Antara Obat Generik dan Obat Paten

obat generik Atas permintaan beberapa pembaca, melalui forum diskusi di Blog ini maupun melalui email, akhirnya saya berkesempatan menulis secara khusus tentang Obat Generik dan Obat Paten. Dinamika pembahasan obat tak pernah ada habisnya, terlebih ketika membicarakan harga obat nan mahal di Indonesia. Untuk menanggulangi persoalan mahalnya harga obat, Pemerintah telah menerbitkan kebijakan kewajiban penggunaan Obat Generik bagi institusi layanan medis Pemerintah, melalui Permenkes No:HK.02.02/Menkes/068/I/2010, yang merupakan aturan baru dari peraturan sebelumnya, agar harga obat dapat terjangkau, murah, mudah didapat dan kualitasnya sama dengan obat paten ataupun obat bermerek.  Adapun harga obat generik terbaru, sebanyak 453 item, ditetapkan melalui Keputusan Menteri Kesehatan (Kepmenkes) No. HK.0301/Menkes/146/I/2010, tertanggal 27 Januari 2010.

Pertanyaan dari masyarakat yang sering terlontar terkait dengan obat generik, diantaranya: apa beda obat generik dan obat paten ? Mengapa obat generik lebih murah ? Apakah kualitas obat generik tidak kalah dengan obat paten? Apakah kualitas obat paten pasti lebih bagus dibanding obat generik ?

PENGERTIAN :

Untuk memudahkan perbedaan penamaan obat,  terkait generik dan paten, definisi singkatnya adalah sebagai berikut:

OBAT GENERIK:

Adalah nama obat yang sama dengan zat aktif berkhasiat yang dikandungnya, sesuai nama resmi  International Non Propietary Names yang telah di tetapkan dalam Farmakope Indonesia. Contohnya: Parasetamol, Antalgin, Asam Mefenamat, Amoksisilin, Cefadroxyl, Loratadine, Ketoconazole, Acyclovir, dan lain-lain. Obat-obat tersebut sama persis antara nama yang tertera di kemasan dengan kandungan zat aktifnya.

OBAT PATEN:

Adalah hak paten yang diberikan kepada industri farmasi pada obat baru yang ditemukannya berdasarkan riset.  Industri farmasi tersebut diberi hak paten untuk memproduksi dan memasarkannya, setelah melalui berbagaii tahapan uji klinis sesuai aturan yang telah ditetapkan secara internasional. Obat yang telah diberi hak paten tersebut tidak boleh diproduksi dan dipasarkan dengan nama generik oleh industri farmasi lain tanpa izin pemilik hak paten selama masih dalam masa hak paten.

Berdasarkan UU No 14 tahun 2001, tentang Paten, masa hak paten berlaku 20 tahun (pasal 8 ayat 1) dan bisa juga 10 tahun  (pasal 9). Contoh yang cukup populer adalah Norvask. Kandungan Norvask ( aslinya Norvasc) adalah amlodipine besylate, untuk obat antihipertensi. Pemilik hak paten adalah Pfizer. Ketika masih dalam masa hak paten (sebelum 2007), hanya Pfizer yang boleh memproduksi dan memasarkan amlodipine. Bisa dibayangkan, produsen tanpa saingan. Harganya luar biasa mahal. Biaya riset, biaya produksi, biaya promosi dan biaya-biaya lain (termasuk berbagai bentuk upeti kepada pihak-pihak terkait), semuanya dibebankan kepada pasien.

Setelah masa hak paten berakhir, barulah industri farmasi lain boleh memproduksi dan memasarkan amlodipine dengan berbagai merek. Amlodipine adalah nama generik dan merek-merek yang beredar dengan berbagai nama adalah obat generik bermerek. Bukan lagi obat paten, lha wong masa hak paten sudah berakhir. Anehnya, amlodipine dengan macam-macam merek dan kemasan harganya masih mahal, padahal yang generik haraganya sekitar 3 ribu per tablet. Inipun menurut saya masih mahal.

OBAT GENERIK BERMEREK:

Adalah obat generik tertentu yang diberi nama atau merek dagang sesuai kehendak produsen obat. Biasanya salah satu suku katanya mencerminkan nama produsennya. Contoh: natrium diklofenak (nama generik). Di pasaran memiliki berbagai nama merek dagang, misalnya: Voltaren, Voltadex, Klotaren, Voren, Divoltar, dan lain-lain.

Nah, jelaslah bahwa obat genrik bermerek yang selama ini dianggap obat paten sebenarnya adalah obat generik yang diberi merek dagang oleh masing-masing produsen obat. Dan jelas pula bahwa pengertian paten adalah hak paten, bukan ampuh hanya karena mahal dan kemasannya menarik.

PERBANDINGAN

Dari sekilas penjelasan di atas, nampaklah bahwa khasiat zat aktif antara obat generik dan obat generik bermerek adalah sama sejauh kualitas bahan dasarnya sama. Contoh: misalnya saja penjenengan punya pabrik obat bernama cakmoki farma, yang memproduksi Natriun diklofenak dalam 2 produk. Yang satu obat generik, namanya otomatis Natrium diklofenak dengan nama produsen cakmoki farma. Adapun produk obat generik bermerek menggunakan nama yang dipertimbangkan agar mudah laku di pasaran, misalnya saja mokivoltar. Otomatis kualitas khasiat kedua obat Natrium diklofenak yang diproduksi cakmoki farma sama saja, soalnya membeli bahan dasar dari tempat yang sama dengan kualitas yang sama pula. Bedanya hanya pada nama, kemasan dan tentunya harga. Yang satu Natrium diklofenak generik dengan harga yang sudah ditetapkan sesuai peraturan dan satunya mokivoltar dengan harga lebih mahal, sesuai pangsa pasar dan segala lika-likunya. :P

Mengapa harga obat generik jauh lebih murah ketimbang obat generik bermerek ? Sebagaimana contoh di atas, Natrium diklofenak 50 mg, para produsen obat yang memproduksinya menggunakan nama generik yang sama, yakni Natrium diklofenak dengan label generik. Tanpa promosi, tanpa upeti dan tanpa biaya-biaya non produksi lainnya. Harganya sudah ditetapkan, yakni HNA (Harga Netto Apotek) plus PPN = Rp 10.884,- berisi 50 tablet dan HET (Harga Eceran Tertinggi) = Rp 13.605,- sebagaimana diatur Kepmenkes No.HK.03.01/Menkes/146/I/2010. Artinya, harga per tablet Natrium diklofenak 50 mg gak akan lebih dari Rp 272,- per tablet, siapapun produsennya. Tidak bisa diotak-atik lagi. Itu sebabnya harga obat generik jauh lebih murah ketimbang obat generik bermerek.

Masih banyak pertanyaan serta opini seputar obat generik dan obat bermerek, terutama terkait kualitas dan harganya.

Akhirnya, tak ada salahnya kita belajar kepada negara lain yang telah mapan dalam memberikan informasi terbuka kepada khalayak, misalnya India, agar bangsa Indonesia lebih memahami seluk beluk obat dan berhak menentukan pilihan sesuai situasi dan kondisi masing-masing pengguna jasa layanan kesehatan.

Silahkan berbagi. :)

Semoga bermanfaat.

:: :: :: posting menggunakan WLW :: :: ::

About these ads

109 Responses to “Antara Obat Generik dan Obat Paten”


  1. 1 johan knowledge September 23, 2010 pukul 10:33 am

    trimakasih cak,info ini penting bagi para petugas kesehatan dalam mjawab ptanyaan pasien.tentang obat generik suntik apa jg blaku kondisi yg sama? atau ada sdikit perbedaan cak? misal untuk obat injeksi masih impor,walau sudah generik.apa bgitu cak? jd obat suntik generik msh agak mahal krn ada biaya import.dll. mohon pcerahan.trimakasih

  2. 2 cakmoki September 23, 2010 pukul 1:28 pm

    @ johan knowledge:
    sama aja … obat suntik udah banyak yang generik dan jauh lebih murah. Kalo bahan bakunya sih semuanya masih impor, baik obat minum maupun obat suntik.
    Makasih

  3. 3 alonemisery September 23, 2010 pukul 2:11 pm

    nice artikel Pak… blogspotnya dah g ke pake y..
    eman2…mending wat aq…hehehheheh
    ^_^ v

    my blog : alonemisery .

  4. 4 cakmoki September 23, 2010 pukul 2:15 pm

    @ alonemisery:
    blogspotnya lagi ketiduran :D
    Makasih link-nya…siiip !

  5. 5 siemans September 23, 2010 pukul 4:46 pm

    Bagus artikelnya, pak.

    Pertanyaan saya sekarang, kalau saya dapat resep dari dokter, dimana saya bisa tau apakah obat yg tertulis itu: generik, generik bermerek atau paten?

    ohya, apakah sudah ada peraturan yang membolehkan pengguna obat untuk meminta pihak apotik merubah obat generik bermerek yang tertulis di resep menjadi obat generik? Karena terakhir kali saya meminta seperti itu ke apotik, penjaga apotinya tidak mau karena takut dengan dokternya.

    Bagaimana mengganti obat paten dg obat generik? apakah aman? karena dari artikel diatas, obat paten dengan obat generik berbeda.

  6. 6 draguscn September 23, 2010 pukul 7:36 pm

    Jadi kalau dalam lemari obat puskesmas saya ada Mokivoltar, karena banyak orang sini senang dengan gambar pria berkumis di kemasannya, dan kemudian Gudang Farmasi Kabupaten ngga banyak mensupply Natrium Diklofenak terbitan Cakmoki Farma, pada saat datang pemeriksaan saya boleh dong berkilah “Saya pakai obat generik kok!”

    Pemeriksa : “Lha ini, ini kan obat paten?” Sambil menunjuk ke kardus dengan gambar penuh muka seorang pria tersenyum dengan kumis melintang.

    Saya : “itu obat generik bermerek, obat patennya sudah habis masa patennya” Sambil berusaha menutupi muka pria narsis di kardus tersebut.

    Boleh begini?

  7. 7 cakmoki September 24, 2010 pukul 12:01 am

    @ siemen:
    Obat generik terpapmpang nama generik yg sama dengan kandungannya, dan ada logo generik… selebihnya, silahkan baca komentar draguscn yang menyebutkan beda generik dan obat bermerek.
    logo obat generik

    ya, ada aturannya sebagaimana link tentang Obat Generik pada artikel di atas. Apotek boleh mengganti dengan obat generik sesuai permintaan pasien.

    Kalo belum habis masa paten suatu obat, emang gak ada obat lain kecuali dapat ijin dari pemegang hak paten. Tentu gak ada gantinya… sedangkan jika masa paten habis, industri farmasi lain boleh memproduksi .. itu artinya, obat yg habis masa hak patennya akan tersedia dalam bentuk generik dan generik bermerek.
    Makasih

    @ draguscn:
    hahaha… emang sulit memberikan penjelasan kepada khalayak, termsuk pemeriksa, Mas Agus… :D
    Mungkin kalo cakmoki farma ngasih parcel ke pemeriksa, gak akan ditanya … pisss

  8. 8 Kedai Obat September 24, 2010 pukul 12:01 am

    Boleh bertukar Link nya Dok?

  9. 9 cakmoki September 24, 2010 pukul 1:14 am

    @ Kedai Obat:
    Boleh… monggo silahkan :)

  10. 10 Hardana September 24, 2010 pukul 10:23 am

    Dok mau tanya, ini ada pengalaman orang kena jantung koroner, obat Plavix disubstitusi dengan Vaclo, padahal isinya sama-sama clopidrogel, kok efek sampingnya lain ya? Logikanya kan bahannya sama.

    Kalo lagi gak sibuk, mohon pencerahannya. Terima kasih, moga-moga sumbangan ilmunya jadi amal jariyah.

    Ini saya potongkan tulisannya dari : http://www.fadhilza.com/2008/11/tadabbur/pendarahan-lambung-akibat-efek-samping-obat.html

    Obat Plavix diganti dengan Vaclo, menurut petugas apotik komposisi Vaclo sama saja dengan Plavix, untuk sementara penggantian itu saya terima. Dua minggu kemudian saya konsultasi ke dokter yang merawat saya di RS Harapan Kita, saya informasikan bahwa obat saya Plavix diganti dengan Vaclo. Dokter yang merawat saya tidak setuju ” Plavix ya plavix jangan diganti, kamu kan punya gangguan lambung, yang cocok selama ini kan plavix, ya sudah jangan diganti” .

    Dua hari kemudian apa yang dikatakan dokter saya jadi kenyataan, tidak jelas apa sebabnya tiba tiba saya mengalami sakit perut. BAB saya encer, padahal makanan saya selama ini cukup apik tidak ada yang aneh. Saya jadi curiga jangan-jangan ini akibat mengkonsumsi Vaclo, karena pada umumnya obat anti platelet memang punya efek samping terhadap lambung.

  11. 11 cakmoki September 25, 2010 pukul 12:16 am

    @ Hardana:
    Benar, kedua obat tersebut mengandung bahan aktif yang sama, efek dampinya juga sama. Namun perlu diketahui bahwa industri farmasi membeli bahan dasar dari produesen bahan dasar dengan kelas yang berbeda-beda. Ada yang membeli bahan dasar kualitas kelas 1, ada pula yang membeli dengan kualitas kelas dibawahnya. Selain itu, benar kata dokternya bahwa obat juga cocok-cocokan. Ini terkait dengan kualitas bahan dasar, kualitas produksi, dll.
    Pengaruh cardio aspirin juga tidak dapat dikesampingkan begitu saja. Obat ini juga memiliki efek samping iritasi lambung. Walaupun pada posting tersebut disebutkan sudah tidak mengkonsumsi cardio aspirin dan hanya menggunakan vaclo, bisa saja efek iritasinya belum pulih sempurna.
    Untuk membuktikannya, yang bersngkutan hendaknya minum Plavix saja. Jika selama minum Plavix tidak terjadi perdarahan, boleh jadi perdarahannya emang karena obat dengan merek lain.
    Makasih

  12. 12 Rosa S Rustam September 26, 2010 pukul 8:44 pm

    nice post Cak :) btw, pernah nulis ttg anemia? thx b4 ya Cak :)

  13. 13 cakmoki September 26, 2010 pukul 10:12 pm

    @ Rosa S Rustam:
    maaf, saya belum nulis anemia di blog… tapi saya nulis tentang G6PD yg di dalamnya ada sekilas anemia… silahkan download pada link berikut: (item no 6 )

    http://cakmoki86.wordpress.com/download/artikel/

    Makasih :D

  14. 14 Besan September 27, 2010 pukul 9:56 am

    Makasih cak atas tmbhan info barunya. Kl pmbuatan obat generik bahan dasarnya berbeda2 kualitasnya antar pabrik,brarti pabrik farmasi yg kecil (atau yg gak terkenal) dlm mproduksi obat generik jg kualitasnya/khasiatnya gak bagus ya cak.
    Matur nuwun.

  15. 15 cakmoki September 27, 2010 pukul 1:44 pm

    @ Besan:

    Kl pmbuatan obat generik bahan dasarnya berbeda2 kualitasnya antar pabrik,brarti pabrik farmasi yg kecil (atau yg gak terkenal) dlm mproduksi obat generik jg kualitasnya/khasiatnya gak bagus ya cak.

    Sepintas nampaknya begitu, namun tidak selalu seperti itu … terkenal dan tidaknya sebuah industri farmasi lebih dipengaruhi oleh promosi dan besaran upeti kepada pihak terkait :D
    Menurut bisik-bisik para detailer (bukan data otentik), ada 5 industri farmasi di Indonesia yang terkenal jor-joran dalam memberikan upeti agar produknya laku. Padahal banyak industri farmasi lain dengan kualitas sama tapi gak seheboh yang 5, sehingga seolah-olah kualitas produk yg 5 tadi lebih bagus karena lebih sering terdengar :D
    Maturnuwun

  16. 16 Cahpalaran September 30, 2010 pukul 3:34 pm

    Generik samadengan genirit yo cak ikikik….,

  17. 17 cakmoki September 30, 2010 pukul 3:49 pm

    @ Cahpalaran:
    Nggih …. ben irit, supaya bisa untuk mampir beli pecel di depan rumah …qeqeqe

  18. 18 joanna Oktober 2, 2010 pukul 9:43 am

    ohh baru tau pak dokter..selama ini saya kira kualitas yg generik lebih rendah..ternyata engga yah..jadi cocok dong buat pengiritan :) Makasih info nya.

  19. 19 cakmoki Oktober 3, 2010 pukul 3:28 am

    @ joanna:
    iya, pengiritan supaya bisa untuk beli yang lain :D
    Makasih

  20. 20 montokd2p Oktober 3, 2010 pukul 5:58 am

    Klo obat patenkan mahal, jd di pakai sesuai aturan, mkanya jadi cepet sembuh.

    Sedangkan Obat generik murah, jd di pakai semaunya… (dosis 3×1 dipakai 2×1) mkanya sembuhnya lama
    (masih untung bs sembuh).

    Lalu timbullah macem2 dugaan tentang obat generik.
    Katanya sich “duit ga boong” yg mahal pasti bagus dech….

    Lha klo beli yang mahal tp ga sembuh2/cocok gmn ???…
    Trus yang murah di jamin sembuh/cocok ga ?….
    Hayoo gimana…..???

    Auu….ah….elap….

    * jgn di pikirin cak, ogut numpang lewat aja, mo mandi abis dr empang hehehe*

    Nambah lagi ilmu ogut cak… Maturnuwun

  21. 21 cakmoki Oktober 3, 2010 pukul 4:15 pm

    @ montokd2p:
    Dari empang ? wehhh…mancing gak ngajak-2 :D
    Sebenarnya obat paten di Indonesia hanya sedikit yg beredar..yang banyak adalah obat bermerk, yakni obat paten yang udah habis masa patennya kemudian diproduksi dan dipasarkan dengan berbagai merk.
    Antara obat bermerk dengan obat generik kualitasnya sama jika kualitas bahan dasarnya juga sama.
    Banyak obat bermerk dengan kualitas dibawah obat generik … :D ..cuma gak boleh nulis di sini …hehehe
    Sebagai contoh, obat generik buatan K**** F**** kualitasnya bagus karena kualitas bahan dasarnya bagus.
    Maturnuwun

  22. 22 montokd2p Oktober 3, 2010 pukul 10:44 pm

    Hehehe….ntar lain hr mancing bareng ya….

    mancing ikan mas cak, ini juga istri yg nyuruh. Maklum lg hamil,(7 bln) cm dpt 3, mancing harian (oon ye) jadi inget artikel “ngidam” hehehe

    Selama istri hamil ga mancing2 takut kenapa2. (mitos lg), semoga ga papa ya cak…

    O gitu, oc ogut ngerti dech, jujur aja selama ini kita percaya apa kata apotekernya aja. (merekakan lbh ngerti).

    Satu lagi cak, di bungkusnya obat sering tertera HET (harga eceran tertinggi)…
    Tp kenapa ya apotik (ada beberapa) jual obat tsb diatas harga yg tertera tsb…?

    Bukannya dgn hrg segitu (HET) apotik udah dpt untung?
    Soale ogut pernah debat ama kasir n apotekernya msh ini.

    Mulai dr situ ogut kapok bl obat di apotik ecek2. Sekarang klo gak beli di kimia farma ya ke c**t**y ( ikut member dpt diskon )….. ngirit + sdkit pelit qiqiqi

    Makasih banget atas info ya cak….

  23. 23 cakmoki Oktober 3, 2010 pukul 11:51 pm

    @ montokd2p:
    Itulah negeri kita, sudah dikasih HET dengan segala macam sangsinya, masih juga masang harga di atas HET.
    Mengapa begitu ? Kita udah tahu jawabannya: cari untung sebesar-besarnya… apalagi orang ke apotik gak nawar-nawar obat…kesempatan :D
    Selamat menikmati ikan Mas … semoga keluarga penjenengan sehat selalu.
    Maturnuwun

  24. 24 Agus Layur Oktober 4, 2010 pukul 2:09 pm

    Ass.wr.wb cak moki

    Wah ternyata cak moki termasuk mancing mania juga ya. :) :)
    Info yg bermanfaat dari artikel ini buat orang awam seperti saya, jadi mengerti tentang obat generik, generik bermerk dan paten.
    BTW mengenai obat anti mabok laut yg sering di sarankan sama rekan2x pemancing seperti Dramamin (salah tulis gak ya), Stugeron dll, apakah aman tanpa efek samping ya? Saya sebenarnya takut2x juga untuk mengkosumsinya karena gak ada penjelasan detail mengenai hal tersebut.
    MOhon infonya ya cak….sayang kita tinggal berjauhan…kalo deket bisa cingreng neh (mancing bareng)…
    Salam strikeee…..

  25. 25 cakmoki Oktober 4, 2010 pukul 4:08 pm

    @ Agus Layur:
    Assalamu’alaikum…
    iya… kalo lama gak mancing, tangan jadi gringingen :D

    Dramamine (dimenhidrinat), Antimo (dimenhidrinat), adalah obat-2 yang biasa digunakan untuk anti mabuk (darat, laut dan udara…kayak iklan) dan untuk vertigo (melayang-layang, nggliyeng, muter-2).

    Sedangkan Stugeron (cinnerizin), lazim digunakan untuk vertigo dan telinga berdenging (tinitus)
    Efek sampingnya adalah ngantuk… kadang mulut brasa kering… efek lainnya gak ada.
    So, gak papa make Dramamine (dimenhidrinat), Antimo (dimenhidrinat), untuk mencegah mabuk laut kalo emang diperlukan.

    Iya, sayangnya gak bisa cingreng :D
    Makasih
    Wassalam

  26. 26 sari Oktober 11, 2010 pukul 5:13 pm

    tulisan yang menarik

    kunjungi ini ya….

  27. 27 cakmoki Oktober 12, 2010 pukul 12:06 am

    @ sari:
    Makasih atas kunjungannya :)

  28. 28 rinda Oktober 17, 2010 pukul 7:21 pm

    thanks banget atas info berharganya cak. pantesan ya di negeri kita ini merajalela org2 yg menggunakan “kesempatan baik” dibidang obat2an ini. karena masyarakat umum mana tahu menahu hal beginian.

  29. 29 cakmoki Oktober 18, 2010 pukul 1:19 am

    @ rinda:
    moga dengan begini masyarakat umum dapat berperan sebagai kontrol untuk ikut memperbaiki sistem yg beginian :)
    makasih

  30. 30 gegesaurus Oktober 21, 2010 pukul 6:51 am

    Selamat pagi, pak dokter.
    Nemu blog’nya gara-gara nyari obat generik anti muntah untuk anak saya; 2,5 tahun (belum nemu juga ~_~; ). …eh, akhirnya jadi keterusan ngebacain semua artikelnya.
    Tulisannya sangat bermanfaat, dan terasa jauh lebih “terbuka” jika dibandingkan dengan para dokter yang biasa saya kunjungi di Jakarta.
    Jarang-jarang saya mau bookmark blog orang; tapi kali ini ada pengeculaian deh :)
    Tetap berbagi ilmu yah, dok ^_^

    Saran artikel: Bahas tentang besarnya angka kelahiran sectio pada ibu muda jaman sekarang dong (terutama Jakarta). Setahu saya (nuduh!) kebanyakan gara-gara ditakut-takuti sama sang dokter, plus para dokter (ndak semua; hanya rata-rata sahaja) itu sendiri yang memang ingin ‘mengeruk’ keuntungan terjadwal (karena operasi kan dijadwalkan).

    Salam :)

  31. 31 gegesaurus Oktober 21, 2010 pukul 6:57 am

    Lupa; …ada dokter prakter di sekitar kompleks rumah saya yang tidak akan pernah mau ngasih resep obat generik dan kekeuh satu juta persen bahwa obat yang dia resepin akan jauh lebih “MAKNYOS” jika dibandingkan dengan obat generik yang beredar di Indonesia (sang dokter berkilah, bahwa obatnya dia beli sendiri dari Canada).

    Hal ini ada hukumannya nggak yah?
    Soalnya menurut saya, selain tidak pantas dilakukan oleh seorang ahli medis, juga merugikan orang banyak; baik dari segi informasi (pembodohan), juga segi materi.

    Salam :)

  32. 32 cakmoki Oktober 21, 2010 pukul 2:48 pm

    @ gegesaurus:
    Selamat siang :)
    Udah nemu antimuntah sirup Domperidone ? … atau sirup metoclopramide … kalo udah nemu, dosisnya 3×1/4 sendok takar (dosis rendah) untuk menghindari efek samping ekstrapiramidal (kaku-kaku otot, gelisah).

    Makasih untuk sarannya…. sebelumnya ada yg request seperti itu, namun sayangnya saya belum menemukan angka SC. Sejujurnya, sinyalemen penjenengan ada benarnya. Bukan rahasia lagi bahwa sebagian dokter menganjurkan (mungkin juga memkasa dengan menakut-nakuti) untuk sectio tanpa indikasi medis. Sungguh, sulit dimengerti, tapi kenyataan emang ada.

    Tentang penyediaan obat oleh dokter dari luar negeri, tentu ada aturannya. Jika melanggar aturan ada sanksi. Hanya saja hal semacam itu jarang terpantau.
    Aneh kalo obat dari Canada lebih mahal. Pasalnya, obat Indonesia jauh lebih mahal dari obat di Canada, kecuali kalo ongkos pesawat dibebankan kepada pasien …hehehe.
    Yang pasti, saya sependapat bahwa cara tersebut tidak patut, tidak mendidik, dan menguras isi dompet pasien.
    Makasih telah berbagi.

    Salam :)

  33. 33 gegesaurus Oktober 21, 2010 pukul 11:21 pm

    Malam, dok :)

    Terima kasih untuk informasi dosis dan obatnya.
    Kebetulan saya sempet baca artikel di blog ini juga, yg membahas efek samping obat muntah; which is, mengarahkan saya untung segera membeli “Domperidone”. Dan setelah membaca reply dokter, jadi makin tenang, karena info takarannya juga dapet :p

    Kalo ngomong soal sectio, di Jakarta hal tersebut sudah jadi hal yg lumrah dan sangat wajar; karena hampir semua rumah sakit bersalin ‘berkelas’ (baca: nama sudah terkenal) di Jakarta, 99.9%’nya pasti sectio; kecuali rumah sakit Budi Kemuliaan, Tanah Abang (pengalaman pribadi 2 anak).

    Kalo di Budi Kemuliaan, para dokter dan susternya malah berlomba-lomba memberikan support dan dukungan agar sang calon ibu (terutama ibu-ibu muda) agar mau melahirkan secara normal.
    Sedangkan di rumah sakit ‘mentereng’ lainnya, kalo suster jaga’nya (ruang bayi) ditanyain: “Sus, yg lahir normal yg mana yah?”, pasti mendadak gagap dan seperti orang yg tiba-tiba terkena sembelit kelas tinggi; tiba-tiba ijin ke ‘belakang’ saat itu juga.

    …saya ndak mau nyebut nama rumah sakit yg pernah saya ‘tes’. Ntar takut jadi masalah :p Tapi yg jelas hampir semua rumah sakit yg namanya udah “OYEH” di Jakarta, udah pernah saya gituin susternya; dan setiap kali manjur membuat para suster jaga ngibrit! :D hi..hi..

    Trus untuk masalah obat Canada yg jauh lebih murah dari obat di tanah air; kok perasaan saya jadi sedih campur dongkol yah?
    Sedih karena obat disini ternyata jauh lebih mahal dari negara yg letaknya di penghujung dunia, dan dongkol karena, ternyata selama ini saya dan pasien lain yg membayar biaya jalan-jalan sang dokter ke luar negri :( *hiks*

    …mbok yo gantian aku yg berangkat… :(

  34. 34 cakmoki Oktober 22, 2010 pukul 12:12 am

    @ gegesaurus:
    Met malam, mbak :)
    Membaca pengalaman penjenengan, saya masih bisa tersenyum karena di RS Budi Kemuliaan justru memberikan support agar sang calon ibu agar mau melahirkan secara normal. Beginilah sebenarnya tuntunan bagi para dokter. :D
    Moga para Direktur RS di seluruh Republik Indonesia dan para sejawat DSOG terketuk pintu hatinya untuk meniru para dokter dan suster di RS Budi Kemuliaan dan RS lain yang masih menjungjung tinggi sumpah dokter serta idealisme.

    Adapun masalah obat… rasanya ada beberapa tulisan ringan di blog ini yang memaparkan sisi buram tata niaga obat di negeri kita… Mau gantian berangkat tah ? :D .. lha saya aja gak mau.
    Maturnuwun

  35. 35 yas Oktober 25, 2010 pukul 1:09 pm

    Kalau bicara masalah obat di Indonesia kok selalu biking kita sedih ya Cak. Dimana sebenarnya ujung dan pangkalnya. Terbitnya sk menkes No. HK.0301/Menkes/146/I/2010 tentu sangat bagus untuk menekan harga obat, namun kadang daftar harga itu nggak dipatuhi oleh pihak-pihak yang diatur dibawahnya dalam hal ini produsen, distributor dab apotek.

    Sebagai contoh obat asam folat ditentukan harga hna+ppn per tabletnya Rp. 32 rupiah dan HET nya 40 rupiah, jadinya gak ada produsen dan distributor yang sanggup memenuhi harga itu? Yang salah siapa ?
    sk menkes yang salah asumsi, produsen yang terlalu banyak ambil untung atau bagaimana? banyak lagi lho yang lainnya.

    Kesanya jadi aturan dibut memang untuk dilanggar….

  36. 36 cakmoki Oktober 25, 2010 pukul 2:42 pm

    @ yas:
    saya sependapat :)
    Kalo kita cari siapa yang salah, sebenarnya udah jelas bahwa yg salah adalah pihak-pihak yang terlibat dalam mahalnya harga obat, termasuk pemeriksanya.
    Seandainya aturan ditegakkan dan yg melanggar diberi sanksi, niscaya sedikit demi sedikit masalah tersebut akan teratasi.
    Masalahnya, tak sedikit para pemeriksa yang pro-aktif “mengambil upeti” ke PBF, Produsen, apotek. Bahkan ada yng rutin setiap 2 minggu keliling ambil “upeti”. :D
    Di sisi lain, departemen yg bikin aturanpun doyan banget memark-up belanja obat … tuh kan …
    Kalo produsen sih gak ada ceritanya rugi, selalu untung.. sebagi contoh, satu devisi dari salah satu produsen obat saja dapat mengeruk keuntungan bersih milyaran rupiah dalam setahun.

    …fenomena tersebut tak salah jika kemudian memunculkan kesan bahwa peraturan dibuat utuk dilanggar…

  37. 37 mbokratu Oktober 29, 2010 pukul 8:54 pm

    Assalamu’alaikum…
    Saya jadi inget, tetangga saya sakit diabetes, tangannya bengkak, kemudian dibawa ke RSUD pake Jamkesmas. Kata tetangga saya, dokternya tanya “Ibu mau cepet sembuh nggak?”
    “Ya maulah, Dok”
    “Kalau mau cepet sembuh, Ibu pake obat paten aja, tapi beli sendiri.”
    Alhasil, Astaghfirullah, subhanallah, setelah di rumah sakit selama 10 hari dengan pake Jamkesmas, tetangga saya tersebut harus mengeluarkan uang (yang di dapat dari sumbangan, itupun belum tentu cukup), sebesar 5 juta rupiah lebih, nggak kurang.
    Seandainya semua dokter punya nurani, dan semua pasien melek obat, bahwa ternyata yang dinamakan paten itu bukan ‘paten cap jempol’
    Dok, saya tadi nyasar ke sini sebenarnya mau tanya tentang dexamethasone. Saya pernah diberitahu oleh petugas di puskesmas, katanya dexamethasone itu berbahaya. Apa iya, Dok?
    Sebenarnya dexamethasone itu untuk penyakit apa saja?
    Kalau tenggorokan saya sakit (menjelang flu, atau karena kehujanan, maklum, saya orangnya pilek-an) saya kadang mengkonsumsi dexamethasone. Apakah itu berbahaya, Dok?
    Mohon penjelasannya ya, Cak dokter. Saya jadi agak takut mau minum obat itu.
    Maturnuwun, Wassalam.

  38. 38 cakmoki Oktober 30, 2010 pukul 1:50 am

    @ mbokratu:
    Wa’alaikum salam…
    wehh… ternyata kejadian seperti itu masih juga berlangsung.

    Tentang dexamethason. :D …saya yakin penjenengan sudah search.
    Pertama: gak usah takut. Gak akan ada dampaknya kalo makainya hanya jangka pendek. Dan gak ada kata terlambat untuk memperbaikinya… lha gimana, wong sebelumnya emang gak ngerti.

    Kedua, mari kita bahas sekilas obat tsb.
    Dexamethason adalah salah satu dari Steroid Anti Inflamasi.
    Steroid terbagi 2 golongan besar, yakni :
    1) mineralokortikosteroid dan
    2) glumerulokortikosteroid
    ( gak usah diapalken, nggarahi mumet)
    Nah, Dexamethason tersebut merupakan salah satu obat steroid anti inflamasi golongan Mineralo-kortikosteroid.
    Sedangkan golongan Glumerulo-kortikosteroid, contohnya: Prednison, methyl prednisolon, dll…nama dagang dari kedua golongan obat tersebut sangat banyak.

    Steroid, dalam hal ini kita batasi dexamethason, digunakan sebagai obat pendamping maupun obat utama pada kasus-kasus inflamasi.
    Penyakit-2 inflamasi yang lazim diberi dexamethason, diantaranya:
    Urtikaria, dermatitis (dengan berbagai variannya), rhinitis alergika, asma, dan penyakit-2 lain yang dilatarbelakangi reaksi alergi.
    Pada umumnya dexamethason diberikan bersama dengan antihistamin (untuk meredakan gatal dan meredakan alergi), misalnya: CTM, Chlorpheniramine maleat, Loratadine, Cetirizine..lan sak panunggalane … sekali lagi gak usah dihapalkan :D

    Saya bisa maklum mengapa penjenengan menggunakan dexamethason ketika merasa mau flu atau tenggorokan sakit. Ini karena saya yakin masih belum bisa membedakan antara infeksi dengan inflamasi (radang)…sehingga, boleh jadi radang tenggorokan dianggap sama dan sebangun dengan pengertian inflamsi secara umum. Padahal, infeksi dengan radang (inflamasi) sangat berbeda.
    Infeksi disebabkan paparan mikro-organisme (kuman, virus, jamur, parasit), yang ditandai dengan 5 gejala, yakni: dolor (nyeri), kalor (panas), rubor (merah), inflamasi (peradangan) dan functio lesa (terganggunya fungsi organ atau bagian tubuh).

    Dari batasan tersebut nampaklah bahwa inflamasi bagian dari infeksi sedang inflamasi belum tentu infeksi. Contoh: orang yg biduren, terjadi proses inflamasi pada kulit yg ditandai dengan merah dan pembengkakan (bentol), tapi bukan infeksi.
    Istilah radang tenggorokan sebenarnya tidak tepat, yg benar adalah infeksi tenggorokan (faringitis).
    Walaupun ada inflamasi pada infeksi tenggorokan, bukan berarti boleh diberi dexamethason…pemberian dexamethason pada infeksi adakalanya justru memperparah infeksi.

    waduhh, sudah kepanjangen nih… diterusin gak ?

    ..terusin aja yah ? :P

    Bisa saja penggunaaan dexametahson pada kondisi seperti yg penjenengan alami menjadikan rasa enak, dan sembuh. Namun sesungguhnya tidak tepat.
    Apa bahaya ? …jawabannya adalah: TIDAK.
    Mengapa saya menjawab tidak, karena saya yakin hanya digunakan gak lebih dari seminggu. Beda misalnya kalo digunakan terus menerus tanpa indikasi yg tepat hingga berminggu-minggu secara terus menerus. Efek sampingnya, anatara lain: wajah membengkak, berat badan naik ( katanya timbangannya sih ) :D …. kalo ada yg bilang menjadikan tulang keropos, itu kan kalo digunakan berbulan bulan terus menerus.

    Obat itu ibarat senjata… akan bermanfaat jika tepat indikasinya dan tidak bermanfaat jika tidak tepat sasaran. Gak perlu takut walaupun pernah menggunakan dexamethason untuk alasan yang kurang tepat.

    Untuk itu, jika seandainya mengalami tenggorokan gak nyaman atau mau flu, cukup menghisap antiseptik ringan, misalnya: FG-Troches, Efisol, dan sejenisnya.. kalo obat-2 semacam ini gak papa walaupun menghisap lebih 20 tablet hisap.

    Segini aja ya … kalo belum jelas boleh dilanjutkan.
    Tiga hari yg lalu, ada 2 perawat yg nanyakan ini juga ke rumah… masih bingung penggunaan Dexamethason karena belum paham pengertian antara “inflamsi” dengan “radang” infeksi.
    Perlu penjelasan 30-45 menit interaktif dengan contoh kasus untuk membuat mereka mengerti… andai penjenengan bisa mengerti hanya dengan jawaban saya lewat tulisan, saya kasih nilai 10 :D

    Maturnuwun
    Wassalam

  39. 39 mbokratu Oktober 30, 2010 pukul 10:28 am

    Assalamu’alaikum
    Wah…..kalau nilai saya 10 saya takut ntar saya malah alih profesi jadi dokter. Bisa-bisa Dokter Moki nggak laku hehe..
    Ceritanya hidung saya ini suka mampet gitu, dok. Kalau kata dokter sih bukan sinusitis, juga bukan polip. Katanya saya cuma alergi aja. Mungkin karena saya setiap hari ‘motoran’ selama 45 menit, pulang pergi jadi 90 menit.
    Nah, saya sudah tidak minum air es (kecuali nguelaaak tenan itupun mungkin 1 bulan sekali). Kemudian saya minum tablet vitamin (mis: enervon C atau sangobion karena saya dulu rentan darah rendah, tapi sekarang sudah tidak lagi)kalau badan terasa capek (lagi-lagi kalau tiap hari minum vitaminnya takut kenapa-napa, alias lambungnya terganggu, betul ga, ya?).
    Pernah tenggorokan saya sakit, badan panas, hidung tersumbat, trus sama dokter diberi dexamethasone(salah satunya). Trus sembuh, deh!
    Ya, gitu, akhirnya kalau tenggorokan sakit saya minum dexamethasone. Tapi biasanya saya cuma minum 1 sudah sembuh, dan biasanya tenggorokan sakit itu nggak lebih dari 1 bulan sekali. Biasanya terjadi kalau ‘kegrimisan’. Tapi kalau saya minum FG troches, sampe habis 2 lembar tetep aja nggak ‘ngaruh’.
    Nah, kalau seandainya tenggorokan dan mampetku kambuh, sebaiknya saya minum apa ya, dok?
    Oh ya, kadang-kadang saya juga minum obat warung lho! Biasanya sih cocoknya mixagrip.
    Menurut dokter, apa yang sebaiknya saya minum?
    Maturnuwun sanget.
    Wassalam

  40. 40 cakmoki Oktober 31, 2010 pukul 1:04 am

    @ mbokratu:
    Wa’alaikum salam…
    Saya sudah menduga … pasien biasanya gitu… minum salah satu obat yg dirasa paling nyaman. Gak papa kalo ,inumnya hanya saat tertentu saja.
    Hidung mampet, biasanya Rhinitis alergika…selengkapnya bisa dibaca artikelnya di Blog ini, pada link berikut:

    http://cakmoki86.wordpress.com/2008/02/12/pilek-bersin-hidung-buntu/

    Berarti tenggorokan gak nyaman, dll..bersumber pada Rhinitis.. pantesan aja kalo FG Troches gak ngaruh :D
    obatnya banyak..dapat dipilih yang paling nyaman, misalnya: Telfast Plus, Rhinofed, Lapifed, dll.
    Maturnuwun
    Wassalam

  41. 41 abdidalem November 8, 2010 pukul 10:09 pm

    omong2 soal antiemetik cak, saya baru saja baca artikel di bawah ini:

    http://us.health.detik.com/read/2010/09/23/161658/1446865/764/wow-pil-kb-bisa-dimasukkan-dalam-ms-v

    kira2 antiemetik apa yg cocok dikonsumsi dalam konteks ini ya cak? saya otomatis terpikir antimo, tapi kok ya kayanya gak nyambung.. satu lagi (nyuwun sewu agak melenceng): apakah postinor dan/atau valenor tersedia bebas di indonesia ataukah harus menggunakan resep dokter?

    matur nuwun sanget lho bantuannya.

  42. 42 cakmoki November 8, 2010 pukul 11:42 pm

    @ abdidalem:
    Semua anti emetik bisa digunakan… misalnya: Dimenhydrinate (antimo, dramasine, dramamine), Domperidone, Metoclopramide. Nyambung aja tuh .. :D
    Postinor dan/atau Valenor dapat diperoleh dengan resep doktar.
    Maturnuwun

  43. 43 abdidalem November 9, 2010 pukul 12:35 am

    waduh, makasi banget udah dijawab dengan sangat cepat cak! coba semua dokter seperti njenengan :)

    nanya lagi boleh? masih dalam konteks yang sama (regimen metode Yuzpe), dengar2 menurut penelitian, varian yang mengandung hanya-progestin lebih ampuh khasiatnya :D pertanyaan saya: apakah itu berarti metode “serupa Yuzpe” (beberapa dosis sekaligus dengan interval 12 jam) bisa dilakukan *tidak* dengan varian kombinasi tapi dengan, misalnya, pil mini seperti exluton, mengingat bahan aktifnya adalah linestrenol dan bukan levonorgestrel seperti halnya postinor? ataukah keduanya sami mawon karena sama2 progestin?

    kalau bisa, apakah itu berarti regimen 1 tablet exluton (0,5 mg linestrenol) plus 1 tablet lagi 12 jam kemudian (total = 1mg progestin)? ataukah 1,5 tablet + 1,5 tablet (jadi dosisnya sama dengan postinor)?

    memang sih, kayanya mendingan dapet postinor daripada exluton. toh sama2 harus dengan resep dokter. udah gitu sisa 26/25 exluton terbuang pulak. ini sih cuma saya aja yang penasaran. :D

    sekali lagi maturnuwun atas penjelasannya.

  44. 44 cakmoki November 9, 2010 pukul 11:49 am

    @ abdidalem:
    Bisa… pada dasarnya samimawon karena bahan-2 tersebut masih satu derivat (golongan).
    Tentang dosisnya, ada perbedaan pendapat terkait penggunaannya sebagai morning adfter pill. Namun dalam praktek sehari-hari, dosis yang lazim dipake adalah 4 tablet kemudian dilanjutkan 4 tablet 12 jam kemudian.
    Cara ini sebenarnya sudah lama ditinggalkan ( di ndeso kami ) :D ..entah kalo diperkotaan.
    Maturnuwun

  45. 45 arie nugraha November 10, 2010 pukul 1:22 pm

    mohon penjelasannya dok,
    kami orang tua baru yg kurang mengerti ttg obat2an,anak kami dgn usia 2thn, seminggu yg lalu anak kami tiba2 bangun tidur pagi muntah2 dan bab,satu hari itu lebih dr 8x..lalu kami bawa ke rumah sakit yg cukup baik di daerah jakarta timur.tp yg membingungkan kami,sering kali kami mendapat masukan diantaranya “klo anak sakit jangan langsung dibawa ke rumah sakit,lebih baik di bawa ke puskemas/bidan karna RS apalagi Dr spesialis anak biasa kasih obat paten nanti anaknya lama2 klo sakit ga mempan pakai obat biasa/dosis rendah”. kami jadi panik dan serba salah apalagi dengan pengalaman di puskesmas/rumah sakit pemerintah lain yg kadang prosesnya sulit,dan kurang bersahabat..yg kami tanyakan apa benar klo anak sering dikasih obat paten akan mudah terserang penyakit lagi dan akan sulit diobati dengan obat biasa/generik ?..

    mohon penjelasannya dok…terimakasih sebelumnya..

  46. 46 abdidalem November 10, 2010 pukul 1:28 pm

    wah, memang di “ndeso” pake apa skrg? :D

    di perkotaan memang masih diperlukan cak, krn ini urusannya dgn anak2 jalanan. gak bisa ditebak apa yg akan terjadi besok ato lusa.. kami sih rencananya memang mau ajak pihak kedokteran (minimal satu orang lah) utk ikut terjun ke lapangan, tapi kendalanya ya selalu waktu dan/atau dana. maklum, swadaya :) idealnya sih juga ada dari pihak kepolisian, tapi biasanya anak2 itu kabur duluan kalo tahu ada polisi. hehehe

    4 tablet + 4 tablet itu kan kalo pake yang kombinasi ya cak? kalo pake exluton sebanyak itu kan berarti totalnya 4mg linestrenol? nyuwun sewu banyak nanya. cuma bingung aja, apa segitu ga kebanyakan..

    sayang njenengan di ndeso ya (kayanya nyaman tenteram, jadi iri).. kalo kapan2 main ke sini saya pingin juga ajak ketemu mereka.

    maturnuwun lagi :)

  47. 47 cakmoki November 11, 2010 pukul 12:47 am

    @ arie nugroho:
    Anggapan tersebut tidak benar… kebal dan tidaknya seseorang bukan terletak pada obat bermerk atau generik, tapi pada ketepatan dosis dan ketepatan lamanya penggunaan obat.
    Walaupun pake obat bermerk, tidak akan terjadi kekebalan kalo dosis dan lamanya pemberian tepat. Sebaliknya, andai pake obat generik, kalo dosis dan lamanya pemberian tidak tepat maka akan terjadi kekebalan jika berulangkali dosis dan lamanya pemberian tidak tepat.
    Orang tua atau pasien berhak memilih layanan terbaik bagi didrinya dan keluarganya berdasarkan berbagai pertimbangan.
    Makasih :)

    @ abdidalem:
    Di ndeso kami, para akseptor sudah sejak tahun 1990-an tidak lagi menggunakan cara tersebut. Mereka lebih suka menggunakannya sesuai aturan sehingga tidak harus mengalami morning after pill.
    Hal ini tak lepas dari berbagai faktor yang mempengaruhinya… terutama sudah mapannya jaringan sistem penyuluhan dan pelayanan KB hingga ke tingkat Dasawisma.

    Kalo masalah yang menyangkut anak jalanan emang lebih rumit karena memerlukan pendekatan persuasif secara terpadu antara pihak swasta, dokter, bidan, BKKBN, Dinas Sosial dan Babinkamtibmas ataupun polisi yang membidangi Kesra (tanpa pakaian dinas).
    Saya pernah tugas di kota dan selama 5 tahun menangani hal-2 semacam itu bersama-sama lembaga terkait… blusukan… banyak kendala, tapi juga banyak seninya :D

    Tentang dosis, benar… itu adalah obat kombinasi, sedangkan dosis obat tunggal kebanyakan. Namun dalam prakteknya, petugas lapangan memberikan dengan dosis yang sama untuk karena seringkali terjadi mis-opportunity.

    Selamat berbakti bagi sesama :D
    Maturnuwun

  48. 48 lidya November 11, 2010 pukul 5:21 pm

    gimana dgn pengaruh bahan2 tambahan pada sediaan farmasi? apa tdk mempengaruhi biofarmasi suatu obat? shg mempengaruhi biaya produksi

  49. 49 cakmoki November 12, 2010 pukul 1:01 am

    @ lidya:
    bahan tambahan tersebut dipilih yang tidak mempengaruhi biofarmasi obat. Adapun biaya produksi merupakan paket yang sudah jadi satu dengan biaya penunjang lain terkait pembuatan obat (kemasan, packing, dll) sehingga Harga Netto Apotek merupakan harga yang sudah termasuk laba.
    Makasih

  50. 50 laili Desember 1, 2010 pukul 10:47 am

    ass…ttg obat generik n generik bermerk, berdasarkan pengalaman obat generik bermerk lebih menyenangkan kemasannya terutama obat untuk anak,rasa nya yg lbh manis n sediaan yg forte jadi lebih sedikit memberikannya.
    kemudian ttg kualitas bahan dasar obat yg berbeda,berarti obat yg mahal kemungkinan kualitas nya lebih bagus dong…jd bingung.. boleh minta referensi ga dok perusahaan farmasi yg bahan dasar obatnya dgn kualitas bagus, takutnya dah beli obat mahal ternyata kualitasnya malah ga bgs. makasi dok buat jwbn nya.

  51. 51 amanda Desember 1, 2010 pukul 9:51 pm

    assalamu’alaikum om.. saya dateng lagi :D
    setelah operasi kmrn (semoga inget) saya stop methylprednisolone (yg waktu itu pake somerol) setelah itu saya mulai lagi dengan 8 mg. krna stock somerol kosong, saya pake methyl(yg ini generik kan?) lg, ga tau knp klo pake methyl kaki saya bengkak sampe matakaki tenggelam. tapi badan lebih seger, klo pake somerol ga ngerasa ada perbedaan apa2 dan ga bengkak. itu hubungannya kemana ya? skrg pas disuruh milih sama dokternya saya milih methyl.
    trus ada temen bilang dia dapet cerita dr seseorang, klo medrol malah ga bikin pipi gemuk. kok bisa beda2 gitu ya? apa ada hubungan dengan bermerk-tidakbermerknya obat?

  52. 52 cakmoki Desember 2, 2010 pukul 12:04 am

    @ laili:
    Wa’alaikum salam…
    Benar, rata-rata obat bermerk mengandalkan kemasan dan cita rasa. Namun ada juga obat generik yang enak dan bahan dasarnya berkualitas, misalnya produk Kimia Farma.
    Logikanya, kalo mahal kualitasnya bagus…ada benernya, tapi gak selalu, soalnya bisa jadi harga mahal tersebut karena “upeti” untuk pihak-2 terkait nilainya tinggi… dan semua biaya tersebut dibebankan kepada pasien :D
    PBF yang kualitasnya bagus, produksi obat generik dan obat bermerk, misalnya: kimia farma, dll :D
    Makasih… Wassalam.

    @ amanda:
    Wa’alaikumsalam..
    Beda pada cincin 6-@ (6-alpha) … somerol kandungannya adalah 6-@ methylprednisolon, sedangkan methylprednisolon gak pake 6-@ … nah, beda ikatan (cincin) kimia 6-@ tersebut dimaksudkan untuk mengurangi efek samping… seandainya udah diproduksi obat generik yang 6-@ methyl prednisolon, tentu sama :D … gitu lho.
    Makasih… Wassalam

  53. 53 amanda Desember 5, 2010 pukul 6:32 pm

    oohh.. gituu.. hehehe.
    klo arcoxia ada yg generiknya ga?

  54. 54 cakmoki Desember 5, 2010 pukul 8:57 pm

    @ amanda:
    Akan ada kalo masa paten udah habis.

  55. 55 laili Desember 8, 2010 pukul 10:21 am

    selain kimia farma apa ya dok?

  56. 56 cakmoki Desember 8, 2010 pukul 12:25 pm

    @ laili:
    Maksudnya yang ada generiknya ? …misalnya: hexpharm, dexa medica, prafa.

  57. 57 sly Desember 13, 2010 pukul 10:21 am

    Cak.. mau tanya.. itu kan ada obat2 yang dijual di bawah HET..
    kok bisa ya?? apoteknya dapat untun g darimana donk..??

  58. 58 cakmoki Desember 13, 2010 pukul 2:24 pm

    @ sly:
    Gini … kalo HNA (Harga Netto apotek) misalnya 10.000. Ppn 10%. Berarti harga belinya 11.000. Jika HET ditetapkan 15.000, maka dengan menjual 13.000 ( di bawah HET) udah dapat untuk 2.000. Keuntungan udah mencapai hampir 20%.

  59. 59 laili Desember 14, 2010 pukul 11:06 am

    maaf nanya lagi ni dok..klo obat generik bermerk yg menggunakan bahan dasar yg bagus apa ya dok?

  60. 60 cakmoki Desember 14, 2010 pukul 1:40 pm

    @ laili:
    tergantung janis obatnya … kalo yang produsen yg saya sebutkan diatas, bahan dasarnya bagus untuk semua produk

  61. 61 oscar17 Desember 25, 2010 pukul 6:23 pm

    ijin share ya, pak dokter.
    terima kasih sebelumnya.

  62. 62 Japra Januari 7, 2011 pukul 4:03 pm

    Terima kasih tuk informasi yg sangat bermanfaat cak mokivoltar :-D

  63. 63 cakmoki Januari 7, 2011 pukul 4:26 pm

    @ Japra:
    Makasih kunjungannya … hahahaha :D

  64. 64 nope Januari 22, 2011 pukul 2:21 pm

    apakah ada perbedaan formulasi suatu jenis sediaan obat dalam kategori generik dengan yang generik bermerek?

  65. 65 cakmoki Januari 23, 2011 pukul 2:03 am

    @ nope:
    ga ada

  66. 66 diyan Januari 26, 2011 pukul 4:50 pm

    sore dok,
    karena lg browsing soal radang tenggorokan dan tipes, jadilah saya mampir ke blognya dokter.
    2 minggu yg lalu tenggorokan saya sakit, saya periksa ke dokter dibilang sakit radang tenggorokan. Saya diberi obat antibiotik. Sp sekarang blm sembuh, td pagi sy periksa ke dokter yg lain, karena blm sembuh juga kalau mlm sepertinya suhu badan naik, karena kalau terbangun kasur terasa panas. Pagi sp sore suhu badan normal lg. Saya tidak ada rasa sakit di perut, napsu makan normal, hanya batuk dan hidung tersumbat di malam hari. Tadi saya diminta cek darah. Hasilnya hemoglobin dan lekosit normal, hasil tes widalnya untuk s paratyphi b, h antigen + 1/320, saya dianjurkan oleh dokternya dirawat di rs, tp saya lebih suka istirahat dirumah. O ya saya diberi obat dexicol 500 dan hufagrip, fyi saya sedang hamil 2 bulan. Apa saran pak dokter buat sy? Apa saya harus dirawat rs? Apa betul ini sakit tipes? Karena tidak ada gejala sakit perut, diare,lemas spt org yg kena tipes. Sampai sekarang obatnya blm saya minum juga,krn khawatir akan berakibat buruk di kehamilan saya. saya cuma istirahat dan banyak minum. Terima kasih banyak, dok.

  67. 67 cakmoki Januari 27, 2011 pukul 12:23 am

    @ diyan:
    Met malam,
    Hasil Lab tersebut tidak serta merta menunjukkan typhus, terlebih disebutkan bahwa ada batuk pilek… bisa jadi infeksi pernafasan… pada umumnya sakit lebih lama kalo lg hamil.
    Kedua obat tersebut silahkan dilanjutkan… keduanya adalah obat “kategori B” pada kehamilan yang artinya aman.
    Kalo kondisi tubuh gak lemah dan masih mau makan, menurut saya ga perlu opname.
    Moga segera sembuh
    Makasih

  68. 68 ria Januari 27, 2011 pukul 12:36 am

    nanyaaaaa……
    *angkat tangan sambil tereak2 manggil cakmoki* :D

    berhubung malem2 gini sendirian di perpus kampus.. (jadi gak da yang ditanyain) dan saya lagi diresekin sama DM via hape..
    sekarang critanya saya sedang males bangun dari kursi.. di deket cuma ada soda padahal saya harus minum obat.. maka yah.. saya minum pake soda.. nah konyolnya nih pas DM nelpon kok ya saya cerita kekonyolan saya.. akhirnya sekarang kita ‘debat kusir’ bahwa minum obat+soda tuh gak bisa bikin mati.. maksud saya.. bukan metode bunuh diri yang efektif.. karena tokh mpe detik ini jg blum pernah nemu orang masuk UGD gara2 mnum obat ma sprite.. disisi lain, dulu jaman SMP pernah eksperimen.. mule dari paracetamol mpe diazepam.. single or double dose.. pernah coba aku konsumsi pake soda.. berhubung saya gak papa sampe detik ini ya aku anggep itu cuma mitos.. tapi ni DM gak terima. halah.. bagaimana menurut cakmoki? :)

  69. 69 cakmoki Januari 27, 2011 pukul 1:12 am

    @ ria:
    jam segini masih di perpus ?
    ya, bener penjenengan … itu hanya mitos :D

  70. 70 ria Januari 27, 2011 pukul 1:22 am

    iyyyaaa….
    ngerjain laporan kliennn.. sampe membusukkk.. nih udah begadang malem ke 5 dan hari ke 6 belum pulang… mandi di kantor terus.. wkwkwkwkwkwk :D
    *halah.. malah curhat dadakan*

    hoo.. mitos kan? aseeekkk..
    *njoget2.. njingkrak2.. muter2.. sampe nabrakin lemari thesis.. wkwkwkkwkw :D

  71. 71 cakmoki Januari 27, 2011 pukul 1:27 am

    @ ria:
    kasihan lemarinya tuh, ditabraki …. hahaha
    met begadang yaaaa :D

  72. 72 ria Januari 27, 2011 pukul 1:38 am

    wakakakakkakaka..
    biarin.. biarin… biarin…
    makasihhhh :D

  73. 73 cakmoki Januari 27, 2011 pukul 1:43 am

    @ ria: :) :)

  74. 74 Farhi Februari 3, 2011 pukul 11:05 am

    Kenapa masih ad dokter yang kadang tidak mau merekomendasikan obat generik pdahal kdang ada pasien yang udah memintanya? Apak karena upeti cak? mohon pencerahan

  75. 75 cakmoki Februari 3, 2011 pukul 10:54 pm

    @ Farhi:
    Salah satu kemungkinannya karena ” upeti ” .. hal semacam ini sudah bukan rahasia lagi … dokter yang bagus adalah yg berani menolak upeti dalam bentuk apapun:D .. sehingga tepatberpihak kepada pasien.
    Makasih

  76. 76 montok Februari 6, 2011 pukul 12:31 am

    malam pakpo

    mo nanya fungsi obat nich
    1. mecoxon
    2. mexon

    biasa di pakai paman untuk ilangin gatel…….
    trus efek sampingnya apa ?

    maturnuwun yo pakpo

  77. 77 cakmoki Februari 6, 2011 pukul 1:16 am

    @ montok:
    wah… mulai bikin Blog rupanya..lha itu ada link-nya :D
    Mecoxon isinya Deksametason sedangkan mexon isinya deksametason dan deksklorfeniramin maleat.
    Deksametason adalah steroid anti-inflamasi, sedangkan deksklorfeniramin maleat adalah antihistamin… keduanya biasa digunakan untuk alergi.
    kalo hanya gatal, sebaiknya pake antihistamin saja, tanpa steroid agar terhundar dari efek samping jika dipakai dalam jangka panjang secera terus menerus.
    Efek samping steroid jika digunakan dlm jangka panjang dan terus menerus, diantaranya: bengep alias bengkak di wajah & tubuh, kulit menjadi makin sensitif, tensi bisa naik, timbul striae or bilur-2 merah di kulit (terutama kulit pantat, paha, perut bawah, ….dll …dll.
    Maturnuwun

  78. 78 montok Februari 6, 2011 pukul 1:30 am

    hehe………. jd malu
    la wong sy lekto pinjem punyo ponakan hiks
    oc…… suwun yo pakpo

  79. 79 cakmoki Februari 6, 2011 pukul 2:20 am

    @ montok:<
    hehehe :D
    Nggih sami-sami

  80. 80 Farhi Februari 7, 2011 pukul 11:22 pm

    Kalau saya sedang menunggu di ruang tunggu pasien, paling tidak nyaman jika berdekatan dengan Medical Representatif / MR (sebutan utk sales obat). Tidak nyaman karena orang yg berada di samping tsb lah yg menyebabkan harga obat menjadi selangit :D

  81. 81 cakmoki Februari 8, 2011 pukul 2:09 pm

    @ Farhi:
    Hahahaha :D
    Kalo sy tidak mengijinkan MedRep saat jam praktek demi menghormati pasien.

  82. 82 use real Februari 24, 2011 pukul 1:20 am

    mlem Om ^_^ aku mw nanya. Gni om, np obat2an tu hrs di kombinasi?? Trus untung’a dari kombinasi obat itu apa?? Mksh…
    Salam …

  83. 83 useReal Februari 24, 2011 pukul 1:23 am

    mlem Om ^_^ aku mw nanya. Gni om, np obat2an tu hrs di kombinasi?? Trus untung’a dari kombinasi obat itu apa?? 1 lg, lbh bgsan obat generik atw paten? Mksh…
    Salam …

  84. 84 cakmoki Februari 24, 2011 pukul 1:54 pm

    @ useReal:
    Obat yang mana ?
    kalo obat generik ga ada yang kombinasi.
    adapun obat-obat bermerk yang dikombinasi adalah obat yang diperlukan untuk pneykit-2 tertentu, misalnya obat batuk pilek, dll… itu dimaksudkan agar lebih praktis dan gak perlu minum banyak obat.
    tentang pertbandingan obat generik dan obat paten silahkan baca lagi bahasan pada artikel dan diskusi-2 sebelumnya.
    Makasih

  85. 85 firmane82 Februari 25, 2011 pukul 11:53 pm

    Ass. Cak saya hendri salam kenal. Saya mw mengomentari sedikt bahasan cak diatas. . …”
    Dari sekilas penjelasan di atas, nampaklah bahwa khasiat zat aktif antara obat generik dan obat generik bermerek adalah sama sejauh kualitas bahan dasarnya sama. Contoh: misalnya saja penjenengan punya pabrik obat bernama cakmoki farma, yang memproduksi Natriun diklofenak dalam 2 produk. Yang satu obat generik, namanya otomatis Natrium diklofenak dengan nama produsen cakmoki farma. Adapun produk obat generik bermerek menggunakan nama yang dipertimbangkan agar mudah laku di pasaran, misalnya saja mokivoltar. Otomatis kualitas khasiat kedua obat Natrium diklofenak yang diproduksi cakmoki farma sama saja, soalnya membeli bahan dasar dari tempat yang sama dengan kualitas yang sama pula. Bedanya hanya pada nama, kemasan dan tentunya harga. Yang satu Natrium diklofenak generik dengan harga yang sudah ditetapkan sesuai peraturan dan satunya mokivoltar dengan harga lebih mahal, sesuai pangsa pasar dan
    segala lika-likunya.”

    “Mengapa harga obat generik jauh lebih murah ketimbang obat generik bermerek ? Sebagaimana contoh di atas, Natrium diklofenak 50 mg, para produsen obat yang memproduksinya menggunakan nama generik yang sama, yakni Natrium diklofenak dengan label generik. Tanpa promosi, tanpa upeti dan tanpa biaya-biaya non produksi lainnya”.

    Terus ada yang memberi komentar:

    Hardana September 24, 2010 pukul 10:23 am

    Dok mau tanya, ini ada pengalaman orang kena jantung koroner, obat Plavix disubstitusi dengan Vaclo, padahal isinya sama-sama clopidrogel, kok efek sampingnya lain ya? Logikanya kan bahannya sama.

    Jawaban cak:
    cakmoki September 25, 2010 pukul 12:16 am

    @ Hardana:
    Benar, kedua obat tersebut mengandung bahan aktif yang sama, efek sampingnya juga sama. Namun perlu diketahui bahwa industri farmasi membeli bahan dasar dari produesen bahan dasar dengan kelas yang berbeda-beda. Ada yang membeli bahan dasar kualitas kelas 1, ada pula yang membeli dengan kualitas kelas dibawahnya. Selain itu, benar kata dokternya bahwa obat juga cocok-cocokan. Ini terkait dengan kualitas bahan dasar, kualitas produksi, dll.

    Bedasarkan penjelaan diatas : saya bisa simpulkan kalau ada yang bilang bahwa obat generic bermerek atau yang selama ini sering disebut masyarakat awam pada umumnya sebagai obat paten yang harganya jauh lebih mahal dari obat generic dan tentu saja efekny juga berbeda tidak salah kan cak,.Dengan demikian menurut saya apa yang dikatakan menteri kesehatan bahwa obat generic itu sama saja khasiatny dengan obat paten dan atau obat generic bermerek seperti yng beberapa bulan lalu iklannya sering muncul ditelevii, saya pikir iklan ini adalah bentuk pembodohan terhadap masyarakat. Saya lebih setuju seharusny pembrian informasi mengenai obat generic jangan setengah-setengah seperti yang dilakukan pemerintah dalam hal ini dinas kesehatan.Seharusny mereka mencontoh seperti penjelasan cak saat ini. (”Akhirnya, tak ada salahnya kita belajar kepada negara lain yang telah mapan dalam memberikan informasi terbuka kepada khalayak, misalnya India”) biar masyarakat benar-benar mengerti.Jadi adalah kebohongan besar bahwa obat generic dan obat paten dan atau obat generic bermerek itu sama saja khasiatnya karena khasiat obat tersebut juga dipengaruhi bahan dasar yang industri farmasi gunakan untuk membuat obat tersebut yang kelasnya berbeda-beda.

    Salut saya pada cak..Seharusnya cak saja yang menjadi Menteri Kesehatan. Andai saja dokter ataupun orang-orang bekerja di dinas kesehatan mempunyai sifat dan tingkah laku seperti cak………..tapi sayang cak….mungkin 1: 200jt ……Semoga Tuhan melipatgandakan kebaikan yg cak lakukan.amin…………..

  86. 86 cakmoki Februari 26, 2011 pukul 5:39 am

    @ firmane82:
    Wa’alaikum salam, wr, wb,
    Terimakasih atas ulasan dan juga urun rembugnya. Semoga diskusi kecil-kecilan ini didengar (dibaca ding :D ) oleh pihak-pihak yang berwenang di semua tingkat struktural.
    Merdeka !!!
    Wassalam

  87. 87 Bondan Maret 10, 2011 pukul 2:47 pm

    tidak bs dibilang sama sebenarnya. sesuai prinsip aja. ada harga ada kualitas pastinya. tetapi juga itu tergantung cocok terhadap tubuh masing2 orang tetap mempengaruhi..

  88. 88 cakmoki Maret 11, 2011 pukul 4:59 pm

    @ Bondan:
    boleh berpendapat seperti itu :)
    Kalo maslah respon pengobatan , tentu masing-2 orang tidak selalu sama, dan itu tidak ada kaitannya secara langsung dengan generik dan bukan generik

  89. 89 yudi Maret 14, 2011 pukul 2:47 pm

    ass cak.. obat kencing nanah sig cesspleng opo? sdh seminggu aku minum ampicilin 500g, tp ndhak ada perubaham??

  90. 90 Lisa April 13, 2011 pukul 7:06 pm

    @yudi
    ada artikel nya ‘sakit kencing nanah,dianter istri’
    coba deh dibaca dulu mas artikel+diskusi nya.siapa tau bs membantu.sembari menunggu jawaban dr pakde moki. :)

  91. 91 cakmoki April 14, 2011 pukul 3:06 pm

    @ yudi:
    Amoksisilin udah ga dipakai sejak akhir tahun 1980-an karena udah rseisiten alias gak mempan
    Kata Mbak Lisa, silahkan baca artikelnya pada link berikut:

    http://cakmoki86.wordpress.com/2007/02/12/sakit-kencing-nanah-diantar-istri/

    Makasih

    @ Lisa:
    Maturnuwun telah ikut membantu pembaca yg lain :D

  92. 92 Lisa April 14, 2011 pukul 4:54 pm

    Sami sami pakde…
    Sekalian mohon izin,ikut ngomenin smoga ga di bilg lancang..he..
    Cuma ga bs ngasih link coz kl drmh g ol pake laptop.
    Xixixi…
    Daku bukan org jawa,kl bhsna jawa bnyk ngerti,tp kl tuk mngungkapkan n menulis kmbli takut salah..he..he..

  93. 93 cakmoki April 14, 2011 pukul 5:04 pm

    @ Lisa:
    Ga papa … di sini boleh saling berinteraksi :D
    pake bahasa bengkulu juga boleh koq hehehe

  94. 94 Lisa April 14, 2011 pukul 7:14 pm

    Wkwkwkwk… Saya bukan asli bengkulu pakde,dah 8th merantau di bgklu *tuntutan pekerjaan*he..
    Qu aslinya kota empek2 (baca: palembang)

  95. 95 cakmoki April 15, 2011 pukul 2:38 pm

    @ Lisa:
    ooooo gitu ya … kalo gitu boleh paka bhs mpek-mpek… hehehe

  96. 96 Lia April 20, 2011 pukul 11:56 am

    jadi dengan kata lain, kalo memang yg mengeluarkan hanya 1 pabrikan dan mahal, berarti mmg obat baru dan belum ada generiknya? jika sudah banyak, misalnya yg paling umum parasetamol, sama aj khasiatnya generik dan bukan? begitukah?

  97. 97 Lia April 20, 2011 pukul 11:58 am

    kalo masih baru hak patennya belum habis maksdnya.. hehhehe

  98. 98 cakmoki April 20, 2011 pukul 1:38 pm

    @ Lia:
    ya, benar … 100 :D

  99. 99 Re Mei 3, 2011 pukul 8:06 pm

    dok, mohon dibahas mengenai fg troches, baik kegunaan, kandungannya, efek samping, terimakasih

  100. 100 cakmoki Mei 3, 2011 pukul 11:54 pm

    @ Re:
    ya, kalo ada waktu :) … saat ini masih sibuk, mohon maaf :)

  101. 101 Cut Ayu Mei 6, 2011 pukul 7:46 pm

    Ass dok,

    Senang sekali bisa “nyasar” ke blog ini..:)
    Sebenarnya sudah sangat lama saya yakin kalau obat generik itu sama saja dengan obat generik bermerk atau obat paten. Kalaupun efek yang dirasakan konsumen berbeda, saya percaya itu hanya efek sugesti saja. Percaya atau ngga faktor trust terhadap sesuatu itu mempengaruhi proses apapun secara menyeluruh. :)

    Eniwei, semalam saya mengalami kejadian yang super tidak mengenakkan dengan dokter di UGD di sebuah Rumah Sakit di kota tempat saya tinggal. Saya membawa anak saya yang terkena alergi mendadak hingga hampir lebam2 di seluruh wajah. Anti histamin yang saya punya di rumah hanya cetirizine tab generik) saya berikan ke anak saya 1 tab (10mg). Setelah kira2 90 menit saya lihat tidak ada tanda2 kondisi membaik, malah semakin parah dan anak saya sampai lemas. Dengan modal panik saya berangkat ke UGD (mengingat kejadian di tengah malam). Sampai di UGD dokter jaga tanya anaknya kenapa bu? saya jawab sepertinya alergi dok..lalu dokternya jawab ooooo (tanpa melakukan pemeriksaan apa2), lalu pergi dan menulis resep…

    Karena tidak puas saya pun menghampiri dan bertanya, jadi bagaimana dok? anak saya kenapa? dia jawab, alergi bu (titik). Tanpa memberi penjelasan apa2. Saya pun jadi bete sebete2nya. Lalu saya tanya lagi, jadi bagaimana dok, harus bagaimana? Dia pun lalu bertanya kepada saya sudah dikasih apa tadi? saya jawab, cetirizine 1 tab (10mg), dia tanya merknya apa, saya jawab CETIRIZINE GENERIK, dia pun senyum mencemooh, ooh pantes generik..saya pun jawab lagi..memang kenapa dok kalau generik? kan sama saja..dia jawab, beda bu, beda harga beda kualitas dong, lagian setiap farmasi itu pasti punya ‘resep2 rahasia’ yang ngga dipublikasikan sehingga membuat obat bermerk lebih baik khasiatnya…saya keukeh ga percaya, dan berdebat sama dokternya, dia keukeh meresepkan cetirine syrup dengan merk rhyzne (klo ngga salah) yang harga berkali2 lipat dari yang generik..

    To sum up, saya pun keukeh tidak mau menebus resepnya, dokternya pun bicara dengan nada setengah mengancam: “kalau nanti ada apa2 sama anaknya jangan salahin saya ya buuuu” dan hanya membayar jasa konsultasi saja dan berlalu dari ruang UGD sialan itu.

    Dengan hati kacau balau saya mencoba menghubungi pediatrician anak saya, dan seperti biasanya dia dengan sangat mudah menenangkan saya dan meyakinkan saya bahwa apa yang saya lakukan sudah benar…

    Well, pelajaran tadi malam sungguh berguna dan akan saya ingat selalu, menjadi pasien yang cerdas adalah kewajiban, dan untuk say profesi dokter adalah profesi yang suci dan mulia, sudah sepantasnya mematuhi sumpah dan kode etik dalam menjalankan tugas, bukan malah jadi marketing perusahaan farmasi…

  102. 102 cakmoki Mei 6, 2011 pukul 11:32 pm

    @ Cut Ayu:
    wa’alaikum salam, wr, wb,
    Saya sangat sependapat dengan penjenengan bahwa dokter wajib mematuhi sumpah dan kode etik kedokteran serta tidak menjadi marketing perusahan farmasi apapun alasannya.
    Ungkapan setiap farmasi itu pasti punya ‘resep2 rahasia’ yang ngga dipublikasikan …, menurut saya justru menjerumuskan masyarakat, padahal seharusnya seorang dokter berkewajiab mencerdaskan masyarakat dalam bidang kesehatan.
    semoga pengalaman berharga penjenengan dibaca oleh para dokter dan juga masyarakat agar makin cerdas :)
    Maturnuwun
    Wassalam

  103. 103 Cut Ayu Mei 8, 2011 pukul 6:45 pm

    Amien, semoga begitu ya Dok…:)
    Oya, boleh sekalian kan??
    Uhm, anak saya (4 tahun) bb 17kg, hampir setiap hari (malam) asmanya kambuh, kambuh dengan tipe batuk terus menerus bahkan sering sampai muntah. Kalau saya amati, dia pasti kambuh kalau kena udara dingin cenderung lembab (jd kalau dingin AC ngga papa ya), kalau habis makan coklat/permen, habis lari2an (terlalu letih), dan kalau kena paparan debu yang banyak. Uhm, sejauh ini yang DSAnya sarankan ya hanya mengontrol Asma-nya dengan bronkodilator (meptin) yang dikombinasikan dengan pengencer dahak (ambroxol) dan anti histamin (cetirizine). Kalau sangat parah, saya biasanya ke rumah sakit minta di nebulizer.
    Hingga kini saya belum berhasil mengumpulkan dana untuk membeli alat nebulizer sendiri, DSAnya menyarankan saya untuk memiliki sendiri terutama bila kambunhnya cukup sering. Alasannya nebulizer lebih aman dan efektif karena bersifat lokal di saluran pernafasan saja. Saya paham dengan logika ini. :)
    Yang ingin saya tanyakan, apakah aman meminum 3 kombinasi obat yang saya sebutkan diatas hampir setiap hari? karena hampir setiap hari kambuhnya. DSAnya bilang kalau mau jarang kambuh ya dijauhkan/dihindari dari pemicunya. Kalau coklat dan permen saya bisa larang ya dok, udara dingin dan debu juga bisa saya atasi, dengan pemakaian selimut dan baju hangat, serta mengclearkan area rumah. Tapi bagaimana dengan Asma kambuh karena habis lari2an? Karena buat saya hampir mustahil ya menyuruh anak laki2 saya duduk tenang barang 10 menit. :(
    Kekhawatiran saya adalah ke ginjal anak saya, yang saya tau (CMIIW) kebanyakan konsumsi obat bisa memperberat kerja ginjal dan dalam jangka panjang bisa merusak ginjal itu sendiri.
    Any idea?
    Maaf kalau kepanjangan…:)

  104. 104 cakmoki Mei 8, 2011 pukul 11:03 pm

    @ Cut Ayu:
    Obat-2 tersbut aman.. toh makainya hanya kalo kambuh…gak akan mengganggu ginjal ah..kan anak aktif, so otomatis banyak minum, dan metabolit obat akan dikeluarkan via urine.
    Pemicu asma yg paling sering emang itu: debu or polutan lainnya, dingin, asap dan kelelahan… nah penejengan bener, kelelahan emang sulit diatasi, namun perlu diingat bahwa aktifitas tersebut merupakan bagian tumbuh kembang anak,. dan justru kelak meningkatkan kondisi tubuh anak sehingga lambat laun asma nya makin jarang kambuh.

    Untuk nebulizer dapat membeli yg portable seharga 350 ribu.
    Makasih

  105. 105 Cut Ayu Mei 22, 2011 pukul 8:45 pm

    Alhamdulillah kalau begitu dok…
    Terima kasih banyak atas penjelasannya yang membuat saya lega…
    Saya cuma bisa bilang, jazakallah bil jannah atas kebaikan hati Anda dan atas ilmu yang Anda bagi…semoga Allah menggantinya dengan surga…:)

  106. 106 cakmoki Mei 23, 2011 pukul 2:33 pm

    @ Cut Ayu:
    Maksih juga atas do’anya, semoga demian pula sebaliknya… Amiin :)
    Wassalam

  107. 107 Rio Mei 27, 2011 pukul 3:24 pm

    Siang dok,

    Sebenarnya saya udah agak lama nyasar ke blog satu ini. Cuma baru kali ini aja nulis. Mungkin krn emang lagi ada perlunya ya? :)

    Btw, kulit saya di sekitar perut ada 3 bercak coklat. Pertama2 saya diamkan, tapi sampe 4 bulan kok ga ilang2 ( padahal saya rajin mandi loh :).

    Setelah saya periksa ke dokter , ternyata saya kena alergi.
    Dan oleh dokter diresepkanlah lah beberapa jenis obat , diantaranya adalah somerol dan sohotin.

    Nah yg saya mau tanyakan, apakah ada obat generik yang bisa digunakan sbg pengganti somerol dan sohotin, berhubung somerol harganya cukup mahal.

    Makasih sebelumnya, dok.

  108. 108 cakmoki Mei 27, 2011 pukul 3:44 pm

    @ Rio:
    Nama generik somerol adalah: 6-alfa methyl prednisolon atau bisa juga menggunakan methylprednisolon ..harganya sekitar 700-1000 rupiah per tablet
    sedangkan nama generik sohotin adalah Loratadine 10 mg.. harganya sekitar 500 rupiah per tablet
    makasih


  1. 1 Obat Paten, Obat Generik, dan Obat Generik Bermerk « Website Puskesmas Jumo Kab. Temanggung Lacak balik pada Mei 18, 2011 pukul 5:50 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Wong ndeso ™

cakmoki

Wordpress Indonesia

Silahkan baca

DISCLAIMER

web tracker

9 Desember 2009

SEMENTARA TUTUP

Maaf, sementara Blog istirahat hingga ada pemberitahuan

Harap maklum


MARI HENTIKAN KORUPSI

Jangan Korupsi Ah

No Korupsi

Internet Sehat

Warga Bicara

» Makasih PLN, listrik Samarinda dah membaik, moga gak byar-pet

» Waspada Demam Berdarah

» Jangan Gunduli Palaran

» Banjir...banjir. Kapan masalah ini teratasi ?

INGA INGA INGA

» Nyeri Urat or Tulang BUKAN berarti Penyakit Asam Urat.

» Sekali lagi: Pegal, Linu Tidak Identik dengan Penyakit Asam Urat

TEMANs

9racehime | A. Fatih Syuhud | Aditiawan Chandra | A.Tajib | Agung UD | aLe | alief | alle | almascatie | Amd | Anak Peri | Anak Sultan | Anang | Anang YP | Anas | Andalas | Anggara | Anjaz | Anti Pungli | Antobilang | Anung87 | Aribowo | Arif Kurniawan | Arul | Astikirna | awan965 | axireaxi | Bambang alias HR | BatakNews | Blog Pokoke? | Biho | CalonOrangTenar | Cay | Chandra | Chielicious | chiw imudz | cK-chika | Dalamhati | Deden Nugraha | deedhoet | deKing | Desti Utami | Didats | doeytea | dnial | Edy C | Eep | Elpalimbani | erander | Evi | Fa | Fa wp | Faiq | Fertobhades | Fetro | Fortynine | Freddy | Gadis | Gaussac | Gitablu | Grandiosa | GuhPraset | GuM | Helgeduelbek | Herdy | Indonesia Kita | Indra KH | ItikKecil | iway | Jejakpena | Jennie S. Bev | Joesath | Joko Taroeb | Julee | Juli | Juliach | Junthit | Jurig | Kakilangit | Kang Adhi | Kang Kombor | Kangguru | kawaichu | Kenji | Kenzt | kikie | koecing | Kumala | Kurtubi | Kw | Laras | liezmaya | Lilik Suryanto | Lily | Linker | Lintang | Lita | Lita wp | Luthfi | MaIDeN | Majalah Dewa Dewi | Manusiasuper | Master Li | Mathematicse | macanang | mbojo | Mei | Micokelana | Mr. Geddoe | Mufti | mybenjeng | My-za | Nayla Zahra | Nayz | Ndarualqaz | Neeya | Neo Forty-Nine | Neri | Ninoy | Nieke | Nomercy | n0vri | NuDe | Om Sulis | omaigat | Ooyi | Paijo | Panca | Pandu | Panduan WP | Papabonbon | Passya | Peyek | Pinkina | Pitik | Pralangga | Prayogo | Priyadi | Qee | Raja iblis | RenjanaBiru | rivafauziah | Rivermaya | Roffi | roisZ | Rujak | Sagung | Sahrudin | Saiful Adi | SaRa | Siu | Sofi | Sora9n | Suandana | Suluh | Susiloharjo | Telmark | Thamrin | tiesmin | Triesti | Tukang Sate | Venus | Wadehel | Wahyuansyah | Wandira | Wiku | WongMangli | Wulan | Yati | Yudhipras |

:: :: :: :: :: :: :: :: ::

Kesehatan

:: Ady Wirawan :: Agus Mutamakin :: Anis Fuad :: Anis Fuad wp :: Asri Tadda :: Astri Pramarini :: Astri Pramarini (awal) :: Astri Pramarini wp :: Blog Mahasiswa FKU 2003 :: Blog Rumah Kanker :: Dani Iswara :: Dani Iswara weblog :: Dokter arek cilik :: drAnak :: drarifianto :: Dwi wp :: Elyas :: Erik Tapan :: Evy HealhtySmile :: FK Unsri :: Gies :: Gies wp :: Ginna :: Grapz :: Hendar Sunandar :: HIV News :: Huda Thoriq :: IDI Samarinda :: imcw :: Imran Nito :: Iwan Handoko :: Jhonrido :: klikharry :: Kobal :: Laksmi Nawasasi :: Mashuri :: Mave Mina :: Mbah Dipo :: Mina :: My Blogspot :: Nur Martono :: PKM Palaran :: Rara :: Rizma Adlia :: Rudy Kwang :: SenyumSehat :: Sibermedik :: SimkesUGM :: SuperKecil :: Titah :: Tito :: Tonang Ardyanto :: Tukangkomentar :: Wi :: Vina Revi :: Vina Multiply :: Yusuf Alam R :: zulharman79 ::

:: :: :: :: :: :: :: :: :: :: ::

Institusi Kesehatan

:: Depkes RI :: WHO :: WHO Indonesia :: … nyusul

:: :: :: :: :: :: :: :: ::

Kolaborasi

:: Emedicine :: ICD 10 Wikipedia :: ICD 10 Wiki Indonesia :: OSWD :: OpenWebDesign :: Pakistan Times :: Rubab :: ntar ::

Kategori

BlogTour

Arsip

Komunitas Blog

blog-indonesia.com

PAGE RANK

Powered by  MyPagerank.Net

Add to Technorati Favorites

[Valid RSS]

Health Blogs - Blog Top Sites

Health

Blogs Topsites - TOP.ORG

Health Blogs - Blog Rankings

Blog directory

TopOfBlogs

Top 10 Award

Feed Burner

cakmoki Blog

Bloggerian Top Hits

My BlogCatalog BlogRank

Site Meter

Since 30 Nov 07

PENGUNJUNG

  • 4,953,529 pengintip

Asal Usul

Pebruari 2011

free counters


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 558 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: