UANG RESEP : PUNGLI ATAUKAH MENAMBAH BEBAN BIAYA ?
Banyak orang bilang bahwa profesi dokter, dalam hal ini layanan medis, merupakan lahan menanam kebajikan. Itu berarti insya Allah akan berbuah kenikmatan. Ukuran kenikmatan bukan hanya materi, ketenaran dan segala bentuk kemewahan, tapi juga kepuasan batin yang tak ternilai, dimana seorang insan medis telah mencurahkan segenap kemampuannya untuk memberikan layanan medis terbaik bagi orang-orang yang memerlukannya.
LAHAN MENANAM KEBAJIKAN DAN BUAH KENIKMATAN
Untaian kalimat ini nampak indah. Mudah diucapkan. Bahkan disertai puja puji syukur ke hadhirat Ilahi tatkala insan-insan medis merasa mendapatkan limpahan nikmat rizqi dari-Nya. Itu tidak salah. Pertanyaanya, benarkah nikmat rizqi tersebut bukan seperti kemewahan melimpah yang diberikan Tuhan sebagai bentuk ujian ?
Ibarat petani menanam padi, lahan adalah sawah, menanam adalah rangkaian kegiatan mulai menyemai, merawat, membersihkan hama dan rerumputan liar, hingga padi tumbuh berkembang sesuai harapan. Kebajikan adalah benih pilihan dan ketekunan merawat, sedangkan kenikmatan adalah hasil panen.
Normalnya, hasil panen akan berkualitas jika benihnya bagus dan semua tahapan perawatan padi dilakukan dengan benar.
Petani yang baik, tidak ingin padi hasil panen tercampur dengan rumput liar walaupun hanya sedikit.
Lalu apa hubungannya antara lahan menanam kebajikan dengan Uang Resep ?
Beberapa kali media massa menguak persen-persenan resep antara dokter dengan apotik atau produsen obat. Pada tahun 1999, Majalah Tempo pernah mengulasnya dalam halaman Laporan Khusus terkait bonus nulis resep dan permainan seputar obat melalui investigasi di berbagai daerah.
Normalnya, seorang dokter mendapatkan imbalan jasa dari pelayanan yang diberikan kepada para pasiennya. Menulis (memberikan) resep adalah bagian dari pelayanan dasar layanan medis. Logikanya, pasien tidak perlu lagi dibebani dengan ongkos “menulis resep” atau disebut apapun namanya. Faktanya, tidak sedikit dokter yang menerima jasa menulis resep dari apotik ataupun produsen obat. Bentuk dan nominalnya beragam.
Mungkin jumlahnya tidak berarti. Mungkin hanya 100 perak per resep, mungkin hanya 500 perak per resep, mungkin hanya 1000 perak dan mungkin hanya 5000 perak per resep.
Mungkin para pasien tidak peduli. Mungkin bagi pasien uang segitu tak ada artinya dibanding kesembuhan yang didapatnya. Mungkin bagi dokterpun hanya dianggap uang angin, sangat tidak berarti apa-apa.
Kalau tidak ada artinya bagi pasien dan dokter, mengapa tidak dihapuskan saja ? Tidak perlu lagi ada uang R/ atau apapun namanya. Toh tidak ada artinya. Itu lebih baik daripada mengotori jasa yang absah dengan penggerogotan (sedikit ?) isi dompet pasien dalam bentuk uang R/.
Sebaliknya, jika uang R/ dianggap sangat berarti bagi dokter untuk menambah penghasilan dan dianggap sangat berarti bagi apotik serta produsen obat agar resepnya mengalir ke apotik tersebut dan obat produsen laku terjual, seharusnya pasien berhak tahu bahwa ada tambahan biaya yang dibebankan kepada mereka dalam bentuk uang R/. Pasien pun berhak mengetahui apakah tambahan biaya tersebut memang absah ataukah termsuk pungutan liar yang disamarkan dalam bentuk uang R/.
Mungkin akan terlontar bantahan-bantahan dari penikmat dan penggagas uang R/. Itu sangat wajar. Sah-sah saja. Bantahan dapat dilontarkan dengan banyak argumen yang nampak masuk akal. Misalnya :
” Kita tidak meminta, tapi diberi. Apa salahnya diterima ?” …
” Itu mah sudah berlangsung lama, tak perlu diungkit-ungkit, toh pasien tidak ada yang protes.” …
” Tak perlulah, ngurusi dapur orang. Dosa. … Urus aja diri sendiri” …
” Sueger. Sapa yang gak ngiler ? ” …
” Gak usah cerewet kenapa sih. Kalo gak mau terima ya sudah, gak usah ngurusi yang mau nerima.” …
” Halah, sok kaya. Kita kan masih perlu duit.” …
” Itu kebijakan pimpinan, sudah ada SK-nya. Ribut amat.” …
” Wajar kan, wajar kan, wajar kan. Emangnya kenapa ?” … dan lain-lain.
Malang nian nasib sebagian pasien (entah, sebagian besar apa sebagian kecil) di Indonesia. Pasalnya, ketika jatuh sakit, mereka bak hidangan nan nikmat untuk disantap dari berbagi penjuru. Disantap dengan sendok kecil, garpu, enthong, kalau perlu ditelan.
Terlebih pasien tidak mampu. Tak berlebihan jikalau ada ungkapan bernada ironi, sebaiknya orang miskin jangan sakit. Ungkapan tersebut dilandasi fakta bahwa orang miskin yang sakit rawan terhadap minimnya pelayanan dan perhatian.
Sungguh berat mengakuinya, namun itulah realita di depan mata.
Berita bagusnya, masih banyak para dokter yang memilih bisikan hati nurani untuk tidak menerima bingkisan uang R/ walaupun bisa dibilang pasien di tempat prakteknya tak lebih dari jumlah jari kedua tangan per hari.
Kenyataan ini menampakkan bahwa sejatinya hasil panen (kenikmatan) bukan dinilai dari jumlah benih yang di tanam semata, tapi lebih ditentukan oleh kualitas benih dan cara merawatnya, yakni hati nurani, ketulusan dan nilai-nilai kebajikan dalam diri si dokter.
Akhirnya, dari dalam lubuk hati terdalamlah para pelaku pelayanan medis memilih jalannya. Ibarat petani, ada yang memilih hasil panen tanpa rumput liar, ada pula yang menyukai hasil panen bercampur ulat dan rerumputan.
Tuhan Maha Mengetahui, mana yang haq dan mana yang tidak. Tapi manusia diberikan akal budi, hati nurani, ilmu dan pikiran untuk bertafakur.
Semoga kita senantiasa mendapatkan hidayah dan ridho-Nya. Amin.
” Allahumma Rabbannas, mud-hibal ba’sa isyfi antasysyafi, la syafiya illa anta, syfa’an, la yughodiru saqoman.”
” Wahai Rabb seluruh manusia, Pelenyap segala macam penyakit, sembuhkanlah. Engkau adalah Maha Penyembuh, tidak ada penyembuh selain Engkau, penyembuhan yang tidak meninggalkan penyakit.” (HR. Bukhari)
Catatan ini sebagai pengingat bagi penulis pribadi agar tidak lupa dan upaya memperbaiki diri dari kealpaan.
Semoga bermanfaat.
:: :: :: posting menggunakan WLW :: :: ::


















![[Valid RSS]](http://i169.photobucket.com/albums/u238/cakmoki86/button/rss_valid.gif)







diilleeeeeemaaaa…..*resiko profesi sungkan’an*
@ sibermedik:
hahaha… sing paling enak gak melu-melu ngonokan. Aman tur barokah
Filosofis sekali cak tulisannya … jadi merenung…
Semoga bapak kuat menahan godaan. Semoga banyak dokter yang berfikir seperti bapak.
Ketika saya menjadi pasien, tidak menjadi masalah dengan tarif jasa dokter yang lebih mahal, tetapi saya bisa memperoleh harga obat yang terjangkau.
@ wilma:
Mari merenung bersama
@ siemans:
Insya Allah gak ikut jadi makmum yang begituan.
Makasih supportnya …
Bener bener bener dan bener sekali. Saya sangat salut kepada dokter moki. Pasien itu sudah mendapat musibah menurut saya jangan ditambahi beban lagi tentang uang resep dan sebagainya… Trimakasih dokter moki, selamat berjuang, semoga dokter2 se-indonesia terutama dokter di daerah saya membaca blog ini. Saya sangat saluuuuuttt pool.
@ Rini:
Makasih supportnya
Aww…….
Thanks dok tulisannya…….
itu terjadi dimana?? klo bisa info yang jelas……
biar bisa di tindak lanjuti…..
thx
@ hd_wj:
Ini bukan barang baru. Sudah sering ditulis di media. Ketika masih aktif secara langsung di insitusi kesehatan, saya cukup sering diminta mempresentasikan hal-hal semacam ini (quality dan self assessment) kepada para sejawat, terutama dokter yg baru bertugas di Puskesmas, di pelatihan-2 manajemen dan kepemimpinan.
Di Blog inipun sudah saya tulis secara serial sejak 2006 (silahkan lihat arsip)
Hal-hal semacam ini dapat terjadi di mana-mana jika dokter dan atau apotekernya tidak jujur dan suka minta-minta persenan kepada produsen obat, yang berujung pada meningkatnya harga obat.
Kalau misalnya sampeyan insan medis kemudian melihat semacam itu dan punya keberanian, silahkan ditindak lanjuti (diperbaiki) melalui banyak cara, termasuk melalui tulisan terbuka sebagaimana sering dilakukan oleh para dokter yang mengedepankan kepentingan pasien.
Sebaliknya, jika misalnya sampeyan berada di lingkup layanan medis dan membiarkan atau bahkan ikut manambah-nambah beban pasien dengan berbagai pungutan yang tidak patut, misalnya: (a) uang resep, (b) menaik-naikkan harga obat, Lab, (c) dan sejenisnya, hanya karena ingin manambah penghasilan, jangan pernah bermimpi meningkatkan kualitas pelayanan.
Tidak ada rumusnya.
Untuk itu, melalui media ini, bagi segenap insan medis yang masih setia dengan sumpahnya, diharapkan untuk mengenali “permainan kotor” di dunia medis (terutama alur niaga obat), tidak ikut-ikutan menambah parah buruknya layanan publik (termasuk layanan medis), lantas berjuang untuk memperbaikinya. Sedangkan bagi yang belum mengerti tetapi berniat memperbaiki layanan medis, silahkan belajar (kalau mau) kepada yang mengerti dan jujur, agar tidak terjerumus (atau menjurumuskan diri) ke dalam mafia obat dan mafia layanan medis.
Bagi segenap sejawat dokter, monggo silahkan menghayati kembali: Don’t dan Do, bagi dokter terkait hubungannya dengan dunia kefarmasian.
Thx
mantep dahhh…..
di tempat sy memang terjadi peningkatan harga obat 2,5% tapi hal itu bukan bermaksud untuk jasa resep yang di tuliskan dokter, malah dokternya 1 sen pun tidak mendapat apa2…….
melainkan hal itu merupakan imbalan jasa yang akan di berikan kepada petugas obat dan administrasi karena dokter dan perawat sudah mendapat jasa dari pelayanan dan tindakan… seperti jasa medis setiap pasien berobat, disitu terdapat jasa buat dokter dan perawat…. sedangkan petugas obat tidak mendapat apa2….. nah dari hal itu kami berfikir agar tidak terjadi kecemburuan sosial antar sesama pelayan kesehatan… karena ada jasa dokter, ada jasa perawat, kenapa tidak ada jasa petugas obat??? yang notaben nya juga berperan dalam kesembuhan pasien…. pasien kami juga kebanyakan tercover asuransi yang biaya nya di bebankan kepada pemerintah atau perusahaan asuransi sehingga tidak langsung terbeban ke pasien tersebut……
thanks…
semoga yang dokter cakmoki maksud tidak terjadi di tempat kami ataupun di tempat lainnya…… Amin
@ hd_wj:
Maaf, 2,5% tetaplah menambah beban pasien. Alasan bahwa petugas obat (termasuk apoteker) tidak mendapat jasa pelayanan, tidak tepat dan tidak patut dibebankan kepada pasien.
Jika petugas obat belum mendapatkan jasa pelayanan, dapat dicover dengan dana operasional dari Pemda (sebagai contoh di Kaltim, jumlahnya aduhai), bukan dengan membebani pasien, walaupun hanya 2,5 %.
Jika dengan Dana Operasional (DASK, atau apapun namanya) tidak mencukupi, jalan lain adalah dengan menambahkan “lembaran tambahan” Perda yang diusulkan dan di bahas bersama di DPRD, dengan melibatkan Dispenda, DPRD Komisi II, DKK Dan Bagian Keuangan Pemda setempat. Prosesnya hanya perlu 2 kali pertemuan. Setelahnya, ketentuan pendanaan jasa petugas obat akan keluar dalam bentuk Lembaran Tambahan Perda.
Tanpa itu, bisa dianggap Pungli (Pungutan Liar).
Tentang asuransi, sudah sejak dahulu kala jadi perdebatan.
Sejak jadi dokter krucukan, saya lebih memilih kepada jejak para senior yang tidak mau diatur asuransi. Ini karena akan membatasi kualitas pelayanan. Bahkan Kepala Daerah pun tidak bisa memaksa.
Karenanya, ketika sejak awal saya bertugas hingga akhir, (termasuk di praktek), tidak pernah mau menerima asuransi. Kalau menerima, menurut saya, hanya akan mengorbankan saya sendiri dan mengorbankan pasien.
Bayangkan, andai asuransi membatasi 30 ribu (misalnya) perhari untuk pasien Rawat Inap, sudah pasti kualitas pelayanan tidak akan tercapai. Jangan-2 nantinya pengobatan dicocok-cocokkan dengan kuota alokasi dana, bukan lagi berdasarkan indikasi medis. Kalau terjadi seperti itu, bukankah kualitas pelayanan sudah keluar dari parameternya ?
Tapi, semuanya terpulang kepada masing-2 dokter, apakah akan menjadi dokter yang berkompeten secara mandiri, ataukah menjadi hamba sahaya pihak lain.
Terimakasih
Mau tanya komentar tulisan ini, pak:
“Bayangkan, andai asuransi membatasi 30 ribu (misalnya) perhari untuk pasien Rawat Inap, sudah pasti kualitas pelayanan tidak akan tercapai. Jangan-2 nantinya pengobatan dicocok-cocokkan dengan kuota alokasi dana, bukan lagi berdasarkan indikasi medis”
Pengalaman saya sebagai pengguna askes dimana memang ada pembatasan jenis obat dan jumlah. namun ketika melebihi batas, saya sendiri yang harus membayar kelebihannya.
@ siemans:
ya, itulah yang saya maksud dan kerap dialami oleh pengguna yang lain di mana-mana.
Aneh kan ? Mestinya, pelayanan medis yang baik adalah sesuai dengan indikasi medis dan sesuai harapan pasien… lha kalo dibatesi, kan kayak judi… hehehe. Jadinya masih harus nambah ini dan itu dengan berbagai argumen.
Itulah mengapa saya tidak mau ikut terlibat, soalnya *maaf* hanya akan mengorbankan pasien dan mengorbankan kredibilitas saya di hadapan pasien.
Makasih telah berbagi
Saya punya dua pengalama yang berbeda untuk kasus yang sama, Cak.
1. Saya pernah cabut gigi (gigi geraham paling ujung sebelah kiri atas) di RSU dengan menggunakan askes, karena proses pencabutannya lama jadi rasanya sakiit sekali sampai saya keluar air mata (apa mungkin obat biusnya dah habis?)dan untuk salah satu obatnya dan jarum suntik saya harus beli sendiri (katanya nggak ditanggung askes).
2. Karena trauma, tapi tetep mau pake askes (biar gratis he he)ketika saya mau cabut gigi untuk yang ke 2 kalinya (gigi geraham paling ujung sebelah kanan atas), saya pergi ke RS Swasta dan tetep pake askes. Proses pencabutannya lebih lama dari yang pertama, karena saya harus dibius 2 kali, belum berhasil juga karena akarnya sangat kuat, kemudian akhirnya dirontgen, dan saya harus kembali 2 hari kemudian (gigi belum tercabut). Setelah saya ke RS untuk yang ke 2 kalinya, gigi saya akhirnya tercabut setela dibius 2kali juga karena proses pencabutannya yang lumayan lama, dan diakhiri dengan dijahitnya gusi bekas cabutan gigi. Di RS Swasta ini saya tidak diminta tambahan biaya sepeser pun.
Nah, dari dua peristiwa ini, saya jadi bertanya-tanya, apakah memang dana dari askes kurang? Tapi kenapa di RS yang ke 2 saya tidak dibebankan biaya padahal treatment pada gigi saya lebih rumit dari yang pertama? Bagaimana menurut Cak Dokter?
@ mbokratu:
Menurut saya dana nya tidak kurang. Hanya saja, di setiap RS kebijakannya berbeda-beda.
Biasanya pihak asuransi menawarkan paket pelayanan dengan harga tertentu. Kalau tawaran tersebut diterima, maka akan ada pagu (batasan alokasi dana) untuk setiap jenis pelayanan, sehingga kalau melebihi alokasi dana yg disepakati, kekurangannya dibebankan kepada peserta.
Seorang Direktur RS yang mengedepankan kualitas pelayanan (RSUD ataupun Swasta), akan mengajukan alokasi dana yg optimal kepada pihak asuransi. Dengan begitu kualitas pelayanan tetap terjaga.
Kalau hanya manggut-manggut ketika disodori penawaran dari pihak asuransi, jadilah seperti kejadian pertama
Dari gambaran tersebut nampak bahwa bagus tidaknya pelayanan asuransi sangat bergantung pada masing-2 Direktur RS.
Maturnuwun
Alhamdulillah sudah banyak ahli kesehatan yang mulai kembali ke lan yang lurus karena urusan sehat,hidup,mati adal;ah urusan Alloh…so jadi apapun trik-trik….pembisnisan kesehatan janganlah ikut terbawa arus istiqomalah wahai cakmoko….salam kena..
@ winar:
Salam kenal..
Terimakasih support dan kunjungannya
Halo cak, senang bs mampir lg dsni.
Apa sbaiknya dokter mnulis obat d kertas kosong/hvs (bkn d resep) sj ya cak biar gak mbebani pasien..?
Ada bbrp kasus dmn stlh berobat,resep gak dberikn k pasien,tp pasien hrs mbeli n mngambil obat d apotek dkt tmpt praktek dokternya. Mau dbeli kok lbh mahal,gak mau dbeli kok sungkan. Akhirnya bingung sndri deh cak.
@ Besan:

Halo juga
Mungkin nulisnya di daun lontar … hahaha.
Mahalnya harga obat dan segala bentuk permainannya sebenarnya sudah sering ditulis di media oleh kalangan dokter sendiri. Tapi entah mengapa, ajakan moral untuk memperingan beban pasien tak kunjung mendapatkan tanggapan, malah sebaiknya makin subur. Ini kayak markus… mungkin perlu dibahas terus supaya mafia obat dapat diberantas.
Kalau mau, sungguh tidak sulit. Sayangnya semua sistem yang dibuat tidak berjalan sebagaimana mestinya. Untuk ngontrol tarip dokter mungkin sangat mudah, namun rasanya belum yang mengontrol harga obat di apotik.
Akhirnya, mari rame-rame kita bicarakan terus menerus masalah ini, agar yang membaca menjadi risih, akhirnya yang ndablek malu sendiri *bener tah ?*
Maturnuwun
Trimakasih cak buat sharing ini ,mengencourage bahwa masih banyak dokter-dokter idealis yang bisa dijadikan teladan
yang jadi pertanyaan, apakah hal-hal seperti ini sudah menjadi panduan juga bagi Apotek dan farmasi terutama Detailer, saya sendiri selalu berpikir ulang jika ada tawaran mengikuti Seminar dengan sponsor pabrik obat ,berfikir walaupun hal itu diijinkan dalam ETIKA FARMASI OBAT yang diberikan saat kami lulus sumpah dokter, tapi disebutkan “seorang dokter tidak boleh terpengaruh dalam meresepkan obatnya ” ( dalam tanda kutip ) walaupu setelah mendapat kebaikan sebuah farmasi untuk memperdalam ilmunya mengikuti sebuah seminar … mm maaf pertanyaanya njlimet
ok salam ya cak
@ dr Johannes:
… apapaun alasannya.. namun sebagian dari kita kadang merasa risih kalo gak nulis ketika mendapatkan sponsor untuk seminar, dan sejenisnya.
Kalau produsen obat tujuannya lebih kepada keuntungan sebesar-besarnya, sedangkan kita terikat dengan : ” seorang dokter tidak boleh terpengaruh dalam meresepkan obatnya ” …
Yang paling enak, bayar sendiri … gak usah sponsor-sponsoran walaupun ditawari… kayak saya … enak, jadi dokter merdeka … hahaha
Salam
iya cak .. betul bayar sendiri
saya senang bila ada penyelenggara acara simposium/seminar
tidak mengadakan acara di hotel-hotel mewah
membayangkan banyak makanan yang tersisa, sampah yang ada dari selebaran-selebaran obat yang tercecer .. kadang mengharukan
setelah selesai ber ba-bi-bu mendengarkan simposuim kepalang canggih, kembali ke puskesmasnya masing-masing dan tidak tahu apa yg bisa diaplikaskan dari seminar tersebut
beberapa SMF seperti pre klinik di bagian Patologi Anatomi UNDIP , kemudian BioMEdics UNDIP , jua Bagian BEDAH undip sering menyelenggarakan seminar di aula fakultas, selain biayanya murah juga dokter bisa tetap menjalankan tugasnya dibangsal bila ada on call. semoga makin banyak seminar berkualitas dengan harga terjangkau ya cak, sehingga para dokter tidak bingung cari sponsor dan terpaksa mengkompromikan hati nuraninya
@ Bang Johan:
iya, saya sependapat… seminar gak harus mahal, yang penting aplikatif… semoga yang udha dilaksanakan di Undip bisa dilaksanakan juga di kota-2 di Indonesia
Cak Moki, menurut saya ni kok tentang nulis resep itu masih bisa sangat diperdebatkan. Ketika seorang dokter nulis resep, kemudian ada pertanyaan :
“Lho, kenapa pake itu (merk dagang tertentu), kan bisa pake ini (merek dagang yg laen) atau bahkan generik”
Kemudian ybs akan menjawab :
“Iyah soalnya obat ini mengandung a, b, c, d yang lebih baik dari bla.. bla.. bla.. (sambil membayangkan orang yg membela diri)
Nah, pada akhirnya mungkin malah tidak semua dokter secara rutin meng-update ilmu pengetahuannya tentang zat-zat saja dan hanya percaya penjelasan med rep yang belum tentu mengedepankan efek utama. Bahkan mungkin karena efek sampingnya yg lebih “marketable” akhirnya dijual-lah obat itu sebagai obat atas efek sampingnya itu.
Ini menurut saya loh Cak, jadi selain godaan “uang R/” bisa jadi juga karena keterbatasan penulis resep untuk mendapatkan informasi terbaru yang paling benar dan terbukti (kalo bahasa di buku-buku itu “evidence-based medicine”) sehingga terjebak menggunakan merk dagang tertentu.
Malah… denger-denger sekarang fenomena “uang R/” ini sudah merambah ke profesi apoteker yang berharap bisa mendapatkan “uang R/” dari setiap obat yang diracik oleh mereka (kalo yang cuman denger-denger, mohon saya jangan di kenakan pasal pencemaran nama baik profesi.. he he he)
Taqabalallu minna wa minkum Cak!
salam,
Yuddi
@ Yuddi:
Saya sependapat, Mas….. fenomane tersebut sangat nyata terjadi tapi sulit diberantas, soale terjebak “marketable” dengan segala bentuknya.
Nah, kalo masalah “denger-denger” apoteker yang juga bermain, lebih bagus kalo ada teman-2 apoteker yang berani mengungkapnya atas panggilan nurani…
Tapi, menurut YLKI, permainan alur farmasi emang benar terjadi. Kalangan dokter sudah lama dan berani mengungkap sisi gelap peresepan “merk tertentu”, sayangnya insan kesehatan lain masih malu-malu kucing… hehehe….. yang begini sih menurut saya tidak termasuk pencemaran nama baik…karena gak nyebut nama.
Makasih urun rembugnya yang langsung ke salah satu wilayah remang-remang.
Taqabbalallahu minna wa minkum taqabbal Ya Kariim
Salam
Assalamu’alaikum………
Mudah2an banyak dokter yang membaca ini ya,biaya pengobatan begitu mahal, dulu bapak saya dirawat karena jatuh dari loteng,kemudian kulit kepalanya yang sobek dijahit, dia sangat terkejut melihat perincian biaya yang mahal,terutama konsultasi dokter.padahal doktr cuma datang sebentar berbasa basi.Setelah keluar dari RS,sm dokter disuruh ke tempt prakteknya buka jahitan. Dia gak pergi karna trauma masalah biaya,dibuka sendiri aja tu jahitan sama ibu.Alhamdulillah sampe sekarang bagus kulit kepalanya.
mudah2an makin banyak dokter yang mementingkan wong cilik.buatlah amal lebih banyak..amal ariah dibawa mati lho..gak rugi deh..dunia akhirat berkah.Hidup hanya sementara..kayaknya kalo Doktr2 melalui jalan yang lurus, udah lebih cukup materi dalam hidupnya,ia kan?
Ya dah ya. Mudah2an banyak dokter? yang mengikuti cak moki. Tetap istiqomah ya cak..sambil tetap terus mempelajari ilmu syar’i..oke..”ada kejayaan didalam sunnah”
Wassalamu’alaikum
@ eni:
Assalamu’alaikum…
Kita semua berharap agar biaya kesehatan dapat terjangkau, tapi tetap berkualitas dan tentunya ramah serta dilandasi ketulusan.
Terimaksih atas supportnya
Wassalam