SERIAL KOMUNIKASI DOKTER DAN PASIEN
Dalam hal interaksi informasi antara dokter-pasien, dapat dijumpai beraneka ragam tipe pasien. Namun tipe pasien dapat dikerucutkan menjadi 2 kelompok, yakni: pasien yang memerlukan penjelasan dari dokter terkait gangguan kesehatannya, dan pasien yang tidak begtu memerlukan penjelasan panjang lebar dari dokter. Seiring dengan perkembangan jaman dan makin pesatnya kemajuan teknologi informasi, pasien kelompok pertamalah yang kini lebih dominan. Amat jarang ditemukan pasien kelompok kedua, di ndeso sekalipun.
Menilik kondisi riil semacam ini, para dokter dituntut untuk lebih informatif tanpa diminta, sesuai dengan kewajiban dan kompetensinya. Kalaupun ada pasien yang tak bertanya, bukan berarti pasien tak ingin diberikan informasi. Untuk itu, seyogyanya dokter mendorong pasien yang “pendiam” agar berani bertanya. Dan bagi pasien, tak ada salahnya sedikit cerewet jika kebetulan berkunjung ke dokter yang masuk kategori “pelit informasi”.
INFORMASI DOKTER DI MATA PASIEN
Banyak cerita di balik interaksi dokter-pasien terkait informasi penyakit (kesehatan), baik yang menyenangkan pasien maupun yang tidak memuaskan. Informasi bagi pasien bukan lagi perkara sepele. Pasien berhak mendapatkannya, dan dokter wajib menjelaskannya. Dokter yang informatifpun dituntut bijak dalam menyampaikannya. Hendaknya dihindari agar informasi yang diberikan dokter tidak membuat pasien ketakutan, tak bisa tidur dan malah stress. Ini perlu proses, perlu ketulusan, perlu feedback dari pasien agar makin hari informasi yang diberikan oleh dokter semakin dapat diterima dengan mudah oleh pasien. Perlu juga kelapangan hati dokter menerima kritik pasien.
Dokter yang bijak, akan menerima feedback dari pasien dengan senang hati. Dengan begitu tirai pembatas arus informasi dokter-pasien menjadi lebih terbuka dan menguntungkan bedua belah pihak.
Informasi apa saja sih yang diperlukan pasien ?
-
Informasi terkait gangguan kesehatan atau penyakit yang dialami pasien (termasuk dugaan penyakit jika pada kunjungan pertama masih belum jelas penyakitnya), meliputi: penyebabnya, faktor pencetusnya, penularannya (untuk penyakit menular).
-
Informasi tentang berat dan tidaknya penyakit. Kalaupun termasuk penyakit yang beresiko menimbulkan penyulit (komplikasi), tentu pasien memerlukan support. Misalnya pasien dengan severe hypertension ( tekanan darah systole > 180). Pasien akan lebih tenang jika dokter mengatakan: “ … tak perlu terlalu khawatir, yang penting obatnya diminum teratur dan rajin kontrol. Niscaya tensi dapat kita turunkan…”. Bandingkan jika misalnya dokter berkata:”…wah, tensinya tinggi banget. Hati-hati, bisa stroke kalau tidak diobati dengan teratur, bla..bla..bla..”. Walaupun dengan senyuman, dan dokter tidak salah, informasi yang diberikan dokter tersebut bisa-bisa membuat pasien nangis sesampainya di rumah.
-
Informasi tentang obat yang digunakan, menyangkut dosisnya, frekuensi pemberian, lamanya penggunaan obat, efek samping yang mungkin ditimbulkan obat-obat tertentu, dan hal-hal lain berkaitan dengan obat sesuai penyakit masing-masing pasien.
-
Informasi tentang prakiraan kesembuhan penyakit atau setidaknya prakiraan lamanya pengobatan.
-
Informasi tentang Pemeriksaan Penunjang (Laboratorium, Rontgen, USG, MSCT, MRI, dan sejensinya), jika memang diperlukan sesuai indikasi medis. Jika perlu Pemeriksaan Penunjang, pasien memerlukan informasi kegunaan dan biayanya.
-
Informasi tentang pilihan tindakan medis, jika diperlukan, berkenaan dengan penyakit pasien dan informasi biayanya.
-
Informasi hal-hal yang perlu dihindari dan dianjurkan dalam upaya mempercepat penyembuhan penyakit dan mencegah kekambuhan.
Selain itu, yang tak kalah penting adalah support bagi pasien (atau keluarganya), apapun penyakitnya.
Apakah untuk menyampaikan rangkaian informasi tersebut tidak menyita waktu panjang ? Tidak ! Bagi dokter yang sudah terbiasa informatif dan cukup bagus dalam komunikasi dokter-pasien, rangkaian interaksi di atas mengalir dengan sedirinya. Seandainya seorang dokter memiliki 40-60 pasien setiap malam, tak masalah.
Interaksi dokter-pasien dalam penyampaian informasi akan berlangsung dengan mulus jika dibiasakan. Jika ingin informasi lebih melekat, perlu dipertimbangkan penyediaan leaflet atau brosur. Tak perlu mewah, cukup leaflet atau brosur sederhana, yang penting informasi dipahami ole pasien atau keluarganya.
FAKTOR PENGHAMBAT
Berikut ini adalah beberapa faktor penghambat kelancaran arus interaksi dokter-pasien dari sudut pandang pasien:
-
Bahasa atau istilah medis. Bahasa yang terlalu medis, seringkali membuat pasien makin bingung. Bagi pasien kelompok pertama (yang memerlukan informasi sehingga benar-benar dapat dipahami) dan punya nyali untuk ngeyel, boleh jadi akan meminta penjelasan dokter manakala mendengar istilah yang masih asing. Tapi bagi pasien yang cenderung nurut, mungkin hanya mnggut-manggut walau sebenarnya tidak mengerti apa yang diucapkan dokter.
-
Mood dokter. Setiap pasien mempunyai penilaian masing-masing terhadap dokter. Ketika melihat wajah dokter dinilai tidak mood saat ditanya, pasien cenderung menghentikan pertanyaannya. Kalau sudah begitu, putuslah arus informasi yang diperlukan pasien.
-
Bahasa tubuh dan mimik wajah. Kelihatannya sepele, mungkin juga tanpa disadari dokter bahwa bahasa tubuh dapat mempengaruhi keinginan pasien untuk bertanya. Mimik wajah dokter yang tidak menyenangkan pasien, termasuk gaya meremehkan, akan membuat pasien urung bertanya. Mereka memilih diam ketimbang keluar ruang praktek menanggung malu.
-
Peragu. Pada umumnya pasien merasa tidak yakin ketika menilai sikap dokter yang menunjukkan keraguan. Hal ini kerap membuat pasein pindah ke dokter lain untuk mendapatkan informasi yang lebih memuaskan.
Masih banyak faktor-faktor yang di mata pasien dianggap sebagai penghambat kelancaran arus informasi dokter-pasien. Ungkapan dokter yang tidak menyenangkan, sedikit banyak menyebabkan pasien mati kutu. Alih-alih bertanya, nyali pasien udah ciut duluan ketika mendengar ungkapan dokter yang tidak menyenangkan.
Bagimana menjalin interaksi dengan anak ?
Anakpun berhak mendapatkan informasi. Tentu bahasa dan cara penyampaiannya disesuaikan dengan tingkat pemahaman anak. Anak-anak usia dini seyogyanya didorong oleh dokter untuk berani mengungkapkan keluhannya. Pada umumnya, anak usia 4-5 tahun sudah mampu menyampaikan keluhan dengan bahasa mereka. Jalinan komunikasi yang dibangun oleh dokter sejak usia dini dengan pasien anak, niscaya akan diingat oleh anak hingga mereka berumah tangga kelak. Banyak cara untuk memupuk komunikasi dengan pasein anak, misalnya: menanyakan bentuk obat, sirup atau tablet, cita rasa obat yang disukai, dan lain-lain.
Bagaimana pengalaman pembaca ? Silahkan berbagi.
Semoga bermanfaat.
Artikel terkait:
:: :: :: posting menggunakan WLW :: :: ::

















![[Valid RSS]](http://i169.photobucket.com/albums/u238/cakmoki86/button/rss_valid.gif)







Yang repot itu kalo pasien tidak jujur dan dokter menegakkan dignosis dari informasi yang keliru..
@ Andri Journal:
Ya, kadang kita menjumpai hal-2 semacam itu… terutama keluhan-2 yang bersifat subyektif…
Iya sih Cak dokter..karna anak saya sering sakit saya jadi hafal karakter dokter2 baik yg dindeso, kota, bahkan sampai yg spesialais semua sama.Pengalaman di ndeso (RawIn) anak saya sakit panas 2 hari gk turun2 gk diksh alternatif anti biotik dl mlh langsung periksa darah..hasilx negatif malah bilang kalo 2 hari lagi blm turun panasx periksa darah lagi emangx gk mikir psikis anak saya apa..trus yang di kota (Rs.D)mang sih orgx ramah,keren gk pelit info tp ksh resepx itu lsg yg dosis tuinggi hargax jg muahal mang sih cpt sembuh tp klo dipikir keseringan dosis tinggi bahaya jg..lain lagi klo yg spesialis sy pikir yang namax spesial pasti oke karna yang ditangani kusus anak2, ternyata eh ternyata titelx aja SpA tapi pegang anak kecil gilo, masak sekedar menyingkap kaus dalam/buka 2 kancing bj buat diperiksa aja msh suruh si ortu padahal by.konsul min.75rb belum lagi obat yang dikasih anti biotik sampai dobel 2 sirup ma puyer,sdh itu gk mau terima keluhan klo sianak ni gak bs minum puyer sirupx harus yang rasa ini SpA blg sih gak ada,obatx ya hrs ini,uhg cape deh..Tapi berbeda klo hbs berobat dari tempat cak moki begitu masuk pintu duduk sampaikan keluhan,anak diperiksa (ortu terima jadi tanpa mengatur costum dll) ngobrol seputar penyakit anak smp ke akar2x tetap di tanggapi sdh itu disanguin contekan lg biar smp rmh gk lupa ttg penjelasanx. Dgn tata bahasa yang rilex,di sisipi guyonan yg bs mencairkan kepanikan,walo pasien anak2 tetap selalu diajak komunikasi sehingga Si pasien smp rmh nurut, si ortu jg tenang krn penjelasan yg jelas jd tidak membuat was was (bkn promosi tapi Fakta)..Thanks cak moki msh selalu setia mengabdi di ndeso kita..Semoga dokter2 yang lain di ndeso ini bs menerapkan cara praktek seperti cak moki Amiiin..
@ Zidan:
..amiin
Alhamdulillah … nampaknya tetangga sendiri..hehehe.
Wah, pengalamannya lengkap banget, mirip dengan pengalaman para ortu di kota-kota lain, bahkan di Ibukota.
Maturnuwun sharingnya, semoga menjadi pemicu bagi kami-kami para dokter, terutama saya sendiri, untuk selalu berusaha memperbaiki kualitas dalam memberikan informasi kepada para pasien dan keluarganya. Dan tentu terimakssih juga atas supportnya, insya Allah membuat saya makin bersemangat.
Salam untuk segenap keluarga… moga sehat selalu
Amiin…hehe..ketauan deh..iya pak terima kasih doanya semoga begitu juga dengan bapak Sekeluarga..Semoga bapak dan keluarga selalu dalam Lindungan Allah SWT..amiiin..
@ Zidan:
hehehe …. Makasih … amiiin
saya sering melihat mood dokter, jadi kalau dokternya jawabnya singkat2 dan malas menjelaskan..saya ga jadi deh tanya..mau tanya, jadi takut..nanti kalau jawabnya smbl agak marah gmn..tapi untunglah punya dokter langganan yang selalu sabar menjawab
dan juga cak moki yang selalu penuh dengan informasi..hehe..makasih
@ joanna:
kalo jawabnya sambil marah, bayar separo… hahaha
Saya seringkali lihat langsung, banyak dokter yang sabar dan bagus… sebaliknya, ternyata ada juga yang hampir selalu disertai nada marah dan hobi mbentak-mbentak pasien,..heran juga… apa mereka gak takut lupa tersenyum ya …
setuju banget tuh cak.. waktu itu pernah berobat ketemu dokter yg ga mau ngasih info. dokternya cuma nanya masalahnya trus ngasih resep, cara gunakan obat dan langsung nyebutin biaya konsultasi.. saya sebagai pasien pusing + bingung dan ga bisa berkata apa-apa lantaran sebetulnya banyak pertanyaan yg mau ditanya..
Alhamdulillah skr ketemu Cak Moki yg bersedia meluangkan waktu buat kita-kita.. Pokoke Cak MOki Mantabbbhhh…
@ PUTRA:
Haahaha… tapi waktu dokternya nyebutin biaya konsultasi, sangat jelas dan mantab kan ?
Makasih supportnya
Dok tanya diluar bahasan ya. Istri aku hamil 7 bulan. ni mau mudik ke LA (lamongan
). bahaya gak cak ? soale perjalanannya tu sekitar 4 s/d 5 jam. n jalan yang jombang babat tu lo om yang bikin ngeri. gronjal2. n aku rencananya naik bis umum bos. maklum… orang miskin. gimana dok? agak khawatir aku…. n apa ada tips biar aman? apa enaknya istriku g usah puasa ya dok? mohon pencerahan
@ fauzi:
Gak papa…Kehamilan segitu aman untuk jalan jauh..terlebih cuma 4 jam… Sebagai perbandingan, warga kaltim sini yg mudik ke Jawa dalam keadaan hamil rata-2 perlu waktu perjalanan seharian dengan jalan lebih parah dibanding jalan2 di ndesonya Jawa dan perlu gonta-ganti alat transportasi. Tentang puasa atau tidak, kembali kepada keputusan masing-2 sesuai kaidah fiqih yang diyakininya.. kalo dari segi medis gak ada alasan untuk tidak puasa.
Makasih
terimakasih dok. share dikit ya. di kediri, terutama dokter spesialis tu orangnya jaim2. apalagi di RSUD. gak diberi kesempatan bertanya. langsung diperiksa diberi resep n hanya bilang ‘klo obatny habis kontrol lg’. gak nyaman blas. penyebape apa, g boleh apa, n gmn2ny dak diterangkan. sempet jg aku nganggap semua dokter tu sombong. alhmdlh msh ad dokter kayak cak moki he he. yg ihlas berbagi ilmunya. thanks cak.
@ fauzi:
hahaha… ntar akan saya kasih tahu temen-2 yg kerja di RSUD Kediri supaya lebih ramah dan informatif kepada pasien
Alhamdulillah, kita masih bisa berbagi melalui Blog.. walau kurang marem tapi saya pikir lumayan untuk saling berdiskusi masalah kesehatan.
Maturnuwun
wah semoga kami dokter-dokter muda bisa tetap ramah dan informatif kepada pasien walau mungkin di rumah sedang ada masalah sehingga moodnya berubah, ato kurang tidur arena semalaman mencoba belajar membuat blog seperti saya
begini Cak , kadang pasien juga ada yang tipe NGETES
sebenarnya sudah didiagnosis penyakitnya ,sudah ke dokter umum, dirujuk ke dokter spesialis, tapi mungkin yg bersangkutan belum yakin, jadilah dia ke praktek dokter yang baru buka, siapa tau diagnosisnya beda ( lebih positif )
sebuah kasus pasien dengan keluhan salah satu mata mengalami penyempitan lapangan pandang ( one eyes TUNNEL VISION ) ,tensi dan pemeriksaan lain dalam batas normal, tidak ada riwayat trauma, setelah digali digali dari pertemuan ke 2 dan ketiga sepertinya sudah periksa ke dokter spesialis dan rujukan untuk CT SCAN untuk memastikan tidak ada tumor dalam otak, namun pasien bersikeras untuk mendapatkan pendapat dokter lain yang bisa memastikan bahwa dia tidak perlu CT SCAN dan akan sehat dengan sendirinya,
ternyata sudah berbulan-bulan keluhan itu tetap ada, dan saat saya menjelaskan bahkan dengan gambar , bahwa kadang memang CT SCAN diperlukan untuk memastikan diagnosa banding itu salah ata ubenar, maka pasien tidak pernah kembali lagi ke praktek saya…
bagaimana pendapat Cak dokter untuk kasus seperti ini?
apakah sebaiknya saya tidak menyampaikan kemungkinan diagnosis terburuk dan menyarankan periksa CT SCAN ?
terimkasih Cak dokter atas kesabarannya membaca komentar njlimet ini
salam hormat selalu
@ dr Johannes:
ya, adakalanya kita menghadapai kasus-2 semacam itu. Sebenernya bagus… dengan datang ke praktek, berarti pasien tersebut benar-2 memerlukan pendapat lain. Apa yang penjenengan sampaikan menurut saya tepat… kalaupun pasien gak kembali, bukan berarti gak percaya, justru kemungkinan ia percaya dan mengikuti saran yang diberikan untuk melajutkan pemeriksaan ke spesialis.
Bagi saya, kasus semacam itu bukan ngetes, tapi karena mereka emang bener-2 perlu pendapat lain.
Makasih..
Salam
Selamat siang Dokter Sepuh…
Buka Praktek Jam Berapa?
Masih Di Kaltim apa sudah mudik?
Salam….:)
@ Mirza:….halo, selamat siang…..ini lagi mudik, nungguin motor mabur…Apa kabar, mbak?
terimakasih Cak buat encouragesnya..
iya semoga pasien dan keluarga bisa bertemu dokter yang secara
tegas menyampaikan berita yag harus dipahami pasien tanpa membuat pasien dan keluarga kecil hati dan membuat mereka lebih serius lagi mengobati mumpung masih dalam tahap awal.
Salam hormat cak
ps :mulai sekarang saya pakai nama Bang Johan aja cak
saya termasuk tipe pasien yg suka minta penjelasan ke dokter, tapi hampir ga pernah nemuin dokter yang mau menjelaskan dengan sungguh-sungguh. lebih banyak dokter yg suka mendikte.. akhirnya saya jadi nggak percaya total sama dokter, mendingan dukun sekalian, ketahuan tidak sekolah tinggi.
@ Bang Johan:
Nama Bang Johan kayaknya keren
Kita-2 amat jarang berbagi pengalaman di ruang praktek secara terbuka kayak gini… padahal menurut saya bagus untuk kita maupun untuk khalayak.
Salam hormat
@ Foto Unik:
Pasti ada dokter yang bagus dan gak suka mendikte, hanya saja mungkin elum ketemu yang seperti itu.
Makasih telah berbagi
saya pernah periksa mata di optik katanya mata saya silinder, untuk lebih memastikan sayapun periksa ke dokter mata di RSU tangerang.
Setelah diperiksa oleh suster dan berlanjut diperiksa oleh dokternya, saya tanya sm dokter,”dok, mata saya minus gak?”, tp dokternya gak jawab dan dia bilang, “kamu ke suster yg disana, nanti kamu dikasih penjelasan”.
@ mulkah:
Hahaha …. pengalaman yang unik dan lucu … jangan-2 dokternya belum sarapan
saya baru lulus, baru mulai praktek ni. pasien saya masih dikit. jd mumpung punya byk waktu, saya berusaha membiasakan diri bwt kasih informasi ke pasien. macem2 sih tanggapannya. ada yg malah keliatan jd ga yakin sama saya
soalnya demam 1 hari n saya pny bbrp Dd. trus saya kasih paracetamol n dinasehati bwt observasi gt. ibuny keliatan ga terima, maunya dikasih di Dx “amandel” n dikasih antibiotik
tapi ada jg yg nyambung, ngerti gt
@ dr.mercury:
Ga papa, awalnya emang gitu… ntar kalo udah 6 bulan-1 tahun, pasien biasanya mulai paham.
Walaupun kelak pasiennya 40-60, tetep kasih informasi ke pasien
Kalo perlu kasih brosur… contohnya bisa download di halaman download bagian brosur
Met praktek
jadi senyum- senyum sendiri bacanya
buat dokter Johannes.. sekedar membantu untuk melegakan hati..
saya sendiri..
) dan dgn keheranan yang sama pula..
suatu ketika memiliki keluhan menetap..
butuh waktu satu tahun bagi saya untuk akhirnya memutuskan periksa itupun dengan sdikit ‘paksaan’ dari teman2 paramedis atopun non paramedis karena melihat nyata aku mulai sering kesakitan..
dengan berat hati (sumpah!!) akhirnya kulangkahkan kaki ke beberapa lt di bawah kantorku untuk menemui dr.XX Sp.XX yg stiap harinya juga kutemui untuk urusan pekerjaan. saat pertama mlihatku, dia tersenyum simpul dan berkata bahwa dia sdh lama mnunggu ak dtang utk priksa.. krn slama ini dia mnyadari ada yang ‘salah’, bertanya ‘kenapa’ kpadaku dan tak kuhiraukan.
pemeriksaan pertama, dia minta ke Rad tuk penegakan dx lbih jlas..
butuh waktu 1bulan bagiku untuk meyakinkan diri bahwa ke Rad itu memang perlu (padahal stiap hari ktemu juga sama tu Sp.Rad dan tempatnya hany bejarak bbrp lt.jg dari kantor saya).. skali lagi dgn desakan teman2 paramedis atopun non paramedis
stelah dari Rad, kami sama2 terkejut karna tnyata dx nya bukan pnyakit yg sama2 kami harapkan krn itu adlh penyakit degeneratif dan pada usiaku yang mash usia produktif.. rasanya kecil kemungkinannya. namun dr.XX ini cukup bijak dengan menyarankan apa yg boleh dan tak boleh dilakukan agar tak semakin parah.
karena tak percaya, esoknya kubawa hasil foto (namun baru kutunjukkan stelah dokter ni *lagi2* meminta ke Rad) dan kuperiksakan ke dr.YY Sp.XX (sama dgn dr.XX) dan hasilnya dx nya sama (lah iya.. lha wong dr.ZZ Sp.Rad nya udah jelas2 nulis juga
beberapa bulan kmudian, sy mengalami kondisi darurat.. dibawa ke RS yang berbeda (alasan demografis.. RS ni terdekat dari TKP)sy mcantumkan dx ketiga dokter tersebut (dr XX Sp.XX, dr.YY Sp.XX dan dr.ZZ Sp.Rad) pada RM dan sya mendapatkan reaksi heran yg sama *hedehh.. lah kalo dokternya aja heran apalagi saya*
yahh.. mungkin saya bisa jadi oleh dr.YY pada saat itu dianggap sebagai nge-tes beliau. tapi kan saya bertindak seperti itu karena saya ingin mendapatkan kepastian apakah memang tindakan medis itu memang perlu adanya (yang ke Sp.Rad) dan apakah memang benar itu dx nya (yang ke Sp.XX untuk ke2 kalinya).
second opinion.. istilahnya.
dan terkadang.. tindakan ini bs jadi dipicu krn masalah biaya..
bagi saya ketika itu untuk ke Rad, salah satu pertimbangannya adlh biaya.. ada ktakutan bahwa tak ter-cover oleh asuransi (dan untungnya tercover.. baru tau disana setelah ambil keputusan utk ksana) karena yg sy tau biayanya memang tidak murah. jauh lebih murah bagi saya untuk ke Sp.XX yang lain (dgn harapan g nyuruh ke Rad dan ada dx lain) karena itu tercover asuransi.
jadi.. adalah pilihan setiap dokter untuk merasa kesal karena merasa di’tes’ oleh px ato ttp bs btindak scara bijak utk mngatasi sgala macam karakteristik px (termasuk px yg rasionalisasi pdhl sdh tampak nyata bahkan bg org awam skalipun).
karena bagaimanapun, tdk skedar faktor fisik yang ‘bermain’ bg diri px.. namun ada jg faktor ekonomi (CT Scan gak murah juga kayaknya.. bagi bbrp org dah ‘berat’ di kantong), faktor psikologis (cemas kalo memang perkiraan terburuk itu benar adanya, aku sendiri g bs mbayangin kalo sampe divonis ‘mungkin’ tumor otak.. *hedehhh..*), dan faktor- faktor lainnya
@ ria:
saya ikut tersenyum
informasi dari pasien memang sangat penting untuk mendapatkan hasil diagnosa yang tepat….
@ cerita lucu:
ya, setuju
setuju sekali gan…
Kalau di t4 saya masih kurang dokter yang bisa mengambil hati pasien, malah cuek bebek
@ kaos couple & Suduler: