PENGUMUMAN : DILARANG MAKAN WAJAN DAN COBEK
Pembahasan seputar larangan (pantangan) makanan terkait dengan penyakit (sakit) tertentu telah kita diskusikan 2 tahun yang lalu pada artikel Pantangan Makanan. Adapun pembatasan makanan tertentu dan anjuran makanan bergizi seimbang telah tercantumkan pula pada setiap artikel yang membahas penyakit sesuai spesifikasinya.
Kali ini, kita membahas respon positif para penderita berkenaan dengan larangan makan makanan secara membabi buta sehingga menjadikan tanda tanya bagi penderita dan bahkan adakalanya menjadi bahan guyonan, seperti judul posting di atas
..
Artinya apa ? Artinya, sebagian masyarakat sudah cukup pintar dan cerdas untuk tidak menelan mantah-mentah larangan makan makanan tertentu dari dokter ataupun petugas kesehatan lainnya manakala dianggap tidak sesuai dengan penyakit atau keluhan mereka.
Berikut adalah contoh 3 ungkapan penderita yang layak kita jadikan pelajaran untuk memperbaiki informasi kesehatan bagi masyarakat luas.
Seorang pria usia tiga puluhan bertutur :” Pasca perayaan Agustusan saya berobat lantaran berasa pegal, linu-linu, badan serasa remuk. Eh, sama dokter disuruh periksa lab, darah lengkap, urine, asam urat, kolesterol, kadar gula dan lain-lain. Itupun masih diwanti-wanti gak boleh makan kacang, gak boleh makan gorengan dan entah apa lagi, saya tidak begitu ingat soalnya saat itu menahan tawa … “. Setelah berhenti sejenak, pria tersebut melanjutkan : “ di perjalanan pulang saya tertawa beneran sambil meremas pengantar lab dan membuangnya. Malamnya pindah berobat. Gak sampai 50 ribu, tiga hari kemudian udah seger “. Sembari tersenyum lebar, ia berujar : “ saya masih pingin tertawa manakala teringat gak boleh makan gorengan. Sapa yang mau makan wajan … “.
Kejadian serupa saya jumpai ketika mudik Lebaran. Di saat ada sepupu yang menceritakan larangan makan gorengan, salah seorang kerabat yang suka ndagel menimpali: “ bener itu, gak boleh makan gorengan artinya gak boleh makan wajan … atos … hahaha “. Cerdas !!!
Gadis kecil, usia sekitar 6 tahun, menderita koreng (pyodermi) di kedua kaki dan betisnya. Si ibu yang mengantarnya ke dokter berkisah: “ Anak saya dibilang alergi, gak dibolehkan makan ayam, ikan, telor. Hanya dibolehkan makan tahu tempe dan daging sapi. Sudah seminggu lebih diobati salep dan hanya makan pake tahu tempe, malah tambah parah. Aneh, anak segini hanya disuruh makan dengan lauk tahu tempe, lha gizinya gimana ? Setiap kali makan dia menangis karena gak diberi lauk telor dan ayam kesukaannya “. Pinter !!!
Setelah tahu bahwa penyakit tersebut tidak ada hubungannya dengan makanan dan tidak ada pantangan makanan apapun, tersenyumlah si ibu dan si gadis kecilpun bersorak kegirangan.
Pakde Wd, berusia 65 tahun lebih, menderita Asma sudah sejak belasan tahun yang lalu. Beliau menceritakan pengalamannya yang menurut beliau cukup menggelikan. Suatu hari di tengah malam pria kurus ini mengalami serangan asma dan kebetulan kehabisan persediaan obat asma. Maka berobatlah beliau ke suatu tempat, diantar oleh kerabatnya. Pakde Wd sangat paham bahwa setiap serangan asma (status asmatikus) datang mendera, tensinya akan naik menjadi sekitar 160/90, dan akan normal kembali ketika serangan asma mereda. Malam itupun tensinya naik saat diperiksa oleh dokter.
Apa sih yang menurut Pakde Wd menggelikan ? Ternyata Pakde Wd gak boleh makan daging dan bla…bla…bla, gara-gara saat serangan asma tensi darahnya naik. Kata beliau : “ Gak perlu dilarang, lha wong saya hanya berkesempatan makan daging setahun 2 kali saat Idul Fitri dan Idul Adha. Itupun sudah tidak kuat nyokot “. Owaaalah Pak De … njenengan ndesit tapi pinter.
Banyak cerita soal larangan makan makanan dan minuman yang tidak bijak dijadikan bahan guyonan oleh warga masyarakat di arena kongkow-kongkow, di kantor, di mall, di pasar, di warung makan di kedai kopi dan tempat lain dimana orang berkumpul. Sikap tersebut setidaknya merupakan salah satu corong dalam meng-counter salah kaprah informasi kesehatan terkait larangan makan yang acap kali menjadikan pasien ketakutan.
Mungkin ada diantara sejawat dokter yang besikap eksplosif mendengar contoh penuturan para pasien di atas. Itu sangat wajar. Namun belajar mengakui kekeliruan kemudian memperbaikinya akan lebih berguna bagi dirinya sendiri maupun bagi khalayak.
Betapapun, belajar dari masyarakat dan pasien merupakan bagian dari pendidikan kedokteran berkelanjutan yang tidak mudah didapatkan di bangku kuliah. Pelajaran berharga semacam itu hanya dapat dipetik jika kita mampu membuka pintu hati, mengalahkan ego, dan menjalin komunikasi dokter-pasien secara berkelanjutan, bukan hanya terbatas di ruang praktek ataupun di ruang pemeriksaan semata, tapi juga di ranah komunitas.
Semoga bermanfaat.
Silahkan berbagi.
:: :: :: posting menggunakan WLW :: :: ::



















![[Valid RSS]](http://i169.photobucket.com/albums/u238/cakmoki86/button/rss_valid.gif)





heheee ada-ada saja pak, pak boleh tukeran link? linknya dah saya pasang di blog, kalau boleh link saya di pasang di sini…..nice blog.
Siaaaaang Cakdokter….
Saya lagi rajin migrain neh, pantangan makan apa y??? Klo gak salah pantang makan makanan orang tanpa ijin yg punya y???
jadi gitu ceritanya yah pak, tau gitu yah saya tetap babat habis
aduh…susah nyari dokter kayak gini…andai semua dokter berfikir seperti cak moki ini…kedokter bukan sekedar minta obat tapi untuk konsultasi…
@ lerry:
Boleh…
udah saya pasang…silahkan cek
@ Juliet:
Sianggggg… eh, malam ding.
hahaha…setuju
@ aRuL:
wihhh, Daeng bener-2 tambah nge Bosss
@ farika:
ehm..ehm..ehm…. trims pujiannya *sambil megangi kepala supaya ga membengkak*
thanks atas ceritanya, lucu
Mau minta tukeran link boleh ya pak? saya dah pasang di rumah saya link blog cakmoki86. Terimakasih untuk link baliknya. Salam
biasanya…
di era keemasan islam di andalusia, ada dokter muslim yang menggunakan terapi diet untuk pengobatannya, bahkan beliau mempunyai semboyan “al butnu makanudda’ wal khimyatu ro’su dawa’” “perut sarang penyakit dan diet adalah obat utama” beliau ditanya salah satu koleganya, mengapa menggunakan cara pengobatan seperti itu, beliau cuma nyitir sebuah hadits; “kami adalah kaum yang hanya makan bila lapar dan berhenti makan sebelum merasa kenyang”
@ rudita:
kini …. diet bergizi seimbang terbukti dapat mencegah dari berbagai macam penyakit, terlebih penyakit-2 metabolisme
Trims
cak… kalau ke sby, mampir ke museum kesehatan dong.. trus cerita isinya apa aja. kemaren ngga nutut.. pengen liat benernya katanya ada bagian yg supranatural.. hahahaha
Gak perlu dilarang, lha wong saya hanya berkesempatan makan daging setahun 2 kali saat Idul Fitri dan Idul Adha. Itupun sudah tidak kuat nyokot “. Owaaalah Pak De … njenengan ndesit tapi pinter <– ini yang paling bikin saya ngakak.. wkkwwwkoaowwkoaow … hebat hebat..
@ triesti:
Ntar kalo sempet tak critakan ….. wih, supranatural ? ada goa-nay kale ya … hahaha
@ aprillins:
hahaha .. di neso ™ emang gitu, santai dan kadang sambil guyonan
ass,dok.
mau tanya nih seputar pantangan buat pendrita gastritis.
yg saya tau sbgian besar gastrìtis tu dipìcu oleh kecemasan, ya kan dok?sdgkan pengaruh makanan mash kontroversi, namun ada makanan or minuman tertentu yg perlu dihindari spt minuman b’uap,yg beralkohol ma pdas n masam yg brlebihan.
yg mau z tanyakan, klw tape masuk makanan yg msti dihindari kan??
gni loh dok, bpak sya 56 th pnderita gastritis kronis, beberapa bulan blakangan ni penyakitx sering kambuh…stiap kambuh ke puskesmas dikasih antasida ma cimetidin tp spertix g’kasih hasil yg memuaskan..trus hari ini bpak sy mcoba ‘cara’ yg menurut sya aneh..bpak dapat info dari temanx katax makan tape dipagi hari sblum ada isi perut tu bisa mengobati gastritis…sya sih dah bilang kalw makanan yg mrangsang kyk tape itu bisa bikin lambung tambah perih aplg kalw dalam keadan perut kosong tp bpak sya lebh percya omongan temanx..soalx katax dah ada yg nyoba trus sembuh..
Koq g’masuk akal gt…:-l
kalw menurut dokter gmana? trus pengobatan yang tepat untuk bpak sya spti apa?..kalau brkenan tlg diresepin obat2 yg doktr rekomendasi kan buat bpak saya…
maaf kepanjañgan..terimakasih!!!
@ Mei-mei:
ass, wr, wb…
Benar, disebutkan bahwa lebih 80% keluhan lambung dipicu oleh kecemasan. Sedangkan makanan tidak terbukti, kecuali makanan atau minuman yang terlalu merangsang seperti yg disebutkan (minuman beralkohol, minuman beruap, termasuk tapi jika dikonsumsi berlebihan)
Sebenernya obat yg diguanakan dah bener, yakni setidaknya obat golongan antasid (banyak jenisnya) dan obat penghambat peningkatan produksi asam lambung ( cimetidine, famotidine, ranitidine, dll). Selain itu kadang diperlukan obat untuk mengurangi gerakan otot polos sistem pencernaan (obat golongan spasmolitik).
Jika dengan antasid dan cimetidine kurang memberikan hasil, maka dapat dipilih antasid dan obat penghambat peningkatan produksi asam lambung dari jenis lain, misalnya kombinasi dari:
Asidrat, diminum 2 x 1 dakam keadaan perut kosong, dan Ranitidine 150 mg, diminum 2 x1 sesudah makan, dengan jarak sedikitnya 1 jam setelah minum asidrat.
Kedua obat tersebut dapat digunakan jangka panjang dan dihentikan jika sudah ga ada keluhan, kemudian dapat digunakan lagi jika timbul keluhan.
Menurut saya, gak perlu nuruti omongan temen atau tetangga kalo ga masuk akal.
Trims
Wass
Terima kasih dokter…kapan2 boleh nanya lagi ya..!
@ Mei-mei:
sama-sama… makasih juga telah berbagi.