimbulkan banyak keringat ataupun terlalu lembab)</li>
<li>Menghindari pemakaian deterjen atau sabun cuci yang dapat memicu kambuhnya eksim.</li>
<li>Mengenali dan menghindari makanan tertentu yang mungkin menjadi pemicu kekambuhan eksim, setelah mengkonsumsinya.</li>
<li>Berupaya menghindari stress.</li>
<li>Sedapat mungkin menghindari faktor-faktor lingkungan lain yang diduga memicu kekambuhan eksim, misalnya debu rumah, tepungsari, serbuk bunga, bulu binatang dan lain-lain.</li>
</ul>
<p style="text-align:left;">Akhirnya, memeriksakan diri dan berkonsultasi ke dokter merupakan tindakan bijaksana dalam pengobatan dan perawatan eksim.</p>
<p style="text-align:left;">Semoga bermanfaat.</p>
<div id="scid:0767317B-992E-4b12-91E0-4F059A8CECA8:870be443-8319-4291-a203-d8020317c950" class="wlWriterEditableSmartContent" style="display:inline;float:none;margin:0;padding:0;">Technorati Tags: <a rel="tag" href="http://technorati.com/tags/artikel">artikel</a>,<a rel="tag" href="http://technorati.com/tags/eksim">eksim</a>,<a rel="tag" href="http://technorati.com/tags/eczema">eczema</a>,<a rel="tag" href="http://technorati.com/tags/dermatitis">dermatitis</a>,<a rel="tag" href="http://technorati.com/tags/alergi">alergi</a>,<a rel="tag" href="http://technorati.com/tags/atopik">atopik</a>,<a rel="tag" href="http://technorati.com/tags/informasi">informasi</a>,<a rel="tag" href="http://technorati.com/tags/health">health</a>,<a rel="tag" href="http://technorati.com/tags/kesehatan">kesehatan</a>,<a rel="tag" href="http://technorati.com/tags/penyakit+kulit">penyakit kulit</a></div>
<p align="center">:: :: :: posting menggunakan <a title="Windows Live Writer" href="http://get.live.com/writer/overview" target="_blank">WLW</a> :: :: ::</p>
Posted in Artikel, Gaya Hidup, Health, Informasi, Kedokteran, Kesehatan, Umum Tagged: Artikel, Dermatitis, Eczema, Eksim, Gaya Hidup, Health, Informasi, Kedokteran, Kesehatan, Penyakit, Penyakit Kulit, Umum <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cakmoki86.wordpress.com/1260/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cakmoki86.wordpress.com/1260/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cakmoki86.wordpress.com/1260/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cakmoki86.wordpress.com/1260/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cakmoki86.wordpress.com/1260/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cakmoki86.wordpress.com/1260/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cakmoki86.wordpress.com/1260/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cakmoki86.wordpress.com/1260/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cakmoki86.wordpress.com/1260/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cakmoki86.wordpress.com/1260/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cakmoki86.wordpress.com&blog=570093&post=1260&subd=cakmoki86&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cakmoki86.wordpress.com/2009/09/11/eksim-eczema-dermatitis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>25</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">cakmoki</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://cakmoki86.files.wordpress.com/2009/09/eksim.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">eksim ( eczema )</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://cakmoki86.files.wordpress.com/2009/09/dryskin462_thumb.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Pemeliharaan kulit</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pembaca adalah guru saya</title>
		<link>http://cakmoki86.wordpress.com/2009/09/04/pembaca-adalah-guru-saya/</link>
		<comments>http://cakmoki86.wordpress.com/2009/09/04/pembaca-adalah-guru-saya/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Sep 2009 17:45:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cakmoki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Health]]></category>
		<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cakmoki86.wordpress.com/2009/09/04/pembaca-adalah-guru-saya/</guid>
		<description><![CDATA[ Sejak dimulakannya halaman Tanya Jawab berdasarkan support dan saran teman-teman blogger pada tanggal 10 Pebruari 2007 tentang perlu tidaknya halaman Tanya Jawab, ternyata cukup mendapatkan respon positif dari para pembaca dan teman sejawat dokter blogger. Ketika memposting: Perlukah halaman Tanya Jawab, sontak penulis mendapatkan dorongan pembaca dan teman-teman blogger untuk segera memulainya. Alhasil, selang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cakmoki86.wordpress.com&blog=570093&post=1252&subd=cakmoki86&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p align="left"><a title="Sumber gambar: gettyimages" href="http://www.gettyimages.com/" target="_blank"><img style="border-bottom:0;border-left:0;display:inline;border-top:0;border-right:0;margin:5px 10px 0 0;" title="Diskusi online" src="http://cakmoki86.files.wordpress.com/2009/09/74855043.jpg?w=110&#038;h=140" border="0" alt="Diskusi online" width="110" height="140" align="left" /></a> Sejak dimulakannya halaman Tanya Jawab berdasarkan support dan saran teman-teman blogger pada tanggal 10 Pebruari 2007 tentang perlu tidaknya halaman Tanya Jawab, ternyata cukup mendapatkan respon positif dari para pembaca dan teman sejawat dokter blogger. Ketika memposting: <strong><a title="Perlukah halaman Tanya Jawab ? ... Perlu !!!" href="http://cakmoki86.wordpress.com/2007/02/10/perlukah-halaman-tanya-jawab/" target="_blank">Perlukah halaman Tanya Jawab</a></strong>, sontak penulis mendapatkan dorongan pembaca dan teman-teman blogger untuk segera memulainya. Alhasil, selang sehari, halaman tersebut <strong><a title="Trims atas support para sejawat dan teman-2 Blogger" href="http://cakmoki86.wordpress.com/2007/02/11/akhirnya-buka-juga/" target="_blank">akhirnya buka juga</a></strong>. Tidak mudah memulainya, mengingat penulis bukanlah seorang ahli. Lagipula penulis tinggal di ndeso ™ nan jauh dari akses <span style="text-decoration:underline;">informasi langsung</span> perkembangan ilmu kedokteran kecuali melalui internet dan seminar atau sejenisnya.</p>
<p><span id="more-1252"></span></p>
<p align="left">Namun benar kata beberapa para senior bahwa kendala tersebut dapat diatasi jika dilandasi niat yang sungguh-sungguh dan menyediakan waktu luang untuk keperluan tersebut. Dan tentu banyak manfaat yang penulis peroleh dari forum diskusi di halaman tanya jawab. Dengan kata lain, pembaca adalah guru saya.</p>
<p align="left"><strong>SELF ASSESSMENT</strong></p>
<p align="left">Setelah hampir 6 bulan berjalan, penulis merasa perlu merubah layout halaman Tanya Jawab menjadi beberapa bagian agar lebih spesifik untuk memudahan pembaca dalam mendiskusikan topik yang ingin ditanyakannya. Atas dasar pertimbangan tersebut maka halaman Tanya Jawab yang tadinya campur aduk, berubah tampilan menjadi halaman <strong><a title="Halaman Tanya Jawab" href="http://cakmoki86.wordpress.com/tanya-jawab/tanya-2/" target="_blank">Tanya Jawab</a></strong> seperti yang terlihat saat ini. Adapun diskusi pada halaman Tanya Jawab <strong><a title="Halaman Tanya Jawab Sebelumnya" href="http://cakmoki86.wordpress.com/tanya-jawab/" target="_blank">sebelumnya</a></strong> (periode Pebruari 2007- Juli 2007) telah penulis rangkum dalam format PDF sebagai <strong><a title="Arsip Tanya Jawab Pebruari-Juli 2007" href="http://cakmoki86.wordpress.com/tanya-jawab/arsip2007/" target="_blank">arsip</a></strong>.</p>
<p align="left">Kini, setelah lebih 2 tahun kita berdiskusi tentang berbagai masalah kesehatan, penulis mencoba membuat evaluasi dengan maksud untuk perbaikan.</p>
<ol>
<li>
<div><strong>Pintu masuk</strong>. Untuk mendiskusikan topik kesehatan, pembaca dapat menuliskannya melalui Halaman Tanya Jawab yang lama maupun yang baru. Di kedua halaman tersebut tersedia link menuju spesifikasi masalah kesehatan, termasuk masalah kesehatan yang tak terkategori pada halaman yang disediakan.</div>
</li>
<li>
<div><strong>Topik spesifik</strong>. Diskusi tentang topik kesehatan yang spesifik, misalnya penyakit tertentu, pembaca dapat mendiskusikannya secara langsung pada artikel yang pernah diposting. Jikapun tidak, penulis akan mengarahkan ke artikel sesuai topik diskusi (tanya jawab). Karenanya, hal ini tidak terlalu menjadi masalah dan pembaca dapat mendiskusikan topik kesehatan di halaman manapun.</div>
</li>
<li>
<div><strong>Kecepatan menjawab</strong>. Nah ini dia salah satu kendala yang mungkin paling penting untuk diperbaiki (kalau bisa). Penulis menyadari betapa inginnya para pembaca mendapatkan respon atau jawaban segera. Namun dengan kerendahan hati penulis mengakui bahwa tidak semua pertanyaan dapat terjawab dengan cepat dikarenakan berbagai faktor, misalnya: <em>listrik padam, koneksi lemot, perlu diskusi dengan ahlinya, terlewatkan</em> dan kadang <em>kumat malesnya</em> <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  . Perlu juga dipahami bahwa penulis juga harus praktek untuk mencari nafkah. (yang ini bagi penulis adalah <em>wajib ‘ain</em>). Selain itu, sebagai warga ndeso ™ penulis juga mempunyai kewajiban sosial yang tidak mungkin ditinggalkan sebagai personal maupun sebagai anggota masyarakat. Sehingga kesempatan mendiskusikan topik kesehatan yang ditanyakan menjadi makin sempit. Meski begitu, percayalah, penulis berusaha menyempatkan waktu untuk membuka Blog setiap hari.</div>
</li>
<li>
<div><strong>Topik diskusi</strong>. Seperti tertulis di atas, penulis bukan ahli, karenanya diperlukan waktu untuk menjawab beragamnya topik Tanya Jawab dengan membuka ulang referensi sesuai topik diskusi yang ditanyakan pembaca. Itupun masih harus didiskusikan dengan para sejawat yang ahli di bidangnya jika menyangkut topik spesifik di milis kami (milis para dokter seangkatan penulis dari berbagai spesialisasi yang dirilis sejak Nopember 2008). Hanya saja, diskusi topik spesifik di milis kerap terlambat disebabkan kesibukan para sejawat spesialis. (maklum, sebagian dari mereka aktif memperdalam ilmu dan penugasan ke luar negeri).</div>
</li>
<li>
<div><strong>Jalur email</strong>. Belakangan, diskusi melalui email cenderung meningkat. Mungkin dengan melalui email pembaca merasa lebih nyaman dalam berdiskusi, terlebih jika berhubungan dengan kelainan kulit dimana memerlukan foto untuk akurasi dugaan kelainan kulit yang memerlukan pemeriksaan visual atau penyakit tertentu yang memerlukan attach data Laboratorium maupun pemeriksaan penunjang lainnya. Selain itu mungkin karena alasan privacy. Lewat jalur manapun, penulis menghargai upaya pembaca untuk saling berbagi.</div>
</li>
<li>
<div><strong>Bahasa</strong>. Tak dapat dipungkiri bahwa sebagian (besar?) bahasa medis masih belum akrab bagi kebanyakan warga Indonesia, sehingga adakalanya terjadi kesalahan persepsi antara pembaca dan penulis dalam mendiskripsikan keluhan berkenaan dengan masalah kesehatan yang didiskusikan. Sehingga boleh jadi pembaca tidak puas atas jawaban penulis. Untuk itu tak ada salahnya jika kita saling mengingatkan dan pembaca tak perlu segan untuk mengoreksi penulis jika ada kalimat atau istilah yang tidak sesuai dengan maksud pembaca.</div>
</li>
<li>
<div><strong>Manfaat Tanya Jawab</strong>. Hingga kini penulis belum bisa menilai seberapa manfaat yang didapat para pembaca melalui diskusi masalah kesehatan di halaman tanya jawab. Meski begitu, penulis sangat senang jika diskusi masalah kesehatan bisa memberikan sedikit manfaat bagi pembaca. Sedangkan bagi penulis, diskusi melalui halaman tanya jawab dan artikel telah memberikan banyak pelajaran berharga. Tak berlebihan kiranya jika penulis merasa bahwa pembaca merupakan guru bagi penulis.</div>
</li>
</ol>
<p align="left">Perlu juga kita sadari bahwa media online (khususnya di Blog ini) merupakan salah satu media saling berbagi informasi kesehatan. Adapun media konsultasi paling ideal adalah komunikasi langsung (face to face) antara dokter dengan pasien.</p>
<p align="left"><a title="Sumber gambar: gettyimages" href="http://www.gettyimages.com/" target="_blank"><img style="border-bottom:0;border-left:0;display:inline;border-top:0;border-right:0;margin:5px 10px 0 0;" title="email" src="http://cakmoki86.files.wordpress.com/2009/09/71560064.jpg?w=110&#038;h=140" border="0" alt="email" width="110" height="140" align="left" /></a> Akhirnya, dengan segala kekurangan dan kelebihannya, media diskusi online masalah kesehatan patut kita tumbuh kembangkan agar informasi kesehatan dapat tersebar secara luas, setidaknya bagi masyarakat pengguna internet. Adapun jika pembaca menjumpai perbedaan pandangan dan pendapat di kalangan medis, hal tersebut sangat normal dan jamak terjadi di dunia medis. Yang penting, semangat untuk saling berbagi dapat terpelihara agar masyarakat makin memahami masalah kesehatan.</p>
<p align="left">Dengan semangat berbagi dan untuk perbaikan, saran dan kritik konstrukstif dari para pembaca sangat penulis hargai. Loh … koq jadi formil gini … <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p align="left">Monggo, silahkan berbagi.</p>
<p align="center">:: :: :: posting menggunakan <a title="Windows Live Writer" href="http://get.live.com/writer/overview" target="_blank">WLW</a> :: :: ::</p>
Posted in Artikel, Blog, Health, Informasi, Kesehatan, Umum Tagged: Artikel, Blog, Health, Informasi, Kesehatan, Umum <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cakmoki86.wordpress.com/1252/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cakmoki86.wordpress.com/1252/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cakmoki86.wordpress.com/1252/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cakmoki86.wordpress.com/1252/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cakmoki86.wordpress.com/1252/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cakmoki86.wordpress.com/1252/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cakmoki86.wordpress.com/1252/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cakmoki86.wordpress.com/1252/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cakmoki86.wordpress.com/1252/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cakmoki86.wordpress.com/1252/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cakmoki86.wordpress.com&blog=570093&post=1252&subd=cakmoki86&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cakmoki86.wordpress.com/2009/09/04/pembaca-adalah-guru-saya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>21</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">cakmoki</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://cakmoki86.files.wordpress.com/2009/09/74855043.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Diskusi online</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://cakmoki86.files.wordpress.com/2009/09/71560064.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">email</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Minta suntik, dok</title>
		<link>http://cakmoki86.wordpress.com/2009/08/29/minta-suntik-dok/</link>
		<comments>http://cakmoki86.wordpress.com/2009/08/29/minta-suntik-dok/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 Aug 2009 18:20:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cakmoki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Gaya Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Health]]></category>
		<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[Kedokteran]]></category>
		<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[Obrolan]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Injeksi]]></category>
		<category><![CDATA[Suntik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cakmoki86.wordpress.com/2009/08/29/minta-suntik-dok/</guid>
		<description><![CDATA[ Suntik. Sebagian orang sangat terbiasa mendengar kata suntik, bahkan ada yang merasa gak berobat kalo gak suntik. Hingga ada yang merasa perlu ke tempat lain (di hari yang sama) untuk suntik ketika dia minta suntik tidak dikabulkan oleh dokter sebelumnya, terutama pasien-pasien dengan penyakit tertentu, misalnya asma, yang merasa nyaman segera setelah injeksi. Sementara [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cakmoki86.wordpress.com&blog=570093&post=1240&subd=cakmoki86&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p align="left"><a title="Doctor injecting patient" href="http://www.gettyimages.com/" target="_blank"><img style="display:inline;border-width:0;margin:5px 10px 0 0;" title="Doctor injecting patient" src="http://cakmoki86.files.wordpress.com/2009/08/suntik.jpg?w=110&#038;h=140" border="0" alt="Doctor injecting patient" width="110" height="140" align="left" /></a> <strong><span style="color:#c80000;">Suntik</span></strong>. Sebagian orang sangat terbiasa mendengar kata suntik, bahkan ada yang merasa gak berobat kalo gak suntik. Hingga ada yang merasa perlu ke tempat lain (di hari yang sama) untuk suntik ketika dia minta suntik tidak dikabulkan oleh dokter sebelumnya, terutama pasien-pasien dengan penyakit tertentu, misalnya asma, yang merasa nyaman segera setelah injeksi. Sementara sebagian lainnya ngeri tatkala mendengar kata suntik. Baru mendengar kata suntik aja udah keringat dingin. Karenanya tak heran kata suntik masih suka digunakan untuk menakut-nakuti anak kecil. <em>“ Awas, disuntik dokter “</em> atau <em>“ Awas, disuntik pak matri “</em>. Terlepas pro-kontra perlu tidaknya suntik, tak dapat dipungkiri bahwa suntik merupakan salah satu cara pemberian obat melalui parenteral sesuai indikasi yang menyertainya.</p>
<p align="left"><em><span style="text-decoration:underline;">Sumber gambar</span>: Marcus M (Asia Images Collection)</em></p>
<p><span id="more-1240"></span></p>
<p align="left">Khalayak, terutama di pedesaan, mengenal suntik sebagai salah satu cara memasukkan obat ke dalam tubuh (kecuali imunisasi) dan dianggap sebagai bagian dari pengobatan, setidaknya untuk meredakan keluhan yang dilanjutkan dengan obat lain sesuai penyakitnya.</p>
<p align="left">Di sisi lain, Depkes gencar mengkampanyekan kepada masyarakat untuk tidak minta suntik jika tidak perlu sejak tahun 1994. Kala itu, penulis mengikuti sosialisasi kebijakan tersebut yang dilatarbelakangi penghematan anggaran. Kemudian ditambahkan argumen rasionalisasi pada tahun 1996 seiring dengan dimulakannya program Quality Asurance (QA).</p>
<p align="left">Atas dasar itulah maka kita kerap menyaksikan Pusling (Puskesmas Keliling) berlabel kampanye untuk tidak minta suntik jika tidak perlu di beberapa kota di Jawa. (mungkin juga di daerah lain)</p>
<p align="left"><strong>JENIS SUNTIK</strong></p>
<p align="left">Berdasarkan cara masuknya, suntik terdiri dari:</p>
<ul>
<li>
<div>Injeksi intramuskuler (dimasukkan ke dalam otot), lazimnya suntik di bokong bagian samping atas, paha dan lengan.</div>
</li>
<li>
<div>Injeksi intravena (melalui pembuluh darah baik), biasa dilakukan untuk mendapatkan efek terapi yang lebih cepat.</div>
</li>
<li>
<div>Injeksi subkutan (di bawah kulit), dilakukan pada keadaan tertentu untuk kondisi yang khusus, misalnya pada penderita status asmatikus, untuk meredakan sesak dengan cepat.</div>
</li>
<li>
<div>Injeksi intra-artikuler (ruang sendi), dilakukan untuk penyakit tertentu yang berhubungan dengan sendi.</div>
</li>
<li>
<div>Dan lain-lain.</div>
</li>
</ul>
<p align="left">Selain itu, suntik dilakukan untuk kepentingan imunisasi, kecuali imunisasi polio (melalui tetesan di mulut).</p>
<p align="left"><strong>KETIKA PASIEN MINTA SUNTIK</strong></p>
<p align="left">Di daerah pedesaan (terutama), mungkin para dokter kerap menjumpai permintaan suntik dari para pasiennya dengan pelbagai alasan.</p>
<p align="left"><a title="doctor giving injection" href="http://www.gettyimages.com/" target="_blank"><img style="display:inline;border-width:0;margin:5px 10px 0 0;" title="doctor giving injection" src="http://cakmoki86.files.wordpress.com/2009/08/suntik_0.jpg?w=140&#038;h=110" border="0" alt="doctor giving injection" width="140" height="110" align="left" /></a> Bagaimana sikap dokter ketika si pasien minta suntik ? Jawabannya terpulang kepada masing-masing dokter untuk menjelaskan kepada pasien tentang hubungan antara suntik dengan penyakit yang dideritanya.</p>
<p align="left"><em><span style="text-decoration:underline;">Sumber gambar</span>: Blend Images</em></p>
<p align="left">Menurut saya, apapun keputusan dokter, tidak memberikan suntikan ataupun memberikan suntikan, sepatutnya memberikan penjelasan yang rasional dan mendidik bagi para pasiennya.</p>
<p align="left">Sebagai contoh, ketika pasien datang dengan status asmatikus yang memerlukan pertolongan segera dan pasien terbiasa dengan injeksi subkutan di lengan untuk segera meredakan sesaknya, sementara saat itu tekanan darah si pasien tinggi (hipertensi) dan dokter tidak berani memberikan suntikan, maka menolak memberikan suntik dengan alasan hipertensi bukanlah alasan yang tepat. Toh Prosedur Tetap menempatkan suntik subkutan sebagai langkah awal pertolongan pada kasus tersebut (selain langkah-langkah lain tentunya). Toh andaikata dirujuk ke RS (itupun kalo gak jauh dari RS), nantinya si pasien akan mendapatkan suntikan berulang kali, apapun kondisi si pasien.</p>
<p align="left"><strong>KISAH NYATA</strong></p>
<p align="left">Ketika awal dioperasikannya Rawat Inap di ndeso kami, para perawat yang masih baru direkrut, mengalami kejadian yang sangat berharga untuk dipetik sebagai pelajaran.</p>
<blockquote>
<p align="left">Beberapa kali temen-temen petugas memberikan pertolongan kepada pasien dengan status asmatikus sesuai Prosdur Tetap. Namun, konon karena setengah panik melihat kondisi pasien yang masih megap-megap, diam-diam mereka merujuk pasien ke RS berjarak sekitar 1,5 jam perjalanan di tengah malam buta. Maklum kebanyakan penderita asma mengalami sesak di tengah malam.</p>
<p align="left">Apa yang terjadi ? Belum setengah jalan si pasien sudah gak sesak lagi. Wa akhirul kalamun, ambulance putar haluan untuk balik ke ndeso lagi. Gak jadi rujuk. Lha wong udah sembuh. Kala itu mereka mengaku merasa gak pede memberikan injeksi berulang sesuai Prosedur Tetap dan instruksi dokter. Eeealaaahhh.</p>
</blockquote>
<p align="left">Pada umumnya teman-teman sejawat dokter yang bertugas nun jauh di pedalaman relatif lebih trampil dan lebih berani mengambil keputusan tindakan medis untuk memberikan pertolongan kepada para pasiennya dalam keadaan tertentu lantaran kondisi geografis yang tidak memungkinkan untuk sebentar-sebentar merujuk pasien. Dan ini sangat bermanfaat bagi para dokter tersebut untuk memberikan bimbingan teknis kepada para stafnya, termasuk ketrampilan memberikan suntik manakala memang diperlukan sesuai indikasi.</p>
<p align="left"><strong>Pertanyaannya:</strong> (bagi para dokter, perawat dan bidan)</p>
<ol>
<li>
<div><em>Sudahkah para petugas kita berlatih saling suntik seperti tergambar di video dari institusi pendidikan kesehatan negeri tetangga ?</em></div>
</li>
<li>
<div><em>Jika sudah, seberapa sering melakukannya selama masa pendidikan ?</em></div>
</li>
<li>
<div><em>Jika tidak semua, berapa banyak yang tidak pernah berlatih saling suntik ?</em></div>
</li>
</ol>
<p align="left">Pertanyaan ini harus dijawab sebagaimana kita harus menjawab tantangan tuntutan layanan kesehatan di dunia nyata. (tapi, berkelit juga gapapa koq) <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
<p align="left">Akhirnya, betapapun perlu tidaknya suntik masih diperdebatkan di kalangan kesehatan (di Indonesia), para pasien dan masyarakat selayaknya mendapatkan penjelasan jujur dan rasional.</p>
<p align="left">Semoga bermanfaat.</p>
<p align="left"><strong>Link video injeksi</strong>:</p>
<ol>
<li>
<div><a title="suntik bokong bowwwww" href="http://www.youtube.com/watch?v=VVo4lvJaWWg" target="_blank">IM Injection instruction</a></div>
</li>
<li>
<div><a title="Saling suntik ...aawwwww" href="http://www.youtube.com/watch?v=YlX_m6DR3ak" target="_blank">Nursing injection</a> (saling suntik)</div>
</li>
<li>
<div><a title="Pasang Infus" href="http://www.youtube.com/watch?v=iDK4YNPWu2Q" target="_blank">Intavenous line insertion</a></div>
</li>
</ol>
<p align="center">:: :: :: posting menggunakan <a title="Windows Live Writer" href="http://get.live.com/writer/overview" target="_blank">WLW</a> :: :: ::</p>
Posted in Artikel, Gaya Hidup, Health, Informasi, Kedokteran, Kesehatan, Obrolan, Opini, Umum Tagged: Artikel, Gaya Hidup, Health, Informasi, Injeksi, Kedokteran, Kesehatan, Obrolan, Opini, Suntik, Umum <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cakmoki86.wordpress.com/1240/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cakmoki86.wordpress.com/1240/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cakmoki86.wordpress.com/1240/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cakmoki86.wordpress.com/1240/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cakmoki86.wordpress.com/1240/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cakmoki86.wordpress.com/1240/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cakmoki86.wordpress.com/1240/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cakmoki86.wordpress.com/1240/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cakmoki86.wordpress.com/1240/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cakmoki86.wordpress.com/1240/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cakmoki86.wordpress.com&blog=570093&post=1240&subd=cakmoki86&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cakmoki86.wordpress.com/2009/08/29/minta-suntik-dok/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">cakmoki</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://cakmoki86.files.wordpress.com/2009/08/suntik.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Doctor injecting patient</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://cakmoki86.files.wordpress.com/2009/08/suntik_0.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">doctor giving injection</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>