SUNGAI MAHAKAM ASIN, AIR MACET, DIARE MULAI DATANG
Sudah hampir sepekan air asin masuk sungai Mahakam. Episode tahunan ini tak pelak membuat warga khususnya Kelurahan Rawamakmur, Kecamatan Palaran, Samarinda dibuat repot. Seperti biasa, mesin pengolah air di ndeso ™ Palaran yang bersumber dari sungai Mahakam tak berani beroperasi. Konon alat pengolah air bisa rusak jika dipaksakan. Alhasil, 3 hari para pelanggan tak mendapatkan tetesan air. Memang ada bantuan dropping air dari PDAM kota melalui pasokan dengan truk tangki, tapi tak banyak membantu. Itupun masih disertai kebiasaan buruk, yakni membayar “seikhlasnya”. *pancet, ae*
AIR DI PALARAN
Kecamatan Palaran, Samarinda (ibukota Kaltim nan kaya) terdiri dari 5 kelurahan, yakni kelurahan Rawamakmur (ibukota kecamatan), kelurahan Bukuan, kelurahan Simpangpasir, kelurahan Handil Bakti dan kelurahan Bantuas. Sebagian warga kelurahan Rawamakmur (belum semua) mendapatkan air dari PDAM unit Palaran dengan harga yang relatif amboi. Sebagian warga kelurahan Bukuan mendapatkan air dari Pengelola Air Swasta dengan harga Rp 60.000,- per 1200 litar. Sedangkan selebihnya dan warga kelurahan lain mendapatkan air dari PAH (penampungan air hujan), sumur tanah (sebagian besar airnya kayak kuah rawon), sumur bor (masih harus diolah), sumber air di bukit-bukit dan pinggir hutan dan sebagian lagi nekat membeli air sungai mahakam dengan harga Rp2.000,- per drum.
Sudah berbagai cara dan metode pengolohan air dilakukan oleh berbagai pihak agar warga mendapatkan air bersih. Namun dengan makin maraknya pemangkasan bukit dan penambangan batu bara di dekat pemukiman, segala upaya tersebut seakan sia-sia. Akhirnya warga dipaksa untuk bisa survive sendiri tanpa kejelasan kapan seluruh warga Palaran mendapatkan air bersih. Hanya ada satu kepastian, yaitu lontaran janji sebuah kata berjudul “akan”. Entah, 5 tahun lagi, sepuluh tahun lagi atau mungkin memang tidak pernah direncanakan dengan sungguh-sungguh.
Sebagian besar warga makin skeptis menyikapi janji-janji penyediaan Air bersih. Anehnya, 3 orang anggota DPRD dari Dapil Palaran (pada periode 2004-2009) belum kedengaran memperjuangkan penyediaan Air Bersih bagi seluruh warga kelurahan Palaran. Hanya 1 orang yang benar-benar memperhatikan dan memperjuangkan penyediaan Air Bersih pada periode 1999-2004. Sayang sekali setelah tidak terpilih (beliau meninggal dunia beberapa tahun yang lalu, dan beliau pulalah yang bahu-mambahu bersama kami memperjuangkan pembangunan Rawat Inap Palaran yang representatif seperti yang sekarang ini), upaya beliau tidak dilanjutkan oleh anggota DPRD penerusnya.
KUALITAS AIR DI PALARAN
Setiap tahun, Puskesmas Palaran melalukan uji kualitas air dengan mengambil sampel sumber-sumber air kemudian diperiksakan ke Labotaroium Daerah. Hasinya: buruk ! Tingkat keasaman rendah, kadar besi tinggi dan berwarna keruh setelah semalam diinapkan walau saat diambil berwarna bak air mineral dalam botol.
Kodisi air tersebut memberikan pelajaran berharga kepada kami. Warga menjadi sangat paham bagaimana mengolah air berdasarkan masing-masing wilayah. Bahkan adakalanya air dari sumber yang sama memerlukan kombinasi tawas, kaporit atau bubuk kapur yang berbeda di saat-saat tertentu. Hal ini wajar mengingat saat musim hujan dan musim kemarau mengakibatkan perubahan komposisi air di berbagai sumber air.
Saya sendiri menjadi sedikit peka untuk mengolah air, menakar kombinasi bahan pengolah, hanya dengan melihat warna dan mencicipi sedikit air. Tapi yang paling ahli (diantara orang serumah) adalah anak mertua. Beliaulah yang mengatur penyediaan bahan pengolah air dan menentukan takarannya. Sedangkan saya kebagian tukang aduk air di tengah malam. *sambil nembang*
Dan 3 hari ini, episode ngaduk air di tengah malam terulang lagi. Walah, kembali ke awal era 1995, rek! … Nyedot air dari sumur dan sumur bor … nampung di bak pengolahan … mengalirkan air hasil olahan ke tandon penampungan … menyedot ke tandon di menara kayu … lantas mengalirkan melalui instalasi air layaknya instalasi air PDAM. *nggaya bowww, tapi boyok pegel kabeh, rek*
Koq gak pake buku-buku Pengolahan Air Bersih, cak ? Udah dong, udah banyak buku-buku dibaca sampai khatam dan ditrapkan. Gak ada yang memuaskan. Malah berbau banger. Yah, wajarlah, lha wong yang nulis para ahli dari luar Kaltim yang berbeda kondisi alam maupun sifat airnya. Makanya gak ada yang cocok.
AIR DAN KESEHATAN
Semua orang sangat paham bahwa air adalah salah satu bagian kehidupan yang sangat penting, termasuk kaitannya dengan kesehatan. Kelangkaan air bisa dipastikan akan meningkatkan resiko diare, dan resiko lain dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Bisa dibayangkan betapa sengsaranya seorang yang menderita diare sementara air sangat langka.
Suatu hari pernah seorang pejabat dari jajaran kesehatan Samarinda menengok pasien diare yang sedang diinfus. Si pejabat berujar:” jangan lupa cuci tangan ya… “. Si pasien dan keluarganya mengernyitkan dahi. Setelah si pejabat pulang mereka ngomel: “ sapa sih yang gak tahu kalo kita harus mencuci tangan. Emangnya pake air apa coba…” (bahasa sudah diperhalus dan sumpah serapah dihilangkan). Ketahuan deh, gak pernah baca laporan, gak tahu profil kesehatan dan gak memahami komunikasi dengan pasien. Diakui ajalah.
Kita juga paham bahwa sebagian besar tubuh kita mengandung air dan 83% darah kita terdiri dari air. Apa jadinya jika kebutuhan pokok tersebut tak terpenuhi ? Tak perlu heran jika nanti akan terjadi ledakan diare, orang lebih mudah mengalami ISK (infeksi saluran kemih), penyakit kulit dan lain-lain.
Dua malam yang lalu beberapa warga ngobrol sambil nunggu Liga Champion. Ada yang sangat menarik manakala salah seorang dari mereka berujar:” Lha iya, kita sudah membayar pajak dan retribusi dari berbagai jurusan. Mulai ongkos kencing sampai pajak makanan. Tapi ngurusi air aja gak genah … “. Yang lain menimpali:” Mungkin dibuat nyangoni pejabat dan DPRD jalan-jalan ke luar daerah dan ke luar negeri. Gitu aja gak tahu !”. Kamipun cekikikan sambil nyruput kopi. xixixi
Akhirnya, kami sebagai warga, sangat mengharapkan keseriusan para penyelenggara pemerintahan, terutama di Samarinda, untuk memenuhi kewajibannya sebagaimana janji-janji yang pernah diucapkan saat Pilkada dan Pemilu. Begitu banyak masalah di negeri ini, jangan lagi ditambah dengan penggunaan uang rakyat untuk keperluan yang tidak menggambarkan kepedulian kepada rakyat jelata.
Pada kesempatan ini pula, kami ikut prihatin atas musibah yang menimpa saudara-saudara kita di Sumatra Barat. Teriring do’a, semoga para korban yang wafat mendapatkan tempat yang layak di sisi-Nya dan diberikan ketabahan bagi para korban lainnya.
:: :: :: posting menggunakan WLW :: :: ::



















![[Valid RSS]](http://i169.photobucket.com/albums/u238/cakmoki86/button/rss_valid.gif)





Aku gak begitu paham mekanismenya, tapi air asin memang bisa mencetuskan diare. Dan itu terbukti saat aku dulu PTT di Kapuas. Kalau tidak salah itu terjadi saat musim kemarau panjang.
@ Andri Journal:
Iya, hanya sebagai pencetus… lonjakan terjadi karena air tercemar oleh mikro-organisme patogen akibat minimnya pasokan air bersih…. dan otomatis lebih mudah menjadi endemis. sama halnya saat kemaru panjang.
Wah sangat memprihatinkan.. pindah kesini aja, dok.. disini gudangnya air bersih ada 6 perush. air mineral dan penunjang air bersih ke Kodya Cirebon. Gampangnya, buat nyiram selokan saja pake air “Aqua”.. Ikut prihatin, dok.. (nek cedhak takirim 1 tengki tipa hari
)
@ vyarh:
Hahaha, maturnuwun Mas … wih, hebat dong…nyiram selokan aja pake air “aqua”. Kali penajbat PDAM sini perlu studi banding ke Cirebon.
Mungkin ngaduk air ada hikmahnya juga bagi kami… idep-idep olahraga
Kmrn listrik, skr air…sy khawatir slanjutx telp rumah jg ikut bmaslh
. Tp mdh2n gak.
Kl kjadian ini brlsngsung stiap thn,sbaikx nt kl ada pemilu lg cari wakil rakyat yg visi n misi yg jelas khusus ttg air ya cak:-).
Sy gak ahli dlm hal ini cak tp sy bdoa smg cpt trslsaikn.amin.
@ Besan:
*bisik-bisik* …omong-omong dari beberapa tim sukses di kampung kami dan ada dimuat di koran lokal, konon harga 1 suara = 100.000-150.000 rupiah…. visi dan misinya gak tahu, yg penting sih katanya bisa bayar
Meski begitu, saya sependapat dengan njenengan …. tetap berdo’a semoga masalah-masalah pokok dapat segera terselesaikan. Amiin
Mungkin rakyat gak perlu wakil rakyat…karena wakil rakyat entah mewakili siapa..
@ Nurdin Handoyo:
Hehehe …. moga didengar (dibaca) para wakil rakyat untuk dijadikan introspeksi …. mungkin gak ya ???
ke tangse aja dokter.. di sini sungainya masih belum tercemar. namun kadar yodiumnya rendah, jadi banyak masyarakat di kampungku itu terkena penyakit gondok.
@ liza:
brarti sy ke tangse sambil bawa garam beryodium dong