SERIAL KOMUNIKASI DOKTER-PASIEN
Dokter praktek, pribadi ataupun di klinik, dokter umum maupun spesialis, pada umumnya memiliki beberapa pasien tetap. Pasien-pasien tersebut tak pernah mau berkunjung ke dokter lain jika tidak terpaksa. Alasannya berbeda-beda. Bahkan tak jarang ada pasien yang menjelma menjadi pasien fanatik. Saking fanatiknya, kadang pasien tak mau dirujuk ke RS jika merasa sakitnya tidak parah. Ketika suatu saat keluarganya membawa ke RS, biasanya kondisinya sudah lemah, dan bukan tidak mungkin sudah terjadi penyulit (komplikasi).
Jika dokter di RS bersikap reaktif dan tidak memahami fenomena sosial kemasyarakatan semacam ini, maka yang terucap bukannya support, melainkan ungkapan menyalahkan. “Mengapa sudah parah baru di bawa ke sini ?” … “ Lho, ini sudah komplikasi Gagal Ginjal” … bla bla bla.
Prof. DR. dr. H. Azrul Azwar MPH, dalam bukunya tentang komunikasi Dokter-Pasien menyebutkan bahwa dalam keseharian, hubungan dokter-pasien yang baik ternyata dapat menimbulkan masalah, yakni:
Pertama: Ketergantungan pasien yang berlebihan.
Dalam praktek sehari-hari, ketergantungan pasien kepada dokter yang
berlebihan merupakan masalah utama sebagai salah satu dampak hubungan dokter-pasien yang baik. Kondisi ini kurang menguntungkan bagi kedua belah pihak untuk tercapainya hasil pengobatan yang optimal.
Bagi dokter, ketergantungan pasien yang berlebihan kerap menyulitkan dalam melakukan reveral ( rujukan ) ketika pasien memerlukan perawatan di RS, pengobatan spesialistik ataupun lintas spesialistik. Itu sebabnya pasien terkadang tidak segera ke RS, spesialis dan lintas spesialis walaupun sudah mendapatkan surat rujukan kecuali penyakitnya bertambah parah.
Bagi pasien, kerugian yang bakal dialaminya adalah tidak optimalnya hasil pengobatan. Lebih jauh, penyakitnya dapat bertambah berat, dan bukan mustahil timbul penyulit ( komplikasi ).
Masalah ketergantungan pasien yang berlebihan ini biasanya banyak terjadi pada pasien-pasien usia di atas 40-an dan terutama usia lanjut.
Kedua: Kunjungan pasien yang berlebihan.
Adakalanya kita menjumpai pasien atau keluarga pasien yang bolak-balik, bahkan setiap hari berkunjung ke dokter yang sama, yakni dokter yang sangat dipercayainya. Untuk kasus-kasus penyakit yang memerlukan kewaspadaan dini, misalnya dugaan DBD (Demam Berdarah Dengue), tentu bisa dimaklumi bolak-balik ke dokter dalam rangka follow up kondisi pasien sebagai langkah antisipatif. Namun, kunjungan berlebihan untuk kasus-kasus penyakit yang nyata-nyata ringan, bukanlah langkah bijaksana, terutama ditinjau dari biaya.
Masalah kunjungan pasien berlebihan terutama terjadi pada pasien-pasien anak. Hal ini wajar karena kekhawatiran para orang tua tatkala mendapati anaknya sakit.
Lantas, jika terjadi dua masalah di atas sebagai dampak hubungan dokter-pasien yang terjalin baik, siapa yang salah ?
Menurut penulis, tidak ada yang salah.
Masalah kedua ( kunjungan pasien yang berlebihan ) hanya berdampak pada biaya dan rasa tidak nyaman dokter untuk narik biaya tambahan berulang-ulang walaupun si orang tua pasien rela membayarnya. ![]()
Sedangkan pada masalah pertama ( ketergantungan pasien yang berlebihan ) memang berdampak kurang menguntungkan, terutama bagi pasien-pasien yang memerlukan perawatan di RS, pengobatan oleh spesialis maupun lintas spesialis. Namun, inipun bisa dimaklumi mengingat banyaknya faktor yang terkait dengan masalah tersebut, misalnya: faktor kenyamanan, faktor biaya, pengalaman buruk sebelumnya selama dirawat di RS, dan lain-lain.
Bagaimana meminimalisir kedua dampak di atas ?
- Tetap menjaga profesionalisme hubungan dokter-pasien.
- Penjelasan yang baik dan berkesinambungan tentang maksud dan tujuan pengobatan.
- Penjelasan tentang hak dan kewajiban dokter serta hak dan kewajiban pasien dalam rangka mengupayakan pengobatan yang optimal.
Upaya-upaya di atas tidaklah semudah yang tertulis. Yang paling penting, menurut penulis, adalah semua pihak memahami bahwa komunikasi dokter-pasien hendaknya selalu terjalin dengan sebaik-baiknya. Makin hari makin baik dan bertambah baik.
Adapun kedua masalah yang timbul sebagai dampak dari terjalinnya komunikasi yang baik antara dokter-pasien, hendaknya disadari oleh semua pihak (dokter, RS, pasien, keluarga pasien dan masyarakat) sebagai fenomena sosial kemasyarakatan, sangat manusiawi, dan dipengaruhi oleh banyak faktor.
Semoga bemanfaat ![]()

















![[Valid RSS]](http://i169.photobucket.com/albums/u238/cakmoki86/button/rss_valid.gif)







Susah jg ya cak….
Apalagi klo udh terlanjur percaya…,..
Tinggal bagaimana kitanya (pasien) aja….
Disana banyak kasus begini cak ?…..
Ato jgn2 pengalaman pribadi nich….? **becanda**
O ya….. tumben sepi nich….
@ montokd2p:
iya, adakalanya gitu…hanya saja kadang sedikit repot untuk meyakinkan bahwa penyakitnya perlu perawatan…apalagi kalo seseorang yg udah belasan kali opname dan masih tetap gak sembuh.
Kasus semacam begini ternyata terjadi di negara-negara lain, sebagaimana tertulis di referensi-referensi tentang komunikasi dokter-pasien.
Pengalaman pribadi juga gitu…sama saja … hehehe…
Artikel pendek ini sebenarnya kelanjutan artikel lain tentang komunikasi dokter-pasien yg saat ini dikembangkan di Selandia Baru, Jepang, Indi, dll… di sini kayaknya belum.
Arti yang tersirat bagi dokter… “jangan gampang menyalahkan pasien”
iya sepi…malah enak, denga begitu saya punya kesempatan bikin brosur.
Sakitnya sama, obatnya sama juga, tapi kalo nggak ke dokter langganan napa gak sembuh2 ya? Yg ini termasuk tipe pasien fanatik ya cak…
Demi berobat ke dokter langganan, rela menunggu sampai 1 minggu, sambil nahan sakit lagi, yg ini tipe pasien fanatik banget.
@ wilma:
hahaha… yg ini termasuk faktor “kepercayaan”…dan kerap terjadi pada praktek sehari-hari. Yang jelas, senyuman dan tangan dokternya beda-beda kan ?
Yang kedua bener…fanatik… inipun kerap kita jumpai dalam praktek sehari-hari… persis sama dengan teori kumunikasi dokter-pasien.
Asslmlkm,apa kabarx cak tambah banyakya pasien fanatiknya?saya kira wajar kalo ada pasien yg bersikap demikian ini menandakan adanya kesenjangan dokter dalam memberikan layanan kepada pasien, ada dokter yang memberikan pelayanan sangat baik kpd pasien dan ada yg sebaliknya.andaikan semua dokter seperti cakmoki pasti enggak ada pasien fanatik,bagi pasien yg fanatik sepertinya ada faktor x yg dianggap tdk kalah perannya ketimbang obat yg diberikan oleh sang dokter, apakh ini yg disebut sugesti yo cak?yang jelas secara sikologis akan sangat baik bagi kesembuhan pasien walaupun akan timbul permasalahan saat pasien fanatik hrs dirujuk ke rs atau spesialis tinggal bagaimana sang dokter idola meyakinkn penggemarnya. Wassalam
@ cahpalaran:

Wa’alaikumsalam…
Alhamdulillah kabar baik
Saya sependapat… faktor psikologis dan sugesti memegang peran penting dalam komunikasi dokter-pasien dan kesembuhan. Karenanya pendapat tersebut saya selipkan di bagian akhir artikel sebagai fenomena sosial kemasyarakatan berdasarkan fakta yang berkembang di masyarakat, bukan hanya di Indonesia tapi juga di negara lain yang sudah sangat maju sekalipun.
Maturnuwun urun rembugnya, moga dibaca oleh teman-2 sejawat untuk senantiasa memperbaiki komunikasi dokter-pasien, khususnya saya yang tak pernah berhenti belajar berkomunikasi dengan sebaik-baiknya.
Maturnuwun
Wassalam
Selamat sore pak dokter
Saya juga punya pengalaman spt itu..sekeluarga selalu datang ke dokter yang sama..kalau engga ke situ, rasanya ga sembuh2..hehe..sugesti deh..sampai betul2 rela menunggu seandainya dokter tersebut cuti..karena dokternya sabar dan selalu bikin adem di hati juga ga pelit bagi2 informasi spt cak moki ini
@ joanna:
Selamat malam …
Nampaknya sebagian besar orang mendambakan hal yang sama: sabar… bikin adem di hati dan informatif …
Ini pelajaran berharga bagi para dokter khususnya saya sendiri…alangkah bahagianya seandainya bisa membuat orang lain merasa adem di hati.
Terimakasih, mbak
iya cak,
selain itu, alasan lainnya adalah..
klo dokternya udh sering menangani seorang pasien, dokter tsb juga mengerti seluk beluk si pasien
bahkan klo sampai keluarganya ke dokter tsb juga,
sepertinya faktor seluk beluk atau riwayat juga bisa jadi alasan
walaupun di sisi lain ada kekurangannya yg sdh dijelaskan di atas
walaupun ada rekam medis,
tapi RM blm bisa merepresentasikan semuanya
ada hal lain dibalik suatu komunikasi antara dokter dan pasien yang bisa mendeskripsikan ‘apa yang dibutuhkan’ pasien
setidaknya, klo fanatik ya jangan banget2 ya cak
klo dokter langganannya sdh ‘kebanjiran order’, kadang segi anamnesis pun ndak selengkap biasanya..
seharusnya, pasiennya juga kritis soal ini..
harapannya sih begitu ya cak…
@ superkecil:

wahhhhh…. lama gak jumpa
Iya, saya sependapat. Kita berharap seperti itu…RM yang benefit untuk klinis dan riwayat penyakit, komunikasi dokter-pasien yang optimal, dan anamnesa tetap lengkap walaupun pasiennya buanyak
Makasih tambahan pemikirannya.
Pernah ketika penyakit lama kambuh, coba berobat ke dokter lain dan tidak sembuh. Akhirnya mau gak mau deh.. ke dokter langganan meski tempat praktek beliau puluhan kilometer. Lucunya, belum keluar dari tempat prakteknya sudah merasa sembuh.
Sebenarnya sikap pasien seperti ini, baik atau tidak sih Dok?
Tukar link yaa Dok? Link Anda sudah nempel lho di http://diradja.wordpress.com
Salam kenal dan terima kasih
@ Dinasty:
Salam kenal..
hal semacam itu wajar, dan baik untuk pasien.
Ok, ntar saya link kalo pas buka dashboard.
Makasih
bener juga yah cak. selama bapak sayah kemaren skit, dari dua dokter yg didatangi, satunya itu padat banget satunya malah tak sampai sepuluh pasien.. hal ini berimbas jga, yg dokter sepi malah penyakit bapak lebih cepat tertangani dari pada yang satunya tuh
@ almascatie:
iya, yang jelas lebih cepat soalanya ga pake ngantri…namun yang penting ayahnda cepet sembuh
Setelah dibolak-balik, akhirnya kembali pada komunikasi
.
@ Cahya:
iya…hehehe
repot juga ya kalau ada pasien yag fanatik… pernah ada kejadian saudara sendiri yg sakit. Kalau bukab dokter A dia gak mau. Lha si dokter lagi ada acara keluar kota terus terpaksa ke dokter lain dengan sedikit memaksa…ha..ha..ha..
@ tokoribbon.com:
iya, kadang merepotkan keluarganya… kalo dokternya sih gak repot
Bapaaakkk…toloooong…
Saya udah cari cari arsip yg sesuai kategori tp nda nemu. Jadi nanya disini aja ya.
Kalo ortu keduanya gol darah A, lalu kenapa dua dari tiga anaknya gol B. Dan keduanya perempuan, sementara yg laki laki A.
Malihat dari tabel pewarisan golongan darah, harusnya hanya ada A dan O. Tapi kenapa jadi B???
Si ibu sudah 3 kali cek darah selama hidupnya, dan selalu hasilnya A. Sedangkan si ayah sudah sering donor darah, so pasti sudah tau kepastiannya. Apa mungkin begitu???
Mohon penjelasannya pak ya.please….
trims banget
muwah muwah hihihihi…
@ enhikmah:
Paling eank cek ulang semuanya di Lab yang sama. Kemudian cek juga faktor dominan dan resesif untuk mendukung hasil tes.
Makasih
klo saya kebalikannya pak. ada dokter yg saya fanatiki kapok2 kesana. soale wonge gak punya senyum n nyentak2 pak. jd ketika diruang tunggu hawanya angker. didindingnya yg dipasang bukannya kata2 mutiara motivator apa gmn kek eh malah dipasang topeng aneh menyeramkan. eh numpang nanya pak dokter. pengharum ruangan aman gak dok buat bayi yg baru lahir? n kipas angin jg dak boleh ya dok? agak gampang kringeten si cantikku. trims before
@ fauzi:
gambar mak lampir ya ?
pengharum ruangan, kipas angin, ac, aman untuk bayi.. semua bayi gampang keringatan, soalnya dalam masa tumbuh kembang sehingga metabolismenya (pengolahan makanan) lebih aktif ketimbang orang dewasa… produk metabolisme, salah satunya adalah air yang dikeluarkan lewat pernafasan, keringat dan air seni.. itu sebabnya kenapa bayi mudah keringatan.
Makasih
slmt malam cak…^_^
saya penasaran pengen tanya …,ada ngak pasien/ pengemar cak moki sangking fanatiknya, kalo sakit bela belain terbang ke tempat cak Moki nun jauh di ndesa sana….walaupun misalnya dia domisili di jawa ?????
he he he he nanya nya iseng nich cak campur penasaran aja….^_^
@ meme:
Met malam,
Hehehe, ya enggaklah … kalaupun ada yg dari Jawa or daerah lain, bukan karena fanatik, tapi kebetulan saat berkunjung ke keluarganya di ndeso sini ndilalah pas sakit
moga2 aja saya gak dapat sebutan baru sebagai salah satu pasien fanatik nya cak MOKI ya….^_^
soalnya kok gejala2 nya uda ada tuh cak…., misalnya..:
1.kalo 1 hari gak buka blog nya cak MOKI ,kok kayaknya gak enak….
he he he
2.Belakangan ini kok timbul rasa penasaran dan kepengenan ketemu Cak MOKI secara langsung…,ya sekalian penasaran ingin mencocok kan apakah cak MOKI yg ini sama dengan Cak MOKI di Dunia Nyata….
ha ha ha….. emangnya yg sekarang penampakan…????? peace…..^_^
@ meme:
Jangan-2 saya dari dunia lain…hiyyy … hahaha … pisss
Waah..kyaknya gejala penyakit saya sama sprti meme.kl sehari ga baca blog cak dokter,rasanya gmnaaa gitu.kyak ada yg kurang..he..
Bis na udh jd bacaan rutin terutama mnjelang tdr n mnbah ilmu.izin di print n tak kliping ya dok.jd kl sewaktu waktu saya perlu,bs dngn cepat saya dpt.ga hrs buka hp/laptop dl.saya jg prnah menyarankan ama sobat sy,kl pnya msalah n mau brbagi mslh kesehatan,coba sesekali ‘berkunjung’ ke ‘cakmoki blog’.gmna dok?keberatan ga dok?trims
@ Lisa:
Monggo, silahkan copy kalo emang dianggap layak
Makasih atas apresiasinya
Sama2 dok.terima kasih.jgn bosan2 ya dok dgn komentar2 dan pertanyaan saya(sejauh ini baru di artikel polip,dermatitis dan asma)bukan tdk mungkin akan menyusul di artikel yg lain.krn saya hobby membaca dan pnya rasa ingin tahu yg tinggi
*jd dr klrga ku di dunia maya..he..(kl tdk keberatan dok)*
sekali lg,terimakasih..
Semoga allah membalas amal baik dokter.dan cak dokter sekeluarga diberi kesehatan dan selalu dlm lindungan allah swt.
..amin..
@ Lisa:
Terimakasih do’anya , mbak… semoga demikian pula sebaliknya..amiiin
Lama nih gak mampir di blog Cak Moki. Jadi kangen dijawab komentarnya….
Ada usul bagus nih…gimana kalau serial kumpulan tulisan Cak Moki tentang hubungan dokter dan pasiennya di cetak jadi buku dan diterbitkan. Kan bagus dan informatif meski tetap pakai bahasa gaul dan tidak membosannkan. Siapa tahu Cak Moki bisa terkenal seperti Atul Gawande ( yang nulis buku “better” dan “complications”) atau Mimi Guarnery (bukunya judule The Heart Speaks) atau juga seperti dr.Oz yang sering diundang sama Oprah buat jadi penasehat dietnya. Gimana cak Moki ? Usul diterima ?????
@ Puskesmas Mojoagung
makasih atas usulnya
usul diterima … tapi lebih enak ga terkenal supaya tetep bisa mracang dengan nyaman…hehehe